100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
9 tayangan12 halaman

Pengantar Filsafat dan Ilmu

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian filsafat, fungsi filsafat, dan hubungan antara filsafat dan ilmu. Filsafat didefinisikan sebagai ilmu yang menelaah segala sesuatu secara mendasar dan mendalam dengan akal untuk menemukan hakikatnya. Fungsi filsafat adalah sebagai pendobrak pemikiran, pembimbing, dan meraih kebenaran. Filsafat berperan sebagai dasar bagi pengembangan ilmu-ilmu

Diunggah oleh

Aris Andanawari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
9 tayangan12 halaman

Pengantar Filsafat dan Ilmu

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian filsafat, fungsi filsafat, dan hubungan antara filsafat dan ilmu. Filsafat didefinisikan sebagai ilmu yang menelaah segala sesuatu secara mendasar dan mendalam dengan akal untuk menemukan hakikatnya. Fungsi filsafat adalah sebagai pendobrak pemikiran, pembimbing, dan meraih kebenaran. Filsafat berperan sebagai dasar bagi pengembangan ilmu-ilmu

Diunggah oleh

Aris Andanawari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang paling sempurna, karena
manusia dianugerahkan akal budi. Dengan akal budi, manusia memiliki
kemampuan untuk berpikir. Kemampuan berpikir inilah yang membuat manusia
mampu mengembangkan pengetahuan. Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin
tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-
duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa
yang kita belum tahu. Berfilsfat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan
pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian
juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus
terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau
(Suriasumantri 2007).
Manusia berfilsafat karena ia berpikir tapi berfikir tidak selalu berfilsafat
karena filsafat memiliki karakteristik yang khas yaitu memiliki sifat menyeluruh,
sifat mendasar dan sifat spekulatif. Berfilsafat ialah berusaha menemukan
kebenaran tentang segala sesuatu dengan menggunakan pikiran secara serius.
Dengan dimilikinya kemampuan berpikir serius, seseorang mungkin saja mampu
menemukan rumusan baru dalam penyelesaian masalah dunia (Tafsir 2016).
Filsafat merupakan induk dari semua ilmu. Dikarenakan objek material
filsafat bersifat umum berupa seluruh kenyataan, di sisi lain ilmu-ilmu dalam
filsafat membutuhkan objek khusus sehingga menyebabkan berpisahnya ilmu dari
filsafat. Meskipun demikian, masing-masing ilmu memisahkan diri dari filsafat,
bukan berarti hubungan filsafat dengan ilmu-ilmu khusus menjadi terputus
(Sudibyo, dkk 2014). Pokok permasalahan yang dikaji dalam filsafat mencakup
tiga segi yakni logika, etika dan estetika. Ketiga cabang utama filsafat ini
bertambah lagi yakni metafisika dan politik. Kelima cabang ini berkembang lagi

tt

1
menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai kajian yang lebih spesifik
diantaranya filsafat ilmu.
Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang
secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). filsafat ilmu
merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat
ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis (hakikat apa yang dikaji), epistemelogis
(cara mendapatkan pengetahuan yang benar) maupun aksiologis (Nilai kegunaan
ilmu) (Suriasumantri, 2007)
1.2 Rumusan Masalah

2 Bagaimana pengertian filsafat?


3 Apa fungsi filsafat itu?
4 Hubungan Filsafat dan Ilmu?
5 Bagaimana Pendekatan Filsafat Ilmu?
6 Objek Kajian Filsafat Ilmu?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Filsafat
Filsafat secara etimologis berasal dari bahasa Yunani Philosophia, Philos
artinya suka, cinta atau kecenderungan pada sesuatu, sedangkan Sophia artinya
kebijaksanaan. Dengan demikian secara sederhana filsafat dapat diartikan cinta
atau kecenderungan pada kebijaksanaan. Kata filsafat pertama kali digunakan oleh
Pyhthagoras.1
Istilah filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki pada kata falsafah
dari bahasa Arab, philosopy dari bahasa Inggris, philosophia dari bahasa
Latin dan philosophie dari bahasa Jerman, Belanda dan Perancis. Semua
istilah itu bersumber pada istilah Yunani philosophia, yaitu philein berarti
mencintai, sedangkan philos berarti teman. Selanjutnya, istilah sophos berarti
bijaksana, sedangkan sophia berarti kebijaksanaan.2
Secara terminologi pengertian filsafat menurut para filsuf sangat
beragam, Al-Farabimengartikan filsafat adalah ilmu yang menyelidiki hakikat
yang sebenarnya dari segala yang ada (ilmu itu ada, dengan kehidupan yang
ada). Ibnu Rusyd mengartikan filsafat sebagai ilmu yang perlu dikaji oleh
manusia karena dia dikaruniai akal. Francis Bacon filsafat merupakan induk
agung dari ilmu-ilmu, dan filsafat menangani semua pengetahuan sebagai
bidangnya. Immanuel Kant filsafat sebagai ilmu yang menjadi pokok pangkal
dari segala pengetahuan yang di dalamnya mencakup masalah epistimologi
yang menjawab persoalan apa yang dapat kita ketahui. Aristoteles
mengartikan filsafat sebagai ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung
di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik,
dan estetika. Adapun Rene Descartes mengartikan filsafat sebagai kumpulan
segala pengetahuan, di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok
penyelidikan.3
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian filsafat adalah ilmu
pengetahuan yang menelaah segala sesuatu yang ada secara mendasar dan
mendalam dengan mempergunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat
bukannya mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, akan tetapi mencari
hakikat dari fenomena tersebut dengan kata lain filsafat adalah pangkal dari
segala ilmu yang ada dalam pemikiran manusia.

B. Fungsi Filsafat

2
Muzairi, Filsafat Umum,(Yogyakarta: 2009), hlm. 6.

3
Filsafat merupakan suatu upaya berfikir yang jelas dan terang
tentang seluruh kenyataan, upaya ini menghasilkan beberapa peranan bagi
manusia.4Filsafat berperan sebagai pendobrak. Artinya bahwa filsafat
mendobrak keterjungkungan pikiran manusia. Dengan memahami, dan
mempelajari filsafat manusia dapat menghancurkan kebekuan, kabakuan,
bahkan keterkungkungan pikirannya dengan kembali mempertanyakan
segala. Pendobrakan ini bisa membuat manusia terbebas dari kebekuan, dan
[Link], bagi manusia filsafat berperan sebagai pembebas
pikiran manusia. Pembebasan ini membimbing manusia untuk berpikir lebih
jauh, lebih mendalam, lebih kritis terhadap segala hal sehingga manusia bisa
mendapatkan kejelasan dan keterangan atas seluruh [Link] ketiga
yang dimiliki filsafat bagi manusia adalah sebagai pembimbing. Selain
memiliki peran bagi manusia, filsafat juga berperan bagi ilmu pengetahuan
umumnya. Menurut Descartes, filsafat adalah himpunan dari segala
pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam
dan manusia.
Dalam menjalan peranannya filsafat memiliki tujuan. Menurut Plato,
filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli
dan murni. Tujuan filsafat adalah meraih kebenaran. Tidak seperti agama
yang menyandarkan diri dan mengajarkan kepatuhan, filsafat menyandarkan
diri dan mengandalkan kemampuan berfikir [Link] konkrit  manfaat
mempelajari filsafat adalah :
1. Filsafat menolong mendidik, membangun diri kita sendiri dengan
pikiran lebih mendalam, kita mengalami dan menyadari kerohanian kita.
2. Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan
memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari.
3. Filsafat memberikan pandangan yang luas, membendung akuisme
dari akusentrisme (dalam segala hal hanya melihat dan mementingkan
kepentingan dan kesenangan si aku).
4. Filsafat merupakan latihan untuk berfikir sendiri, hingga kita tak
hanya ikut-ikutan saja, membuntut pada pandangan umum, percaya akan
setiap semboyan dalam surat-surat kabar, tetapi secara kritis menyelidiki
apa yang dikemukakan orang, mempunyai pendapat sendiri, berdiri
sendiri, dengan cita-cita mencari kebenaran.
5. Filsafat memberikan dasar-dasar, baik untuk hidup kita
sendiri(terutama dalam etika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan
lainnya, seperti sosiologi, ilmu jiwa, ilmu mendidik, dan sebagainya.5

3
Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, (Jakarta:Rajawali Pers, 2010), hlm. 2-3.
4
Eka Martini., Filsafat Umum, (Palembang:Noer Fikri Offset, 2012), hlm.10.
5
A. Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu,(Jakarta:PT. Renika Cipta, 2010), hlm. 32.

4
C. Hubungan Filsafat dan Ilmu

Ilmu berasal dari bahasa Arab yaitu ‘alima, ya’lamu, ilman dengan
wazanfa’ila, yaf’alu, fa’lan yang berarti mengerti, memahami benar-benar.
Dalam bahasa Inggris ilmu disebut science, dari bahasa latin scientia-scire
(mengetahui), dan dalam bahasa Yunani adalah episteme.
Ilmu, sains, atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk
menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari
berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar
dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan
membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari
keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum
sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat
secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang
ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia
berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu
pengetahuan adalah produk dari epistemologi.6
Ilmu merupakan salah satu dari buah pemikiran manusia dalam
menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Ilmu merupakan salah satu dari
pengetahuan manusia. Untuk bisa menghargai ilmu sebagaimana mestinya
sesungguhnya kita harus mengerti apakah hakekat ilmu itu sebenarnya.
Seperti kata pribahasa Prancis “mengerti berarti memaafkan segalanya”.
Tujuan utama kegiatan keilmuan adalah mencari pengetahuan yang bersifat
umum dalam bentuk teori, hukum, kaidah, asas dan sebagainya [Link]
beberapa pendapat tentang ilmu tersebut, dapat disimpulkan bahwa ilmu
adalah sebagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu
yaitu sistematik, rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka
dan kumulatif.
Filsafat ilmu ialah penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah
dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain, filsafat ilmu
sesungguhnya merupakan suatu penyelidikan lanjutan. Karena, apabila para
penyelenggara melakukan menyelidikan terhadap objek-objek serta masalah-
masalah yang berjenis khusus dari masing-masing ilmu itu sendiri, maka
orangpun dapat melakukan penyelidikan lanjutan terhadap kegiatan-kegiatan
6
C.A. Van Peursen: Filsafat Sebagai Seni untuk Bertanya. Dikutip dari buku Arief Sidharta. Apakah
Filsafat dan Filsafat Ilmu Itu?, (Bandung: Pustaka Sutra, 2008),hlm. 7-11.

7
Jujun S. Suriasumantri,  Ilmu dalam Perspektif; Sebuah Kumpulan dan karangan Tentang
Hakekat Ilmu. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), hlm. 19

5
ilmiah tersebut. Dengan mengalihkan perhatian dari objek-objek yang
sebenarnya dari penyelidikan ilmiah kepada proses penyelidikannya sendiri,
maka muncullah suatu matra baru.8
Filsafat ilmu dapat dibedakan menjadi dua yaitu filsafat ilmu dalam
arti luas dan sempit, filsafat ilmu dalam arti luas yaitu menampung
permasalahan yang menyangkut hubungan luar dari kegiatan ilmiah,
sedangkan dalam arti sempit yaitu menampung permasalahan yang
bersangkutan dengan hubungan dalam yang terdapat di dalam ilmu. Adapun
beberapa definisi ilmu menurut para ahli di antaranya adalah:
1. Robert Akermann, filsafat ilmu adalah sebuah tinjauan kritis tentang
pendapat-pedapat ilmiah dewasa ini yang dibandingkan pendapat-pendapat
terdahulu yang telah dibuktikan.
2. Leswi White Beck, filsafat ilmu itu mempertanyakan dan menilai metode-
metode pemikiran ilmiah, serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya
usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
3. Cornelius Benjamin, filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafati
yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya,
konsep-konsepnya serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang
intelektual.
4. May Brodbeck, filsafat ilmu itu sebagai analisis yang netral secara etis dan
filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.
5. The Liang Gie mendefinisikan filsafat ilmu adalah segenap pemikiran
reflektif terhadap persoalan mengenai segala hal yang menyangkut
landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan
manusia.9
Untuk mendapatkan gambaran singkat tentang pengertian filsafat ilmu
dapat dirangkum menjadi tiga yaitu:
1. Suatu telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu.
2. Upaya untuk mencari kejelasan mengenai dasar-dasar konsep mengenai
ilmu dan upaya untuk membuka tabir dasar-dasar keempirisan,
kerasionalan, dan kepragmatisan.
3. Studi gabungan yang terdiri atas beberapa studi yang beraneka macam
yang ditunjukkan untuk menetapkan batas yang tegas mengenai ilmu
tertentu.

D. Pendekatan Filsafat Ilmu


Fisafat ilmu sebagai cabang khusus yang membicarakan sejarah
perkembangan ilmu bertujuan: Pertama, filsafat ilmu sebagai sarana
8
Soejono Soemargono, Pengantar Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2003), hlm. 1
9
Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, [Link]., hal. 49

6
pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan
ilmiah. Kedua, filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji,
mengkritik asumsi dan medote keilmuan. Ketiga, filsafat ilmu memberikan
pendasaran logis terhadap metode keilmuan, setiap metode ilmiah yang
dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkkan secara logis dan rasional
agar dapat dipahami dan digunakan secara umum.10Berdasarkan tujuan
filsafat ilmu yang dikemukan oleh Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, maka
dapat dikembangkan bahwa tujuan filsafat ilmu mengkaji dan mencari fakta-
fakta terhadap pemikiran secara ilmiah dan rasional.
Pendekatan dalam disiplin ilmu yang disebut filsafat ilmu akan lebih
mudah di pahami arti pengertian bila diajukan pandangan tentang  pokok
masalah, yaitu tentang permasalahan filsafat yang berarti hubungan antara
filsafat dan ilmu. Pendekatannya antara lain:
1. Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif kerap dikontraskan dengan pendekatan
induktif. Pendekatan Deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada
suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini,
dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat
lebih khusus. Dari segi bahasa, deduktif atau deduksi berasal dari Bahasa
Inggris, yaitudeduction yang artinya penarikan kesimpulan-kesimpulan
dari keadaan-keadaan umum atau menemukan yang khusus dari yang
umum. Pendekatan deduktif juga diartikan sebagai cara berpikir dimana
pernyataan yang bersifat umum ditarik suatu kesimpulan yang bersifat
khusus. Penarikan kesimpulan dalam pendekatan deduktif biasanya
menggunakan pola pikir silogisme yang secara sederhana digambarkan
dalam penyusunan dua buah pernyataan (premis mayor dan premis
minor) dan sebuah kesimpulan.
2. Pendekatan Induktif
Pendekatan Induktif merupakan pendekatan yang digunakan dalam
berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke hal umum. Hukum yang
disimpulkan pada fenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena
sejenis yang belum diteliti. Berpikir induktif adalah bentuk dari apa yang
disebut generalisasi. Induksi (induction) adalah cara mempelajarai
sesuatu yang bertolak dari hal-hal khusus untuk menentukan hukum atau
hal yang bersifat umum. Metode berpikir induktif merupakan cara
berpikir yang dilakukan dengan cara menarik suatu kesimpulan yang
bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Oleh karena
itu, penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-

10
Ibid, hal. 52

7
pernyataan yang mempunyai ruang khusus dan terbatas dalam menyusun
argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
3. Pendekatan Rasionalisme
Rasionalisme merupakan suatu paham yang mengutamakan rasio.
Paham ini beranggapan bahwa prinsip-prinsip dasar keilmuan bersumber
dari rasio manusia, sehingga pengalaman empiris bergantung pada
prinsip-prinsip rasio. Karena rasio itu ada pada subjek (manusia), maka
asal pengetahuan harus dicari pada subjek. Rasio itu berpikir. Berpikir
inilah ynag membentuk pengetahuan. Karena hanya manusia yang
berpikir, maka hanya manusia yang mempunyai pengetahuan. Dengan
pengetahuan inilah manusia berbuat dan menentukan tindakannya.
Berbeda pengetahuan, berbeda pula laku perbuatan dan tindakannya.
Rasionalisme juga bisa diartikan sebagai doktrin filsafat yang
menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian,
logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman,
dogma, atau ajaran agama.
4. Pendekatan Empirisme
Empirisme merupakan suatu paham yang mengutamakan
pengalaman. Secara harfiah, istilah empirisme berasal dari Bahasa
Yunani, yaitu kata emperia yang berarti pengalaman. Pendekatan empiris
melihat bahwa pengalaman, baik pengalaman lahiriyah maupun
pengalaman batiniyah merupakan sumber utama pengenalan. Empirisme
adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua
pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak
anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam
dirinya ketika dilahirkan.

E. Objek Kajian Filsafat Ilmu


Setiap ilmu pengetahuan memiliki objek tertentu yang menjadi
lapangan penyelidikan atau lapangan studinya. Objek ini diperoleh melalui
pendekatan atau cara pandang, metode, dan sistem tertentu. Adanya objek
menjadikan setiap ilmu pengetahuan berbeda antara satu dengan yang
lainnya. Objek filsafat ilmu menurut Surajiyo adalah sesuatu yang merupakan
bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan.11
Menurut Noeng Muhadjir objek studi filsafat ilmu dibagi menjadi dua
yaitu objek material dan objek formal.12
1. Objek material
11
Surajiyo,  Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar. (Jakarta: Bumi Aksara),2007, hlm. 5.
12
Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu. (Yogyakarta : Rake Sarasin),2011, hlm. 9.

8
Objek material filsafat ilmu overlap dengan semua ilmu, yaitu
membahas fakta dan kebenaran semua disiplin ilmu, serta konfirmasi dan
logika yang digunakan semua disiplin ilmu. Sedangkan menurut Arif
Rohman, Rukiyati dan L. Andriani objek material suatu bahan yang
berupa benda, barang, keadaan atau hal yang dikaji.13 Menurut Surajiyo
objek material adalah suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau
pembentukan pengetahuan itu. Objek material juga adalah hal yang
diselidiki, dipandang, atau disorot oleh suatu disiplin ilmu. Objek material
mencakup apa saja, baik hal-hal kongkret ataupun hal yang abstrak.14
Menurut Waryani Fajar Riyanto objek materi adalah sasaran material
suatu penyelidikan, pemikiran, atau penelitian keilmuan. Ia bisa berupa
apa saja baik apakah benda-benda material atau benda-benda non
material. Ia tidak terbatas pada apakah hanya di dalam kenyataan kongret
seperti  manusia ataupun alam semetesta ataukah hanya di dalam realitas
abstrak seperti Tuhan atau sesuatu yang bersifat ilahiah lainnya.15
2.  Objek formal
Objek formal filsafat ilmu adalah telaah filsafat tentang fakta dan
kebenaran, serta telaah filsafati tentang konfirmasi dan logika. Fakta dan
kebenaran menjadi objek formil substantif, sedangkan konfirmasi dan
logika menjadi objek formil instrumentatif dalam studi filsafat ilmu.
Objek formal adalah sosok objek material yang dilihat dan didekati
dengan sudut pandang dan perspektif tertentu atau dalam istilah lain
kemampuan berpikir manusia dalam memperoleh pengetahuan yang
benar.16 Sementara objek formal menurut Waryani Fajar Riyanto adalah
cara pandang tertentu, atau sudut pandang tertentu yang dimiliki serta
yang menentukan satu macam ilmu.17 Menurut Surajiyo objek formal
filsafat ilmu adalah sudut pandang yang ditujukan pada bahan dari
penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek
material itu disorot.18 Dalam pandangan The Liang Gie obyek formal
adalah pusat perhatian dalam penelaah ilmuwan terhadap fenomena itu.
Penggabungan antara obyek material dan obyek formal sehingga
merupakan pokok soal tertentu yang dibahas dalam pengetahuan ilmiah
merupakan objek yang sebenarnya dari cabang ilmu yang bersangkutan.19
13
Arif Rohman, Rukiyati, dan L. Andriani, Mengenal Epistimologi dan Logika Pendidikan.
(Yogyakarta : Pustaka Pelajar,2011), hlm. 22.
14
Surajiyo,  [Link]., hlm. 5.
15
Waryani Fajar Riyanto, Filsafat Ilmu Topik-topik Estimologi. (Yogyakarta: Integrasi Interrkoneksi
Press,2011), hlm. 20.
16
Arif Rohman, Rukiyati, dan L. Andriani,  [Link]., hlm. 22.
17
Waryani Fajar Riyanto, [Link]., hlm. 20.
18
Surajiyo. [Link].,hlm. 7.
19
The Liang Gie, [Link]., hlm. 139.

9
10
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Filsafat Ilmu adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan
pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar.
Filsafat sangat dibutuhkan dalam membuktikan suatu aksiden atau fenomena
dan Subtansi karena dengan filsafat lah bisa terbukti sesuatu itu ada atau
mungkin ada, karena dengan akal lah bisa membuktikan suatu substansi dan
substansi itu terbentuknya dari filsafat. Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian
penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah. 
Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan
metode keilmuan. Sebab kecenderungan kita menerapkan suatu metode
ilmiah tanpa memperhatikan struktur ilmu pengetahuan itu sendiri. Satu sikap
yang diperlukan disini adalah menerapkan metode ilmiah yang sesuai dengan
struktur ilmu pengetahuan bukan sebaliknya.
Peranan filsafat dalam ilmu pengetahuan adalah filsafat memberi
penilaian tentang sumbangan ilmu-ilmu pada perkembangan pengetahuan
manusia guna mencapai kebenaran tapi filsafat tidak ikut campur dalam ilmu-
ilmu tersebut dimana filsafat selalu mengarah pada pencarian akan kebenaran.
Pencarian itu dapat dilakukan dengan menilai ilmu-ilmu pengetahuan yang
ada secara kritis sambil berusaha menemukan jawaban yang benar. Tentu saja
penilaian itu harus dilakukan dengan langkah-langkah yang teliti dan dapat
dipertanggungjawabkan secara rasional. Penilaian dan jawaban yang
diberikan filsafat sendiri, senantiasa harus terbuka terhadap berbagai kritikan
dan masukan sebagai bahan evaluasi demi mencapai kebenaran yang dicari.

11
DAFTAR PUSTAKA

Nasution. 2016. Filsafat Ilmu: Hakilat Mencari Pengetahuan. Yogyakarta:


Deepublish

Arif Rohman, Rukiyati, dan L. Andriani. 2011. Mengenal Epistimologi dan Logika


Pendidikan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Asmoro Achmadi. 2010. Filsafat Umum. Jakarta : Rajawali Pers
Burhanuddin Salam. 2005. Pengantar Filsafa. Jakarta: Bumi Aksara

12

Anda mungkin juga menyukai