ROSC
Pasien henti jantung jika sudah teraba nadi selama 10 menit dan tanda
sirkulasi bertahan atau berkelanjutan disebut dengan Return of
Spontaneous Circulation (ROSC).
Tanda terjadinya ROSC adalah adanya nadi karotis teraba dan tekanan
darah terukur. Pasien tidak bisa dikatakan terjadi ROSC jika tidak disertai
bukti sirkulasi terjadi dengan baik yaitu nadi teraba selama 10 menit
Faktor
1) Irama Jantung
Pasien yang memiliki irama shockable memiliki harapan hidup
lebih tinggi dari pada non shockable.
Pasien yang memiliki irama jantung shockable akan mudah terjadi
ROSC dibandingkan pasien yang memiliki irama jantung non
shockable
2) RJP Mekanik
Pasien yang diberikan RJP mekanik yang terjadi ROSC sebanyak
(100%) dan pasien yang tidak diberikan RJP mekanik yang terjadi
ROSC sebanyak 42,5%.
RJP mekanik yang digunakan di RSUD Dr Iskak Tulungagung
adalah autopulse.
NCBI menyimpulkan bahwa autopulse mampu meningkatkan
tekanan darah diastolik lebih besar dibandingkan melakukan
kompresi manual pada dada
Autopulse meningkatkan terjadinya ROSC lebih cepat 35%
dibandingkan dengan RJP manual
3) Pemasangan Advanced Airway
Pasien dengan kekurangan oksigen memerlukan pertolongan
segera
Penggunaan advanced airway sebaiknya dipasang pada saat
pasien terjadi henti jantung karena dapat meningkatkan
kehidupan pasien lebih tinggi saat membutuhkan oksigen
dibandingkan setelah terjadi ROSC.
4) Riwayat Penyakit Kronis
Penelitian yang dilakukan di India menyatakan bahwa jumlah
pasien yang paling banyak selamat dari henti jantung adalah
pasien yang mendapatkan pertolongan RJP sedini mungkin.
Selain itu tidak memiliki riwayat penyakit yang menyebabkan
risiko henti jantung
RESUSITASI
Resusitasi merupakan upaya yang dilakukan terhadap penderita atau
korban yang berada dalam keadaan gawat atau kritis untuk mencegah
terjadinya kematian
Gawat adalah keadaan yang berkenaan dengan suatu penyakit atau
kondisi lainnya yang mengancam jiwa, sedangkan darurat adalah
keadaan yang terjadi tiba-tiba dan tidak diperkirakan sebelumnya, suatu
kecelakaan, kebutuhan yang segera atau mendesak
Untuk mencapai keberhasilan resusitasi diperlukan kerjasama yang baik
dalam satu tim, mengingat banyaknya langkah yang harus dilaksanakan
dalam tindakan tersebut (bukan hanya skill, tapi komunikasi juga)
Resusitasi jantung paru (RJP) terdiri atas Bantuan Hidup Dasar (BHD)
dan Bantuan Hidup Lanjutan (BHL)
Bantuan hidup dasar adalah suatu tindakan resusitasi tanpa
menggunakan alat atau dengan alat yang terbatas seperti bag-mask
ventilation
Sedangkan pada bantuan hidup lanjut menggunakan alat dan obat
resusitasi sehingga penanganan lebih optimal.
Resusitasi Jantung Paru segera dan efektif berhubungan dengan
kembalinya sirkulasi spontan dan kesempurnaan pemulihan neurologi.
Beberapa penelitian menunjukkan angka survival dan keluaran
neurologi lebih baik bila RJP dilakukan sedini mungkin.
Saat jantung berhenti oksigenasi akan berhenti pula dan
menyebabkan gangguan otak yang tidak dapat diperbaiki walaupun
terjadi dalam beberapa menit.
Kematian dapat terjadi dalam 8 hingga 10 menit, sehingga waktu
merupakan hal yang sangat penting saat kita menolong korban yang
tidak sadar dan tidak bernapas
5W + 5T
Penyebab henti jantungterdiri dari 5H + 5T, yaitu
1) Hipovolemia
Hipovolemia adalah penyebab umum henti jantung yang
disebabkan oleh kehilangan cairan atau darah yang parah
Ini biasanya terjadi pada orang-orang yang mengalami keringat
berlebih, muntah, kehilangan darah karena trauma, luka bakar
parah, dan diare
Tanda : mukosa kering, kencing sedikit, mata cekung
Terapi : cairan IV/IO
2) Hipoksia
Hipoksia adalah suatu keadaan di mana jumlah oksigen yang
mensuplai organ dan jaringan vital berkurang
Dapat terjadi karena gangguan paru-paru, tenggelam, kebakaran,
ketinggian, keracunan bahan kimia dan gas, dll
Tanda : penurunan kesadaran, sianosis
Terapi : ventilasi / oksigen
3) Hipotermia
Hipotermia terjadi ketika tubuh tidak dapat menjaga dirinya tetap
hangat dan suhu inti turun di bawah 30 derajat Celcius.
Hipotermia dapat menyebabkan henti jantung karena curah
jantung menurun.
Hipotermia terjadi ketika seseorang terpapar pada cuaca dingin
atau suhu air yang ekstrem dan/atau berkepanjangan.
4) Hipokalemia/Hiperkalemia
Baik hipokalemia maupun hiperkalemia adalah kondisi di mana
kadar kalium terlalu tinggi atau rendah untuk mempertahankan
kontraksi normal miokardium.
Ketika kadar K+ ini turun, individu tersebut berisiko tinggi
mengalami serangan jantung.
Beberapa penyebab hipokalemia dan hiperkalemia termasuk
penggunaan diuretik, muntah berlebihan, DKA, dan penyakit atau
gagal ginjal.
Hiperkalemia dapat disebabkan oleh diabetes, penyakit ginjal atau
sebagai efek samping dari obat-obatan tertentu.
Tanda hiperkalemia : gelombang T meninggi, serum K, ginjal
pasien
5) Hidrogen Ion
Kelebihan Ion Hidrogen, atau Asidosis, adalah keadaan darurat
pernapasan atau metabolisme yang dapat menyebabkan
serangan jantung yang terjadi ketika tingkat pH tidak memadai
yang disebabkan oleh terlalu banyak asam dalam tubuh.
Beberapa penyebab asidosis antara lain penyakit paru-paru,
penumpukan C02, DKA/AKA, gagal hati, kanker, dll.
6) Temponade Jantung
Tamponade jantung adalah penumpukan darah atau cairan di
ruang perikardial, menyebabkan tekanan pada jantung,
mencegah ventrikel terisi dengan benar.
Penyebab tamponade termasuk trauma dada, perikarditis dan
ruptur miokard.
7) Tension Pneumotoraks
Tension pneumothorax berkembang ketika ada penumpukan
udara di rongga pleura, tetapi tidak ada tempat untuk udara
keluar.
Penumpukan udara menyebabkan pergeseran mediastinum dan
aliran balik vena ke jantung tersumbat dan dapat mengakibatkan
henti jantung.
Beberapa penyebab umum tension pneumotoraks adalah trauma
dada, iatrogenik, dan ventilasi mekanis.
Tanda-tanda termasuk suara pernapasan yang tidak sama, JVD,
masalah ventilasi dan deviasi trakea.
8) Trombosis Paru
Trombosis, atau emboli paru, biasanya berkembang setelah
bekuan darah di area lain dari tubuh, dan dapat menyebabkan
serangan jantung dalam beberapa kasus.
Emboli paru adalah penyumbatan arteri utama paru-paru, dan
disebabkan oleh pembekuan darah.
9) Trombosis Jantung
Trombosis koroner adalah penyumbatan di dalam arteri koroner
atau arteri karena bekuan darah di dalam pembuluh.
Hal ini mencegah darah mengalir dengan baik ke jantung, dan
dapat menyebabkan henti jantung tergantung pada intensitas dan
lokasi penyumbatan.
Trombosis koroner disebabkan oleh pembekuan darah dan infark
miokard.
10) Toksin
Tertelan racun adalah salah satu penyebab paling umum dari
serangan jantung, dan terjadi ketika seseorang baik sengaja atau
tidak sengaja overdosis pada beberapa jenis obat, obat jalanan
atau paparan bahan kimia.
Salah satu tanda henti jantung yang sering terlihat karena toksin
adalah interval QT yang memanjang.
TATALAKSANA SINDROM KORONER AKUT
NSTEMI
PCI adalah prosedur intervensi non bedah dengan menggunakan
kateter untuk melebarkan atau membuka pembuluh darah koroner
yang menyempit dengan balon atau stent
STEMI
PRINSIP KEGAWATDARURATAN
Kondisi gawat darurat dapat diklasifikasikan menjadi :
1) Gawat Darurat
Suatu kondisi dimana dapat mengancam nyawa apabila tidak
mendapatkan pertolongan secepatnya
Contoh : gawat nafas, gawat jantung, kejang, koma, trauma
kepala dengan penurunan kesadaran
2) Gawat Tidak Darurat
Suatu keadaan dimana pasien berada dalam kondisi gawat tetapi
tidak memerlukan tindakan yang darurat
Contoh : kanker stadium lanjut
3) Darurat Tidak Gawat
Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba tetapi tidak
mengancam nyawa atau badannya
Contoh : fraktur tulang tertutup
4) Tidak Gawat Tidak Darurat
Pasien poliklinik yang datang ke UGD
Prinsip (pembaharuan)
1) PPE : di era pandemi seperti ini untuk mencegah adanya penyakit
infeksius maka seorang penolong harus menggunakan APD untuk
menghindari penyakit infeksius
2) Rasionalisasi korban dan penolong
3) Minimalkan aerosol
4) Informasi medis tentang pasien
OBAT-OBATAN PADA SAAT RJP
1) Vasopressin dan Epinefrin
Ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa pemberian epinefrin
selama RJP direkomendasikan
Waktu pemberian :
Untuk ritme yang tidak dapat dikejutkan/non-shockable (PEA/
asistol) direkomendasikan pemberian epinefrin sesegera mungkin
selama CPR
Untuk ritme yang dapat dikejutkan/shockable (VF/pVT)
direkomendasikan pemberian epinefrin setelah upaya defibrilasi
awal tidak berhasil selama CPR
Efek Vasokontriksi epinefrin melalui α – adrenergik meningkatkan
tekanan diastol dan selanjutnya tekanan perfusi koroner, satu faktor
penentu penting keberhasilan resusitasi.
Berikan semua katekolamin melalui jalur yang aman, lebih disukai
melalui sirkulasi sentral; iskemik lokal, tauma jaringan, dan ulserasi
dapat terjadi akibat infiltrasi ke jaringan.
Jangan mencampur katekolamin dengan natrium bikarbonat; larutan
alkalin dapat menyebabkan inaktivasi katekolamin.
Epinefrin dapat menyebabkan takikardi, ektopi ventrikuler, takiaritmia,
hipertensi dan vasokontriksi
Terdapat bukti yang tidak cukup untuk membuat rekomendasi
penggunaan vasopressin secara rutin selama henti jantung
Penelitian lain juga menyebutkan bahwa vasopressin tidak
direkomendasikan sebagai pengganti atau diberikan bersama
epinefrin
2) Antiaritmia
Amiodarone
Amiodaron memperlambat konduksi AV, memperpanjang periode
refrakter AV dan interval QT, dan memperlambat konduksi
ventrikular (melebarkan QRS).
Monitor tekanan darah dan berikan secara pelan-pelan untuk
penderita dengan denyut nadi tetapi mungkin saja diberikan cepat
kepada penderita dengan henti jantung atau ventricular fibrillasi
Monitor EKG karena komplikasi dapat meliputi bradikardi, blok
hati jantung, dan torsades de pointes.
Lidocain
Lidokain mengurangi dan mensupresi aritmia ventrikel tetapi tidak
seefektif amiodaron untuk memperbaiki hasil intermediate
(seperti, kembalinya sirkulasi spontan atau bertahan sampai
masuk rumah sakit)
Toksisitas lidokain termasuk depresi miokard dan sirkulasi,
mengantuk, disorientasi, kontraksi otot, dan kejang terutama
penderita dengan cardiac output yang buruk dan gagal hati atau
gagal ginjal
3) IV Line vs Oral
Menyarankan akses IV dibandingkan dengan akses IO sebagai upaya
pertama untuk pemberian obat selama serangan jantung dewasa
Jika upaya akses IV tidak berhasil atau akses IV tidak
Memungkinkan, kami menyarankan akses IO sebagai rute pemberian
obat selama serangan jantung dewasa (rekomendasi lemah, bukti
dengan kepastian sangat
DEFIBRILASI
Defibrilasi adalah tindakan pemberian kejut listrik pada jantung untuk
mengembalikan irama atau denyut jantung yang tidak normal akibat
aritmia.
Alat kejut listrik (defibrilator) yang digunakan akan kembali mengaktifkan
jantung sehingga organ ini dapat kembali optimal dalam memompa darah
ke seluruh tubuh
Cara kerja :
Jantung merupakan organ yang terdiri dari empat ruang dan tersusun
atas otot-otot yang bekerja seperti pompa.
Untuk berfungsi sebagaimana mestinya, otot jantung perlu sumber
energi dari aliran listrik yang menyuplai keempat ruang jantung.
Aliran listrik inilah yang akan menghasilkan denyut jantung.
Gangguan pada aliran listrik dapat menyebabkan denyut dan irama
jantung menjadi tidak normal.
Defibrilasi akan mengirimkan aliran listrik yang menyebabkan sel
jantung berkontraksi pada satu waktu sehingga jantung dapat kembali
memulai irama yang normal.
Kontraindikasi
Defibrilasi tidak boleh dilakukan pada pasien yang masih memiliki
denyut nadi.
Pasalnya, hal ini akan memicu aritmia yang mengancam jiwa atau
henti [Link] aritmia yang menjadi kontraindikasi defibrilasi
meliputi asistol dan pulseless electrical activity (PEA).
Defibrilasi harus diberikan sedini mungkin karena angka keberhasilan
akan menurun sampai 7-10% tiap menitnya
ANGINA PRINZMETAL
Prinzmetal's angina merupakan jenis angina yang cukup jarang terjadi.
Angina jenis ini biasanya muncul saat istirahat, pada malam hari, ataupun
di pagi hari.
Intensitas nyerinya cukup berat namun biasanya bisa mereda dengan
pemberian obat-obatan.
Etiologi
Disebabkan oleh spasme arteri koroner
Ada penurunan suplai darah ke miokardium yang menghasilkan
gejala seperti nyeri dada.
Arteri koroner dapat mengalami spasme akibat paparan cuaca dingin,
olahraga, atau zat yang memicu vasokonstriksi sebagai agonis alfa
(pseudoefedrin dan oksimetazolin).
Penggunaan obat rekreasional, misalnya, penggunaan kokain,
dikaitkan dengan perkembangan angina vasospastik, terutama bila
digunakan bersamaan dengan merokok
Patofisiologi
Mekanisme yang mendasari terjadinya spasme arteri koroner adalah
multifaktorial.
Salah satu mekanisme yang mungkin menimbulkan spasme adalah
peningkatan reaktivitas pembuluh darah terhadap rangsangan
vasokonstriksi dan selanjutnya stenosis derajat tinggi di segmen
koroner atau difus, menciptakan aliran koroner yang rendah dan
dengan cedera miokard ini karena iskemia.
Etiologi hiperreaktivitas pembuluh koroner tidak jelas tetapi dapat
berhubungan dengan disfungsi endotel dan sel otot polos primer
pembuluh koroner yang mungkin telah mengganggu mekanisme
regulasi untuk vasokonstriksi dan vasodilatasi.
Keseimbangan dalam nada simpatik dan parasimpatis juga
merupakan faktor penting yang mengatur aliran di koroner →
ketidakseimbangan dalam sistem ini dapat mempengaruhi
vasokonstriksi berlebihan dalam keadaan normal dan selama paparan
asetilkolin dan metakolin.