Analisis Lereng dan Bijih Nikel Laterit
Analisis Lereng dan Bijih Nikel Laterit
SKRIPSI
Disusun Oleh :
RIAN ARIEZALDY
15310029
i
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah
melimpahkan kasih dan sayang-Nya kepada kita, sehingga penulis bisa
menyelesaikan skripsi dengan tepat waktu, yang di beri Judul “ANALISIS
KEMIRINGAN LERENG TERHADAP DISTRIBUSI DAN KETEBALAN
BIJIH NIKEL LATERIT PT. TAMBANG BUMI SULAWESI ”
Tujuan dari penyusunan skripsi ini guna memenuhi salah satu syarat untuk
bisa menempuh ujian sarjana pendidikan pada Fakultas Teknologi Sumber Daya
Alam Program Studi Teknik Pertambangan Institut Teknologi Yogyakarta (ITY).
Didalam pengerjaan skripsi ini telah melibatkan banyak pihak yang sangat
membantu dalam banyak hal. Oleh sebab itu, disini penulis sampaikan rasa terima
kasih sedalam-dalamnya kepada :
1. Allah SWT yang telah memberi kelancaran, kemudahan, kekuatan dan
kesehatan sehingga penulis dapat mengerjakan proposal skripsi ini.
2. Hj. Warniningsih S.T.,[Link] selaku Dekan Fakultas Teknologi
Sumber Daya Alam Institut Teknologi Yogyakarta dan sekaligus
selaku Dosen Pembimbing I dalam membimbing pengerjaan proposal
skripsi penulis
3. Ika Arsi Anafiati S.T.,[Link] selaku Ka Prodi Teknik Pertambangan
Institut Teknologi Yogyakarta, sekaligus Dosen Pembimbing II dalam
memberi arahan pada pengerjaan proposal skripsi penulis .
4. Dosen Teknik Pertambangan Institut Teknologi Yogyakarta yang telah
menjadi motivator penulis dalam seluruh rangkaian pengerjaan
proposal skripsi ini.
5. Orang tua tercinta yang telah banyak memberikan doa dan dukungan
kepada penulis secara moril maupun materil hingga skripsi ini dapat
selesai.
6. Kakak Tercinta Chandra Ariezaldy S.T yang memberikan penulis
wadah untuk menyelesaikan studi akhir proposal ini dan adik tercinta
juga anggota keluarga dan kerabat yang senatiasa memberikan doa dan
dukungan semangat kepada penulis.
iii
7. HMTP-ITY yang dimana menjadi landasan penulis mengembangkan
diri serta pembuka semangat dalam pengerjaan proposal skripsi ini.
8. Perkumpulan kegiatan kampus Institut Teknologi Yogyakarta “ BEM
ITY MEMBUMI, ITY CUP 2016, KONGRES MAHASISWA dan
KKN ITY 2018.
9. Saudara seperjuangan rantau “ Ajis, Relky, Yusril, Ika, Devi, Upri,
Prat” yang selalu member semangat.
10. Sahabat dan rekan seperjuangan tercinta yang tiada henti memberi
dukungan dan motivasi kepada penulis.
11. Inisial “IP” yang sabar menjadi tempat kekesalan dikala penulis mulai
goyah dan hilang arah, sekaligus menjadi penyemangat terbesar.
12. Semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi
ini yang tidak bisa penulis sebutkan semuanya.
Penulis
iv
DAFTAR ISI
BAB II .................................................................................................................... 7
2.1. Tinjauan Pustaka ...............................................................................................7
v
3.2. Teknik Pengumpulan Data ..............................................................................21
BAB IV ................................................................................................................. 26
4.1. Hasil Penelitian ...............................................................................................26
vi
DAFTAR TABEL
vii
DAFTAR GAMBAR
viii
ANALISIS KEMIRINGAN LERENG TERHADAP DISTRIBUSI DAN
KETEBALAN BIJIH NIKEL LATERIT PT. TAMBANG BUMI
SULAWESI
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI SUMBERDAYA ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI YOGYAKARTA
INTISARI
Kemiringan lereng sangat berpengaruh terhadap penyebaran bijih Nikel
Laterit. Hal ini disebabkan karena air yang membawa nikel terlarut akan sangat
berperan dan pergerakan ini dikontrol oleh topografi. Lokasi PT. Tambang Bumi
Sulawesi (TBS) terletak di Desa Pangkalaero Kecamatan Kabaena Selatan,
Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara. Maksud dan tujuan penelitian
ini adalah mengidentifikasi kondisi laterit terhadap pengaruh kemiringan lereng untuk
penyebaran Nikel Laterit dan menentukan ketebalan bijih Nikel Laterit
berdasarkan hasil korelasi lubang Bor antara Blok 1 dan blok 2 pada PT. Tambang
Bumi Sulawesi.
Objek yang diteliti dalam penelitian ini adalah data Litologi dan Topografi di
lokasi penelitian PT. Tambang Bumi Sulawesi di Kabaena Selatan dan Daerah
pengaruh penyebaran nikel dengan menentukan ketebalan bijih Nikel Laterit pada
blok 1 dan blok 2 di lokasi penelitian berdasarkan korelasi lubang bor. Teknik
pengumpulan data mencatat keadaan yang terjadi, melakukan wawancara,
mengumpulkan data explorasi PT. TBS dan Mengumpulkan sampel.
Identifikasi penyebaran nikel laterit pada daerah penelitian dilakukan dengan
metode Report ( Drill Recovery ) untuk mengambil data core box. Perbedaan
ketebalan dan kelas kemiringan lereng untuk sebaran Nikel laterit antara blok 1
dan blok 2 sangat berbeda dengan perbandingan blok 1 ketebalan hingga lebih
dari >20 meter sedangkan untuk blok 2 ketebalannya kurang dari <20 meter.
Sehingga kenyataannya kondisi kedua blok tersebut tidak Homogen dan
penentuan pemilihan Metode Penambangan masih dilakukan pemilihan bukaan.
ix
SLOPE ANALYSIS MIXTURE ON DISTRIBUTION AND THICKNESS
OF LATERITE NICKEL ORE PT. TAMBANG BUMI SULAWESI
ABSTRACT
The slope is very influential on the spread of Laterite Nickel ore. This is
because water carrying dissolved nickel will play a big role and this movement is
controlled by topography. Location of PT. Tambang Bumi Sulawesi (TBS) is
located in Pangkalaero, Kabaena Selatan, Bombana Regency, Province Of
Southeast Sulawesi. The purpose and objective of this study is to identify the
condition of laterites to the effect of slope for the distribution of Laterite Nickel
and determine the thickness of Laterite Nickel ore based on the results of the
correlation of the drill hole between Block 1 and Block 2 at PT. Tambang Bumi
Sulawesi.
The objects examined in this study are lithology and topography data at the
research location of PT. Sulawesi Earth Mine in South Kabaena and Regions
influence the spread of nickel by determining the thickness of Laterite Nickel ore
in block 1 and block 2 at the study site based on the correlation of the borehole.
Data collection techniques record the conditions that occur, conduct interviews,
collect exploration data PT. Tambang Bumi Sulawesi and Collect samples.
Identification of the spread of laterite nickel in the study area is carried out by
the Report (Drill Recovery) method to retrieve core box data. The difference in
thickness and grade of slope for the distribution of laterite nickel between block 1
and block 2 is very different from the ratio of block 1 thickness up to >20 meters
while for block 2 the thickness is under <20 meters. So in reality the conditions of
the two blocks are not homogen and the determination of the selection of mining
methods is still carried out by the selection of openings.
x
BAB I
PENDAHULUAN
[Link] Belakang
Indonesia merupakan negara penghasil nikel terbesar kedua dunia setelah
Rusia yang memberikan sumbangan sekitar 15% dari jumlah produksi nikel
dunia pada tahun 2010. Pulau Kabaena adalah salah satu pulau di wilayah
Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara penghasil nikel di Indonesia.
Pulau dengan luas daratan sekitar 873 km² terdiri dari 6 kecamatan, yaitu
Kecamatan Kabaena, Kabaena Barat, Kabaena Timur, Kabaena Selatan, Kabaena
Utara, dan Kecamatan Kabaena Tengah (Badan Pusat Statistik Bombana, 2016).
PT. Tambang Bumi Sulawesi (TBS) Termasuk perusahaan dengan potensi
sebaran nikel yang sangat besar dimana merupakan perusahaan tambang nikel
laterit yang berlokasi di tiga Desa Pangkalero, Desa Pununu dan Desa Batuawu
Kecamatan Kabaena Selatan, Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara
dengan Izin Usaha Pertambanagan (IUP) memiliki luas lahan 1533 Ha. Metode
penambangan yang diterapkan PT. Tambang Bumi Sulawesi (TBS) adalah
selective mining, yaitu suatu metode penambangan dimana dilakukan pemisahan
antara over burden dan ore secara langsung di pit/tambang untuk menentukan
distribusi ketebalan bijh nikel laterit dengan spesifikasi kadar Ni 1,4%.
Nikel laterit merupakan sumber bahan tambang yang sangat penting. Endapan
nikel laterite terbentuk dari hasil pelapukan yang Dari batuan induk dari jenis
ultrabasa. Mineral ini umumnya terbentuk pada wilayah yang beriklim tropis
sampai sub-tropis. Negara-negara yang kebanyakan mengandung nikel laterite
diantaranya, Philipina, Indonesia, Columbia dan Australia (Edi, 2013).
Batuan induk dari endapan Nikel Laterite adalah batuan ultrabasa yaitu
harzburgite (peridotit yang kaya akan unsur orthopiroksen), dunit dan jenis
peridotit lainnya, Nikel dengan kadar yang cukup baik umumnya mengandung
mineral Garnierite (max. Ni 40%). Ni terlarut (leached) dari fase limonite (Fe
Oxyhydroxide) dan terendapkan bersama mineral silicate hydrous atau
mensubtitusi unsure Mg pada serpentinite yang teralterasi (Pelletier,1996).
1
Kemiringan lereng sangat berpengaruh terhadap penyebaran bijih Nikel
Laterit. Hal ini disebabkan karena air yang membawa nikel terlarut akan sangat
berperan dan pergerakan ini dikontrol oleh topografi. Secara kualitatif pada
lereng dengan derajat tinggi (curam) maka proses pengayaan akan sangat kecil
atau tidak ada sama sekali karena air pembawa Ni akan mengalir. Bila proses
pengayaan kecil maka pembentukan bijih (ore) juga akan kecil (tipis), sedangkan
pada daerah dengan lereng sedang / landai proses pengayaan umumnya berjalan
dengan baik karena run off kecil sehingga ada waktu untuk proses pengayaan, dan
umumnya ore yang terbentuk akan tebal (Eltrit, 2014).
Semakin besar persen lereng (kemiringan) suatu daerah maka ketebalan
endapan yang terbentuk akan semakin tipis, sebaliknya bila besar persen lereng
suatu daerah lebih kecil (landai) maka ketebalan endapan yang terbentuk akan
semakin besar (tebal). Sementara kondisi kemiringan lereng yang paling ideal
sebagai tempat pembentukan endapan nikel laterit berada pada daerah dengan
kemiringan lereng yang sedang, artinya tidak terlalu landai dan juga tidak terlalu
terjal (antara 8% - 15%).
Dalam penelitian ini, dianggap perlu dilakukan mine exploring untuk
mendapatkan sebaran Ni pada klasifikasi kemiringan Lereng yang terdapat pada
tiap blok. Maka dari itu peneliti mengumpulkan data untuk distribusi perencanaan
penambangan pada PT. TBS dalam menentukan metode penambangan untuk blok
berikutnya.
[Link] Masalah
a. Apa pengaruh kemiringan lereng terhadap sebaran bijih Nikel Laterit pada
PT. Tambang Bumi Sulawesi ?
b. Perbandingan ketebalan bijih Nikel Laterit antara blok 1 dan blok 2 pada
lokasi IUP PT. Tambang Bumi Sulawesi ?
2
[Link] Penelitian
3
tinggi akan banyak terendapkan.
Profil berulang yang banyak ditemukan pada daerah
penelitian merupakan lokasi dimana terjadi
pengendapan secara silih berganti oleh profil laterit
yang sebelumnya sudah terbentuk pada tempat lain,
sehingga sering muncul urutan yang berulang (tidak
sesuai dengan proses pembentukan endapan nikel
laterit yang terjadi pada umumnya).
Perbedaan ketebalan yang paling terlihat antara
masing-masing horizon adalah top soil, dimana
perbedaan ketebalan top soil antara Pulau Pakal dan
top soil Pulau Gee menunjukkan perbedaan yang
cukup signifikan. Sementara horizon lainnya tidak
memiliki perbedaan ketebalan yang cukup signifikan
(kurang dari satu meter). Hal ini juga dapat
merefleksikan intensitas pelapukan yang lebih
intensif dan didukung oleh keberadaan kelurusan-
kelurusan anomali kadar Ni yang tinggi.
Eltrit Bima Identifikasi Sebaran Nikel Dari hasil uraian dan pembahasan, maka hasil
Fitria dkk, Laterit Dan Volume Bijih penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut :
2014 Nikel Daerah Anoa 1. Berdasarkan peta distribusi nikel (Ni) pada lapisan
Menggunakan Korelasi Data limonit dan saprolit, penyebaran kadar nikel (Ni)
Bor dipengaruhi oleh bentuk topografi dan kemiringan
lereng. Semakin besar kemiringan lereng maka
ketebalan endapan Ni yang terbentuk akan semakin
tipis. Sebaliknya, bila kemiringan lereng sedang
sampai landai maka endapan yang terbentuk akan
lebih tebal.
[Link] hasil perhitungan volume bijih nikel
(Ni) pada lapisan limonit dan saprolit dengan
menggunakan metode Influence, maka diperoleh total
volume bijih nikel dari 160 lubang bor sebesar
2.913.682 m
Rian Analisis kemiringan lereng Pengaruh Kemiringan lereng terhadap sebaran Nikel
Ariezaldy terhadap distribusi dan Laterit tergantung kepada persentasi kemiringan
2018 ketebalan bijih nikel laterit lereng. Dimana kemringan lereng yang curam
PT. Tambang bumi sulawesi kemungkinan untuk pembentukan endapan bijih
4
sangat kecil. Dikarenakan pembawaan zona
pengayaan proses pembentukan yang terjadi tidak
homogen dengan yang kemiringan lereng dengan
topografi landai.
[Link] Penelitian
Maksud dan tujuan penelitian ini adalah :
a. Mengidentifikasi kondisi laterit terhadap pengaruh kemiringan lereng untuk
penyebaran Nikel Laterit.
b. Menentukan ketebalan bijih Nikel Laterit berdasarkan hasil korelasi
lubang Bor antara Blok 1 dan blok 2 pada PT. Tambang Bumi
Sulawesi.
5
Gambar 1.1. Peta Kesampaian Daerah Penelitian PT. Tambang Bumi Sulawesi
Adapun manfaat yang bisa didapatkan dari hasil penelitian ini serta penunjang
pengembangan ilmu khususnya di bidang keilmuan yaitu :
6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
7
b. Pembentukan Zona Endapan Nikel Laterit
8
Tabel 2.2. Modifikasi Klasifikasi Kelas Lereng
Pada proses pengayaan nikel, air yang membawa nikel terlarut akan sangat
berperan dan pergerakan ini dikontrol oleh topografi. Secara kualitatif pada
lereng dengan derajat tinggi (curam) maka proses pengayaan akan sangat kecil
atau tidak ada sama sekali karena air pembawa Ni akan mengalir. Bila proses
pengayaan kecil maka pembentukan bijih (ore) juga akan kecil (tipis), sedangkan
pada daerah dengan lereng sedang / landai proses pengayaan umumnya berjalan
dengan baik karena run off kecil sehingga ada waktu untuk proses pengayaan, dan
umumnya ore yang terbentuk akan tebal. Akibat lereng yang sangat curam maka
erosi yang terjadi sangat kuat hingga mengakibatkan zona limonit dan saprolit
tererosi. Hal ini dapat terjadi selama proses lateritisasi atau setelah terbentuknya
zona diatas batuan dasar bedrock (Syafrizal dkk, 2009).
2.1.2. Nikel ( Ni )
Nikel adalah unsur paduan utama dari stainless steel, dan mengalami
pertumbuhan yang sangat cepat seiringan dengan peningkatan permintaan
stainless steel. Saat ini lebih dari 65% nikel digunakan dalam industri stainless
steel, dan sekitar 12% digunakan dalam industri manufaktur super alloy atau
nonferrous alloy (Moskalyk, 2002).
a. Nikel Laterit
Nikel laterit adalah produk residual pelapukan kimia pada batuan ultramafik.
Proses ini berlangsung selama jutaan tahun dimulai ketika batuan ultramafik
9
tersingkap di permukaan bumi (Syafrizal dkk, 2011). Faktor-faktor yang
mempengaruhi pembentukan Nikel Laterit adalah :
a. Batuan asal
b. Iklim
c. Reagen-reagen kimia dan vegetasi
d. Struktur
e. Topografi
f. Waktu
b. Endapan Nikel Laterit
Nikel laterite terbentuk baik pada mineral jenis silicate atau oxide. Kemiripan
radius ion Ni2+ dan Mg2+ memungkinkan substitusi ion diantara keduanya.
Umumnya, mineral bijih dari jenis hidrous silicate seperti talc, smectite, sepiolite,
dan chlorite terbentuk selama proses metamorphisme temperature rendah dan
selama proses pelapukan dari batuan induk. Umumnya, mineral – mineral tersebut
mempunyai variasi ratio Mg dan Ni. Mineral garnierite dari jenis silikat
mempunyai ciri poor kristalin, tekstur afanitik, dan berstuktur seperti serpentinite
(Brindley, 1978).
Pelapukan kimia pada batuan ultra mafik kompleks ofiolit menghasilkan Mg,
Fe, Ni yang larut (leached), Si cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel
silika yang sangat halus. Didalam larutan, Fe teroksidasi dan mengendap sebagai
ferri-hydroksida, akhirnya membentuk mineral-mineral seperti geothit, limonit,
dan haematit dekat permukaan. Bersama mineral-mineral ini selalu ikut serta
unsur cobalt dalam jumlah kecil. Nikel terlarut (leached) akan terendapkan
bersama mineral silica hydrous atau mensubtitusi unsur Mg.
Unsur Ni tersebut hanya mengalami pemisahan dan pengumpulan akibat
proses Hydrothermal. Proses ini berlangsung dalam waktu relatif lama sedang
proses selanjutnya adalah proses Laterisasi, ini condong kepada pelapukan yang
bercirikan adanya akumulasi dari Oksida besi dan Alumina, sedangkan silika dan
komponen lain mengalami “Leaching”. Proses kimia dan fisika dari udara,air dan
pergantian panas dingin yang bekerja continue, menyebabkan dekomposisi dan
desintegrasi pada batuan menjadi tanah Laterit, mineral Olivin dan Piroksen
10
sebagai mineral utama pembentuk batuan Peridotit sangat tidak stabil terhadap
proses pelapukan. Pada pelapukan kimia khususnya, air merupakan pelarut
supergen yang baik, disebabkan karena strukutr molekul “Dipol”. Air tanah kaya
akan CO2 berasal dari udara dan pembusukan tumbuh-tumbuhan yang
menguraikan mineral-mineral yang tidak stabil (Piroksen,Olivin) pada batuan
Ultrabasa, menghasilkan Fe, Mg, Nikel yang larut. Di dalam larutan Fe
teroksidasi dan mengendap sebagai Hydroksida, akhirnya membentuk mineral-
mineral seperti Goetit Limonit dan Hematit di dekat permukaaan (Golightly,
1979).
Endapan ferrihidroksida ini akan menjadi reaktif terhadap air, sehingga
kandungan air pada endapan tersebut akan mengubah ferrihidroksida menjadi
mineral-mineral seperti goethite (FeO(OH)), hematit (Fe2O3) dan cobalt. Mineral-
mineral tersebut sering dikenal sebagai “besi karat”. Endapan ini akan
terakumulasi dekat dengan permukaan tanah, sedangkan magnesium, nikel dan
silika akan tetap tertinggal di dalam larutan dan bergerak turun selama suplai air
yang masuk ke dalam tanah terus berlangsung. Rangkaian proses ini merupakan
proses pelapukan dan leaching. Unsur Ni sendiri merupakan unsur tambahan di
dalam batuan ultrabasa. Sebelum proses pelindihan berlangsung, unsur Ni berada
dalam ikatan serpentine group. Rumus kimia dari kelompok serpentin adalah X2-3
SiO2O5(OH)4, dengan X tersebut tergantikan unsur-unsur seperti Cr, Mg, Fe, Ni,
Al, Zn atau Mn atau dapat juga merupakan kombinasinya.
Adanya suplai air dan saluran untuk turunnya air, berupa kekar, maka Ni
yang terbawa oleh air turun ke bawah, dan akan terkumpul di zona air sudah tidak
dapat turun lagi dan tidak dapat menembus bedrock (Harzburgit). Ikatan dari Ni
yang berasosiasi dengan Mg, SiO dan H akan membentuk mineral garnierit
dengan rumus kimia (Ni,Mg) Si4O5 (OH)4.
Apabila proses ini berlangsung terus menerus, maka yang akan terjadi
adalah proses pengkayaan supergen (supergen enrichment). Zona pengkayaan
supergen ini terbentuk di zona saprolit. Dalam satu penampang vertikal profil
laterit dapat juga terbentuk zona pengkayaan yang lebih dari satu, hal tersebut
dapat terjadi karena muka air tanah yang selalu berubah-ubah, terutama dari
11
perubahan musim. Dibawah zona pengkayaan supergen terdapat zona mineralisasi
primer yang tidak terpengaruh oleh proses oksidasi maupun pelindihan, yang
sering disebut sebagai zona Hipogen, terdapat sebagai batuan induk yaitu batuan
Harzburgit (Fitrian, 2011).
a. Zona limonit
Merupakan hasil pelapukan lanjut dari batuan beku ultrabasa.
Komposisinya meliputi oksida besi yang dominan, geothit dan
magnetit. Ketebalan lapisannya rata-rata 8-15 meter. Kemunculan
bongkah-bongkah batuan beku ultrabasa pada zona ini tidak dominan
atau hampir tidak ada.
b. Zona saprolit
Zona ini merupakan zona pengayaan unsur Ni. Komposisinya berupa
oksida besi, serpentin sekitar <0.4% kuarsa magnetit dan tekstur batuan
asal yang masih terlihat. Ketebalan lapisan ini berkisar 5-18 meter.
c. Zona bedrock
Zona ini merupakan bagian terbawah dari profil laterit. Tersusun atas
bongkah yang lebih besar dari 75 cm dan blok peridotit (batuan dasar)
dan secara umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis.
12
Gambar 2.4. Zona Endapan Nikel Laterit
2.1.3. Laterit
Istilah Laterit berasal dari bahasa latin yaitu later, yang artinya bata
(membentuk bongkah-bongkah yang tersusun seperti bata yang berwarna merah
bata). (Guilbert, 1986). Laterisasi adalah proses pelapukan kimia pada kondisi
iklim yang lembab (tropis) yang berlangsung pada waktu yang lama dengan
kondisi tektonik yang relatif stabil, membentuk formasi lapisan regolit yang tebal
dengan karakteristik yang khas (Golightly, 1979) :
a. Pengubahan mineral utama dan pelepasan beberapa komponen kimia.
b. Pencucian komponen-komponen mobile.
c. Pengumpulan residual komponen-komponen tidak mobile atau tidak
larut.
d. Pembentukan formasi mineral baru yang lebih stabil dalam
lingkungan pengendapan.
Air tanah yang kaya akan CO2, berasal dari udara luar dan tumbuhan, akan
menghancurkan olivine. Penguraian olivine, magnesium silika dan besi silika ke
dalam larutan cenderung untuk membentuk suspensi koloid dari partikel-partikel
13
silika. Di dalam larutan besi akan bersenyawa dengan oksida dan mengendap
sebagai ferrihidroksida.
Endapan ferrihidroksida ini akan menjadi reaktif terhadap air, sehingga
kandungan air pada endapan tersebut akan mengubah ferrihidroksida menjadi
mineral-mineral seperti goethite (FeO(OH)), hematit (Fe2O3) dan cobalt.
Mineral-mineral tersebut sering dikenal sebagai “besi karat”.
Endapan ini akan terakumulasi dekat dengan permukaan tanah, sedangkan
magnesium, nikel dan silika akan tetap tertinggal di dalam larutan dan bergerak
turun selama suplai air yang masuk ke dalam tanah terus berlangsung. Rangkaian
proses ini merupakan proses pelapukan dan leaching. Unsur Ni sendiri merupakan
unsur tambahan di dalam batuan ultrabasa. Sebelum proses pelindihan
berlangsung, unsur Ni berada dalam ikatan serpentine group. Rumus kimia dari
kelompok serpentin adalah X2-3 SiO2O5(OH)4, dengan X tersebut tergantikan
unsur-unsur seperti Cr, Mg, Fe, Ni, Al, Zn atau Mn atau dapat juga merupakan
kombinasinya.
Adanya suplai air dan saluran untuk turunnya air, berupa kekar, maka Ni
yang terbawa oleh air turun ke bawah, dan akan terkumpul di zona air sudah tidak
dapat turun lagi dan tidak dapat menembus bedrock (Harzburgit). Ikatan dari Ni
yang berasosiasi dengan Mg, SiO dan H akan membentuk mineral garnierit
dengan rumus kimia (Ni,Mg) Si4O5 (OH)4. Apabila proses ini berlangsung terus
menerus, maka yang akan terjadi adalah proses pengkayaan supergen (supergen
enrichment). Zona pengkayaan supergen ini terbentuk di zona saprolit. Dalam satu
penampang vertikal profil laterit dapat juga terbentuk zona pengkayaan yang lebih
dari satu, hal tersebut dapat terjadi karena muka air tanah yang selalu berubah-
ubah, terutama dari perubahan musim. Dibawah zona pengkayaan supergen
terdapat zona mineralisasi primer yang tidak terpengaruh oleh proses oksidasi
maupun pelindihan, yang sering disebut sebagai zona Hipogen, terdapat sebagai
batuan induk yaitu batuan Harzburgit.
Salah satu faktor yang berperan dalam proses laterisasi adalah morfologi dan
topografi, Bentuk morfologi suatu daerah sangat dipengaruhi oleh bentuk
morfologi bawah permukaan khususnya morfologi batuan dasarnya. Umumnya
14
bijih (ore) terdapat pada zona saprolit dan sebagian kecil pada zona limonit, hal
ini tergantung dari kadar yang terkandung pada zona tersebut. Dimana dalam
laterit ini nantinya dapat ditentukan seberapa tebal bijih (ore) yang terdapat dalam
laterit tersebut (Eltrit, 2014).
Semua blok pada lubang bor mempunyai luas yang hampir sama. Untuk
perhitungan ketebalan bijih, peneliti mengumpulkan data setiap lubang bor
dengan pengukuran ketebalan material melalui penampang lubang bor explorasi.
V = A.t
Dimana :
V = Volume daerah pengaruh (m3)
A = Luas daerah pengaruh (m2)
t = Tebal bijih (m)
15
Vtotal = V1 + V2 + V3 + V4 … + Vn
Dimana :
V1 + V2 + V3 + V4 + … +
Vn = Volume masing-masing poligon (m3)
Luas blok dihitung berdasarkan segi empat yang terbentuk dari daerah
pengaruh yaitu batas luar dari daerah pengaruh suatu titik bor yang merupakan
setengah dari spasi titik bor. Besar volume ditentukan untuk mengetahui seberapa
besar cadangan bijih nikel pada PT. Tambang Bumi Sulawesi sehingga dapat
dilakukan penambangan.
16
2.2. Landasan Teori
Pengaruh Kemiringan lereng terhadap sebaran Nikel Laterit bergantung
kepada persentasi kemiringan lereng. Persentase kemiringan lereng yang curam
berkisar pada 16% - 35% kemungkinan untuk pembentukan endapan bijih sangat
kecil, dikarenakan pembawaan zona pengayaan proses pembentukan yang terjadi
tidak homogen dengan yang kemiringan lereng dengan topografi landai dengan
persentase kemiringan lereng 8% - 15% pembentukan endapan bijih nikelnya
sangat besar karena proses pengayaan yang sangat ideal.
17
Gambar 2.7. Penampang Tegak Lubang Bor
Data korelasi lubang bor explorasi yang diambil yaitu antara topografi
rendah sampai topografi tinggi berdasarkan peta lokasi penelitian dengan keadaan
lereng yang berbeda. Data lubang bor yang diambil berupa kedalaman, luas antar
lubang bor, jarak antar penampang atas dan penampang bawah, jarak antara
lubang bor dan koordinat. Ketika hasil telah dianalisa maka dapat ditemukan
perbedaan sebaran antara blok 1 dan blok 2, apakah endapan Nikel Laterit di
kedua blok tersebut sama atau berdeda. Jika hasil yang didapatakan berbeda maka
dapat disimpulkan bahwa blok 1 dan blok 2 sebaran Nikel Lateritnya heterogen
atau tidak sama.
18
2.3. Kerangka Berfikir
NIKEL LATERIT
2.4. Hipotesa
Pengaruh Kemiringan lereng terhadap sebaran Nikel Laterit tergantung
kepada persentasi kemiringan lereng. Dimana kemringan lereng yang curam 16%
- 35% kemungkinan untuk pembentukan endapan bijih sangat kecil, dikarenakan
pembawaan zona pengayaan proses pembentukan yang terjadi tidak homogen
dengan yang kemiringan lereng dengan topografi landai dengan persentase
19
kemiringan lereng 8% - 15% pembentukan endapan bijih nikelnya sangat besar
karena proses pengayaan yang sangat ideal.
Sedangkan untuk Distribusi ketebalan Ni melalui sebaran lubang bor akan
didapatkan volume Ni antara blok 1 dan blok 2 dari pengambilan data lubang bor
yang kemudian dianalisis apakah sebaran Ni dikedua blok tersebut homogen dan
didapatkan jumlah cadangan yang ideal sehingga dapat dilakukan proses
penambangan.
20
BAB III
METODE PENELITIAN
21
3.3. Variabel Penelitian
Variabel Penelitian : Pengamatan Kemiringan lereng, pengambilan
data hasil korelasi lubang bor explorasi dan
perhitungan ketebalan bijih Nikel Laterit
[Link] Penelitian
1. Tahapan persiapan
a) Studi literatur
b) Pengurusan ijin penelitian
c) Pengenalan lokasi penelitian
2. Tahapan pelaksanaan
a) Pengumpulan data sekunder berupa :
- Peta Topografi PT. Tambang Bumi Sulawesi
- Kondisi Blok 1 dan Blok 2 lokasi penelitian
- Peta Sebaran Lubang Bor PT. Tambang Bumi Sulawesi
22
- Peta geologi PT. Tambang Bumi Sulawesi
b) Meneliti lokasi yang telah di tentukan untuk pengambilan data.
c) Penyusunan data primer berupa :
- Pengambilan data topografi blok 1 dan blok 2
- Pengamatan Litologi daerah penelitian
- Menganalisis persentase kemiringan Blok 1 dan 2
- Pengambilan titik koordinat Blok 1 dan 2
- Pengambilan titik koordinat lubang bor
- Pengukuran jarak antar lubang bor
- Pengukuran ketebalan material penampang lubang bor
23
STUDI LITERATUR
OBSERVASI LAPANGAN
PENGUMPULAN DATA
PENGOLAHAN DATA
PRIMER DAN SEKUNDER
PERHITUNGAN Dan
PEMODELAN SOFTWARE
HASIL
Dalam penelitian ini, analisis yang dilakukan yaitu pengolahan data primer
dan sekunder berupa perhitungan excel untuk mendapatkan volume dan ketebalan
bijih rata-rata, pemetaan topografi blok 1 dan 2 menggunakan (ArcGis)
pemodelan penyebaran lubang bor blok 1 dan 2, pemodelan penampang lubang
bor mengunakan (Surpac) dan pemodelan sebaran bijih Ni pada blok 1 dan 2
dimana hasil yang akan didapatkan menjadi literatur peneliti apakah distribusi
24
sebaran Ni pada blok 1 dan 2 PT. Tambang Bumi Sulawesi itu homogen dan ideal
untuk selanjutnya dilakukan penambangan.
Tahap Persiapan
Seminar
Ujian Pendadaran
25
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari data penyelidikan explorasi IUP PT. Tambang Bumi Sulawesi dengan
luas keseluruhan 1533 Ha. Dalam proses penambangan pada perusahaan ini
dilakukan dengan metode Selective Mining yaitu pemilihan bukaan pit untuk
setiap blok. Hal ini karena kondisi litologi pada Pulau Kabaena dimana dari proses
morfologi maupun vegetasi menpengaruhi proses laterisasi di daerah tersebut.
Struktur geologi di daerah penyelidikan terdapat sesar geser dan sesar naik
mengacu kepada peta geologi lembar Kolaka (Simandjuntak dkk. 1993). Arah
sesar-sesar tidak beraturan. Sesar naik menjadi batas dari tiap litologi, sedangkan
sesar geser lebih mengontrol pengendapan batuan. Sesar-sesar ini hanya
memotong batuan Pra Tersier. Batuan Tersier tidak terpengaruh oleh kahadiran
sesar tersebut. Jurus lapisan batuan mempunyai arah relatif timurlaut-barat daya
dan barat laut-tenggara. Kemiringan lapisan batuan pada daerah penyelidikan
berada diantara 8% sampai 30%.
Stratigrafi regional daerah penyelidikan merujuk pada peta geologi lembar
Kolaka oleh (Simandjuntak dkk. 1993). Oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi skala 1:250.000. Daerah penyelidikan terdiri dari berbagai batuan Pra
Tersier, Tersier, dan Kuarter. Stratigrafi secara regional dari batuan tertua hingga
batuan termuda sebagai berikut:
26
a. Kompleks Ultramafik (Ku), merupakan batuan tertua berumur Kapur
terdiri dari harsburgit, dunit, wherlit, serpentinit, gabro, basal, dolerit,
diorit, mafik meta, ampibolit, magnesit, dan setempat rodingit.
b. Formasi Matano (Km), berumur Kapur terdiri dari batugamping terhablur
ulang dan terdaunkan, rijang radiolaria, dan batusabak.
c. Kompleks Pompangeo (MTpm), berumur Kapur – Paleosen terdiri dari
sekis mika, sekis glokofan, sekis amfibolit, sekis klorit, rijang berjaspis
sekis genesan, pualam, dan batugamping meta.
d. Formasi Langkowala (Tml), berumur Miosen terdiri dari konglomerat,
batupasir, serpih, dan setempat kalkarenit. Formasi ini diperkirakan
sebagai formasi pembawa bitumen padat.
e. Formasi Buara (Ql), berumur Plistosen – Holosen, terdiri dari terumbu
koral, konglomerat, dan batupasir.
f. Aluvium (Qa), merupakan endapan paling muda berumur Holosen terdiri
dari lumpur, lempung, pasir, kerikil, dan kerakal.
Pada Lokasi penelitian sendiri dimana pada Peta Geologi Lembar Kolaka
menunjukan pada Formasi Langkowala dimana yang dominan adalah batuan
kalkarenit. Sementara pada kondisi sesungguhnya setelah dilakukan pemetaan
detail oleh Geos/Wellsite batuan asli di lokasi penelitian adalah Ultramafik
dimana pembentukan Nikel yang dominan dan penyebaran mineral pendukung
pembentukan laterit seperti :
Harsburgit
Dunit
Serpentinit
Wherlit
27
Gambar 4.10. Lembar Geologi Pulau Kabaena
28
4.1.2. Pembagian Blok
Pada data Explorasi yang didapatkan, pembagian blok pada [Link] dibagi
menjadi tiga blok, yaitu :
Blok 1 : Desa Pangkalaero
Blok 2 : Desa Puuunu
Blok 3 : Desa Batuawu
29
Gambar 4.11. Peta Pembagian Blok Pada PT. Tambang Bumi Sulawesi
30
4.1.3. Korelasi Lubang Bor
31
Blok 1
Tabel 4.4. Koordinat Titik Bor Blok 1 Desa Pangkalaero
32
PKL62 374095 9406823 109 7 -90 0
Sumber: (Data Primer Korelasi Lubang Bor Desa Pangkalaero [Link] Tahun 2018)
33
Blok 2
Tabel 4.5. Penyebaran Lubang Bor Blok 2 Desa Puununu
34
PN 24 374635 9410386 278 15 -90 0
Sumber: (Data Primer Korelasi Lubang Bor Desa Puununu [Link] Tahun 2018)
Data yang korelasi lubang bor yang telah dikumpulkan kemudian diolah
dalam bentuk Peta Topografi untuk menendapatkan sebaran peta daerah
identifikasi pada Blok 1 Desa Pangkalaero dan Blok 2 Desa Puununu. Adapun
tahapan pengolahan korelasi lubang bor sebagai berikut :
35
- Mengkorelasikan point tersebut kedalam format kriging agar point
yang tadi dibuat terbentuk menjadi kesatuan mask atau terbentuk
permukaan berdasarkan data elevasi “z”.
- Membuat countur pada toolbox dari format kriging yang telah
dibuat dengan memasukan UTM zona Indonesia 51s yang sesuai
dengan UTM daerah penelitian.
- Memisahkan kontur mayor dan kontur point serta diberi label
untuk koordinat elevasi pada kontur
- Memasukkan grid dan membuat legenda untuk keterangan peta
topografi pada blok 1 da blok 2
36
Gambar 4.12. Peta Distribusi Lubang Bor Blok 1 Desa Pangkalaero
37
Gambar 4.13. Peta Distribusi lubang bor blok 2 Desa Pununu
38
4.1.4. Kemiringan Lereng Terhadap Pembentukan Nikel laterit
39
Gambar 4.15. Peta Kelas Lereng Pada Topografi Blok 1
40
Gambar 4.16. Peta Kelas Lereng Pada Topografi Blok 2
41
Pada blok 1 Desa Pangkalaero dan Blok 2 Desa Puununu didapatkan
interprentasi klasifikasi kelas lereng yang berbeda dimana pada blok 1 (Gambar
4.14) tipe kelas lereng sangat kompleks, yaitu 5 tipe kelas dimana topografi pada
blok ini adalah daerah paling rendah pada IUP pada lokasi penelitian. Sehingga
pada blok 1 ini didapatkan menunjukkan morfologi perbukitan, elevasi tiap
lubang bor berbeda ketinggian yang tidak dominan. Namun dalam sebarannya,
pada blok ini lebih besar pada zona landai sehingga dapat diidentifikasi lanjut
untuk distribusi ketebalan pada Nikel laterit.
Sedangkan pada blok 2 (Gambar 4.15) tipe kelas lereng yang sedikit
karena pada pembagian zona blok ini lebih ke daerah pegunungan dimana
morfologinya landai, interprentasi pada blok ini lebih dominan oleh daerah yang
landai dimana zona pembentukkan laterit yang sangat ideal. Topografi pada blok
2 juga menampakkan daerah yang paling tinggi penyebaran laterit sehigga sangat
mendukung untuk identifikasi kelas lereng pada pemodelan sebaran.
Cross Section
42
Gambar 4.18. Sayatan Pada Arcgis pada Blok 2 Desa Puununu
Pada (gambar 4.16. dan 4.17.) untuk pengamatan histogram kelas lereng
dapat diamati dalam Cross Section atau sayatan dimana ditarik lurus dari topografi
ketinggian ke topografi rendah dan mereport grafik profil blok satu Desa
Pangkalaero. Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi kelas lereng agar lebih
detail pada zona pengaruh penyebaran laterit, ketebalan dan proses pengkayaan
laterit pada blok 1 Desa Pangkalaero dan Blok 2 Desa Puununu.
Pembuatan garis sayatan pada peta topografi harus tegak lurus dengan arah
umum strike dari endapan Nikel di daerah penelitian. Garis sayatan yang dibuat di
daerah penelitian, terdapat 5 sayatan dengan jarak antar sayatan adalah ≤ 50 meter
dan 200 meter pada titik bor pada batas daerah konsensi masing blok.
Garis sayatan telah selesai lalu dibuatlah luasan sayatannya dan pembuatan
garis lapisan Nikel yang disesuaikan dengan masing – masing kemiringan dari
Nikel tersebut. Nikel didalam sayatan diinterpretasikan sebagai bidang miring
pada sayatan tersebut untuk mengetahui tebal Nikel Laterit, selanjutnya pada
luasan sayatan juga dibuat ultimate pit slope sesuai batasan –batasan yang telah
ditentukan perusahaan. Pembuatan sayatan dilakukan dengan menggunakan
program komputer Surpac.
43
Gambar 4.19. Grafik lereng blok 1 berdasarkan Cross Section / Sayatan dengan Surpac
Gambar 4.20. Grafik lereng blok 2 berdasarkan Cross Section / Sayatan dengan Surpac
Pada (gambar 4.18. dan 4.19.) menampakkan profil lereng pada blok 1 dan
Blok 2 dengan metode cross Section pada software Surpac, dimana penampakkan
profil lereng dengan 3D penampang tegak sehingga dapat diidentifikasi
pemodelan dengan lebih detail. Pada analisis tersebut dapat dilihat dengan warna,
dimana warna merah menunjukkan topografi yang paling tinggi dan biru di
topografi terendah.
Metode ini dilakukan identifikasi ketebalan bijih nikel pada tiap lubang
bor dengan pemodelan Software Arcgis dimana dibentuk slope untuk sebaran Ni.
Tebal Ni dipengaruhi oleh luasan sebaran lubang bor dan jarak antar lubang bor,
luas penampang dan kedalaan tiap lubang bor. Hasil didapatkan dari sebaran
lubang bor dengan masing- masing meter total kedalaman lubang bor yang
didapatkan pada hasil Welsite dari identifikasi corebox pada zona-zona yang
44
terbentuk tiap lubang bor dari zona Limonite sampai batuan dasar Bedrock
(Gambar 4.20).
Gambar 4.21. Core Box hasil Drill Report pada welsite lubang box
45
Gambar 4.22. Peta Sebaran Nikel Laterit pada Topografi Blok 1
46
Gambar 4.23. Peta Sebaran Nikel Laterit pada Topografi Blok 2
47
4.1.6. Luasan Sebaran Bijih Nikel
48
Gambar 4.25. Distribusi Nikel Laterit Blok 2 Desa Puununu
49
4.2. Pembahasan
50
intensif pada kuantitas air yang cukup, sehingga menyebabkan terbentuk
akumulasi lempung (Syafrizal dkk. 2009).
Dalam penyelidikan kondisi kemiringan topografi berbeda akan terbentuk
ketebalan endapan yang berbeda-beda. Dimana hal ini disebabkan oleh kondisi
lingkungan pembentukan yang berbeda akibat perbedaan kemiringan topografi.
Hubungan persentase lereng pada pembentukan Laterit berpengaruh pada
topografi dimana proses laterisasi terjadi akibat adanya proses pengayaan pada
topografi landai.
Hal ini dikarenakan oleh aktivitas utama yang terjadi pada kondisi landai
yaitu proses pengairan yang ideal dan pembawaan mineral-mineral pendukung
laterisasi menjadi ideal pada proses pengkayaan. Pembentukan masing-masing
zona pada endapan nikel laterit berada pada daerah dengan kemiringan lereng
yang ideal. klasifikasi persen lereng (Gambar 4.16. dan 4.17. ) memperlihatkan
bahwa pada daerah dengan kemiringan lereng yang datar (0% - 8%) besar
kemungkinan tidak akan terbentuk zona yang umum terdapat pada endapan nikel
laterit, walau tidak menutup kemungkinan terbentuknya karena proses
pengkayaan yang tidak mendukung oleh proses pengairan.
Artinya pada daerah dengan kemiringan lereng yang berkisar antara 0%
sampai 8% pembentukan zona limonite dan saprolit memungkinkan, namun untuk
proses pengkayaan laterit tidak akan begitu banyak. Sementara untuk daerah
dengan kemiringan lereng yang landai berkisar antara 8% sampai 15% maka
sangat besar kemungkinan terbentuknya zona- zona yang terdapat pada endapan
nikel laterit. Hal ini dapat ditentukan untuk kemiringan lereng yang paling ideal
untuk pembentukan Nikel Laterit dengan batasan batasan kelas lereng pada hasil
identifikasi antara blok 1 dan blok 2 daerah penelitian terbentuk.
Sehingga untuk dapat menentukan kemiringan topografi yang paling
prospek sebagai tempat pembentukan endapan nikel maka dilakukan dengan cara
mengiriskan batasan kemiringan dimana zona endapan nikel laterit tidak terbentuk
dan kemiringan dimana zona endapan nikel laterit akan terbentuk. Dengan itu
dapat diidentifikasi bahwa pada kemiringan antara 0%-8% dapat terbentuk zona
endapan nikel dan juga memungkinkan zona nikel tidak terbentuk. Sedangkan
51
pada topografi 8% - 15% kemungkinan terbentuknya sebaran nikel laterit sangat
ideal.
Pada peta sebaran Nikel laterit ( Gambar 4.21. ) zona endapan yang tebal
pada blok 1 cukup dominan, dimana pembentukan laterit pada zona yang
kompleks terdapat pada blok 1 Desa pangkalaero. Pada blok ini masih ditemukan
ketebalan Zona Saprolite yang ideal, kenyataannya pada blok 1 Desa Pangkalaero
dominan pada topografi landai berdasarkan batasan yang telah diidentifikasi oleh
peneliti.
Sedangkan pada blok 2 Desa Puununu dengan kelas lereng yang moderat
lebih dominan dengan topografi datar 0% - 8%. Kenyataannya pembentukkan
laterit pada zona ini sangat tipis (Gambar 4.24.). Hal ini disebabkan oleh pengaruh
lingkungan terbentukknya laterit yang daerah penyelidikkannya pegunungan
selain proses kimia dan fisika, vegetasi juga yang menurut pada Geos [Link]
tidak mendukung penyebaran Zona Laterit seperti gambut, akasia, dan pohon
palm (gambar 4.27).
52
Gambar 4.27. Kondisi Vegetasi pada Blok 2 Desa Puununu
53
4.2.3. Distribusi Sebaran Laterit Terhadap Topografi Landai
54
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
55
2.2. Saran
56
DAFTAR PUSTAKA
Edi Yasa Ardiansyah. 2013. Nikel Laterit Dan Faktor Yang Mempengaruhi
Pembentukannya. Dosen Teknik Pertambangan-Institut Teknologi Medan.
Eltrit Bima Fitrian, 2014. Identifikasi Sebaan Nikel Laterit Dan Volume Bijih
Nikel Daerah Anoa Menggunakan Korelasi Data Bor. Universitas
Hasanuddin
Eoni Wardi dkk, 2016. Kondisi Fisika-Kimia Perairan Pulau Kabaena Kabupaten
Bombana Sulawesi Tenggara
Fitiran E.B., Massinai M.A., Maria, 2011, Identifikasi Sebaran Nikel Laterit dan
Volume Bijih Nikel Daerah Anoa menggunakan Korelasi data Bor, Jurnal
Geofisika Universitas Hasanuddin.
Sundari, Woro., 2012, Analisis Data Eksplorasi Bijih Nikel Laterit Untuk Estimasi
Cadangan dan Perancangan PIT pada PT. Timah Eksplorasi Di Desa
Baliara Kecamatan Kabaena Barat Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi
Tenggara, Universitas Nusa Cendana: Kupang.
57
Syafrizal dkk, 2009. Prosiding Simposium Dan Seminar Geomekanika Ke-1
Tahun 2012 Analisis Risiko Kestabilan Lereng Tambang Terbuka (Studi
Kasus Tambang Mineral X.
Van Zuidam, R.A. & Van Zuidam-Cancelado, F.I. 1979. Terrain analysis and
classification using aerial photographs. A geomorphological approach. ITC
Textbook of Photo-interpretation. ITC. Enschede
58
LAMPIRAN
59
60
61