BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Perngawasan dan Pengendalian atau Controlling
Menurut Robert J. Mockler pengawasan yaitu usaha sistematik
menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang
sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan
standar, menentukan dan mengukur deviasi-deviasi dan mengambil tindakan
koreksi yang menjamin bahwa semua sumber daya yang dimiliki telah
dipergunakan dengan efektif dan efisien.
Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan
pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang
diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan
tersebut. Controlling is the process of measuring performance and taking
action to ensure desired results. Pengawasan adalah proses untuk
memastikan bahwa segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang
telah direncanakan . The process of ensuring that actual activities conform
the planned activities.
George R. Tery (2006:395) mengartikan pengawasan sebagai
mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi
prestasi kerja dan apabila perlu, menerapkan tindakan-tindakan korektif
sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
4
5
Robbin (dalam Sugandha, 1999 : 150) menyatakan pengawasan itu
merupakan suatu proses aktivitas yang sangat mendasar, sehingga
membutuhkan seorang manajer untuk menjalankan tugas dan pekerjaan
organisasi.
Dale (dalam Winardi, 2000:224) dikatakan bahwa pengawasan tidak
hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil kegiatan
mengawasi, tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan meluruskannya
sehingga mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang direncanakan
Admosudirdjo (dalam Febriani, 2005:11) mengatakan bahwa pada
pokoknya pengawasan adalah keseluruhan daripada kegiatan yang
membandingkan atau mengukur apa yang sedang atau sudah dilaksanakan
dengan kriteria, norma-norma, standar atau rencana-rencana yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Kesimpulannya, pengawasan merupakan suatu usaha sistematik untuk
menetapkan standar pelaksanaan tujuan dengan tujuan-tujuan perencanaan,
merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata
dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan
mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi
yang diperlukan.
2.2 Fungsi Pengawasan
6
Ralph Currier Davis dan Alan C. Filley membagi fungsi pengawasan
menjadi delapan sub-fungsi yang terdiri dari tahap-tahap kegiatan sebagai
berikut:
1. Perencanaan rutin (routine planning)
2. Penjadwalan (scheduling)
3. Persiapan (preparation)
4. Pengabaran (dispatching)
5. Pengarahan (direction)
6. Pemeriksaan (supervision)
7. Pembandingan (comparison)
8. Pembetulan (corrective action)
2.3 Prinsip Pengawasan dan Pengendalian
1. Pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan harus dimengerti oleh staf
dan hasilnya mudah diukur. Misalnya tentang waktu dan tugas-tugas
pokok yang harus diselesaikan oleh staf.
2. Fungsi pengawasan harus difahami pimpinan sebagai suatu kegiatan
yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
3. Standar unjuk kerja harus dijelaskan kepada seluruh staf karena kinerja
staf akan terus dinilai oleh pimpinan sebagai pertimbangan untuk
memberikan reward kepada mereka yang dianggap mampu bekerja.
2.4 Manfaat Pengawasan dan Pengendalian
7
1. Dapat mengetahui sejauh mana program sudah dilakukan oleh staf,
apakah sesuai dengan standar atau rencana kerja, apakah sumber daya
telah digunakan sesuai dengan yang telah ditetapkan. Fungsi wasdal
akan meningkatkan efisiensi kegiatan program.
2. Dapat mengetahui adanya penyimpangan pada pemahaman staf dalam
melaksanakan tugas-tugasnya.
3. Dapat mengetahui apakah waktu dan sumber daya lainnya mencukupi
kebutuhan dan telah dimanfaatkan secara efisien
4. Dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan.
5. Untuk memberikan ruang regular untuk superviesees untuk
merenungkan isi dan pekerjaan mereka
6. Untuk menerima informasi dan perspektif lain mengenai pekerjaan
seseorang
7. Untuk menjadi dukungan baik segi pribadi ataupun pekerjaan
8. Untuk memastikan bahwa sebagai pribadi dan sebagai orang pekerja
tidak ditinggalkan tidak perlu membawa kesulitan, masalah dan
proyeksi saja.
9. Untuk menjadi pro-aktif bukan re-aktif
10. Untuk memastikan kualitas pekerjaan
2.5 Objek Pengawasan
Dalam melaksanakan fungsi pengawasan manajerial, ada lima jenis
obyek yang perlu dijadikan sasaran pengawasan.
8
1. Obyek yang menyangkut kuantitas dan kualitas barang atau jasa.
2. Keuangan
3. Pelaksanaan program dilapangan
4. Obyek yang bersifat strategis
5. Pelaksanaan kerja sama dengan sektor lain yang terkait.
2.6 Proses Pengawasan
1. Penetapan standar pelaksanaan (perencanaan)
Tahap pertama dalam pengendalian adalah penetapan standar
pelaksanaan. Standar mengandung arti sebagai suatu satuan pengukuran
yang dapat digunakan sebagai “patokan” untuk penilaian hasil-hasil.
Standar adalah kriteria-kriteria untuk mengukur pelaksanaan pekerjaan.
Kriteria tersebut dapat dalam bentuk kuantitatif ataupun kualitatif.
Standar pelaksanaan (standard performance) adalah suatu pernyataan
mengenai kondisi-kondisi yang terjadi bila suatu pekerjaan dikerjakan
secara memuaskan.
Standar pelaksanaan pekerjaan bagi suatu aktifitas menyangkut
kriteria: ongkos, waktu, kuantitas, dan kualitas. Tipe bentuk standar yang
umum adalah:
a. Standar-standar fisik, meliputi kuantitas barang atau jasa, jumlah
langganan, atau kualitas produk.
9
b. Standar-standar moneter, yang ditunjukkan dalam rupiah dan
mencakup biaya tenaga kerja, biaya penjualan, laba kotor,
pendapatan penjualan, dan lain-lain.
c. Standar-standar waktu, meliputi kecepatan produksi atau batas
waktu suatu pekerjaan harus diselesaikan.
2. Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan
Penentuan standar akan sia-sia bila tidak disertai berbagai cara
untuk mengukur pelaksanaan kegiatan nyata. Oleh karena itu, tahap
kedua dalam pengendalian adalah menentukan pengukuran pelaksanaan
kegiatan secara tepat.
3. Pengukuran pelaksanaan kegiatan
Setelah frekuensi pengukuran dan sistem monitoring ditentukan
pengukuran pelaksanaan dilakukan sebagai proses yang berulang-ulang
dan terus-menerus. Ada berbagai cara untuk melakukan pengukuran
pelaksanaan yaitu pengamatan (observasi), laporan-laporan (lisan dan
tertulis), pengujian (tes), atau dengan pengambilan sampel.
4. Pembandingan pelaksanaan dengan standar dan analisa penyimpangan
Tahap kritis dari proses pengawasan adalah pembandingan pelaksanaan
nyata dengan pelaksanaan yang direncanakan atau standar yang telah
ditetapkan.
5. Pengambilan tindakan koreksi bila diperlukan
Bila hasil analisa menunjukkan perlunya tindakan koreksi, tindakan
ini harus diambil. Tindakan koreksi mungkin berupa:
10
a. Mengubah standar mulu-mulu (barangkali terlalu tinggi atau terlalu
rendah)
b. Mengubah pengukuran pelaksanaan
c. Mengubah cara dalam menganalisa dan menginterpretasikan
penyimpangan-penyimpangan.
2.7 Jenis –Jenis Pengawasan dan Pengendalian
Berdasarkan bagian yang akan diawasi pengawasan dibedakan atas :
1. Pengendalian karyawan (Personal control).
Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang ada hubungannya
dengan kegiatan pegawai, apakah pegawai bekerja sesuai dengan
perintah, rencana, tata kerja, absensi pegawai dan lain-lain.
2. Pengendalian keuangan (financial control)
Pengendalian ini ditujukan untuk hal-hal yang menyangkut
keuangan,tentang pemasukan dan pengeluaran,biaya-biaya perusahaaan
termasuk pengendalian anggaranya.
3. Pengendalian produksi (Production control).
Pengendalian yang difokuskan untuk mengetahui kualitas dan
kuantitas produksi yang dihasilkan, apakah sesuai dengan standar atau
rencananya.
4. Pengendalian waktu (Time control)
11
Pengendalian ini ditujukan kepada penggunaan waktu, artinya
apakah waktu untuk mengerjakan suatu pekerjaan sesuai atau tidak
dengan rencana.
5. Pengendalian teknis (Technical control)
Pengendalian ini ditujukan kepada hal-hal yang bersifat fisik, yang
berhubungan dengan tindakan dan teknis pelaksanaan.
6. Pengendalian kebijaksanaan (Policy control).
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui dan menilai apakah
kebijaksanaan organisasi telah dilaksanakan sesuai dengan yang
digariskan.
7. Pengendalian penjualan (Sales control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui apakah produksi yang
dihasilkan terjual sesuai rencana yang ditentukan.
8. Pengendalian inventaris (inventory control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui apakah inventaris
perusahaan masih ada semuanya atau ada yang hilang.
9. Pengendalian pemeliharaan (maintenance control)
Pengendalian ini ditujukan untuk mengetahui apakah semua
inventaris perusahaan dan kantor terprlihara atau tidak,dan mengetahui
kerusakan.
2.8 Prinsip Pokok
12
Fungsi pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar
pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau
hasil yang dikehendaki. Untuk dapat menjalankan pengawasan, perlu
diperhatikan 2 prinsip pokok, yaitu:
1. Adanya Rencana
2. Adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada bawahan.
Dalam fungsi pengawasan tidak kalah pentingnya adalah sosialisasi tentang
perlunya disiplin, mematuhi segala peraturan demi keselamatan kerja
bersama. Sosialisasi perlu dilakukan terus menerus, karena usaha
pencegahan adalah penting untuk mendapat perhatian.
Pengawasan dan pengendalian (controlling) sebagai fungsi
manajemen bila diikerjakan dengan baik, akan menjamin bahwa semua
tujuan dari setiap orang atau kelompok konsisten dengan tujuan jangka
pendek maupun jangka panjang. Hal ini membantu menyakinkan bahwa
tujuan dan hasil tetap konsisten satu sama lain dengan dalam organisasi.
Controlling berperan juga dalam menjaga pemenuhan (kompliansi) aturan
dan kebijakan yang esensial
Proses pengendalian mulai dengan perencanaan dan pembangunan
tujuan penampilan kerja. Tujuan penampilan didefinisikan dan standar-
standar untuk mengukurnya disusun. Ada 2 tipe standar:
a. Standar out-put (keluaran): mengukur hasil-hasil tampilan dalam istilah
kuantitas, kualitas, biaya atau waktu.
13
b. Standar in-put (masukan): mengukur usaha-usaha kerja yang masuk ke
dalam tugas penampilan.
2.9 Pengendalian Efektif
Pengendalian terbaik dalam organiasasi adalah berorientasi pada
strategi dan hasil, dapat dipahami, mendorong pengendalian diri (self-
control), berorientasi secara waktu dan eksepsi, bersifat positif, setara dan
objektif, fleksibel.
2.10 Tipe-Tipe Pengendalian
1. Tipe-tipe pengendalian (awal) preliminary, kadang-kadang disebut
kendali feedforward, hal ini harus dipenuhi sebelum suatu perkerjaan
dimulai. Kendali ini menyakinkan bahwa arah yang tepat telah disusun
dan sumber-sumber yang tepat tersedia untuk memenuhinya.
2. Tipe-tipe pengendalian (saat ini) concurrent berfokus pada apa yang
sedang terjadi selama proses. Kadang-kadang disebut kendali steering,
kendali ini memantau operasi dan aktivitas yang sedang berjalan untuk
menjamin sesuatunya telah sedang dikerjakan dengan tepat.
3. Tipe-tipe pengendalian (akhir) post-action; kadang-kadang disebut
kendali feedback , kendali ini mengambil tempat setelah suatu tindakan
dilengkapi. Kendali akhir berfokus pada hasil akhir, kebalikan dari input
dan aktivitas.
14
Manajer memiliki 2 pilihan luas dengan memperhatikan pengendalian.
Mereka dapat mengandalkan orang-orang untuk melatih pengendalian diri
(internal) atas tingkah lakunya sendiri. Alternatif lain, manajer dapat
mengambil tindakan langsung (external) untuk mengendalikan tingkah laku
orang lain.
1. Pengendalian internal memberikan individu yang termotivasi untuk
melatih pengendalian diri dalam memenuhi harapan pekerjaan. Potensi
untuk pengendalian diri dikembangkan ketika orang yang mampu
memiliki tujuan tampilan yang jelas dan dukungan sumber-sumber yang
tepat.
2. Pengendalian eksternal terjadi melalui supervisi personal dan
penggunaan sistem administrasi formal antara lain sistem penilaian
penampilan, sistem kompensasi dan keuntungan, sistem disiplin
kepegawaian, dan management-by-objectives (manajemen berdasar
tujuan).
2.11 Kompensasi Dan Keuntungan Dari Sistem Pengawasan Dan
Pengendalian Yang Baik
1. Akan menarik orang berbakat dan mempertahankannya di dalam
organisasi.
2. Memotivasi orang untuk menggunakan usaha maksimum dalam
pekerjaannya
3. Menyadarkan nilai dari kontribusi penampilannya.