0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
66 tayangan131 halaman

AM dan FM: Prinsip dan Proses Modulasi

Dokumen tersebut membahas tentang Amplitude Modulation (AM) dan Frequency Modulation (FM). AM adalah proses modulasi dimana amplitudo sinyal pembawa diubah sesuai sinyal informasi, sedangkan pada FM frekuensi sinyal pembawa yang diubah. Dokumen ini menjelaskan proses modulasi dan demodulasi pada kedua sistem tersebut beserta istilah-istilah terkait seperti deviasi frekuensi, indeks modulasi, dan lebar pita.

Diunggah oleh

Yusep Kurnia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
66 tayangan131 halaman

AM dan FM: Prinsip dan Proses Modulasi

Dokumen tersebut membahas tentang Amplitude Modulation (AM) dan Frequency Modulation (FM). AM adalah proses modulasi dimana amplitudo sinyal pembawa diubah sesuai sinyal informasi, sedangkan pada FM frekuensi sinyal pembawa yang diubah. Dokumen ini menjelaskan proses modulasi dan demodulasi pada kedua sistem tersebut beserta istilah-istilah terkait seperti deviasi frekuensi, indeks modulasi, dan lebar pita.

Diunggah oleh

Yusep Kurnia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

AMPLITUDE MODULATION (AM) DAN FREQUENCY


MODULATION (FM)

1.1 TUJUAN PRAKTIKUM


1. Mempelajari dan memahami proses Amplitude-Modulation (AM) dan cara
kerja sebuah sinyal carrier (pembawa) menggunakan sebuah modulator
bipolar.
2. Mempelajari dan mengetahui suatu proses demodulasi sinyal amplitude-
niodulasi.
3. Mempelajari dan memahami proses modulasi dan demodulasi pada sistem
Modulasi Frekuensi. (Frequency Modulation (FM)).
4. Mendefinisikan dan menerangkan istilah-istilah pada Modulasi Frekuensi
Frequency Modulation (FM), yaitu deviasi Frekuensi dan Indeks
Modulasi.
5. Menentukan lebar pita (Band Width FM) pada sistem Modulasi Frekuensi
Frequency Modulation (FM).

1.2 LANDASAN TEORI


1.2.1 AMPLITUDE MODULATION (AM)
Radio, televisi dan banyak sistem elektronik lainnya tidak mungkin tanpa
adanya modulation (modulasi); yaitu mengacu pada sebuali sinyal frekuensi-
rendah yang mengotrol amplituda, frekuensi, atau fase dan sebuah sinyal
frekuensi-tinggi. Ketika sinyal frekuensir endah mengontrol amplituda dan sinyal
frekuensi-tinggi, kita mendapatkan amplitude modulation (AM). Pada gambar 1 .
(a) menunjukkan sebuah modulator sederhana. Sinyal frekuensi-tinggi V adalah
input kepada sebuah potensiometer; karenanya, amplituda dan sinyal output
bergantung pada posisi dan wper. Jika kita menggerakkan wzer naik dan turun
secara sinusoidal; kita mendapatkan bentuk gelombang AM pada gambar l.(b);
amplituda dan sinyal frekuensi-tinggi yaitu [Link] sebuah laju
frekuensi-rendah.

1
Sinyal frekuensi-tinggi disebut carrier dan sinyal frekuensi-rendah adalah
sinyal yang bermodulasi. Ratusan dan putaran carrier secara normal muncul
selama satu putaran dan sinyal yang bermodulasi. Untuk alasan itu, sebuah bentuk
gelombang AM pada oscilloscope terlihat seperti sinyal pada gambar l.(c); puncak
positif dan carrier yaitu sangat dekat menempati bentuknya dan sebuah batas
teratas yang tegas yang dikenal sebagai lapisan teratas; yang sama dengan .bentuk
puncak negative dan lapisan terendah.

[Link] Persen Modulasi


Pada gambar 1 (c) dimisalkan bentuk gelombang AM. mempunyai nilai
maksimum puncak-ke- puncak pada 2 Vmax dan sebuah nilai minimum puncak-
ke-puncak pada 2 V. Koefisien modulasi dibenikan oleh
m = 2Vmax + 2Vmin Vmax + Vain

dan persen modulasi oleh Persen modulasi = m x 100%


Dalam hal ini, anggap saja kita melihat sebuah bentuk gelombang AM pada
osiloscopnya.
Bentuk gelombang ini memiliki
16−4
m= =0,6
16−4
Dan Persen modulasi = 60%

Gambar 1.1 (a). Potensiometer dapat membentuk AM. (b). Sinyal AM. (c).
Amplop AM.

2
[Link] Frekuensi Sisi (side frequencies)
Modulator adalah sebuah rangkaian nonlinear. Karenanya, kita
mendapatkan frekuensi jumlah (sum) dan kurang (difference), yang sama kepada
sebuah mixer. Sebagai contoh, anggap saja frekuensi yang bermodulasi adalah 1
kHz dan carrier adalah 1 MHz. Kemudian
Sum = 1.001 MHz
Diff = 999 kHz

Frekuensi baru yaitu disebut side frequencies (frekuensi sisi). Sum adalah
frekuensi sisiteratas, dan difference adalah frekuensi sisi terbawah.

Seperti sebuah mixer, modulator membuat dua frekuensi original, yaitu


frekuensi jumlah (sum), dan kurang (difference). Tidak seperti mixer,
bagaimanapun, output final terdiri dari carriel dan dua frekuensi tambahan (sisi).

Gambar 1.2. (a). Input sinyal AM, (b). Amplop dengan small carrier ripple.

[Link] Detektor Amplop (Envelape Detector)


Sinyal AM broadcast menggunakan frekuensi carrier diantara 540 dan
1600 kHz. Dalam studio, sebuah sinyal audio memodulasi carrier untuk membuat
suatu sinyal AM. Sebuah antena yang ditransmisikan dengan panjang yang cocok
kemudian memancarkan sinyal AM ini ke dalam ruangan. Sejauh bermil-mil,

3
antena penerima mengambil sinyal RF modulasi. Setelah diperkuat, sinyal ini
didemodulasi (audio ditemukan).
Gambar 2 (a) menunjukkan satu tipe dari demodulator. Pada dasarnya, ini
adalah sebuah detector puncak. Idealnya, puncak pada sinyal input dideteksi untuk
menemukan kembali lapisan teratas. Untuk alasan ini, rangkaian disebut sebuah
detector lapisan. Sepanjang setiap putaran carrier, dioda berubah singkat dan
mengisi kapasitor pada tegangan puncak dari putaran carrier khusus. Diantara
puncak, kapasitor turun sepanjang resistor. Dengan membuat waktu konstan RC
lebih besar daripada perioda carrier, kita hanya mendapat penurunan yang tipis
antara putaran. Dengan begini, kebanyakan sinyal carrier dipindahkan ulang.
Outputnya kemudian terlihat seperti lapisan teratas dengan sebuah ripple kecil
seperti yang ditunjukkan dalam gambar 2.(b). Frekuensi terputus dari detector
lapisan adalah:

1
fy ( max )=
2 πRCm

dimana. m adalah koefisien modulasi. Jika frekuensi lapisan ada-lah lebih besar
daripada fymx), output yang terdeteksi turun 20 dB/decade. Dengan menambah
filter low-pas pada output dari gambar 2.(a), kita dapat memindahkan ripple RF
kecil yang tersisa pada sinyal yang dideteksi, seperti diperlihatkan pada gambar 2.
(b).

1.2.2 FREQUENCY MODULATION (FM)


Modulasi Frekuensi (Frequency Modulation (FM)) adalah suatu proses
pemodulasian sinyal pemodulasi terhadap frekuensi suatu sinyal pembawa.
Sebagai akibatnya frekuensi dari sinyal pembawa akan bervariasi sesuai dengan
perubahan pada sinyal pembawa. Dalam PM, sudut phasa sinyal carrier
(pembawa) bervariasi secara linear terhadap sinyal pemodulasi. Dalam FM, sudut
phasa sinyal carrier bervariasi secara linear terhadap integrasi sinyal pemodulasi.
Karena itu, jika sinyal pemodulasi f(t) diintegrasikan terlebih dahulu, kemudian
digunakan untuk memodulasi phasa sinyal carrier, maka akan diperoleh sinyal
termodulasi FM. Tidak ada perbedaan mendasar dalam mekanisme pembangkitan

4
sinyal FM dan PM. Perbedaannya adalah bahwa pada PM phasa gelombang
termodulasi proporsional terhadap sinyal input, sedangkan pada FM proporsional
terhadap integral sinyal input.

[Link] Sistem Modulasi Frekuensi


Didefmisikan sebagai suatu sistem pemodulasian dimana amplitudo sinyal
pembawa dibuat konstan, sedangkan frekuensinya berubah-ubah sebanding
sengan amplitude sinyal pemodulasi. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar
berikut.

Gambar 1.3 (a). Sinyal informasi (sinyal audio). (b). Bentuk sinyal Modulasi
Frekuensi (PNI).

Keterangan :
a. Pada saat to s/d t 1
1. Tidak terjadi pemodulisasian & frekuensi sinyal pembawa adalah konstan
2. Amplitudo sinyal pemodulasi (AF) no. 1
b. Pada saat t 1 s/d t 2
1. Terjadi pemodulisasian
2. Jika sinyal audio (pemodulasi) mengayun kearah positif, frekuensi sinyal
pembawa naik dan mencapai maksimum pada saat sinyal audio mencapai
puncak positif.
3. Jika sinyal audio mengayun ke arah negatif, maka frekuensi sinyal
pembawa menurun dan mencapai minimum pada saat sinyal audio
mencapai puncak negatif.

Jadi berdasarkan hal tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa jauhnya
ayunan (simpangan) frekuensi sinyal pembawa ditentukan oleh" amplitudo sinyal

5
audio“, sehingga jika amplitudo sinyal audio level-nya diperbesar lagi maka
ayunan (simpangan) frekuensi sinyal pembawa juga lebih besar. Sebaliknya
semakin kecil amplitudo sinyal audio (O Volt) maka perubahan sinyal pembawa
pun akan nol. Dari sini didefinisikan bahwa jauhnya ayunan/deviasi maksimum
yang dialami oleh frekuensi pembawa disebut deviasi frekuensi (frequency
deviation).
Banyaknya frekuensi sinyal pembawa yang berubah (ber-deviasi), ditentukan
oleh frekuensi sinyal yang memodulasi. Didalam gambar 3. diperlihatkan sinyal
audio terdiri dari getar, maka sinyal pembawapun berubah frekuensinya
(berdeviasi) sebanyak dua kali. Jadi jelaslah bahwa tingginya frekuensi dari sinyal
pemodulasi menentukan perubahan-perubahan (ber-deviasi-nya) frekuensi sinyal
pembawa.

Perbandingan antara deviasi maksimum dari sinyal pembawa dengan


frekuensinya sinyal yang memodulasi disebut indek modulasi

∆ f c = deviasi frekuensi maksimum dari frekuensi sinyal pembawa.


f a= frekuensi sinyal audio ( pemodulasi ).

∆ f c merupakan jarak pergeseran frekuensi yang paling jauh dari frekuensi


semula, harga deviasi ini sebanding dengan amplitudo sinyal pemodulasi Aa.

[Link] Analisa Gelombang Modulasi Frekuensi


Dalam modulasi sudut, sinyal informasi dapat digunakan untuk mengubah
frekuensipembawa, sehingga menimbulkan modulasi frekuensi (FM). Pada
gambar 4.(a), 4.(b) dan 4.(c) ditampilkan bentuk gelombang pembawa (carrier),
pemodulasi dan termodulasi FM.

6
Gambar (a). Bentuk sinyal pembawa (carrier) V = Ac Sin ω 0 t.

Gambar (b). Bentuk sinyal pemodulasi (sinyal informasi atau audio) V = Aa Sin
ωa t

Gambar (c). Bentuk sinyal Modulasi frekuensi (FM) V= A Sin {ω c t + mf


Sin ω a t}.
Gambar 1.4. Bentuk gelombang pemodulasian pada Modulasi Frekuensi (FM).

Dari gambar diatas maka sinyal FM digambarkan pada point c dengan


persamaan :
V=Ac Sin {ω c t + mf Sin ω a t}

Bila diuraikan lebih lanjut :

V = Ac ( sin ω c t cos (mf sin ω a t) + Cos sin (mf sin ω a t)}……..(*)

Diketahui :

Cos { mf sin ω a t}

7
=Jo {mf} + 2 J 2 {mf} cos 2 ω a t + 2 J 4 {mf} cos 4 ω a t +…………. dan
seterusnya

Sin {mf sin ω a t}

=2 J 1 {mf} sin + 2 J3 (inf) sin ω a t +………… dan seterusnya

Dari persamaan yang diketahui ini, bila disubstitusikan ke persamaan .....(*),


maka diperoleh suatu persamaan berikut:

V = Ac [ Jo {mf} sinω a + J 1 {mf} {sin +(ω c+ω a) t – sin (ω c+ω a) t } + J 2


{mf} {sin (ω c+2 ωa ) t + sin (ω c-ω a) t } + J 3 {mf} {sin +(ω c+3 ω a) t – sin (ω c+
3 ω a) t } + ………… dan seterusnya]

Jn ( mf ) adalah fungsi bessel dari argumen mf orde ke n. Spektrum gelombang


FM dapat terlihat dari hasil analisa terdiri dari sejumlah komponen sinyal
pembawa sendiri ditambah beberapa Upper Side Band dan beberapa Lower Side
Band. Fungsi Jn menentukan ketinggian dari amplitudo-amplitudo sinyal.

[Link] Derajat Modulasi


Dalam sistem modulasi frekuensi, derajat modulasi (m) berbanding lurus
dengan amplitudo sinyal pemodulasi. Hal ini dapat kita ketahui sebagai berikut
Dalam sistem modulasi frekuensi yang dimaksud dengan derajat modulasi = 100
adalah simpangan [deviasi] maksimum yang dibolehkan (= yang sebanding
dengan tingginya Aa yang diperbolehkan).
Contoh :
a. Sebuah pemancar FM boleh berdeviasi maksimum sampai 75 KHz,
berarti bagi pemancar ini derajat Modulasi = 100 % adalah kalau
frekuensi pembawanya berdeviasi 75 KHz penuh. Jika pemancar ini
berdeviasi hanya 37.5 KHz, maka dikatakan bahwa derajat modulasinya
adalah 50 %.
b. Diketahui amplitudo sinyal pemodulasi setinggi 1 V menyebabkan sinyal
pembawa berdeviasi 12 KHz. Kemudian pemancar boleh berdeviasi
sampai 75 KHz yang berarti derajat modulasi 100 % adalah identik

8
dengan deviasi maksimum 75 KHz. Jadi untuk mencapai modulasi m =

75
100 % diperlukan amplitudo sinyal audio setinggi x 1 V = 6,25 volt.
12

Catatan :
Dalam modulasi frekuensi derajat modulasi > 100 % tidak akan menimbulkan
cacat. Untuk siaran broadcasting harus dibatasi sampai dengan 100 % untuk
menghindari terjadinya interferensi dengan stasion - stasion lainnya.

[Link] Lebar jalur dalam Modulasi Frekuensi (Band Width)


Jalur samping jalur samping (Side Band-Side band) yang dibangkitkan
oleh sistem modulasi frekuensi tidak sama lebar dengan side band-side band yang
dibangkitkan oleh sistem AM. Dalam sistem AM (modulasi Amplitudo)
dibangkitkan dua side band, dimana side band-band tersebut berada simetrik
diatas dan dibawahnya frekuensi pembawa. Tidak demikian halnya dalam FM,
dalam modulasi frekuensi timbul peristiwa sebagai berikut :
1. Sepasang frekuensi samping terbit diatas dan dibawah frekuensi tengah.
Kedua frekuensi samping itu simetrik terhadap frekuensi tengah. Jarak
antara frekuensi samping dan frekuensi tengah ada sejauh frekuensinya
sinyal yang memodulasi (FM).

Gambar 1.5. Gambar spektrum frekuensi dengan fc = 1 MHz.

Keterangan :
Gambar 5.(a) :

9
Suatu frekuensi pembawa (frekuensi tengah) 1 MHz termodulasi dengan
sinyal audio 10 KHz. Frekuensi-frekuensi sampingnya adalah ( 1 MHz -
10 KHz ) = 990 KHz dan ( 1 MHz + 10 KHz ) = 1.01 MHz frekuensi
samping frekuensi samping yang dibangkitkan cukup banyak, jadi tidak
hanya satu pasang saja.
Gambar 5.(b) :
Pasangan frekuensi samping ke-2 ada sejauh 2 x frekuensi yang
memodulasi, jadi ada sejauh 2 x 10 KHz = 20 KHz, maka frekuensi
sampingnya yaitu 1 MHz - 20 KHz ) 980 KHz dan ( 1 MHz + 20 KHz ) =
1.02 MHz. Pasangan frekuensi ke-3 ada sejauh 3 x frekuensi sinyal yang
memodulasi. Jadi ada sejauh 3 x 10 KHz 1MHz-30KHz)==970KHz
(1MHz=3OKHz)=1.03OMHz.
Jadi pasangan side band yang ke - n ada sejauh n fn dari frekuensi
tengahnya. Oleh sebab itu lebar band yang dimiliki sistem FM akan dapat
lebar sekali, tidak sesempit side band pada sistem AM.
2. Banyaknya frekuensi samping - frekuensi samping yang dibangkitkan
dalam FM ditentukan oleh indeks modulasi makin tinggi indeks modulasi,
semain lebar side band-nya.
3. Pasangan frekuensi samping yang berada simetrik dari frekuensi senter
mempunyai amplitudo sama tinggi.

Dalam modulasi frekuensi daya total itu selalu konstan, tetapi kenaikan
derajat modulasi melebarkan jalur keseluruhan (kenaikan derajat modulasi berarti
amplitudonya sinyal yang memodulasi dan ini berarti kenaikan deviasi).

[Link]. Demodulasi Modulasi Frekuensi


Untuk mendemodulasikan suatu sinyal FM dapat digunakan Phase Look
Loop (PLL) yang merupakan suatu osilator fase terkunci. Osilator diatur oleh
tegangan (VCO = Voltage Controlled Oscillator). Perhatikan gambar dibawah
ini :

10
Gambar 1.6. Proses demodulasi pada modulasi frekuensi.

Pada dasarnya sebuah modulator frekuensi yang berosilasi pada frekuensi


IF tengah bila tidak ada sinyal yang diterima atau bila modulasi pada pembawa
yang diterima adalah nol. Untuk kondisi yang disebutkan terakhir, keluaran
osilator adalah tepat sama frekuensinya seperti IF yang diterima dan rangkaian
Phase Comparator (pembanding phasa) menghasilkan suatu sinyal nol.. Bila
karena modulasi frekuensi yang masuk naik menjadi F IF + δ F , keluaran phase
comparator ini menimbulkan suatu sinyal keluaran yang akan mendorong
frekuensi VCO untuk naik sampai kembali lagi sesuai dengan IF, kali ini pada
F IF + δ F . Sinyal yang tampak pada masukan VCO adalah jumlah dari suatu bias
tetap ditambah dengan sinyal keluaran pembanding. Karena osilator menggeser ke
frekuensi yang lebih tinggi dan agar hal ini benar, masukan ke osilator harus lebih
besar dari pada nilai bias dan harus ada keluaran dari pembanding bila osilator
sedang berubah (Tracking). Ini berarti bahwa osilator tergeser fasanya ke IF
dengan suatu sudut yang sebanding dengan deviasi.

Jika modulasi mendorong frekuensi sinyal yang diterima menjadi lebih


rendah dan keluaran pembanding akan mengatur dirinya kesuatu nilai yang perlu
untuk menghasilkan frekuensi ini. Jika frekuensi sinyal yang diterima berubah-
ubah sesuai dengan suatu sinyal modulasi, nilai tegangan pada masukkan VCO
akan berubah-ubah disekitar nilai bias seirama dengan sinyal modulasi. Sebuah
kapasitor penggandeng dan suatu low-pass filter pada keluaran akan
menghapuskan komponen dengan komponen-komponen pembawa dari tegangan
bias dan hanya meninggalkan sinyal modulasinya saja.

11
[Link] Perhitungan Deviasi Frekuensi dan Lebar Band Width
Deviasi frekuensi adalah simpangan maksimum yang dialami oleh
frekuensi sinyal pembawa sebagai akibat adanya pemodulasian oleh sinyal
pemodulasi. Adapun rumus deviasi frekuensi, adalah : ∆ fc = 0,5 (fc max - fc
min). Pada bagian ini kita akan menerapkan perhitungan untuk mencari deviasi
frekuensi dan lebar band-Width dari sinyal FM. Perhatikan gambar 7,
diperlihatkan bentuk gelombang FM yang telah termodulasi. Pada gelombang
tersebut diketahui Tmax dan Tmin yang mana kemudian dikonversikan menjadi
nilai frekuensi. Sehingga akan diketahui fc (frekuensi carrier) dan fc, max
(frekuensi carrier maksimum setelah dimodulasi) dan fc max (frekuensi carrier
minimum setelah dimodulasi).

Gambar 1.7. Penentuan T max dan T min dari sinyal FM untuk mencari deviasi
frekuensi dan BW.

Rumus untuk mencari frekuensi swing adalah :


frekuensi swing = fc max – fc min
sehingga
∆ fc == frekuensi swing / 2
Indeks modulasi adalah perbandingan antara deviasi maksimum dari sinyal
pembawa dengan frekuensi sinyal. yang memodulasi. Adapun rumus untuk
mencari Indeks modulasi, adalah
mf = ∆ fc / fa
Band-width adalah jangkauan lebar frekuensi antara sinyal upper side band
dengan lower side band pada sistem modulasi frekuensi sebagai akibat adanya
pemodulasian oleh sinyal pemodulasi sinyal FM mempunyai lebar pita (band-

12
width) yang tidak terhingga dan sangat lebar dan rumus untuk mencari band-
width menurut rumus Carson, adalah
Band-Width = 2 (mf + 1) fa
Atau dengan. menggunakan tabel besel : Band-Width = 2.n. fa.

1.3 PERALATAN
1. Kit Praktikum AM dan FM
2. Osiloskop
3. Frequency Counter
4. Kabel Jumper

1.4 LANGKAH PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Mulai

Mempersiapkan Peralatan
Percobaan

Merangkai Rangkaian
Percobaan

Parameter Tidak
Pengukuran Sudah
Lengkap ?

Ya

Melakukan Percobaan

Pengambilan
Data

Menyimpan Peralatan
Percobaan

Selesai

Gambar 1.8 Flowchart Langkah Percobaan

1.4.1 AMPLITUDE MODULATION (AM)

[Link] Percobaan Modulator AM


1. Saklar utama modul dalam keadaan Off. Seluruh saklar yang terdapat pada
permukaan modul harus dalam keadaan off

13
2. Dari informasi yang ada pada gambar-8, apakah yang merupakan
frekuensi sisi (side frequencies)
3. Kemudian On-kan saklar utama dan On-kan saklar function generator-2
(RF) aturlah output frekuensi menjadi 100 KHz, serta On-kan saklar
function generator-1 (audio) aturlah output frekuensi menjadi sekitar
500Hz. (perhatian : ketika melakukan setting frekuensi, sebaiknya anda
atur dulu amplitudo setting-nya pada 0,5Vp-p untuk memperoleh frekuensi
tersebut. Kondisi ini dipertahankan sampai ada perintah perubahan pada
langkah berikutnya). Kemudian anda hubungkanlah output dari masing-
masing function generator tersebut sesuai dengan nama dan posisinya
kepada blok Modulator
4. Kemudian dengan menggunakan kabel jumper hubungkanlah dan
bentuklah rangkaian menjadi seperti rangkaian yang ditunjukkan pada
gambar-8. Ingat posisi hubungan input VX (function generator 2 (RF) dan
VY (function generator 1 (Audio) jangan sampai terbalik.
5. Kemudian ubahlah amplituda output dari function generator 1 (audio)
turun menjadi pada 0 V (perhatian : frekuensinya tetap jangan diubah),
kemudian anda aturlah (adjust) amplitudo output dari function generator 2
(RF) (perhatian: frekuensinya tetap) sampai anda mendapatkan pada
output terakhir (output dari HPF) Vout sekitar 1Vp-p. Untuk melakukan
pengamatan pada percobaan ini maka gunakan sweep speed dari osiloskop
pada 0,1 ms/cm atau 0,2 ms/cm dan sensitivitas vertikal dari osiloskop 0,2
V/cm (input ac)
6. Kemudian naikkan amplituda sinyal output function generator 1 (audio)
secara perlahan-lahan dan anda akan melihat amplitude modulation
(modulasi amplituda) pada output akhir Vout (Output dari HPF)
7. Kemudian coba anda tingkatkan dan kurangi level dari amplituda output
function generator 1 (audio) dan catatlah bagaimana persen modulasi
berubah
8. Kemudian Off-kan saklar utama modul, tetapi seluruh hubungan kabel
jumper jangan dilepas karena akan digunakan pada percobaan berikutny.
Catat dan analisalah hasil dari percobaan tersebut

14
[Link] Hasil Percobaan Modulator AM
Sinyal output Modulator AM

[Link] Pembahasan Percobaan Modulator AM


Modulasi amplitudo (AM) adalah modulasi analog dimana amplitudo
sinyal pesan dinyatakan dengan amplitudo sinyal pembawa, atau dengan kata lain
amplitudo sinyal pembawa dipengaruhi oleh amplitudo sinyal pesan[1] . Bentuk
gelombang sinyal pesan, sinyal pembawa dan sinyal termodulasi AM. Gelombang
yang termodulasi akan membentuk dua gelombang sinus yang saling bertolak
belakang, dimana puncak gelombangnya berubah-ubah tinggi dan rendah. Tujuan
utama modulasi adalah untuk menghasilkan sinyal termodulasi yang sesuai
dengan karakteristik saluran transmisi. Catatan gelombang pembawa adalah 180°
kebalikan fhasa memotong nol dari m (t)

15
Sinyal modulasi termasuk gelombang pembawanya mempunyai total daya
dalam sinyal termodulasi. Sesudah sinyal dimodulasi, maka ada dua bentuk
gelombang sinyal baseband pada gelombang AM yang disebut dengan band sisi
atas dan sisi bawah (upper and lower sideband). Sebagian besar daya dari sinyal
modulasi berada pada gelombang pembawanya, sedangkan sinyal informasi hanya
berada pada sidebandnya. Hal inilah yang menyebabkan gelombang AM sangat
tidak efisien.

Bentuk gelombang AM disebut juga modulasi DSBSC (Double Side-band


Suppressed Carrier). Karena antara sisi atas dan bawah berisi gelombang
informasi yang sama maka salah satu sisinya dapat ditindas dengan tujuan
mereduksi bandwith. Alasan utama mengapa amlitudo modulasi masih digunakan
karena bentuk gelombang AM mempunyai kelebihan sederhana pada bagian
pembangkitan dan penerimanya.
[Link] Percobaan Detector Amplop (Demodulator AM)
1. Saklar utama modul dalam keadaan off, perhatian seluruh posisi hubungan
jumper kabel pada percobaan amplituda modulasi jangan diubah karena
akan digunakan pada percobaan ini. Untuk melakukan pengamatan pada
percobaan ini maka gunakan sweep speed dari osiloskop pada 0,1 ms/cm
0,2 ms/cm dan sensitivitas vertikal dari osiloskop 0,2v/cm (input ac)
2. Kemudian hubungkanlah Vout yang merupakan akhir dari percobaan
amplituda modulator (percobaan B.1.1) kepada Vin dari percobaan V1.2,
Detector Amplop (envelope detector)
3. Kemudian on-kan saklar utama modul, lalu dengan hasil output terbaik
dari rangkaian yang ada pada percobaan V.1.1, hubungkan output dari
percobaan modulator AM ke rangkaian pada percobaan V.1.2
4. Gunakanlah osiloskop untuk melihat input Vin dari percobaan Detector
Amplop (envelope detector) dan juga untuk melihat output dari
demodulator (envelope detector). Amatilah juga test point lainnya

[Link] Hasil Percobaan Detector Amplop (Demodulator AM)


Sinyal output Demodulator AM

16
[Link] Pembahasan Percobaan Detector Amplop (Demodulator AM)
Demodulasi adalah Proses untuk mendapatkan kembali sinyal informasi
dari sinyal termodulasi. Proses demodulasi dapat dilakukan dengan dua cara: [1]
a. Dengan menggunakan carrier recovery (detektor Sinkron/ detektor
koheren)
b. Tanpa menggunakan carrier recovery (detektor non koheren)
Sinyal termodulasi DSB-AM dapat menggunakan kedua cara tersebut, yaitu
Detektor Koherent dengan menggunakan product detector sedangkan Detektor
Non Koheren dengan menggunakan Envelope Detector

Envelope detector adalah Rangkaian yang menghasilkan output berupa


real envelope dari sinyal inputnya. Rangkaiannya sederhana dan biaya murah
tetapi tidak dapat bekerja dengan baik pada kondisi over modulasi. Jika tidak
terdapat bedaphasa (φ = 0) maka sinyal hasil demodulasi yang diperoleh akan
maksimal (proporsional dengan sinyal informasi awal ) yaitu sebesar :
(Ac2Am / 2) cos ωmt = (Ac2/2) m(t)

1.4.2 FREQUENCY MODULATION (FM)


[Link] Percobaan Modulasi Frekuensi
1. Saklar utama modul dalam keadaan off, dan begitu juga seluruh saklar
yang terdapat pada permukaan modul praktikum dalam keadaan off
2. Persiapka osiloskop dan frequency counter. Hubungkanlah CH-1 dari
osiloskop ke pin output dari blok modulator FM, lalu On-kan osiloskop
dan aturlah kedudukan selektor pada 2 V/Div ; 0,1mS Time/Div

17
3. Kemudian anda On-kan saklar utama modul dan anda On-kan juga saklar
pada blok Modulator FM (saklar-saklar yang lain tetap dalam keadaan
Off)
4. Lau anda aturlah ’knop’ tuned in frequency (pada blok pengaturan
frekuensi pembawa (carrier), ukurlah dengan menggunakan osiloskop dan
frequency counter, agar blok Modulator FM menghasilkan output sinyal
modulasi dengan frekuensi sekitar 8 KHz.
5. Kemudian anda gambarkan bentuk gelombang tersebut pada kertas grafik
dengan skala yang benar. Kemudian anda Off-kan lah saklar pada blok
Modulator FM tersebut
6. Kemudian anda On-kan saklar pada blok ’Audio” generator.
Hubungkanlah CH-2 dari osiloskop dan frequency counter kepada output
dari Audio Generator. Aturlah agar output dari Audio Generator tersebut
menghasilkan frekuensi 500Hz dengan Amplituda 1 Vp-p
7. Kemudian anda hubungkan dengan menggunakan kabel jumper output
dari Audio Generator tersebut kepada pin ’Input Sinyal Audio (Informasi)’
pada Modulator FM. Kemudian On-kanlah saklar pada blok Modulator
FM tersebut
8. Amatilah dan ukurlah bentuk gelombang output dari yang ditampilkan
pada layar osiloskop.
9. Kemudian anda gambarkan bentuk gelombang yang telah dimodulasi
tersebut pada kertas grafik dengan skala yang benar.
10. Kemudian ulangi seluruh langkah 6 sampai dengan 9, untuk frekuensi
output dari Audio Generator 750 Hz, 1000 Hz dan 1250 Hz dengan
amplituda masing-masing 1 Vp-p.

[Link] Hasil Percobaan Modulasi Frekuensi


A. Output Sinyal Modulasi Dengan Frekuensi 8 KHz

18
B. Modulator FM 500 Hz

C. Modulator FM 1000 Hz

[Link] FM 1000 Hz

19
[Link] FM 1250 Hz

[Link] Pembahasan Modulasi Frekuensi


Frekuensi dari gelombang pembawa (carrier wave) diubah-ubah menurut
besarnya amplitudo dari sinyal informasi. Karena noise pada umumnya terjadi
dalam bentuk perubahan amplitudo, FM lebih tahan terhadap noise dibandingkan
dengan AM.

Bandwith sinyal FM lebih besar dibandingkan sinyal AM. Modulasi FM


merupakan modulasi analog yang sangat banyak digunakan, hal ini dikarenakan
noise yang rendah, tahan terhadap perubahan amplituda yang berubah-ubah
sebagai akibat fading. Penggunaan modulasi FM misalnya pada pengiriman siaran
televisi, telephone dan lain-lain

[Link] Percobaan Demodulasi Frekuensi


1. Saklar utama dalam keadaan Off, dan begitu juga seluruh saklar yang
terdapat pada permukaan modul praktikum dalam keadaan Off.

20
2. Kemudian on-kan saklar utama modul. Kemudian anda On-kan saklar
pada blok ’Audio Generator’. Hubungkanlah CH-1 dari osiloskop dan
frequency counter kepada output dari Audio Generator. Aturlah agar
output dari Audio Generator ntersebut menghasilkan frekuensi 500 Hz
dangan amplituda 1 Vp-p. Kemudian anda gambarkanlah bentuk
gelombang tersebut pada kertas grafik dengan skala yang benar.
3. Kemudian anda hubungkanlah dengan menggunakan kabel jumper output
dari Audio Generator tersebut kepada pin ’Input Sinyal Audio (Informasi)’
pada Modulator Modulator FM tersebut
4. Lalu anda aturlah ’knop’ tuned in frequency (pada blok pengaturan
frekuensi pembawa (carrier)), ukurlah dengan menggunakan osiloskop
dan frequency counter, agarModulator FM menghasilkan output sinyal
modulasi dengan frekuensi sekitar 8 KHz
5. Kemudian anda gambarkan bentuk gelombang output dari modulator FM
tersebut pada kertas grafik dengan skala yang benar.
6. Kemudian anda hubungkan dengan kabel jumper output dari Modulator
FM ke input dari Demodulator FM, dari blok transmit ke pin merah pada
blok receive dan pn hitam pada blok transmit ke pin hitam pada blok
receive.
7. Selanjutnya On-kan saklar pada blok Demodulator FM.
8. Selanjutnya anda ukurlah dengan menggunakan osiloskop otput dari
demodulator FM.
Apakah amplituda sinyal tersebut kecil? Jika kecil maka cobalah anda
putar kekanan ‘knop’ selektor Volt/Div pada osiloskop sampai terlihat
besar sinyal yang memadai.
Kemudian anda gambarkan bentuk gelombang tersebut pada kertas grafik
dengan skala yang benar.
9. Kemudian anda ukur dan ubah output dari blok Audio Generator (lepas
kabel jumpernya) agar menghasilkan frekuensi output 750Hz dengan
amplituda tetap 1Vp-p .
10. Setelah itu maka anda hubungkan kembali output dari Audio Generator
kepada input dari Modulator FM. Kemudian anda gambarkan bentuk

21
gelombang output dari modulator FM tersebut pada kertas grafik dengan
skala yang benar.
11. Perhatikan dan amati hasil output dari blok ‘Demodulator FM’. Kemudian
anda bandingkan antara input dari modulator FM dan output dari
Demodulator FM tersebut. Lalu gambarkan bentuk gelombang tersebut
pada kertas grafik dengan skala yang benar.
12. Kemudian ulangilah langkah 9 diatas untuk frekuensi output dari Audio
Generator 1000 Hz dan 1250 Hx dengan amplituda tetap 1Vp-p. kemudian
anda bandingkan antara input dari Modulator FM dan output dari
Demodulator FM tersebut. Lalu gambarkanlah bentuk gelombang teraebut
pada kertas grafik dengan skala yang benar.
13. Kemudian anda Off-kan saklar utama modul dan anda Off-kan juga
seluruh saklar yang terdapat pada permukaan modul praktikum.
14. Kesimpulan apa yang anda proleh, jelaskan.
15. Kemudian anda lepas/cabut lah seluruh kabel jumper yang menempel pada
permukaan modul praktikum tersebut karena tidak akan digunakan lagi
pada praktikum selanjutnya dan juga mempengaruhi hasil dari percobaan
selanjutnya.

[Link] Hasil Percobaan Demodulasi Frekuensi


A. Demodulasi FM 500 Hz

22
B. Demodulasi FM 750 Hz

C. Demodulasi FM 1000 Hz

[Link] FM 1250 Hz

[Link] Pembahasan Percobaan Demodulasi Frekuensi

23
Prinsip kerja dari demodulator di atas yaitu demodulator frekuensi
mendeteksi sinyal informasi dari sinyal FM dengan operasi yang berlawanan
dengan cara kerja modulator FM. Secara umum setiap demodulator FM berfungsi
mengkonversi setiap perubahan frekuensi menjadi tegangan dengan distorsi
seminimal mungkin. untuk itu, setiap demodulator FM, secara teori, harus
memiliki karakteristik kerja yang linier antara tegangan dengan frekuensi.

Definisi demodulator sendiri adalah rangkaian yang penerima komunikasi


(radio, televisi, dan radar) yang berfungsi memisahkan informasi asli dari
gelombang campuran (yaitu gelombang isyarat  pembawa yang termodulasi).
Demodulator sering juga disebut dengan detector [2]. Dalam system modulasi
frekuensi (FM) diterapkan rangkaian demodulator. sesudah isyarat informasi
dipisahkan dari gelombang campuran, maka isyarat informasi itu dikuatkan dan
ditampilkan sebagai  bunyi atau tanda-tanda lain (misalnya bayangan seperti
dalam televisi). Demodulasi sinyal FM memerlukan sebuah sistem yang akan
menghasilkan output yang proporsional terhadap deviasi frekuensi sesaat dari
inputnya.

[Link] Percobaan Deviasi Frekuensi


1. Saklar utama dalam keadaan Off, dan begitu juga seluruh aklar yang
terdapat pada permukaan modul praktikum dam keadaan Off.
2. Persiapkan osiloskop dan frequency counter. Hubungkan CH-1 dari
osiloskop ke pin output dari blok modulator FM, lalu On-kan osiloskop
dan atur kedudukan selektor pada 5 V/Div;0.1 mS Time/Div.
3. Persiapkan osiloskop dan frequency counter, hubungkan CH-2 dari
osiloskop ke pin output dari blok Audio Generator, dan atur kedudukan
selektor pada 0.5 V/Div;0.1mS Time/Div.
4. Kemudian anda On-kan saklar utama modul dan anda On-kan juga saklar
pada blok Modulator FM (saklar-saklar lain tetap dalam keadaan Off).
5. Lalu anda aturlah ‘knop’ Tuned in Frequency Frequency (pada blok
pengaturan frekuensi pembawa (carrier)), ukurlah dengan menggunakan
osiloskop dan frequency counter, agar blok Modulator FM menghasilkan
output sinyal modulasi dengan frekuensi sekitar 10 KHz.

24
6. Kemudian anda gambarkan bentuk gelombang tersebut pada kertas grafik
dengan skala yang benar. Kemudian anda Off-kan lah saklar pada blok
modulator FM tersebut.
7. Kemudian anda On-kan saklar pada blok ‘Audio Generator’. Hubungkan
CH-2 dari osiloskop dan frequency counter kepada output dari Audio
Generator. Atur lah agar output dari Audio Generator tersebut
menghasilkan frekuensi 500Hz dengan amplituda 1Vp-p.
8. Kemudian anda hubungkan dengan menggunakan kbel jumper output dari
Audio Generator tersebut kepada pin ‘ Input Sinyal Audio (Informasi)’
pada modulator FM.
Kemudian On-kan lah saklar pada blok modulator FM tersebut.
9. Selanjutnya dengan menggunakan osiloskop maka ukurlah output dari
Audio Generator dan Modulator FM tersebut. Agar daat kedua sinyal
ditampilkan secara bersamaan maka gunakan mode dual yang terdapat
pada osiloskop tersebut. Jika kedua bentuk sinyal tersebut ukurannya tidak
proporsional maka aturlah rotary selektot Time/Div dan Volt/Div sehingga
diperoleh gambar sinyal yang proporsional satu sama lain.
10. Kemudian ukur dan gambarkanlah bentuk sinyal audio (informasi) dan
sinyal termodulasi FM tersebut pada kertas grafik dengan skala yang
benar. Ukurlah TMAX dan TMIN lalu catatlah pada lembaran khusus.
11. Kemudian ulangilah langkah 7 sampai dengan langkah 10 tersebut diatas
tetapi dengan merubah nilai dari amplitudanya menjadi 2 Vp-p.
12. Kemudian ulangilah langkah 7 sampai dengan langkah 10 tersebut diatas
tetapi dengan merubah nilai dari amplitudanya menjadi 3 Vp-p.
13. Kemudian ulangilah seluruh langkah 1 sampai dengan langkah 12 tersebut
diatas tetapi dengan merubah nilai frekuensi output dari Audio Generator
menjadi 750 Hz (adapun nilai amplituda sinyalnya disesuaikan dengan
yang tercantum pada setiap langkah diatas).
14. Kemudian ulangilah seluruh langkah 1 sampai dengan langkah 12 tersebut
diatas tetapi dengan merubah nilai frekuensi output dari Audio Generator
menjadi 1000 Hz (adapun nilai amplituda sinyalnya disesuaikan dengan
yang tercantum pada setiap langkah diatas).

25
15. Kemudian ulangilah seluruh langkah 1 sampai dengan langkah 12 tersebut
diatas tetapi dengan merubah nilai frekuensi output dari Audio Generator
menjadi 1250 Hz (adapun nilai amplituda sinyalnya disesuaikan dengan
yang tercantum pada setiap langkah diatas).
16. Kemudian anda Off-kan saklar utama modul dan anda Off-kan juga
seluruh saklar yang terdapat pada permukaan modul praktiku.
17. Selanjutnya dengan data hasil percobaan yang telah anda lakukan tersebut
maka hitunglah ‘Deviasi Frekuensi’, ‘Indeks Modulasi’ dan ‘Band Width’
dari setiap sinyal yang termodulasi FM tersebut. Catatlah pada lembaran
khusus. Kesimpulan apa yang dapat anda peroleh, jelaskan.

[Link] Hasil Percobaan Deviasi Frekuensi


A. Output sinyal Modulasi Dengan Frekuensi Channel 1 & Channel 2 10 KHz

B. Output sinyal Modulasi Dengan Frekuensi 500 Hz Ch1 & Ch2

C. Output sinyal Modulasi Dengan Frekuensi 750 Hz Ch1 & Ch2

26
D. Output sinyal Modulasi Dengan Frekuensi 1000 Hz Ch1 & Ch2

E. Output sinyal Modulasi Dengan Frekuensi 1250 Hz Ch1 & Ch2

[Link] Pembahasan Percobaan Deviasi Frekuensi

27
Modulasi frekuensi didefinisikan sebagai deviasi frekuensi sesaat sinyal
pembawa (dari frekuensi tak termodulasinya) sesuai dengan amplitudo sesaat
sinyal pemodulasi. Sinyal pembawa dapat berupa gelombang sinus, sedangkan
sinyal pemodulasi (informasi) dapat berupa gelombang apa saja (sinusoidal,
kotak, segitiga, atau sinyal lain misalnya sinyal audio). Hasil percobaan diatas
mengilustrasikan modulasi frekuensi sinyal pembawa sinusoidal dengan
menggunakan sinyal pemodulasi yang juga berbentuk sinyal sinusoidal.

Besar selisih antara frekuensi sinyal termodulasi FM pada suatu saat


dengan frekuensi sinyal pembawa disebut deviasi frekuensi. Deviasi frekuensi
maksimum didefinisikan sebagai selisih antara frekuensi sinyal termodulasi
tertinggi dengan terendahnya

1.5 PERTANYAAN
1. Bagaimana hasil analisa anda terhadap percobaan amplituda modulasi.
2. Bagaimana hubungan persen modulasi terhadap output detector amplop
(envelope detector). Bagaimana hubungan pegubahan frekuensi audio
terhadap output detector amplop (envelope detector),jelaskan.
3. Kesimpulan apa yang dapat anda proleh dari masing-masing percobaan
diatas.
4. Dari percobaan V.2.1, kesimpulan apa yang dapat anda peroleh, jelaskan.
5. Dari percobaan V.2.2, kesimpulan apa yang dapat anda peroleh, jelaskan.
6. Dari percobaan V.2.3, kesimpulan apa yang dapat anda peroleh, jelaskan.
7. Tentukan ‘Deviasi Frekuensi’, ‘Indeks Modulasi’ dan ‘Band width’ dari
setiap sinyal yang termodulasi FM pada percobaan yang telah anda
lakukan.

Jawab :
1. Gelombang yang termodulasi akan membentuk dua gelombang sinus yang
saling bertolak belakang, dimana puncak gelombangnya berubah-ubah
tinggi dan rendah. Tujuan utama modulasi adalah untuk menghasilkan
sinyal termodulasi yang sesuai dengan karakteristik saluran transmisi.

28
Catatan gelombang pembawa adalah 180° kebalikan fhasa memotong nol
dari m (t)

2. Envelope detector adalah Rangkaian yang menghasilkan output berupa


real envelope dari sinyal inputnya.
Vmax−Vmin
Persen modulasi = m x 100% dimana m =
Vmax +Vmin
Dan untuk menentukan frekuensi terputus dari detector lapisan adalah

1
dengan menggunakan rumus : fy ( max )=
2 πRCm
3. Bentuk gelombang AM disebut juga modulasi DSBSC (Double Side-band
Suppressed Carrier). Karena antara sisi atas dan bawah berisi gelombang
informasi yang sama maka salah satu sisinya dapat ditindas dengan tujuan
mereduksi bandwith
Demodulasi adalah Proses untuk mendapatkan kembali sinyal informasi
dari sinyal termodulasi. Proses demodulasi dapat dilakukan dengan dua
cara:
a) Dengan menggunakan carrier recovery (detektor Sinkron/
detektor koheren)
b) Tanpa menggunakan carrier recovery (detektor non koheren)
4. Bandwith sinyal FM lebih besar dibandingkan sinyal AM. Modulasi FM
merupakan modulasi analog yang sangat banyak digunakan, hal ini
dikarenakan noise yang rendah, tahan terhadap perubahan amplituda yang
berubah-ubah sebagai akibat fading
5. Demodulator Frekuensi adalah rangkaian yang penerima komunikasi
(radio, televisi, dan radar) yang berfungsi memisahkan informasi asli dari
gelombang campuran (yaitu gelombang isyarat  pembawa yang
termodulasi)
6. Besar selisih antara frekuensi sinyal termodulasi FM pada suatu saat
dengan frekuensi sinyal pembawa disebut deviasi frekuensi. Deviasi
frekuensi maksimum didefinisikan sebagai selisih antara frekuensi sinyal
termodulasi tertinggi dengan terendahnya

29
BAB 2
MODULATOR DAN DEMODULATOR FREQUENCY SHIFT
KEYING (FSK)

2.1 TUJUAN PRAKTIKUM


1. Mempelajari sistem modulasi dan demodulasi Frequency Shift Keying (F
SK).
2. Mempelajari dan memahami cara kerja rangkaian modulator dan
demodulator FSK.

30
3. Mengetahui pemilihan dan penggunaan sinyal modulasi untuk
menghasilkan sinyal pembawa (subcarrier) space dan mark pada
Frequency Shift Keying.
4. Mempelajari dan memahami elemen rangkaian yang membentuk
modulator dan demodulator Frequency Shift Keying (FSK).

2.2 LANDASAN TEORI

2.2.1 Pengertian Dasar Frequency Shift Keying (FSK)


Frequency Shift Keying (F SK) atau Pengunci Geser Frekuensi merupakan
bentuk modulasi digital yang sederhana dan mudah dalam pengoperasiannya. FSK
addalah suatu bentuk modulasi sudut dengan amplituda konstan yang mirip
dengan FM konvensional terkecuali dengan modulasi sinyal, pada modulasi FSK,
modulasi sinyalnya adalah modulasi biner yang memiliki dua level tegangan,
sedangkan pada FM konvensional gelombang sinyalnya berbentuk analog yang
berubah secara kontinuitas. Cara modulasi pada FSK hanya berkisar pada dua
keadaan input pemodulasi, tidak berdasarkan kepada variasi kenaikan amplituda
pemodulasi seperti pada FM. Gelombang analog F SK hasil modulasi terkunci
pada adanya tegangan tinggi (high) dan rendah (low) pada input modulator,
meskipun tegangan input dinaikkan frekuensi output modulator tidak ada
perubahan begitu pun waktu tegangan input diturunkan di bawah tegangan 0 volt.

2.2.2 Pemancar (Transmitter) FSK


Rangkaian pemancar yang digunakan pada FSK adalah rangkaian
modulator FSK. Pada sistem komunikasi digital sinyal informasi yang akan
ditransmisikan berupa data-data biner yang mengubah-ubah frekuensi carrier-nya
(pembawa), ini berarti output modulator FSK merupakan fungsi step di dalam
daerah frekuensi. Masukan data biner berubah dari logic 0 ke logic 1 atau
sebaliknya, akibatnya frekuensi output modulator FSK bergeser diantara dua
keadaan frekuensi yaitu : Frekuensi mark pada saat kondisi input logic 1 (high)
dan frekuensi space pada saat kondisi logic input berlogik 0 (low).

31
Perubahan yang terjadi pada output modulator sama dengan perubahan
pada logika input modulator, dalam modulasi digital perubahan rate input
modulator disebut dengan bit rate dan satuan untuk tiap bit adalah bit per second
(bps), sedangkan perubahan rate di output modulator disebut dengan baud rate.

Dengan demikian dalam FSK perubahan rate input dan output modulator
adalah sama, oleh karena itu bit rate dan band rate adalah sama. Pemancar FSK
sederhana diperlihatkan

Gambar 2.1. (a) Blok diagram Pemancar FSK. (b) Sinyal input biner (bps) dan
output analog FSK.

[Link] Lebar Band (Band Width) FSK


Dalam sistem elektronika komunikasi yang mendasari di dalam mendesain
transmitter FSK yaitu lebar band (band width) dan hal ini merupakan masalah
yang paling utama. Uraian tentang lebar band ini sama dengan yang dibahas pada
FM, dan pada FSK juga berlaku. Modulator FSK ini menggunakan tipe modulator
yang banyak digunakan pada FM yaitu menggunakan VCO (Voltage Controlled
Oscillator) , VCO ini dapat mengikuti dengan cepat perubahan yang terjadi pada
masukan modulator secara bergantian dari logic 0 ke logic 1 atau sebaliknya.

32
Frekuensi rest (acuan) VCO dipilih sedemikian rupa sehingga berada
ditengah-tengah antara frekuensi mark dan space, kondisi logik 1 akan
menggeserkan VCO dari frekuensi rest ke frekuensi space dari rest-nya. Dengan
perubahan sinyal input dari kondisi logic 0 ke logic 1 atau sebaliknya, frekuensi
output VCO akan bergeser atau terjadi deviasi ke depan dan ke belakang di antara
frekuensi mark dan frekuensi space, Oleh sebab itu FSK merupakan bentuk
modulasi frekuensi maka rumus untuk indeks modulasinya sama dengan pada FM
dengan rumus :
∆f
IM =
fa
Dimana:
IM : Indeks Modulasi
∆f = Deviasi Frekuensi
fa = Frekuensi Modulator

karena FSK identik dengan FM, maka BW FSK dapat juga dihitung cara carson :
BW= [Link] (IM + 1) [Hz]

Gambar 2.2. (a). Sinyal input FSK. (b). Frekuensi dasar dari sinyal input biner.

Keterangan :

Tb = waktu satu bit


fb = Input Bit rate (bps) = output bit rate modulator (Baud).
1
= frekuensi dasar dari gelombang square
T
f = frekuensi dasar dari sinyal input biner

33
Nilai indeks modulasi terburuk adalah terjadi pada saat indeks modulasi
dengan bandwidth yang paling lebar atau disebut ratio deviasi, bandwidth yang
lebar terjadi saat deviasi kedua frekuensi dan frekuensi pemodulasi berharga
maksimum. Di dalam modulator FSK, ∆f adalah deviasi puncak frekuensi carrier
dan ini sama dengan perbedaan di antara frekuensi rest, frekuensi space dan mark.
Deviasi puncak frekuensi tergantung pada pemodulasi, sinyal input data untuk
semua logic 0 mempunyai tegangan sama, sehingga deviasi frekuensi konstan dan
selalu berharga maksimum, fa sama dengan frekuensi dasar dari input biner yang
nilainya di bawah kondisi nilai terburuk, sama dengan setengah dari bit rate
sehingga untuk FSK, indeks modulasi diuraikan menjadi

Dimana :

fm−fs
= Puncak deviasi frekuensi
fb

fb
= Frekuensi dasar dari sinyal input biner
2

Seperti pada FM, indeks modulasi menunjukkan kelebaran band, sehingga dalam
FSK indeks modulasi umumnya tergantung pada logic 0 dan logic 1.

Gambar 2.3 Spektrum Frequency Shift Keying (FSK).

Jadi BW F SK minimum yang dibutuhkan

∆f =f 2−fo=fo−f 1

34
2 . ∆f = f2 - f1

BW FSKmin = 2 . ∆f . (l/T) [Hz]

Supaya tidak terjadi distorsi maka deviasi dari frekuensi mark dengan frekuensi
space harus lebih besar dari setengah input bit rate.

l 1
2∆f> atau 2∆f + Rb
2Tb 2

2.2.3 Penerimaan (Receiver) FSK


Rangkaian yang paling utama digunakan untuk demodulator FSK adalah
dengan prinsip kerja PLL (Phase Locked Loop) , seperti yang terlihat pada
gambar 2.4 di bawah ini. Demodulator PLL-FSK prinsip kerjanya seperti pada
modulator FM, input PLL bergeser di antara frekuensi mark dan space. Tegangan
dc error pada output phase comparator mengikuti pergeseran frekuensi, sebab di
sini hanya ada dua tegangan output error, tegangan error pertama
menggambarkan logic 1 dan satu lagi menggambarkan logic O. Kedua level
output ini memberikan petunjuk pada kondisi input sinyal FSK. Pada umumnya
frekuensi natural PLL dibuat sama dengan frekuensi center pada modulator FSK,
akibatnya perubahan tegangan error mengikuti perubahan frekuensi input analog
dan simetri sekitar 0 Volt.
Dalam operasi PLL loop filter sangat penting, karena tegangan DC akan
melalui filter menuju VCO, walaupun demikian kerja filter penting ditinjau dari
AC. Sebenarnya lebar band (bidang) dari sistem ditentukan oleh loop filter. Lebar
bidang tersebut dipilih sesuai dengan kebutuhan look in atau rentang hold in yang
diinginkan dan waktu yang diperlukan untuk membuat lock.

35
Gambar 2.4. Penerima (Receiver/demodulator) FSK

Lebar bidang frekuensi loop harus dijaga agar tetap sempit untuk
meminimumkan “filter” dari pengaruh “noise” luar atau akibat komponen-
komponen interferensi. Tetapi lebar bidang loop harus dapat melewatkan
komponen yang diinginkan dan waktu yang diperlukan untuk membentuk
rentangan capture yang baik. Agar dapat melewatkan komponen frekuensi yang
cukup lebar, bidang loop harus lebar pula agar dapat dihasilkan dengan baik, dan
dapat menampung komponen frekuensi untuk proses demodulasi. Bila dipakai
untuk demodulasi dari suatu sinyal FM kita tahu bahwa lebar bidang harus lebih
besar daripada yang dibutuhkan untuk proses demodulasi suatu sinyal AM dengan
band yang sempit.

FSK banyak digunakan untuk sistem radio digital, mempunyai tingkat


kesalahan yang lebih rendah dari pada PSK, umumnya digunakan untuk sistem
radio digital dengan kapasitas pelayanan yang tinggi, FSK ini juga digunakan
pada jalur pembicaraan telepon untuk komunikasi data.

Frequency Shift Keying (FSK) meupakan bentuk modulasi digital. Cara


pemodulasian FSK hanya berkisar pada dua keadaan amplituda input pemodulasi,
tidak berdasarkan kepada variasi kenaikan amplituda pemodulasi seperti pada FM.
Frekuensi sinyal output hasil modulasi F SK terkunci pada tegangan input
pemodulasi tinggi (high) dan rendah (low). Meskipun tegangan input dinaikkan,
frekuensi output modulator FSK tidak mengalami perubahan (tetap) begitupun
saat tegangan input diturunkan di bawah tegangan 0 volt.

Pada gambar 2.6 dibawah ini ditampilkan diagram blok dari modulator
FSK yang digunakan dalam praktikum Modulator dan demodulatot FSK ini.

2.3 PERALATAN
1. Modul Praktikum Modulator dan Demodulator Frequency Shift Keying
(FSK).
2. Osiloskop + probe
3. Kabel-kabel Jumper

36
4. Frequency counter dan multimeter digital.

2.4 LANGKAH PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


Mulai

Mempersiapkan Peralatan
Percobaan

Merangkai Rangkaian
Percobaan

Parameter Tidak
Pengukuran Sudah
Lengkap ?

Ya

Melakukan Percobaan

Pengambilan
Data

Menyimpan Peralatan
Percobaan

Selesai

Gambar 2.5 Flowchart Langkah Percobaan

Gambar 2.6 Diagram Blok Modulator FSK

2.4.1 Mengukur dan mengamati rangkaian modulator FSK


1. Saklar utama modul dalam keadaan off dan seluruh saklar yang terdapat
pada modul pratikum harus dalam keadaan off. Perhatikan gambar 5
diatas, kemudian anda perhatikan modul pratikum pada modulator FSK.

37
Kemudian anda hubungkanlah probe dari osiloskop ke output sinyal FSK
dari modulator Frequency shift keying (FSK).
2. Kemudian anda on-kan saklar utama modul lalu anda on-kan juga saklar
aktifasi mod FSK agar blok rangkaian modulator Frequency shift keying
(FSK) dapat aktif bekerja.
3. Amatilah gelombang output modulator sampai diperoleh gelombang
sinusoida.
4. Kemudian amati bentuk gelombang output dan lakukan pengukuran
frekuensinya.
5. Hubungkan dengan menggunakan jumper pin input data biner dengan pin
output dari blokinput logika. Dengan memberikan logic 1 (+5 volt) pada
input modulator, amati perubahan frekuensi output modulator, catat besar
frekuensinya.
Catatan : pada kondisi 1 menunjukan frekuensi Mark (fm).
6. Dengan memberikan logic 0 (0 volt) pada input modulator, amati
perubahan frekuensi modulator, catat besarnya frekuensi.
Catatan : Pada kondisi satu menunjukan frekuensi space (fs).
7. Bandingkan hasil pengukuran dengan menggunakan frequency counter.
8. Catatlah hasil percobaan anda untuk frekuensi mark (fm) dan frekuensi
space (fs). Kemudian off-kan saklar utama modul.
2.4.2 Hasil Percobaan Rangkaian Modulator FSK
1. Output Modulator FSK dengan pengukuran frekuensi 1,003 KHz

38
2. Output Modulator FSK Logic 1

3. Output Modulator FSK Logic 0

2.4.3 Pembahasan Percobaan Rangkaian Modulator FSK


Frequency shift keying (FSK) merupakan sistem modulasi digital yang
relatif sederhana. FSK biner adalah sebuah bentuk modulasi sudut dengan
envelope konstan yang mirip dengan FM konvensional, kecuali bahwa dalam
modulasi FSK, sinyal pemodulasi berupa aliran pulsa biner yang bervariasi
diantara dua level tegangan diskrit sehingga berbeda dengan bentuk perubahan
yang kontinyu pada gelombang analog [1].

Dengan adanya perubahan sinyal masukan biner dari suatu logic 0 ke logic
1 atau sebaliknya, output FSK bergeser diantara dua frekuensi. Dengan FSK
biner, maka perubahan frekuensi keluaran akan terjadi setiap adanya perubahan
kondisi logic pada sinyal masukan. Sehingga hal ini akan menyebab-kan laju

39
perubahan keluaran adalah sebanding dengan laju perubahan masukan. Dalam
modulasi digital, laju perubahan masukan pada modulator disebut bit rate dan
memiliki satuan bit per second (bps). Laju perubahan pada output modulator
disebut baud atau baud rate dan sebanding.

2.4.4 Percobaan Bentuk Gelombang Output FSK


1. Kemudian anda on-kan lah saklar utama modul dan saklar function
generator. Atur funchion generator pada gelombang square, dengan
tegangan 4 Vp-p dan frekuensi 80 Hz.
2. Hubungkan input modulator dengan output funchion generator kemudian
amati dan gambar bentuk gelombang output FSK yang terjadi. Catatlah
hasil pengamatan anda.
Kemudian off-kan saklar utama modul, jangan ada yang dirubah nilai dan
posisi koneksi.

2.4.5 Hasil Percobaan Bentuk Gelombang Output FSK


A. Output FSK Dengan Tegangan 4 Vp-p 80Hz

40
2.4.6 Pembahasan Percobaan Bentuk Gelombang Output FSK
Pergeseran frekuensi (Δω/2) adalah sebanding dengan amplitudo dan
polaritas pada sinyal input biner Laju pergeseran frekuensi tersebut sebanding
dengan setengah laju perubahan sinyal input biner fm(t), Dengan FSK biner, pusat
pada frekuensi carrier tergeser oleh masukan data biner. Hal ini akan
mengakibatkan keluaran pada modulator FSK biner merupakan fungsi step pada
domain frekuensi

2.4.7 Percobaan Mengukur Frekuensi Output Demodulator FSK


1. Perhatikan blok diagram rangkaian demulator frequency shift keying
(FSK).
2. Hubungkan input demodulator tersebut dengan output modulator (output
sinyal FSK) frequency shift keying (FSK).
3. Kemudian on-kan saklar utama modul dan on-kan juga saklar aktifasi
demod FSK.
4. Pasang probe osiloskop pada input modulator dan pada output modulator,
amati dan atur supaya gelombang output demolator dengan gelombang
input sesuai. Bila tidak diperoleh gelobang square pada output
demodulator yang identik dengan input modulator, maka harus diadakan
pengecekan dan pemeriksaan ulang rangkaian. Catatlah hasil percobaan
anda.
5. Setelah gelombang square pada output demodulator sesuai dengan input
modulator, ulangilah seluruh prosedur diatas dengan menaikan frekuensi
input modulator pada frekuensi tertentu (Usahakan kenaikanya setiap
10Hz – 20Hz).
6. Catatlah frekuensi input tersebut dan perhatikan bentuk gelombang output
dari demodulator Frequensy Shift keying (FSK).
7. Ulangilah seluruh prosedur di atas sampai pada frekuensi tertinggi
(maksimum) yang masih terdeteksi pada output demodulator, catat
frekuensi tersebut.

2.4.8 Hasil Percobaan Mengukur Frekuensi Output Demodulator FSK

41
Frequensi Output Demodulator FSK

2.4.9 Pembahasan Percobaan Frekuensi Output Demodulator FSK


Tegangan dc error pada output phase comparator mengikuti pergeseran
frekuensi, sebab hanya ada dua tegangan output error, tegangan error pertama
menggambarkan logic 1 dan satu lagi menggambarkan logic 0. Kedua level output
ini memberikan petunjuk pada kondisi sinyal input FSK. Pada umumnya
frekuensi natural dibuat sama dengan frekuensi center pada modulator FSK,
akibatnya perubahan tegangan error mengikuti perubahan frekuensi input analog
dan simetri sekitar 0 volt [3].

2.4.10 PERTANYAAN
1. Dari hasil pengamatan dan pengukuran percobaan FSK, berapa besarnya
Fa, Fm, dan Fb dan juga hitung indeks modulasi (IM), Deviasi Frekuensi
dan BW ?
2. Berapa besarnya frekuensi maksimum yang masih dapat dideteksi oleh
rangkaian FSK pada percobaan V.3? Berapa besarnya kecepatan
maksimum (bit rate) yang dapat dideteksi?
3. Mengapa diatas frekuensi maksimum tidak bisa dideteksi oleh rangkaian
demodulator?
4. Suatu modulator FSK dengan frekuensi space 60 MHz, frekuensi mark 80
MHz, jika bit rate data input 20 Mbps dan frekuensi fundamental 70 MHz.

42
tentukan baud rate, minimum band width dan gambarkan spektrum
keluaran FSK (gunakan tabel Bessel)
5. Bagaimana kesimpulan saudara mengenai percobaan FSK diatas? Jika
anda diharuskan menentukan sistem modulasi sinyal digital maka apakan
anda akan memilih sistem modulasi FSK ini, alasannya kenapa coba
jelaskan !

BAB 3
MODULATOR DAN DEMODULATOR PULSE AMPLITUDE
MODULATION (PAM) DAN MODULATOR DAN
DEMODULATOR PULSE WIDTH MODULATION (PWM)

3.1 TUJUAN PRAKTIKUM


1. Mempelajari dan memahami sistem modulasi dan demodulasi sinyal
dengan metoda pulse amplitude modulation (PAM) dan pulse width
modulation (PWM).

43
2. Mempelajari dan memahami proses serta cara kerj a dari diagram blok
rangkaian Untuk modulasi dan demodulasi sinyal dengan metoda pulse
width modulation (PWM) dan pulse amplitude modulation (PAM).
3. Mengetahui dan mengerti sifat dan karakteristik serta konsep dari blok
rangkaian yang membentuk PAM dan PWM.

3.2 LANDASAN TEORI


Pulse Amplitude Modulation (PAM) dan Pulse- Width-Modulation (PWM)
adalah merupakan suatu sistem modulasi sinyal dari beberapa sistem modulasi
sinyal yang memodulasi sifat-sifat tertentu dari suatu rentetan yang kontiniu dari
pulsa-pulsa diskrit sebagai pembawanya, yang menggantikan pembawa
gelombang sinus, seperti yang sudah dikenal hingga sekarang.

Modulasi pulsa adalah sebuah sistem analog, meskipun sample yang


bernilai diskrit dari sinyal analog yang kontiniu telah digunakan dalam proses
modulasinya. Sample diskrit ini dapat mempunyai nilai yang mana pun yang ada
dalam daerah kontiniu itu. Ini adalah salah satu perbedaan-perbedaan antara
transmisi pulsa dan transmisi digital, dimana suatu nilai diskrit hanya dapat
mempunyai satu nilai dari serangkaian angka-angka tertentu. Tetapi harus selalu
diingat bahwa sistem-sistem digital juga menggunakan pulsa-pulsa, sehingga
banyak dari karakteristik-karakteristik saluran transmisi yang dilukiskan pada
penjelasan dibawah ini juga berlaku untuk sistem-sistem digital. Ada pun
penjelasan singkatnya untuk PAM dan PWM tersebut dapat anda pelajari pada
bagian-bagian dibawah ini.

3.2.1 Pulse Amplitude Modulation (PAM)


Modulasi amplituda pulsa (Pulse Amplitude Modulation = PAM)
dihasilkan bila suatu rentetan pulsa-pulsa yang sangat pendek dengan amplituda
konstan δ(t) yang terjadi dengan kecepatan berulangnya pulsa (pulse repetition
rate) yang tinggi, dibuat berubah amplituda-nya ' dengan suatu gelombang
modulasi m(t) yang lebih lambat. Dengan demikian diperoleh efek perkalian dari
rentetan pulsa dengan sinyal modulasi. Pada gambar 1 (a), (b), dan (e) berturut-

44
turut menunjukkan serentetan pulsa, gelombang sinus modulasi, dan bentuk
gelombang PAM yang dihasilkan. Selubung dari ketinggian- ketinggian pulsa
adalah sesuai dengan gelombang modulasi. Untuk mendapatkan kembali bentuk
gelombang yang asli, kita hanya perlu melewatkan bentuk-gelombang PAM
tersebut pada sebuah filter low-pass.

[Link] Sampling PAM Alami


Sampling PAM alami (natural PAM sampling) terjadi bila pada modulator
digunakan pulsa-pulsa dengan lebar-terbatas, tetapi puncak-puncak pulsa dipaksa
untuk mengikuti bentuk-gelombang modulasi, seperti ditunjukkan dalam Gambar
1 (c). Hasilnya sekali lagi adalah sebuah spectrum yang mengandung sepasang
jalur sisi di sekitar setiap harmonisa dari frekuensi-sampling-pulsa, dan jalur-dasar
modulasi itu sendiri.

Dengan memisalkan m(t) merepresentasikan bentuk gelombang modulasi


dan p(t) rentetan pulsa, maka gelombang yang di-sampling direpresentasikan oleh
hasil kali m(t).p(t). Bahwa p(t) dapat diuraikan menjadi suatu komponen dc Vo =
Vt / Ts dan komponen-komponen harmonisa dalam bentuk Va cos (nω s t ), di
mana ω s=2 π /Tsadalah frekuensi sampling dalam radian.

Gambar 3.1. (a). Suatu rentetan pulsa p(t) yang uniform (seragam); (b). Bentuk
gelombang modulasi m(t) ; (0). Bentuk gelombang yang di-sample PAM, im
disebutkan sebagai sampling PAM alami karena ketinggian pulsa mengikuti
selubung modulasi.

45
Karena itu, hasil kali m(t).p(t) mengandung bentuk gelombang sinyal asli
dalam komponen frekuensi-rendah Vo m(t), dan ini dapat diperoleh kembali dari
bentuk gelombang PAM yang di-sample dengan menggunakan filter low-pass.
Suku-suku harmonisa adalah dalam bentuk Vam(t) cos (nω st), dan ini adalah
serupa dengan DSBSC. Untuk m(t) = sin ω m t, spectrum adalah seperti
diperlihatkan dalam Gambar 2 (a). Spektrum untuk keadaan-keadaan yang lebih
umum ditunjukkan pada Gambar 2 (b), di mana M(f) adalah spectrum untuk
sinyal jalur-dasar asli, dan fm dalam hal ini adalah frekuensi jalur-dasar yang
tertinggi.

Pada gambar yang terdapat pada gambar 2. melukiskan mengapa frekuensi


sampling fs harus lebih besar dari pada dua kali frekuensi tertinggi fm dalam
sinyal jalur-dasar. Bila M(f) akan didapatkan kembali dengan penyaringan low-
pass, lebar pemisah W ke jalur sisi lebih rendah berikutnya harus lebih besar dari
nol. Tetapi seperti terlihat pada gambar dalam gambar 2 (b), W adalah nol apabila
fm = fs - fm , dan karena itu fs = 2fm Karena itu, agar W lebih besar dari nol,
haruslah fs > 2fm

Gambar 3.2. (a). Sebagian dari spektrum untuk bentuk gelombang PAM dari
gambar 1 (c),dengan m(t) = sin ωm t ; (b) bentuk spektrum yang lebih umum.

[Link] Sampling PAM dengan Puncak-Rata


Sampling PAM dengan puncak-rata (flat-topped PAM sampling) adalah
suatu Sistem yang cukup sering digunakan karena mudahnya pembangkitan
gelombang yang dimodulasi. Di sini digunakan pulsa-pulsa dengan lebar-terbatas,
tetapi sesudah modulasr mereka mempunyai puncak-puncak yang rata. Bila
bentuk gelombang modulasi diperoleh kembali dari bentuk gelombang yang di-

46
sample berpuncak-rata dengan menggunakan filter low-pass, akan terlihat adanya
cacat (distorsi) yang disebabkan oleh segmen- segmen bentuk gelombang yang
berpuncak rata. Distorsi ini dapat diabaikan bila lebar pulsa jauh lebih kecil dari
pada perioda sampling Ts, yang biasanya memang demikian keadaannya. Bahkan
bila lebar pulsa relatif besar, bentuk distorsi ini juga diperoleh, dan dapat
dibetulkan dengan melewatkan bentuk gelombang yang dihasilkan kembali
melalui sebuah jaringan kompensasi.

Sinyal-sinyal PAM jarang sekali digunakan langsung untuk tujuan-tujuan


transmisi. Alasannya terletak pada fakta bahwa informasi modulasi terkandung di
dalam factor amplituda dari pulsa-pulsa itu, yang selama transmisi dapat dengan
mudah menjadi cacat karena adanya kebisingan, crosstalk, atau bentuk-bentuk
distorsi yang lain. Sinyal-sinyal PAM sering digunakan sebagai suatu langkah
antara pada metoda-metoda modulasi-pulsa yang lain, terutama bila digunakan
metoda multipleks pembagian-waktu (time-division multiplexing).

Gambar 3.3. Bentuk sinyal modulasi (atas) dan bentuk pulsa yang
dimodulasikan (bawah).

3.2.2 Pulse Width Modulation (PWM)


Pulse- Width-Modulation (PWM) merupakan salah satu dari beberapa
sistem yang memodulasi sifat-sifat tertentu dari suatu rentetan yang kontiniu dari
pulsa-pulsa diskrit sebagai pembawanya, yang menggantikan pembawa
gelombang sinus, seperti yang sudah dikenal hingga sekarang. Pada gambar 3
ditampilkan bentuk sinyal modulasi (atas) dan bentuk pulsa yang dimodulasikan

47
(bawah). Dari gambar tersebut terlihat bahwa lebar dari pulsa yang dimodulasikan
merupakan representasi dari bentuk sinyal modulasi (sinyal informasi). Lebar
pulsa yang terlebar merupakan representasi dari puncak sinyal sinusoida positif
(sinyal modulasi) sedangkan lebar pulsa yang tersempit merupakan representasi
dari puncak sinusoida negatif (sinyal modulasi). Begitu juga untuk ukuran ukuran
lebar pulsa yang lain adalah merupakan representasi terhadap bentuk sinyal
sinusoida (sinyal modulasi).

Pada gambar 4 ditampilkan gambar diagram blok yang menunjukkan


sebuah sistem modulasi-lebar-pulsa (pulse-width-modulation = PWM). Mula-
mula dibangkitkan sebuah sinyal PAM yang mungkin dimultipleks dengan sinyal-
sinyal PAM yang lain. Sinyal PWM dibangkitkan dari sinyal-sinyal PAM tersebut
dan dipancarkan. Pada penerima, sinyal PAM dibangkitkan kembali (regenerasi),
dan kemudian didemodulasi dengan filter low-pass.

Gambar 3.4. Diagram blok sistem transmisi Pulse- Width-Modulation (PWM).

Sinyal modulasi m(t), (A di dalam diagram blok), dikenakan ke masukan


suatu rangkaian modulasi PAM, untuk membangkitkan sinyal PAM (B). Rentetan
pulsa (C) yang diumpankan ke modulator PAM juga digunakan untuk
mengemudikan (menggerbangi = to gate) sebuah generator “bentuk miring”
(ramp generator), untuk membangkitkan suatu rentetan pulsa-pulsa ramp (D)
yang semuanya mempunyai kecuraman, amplituda, dan waktu berlangsung yang
sama. Pulsa-pulsa ramp ini langsung ditambahkan ke pulsa-pulsa PAM untuk
menghasilkan ramp (E) yang berubah-ubah tingginya. Sinyal (E) ini

48
mengemudikan (menggerbangi) suatu rangkaian “Schmitt trigger” yang
membangkitkan pulsa-pulsa persegi yang berubah-ubah lebarnya yang merupakan
gelombang PWM (F). Pulsa-pulsa PWM ini dapat langsung dipancarkan atau
digunakan sebagai masukan ke suatu modulatdr posisi-pulsa.

Pada penerima, pulsa-pulsa yang diterima (G) dimasukkan ke dalam suatu


rangkaian regenerasi untuk menghilangkan sebagian dari noise serta memperbaiki
bentuk pulsa- pulsa tersebut. Pulsa-pulsa regenerasi ini (H) mendorong sebuah
generator pulsa pedoman (reference) untuk menghasilkan serentetan pulsa-pulsa
dengan lebar dan tinggi yang sama yang disinkronkan dengan tepi awal (leading
edge) dari pulsa-pulsa dengan diterima tetapi diperlambat dengan suatu selang
waktu tertentu (I). Pulsa-pulsa yang diregenerasikan ini juga menggerbangi
generator ramp, yang menghasilkan suatu ramp dengan kecuraman-konstan
selama berlangsungnya pulsa. Pada akhir dari pulsa itu, sebuah penguat yang
mengambil sample-and-hola' amplifier, menyimpan tegangan ramp terakhir
sampai penguat di-reset (disetel kembahi) pada akhir perioda, sehingga dihasilkan
bentuk-gelombang ramp-dan-bagian-bawah (ramp-and-pedestal waveform), (J).
Pulsa- pulsa dengan amplitudo-koristan (I) ditambabkan pada bagian bawah untuk
membentuk smyal PAM (L). Bentuk-gelombang sinyal m' (t), ditunjukkan pada
M, diperoleh kembali dengan filter low-pass.

3.3 PERALATAN
1. Modul praktikum modulator dan demodulator PAM dan PWM.
2. Osiloskop dan probe
3. Frecuency counter dan multimeter digital
4. Kabel jumper

3.4 LANGKAH PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

49
Mulai

Mempersiapkan Peralatan
Percobaan

Merangkai Rangkaian
Percobaan

Parameter Tidak
Pengukuran Sudah
Lengkap ?

Ya

Melakukan Percobaan

Pengambilan
Data

Menyimpan Peralatan
Percobaan

Selesai

Gambar 3.5 Flowchart Langkah Percobaan


3.4.1 Percobaan Pulse Amplitude Modulation
1. posisi saklar utama modul dalam keadaan off(begitu juga seluruh saklar
yang ada pada modul pratikum). Pelajarilah diagram blok rangkaian
modulator dan demodulator yang di perlihatkan pada gambar 5.
2. kemudian on-kanlah saklar utama modul, lalu on-kan juga saklar pada
blok function generator 2 untuk membangkitkan sinyal sampling. Aturlah
frekuensi dan amplituda outputnya sehingga menghasilkan sinyalsampling
dengan
3. kemudian anda on-kan function generator 1 untuk membangkitkan sinyal
bentuk gelombang sinusoida yang berfuingsi sebagai sinyal informasi.
Aturlah frekuensi dan amplitude outputnya sehingga menghasilkan sinyal
informasi dengan informasi dengan frekuensi fo = 100 Hz dan amplituda
Ao = 3 Vp-p

50
4. kemudian hubungkanlah output fanction generator 2 tersebut ke input
sinyal sampling pada blok modulator PAM. Kemudian anda hubungkanlah
output fanction generator 1 tersebut ke sinyal tersebut ke sinyal input
(yang merupakan sinyal informasi) pasa blok modulator PAM.
5. lalu pasanglah probe dari osiloskop pasa pin PAM output pada modulator
PAM. Display sinyal PAM pada osiloskop . ( itu mungkin membantu
untuk dapat pemicu off pesan sinyal). Aturlah amplitudenya ( sinyal
informasi) jika nilainya terlampau kecil tetapi jika sudah baik maka jangan
di ubah-ubah
6. perhatikan hasil percobaan yang anda lakukan, catatlah magnitude
komponen spectral sinyal PAM, catatlah rasionya ( atau perbeddaan dalam
dB) antara puncakpuncak yang berdekatan atau berbatasan. Bandingkan
hasil percobaan anda dengan teori tentang spectrum sinyal PAM
7. kemudian hubungkanlah output sinyal PAM tersebut kepada input
demodulator PAM, aturlah potensiometer (adj sinyal output) sehingga
bentuk sinyal output nya sesuai dengan sinyal yang diinginkan. Amatilah
dan perhatikan bentuk sinyal output dari demudelator tersebut dan catatlah
hasil percobaan anda.
8. perhatika hasil percobaan yang anda lakukan, ukurlah magnitude dan
perbedaan dalam magnituda pada puncak spectral dengan perhitungan
anda dan perbandingkanlah dengan hasil percobaan yang anda lakukan.
9. selanjutnya, ulangi seluruh langkah diatas ( langkjah satu sampai dengan
langkah 8) tetapi menggunakan sinyal informasi dengan frekuensi fo – 200
Hz dan 300 Hz dan 400 Hz dan 500Hz dengan amplitude Ao = 3 Vp-p.
10. kesimpulan apa yang dapat anda ambil dari percobaan ini?

3.4.2. Hasil Percobaan Pulse Amplitude Modulation


A. Output Modulator PAM

51
B. Output Demodulator PAM

C. Output Demodulator PAM Dengan sinyal informasi 200 Hz

52
D. Output Demodulator PAM Dengan sinyal informasi 300 Hz

E. Output Demodulator PAM Dengan sinyal informasi 400 Hz

F. Output Demodulator PAM Dengan sinyal informasi 500 Hz

53
3.4.3 Pembahasan Percobaan Pulse Amplitude Modulation
Konsep dasar PAM adalah merubah amplitudo signal pembawa yang
masih berupa deretan pulsa (diskrit) dimana perubahannya mengikuti bentuk
amplitudo dari signal informasi yang akan dikirimkan ketempat tujuan. signal
informasi yang dikirim tidak seluruhnya tapi hanya sampelnya saja (sampling
signal)[1].

Suatu PAM akan dihasilkan jika suatu rentetan pulsa-pulsa yang sangat
pendek dengan amplitude konstan δ(t) yang terjadi dengan kecepatan berulangnya
pulsa yang tinggi, dibuat berubah amplitudenya dengan suatu gelombang
modulasi m(t) yang lebih lambat, sehingga akan diperoleh efek perkalian dari
rentetan pulsa dengsn sinyal modulasi

3.4.4 Percobaan Modulator Pulse Width Modulation (PWM)

Gambar 3.6. Diagram blok rangkaian modulator PWM.

1. saklar utama modul dalam keadaan off. Pelajarilah diagaram blok


rangkaian yang ada pada gambar 6.
2. kemudian on-kan saklar utama modul, dengan tanpa sinyal modulasi maka
lalu periksa dan ukurlah dengan menggunakan osiloskop untuk pin-pin
( astable test point, trigger dan output sinyal PMW ) yang ada pada modul
pratikum.
3. gambarkan gelombang output pada pin astable test point, ukurlah dan catat
lebar pulas, amplituda pulsa, dan frekuensinya. Gambarlah dengan
lengkap sketsa gelombang outputnya.

54
4. gambarkan sinyal output pada pin output sinyal PWM, ukurlah dan catat
lebar pulsa, amplitude pulsa dan frekuensinya. Gambarlah dengan lengkap
sketsa gelombang outputnya.
5. gambarkan gelombang output pada pada pin trigger, ukurlah dan catat
lebar pulsa, amplitude pulsa, dan frekuensinya. Gambarlah dengan
lengkap sketsa lengkap sketsa gelombang outputnya.
6. gambarlah dengan lengkapilah sketsa sluruh gelombang output yang
menunjukkan hubungan waktu antara output astble test point,
pemicu(trigget), dan output sinyal PMW. Tentukan pada sisi yang mana
pada pemicu monostable yang adalah sinkron.
7. kemudian on-kan saklar function generator 1, lalu aturlah agar di hasilkan
sinyal sinusoida dengan frekuensi f0 = 500 Hz dengan amplitude Ao =1
Vp-p
8. kemudian hubungkanlah output dari function generator 1 tersebut kepada
pin sinyal input dari demodulator PMW.
9. lalu buatlah gambar sketsa hubungan antara sinyal yang bermodulasi (500
Hz) tersebut (pin sinyal input) dan sinyal pembawa yang dimodulasi (pada
pin output sinyal PMW). Mungkin anda perlu untuk mengatur frekuensi
menjadi lebih kecil agar dapat melihat perubahan lebar pulsa( perhatian
untuk dapat melihat perubahan lebarpulsa ini dengan baik anda harus
menggunakan osoloskop yang memiliki frekuensi yang sangat tinggi atau
osiloskop digital ( 100 MHz), jika tidak memiliki osiloskop tipe tersebut
maka cukuplah anda menggunakan osiloskop biasa (20 MHz) tetapi anda
kemungkinan hanya biasa melihat lebar pulsa terlebar serta pergeserannya
yang berlangsung dengan sangat cepat.
10. kemudian amati and catatlah seluruh percobaan yang anda lakukan.
11. kemudian cobalah anda ulangi seluruh percobaan diatas tetapi
menggunakan sinyal segitiga. Aturlah output function generator 1, lalu
aturlah agar di hasilkan sinyal segitiga dengan frekuensi fo = (100 Hz)
dengan amplitude A0 = 3 A Vp-p.
12. kemudian amati dan catatlah seluruh percobaan yang anda lakukan.

55
13. apakah perbedaan antara menggunakan sinyal gelombang-sinus dan sinyal
gelombang –segitiga untuk sinyal yang bermodulasi…??

3.4.5 Hasil Percobaan Modulator Pulse Width Modulation (PWM)


A. Output Pin Astable Test Ponit

B. Output Sinyal Trigger

C. Output Sinyal Modulator PWM dengan Sinyal Sinusoidal Function Generator-


1 500Hz dan amplitudo 1Vp-p

56
D. Output Sinyal Modulator PWM dengan Sinyal Segitiga Function Generator-1
500Hz dan amplitudo 1Vp-p

3.4.6 Pembahasan Percobaan Modulator Pulse Width Modulation (PWM)


Pulse Width Modulation (PWM) Sebuah cara untuk merubah/memodulasi
lebar pulsa. Mulanya dibangkitkan sebuah sinyal PAM yang mungkin
dimultipleks dengan sinyal PAM yang lain. Sinyal PWM dibangkitkan dari sinyal
PWM tersebut dan dipancarkan Modulasi PWM ini melakukan variasi lebar
pulsa tergantung dari sinyal modulasinya[1]

Pada modulasi PWM, lebar pulsa pembawa diubah-ubah sesuai dengan


besarnya tegangan sinyal pemodulasi. Semakin besar tegangan sinyal pemodulasi
(informasi) maka semakin lebar pula pulsa yang dihasilkan. Modulasi PWM juga
dikenal sebagai Pulse Duration Modulation (PDM)

57
3.4.7 Percobaan Demodulator Pulsa Width Modualition ( PWM )
1. saklar utama modul dalam keadaan off. Pelajarilah diagram blok rangkaian
yang ada pada gambar 7.
2. kemudian on-kanlah saklar utama modul, lalu aturlah function generator 1
agar menghasilkan sinyal sinusoida dengan frekuensi fo = 500 Hz dengan
amplitudo Ao = 1 V . kemudian anda hubungkanlah dengan
p-p

menggunakan kabel jumper ke pin sinyal input dari blok modulator PWM.
3. Kemudian dengan menggunakan kabel jumper maka hubungkanlah output
pin output astable test point kepada pin output sinyal carrier pada blok
gain-controlled inverter amplifier- 1 dan output pin output sinyal PWM
kepada pin input sinyal PWM pada blok gain-controlled inverter
amplifier-2.
4. lalu amatilah dengan menggunakan osiloskop output masing-masingnya
pada test poont A dan test-point B. aturlah adj gain pada masing-masing
blok tersebut agar diperoleh bentuk gelombang output yang baik serta
memiliki amplitudo yang sama.
5. kemudian anda hubungkan dengan menggunakan kabel jumper output test-
point A kepada pin (A) sinyal carrier padablok demodulator PWM dan
output test-point B kepada pin (B) sinyal PMW pada blok demodulator
PWM.
6. lalu amatilah output yang terjadi pada pin output sinyal demod pada
demodulator PWM.
7. kemudian anda hubungkan lagi dengan menggunakan kabel jumper pin
output sinyal demod kepada pin input sinyal pada blok pemotong dan LPF.
Lalu anda ukur dengan menggunakan osiloskop pada pin output sinyal.
Amatilah dan catatlah seluruh hasil percobaan anda tersebut.
8. kemudian cobalah anda turunkan frekuensi sinyal informasi ( sinyal
sinusoida ) tersebut ( function generator 1 ) secara perlahan-lahan.
Perbedaan apa yang teramati dalam pin output sinyal pada blok pemotong
dan LPF ? amatilah dan catatlah seluruh hasil perdobaan anda tersebut.
Jelaskan mengapa perbedaan ini muncul.

58
3.4.8 Hasil Percobaan Demodulator pulsa width modualition ( PWM )
A. Sinyal Output Demod Pada Demodulator

B. Output Sinyal Pemotong Dan LPF

C. Output Sinyal Pemotong Dan LPFDengan Perubahan Function generator-1

59
3.4.8 Pembahasan Demodulator Pulse Width Modualition ( PWM )
Demodulasi adalah suatu teknik untuk memisahkan sinyal informasi dari
sinyal pembawa yang termodulasi[1]. Sinyal informasi diperoleh dengan cara
mendeteksi perubahan frekuensi sinyal carrier. Jika frekuensi carrier lebih tinggi
dari frekuensi tengah, maka level tegangan sinyal output demodulator berada
pada nilai maksimalnya, jika frekuensi carrier lebih rendah dari frekuensi tengah,
maka level tegangan output demodulator berada pada nilai minimalnya. Low pass
filter (LPF) berfungsi untuk menyaring frekuensi tinggi dari sinyal yang
dipancarkan dan meloloskan frekuensi rendah yang dikehendaki.

3.5 PERTANYAAN

1. Kesimpulan apa yang anda dapat dari percobaan PAM?


2. Kesimpulan apa yang anda dapat dari percobaan PWM?
3. Bandingkan kelemahan dan kelebihan dari PAM dan PWM jika digunakan
sebagai cara dan teknik untuk memodulasi sinyal informasi pada saluran
transmisi yang jauh!
Jawab :
1. Konsep dasar PAM adalah merubah amplitudo signal pembawa yang
masih berupa deretan pulsa (diskrit) dimana perubahannya mengikuti
bentuk amplitudo dari signal informasi yang akan dikirimkan ketempat
tujuan. signal informasi yang dikirim tidak seluruhnya tapi hanya
sampelnya saja (sampling signal)

60
2. Pada modulasi PWM, lebar pulsa pembawa diubah-ubah sesuai dengan
besarnya tegangan sinyal pemodulasi. Semakin besar tegangan sinyal
pemodulasi (informasi) maka semakin lebar pula pulsa yang dihasilkan.
Modulasi PWM juga dikenal sebagai Pulse Duration Modulation (PDM).
Jika frekuensi carrier lebih tinggi dari frekuensi tengah, maka level
tegangan sinyal output demodulator berada pada nilai maksimalnya, jika
frekuensi carrier lebih rendah dari frekuensi tengah, maka level tegangan
output demodulator berada pada nilai minimalnya. Low pass filter (LPF)
berfungsi untuk menyaring frekuensi tinggi dari sinyal yang dipancarkan
dan meloloskan frekuensi rendah yang dikehendaki
3. Sinyal-sinyal PAM lebih rawan cacat karena beberapa sebab seperti suara
bising, crosstalk dan distorsi yang lain, sehingga jarang dipakai untuk
tujuan transmisi. Sedangkan PWM lebih kebal dengan noise atau distorsi.

BAB 4

61
MODULATOR DAN DEMODULATOR BINARY PHASE
SHIFT KEYING (BPSK)

4.1 TUJUAN PRAKTIKUM


1. Memahami dan mempelajari sistem modulasi dan demodulasi Binary
Phase Shift Keying (BPSK).
2. Mempelajari cara kerja rangkaian modulator dan demodulator Binary
Phase Shift Keying (BPSK) dengan “Balance ring modulator”.
3. Memahami dan mengetahui diagram blok rangkaian yang membentuk
modulator dan demodulator Binary Phase Shift Keying (BPSK).

4.2 LANDASAN TEORI


Sistem modulasi sinyal dengan teknik Phase Shift Keying (PSK) adalah
suatu teknik modulasi dalam sistem transmisi gelombang pembawa yang
digunakan untuk memodulasikan sinyal diskrit (digital) sebagai sinyal informasi
ke dalam bentuk sinyal pembawa (carrier) yang analog. Teknik PSK hampir sama
dengan teknik modulasi phasa (Phase Modulasi) konvensional. Perbedaannya
terletak pada sinyal informasi yang digital.

Dengan teknik ini sinyal input digital dimodulasikan sedemikian sehingga


sinyal output berupa sinyal analog yang berubah ubah atau bergeser fasanya.
Metoda ini terutama sesuai untuk modem yang kecepatan sinyal outputnya (band
rate) harus lebih tinggi dari kecepatan sinyal inputnya (bitrate).

Ada berbagai macam teknik hasil pengembangan metoda PSK ini.


Diantaranya adalah “Quadrature Phase Shift Keying” atau QPSK. Dengan teknik
ini ada empat (4) keadaan sinyal output modulator dengan fasa yang berbeda,
masing-masing untuk dua (2) bit data biner. Ada pula teknik “eight Phase Shift
Keying” atau SPSK dengan delapan (8) keadaan sinyal output modulator, masing-
masing untuk tiga (3) bit data biner sinyal input. Dan yang terakhir ada teknik
“Sixteen Phase Shift keying” atau 16PSK. Metoda yang terakhir ini jarang
digunakan karena perbedaan fasa dari kondisi sinyal outputnya sangat kecil
sehinga menyebabkan sistem kurang

62
handal.

Gambar 4.1 Bentuk modulasi sinyal pembawa dan informasi menjadi sebuah
sinyal BPSK

4.2.1 Binary Phase Shift Keying


Binary phase Shiji keying (BPSK) adalah tipe paling sederhana dari teknik
modulasi PSK. Dengan BPSK maka didapat dua (2) kemungkinan kondisi sinyal
output (analog) dengan berbeda fasa 1800. Dari gambar 1 di atas dapat kita lihat
perbedaan kondisi sinyal output tersebut.

[Link] Modulator
Modulator pada perangkat BPSK ini merupakan suatu alat untuk
mengubah bentuk sinyal pembawa (carrier) yang dimodulasikan dengan sinyal
diskrit (digital) menjadi sinyal output BPSK. Modulator ini sendiri terdiri dari
beberapa rangkaian yaitu: Balanced Modulator (BM), Amplifier (penguat), dan
Oscillator (pembangkit sinyal). Secara jelasnya dapat anda lihat pada gambar 2 di
bawah berikut ini

Gambar 4.2 Diagram Blok Modulator BPSK


Agar lebih jelas kita bahas masing-masing komponen tersebut
Oscillator (Pembangkit Sinyal)

63
Pembangkit sinyal ini sesuai dengan namanya berfungsi untuk
membangkitkan/ menghasilkan sinyal carrier (analog) yang berupa sinusoida.
Sinyal sinusoida ini nanti akan dimodulasikan dengan sinyal diskrit (dibangkitkan
dari generator sinyal ) untuk diolah dijadikan sinyal output BPSK yang
mempunyai perbedaan fasa 180°. Proses pengolahan ini sendiri terjadi pada
balanced modulator.

Balanced Modulator
Balanced modulator pada blok diagram berfungsi sebagai “Product
Modulator”. Output dari BM adalah hasil kali dari dua sinyal input yaitu sinyal
diskrit (digital) sebagai sinyal informasi yang akan dimodulasi, dan sinyal
pembawa (carrier) yang berupa sinyal analog (sinusoida) dibangkitkan dari
oscillator.

Amplifier (penguat)
Sebenarnya hasil keluaran dari balanced modulator itu sendiri sudah
berbentuk sinyal BPSK dengan perbedaan fasa 1800, tetapi ternyata hasil yang
didapat mengalami redaman sehingga kurang jelas terlihat. Maka sinyal yang
dihasilkan tadi. dilewatkan pada amplifier (penguat) yang berfungsi untuk
memperkuat sinyal output. Besarnya penguatan itu sendiri tergantung berapa
besar yang kita inginkan.

Proses dari perubahan sinyal ternyata tidak sesederhana yang kita


bayangkan. Apabila logika “1” diwakili dengan tegangan +] Volt maka hasil kali
dengan gelombang pembawa (sin (Det) adalah +1 sin coct. Begitu pula bila logika
“O” diwakili oleh tegangan -1 Volt maka outputnya adalah -1 sin coct. Dengan
demikian pada output akan terjadi perubahan fasa sebesar 180°

Urutan logika data biner sinyal input modulator suatu saat adalah berturut-
turut “1” dan “0”. Keadaan tersebut adalah keadaan terburuk (kritis) yang dapat
terjadi pada input modulator, membentuk gelombang persegi murni (square wave)
dengan frekuensi sama dengan setengah dari kecepatan data input (bit rate).
Frekuensi pada keadaan tersebut dinamakan “Frekuensi Fundamental” dari output
modulator ( Fa = Fb/2 ). Secara matematis, output modulator BPSK adalah:

64
Output = Sin wat (frek. Fundamental) x Sin wet (…er)
Didapat z Cos(wct-wat) - l/z Cos (wet-wat)

Dengan demikian “Minimum Doubled-sided Nyquist Bandwidth” atau F 3 adalah

(wct + wat) (wct + wat)


-(wct - wat) atau -( wst + wat)
2 wat
karena wat == Fb/2
maka :

Fn= 2 [ Fb/Z] = Fb

Minimum double-side Nyquist bandwidth (Fu) adalah bandwidth minimum yang


dibutuhkan untuk mempropagasikan suatu sinyal termodulasi. Oleh karena itu
bandwidth minimum yang dibutuhkan untuk keadaan terburuk (kritis) dari sinyal
output BPSK adalah sama dengan input bit rate ( Fb)

Gambar 4.3 Diargam Blok Rangkaian Demodulator BPSK

[Link] Demodulator
Demodulator merupakan rangkaian yang berfungsi untuk mengubah
kembali sinyal output BPSK modulator menjadi sinyal diskrit (digital). Rangkaian
demodulator itu sendiri terdiri dari beberapa rangkaian yaitu : Balanced modulator
(BM), Amplifier (penguat), Coherent carrier recovery, Low Pass Filter ( LPF),
Comparator (pembanding). Secara jelas dapat kita lihat pada blok diagram yang
ditampilkan pada gambar 3.

65
Agar lebih jelas kita bahas satu persatu
Balanced Modulator
Rangkaian balanced modulator ini fungsinya sama seperti pada modulator.
Amplifier (penguat)
Rangkaian amplifier fungsinya sama seperti pada. modulator hanya
penguatannya lebih besar dibandingkan dengan penguatan pada rangkaian
modulator.
Coherent Carrier Recovery
Rangkaian ini berfungsi untuk pengambilan kembali/perbaikan dari sinyal
pembawa (carrier) dari hasil modulasi. Tetapi pada pelaksanaannya rangkaian ini
tidak dibuat karena hasil recovery sama dengan sinyal yang dihasilkan oleh
oscillator. Jadi rangkaian ini dalam pelaksanaannya diganti dengan oscillator yang
ada pada modulator.

Low Pass Filter ( LPF


Rangkaian ini berfungsi untuk meredam sinyal harmonisa kedua yang
terjadi dari hasil modulasi sinyal tersebut. Sinyal harmonisa kedua tadi diredam
sehingga sinyal yang dihasilkan akan lebih baik.

Comparator (pembanding)
Sesuai dengan namanya comparator berfungsi untuk membandingkan
sinyal input dengan suatu tegangan referensi. Maksudnya adalah untuk
memperbaiki bentuk sinyal hasil proses demodulasi. Sinyal input demodulator
tentunya berupa gelombang + Sin wct atau - Sin wct. Rangkaian Coherent carrier
recovery berfungsi untuk mengambil kembali sinyal pembawa yang sudah
termodulasi dengan mendetekti dan meregenerasi dari sinyal BPSK yang diterima
oleh rangkaian demodulator.

Dari itu dihasilkan sinyal pembawa yang fasa dan frekuensinya sama
persis dengan sinyal pembawa dari rangkaian oscilator pada modulator. Balanced
modulator di sini berfungsi sebagai product detector. Outputnya adalah hasil kali
sinyal BPSK yang diterima dengan sinyal pembawa yang sudah didapatkan
kembali. Hasil kali tersebut secara matematis dapat diuraikan sebagai berikut

66
Untuk sinyal BPSK + Sin wet ( logika “l” ) yang masuk ke demodulator, maka
output BM adalah :

Output = ( Sin wct) x ( Sin wet) == Sin2 wct


dimana:
Sin2 wct = ½ (l - Cos 2wct)
= ½ - ½ Cos 2wct (Teredam LPF)

Output = + Vz Vdc
= logika “1”

Pada uraian di atas terlihat bahwa output BM mengandung tegangan positif dc


( +l/2 Volt) dan gelombang cosinus dengan frekuensi dua (2) kali frekuensi carrier
(2wct). Dengan LPF yang frekuensi cut-oy berada jauh di bawah frekuensi ?.wct
yang pada akhirnya akan meredam harmonisa kedua dari frekuensi carrier dan
hanya melewatkan sinyal dc positif ( logika “l”)

4.2.2 Carrier Recovery


Carrier recovery adalah proses pengambilan kembali sinyal pembawa dari
sinyal hasil modulasi yang diterima oleh sisi penerima. Walaupun dalam
pelaksanaannya rangkaian ini tidak dibuat tapi kita wajib mengetahui metoda atau
cara dari carrier recovery itu untuk me-recovery sinyal pembawa dari sinyal
termodulasi BPSK. Berikut kita lihat blok diagram dari rangkaian tersebut

Gambar 4.4 Diagram blok teknik square loop

Sinyal BPSK yang masuk dilewatkan pada sebuah BPF untuk menyaring
noise yang terbawa sinyal BPSK. Kemudian sinyal dimasukkan ke rangkaian
squarer. Pada bagian ini diciptakan harmonis kedua dari sinyal pembawa,
kemudian sinyal harmonis ini fasanya dijejak oleh rangkaian PLL. Frekuensi

67
sinyal output VCO dari PLL kemudian dibagi dua ( 2 ) oleh rangkaian frekuensi
divider dan akhirnya sinyal tersebut digunakan sebagai referensi sinyal pembawa
pada product modulator rangkaian demodulator BPSK. Secara matematis sinyal
proses squarer dapat diuraikan sebagai berikut :

Untuk sinyal BPSK + Sin wct output dari rangkaian squarer adalah
Output = (+Sin wct) x (+ Sin wct) = Sin2 wct
= ½ (l – Cos wct)
= ½ (teredam) – ½ Cos 2wct

Terlihat bahwa output rangkaian squarer adalah tegangan dc ( ½ Volt ) dan sinyal
dengan frekuensi dua ( 20 kali lipat frekuensi sinyal pembawa ( Cos 2wct ).
Tegangan dc diredam oleh BPF, maka hanya didapat sinyal Cos 2wct.

Teknik lain untuk carrier recovery adalah “Costas or Quadrature Loop”.


Teknik ini lebih akurat dalam me-recover sinyal pembawa karena disertai
kemampuan untuk menghilangkan/menekan noise.

4.3 PERALATAN
1. Modul praktikum modulator dan Demodulator BPSK
2. Osciloskop dan probe
3. Frequency counter dan multimeter digital
4. Kabel Jumper

4.4 LANGKAH PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

68
Mulai

Mempersiapkan Peralatan
Percobaan

Merangkai Rangkaian
Percobaan

Parameter Tidak
Pengukuran Sudah
Lengkap ?

Ya

Melakukan Percobaan

Pengambilan
Data

Menyimpan Peralatan
Percobaan

Selesai

Gambar 4.5 Flowchart Langkah Percobaan

4.4.1 Percobaan Modulator BPSK


1. Saklar utama dalam keaclaan off. Anda pelajarilah terlebili dahulu gambar
blok diagram yang terdapat pada gambar 5. Pelajarilah hubungan koneksi
antara setiap blok pada gambar 5 tersebut yang mana merupakan diagram
blok modulator BPSK.
2. Kemudian on-kan lah sakiar utama modul, kemudian Atur Frequency
carrier oscillator pada kit praktikum hingga diperoleh frekuensi output
100 KHz dan amplitudonya 1 V Kemudian hubungkan dengan “reference
carrier in” BM - 1.
3. Kemudian aturlah function generator sebagai sumber “input data biner”
pada BM1 dengan sinyal persegi dengan frekuensi output 2 KHz dan
amplitudonya 2 vpp. Amati output BM. Catat hasil pengamatan.

69
4. Ulangi seluruh percobaan diatas untuk frekuensi ‘input data biner’ dengan
frekuensi (function generator) 3 KHz, 5 KHz, 10 KHz, 25 KHz (perhatian:
amplituda-nya tetap).
5. Kemudian lepaslah jumper yang terhubung dan function generator tetapi
reference carrier input BM - 1 tetap diberi sinyal pembawa seperti semula.
Amatilah apa yang teriadi pada outputBM- 1.
6. Kemudian hubungkanlah kembali output function generator kepada pin
input data biner BM - 1 dengan sinyal persegi 3 KHz dan amplitude 2 V,.
Kemudian Hubungkan output BPSK kepada input blok HPF dan
Amplifier, amatilah output-nya yang merupakan output sinyal BPSK.
Catat hasil pengamatan dan percobaan anda. Perhatian: Hubungan seluruh
kabel jumper serta nilai-nilai frekuensi pada prosedur percobaan terakhir
ini usahakan jangan dilepas karena akan digunakan pada langkah
percobaan berikutnya

4.4.2. Hasil Percobaan Modulator BPSK


A. Output BM-1 Dengan Input Data Biner Frekuensi 2 KHz amplitudo 2Vp-p

B. Output BM-1 Dengan Input Data Biner Frekuensi 3 KHz amplitudo 2Vp-p

70
C. Output BM-1 Dengan Input Data Biner Frekuensi 5 KHz amplitudo 2Vp-p

D. Output BM-1 Dengan Input Data Biner Frekuensi 10 KHz amplitudo 2Vp-p

D. Output BM-1 Dengan Input Data Biner Frekuensi 10 KHz amplitudo 2Vp-p

71
4.4.3. Pembahasan Percobaan Modulator BPSK
Dalam modulasi analog kita sulit membedakan antara modulasi frekuensi
dengan modulasi fase, keduanya dikatagorikan sebagai hal yang sama karena
keduanya memiliki pengaruh yang sama pada sinyal carrier perubahan frekuensi
sesuai dengan variasi amplitudo sinyal informasi yang memodulirnya.

Dalam kasus modulasi digital perbedaan antara frekuensi modulasi dengan


fase modulasi cukup jelas, karena dalam modulasi digital sinyal informasi
memiliki bentuk gelombang diskrit. Seperti dalam hal modulasi amplitudo dan
modulasi frekuensi, kita memulai dengan sinyal carrier sinusoida yang memiliki
bentuk dasar Acos[θ(t)].

Diagram blok sederhana sebuah modulator BPSK. Balanced modulator


bekerja seperti suatu switch pembalik fase. Tergantung pada kondisi logic pada
input digital, carrier yang ditransfer ke output pada kondisi. Dengan adanya
proses modulasi pada fase gelombang carrier tersebut yaitu dengan sistem phase
shift keying (PSK) nilai q(t) adalah 2πfc + f(t). Dalam hal ini nilai Φ(t)
memberikan pengertian bahwa fase dari gelombang tersebut termodulasi dan
mengandung informasi sesuai dengan input dari sinyal baseband pemodulasinya.

Dalam binary phase shift keying (BPSK), dua fase keluaran yang mungkin
akan keluar dan membawa informasi. Satu fase keluaran mewakili suatu logic 1
dan yang lainnya logic 0. Sesuai dengan perubahan keadaan sinyal masukan

72
digital, fase pada keluaran carrier bergeser diantara dua sudut yang keduanya
terpisah 180°. Nama lain untuk BPSK adalah phase reversal keying (PRK) dan
biphase [Link] adalah suatu bentuk suppresed carrier, square wave
memodulasi suatu sinyal continuous wave (CW).

4.4.4 Percobaan Demodulator BPSK


1. Saklar utama dalam keadaan off. Anda pelajarilah terlebih dahulu gambar
blok diagram yang terdapat pada gambar 6. Pelajarilah hubungan koneksi
antara setiap blok pada gambar 6. tersebut yang mana merupakan diagram
blok dan demodulator BPSK.
2. Lalu hubungkanlah dengan men ggunakan kabel jumper pm output sinyal
BPSK (output dan blok HPF dan Amp filer) kepada pin Input sinyal BPSK
(pada balanced modulator 2).
3. Kemudian hubungkanlah ‘output oscillator—2’ (dan frequency carrier
oscillator) kepada pin ‘choherent carrier recovery’, Perhatian: parameter
frekuensi dan amplituda dan percobaan terakhir sebelumnyajangan ada
yang dirubah (harus tetap).
4. Kemudian on-kan lah sakiar utama modul, lain amatilah output dan BM -
2 , catat hasil pengamatan anda
5. Lalu hubungkanlah output dan BM - 2 pada input penguat (Amplifier), dan
hubungkan juga output dan Amp filer tersebut dengan input “LPF” amati
output LPF. Catat hasil pengamatan dan percobaan anda.
6. Pada keadaan seperti di atas ubah frekuensi input data biner (function
generator) menjadi 5 KIiz dan 7 KHz (perhatian, amplitudo tetap). Amati
apa yang terjadi pada output LPF.
7. Kemudian anda atur kembali frekuensi input data biner (function
generator) menjadi 3 KHz (amplitudo tetap). Lalu hubungkan output LPF
dengan input “comparator”.
8. Lalu anda atunlah potensiometer adjustment pada blok comparator
sehingga anda peroleh lagi bentuk input data biner pada output
comparator (output data biner). Amati dan catat apa yang terjadi. Jika
bentuk sinyal output dan comparator ini tidak baik/bagus maka anda atur

73
(seting) frekuensi dan amplituda (sedikit-sedikit dan hati-hati) pada blok
frequency carrier oscillator tersebut sampai bentuk sinyal output akhir dan
comparator (output data biner) tersebut diperoleh sinyal yang baiklbagus.
9. Pada keadaan seperti di atas maka ubahlah frekuensi input data biner
(function generator) menjadi 5 KHz dan 7 KHz (amplituda tetap). Arnati
dan catat apa yang terjadi pada output comparator.
10. Kemudian anda naikkanlah frekuensi input data biner hingga 10 KHz
(amplituda tetap).
11. Amatilah apa yang terjadi ? Mengapa demikian?
12. Catatlah seluruh hasil percobaan yang anda lakukan, kesimpulan apa yang
dapat anda ambil dan seluruh percobaan yang anda lakukan.

4.4.5 Hasil Percobaan Demodulator BPSK


A. Output BM-2 Dengan Input Data Biner Frekuensi 3 KHz amplitudo 2Vp-p

B. Output LPF

74
C. Output LPF dengan input data biner 5 KHz

D. Output LPF dengan input data biner 7 KHz

E. Output LPF dengan Input data biner 3 KHz menggunakan Comparator

75
F. Output LPF dengan Input data biner 5 KHz menggunakan Comparator

G. Output LPF dengan Input data biner 7 KHz menggunakan Comparator

H. Output LPF dengan Input data biner 10 KHz menggunakan Comparator

76
4.4.6 Pembahasan Percobaan Demodulator BPSK
Untuk metode ini pemodulasinya menggunakan metode pendeteksi
koheren (Coherent Detection), yaitu mengalihkan sinyal yang datang (sinyal
informasi) dengan frekuensi pembawa yang dibangkitkan secara lokal pada
penerima. Oscilator lokal pada penerima memerlukan sumber gelombang yang
akurat didalam frekuensi dan fasa. Agar data yang diterima pada penerima bisa
optimum, maka harus mengoptimumkan penerima[1].

Pada sistem ini pertama sinyal termodulasi dilewatkan pada Low Pass
Filter (LPF) sehingga sinyal informasi diubah dalam sinyal dasar analog.
Kemudian sinyal tersebut dilakukan penyamplingan untuk diketahui harga
ekuivalen dengan harga bit. Setelah itu baru dilakukan pembandingan
(Comparator) sinyal yang telah disampling, sehingga dihasilkan keluaran dalam
bentuk biner kembali.

4.5 PERTANYAAN
1. Kesimpulan apa yang dapat diambil setelah melakukan percobaan dan
pengamatan pada prosedur percobaan pada langkah V.1.4 dan V.1.5?
2. Jelaskan cara kerja rangkaian “balance ring modulator” yang digunakan
sebagai modulator BPSK?
3. Berapa besarnya penguatan rangkaian penguat?
4. Turunkan secara matematis output dan BM —2 yang berfungsi sebagai
demodulator.
5. Apa fungsi LPF pada rangkaian demodulator BPSK.?
6. Apa kesimpulan yang dapat diambil dan percobaan point h?
7. Apa fungsi comparator pada ran gkaian demodulator BPSK

Jawab :
1. Dalam binary phase shift keying (BPSK), dua fase keluaran yang mungkin
akan keluar dan membawa informasi. Satu fase keluaran mewakili suatu
logic 1 dan yang lainnya logic 0. Sesuai dengan perubahan keadaan sinyal

77
masukan digital, fase pada keluaran carrier bergeser diantara dua sudut
yang keduanya terpisah 180°.
Untuk metode BPSK pemodulasinya menggunakan metode pendeteksi
koheren (Coherent Detection), yaitu mengalihkan sinyal yang datang
(sinyal informasi) dengan frekuensi pembawa yang dibangkitkan secara
lokal pada penerima. Oscilator lokal pada penerima memerlukan sumber
gelombang yang akurat didalam frekuensi dan fasa. Agar data yang
diterima pada penerima bisa optimum, maka harus mengoptimumkan
penerima
2. balance ring modulator bekerja seperti suatu switch pembalik fase.
Tergantung pada kondisi logic pada input digital, carrier yang ditransfer ke
output pada kondisi. Dengan adanya proses modulasi pada fase
gelombang carrier tersebut yaitu dengan sistem phase shift keying (PSK)
nilai q(t) adalah 2πfc + f(t). Dalam hal ini nilai Φ(t) memberikan
pengertian bahwa fase dari gelombang tersebut termodulasi dan
mengandung informasi sesuai dengan input dari sinyal baseband
pemodulasinya
3. 20 kali lipat frekuensi sinyal pembawa
4. Untuk sinyal BPSK + Sin wct output dari rangkaian demodulator adalah
Output = (+Sin wct) x (+ Sin wct) = Sin2 wct
= ½ (l – Cos wct)
= ½ (teredam) – ½ Cos 2wct
5. Rangkaian pada Low Pass Filter (LPF)berfungsi untuk meredam sinyal
harmonisa kedua yang terjadi dari hasil modulasi sinyal tersebut. Sinyal
harmonisa kedua tadi diredam sehingga sinyal yang dihasilkan akan lebih
baik
6. Pada sistem ini pertama sinyal termodulasi dilewatkan pada Low Pass
Filter (LPF) sehingga sinyal informasi diubah dalam sinyal dasar analog.
Kemudian sinyal tersebut dilakukan penyamplingan untuk diketahui harga
ekuivalen dengan harga bit. Setelah itu baru dilakukan pembandingan
(Comparator) sinyal yang telah disampling, sehingga dihasilkan keluaran
dalam bentuk biner kembali.

78
7. Comparator berfungsi untuk membandingkan sinyal input dengan suatu
tegangan referensi. Maksudnya adalah untuk memperbaiki bentuk sinyal
hasil proses demodulasi. Sinyal input demodulator tentunya berupa
gelombang + Sin wct atau - Sin wct. Rangkaian Coherent carrier recovery
berfungsi untuk mengambil kembali sinyal pembawa yang sudah
termodulasi dengan mendetekti dan meregenerasi dari sinyal BPSK yang
diterima oleh rangkaian demodulator.

79
BAB 5
MODULATOR DAN DEMODULTOR AMPLITUDE SHIFT
KEYING (ASK)

5.1 TUJUAN PRAKTIKUM


1. Mengenal dan memahami sistem modulator dan demodulator Amplitude
Shift Keying (ASK) serta Mengetahui dan mempelajari cara kerj anya.
2. Mempelajari dan memahami modulasi dan demodulasi Amplitude Shifit
Keying (ASK).Mempelajari dan memahami elemen rangkaian yang
3. membentuk modulator dan demodulator Amplitude Shift Keying (ASK).

5.2 LANDASAN TEORI


Pentransmisian suatu sinyal informasi dari suatu tempat ke tempat lain
ditimtut suatu kecepatan dan kualitas baik pada proses pengiriman maupun pada
proses penerimaan. Kualitas informasi yang diterima tergantung dari proses pada
pengirim dan penerima yang terkait oleh suatu bentuk sinyal yang dikirimkan
melalui media transmisi.

Metoda yang digunakan untuk membentuk sinyal yang dikirimkan melalui


media transmisi didasarkan pada beberapa cara pemrosesan suatu sinyal yang
disebut sinyal pembawa (carrier signal). Cara tersebut meliputi
1. Frekuensi ; sinyal pembawa diubah-ubah frekuensinya sebanding dengan
amplitude sinyal informasi yang memodulasi, yang disebut sebagai cara
pemodulasian frekuensi (FM).
2. Amplitude ; amplitude sinyal pembawa diubah-ubah sebanding dengan
amplitude sinyal pemodulasi disebut Amplitude Modulation (AM).
3. Phasa ; phasa sinyal pembawa berubah sebanding dengan amplitude
sinyal pembawa, biasanya digunakan sebagai pemodulasian sinyal.
digital.

Pada proses amplitude modulasi dikenal dua macam pemodulasian sinyal,


yaitu sinyal harmonis dan sinyal diskrit. Pada sinyal harmonis sinyal pemodulasi
merupakan sinyal kontinu, seperti pemodulasian sinyal suara. Dan sinyal diskrit

80
sinyal pemodulasi bukan merupakan sinyal kontinu, seperti sinyal digital. Pada
sinyal digital hanya dikenal dua macam keadaan “0” dan “1”. Jadi dengan kondisi
ini transmisi sinyal digital lebih tahan terhadap gangguan.

Dalam modulasi amplituda, amplitude sinyal pembawa Ac dengan frekuensi


wc yang termodulasikan Ac cos (wc t + 0 ) diubah besarnya sebanding dengan
amplituda sinyal pemodulasi. Frekuensi wc dan phasa O dibuat konstan. Jika
amplitude pembawa dibuat sebanding dengan amplituda sinyal pemodulasi m(t)
maka pembawa termodulasi adalah m(t) Cos wc t. Diasumsikan tidak terjadi
perbedaan phasa.

Sinyal digital dapat dimodulasikan dengan beberapa bentuk seperti ASK,


PSK, FSK, dan lain-lain. Demodulasi Sinyal. digital termodulasi sama dengan
sinyal analog termodulasi. Pada gambar 1, modulator mengubah spectrum m(t)
pada frekuensi pembawa.

Band dari sinyal termodulasi adalah 28, dengan B adalah band width sinyal
pemodulasi m(t). Dari gambar terlihat bahwa sinyal termodulasi frekuensi tengah
adalah wc dan dari dua bagian band width, spektrum yang terletak di atas
frekuensi wc adalah spectrum USB ( Upper Side Band) , dan spektrum yang
terletak di bawah frekuensi wc adalah spektrum LSB (Lower Side Band). Jika
m(t) - cos w…t maka sinyal termodulasi adalah
m(t) cos wc t = cos Wm t cos wc t
1
[cos (wm + wc) t + cos (wc - wm) t]
2

Gambar 5.1. Modulator mengubah spectrum m(t) pada frekuensi pembawa.

81
Komponen dari frekuensi (wm + wc t) adalah USB, dan frekuensi (wm -
wc) adalah LSB. Maka setiap komponen dari frekuensi pemodulasi mengambil
pergeseran dalam dua komponen, dari frekuensi (wm + wc) dalam sinyal
termodulasi.

Sinyal digital dan analog, sinyal digital dibuat dengan sejumlah simbol
bilangan contoh kata-kata tercetak terdiri dari 26 huruf, 10 angka, spasi dan
beberapa tanda baca.

Dalam kenyataan untuk sinyal digital, bentuk gelombang dalam sinyal


analog sangatlah penting dan setiap pengaruh distorsi atau interferensi pada
bentuk gelombang akan menyebabkan kesalahan dalam penerimaan sinyal. Lebih
jauh yang lebih sulit, pembentukan oleh repeater tidak dapat dilakukan karena
Noise dan distorsi tidak dapat dihilangkan dari sinyal.

Noise dan distorsi bagaimanapun kecilnya dapat terjadi untuk transmisi


jarak jauh. Sinyal akan diperlemah secara kontinu sepanjang jalur transmisi,
dengan bertambahnya jarak maka sinyal menjadi lemah sedangkan Noise dan
distorsi menjadi semakin kuat. Penguatan sinyal akan sedikit memberi
pertolongan karena sinyal dan Noise akan mempunyai penguatan yang sama.
Konsekuensinya, jarak yang jauh untuk pesan analog yang dapat dikirim dibatasi
oleh daya pengirim. Sebagai jalan keluar, merubah sistem analog dengan sistem
digital akan lebih ekonomis karena sistem digital dapat lebih tahan terhadap Noise
dan distorsi, serta lebih mudah dalam pembentukan kembali pada stasiun
repeater.
Pengubahan sinyal analog menjadi sinyal digital dapat dilakukan dengan
mengubah dari variasi frekuensi dengan amplitude tertentu. Amplitude sinyal
dalam selang waktu tertentu di- sampling dengan besar amplitude tertentu. Besar
step sampling dan lebar waktu sampling dapat mempengaruhi kualitas dari sinyal
yang di-sampling. Level amplitude ini kemudian dibuat menjadi M-simbol dengan
setiap simbol mewakili level amplitude tertentu

82
Pesan digital yang dikirimkan menggunakan bentuk gelombang listrik level
tertentu, sebagai contoh kode morse, mark dapat diwakili dengan level amplitude
A dan space diwakili dengan pulsa ber-amplitude A.

Sinyal digital terdiri dari level amplitude tertentu dapat lebih praktis dengan
mengubahnya menjadi kode biner. Sinyal analog yang diwakili oleh M-simbol
dapat diwakili dengan M kombinasi kode biner dengan jumlah n,2n = M. n
diambil untuk jumlah bit yang menghasilkan kombinasi lebih besar atau sama
dengan M.

Gambar 5.2. Besar step dan lebar waktu sampling dapat mempengaruhi kualitas
sinyal sampling.

Pada sinyal diskrit dikenal suatu cara pemodulasian sinyal digital yang
didasarkan pengubahan penguatan sehingga didapat level amplitude yang sesuai
dengan digit yang diwakili, cara pemodulasian ini disebut Amplitude Shift Keying
(ASK). Dengan demikian setiap digit diwakili oleh level amplituda tertentu.
Banyak system ASK yang dapat digunakan, misalnya ASK 2 bit, ASK 4 bit dan
lain-lain. Sistem ASK 2 bit dikenal hanya dua keadaan yaitu “0” dan “1”,
sehingga pada modulator dibutuhkan dua macam penguatan. tampak bahwa digit
“1” diwakili oleh level Q dan “0” oleh sistem ASK 4 bit terdapat empat keadaan
yaitu “00” , “01” , “l 1” , sehingga modulator membutuhkan empat macam besar
penguatan yang berbeda, dengan demikian setiap keadaan tersebut dapat diwakili
oleh suatu level amplitude sinyal pembawa tertentu… setiap keadaan diwakili
oleh satu level, keadaan “00” diwakili oleh level A, keadaan “0 l” diwakili oleh
level B, keadaan “11” diwakili oleh level C, keadaan “10” diwakili oleh level D.

Cara kerja rangkaian ASK dua bit adalah dengan membuat dua macam
besar penguatan yang berbeda. Penguatan rangkaian penguat ini dikendalikan oleh
setiap digit data yang akan dikirimkan. Digit “l” mengendalikan penguatan
rangkaian yang berbeda dengan digit “0”. Biasanya level Amplitude sinyal

83
pembawa hasil penguatan yang mewakili digit “1” lebih besar dari pada level
sinyal pembawa nol untuk mewakili digit “0” maka sistem ini dikenal sebagai
On-Of Shift keying (OOSK).

ASK mempunyai keluaran yang berubah bila sinyal data input berubah
sehingga kecepatan boud-rate sama dengan bit-rate. Kondisi board-rate tercepat
terjadi bila terjadi perubahan “1”/”0”, yang terjadi jika sinyal data input adalah
“101010”. Frekuensi dasar dari gelombang persegi biner akan sama dengan 1/2
dari bit-rate. Bila frekuensi fundamentaldinamakan fb, maka dari rumus AM
diketahui
V(t) = Ac [ 1+k m(t) ] cos wct
Ac == amplitude sinyal pembawa
m(t) = fungsi sinyal pemodulasi
wc = frekuensi sinyal pembawa
bila diasumsikan bahwa sinyal pemodulasi adalah Aa cos wa t maka :
V(t) = Ac [ l+rn coc wa t ] cos wc t
V(t) = Ac cos wc t + m Ac cos wa t cos wc t
V(t) = Ac cos wc t + m 0,5 Ac [ cos (wa - wc) + cos (wa + wc)

dari persamaan di atas terlihat bahwa terjadi pergeseran frekuensi ke atas sejauh
frekuensi pemodulasi dari frekuensi AM mempunyai bandwidth selebar 2wa.

Gambar 5.3. Spektrum sinyal

Dengan dasar di atas bila kita memodulasikan sinyal pemodulasi berupa


suatu sinyal digital maka dapat disimpulkan lebar band akan sama dengan dua
kali frekuensi tertinggi dalam bandwidth sinyal pemodulasi digital. Misal, sinyal
pemodulasi digital biner mempunyai frekuensi fb = l/To dan mempunyai duty
cycle 50 % , maka;

84
Gambar 5.4. t = 0 pada saat amplitudo A yang menunjukkan digit 1.

Dengan mengambil t - 0 pada saat amplitude A yang menunjukkan digit “1”


m(t)=A -0,5 Tb<t<0,5Tb
=0 O,5Tb<t<To-Tb
didapat deret Fourier-nya

An = 0 untuk setiap kelipatan n = 2k atau n genap


2A
An= untuk n = l,5,9,...
πn
−2 A
An = untuk n = 3,7,ll,..
πn
sin(nπ /2)
atau dapat ditulis An = A
nπ /2
karena sinyal simetri terhadap sumbu tegak maka harga Bn = 0 sehingga deret
Fourier yang didapat;
m(t) = O,5A+ ∑ A sin(n/2)cos n wt
bentuk sin ⁡¿ ¿ ¿mempunyai harg
sin x
= Sa (x)
x
sin x cos x
X = 0 Sa(0) = lim = lim =1
x 1

85
Sinx = 0 untuk x = ± nπ
pada 11 = 0 spektrum maksimum harga Ao = 1,5 a = 0 dB maka spectrum
frekuensinya, dengan mengambil bandwidth terjadi pada amplitude turun 9-3 dB)

1
atau Ao maka
√2
1
ABW = Ao =1,5A103
√2
sehingga amplitude ABW dapat dicari pada frekuensi intermodulasi ke n.

harga n terdekat adalah 1, maka frekuensi tertinggi batas bandwidth adalah sama
dengan setengah bit-rate. Sehingga lebar band modulasi AM-DSB adalah sama
dengan frekuensr bit rate-nya. Bila digunakan modulasi SSB maka band width
menjadi lebih sempit yaitu sama dengan frekuensi dasarnya.

Pada percobaan ini kit Amplitude Shift Keying yang dibuat terdiri dari
bagian agar dapat diamati cara kerja dan keluaran dari tiap bagian. Bagian-bagian
ini meliputi : pembangkit, data, osilator, modulator dan demodulator.

Adapun fungsi dari tiap bagian ini adalah:


1. Pembangkit data: bagian ini merupakan rangkaian pembangkit bentuk data
sebagai sinyal pemodulasi. Terdiri dari dua bentuk data yang dapat dipilih
dengan frekuensi yang dapat diatur dengan pengaturan frekuensi clock.
2. Osilator ; bagian ini menghasilkan sinyal pembawa yang akan
dimodulasikan.
3. Modulator ; merupakan rangkaian yang akan memodulasikan sinyal data
pada sinyal pembawa yang dibangkitkan generator data.
4. Demodulator ; merupakan bagian yang akan mengembalikan kembali
bentuk sinyal termodulasi menjadi bentuk sinyal seperti sinyal pemodulasi
yang dikirimkan.

86
ASK (Amplitude Shiji Keying) merupakan salah satu cara pemodulasian
sinyal digital, yang didasarkan pada pengaturan penguatan untuk mewakili digit
tertentu.

Pada sistem ASK dua digit setiap digit “1” atau “0” diwakili oleh level
amplitude A dan digit O diwakili oleh level amplituda B. Biasanya agar didapat
perbedaan yang jelas level amplituda digit 1 lebih besar dari digit 0.

Gambar 5.5. Sinyal Amplitude Shift Keying (ASK).

Sedangkan apabila digit 0 tidak ada level (hammr 0) yang mewakili dan
digit 1 diwakili oleh level amplitude tertentu maka sistem ini dikenal sebagai
OOSK (On-Of Shift Keying).

5.3 PERALATAN
1. Modul praktikum Amplitude Shift Keying
2. Osciloskop
3. Kabel-kabel Jumper
4. Frequency Counter dan multimeter digital

5.4 LANGKAH PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

87
Mulai

Mempersiapkan Peralatan
Percobaan

Merangkai Rangkaian
Percobaan

Parameter Tidak
Pengukuran Sudah
Lengkap ?

Ya

Melakukan Percobaan

Pengambilan
Data

Menyimpan Peralatan
Percobaan

Selesai

Gambar 5.6 Flowchart Langkah Percobaan


5.4.1 Percobaan Modulasi Amplitude Shift Keying (ASK)

Gambar 5.7. Diagram blok hubungan modulator Amplitude shift keying (ASK).

1. Saklar utama modul dalam keadaan off.


2. Aturlah posisi saklar mode output pembangkit data digital pada posisi
mode 2 dan aturlah posisi dari saklar pemilihan mode aksi modulator
amplitude shift keying pada posisi ’ASK .

88
3. Kemudian on-kanlah saklar utama modul dan aturlah output dari function
generator sehingga menghasilkan output 1 KHz dengan amplituda 1 Vp-p.
4. Kemudian hubungkanlah output dari function generator tersebut kepada
input sinyal carrier.
5. Lalu hubungkanlah output dari logic test source ke pin input data
biner,lihatlah hasil output sinyal ASK-nya (aturlah VR1,VR2,VR3 agar
hasilnya lebih baik) cobalah anda ubah posisi saklar dari logic test source
dari ‘0’ ke ‘1’,lihatlah hasilnya pada pin output sinyal ASK .Catatlah hasil
pengamatan anda [Link] off-kan saklar utama modul.
6. Saklar utama modul dalam keadaan [Link] bentuklah hubungan
rangkaian dengan menggunakan jumper menjadi rangkaian seperti yang
ditunjukkan pada gambar 6.
7. Aturlah posisi saklar mode output pembangkit data digital pada posisi
mode 2 dan aturlah posisi dari saklar pemilihan mode aksi modulator
amplitude shift keying pada posisi ASK.
8. Kemudian on-kanlah saklar utama modul dan aturlah output dari function
generator sehingga menghasilkan output 1 KHz dengan amplitude 1 Vp-p.
9. Kemudian on-kanlah aklar sumber sinyal clock dan aturlah agar frekuensi
outputnya sekitar 500 Hz.
10. Kemudian hubungkanlah output dari function generator tersebut kepada
input sinyal carrier.
11. Lalu hubungkanlah output dari pembangkit data digital (output data biner)
terhadap input data biner dari modulator ASK.
12. aturlah VR1,VR2,VR3 agar hasilnya lebih baik sesuai dengan gambar
[Link] pada output sinyal ASK,catatlah bentuk sinyalnya.
13. Kemudian ulangilah mulai dari langkah 6 tetapi dengan meningkatkan
frekuensi sinyal sumber clock menjadi 1 KHz.
14. Kemudian ulangilah mulai dari langkah 6 tetapi dengan meningkatkan
frekuensi sinyal carrier (dengan merubah pada function generator)
menjadi 1 KHz tetapi frekuensi sinyal clock [Link] ulangi lagi
seluruh langkah tersebut tetapi dengan meningkatkan lagi frekuensi sinyal

89
carrier menjadi 1,5 [Link] apakah yang terjadi pada output sinyal
ASK untuk setiap prosedur-prosedur diatas.
15. Ulangi langkah 6 sampai dengan langkah 14 tetapi posisi saklar
pembangkit data digital pada mode [Link] hubungan rangkaian
jangan diubah begitu juga dengan nilai-nilai sinyal input.

5.4.2. Hasil Percobaan Modulasi Amplitude Shift Keying (ASK)


A. Sinyal Output ASK Dengan Logic Test Source Bernilai 0

B. Sinyal Output ASK Dengan Logic Test Source Bernilai 1

C. Sinyal Output ASK Dengan Sumber Sinyal Clock 500Hz

90
5.4.3. Pembahasan Percobaan Modulasi Amplitude Shift Keying (ASK)
ASK (Amplitude Shift Keying) adalah suatu modulasi di mana logika 1
diwakili dengan adanya sinyal dan logika 0 diwakili dengan adanya kondisi tanpa
sinyal, seperti pada gambar disamping. Hasil ASK (Amplitude Shift Keying)
diwakili oleh perbedaan amplitudo pada carrier. Dimana satu amplitudo adalah
zero, ini menunjukkan kehadiran dan ketidakhadiran pada carrier yang digunakan

Dalam kasus biner, generator harus mampu memformulasikan satu dari


dua sinyal gelombang AM yang mungkin. yang secara langsung menyiratkan arti
sebuah terminologi yang menggambarkan suatu teknik modulasi digital. teknik ini
merupakan pembangkitan gelombang AM yang digunakan untuk
mentransmisikan informasi digital .

Ada dua bentuk sinyal yang dapat dihasilkan disini, yaitu dengan nilai V(t)
= 0 atau 1 untuk mengirimkan nilai m informasi biner nol (0) atau satu (1). Dalam
hal ini V(t) bisa juga bernilai bernilai 1 atau –1, sehingga m dapat
dipertimbangkan sebagai data bipolar ternormalisasi. Indek modulasi (m) dapat
bernilai 0 < m < 1. Untuk indek modulasi m = 0, akan mengirimkan sebuah
sinusoida murni. Jika m bernilai ½, maka akan mengirimkan sebuah sinusoida
dengan dua nilai berbeda. Pada amplitudo Vc/4 untuk nilai informasi 0 dan
amplitudo 3Vc/4 untuk nilai informasi 1.

5.4.4 Percobaan Demodulasi Amplitude Shift Keying (ASK)

91
Gambar 5.8. Diagram blok hubungan demodulator Amplitude shift keying
(ASK).
1. Saklar utama modul dalam keadaan [Link] hubungkanlah output
sinyal ASK dari modulator ASK kepada input [Link] daro
demodulator ASK,eperti yang ditunjukkan pada gambar 7.
2. Ulangilah seluruh langkah dari percobaan [Link] Amplitude Shift
Keying (ASK) dengan hubungan dari output sinyal ASK dari modulator
ASK kepada input sinyal ASK dari demodulator ASK tetap terjaga.
3. Kemudian on-kanlah saklar utama modul,lalu lihatlah hasil dari output
data dari demodulator [Link] potensiometer (adj comp) yang
terdapat pada blok rangkaian level detektor agar hasil bentuk gelombang
pada output [Link] gelombang output ini merupakan kebalikan dari
gelombang input data biner (dalam aplikasinya gelombang output ini dapat
dibalik kembali bentuk sinyalnya (inverted)).
4. Catatlah seluruh hasil pengamatan dan percobaan yang anda
lakukan,analisa dan buatlah kesimpulannya.
5.

5.4.5. Hasil Percobaan Demodulasi Amplitude Shift Keying (ASK)

92
Output Demodulator ASK

5.4.3. Pembahasan Percobaan Demodulasi Amplitude Shift Keying (ASK)


Pada sisi penerima ada dua cara untuk mengembalikan informasi yang
dikirimkan, yaitu dengan menggunakan detektor selubung seperti yang digunakan
pada komunikasi analog (Koheren) atau dengan mengalikan sinyal yang datang
dengan sinyal yang sama dengan sinyal carrier (Non Koheren). Untuk
demodulasi  koheren sinyal diproses tanpa memerlukan pengalian dengan carrier,
sinyal yang datang diproses menggunakan detektor selubung. Sedangkan pada
demodulasi non koheren sinyal yang datang harus dikalikan dengan sinyal yang
sama dengan carier agar di dapat komponen sinyal informasi yang kemudian di
pisahkan dengan menggunakan filter.

5.5 PERTANYAAN
1. Bagaimana pengaruh frekuensi data terhadap bentuk gelombang keluaran
modulator?
2. Apa pengaruh level amplitude dan frekuensi sinyal data terhadap filter dan
level detektor?
3. Kesimpulan apa yang anda dapat untuk percobaan amplitude shift keying
(ASK)?

93
Jawab :
1. Jika frekuensi berubah, maka frekuensi VCO juga ikut berubah.
2. Mempengaruhi kualitas sinyal sampling
3. ASK (Amplitude Shift Keying) adalah suatu modulasi di mana logika 1
diwakili dengan adanya sinyal dan logika 0 diwakili dengan adanya
kondisi tanpa sinyal, seperti pada gambar disamping. Hasil ASK
(Amplitude Shift Keying) diwakili oleh perbedaan amplitudo pada carrier.
Dimana satu amplitudo adalah zero, ini menunjukkan kehadiran dan
ketidakhadiran pada carrier yang digunakan
Pada sisi penerima ada dua cara untuk mengembalikan informasi yang
dikirimkan, yaitu dengan menggunakan detektor selubung seperti yang
digunakan pada komunikasi analog (Koheren) atau dengan mengalikan
sinyal yang datang dengan sinyal yang sama dengan sinyal carrier (Non
Koheren)

BAB 6
TIME DIVISION MULTIPLEXING

6.1 TUJUAN PRAKTIKUM


1. Mengetahui dan memahami cara kelja setiap blok rangkaian Modulator
dan Demodulator Time Division Multiplexing.
2. Mengetahui bentuk input dan output dari setiap blok rangkaian Modulator
dan Demodulator Time Division Multiplexing.

6.2 LANDASAN TEORI

94
Time division multiplexing adalah sistem pentransmisian sinyal informasi
pada satu kanal transmisi dengan membagi daerah waktu menjadi beberapa slot.
Beberapa sinyal - sinyal tersebut di sample oleh komutator yang membuat satu
putaran penuh dengan perioda Ts < co / 2 Keluaran dari komutator adalah Pulsa
Amplitudo Modulation (PAM) yang berselang-selang terdiri dari sinyal sample
masing-masing informasi.

Multiplexing switch dan Demultiplexing switch harus bekerja secara


serempak (sinkron) karena sinyal informasi dari ketiga kanal tersebut di- sampling
berturut-turut dengan perioda sampling yang sama. Pulsa sampling informasi satu
berselingan dengan pulsa sampling informasi kedua, dan seterusnya secara
berturut-turut. Rangkaian multiplexer analog adalah suatu sistem penyaluran data
(analog) dari N kanal ke satu kanal keluaran.

Pemilihan salah satu kanal untuk dihubungkan ke saluran ditentukan oleh


kode biner yang spesifik. Rangkaian demultiplexer analog adalah satu sistem yang
menyalurkan data (analog) dalam bentuk serial ke N baris kanal keluaran. Cara
kerja demultiplexer adalah kebalikan dari multiplexer yaitu pemilihan salah satu
kanal dari N kanal sebagai saluran keluaran ditentukanoleh kode biner yang
spesilik.

Gambar 6.1. Sebuah diagram blok sistem TDM delapan saluran.

Bentuk-bentuk gelombang PAM dapat dibangkitkan dan hanya akan


menggunakan perioda kerja (duty cycle) yang kecil sekali, sehingga jika

95
dikirimkan hanya satu gelombang PAM lewat sebuah saluran, sebagian besar dari
waktu transmisi yang tersedia akan tidak terpakai. Waktu ini dapat digunakan
dengan jalan “menyisipkan” rentetean - rentetan pulsa dari sinyal-sinyal PAM
yang lain ke dalam selang-selang waktu antar pulsa yang tidak digunakan. Sebuah
sakelar berputar yang dinamakan komutator (commutator), yang dibuat dengan
sakelar-sakelar elektronik, menghubungkan keluaran dari masing-masing
modulator saluran PAM ke masukan saluran komunikasi secara bergiliran, dengan
hanya “singgah” pada masing-masing titik-kontak selama selang waktu satu pulsa.
Saluran harus mempunyai lebar jalur yang cukup untuk menangani pulsa- pulsa
ini, yang sekarang terjadi pada lima kali laju sampling untuk satu saluran. Lebar
jalur yang diperlukan harus jauh lebih besar daripada kecepatan berulang-nya
pulsa sistem, agar crosstalk antar-simbol dapat diabaikan. Ini mencakup juga
suatu waktu penjaga (guard time) antar pulsa seperti yang dibicarakan di bawah
ini.

Pada ujung penerima, sebuah sakelar yang lain, yang berputar sinkron
dengan komutatorpengirim, memisah-misahkan (decommutates) rentetan pulsa-
pulsa tersebut dan menghubungkannya ke rangkaian-rangkaian demodulator yang
sesuai. Karena mungkin saja bahwa penerima menjadi tidak seirama dengan
pemancar, maka disamping sinyal-sinyal informasi perlu dikirimkan juga sinyal-
sinyal sinkhronisasi. Biasanya untuk keperluan ini disediakan satu saluran dari
kelompok tersebut. Karena masalah crosstalk antar-simbol, pulsa-pulsa dari
modulator-modulator PAM dibuat lebih singkat daripada waktu berlangsungnya
pulsa (pulse duration) yang ditentukan, sehingga terdapat suatu waktu penjaga di
antara setiap pasang pulsa.. Waktu penjaga tambahan ini berarti bahwa lebar pulsa
efektif adalah kira-kira setengah dari perioda pulsa.

96
Gambar 6.2. Diagram blok hubungan rangkaian untuk percobaan sistem TDM 8
saluran.

Sistem Time Division Multiplexing ini pada dasarnya terdiri atas satu
rangkaian Modulator dan Demodulator, yang kerjanya dikontrol oleh sinyal
kontrol dari counter agar seluruh sistem bekerja secara sinkron. Output dari
demodulator dilewatkan ke rangkaian LPF untuk mereduksi dan menghilangkan
sinyal.-sinyal yang tidak diinginkan sehingga mendapatkan sinyal informasi
sesuai dengan aslinya

6.3 PERALATAN
1. Kit praktikum MODEM TDM
2. Osciloskop
3. Frequency Counter
4. Kabel umper

6.4 LANGKAH PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

97
Mulai

Mempersiapkan Peralatan
Percobaan

Merangkai Rangkaian
Percobaan

Parameter Tidak
Pengukuran Sudah
Lengkap ?

Ya

Melakukan Percobaan

Pengambilan
Data

Menyimpan Peralatan
Percobaan

Selesai

Gambar 6.3 Flowchart Langkah Percobaan

6.4.1 Percobaan Mengukur Frekuensi Carrier


1. Persiapkanlah osiloskop dan/atau equency counter. Hidupkanlah (on-kan)
saldar utama moduL Kemudian hidupkan (on-kan) saklar path blok
astable multivibrator, ukurlah output-nya dengan osiloskop dan frequency
counter.
2. Kemudian pada blok astable multivibrator tersebut, putarlah
potensiometer padaf req/clock out adj path posisi maksimal-nya (putar ice
arah kanan sampai maksimal). Kemudian dengan menggunakan osiloskop
danlatau frequency counter ukur dan lihatlah hasil outputnya pada point
freq out/clock out. Gambarkanlah bentuk gelombang outputnya dan
ukurlah besar frekuensi outputnya.
3. Catat hasil percobaan anda dan gambarkanlah dengan skala pengambaran
yang benar dan analisalah.

6.4.2. Hasil Percobaan Mengukur Frekuensi Carrier

98
A. Output Astable Multivibrator

6.4.3. Pembahasan Percobaan Mengukur Frekuensi Carrier


Dari hasil percobaan diatas maka dapat disimpulkan bahwa proses
perubahan amplitudo signal carrier yang berupa deretan pulsa (diskrit) yang
perubahannya mengikuti bentuk amplitudo dari signal informasi yang akan
dikirimkan ketempat tujuan. Sehingga signal informasi yang dikirim tidak
seluruhnya tapi hanya sampelnya saja (sampling signal).

6.4.4 Percobaan Mengukur Counter


1. Dengan posisi sakiar pada blok astabte multivibrator tetap pada posisi on,
maka kemudian offk an saklar utama modul.
2. Hubungkan output astable multivibrator (freq out/clock out) kepada input
counter (input clock).
3. Kemudian on-kan lah sakiar utama modul, lalu gambarkanlah dan ukunlah
frekuensi output dan masing-masingpoint A, B, dan C (Qo, Qi, dan Q2)
dan counter.
4. Catat hasil percobaan anda dan gambarkanlah dengan skala pengambaran
yang benar untuk masing-niasing output tersebut (A, B, dan C (Qo, Q 1,
dan Q2)) dan analisalah.

6.4.5. Hasil Percobaan Mengukur Counter

99
A. Frekuensi Output Point A

B. Frekuensi Output Point B

C. Frekuensi Output Point C

6.4.6. Pembahasan Percobaan Mengukur Counter

100
Tahap awal dari proses perubah analog ke digital adalah PAM, yang
merupakan saklar elektronik yang dikontrol oleh pulsa train (pulsa sampling)
selebar 1/fs. Sinyal yang dihasilkan adalah sinyal chopp dengan lebar pulsa
=To

6.4.7 Percobaan Menampilkan Hasil Sampling


1. Dengan posisi saklar pada blok astable multivibrator tetap pada posisi on
dan saklar pada blok counter juga tetap pada posisi on serta posisi
hubungan kabel jumper antara kedua blok tersebut tidak diubah, maka
kemudian off-kan saklar utama modul
2. Hubungkan output dari blok counter (A,B,C (Q1,Q2,Q3)) kepada input
pengaturan penyingkron pengiriman dari modulator TDM (hubungkan A
ke A, B ke B, C ke C).
3. Kemudian on-kan saklar utama modul, lalu on-kan saklar function
generator. Aturlah output dari function generator untuk gelombang
sinusoidal dan square (persegi) dengan frekuensi 1000 Hz dan Amplituda
4 Vp-p. Kemudian off-kan saklar utama modul.
4. On-kan saklar yang ada pada blok Modulator TDM.
5. Kemudian on-kan saklar utama modul, hubungkan output dari function
generator (sinyal sinusoidal) pada poin D0 (input modulator) dari blok
modulator TDM dengan
Frekuensi = 1000 Hz
Amplituda = 4 Vp-p
6. Ukur output modulator TDM dengan osiloskop dan/atau frequency
counter, catalah dan gambarkanlah sinyal output dari blok modulator
TDM ini.
7. Lakukan hal yang sama untuk saluran point yang lainnya (D 1 s/d D7) dari
input modulator TD.
8. Catat hasil pengukuran

9. Ubahlah bentuk sinyal dengan menggunakan gelombang square (persegi)


dari function generator dengan frekuensi dan amplituda tetap.

101
Frekuensi = 1000 Hz
Amplituda = 4 Vp-p
10. Ulangi seluruh langkah no 5 s/d no 8. Setelah seluruhnya selesai maka
off-kan saklar utama modul. Perhatian hubungan seluruh kabel jumper
jangan dirubah atau dilepas

6.4.8 Hasil Percobaan Menampilkan Hasil Sampling

Tabel 6.1 Gambar Output Modulator TDM Sinusoida

Saluran SINYAL PADA OUTPUT


Input SINUSOIDA

D0

D1

102
D2

D3

D4

103
D5

D6

D7

Tabel 6.2 Gambar Output Modulator TDM Square

Saluran SINYAL PADA OUTPUT

104
Input SQUARE

D0

D1

D2

105
D3

D4

D5

106
D6

D7

6.4.9 Pembahasan Percobaan Menampilkan Hasil Sampling


Berdasarkan Percobaan 6.4.7 diatas didapatkan bahwa masing-masing
sinyal informasi di-sampling oleh sinyal sample, dengan cara menahan sinyal
informasi pada saat sinyal sample mengalami hold. Frekuensi dan fase masing-
masing sinyal yang belum ter-sampling sama dengan frekuensi dan fase masing-
masing sinyal informasi. Sehingga frekuensi sinyal informasi sesudah di-
sampling pada channel A lebih besar dari pada di channel B.

6.4.10 Percobaan Pengaruh Frekuensi Carrier

107
1. Saklar utama dalam keadaan off. Seluruh hubungan kabel-kabel jumper
dan frekuensi output dan function generator masih seperti yang digunakan
pada percobaan V.3.
2. Kemudian on-kan sakiar utama modul. Hubungkan output dan function
generator (sinyal sinusoida) pada point D0 (input modulator) dan blok
Modulator TDM dengan Frekuensi sinyal adalah 1000 Hz dan Amplituda
= 4 Vp-p.
3. Ukur output Modulator TDM dengan osiloskop dan frequency counter,
catatlah dan gambarkanlah sinyal output dan blok modulator 1DM ini.
4. Kemudian cobalah anda kurangi frekuensi carrier dengan cara memutar
potensiometer path freq/clock out adj dan blok astable multivibrator ke
arah kiri (memutar ke arah kin) secara halus dan pelan-pelan serta hati-hati
sampai dengan ketika bentuk gelombang output dan Modulator TDM
berubah bentuk (bentuk gelombangnya tidak sama dengan bentuk
gelombang ketika potensiometer diputar secara maksimal).
5. Kemudian catatlah dan gambarkanlah bentuk gelombang output modulator
tersebut. Catat juga dan gambarkan serta ukunlah menggunakan osiloskop
danlatau frequency counter frekuensi gelombang output dan blok astable
multivibrator saat ini. Analisalah hasil percobaan anda.
6. Kemudian anda coba juga dengan memutar lagi potensiometer pada
freq/clock out adj ke arah lebih kin lagi, amati bentuk gelombang output
dan Modulator TDM. Apa yang terjadi ? catatlah serta analisalah hash
percobaan anda.
7. Kemudian kembalikan posisi potensiometer pada freq/c?ock out adj dan
blok astable multivibrator tersebut pada posisi rnaksimal-nya (putar ke
arah kanan sampai maksimal). Kemudian off-kan sakiar utama modul.

6.4.11 Hasil Percobaan Pengaruh Frekuensi Carrier


A. Output Modulator TDM D0 DenganFrekuensi/Clock Out adj 50%

108
B. Output Modulator TDM D0 DenganFrekuensi/Clock Out adj 100%

6.4.12 Pembahasan Percobaan Pengaruh Frekuensi Carrier


Berdasarkan percobaan 6.4.10 diatas didapatkan bahwa bentuk sinyal
Output Modulator TDM sebelum filtrasi memiliki bentuk seperti sinyal sinusoidal
yang tidak beraturan akibat dari adanya frequensi carrier

6.4.13 Percobaan Menampilkan Hasil di Penerima (Demodulator)

109
1. Saklar utama modul dalam keadaan off. Posisi hubungan koneksi kabel
jumper dan percobaan V.3. jangan dirubah, lalu hubungkan output dan
blok counter (A, B, C (Qo, Qi, Q2 ) ke intput pengatur penyingkron
penerima dan Demodulator TDM (hubungkan A ke A, B ke B, C ke C).
On-kan sakiar yang ada pada blok Demodulator TDM.
2. Hubungkan lah output dan blok modulator TDM kepada input dan blok
demodulator TDM dengan menggunakan kabel jumper (yang merupakan
simulasi/pengganti dan saluran transmisi sinyal).
3. Kemudian on-kan sakiar utama modul dan kemudian anda ulangilah
seluruh langkah V.3.5 sampai dengan V.3.10. Lakukan seluruh
prosedurnya kemudian ukur dan catat hasil keluaran atau output dan
demodulator TDM disesuaikan denganpoint input pengirimannya.
4. Ukur dan catat output Demodulator TDM dengan osiloskop dan/atau
frequency counter, eatat dan gambar outputnya.
5. Lakukan hal yang sama untukpoint saluran yang lainnya (Dl s/d D7)
6. Catat hasil pengukuran ke dalam TabeLIl
7. Hubungkalah dengan menggunakan kabel jumper output dan Demodulator
TOM tersebut ke input rangkaian LPF (Low-Pass Filter). Kemudian
ulangilah seluruh langkah percobaan V.5.3 sampai dengan langkah V.5.5.
8. Ukur output LPF dengan osiloskop dan frequency counter, catat dan
gambar sinyal outputnya.
9. Ulangi kembali langkah no 7 dan 8, catatlah hasil percobaan anda pada
tabel II. Setelah seluruhnya selesai maka off-kan sakiar utama modul.
Perhatian hubungan seluruh kabel jumper jangan di rubah atau dilepas.
Tabel II: Gambar output demodulator TOM (untuk kedua sinyal output).

6.4.14 Hasil Percobaan Menampilkan Hasil di Penerima


(Demodulator)

Tabel 6.3 Gambar output demodulator TOM (untuk kedua sinyal output)
Sinusoida.

110
Saluran
OUPUT DEMODULATOR SINUSOIDA
Input

D0

D1

D2

111
D3

D4

D5

112
D6

D7

Tabel 6.4 Gambar output LPF Sinusoida.

Salura
OUTPUT LPF SINUSOIDA
n Input

113
D0

D1

D2

114
D3

D4

D5

115
D6

D7

Tabel 6.5 Gambar output Demodulator Squre Sinusoida.

Sinya
l OUTPUT DEMODULATOR SQUARE
Input

116
D0

D1

D2

117
D3

D4

D5

118
D6

D7

Sinya
l OUTPUT LPF SQUARE
input

119
D0

D1

D2

120
D3

D4

D5

121
D6

D7

6.4.15 Pembahasan Percobaan Menampilkan Hasil di Penerima


(Demodulator)
Demodulator merupakan Rangkaian yang berfungsi untuk mendemodulasi
sinyal-sinyal diskrit akibat proses pencuplikan dan meredam frekuensi
pencupliknya [4]. Rangkaian yang berfungsi untuk mendemodulasi sinyal-sinyal
diskrit akibat proses pencuplikan dan meredam frekuensi pencupliknya. Sinyal
PAM dengan waktu penjaga dilewatkan pada rangkaian demodulator untuk
membentuk kembali sinyal analog dari cuplikan-cuplikannya. Tahap akhir dari
pencampur audio ini adalah rangkaian penguat penyangga menjaga agar level
tegangan sinyal keluaran dari demodulator tidak berubah.

6.4.16 Percobaan Pengaruh Frekuensi Carrier

122
1. Sakiar utama dalam keadaan off. Seluruh hubungan kabel-kabel jumper
dan frekuensi output dan function generator masih seperti yang digunakan
pada percobaan VS.
2. Kemudian on-kan sakiar utama modul. Hubungican output dan function
generator (sinyal sinusoida) pada point Do (input modulator) dan blok
Modulator TDM dengan Frekuensi = 1000 Hz Amplituda = 4 Vp-p.
3. Ulcur output demodulator TDM (pada point output Do) dengan osiloskop
dan frequency counter, catatlah dan gambarkanlah sinyal output dan blok
Demodulator TDM ini.
4. Kemudian cobalah anda kurangi frekuensi carrier dengan cara memutar
potensiometer pada freq/clock out adj dan blok astable multivibrator ke
arah kin (memutar ke arah kin) secara halus dan pelan-pelan serta hati-hati
sampai dengan ketika bentuk gelombang output dari Demodulator TDM
berubah bentuk (bentuk gelombangnya tidak sama dengan bentuk
gelombang ketika potensiometer diputar secara maksimal).
5. Kemudian catatlah dan gambarkanlah bentuk gelombañg output
demodulator tersebut. Catatjuga dan gambarkan serta ukurlah
menggunakan osiloskop dan/atau frequency counter fekuensi gelombang
output dan blok astable niultivibrator saat ini. Analisalah hasil percobaan
anda.
6. Kemudian anda coba juga dengan memutar lagi potensiometer pada
freq/clock out adj ke arah lebih kin lagi, amati bentuk gelombang output
dan Demodulator TDM. Apa yang terjadi ? catatlah serta analisalah hasil
percobaan anda.
7. Kemudian kembalikan posisi potensiometer pada freq/clock out adj dan
blok astable multivibrator tersebut pada posisi maksimal-nya (putar ke
arah kanan sampai maksimal). Kemudian off-kan sakiar utama modul.
8. Ulangilah seluruh langkah 1 sampai dengan langkah 7 tetapi output
demodulator dihubungkan ke input blok LPF dan kemudian pengukuran
dilakukan pada output blok LPF i. Lakukanlah seluruh prosedur percobaan
diatas dengan baik. Kemudian off-kan sakiar utama modul.

123
6.4.17 Hasil Percobaan Pengaruh Frekuensi Carrier
A. Output Demodulator D0 dengan pengaturan Freq/clock out adj 50%

B. Output Demodulator D0 dengan pengaturan Freq/clock out adj 75%

C. Output Demodulator D0 denga Terhubung LPF dan pengaturan Freq/clock out


adj 50%

124
D. Output Demodulator D0 denga Terhubung LPF dan pengaturan Freq/clock
out adj 75%

6.4.17 Pembahasan Percobaan Pengaruh Frekuensi Carrier


Rangkaian Freq/clock out digunakan sebagai pemberi sinyal kontrol bagi
Rangkaian pencuplik sekaligus sebagai pengatur banyaknya pulsa pencuplikan.

6.5 PERTANYAAN
1. Dan hasil percobaan yang anda lakukan apakab maksud dan tujuan dengan
sinkronisasi oleh counter terhadap modulator dan demodulator.
2. Bagaimana pengaruh frekuensi carrier terhadap proses modulasi dan
demodulasi, jelaskan dan hasil percobaan yang anda lakukan.
3. Bandingkan hasil pengukuran output demodulator langsung dengan output
demodulator yang dibenikan ke LPF (diukur dan output LPF), apakah ada
perbedaan 7 jelaskan. Kenapa harus digunakan LPF untuk mereduksi
sinyal noise dan sinyal lain yang bukan sinyal informasi yang dikirim,
terangkanlah
4. Berilah analisa dan kesimpulan anda untuk praktikum Modulator TDM ini
dan seluruh data yang anda peroleh melalui percobaan, pengamatan dan
pengukuran.
5. Berilah analisa dan kesimpulan anda untuk praktikum Demodulator TDM
ini dan seluruh data yang anda peroleh melalui percobaan, pengamatan
dan pengukuran

125
Jawab:
1. Tujuan dengan sinkronisasi oleh counter terhadap modulator dan
demodulator adalah untuk memisah-misahkan (decommutates) rentetan
pulsa-pulsa yang berputar sinkron dengan komutator pengirim dan
menghubungkannya ke rangkaian-rangkaian demodulator yang sesuai.
Karena mungkin saja bahwa penerima menjadi tidak seirama dengan
pemancar, maka disamping sinyal-sinyal informasi perlu dikirimkan juga
sinyal-sinyal sinkhronisasi
2. Akibat dari adanya frequensi carrier maka bentuk sinyal Output
Modulator TDM sebelum filtrasi memiliki bentuk seperti sinyal sinusoidal
yang tidak beraturan
3. Output dari demodulator dilewatkan ke rangkaian LPF untuk mereduksi
dan menghilangkan sinyal.-sinyal yang tidak diinginkan sehingga
mendapatkan sinyal informasi sesuai dengan aslinya
4. masing-masing sinyal informasi di-sampling oleh sinyal sample, dengan
cara menahan sinyal informasi pada saat sinyal sample mengalami hold.
Frekuensi dan fase masing-masing sinyal yang belum ter-sampling sama
dengan frekuensi dan fase masing-masing sinyal informasi
5. Rangkaian Demodulator TDM berfungsi untuk mendemodulasi sinyal-
sinyal diskrit akibat proses pencuplikan dan meredam frekuensi
pencupliknya. Sinyal PAM dengan waktu penjaga dilewatkan pada
rangkaian demodulator untuk membentuk kembali sinyal analog dari
cuplikan-cuplikannya. Tahap akhir dari pencampur audio ini adalah
rangkaian penguat penyangga menjaga agar level tegangan sinyal keluaran
dari demodulator tidak berubah

126
BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 KESIMPULAN
1. Bentuk gelombang sinyal pesan, sinyal pembawa dan sinyal termodulasi
AM. Gelombang yang termodulasi akan membentuk dua gelombang sinus
yang saling bertolak belakang, dimana puncak gelombangnya berubah-
ubah tinggi dan rendah
2. Demodulasi adalah Proses untuk mendapatkan kembali sinyal informasi
dari sinyal termodulasi
3. Bandwith sinyal FM lebih besar dibandingkan sinyal AM. Modulasi FM
merupakan modulasi analog yang sangat banyak digunakan, hal ini
dikarenakan noise yang rendah, tahan terhadap perubahan amplituda yang
berubah-ubah sebagai akibat fading
4. Prinsip kerja dari demodulator di atas yaitu demodulator frekuensi
mendeteksi sinyal informasi dari sinyal FM dengan operasi yang
berlawanan dengan cara kerja modulator FM. Secara umum setiap
demodulator FM berfungsi mengkonversi setiap perubahan frekuensi
menjadi tegangan dengan distorsi seminimal mungkin.
5. Besar selisih antara frekuensi sinyal termodulasi FM pada suatu saat
dengan frekuensi sinyal pembawa disebut deviasi frekuensi
6. FSK biner adalah sebuah bentuk modulasi sudut dengan envelope konstan
yang mirip dengan FM konvensional

127
7. Pergeseran frekuensi (Δω/2) adalah sebanding dengan amplitudo dan
polaritas pada sinyal input biner Laju pergeseran frekuensi tersebut
sebanding dengan setengah laju perubahan sinyal input biner fm(t)
8. Tegangan dc error pada output phase comparator mengikuti pergeseran
frekuensi, sebab hanya ada dua tegangan output error, tegangan error
pertama menggambarkan logic 1 dan satu lagi menggambarkan logic 0
9. Konsep dasar PAM adalah merubah amplitudo signal pembawa yang
masih berupa deretan pulsa (diskrit) dimana perubahannya mengikuti
bentuk amplitudo dari signal informasi yang akan dikirimkan ketempat
tujuan. signal informasi yang dikirim tidak seluruhnya tapi hanya
sampelnya saja (sampling signal)
10. Pulse Width Modulation (PWM) Sebuah cara untuk merubah/memodulasi
lebar pulsa. Mulanya dibangkitkan sebuah sinyal PAM yang mungkin
dimultipleks dengan sinyal PAM yang lain. Sinyal PWM dibangkitkan
dari sinyal PWM tersebut dan dipancarkan Modulasi PWM ini
melakukan variasi lebar pulsa tergantung dari sinyal modulasinya
11. Demodulasi adalah suatu teknik untuk memisahkan sinyal informasi dari
sinyal pembawa yang termodulasi. Sinyal informasi diperoleh dengan
cara mendeteksi perubahan frekuensi sinyal carrier
12. Low pass filter (LPF) berfungsi untuk menyaring frekuensi tinggi dari
sinyal yang dipancarkan dan meloloskan frekuensi rendah yang
dikehendaki
13. Dalam binary phase shift keying (BPSK), dua fase keluaran yang mungkin
akan keluar dan membawa informasi. Satu fase keluaran mewakili suatu
logic 1 dan yang lainnya logic 0. Sesuai dengan perubahan keadaan sinyal
masukan digital, fase pada keluaran carrier bergeser diantara dua sudut
yang keduanya terpisah 180°
14. Pada sistem demodulator BPSK sinyal termodulasi dilewatkan pada Low
Pass Filter (LPF) sehingga sinyal informasi diubah dalam sinyal dasar
analog. Kemudian sinyal tersebut dilakukan penyamplingan untuk
diketahui harga ekuivalen dengan harga bit. Setelah itu baru dilakukan

128
pembandingan (Comparator) sinyal yang telah disampling, sehingga
dihasilkan keluaran dalam bentuk biner kembali
15. ASK (Amplitude Shift Keying) adalah suatu modulasi di mana logika 1
diwakili dengan adanya sinyal dan logika 0 diwakili dengan adanya
kondisi tanpa sinyal
16. Pada sisi demodulator ASK (penerima) ada dua cara untuk
mengembalikan informasi yang dikirimkan, yaitu dengan menggunakan
detektor selubung seperti yang digunakan pada komunikasi analog
(Koheren) atau dengan mengalikan sinyal yang datang dengan sinyal yang
sama dengan sinyal carrier (Non Koheren)
17. Pada percobaan Time Division Multiplexing, Proses perubahan amplitudo
signal carrier yang berupa deretan pulsa (diskrit) yang perubahannya
mengikuti bentuk amplitudo dari signal informasi yang akan dikirimkan
ketempat tujuan. Sehingga signal informasi yang dikirim tidak seluruhnya
tapi hanya sampelnya saja (sampling signal)
18. Tahap awal dari proses perubah analog ke digital adalah PAM, yang
merupakan saklar elektronik yang dikontrol oleh pulsa train (pulsa
sampling) selebar 1/fs
19. Masing-masing sinyal informasi di-sampling oleh sinyal sample, dengan
cara menahan sinyal informasi pada saat sinyal sample mengalami hold.
Frekuensi dan fase masing-masing sinyal yang belum ter-sampling sama
dengan frekuensi dan fase masing-masing sinyal informasi
20. Bentuk sinyal Output Modulator TDM sebelum filtrasi memiliki bentuk
seperti sinyal sinusoidal yang tidak beraturan akibat dari adanya frekuensi
carrier
21. Sinyal PAM dengan waktu penjaga dilewatkan pada rangkaian
demodulator untuk membentuk kembali sinyal analog dari cuplikan-
cuplikannya
22. Sinyal PAM terbentuk dari kuantisasi level tegangan sinyal sample and
hold ke integer terdekat. Pada proses PAM akan terbentuk sinyal pulsa
yang mengikuti simpangan sinyal sinusoidal (informasi).

129
23. Pada proses Time Division Multiplexing (TDM), masing-masing sinyal
informasi yang berupa sinyal sinusoidal akan dimodulasikan menjadi
sinyal PAM. Setelah itu melalui proses multiplexing sinyal-sinyal tersebut
akan digabung menjadi satu dan akan ditransmisikan berdasarkan periode
tertentu (TDM). Bentuk sinyal PAM setelah digabung melalui proses Time
Division Multiplexing (TDM) adalah berupa sinyal pulsa yang mengikuti
semua simpangan sinyal informasinya
24. Rangkaian Freq/clock out digunakan sebagai pemberi sinyal kontrol bagi
Rangkaian pencuplik sekaligus sebagai pengatur banyaknya pulsa
pencuplikan

7.2 SARAN
1. Dalam pelaksanaan praktikum keselamatan alat dan praktikan harus
diperhatikan, karena potensi bahaya yang ditimbulkan sangat besar dengan
penggunaaan sumber tegangan listrik 220 volt
2. Praktikum yang dilaksanakan di Laboratorium Sistem Tenaga Teknik
Elektro Universitas Lancang kuning sudah didukung oleh bahan dan
peralatan yang memadai, dan hal ini juga menjadi perhatian bagi kita
semua bagaimana supaya peralatan dan bahan tersebut bisa dijaga sebaik
mungkin sehingga bisa dipakai oleh generasi mahasiswa selanjutnya
3. Untuk kedepannya diharapkan agar mahasiswa betul-betul memahami apa
yang sudah disampaikan, dan mungkin juga diperlukan suatu materi
tambahan seperti adanya materi kuliah untuk simulasi ataupun perhitungan
menggunakan software sehingga perhitungan dan analisa data
percobaannya bisa lebih dipahami

130
DAFTAR PUSTAKA

[1] P. Utomo, Teknik Telekomunikasi, Jilid 2. Jakarta: Direktorat Pembinaan


Sekolah Menengah Kejuruan, 2008.
[2] G. Santoso, Teknik telekomunikasi. Jakarta, 2011.
[3] R. L. Amanda, E. Setijadi, and Suwadi, “Rancang Bangun Demodulator
FSK pada Frekuensi 145,9 MHz untuk Perangkat Receiver Satelit ITS-
SAT,” vol. 2, no. 2, 2013.
[4] R. Hadi, “Pencampuran Audio Multi Kanal Sistem PAM-TDM,” vol. 3,
2007.

131

Anda mungkin juga menyukai