0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
152 tayangan15 halaman

Problema Tiga Titik dan Singkapan Geologi

Praktikum ini membahas problema tiga titik dan pola penyebaran singkapan. Problema tiga titik digunakan untuk menentukan kedudukan bidang dari tiga titik dengan ketinggian yang berbeda. Pola penyebaran singkapan dapat diperkirakan berdasarkan hubungan antara kedudukan lapisan batuan dengan kontur topografi sesuai hukum "V".

Diunggah oleh

nira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
152 tayangan15 halaman

Problema Tiga Titik dan Singkapan Geologi

Praktikum ini membahas problema tiga titik dan pola penyebaran singkapan. Problema tiga titik digunakan untuk menentukan kedudukan bidang dari tiga titik dengan ketinggian yang berbeda. Pola penyebaran singkapan dapat diperkirakan berdasarkan hubungan antara kedudukan lapisan batuan dengan kontur topografi sesuai hukum "V".

Diunggah oleh

nira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MATA ACARA V

PROBLEMA TIGA TITIK DAN


POLA PENYEBARAN
SINGKAPAN

” Ilmu adalah yang memberikan manfaat, bukan yang sekedar hanya dihafal”
(Imam Syafi’i)

I. Maksud dan Tujuan


1.1 Maksud
Adapun maksud dari praktikum ini dapat memahami problema tiga
titik dan pola penyebaran batuan di lapangan nantinya agar mengetahui
kedudukan dari suatu bidang perlapisan.
1.2 Tujuan
1. Praktikan dapat memahami definisi Problema Tiga Titik (Three-point
Problem) dan Pola Penyebaran Singkapan.
2. Praktikan dapat menentukan kedudukan bidang dari tiga titik yang
diketahui posisi dan ketinggiannya yang terletak pada bidang rata yang
sama.
3. Menentukan penyebaran dari singkapan yang telah diketahui
kedudukannya dari satu titik.
II. ALAT DAN BAHAN
2.1. Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu sebagai berikut :
1. Drawing Pen
2. Penggaris 30 cm
o
3. Busur 360
4. Papan Standar
5. Kalkulator
2.2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu sebagai berikut :
1. Kertas grafik A3 10 lembar
2. Buku Penuntun
I. TEORI PENGANTAR

3.1 Problema Tiga Titik

Probema tiga titik merupakan salah satu cara memetakan suatu singkapan
menjadi sebaran berdasarkan kedudukan yang terbentuk pada daerah kontur
yang searah bidang lapisan atau mengikuti kontur searah dengan dipnya.
Kegiatan ini seperti memetakan suatu singkapan-singkapan yang terbentuk
hingga menjadi suatu model yang dapat diambil dan dihitung dengan baik
karena sudah mebentuk ruang. Kegiatan ini seperti memetakan suatu
singkapan-singkaan yang terbentuk hingga menjadi suat model yang dapat
diambil dan dihitung dengan baik karena sudah mebentuk ruang. (Habibi,
2016)
Seringkali singkapan yang ada di daerah tropis dengan curah hujan yang
tinggi tertutupi soil yang tebal dan vegetasi yang lebat sehingga sangat sulit
untuk mendapatkan singkapan yang segar. Namun dari minimal tiga singkapan
perlapisan batuan yang berbeda lokasi dan ketinggian dapat dicari kedudukan
perlapisan batuan sesungguhnya. Metode ini dikenal dengan metode problema
tiga titik. Selain dari data singkapan, metode ini juga dapat digunakan untuk
mencari kedudukan lapisan batuan dengan menggunakan data lubang bor.
Kedudukan suatu singkapan umumnya terdapat di bawah permukaan
bumi. Sehingga untuk mengetahui kedudukan dari suatu singkapan tersebut
dapat dilakukan dengan menggunakan metoda pengukuran tiga titik.

Gambar 2.1 Air Tanah Sebagai Aplikasi Metoda Tiga Titik


Pada prinsipnya sebuah bidang dapat digambarkan dari sebuah titik dan
sebuah garis, atau tiga buah titik. Dalam pengertian geologi titik ini dapat berupa
singkapan, sehingga kedudukan batuan dan penyebarannya pada peta dapat
diketahui. Syarat pengukuran problema tiga titik adalah sebagai berikut:
a. Memiliki penampang horizontal dan penampang vertikal
b. Memiliki selisih ketinggian jurus
c. Diketahuinya dip

Gambar 2.2 Contoh penggambaran Pengukuran Tiga Titik (Lestari, 2017)

Contoh :
Diketahui suatu lapisan batupasir yang kaya akan bijih tembaga
tersingkap pada tiga titik pengamatan. Pada lokasi B yang berjarak 450 m dari
titik A dengan arah N 2000 E, dan titik C berjarak 400 m dengan arah N 1500 E
dari titik A. Tentukan arah jurus dan kemiringan lapisan batupasir tersebut.
Ketinggian titik A = 175 meter, B = 50 meter , C = 100 meter. Skala 1:10.000.

Penyelesaian :

a. Tentukan letak ketiga titik A, B dan C yang sudah


[Link] dengan arah dan jarak lapangan.
b. Hubungkan Titik A, B, dan C hingga membetutkuk segitiga
∆ABC dengan titik ketinggian tertentu.
c. Tinjau garis A-B (A ke B), Tinjau garis A-C (A ke C), dan Tinjau
Garis B-C (B ke C).
d. Buatlah titik dan garis kontur struktur pada segitiga A, B, C dengan
rumus dasar sebagai berikut :
1= 1 x Total
total

2= 2 x Total
Bttotal

3= Total x
Bttotal

Di mana :
BT (i)= Beda Tinggi (m)
D (i) = Jarak penggambaran (cm)
IK = Interval Kontur (m)
e. Hubungkan titik kontur yang memiliki ketinggian yang sama hingga
membentuk kontur struktur.
f. Garis kontur struktur inilah merupakan representative dari strike dari
suatu bidang perlapisan.
g. Buatlah garis dip direction (OZ) di salah satu titik kontur.
h. Jadikan titik O sebagai acuan untuk mengambarkan garis OD’ di mana
besar sudut antara OD dan OD’ adalah besar sudut dip.

Dalam menyelesaikan problema tiga titik ini terdapat dua cara yaitu :
1. Cara proyeksi
2. Cara grafis

Diketahui suatu lapisan batupasir yang kaya dengan bijih tembaga


tersingkap di tiga titik pengamatan. Pada lokasi B yang berjarak 450 m dari
titik A dengan arah N 200o E dan titik C berjarak 400 m dengan arah N 150o E
dari titik A. Tentukan strike dan kemiringan lapisan batupasir tersebut.
Ketinggian titik A 175 meter, B 50 meter,dan C 100 meter. Skala 1 : 10.000
Penyelesaian :
1. Tentukan letak ketiga titik A, B, dan C yang sudah diketahui.
2. Buat garis k yang berarah timur – barat (0 meter). Proyeksikan titik A,
B, dan C pada k sehingga diperoleh A’, B’, dan C’.
3. Dengan menggunakan garis k sebagai garis rebahan, tentukan titik A”,
B”, dan C” dengan jarak dan ketinggian yang sesuai dengan skala.
4. Buat garis l sejajar k melalui titik C” (titik yang berada di dua
ketinggian) hingga memotong A”B” di titik D”, kemudian proyeksikan
balik titik D” ini ke garis AB sehingga didapat D.
5. Hubungkan titik D dan C sebagai garis DC yang merupakan strike
perlapisan.
6. Buat garis tegak lurus DC sebagai garis m dengan ketinggian 175 meter
(titik tertinggi).
7. Pada garis DC buat titik C” dengan jarak yang sama dengan ketinggian
A (titik tertinggi) dikurangi ketinggian B (titik menengah).
8. Hubungkan titik C”’ dan B”’ hingga berpotongan di garis m di A”’.
9. Sudut yang dibentuk antara garis tersebut dengan garis m merupakan
sudut kemiringan lapisan batuan sedangkan arah dari dari strike
diketahui dari memperhatikan ketinggian relatifnya.

10. Maka kedudukan lapisan batuan N 70o E/20o


2.1.2 Cara Grafis
Contoh sama dengan pada cara proyeksi.
Penyelesaian :
1. Plot lokasi ketiga titik
2. Tentukan D dengan menggunakan rumus perbandingan jarak :
Ketinggian A – Ketinggian B Jarak AB
=
Ketinggian C – Ketinggian B Jarak BD
3. Titik D mempunyai ketinggian yang sama dengan C. Garis yang
menghubungkan kedua titik tersebut adalah strike perlapisan.
4. Buat garis tegak lurus DC sebagai garis m dengan ketinggian 175
meter (ketinggian tertinggi).
5. Pada garis DC buat titik C’ dengan jarak dari garis m sebesar selisih
ketinggian A (titik tertinggi) dan B (titik menengah).
6. Buat garis sejajar DC (strike) melalui A dan berpotongan dengan
garis m di titik A’.
7. Hubungkan titik A’ dan C’ sebagai garis A’C’. Sudut yang dibentuk
oleh garis A’C’ dengan garis m merupakan kemiringan lapisan
batuan.

8. Kedudukan lapisan N 70o E/20o

3.2 Pola Penyebaran Singkapan


Geomorfologi sangat terkait dalam mempelajari geologi struktur.
Bentukan – bentukan morfologi yang merupakan hasil gaya yang bekerja baik
itu berasal dari dalam maupun dari luar bumi. Permukaan bumi merupakan
salah satu bagian yang harus dipelajari dalam penguasaan ilmu geologi, karena
ekspresi topografi terkadang dapat menunjukkan keadaan geologi baik struktur
maupun geologinya. (Lestari, Problema Tiga Titik, 2017)
Penyebaran singkapan batuan dapat diperkirakan dari hubungan antara
kedudukan lapisan batuan tersebut dengan kontur topografinya. Aturan –
aturan yang mengatur mengenai hubungan tersebut disebut dengan Hukum
”V”. Beberapa hal yang dapat digunakan
sebagai dasar dalam menentukan penyebaran suatu singkapan batuan :
1. Lapisan yang memiliki kedudukan horisontal akan mempunyai kontak
yang konstan terhadap ketinggian. Kontak akan tepat dengan atau paralel
terhadap kontur topografi
2. Tetapi ketika lapisan memiliki kedudukan vertikal, kontak akan
memotong topografi secara tegas dan lurus tanpa mengikuti kontur topografi
3. Lapisan dengan kemiringan yang kecil akan membentuk kontak batuan
yang agak mengikuti kontur topografi, sedangkan lapisan dengan

kemiringan yang besar akan kurang mengikuti kontur topografi.

Gambar 2.5 Pola Penyebaran Singkapan.


Dibawah ini akan digambarkan suatu seri peta yang memperlihatkan
perpotongan kontak batuan dengan topografi. Kontur struktur dan kontur
topografi memiliki interval 100 meter. Kontak digambarkan dengan warna
hijau dan batuan yang ada dibawah kontak berwarna kuning. Diketahui jurus
lapisan 45o dan berada pada ketinggian 700 meter.
a) Kemiringan lapisan berlawanan dengan slope topografi
Pada peta – peta dibawah ini, slope topografi ke arah tenggara sedangkan
kemiringan lapisan ke arah barat laut.
Gambar 2.6 Peta Penyebaran Singkapan Yang Dibentuk Dari Perpotongan
Kontur Topografi (Coklat) Dengan Kontur Struktur (Merah)
(1) Horisontal. (2) Dip 9o NW. (3)Dip 17o NW. (4) Dip 32o NW

Gambar 2.7 Peta Penyebaran Singkapan Yang Dibentuk Dari Perpotongan


Kontur Topografi (Coklat) Dengan Kontur Struktur (Merah)
(1) Dip 52o NW. (2) Dip 68o NW. (3)Dip 79o NW. (4) Vertikal

Catatan : Kontak akan membentuk huruf V apabila kontak memotong


pegunungan atau lembah. Kontak yang membentuk huruf V akan mengarah ke
downdip dimana kontak itu memotong lembah (Gambar 2.6 a,b,c)
b) Kemiringan lapisan searah dengan slope topografi
Pada peta – peta dibawah ini akan digambarkan suatu kontak dengan
slope topografi yang berarah tenggara. Interval konur struktur yang berkurang
setengah dari satu peta ke peta berikutnya.

Gambar 2.7 Peta Penyebaran Singkapan Yang Dibentuk Dari


Perpotongan Kontur Topografi (Coklat) Dengan Kontur Struktur (Merah)
(1)Horisontal. (2) Dip 9o NE. (3)Dip 17o NE. (4) Dip 32o NE

Pada peta 2 kontak kemiringan berada pada down-valley, tetapi kontak


membentuk V mengarah ke upvalley. Kemudian pada peta 3, bentuk V
membalik dan mengarah ke downvalley.
Pada peta 2 kemiringan lapisan mendekati sama dengan slope dari dasar
lembah, sehingga kontaknya mengarah ke upvalley. Jika slope tepat sama
dengan kemiringan lapisan, maka kontak akan berada di sepanjang dinding
lembah dengan ketinggian yang konstan diatas dasar lembah.
Pada peta 1, kontak juga membentuk V yang mengarah ke upvalley, dimana
hal ini merupakan ciri dari kontur topografi. Hukum V pada kontak yang miring
dapat digunakan pada kemiringan yang relatif ke lembah atau pegunungan yang
dipotong. Sangat jarang ditemukan dasar lembah atau puncak bukit yang memiliki
slope sangat curam, sehingga kebanyakan kontak pada peta geologi membentuk V
yang mengarah ke downdip seperti halnya lembah. Pada peta 3 bidang lapisan
lebih terjal daripada topografinya, sehingga bentuk V mengarah ke downvalley.
Sebagai catatan bahwa antara peta 2 dan 3, daerah kuning secara jelas
membalik dari SW to NE. Alasannya bahwa slope topografi regional berada
diantara 9o – 17o SW. Pada peta 2, bidang lapisan memiliki kemiringan
yang lebih landai dibandingkan topografi tetapi pada peta 3, bidang lapisan
lebih terjal daripada topografi.

Gambar 2.8 Peta Penyebaran Singkapan Yang Dibentuk Dari Perpotongan


Kontur Topografi (Coklat) Dengan Kontur Struktur (Merah)
(1) Dip 52o NW. (2) Dip 68o NW. (3)Dip 79o NW. (4) Vertikal

Gambar 2.9 Pola penyebaran singkapan batuan berdasarkan topografi


dankemiringan lapisan batuan (hukum V) (Ragan, 1973). (a) lapisan horisontal,
(b) lapisan miring ke arah hulu lembah, (c) lapisan tegak,(d) lapisan miring
ke arah hilir lembah, (e) lapisan dan lembah memiliki kemiringan yang sama,
(f) lapisan miring ke arah hilir lembah dengan sudut yang lebih kecil
daripada kemiringan lembah (kemiringan lapisan < kemiringan lembah).

Untuk membuat pola penyebaran singkapan, dilakukan kombinasi antara


data kedudukan lapisan batuan dan data topografi untuk dapat mengetahui
penyebaran singkapan batuan tersebut. Pola penyebaran singkapan tergantung
pada :
1. Tebal lapisan
2. Topografi
3. Besar kemiringan lapisan batuan
4. Bentuk struktur lipatan
Sedangkan topografi dikontrol oleh batuan penyusun, struktur geologi,
dan proses geomorfik.
Bila setiap singkapan batuan yang sama dihubungkan satu sama lain dan
batas satuan batuan tersebut digambarkan pada peta topografi, maka akan
tampak suatu pola penyebaran singkapan. Hubungan antara kedudukan lapisan,
penyebaran singkapan, dan topografi dirumuskan ke dalam suatu aturan
tertentu yang disebut dengan Hukum V
Pola penyebaran singkapan dapat digambarkan pada peta topografi
apabila sebagai berikut:
1. Letak titik singkapan pada peta topografi diketahui
2. Strike dan kemiringan lapisan batuan diketahui
3. Terdapat garis ketinggian pada peta topografi
4. Singkapan batuan yang akan dibuat polanya belum terganggu
oleh struktur.
Contoh :
Di lokasi X tersingkap batas batulempung dengan batugamping dengan
kedudukan N300E/200. Batugamping di atas batulempung. Peta topografi
dan posisi X diketahui.

Penyelesaian:
1. Buat garis SS’ yang sejajar dengan jurus lapisan batuan yang melewati X.
2. Buat garis tegak lurus SS’ di mana sebagai garis AA’ dan berpotongan
di C (ketinggian 800 meter).
3. Buat garis melalui C dan menyudut terhadap garis AA’ dengan
sudut sebesar kemiringannya (dip = 200), buat garis BB’.
4. Pada garis SS’ buat sekala sesuai dengan ketinggian mulai dari titik C,
ke arah luar semakin kecil, sesuai dengan sekala peta.
5. Buat garis melalui titik-titik ketinggian tersebut sejajar dengan garis
AA’ dan berpotongan dengan garis BB’ pada titik-titik tertentu.
6. Dari titik tersebut buat garis sejajar jurus lapisan hingga berpotorigan
dengan garis kontur.
7. Buat titik perpotongan garis tersebut dengan kontur yang mempunyai
ketinggian yang sama sebagai titik sama tinggi.
8. Hubungkan titik-titik tersebut dari masing-masing ketinggian
membentuk pola penyebaran singkapan.

Gambar 2.10. Mencari pola singkapan (Billings, 1977). Diketahui


kedudukan lapisan batuan di X adalah N900E/200. Pola
sebaran singkapan yang diharapkan (tanpa adanya gangguan
struktur) akan diperlihatkan oleh garis tebal yang melewati
garis-garis kontur. (Mariana)
3.1. Problema Tiga Titik

Pertama-tama tentukan satu titik untuk menempatkan titik A, setelah itu tentukan arah untuk titik B
dan C lalu Tarik garis titik A-B dengan panjang yang sudah di ubah dari meter ke centimeter, begitupula
untuk garis A-C. Kemudian tarik garis B-C lalu tuliskan panjang masing-masing titik, setelah itu tentukan
titik ketinggian dari titik A, B dan C. Setelah itu hitunglah data yang akan menentukan titik atau jarak untuk
menarik garis kontur dari A-B, A-C dan B-C, setelah mendapatkan hasil dari data yang di hitung lalu tarik
garis kontur menggunakan mistar. Kemudian tentukan garis dip direction dari garis strike yang ada pada
kontur, lalu masukkan angka dengan interval 0,2 pada setiap garis kontur yang terkena garis dip direction,
lalu ukur dari garis pertama kontur yang terkena garis dip direction ke arah bawah sepanjang 0,2 untuk
menentukan garis dipnya, setelah itu tarik garis dip dan masukkan angka pada setiap kontur yang terkena
garis dip dengan interval 0,2. Kemudian tentukan arah dari dip direction dan derajat dari garis dip direction
ke garis dip.

3.2. Pola Penyebaran Batuan

Pertama-tama hitunglah skala yang di gunakan untuk menentukan jarak setiap titik singkapan,
kemudian setelah di dapatkan hasilnya buatlah garis dip dari titik yang telah di tentukan. Setelah itu
masukkan titik dari garis horizontal yang di tarik dari titik yang di tentukan dengan interval yang telah
dihitung dari skala. Kemudian tarik garis dari titik yang ada pada garis horizontal ke garis dip dengan
menggunakan mistar, lalu tarik garis putus-putus dari pertemuan garis titik-titik horizontal ke garis dip ke
arah garis kontur yang ada pada gambar. Lalu titik setiap garis putus-putus yang terkena garis kontur
dengan jarak yang sama yang ada pada titik di garis horizontal dengan jarak yang ada pada garis kontur.
DAFTAR PUSTAKA

Bianconeri, D., & Habibi, D. D. (2016). LAPORAN PROBLEMA TIGA TITIK. 5.


Habibi, D. D. (2016). LAPORAN PROBLEMA TIGA TITIK. 5.
Lestari, D. C. (2017). Problema Tiga Titik. 1-2.
Lestari, D. C. (2017). Problema Tiga Titik. 2.
Lestari, D. C. (2017). Problema Tiga Titik. 2.
Mariana, F. (n.d.). BAB VII PROBLEMA TIGA TITIK DAN POLA PENYEBARAN SINGKAPAN VII.1.
Problema Tiga Titik. 3-11.

Anda mungkin juga menyukai