BAB III
TINJAUAN KHUSUS
3.1 Sejarah RSUD Kota Tangerang
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tangerang dibentuk berdasarkan
Perda Kota Tangerang No. 12 Tahun 2012 sebagai upaya tindak lanjut
Pemerintah Daerah dalam memberikan pelayanan kesehatan yang
komprehensif kepada masyarakat Kota Tangerang, yang bertujuan untuk
memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna.
Pengembangan pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tangerang
adalah pelayanan berdasarkan standar Rumah Sakit Umum Kelas C
dengan kapasitas 200 TT yang dilaksanakan sesuai dengan situasi dan
kondisi rumah sakit.
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tangerang berlokasi di pusat Kota
Tangerang tepatnya di Jl. Pulau Putri Raya No. 101 Kelurahan kelapa
Indah Kecamatan Tangerang. Pembangunan fisik RSUD telah dibuat
dengan memperhatikan zoning dan rencana alur pelayanan sehingga tidak
menyalahi aturan standar persyaratan yang ditetapkan oleh Kementerian
Kesehatan RI, yang aman bagi pasien dan pelanggan, serta efektif dan
efisien. Pelayanan rumah sakit mengacu kepada sumber daya yang akan
memberikan keuntungan kepada masyarakat, dengan tetap memperhatikan
kesejahteraan pegawai.
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tangerang dibangun oleh
Pemerintah Kota Tangerang melalui 2 (dua) tahap. Tahap pertama pada
tahun 2012 yaitu tahap pembangunan struktur RS yang dibangun lantai 1
sampai 5. Tahap kedua pada tahun 2013 yaitu tahap penyelesaian
ditambah 3 lantai sehingga menjadi 8 lantai. Total bangunan gedung A dan
B seluruhnya seluas 23.743 m2. Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Tangerang berdiri di atas lahan seluas 14.000M² dengan tinggi bangunan
8 lantai, dan diresmikan pada hari senin 10 maret 2014 oleh Walikota
Tangerang, merupakan Rumah Sakit Kelas C Non Kelas. Fasilitas yang
46
47
disediakan terdiri dari Instalasi Gawat Darurat, Instalasi Rawat Jalan
dengan 13 bidang Spesialistik dasar dan 2 bidang spesialistik tambahan
lainnya, Instalasi Rawat Inap 8 bangsal dengan 203 TT, HCU, ICU, PICU,
NICU, OK, VK, Hemodialisa, Radiologi, Laboratorium, Farmasi,
Rehabilitasi Medik, Ruang Jenazah, Workshop, Dapur, Laundry, CSSD,
IPAL, Ruang Administrasi Rumah Sakit, Ruang Medical Record dan
Ruang Keamanan, dan memiliki total tenaga kerja sebanyak kurang lebih
600 pegawai. Dan pada tahun 2014 berdasarkan SK Walikota No
445/Kep.87-RSUD/2014,RSUD Kota Tangerang ditetapkan sebagai
Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) status BLUD penuh.
3.2 Struktur Organisasi RSUD Kota Tangerang
Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap
bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi atau perusahaan dalam
menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Disamping itu,
struktur organisasi mampu menggambarkan dengan jelas pemisahan
kegiatan pekerjaan antara yang satu dengan yang lain.
Struktur organisasi RSUD Kota Tangerang dipimpin oleh Direktur yang
membawahi secara langsung Bagian Tata Usaha, kelompok Jabatan
Fungsional dan kepala bidang Rumah Sakit dimana masing-masing akan
membawahi bagian-bagian lainnya. Penetapan organisasi dan tata kerja
RSUD Kota Tangerang berdasarkan Perda Kota Tangerang No. 12 tahun
2012. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tangerang adalah Rumh
Sakit pemerintah dan juga termasuk salah satu Rumah Sakit Badan
Layanan Umum Daerah (RS-BLUD), RSUD Kota Tangerang merupakan
Rumah Sakit tipe C dengan kapasitas 165 TT yang dilaksanakan sesuai
dengan situasi dan kondisi rumah sakit. RSUD Kota Tangerang memiliki
SDM tenaga kesehatan antara lain 20 medis/dr umum, 66 medis spesialis,
323 paramedis, 82 managemen, dan 194 pelaksana teknis/ administrasi
pelayanan. RSUD Kota Tangerang dipimpin oleh seorang Direktur.
Direktur yang membawahi langsung bagian tata usaha, kelompok jabatan,
bidang pelayanan medik dan keperawatan, bidang pelayanan penunjang
48
,bidang (pelayanan, penelitian dan pengembangan) instalasi, komite
medik, komite keperawatan, staf medik fungsional, dan satuan
pemeriksaan internal. Bagian tata usaha membawahi sub bagian umum,
sub bagian keuangan, dan sub bagian kepegawaian. Bidang pelayanan
medik dan keperawatan membawahi seksi pelayanan medik dan seksi
keperawatan. Bidang pelayanan penunjang membawahi seksi pelayanan
penunjang medik dan seksi pelayanan non medik. Bidang perencanaan,
penelitian , dan pengembangan membawahi seksi perencanaan serta seksi
penelitian dan pengembangan. Struktur organisasi dapat dilihat pada
(Lampiran 1)
3.3 Logo RSUD Kota Tangerang
Gambar 3.1. Logo RSUD Kota Tangerang
Makna Logo :
1. Hati berwarna merah :
Hati melambangkan bahwa RSUD Kota Tangerang melayani masyarakat
dengan CINTA, sesuai dengan motto rumah sakit warna merah
melambangkan bahwa para pegawai RSUD Kota Tangerang selalu siap
memberikan semangat dan energi positif bagi seluruh pasien dan
pengunjung rumah sakit.
2. Bakti Husada berwarna hijau :
Bakti Husada melambangkan RSUD Kota Tangerang sebagai pusat
pelayanan kesehatan. Warna hijau melambangkan RSUD Kota Tangerang
siap menjadi kepercayaan masyarakat.
49
3. Tangan terbuka berwarna abu-abu :
Tangan terbuka melambangkan bahwasanya RSUD Kota Tangerang selalu
siap melayani masyarakat. Warna abu-abu memiliki arti para pegawai siap
melayani dengan profesional.
4. Warna biru pada tulisan RSUD Kota Tangerang memiliki arti bahwa
RSUD akan selalu mengutamakan pasien.
3.4 Visi, Misi dan Motto RSUD Kota Tangerang
a. Visi RSUD Kota Tangerang:
“Menjadi Rumah Sakit Pilihan Masyarakat Kota Tangerang dengan
Pelayanan yang Terbaik dan Paripurna”
b. Misi RSUD Kota Tangerang :
1. Mewujudkan Tata Kelola Kelembagaan yang Berkualitas dan Sumber
Daya Aparatur yang Profesional.
2. Mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang Berkualitas.
3. Mewujudkan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit yang Berkualitas.
4. Meningkatkan ketersediaan dan kualitas sarana dan prasarana.
c. Motto RSUD Kota Tangerang :
“Melayani Dengan Cinta”
Cepat, Inovatif, Nyaman, Tepat, Akurat
d. Brand RSUD Kota Tangerang
“Nyaman, Terjangkau, Terpercaya
3.5 Profil RSUD Kota Tangerang
a. Fasilitas dan Jenis Pelayanan di RSUD Kota Tangerang
Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat di
RSUD Kota Tangerang maka pihak Rumah Sakit menyediakan berbagai
fasilitas pelayanan baik pelayanan medis ataupun pelayanan penunjang
yang antara lain terdiri dari:
1 Instalasi Rawat Jalan
2 Instalasi Rawat Inap
3 Instalasi Gawat Darurat
50
4 Instalasi Bedah
5 Instalasi Perawat Intensif
6 Instalasi Kebidanan
7 Instalasi Radiologi
8 Instalasi Farmasi
9 Instalasi Laboratorium
10 Instalasi Rehabilitasi Medik
11 Instalasi Hemodialisis
12 Instalasi Rekam Medik
13 Instalasi Pemeliharaan Prasarana dan Sarana
14 Instalasi Gizi
15 Instalasi Pemulasaraan
16 Instalasi Humas
b. Komite Medik
c. Komite Keperawatan
d. Staf Medik Fungsional
e. Satuan Pemeriksaan Internal
f. Kelompok Jabatan Fungsional
Sumber Daya Manusia
Terdiri dari :
1. Dokter Umum
2. Medis Spesialis
3. Paramedis
4. Manajemen
5. Pelaksaan/Administrasi pelayanan
Instalasi Rawat Intensif
1. Ruang HCU = 4 TT
2. Ruang ICU = 4 TT
3. Ruang PICU = 2 TT
4. Ruang NICU = 4 TT
5. Ruang ICU ISOLASI = 1 TT
51
Pelayanan Rawat Inap
Pelayanan Rawat Inap terdiri dari 150 TT non kelas:
1. Bangsal Meranti (Persalinan) di lantai 2
2. Bangsal Jati (Bedah) di lantai 3
3. Bangsal Cendana I dan Cendana II (internal) di lantai 4
4. Bangsal Mahoni I dan Mahoni II (Campuran) di lantai 5
5. Bangsal Eboni (Anak) di lantai 6
6. Bangsal Pinus di lantai 2
Masing - masig bangsal terdiri dari 5 ruangan dan tiap ruang terdiri dari 5
tempat tidur.
3. 6 Klasifikasi RSUD Kota Tangerang
Setiap Rumah Sakit wajib mendapatkan penetapan kelas dari menteri.
RSUD Kota Tangerang adalah Rumah Sakit Umum Kelas C Non Pendidikan,
yaitu rumah sakit umum milik pemerintah yang memiliki fasilitas dan
kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 13 bidang spesialistik
dasar dan 2 bidang psesialistik tambahan lainnya.
3. 7 Instalasi Farmasi RSUD Kota Tangerang
3.7.1 Struktur Organisasi Instalasi Farmasi
Instalasi farmasi dikepalai oleh seorang apoteker yang memiliki 2
tugas utama yaitu, tugas yang bersifat manajerial berupa pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dan pelayanan farmasi
klinik. Struktur organisasi instalasi farmasi RSUD Kota Tangerang dapat
dilihat pada (Lampiran 2).
Sumber daya manusia di Instalasi Farmasi RSUD Kota Tangerang 35
orang terdiri dari 7 tenaga apoteker, 15 tenaga asisten apoteker dan 12 tenaga
administrasi. Kepala Instalasi Farmasi di Rumah Sakit Kota Tangerang
bertugas sebagai penanggung jawab terhadap 2 pelayanan kefarmasian yaitu
pengelolaan perbekalan farmasi dan pelayanan farmasi klinik. Masing-masing
bagian memiliki tugas pelayanan yang saling berhubungan satu sama lain.
Uraian tugasnya adalah sebagai berikut:
52
a. Kepala Instalasi Farmasi
1. Merencanakan dan menyusun target dan rencana kerja IFRS.
2. Menyiapkan juklak/juklis pelayanan di unitnya.
3. Menyelenggarakan pelayanan farmasi yang berkualitas sesuai standar
mutu pelayanan.
4. Melakukan perubahan harga sesuai dengan ketentuan yang ada.
5. Melaksanakan pelayanan kefarmasian klinis bersama dengan profesi
medis.
6. Melaksanakan pelayanan informasi obat secara lisan.
7. Merumuskan sistem pelayanan farmasi klinis, pelayanan kefarmasian
dan perencanaan perbekalan farmasi yang mengandung nilai
pembaharuan, gagasan/ide dan pembaharuan.
8. Evaluasi dan penyusunan laporan kegiatan pengelolaan perbekelan
farmasi.
9. Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas
instalasi farmasi kepada kepala bidang pelayanan penunjang medis.
10. Menganalisis efektifitas biaya
11. Melakukan konseling rawat inap dan rawat jalan
12. Melakukan visite keruang rawat
13. Pengkajian resep
14. Pemantuan penggunaan obat pasien
15. Menghimpun laporan farmsi klinik dan layanan lain
16. Memberikan rekomendasi terhadap pihak pihak terakit
17. Penerimaan dan distribusi perbekalan farmasi
18. Mengatur penyimpanan obat dan perbekalan farmasi dengan
memperhatikan keamanan fisik serta persyaratan penyimpanan
19. Melakukan pengawasan penghapusan sediaan perbekalan farmasi
20. Mengawasi pemilihan perbekalan farmasi
21. Mengevaluasi dan mengendalikan penggunaan obat
22. Mengemdalikan dan melakukan fungsi koordinasi dan konsultasi
dengan dokter, perawat dan rekan sejawat lainnya.
53
b. Kordinator Teknis Farmasi dan Administrasi
1. Menerima sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
dari bendahara barang sesuai dengan jenis, spesifikasi, jumlah, mutu,
waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam kontrak atau surat
pesanan dengan kondisi fisik yang diterima.
2. Menyimpan semua dokumen terkait penerimaan dengan baik.
3. Membuat laporan rekapan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan
medis habis pakai sesuai dengan sumber anggran.
4. Memyimpan sediaan farmasi, alat kesehatan, bahan medis habis pakai
sesuai dengan persyaratan kefarmasian.
5. Memastikan bahwa sedian farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai disimpan secara benar dan di inspeksi secara periodic.
6. Menyimpan semua dokumen yang terkait dengan penyimpanan secara
baik
7. Memonitor stok sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis
pakai.
8. Membuat laporan ketersediaan untuk stok yang mendekati stok
minimal.
9. Melaksanakan stok opname per 3 bulan kecuali sedian farmasi
golongan narkotika, psikotropika dan precursor dilaksanakan setiap
bulan pada tanggal diakhir bulan.
10. Membuat laporan hasil stok opname per 3 bulan.
11. Membuat laporan hasil stok opname sediaan farmasi golongan
narkotika, psikotropika, dan prekursor secara rutin setiap bulan.
12. Mendistribusikan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis
habis pakai yang dibutuhkan unit-unit di rumah sakit.
13. Menyimpan semua dokumen yang terkait pendistribusian secara baik.
14. Membuat laporan pendistribusian secara berkala setiap bulan di awal
bulan.
15. Menarik semua sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis
pakai apabila jatuh tanggal expired dan atau terjadi kerusakan.
54
16. Membuat laporan berkala pertahun tentang data expired yang sudah
dan atau akanexpired setiap awal tahun pertama.
17. Memberitahukan informasi tentang data expired ke unit-unit per 3
bulan sebelum jatuh tanggal expired.
18. Menyimpan seluruh sediaan farmasi alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai yang telah expired secara terpisah.
19. Membuat laporan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis
habis pakai yang telah expired.
20. Melakukan pemusnahan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan
medis habis pakai dengan cara yang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
21. Menarik sedian farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
terhadap produk yang izin edarnya dicabut oleh Badan Pengawas Obat
dan Makanan (BPOM).
22. Menyimpan semua dokumen yang terkait dengan pemusnahan dan
penarikan secara baik.
23. Membuat laporan stock fast moving, slow moving, dan dead stock
pertahun.
24. Membuat laporan LPLPO secara berkala perbulan.
25. Melakukan monitoring dan evaluasi terkait dengan pengelolaan
perbekalan farmasi di gudang logistic farmasi.
c. Koordinator Pelayanan Farmasi
1. Membuat perencanaan dan pengembangan layanan kefarmasian lainya
sesuai sasaran mutu unitnya dan persediaan perbekalan farmasi.
2. Menyiapkan juklak/juklis pelayanan di unitnya.
3. Melakasanakan pelayanan kefarmasian.
4. Melakukan pelayanan inforamasi obat secara lisan.
5. Merumuskan sistem pelayanan farmasi klinis, pelayanan kefarmasian
dan perencaan perbekalan farmasi yang mengandung nilai
pembaharuan gagasan/ide.
6. Merumusakan sistem pelayanan kefarmasian yang mengandung nilai-
nilai penyempurnaan.
55
7. Membuat buku pedoman/petunjuk pelaksanaan/petunjuk teknis
pelayanan faramsi klinis (SOP, Formulir) dan layanan kefarmasian dan
perencanaan perbekalan farmasi.
8. Melaksanakan diklat.
9. Melaksanakan penyuluhan pemakaian obat kepada pasien umum.
10. Menganalisi efektifitas biaya.
11. Pelaksanaan konseling rawat inap.
12. Pelaksanaan konseling rawat jalan.
13. Visite pasien rawat inap.
14. Evaluasi pemantuan penggunaan obat.
15. Pelaksaan pengkajian resep.
16. Mengikuti pelatihan yang berhubngan dengan farmasi.
17. Melakukan pelayanan farmasi khusus.
18. Pembuatan laporan farmasi klinis, perencanaan dan pelayanan farmasi
lainnya.
19. Memberikan rekomendasi pada pihak terkait.
20. Melakukan rapat koordinasi.
21. Monitoring penerimaan dan distribusi perbekalan farmasi.
22. Mengatur penyimpanan obat dan perbekalan farmasi dengan
memperhartikan keamanan fisik serta persyaratan penyimpanan yang
berlaku antara lain memperhatikan suhu ruangan, cahaya, kelembapan,
kebersihan dan sirkulasi udara, FIFO& FEFO.
23. Melakukan pengawasan obat yang mendekati batas kadaluarsa dan
mengembalikan ke gudang.
24. Melakukan penghapusan sediaan perbekalan farmasi.
25. Melakukan pemantauan barang farmasi.
26. Melakukan pemilihan perbekalan farmasi.
d. Penanggung Jawab Pelayanan Farmasi IGD/Rawat jalan/Rawat inap.
1. Membuat perencanan farmasi klinis, pengembangan layanan
kefarmasian lainnya sesuai sasaran mutu unitnya dan persediaan
perbekalan farmasi.
56
2. Menyiapkan juklak/juklis pelayanan terkait farmasi klinis dan layanan
farmasi lainnya.
3. Melaksanakan pelayanan kefarmasian
4. Melakukan pelayanan informasi obat secara lisan
5. Merumuskan sistem pelayanan farmasi klinis, pelayanan kefarmasian
dan perencanaan perbekalan farmasi yang mengandung nilai
pembaharuan, gagasan/ide.
6. Merumuskan sistem pelayanan kefarmasian yang mengandung nilai-
nilai penyempurnaan.
7. Membuat buku pedoman/petunjuk pelaksanaan/petunjuk teknis
pelayanan farmasi klinis (SOP,Formulir) dan layanan kefarmasian dan
perencaan perbekalan farmasi.
8. Melaksanakan diklat.
9. Melakukan forum diskusi dengan seluruh apoteker.
10. Melakukan konseling rawat inap/rawat jalan/IGD.
11. Melakukan visite keruang rawat.
12. Pengkajian resep.
13. Pemantuan penggunaan obat pasien.
14. Mengukuti pelatihan yang berhubungan dengan farmasi klinis.
15. Membuat laporan farmasi klinis.
16. Membuat rekomendasi pada pihak-pihak terkait.
3.7.2 Visi dan Misi Instalasi Farmasi
1. Visi
Instalasi farmasi rumah sakit yang dapat memberikan pelayanan
kefarmasian yang bermutu dan terpercaya secara menyeluruh untuk
pasien RSUD Kota Tangerang.
2. Misi
a. Menyelenggarakan pelayanan kefarmasian secara tepat waktu,
tepat dosis dan tepat guna yang berorientasi kepada peningkatan
kualitas hidup pasien.
b. Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia yang dimiliki.
57
c. Melaksanakan pengelolaan perbekalan farmasi yang efektif dan
efisien.
d. Melaksanakan pelayanan farmasi klinik secara optimal yang
berinteraksi langsung dengan pasien.
3.8 Ruang Lingkup Pelayanan Farmasi
3.8.1 Pelayanan Farmasi Klinik
Pelayanan Farmasi Klinik yang sudah dilakukan oleh Instalasi
RSUD Kota Tangerang antara lain :
A. Pengkajian Resep
Pelayanan resep dimulai dari penerimaan, pemeriksaan
ketersediaan, pengkajian resep, penyiapan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai termasuk peracikan obat,
pemeriksaan, penyerahan disertai pemberian informasi. Pada setiap
tahap alur pelayanan resep dilakukan upaya pencegahan terjadinya
kesalahan pemberian obat (medication error) dan pengkajian resep
dilakukan oleh Apoteker.
B. Penelusuran Riwayat Penggunaan Obat
RSUD Kota Tangerang belum melaksanakan Penelusuran Riwayat
Penggunaan Obat dalam mendapatkan informasi mengenai
penggunaan obat atau sediaan farmasi yang pernah dan sedang di
gunakan, riwayat pengobatan dapat diperoleh dari data rekam medik,
C. Rekonsiliasi Obat
RSUD Kota Tangerang belum melaksanakan rekonsiliasi obat yang
seharusnya dilakukan oleh apoteker untuk membandingkan instruksi
pengobatan dengan obat yang telah didapat pasien. Rekonsiliasi
dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahan obat seperti obat tidak
diberikan, atau duplikasi obat.
D. Pelayanan Informasi Obat
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tangerang telah melaksanakan
kegiatan PIO dengan baik. Belum sepenuhnya berjalan karena
kekurangan Apoteker Kegiatan PIO yang dilakukan di depo farmasi
58
rawat jalan, seperti PKRS (Promosi Kesehatan di Rumah Sakit), yaitu
penyuluhan terkait penyakit dan obat, pengerjaan PIO saat penyerahan
obat kepada pasien dilakukan oleh apoteker.
E. Konseling
Konseling obat adalah suatu aktivitas pemberian nasihat atau saran
terkait terapi obat dari apoteker (konselor) kepada pasien dan/atau
keluarganya. RSUD Kota Tangerang telah melaksanakan kegiatan
konseling dengan baik. Kegiatan konseling dilakukan di depo farmasi
rawat jalan. Kegiatan konseling dilakukan pada pasien seperti
pemakaian inhaler dan pemakaian insulin. Pemberian konseling yang
efektif memerlukan kepercayaan pasien dan atau keluarga terhadap
apoteker.
F. Pemantauan Terapi Obat
Dalam melaksanakan PTO, ada beberapa hal yang dipantau oleh
Apoteker, yaitu penyalahgunaan obat, salah penggunaan obat, pola
penulisan resep yang tidak rasional, interaksi obat dengan obat lain dan
interaksi obat dengan makanan, reaksi obat yang merugikan, dan
kondisi patologis pasien yang dapat mempengaruhi obat yang
diresepkan.
G. Visite
Kegiatan visite di RSUD Kota Tangerang sempat berhenti pada
tahun 2016 – awal 2017, pada bulan Agustus,tahun 2017 kegiatan ini
dimulai kembali. Visite dilakukan pada semua pasien yang
mendapatkan perawatan di RSUD Kota Tangerang.
H. Meso (Monitoring Efek Samping Obat)
RSUD Kota Tangerang belum melaksanakan MESO yang
seharusnya dilakukan oleh apoteker yang merupakan kegiatan
pemantauan setiap respon terhadap obat yang tidak dikehendaki yang
terjadi pada dosis lazim yang digunakan untuk tujuan diagnosa dan
terapi.
59
I. Pemantauan Kadar Obat Dalam Darah (PKOD)
Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD) belum dilakukan di
RSUD KOTA Tangerang. PKOD merupakan interpretasi hasil
pemeriksaan kadar obat tertentu atas permintaan dari dokter yang
merawat karena indeks terapi yang sempit atau atas usulan dari
apoteker kepada dokter. PKOD bertujuan:
1. Mengetahui kadar obat dalam darah.
2. Memberikan rekomendasi kepada dokter yang merawat.
3.8.2 Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai meliputi:.
A. Pemilihan
Pemilihan sediaan farmasi di RSUD Kota Tangerang berdasarkan
formularium Rumah Sakit yang disusun oleh Komite Farmasi dan
Terapi Rumah Sakit. Sedangkan pemilihan Alat Kesehatan dan
Bahan Medis Habis Pakai disesuaikan dengan kebutuhan.
B. Perencanaan
Perencanaan dilaksanakan oleh bagian lain diluar Instalasi farmasi
berdasarkan data metode konsumsi dari instalasi farmasi.
Perencanaan dilakukan untuk menghindari kekosongan obat dan
disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
C. Pengadaan
Pengadaan di RSUD Kota Tangerang dilakukan oleh tim
pelaksana anggaran dan perencanaan dibawah bagian bidang
pelayanan penunjang medik. Terdapat 2 jenis pengadaan yaitu
pembelian langsung atau tidak langsung (lelang).
D. Penerimaan
Penerimaan perbekalan farmasi dilakukan oleh Panitia Penerima
Barang yang disaksikan oleh pejabat pelaksana teknis kegiatan
(PPTK), staf bendahara barang dan staf gudang perbekalan
farmasi sesuai dengan spesifik yang tertera didalam kontrak atau
surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima.
60
Setelah diterima, barang kemudian disimpan di ruang gudang
farmasi, dan faktur diinput pada sistem komputer di Sistim
Informasi Rumah Sakit (SIM RS) dan kartu stock sesuai dengan
SPO serah terima barang.
E. Penyimpanan
Sistem penyimpanan perbekalan farmasi di gudang farmasi
RSUD Kota Tangerang berdasarkan sumber anggaran,
karakteristik tertentu seperti bentuk sediaan seperti tablet, kaplet,
kapsul, sirup/suspensi/emulsi, injeksi, tetes mata/telinga,
salep/krim. Obat-obat dengan penyimpanan khusus seperti Obat
High Alert yaitu sejumlah obat-obatan yang memiliki risiko tinggi
menyebabkan bahaya yang besar pada pasien jika tidak digunakan
secara tepat, contoh obat High Alert adalah Digoxin, Epinephrine
Injeksi serta Lidocain Injeksi, Narkotik dan Psikotropik disimpan
dalam lemari khusus, obat-obat Vaksin dan Suppositoria disimpan
dalam lemari pendingin dengan suhu 2-8 oC. Untuk sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai, disimpan
secara alfabetis dengan menerapkan prinsip FIFO (First In First
Out) dan FEFO (First Expired First Out) serta sediaan farmasi,
alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang penampilan dan
penamaan yang mirip, LASA (Look Alike Sound Alike)
ditempatkan berpisah dan diberi penandaan khusus untuk
mencegah terjadinya kesalahan pengambilan obat.
F. Distribusi
Sistem pendistribusian di unit pelayanan rawat jalan
menggunakan sistem resep perorangan, untuk pelayanan rawat
inap menggunakan sistem resep One Day Dose Dispensing, serta
terdapat emergency stock diruangan Ranap dan IGD dan untuk
Instalasi Bedah Sentral terdapat Depo Farmasi.
G. Pengendalian
Pengendalian pengunaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan
bahan medis habis pakai dilakukan oleh instalasi farmasi bersama
61
dengan tim komite farmasi dan terapi serta berkoordinasi dengan
bidang pelayanan penunjang. Pengendalian sediaan farmasi, alat
kesehatan dan bahan medis habis pakai dilakukan dengan
mengevaluasi persediaan slow moving, death stock, kadaluarsa,
kekosongan/kadaluarsa dan rusak.
H. Pemusnahan
1. Pemeriksaan / identifikasi terhadap kondisi fisik dan tanggal
kadaluaras perbekalan farmasi pada waktu melakukan stock
opname oleh petugas farmasi : setiap 3 bulan di gudang dan
Apotek farmasi.
2. Pencatatan dan pemisahan perbekalan farmasi yang rusak /
kadaluara yang ditemukan pada saat stock opname oleh
petugas farmasi.
3. Pengumpulan dan pengembalian perbekalan farmasi yang
rusak / kadaluarsa oleh petugas dari seluruh apotek farmasi
kegudang farmasi dalam waktu kurang dari 2 hari kerja dan
maksimal 1 minggu setelah perbekalan farmasi di data dan
dikemas dalam pembungkus secara rapi oleh petugas farmasi.
4. Pencatatan dan pemisahan perbekalan farmasi yang rusak /
kadaluarsa di gudang farmasi menurut jenis barang oleh
petugas farmasi.
5. Penyimpanan perbekalan farmasi yang rusak / kadaluarsa
dipisahkan dari barang yang masih dipergunakan, dalam
tempat terpisah sampai dengan tiba waktu penghapusan dan
pemusnahan.
6. Penyerahan perbekalan farmasi yang rusak / kadaluarsa yang
akan dimusnahakan kepada TIM atau panitia penghapusan dan
pemusnahan perbekalan farmasi rusak atau kadaluarsa
menggunakan formualrium serah terima perbekalan farmasi
untuk dimusnahkan.
62
7. Pelaksanaan pemusnahan perbekalan farmasi rusak, kadaluarsa
dengan cara yang sesuai dengan kategori/ sifat masing-masing
barang disaksikan oleh saksi-saksi yang berwenang.
8. Pemusnahan Resep dan Faktur dilakukan setelah disimpan
selama 5 tahun, pemusnahannya dengan cara dibakar atau
dengan cara lain oleh APA dan disaksikan minimal oleh 1
orang saksi. Pada Saat pemusnahan harus dibuat Berita Acara
Pemusnahan (BAP) resep dan Faktur. Berita Acara tersebut
ditandatangani oleh APA dan minimal seorang saksi. Lembar
BAP dibuat rangkap 3 dan dikirim kepada Dinas Kesehatan
Kota, BPOM dan Arsip Instalasi Farmasi RSUD Kota
Tangerang.
I. Administrasi
Kegiatan administrasi berupa pencatatan dan pelaporan terhadap
kegiatan pengelolaan perbekalan farmasi yang meliputi
perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, pendistribusian,
pengendalian persediaan, pengembalian, pemusnahan dan
penarikan. Pelaporan dibuat secara periodik yang dilakukan
instalasi farmasi dalam periode waktu tertentu.
3.9 Komite Farmasi dan Terapi (KFT) RSUD Kota Tangerang
3.9.1 Organisasi KFT
KFT adalah organisasi yang mewakili hubungan komunikasi antara
staf medis dengan staf farmasi, terdiri dari dokter yang mewakili spesialis-
spesialis yang ada di rumah sakit dan apoteker dari farmasi rumah sakit,
serta tenaga kesehatan lainnya.
Susunan KFT di RSUD Kota Tangerang terdiri dari:
Ketua : dr. lucyana Achwas, Sp. THT - KL
Sekretaris : Fatmawati, [Link]., Apt
Anggota : 1. dr. Usynara, Sp. P
2. dr. Paulina Thiomas, Sp. S
3. dr. Melati Dinihari, Sp. A
63
4. dr. Kurnia Mebrillianttari, Sp. JP, FIHA
5. dr. Yenny Yan Saputra, Sp. KJ
6. dr. Denty Rahmani Santihe, SP. KK
7. Nur Kamilah, S. Si., Apt
8. Marningtyas, AMK
3.9.2 Tujuan KFT
Tujuan umum KFT adalah merumuskan kebijakan dan prosedur
yang berkenaan dengan evaluasi seleksi dan penggunaan obat yang ada di
RSUD Kota Tangerang. Sedangkan tujuan khusus dari KFT, yaitu
mengembangkan dan menerapkan formularium obat yang digunakan di
rumah sakit dengan mengadakan monitoring secara periodik. Membuat
program edukasi untuk staf medis/paramedis untuk memenuhi
pengetahuan tentang obat dan penggunaanya.
3.9.3 Kewenangan KFT
Komite Farmasi dan Terapi mempunyai wewenang sepenuhnya
melaksanakan sistem formularium, merumuskan dan mengendalikan
pelaksanaan semua kebijakan, ketetapan, prosedur, aturan yang berkaitan
dengan obat. KFT juga berwenang penuh untuk juga mengadakan,
mengembangkan, menetapkan, merevisi dan mengubah formularium, dan
menyetujui perubahan kebijakan penggunaan obat dan pelayanan instalasi
farmasi rumah sakit.
3. 9.4 Uraian Tugas
1. Tugas Ketua KFT
Rapat dalam KFT
Menentukan jadwal pertemuan
Memimpin Memutuskan hasil keputusan rapat dalam KFT
Melaksanakan pengawasan, pengendalian dan evaluasi penulisan
resep dan penggunaan obat generik.
Memimpin program dan evaluasi penggunaan obat, pengkajian dari
hasil kegiatan tersebut dan membuat rekomendasi yang tepat untuk
mengoptimalkan penggunaan obat
Bertanggung jawab pada pengadaan edukasi bagi staf professional
64
Membantu IFRS dalam mengembangkan dan pengkajian
kebijakan, ketetapan dan peraturan yang berkaitan dengan
pengunaan obat di rumah sakit sesuai peraturan yang berlaku
Melaksanakan pendidikan dan pelatihan.
2. Sekretaris KFT
Menetapkan jadwal pertemuan
Mengajukan acara yang akan dibahas dalam pertemuan
Menyiapkan dan memberi informasi yang dibutuhkan untuk
pembahasan dalam pertemuan
Mencatat semua hasil keputusan dalam pertemuan dan melaporkan
pada pimpinan rumah sakit
Menyebarluaskan semua keputusan yang disetujui oleh pimpinan
kepada seluruh pihak yang terkait
Membuat formularium rumah sakit berdasarkan kesepakatan KFT
Melaksanakan pendidikan dan pelatihan
Melaksanakan pengkajian dan penggunaan obat
2. Anggota KFT
Memberikan informasi yang dibutuhkan untuk pembahasan dalam
pertemuan
Mengikuti rapat KFT dan memberikan masukan
Melaksanakan pendidikan dan pelatihan
Melaksanakan pengkajian dan penggunaan obat
Berperan aktif dalam memberikan masukan untuk penggunaan obat
yang nasional.
3.9.5. Formularium
Formularium RSUD Kota Tangerang adalah himpunan obat yang
digunakan di Rumah Sakit pada batas waktu tertentu, diperbaharui secara
berkala yang berisi sediaan-sediaan obat yang terpilih dan informasi
tambahan penting lainnya, mengacu kepada Formularium Nasional,
disepakati staf medis, disusun oleh Komite Farmasi dan Terapi (KFT)
yang ditetapkan oleh Pimpinan Rumah Sakit. Komite Farmasi dan Terapi
65
(KFT) di RSUD Kota Tangerang diketuai oleh dokter spesialis dan
sekretaris oleh Kepala Instalasi Farmasi, rapat dilakukan setiap 1 bulan
sekali, dan formularium RSUD Kota Tangerang direvisi setiap 2 tahun
sekali, obat sisipan dilakukan bila terjadi kasus yang bersifat urgent yaitu
dapat menyebabkan kematian.
Formularium Rumah Sakit harus tersedia untuk semua Penulis
Resep, pemberian Obat, dan penyedia Obat di Rumah Sakit. Evaluasi
terhadap Formularium Rumah Sakit harus secara rutin dan dilakukan
revisi sesuai kebijakan dan kebutuhan Rumah Sakit.
Penyusunan dan revisi Formularium Rumah Sakit dikembangkan
berdasarkan pertimbangan terapeutik dan ekonomi dari penggunaan Obat
agar dihasilkan Formularium Rumah Sakit yang selalu mutakhir dan dapat
memenuhi kebutuhan pengobatan yang rasional. Buku Formularium harus
didistribusikan dan disosialisasikan kepada semua staf medik Rumah
Sakit, termasuk pimpinan Rumah Sakit, dan komite Rumah Sakit.
[Link]. Sistem Formularium
a. Evaluasi penggunan adalah suatu proses yang dilaksanankan terus
menerus dan terstruktur yang dilakukan oleh RSUD Kota Tangerang
dan ditunjukkan untuk menjamin bahwa obat digunakan secara tepat,
rasional, aman dan efektif.
b. Penilaian dan pemilihan obat Formularium adalah kegiatan untuk
menetapkan jenis kegiatan Farmasi, alat kesehatan , dan bahan medis
habis pakai sesuai kebutuhan.
Penilaian dan pemilihan obat Formularium berdasarkan:
- Formularium Nasional
- Formularium Nasional e-cathalog
- Standar pedoman / pengobatan diagnosa dan terapi
(Rekomendasi tingkat 1 Evidence base medicine )
- Pola penyakit
- Tingkat bukti ilmiah tertinggi untuk indikasi, efektifitas dan
keamanannya
- Kelebihan dibanding obat yang lama
66
- Pengobatan berbasis bukti
- Multi dan Perbandingan Harga
- Ketersediaan di pasaran
c. Penghapusan atau penambahan monografi obat dalam Formularium
adalah pengajuan secara resmi melalui KSM kepada Komite Farmasi
dan Terapi perihal penghapusan atau penambahan Monografi obat
dalam Formularium yang disertai dengan.
- Laporan evaluasi obat yang diusulkan di hapus atau di
tambahkan
- Data mengenai pengaruh obat yang di usulkan hapus atau di
tambahkan terhadap mutu dan biaya perawatan perawatan
penderita
Kriteria menambah obat dalam Formularium RSUD Kota Tangerang:
- Mengutamakan penggunaan Obat sesuai standar Formularium
Nasional e-cathalog
- Kajian Evidence Base Medicine (EBM) terkait dengan :
efikasi, efisiensi, dan pemanfaatan secara klinis
- Mengutamakan penggunaan obat generik.
- Memiliki rasio manfaat dan resiko yang paling menguntungkan
bagi penderita
- Mutu terjamin
- Memiliki rasio manfaat tinggi dan biaya ekonomis, bila
terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki efek terapi yang
serupa maka pilihan dijatuhkan pada obat yang sifatnya paling
banyak diketahui berdasarkan data ilmiah / evidence base
- Obat yang farmakokinetik dan dan stabilitasnya lebih baik
- Mudah diperoleh
Kriteria dikeluarkan / rejected monografi obat dalam Formularium
- Obat - obat yang jarang digunakan ( Slow Moving Stock )
dalam waktu 6 bulan
- Obat - obat yang tidak digunakan dalam waktu 6 bulan berturut
- turut ( Death Stock )
67
- Obat tidak beredar lagi dipasaran
- Sudah ada obat baru yang cost – efektif
- Obat setelah dievaluasi memiliki resiko lebih tinggi
dibandingkan manfaatnya
- Obat setelah dievaluasi memiliki high cost dan ada obat lain
yang serupa tetapi lebih cost efektif
d. Penggunaan obat non Formularium adalah obat yang tidak terdapat
didalam Formularium yang digunakan dengan kriteria dan prosedur
tertentu
Kriteria penggunaan obat non Formularium adalah :
- Kasus tertentu yang jarang terjadi misal : kelainan hormon
anak, penyakit kulit langka
- Perkembangan terapi yang memerlukan obat baru yang belum
terakomodir
- Obat yang sangat mahal dan penggunaannya dikendalikan
secara ketat, misal : sitostatika baru, antibiotika yang
dicadangkan
- Melalui prosedur pengajuan yang ditetapkan
3.10 Kegiatan Penunjang Medik
3.10.1 Central Sterilized and Supply Department (CSSD)
CSSD adalah unit yang mensuplai bahan atau instrumen steril
untuk kebutuhan tindakan medis. Kegiatan pelayanan yang
dilakukan di CSSD antara lain :
A. Dekontaminasi
Dekontaminasi adalah suatau proses yang dilakukan untuk
membunuh sebagian kuman yang terdapat pada alat / instrumen
setelah [Link] dan instrumen dibagi menjadi 3 jenis
golongan sesuai dengan proses dekontaminasinya, yaitu critical,
semi critical dan non critical. Jenis critical contohnya adalah bahan
atau instrumen yang menyentuh pembuluh darah pasien, jenis ini
harus melalui sterilisasi. Jenis semi critical hanya memerlukan
68
desinfeksi tingkat tinggi, tidak melalui sterilisasi. Jenis non critical
hanya memerlukan desinfeksi tingkat rendah. Proses dekontaminasi
menggunakan cairan pembersih enzimatic deterjen dan desinfektan.
B. Pengemasan dan Pelabelan
Pengemasan dan pelabelan dilakukan untuk mengelompokkan
bahan atau instrumen sesuai dengan jenis dan jumlah yang
dibutuhkan. Bahan pengemas yang digunakan antara lain linen,
packing selang suction, dan packing alat plastik / karet dengan
pouches. Setelah dikemas, diberi label indikator yang terdiri dari
tanggal sterilisasi, masa kadaluarsa, loadnya, dan petugas steril.
Masa kadaluarsa dari bahan atau instrumen yang dikemas dengan
linen adalah 6 hari, sedangkan yang dikemas dengan plastik adalah
1 tahun
C. Sterilisasi
CSSD RSUD Kota Tangerang menggunakan 2 jenis alat sterilisasi
yaitu Autoclave untuk bahan atau instrument yang tahan pemanasan
suhu tinggi (1310- 1380C selama 50 menit atau 1210- 1240C selama
1 jam) dan Plasma H2O2 untuk bahan atau instrument yang tidak
tahan pemanasan suhu tinggi (550C selama 1 jam).
D. Penyimpanan
Bahan dan instrumen yang sudah selesai disterilisasi disimpan
diruang penyimpanan khusus. Penyimpanan disusun berdasar jenis
bahan atau instrumen, pada rak stainless yang tidak menyentuh
dinding, lantai atau plafon. Tekanan udara diatur pada nilai positif
dan petugas tidak boleh berlama-lama di dalam ruang penyimpanan
untuk menjamin mutu bahan dan instrumen yang telah disterilkan.
E. Distribusi
Produk steril yang dihasilkan CSSD didistribusikan ke bagian-
bagian yang memerlukan seperti: kamar operasi, kamar bersalin,
IGD, ruang rawat inap, dan poliklinik. Kemudian petugas
mendistribusikan ke masing-masing ruangan yang membutuhkan,
dengan trolley dalam keadaan tertutup, dan serah terima dengan
69
perawat ruangan ( formulir penyerahan alat / instrument steril),
Serta petugas harus melakukan tindakan aseptik dalam
menggunakan alat-alat maupun perlengkapan yang sudah
disterilikan. Bagian CSSD menghasilkan produk steril berupa
instrument set keperluan operasi, kapas steril, kasa steril berbagai
ukuran, implant ortopedi steril, linen steril untuk operator dan crew
dan lain-lain.
3.10.2 Pengolahan Limbah Rumah Sakit
Limbah yang dihasilkan rumah sakit dapat berupa limbah padat
dan cair yang merupakan limbah klinis dan non-klinis sehingga
berpotensi dalam penyebaran penyakit. Pengolahan limbah di RSUD
Kota Tangerang dilakukan oleh unit bidang kesehatan lingkunagn dan
K3L yang dikelola di RSUD Kota Tangerang yaitu:
a) Limbah cair
Limbah cair baik medis atau non-medis diolah melalui IPAL
(Instalasi Pengelolaan Air Limbah) yang ada di RSUD Kota Tangerang.
Seluruh saluran air di RSUD Kota Tangerang dialirkan ke IPAL untuk
diolah, setelah itu air dibuang ke saluran air. Untuk memastikan air sudah
bebas limbah maka dilakukan pengecekan seperti pH, bakteri dan
sebagainya. Setiap bulan dilakukan pemeriksaan kualitas air hasil
pengolahan limbah baik dari unit B3 atau bekerja sama dengan pihak
ketiga kemudian melakukan pelaporan kepada Badan Lingkungan Hidup
Daerah (BLHD) setiap 3 bulan sekali.
b) Limbah Padat
Limbah padat di RSUD Kota Tangerang dibagi menjadi 3, yaitu :
limbah medis (dikumpulkan pada kantong plastik kuning), limbah rumah
tangga (dikumpulkan pada kantong plastik hitam), dan limbah B3
(dikumpulkan pada drum khusus, disimpan di tempat terpisah).
1) Limbah medis dimusnahkan oleh pihak ketiga yang bekerja sama
dengan RSUD Kota Tangerang.
2) Limbah rumah tangga dibawa oleh petugas kebersihan dari Dinas
Kebersihan Provinsi ke tempat pembuangan akhir
70
3) Limbah B3 akan diangkut oleh perusahaan pengelola limbah B3
berizin KLH.
4) Limbah yang berupa sitotoksik, limbah radiologi diolah oleh pihak
ke tiga yang sudah sesuai dengan standar pemerintah.