MAKALAH TENTANG
PENULISAN KATA ( GABUNGAN KATA-KATA SANDANG SI DAN
SANG ),
PEMAKAIAN TANDA BACA ( TITIK DAN KOMA ), PEMBENTUKAN
ISTILAH.
DOSEN PEMBIMBING:
Siska Meirita,[Link].
DISUSUN OLEH KELOMPOK 2
1. Sintia Lorenza (2131040010)
2. Yulia Wati (2131040034)
PRODI PEMIKIRAN POLITIK ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat tuhan yang maha esa. Atas rahmat dan hidayahnya
kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul ‘’PENULISAN KATA
( GABUNGAN KATA-KATA SANDANG SI DAN SANG), PEMAKAIAN
TANDA BACA ( TITIK DAN KOMA), PEMBENTUKAN ISTILAH’’ dengan
tepat waktu. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah B.
Indonesia.
Saya mengucapkan terima kasih kepada ibu Siska Meirita,[Link]. selaku
dosen mata kuliah [Link], ucapan terima kaih juga kami sampaikan kepada
semua pihak yang telah membantu diselesaikannya makalah ini.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karna
itu, saran dan kritik yang membangun diharapkan demi kesempurnaan makalah
ini.
Bandar lampung, september 2021
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................ ii
DAFTAR IS ...................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................... 1
A. LATAR BELAKANG .............................................. 1
B. RUMUSAN MASALAH .................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................ 3
A. PENULISAN KATA ................................................... 3
B. PEMAKAIAN TANDA BACA ................................... 3
C. PEMBENTUKAN ISTILAH ..................................... 12
BAB III PENUTUP............................................................ 15
A. KESIMPULAN........................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA ........................................................... 17
iii
BAB I
PENDAHULUAN
[Link] BELAKANG
Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan seharusnya kita
menggunakannya dalam kegiatan sehari – hari. Selain itu menggunakan bahasa
Indonesia harus dengan baik dan benar, bukan dicampur adukkan dengan bahasa
daerah, bahasa asing dan bahasa “gaul“. Dalam hal ini media berpengaruh kuat
kepada masyarakat dalam berbahasa. Tetapi pada kenyataannya, media justru
menampilkan atau menulis berita yang cenderung menggunakan bahasa Indonesia
“ dicampur “ bahasa gaul, bahkan bahasa asing.
Dewasa ini penulisan kata dan pemakaian bahasa Indonesia semakin hari
semakin kacau, dan belum ada lembaga pemerintahan dan masyarakat yang
memberikan perhatian terhadap masalah ini. Apabila penulisan kata dan
penggunaan bahasa Indonesia kian hari terus tergeser oleh bahasa asing atau
bahasa daerah, maka posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional akan
terlupakan oleh masyarakat Indonesia.
Penggunaan kaidah bahasa yang benar menurut Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia (PUEBI) menjadi salah satu faktor penting dalam jurnalistik.
Pemilihan kata berhubungan erat dengan kaidah makna, kaidah sintaksis, kaidah
mengarang dan kaidah hubungan sosial. Kaidah-kaidah ini sering mendukung
sehingga tulisan menjadi lebih berstruktur dan bernilai, serta lebih mudah
dipahami dan dimengerti oleh orang lain. Kesalahan ejaan yang sering ditemukan
yaitu pada kesalahan penulisan kata dan kesalahan tanda baca, dan penelitian
istilah.
iv
B. RUMUSAN MASALAH
1) Sebutkan contoh unsur gabungan dari kata si dan sang dalam penulisan
kata!
2) Jelaskan pemakaian tanda baca titik dan koma dalam pemakaian tanda
baca!
3) Apa saja pedoman umum dalam pembentukan istilah?
v
BAB II
PEMBAHASAN
[Link] KATA
Unsur gabungan kata si dan sang dalam penulisan kata dapat ditulis
terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya:
Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.
Toko itu memberikan hadiah kepada si pembeli.
Ibu itu menghadiahi sang suami kemeja batik.
Sang adik mematuhi nasihat sang kakak.
Harimau itu marah sekali kepada sang kancil.
Dalam cerita itu si buta berhasil menolong kekasihnya.
catatan:
Huruf awal sang ditulis dengan huruf kapital jika sang merupakan unsur
nama tuhan.
Misalnya:
Kita harus bererah diri kepada sang pencipta.
Pura dibangun oleh umat hindu untuk memuja sang hyang widhi wasa.
B. PEMAKAIAN TANDA BACA
A. Tanda Titik (.)
1) Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan.
Misalnya:
vi
Mereka duduk disana.
Dia akan datang pada pertemuan itu.
2) Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar,
atau daftar.
Misalnya:
a) Kondisi kebahasaan di indonesia
Bahasa indonesia:
Kedudukan
Fungsi
Bahasa daerah:
Kedudukan
Fungsi
Bahasa asing:
Kedudukan
Fungi
b) Patokan umum
1.1 isi karangan
1.2 ilustrasi
gambar tangan
tabel
grafik
/atatan:
1. Tanda titik tidak dipakai pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung
dalam suatu perin/ian.
Misalnya:
Bahasa indonesia berkedudukan sebagai;
Bahasa nasional yang berfungsi, antara lain,
Lambang kebanggan nasional,
Identitas nasional, dan
Alat pemersatu bangsa;
vii
Bahasa negara
2. Tanda titik tidak dipakai pada akhir penomoran digital yang lebih dari satu
angka ( seperti pada 2b)
3. Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau angka terakhir dalam
penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul tabel, bagan,
grafik, atau gambar.
Misalnya:
Tabel 1 kondisi kebangsaan di indonesia
Tabel 1.1 kondisi bahasa daerah di indoneia
Bagan 2 struktur organisasi
Bagan 2.1 bagian umum
Grafik 4 sikap masyarakat perkotaan terhadap bahasa indonesia
Grafik 4.1 sikap masyarakat berdasarkan usia
Gambar 1 gedung /akrawala
Gambar 1.1 ruang rapat
3) Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukan waktu atau jangka waktu.
Mialnya:
Pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35
menit, 20 detik)
1. 35. 20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
00.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
00.00.30 jam (30 detik)
4) Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun judul
tulisan
( yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.
Misalnya:
viii
Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Peta bahasa di
negara kesatuan republik indonesia. Jakarta.
Moeliono, Anton M. 1989. Kembara bahasa. Jakarta: grame - dia.
5) Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatnya yang
menunjukan jumlah.
Misalnya:
Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau.
Penduduk kota itu lebih dari 7.000.000 orang.
Anggaran lembaga itu mencapai Rp225.000.000.000,00.
Catatan:
1) Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Kata sila terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat
Bahasa halaman 1305.
Nomor rekening panitia seminar adalah 0015645678.
2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala
karangan, ilustrasi, atau tabel.
Misalnya:
Acara Kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945)
Gambar 3 Alat Ucap Manusia
Tabel 5 Sikap Bahasa Generasi Muda Berdasarkan Pendidikan
3) Tanda titik tidak dipakai di belakang (a) alamat penerima dan pengirim
surat serta (b) tanggal surat.
Misalnya:
Yth. Direktur Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya No. 73
Menteng
Jakarta 10330
ix
Yth. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta Timur
Indrawati, [Link].
Jalan Cempaka II No. 9
Jakarta Timur
21 April 2013
Jakarta, 15 Mei 2013 (tanpa kop surat)
B. Tanda koma (,)
1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau
pembilangan.
Misalnya:
Telepon seluler, komputer, atau internet bukan barang asing lagi.
Buku, majalah, dan jurnal termasuk sumber kepustakaan.
Satu, dua, ... tiga!
2. Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan,
dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).
Misalnya:
Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.
Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.
Dia membaca cerita pendek, sedangkan adiknya melukis panorama.
3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului
induk kalimatnya.
Misalnya:
Kalau diundang, saya akan datang.
Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.
x
Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku.
Catatan:
Tanda koma tidak dipakai jika induk kalimat mendahului anak kalimat.
Misalnya:
Saya akan datang kalau diundang.
Dia mempunyai banyak teman karena baik hati.
Kita harus banyak membaca buku agar memiliki wawasan yang luas.
4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung
antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan
dengan itu, dan meskipun demikian.
Misalnya:
Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh
beasiswa belajar di luar negeri.
Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau dia
menjadi bintang pelajar
Orang tuanya kurang mampu. Meskipun demikian, anak-anaknya
berhasil menjadi sarjana.
5. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru,seperti o, ya, wah,
aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau
Nak.
Misalnya:
O, begitu?
Wah, bukan main!
Hati-hati, ya, jalannya licin!
Nak, kapan selesai kuliahmu?
Siapa namamu, Dik?
Dia baik sekali, Bu.
xi
6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain
dalam kalimat.
Misalnya:
Kata nenek saya, “Kita harus berbagi dalam hidup ini.”
“Kita harus berbagi dalam hidup ini,” kata nenek saya,
“karena manusia adalah makhluk sosial.”
Catatan:
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung yang berupa
kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang
mengikutinya.
Misalnya:
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Pak Lurah.
“Masuk ke dalam kelas sekarang!” perintahnya.
“Wow, indahnya pantai ini!” seru wisatawan itu.
7. Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian
alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau
negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Sdr. Abdullah, Jalan Kayumanis III/18, Kelurahan Kayumanis,
Kecamatan Matraman, Jakarta 13130
Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia,Jalan Salemba Raya
6, Jakarta
Surabaya, 10 Mei 1960
Tokyo, Jepang
xii
8. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik
susunannya dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta: Restu
Agung.
Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1. Jakarta: Pusat
Bahasa.
Tulalessy, D. dkk. 2005. Pengembangan Potensi Wisata Bahari di Wilayah
Indonesia Timur. Ambon: Mutiara Beta.
9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan
akhir.
Misalnya:
Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia, Jilid 2
(Jakarta:Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.
Hadikusuma Hilman, Ensiklopedi Hukum Adat dan Adat Budaya
Indonesia (Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12.
W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang
(Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm.4.
10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis
yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri,
keluarga, atau marga.
Misalnya:
B. Ratulangi, S.E.
Ny. Khadijah, M.A.
Bambang Irawan, [Link].
Siti Aminah, S.H., M.H.
Catatan:
Bandingkan Siti Khadijah, M.A. dengan Siti Khadijah M.A.
xiii
(Siti Khadijah Mas Agung).
11. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen
yang dinyatakan dengan angka.
Misalnya:
12,5 m
27,3 kg
Rp500,50
Rp750,00
12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan
aposisi.
Misalnya:
Di daerah kami, misalnya, masih banyak bahan tambang yang belum
diolah.
Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, harus mengikuti
latihan paduan suara.
Soekarno, Presiden I RI, merupakan salah seorang pendiri Gerakan
Nonblok.
Pejabat yang bertanggung jawab, sebagaimana dimaksud pada ayat
(3), wajib menindak lanjuti laporan dalam waktu paling lama tujuh
hari.
Bandingkan dengan keterangan pewatas yang pemakaiannya tidak diapit
tanda koma!
Siswa yang lulus dengan nilai tinggi akan diterima di perguruan tinggi
itu tanpa melalui tes.
13. Tanda koma dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal
kalimat untuk menghindari salah baca/ salah pengertian.
Misalnya:
xiv
Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.
Bandingkan dengan:
Dalam pengembangan bahasa kita dapat memanfaatkan
bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara kami ucapkan terima kasih.
C. PEMBENTUKAN ISTILAH
Pedoman umum dalam pembentukan istilah adalah sebagai berikut:
1) KATENTUAN ISTILAH
1.1 istilah dan tata istilah
1.2 istilah umum dan istilah khusus
1.3 persyaratan istilah yang baik
1.4 nama dan tata nama
2) PROSES PEMBENTUKAN ISTILAH
2.1 konsep ilmu pengetahuan dan perisilahannya
2.2 bahan baku istilah indonesia
2.3 pementapan istilah nusantara
2.4 pamadanan istilah
2.4.1 penerjemah
[Link] penerjemahan langsung
[Link] penerjemahan dengan perekaan
2.4.2 penyerapan
[Link] penyerapan istilah
[Link] penyerapan afiks dan bentuk terikat istilah asing
penyesuaian ejaan prefiks dan bentuk terikat
xv
penyesuaian ejaan sufiks
2.4.3 gabungan penerjemaahan dan penyerapan
2.5 pereka/iptaan istilah
2.6 pembakuan dan kodifikasi istilah
2.7 bagan prosedur pembakuan istilah
3) ASPEK TATA BAHASA PERISTILAHAN
3.1 istilah bentuk dasar
3.2 istilah bentuk berafiks
3.2.1 paradigma bentuk berafiks ber-
3.2.2 paradigma bentuk berakfis meng-
3.2.3 paradigma bentuk berkonfiks ke-an
3.2.4 paradigma bentuk berinfiks –er-, -el-, -em-, -in-.
3.3 istilah bentuk ulang (pertanyaan)
3.3.1 bentuk ulang utuh
3.3.2 bentuk ulang suku awal
3.3.3 bentuk ulang berafiks
3.3.4 bentuk ulang salin suara
3.4 istilah bentuk majemuk
3.4.1 gabungan bentuk bebas
gabungan bentuk dasar
gabungan bentuk dasar dan berafiks
gabungan bentuk berafkis dan bentuk berakfish
3.4.2 gabungan bentuk bebas dengan bentuk terikat
3.4.3 gabungan bentuk terikat
3.5 istilah bentuk analogi
3.6 istilah hail metanalisis
3.7 istilah bentuk singkatan
3.8 istilah bentuk akronim
3.9 lambang huruf
3.10 gambar lambang
3.11 satuan dasar sistem internasional (SI)
xvi
3.12 kelipatan dan fraksi satuan dasar
3.13 sistem bilangan besar
3.14 tanda desimal
4) ASPEK SEMANTIK PERISTILAHAN
4.1 pemberian makna baru
4.1.1 penyempitan makna
4.1.2 perluasan makna
4.2 istilah sinonim
4.3 istilah honomin
4.3.1 homograf
4.3.2 homofon
4.4 istilah poliem
4.5 istilah hiponim
4.6 istilah taksonim
4.7 istilah meronim
xvii
BAB III
PENUTUP
[Link]
Berdasarkan uraian–uraian diatas dapat disimpulkan bahwa unsur
gabungan kata si dan sang dalam penulitasan kata dapat dituli terpisah dari kata
yang mengikutinya. Dan juga, pada awal sang ditulis dengan huruf kapitas jika
sang merupakan unsur nama tuhan.
Dalam pemakaian tanda baca pada tanda titik (.) terdapat unsur-unsur
didalamnya, tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan, tanda titik dipakai
dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar, tanda titik
dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukan waktu
jangka waktu,tanda titik dipakai dalam daftar pustaka diantara nama penulis,
tahun judul tulisan, dan tempat terbit, tanda titik dipakai untuk memisahkan
bilangan ribuan atau kelipatan yang menunjukan jumlah. Sedangkan pada tanda
baca koma (,) tanda koma dipakai diantara unsur-unur dalam suatu perimerincian
atau pembilangan, tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, tanda koma
dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya,
tanda koma dipakai di belakang kata tau ungkapan, tanda koma dipakai sebelum
dan/atau sesudah kata seru, tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan
langsung dari bagian lain dalam kalimat, tanda koma dipakai untuk memisahkan
bagian nama yang dibalik susunanny dalam daftar pustaka,dipakai di antara
bagian-bagian dalam catatan akhir, dipakai diantara nama orang dan singkatan
gelar akademis yang mengikutinya, tanda koma dipakai ebekum angka desimal,
tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan, dan tanda koma dapat
dipakai dibelakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk
menghindari salah baca/salag pengertian.
xviii
Dan ada juga, Penulisan unsur serapan yang terdapat pada Pedoman umum
dalam pembentukan istilah yang harus kita ketahui ketentuan umum, proses
pembentukan istilah, prosesn pembentukan istilah, aspek tata bahasa peristilahan,
dan aspek sematik peristilahan. Dapat disimpulkan bahwa kesalahan bahasa pada
penulisan ejaan dan tanda baca pada media sosial masih sering dijumpai yang
belum bahkan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
xix
DAFTAR PUSTAKA
INDONESIA, Tim Palito Media. Pedoman umum ejaan bahasa
Indonesia. surabaya: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2017.
Merangkum materi kelpmpok 2
tugas minggu depan
xx