DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Struktur Organisasi Umum........................................................................ 3
Gambar 1.2 Struktur Organisasi SSO PSC ................................................................... 4
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ................................................................................ 30
Gambar 3.1 Tahapan Penelitian .................................................................................. 39
Gambar 3.2 Rentang Skala .......................................................................................... 60
Gambar 3.3 Garis Kontinum ....................................................................................... 63
Gambar 3.4 Peta Konsep Uji Beda ............................................................................. 64
Gambar 4.1 Karakteristik Responden Pegawai Berdasarkan Jenis Kelamin ............. 71
Gambar 4.2 Karakteristik Responden Supplier Berdasarkan Jenis Kelamin ............. 71
Gambar 4.3 Karakteristik Responden Pegawai Berdasarkan Lama Bekerja ............. 72
Gambar 4.4 Karakteristik Responden Supplier Berdasarkan Lama Bekerja ............. 73
Gambar 4.5 Karakteristik Responden Pegawai Berdasarkan Jabatan ........................ 74
Gambar 4.6 Karakteristik Responden Supplier Berdasarkan Jabatan ........................ 74
Gambar 4.7 Garis Kontinum Trust Responden Pegawai ............................................ 78
Gambar 4.8 Garis Kontinum Communication Responden Pegawai .......................... 82
Gambar 4.9 Garis Kontinum Commitment Responden Pegawai .............................. 85
Gambar 4.10 Garis Kontinum Adaptation Responden Pegawai ................................ 87
Gambar 4.11 Garis Kontinum Power Responden Pegawai ........................................ 89
Gambar 4.12 Garis Kontinum Resource Dependence Responden Pegawai .............. 91
Gambar 4.13 Garis Kontinum Uncertainty Responden Pegawai ............................... 92
Gambar 4.14 Garis Kontinum Performance Responden Pegawai ............................. 94
Gambar 4.15 Garis Kontinum Trust Responden Supplier ......................................... 98
Gambar 4.16 Garis Kontinum Communication Responden Supplier ...................... 102
Gambar 4.17 Garis Kontinum Commitment Responden Supplier .......................... 104
Gambar 4.18 Garis Kontinum Adaptation Responden Supplier .............................. 106
Gambar 4.19 Garis Kontinum Power Responden Supplier ..................................... 108
xiv
Gambar 4.20 Garis Kontinum Resource Dependence Responden Supplier ............ 110
Gambar 4.21 Garis Kontinum Uncertainty Responden Supplier..............................112
Gambar 4.22 Garis Kontinum Performance Responden Supplier ........................... 114
Gambar 4.23 Hasil Uji Normalitas ........................................................................... 115
Gambar 4.24 Hasil Uji Homogenitas ....................................................................... 116
Gambar 4.25 Hasil Uji Mann Whitney Sub Variable Trust ..................................... 117
Gambar 4.26 Hasil Uji Mann Whitney Sub Variable Communication ................... 118
Gambar 4.27 Hasil Uji Mann Whitney Sub Variable Coomitment ......................... 119
Gambar 4.28 Hasil Uji Mann Whitney Sub Variable Adaptation ........................... 120
Gambar 4.29 Hasil Uji Mann Whitney Sub Variable Power ................................... 121
Gambar 4.30 Hasil Uji Mann Whitney Sub Variable Resource Dependence .......... 122
Gambar 4.31 Hasil Uji Mann Whitney Sub Variable Umcertainty ......................... 123
Gambar 4.32 Hasil Uji Mann Whitney Sub Variable Performance .......................... 14
Gambar 4.33 Hasil Uji Mann Whitney Pada Keseluruhan Sub Variabel ................ 125
xv
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Perusahaan
1.1.1 Profil Umum
[Link] Indonesia,Tbk merupakan satu-satunya Badan Usaha
Milik Negara(BUMN) yang bergerak di bidang jasa layanan telekomunikasi
dan jaringan di wilayah Indonesia sehingga tunduk dan atuh pada peraturan
yang berlaku di Indonesia. Bidang jasa yang ditawarkan oleh
[Link] Indonesia mencakup sambungan telepon kabel tidak
bergerak dan telepon nikabel tidak bergerak, komunikasi selular, layanan
jaringan interkoneksi, serta internet dan komunikasi data. [Link]
Indonesia juga menyediakan layanan di bidang informasi, media dan
edutainment, termasuk cloud-based and server-based managed services,
layanan e-Payment dan IT enabler, e-Commerce dan layanan portal lainnya.
PT. Telekomunikasi Indonesia memiliki beberapa anak perusahaan yang
tergabung dalam Telkom Group, seperti [Link] Indonesia
Selular(Telkomsel), [Link] Nusantara(Metra), [Link]
Indonesia Internasional(Telin) dan [Link] Telekomunikasi(Mitratel).
Sebagai perusahaan BUMN yang sahamnya diperdagangkan di bursa saham,
pemegang saham mayoritas adalah Pemerintah Republik Indonesia sebesar
52,55% dan sisanya dimiliki oleh publik sebesar 47,45% (dimuat pada 11 Mei
2016). Kini saham perusahaan diperdangangkan di BEI, NYSE, LSE, dan
Public Offering Without Listening(POWL)di Tokyo.
1
Telkom menerapkan kebijakan desentralisasi untuk memudahkan
pelayanan dan pengoperasian bisnisnya, dimana kantor pusat bertanggung
jawab atas pencapaian sasaran pengelolaan perusahaan melalui kegiatan unit
kerja perusahaan secara keseluruhan. Sedangkan penjabaran operasionalnya
dilasanakan oleh masing-masing divisi struktur manajemen Telkom yang
secara garis besar meliputi kantor pusat perusahaan, Wilayah Telkom I sampai
dengan VII, Divisi Network dan Divisi Pendukung.
1.1.2 Visi dan Misi
[Link] mengemban tanggung jawab untuk memberikan hasil
terbaiknya bagi para stakeholders. Oleh karena itu, dalam setiap kegiatan
usahanya [Link] harus berpijak pada visi dan misi perusahaan.
Visi
“ Be The King of Digital on The Region”
Misi
“ Lead Indonesian Digital Innovation and Globalization”
1.1.3 Struktur Organisasi Umum
[Link] memiliki susunan struktur organisasi yang terbagi atas
beberapa direktur dengan masing masing bidang. Gambar 1.1 menunjukan
susunan organisasi dari Telkom Group:
2
Gambar 1.1 Struktur Organisasi Umum
Sumber : [Link]
1.1.4 SSO Procurement and Sourcing Center
SSO Procurement and Sourcing Center adalah unit organisasi yang
diperankan pada fungsi tata kelola dan prosedur supply management
perusahaan dan efektivitas pengelolaan proses procurement. Guna mencapai
pemenuhan kebutuhan barang dan/ atau jasa yang dibiayai dari anggaran
CAPEX DAN OPEX perusahaan, sesuai dengan kebijakan yang belaku dengan
kuantitas dan kualitas, waktu serta efisiensi biaya dan optimalisasai
sumberdaya serta mendukung program Telkom Integrated Supply Chain
Management (T-ISCM). Unit ini termasuk dalam direktorat keuangan yang
dipimpin dan dikendalikan langsung oleh salah satu anggota direksi, yaitu
Direktur Keuangan. (Sumber: PR.202.45/R.00/HK200/COP-A2000000/2016)
3
1.1.5 Struktur Organisasi SSO Procurement and Sourcing Center
Sesuai dengan PR.202.45/R.00/HK200/COP-A2000000/2016 dalam
membantu SGM SSO Procurement and Sourcing Center menjalankan
tugasnya, SGM dibantu oleh Deputy dan juga delaman Senior Manager.
Gambar 1.2 menunjukan struktur organisasi SSO Procurement and Sourcing
Center :
Gambar 1.2 Struktur Organisasi SSO PSC
Sumber : Data SSO PSC
1.2 Latar Belakang Penelitian
Ketatnya persaingan yang dipicu oleh globalisasi, menimbulkan perubahan
paradigma dalam persaingan. Dimana persaingan saat ini sudah bukan lagi antara
perusahaan namun persaingan antar mitra bisnis dalam suatu jaringan rantai pasok.
(Heizer dan Render, 2009:360).
Keputusan untuk melakukan kemitraan dalam hubungan bisnis antara satu
perusahaan dengan perusahaan lain, merupakan target penting dengan tujuan
berbeda, dari hubungan tersebut akan tercipta nilai atau manfaat bagi kedua belah
pihak. Manajemen hubungan pembeli- pemasok merupakan pusat keberhasilan
manajemen rantai pasok di perusahaan-perusahaan (Harland, 1996). Secara khusus,
4
pentingnya hubungan antara pembeli dengan pemasok harus dipahami dalam
rangka memaksimalkan penciptaan nilai dalam rantai pasok. Penelitian telah
menunjukan keberhasilan pengelolaan hubungan ini memberikan kontribusi untuk
kinerja perusahaan (Tan et al., 1999). Adanya hubungan tersebut berarti kedua
belah pihak merasa mereka mendapatkan niai dari hubungan tersebut dan jika
hubungan dianggap sukses maka mereka akan melanjutkan hubungan tersebut
(Narayandas dan Rangan, 2004).
Proses penciptaan nilai atas jejaring bisnis memerlukan dukungan peningkatan
kinerja dalam Supply Chain Management. Salah satu yang perlu diperhatikan
mengenai konsep kemitraan adalah hubungan antara perusahaan dengan pemasok
yang dikenal dalam konsep supply chain management (SCM). Secara formal rantai
pasok dapat diartikan sebagai sebuah proses yang terintegrasi dimana bahan
mentah diproduksi menjadi sebuah produk yang pada akhirnya didistribusikan
kepada konsumen. Supply chain management merupakan cara untuk
mengintegrasikan rantai pasok dari supplier hingga produk sampai ke tangan
pelanggan.
Contoh nyata dari hubungan jangka panjang yang berhasil yaitu Toyota, dimana
Toyota memiliki beberapa filosofi yang terkait dengan hubungan jangka panjang:
Hormati mitra dan pemasok anda dan perlakukan mereka seakan-akan
perpanjangan bisnis anda.
Beri tantangan pada mitra bisnis anda agar tumbuh dan berkembang. Hal ini
menunjukan bahwa anda menghargai mereka. Tetapkan target yang menantang
dan bantulah mitra anda mencapainya.
Tumbuh bersama dengan pemasok dan mitra demi kuntungan bersama.
Para pemasok industri otomotif melaporkan jika Toyota merupakan pelanggan
terbaik mereka. Pemasok harus memiliki standar keunggulan yang tinggi dan
mengharapkan seluruh pemasok mereka meraih standari tersebut.
5
Toyota membuat pemasok kelas dunia di Amerika Utara. Pemasok berdampak
positif kepada pendekatan kemitraan Toyota yang sangat menuntut tetapi adil.
Dengan prinsip: temukan mitra yang solid dan berkembang bersama demi
keuntungan kedua belah pihak dalam jangka panjang.
Perubahan lingkungan bisnis yang berkembang cepat, memaksa perusahaan
untuk mencari solusi yang tepat dalam mempertahankan perusahaan dan
memenangkan persaingan. Dimana dengan adanya memiliki jejaring bisnis yang
kuat akan membantu PT. Telkom untuk memenangkan persaingan dengan mudah.
Hal ini menjadi suatu yang kompleks karena begitu banyak pihak yang tergabung
dalam supply chain management.
PT. Telkom menganggap bahwa pemasok termasuk salah satu stakeholders
yang sangat penting, sehingga hubungan yang sehat antara Telkom dengan
mitranya harus teteap ditingkatkan dan dipelihara. Telkom mewajibkan kepada
seluruh pemasoknya untuk mematuhi hak asasi manusia. Sebelum pemasok
diterima sebagai mitra (daftar rekanan Telkom), dilakukan vendor evaluation
system.
PT Telkom sebagai salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia, telah
menjalankan kegiatan CRM dengan semestinya yang diterapkan pada level
korporat oleh unit supply performance & development dan supply system &
integration dibawah direktorat keuangan. PT. Telkom berkomitmen untuk maju
bersama dengan pemasoknya dalam kerjasama yang sederajat dan saling
menguntungkan. PT. Telkom juga telah melakukan hubungan erat antara
perusahaan dengan pemasok. Hal ini dilakukan oleh Telkom karena ingin
melakukan hubungan jangka panjang dengan pemasoknya. Namun menjalin
hubungan jangka panjang dengan supplier bukanlah hal yang mudah. Salah satu
rintangannya adalah adanya perbedaan persepsi antara perusahaan dengan supplier
dilihat dari aktivitas bisnis yang dijalani. Apakah perusahaan dan supplier
memandang kerjasama yang dilakukan sebagai hal yang saling menguntungkan
atau hanya salah satu pihak yang merasa diuntungkan, sehingga dapat terlihat
6
apakah kerjasama yang dilakukan dapat dijadikan hubungan kerjasama jangka
panjang yang efektif. Untuk menjawab pertanyaan apakah terdapat perbedaaan
persepsi dari hubungan yang dilakukan serta hal yang mengindikasi keberhasilan
hubungan dari kedua belah pihak. Salah satu caranya dengan mengetahui persepsi
dari pembeli dan pemasok dalam melakukan hubungan yang dilakukan oleh
keduanya. Oleh karena itu, mencoba untuk membuat penelitian mengenai :
“Analisa Persepsi Hubungan Perusahaan dengan Supplier dalam Supply Chain
(Studi pada PT. Telekomunikasi Indonesia).
1.3 Rumusan Masalah
Saat ini Trend persaingan sudah berubah, bukan lagi persaingan antar
perusahaan, namun antara mitra bisnis dalam suatu jaringan rantai pasok
perusahaan. Telkom telah memiliki hubungan jangka panjang dengan Suppliernya,
namun belum diketahui seberapa besar efektivitas hubungan terhadap performansi
Telkom.
Salah satu yang perlu diperhatikan dalam konsep kemitraan dalam SCM adalah
hubungan antara perusahaan dengan pemasok. Secara khusus, pentingnya
hubungan antara pembeli dengan pemasok harus dipahami dalam rangka
memaksimalkan penciptaan nilai dalam rantai pasok. Penelitian telah menunjukan
keberhasilan pengelolaan hubungan ini memberikan kontribusi untuk kinerja
perusahaan (Tan et al., 1999). Para peneliti telah menggunakan teori biaya transaksi
dan teori pertukaran sosial sebagai teori terpisah yang saling melengkapi untuk
menjelaskan hal yang mengindikasi dan dinamika keberhasilan hubungan.
Sehingga digunakanlah kedua teori biaya transaksi dan teori pertukaran sosial
dalam faktor hubungan yang membandingkan persepsi hubungan yang sama antara
pembeli dan pemasok (Eammon Ambrose, et al., 2010: 1270 ). Penelitian ini
meneliti hubungan yang cocok untuk mengidentifikasi perbedaan persepsi antara
pihak-pihak dalam hubungan. Bagaimana perspektif hubungan pemasok terhadap
7
Telkom dan perspektif hubungan Telkom terhadap pemasok dalam upaya
mengetahui apakah hubungan yang terjalin antara kedua belah pihak telah terjalin
dengan sempurna dan apakah hal yang mengindikasi keberhasilan hubungan
dirasakan bagi pembeli berbeda dari pemasok dalam hubungan rantai pasokan.
1.4 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan dan rumusan masalah, maka dapat
disimpulkan pertanyaan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana persepsi perusahaan terhadap hubungan dengan pemasok dalam
konteks SCM?
2. Bagaimana persepsi pemasok terhadap hubungan dengan perusahaan dalam
konteks SCM?
3. Bagaimana persepsi hubungan antara perusahaan dengan pemasok dalam
konteks SCM?
1.5 Tujuan Penelitian
Berdasarkan dengan pertanyaan penelitian terkait, maka tujuan penelitian
adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana persepsi perusahaan terhadap hubungan dengan
pemasok dalam konteks SCM.
2. Untuk mengetahui bagaimana persepsi pemasok terhadap hubungan dengan
perusahaan dalam konteks SCM.
3. Untuk mengetahui bagaimana persepsi hubungan antara perusahaan dengan
pemasok dalam konteks SCM.
8
1.6 Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi pertimbangan perusahaan dalam
mengalokasikan sumber daya untuk menjaga hubungan yang sukses,
meningkatkan hubungan dikedua belah pihak, mempertimbangkan efektifitas
saluran komunikasi dengan pemasok dan melihat apakah persepsi yang berbeda
memberi dampak positif atau tidak bagi perusahaan dan pemasok.
2. Kegunaan Akademis
Secara akademis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menunjang
ilmu pengetahuan, maupun sebagai bahan masukan bagi yang tertarik mengkaji
supply chain management khususnya dalam hubungan antara pemasok dan
pembeli.
1.7 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini adalah tentang perbedaan persepsi antara pemasok dan pembeli
dalam hubungan rantai pasok. PT Telekomunikasi Indonesia memiliki berbagai
pemasok di berbagai bidang. Mengingat pasokan untuk bidang telekomunikasi
terdiri dari banyak jenis pasokan dan daya saing yang tinggi, maka penting untuk
TELKOM menjaga hubungan dengan pemasoknya dan melihat apakah terdapat
perbedaan persepsi dengan pemasoknya. Penelitian ini menggunakan sampel yang
terbagi menjadi dua yaitu pembeli dalam kasus ini PT Telekomunikasi Indonesia
dan pemasok dari PT Telekomunikasi Indonesia. Data yang diambil dalam
penelitian ini melalui tahap wawancara langsung dengan pihak pembeli.
1.8 Sistematika Penulisan Tugas Akhir
Sistematika penulisan dibuat untuk mempermudah pembaca dalam memahami
penelitian ini, sehingga penelitian ini membaginya kedalam beberapa bab.
Sistematika penulisan pada penelitian ini adalah:
9
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang gambaran umum objek penelitian, latar belakang
permasalahan, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan
sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUP PENELITIAN
Bab ini berisi uraian mengenai tinjauan pustaka penelitian, teori-teori yang
berkaitan dengan penelitian dan mendukung pemecahan permasalahan, kerangka
pemikiran, dan ruang lingkup penelitian.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini berisi tentang jenis penelitian yang digunakan, operasionalisasi variabel
dan skala pengukuran, tahapan penelitian, populasi dan sampel, pengumpulan data,
uji validitas dan reliabilitas, dan teknik analisis data.
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini akan menjelaskan secara rinci tentang pembahasan dan analisa-analisa yang
dilakukan sehingga akan jelas gambaran permasalahan yang terjadi dan alternatif
pemecahan masalah yang dihadapi.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi kesimpulan akhir dari analisa dan pembahasan pada bab sebelumnya
serta saran-saran yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori-Teori Terkait Penelitian dan Penelitian Terdahulu
2.1.1 Manajemen Operasional
Manajemen operasi telah diakui sebagai faktor penting dalam ekonomi
susatu negara sejak dua abad lalu. Istilah manajemen operasi telah berkembang
sejak saat itu, dimulai dari istilah manufacturing management, kemudian
production management dan yang terkhir kini kita kenal sebagai operations
management. Seiring dengan kemajuan teknologi, manajemen operasi telah
menjadi salah satu kunci dalam keunggulan bersaing sebuah perusahaan.
Dengan mempelajari manajemen operasi akan mendapatkan efisiensi dan
keunggulan dalam biaya, kualitas, waktu dan ketersediaan dari barang atau jasa.
Operasional berasal dari kata operasi, Subagyo (2000:1) dalam bukunya
mengatakan bahwa operasional yaitu kegiatan mengubah bentuk serta
menambah atau menciptakan manfaat baru dari sebuah barang atau jasa.
Terdapat beberapa pengertian mengenai manajemen operasi, Heizer dan
Render (2009:4) mengatakan bahwa Manajemen Operasi adalah serangkaian
aktivitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang maupun jasa dengan
mengubah input menjadi output.
Manajemen operasi juga didefinisikan oleh Porter (2009:7). Menurut Porter,
manajemen operasi merupakan cara organisasi memproduksi atau
menyampaikan barang atau jasa serta menyediakan alasan dari keberadaan
organisasi. Operasi dapat dilihat sebagai satu dari sekian banyak fungsi dalam
organisasi. Fungsi dari operasi dapat dideskripsikan sebagai bagian dari
organisasi yang dikhususkan bagi proses produksi atau penyampaian barang
dan jasa. Hal ini berarti, seluruh organisasi mengambil bagian aktivitas operasi
karena setiap organisasi memproduksi barang dan atau/ jasa.
11
Richard L. Daft (2006:216) menyatakan bahwa manajemen operasional
yaitu bidang manajemen yang memfokuskan pada produksi barang, serta
menggunakan alat dan teknik khusus untuk memecahkan masalah-masalah
produksi. Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen
operasi adalah serangkaian aktivitas produksi baik barang maupun jasa yang
menghasilkan nilai dengan mengubah input menjadi output.
Manajemen Operasi memiliki sepuluh keputusan strategi yaitu sebagai
berikut (Heizer dan Render, 2009):
1. Perancangan barang dan jasa
2. Pengelolaan kualitas
3. Perancangan proses dan kapasitas
4. Pemilihan lokasi
5. Perancangan tata letak
6. SDM dan perancangan pekerjaan
7. Manajemen rantai pasok
8. Persediaan, perencanaan, kebutuhan bahan baku, dan Just In Time (JIT)
9. Penjadwalan
10. Pemeliharaan
2.1.2 Supply Chain Management
Industri telah menyadari bahwa untuk menyediakan produk yang murah,
berkualitas, cepat dan dapat berkompetisi secara global membutuhkan peran
dari semua pihak. Kesadaran akan pentingnya peran dari semua pihak dalam
proses bisnis untuk menciptakan produk baru yang berkualitas tersebut, pada
tahun 1990-an muncul lah sebuah konsep baru dalam manajemen operasi yaitu
Supply Chain Management (SCM).
Menurut Raturi dan Evan (2005:196), rantai pasok adalah jaringan yang
menggambarkan aliran bahan dari pemasok melalui fasilitas yang dapat
12
mrngubah mereka menjadi produk yang berguna dan pada akhirnya pusat
distribusi yang akan membagikan produk-produk tersebut kepada pelanggan.
Menurut Chopra dan Meindl (2013:13), manajemen rantai pasok adalah
seluruh pihak yang terlibat langsung maupun tak langsung, dalam memenuhi
permintaan konsumen. Rantai pasok tidak hanya terdiri dari perusahaan dan
pemasok saja, tapi juga gudang, angkutan, pengecer bahkan konsumen itu
sendiri.
Pengertian lain dari manajemen rantai pasok dikemukakan oleh Hiezer dan
Render (2014:468), manajemen rantai pasok adalah koordinasi dari seluruh
aktivitas rantai pasok, dimulai dari bahan mentah hingga konsumen merasa
puas. Dengan itu, dapat diartikan jika rantai pasok terdiri atas pemasok, pabrik,
distributor, grosir, pengecer dan konsumen akhir atas produk atau jasa yang
diberikan. Tujuan dari rantai pasok adalah untuk mengoordinasikan aktivitas
pada rantai pasok untuk memaksimalkan keuntungan kompetitif rantai pasok
dan keuntungan bagi konsumen.
SCM dapat dikatakan sebagai fungsi yang terintegrasi dan bertanggung
jawab untuk menghubungkan atau mengkoordinasikan fungsi bisnis utama
perusahaan dengan semua bisnis pada rantai pasok untuk memaksimalkan
keuntungan bagi semua yang terlibat dalam rantai pasok.
Salah satu cara dalam mengoptimalkan supply chain adalah dengan
menciptakan alur informasi yang bergerak secara menyeluruh dan efektif
diantara jaringan supply chain , serta pergerakan barang yang efektif dan efisien
dalam optimalisasi kepuasan pengguna akhir. Salah satu cara untuk
meningkatkan efektifitas dan efisiensi pergerakan barang adalah dengan
mengembangkan konsep supplier relationship. Konsep ini menganggap bahwa
hubungan baik yang tercipta akan menimbulkan sebuah supplier partnership
dimana supplier partnership merupakan supplier kunci untuk material tertentu
yang dapat diandalkan dan dapat menjamin lancarnya pergerakan material
13
dalam rantai pasok. Keputusan-keputusan dalam manajemen rantai pasok ada
tiga:
1. Tingkat strategis, dimana suatu keputusan jangka panjang yang
berkaitan dengan lokasi (keadaan geografis sebuah lokasi), produksi
(menentukan produk apa yang akan dibuat, pemasok mana yang akan
digunakan, dimana proses produksinya), persediaan , serta transportasi.
2. Tingkat statis, yakni suatu keputusan jangka menengah untuk
memperkirakan seberapa besar kebutuhan mingguan, bulanan,
pembuatan MRP, rencana distribusi dan transportasi, serta rencana
produksi.
3. Tingkat operasional, dimana suatu keputusan mengenai aktifitas
operasional sehari-hari dari rantai pasok.
Menurut Raturi dan Evan(2005:217), manajemen rantai pasok yang efektif
terdiri dari beberapa bagian kegiatan, diantaranya :
1. Management purchasing and supplier relationships, kegiatan ini meliputi
pemilihan pemasok dan pembelian barang-barang.
2. Order management, kegiatan ini meliputi pemasaran, pengaturan barang,
penentuan harga produk, membuat, mengembangkan dan mengelola
database untuk konsumen, serta aktivitas yang ada didalamnya.
3. Warehouse and inventory management, kegiatan ini meliputi beberapa
aktivitas pergunangan seperti, pengambilan dan pembungkusan produk,
pembuatan kemasan dan label, serta menyiapkan barang yang akan
dikirimkan.
4. Transportation and distribution, meliputi kegiatan yang berkaitan dengan
pemilihan metode transportasi, mengatur kegiatan eksport dan import, dan
kegiatan penjadwalan.
5. Information management, kegiatan ini meliputi aktivitas pengaturan
infrastruktur IT yang mendukung kegiatan rantai pasok.
14
2.1.3 Hubungan antara perusahaan dan konsumen dalam lingkup Supply
Chain Management
Pemikiran baru mengenai lingkup manajemen pada abad 20 yaitu pemikiran
bahwa perusahaan bersaing bukan sebagai individu, melainkan sebagai
kesatuan jaringan bisnis. Dahulu perusahaan hanya mengatur kegiatan
operasinya saja dan sedikit memberikan perhatian kepada pemasoknya.
Namun, perubahan paradigma persaingan mengharuskan perusahaan untuk
memberikan perhatian lebih kepada partner bisnisnya, yaitu supplier,
distributor, wholeseller, dan semua pihak yang terlibat dalam aktivitas supply
chain di perusahaan.
(Zeithaml dan Bitner, 2004:157) mengatakan telah terjadi pergeseran dalam
pemasaran dari transaksional menjadi hubungan yang focus. Pelanggan
menjadi mitra dan perusahaan harus membuat komitmen jangka panjang untuk
mengelola hubungan dalam kualitas, pelayanan dan inovasi.
Hubungan antara perusahaan dengan konsumen yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah hubungan antara perusahaan pembeli dengan pihak
supplier yang berperan sebagai konsumen. Khususnya hubungan kerjasama
yang sifatnya jangka panjang. Dalam beberapa penelitian membuktikan bahwa
hubungan jangka panjang menghasilkan banyak keuntungan serta nilai lebih
dibandingkan hubungan yang bersifat jangka pendek. Hal ini mendukung
asumsi yang menyatakan lebih murah menjaga pelanggan yang sudah ada
dibandingkan dengan mencari pelanggan baru.
Hubungan kerjasama ini memiliki keuntungan baik bagi perusahaan
maupun bagi supplier. Ketika perusahaan memberikan nilai lebih kepada
supplier dalam hal kualitas, kepuasan, dan keuntungan lainnya secara
konsisten, maka supplier akan terus melanjutkan hubungan kerjasama tersebut.
Sedangkan bagi perusahaan, keuntungan dapat berupa peningkatan kualitas.
Keuntungan lainnya berasal dari berbagai sumber termasuk meningkatkan
15