SATUAN ACARA PENYULUHAN TERAPI BERMAIN PADA ANAK
DI RUANG MELATI RSUD TUGUREJO SEMARANG
Uci Sukma Wati
202102040036
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN
2021
SATUAN ACARA PENYULUHAN
(SAP)
Topik/Pokok Bahasan : Terapi Bermain Pada Anak “Menggambar dan Mewarnai”
Hari/tanggal : Jum’at, 28 Oktober 2021
Pukul : 11.00 WIB- Selesai
Penyuluh :
1. Uci Sukma Wati
Sasaran :
1. Anak usia 6 tahun
2. Anak yang dirawat diruang Melati dan keluarga klien.
3. Tidak mempunyai keterbatasan (fisik atau akibat terapi lain) yang
dapat menghalangi proses terapi bermain
4. Kooperatif dan mampu mengikuti proses kegiatan sampai selesai
5. Anak yang mau berpartisispasi dalam terapi bermain mewarnai
gambar Tempat : Di Ruang Melati (Anak), RSUD Tugurejo Semarang
A. Analisa Situasi
Masuk rumah sakit merupakan peristiwa yang sering menimbulkan
pengalaman traumatik, khususnya pada pasien anak yaitu ketakutan dan
ketegangan atau stress hospitalisasi. Stress ini disebabkan oleh berbagai faktor
diantaranya perpisahan dengan orang tua, kehilangan control, dan akibat dari
tindakan invasif yang menimbulkan rasa nyeri. Akibatnya akan menimbulkan
berbagai aksi seperti menolak makan, menangis, teriak, memukul, menyepak,
tidak kooperatif atau menolak tindakan keperawatan yang diberikan.
Bermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan dan
merupakan suatu metode bagaimana mereka mengenal dunia. Bagi anak
bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti
halnya makanan, perawatan, cinta kasih dan lain-lain. Anak-anak memerlukan
berbagai variasi permainan untuk kesehatan fisik, mental dan perkembangan
emosinya.
Untuk itu dengan melakukan permainan maka ketegangan dan stress
yang dialami akan terlepas karena dengan melakukan permainan rasa sakit
akan dapat dialihkan (distraksi) pada permainannya dan terjadi proses relaksasi
melalui kesenangannya melakukan permainan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum :
Setelah mengikuti kegiatan terapi bermain pada anak, maka
dapat meminimalkan dampak hospitalisasi pada anak.
2. Tujuan Khusus :
Setelah mengikuti kegiatan terapi bermain pada anak, diharapkan:
a. Melatih motoric halus, otak kanan dan otak kiri anak
b. Menurunkan tingkat kecemasan pada anak
c. Mengembangkan imajinasi pada anak
d. Mendorong kebiasaan bekerja kreatif
e. Memberi keuntungan pada anak menjadi percaya diri.
C. Metode
Bermain dengan anak (menggambar dan mewarnai) yang telah disediakan.
D. Media :
1. Buku bergambar
2. Pensil
3. Pensil warna
4. Penghapus
E. pelaksanaan kegiatan
No Kegiatan Penyuluh Peserta Waktu
1. Pembukaan: 1. Membuka kegiatan 1. Menjawab salam 5 menit
1. Pembukaan dengan 2. Mendengarkan
2. Perkenalan mengucapkan 3. Memperatikan
diri salam. 4. Memperhatikan
3. Tujuan 2. Memperkenalkan
4. Kontrak diri.
waktu 3. Menjelaskan tujuan
dari terapi bermain.
4. Kontrak waktu
dengan anak dan
orang tua.
2. Pelaksanaan 1. Menjelaskan tata 1. Memperhatikan 15
cara pelaksanaan 2. Bertanya menit
terapi bermain 3. Antusias saat
mewarnai gambar menerima
pada anak peralatan
2. Memberikan mewarnai
kesempatan kepada gambar
anak untuk bertanya 4. Memulai untuk
jika belum jelas. mewarnai
3. Membagikan kertas gambar
bergambar dan 5. Mewarnai
pensil warna kepada gambar dengan
anak warna yang
4. Fasilitator cocok
mendampingi anak 6. Memperhatikan
dan memberikan
motivasi kepada
anak.
5. Meminta anak untuk
menunjukkan
gambar yang telah
anak warnai.
6. Memberikan pujian
terhadap anak atas
apresiasi anak.
3. Evaluasi 1. Memotivasi anak 1. Menceritakan 10
menit
untuk mewarnai 2. Gembira
Gembira
gambar yang telah
disediakan
2. Membagikan reward
kepada anak
4. Terminasi 1. Memberikan 1. Memperhatikan 5 menit
motivasi dan pujian 2. Gembira
kepada anak . 3. Mendengarkan
Menjawab salam
2. Mengucapkan
terima kasih kepada
anak dan orang tua
3. Mengucapkan salam
Penutup
LAMPIRAN SATUAN ACARA PENYULUHAN
A. DEFISINI
Bermain merupakan kegiatan menyenangkan yang dilakukan dengan tujuan
bersenang-senang, yang menungkinkan seorang anak dapat melepaskan rasa frustasi.
Wong tahun 2009 menyatakan bermain merupakan kegiatan anak- anak yang dilakukan
berdasarkan keinginannya sendiri untuk mengatasi kesulitan, stres dan tantangan yang
ditemui serta berkomunikasi untuk menscapai kepuasan dalam berhubungan dengan orang
lain. Bermain dapat meningkatkan daya pikir anak untuk mendayagunakan aspek
emosional, sosial serta fisiknya serta dapat meningkatkan kemampuan fisik, pengalaman,
dan pengetahuan serta keseimbangan mental anak.
Terapi bermain merupakan kegiatan untuk mengatasi masalah emosi dan perilaku
anak-anakkarena responsif terhadap kebutuhan unik dan beragam dalam perkembangan
mereka. Anak-anak tidak seperti orang dewasa yang dapat beromunikasi secara alami
melalui kata-kata, mereka lebih alami mengekspresikan diri melalui bermain dan aktivitas.
Vanfleet, et al tahun 2010 menyatakan, terapi bermain merupakan suatu bentuk permainan
anak-anak, dimana mereka dapat berhubungan dengan orang lain, saling mengenal,
sehingga dapat mengungkapkan perasaannya sesuai dengan kebutuhan mereka. Terapi
bermain merupakan terapi yang diberikan dan digunakan untuk menghadapi ketakutan,
kecemasan dan mengenal lingkungan, belajar mengenai perawatan dan prosedur yang
dilakukan serta staf rumah sakit yang ada.
B. TUJUAN TERAPI BERMAIN
Wong, et al tahun 2009 menyebutkan bermain sangat penting bagi mental, emosional, dan
kesejaahteraan social anak. Seperti perkembangan mereka, kebutuhan bermain tidak terhenti pada
saat anak-anak sakit atau di rumah sakit. Sebaliknya, bermain di rumah sakit memberikan manfaat
utama yaitu meminimalkan munculnya masalah perkembangan anak, selain itu tujuan terapi
bermain adalah untuk menciptakan suasana aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri
mereka, memahami bagaimana sesuatu dapat terjadi, mempelajari aturan social dan mengatasi
masalah mereka serta memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk berekspresi dan mencoba
sesuatu yang baru.
Adapun tujuan bermain di rumah sakit adalah agar dapat melanjutkan fase tumbuh
kembang secara optimal, mengembangkan kreativitas anak sehingga anak dapat
beradaptasi lebih efektif terhadap stress. Santrock tahun 2007 menyatakan terapi bermain
dapat membantu anak menguasai kecemasan dan konflik. Karena ketegangan mengendor
dalam permaianan, anak dapat menghadapi masalah kehidupan, memungkinkan anak
menyalurkan kelebihan energi fisik dan melepaskan emosi yang tertahan. Permainan juga
sangat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu diantaranya:
1. Untuk perkembangan kognitif
a. Anak mulai mengerti dunia
b. Anak mampu mengembangakan pemikiran yang fleksibel dan berbeda
c. Anak memiliki kesempatan untuk menemui dan mengatasi permasalahan-
permasalahan yang sebenarnya
2. Untuk perkembangan sosial dan emosional
a. Anak mengembangakan keahlian berkomunikasi secara verbal maupun non verbal
melalui negosiasi peran, mencoba untuk memperoleh akses untuk permainan yang
berkelanjutan atau menghargai perasaan orang lain
b. Anak merespon perasaan teman sebaya sambil menanti giliran bermain dan
berbagi pengalaman
c. Anak bereksperimen dengan peran orang–orang dirumah, di sekolah, dan
masyarakat di sekitarnya melalui hubungan langsung dengan kebutuhan–
kebutuhan dan harapan orang–orang disekitarnya
d. Anak belajar menguasai perasaanya ketika ia marah, sedih atau khawatir dalam
keadaan terkontrol
3. Untuk perkembangan bahas
a. Dalam permainan dramatik, anak menggunakan pernyataan–pernyataan peran,
infleksi (perubahan nada/suara) dan bahasa komunikasi yang tepat
b. Selama bemain, anak belajar menggunakan bahasa untuk tujuan–tujuan yang
berbeda dan dalam situasi yang berbeda dengan orang–orang yang berbeda pula
c. Anak menggunakan bahasa untuk meminta alat bermain, bertanya,
mengkspresikan gagasan atau mengadakan dan meneruskan permainan
d. Melalui bermain, anak bereksperimen dengan kata – kata, suku kata bunyi, dan
struktur bahasa
4. Untuk perkembangan fisik (jasmani)
a. Anak terlibat dalam permainan yang aktif menggunakan keahlian– keahlian
motorik kasar
b. Anak mampu memungut dan menghitung benda–benda kecil menggunakan
keahlian motorik halusnya
5. Untuk perkembangan pengenalan huruf (literacy)
a. Proses membaca dan menulis anak seringkali pada saat anak sedang bermain
permainan dramatik, ketika ia membaca cetak yang tertera, membuat daftar
belanja atau bermain sekolah–sekolahan
b. Permainan dramatik membantu anak belajar memahami cerita dan struktur cerita
c. Dalam permainan dramatik, anak memasuki dinia bermain seolah–olah mereka
adalah karakter atau benda lain. Permainan ini membantu mereka memasuki dunia
karakter buku.
C. KATEGORI BERMAIN
1. Bermain aktif
Dalam bermain aktif, kesenangan timbul dari apa yang dilakukan anak,
apakah dalam bentuk kesenangan bermain alat misalnya mewarnai gambar,
melipat kertas origami, puzzele dan menempel gambar. Bermain aktif juga dapat
dilakukan dengan bermain peran misalnya bermain dokter-dokteran dan bermain
dengan menebak kata.
2. Bermain Pasif
Dalam bermain pasif, hiburan atau kesenangan diperoleh dari kegiatan orang
[Link] menghabiskan sedikit energi, anak hanya menikmati temannya bermain atau
menonton televisi dan membaca buku. Bermain tanpa mengeluarkan banyak tenaga,
tetapi kesenangannya hampir sama dengan bermain aktif.
D. JENIS PERMAINAN
1. Permainan bayi
Permainan sederhana oleh anggota keluarga dilakukan pada usia 0-1 tahun. Contoh:
petak umpet, dakon, kejar-kejaran.
2. Permainan perorangan
Untuk menguji kecakapan, ada peraturan sedikit, dilakukan pada todler dan
prasekolah. Contoh: menendang bola
3. Permainan tetangga
Permainan kelompok, pada prasekolah dan sekolah. Contoh: bermain polisi dan
penjahat.
4. Permainan tim
Permainan terorganisir, punya aturan tertentu, dilakukan pada usia sekolah dan
remaja. Contoh: sepakbola, kasti, lari.
5. Permainan dalam ruang
Permainan pada anak sakit atau lelah, dilakukan pada cuaca buruk atau hujan. Contoh: main
kartu, tebak-tebakan, teka-teki .
E. CIRI-CIRI BERMAIN
1. Selalu bermain dengan satu atau benda
2. Selalu ada timbal balik interaksi
3. Selalu dinamis
4. Ada aturan tertentu.
5. Menuntut ruangan tertentu
F. KLASIFIKASI BERMAIN
1. Berdasarkan isinya
a. Bermain afektif sosial (social affective play)
Permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang menyenangkan antara
anak dan orang lain. Misalnya, bayi akan mendapat kesenangan dan kepuasan
dari hubungan yang menyenangkan dengan orangtua dan orang lain. Permainan
yang biasa dilakukan adalah “cilukba”, berbicara sambil tersenyum/tertawa atau
sekedar memberikan tangan pada bayi untuk menggenggamnya tetapi dengan
diiringi berbicara sambil tersenyum dan tertawa.
b. Bermain untuk senang-senang (sense of pleasure play)
Permainan ini menggunakan alat yang bisa menimbulkan rasa senang pada anak
dan biasanya mengasyikkan. Misalnya dengan menggunakan pasir, anak akan
membuat gunung-gunung atau benda-benda apa saja yang dapat dibentuk dengan
pasir. Bisa juga dengan menggunakan air anak akan melakukan bermacam-
macam permainan seperti memindahkan air ke botol, bak atau tempat lain.
c. Permainan Ketrampilan (skill play)
Permainan ini akan menimbulkan keterampilan anak, khususnya motorik kasar
dan halus. Misalnya, bayi akan terampil akan memegang benda- benda kecil,
memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain dan anak akan terampil naik
sepeda. Jadi keterampilan tersebut diperoleh melalui pengulangan kegiatan
permainan yang dilakukan.
d. Permainan simbolik atau pura-pura (dramatic play role)
Permainan anak ini yang memainkan peran orang lain melalui permainannya.
Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa. Misalnya ibu guru,
ibunya, ayahnya, kakaknya sebagai yang ingin ia tiru. Apabila anak bermain
dengan temannya, akan terjadi percakapan di antara mereka tentang peran orang
yang mereka tiru. Permainan ini
penting untuk memproses/mengindentifikasi anak terhadap peran tertentu.
2. Berdasarkan jenis permainan
a. Permainan (Games)
Permainan adalah jenis permainan dengan alat tertentu yang menggunakan
perhitungan atau skor. Permainan ini bisa dilakukan oleh anak sendiri atau
dengan temannya. Banyak sekali jenis permainan ini yang dimulai dari sifat
tradisional maupun modern seperti ular tangga, congklak, puzzle dan lain-
lain.
b. Permainan yang hanya memperhatikan saja (unoccupied behaviour)
Pada saat tertentu anak sering terlihat mondar-mandir, tersenyum, tertawa,
jinjit-jinjit, bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja, atau apa saja yang ada
di sekelilingnya. Anak melamun, sibuk dengan bajunya atau benda lain. Jadi
sebenernya anak tidak memainkan alat permainan tertenty dan situasi atau
objek yang ada di sekelilingnya yang digunakan sebagai alat permainan. Anak
memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang menarik perhatiannya. Peran
ini berbeda dengan onlooker, dimana anak aktif mengamati aktivitas anak
lain.
3. Berdasarkan karakteristik sosial
a. Solitary play. Dimulai dari bayi (toddler) dan merupakan jenis permainan
sendiri atau independen walaupun ada orang lain disekitarnya. Hal ini karena
keterbatasan sosial, ketrampilan fisik dan kognitif.
b. Paralel play. Dilakukan oleh suatu kelompok anak balita atau prasekolah
yang masing-masing mempunyai permainan yang sama tetapi satu sama
lainnya tidak ada interaksi dan tidak saling tergantung. Dan karakteristik
khusus pada usia toddler.
c. Associative play. Permainan kelompok dengan tanpa tujuan kelompok. Yang
mulai dari usia toddler dan dilanjutkan sampai usia prasekolah dan merupakan
permainan dimana anak dalam kelompok dengan aktivitas yang sama tetapi
belum teroganisir secara formal.
d. Cooperative play. Suatu permainan yang teroganisir dalam kelompok, ada tujuan
kelompok dan ada memimpin yang di mulai dari usia pra sekolah. Permainan ini
dilakukan pada usia sekolah dan remaja.
e. Onlooker play. Anak melihat atau mengobservasi permainan orang lain tetapi
tidak ikut bermain, walaupun anak dapat menanyakan permainan itu dan
biasanya dimulai pada usia toddler.
f. Therapeutic play. Merupakan pedoman bagi tenaga tim kesehatan, khususnya
untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis anak selama hospitalisasi. Dapat
membantu mengurangi stress, memberikan instruksi dan perbaikan kemampuan
fisiologis (Vessey & Mohan, 1990 dikutip oleh Supartini, 2004). Permainan
dengan menggunakan alat-alat medik dapat menurunkan kecemasan dan untuk
pengajaran perawatan diri. Pengajaran dengan melalui permainan dan harus
diawasi seperti: menggunakan boneka sebagai alat peraga untuk melakukan
kegiatan bermain seperti memperagakan dan melakukan gambar-gambar seperti
pasang gips, injeksi, memasang infus dan sebagainya.
G. FUNGSI BERMAIN
Adapun fungsi bermain:
1. Perkembangan sensorik-motorik: aktivitas sensorik-motorik merupakan
komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk
perkembangan fungsi otot.
Perkembangan intelektual: anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap
segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna,
bentuk, ukuran, tekstur, dan membedakan objek. Misalnya, anak bermain mobil-
mobilan, kemudian bannya terlepas dan annak dapat memperbaikinya maka anak
telah belajar memecahkan masalahnya melalui eksplorasi alat mainannya dan
untuk mencapai kemampuan ini, anak menggunakan daya pikir dan imajinasinya
semaksimal mungkin. Semakin sering anak melakukan eksplorasi, akan melatih
kemampuan intelektualnya.
2. Perkembangan sosial: perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan
berinteraksi dengan lingkugannya. Melalui kegatan bermain, anak akan belajar
memberi dan menerima. Bermain denganorang lain akan membantu anak untuk
mengembangkan hubungan sosial dan belajr memecahkan dari hubungan
tersebut. Saat melakukan aktivitas bermain, anak belajar berinteraksi dengan
teman, memahami lawan bicara, dan belajar tentang bilai sosial yang ada pada
kelompoknya. Hal ini terjadi terutama pada anak usia sekolah dan remaja.
3. Perkembangan kreativitas: berkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan
sesuatu dan mewujudkannya ke dalam bentuk objek dan atau kegiatan yang
dilakukannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar dan mencoba untuk
merealisasikan ide-idenya.
4. Perkembangan kesadaran diri: melalui bermain, anak akan mengembangkan
kemampuannya dalam mengatur tingkah laku. Anak juga akan belajar mengenal
kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak
tingkah lakunya terhadap orang lain. Dalam hal ini, peran orang tua sangat
penting untuk menannamkan nilai moral dan etika, terutama dalam kaitannya
dengan kemampuan untuk memahami dampak positif dan negatif dari
perilakunya terhadap orang lain. Nilai-niali moral: anak mempelajari nilai benar
dan salah dari lingkungannya, terutama dari orang tua dan guru. Dengan
melakukan aktivitas bermain, anak akan mendapatkan kesempatan untuk
menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di lingkungannya dan
dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan kelompok yang ada dalam
lingkungannya.
5. Bermain sebagai terapi: pada saat anak dirawat di rumah saki, anak akan
mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan seperti: marah,
takut, cemas, sedih dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari
hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa sterssor yang ada
dilingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan
terlepas dari ketegangan dan stres yang dialaminya.
6. Bermain sebagai terapi: pada saat anak dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami
berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan seperti: marah, takut, cemas, sedih
dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak darui hospitalisasi yang dialami anak
karena menghadapi beberapa stressor yang ada dilingkungan rumah sakit. Untuk itu
dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang
dialaminya karena dengan melakukan permainan, anak akan dapat mengalihkan rasa
sakitnya pada permainan (distraksi).
H. FAKTOR-FAKTOR YAN MEMPENGARUHI AKTIVITAS BERMAIN
1. Tahap perkembangan, tiap tahap mempunyai potensi / keterbatasan
2. Status kesehatan, anak sakit perkembangan psikomotor kognitif terganggu
3. Jenis kelamin
4. Lingkungan lokasi, negara, kultur
5. Alat permainan senang dapat menggunakan
6. Intelegensia dan status sosial ekonomi
I. TAHAP PERKEMBANGAN BERMAIN
1. Tahap Eksplorasi
Merupakan tahapan menggali dengan melihat cara bermain.
2. Tahap Permainan
Setelah tahu cara bermain, anak mulai masuk dalam tahap perminan.
3. Tahap Bermain Sungguhan
Anak sudah ikut dalam perminan.
4. Tahap Melamun
Merupakan tahapan terakhir anak membayangkan permainan berikutnya.
J. KARAKTERISTIK BERMAIN SESUAI TAHAP PERKEMBANGAN
1. Bayi (1 bulan)
a. Visual: permainan dapat dilihat dengan jarak dekat (20-25 Cm), gantungkan
benda yang terang dan menyolok.
b. Auditori: bicara dengan bayi, menyanyi, musik, radio, detik jam.
c. Taktil: memeluk, menggendong, memberi kehangatan.
d. Kinetik: mengayun, naik kereta dorong.
2. Bayi (2-3 bulan)
a. Visual : buat ruangan menjadi terang, gambar, cermin ditembok, bawa bayi ke
ruangan lain, letakkan bayi agar dapat memandang disekitar.
b. Auditori : bicara dengan bayi, beri mainan bunyi, ikut sertakan dalam
pertemuan keluarga.
c. Taktil : memandikan, mengganti popok, menyisir rambut dengan lembut,
gosok dengan lotion/bedak.
d. Kinetik : jalan dengan kereta, gerakan berenang, bermain air.
3. Bayi (4-6 bulan)
a. Visual : bermain cermin, anak nonton TV, beri mainan dengan warna terang.
b. Auditori : anak bicara, ulangi suara yang dibuat, panggil nama, remas kertas
didekat telinga, pegang mainan berbunyi didekat telinga.
c. Taktil : beri mainan lembut/kasar, mandi cemplung/cebur.
d. Kinetik : bantu tengkurap, sokong waktu duduk.
4. Bayi (6-9 bulan)
a. Visual : mainan berwarna, bermain depan cermin,”ciluk ….ba”, beri kertas
untuk dirobek-robek.
b. Auditori : panggil nama “Mama …Papa, dapat menyebutkan bagian tubuh,
beri tahu yang anda lakukan, ajarkan tepuk tangan dan beri perintah
sederhana.
c. Taktil : meraba bahan bermacam-macam tekstur, ukuran, main air mengalir,
berenang.
d. Kinetik : letakkan mainan agak jauh lalu suruh anak untuk mengambilnya.
5. Bayi (9-12 bulan)
a. Visual : perlihatkan gambar dalam buku, ajak pergi ke berbagai tempat,
bermain bola, tunjukkan bangunan agak jauh.
b. Auditori : tunjukkan bagian tubuh dan sebutkan, kenalkan dengan suara
binatang.
c. Taktil : beri makanan yang dapat dipegang, kenalkan dingin, panas dan
hangat.
d. Kinetik : beri mainan yang dapat ditarik dan didorong.
Mainan yang dianjurkan untuk bayi 6-12 bulan:
a. Blockies warna-warni jumlah, ukuran.
b. Buku dengan gambar menarik.
c. Balon, cangkir dan sendok.
d. Boneka bayi.
Mainan yang dapat didorong dan ditarik.
6. Todler (2-3 tahun)
a. Mulai berjalan, memanjat, berlari.
b. Dapat memainkan sesuatu dengan tangannya.
c. Senang melempar, mendorong, mengambil sesuatu.
d. Perhatiannya singkat.
e. Mulai mengerti memiliki “ Ini milikku ….”
f. Karakteristik bermain “Paralel Play”
g. Toddler selalu bertengkar saling memperebutkan mainan/sesuatu.
h. Senang musik/irama.
Mainan untuk toddler:
a. Mainan yang dapat ditarik dan didorong.
b. Alat masak.
c. Malam, lilin.
d. Boneka, blockies, telepon, gambar dalam buku, bola, dram yang dapat
dipukul, krayon, kertas.
7. Pra Sekolah (4-5 tahun)
a. Dapat melompat, berlari, bermain dan bersepeda.
b. Sangat energik dan imaginatif.
c. Mulai terbentuk perkembangan moral.
d. Mulai bermain dengan jenis kelamin dan bermain dengan kelompok.
e. Karakteristik bermain: assosiative play, dramatic play, skill play.
f. Laki-laki aktif bermain di luar, perempuan didalam rumah
Mainan untuk pra sekolah:
a. Peralatan rumah tangga.
b. Sepeda roda tiga.
c. Papan tulis/kapur.
d. Lilin, boneka, kertas.
e. Drum, buku dengan kata sederhana, kapal terbang, mobil, truk.
8. Usia Sekolah (6-12 tahun)
a. Bermain dengan kelompok yang berjenis kelamin sama
b. Dapat belajar dengan aturan kelompok.
c. Belajar independent, cooperative, bersaing, menerima orang lain.
d. Karakteristik “Cooperative Play”.
e. Laki-laki: Mechanical, perempuan : Mother Role.
Mainan untuk anak usia sekolah:
a. 6-8 tahun
Kartu, boneka, robot, buku, alat olah raga, alat untuk melukis, mencatat,
sepeda
b. 8-12 tahun
Buku, mengumpulkan perangko, uang logam, pekerjaan tangan, kartu, olah
raga bersama, sepeda, sepatu roda
9. Remaja (13-18 tahun)
a. Bermain dalam kelompok seperti sepak bola, basket, bulutangkis.
b. Senang mendengarkan musik, melihat TV, mendengarkan radio.
Membaca majalah, buku.
K. MANFAAT BERMAIN
Manfaat yang didapat dari bermain, antara lain:
1. Membuang ekstra energi.
2. Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang, otot dan
organ-organ.
3. Aktivitas yang dilakukan dapat merangsang nafsu makan anak.
4. Anak belajar mengontrol diri.
5. Berkembanghnya berbagai ketrampilan yang akan berguna sepanjang hidupnya
6. Meningkatnya daya kreativitas.
7. Mendapat kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada disekitar anak.
8. Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran, iri hati dan kedukaan.
9. Kesempatan untuk bergaul dengan anak lainnya.
10. Kesempatan untuk mengikuti aturan-aturan
11. Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya.
L. ALAT PERMAINAN EDUKATIF
Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat
mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat
perkembangannya, serta berguna untuk:
1. Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau
merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus. Contoh
alat bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik dandidorong, tali,
dll. Motorik halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.
2. Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang
[Link] alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, tape,
TV, dll.
3. Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk.
Warna, dll. Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka,
pensil warna, radio, dll.
4. Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi ibu
dan anak, keluarga dan [Link] alat permainan : alat permainan yang
dapat dipakai bersama, misal kotak pasir, bola, tali, dan lain-lain.
M. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM BERMAIN
1. Bermain atau alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
2. Permainan disesuaikan dengan kemampuan anak dan minat anak.
3. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada
keterampilan yang lebih majemuk.
4. angan memeaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain.
5. Jangan memberikan alat permanian terlalu banyak atau sedikit.
N. TUJUAN TERAPI BERMAIN KETIKA ANAK HOSPITALISASI
Tujuan kegiatan terapi bermain pada anak:
1. Memberikan informasi
2. Memicu normalisasi
3. Menggunakan sistem pendukung yang dikenal
4. Mengidentifikasi teknik koping
O. PRINSIP BERMAIN DI RUMAH SAKIT
Agar anak dapat lebih efektif dalam bermain di rumah sakit, perlu
diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Permainan tidak banyak menggunakan energi, waktu bermain lebih singkat
untuk menghindari kelelahan dan alat-alat permainannya lebih sederhana.
b. Mainan harus relatif aman dan terhindar dari infeksi silang. Permainan harus
memperhatikan keamanan dan kenyamanan. Anak kecil perlu rasa nyaman dan
yakin terhadap benda-benda yang dikenalnya, seperti boneka yang dipeluk anak
untuk memberi rasa nyaman dan dibawa je tempat tidur di malam hari, mainan
tidak membuat anak tersedak, tidak mengandung bahan berbahaya, tidak tajam,
tidak membuat anak terjatuh, kuat dan tahan lama seta ukurannya menyesuaikan
usia dankekuatan anak.
c. Sesuai dengan kelompok usia: pada rumah sakit yang mempunyai tempat
bermain, hendaknya perlu dibuatkan jadwal dan dikelompokkan sesuai usia
karena kebutuhan bermain berlainan antara usia yang lebih rendah dan yang
lebih tinggi
d. Tidak bertentangan dengan terapi: terapi bermain harus memperhatikan kondisi
anak. Bila program terapi mengahruskan anak untuk istirahat, maka
O. BERMAIN MEWARNAI GAMBAR
Mewarnai adalah proses memberi warna pada suatu media. Mewarnai gambar diartikan sebagai
proses memberi warna pada media yang sudah bergambar. Mewarnai gambar merupakan terapi
permainan yang kreaktif untuk mengurangi stres dan kecemasan, serta meningkatkan komunikasi
pada anak
P. SUMBER PUSTAKA
Saputro Heri dan Fazrin Intan. 2017. Anak Sakit Wajib Bermain di Rumah Sakit:
Penerapan Terapi Bermain Anak Sakit; Proses, Manfaat dan
Pelaksanaannya. Ponorogo:Forum Ilmiah Kesehatan (FORIKES)
Adang, dkk. 2014. Satuan Acara Penyuluhan Terapi Bermain.
[Link] penyuluhan-
[Link] diakses pada tanggal 23 April 2019