SKRIPSI
HUBUNGAN HIPERTENSI DENGAN STROKE PADA PASIEN
USIA PRODUKTIF DI RUANG RAWAT INAP
RSUD Dr. M. YUNUS BENGKULU
OLEH :
SARINA HARAPAN
NPM. 0426010012
JURUSAN KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
TRI MANDIRI SAKTI
BENGKULU
2008
HALAMAN PERSETUJUAN
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Keperawatan ([Link])
Oleh :
SARINA HARAPAN
NPM. 0426010012
Bengkulu, Agustus 2008
Menyetujui
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. S. Effendi, MS Ns. Dodi Irawan, S. Kep
Mengesahkan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES)
Tri Mandiri Sakti Bengkulu
Ketua,
( Drs. Buyung Keraman, M. Kes )
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Dipertahankan di depan Dewan Penguji Skripsi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES)
Tri Mandiri Sakti Bengkulu dan diterima untuk memenuhi sebagai syarat
guna memperoleh gelar Sarjana Keperawatan (S. Kep)
pada tanggal : 4 Agustus 2008.
DEWAN PENGUJI :
1. Drs. S. Effendi, MS (Ketua) (..................................)
2. Ns. Dodi Irawan, S. Kep (Anggota) (..................................)
3. Drs. Buyung Keraman, [Link] (Anggota) (..................................)
4. dr. Zulman Zuri (Anggota) (..................................)
Mengesahkan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES)
Tri Mandiri Sakti Bengkulu
Ketua,
( Drs. Buyung Keraman, M. Kes )
iii
Motto dan Persembahan
Motto :
Tidak akan ada kebenaran bila tidak ada kesalahan dan tidak ada
kesuksesan bila tidak ada kegagalan, maka janganlah pernah takut
salah dan gagal serta jadikanlah kesalahan dan kegagalan itu sebagai
pelajaran untuk menentukan langka yang lebih baik di masa yang
akan datang.
Manfaatkanlah kesempatan sebaik mungkin, karena kesempatan itu
hanya datang sekali. Dan ketika gagal yakinlah itu hanyalah sebuah
kesuksesan yang tertunda dan di saat keberhasilan yang kita raih maka
bersyukurlah kepada-Nya atas apa yang kita peroleh.
Mengetahui kekurangan diri adalah tangga untuk mencapai cita-cita,
berusahalah untuk mengisi kekurangan tersebut dan ini adalah
kebenaran yang luar biasa.
Hidup adalah perjuangan untuk itu berjuanglah dengan segenap
kemampuanmu dengan penuh keikhlasan dan kesabaran serta berserah
dirilah kepada-Nya.
Persembahan :
Dengan segenap hati, cinta dan kasih sayang, skripsi ini kupersembahkan
kepada :
Teruntuk Ayahanda (Sudarman) dan Ibundaku (Kasiam)
tersayang yang selama ini telah memberikan kasih sayang,
do’a, serta dorongan baik moril, materil dan spiritual sehingga
aku dapat menyelesaikan pendidikan S1 keperawatan.
Buat Kakandaku Ayundaku dan Iparku, yang telah banyak
membantu, terima kasih atas motivasi serta ikut mendo’akanku
dalam meraih cita-cita.
Semua dosen yang telah mendidikku, serta membimbingku dan
membantu, makasih Pak Witri, Ibu Neni, Ibu Dian, Ibu Yani.
Spesial buat dosen pembimbingku Pak Drs. S. Effendi, MS dan
Pak Ns. Dodi Irawan, [Link], terima kasih.
Buat keponakanku (Herdo, Herda, Tawan, M. Kholqi, Nadhifa,
Alyadia Syafitri, Mifta) yang selalu membuat aku rindu dan
tersenyum.
iv
Sahabat-sahabatku seperjuangan yang selalu menemani dan
memberikan motivasi dalam tangis dan tawaku, dan
membantuku, camp soulmate : The Chi, Henny, Ciox’s, Titin,
Ijut, Novi, Icha, Ribo, Juni.
Seluruh teman-teman angkatan tahun 2004.
Almamaterku.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat
dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Hubungan
Hipertensi Dengan Stroke Pada Pasien Usia Produktif di Ruang Rawat Inap
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2007”
Skripsi ini merupakan salah satu persyaratan yang harus ditempuh oleh
mahasiswa yang akan menyelesaikan jenjang Sarjana Keperawatan di STIKES Tri
Mandiri Sakti Bengkulu.
Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan
terima kasih kepada :
1. Bapak Drs. S. Effendi, MS selaku Ketua Yayasan Tri Mandiri Sakti Bengkulu
dan selaku Pembimbing I yang telah memberikan bantuan, bimbingan, serta
pengarahan dengan penuh perhatian, kesabaran berhubungan dengan penulisan
skripsi ini.
2. Bapak Drs. Buyung Keraman, M. Kes selaku Ketua STIKES Tri Mandiri Sakti
Bengkulu.
v
3. Bapak Ns. Dodi Irawan, S. Kep selaku pembimbing II yang telah memberikan
bantuan, bimbingan, serta pengarahan dengan penuh perhatian, kesabaran
berhubungan dengan penulisan skripsi ini
4. Teman-teman STIKES Tri Mandiri Bengkulu yang telah mendorong dan
membantu penulis dalam mengambil data.
5. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang
tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Seiring harapan dan doa penulis, semoga semua bantuan dan dukungan yang
telah diberikan baik moril, materil, dan spirituil dapat menjadi pahala yang berlipat
dari Allah SWT.
Penulis menyadari kelemahan pada diri sendiri bahwa dalam penulisan skripsi
ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena ini penulis membuka diri dengan
segala kerendahan hati terhadap kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan penulisan skripsi ini. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat
memberikan manfaat bagi kita semua.
Bengkulu, Agustus 2008
Penulis
vi
ABSTRAK
Sarina Harapan (2008). Hubungan Hipertensi dengan Stroke pada Pasien Usia
Produktif di Ruang Rawat Inap RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
Pembimbing I : Drs. S. Effendi, MS dan Pembimbing II : Ns. Dodi Irawan, [Link]
Jumlah penderita hipertensi dan stroke di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
yang diperoleh dari rekam medik tahun 2006 dan tahun 2007, penderita hipertensi
tahun 2006 sebanyak 125 orang dan penderita stroke sebanyak 287 orang, sedangkan
pada tahun 2007 penderita hipertensi sebanyak 189 dan penderita stroke sebanyak
338 orang. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan antara hipertensi
dengan stroke pada pasien usia produktif di ruang rawat inap RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu.
Ada dua variabel utama dalam penelitian ini, yaitu hipertensi sebagai variabel
yang mempengaruhi (independent) dan stroke sebagai variabel yang dipengaruhi
(dependent). Penelitian ini dilakukan dengan cross sectional menggunakan analisa uji
chi-square (continuity correction), dan uji contingency coefficient dan OR.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan dari hasil tabulasi silang
antara hipertensi dengan stroke pada pasien usia produktif di ruang rawat inap RSUD
Dr. M. Yunus Bengkulu. Ternyata dari 71 pasien hipertensi terdapat 42 pasien stroke
hemoragik, dan 29 pasien stroke iskemik dan dari 58 pasien tidak hipertensi terdapat
15 pasien stroke hemoragik dan 43 pasien stroke iskemik, karena semua sel frekuensi
nilainya > 5, maka digunakan uji chi-square (continuity correction), sehingga
hasilnya terdapat perbedaan kejadian stroke hemoragik dan iskemik antara pasien
hipertensi dan pasien tidak hipertensi. Artinya ada hubungan yang signifikan antara
hipertensi dengan stroke pada pasien usia produktif di RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu.
vii
ABSTRACT
Sarina Harapan (2008). The Relation Of Hypertension with Stroke at Productive Age
Patient in Takes Care of Lodging Room RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
Counsellor I : Drs. S. Effendi, MS and Counsellor II : Ns. Dodi Irawan, [Link]
Number of hypertension patients and stroke in RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
obtained from medical record the year 2006 and the year 2007, hypertension patient
the year 2006 125 patient and stroke 287, while in the year 2007 hypertension
patients 189 and patient stroke 338. This research aim to find relation between
hypertension with stroke at productive age patient in takes care of lodging room
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
There is two main variables in this research, that is hypertension as
influencing variable (independent) and stroke as variable influenced (dependent).
This research done with cross sectional to apply test analysis chi-square (continuity
correction), and test contingency coefficient and OR.
Based on result of inferential research from tabulation result traversed
between hypertensions with stroke at productive age patient in takes care of lodging
room RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. Simply out of 71 hypertension patients there
are 42 patients stroke hemorrhagic, and 29 patients stroke ischemic and out of 58
patients is not hypertension there are 15 patients stroke hemorrhagic and 43 patients
stroke ischemic, because all its value frequency cells > 5, hence applied by test chi-
square ( continuity correction), so result of his(its there is case difference of stroke
hemorrhagic and ischemic between hypertension patients and patient is not
hypertension. Mean there is relationship signifikan between hypertensions with stroke
at productive age patient in RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
viii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL............................................................................................. i
HALAMAN PERSETUJUAN............................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................... iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN.................................................... iv
KATA PENGANTAR............................................................................................ v
ABSTRAK............................................................................................................. vii
ABSTRACT........................................................................................................... viii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL.................................................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR............................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................... xiv
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah........................................................................ 6
1.3. Tujuan Penelitian......................................................................... 6
1.3.1. Tujuan Umum................................................................... 6
1.3.2. Tujuan Khusus.................................................................. 6
1.4. Manfaat Penelitian........................................................................ 7
1.4.1. Bagi Mahasiswa................................................................ 7
1.4.2. Bagi Tempat Penelitian..................................................... 7
1.4.3. Bagi Institusi Pendidikan.................................................. 8
ix
BAB II TINJAUAN TEORITIS
2.1. Hipertensi.................................................................................... 8
2.1.1. Definisi Hipertensi............................................................ 8
2.1.2. Klasifikasi Hipertensi....................................................... 9
2.1.3. Etiologi Hipertensi............................................................ 12
2.1.4. Patofisiologi Hipertensi.................................................... 15
2.1.5. Pengaruh Hipertensi Pada Organ Target.......................... 17
2.1.6. Manifestasi Klinis............................................................. 18
2.1.7. Penatalaksanaan................................................................ 19
2.1.8. Proses Keperawatan.......................................................... 19
2.2. Stroke.......................................................................................... 27
2.2.1. Pengertian........................................................................ 27
2.2.2. Anatomi Fisiologi............................................................ 28
2.2.3. Bagian-Bagian Otak......................................................... 28
2.2.4. Suplai Darah Otak............................................................ 31
2.2.5. Klasifikasi Stroke............................................................. 34
2.2.6. Etiologi............................................................................ 38
2.2.7. Tanda dan Gejala............................................................. 38
2.2.8. Patofisiologi..................................................................... 39
2.2.9. Manifestasi Klinis............................................................ 40
2.2.10. Terapi Khusus Stroke...................................................... 42
2.2.11. Penatalaksanaan Stroke................................................... 42
x
2.2.12. Pencegahan ..................................................................... 44
2.2.13. Proses Keperawatan......................................................... 44
2.3. Usia Produktif............................................................................. 52
2.3.1. Pengertian Umur/Usia...................................................... 52
2.3.2. Lifestyle, Pencetus Stroke Usia Produktif........................ 53
2.4. Hubungan Hipertensi dengan Stroke pada Pasien Tingkat Usia
Produktif...................................................................................... 53
2.5. Kerangka Konsep........................................................................ 55
2.6. Definisi Operasional.................................................................... 55
2.7. Hipotesis...................................................................................... 56
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Tempat, Waktu dan Objek Penelitian......................................... 57
3.2. Desain Penelitian......................................................................... 57
3.3. Populasi dan Sampel................................................................... 57
3.3.1. Populasi............................................................................ 57
3.3.2. Sampel..............................................................................58
3.4. Teknik Pengumpulan Data.......................................................... 58
3.5. Teknik Pengelolaan Data............................................................ 58
3.5.1. Analisa Univariat.............................................................. 58
3.5.2. Analisa Bivariat................................................................ 58
xi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian........................................................................... 60
4.1.1. Analisis Univariat.............................................................. 60
4.1.2. Analisis Bivariat................................................................ 61
4.2. Pembahasan................................................................................. 64
4.2.1. Hubungan Hipertensi dengan Stroke pada Pasien Usia
Produktif............................................................................ 63
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan................................................................................. 68
5.2. Saran ........................................................................................... 68
5.2.1. Bagi Petugas Kesehatan ................................................... 68
5.2.2. Bagi Peneliti...................................................................... 69
5.2.3. Bagi Akademik................................................................. 69
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut WHO......................................... 10
Tabel 2. Ukuran Tekanan Darah Normal Berdasarkan Usia............................. 10
Tabel 3. Defisit Neurologik Akibat Stroke....................................................... 41
Tabel 4. Definisi Operasional Variabel Independent dan Dependent............... 55
Tabel 4.1. Gambaran hipertensi pada pasien usia produktif................................ 60
Tabel 4.2. Gambaran tentang terjadinya stroke pada pasien usia produktif........ 61
Tabel 4.3. Tabulasi silang antara hipertensi dengan terjadinya stroke pada
pasien usia produktif di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu ................... 62
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Konsep.............................................................................. 55
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Jadwal Kegiatan
Lampiran 2. Format Pengumpulan Data
Lampiran 3. Surat Permohonan Izin Pra Penelitian
Lampiran 4. Surat Permohonan Izin dan Rekomendasi Penelitian Skripsi dari
STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu
Lampiran 5. Rekomendasi dari Badan Kesbanglinmas Propinsi Bengkulu
Lampiran 6. Surat Permohonan Izin Penelitian di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
Lampiran 7. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian
Lampiran 8. Hasil Analisis Data
Lampiran 9. Berita Acara Bimbingan Skripsi
xv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Angka kejadian hipertensi diperkirakan berkisar antara 15-25% populasi
penduduk dunia (WHO, 1999). Prevalensi hipertensi di beberapa negara maju
yakni Jepang 15-72%, Cina 5-10%, Australia 19,1%, Jerman 19,3%, Amerika
Serikat 10-15%, Taipe 6,2% dan Indonesia 25,8%. Dari uraian di atas dapat
dilihat bahwa prevalensi Indonesia masih sangat tinggi dan menduduki tingkat
pertama dari 6 negara (Boedhi Darmojo, 2001).
Menurut WHO, stroke merupakan tanda-tanda khas mengenai gangguan
fungsi serebral secara fokal/global yang berkembang dengan cepat, dan gejala
yang berlangsung selama 24 jam/lebih atau pengaruh kematian tanpa penyebab
yang kelihatan, dengan tanda-tanda yang berkenaan dengan aliran darah ke
otak.
Stroke merupakan masalah neurologik primer di dunia, insiden stroke 0,5
sampai 1,0 per 1000 orang. Meskipun pencegahan telah dilakukan dan dapat
menurunkan insiden dalam beberapa tahun terakhir. Namun stroke menjadi
peringkat ke-3 penyebab kematian dengan laju mortalitas 18% sampai 37% untuk
stroke pertama dan 62% untuk stroke selanjutnya (Smeltzer, SC dan Bare B.G,
2002).
1
2
Stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya
suplai darah ke bagian otak, sering terjadi akibat akumulasi penyakit
serebrovaskuler selama beberapa tahun (Smeltzer, SC dan Bare B.G, 2002).
Stroke merupakan masalah serius karena dapat menyebabkan kematian,
kecacatan, dan biaya yang dikeluarkan sangat besar, karena itu perlu usaha
pencegahan. Salah satu faktor risiko yang penting untuk terjadi stroke adalah
hipertensi, oleh karena itu dengan mengendalikan tekanan darah, angka kejadian
stroke dapat diturunkan.
Stroke menduduki urutan ketiga penyebab kematian setelah penyakit
jantung dan kanker, stroke masih merupakan penyebab utama dari kecacatan.
Data dari NHIBS Farmingham Heart Study, di Amerika Serikat diperkirakan
terdapat 600.000 orang yang terdiri 500.000 orang penderita stroke baru dan
100.000 orang penderita stroke ulang (Tjipto Haryono).
Di Indonesia, belum ada data epidemiologi stroke yang lengkap, tetapi
proporsi penderita stroke dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Hal ini
terlihat dari laporan survei kesehatan rumah tangga Depkes RI di berbagai rumah
sakit di 27 Propinsi di Indonesia. Hasil survei itu menunjukkan terjadinya
peningkatan antara 1984 sampai 1986 dari 0,72 per 100 penderita pada 1984
menjadi 0,89 per 100 penderita pada tahun 1986. di RSU Banyumas pada tahun
1997 pasien stroke yang rawat inap sebanyak 25 orang, pada tahun 1998
sebanyak 798 orang, pada tahun 1999 sebanyak 393 orang dan pada tahun 2000
sebanyak 459 orang (Tjipto Haryono, 2007).
3
Pembangunan nasional merupakan kegiatan dalam upaya pembangunan
yang berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat,
untuk melaksanakan pembangunan nasional yang bercita-cita membangun
Indonesia seluruhnya, maka sudah sepantasnya jika kita berusaha meningkatkan
taraf hidup masyarakat dengan jalan meningkatkan taraf kesehatan manusia
(Depkes RI, 2003).
Tujuan pembangunan nasional salah satunya diinvestasikan dalam
pembangunan bidang kesehatan melalui visi Indonesia Sehat 2010, dimana
masyarakat memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat sehingga
akan terwujud kesehatan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai
penduduk yang hidup dalam lingkungan yang sehat dan perilaku yang sehat pula
(Dinkes Bengkulu, 2005).
Ada beberapa penyakit kronik yang pada saat ini menjadi permasalahan
kesehatan yang serius, misalnya penyakit jantung, penyakit hipertensi, penyakit
stroke, penyakit ginjal kronik, akhir-akhir ini insiden dan prevalensinya semakin
meningkat dan sudah merupakan masalah kesehatan, baik di negara berkembang
maupun di negara maju (Dinkes Bengkulu, 2005).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang berkepanjangan di atas
tingkatan normal yang dapat diterima tekanan darah sistolik (TDS) 140 mmHg
dan tekanan darah diastolik (TDD) 90 mmHg, dan (Ni Made Swantani, 2000).
Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang paling penting karena
angka prevalensi yang tinggi dan akibat jangka panjang yang ditimbulkan.
Hipertensi merupakan penyebab utama dari kematian dan gangguan
4
kardiovaskuler. Sekitar 50% penderita hipertensi yang tidak menyadari adanya
hipertensi tersebut, sehingga penderita yang dapat diobati dan hipertensinya
terkendalikan dengan baik hanya sekitar 10%-12%.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab meningkatnya
risiko penyakit stroke. Pada abad 20, penyakit pembuluh darah menjadi penyebab
utama kematian di negara maju dan negara berkembang. Berdasarkan Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, kematian akibat jantung dan
pembuluh darah di Indonesia sebesar 26,3%, sedangkan data kematian di rumah
sakit tahun 2005 sebesar 16,7%. Faktor risiko utama penyakit jantung dan
pembuluh darah adalah hipertensi di samping hiperkolesterollemia dan diabetes
mellitus. Menteri Kesehatan RI Dr. dr. Siti Fadilah Supari, SpJp(K) menyatakan,
prevalensi hipertensi di Indonesia pada daerah urban dan rural berkisar antara 17-
21%. Data secara nasional yang ada belum lengkap. Sebagian besar penderita
hipertensi di Indonesia telah terdeteksi, sementara mereka yang mendeteksi
umumnya tidak menyadari kondisi penyakitnya.
Angka prevalensi penyakit hipertensi di Provinsi Bengkulu yang didapat
dari Profil Kesehatan pada tahun 2005 sebanyak 19.798 orang, tahun 2006
sebanyak 13.476 orang, tahun 2007 sebanyak 14.790 orang dari 100 ribu
penduduk yang rata-rata penderita hipertensi terbanyak adalah di RSUD Dr. M.
Yunus Bengkulu (Dinkes Provinsi Bengkulu).
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M. Yunus Bengkulu merupakan unit
pelayanan kesehatan yang bersifat integratif dan komperatif yang sangat berperan
5
besar di Bengkulu adalah rumah sakit pemerintah daerah dengan klasifikasi B
non pendidikan berdasarkan SK Menkes RI no. 1065/Kes/SK/1992 dan diperkuat
dengan Perda no. 4 Tahun 1993, RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu menjadi rumah
sakit umum swadana daerah berdasarkan Kep Mendagri No. 445.28.366 tanggal
10 Juli 1995. RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu resmi menjadi rumah sakit umum
swadana daerah yang diperkuat dengan Perda No. 655 Tahun 1995 tanggal 13
Desember 1995. Kemudian berdasarkan Perda No. 7 tahun 2002 tentang
organisasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu dinyatakan bahwa RSUD Dr. M.
Yunus Bengkulu merupakan lembaga teknis daerah yang berbentuk badan.
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu sebagai rumah sakit milik pemerintah
daerah dengan status rumah sakit swadana daerah, menyelenggarakan upaya
pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan menggunakan dana atau modal
sendiri, sehingga RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu harus mampu untuk mengelola
keuangannya sendiri. Namun dalam pengelolaannya juga tidak mengabaikan misi
dan visi sosialnya sebagai rumah sakit. Dengan status RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu tersebut maka diharapkan tingkat kemandirian rumah sakit akan
semakin meningkat seiring dengan semakin meningkatnya mutu pelayanan yang
diberikan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari rekam medik tahun 2006 RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu didapat data penderita hipertensi sebanyak 125 orang dan
penderita stroke sebanyak 287 orang, sedangkan pada tahun 2007 diperoleh data
penderita hipertensi sebanyak 189 orang dan penderita stroke sebanyak 338
6
orang. Ini berarti terjadi peningkatan penderita hipertensi dan stroke dari tahun
2006 sampai 2007.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penulis tertarik untuk
mengadakan penelitian guna mengetahui hubungan antara hipertensi dan stroke
di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
1.2. Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan stroke
pada pasien usia produktif di ruang rawat inap RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mempelajari hubungan hipertensi dengan stroke pada pasien usia
produktif di ruang rawat inap RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara hipertensi dengan stroke di
ruang rawat inap RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
2. Mengetahui apakah tidak ada hubungan antara hipertensi dengan stroke di
ruang rawat inap RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
3. Untuk mengetahui hubungan antara hipertensi dengan stroke pada pasien
usia produktif di ruang rawat inap RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
7
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Mahasiswa
Untuk meningkatkan wawasan mengenal langkah-langkah dalam
pelaksanaan penelitian, menambah pengalaman serta pengetahuan tentang
hubungan hipertensi dengan stroke pada pasien usia produktif di ruang rawat
inap RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
1.4.2. Bagi Tempat Penelitian
Memberikan masukan kepada bidang keperawatan umumnya dan para
tenaga perawat RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu khususnya. Dalam
memberikan asuhan keperawatan hipertensi dengan stroke pada pasien usia
produktif.
1.4.3. Bagi Institusi Pendidikan
Menambah bacaan ilmiah atau literatur tentang hubungan hipertensi
dengan stroke pada pasien usia produktif di STIKES Tri Mandiri Sakti (TMS)
Bengkulu dan merupakan bahan dasar untuk penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Hipertensi
2.1.1. Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang berkepanjangan di
atas tingkatan normal yang dapat diterima tekanan darah sistolik (TDS) 140
mmHg dan tekanan darah diastolik (TDD) 90 mmHg (Ni Made Swantani,
2000).
Hipertensi merupakan suatu kelainan yang ditandai dengan
peningkatan resistensi perifer (Sjaifoellah Noer, 1996).
Hipertensi adalah desakkan darah yang berlebihan dan hampir konstan
pada arteri dan tekanan yang dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika
memompa darah (Hull, Alison, 2002).
Tekanan darah yang normal adalah 120/80 (Tekanan sistolik 120
mmHg dan tekanan diastolik 80 mmHg). Namun, nilai tekanan darah tersebut
tidak memiliki nilai yang baku. Hal itu berbeda-beda tergantung pada aktivitas
fisik dan emosi seseorang.
Jadi hipertensi merupakan kelainan yang sulit diketahui oleh tubuh
kita sendiri. Satu-satunya cara untuk mengetahui hipertensi adalah dengan
mengukur tekanan darah kita secara teratur.
8
9
Tekanan darah manusia meliputi tekanan darah sistolik adalah tekanan
darah jantung waktu menguncup dan tekanan darah diastolik adalah tekanan
darah waktu istirahat.
Diketahui 9 dari 10 orang yang menderita hipertensi tidak dapat
diidentifikasi penyebab penyakit. Hipertensi sebenarnya dapat diturunkan dari
orang tua kepada anaknya, jika salah satu orang tua terkena hipertensi, maka
kecenderungan anak untuk menderita hipertensi adalah lebih besar.
Keluhan yang mungkin timbul akibat hipertensi antara lain yaitu :
nyeri di daerah kepala bagian belakang, mimisan, penglihatan yang kabur,
kelemahan pada otot, mual, muntah.
Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan
darah di dalam arteri. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat
meningkatkan risiko penyakit stroke dan jantung.
Tekanan darah juga bisa dipengaruhi oleh faktor bertambahnya usia,
hampir setiap orang mengalami hipertensi, tekanan sistolik terus meningkat
sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60
tahun.
2.1.2. Klasifikasi Hipertensi
Menurut Ni Made Swantani (2000) hipertensi dibedakan berdasarkan
tingginya tekanan darah, derajat kerusakan organ dan etiologinya. Klasifikasi
10
berdasarkan tingginya tekanan darah pada penderita usia 18 tahun ke atas
dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 1.
Klasifikasi Tekanan Darah Menurut WHO
Tekanan Darah Tekanan Darah
Kategori
Sistolik Diastolik
Normal Dibawah 130 mmHg Di bawah 85 mmHg
Normal tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg
Stadium 1 (Hipertensi Ringan) 140-159 mmHg 90-99 mmHg
Stadium 2 (Hipertensi Sedang) 160-179 mmHg 100-109 mmHg
Stadium 3 (Hipertensi Berat) 180-209 mmHg 110-119 mmHg
Stadium 4 (Hipertensi Maligna) 210 mmHg / lebih 120 mmHg / lebih
Tabel 2.
Ukuran Tekanan Darah Normal Berdasarkan Usia
Tekanan Darah
Usia
(mmHg)
Baru lahir 40
1 bulan 85/54
1 tahun 95/65
6 tahun 105/65
10-13 tahun 110/65
14-17 tahun 120/80
18 tahun 120/80
44-65 tahun 130/80
WHO (World Health Organization), memberikan batasan tekanan
darah normal adalah 140/90 mmHg, dan tekanan darah sama atau di atas
160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Batasan ini tidak membedakan
antara usia dan jenis kelamin.
11
NM Kaplan (Bapak Ilmu Penyakit Dalam), memberikan batasan
dengan membedakan usia dan jenis kelamin sebagai berikut :
1. Pria, usia < 45 tahun, dikatakan hipertensi apabila tekanan darah pada
waktu berbaring > 130/90 mmHg.
2. Pria, usia > 45 tahun, dikatakan hipertensi apabila tekanan darahnya >
145/95 mmHg.
3. Pada wanita tekanan darah > 160/95 mmHg, dinyatakan hipertensi.
Ahli penyakit dalam lain, Gordon H. Williams, mengklasifikasikan
hipertensi sebagai berikut :
1. Tensi Sistolik
a. < 140 : Normal
b. 140-159 : Normal tinggi
c. > 159 : Hipertensi sistolik tersendiri
2. Tensi Diastolik
a. < 85 : Normal
b. 85-89 : Normal tinggi
c. 90-104 : Hipertensi ringan
d. 105-114 : Hipertensi sedang
e. > 115 : Hipertensi berat
National Institute of Health, lembaga kesehatan nasional di Amerika
mengklasifikasikan sebagai berikut :
12
1. Tekanan Sistolik
a. < 119 mmHg : Normal
b. 120-139 mmHg : Pra hipertensi
c. 140-159 mmHg : Hipertensi derajat 1
d. > 160 mmHg : Hipertensi derajat 2
2. Tekanan Diastolik
a. < 79 mmHg : Normal
b. 80-89 mmHg : Pra hipertensi
c. 90-99 mmHg : Hipertensi derajat 1
d. > 100 mmHg : Hipertensi derajat 2
([Link]/pdf)
2.1.3. Etiologi Hipertensi
Hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah
faktor volume dan faktor hambatan atau vaskuler.
1. Faktor volume
Corwin (2000) menjelaskan bahwa hipertensi tergantung pada
kecepatan denyut jantung, volume sekuncup dan total peripheral resistensi
(TPR), peningkatan salah satu dari ketiga variabel yang tidak dikompensasi
dapat menyebabkan hipertensi.
Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi akibat
rangsangan abnormal saraf atau hormon nodus SA. Peningkatan kecepatan
13
denyut jantung yang berlangsung kronik sering menyertai keadaan
hipertiroidisme. Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama
dapat terjadi apabila terdapat peningkatan volume plasma yang
berkepanjangan akibat gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal
atau konsumsi garam yang berlebihan. Peningkatan pelepasan rennin atau
aldosteron maupun penurunan aliran darah ke ginjal dapat mengubah
penanganan air dan garam oleh garam dan ginjal. Peningkatan volume
plasma akan menyebabkan peningkatan volume diastolik, sehingga terjadi
peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah.
2. Faktor hambatan atau vaskuler
Ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dengan kebutuhan
energi yang disimpan dalam bentuk lemak (jaringan subkutan tirai usus,
organ vital jantung, paru dan hati) yang menyebabkan jaringan lemak aktif
sehingga beban kerja jantung meningkat. Obesitas juga didefinisikan
sebagai kelebihan berat badan sebesar 20% atau lebih dari berat badan
ideal, obesitas adalah penumpukan jaringan lemak tubuh yang berlebihan.
Pada orang yang mengalami obesitas ini organ-organ tubuhnya dipaksa
untuk bekerja lebih berat, oleh sebab itu pada waktunya lebih cepat gerah
dan mudah lelah akibat obesitas. Para penderita cenderung menderita
penyakit kardiovaskuler ([Link]
Jumlah lemak total yang diperlukan tubuh maksimum 150 mg/dl,
kandungan lemak baik (HDL) optimum 45 mg/dl dan kandungan lemak
14
jahat (LDL) maksimum 130 mg/dl. Lemak baik masih dibutuhkan tubuh,
sedangkan lemak jahat justru merusak organ tubuh.
Makan berlebihan dapat menyebabkan kegemukan. Kegemukan
lebih cepat terjadi dengan pola hidup pasif. Jika makanan yang dimakan
banyak menandung lemak jahat (seperti kolesterol), dapat menyebabkan
penimbunan lemak di sepanjang pembuluh darah. Penyempitan pembuluh
darah ini menyebabkan aliran darah menjadi kurang lancar.
Penyempitan dan subkutan lemak ini memacu jantung untuk
memompa darah lebih kuat lagi, dan adpat memasok kebutuhan darah ke
jaringan. Akibatnya tekanan darah menjadi meningkat, maka terjadilah
hipertensi ([Link]
Terjadinya hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara
lain :
1. Peningkatan darah arteri karena jantung memompa dengan kekuatan lebih
besar karena volume cairan yang lebih banyak setiap detiknya, atau
dinding pembuluh darah yang dilewati lebih kaki sehingga perlu kekuatan
lebih besar untuk melewati tempat yang lebih sempit.
2. Akibat meningkatnya jumlah cairan dalam tubuh karena sebab tertentu
(Depkes RI, 2003).
Berdasarkan etiologi menurut Depkes RI (2003) hipertensi
dikelompokkan dalam 2 kategori besar, yaitu :
15
1. Hipertensi primer (essensial)
Hipertensi primer belum diketahui penyebab dengan jelas berbagai
faktor yang diduga turut berperan sebagai penyebab hipertensi primer.
2. Hipertensi sekunder
Beberapa penyebab dari hipertensi sekunder dapat berupa penyakit
ginjal kelainan endokrin obat-obatan maupun kehamilan.
Faktor risiko hipertensi meliputi genetik, umur, jenis kelamin,
keturunan, makanan yang mengandung lemak dan kolesterol tinggi, garam,
merokok, minuman beralkohol, kopi, obesitas, aktivitas fisik, diabetes
mellitus dan stress (Bary J. Sobel, 1998).
2.1.4. Patofisiologi Hipertensi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan
keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan
abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang
bergerak ke bawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik
ini, neuron preganglion melepaskan asetil kolin yang akan merangsang serabut
saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor
16
seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respons pembuluh
darah terhadap rangsang vasokonstriktor.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang
pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi. Kelenjar adrenal juga
terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Korteks adrenal
mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons
vasokonstriksi pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan
penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan 16nvasi. Renin
merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi
angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang
sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensio
natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume
intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetuskan keadaan
hipertensi.
Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah
meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan
dalam relaksasi otot polos, pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan
kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekwensinya, aorta
dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume
darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup), mengakibatkan
penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Brunner dan
Suddarth, 2002).
17
2.1.5. Pengaruh Hipertensi Pada Organ Target
Peningkatan tekanan darah yang berkepanjangan akan merusak pembuluh
darah yang ada di sebagian besar tubuh seperti otak. Kebutuhan jaringan otak
akan oksigen dapat dilihat dari hasil metabolisme otak. Otak menggunakan kira-
kira 18% dari total konsumsi oksigen oleh tubuh. Otak mengandung kira-kira 7 ml
otak oksigen dengan kecepatan pemakaian normal akan habis kira-kira 10 detik,
oleh karena itu tidaklah heran kalau masa hidup jaringan sistem saraf pusat (SSP)
akan mengalami kekurangan oksigen. Berat otak 2,5% dari berat badan
seluruhnya, namun otak merupakan organ yang paling banyak darah ke jantung
yaitu 20% dari seluruh darah yang mengalir ke tubuh, pengaliran darah ke otak
dilakukan oleh dua pembuluh arteri utama yaitu : sepasang arteri karotis interna
yang mengalir ke sekitar 70% dari keseluruhan jumlah darah otak dan sepasang
arteri vertebralis yang memberikan 30% sisanya. Arteri karotis bercabang menjadi
arteri serebri anterior dan arteri serebri media yang memperdarahi daerah depan
hemisfer serebri, pada bagian belakang otak dan lobus temporalis. Kedua bagian
otak ini memperoleh darah dari arteri serebri posterior yang berasal dari arteri
vertebralis.
Peredaran darah otak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tekanan
darah di kepala, resistensi serebro vaskuler (resistensi aliran darah arteri melewati
otak) yang dipengaruhi oleh peningkatan resistensi aliran darah dengan
meningginya tekanan darah di atas 500 mm air.
Sedangkan ginjal dan jantung akan mengalami kerusakan yang
berhubungan dengan kerusakan vaskuler pada organ yang mendapatkan aliran
18
darah dari pembuluh darah tersebut. Sebagai contoh adanya angina adalah
dampak dari hipertensi terhadap jantung. Perubahan patologi pada ginjal akan
ditandai dengan nokturial. Pada orang normal tekanan darah mengikuti pola
sirkadian, yaitu tekanan dan mengalami penurunan pada malam hari dan
mengalami kenaikan pada pagi hari. Demikian pula pada sebagian besar penderita
hipertensi yang juga mengikuti pola sirkadan orang normal (dippers) tetapi pada
penderita hipertensi non-dippers tidak terjadi penurunan tekanan darah malam
hari. Kejadian penyakit kardiovaskuler maupun stroke lebih sering timbul pada
penderita hipertensi non-dippers dari pada penderita hipertensi dippers.
2.1.6. Manifestasi Klinis
Pada pemeriksaan fisik, mungkin tidak dijumpai kelainan apapun selain
tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina,
seperti perdarahan, penyempitan pembuluh darah.
Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakkan gejala
sampai bertahun-tahun. Gejalanya biasanya menunjukkan adanya kerusakan
vaskuler dengan manifestasi yang divaskularisasi oleh pembuluh darah. Penyakit
arteri koroner dengan angina keterlibatan pembuluh darah daerah otak dapat
menimbulkan stroke atau serangan iskemik transient yang termanifestasi sebagai
paralysis sementara pada satu sisi (hemiplagia) atau gangguan tajam penglihatan.
Pada penderita stroke, dan pada penderita hipertensi disertai serangan iskemia,
insidens infark otak mencapai 80% (Brunner dan Suddarth, 2001).
19
2.1.7. Penatalaksanaan
Penanganan bagi setiap pasien adalah mencegah terjadinya morbiditas dan
mortalitas dengan mempertahankan TD di bawah 140/90 mmHg dan termasuk
penurunan berat badan, pembatasan alkohol, natrium dan tembakau. Apabila
penderita hipertensi ringan berada dalam risiko tinggi/bila tekanan darah
diastoliknya menetap, di atas 85 atau 95 mmHg dan sistoliknya di atas 130-
139 mmHg, maka perlu dimulai terapi obat-obatan.
Algoritma penanganan yang dikeluarkan oleh Joint National On
Decetection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure merupakan
kelompok obat yang mempunyai efektivitas tertinggi, efek samping paling
kecil. Dua kelompok obat tersedia dalam terapi pertama : diuretika dan
penyekat beta (Brunner dan Suddarth, 2001).
2.1.8. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda : Frekuensi jantung meningkat.
Perubahan irama jantung
Takipnea
b. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner
dan penyakit serebrovaskuler.
20
Tanda : Kenaikan tekanan darah meningkat, denyutan nadi jelas dan
karotis.
c. Integritas ego
Gejala : Perubahan kepribadian, ansietas, euphoria, marah kronik
(dapat mengindikasikan kerusakan serebral).
Tanda : Gelisah, otot muka tegang, gerakan fisik cepat, peningkatan
pola bicara.
d. Eliminasi
Gejala : Gangguan saat ini atau yang lalu/obstruksi riwayat penyakit
ginjal.
e. Makanan dan cairan
Gejala : Makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol, gula
yang berwarna hitam, kandungan tinggi kalori, mual,
muntah, perubahan berat badan.
Tanda : Berat badan obesitas
Adanya edema, kongesti vena, glikosuria.
f. Neurosensori
Gejala : Keluhan pening/pusing
Berdenyut, sakit kepala suboksipital
Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan kabur)
Tanda : Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi
Pola bicara, proses pikir
21
Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman tangan/
refleks tendon dalam.
g. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : Angina, nyeri tulang timbul apda tungkai
Sakit kepala oksipital berat
Nyeri abdomen
h. Pernapasan
Gejala : Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas/kerja
Takipnea, ortopnea, dispnea, noktural, paroksimal
Batuk dengan/tanpa pembentukan sputum
Riwayat merokok
Tanda : Distress respirasi/penggunaan otot aksesori pernapasan
Bunyi napas tambahan
Sianosis.
i. Keamanan
Keluhan : gangguan koordinasi/cara berjalan
Gejala : Episode parestesia unilateral transient
Hipotensi postural.
j. Pembelaajran/penyuluhan
Gejala : Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM, penyakit
serebrovaskuler.
k. Rencana pemulangan
Bantuan dengan pemantauan ATD
22
Perubahan dalam terapi obat.
l. Pemeriksaan Diagnostik
1) Hemoglobin/hematokrit mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap
volume cairan.
2) Glukosa : hiperglikemia diakibatkan oleh peningkatan kadar
katekolamin.
3) Kolesterol dan trigliserida serum (efek kardiovaskuler).
m. Prioritas Keperawatan
1) Mempertahankan/meningkatkan kardiovaskuler.
2) Mencegah komplikasi
3) Memberikan informasi tentang proses/prognosis dalam program
pengobatan.
4) Mendukung kontrol aktif pasien terhadap kondisi.
2. Diagnosa yang mungkin muncul
a. Nyeri akut, sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan
vaskuler serebral pada region sub oksipital.
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen (O2)
c. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
masukan berlebihan sehubungan dengan kebutuhan metabolik pola
hidup monoton.
d. Ketidakefektifan koping individual berhubungan dengan krisis
maturasional.
23
e. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan
peningkatan afterload vasokonstriksi.
3. Rencana Tindakan
a. Nyeri akut, sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan
vaskuler serebral pada region sub oksipital.
Intervensi/rasionalisasi :
1) Mandiri
a) Mempertahankan tirah baring selama fase akut
Rasional : Meminimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi.
b) Berikan tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit
kepala, misal kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan
leher, tenang, redupkan lampu kamar, teknik relaksasi
(panduan imajinasi, distraksi) dan aktivitas waktu senggang.
Rasional : Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler
serebral dan yang memperlambat/ memblok respon simpatis
efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.
c) Hilangkan/minimalkan aktivitas vasokonstriksi yang dapat
meningkatkan sakit kepala, misal mengejan saat BAB, batuk
panjang, membungkuk.
Rasional : Aktivitas yang meningkatkan vasokonstriksi
menyebabkan sakit kepala, adanya peningkatan tekanan
vaskuler serebral.
24
d) Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
Rasional : Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan
dengan sakit kepala, pasien juga dapat mengalami episode
hipotensi postural.
e) Berikan cairan, makanan lunak, perawatan mulut yang teratur
bila terjadi perdarahan hidung atau kompres hidung telah
dilakukan untuk menghentikan perdarahan.
Rasional : Meningkatkan kenyamanan umum, kompres hidung
dapat mengganggu menelan atau membutuhkan napas dengan
mulut, menimbulkan stagnasi sekresi oral dan mengeringkan
membran mukosa.
2) Kolaborasi :
a) Berikan sesuai indikasi analgesik
Rasional : Menurunkan/mengontrol nyeri dan menurunkan
rangsang sistem saraf simpatis.
b) Antiansietas misal lorazepam, diazepam (valium)
Rasional : Dapat mengurangi tegangan dan ketidaknyamanan
diperberat oleh stress.
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen (O2)
Intervensi/rasionalisasi :
25
1) Kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi nadi lebih
dari 20 kali per menit di atas frekuensi istirahat : peningkatan tekanan
darah yang nyata selama/sesudah aktivitas (tekanan sistolik meningkat
40 mmHg) atau tekanan diastolik meningkat 20 mmHg), dispnea atau
nyeri dada, keletihan dan kelemahan yang berlebihan, diaforesis,
pusing/pingsan.
Rasional : Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respon
fisiologis terhadap stress aktivitas dan bila ada merupakan indikator
dan kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
2) Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energi, misal
menggunakan kursi saat mandi, duduk saat menyisir rambut atau
menyikat gigi, melakukan aktivitas dengan perlahan.
Rasional : Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan energi
juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
3) Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri bertahap
jika dapat ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan.
Rasional : Kemajuan aktivitas bertahap menengah peningkatan kerja
jantung tiba-tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan
mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.
c. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
masukan berlebihan sehubungan dengan kebutuhan metabolik pola
hidup monoton.
26
Intervensi/rasionalisasi :
1) Kaji pemahaman peran tentang hubungan langsung antara hipertensi
dan kegemukan
Rasional : Kegemukan adalah risiko tambahan pada tekanan darah
tinggi karena disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah
jantung berkaitan dengan peningkatan masa tubuh.
2) Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi
masukkan lemak, garam dan gula sesuai indikasi
Rasional : Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya
arterosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi untuk
hipertensi dan komplikasinya, misalnya stroke.
3) Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan
Rasional : Motivasi untuk penurunan berat badan adalah internal,
individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan 0,3 kg per
minggu. Penurunan berat badan yang lambat mengindikasikan
kehilangan lemak melalui kerja otot dan umumnya dengan cara
mengubah kebiasaan makan
4) Dorong pasien untuk mempertahankan masukan makanan harian
termasuk kapan dan dimana makan dilakukan dan lingkungan dan
perasaan sekitar saat makanan dimakan
Rasional : Memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang
dimakan dan kondisi emosi saat makan. Membantu untuk
27
memfokuskan perhatian pada faktor mana pasien telah/dapat
mengontrol perubahan
5) Instruksikan dan bantu memilih makanan dengan kejenuhan lemak
tinggi (mentega, keju, telur, es krim, daging) dan kolesterol (daging
berlemak, kuning telur, produk kalengan, jeroan)
Rasional : Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol
penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis.
2.2. Stroke
2.2.1. Pengertian
Stroke merupakan gangguan sirkulasi serebral, merupakan suatu
gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder dari suatu proses
patologi pada pembuluh darah serebral misalnya trombosit, embolus, 27nvasiv
dinding pembuluh darah (Price Sylvia A, 1995).
Stroke atau Cerebro Vasculer Accident (CVA) dapat diindikasikan
sebagai defisit neurology yang mempunyai serangan mendadak dan
berlangsung 24 jam sampai akibat dan CVD (Hudack & Gallo, 1996).
Stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh
berhentinya suplai darah ke bagian otak, sering terjadi akibat akumulasi
penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun (Smeltzer, SC dan Bane B.G,
2002).
28
Jadi stroke merupakan gangguan sirkulasi serebral akibat berhentinya
suplai darah ke bagian otak yang timbul secara mendadak dan sekunder dari
suatu proses patologi pada pembuluh darah serebral.
2.2.2. Anatomi Fisiologi
Otak orang dewasa mempunyai berat lebih kurang 2% berat badan.
Otak merupakan organ tubuh yang bekerja terus menerus sehingga paling
banyak menggunakan energi terutama berasal dari proses oksidasi glukosa.
Otak membutuhkan kalori lebih kurang 400 kkal setiap harinya dan
membutuhkan suplay darah yang cukup dan terdiri secara kontinu agar fungsi
otak berlangsung dengan baik. Dalam keadaan fisiologik jumlah darah yang
dikirim ke otak adalah ± 20% dari cardiac output atau ± 1100-200 cc/menit.
Kebutuhan otak akan oksigen dan glukosa relatif konstan, apabila kadar
oksigen dan glukosa dalam jaringan otak kurang, maka metabolisme menjadi
terganggu dan jaringan saraf akan mengalami kerusakan (Price Sylvia, A,
1995).
2.2.3. Bagian-Bagian Otak
1. Batang Otak
Batang otak merupakan pusat relai dan refleksi dari sistem saraf
pusat. Bagian-bagian batang otak dari atas ke bawah, yaitu :
29
a. Medulla oblongata.
Merupakan pusat refleks yang penting untuk jantung
vasokontriktor pernapasan, bersin, batuk, pengeluaran air liur dan
muntah. Pada permukaan anterior terdapat dua pembesaran (pyramid)
yang mengandung serabut-serabut motorik volunteer. Bagian posterior
juga terdapat dua pembesaran yang juga merupakan fasikulli dari jaras
assenden kolumna dorsalis.
Jaras-jaras ini mengantarkan tekanan proplaseptik otot-otot sadar,
sensasi getar dan diskriminasi taktil 2 titik. Medulla oblongata
mengandung nucleus 4 saraf cranial terakhir (IX-XII) (Price Sylvia, A,
1995).
b. Pons
Merupakan mata rantai penghubung yang penting pada
jaras kortikoserebralis yang menyatukan hemisfer serebri dengan
serebelum. Bagian bawah pons berperan dalam pengaturan pernapasan,
nucleus saraf cranial V, VI dan VII terdapat di sini (Price Sylvia, A,
1995).
c. Mensensefalon (otak tengah)
Terletak diatas pons, terdiri dari kulikuli superior yang
berperan dalam refleksi penglihatan dan koordinasi gerakan penglihatan,
misalnya menggerakan kepala ke arah datangnya suara (Price Sylvia, A,
1995).
30
2. Cerebelum (otak kecil)
Serebelum terletak dalam fosa crani posterior dan ditutupi oleh
durameter yang menyerupai atap tenda, yaitu tentorium yang
memisahkannya dari bagian posterior cerebelum. Cerebelum terdiri
dari bagian tengah vermis dan dua hemisfer lateral. Cerebelum
dihubungan dengan batang otak oleh tiga berkas serabut yang
dinamakan pendekulus. Pendekulus serebri superior berhubungan
dengan mesensefalon, pendekulus cerebri media menghubungkan kedua
hemisfer, sedangkan pendekulus cerebri inferior berisi serabut 3 traktur
spinocerebelaris dorsalis dan berhubungan dengan medulla oblongata. Semua
aktivitas cerebelum berada di bawah kesadaran. Fungsi utamanya adalah
sebagai pusat reflek yang mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk
mempertahankan keseimbangan dan sikap tubuh (Price Sylvia, A, 1995).
3. Cerebrum (Otak Besar)
Merupakan bagian otak yang paling besar dan paling menonjol disini
terletak pusat-pusat saraf yang mengatur semua kegiatan motorik dan
sensorik, juga mengatur proses penalaran. Ingatan dan intelegensia
cerebelum di bagi menjadi hemisfer kanan dan kiri oleh fisur longitudinalis
mayor (suatu tekuk celah dalam). Bagian luar hemisfer cerebri terdiri dari
subtansia alba yang disebut sebagai korteks cerebri, terletak di atas
substansia alba yang merupakan bagian dalam (inti) hemisfer. Kedua
31
hemisfer dihubungkan oleh suatu pita serabut lebar yang disebut corpus
colusum. Pusat aktivitas sensorik dan motorik pada masing-masing hemisfer
dirangkap dua dan sebagian besar berkaitan dengan bagian tubuh sebelah
kiri dan hemisfer cerebri kiri mengatur bagian hemisfer sebelah kanan.
Konsep fungsional ini disebut pengendalian kontralateral, secara garis besar
struktur cerebellum terbagi menjadi kortek cerebri dan struktur-struktur sub
cortical. Korteks cerebri atau mantel abu-abu mempunyai banyak lipatan
disebut girus. Celah-celah atau lakukan yang disebut sulkus terbentuk dari
3 garis dan membagi setiap hemisfer menjadi lobus prontalis. Prietalis
temporalis dan occipitalis sulkus sentralis (fisura Rolando) memisahkan
lobus frontalis dari lobus frontalis dan lobus parientalis.
2.2.4. Suplai Darah Otak
Jaringan otak mendapat suplai darah dari dua arteri besar, yaitu :
1. Arteri carotis internal kanan dan kiri
Arteri carotis internal kanan merupakan cabang arteri carotis
communisan. Arteri communis kiri berasal dari arcus aorta, sedangkan
arteri carotis communis kanan berasal dari arteri innonimata. Arteri carotis
interna masuk ke rongga tengkorak melalui kanoliskarotikus, lalu masuk
ke sinus cavenosus dan kemudian menembus durameter. Di sebelah lateral
chiasma opticum, arteri ini akan bercabang menjadi :
32
a. Arteri communicans posterior
Arteri ini menghubungkan arteri carotis interna dengan arteri cerebri
posterior.
b. Arteri chorodea anterior yang nantinya membentuk plexus chroideus di
dalam ventriculus lateralis.
c. Arteri cerebri anterior
Berjalan ke prontal di sebelah atas nervus opticus diantara
belahan otak kiri dan kanan. Kemudian akan menuju facies medialis
lobus frontal cortexs cerebri. Daerah yang diperdarahi arteri ini
adalah :
1) Fecies medialis lobus frontalis cortex cerebri.
2) Fecies medialis lobus parietalis.
3) Fecies convexa lobus parientalis cortex cerebri.
d. Arteri cerebri media
Arteri ini memperdarahi facies convexa lobus frontalis, cortex
cerebri mulniar fissure lateralis sampai setinggi kira-kira sulcus frontalis
superior. Facies convexa parietalis cortex cerebri mulai dari fisura
lateralis sampai kira-kira sulkus temporalis media dan facies medialis
lobus temporalis cortex serebri pada ujung frontal.
2. Arteri Vertebralis kanan dan kiri
Dipercabangkan oleh arteri sub clavia pada batas medulla oblongata
dan pons arteri vertebralis kanan dan kiri bersatu menjadi arteri basilaris
yang kemudian berjalan ke frontal dan akhir bercabang menjadi 2 yaitu
33
arteri cerebri posterior kanan dan kiri yang mensuplay permukaan otak
inferior dan mediona juga bagian lateral lobus occipital. Anastomasis
antara arteri-arteri cerebri berfungsi untuk menjaga agar aliran darah ke
otak tetap terjaga secara kontinu. Arteri carotis interna dan arteri
vertebralis dihubungkan oleh cirkulus arteriosus cerebri (willis) yang
terdapat pada dasar otak. Cirkulus arteriosus cerebri dibentuk oleh arteri
communikans posterior jaringan. Jaringan sirkulasi ini memungkinkan
darah bersirkulasi dari satu hemisfer ke hemisfer lain dan dari bagian
anterior ke posterior dari otak. Ini merumpakan sistem memungkinan
sirkulasi kolateral jika satu pembuluh mengalami penyumbatan.
Darah vena dialirkan dari otak melalui dua sistem :
a. Kelompok vena interna, yang mengumpulkan darah ke vena galer dan
sinus rektus.
b. Kelompok vena externa yang terletak di permukaan hemisfer otak dan
mencurahkan darah ke sinus sagitalis superior.
Aliran darah ke otak (ADO) dipengaruhi oleh 3 faktor :
a. Tekanan yang memompakan darah dari sistem arteri kapiler ke sistem
vena yang terpenting adalah tekanan darah sistemik (faktor jantung
darah, pembuluh darah) dan otoregulasi, otak yakni kemampuan darah
otak tetap konstan walaupun ada perubahan dari tekanan perfusi otak.
b. Tahanan (perifer) pembuluh darah otak
c. Faktor darah (kemampuan untuk membeku) darah
34
2.2.5. Klasifikasi Stroke
Stroke dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
1. Ischemic stroke
Adalah suplai darah ke otak terutama karena kontraksi apteroma
pada arteri yang menyuplai darah ke otak. Ischemic stroke juga disebabkan
karena penyumbatan pada arteri cerebral oleh trombosis atau embolus.
Stroke yang disebabkan thrombus disebut dengan thrombus stroke.
Penderita sering mengeluh sakit kepala dan muntah umumnya defisit
neurologik dirasakan waktu bangun tidur/sedang istirahat. Sering terjadi
pada usia produktif dengan hipertensi sebagai sumber emboli.
a. TIA (Transient Ischemic Attack)
Kejadian ini biasanya mendadak, kadang bertahap/didahului keduanya
menyebabkan transient focal neurologic disfungsi yang diakibatkan
oleh gangguan singkat pada aliran pembuluh darah cerebral. Mungkin
vasosvasmecerebral/transient systemic arterial hipertensi. FIA ini
merusak otak dan kerusakan ini dapat ditujukan melalui pemeriksaan
MRI dan CT.
b. Thrombotic Stroke
Disebabkan oleh arteriosclerosis cerebral dan perlambatan sirkulasi
serebral trombosis ini biasanya terjadi dan dapat menyebabkan
ischemia jaringan otak (yang diakhiri oleh pembuluh darah). Tanda-
35
tanda trombosis stroke bervariasi pusing, perubahan kognitif, kejang,
kehilangan kemampuan bicara sementara, stroke karena terbentuknya
thrombus biasanya terjadi pada saat akan tidur dan bangun tidur.
c. Emboli Stroke
Merupakan penyumbatan pembuluh darah otak bekuan darah
lemak/udara berasal dari thrombus di jantung yang terlepas dan
menyumbat sistem cerebral.
2. Haemoraghic Stroke
Dapat terjadi di luar dura meter/epidural, dibawah durameter, di
ruang subarachnoid/di dalam substansi otak.
a. Haemorhagic ekstradural (epidural)
Kedaruratan bedah neuron yang memerlukan perawatan segera. Ini
biasanya mengikuti fraktur tengkorak dengan robekan arteri
tengah/arteri meningen.
b. Pada dasarnya sama dengan haemoragic epidural, kecuali bila
haematom subdural biasanya jembatan vena robek, sehingga terjadi
penekanan pada otak.
c. Haemoraghic sub arachnoid
Terjadi akibat trauma/hipertensi penyebab paling sering kebocoran
aneurisma dan malformasi arteri venouse congenital pada otak.
36
d. Haemoragic Intra serebral
Terjadi pada pasien hipertensi dan arterosklerosis cerebral. Karena
perubahan degenerative, biasanya menyebabkan rupture pembuluh
darah. Sering terjadi pada usia 40-70 tahun, disebabkan oleh
malformasi arteri venosus hemoglobin astoma dan trauma.
Menurut WHO dalam Internasional Statistical Classification of
Diseases and Reated Health Problem stroke hemoragik dibagi atas :
1. Perdarahan intra serebral (PIS)
Gejalanya prodromal yang tidak jelas kecuali nyeri kepala karena
hipertensi. Serangan sering kali siang hari, saat aktivitas, atau
emosi/marah. Sifatnya nyeri yang sangat hebat. Mual-mual sering sekali
terjadi pada saat mulai serangan. Hemipatesis/hemiplegi juga termasuk
serangan yang paling sering terjadi. Kesadaran menurun coma (65% terjadi
kurang dari setengah jam, 23% antara ½ sampai dengan 2 jam dan 12%
terjadi setelah 2 jam, sampai 19 hari).
2. Perdarahan sub arachnoid (PSA)
Gejala prodromal berupa nyeri kepala yang hebat dan akut.
Kesadaran terganggu, ada gejala/tanda rangsangan meningeal. Edema papil
dapat terjadi bila ada perdarahan subhialoid karena pecahnya aneurisma
pada a. komunikans anterior atau a. karotis interna.
37
Gejala neurologist yang timbul bergantung pada berat ringannya
gangguan pembuluh darah dan lokasinya. Manifestasi klinisnya dapat berupa :
1. Kelumpuhan wajah/anggota badan (biasanya hemiparesis).
2. Gangguan sensibilitas pada satu/lebih anggota badan (gangguan
hemisensorik)
3. Perubahan status mental (konfusi, delirium, letargi, stupor/koma)
4. Afasia (bicara tidak lancar, kurangnya ucapan, kesulitan memahami
ucapan).
5. Disartia (bicara pelo atau cadel)
6. Gangguan penglihatan (hemianopia atau monokuler) atau diplopia.
7. Afaksia (frunkal atau anggota badan)
8. Vertigo, mual dan muntah atau nyeri kepala.
Pada stroke non hemoragik (iskemik) :
Gejala utama : timbulnya defisit neurologist secara mendadak (sub akut
didahului gejala prodromal, terjadi pada waktu istirahat atau bangun pagi dan
kesadaran biasanya tak menurun, kecuali bila embolus cukup besar.
Gejala stroke yang munculpun tergantung dari bagian otak yang
terkena dapat diamati beberapa gejala stroke :
1. Hilangnya sebagian penglihatan / pendengaran.
2. Penglihatan ganda
3. Pusing
4. Bicara tidak jelas (rero)
38
5. Tidak mampu mengenali bagian tubuh
6. Ketidakseimbangan dan terjatuh
7. Hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih.
2.2.6. Etiologi
Penyebab stroke yang sering ditemukan :
1. Trombosis karena adanya aterosklerosis, perlambatan sirkulasi penyebab
utama terjadi thrombus di otak dan karotis.
2. Embolisme serebral adalah sumbatan dari bekuan darah di pembuluh darah
otak/material lain yang dibawa ke otak dari tubuh yang lain.
3. Iskemia adalah penurunan aliran darah ke area otak karena kontraksi
ateroma pada arteri yang mensuplai darah ke otak.
4. Perdarahan dalam otak (haemoragic serebral)
5. Tekanan pada pembuluh darah disebabkan oleh tumor, bekuan darah yang
lain
2.2.7. Tanda dan Gejala
Gejala klinis yang paling umum adalah :
1. Kontra lateral paralysis (kelumpuhan/kekurangan daya untuk bergerak).
2. Kontra lewat hilangnya sensorik.
3. Hilangnya sensorik dan motorik, paling nyata pada muka, leher dan
ekstremitas atas.
4. Perubahan tingkah laku.
39
5. Hilangnya penglihatan berupa lapang pandang.
6. Gerakan tidak terkoordinasi.
7. Gangguan kesadaran/penurunan kesadaran.
8. Sakit kepala, pusing, vertigo.
2.2.8. Patofisiologi
Pada stroke iskemik berkurangnya aliran darah ke otak menyebabkan
hipoksemia daerah reginal otak dan menimbulkan reaksi-reaksi berantai yang
berakhir dengan kematian sel-sel otak dan unsur-unsur pendukungnya. Secara
umum daerah regional otak yang iskemik terdiri dari bagian inti (core) dengan
tingkat iskemia terberat dan berlokasi di sentral. Daerah ini akan menjadi
nekrotik dalam waktu singkat jika tidak ada reperfusi. Di luar daerah core
iskemik terdapat daerah penumba iskemik. Sel-sel otak dan jaringan
pendukungnya belum mati akan tetapi sangat berkurang fungsi-fungisnya dan
menyebabkan juga defisit neurologik. Tingkat iskeminya makin ke perifer
makin ringan. Daerah penumbra iskemik, diluarnya dapat dikelilingi oleh
suatu daerah hyperemic akibat adanya aliran darah kolateral (luxury perfusion
area).
Daerah penumbra iskemik inilah yang menjadi sasaran terapi stroke
iskemik akut supaya dapat direperfusi dan sel-sel otak berfungsi kembali.
Reversibilitas tergantung pada faktor waktu dan jika tak terjadi reperfusi,
daerah penumbra dapat berangsur-angsur mengalami kematian.
40
Dipandang dari segi biologi molekuler, ada dua mekanisme kematian
sel otak. Pertama proses nekrosis, suatu kematian berupa ledakan sel akut
akibat penghancuran sitoskeleton sel, yang berakibat timbulnya reaksi
inflamasi dan proses fagositosis debris nekrotik. Proses kematian kedua adalah
proses apoptosis atau silent death, sitokeleton sel neuron mengalami penciutan
atau shrinkage tanpa adanya reaksi inflamasi seluler.
Lain halnya pada stroke hemoragik dimana gejala-gejala klinik yang
timbul semata-mata karena kerusakan sel akibat proses hemolisis/proteolisis
darah yang keluar dari pembuluh darah otak yang pecah merembes ke massa
otak sekitarnya. Gejala klinik tentu tergantung pada lokasi kerusakan
(Lumbantobing, 2007).
2.2.9. Manifestasi Klinis
Stroke menyebabkan berbagai defisit neurologik, tergantung pada
lokasi lesi, ukuran area yang perfusinya tidak adekuat dan jumlah aliran darah
koleteral, fungsi otak yang rusak tidak dapat membaik sepenuhnya.
41
Tabel 3.
Defisit Neurologik Akibat Stroke
Defisit Lapangan Penglihatan
- Homorimus - Tidak
Hemianepsia (kelihatan setengah menyadari orang/objek
lapang penglihatan) - Mengabaikan
- Kehilangan salah satu sisi tubuh
penglihatan perifer - Kesulitan
menilai jarak
- Kesulitan
melihat pada malam hari
- Diplopia - Tidak
Defisit motorik menyadari objek/batas objek
- Hemiporesis - Penglihatan
ganda
- Hemiplegia
- Ataksia - Kelemahan
- Disartria wajah, lengan dan kaki
- Dispalghia - Paralisis
wajah, lengan dan wajah
- Berjalan
tidak mantap, tegak.
- Tidak
mampu menyatu kaki
- Kesulitan
dalam membentuk kata
- Kesulitan
menelan
Defisit Verbal
- Afasi - Tidak
Ekspresif mampu membentuk kata yang
dipahami
- Afasia - Tidak
Reseptif mampu memahami kata yang
dibicarakan
- Afasia - Kombinasi
Global dari keduanya
Defisit Kognitif - Kehilangan
memori jangka panjang/ pendek
- Penurunan
lapang perhatian
42
- Kerusakan
kemampuan untuk berkonsentrasi
- Alas dan
abstrak buruk
- Perubahan
penilaian
Defisit emosional - Kehilangan
kontrol diri
- Labilitas
emosi
- Penurunan
toleransi pada situasi stress
- Depresi
- Menarik diri
- Rasa takut
- Perasaan
isolasi
2.2.10. Terapi Khusus Stroke
Penatalaksanaan secara khusus pada stroke umumnya dikelompokkan
dalam dua bagian stroke perdarahan/non perdarahan pada stroke iskemic.
Penanganan dengan obat-obatan harus dilakukan segera dalam waktu kurang
dari 6 jam sejak terjadinya, tetapi bila yang dipilih untuk mengatasi
perdarahan otak adalah tindakan bedah dapat dilakukan hemi-cranietomi dan
cerebral angioplasty (Iskandar J, 2006).
2.2.11. Penatalaksanaan Stroke
1. Penatalaksanaan Stroke Iskemik
a. Pertimbangkan rt-PA intravena 0,9 mg/kg BB intravena (dosis
maksimum 90 mg). Sepuluh persen diberikan intravena dan sisanya
43
diberikan per drips dalam waktu 1 jam gejala stroke dapat dipastikan
kurang dari 3 jam dan hasil CT scan otak tidak memperlihatkan infark.
b. Pertimbangkan pemantauan irama jantung untuk pasien dengan aritmia
bila terdapat fibrilasi atrium respons cepat, maka dapat diberikan
digoksin 0,125-0,5 mg intravena/veraprumil 5-10 mg intravena/
amiodaron 200 mg drips dalam 12 jam.
c. Tekanan darah meningkat pada stroke iskemik tidak boleh cepat-cepat
diturunkan.
d. Konsul bedah saraf untuk dekompresi pada pasien dengan infark.
e. Pemeriksaan penunjang neurovaskler diutamakan yang non invasif.
1) Ekokardiografi untuk mendeteksi adanya sumber emboli di
jantung.
2) Ultrasonografi doopler karotis diperlukan untuk menyingkirkan
stenosis karotis yang simtomatis serta lebih dari 70%.
f. Pertimbangan pemeriksaan darah berikut ini pada kasus penyebab
stroke yang tidak lazim. Terutama pada usia muda, kultur darah jika
mencurigai endokarditis, pemeriksaan prokoagulan.
2. Penatalaksanaan Stroke Hemoragik
a. Singkirkan koagulasi pastikan hasil masa protrombin dan
tromboplastin parisal adalah normal.
b. Kendalikan hipertensi
44
c. Pertimbangkan konsultasi bedah saraf bila perdarahan serebelum
diameter lebih dari 3 cm/volum > 50 ml.
d. Berikan manitol 20% (1 kg/kg BB intravena dalam 20-30 menit) untuk
pasien dengan koma/tanda-tanda tekanan intra kranial yang tinggi.
e. Pertimbangkan terapi hipervolemik dan nimodipin untuk mencegah
vasopasme.
f. Perdarahan intraserebal obati penyebabnya, turunkan tekanan
intracranial yang meninggi, berikan neuroprotektor.
2.2.12. Pencegahan
Pencegahan Primer :
1. Memasyarakatkan gaya hidup sehat bebas stroke.
2. Hindari rokok, stress, mental, alkohol, kegemukan, konsumsi garam
berlebihan.
3. Mengurangi kolesterol
4. Mengendalikan hipertensi.
2.2.13. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
a. Aktivitas istirahat
45
Data subjektif : kelemahan, kehilangan sensasi/paralise mudah lelah,
kesukaran untuk istirahat kejang otot, nyeri otot.
Data objektif : menurunnya tingkat kesadaran, menurunnya kekuatan
otot, kelemahan, gangguan penglihatan.
b. Peredaran darah
Adanya riwayat penyakit jantung, polisetimia. Adanya hipertensi arteri
denyut nadi berporiasi.
c. Eliminasi
Adanya perubahan pola eliminasi, anuria, distensi abdomen, tidak ada
bising usus.
d. Nutrisi/cairan
Kehilangan nafsu makan, mual/muntah, gangguan menelan, gangguan
mengunyah, obesitas.
e. Persyaratan
Pusing, nyeri kepala, menurunnya penglihatan/kekaburan pandangan,
gangguan penciuman, coma, ekstremitas lemah, tidak dapat berbicara,
berkomunikasi secara verbal, kehilangan pendengaran.
f. Kenyamanan/nyeri
Nyeri kepala, gelisah, ekspresi wajah tegang.
g. Pernafasan
Riwayat perokok, batuk, kesukaran bernafas.
46
h. Keamanan
Kehilangan rasa terhadap panas, dingin, susah tidur, adanya perubahan
sensori.
i. Psikologis
Merasa tidak berdaya tidak ada harapan, emosi labil, perubahan konsep
diri.
j. Interaksi sosial
Sukar berkomunikasi, sukar berbicara, perubahan peran.
k. Pendidikan kesehatan
Adanya riwayat hipertensi/stroke pada keluarga.
2. Diagnosa Yang Mungkin Muncul
a. Perubahan perfusi jaringan otak berhubungan dengan interupsi aliran
darah ke otak, edema atau meningkatnya TIK.
b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterlibatan
neuromuskuler, kelemahan, ketidakmampuan bergerak dalam
lingkungan fisik.
c. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan adanya integritas
(trauma neurologist atau defisit)
d. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan penumpukan di
saluran nafas atas.
e. Perubahan pemasukan nutrisi melalui oral berhubungan dengan
kesadaran menurun, adanya gangguan menelan.
47
f. Ketidakmampuan melakukan kegiatan sehari-hari berhubungan dengan
immobilisasi, kesadaran menurun.
g. Perubahan eliminasi, inkontinensia urin berhubungan dengan
menurunnya sensitifitas.
h. Perubahan persepsi sensori : penglihatan, pendengaran berhubungan
dengan adanya integrasi (trauma neurologist atau defisit).
3. Rencana Tindakan
a. Perubahan perfusi jaringan otak berhubungan dengan interupsi aliran
darah ke otak, edema atau meningkatnya TIK.
Intervensi :
1) Observasi TTV dan status neurologi
Rasional : Mempengaruhi penetapan intervensi kerusakan/
kemunduran tanda/gejala neurologist/kegagalan untuk
memperbaikinya setelah fase awal memerlukan tindakan
pembedahan/pasien harus dipindahkan ke ruang perawatan kritis
(ICU) untuk melakukan pemantauan.
2) Ciptakan lingkungan yang tenang batasi pengunjungi atau aktifitas bila
perlu.
Rasional : Aktivitas/stimulasi yang kontinu dapat meningkatkan
TIK. Istirahat total dan ketenangan mungkin diperlukan untuk
48
pencegahan terhadap perdarahan dalam kasus stroke haemoragist/
perdarahan lainnya.
3) Hindari hal-hal yang dapat merubah tekanan intracranial
Rasional : Perubahan dalam isi kognitif dan bicara merupakan
indikator dan lokasi/derajat gangguan serebral dan mungkin
mengindikasikan penurunan/ peningkatan TIK.
4) Berikan terapi sesuai dengan yang dianjurkan
Rasional : Memberikan informasi tentang keefektifan pengobatan/
kadar terapeutik.
b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterlibatan
neuromuskuler, kelemahan, ketidakmampuan bergerak dalam
lingkungan fisik.
Intervensi :
1) Kaji kemampuan secara fungsional/luasnya kerusakan.
Rasional : Mengidentifikasi/kekuatan/ kelemahan dan dapat
memberikan informasi mengenai pemulihan
2) Ubah posisi minimal setiap 2 jam
Rasional : Menurunkan risiko terjadinya trauma/iskemia jaringan
(dekubitus)
3) Melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua
ekstremitas saat masuk. Anjurkan melakukan latihan quardrisep
49
Rasional : Meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi
membantu mencegah kontaktur. Menurunkan risiko terjadinya
hiperkalsuria dan osteoporosis jika masalah utama perdarahan.
4) Sokong ekstremitas dalam posisi fungsionalnya gunakan papan kaki
selama periode paralitis flaksid pertahankan posisi kepala netral.
Rasional : Mencegah kontraktor dan memfasilitasi kegunaannya
jika berfungsi kembali.
5) Gunakan penyangga lengan ketika pasien berada dalam posisi
tegak, sesuai indikasi.
Rasional : Selama paralysis flaksid penggunaan penyangga dapat
menurunkan risiko terjadinya sublukasasio.
6) Evaluasi penggunaan alat bantu untuk pengaturan posisi selama
periode paralysis spastic.
Rasional : Kontraktur fleksi dapat terjadi akibat dari otot fleksor
lebih kuat dibandingkan dengan otot ekstensor.
7) Tinggikan tangan dan kepala
Rasional : Meningkatkan aliran balik vena dan membantu
mencegah terbentuknya edema.
8) Bantu untuk mengembangkan keseimbangan duduk meninggikan
bagian kepala tempat tidur.
Rasional : Membantu dalam melatih kembali jaras saraf.
50
9) Bangunkan dari kursi segera mungkin setelah tanda-tanda vital
stabil pada haemoragik serebral.
Rasional : Membantu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan
keseimbangan ekstremitas.
10) Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan resisif
dan ambulasi pasien.
Rasional : Program yang khusus dapat dikembangkan untuk
menemukan kebutuhan yang berarti.
11) Bantu dengan stimulasi elektrik seperti TENS sesuai indikasi.
Rasional : Dapat membantu memulihkan kekuatan otot dan
meningkatkan kontrol otot volunteer.
c. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan adanya integritas
(trauma neurologist atau defisit)
Intervensi :
1) Lihat kembali patologis kondisi individual
Rasional : Kesadaran akan tipe/daerah yang terkena membantu
dalam mengkaji/ mengantisipasi defisit spesifik dan perawatan.
2) Evaluasi adanya gangguan penglihaan, catat adanya penurunan
lapang pandang perubahan ketajaman persepsi (bidang horizontal/
vertikal)
Rasional : Munculnya gangguan penglihatan dapat berdampak
negatif terhadap kemampuan pasien untuk menerima lingkungan
51
dan mempelajari kembali keterampilan motorik dan meningkatkan
risiko terjadinya cidera.
3) Ciptakan lingkungan yang sederhana, pindahkan perabotan yang
membahayakan.
Rasional : Membatasi jumlah stimulasi penglihatan yang mungkin
dapat menimbulkan kebingungan terhadap intepretasi lingkungan,
menurunkan risiko terjadinya kecelakaan.
4) Kaji kesadaran sensorik seperti membedakan panas/ dingin,
tajam/tumpul.
Rasional : Penurunan kesadaran terhadap sensorik dan kerusakan
perasaan kinetic berpengaruh buruk terhadap keseimbangan/posisi
tubuh dan kesesuaian dari gerakan yang mengganggu ambulasi.
5) Berikan stimulasi terhadap rasa sentuhan, seperti berikan pasien
suatu benda untuk menyentuh, meraba. Biarkan pasien menyentuh
dinding.
Rasional : Membantu kembali jaras sensorik untuk
mengintegrasikan persepsi dan intepretasi stimulasi, membantu
pasien-pasien untuk mengorientasikan bagian dirinya dan kekuatan
penggunaan dari daerah yang terpengaruh.
6) Hilangkan kebisingan/ stimulasi eksternal yang berlebihan sesuai
kebutuhan.
52
Rasional : Menurunkan ansietas dan respon emosi yang
berlebihan/ kebingungan yang berhubungan dengan sensori
berlebihan.
7) Lindungi pasien dari suhu yang berlebihan, kaji adanya lingkungan
yang membahayakan. Rekomendasikan pemeriksaan terhadap
suhu air dengan tangan yang normal
Rasional : Meningkatkan kemampuan pasien yang menurunkan
risiko terjadinya trauma.
2.3. Usia Produktif
2.3.1. Pengertian Umur/Usia
Adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan (Lukman, 1996). Umur adalah
faktor terpenting dalam kerentanan seseorang untuk terinfeksi (Behrmen, 1995).
Usia produktif adalah umur ketika seseorang masih mampu bekerja dan
produktif.
Dulu penyakit stroke hanya menyerang kaum lanjut usia (lansia). Seiring
dengan berjalannya waktu, kini ada kecenderungan bahwa stroke menghancam
usia produktif, dimana seseorang sedang berada pada puncak karirnya. Jika
terkena stroke, penyakit dengan angka presentasi kecacatan terbesar, maka
habislah karirnya.
53
Jadi berdasarkan literatur yang ada maka penelitian ini menyimpulkan
bahwa usia produktif 18-50 tahun (WHO).
Beberapa fakta dan ulasan yang perlu diketahui agar meningkatkan
kewaspadaan terhadap ancaman stroke pada usia produktif :
1. Stroke pembunuh nomor tiga di Indonesia.
2. Mengenali jenis-jenis stroke
3. Ketahui faktor risiko stroke
4. Membaca gejala stroke
5. Mendiagnosis stroke
6. Penanganan stroke
7. Masih ada harapan sembuh
8. Lifestyle si pencetus strok.
Menurut Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) terdapat kecenderungan
meningkatnya jumlah penyandang stroke di Indonesia dalam dasawarsa terakhir.
Kecenderungan menyerang generasi muda yang masih produktif. Hal ini
berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta terganggunya sosial
ekonomi, peningkatan jumlah penderita stroke di Indonesia identik dengan wabah
kegemukan akibat pola makan yang kaya lemak dan kolesterol.
2.3.2. Lifestyle, Pencetus Stroke Usia Produktif
Usia merupakan faktor risiko stroke, semakin tua usia maka risiko terkena
strokenya pun semakin tinggi. Namun, sekarang kaum usia produktif perlu
waspada terhadap ancaman stroke. Pada usia produktif, stroke dapat menyerang
54
terutama pada mereka yang gemar mengkonsumsi makanan berlemak dan
narkoba.
Lifestyle alias gaya hidup selalu menjadi kambing hitam berbagai penyakit
yang menyerang usia produktif. Generasi muda sering menerapkan pola makan
yang tidak sehat dengan seringnya mengkonsumsi makanan siap saji. Kecacatan
yang mereka sandang akibat serangan stroke, bukan hanya menjadi beban
keluarga tetapi juga beban masyarakat secara umum.
2.4. Hubungan Hipertensi dengan Stroke pada Pasien Usia Produktif
Hipertensi terkait erat dengan berbagai penyakit, telah banyak bukti
menunjukkan bahwa kenaikan tekanan darah akan meningkatkan risiko terhadap
penyakit. Jurnal Lancet tahun 2002 dalam prospective studies collaboration,
menyatakan bahwa hubungan tekanan darah dengan risiko penyakit arteri koroner
berlangsung terus menerus, konsisten dan independent terhadap faktor-faktor risiko
yang lain. Studi Multiple Risk Factor Intervention Trial (MRFIT) tahun 1999
menunjukkan bahwa peningkatan tekanan sistolik dan diastolik akan meningkatkan
risiko stroke. Kejadian penyulit kardiovaskuler maupun stroke lebih sering timbul
pada penderita hipertensi ([Link]
Menurut Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), terdapat kecenderungan
meningkatnya jumlah penyandang stroke di Indonesia dalam dasawarsa terakhir.
Kecenderungan menyerang generasi muda yang masih produktif. Ini berdampak
terhadap menurunnya tingkat produktivitas. Dulu penyakit stroke hanya
55
menyerang kaum lanjut usia (lansia). Seiring dengan berjalannya waktu, kini ada
kecenderungan bahwa stroke mengancam usia produktif bahkan di bawah usia 45
tahun (Property of [Link]
Hipertensi dapat mengakibatkan kerusakan berbagai organ seperti otak,
pembuluh darah perifer. Peningkatan tekanan darah menyebabkan peningkatan
intraplague hemorrhage, sehingga akan memperberat stenosis pembuluh darah
yang mengalami aterosklerosis. Bila tekanan darah sistemik meningkat.
Pembuluh darah serebral menjadi vasospasme (vasokontriksi). Sebaliknya, bila
tekanan darah sistemik menurun, pembuluh serebral akan menjadi vasodilatasi.
Dengan demikian, aliran sistemik meningkat cukup tinggi selama berbulan-bulan
atau bertahun-tahun, akan menyebabkan hialinisasi pada otot pembuluh serebral
dan bila terjadi penurunan tekanan darah sistemik, maka tekanan perfusi ke
jaringan otak tidak adekuat. Hal ini akan mengakibatkan iskemik serebral.
Sebaliknya bila terjadi kenaikan tekanan darah sistemik, maka tekanan perfusi
pada dinding kapiler menjadi tinggi, akibatnya terjadi perdarahan pada otak, yang
dapat menyebabkan stroke (Tjipto Haryono, 2007).
2.5. Kerangka Konsep
Gambar 2.1.
Kerangka Konsep
Variabel Independent Variabel Dependent
Hipertensi Stroke
56
2.6. Definisi Operasional
Tabel 4.
Definisi Operasional Variabel Independent dan Dependent
Skala
Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur
Ukur
Independen
t Peningkatan Melihat Dokumentas 1. Hipertensi Nominal
Hipertensi tekanan darah kartu-kartu i (check list) =0
yang pengobatan 2. Tidak
berkepanjangan (status hipertensi
di atas tingkatan pasien) dan =1
normal yang buku catatan
dapat diterima, di ruangan
tekanan darah rekam medik
sistolik (TDS)
140 mmHg dan
tekanan darah
diastolik (TDD)
90 mmHg
Dependent
Stroke Stroke adalah Melihat Dokumentas 1. Stroke Nominal
kehilangan kartu-kartu i (Cek list) hemoragik
fungsi otak yang pengobatan =0
diakibatkan oleh (status 2. Stroke
berhentinya pasien) dan iskemik = 1
suplai darah ke buku catatan
bagian otak, di ruangan
sering terjadi rekam medik
akibat
akumulasi
penyakit serebro
vaskuler.
2.7. Hipotesis
57
Ho : Tidak ada hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan stroke pada
pasien usia produktif di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
Ha : Ada hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan stroke pada pasien
usia produktif di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Tempat, Waktu dan Objek Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, tepatnya
di ruang rawat inap. Objek penelitian ini adalah seluruh pasien di ruangan stroke
yang pernah menjalani perawatan di ruang rawat inap (stroke) RSUD Dr. M.
Yunus Bengkulu dari bulan Januari 2007.
3.2. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross
sectional, desain penelitian ini dipilih untuk mengetahui hubungan stroke dengan
hipertensi pada pasien tingkat usia produktif di ruang rawat inap RSUD Dr. M.
Yunus Bengkulu selama tahun 2007.
Metode cross sectional adalah metode yang digunakan untuk mengetahui
hubungan variabel independent dan variabel dependent dengan serentak pada
individu-individu dari populasi tunggal, pada suatu saat atau periode yang sama.
3.3. Populasi dan Sampel
3.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien stroke pada usia
produktif di ruang rawat inap (stroke) yang pernah menjalani perawatan di
ruang rawat inap (stroke) dari bulan Januari 2007 sampai Maret 2008.
58
59
3.3.2. Sampel
Sampel penelitian ini menggunakan sampel total yaitu seluruh populasi
dijadikan sampel penelitian.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari status pasien di ruang
stroke RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
3.5. Teknik Pengelolaan Data
Data yang dikumpulkan melalui beberapa tahap :
1. Editing
Kegiatan editing maksudnya untuk meneliti kembali apakah lembaran
kuesioner sudah cukup baik dan dapat diproses lebih lanjut.
2. Coding
Coding adalah usaha untuk mengklasifikasikan hasil yang sudah ada menurut
macam-macam ke bentuk yang lebih singkat dengan menggunakan kode.
3. Entry data
Maksudnya disini data dimasukkan ke dalam tabulasi atau ke file komputer.
4. Tabulating data
Tabulasi adalah membuat tabel yang berisikan data yang telah diberi kode
sesuai analisis yang dibutuhkan.
60
5. Clearing data
Data yang telah masuk diperiksa kembali sesuai dengan kriteria dan clearing
bertujuan untuk membersihkan data dari kesalahan.
3.6. Teknik Analisis Data
3.6.1. Analisis Univariat
Analisis untuk mendapatkan gambaran dari variabel independent
(hipertensi) dan variabel dependent (stroke).
3.6.2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat bertujuan untuk melihat hubungan antara dua variabel
yaitu variabel independent dan variabel dependent dengan menggunakan Chi
Square (continuity correction), untuk melihat keeratan hubungan antara
hipertensi dengan stroke usia produktif digunakan uji contingency coefficient
dan OR.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan hipertensi dengan
stroke pada pasien usia produktif. Tempat penelitian ini di ruang rawat inap
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, dari bulan Januari 2007 sampai dengan bulan
Maret 2008.
Analisis Univariat
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui hubungan hipertensi
dengan stroke pada pasien usia produktif di RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu.
1. Gambaran tentang hipertensi pada pasien usia produktif
Gambaran tentang hipertensi pada pasien usia produktif dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.1.
Gambaran hipertensi pada pasien usia produktif
Hipertensi Frekuensi Persentase
Hipertensi 71 55,0%
Tidak hipertensi 58 45,0%
Jumlah 129 100,0%
Sumber : Hasil Olahan Data Tahun 2007
61
62
Tabel 4.1. di atas menunjukkan bahwa dari 129 orang sampel
terdapat 71 orang (55,0%) yang menderita hipertensi dan 58 orang
(45,0%) yang tidak menderita hipertensi.
2. Gambaran tentang stroke pada pasien usia produktif
Gambaran tentang terjadinya stroke pada pasien usia produktif
dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.2.
Gambaran tentang terjadinya stroke pada pasien usia produktif
Stroke Frekuensi Persentase
Stroke Hemoragik 57 44,2%
Stroke Iskemik 72 55,8%
Jumlah 129 100,0%
Sumber : Hasil Olahan Data Tahun 2007
Tabel 4.2. di atas menunjukkan bahwa dari 129 orang sampel
terdapat 57 orang (44,2%) yang mengalami stroke hemoragik dan 72
orang (55,8%) yang mengalami stroke iskemik.
Analisis Bivariat
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara
hipertensi dengan stroke pada pasien usia produktif di ruang rawat inap
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
Hubungan antara hipertensi dengan terjadinya stroke pada pasien
usia produktif dapat dilihat pada tabel 4.3 di bawah ini.
63
Tabel 4.3.
Tabulasi silang antara hipertensi dengan terjadinya stroke pada pasien usia
produktif di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
Stroke
Total X2 P C OR
Hemoragik Iskemik
Hipertensi Hipertens Count 42 29 71
i Expected Count 31,4 39,6 71,0
% Within 40,8% 100,0%
Hipertensi 59,2%
Tidak Count 15 43 58
Expected Count 25,6 32,4 58,0 13,029 0,000 0,316 4,152
% Within 25,9% 74,1% 100,0%
Hipertensi
Total Count 57 72 129
Expected Count 57,0 72,0% 129,0
% Within 44,2% 55,8% 100,0%
Hipertensi
Sumber : Hasil Olahan Data Tahun 2007
Tabel 4.3. di atas menunjukkan tabulasi silang antara hipertensi
dengan stroke pada pasien usia produktif di ruang rawat inap RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu. Ternyata dari 71 pasien hipertensi terdapat 42 pasien
stroke hemoragik dan 29 pasien stroke iskemik, dan dari 59 pasien tidak
hipertensi terdapat 15 pasien stroke hemoragik dan 43 pasien stroke
iskemik. Karena semua sel frekuensi ekspektasinya > 5 maka digunakan
uji Chi-square (continuity correction).
Hasil uji chi-square (continuity correction) di dapat nilai X2 =
13,029 dengan P ([Link]) = 0,000 < 0,05 berarti signifikan. Berarti
terdapat perbedaan kejadian stroke hemoragik dan iskemik antara pasien
hipertensi dan pasien tidak hipertensi. Jadi Ho ditolak dan Ha diterima.
64
Artinya ada hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan stroke pada
pasien usia produktif di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
Hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C= 0,316 dengan
approx. Sig. = 0,000 < 0,05 berarti signifikan. Nilai C tersebut dibandingan
m 1
dengan nilai Cmax= , dimana m adalah nilai terkecil dari baris atau
m
2 1
kolom, nilai Cmax= = 0,707. Karena nilai C = 0,316 jauh dengan
2
nilai Cmax = 0,707, maka kategori hubungan lemah (Sudjana, 1996).
Hasil uji Risk Estimate didapat nilai Odds Ratio (OR) = 4,152 yang
berarti pasien yang hipertensi mempunyai kemungkinan stroke hemoragik
sebesar 4,152 kali jika dibandingkan dengan pasien yang tidak hipertensi.
Pembahasan
Hubungan Hipertensi dengan Stroke pada Pasien Usia Produktif
Berdasarkan uji chi-square (continuity correction) didapat nilai X2 =
13,029 dengan P ([Link].) = 0,000 < 0,05 berarti signifikan. Berarti terdapat
perbedaan kejadian stroke hemoragik dan iskemik antara pasien hipertensi dan
pasien tidak hipertensi. Jadi Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya ada hubungan
yang signifikan antara hipertensi dengan stroke pada pasien usia produktif di
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
65
Untuk melihat adanya hubungan antara hipertensi dengan stroke pada
pasien usia produktif. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori (Gunawan Lanny,
2001). Adanya hubungan antara hipertensi dengan kejadian stroke pada pasien
usia produktif di ruang rawat inap RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu disebabkan
karena hipertensi lebih dikenal sebagai penyakit kardiovaskuler, yang
merupakan faktor pemicu utama terjadinya stroke iskemik maupun stroke
hemoragik (perdarahan). Dengan mengendalikan tekanan darah pada pasien
hipertensi, dapat menurunkan terjadinya stroke hemoragik maupun iskemik.
Dari hasil penelitian juga ditemukan hasil uji Contingency Coefficient
didapat nilai C= 0,316 dengan approx. Sig. = 0,000 < 0,05 berarti signifikan.
m 1
Nilai C tersebut dibandingkan dengan nilai Cmax= , dimana m adalah
m
2 1
nilai terkecil dari baris atau kolom, nilai Cmax= = 0,707. Karena nilai C =
2
0,316 jauh dengan nilai Cmax = 0,707, maka kategori hubungan lemah (Sudjana,
1996).
Berdasarkan teori yang ada dikatakan lemah karena stroke tidak hanya
disebabkan oleh penyakit cardiovascular saja, tetapi stroke juga dapat disebabkan
oleh penyakit lain seperti DM (diabetes mellitus), gagal ginjal, jantung,
hiperlipidemia, arteri oschlerosis dan hipervisikositas darah (Iskandar Z. Adi
Soepoetra, 2004).
66
Hasil deskripsi data dengan menggunakan analisis univariat menunjukkan
bahwa sebagian besar (44,2%) pasien yang dirawat di ruang rawat inap RSUD
Dr. M. Yunus Bengkulu mengalami kejadian stroke hemoragik. Berdasarkan
analisis bivariat diketahui bahwa nilai p = 0,000 < 0,05 maka hipotesis nol
ditolak dan hipotesis alternatif diterima.
Tabel 4.1. didapatkan bahwa dari 129 orang sampel terdapat 71 orang
(55,0%) yang menderita hipertensi dan 58 orang (45,0%) yang tidak menderita
hipertensi.
Tabel 4.2. didapatkan bahwa dari 129 orang sampel terdapat 57 orang
(44,2%) yang mengalami stroke hemoragik dan 72 orang (55,8%) yang
mengalami stroke iskemik.
Dari hasil uji Risk Estimate didapat nilai Odds Ratio (OR) = 4,152 yang
berarti pasien yang hipertensi mempunyai kemungkinan stroke hemoragik
sebesar 4,152 kali jika dibandingkan dengan pasien yang tidak hipertensi.
Hipertensi merupakan suatu peningkatan tekanan darah sistolik > 140
mmHg dan diastolik > 90 mmHg. Berdasarkan penyebabnya hipertensi
disebabkan oleh beberapa faktor, faktor peningkatan tekanan darah arteri, dan
faktor predisposisi yang meliputi genetik, umur dan jenis kelamin serta makanan
yang banyak mengandung lemak/kolesterol dan garam. Faktor genetik adanya
riwayat keluarga dekat, sedangkan faktor umur, dengan bertambahnya umur
maka risiko terkena hipertensi semakin besar, dikarenakan pada umur yang lebih
67
tua pada umumnya jantung akan sedikit mengecil yang disebabkan berkurangnya
keelastisitasan jantung.
Jenis kelamin juga mempengaruhi terjadinya hipertensi dimana laki-laki
lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan perempuan. Merokok juga
berdampak pada peningkatan tekanan darah karena sirkulasi darah bereaksi
terhadap nikotin yang dapat mempersempit pembuluh darah yang diikuti dengan
kenaikan tekanan darah yang berakibat terjadinya stroke.
Stroke merupakan gangguan sirkulasi serebral, merupakan suatu
gangguan neurologis fokal yang dapat timbul sekunder dari suatu proses patologi
pada pembuluh darah serebral misalnya trombosit, embolus, ruptur dinding
pembuluh darah (Price Sylvia A, 1995).
Stroke dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu stroke iskemik dan stroke
hemoragik. Stroke iskemik disebabkan karena penyumbatan pada arteri cerebral
oleh trombosis atau embolus. Sehingga timbul keluhan sakit kepala atau muntah,
sedangkan hemoragik stroke disebabkan karena terjadinya perdarahan di otak di
bagi atas perdarahan intraserebral (PIS) dan perdarahan subarachnoid (PSA)
gejalanya prodormal, kecuali nyeri kepala karena hipertensi sering terjadi pada
saat aktivitas, kesadaran terganggu.
Menurut Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) terdapat kecenderungan
meningkatnya jumlah penyandang stroke di Indonesia dalam dasawarsa terakhir.
Kecenderungan menyerang generasi muda yang masih produktif. Life style (gaya
hidup) selalu menjadi kambing hitam berbagai penyakit yang menyerang usia
68
produktif. Generasi muda sering menerapkan pola makan yang tidak sehat,
dengan mengkonsumsi makanan yang siap saji yang kaya lemak dan kolesterol
tetapi rendah serat, kurang olahraga, obat-obatan (seperti kokain, amfetamin)
yang dapat mempersempit pembuluh darah di otak yang berdampak pada stroke.
Kondisi pasien yang dirawat di ruang stroke sebaiknya kondisikan pada
lingkungan yang tenang dengan cara membatasi pengunjung, mengatur jam
besuk keluarga, supaya ruangan tidak terlalu ramai dan pasien bisa istirahat.
Pengunjung tidak dianjurkan merokok di ruangan, konsultasikan kepada ahli gizi
tentang diit pasien, makanan apa saja yang boleh dimakan dan tidak boleh
dimakan. Konsultasikan juga kepada ahli terapi untuk proses penyembuhan
pasien serta mengatur pemberian obat kepada pasien.
Hipertensi dapat mengakibatkan kerusakan pada berbagai organ target,
seperti otak, pembuluh darah perifer dan dapat juga disertai dengan peningkatan
tekanan darah intraplague hemorrhage, sehingga akan memperberat stenosis
pembuluh yang mengalami aterosklerosis.
Bila tekanan sistemik meningkat pembuluh darah serebral menjadi
vasospasme (vasokontriksi), sebaliknya bila tekanan darah sistemik menurun,
pembuluh darah akan menjadi vasodilatasi. Dengan demikian aliran darah
sistemik meningkat cukup tinggi akan menyebabkan hialinisasi pada otot
pembuluh serebral, dan apabila belum terjadi penurunan tekanan darah sistemik,
maka tekanan perfusi jaringan otak tidak adekuat, hal ini akan mengakibatkan
iskemik serebral, sebaliknya bila terjadi kenaikan tekanan darah sistemik, maka
69
tekanan perfusi pada dinding kapiler menjadi tinggi akibatnya terjadi perdarahan
pada otak yang dapat menyebabkan stroke (Tjipto Haryono, 2007).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam Bab IV maka dapat
dibuat kesimpulan yang merupakan jawaban atas permasalahan dan tujuan
penelitian, yaitu sebagai berikut :
1. Dari 129 responden yang terkumpul di ruang rawat inap RSUD Dr. M.
Yunus Bengkulu 71 (55,0%) orang responden mengalami hipertensi dan 58
(45,0%) orang responden yang tidak mengalami hipertensi.
2. Dari 129 responden, 57 (44,2%) orang responden mengalami stroke
hemoragik, 72 (55,8%) orang responden mengalami stroke iskemik.
3. Terdapat hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan stroke pada
pasien usia produktif di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, dikategorikan
lemah.
5.2. Saran
5.2.1. Bagi Petugas Kesehatan
Memberikan informasi kepada pasien melalui dinas kesehatan,
leaflet, flipchart, brosur, LCD dan penyuluhan dari ahli gizi tentang diit
pasien.
70
71
5.2.2. Bagi Peneliti
Diharapkan supaya peneliti mampu mengembangkan penelitian ini
dengan menggunakan variabel-variabel yang lain.
5.2.3. Bagi Akademik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh mahasiswa
STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu, khususnya jurusan keperawatan,
sebagai referensi untuk menambah wawasan mengenai hubungan
hipertensi dengan stroke pada usia produktif.
72
DAFTAR PUSTAKA
Arif, Mansjoer, dkk. 1999. Kamus Kedokteran, Edisi 3. Jilid 1. Jakarta : FKUI.
-----------------------. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. Jakarta : Media
Aesculapius FKUI.
Baughman, Diane C. Jo Ann. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Bihamsyim. 2007. Penatalaksanaan Fisioterapi pada Stroke. Surabaya.
Brainriza. 2007. Stroke Mengancam Usia Produktif. Jakarta.
Boedi, Darmojo. 2001. Survei Prevalensi di Indonesia. [Link]/merdeka/
arsip.
Brunner dan Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Volume 2. Jakarta.
Doenges Marilynn. E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta.
Dokter Kitc. 2008. Majalah Kesehatan Keluarga. Jakarta : PT. Dian Rakyat.
Gunawan, Lanny. 2001. Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi). Jakarta : Kanisius.
[Link]
Hull, Alison. 1996. Penyakit Jantung Hipertensi dan Nutrisi. Jakarta : Bumi Aksara.
Iskandar, Junaidi. 2006. Stroke A.2. Jakarta : PT. Bhuana Ilmu Populer.
Iskandar Z. Adi Sapoetra. 2004. Plarmin Solusi Stroke dan Serangan Jantung.
Jakarta : PT. Plasmindo Prima Sejahtera.
Mansjoer, Arief, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. Jilid I. Jakarta :
Media Aesculapius.
Ni Made Swantari. 2001. Masalah Hipertensi dan Penanggulangannya. Jakarta :
Yayasan Penerbit IDI.
Noer, Sjaifoellah. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi Ketiga.
Jakarta : FKUI.
73
Price Sylvia. A. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta :
EGC.
Property of [Link]
Rohaendi blogspot. 2008. Hipertensi dan Rosella. Jakarta.
Tjipto, Haryono. 2007. Ilmu Penyakit Saraf. Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas.