BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Dari Tahun ke tahun, dari jaman ke jaman telah banyak mengalami
perubahan khususnya pada bidang pemerintahan yang berpengaruh terhadap
masyarakat, salah satunya adalah ketidak puasan pelayanan terhadap
masyarakat akan sistem pemerintahan yang kurang baik, buruknya kinerja
pemerintah, kualitas pelayanan publik yang rendah maka rakyat mengharapkan
lahirnya good governance dan mereka cukup paham bahwa pemerintahan yang baik
itu antara lain dapat mewujudkan kebijakan – kebijakan yang baik.
Untuk mewujudkannya banyak langkah yang mesti direncaanakan,
dilakukan, dan dinilai secara sistematis dan konsisten. Dalam konteks ini, penataan
sumber daya manusi menjadi hal yang sangat penting dilakukan. Terlebih lagi di
era otonomi daerah seperti sekarang. Penataan sumber daya manusia yang
profesional dalam manajemen otonomi daerah harus diprioritaskan, karena
reformasi dibidang administrasi pemerintahan mengharapkan hadirnya pemerintah
yang lebih berkualitas, lebih mampu mengembangkan fungsi-fungsi pelayanan
publik, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan sosial ekonomi. Maka dari
itu pemerintah pusat juga harus melaksanakaan otonomi daerah sesuai UUD yang
tertera yang berisi tentang desentralisasi kepegawaian, yaitu terdiri dari :
1
1. Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 pasal 3 ayat 1 tentang Pokok-pokok
Kepegawaian.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2000 tentang Wewenang Pengangkatan,
Pemindahan dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 tentang Pengadaan Pegawai Negeri
Sipil.
Dengan adanya peraturan tersebut maka unit pengelola sumber daya manusia dalam hal ini
Pegawai Negeri Sipil sudah selayaknya ditangani oleh sebuah lembaga teknis daerah berbentuk
badan atau kantor, Selama ini daerah otonom hanya memiliki kewenangan terbatas terhadap
pengelolaan sumber daya manusia, antara lain menyangkut usulan kenaikan pangkat, usulan
mutasi, usulan pengisian jabatan kerja dan usulan pemberhentian, sedangkan keputusan terakhir
tetap berada di tangan Pemerintah Pusat. Untuk memberi dasar yang kuat bagi pelaksanaan
desentralisasi kepegawaian tersebut, diperlukan adanya pengaturan kebijakan manajemen
terhadap Pegawai Negeri Sipil secara nasional tentang norma, standar, dan prosedur yang sama
dan bersifat nasional dalam setiap unsur manajemen kepegawaian. Badan Kepegawaian,
Pendidikan dan Pelatihan Daerah merupakan Perangkat Pemerintah Daerah yang berwenang
melaksanakan manajemen Pegawai Negeri Sipil Daerah untuk meningkatkan pelayanan dan
kinerja pegawai dalam rangka menunjang tugas pokok Gubernur, Bupati/Walikota.
Agar terlaksana kelancaran pelaksaanaan teresebut maka tergantung terhadap
kesempurnaan pegawai yang menjalankan tugasnya dengan profesionalisme, juga harus mampu
bekerja dengan secara efektif dan efisien untuk meningkatkan roda pemerintahan, karena pegawai
lah yang akan melakukan atau meberikan pengarahan kepada publik dari program atau pelayanan
2
pemerintahan yang ada saat ini. Masyarakat harus merasa puas dengan pelayanan yang pemerintah
berikan maka secara tidak langsung feedback nya pun akan baik terhadap pemerintahan itu sendiri
dan bagi bangsa dan Negara Indonesia. Yang di dalammnya mengandung unsur unsur yaitu dari
mulai biaya, estimasi, dan mutu. Dengan biaya yang lebih murah dan estimasi waktu yang relatif
lebih cepat juga tentunya dengan mutu kualitas yang baik akan menghasilkan kepuasan pelayanan
terhadap masyarakat .
Pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan publik seiring dengan tuntutan
perkembangan sudah menjadi sehaarusnya pemerintah melakukan perbaikan dalam pelayanan
publik tersebut. Akan tetapi saat ini kenyataannya masyarakat merasa kurang percaya terhadap
pelayanan publik dari pemerintah, masih saja ada keluhan dan pengaduan dari masyarakat terhadap
pelayanan publik dari pemerintah baik secara langsung maupun melalui media massa, seperti
keluhan terhadap prosedur yang berbelit-belit, tidak adanya kepastian jangka waktu penyelesaian,
besaran biaya yang harus di keluarkan, persyaratan yang tidak adanya transparansi, dan sikap
petugas atau pegawai yang kurang responsive. Hal-hal inilah yang menimbulkan citra buruk
kepada pemerintah.
Maka dari itu, dibutuhkan pelayanan publik yang bisa melayani masyarakat dengan
profesionalisme agara rasa kepercayaan mereka dapat kembali lagi dan merasa nyaman dilayani
oleh pemerintah. Dalam hal ini sebagai institusi layanan catatan sipil dan layanan pendaftaran
penduduk yang berada di Jawabarat Khususnya di kota Bandung yang memberikan pelayan
sebagai. layanan Disdukcapil Kota Bandung terdiri atas Layanan Pencatatan Sipil (Capil) dan
Layanan Pendaftaran Penduduk (Dafduk). Pencatatan Sipil adalah pencatatan peristiwa penting
yang dialami oleh seseorang, dalam register pencatatan sipil pada Instansi Pelaksana, dokumen
yang dicatat meliputi akta-akta serta catatan pinggir. Pendaftaran Penduduk adalah pencatatan
3
biodata penduduk, pencatatan atas pelaporan peristiwa kependudukan dan pendataan penduduk
rentan adminitrasi kependudukan serta penerbitan dokumen penduduk berupa kartu identitas atau
surat keterangan kependudukan,maka dari itu diperlukanlah profesionalisme kerja untuk mencapai
tujuan dan tugas organisasi tersebut.
Setelah melakukan observasi awal di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota
Bandung, peneliti menemukan permasalahan berdasarkan dimensi kualitas pelayanan publik
sebagai berikut:
1. Reliability. Kurangnya kemampuan aparat dalam memberikan pelayanan. Hal tersebut
dapat dilihat dari adanya pegawai yang tidak mampu melayani masyarakat. Pegawai
tersebut perlu dibantu oleh rekan kerjanya dalam meberikan pelayanan kepada
masyarakat.
2. Assurance. Kurangnya kemampuan aparat dalam memberikan jaminan pelayanan. Hal
tersebut dapat dilihat dari pegawai yang kurang cepat dalam memberikan pelayanan,
sehingga pegawai tersebut tidak memberikan jaminan waktu dalam melayani
masyarakat.
Permasalahan tersebut diduga disebabkan karena kurangnya profesionalisme kerja
pegawai, hal tersebut dapat dilihat dari:
1. Kebutuhan untuk Mandiri. Kurangnya kemampuan melakukan hal yang bisa dilakukan
oleh sendiri. Terlihat dari adanya pegawai yang perlu dibantu oleh rekan kerjanya
dalam melayani masyarakat. Pegawai yang bersangkutan kurang mandiri dan tidak mau
mempelajari pekerjaan yang ia lakukan.
4
2. Dedikasi. Kurangnya pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki. Terlihat dari adanya
pegawai yang kurang mampu dan cakap menggunakan sarana dan prasarana pelayanan
yang dapat mempersingkat waktu pelayanan kepada masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan judul
“PENGARUH PROFESIONALISME KERJA PEGAWAI TERHADAP KUALITAS
PELAYANAN PUBLIK DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL
KOTA BANDUNG.”
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan peneliti diatas, maka peneliti dapat
merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Seberapa besar pengaruh profesionalisme kerja pegawai terhadap kualitas pelayanan
publik di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Bandung ?
2. Faktor-faktor apakah yang dapat mengambat profesionalisme kerja pegawai terhadap
kualitas pelayanan publikdi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Bandung?
3. Upaya-upaya apasaja yang dapat mengurangi hambatan dalam profesionalisme kerja
pegawai terhadap kualitas pelayananpublik di Dinas Kependudukan dan Pencatatan
Sipil Kota Bandung ?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini berdasarkan rumusan masalah yang ada yakni, diantaranya :
5
1. menganalisis seberapa besar pengaruh profesionalisme kerja pegawai terhadap
kualitas pelayanan publik di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Bandung.
2. Mengidentifikasi hambatan-hambatan dalam pengaruh profesionalisme kerja pegawai
terhadap kualitas pelayananpublik di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota
Bandung.
3. Mendeskripsikan dan menganalisis upaya yang dilakukan untuk mengurangi hambatan
dalam pengaruh profesionalisme kerja pegawai terhadap kualitas pelayananpublik di
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Bandung.
1.4 Kegunaan Penelitian
A. Kegunaan Teoritis
Kegunaan teoritis dalam penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi
terhadap kajian terkait dengan pengaruh profesionalisme kerjapegawai terhadap kualitas
pelayanan publik di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Bandung serta dapat
menjadi bahan acuan dan referensi pada penelitian sejenis yang dilakukan dimasa yang akan
datang.
B. Kegunaan Praktis
Kegunaan teoritis dalam penelitian ini diharapkan Menambah pemahaman pembaca mengenai
pengetahuan terkait dengan profesionalisme kerja pegawai dan kualitas pelayanan publik serta
dapat Memberikan pemahaman akan pengaruh profesionalisme kerja pegawai terhadap kualitas
pelayanan.