17.
Manajemen Risiko Operasional dan Risiko Perubahan Kurs
Manajemen risiko operasioanl memfokuskan pada manajemen kualitas, yang intinya
adalah bagaimana memperbaiki kualitas produk atau pelayanan dengan memperbaiki proses
produksi/ pelayanan.
17.1 pengendalian kualitas sebagai strategi menghadapi risiko operasional.
Manajemen kualitas pada dasarnya ingin memperbaiki kualitas output melalui
pengendalian operasional. Konsep tersebut pertama kali populer untuk proses produksi tetapi
pada perkembangan selanjutnya konsep manajemen kualitas juga diterapkan untuk lainnya,
seperti sektor pelayanan ( jasa ). Karena itu bagian berikut ini membicarakan manajemen
kualitas sebagai salah satu teknik untuk mengelola risiko operasional.
17.1.1. Definisi Kualitas
Kualitas bisa didefinisikan sebagai fitur dan karakteristik produk atau pelayanan secara
keseluruhan yang bisa memuaskan kebutuhan tertentu. Dengan kata lain kualitas mengukur
seberapa baik produk atau pelayanan bisa amemenuhi kebutuhan konsumen. Kualitas akan
menentukan daya saing organisasi karena itu organisasi perlu menjaga dan memonitor
kualitas.
Jaminan mutu adalah sistem menyeluruh dari kebijakan, produsen, pedoman, yang ditetapkan
oleh organisasi untuk menjaga dan mencapai kualitas. Jaminan kulalitas terdiri dari dua
fungsi pokok :
a. rekayasa kualitas : membuat proses dan desaian produk yang berkualitas
b. pengendalian kualitas inspeksi untuk melihat apakah standar kualitas sudah terpenuhi.
17.1.2 Six-Sigma
Cakupan Six Sigma
Six sigma dapat didefinisikan sebagai metodologi untuk mengelola variasi dalam
suatu proses yang menyebabkan produk rusak, yaitu produk yang mempunyai penyimpangan
yang lebih besar dari standar penyimpangan dari standar penyimpangan tertentu dan secara
sitematis bekerja untuk mengelola variasi tersebut untuk menghilangkan produk rusak
tersebut.
Metodologi Six Sigma
Six-sigma mempunyai dua metode kunci, yaitu DMAIC dan DMADY
a. DMAIC ( define, mensure,analyze, improve, vontrol) digunakan untuk memperbaiki
proses bisnis saat itu yang berada dibawah standar dan digunakan untuk mencari
perbaikan secara gradual.
b. DMADV ( define, measure, analyze, design, verify) digunakan untuk menciptakan
proses atau output yanf baru yang mempunyai kualitas dengan standar six-sigma.
DMADV juga bisa digunakan jika proses saat ini membutuhkan lebih dari perbaikan
gradual.
DMAIC terdiri dari lima hal
a. Mendefinisikan secara formal tujuan dari perbaikan proses yang konsisten dengan
permintaan konsumen dan strategi organisasi.
b. Melakukan pengukuran awal untuk perbandingan dimasa mendatang
c. Melakukan analisis untuk memverifikasi kaitan dan hubungan sebab akibat
d. Memperbaiki dan mengoptimalkan proses berdasarkan analisis dengan menggunakan
teknik seperti desain ekperimen
e. Menyiapkan dan mengendel percontohan utnuk menetapkan kemampuan proses,
transisi ke produksi, dan secara terus menrerus mengukur proses dan menetapkan
mekanisme pngendalian utnuk memastikan bahwa variasi diperbaiki sebelum
memunculkan produk rusak.
DMADV terdiri dari lima tahap :
a. Mendefinikan secara formal tujuan dari aktivitas desain yang konsisten dengan
permintaan konsumen dan stratefi perusahaan
b. Mengukur, mengidentifikasi kualitas perusahaan kemampuan produk, kemampuan
proses produksi, assesment risiko, dan sebagainya.
c. Analisis mengembangkan alternatif desain, menciptakan desain dengan tingkat yang
tinggi dan mengevaluasi kemampuan desain, supaya biasa dipilih desain yang terbaik.
d. Desain, dan mengembangkan desain yang detail, mengoptimalkan desain, dan
merencanakan verifikasi desain.
e. Verifikasi desain menyiapkan percontohan menjalankan proses produksi dan
menyerahkan proses tersebut kepemilik proses.
Six sigma mengidentifikasi lima peranan kunci untuk menjamin kesuksesannya
a. Pemimpin Puncak
b. Champion
c. Master Black Belts
d. Pemegang subuk hitam
e. Pemegang subuk hijau