RESUME MODUL 2 (PERTANIAN DAN INDUSTRIALISASI DI INDONESIA)
Kegiatan Belajar 1
PERTANIAN INDONESIA
A. Perkembangan Pertanian Indonesia
Dinamika perkembangan pertanian Indonesia menunjukkan kecenderungan yang cukup
memprihatinkan. Dalam kurun waktu tahun 2001-2003 sebanyak 610.596 ha sawah (termasuk yang
produktif) berganti menjadi kawasan pemukiman dan kegiatan lain. Meski lahan pertanian menyempit,
jumlah petani justru meningkat dari 20,8 juta (tahun 1993) menjadi 25,4 juta (sensus pertanian 2003).
Secara garis besar fase-fase penting perkembangan kondisi, sistem, dan struktur pertanian Indonesia
adalah sebagai berikut:
1. Struktur pertanian Indonesia tidak lepas dari bentukan proses kolonialisme bangsa asing yang
berlangsung sangat lama. Struktur pertanian yang menempatkan mayoritas petani kecil tetap miskin
di lapis paling bawah disubordinasi oleh pelaku ekonomi besar pun merupakan warisan sistem dan
struktur ekonomi kolonial. Pasca kemerdekaan belum terjadi reformasi sosial yang mampu
mengubah pola hubungan ekonomi yang timpang tersebut. Petani dan pertanian rakyat kita begitu
terpuruk pasca monopoli kongsi dagang VOC yang kemudian makin dihisap lagi setelah pemerintah
kolonial menerapkan sistem tanam paksa (culture stelsel). Petani dipaksa menanam komoditi yang
dibutuhkan pasaran Eropa.
2. Sistem kapitalis liberal yang berlaku sesudahnya pun hanya menjadikan Indonesia sebagai
ondernaming besar sekaligus sumber buruh murah bagi perusahaan-perusahaan swasta Belanda.
Perkebunan-perkebunan besar mereka kuasai dan lagi-lagi produksinya ditujukan untuk memenuhi
pasar luar negeri. Pertanian rakyat tetap saja diperas dan makin kehilangan dayanya untuk
memenuhi kebutuhan hidup dan memakmurkan petani.
3. Reformasi agraria melalui UU Pokok Agraria 1960 yang mengatur redistribusi tanah dan UU
Perjanjian bagi Hasil (1964) yang mengubah pola bagi hasil untuk mengoreksi struktur pertanian
kolonial justru makin kehilangan vitalitasnya, terlebih di era Orde Baru yang berorientasi mengejar
pertumbuhan ekonomi tinggi (dan menganut developmentalisme).
4. Revolusi Hijau yang mengimbas ke Indonesia ditandai dengan pengunaan bibit bibit baru dan
teknologi (biologis dan kimiawi) pemberantasan hama dari luar negeri Indonesia memang mampu
melakukan swasembada beras pada tahun 1984. Namun, revolusi hijau ternyata lebih
menguntungkan petani bertanah luas. Produksi naik, tetapi pendapatan turun akibat mahalnya input
pertanian, misalnya pupuk. Term of Trade petani pun turun dan distribusi pendapatan makin
timpang.
5. Liberalisasi pertanian yang disyaratkan IMF dan WTO kini ditandai oleh bebas masuknya produk
produk pertanian (pangan) seperti beras, gula, daging, ayam, jagung, dan buah buahan yang
memukul petani dalam negeri. Liberalisasi ini menguntungkan korporat besar yang menguasai input
pertanian (benih, pupuk, dan obat obatan) dan perdagangan (pasar) internasional. Kesejahteraan
petani dalam negeri tidak meningkat secara signifikan.
B. Masalah Struktural Pertanian Indonesia
Prof Mubyarto pada tahun 1989 sudah menguraikan berbagai persoalan mendasar ekonomi pertanian
di Indonesia, di antaranya adalah:
1. Jarak Waktu yang Lebar antara Pengeluaran dan Penerimaan Pendapatan dalam Pertanian
Pendapatan petani hanya diterima setiap musim panen, sedangkan pengeluaran harus diadakan
setiap hari, setiap minggu, atau bahkan kadang-kadang dalam waktu yang sangat mendesak sebelum
panen. Pada musim panen (dalam keadaan pasar yang normal) terdapat harga yang rendah dan pada
musim paceklik harganya tinggi. Karena itu petani dua kali terpukul, pertama harga produksinya
rendah dan kedua petani harus menjual lebih banyak untuk mencapai keperluannya. Yang sering
merugikan petani adalah pengeluaran pengeluaran yang kadang-kadang tidak dapat diatur dan tidak
dapat ditunggu sampai panen tiba. Dalam hal demikian petani sering menjual tanamannya pada saat
masih hijau di sawah baik dengan harga penuh atau berupa pinjaman sebagian (dikenal dengan
sistem ijon).
2. Pembiayaan Pertanian
Dengan titik tolak adanya kemelaratan yang luas di kalangan petani, keterlibatan mereka pada
utang, baik utang biasa maupun dengan sistem ijon, maka sering dapat disimpulkan bahwa
persoalan yang paling sulit dalam ekonomi pertanian Indonesia adalah persoalan pembiayaan
pertanian. Jatuhnya petani dalam sistem ijon karena tidak adanya kredit alternatif kredit yang lebih
baik bagi petani, padahal mereka memerlukan kredit murah agar mampu meningkatkan produksi
dan pendapatannya.
3. Tekanan Penduduk
Persoalan penduduk di Indonesia begitu kompleks yaitu tidak hanya penduduk sangat padat dan
pertambahan tiap tahun yang tinggi, tetapi juga persebarannya yang tidak merata antardaerah.
Adanya persoalan penduduk dalam konteks ekonomi pertanian dapat dilihat dari tanda tanda bahwa:
a. persediaan tanah pertanian yang makin kecil,
b. produksi bahan makanan per jiwa yang terus menurun,
c. bertambahnya pengangguran,
d. memburuknya hubungan hubungan pemilik tanah dan bertambahnya utang-utang pertanian.
Dengan demikian, masalah penduduk tidak lagi semata mata merupakan perbandingan jumlah
kelahiran dan produksi makanan, persebaran (geografi sosial), demografi (KB) atau masalah
kesehatan dan gizi, melainkan gabungan keseluruhan persoalan kehidupan petani sehari-hari.
4. Pertanian Subsistem
Pertanian subsistem diartikan sebagai suatu sistem bertani di mana tujuan utama dari si petani
adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beserta keluarganya. Produksi subsistem murni
ditandai tidak adanya aspek-aspek komersial dan penggunaan uang. Hubungan antara usaha tani
dan rumah tangga petani sangatlah erat, kegiatan produksi menyatu dengan kegiatan konsumsi.
Dalam konteks pertanian Indonesia, berbagai aspek internal-eksternal yang menjadi faktor
penyebab (langsung dan tidak langsung) kerawanan pangan di Indonesia di antaranya adalah:
a. Tanah tandus dan bencana alam yang menurunkan produktivitas dan menghancurkan tanaman
pangan.
b. Terbatasnya sumber-sumber pendanaan yang dapat diakses petani secara mudah, murah, dan terarah
kepada petani kecil (miskin).
c. Banyaknya utang negeri yang membebani anggaran negara dan penuh persyaratan (misalnya harus
melakukan liberalisasi impor), sehingga membatasi kemampuan negara dalam mengembangkan
komoditas pangan.
d. Pengabaian peran perempuan sebagai pelaku sektor pertanian yang produktif.
e. Konflik kepentingan dalam penguasaan dan penggunaan lahan yang sering berakhir dengan
penggusuran lahan pertanian pangan berganti bisnis lain.
f. Perubahan iklim akibat pemanasan global yang disebabkan industrialisasi yang tidak berwawasan
(bahkan merusak) konservasi sumber daya alam.
g. Pertambahan jumlah penduduk yang makin pesat, yang diikuti dengan makin mengecilnya luas
pemilikan lahan karena konversi (misal perumahan).
h. Merosotnya ketersediaan air untuk usaha pertanian dengan makin tumbuhnya bisnis-bisnis baru,
termasuk usaha air minum, yang berdekatan dengan areal tanaman pangan.
i. Tidak dikembangkannya diversifikasi pangan secara serius padahal potensi biodiversifikasi
Indonesia sangatlah luar biasa.
j. Pemangkasan dana kesehatan yang meningkatkan pengeluaran petani kecil sehingga berpotensi
memperburuk kondisi gizi pangan mereka.
C. Kebijakan-kebijakan Pembangunan Pertanian
Peranan pemerintah dalam pembangunan pertanian Indonesia adalah berupa pembuatan kebijakan-
kebijakan yang ditujukan untuk memperbaiki kesejahteraan petani. Meskipun kadang kebijakan yang
dibuat pemerintah pun dapat merugikan bahkan memperburuk kesejahteraan petani. Bidang-bidang
kebijakan pertanian yang spesifik meliputi kebijakan harga, kebijakan pemasaran, dan kebijakan
struktural. Bidang kebijakan yang lebih khusus lainnya menyangkut pengaturan-pengaturan
kelembagaan baik yang langsung terdapat di sektor pertanian maupun di sektor-sektor lain yang ada
hubungannya dengan sektor pertanian, misalnya landreform, penyuluhan pertanian, dan lain lain
(Mubyarto, 1989).
1. Kebijakan Harga: Kebijakan Pangan Murah
Secara teoretis kebijakan harga dapat dipakai mencapai tiga tujuan, yaitu:
a. Stabilisasi harga-harga hasil pertanian terutama pada tingkat petani,
b. Meningkatkan pendapatan petani melalui perbaikan dasar tukar (term of trade),
c. Memberikan arah dan petunjuk pada jumlah produksi.