0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan3 halaman

Tatalaksana BPPV dan Manuver Terapi

Dokumen tersebut membahas tentang diagnosis dan penatalaksanaan Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) melalui tes Dix-Hallpike dan tes kalori untuk diagnosis, serta beberapa manuver seperti Epley, Semont dan Lempert untuk pengobatan BPPV. Juga dibahas tentang farmakologi pengobatan BPPV dengan benzodiazepine dan antihistamin serta teknik operasi sebagai alternatif pengobatan terakhir.

Diunggah oleh

ines
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan3 halaman

Tatalaksana BPPV dan Manuver Terapi

Dokumen tersebut membahas tentang diagnosis dan penatalaksanaan Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) melalui tes Dix-Hallpike dan tes kalori untuk diagnosis, serta beberapa manuver seperti Epley, Semont dan Lempert untuk pengobatan BPPV. Juga dibahas tentang farmakologi pengobatan BPPV dengan benzodiazepine dan antihistamin serta teknik operasi sebagai alternatif pengobatan terakhir.

Diunggah oleh

ines
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DIAGNOSIS

a. Dix-Hallpike Tets

Tes ini tidak boleh dilakukan pada pasien yang memiliki masalah dengan leher dan

punggung. Tujuannya adalah untuk memprovokasi serangan vertigo dan untuk melihat

adanya nistagmus. Cara melakukannya yaitu :

Penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat dari posisi duduk di atas tempat tidur

sehingga kepalanya menggantung 45° di bawah garis horizontal, kemudian kepalanya

dimiringkan 45° ke kanan lalu ke kiri. Lakukan uji ini ke kanan dan kiri. Perhatikan apakah

terdapat nistagmus pada penderita. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan

nistagmus.

Pada orang normal nistagmus dapat timbul pada saat gerakan provokasi ke belakang,

namun saat gerakan selesai dilakukan tidak tampak lagi nistagmus. Pada pasien BPPV

setelah provokasi ditemukan nistagmus yang timbulnya lambat, 40 detik, kemudian

nistagmus menghilang kurang dari satu menit bila sebabnya kanalitiasis, pada

kupulolitiasis nistagmus dapat terjadi lebih dari satu menit, biasanya serangan vertigo

berat dan timbul bersamaan dengan nistagmus.

(b) Tes Kalori,

Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30°, sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam

posisi vertikal. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30°C) dan air hangat (44°C)

masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. Nistagmus yang timbul dihitung

lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik).

Tes ini dapat menententukan adanya kanal paresis atau directional preponderance ke kiri atau

ke kanan. Kanal paresis adalah abnormalitas yang ditemukan di satu telinga, baik setelah

rangsang air hangat maupun air dingin, sedangkan directional preponderance ialah
abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga. Kanal

paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau [Link], sedangkan directional preponderance

menunjukkan lesi sentral.

a. Tes Supine Roll

Jika pasien memiliki riwayat yang sesuai dengan BPPV dan hasil tes Dix-Hallpike

negatif, dokter harus melakukan supine roll test untuk memeriksa ada  tidaknya BPPV

kanal lateral. Cara melakukunannya : Dokter harus menginformasikan pada pasien bahwa

manuver ini bersifat provokatif dan dapat menyebabkan pasien mengalami pusing yang berat

selama beberapa saat. Tes ini dilakukan dengan memposisikan pasien dalam posisi supinasi

atau berbaring terlentang dengan kepala pada posisi netral diikuti dengan rotasi kepala 90

derajat dengan cepat ke satu sisi dan dokter mengamati mata pasien untuk memeriksa ada

tidaknya nistagmus. Setelah nistagmus mereda (atau jika tidak ada nistagmus), kepala kembali

menghadap ke atas dalam posisi supinasi. Setelah nistagmus lain mereda, kepala kemudian

diputar/ dimiringkan 90 derajat ke sisi yang berlawanan, dan mata pasien diamati lagi untuk

memeriksa ada tidaknya nistagmus.

TATALAKSANA

Ada lima manuver yang dapat dilakukan, antara lain:

(a) Manuver Epley,

manuver Epley adalah yang paling sering digunakan pada kanal vertikal. CARANYA : Pasien diminta
untuk menolehkan kepala ke sisi yang sakit sebesar 45° lalu pasien berbaring dengan kepala tergantung
dan dipertahankan 1-2 menit. Lalu kepala ditolehkan 90° ke sisi sebaliknya, dan posisi supinasi berubah
menjadi lateral dekubitus dan dipertahan 30- 60 detik. Setelah itu pasien mengistirahatkan dagu pada
pundaknya dan kembali ke posisi duduk secara perlahan.

(b) Manuver Semont,

manuver ini diindikasikan untuk pengobatan cupulolithiasis kanan posterior. Jika kanal posterior
terkena, pasien diminta duduk tegak, lalu kepala dimiringkan 45° ke sisi yang sehat, lalu secara cepat
bergerak ke posisi berbaring dan dipertahankan selama 1-3 menit. Ada nistagmus dan vertigo dapat
diobservasi. Setelah itu pasien pindah ke posisi berbaring di sisi yang berlawanan tanpa kembali ke posisi
duduk lagi.

(c) Manuver Lempert,

manuver ini dapat digunakan pada pengobatan BPPV tipe kanal lateral. CARANYA : Pasien berguling 360°
yang dimulai dari posisi supinasi lalu pasien menolehkan kepala 90° ke sisi yang sehat, diikuti dengan
membalikkan tubuh ke posisi lateral dekubitus. Lalu kepala menoleh ke bawah dan tubuh mengikuti ke
posisi ventral dekubitus. Pasien kemudian menoleh lagi 90° dan tubuh kembali ke posisi lateral
dekubitus lalu kembali ke posisi supinasi. Masing-masing gerakan dipertahankan selama 15 detik untuk
migrasi lambat dari partikel-partikel sebagai respon terhadap gravitasi.

(d) Forced Prolonged Position,

manuver ini digunakan pada BPPV tipe kanal lateral. Tujuannya adalah untuk mempertahankan
kekuatan dari posisi lateral dekubitus pada sisi telinga yang sakit. CARANYA : pasien dari posisi duduk
dengan kepala menghadap lurus ke depan, lalu pasien berbaring dalam posisi terlentang, selanjutnya
kepala pasien diputar 90 derajat ke sisi yang sehat. Posisi ini harus dipertahankan selama 12 jam.

(e) BrandtDaroff exercise, manuver ini dikembangkan sebagai latihan untuk di rumah dan dapat
dilakukan sendiri oleh pasien sebagai terapi tambahan pada pasien yang tetap simptomatik setelah
manuver Epley atau Semont. Latihan ini juga dapat membantu pasien menerapkan beberapa posisi
sehingga dapat menjadi kebiasaan

Farmakologi

Benzodiazepines dapat mengurangi sensasi berputar namun dapat mengganggu kompensasi sentral
pada kondisi vestibular perifer.

Antihistamine mempunyai efek supresif pada pusat muntah sehingga dapat mengurangi mual dan
muntah karena motion sickness.

Harus diperhatikan bahwa benzodiazepine dan antihistamine dapat mengganggu kompensasi sentral
pada kerusakan vestibular sehingga penggunaannya diminimalkan.

Operasi

Namun lebih dipilih teknik dengan oklusi karena teknik neurectomi mempunyai risiko kehilangan
pendengaran yang tinggi.

Anda mungkin juga menyukai