100% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
3K tayangan32 halaman

Asuhan Keperawatan RHD pada Anak

Makalah ini membahas tentang penyakit jantung reumatik pada anak, yang merupakan komplikasi berbahaya dari demam reumatik yang disebabkan oleh infeksi streptokokus. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada katup jantung dan memiliki beberapa stadium perkembangannya."

Diunggah oleh

Dwi Febriyanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
3K tayangan32 halaman

Asuhan Keperawatan RHD pada Anak

Makalah ini membahas tentang penyakit jantung reumatik pada anak, yang merupakan komplikasi berbahaya dari demam reumatik yang disebabkan oleh infeksi streptokokus. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada katup jantung dan memiliki beberapa stadium perkembangannya."

Diunggah oleh

Dwi Febriyanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PERADANGAN SISTEM CARDIOVASCULAR : RHEUMATIC HEART


DISEASE (RHD) PADA ANAK
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak II
Dengan Dosen Pengampu: Ns. Rahmawati Maulidia., [Link]

Disusun oleh :

Kelompok 3

1. Dwi Febriyanti (1914314201040)


2. Khunatul Iqfiyah (1914314201049)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARANI MALANG


PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
2021/2022

1
KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum [Link]


Alhamdulillah Puji syukur atas Kehadirat Allah SWT atas limpahan RahmatNya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Makalah ini
kami susun berdasarkan tugas yang diberikan oleh Dosen mata kuliah
Keperawatan Anak II. Makalah ini kami beri judul “Peradangan Sistem
Cardiovascular : Rheumatic Heart Disease (RHD) pada Anak”
Kami menyadari bahwa di dalam penyusunan makalah ini tidaklah
sempurna, oleh karena itu apabila terdapat kesalahan-kesalahan di dalamnya
dengan senang hati kami menerima koreksi dan kritik yang membangun, serta
akan kami perbaiki demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua
khususnya dalam bidang kesehatan terutama keperawatan.

Malang, 12 September 2021

Kelompok 3

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................2
DAFTAR ISI...................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................4
1.1 Latar Belakang............................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................4
1.3 Tujuan Penulisan........................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................6
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN..........................................................15
BAB IV PEMBAHASAN...............................................................................28
BAB V PENUTUP..........................................................................................31
5.1 Kesimpulan.................................................................................................31
5.2 Saran...........................................................................................................31
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................32

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Penyakit jantung reumatik (PJR) adalah salah satu komplikasi yang
membahayakan dari demam reumatik. Penyakit jantung reumatik adalah
sebuah kondisi dimana terjadi kerusakan permanen dari katup-katup jantung
yang disebabkan oleh demam reumatik. Katup-katup jantung tersebut rusak
karena proses perjalanan penyakit yang dimulai dengan infeksi tenggorokan
yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus β hemoliticus tipe A (contoh:
Streptococcus pyogenes), bakteri yang bisa menyebabkan demam reumatik.
Dengan penyakit jantung reumatik yang kronik, pada pasien bisa terjadi
stenosis katup (gangguan katup), pembesaran atrium (ruang jantung), aritmia
(gangguan irama jantung) dan gangguan fungsi ventrikel (ruang jantung).
Penyakit jantug reumatik masih menjadi penyebab stenosis katup mitral dan
penggantian katup pada orang dewasa di Amerika Serikat.
RHD (Rheumatic Heart Desease) terdapat diseluruh dunia. Lebih dari
100.000 kasus baru demam rematik didiagnosa setiap tahunnya, khususnya
pada kelompok anak usia 6-15 tahun. Cenderung terjangkit pada daerah
dengan udara dingin, lembab, lingkungan yang kondisi kebersihan dan gizinya
kurang memadai. Sementara dinegara maju insiden penyakit ini mulai
menurun karena tingkat perekonomian lebih baik dan upaya pencegahan
penyakit lebih sempurna. Dari data 8 rumah sakit di Indonesia tahun 1983-
1985 menunjukan kasus RHD rata-rata 3,44 ℅ dari seluruh jumlah penderita
yang dirawat.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apakah penyakit jantung rematik itu?
2. Bagaimana etiologi penyakit jantung rematik?
3. Apa saja klasifikasi dari penyakit jantung rematik?
4. Bagaimana patofisiologi penyakit jantung rematik?
5. Apa saja manifestasi klinis pada penyakit jantung rematik?

4
6. Penatalaksanaan apa yang diperlukan pada penyakit jantung rematik?
7. Pemeriksaan diagnostik apa yang di perlukan pada penyakit jantung
rematik ?
8. Bagaimana penerapan asuhan keperawatan jantung rematik ?
1.3
1.4 TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui apa itu penyakit jantung rematik
2. Untuk mengetahu bagaimana etiologi dari jantung rematik
3. Untuk mengetahui klasifikasi jantung rematik
4. Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi jantung rematik
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis yang timbul pada jantung rematik
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan yang dilakukan pada jantung rematik
7. Untuk mengetahui pemeriksaaan diagnostik yang dilakukan pada jantung
rematik
8. Untuk mengetahui bagaimana penerapan asuhan keperawatan jantung
rematik

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Rheumatic Heart Disease (RHD)


Penyakit Jantung Rematik (PJR) atau dalam bahasa medisnya Rheumatic
Heart Disease (RHD) adalah suatu proses peradangan yang mengenai
jaringan-jaringan penyokong tubuh, terutama persendian, jantung dan
pembuluh darah oleh organisme streptococcus hemolitic-b grup A.

Penyakit jantung reumatik adalah penyakit peradangan sistemik akut atau


kronik yang merupakan suatu reaksi autoimun oleh infeksi Beta
Streptococcus Hemolyticus Grup A yang mekanisme perjalanannya belum
diketahui, dengan satu atau lebih gejala mayor yaitu Poliarthritis migrans
akut, Karditis, Korea minor, Nodul subkutan dan Eritema marginatum.

2.2 Etiologi Rheumatic Heart Disease (RHD)


Disebabkan oleh karditis rheumatic akut dan fibrosis dan beberapa faktor
predisposisi lainnya, menurut LAB/UPF ilmu kesehatan Anak, seperti :
1. Faktor Genetik
Banyak penyakit jantung rheumatic yang terjadi pada satu keluarga
maupun anak-anak kembar, meskipun pengetahuan tentang faktor
genetik pada penyakit jantung rheumatic ini tidak lengkap, namun pada
umumnya disetujui bahwa ada faktor keturunan pada penyakit jantung
rheumatic, sedangkan cara penularannya belum dapat dipastikan.
2. Jenis Kelamin
Dahulu sering dinyatakan bahwa lebih sering didapatkan pada anak
wanita dibandingkan anak laki-laki, tetapi data yang lebih besar

6
menunjukkan tidak ada perbedaan jenis kelamin. Kelainan kutub
sebagai gejala sisa penyakit jantung rheumatic menunjukkan perbedaan
jenis kelamin. Pada orang dewasa gejala sisa berupa stenosis mitral
sering didapatkan wanita. Sedangkan insufisiensi aorta lebih sering
ditemukan pada laki-laki.
3. Golongan etnik dan ras
Di Negara-negara barat umunya stenosis mitral terjadi bertahun-tahun
setelah penyakit jantung rheumatic akut, tetapi di India menunjukkan
bahwa stenosis mitral organic yang berat sering terjadi dalam waktu
yang singkat, hanya 6 bulan – 3 tahun.
4. Umur
Umur agakna merupakan faktor predisposisi terpenting pada timbulnya
penyakit jantung rheumatic, penyakit ini paling sering mengenai anak
berumur 5-18 tahun dengan puncak sekitar umur 8 tahun, tidak biasa
ditemukan pada anak antara umur 3-5 tahun dan sangat jarang sebelum
anak berumur 3 tahun atau setelah 20 tahun.

2.3 Klasifikasi Rheumatic Heart Disease (RHD)


Perjalanan klinis penyakit demam reumatik/penyakit jantun reumatik
dapat dibagi dalam 4 stadium menurut Ngastiyah, 1995:99 adalah:
1.    Stadium I
Berupa infeksi saluran nafas atas oleh kuman Beta Streptococcus
Hemolyticus Grup A. Keluhan : Demam, Batuk, Rasa sakit waktu menelan,
Muntah, Diare, Peradangan pada tonsil yang disertai eksudat
2.    Stadium II
Stadium ini disebut juga periode laten,ialah masa antara infeksi
streptococcus dengan permulaan gejala demam reumatik; biasanya periode ini
berlangsung 1-3 minggu,kecuali korea yang dapat timbul 6 minggu atau
bahkan berbulan-bulan kemudian.
3.    Stadium III
Yang dimaksud dengan stadium III ini ialah fase akut demam
reumatik, saat ini timbulnya berbagai manifestasi klinis demam reumatik

7
/penyakit jantung [Link] klinis tersebut dapat digolongkan
dalam gejala peradangan umum dan menifesrasi spesifik demam reumatik
/penyakit jantung reumatik.
Gejala peradangan umum : Demam yang tinggi, lesu, Anoreksia,
Lekas tersinggung, Berat badan menurun, Kelihatan pucat, Epistaksis,
Athralgia, Rasa sakit disekitar sendi, Sakit perut
4.    Stadium IV
Disebut juga stadium inaktif. Pada stadium ini penderita demam
reumatik tanpa kelainan jantung / penderita penyakit jantung reumatik tanpa
gejala sisa katup tidak menunjukkan gejala apa-apa.
Pada penderita penyakit jantung reumatik dengan gejala sisa kelainan
katup jantung, gejala yang timbul sesuai dengan jenis serta beratnya
[Link] fase ini baik penderita demam reumatik maupun penyakit
jantung reumatik sewaktu-waktu dapat mengalami reaktivasi penyakitnya.

2.4 Patofisiologi Rheumatic Heart Disease (RHD)


Patofisiologi penyakit jantung rematik terjadi sebagai komplikasi dari
infeksi faring oleh Streptococcus grup A yang kemudian menimbulkan reaksi
inflamasi dan reaktivitas silang antara protein bakteri dan jaringan jantung yang
bermanifestasi sebagai demam rematik akut.
Demam rematik akut merupakan reaksi hipersensitivitas tipe 2 dimana
terjadi reaksi imun yang dimediasi oleh interaksi antigen antibodi. Terdapat
kemiripan molekuler antara protein M dari Streptococcus dengan protein alfa
helix jantung, seperti miosin tropomiosin, keratin, laminin, vimentin dan endotel
katup, sehingga sistem imun mengenali mimikri molekuler tersebut sebagai
autoantigen. Kemudian terjadi reaksi silang autoimun, baik secara humoral
maupun dimediasi oleh sel. Sebagai hasilnya, auto antibodi monoklonal penderita
demam rematik akut akan bereaksi tidak hanya terhadap Streptococcus, tetapi juga
terhadap myosin pada miokardium dan endothelium katup jantung. Reaksi
peradangan pada endotelium yang mengelilingi katup menyebabkan sel T masuk
ke dalam katup sehingga menghasilkan jaringan parut. Inflamasi sitokin, seperti

8
TNF-alpha, IFN-gamma, IL-10, IL-4 juga bertanggung jawab pada progresifitas
lesi fibrotik katup
Penyakit jantung rematik ditandai dengan adanya kerusakan permanen
pada satu atau lebih katup jantung. Pada kondisi akut, katup mengalami inflamasi
dan edema ringan. Sedangkan pada kondisi kronis, katup akan mengalami
penebalan dan fibrosis. Sekitar 50-60% kasus penyakit jantung rematik
berdampak pada katup mitral, 20-30% mengenai katup aorta, dan hanya 10%
berdampak pada katup trikuspid atau pulmonal. Kelainan katup yang paling sering
terjadi adalah fusi komisura yang mengakibatkan stenosis katup mitral. Selain itu,
dapat terjadi juga lesi fungsional seperti regurgitasi katup mitral dan regurgitasi
katup aorta. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat berkembang
menjadi gagal jantung kongestif.

9
PATHWAY

2.5 Manifestasi Klinis Rheumatic Heart Disease (RHD)


Gejala umum :
a. Tanda-tanda demam reumatik bisanya muncul 2-3 minggu setelah
infeksi, tetapi dapat juga muncul awal minggu pertama atau setelah 5
minggu.
b. Insiden puncak antara umur 5-15 tahun, demam reumatik jarang
terjadi sebelum umur 4 tahun dan setelah umur 40 tahun.

10
c. Karditis reumatik dan valvulitis dapat sembuh sendiri atau
berkembang lambat menjadi kelainan katup.
d. Karakteristik lesi adalah adanya reaksi granulomotosa perivaskuler
dengan vaskulitis.
e. Pada 75-85% kasus, yang terserang adalah katup mitral, katup aorta
pada 30% kasus (tetapi jarang berdiri sendiri), dan mengenai katup
pulmonalis kurang dari 5%. (Bungsu Kana, 2019)
Untuk menegakkan diagnosa demam dapat digunakan kriteria Jones yaitu :
a. Kriteria Mayor
1. Poliarthritis : Pasien RHD biasanya datang dengan keluhan
sakit pada sendi yang berpindah-pindah, radang sendi-sendi
besar, lutut, pergelangan kaki, pergelangan tangan, siku
(Poliartitis migran)
2. Karditis : Peradangan pada jantung (miokarditis, endokarditis)
yang menyebabkan terjadinya gangguan pada katub mitral dan
aorta dengan manifestasi terjadi penurunan curah jantung
(seperti hipotensi, pucat, sianosis, berdebar-debar dan heart
rate meningkat), bunyi jantung melemah, dan terdengar suara
bising katup pada auskultasi akibat stenosis dari katup
terutama mitral (bising sistolik), Friction rub. (Agus et al.,
2018)
3. Eritema marginatum : Eritema marginatum merupakan
manifestasi RHD pada kulit, berupa bercak-bercak merah
dengan bagian tengah berwarna pucat sedangkan tepinya
berbatas tegas , berbentuk bulat dan bergelombang tanpa
indurasi dan tidak gatal. Biasanya terjadi pada batang tubuh
dan telapak tangan.
4. Nodul Subkutan : Terletak pada permukaan ekstensor sendi
terutama siku, ruas jari, lutut persendian kaki, tidak nyeri dan
dapat bebas digerakkan. Nodul subcutan ini terlihat sebagai
tonjolan-tonjolan keras dibawah kulit tanpa adanya perubahan
warna atau rasa nyeri. Biasanya timbul pada minggu pertama

11
serangan dan menghilang setelah 1-2 minggu. Ini jarang
ditemukan pada orang [Link] ini terutama muncul pada
permukaan ekstensor sendi terutama siku,ruas
jari,lutut,persendian kaki. Nodul ini lunak dan bergerak bebas.
(Bungsu Kana, 2019)
5. Khorea Syendendham : Gerakan yang tidak disengaja /
gerakan abnormal, bilateral,tanpa tujuan dan involunter, serta
sering kali disertai dengan kelemahan otot sebagai manifestasi
peradangan pada sistem saraf pusat
b. Kriteria Minor
1. Mempunyai riwayat menderita demam reumatik atau penyakit
jantung reumatik
2. Artraliga atau nyeri sendi tanpa adanya tanda objektif pada
sendi, pasien kadang sulit menggerakkan tungkainya
3. Demam tidak lebih dari 39°C
4. Leukositosis
5. Peningkatan laju endap darah (LED)
6. C-Reaktif Protein (CRP) positif
7. P-R Interval memanjang
8. Peningkatan pulse/denyut jantung saat tidur
9. Peningkatan Anti Streptolisin O (ASTO)
Selain kriteria mayor dan minor tersebut, terjadi juga gejala-gejala umum
seperti, akral dingin, lesu,terlihat pucat dan anemia akibat gangguan
[Link] lain yang dapat muncul juga gangguan pada GI tract dengan
manifestasi peningkatan HCL dengan gejala mual dan anoreksia. Diagnosis RHD
ditegakkan apabila ada dua kriteria mayor dan satu kriteria minor, atau dua
kriteria minor dan satu kriteria mayor.

2.6 Penatalaksanaan Rheumatic Heart Disease (RHD)


1. Tatalaksana infeksi strepkokkus
a. < 6 tahun : Benzatine penicillin 600.000 U IM
b. > 6 tahun : Benzatine penicillin 1,2 juta U IM

12
c. Dewasa : penicillin 500.000 U oral 2 kali sehari selama 10 hari.
Sensitif terhadap penicillin:
a. < 6 tahun : Erythromycine 4x125mg oral selama 10 hari
b. > 6 tahun : Erythromycine 4x250mg oral selama 10 hari
2. General treatment
a. Anti Inflamasi: Salisilat obat terpilih. Steroid adalah obat pilihan
kedua dimana salisilat gagal.
Klinis Obat Dosis
Tanpa karditis atau karditis, Aspirin 100 mg/kg/hari oral selama 2 minggu
kardiomegali (-)
Karditis, kardiomegali, dengan Prenison ̶ 2 mg/kg/hari (maksimal 60
gagal jantung mg/hari) selama 2 minggu
̶ Kurangi aspirin
75/mg/kg/hari setelah 2
minggu, diteruskan 6 minggu
4x sehari oral

b. Terapi Korea
Konservatif: Valproic, acid, Imunoglobulin, steroid.
3. Cardiac management
a. Pasien Karditis : Bed Rest
b. Tanpa karditis: istirahat ditentukan 2 minggu, mobilisasi bertahap
2 minggu
c. Karditis tanpa kardiomegali: istirahat ditentukan 4 minggu,
mobilisasi bertahap 4 minggu
d. Karditis dengan kardiomegali: istirahat ditentukan 6 minggu,
mobilisasi bertahap 6 minggu
e. Karditis dengan gagal jantung: istirahat, ditentukan selama ada
gagal jantung, mobilisasi bertahap 3 bulan.
4. Profilaksis golongan penicillin
Diberikan menyusul eradikasi :
a. Benzatin penicillin G 1,2 Juta U IM/ 4 atau 3 minggu (risiko tinggi
rekuren)
b. Penisillin V 2x 500mg Oral

13
c. Sulfadiazin 1g/hari Oral
Profilaksis sekunder tidak dihentikan pada penderita PJR dengan riwayat
sering rekuren dalam waktu 10 tahun setelah mendapatkan serangan
demam rematik.

2.7 Pemeriksaan Diagnostik Rheumatic Heart Disease (RHD)


Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah sebagai berikut :
a. Pemeriksaan laboratorium
Dari pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatan ASTO,
peningkatan laju endap darah (LED),terjadi leukositosis, dan dapat terjadi
penurunan hemoglobin.
b. Radiologi
Pada pemeriksaan foto thoraks menunjukan terjadinya pembesaran pada
jantung.
c. Pemeriksaan Echokardiogram
Menunjukan pembesaran pada jantung dan terdapat lesi
d. Pemeriksaan Elektrokardiogram
Menunjukan interval P-R memanjang.
e. Hapusan tenggorokan
Ditemukan streptococcus hemolitikus β grup A

BAB III

14
ASUHAN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN.I DENGAN PENYAKIT JANTUNG


REMATIK

A. Pengkajian
I. Biodata
a. Identitas Klien
1. Nama/Nama panggilan :An. I
2. Tempat tanggal lahir / Usia : Makassar, 15/ 03 / 2012
3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Agama : Islam
5. Pendidikan : Belum ada
6. Alamat : Abd. Dg. Sirua
7. Tanggal masuk : 11 Mei 2018
8. Tanggal pengkajian : 12 Mei 2018
9. Diagnosa Medik : PJR
b. Identitas Orang Tua
1. Ayah
Nama : Tn. M
Usia : 31 Tahun
Pendidikan : STM
Pekerjaan / Sumber penghasilan : Wiraswasta
Agama : Islam
Alamat : Abd. Dg. Sirua
2. Ibu
Nama : Ny. N
Usia : 26 Tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan / Sumber penghasilan : Wirasawasta
Agama : Islam
Alamat : Abd. Dg. Sirua

15
c. Identitas Saudara Kandung
No Nama Usia Hubungan Keterangan
1. Klien anak per-1

II. Keluhan Utama / Alasan Masuk RS


Pasien mengeluh badan demam sejak 2 minggu yang lalu naik turun.
III. Riwayat penyakit sekarang
Tanggal 14 april pasien dibawa ke RS dengan keluhan badan demam sejak 2
minggu yang lalu naik turun, pasien sudah berobat dan demam sempat turun
seminggu yll, akan tetapi sejak 3 hari ini suhu tubuh naik lagi, tenggorokan terasa
sakit, dada sakit, jantung berdebar-debar, mual, orang tua pasien mengatakan
anaknya sulit minum obat.

IV. Riwayat Imunisasi

Jenis Waktu Reaksi setelah


No
Imunisasi pemberaian pemberian
1. Hb 0 1X -
2. BCG 1X Panas
3. Polio 4X -
4. DPT 1X Panas
5. Campak 1X -

V. Riwayat Tumbuh Kembang.


a. Pertumbuhan Fisik
1. Berat Badan : BB lahir : 3 Kg masuk RS : 10 kg.
2. Tinggi Badan : PB : 60 cm, PB masuk RS : 97 Cm
3. Waktu tumbuh : 7 bulan dan tanggalnya gigi : belum ada

VI. Riwayat Nutrisi


a. Pemberian ASI
1. Pertama kali disusui : sekitar 2 jam setelah melahirkan
2. Waktu dan cara pemberian : tidak teratur ( setiap kali menangis )
3. Lama pemberian : sampai anak berhenti sendiri
4. Asi diberikan sampai usia : 2 tahun
b. Pemberian Susu tambahan

16
(diberikan susu botol sejak lahir , selang seling dengan ASI sampai umur 2
tahun , selanjutnya menggunakan gelas)
c. Pemberian makanan tambahan
Sejak umur 4 bulan ( makanan cereal )
d. Pola perubahan Nutrisi tiap tahapan usia sampai nutrisi saat ini
Usia Jenis nutrisi Lama pemberian
0 – 3 bulan ASI + susu botol 2 tahun
4 – 12 bulan ASI + susu botol 2 tahun
24 bulan keatas Susu , makan nasi sampai sekarang
,lauk,sayur

VII. Riwayat Psikososial


1. Anak tinggal di rumah sendiri , dan juga tinggal dengan neneknya
2. Lingkungan berada di setengah kota
3. Hubungan antar anggota keluarga : baik
4. Yang mengasuh anaknya adalah neneknya dan hari sabtu dan minggu oleh
ibunya.
VIII. Riwayat Spritual
Belum dapat dikaji
IX. Aktivitas sehari-hari
1. Nutrisi :
Sebelum sakit : makan nasi , sayur dan lauk, Selera makan baik, frekwensi
3 X sehari dan bila klien mau.
Saat sakit : Selera makan tidak ada, mual tapi tidak muntah, tenggorokan
sakit
2. Cairan :
Sebelum sakit : susu dan minum air biasa, frekusnsi bila klien mau, kalu
susu pagi, siang dan malam , cara pemberian di minum pakai gelas.
Saat Sakit : Susu , air hangat kebutuhan, frekuensi bila klien mau
3. Eliminasi (BAK/BAB) :
a. Tempat pembuangan : WC
b. Frekwensi : tidak teratur
c. Konsistensi : lembek

17
4. Istirahat tidur
tidak teratur : karena sakit daerah persendian
5. Olah raga : belum ada
6. Personal Hygine :
a. Mandi : Frekuensi 2 x/ hari, dibantu oleh ibunya , semantara klien di
seka
b. Cuci rambut : frekwensi 2 – 3 x/mgg ( tergantung kebutuhan ) dibantu
c. Gunting kuku : setiap kali panjang, dibantu oleh orang tua.
7. Rekreasi
Frekwensi tidak terjadwal dengan keluarga.
X. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum : lemah
2. Tanda – tanda vital :
̶ Suhu : 38,7°C
̶ Nadi : 110 kali / menit
̶ Respirasi : 32 X/ menit
̶ Tekanan Darah : 100/ 50 mmHg
3. Antropometri :
̶ Panjang badan : 97 cm
̶ Berat Badan : 10 kg.
̶ Lingkar lengan atas : 11 cm
̶ Lingkar kepala : 48 cm
̶ Lingkar dada : 54 cm
̶ Lingkar perut : 53 cm
4. Sistem Pernafasan
Hidung : Simetris, pernafasan cuping hidung : tidak ada, secret : tidak ada
Leher : Tidak ada pemebesaran kelenjar dan tumor
Dada :
̶ Bentuk dada : Pigion chest
̶ Perbandingan ukuran anterior-posterior dengan tranversal : 1 : 1
̶ Gerakan dada : tidak terdapat retraksi dada, simetris ki/ka
̶ Suara nafas : Vesikuler

18
5. Sistem kardiovaskuler :
- Conjungtiva : Tidak anemia, bibir : cyanosis, arteri carotis : kuat,
tekanan vena jugularis : tidak meninggi
- Ukuran Jantung : ada pembesaran (kardiomegali)
- Suara jantung : bunyi abnormal (mur-mur)
- Capillary refilling time : > 2 detik
6. Sistem Pencernaan

- Skelera : tidak ikterus, Bibir : agak kering


- Mulut : Lidah agak kotor,berbau, stomatitis tidak ada,
kemampuan menelan kurang baik, gerakan lidah bagus, jumlah
gigi lengkap namun terdapat caries.
- Gaster : gerakan paristaltik normal, kembung tidak ada
- Abdomen : pada pemeriksaan 4 kuadran tidak ada ditemukan
adanya nyeri tekan, ataupun pembesaran organ, permukaan perut
halus dengan kontur melingkar , tidak ikterik, kulit normal : tidak
licin dan tidak keriput.
- Anus : tidak ada lecet, hemoroid : tidak ada, spingter Anu
berfungsi baik, klien merasa dan dapat menahan BAB.
7. System indra
- Mata : kelopak mata tidak ada kemerahan ataupun ptosis, bulu
mata ada posisi agak lentik, alis tebal, lipatan epikatus sejaran
dengan pina (10 0 ), Visus 6/6, Lapang pandang : Normal
- Hidung : Penciuman baik dapat membedakan bau-bauan, perih
dihidung tidak ada, ada cairan hidung berupan secret, trauma
hidung tidak pernah , mimisan tidak pernah.
- Telinga : keadaan daun telingan baik, operasi telinga tidak
pernah, membran tympani baik, fungsi pendengran baik dapat
mendengar bunyi gesekan rambut.
8. Sistem Muskulo Skeletal
- Kepala : meshepalon, ubun – ubun berasar dan kecil tertutup
- Vertebrae : khyposis, gerakan baik, ROM : baik
- Pelvis : kaki sejajar

19
- Lutut : balotemen test (+), ROM : agak kaku
- Kaki : keutuhan ligamen baik, ROM : agak kaku
- Bahu : Pergerakan baik
- Tangan : pergerakan baik
9. Sistem Integumen
- Rambut : warna : hitam, tidak mudah tercabut, cukup bersih
- Kulit : warna : Sawo matang, temperatur : panas , kelembaban :
baik, sering berkeringat.
- Kuku : warna : agak pucat, permukaan kuku datar, tidak mudah
patah, bersih.
10. Sistem Endokrine :
- Kelenjar thyroid : Tidak ada pembesar
- Ekskresi urine : sering. ± 250 cc/ sekali berkemih
- Tidak ada riwayat urine dikelilingi semut
11. Sistem perkemihan ( semua normal bak lancar )
12. Sistem imun : ada riwayat alergi dingin ).
XI. Tes Diagnostik
- Laboratorium
1. Hb : 10 g/dL ( 12,0 – 16,0 )
2. Leukosit : 15.500 g/dL
3. Ht : 30
4. Trombosit : 210.000/mm
5. LED : 50mm
6. ASTO : +

B. ANALISIS DATA
No. Data Etiologi Masalah
1. Ds : Pharingitis dan Hipertermi
- Orang tua klien tonsilitis
mengatakan : anaknya
sudah demam sejak 2 Respon imun abnormal
minggu yang lalu, demam

20
naik turun. Sudah berobat RHD
akan tetapi 3 hari yll suhu
tubuh naik lagi Jantung
Do :
- Klien tampak Lesu dan Peradangan katub
lemas mitral
- Menggigil (-), Akral
Hangat (+), Hipertermi
- GCS: 15
- Suhu tubuh = 38,7oC
- Hb : 10 g/dL
- Leukosit : 15.500 g/dL
- Ht : 30
- Trombosit : 210.000/mm
- LED : 50mm
- ASTO : +
2. Ds : Pharingitis dan Nyeri
- Orang tua klien tonsilitis
mengatakan anaknya
ngeluhkan nyeri siku, lutut Respon imun abnormal
dan pergelangan kaki sakit
dan tenggorokan terasa RHD
sakit
Do : Peradangan pada
- Klien tampak meringis membrane senovial
- Skala Nyeri : 7
- Lokasi : lutut, siku,
pergelangan Polyartritis/atralgia
- Frekuensi : Hilang timbul
- Durasi : ± 3-5 menit Nyeri
- Hb : 10 g/dL
- Leukosit : 15.500 g/dL
- Ht : 30

21
Trombosit : 210.000/mm
LED : 50mm
3. Ds : Peradangan katup mtral Penurunan
- Orang tua klien Curah Jantung
mengatakan anaknya Peningkatan sel
mengeluhkan dada terasa retikuloendotelial, sel
sakit, jantung berdebar- plasma dan limfosit
debar , badan terasa lelah
dan lemas, mual tapi tidak Jaringan parut
muntah
Do : Stenosis katub mitral
- Klien tampak lemas dan
lesu Penurunan curah
- Aktifitas dibantu keluarga jantung
- Mual (+) CRT >2detik
- Suhu : 38,7°C
- Nadi : 110 kali / menit
- Respirasi : 32 X/ menit
- Tekanan Darah : 100/ 50
mmHg

C. MASALAH KEPERAWATAN
1. Hipertermi b.d proses penyakit
2. Nyeri b.d agens cedera biologis
3. Penurunan curah jantung b.d perubahan kontraksi otot jantung

22
23
D. RENCANA KEPERAWATAN
N Diagnosa Keperawatan Tujuan dan kriteria Hasil NIC
O
1 Hipertemi NOC NIC
Definisi : Peningkatan suhu Termogulasi Perawatan Demam
tubuh diatas kisaran normal Kriteria Hasil : 1. Monitor warna dan suhu kulit
 Suhu tubuh dalam rentang normal 2. Monitor Tnad- tanda vital
 Nadi dan RR dalam rentang normal Tidak 3. Monitor penurunan tingkat kesadaran
ada perubahan warna kulit dan tidak ada 4. Monitor WBC, Hb, dan Hct
pusing 5. Monitor intake dan output
6. Berikan antipiretik
7. Selimuti pasien
8. Lakukan tapid sponge
9. Kolaborasi pemberian cairan intravena

2 Nyeri akut NOC NIC


Definisi: Pengalaman sensori dan  Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri
emosional yang tidak  Kontrol nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
menyenangkan yang muncul akibat Kriteria Hasil : termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
kerusakan jaringan yang aktual atau kualitas dan faktor prepitasi) - Obs reaksi

24
potensial atau digambarkan dalam 1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nonverbal dari ketidaknyamanan
hal kerusakan sedemikian rupa nyeri, mampu menggunakan tehnik 2. Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain
(internasional association for the nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, tentang ketikefektifan kontrol nyeri masa lampau
study of pain): awitan yang tiba- mencari bantuan) Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan
tiba atau lambat dari intensitas 2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menemukan dukungan
ringan hingga akhir yang dapat menggunakan manajemen nyeri 3. Kurangi faktor prespitasi nyeri
diantisipasi atau diprediksi dan 3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, 4. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan
berlangsu <6 bulan frekuensi dan tanda nyeri) intervensi
5. Ajarkan tentang teknik non farmakologi

6. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri

3 Penurunan Curah Jantung NOC NIC


Definisi: Ketidakadekuatan darah  Status Sirkulasi Perawaatan Jantung
yang dipompa oleh jantung untuk  Status tanda vital 1. Evaluasi adanya nyeri dada (intesitas, lokasi,
memenuhi kebutuhan metabolik Kriteria Hasil : durasi) Catat adanya distrimia jantung

 Tekanan vital dalam rentang normal 2. Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac

(tekanan darah, nadi, respirasi) out put

 Dapat mentolerasi aktivitas, tidak ada 3. Monitor status kardiovaskuler

25
kelelahan Tidak ada edema paru, perifer, 4. Monitor status pernafasan yang menandakan
dan tidak ada asites gagal jantung
 Tidak ada penurunan kesadaran 5. Monitor abdomen sebagai indikator penurunan
perfusi
6. Monitor balence cairan
7. Monitor adanya perubahan tekanan darah -
Monitor respon pasien terhadap efek pengobatan
antiaritmia Atur periode latihan dan istirahat
untuk menghindar kelelahan
8. Monitor toleransi aktivitas pasien

26
27
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pengkajian
Pengkajian data difokuskan ditemukan suhu tubuh meningkat tidak lebih
39ᴼ C, tekanan darah menurun, denyut nadi meningkat, respirasi cepat,
tenggorokan terasa sakit, dada sakit, jantung berdebar-debar, penurunan
hemoglobin, peningkatan leukosit, peningkatan LED, peningkatan ASTO, sakit
daerah persendian
Pada kasus nyata An. I hasil pengkajian ditemukan Suhu : 38,7°C , Nadi :
110 kali / menit , Respirasi : 32 X/ menit , Tekanan Darah : 100/ 50 mmHg. Jika
dilihat dari data tersebut suhu mengalami peningkatan tidak lebih dari 39ᴼC,
adanya peningkatan denyut nadi dan percepatan respirasi serta menurunnya
tekanan darah. Ini merupakan manifestasis klinis yang dapat digunakan untuk
menegakkan diagnosa RHD.
Ditemukan juga keluhan yang dirasakan anak yaitu tenggorokan terasa
sakit, dada sakit, dan mual ini juga merupakan keluhan yang biasa dirasakan oleh
pasien dengan RHD karena danya infeksi saluran nafas atas oleh kuman Beta
Streaptococcus Hemolyticus Grup A. Serta keluhan sakit daerah persendian yang
ini merupakan manifestasis klinis dengan kriteria mayor yang dapat muncul pada
pasien RHD.
Juga pada pemeriksaan Laboratorium didapatkan hemoglobin mengalami
penurun (10 g/dL), peningkatan leukosit (15.500 g/dL), peningkatan LED
(50mm), serta peningkatan ASTO (+) maka dari hasil laboratorium ini
menunjukan adanya tanda gejala/manifestasis klinis dengan kriteria mayor yang
sama dengan teori.
Dapat disimpulkan bahwa pada pengkajian ini antara teori dan kasus
terdapat kesamaan yang muncul. Karena terdapat keluhan dan gejala yang
dirasakan pasien An I sama dengan apa yang ada di teori penyakit Rheumatic
Heart Disease (RHD).

28
4.2 Diagnosis
Menurut NANDA (2018) diagnosa pada kasus dengan penyakit jantung
rematik adalah sebagai berikut: Penurunan curah jantung berhubungan dengan
perubahan kontraksi otot jantung, nyeri akut berhubungan dengan agens cedera
biologis, hipertermia berhubungan dengan proses penyakit, ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, intoleransi aktivitas
berhubungan dengan kelemahan fisik dan defisit perawatan diri berhubungan
dengan gangguan neuromuskuler.
Hasil dari pengumpulan data dan pengkajian pada An. I maka ditemukan 3
masalah utama yaitu yang pertama Hipertermia berhubungan dengan proses
penyakit, karena ditemukan adanya peningkatan suhu pada anak yaitu 38,7°C.
Lalu yang kedua masalah yang diangkat yaitu nyeri akutberhubungan dengan
agens cedera biologis karena pasien mengeluhkan nyeri siku, lutut, pergelangan
kaki sakit dan tenggorokan terasa sakit. Dan masalah yang ketiga adalah
penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraksi otot jantung
karena pasien mengeluhkan dada terasa sakit, jantung berdebar-debar, badan
terasa lelah dan lemas, dan mual.
Maka dari munculnya gejala dan keluhan yang dirasakan pasien
didapatkan masalah keperawatan yaitu hipertermia, nyeri akut, dan penurunan
curah jantung.

4.3 Intervensi
Menurut NANDA (2015), Swanson (2013), dan Wagner (2013),
perencanaan disusun berdasarkan masalah yang ditemukan pada pasien dan
prioritas masalah yang mengancam kehidupan dan membutuhkan penanganan
segera. Tujuan yang dibuat ditetapkan lebih umum, tetapi pada praktek nyata
tujuan atau perawatan dimodifikasi sesuei kondisi pasien. Tujuan yang dibuat
mempunyai batasan waktu, dapat diukur, dapat dicapai, rasional sesuai
kemampuan pasien, sedangkan intervensi disusun berdasarkan diagnosa yang
ditegakkan. Pada kasus An. I ditemukan diagnosa hipertermi, yaitu dengan
intervensi Monitor warna dan suhu kulit, Monitor Tanda- tanda vital, Monitor
penurunan tingkat kesadaran, Monitor WBC, Hb, dan Hct , Monitor intake dan

29
output , Berikan antipiretik , Selimuti pasien , Lakukan tapid sponge
danKolaborasi pemberian cairan intravena
Pada diagnosa kedua yaitu nyeri akut menggunakan intervensi dengan
aktivitas yaitu Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor prepitasi) - Obs reaksi
nonverbal dari ketidaknyamanan, evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain
tentang ketikefektifan kontrol nyeri masa lampau, bantu pasien dan keluarga
untuk mencari dan menemukan dukungan Kurangi faktor prespitasi nyeri, kaji
tipe dan sumber nyeri dan ajarkan tentang teknik non farmakologi.
Pada diagonasa ketiga yaitu penurunan curah jantung dengan
menggunakan intervensi antara lain Evaluasi adanya nyeri dada (intesitas, lokasi,
durasi) Catat adanya distrimia jantung Catat adanya tanda dan gejala penurunan
cardiac out put Monitor status kardiovaskuler Monitor status pernafasan yang
menandakan gagal jantung Monitor abdomen sebagai indikator penurunan perfusi
Monitor balence cairan Monitor adanya perubahan tekanan darah - Monitor
respon pasien terhadap efek pengobatan antiaritmia Atur periode latihan dan
istirahat untuk menghindar kelelahan Monitor toleransi aktivitas pasien. Dari
ketiga intervensi ini memiliki kesamaan antara teori dengan kasus.

30
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Penyakit Jantung Rematik (PJR) atau dalam bahasa medisnya
Rheumatic Heart Disease (RHD) adalah suatu proses peradangan yang
mengenai jaringan-jaringan penyokong tubuh, terutama persendian, jantung
dan pembuluh darah oleh organisme streptococcus hemolitic-b grup A.
Etiologi dari RHD ini disebabkan oleh karditis rheumatic akut dan
fibrosis dan beberapa faktor predisposisi lainnya, menurut LAB/UPF ilmu
kesehatan Anak, seperti : faktor genetik, jenis kelamin, umur dan etnik / ras.
Perjalanan klinis penyakit demam reumatik/penyakit jantung reumatik dapat
dibagi dalam 4 stadium yaitu stadium I, stadium II, stadium III dan stadium
IV.
5.2 Saran
Seseorang yag terinfeksi kuman streptococcus hemoliticus danmengalami
demam reumatik harus diberikan terapi yang maksimal dengan antibiotic hal
ini untuk menghindari kemungkinan serangan kedua kalinya bahkan
menyebabkan penyakit jantung reumatik.

31
DAFTAR PUSTAKA

Agus, Sudrajat, A., Susanati, Aprianti, R., Suwandi, & Yuliastuti. (2018).
LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. P DENGAN PENYAKIT
JANTUNG REMATIK (RHD.

Bungsu Kana, I. (2019). KTI Asuhan Keperawatan Pada Nn. A dengan Jantung
Reumatik di Ruangan Cempaka RSUD Prof. DR. W.Z Johannes Kupang.

Chopra P, Gulwani H. Pathology and Pathogenesis of Rheumatic Heart Disease.


Indian J Pathol Microbiol. Oct 2007. 50 (4): 685-97.

Huda, Ardhi. 2016. Asuhan Keperawatan Praktis Jilid 2. MediAction. Yogyakarta

LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak ( 2007), Pedoman Diagnosis dan Terapi, Rumah
Sakit Umm Daerah Sutomo, Surabaya

Ngastiyah ( 2007), Perawatan Anak Sakit ,Edisi III EGC, Jakarta

32

Anda mungkin juga menyukai