Asuhan Keperawatan STEMI di ICCU
Asuhan Keperawatan STEMI di ICCU
Karya Tulis Ilmiah Ini Disusun Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk
Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan Pada
Program Studi D-III Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kemenkes Kupang
1
2
3
4
BIODATA PENULIS
Riwayat Pendidikan :
MOTTO
“Perjalanan yang dilakukan atas dasar iman dan kesetiaan bukanlah sesuatu yang
mudah dilakukan. Keyakinan kita akan dihantam dari berbagai arah, kekuatan kita
akan terkuras habis oleh berbagai keadaan, dan pandangan kita akan dikaburkan
oleh berbagai godaan. Namun jika kita tetap teguh, setia dan menjaga iman itu
tetap hidup dan bertumbuh, maka Tuhan akan memberikan balasan yang
berlipatganda lebih banyak dari apa yang telah kita perjuangkan.” KATA
PENGANTAR
5
Sangat disadari bahwa dalam penulisan laporan studi kasus ini dapat
begitu banyak tangan yang membantu untuk mengoreksi, memberikan bahan
dalam informasi yang dibutuhkan serta banyak pikiran yang disumbang. Untuk
itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tak
terhingga kepada :
6
Vendi L. Siki, Novince S. Leo Leba, Franklin Panda dan kerabat yang telah
membantu dan memberikan dukungan untuk menyelesaikan studi kasus ini.
12. Teman-teman “Mes Que Un Clase” yang selalu memberikan saran,
dukungan dan semangat buat penulis dalam menyelesaikan studi kasus ini.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa studi kasus ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun sangat
diharapkan agar dapat digunakan penulis dalam menyelesaikan studi kasus ini
selanjutnya.
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Lembar Persetujuan ............................................................................. i
Lembar Pengesahan ............................................................................. ii
Pernyataan Keaslian ............................................................................. iii
Biodata Penulis .................................................................................... iv
7
Kata Pengantar ..................................................................................... v-vi
Daftar Isi ............................................................................................. vii
Daftar Lampiran ................................................................................. viii
BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................... 3
1.3 Tujuan Studi Kasus ....................................................................... 4
1.4 Manfaat Studi Kasus ..................................................................... 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .......................................................... 6
2.1 Konsep Teori ................................................................................ 6
2.2 Konsep Asuhan keperawatan ........................................................ 14
BAB 3 HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN ...................... 20
3.1 Hasil Studi Kasus .......................................................................... 20
3.2 Pembahasan .................................................................................. 27
3.3 Keterbatasan Penulis ..................................................................... 31
BAB 4 PENUTUP .............................................................................. 32
4.1 Kesimpulan ................................................................................... 32
4.2 Saran ............................................................................................ 33
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
8
DAFTAR LAMPIRAN
9
BAB 1 PENDAHULUAN
10
Faktor resiko biologis infark miokard yang tidak dapat diubah yaitu
usia, jenis kelamin sehingga berpotensi memperlambat proses aterogenik,
antara lain kadar serum lipid, hipertensi, merokok, gangguan toleransi
glukosa, dan diet yang tinggi lemak jenuh, kolestrol, serta kalori (Suddarth,
2014).
Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (ST Elevation
Myocardiac Infarc) merupakan bagian dari spectrum sindrom koroner akut
(SKA) yang terdiri atas angina pektoris tidak stabil, infark miokard akut
tanpa elevasi segmen ST, dan infark miokard dengan elevasi segmen ST.
Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (STEMI) terjadi jika aliran
darah koroner menurun secara mendadak akibat oklusi trombus pada plak
ateroskulerosis yang sudah ada sebelumnya. Trombus arteri koroner terjadi
secara cepat pada lokasi injuri vaskluer, dimana injuri ini dicetuskan oleh
faktor-faktor seperti merokok, hipertensi, dan akumulasi lipid (Suddarth,
2014).
Penatalaksanaan IMA-EST (Infark Miokard Akut Elevasi ST)
dimulai sejak kontak medis pertama, baik untuk diagnosis dan pengobatan.
Diagnosis kerja infark miokard harus dibuat berdasarkan riwayat nyeri dada
yang berlangsung selama 20 menit atau lebih, yang tidak membaik dengan
pemberian nitrogliserin. Adanya riwayat penyakit jantung koroner dan
penjalaran nyeri ke leher, rahang bawah, atau lengan kanan memperkuat
dugaan ini. Pengawasan EKG perlu dilakukan pada setiap pasien dengan
dugaan STEMI. Diagnosis STEMI perlu dibuat sesegera mungkin melalui
perekaman dan interpretasi EKG 12 sadapan, selambat-lambatnya 10 menit
saat pasien tiba untuk mendukung keberhasilan tata laksanan ((PERKI),
2018).
Tujuan tatalaksana di IGD adalah mengurangi/menghilangkan nyeri
dada, mengidentifikasi cepat pasien yang merupakan kandidat terapi
reperfusi segera, triase pasien beresiko rendah ke ruangan yang tepat di
rumah sakit dan menghindari penulangan cepat pasien dengan STEMI.
Tatalaksana umum yang dilakukan adalah memberikan oksigen : suplemen
oksigen harus diberikan pada pasien dengan saturasi oksigen <90%. Pada
11
semua pasien STEMI tanpa komplikasi dapat diberikan oksigen selama 6
jam pertama; memberikan nitrogliserin : nitrogliserin sublingual dapat
diberikan dengan aman dengan dosis 0,4 mg dan dapat diberikan sampai
dengan 3 dosis dengan interval 5 menit (Farissa, 2012)
Tatalaksana pasien di rungan ICCU adalah : pembatasan aktivitas
pasien selama 12 jam pertama; pasien harus puasa atau hanya minum air
dengan mulut dalam 4-12 jam karena resiko muntah dan aspirasi segera
setelah infark miokard; pasien memerlukan sedasi selama perawatan untuk
mempertahankan periode inaktivitas dengan penenang; istirahat ditempat
tidur dan efek menggunakan narkotik untuk menghilangkan rasa nyeri
sering mengakibatkan konstipasi, sehingga dianjurkan penggunaan kursi
komo di samping tempat tidur, diet tinggi serat, dan penggunaan obat
pencahar secara rutin seperti laxadine syrup (1-2 sendok teh) (Farissa,
2012).
Peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan (care giver)
berperan dalam melaksanakan intervensi keperawatan yakni perawatan
manajemen nyeri (Perry, 2009). Peran perawat juga sebagai care giver
untuk membantu pasien dalam melalui proses penyembuhan dan
kesehatannya kembali atau sembuh dari penyakit tertentu pada kebutuhan
kesehatan klien secara holistik meliputi emosi, spiritual, dan sosial (Perry,
2009).
12
1.3 Tujuan Studi Kasus
1.3.1 Tujuan Umum
Mampu menerapkan asuhan keperawatan gawat darurat pada Tn.
M. N. M dengan STEMI (ST Elevation Myocardiac Infarc) di ruangan
ICCU RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang
13
1.4 Manfaat Studi Kasus
1.4.1 Manfaat Teoritis
Dapat dijadikan referensi untuk pengembangan ilmu keperawatan
dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan ST Elevasi
Miokard Infark (STEMI) di ruangan ICCU RSUD Prof. Dr. W. Z.
Johannes Kupang.
1.4.2 Manfaat Praktis
1) Bagi Perawat
Agar dapat meningkatkan mutu pelayanan pada pasien dengan kasus
infark miokard akut dengan elevasi pada segmen ST (STEMI) dan bisa
memperhatikan kondisi serta kebutuhan pasien infark miokard akut
dengan elevasi pada segmen ST (STEMI).
2) Bagi pasien dan keluarga
Agar dapat meningkatkan pengetahuan tentang ST Elevasi Miokard
Infark (STEMI) sehingga dapat memberikan penanganan awal di rumah
dan mengatur pola hidup.
14
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1.2 Etiologi
Penyakit jantung koroner pada mulanya disebabkan oleh
penumpukan lemak pada dinding dalam pembuluh darah jantung
(pembuluh koroner), dan ini lama kelamaan diikuti oleh berbagai proses
seperti penimbunan jaringan ikat, perkapuran, pembekuan darah yang
semuanya akan mempersempit atau menyumbat pembuluh darah tersebut.
15
Hal tersebut mengakibatkan otot jantung didaerah tersebut mengalami
kekurangan aliran darah dan dapat menimbulkan berbagai akibat yang cukup
serius, dari angina pektoris sampai infark jantung, yang dapat mengakibatkan
kematian mendadak.
16
3) Memiliki riwayat tekanan darah tinggi
Hipertensi merupakan faktor risiko mayor dari IMA, baik tekanan
darah systole maupun diastole memiliki peran penting. Hipertensi dapat
meningkatkan risiko ischemic heart disease (IHD) sekitar 60%
dibandingkan dengan individu normotensive. Tanpa perawatan, sekitar
50% pasien hipertensi dapat meninggal karena gagal jantung kongestif,
dan sepertiga lainnya dapat meninggal karena stroke (Kumar, Buku Ajar
Patologi, 2015). Mekanisme hipertensi berakibat IHD:
1) Peningkatan tekanan darah merupakan beban yang berat untuk jantung,
sehingga menyebabkan hipertropi ventrikel kiri atau pembesaran ventrikel
kiri (faktor miokard). Keadaan ini tergantung dari berat dan lamanya
hipertensi.
2) Tekanan darah yang tinggi dan menetap akan menimbulkan trauma
langsung terhadap dinding pembuluh darah arteri koronaria, sehingga
memudahkan terjadinya arterosklerosis koroner (faktor koroner) Hal ini
menyebabkan angina pektoris, Insufisiensi koroner dan miokard infark
lebih sering didapatkan pada penderita hipertensi dibanding orang normal.
2.1.4 Patofisiologi
Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung
akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner
berkurang. Penyebab penurunan suplai darah mungkin akibat penyempitan
kritis arteri koroner karena aterosklerosis atau penyumbatan total arteri
oleh emboli atau thrombus. Penurunan aliran darah koroner juga bisa
17
diakibatkan oleh syok atau perdarahan. Pada setiap kasus infark
miokardium selalu terjadi ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen (Suddarth, 2014).
18
infark miokardium. Jantung yang mengalami kerusakan ireversibel akan
mengalami degenerasi dan kemudian diganti dengan jaringan parut. Bila
kerusakan jantung sangat luas, jantung akan mengalami kegagalan, artinya
ia tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan tubuh akan darah dengan
memberikan curah jantung yang adekuat. Manifestasi klinis lain penyakit
arteri koroner dapat berupa perubahan pola EKG, aneurisma ventrikel,
disaritmia dan akhirnya akan mengalami kematian mendadak (Suddarth,
2014).
19
Sejumlah enzim dan protein lain dibebaskan ke dalam sirkulasi oleh sel
miokardium yang sekarat (Robbins, 2007).
20
Uji latih jantung untuk mengetahui respon jantung terhadap
aktivitas.
6) Laboratorium :
Pemeriksaan yang dianjurkan adalah:
1. Creatinin Kinase (CK)MB. Meningkat setelah 3 jam bila ada infark
miokard dan mencapai puncak dalam 10-24 jam dan kembali normal
dalam 2-4 hari.
2. cTn (cardiac specific troponin). Ada 2 jenis yaitu cTn T dan cTn I.
enzim ini meningkat setelah 2 jam bila ada infark miokard dan
mencapai puncak dalam 10-24 jam dan cTn T masih dapat dideteksi
setelah 5-14 hari, sedangkan cTn I setelah 5-10 hari.
3. Pemeriksaan enzim jantung yang lain yaitu:
1. Mioglobin. Dapat dideteksi satu jam setelah infark dan mencapai
puncak dalam 4-8 jam.
2. Creatinin kinase (CK). Meningkat setelah 3-8 jam bila ada infark
miokard dan mencapai puncak dalam 10-36 jam dan kembali normal
dalam 3-4 hari.
3. Lactic dehydrogenase (LDH). Meningkat setelah 24-48 jam bila ada
infark miokard, mencapai puuncak 3-6 hari dan kembali normal
dalam 8-14 hari.
21
- Sedatif sedang seperti diazepam 3-4 x 2-5 mg per oral
6. Antikoagulan: Heparin 20.000-40.000 U/24 wad iv tiap 4-6 wad atau drip
iv
7. Bowel care : laksadin
8. Pengobatan ditujukan sedapat mungkin memperbaiki kembali aliran
pembuluh darah koroner. Bila ada tenaga terlatih, trombolisis dapat
diberikan sebelum dibawa ke rumah sakit. Dengan trombolisis, kematian
dapat diturunkan sebesar 40%.
9. Psikoterapi untuk mengurangi cemas
2.1.8 Komplikasi
1) Aritmia
Beberapa bentuk aritmia mungkin timbul pada IMA. Hal ini
disebabkan perubahan-perubahan listrik jantung sebagai akibat iskemia
pada tempat infark atau pada daerah perbatasan yang mengelilingi,
kerusakan sistem konduksi, lemah jantung kongestif atau keseimbangan
elektrolit yang terganggu. (Suddarth, 2014)
2) AV Blok
Blok jantung bukan penyakit pada jantung, tetapi dihubungkan
dengan berbagai jenis penyakit jantung, khususnya penyakit arteri koroner
dan penyakit jantung reumatik. Pada blok jantung atrioventrikuler (AV),
kontraksi jantung lemah dan tidak memiliki dorongan yang cukup untuk
mengirim darah dari atrium ke ventrikel. Denyut nadi dapat rendah,
mencapai 30 kali per menit. (Suddarth, 2014)
3) Gagal jantung
Pada IMA, heart failure maupun gagal jantung kongestif dapat
timbul sebagai akibat kerusakan ventrikel kiri, ventrikel kanan atau
keduanya dengan atau tanpa aritmia. Penurunan cardiac output pada pump
failure akibat IMA tersebut menyebabkan perfusi perifer berkurang.
Peningkatan resistensi perifer sebagai kompensasi menyebabkan beban
kerja jantung bertambah. Bentuk yang paling ekstrim pada gagal jantung
ini ialah syok kardiogenik. (Suddarth, 2014)
22
4) Emboli/tromboemboli
Emboli paru pada IMA: adanya gagal jantung dengan kongesti
vena, disertai tirah baring yang berkepanjangan merupakan faktor
predisposisi trombosis pada vena-vena tungkai bawah yang mungkin lepas
dan terjadi emboli paru dan mengakibatkan kemunduran hemodinamik.
Embolisasi sistemik akibat trombus pada ventrikel kiri tepatnya pada
permukaan daerah infark atau trombus dalam aneurisma ventrikel kiri.
(Suddarth, 2014)
5) Ruptura
Komplikasi ruptura miokard mungkin terjadi pada IMA dan
menyebabkan kemunduran hemodinamik. Ruptura biasanya pada batas
antara zona infark dan normal. Ruptura yang komplit (pada free wall)
menyebabkan perdarahan cepat ke dalam cavum pericard sehingga terjadi
tamponade jantung dengan gejala klinis yang cepat timbulnya. (Suddarth,
2014)
23
1) Apakah anda mengalami penambahan atau pengurangan berat
badan akhir-akhir ini?
2) Apakah anda mengalami pembengkakan pada tangan, kaki atau
tungkai (atau pantat bila lama tidur)?
3) Apakah anda pernah mengalami pusing atau rasa melayang?
Pada situasi apa hal itu terjadi?
4) Apakah anda mengalami perubahan pada tingkat energi anda?
tingkat kelelahan?
5) Apakah anda merasakan jantung anda berpacu, meloncat atau
berdenyut cepat?
6) Apakah anda mengalami masalah dengan tekanan darah anda?
7) Apakah anda mengalami sakit kepala? Apa yang kemungkinan
menyebabkannya?
8) Apakah anda mengalami tangan atau kaki terasa sangat dingin?
kapan biasanya terjadi?
2) Pengkajian fisik
Penting untuk mendeteksi komplikasi dan harus mencakup
halhal berikut:
1. Tingkat kesadaran.
2. Nyeri dada (temuan klinik yang paling penting).
3. Frekwensi dan irama jantung : Disritmia dapat menunjukkan tidak
mencukupinya oksigen ke dalam miokard.
4. Bunyi jantung : S3 dapat menjadi tanda dini ancaman gagal
jantung.
5. Tekanan darah : Diukur untuk menentukan respons nyeri dan
pengobatan, perhatian tekanan nadi, yang mungkin akan
menyempit setelah serangan miokard infark, menandakan
ketidakefektifan kontraksi ventrikel.
6. Nadi perifer : Kaji frekuensi, irama dan volume.
7. Warna dan suhu kulit.
24
8. Paru-paru : Auskultasi bidang paru pada interval yang teratur
terhadap tanda-tanda gagal ventrikel (bunyi crakles pada dasar
paru).
9. Fungsi gastrointestinal : Kaji mortilitas usus, trombosis arteri
mesenterika merupakan potensial komplikasi yang fatal.
10. Status volume cairan : Amati haluaran urine, periksa adanya edema,
adanya tanda dini syok kardiogenik merupakan hipotensi dengan
oliguria.
2.2.2 Diagnosa
Berdasarkan patofisiologi dan data pengkajian diatas, diagnosis
keperawatan utama menurut (Suddarth, 2014) mencakup hal-hal sebagai
berikut dengan perumusan diagnosa berdasarkan (Herdman & Kamitsuru,
2017) :
1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap
sumbatan arteri ditandai dengan nyeri dada dengan/tanpa penyebaran,
wajah meringis, gelisah, perubahan nadi dan tekanan darah. (Kode
00132)
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
suplai oksigen miokard dan kebutuhan, adanya iskemik/nekrosis
jaringan miokard ditandai dengan gangguan frekuensi jantung, terjadi
disaritmia, kelemahan umum (Kode 00092)
25
2.2.3 Intervensi
Berdasarkan diagnosa yang telah ditetapkan, maka intervensi yang
akan dilakukan : (Moorhead, Johnson, Maas, & Swanson, 2016)
1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap
sumbatan arteri
NOC : Tingkat Nyeri Kode : 2102
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, nyeri pasien
berkurang
Kriteria Hasil :
- Pasien melaporkan nyeri dada berkurang (210201)
- Ekspresi wajah rileks/tenang (210206)
- Tidak gelisah (210222)
- Nadi 60-100 x/menit (210220)
- TD 120/80 mmHg (210212)
Intervensi : Manajemen Nyeri Kode : 1400
1) Kaji nyeri secara komprehensif, catat karakteristik nyeri, lokasi,
intensitas lama dan penyebarannya.
2) Observasi adanya petunjuk nonverbal dari ketidaknyamanan 3)
Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri segera.
4) Lakukan manajemen nyeri keperawatan yang meliputi, atur posisi,
istirahat pasien
26
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai
oksigen miokard dan kebutuhan, adanya iskemik/nekrosis jaringan
miokard
NOC : Toleransi terhadap aktivitas, Kode 0005
Tujuan : Setelah dilakukan tidakan keperawatan, pasien mampu
melakukan aktivitas secara mandiri.
Kriteria Hasil :
- Bernapas spontan saat beraktivitas (000508)
- Temuan/hasil EKG normal (000506)
- Kemudahan dalam melakukan ADL (000518)
- Frekuensi napas setelah beraktivitas 12-20 x/menit (000502)
Intervensi : Perawatan Jantung, Kode 4040
1) Pastikan tingkat aktivitas pasien yang tidak membahayakan curah
jantung atau memprovokasi serangan jantung
2) Dorong peningkatan aktivitas bertahap ketika kondisi sudah
distabilkan (misalnya., dorong aktivitas yang lebih ringan atau
waktu yang lebih singkat dengan waktu istirahat yang sering
dalam melakukan aktivitas)
3) Instruksikan pasien tentang pentingnya untuk segera melaporkan
bila merasakan nyeri dada; evaluasi episode nyeri dada (intensitas,
lokasi, radiasi, durasi dan faktor yang memicu serta meringankan
nyeri dada)
4) Monitor EKG, adakah perubahan segmen ST, sebagaimana
mestinya
27
8) Kolaborasi pemberian obat antiaritmia
28
berinisial Tn. M.N.M berusia 67 tahun, jenis kelamin laki-laki, agama
Kristen protestan, pekerjaan pensiunan PNS, pendidikan terakhir sarjana,
alamat Bakunase, No register 513460, masuk rumah sakit pada tanggal 25
mei 2019 dengan diagnosa ST Evelasi Miokard Infark (STEMI) Inferior,
sumber informasi dari pasien, keluarga dan catatan perawatan.
Hasil pengkajian pada tanggal 26 mei 2019 jam 19:00 didapatkan
hasil, keluhan utama saat masuk Tn. M.N.M mengatakan nyeri dada
menjalar ke leher, nyeri timbul saat melakukan aktivitas seperti miring kiri
kanan, skala nyeri 3, nyeri berlangsung selama ± 2-5 menit. Tn. M.N.M
mengatakan tubuh terasa lemas.
Sebelum sakit Tn.M.N.M mengatakan memiliki riwayat hipertensi
tidak terkontrol (diit, minum obat, kontrol) sejak10 tahun terakhir dan
memiliki kebiasaan merokok sejak masih muda dengan menghabiskan 10
batang rokok/hari. Riwayat kesehatan keluarga Tn. M.N.M mengatakan
tidak ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang sama.
Pengkajian Primer :
Airways (jalan napas) : tidak ada sumbatan jalan napas atau jalan
napas Tn. M bebas, Breathing (pernapasan) : Tn M tidak sesak napas,
tidak menggunakan otot tambahan, frekuensi pernapasan 20 x/menit, irama
teratur, bunyi napas vesikuler, Circulation : Nadi 78x/menit, irama teratur,
denyut nadi kuat, TD 120/70 mmHg, ekstremitas hangat, warna kulit
kemerahan, pasien mengatakan nyeri dada, karakteristik nyeri menyebar ke
leher, CRT < 3 detik, tidak oedema, turgor kulit baik, mukosa mulut
kering, Disability : tingkat kesadaran composmentis, GCS E4M6V5 (total:
15), pupil isokor, reflek terhadap cahaya positif.
Pengkajian Sekunder :
Musculoskeletal : kekuatan otot 5, ADL (Activity of Daily Living)
dibantu oleh perawat dan keluarga, Kebutuhan nutrisi : Pasien mengatakan
makan 3x sehari dengan menghabiskan 1 porsi penuh dengan diit lemak
jantung, Kebutuhan cairan: oral air putih ± 1500 cc/24 jam, parenteral
terpasang infuse NaCl 0,9% 500 cc/24 jam. Pola eliminasi buang air kecil :
29
Pasien terpasang kateter, jumlah urine output 700cc/7 jam, warna kuning
jernih, tidak ada rasa sakit saat BAK. BAB : pasien mengeluh belum BAB
sejak 25 mei 2019, tidak ada diare, bising usus 10x/menit, perkusi
abdomen pekak, palpasi teraba masa pada kuadran kanan bawah,
intoksikasi: tidak ada riwayat alergi terhadap makanan, gigitan binatang,
alkohol, zat kimia dan obat-obatan. Pola istirahat dan tidur : Pasien
mengatakan tidak terganggu.
Hasil pemeriksaan di dapatkan hasil pemeriksaan EKG 12 lead :
II,III, aVF gelombang ST elevasi (infark inferior). Didapatkan juga hasil
pemeriksaan laboratorium leukosit meningkat dengan hasil 13.71 10^3/ul
(normal 4.0 – 10.0 10^3/ul) , troponin I meningkat dengan hasil 17.34 ug/L
(< 0.60 ug/L). Selama dalam proses perawatan Tn. M.N.M mendapatkan
terapi infus NaCl 0,9% 7 tpm/IV, ranitidine 2x1 ampul/IV, aspilet 80mg-
00/oral, clopidogrel 0-0-75 mg/oral, simvastatin 0-0-20 mg/ oral, captopril
3x12,5 mg/oral, alprazolam 0,5 mg -0-0-1 / oral, laxadin sirup 3 x C II,
arixtra 2,5 mg/SC.
30
DO: Aktivitas hidup harian (toileting, personal hygiene, makan dan
minum) Tn. M di bantu oleh perawat dan keluarga, hasil perekaman
EKG didapatkan elevasi pada lead II, III, aVf (STEMI Inferior) dan
serologi: Troponin I 17.34 ug/L
3. Konstipasi berhubungan dengan fungsional data yang didapatkan yaitu :
DS : Tn. M mengatakan belum BAB sejak tanggal 25 mei 2019 sampai
26 mei 2019.
DO : Pasien kembung, teraba massa di kuadran kanan bawah, perkusi
abdomen pekak dan saat dipalpasi teraba massa pada kuadran kanan
bawah.
31
NOC : toleransi terhadap aktivitas (kode 0005) setelah dilkakukan tindakan
keperawatan, pasien mampu melakukan aktivitas secara mandiri dengan
kriteria hasil : bernapas spontan saat beraktivitas (000508); temuan hasil
EKG normal (000506); kemudahan dalam melakukan aktivitas hidup
harian (000518); frekuensi RR setelah beraktivitas normal (000502);
dengan rencana keperawatan : Perawatan jantung (4040) aktivitas-aktivitas
: pastikan tingkat aktivitas pasien yang tidak membahayakan curah jantung
atau memprovokasi serangan jantung; dorong peningkatan aktivitas
bertahap ketika kondisi sudah distabilkan (misalnya., dorong aktivitas yang
lebih ringan atau waktu yang lebih singkat dengan waktu istirahat yang
sering dalam melakukan aktivitas); instruksikan pasien tentang pentingnya
untuk segera melaporkan bila merasakan nyeri dada; evaluasi episode nyeri
dada (intensitas, lokasi, radiasi, durasi dan faktor yang memicu serta
meringan nyeri dada); monitor EKG, adakah perubahan segmen ST
sebagaimana mestinya; lakukan penilaian komprehensif pada sirkulasi
perifer (misalnya., cek nadi perifer, edema, pengisian ulang kapiler, warna
ekstremitas dan suhu ekstremitas) secara rutin sesuai kebijakan; monitor
tanda-tanda vital secara rutin; monitor nilai laboratorium yang tepat (enzim
jantung dan nilai elektrolit); kolaborasi pemberian obat antiaritmia.
Pada diagnosa ketiga adalah konstipasi berhubungan dengan
gangguan fungsional (perubahan lingkungan saat ini), NOC : Eliminasi
usus (kode 0501) setelah dilakukan tindakan keperawatan, pasien mampu
mengeluarkan feses dengan kriteria hasil : kemudahan dalam BAB
(050112); tidak teraba masa (0501), tidak kembung (0501), perkusi
abdomen tidak pekak (0501) dengan rencana keperawatan yang akan
dilakukan adalah Manajemen konstipasi (0450) dengan aktivitas-aktivitas
monitor tanda dan gejala konstipasi; dukung peningkatan asupan cairan
dan buah-buahan jika tidak ada kontraindikasi; kolaborasi dengan ahli gizi
untuk pemberian diit tinggi serat; kolaborasi pemberian laksatif.
32
3.1.4 Implementasi Studi Kasus
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat.
Tindakan keperawatan dimulai pada tanggal 27 mei 2019 jam 09.00 WITA
pada diagnosa pertama nyeri akut berhubungan dengan agen cedera
biologis (iskemik) dilakukan tindakan keperawatam yaitu : melakukan
pengkajian nyeri secara komprehensif, mengobservasi tanda-tanda
nonverbal nyeri seperti wajah tampak meringis dan memegangi area yang
nyeri, mengajarkan teknik relaksasi napas dalam pada pasien,
menganjurkan pasien untuk melaporkan segera jika merasakan nyeri, dan
membatasi pengunjung dan komunikasi. Pada tanggal 28 mei 2019 pada
jam 11.00 WITA dilakukan tindakan keperawatan yaitu : melakukan
pengkajian nyeri secara komprehensif, menganjurkan pasien untuk
melakukan teknik relaksasi jika merasakan nyeri, menganjurkan pasien
untuk melaporkan segera jika merasa nyeri, dan membatasi pengunjung.
Pada tanggal 29 mei 2019 pada jam 09.00 WITA dilakukan tindakan
keperawatan yaitu : melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif,
menganjurkan pasien untuk melakukan teknik relaksasi bila merasakan
nyeri, menganjurkan pasien untuk melaporkan segera jika merasakan nyeri
dan membatasi pengunjung serta membatasi komunikasi pasien.
Pada diagnosa kedua intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen pada tanggal 27
mei 2019 pada 09.00 WITA dengan tindakan keperawatan yang dilakukan
yaitu : mengukur vital sign, melakukan penilaian sirkulsi perifer,
menganjurkan pasien untuk melakukan aktivitas secara bertahap sesuai
dengan kondisi, menganjurkan pasien untuk mengikuti aturan pengobatan
sesuai instruksi, memonitor hasil pemeriksaan EKG. Pada tanggal 28 mei
2019 pada jam 11.00 tindakan keperawatan yang dilakukan adalah
mengukur vital sign pasien, melakukan penilaian pada sirkulasi perifer,
menganjurkan pasien untuk melakukan aktivitas secara bertahap sesuai
kondisi, menganjurkan pasien untuk mengikuti aturan pengobatan sesuai
instruksi, dan memonitor hasil perekaman EKG. Pada tanggal 29 mei 2019
di mulai pada jam 09.00 WITA dengan tindakan keperawatan yang
33
dilakukan adalah mengukur vital sign pasien, melakukan penilaian pada
sirkulasi perifer, menganjurkan pasien untuk melakukan aktivitas secara
bertahap sesuai kondisi, menganjurkan pasien untuk mengikuti aturan
pengobatan sesuai instruksi, dan memonitor hasil perekaman EKG.
Pada diagnosa ketiga adalah konstipasi berhubungan dengan
perubahan ligkungan saat ini pada tanggal 27 mei 2019 dimulai pada jam
09.00 tindakan keperawatan yang dilakukan yaitu : mengobservasi tanda
dan gejala konstipasi, menganjurkan pasien untuk minum air putih yang
cukup ± 1500 cc/hari, menganjurkan keluarga untuk memberikan ekstra
buah seperti papaya dan pisang, kolaborasi dengan tim gizi untuk
pemberian makanan yang tinggi serat, dan melayani pemberian obat oral
laxadine syrup sesuai instruksi. Pada tanggal 28 mei 2019 dimulai pada
11.00 Wita dengan tindakan keperawatan yang dilakukan yaitu :
mengobservasi tanda dan gejala konstipasi, menganjurkan pasien untuk
minum air putih yang cukup ± 1500 cc/hari, menganjurkan keluarga untuk
memberikan ekstra buah seperti papaya dan pisang, kolaborasi dengan tim
gizi untuk pemberian makanan yang tinggi serat, dan melayani pemberian
obat oral laxadine syrup sesuai instruksi. pada 29 mei 2019 dimulai pada
09.00 wita dengan tindakan keperawatan yang dilakukan yaitu :
mengobservasi tanda dan gejala konstipasi, menganjurkan pasien untuk
minum air putih yang cukup ± 1500 cc/hari, menganjurkan keluarga untuk
memberikan ekstra buah seperti papaya dan pisang, kolaborasi dengan tim
gizi untuk pemberian makanan yang tinggi serat, dan melayani pemberian
obat oral laxadine syrup sesuai instruksi.
34
Diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
(iskemik) pada tanggal 27 mei 2019 : S : Tn. M mengatakan nyeri sudah
berkurang, O : wajah Tn. M tampak rileks, vital sign dalam batas normal
(TD 110/70 mmHg, N 80 x/m, RR 19 x/m), A : masalah teratasi sebagian,
P intervensi no 2, 3, 4 dan 9 di lanjutkan, instruksi dokter penanggung
jawab pasien, pasien boleh pindah ke ruangan biasa (Ruangan
Bougenvile). Pada tanggal 28 mei 2019 pukul 14:30 S : Tn. M mengatakan
tidak merasakan nyeri, O : wajah pasien tampak rileks, skala nyeri
berkurang dari 3 ke 1, A : Masalah teratasi, P : intervensi di hentikan
Diagnosa intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen pada tanggal 27
mei 2019 dilakukan evaluasi pada 14:05 wita dengan S : Tn. M
mengatakan masih merasa lemas, O : Pasien tampak beristirahat dengan
posisi terlentang, A : Masalah belum teratasi, P : Lanjutkan intervensi dan
instruksi dokter penanggung jawab pasien, pasien boleh pindah ke ruangan
biasa (Ruangan Bougenvile). Pada tanggal 28 mei 2019 pada pukul 14:30
wita dilakukan evaluasi dengan hasil S : Tn. M mengatakan masih merasa
lemas, O : Pasien tampak tidur dengan posisi miring kanan, A : masalah
teratasi sebagaian, P : Lanjutkan intervensi. Pada tanggal 29 mei 2019
pukul 14.45 wita dilakukan evaluasi dengan hasil S : Tn. M mengatakan
sudah tidak merasa lemas, O : pasien tampak duduk diatas tempat tidur, A :
masalah teratasi sebagian, P : Lanjutkan intervensi.
Pada diagnosa konstipasi berhubungan dengan perubahan
lingkungan saat ini dilakukan evaluasi pada tanggal 27 mei 2019 pukul
14:05 didapatkan hasil S :Tn. M mengatakan masih belum BAB sejak
tanggal 25 mei 2019 dan merasa kembung, O : Perkusi abdomen pasien
pekak, palpasi teraba massa di kuadran kanan bawah, A : Masalah belum
teratasi, P : lanjutkan intervensi 1, 2, 3, 4, 5 dan instruksi dokter
penanggung jawab pasien, pasien boleh pindah ke ruangan biasa (Ruangan
Bougenvile). Pada tanggal 28 mei 2019 pukul 14.30 wita dilakukan
evaluasi dengan hasil S : pasien mengatakan masih belum BAB sejak
tanggal 25 mei 2019 dan masih merasa kembung namun sudah berkurang,
35
O : perkusi abdomen pekak, palpasi teraba massa pada kuadran kanan
bawah, A : masalah belum teratasi, P : lanjutkan intervensi 1,2,3,4,5. Pada
tanggal 29 mei 2019 pukul 14.05 dilakukan evaluasi dengan hasil S :
pasien mengatakan sudah BAB pagi tadi, O : tidak teraba massa pada saat
dipalpasi, perkusi tidak pekak, A : masalah teratasi, P : intervensi di
hentikan.
3.2 Pembahasan
3.2.1 Pengkajian
Dari hasil pengkajian yang didapatkan pasien mengatakan nyeri
dada kiri pada saat merubah posisi, nyeri yang dirasakan menjalar ke leher,
skala nyeri 3, lama nyeri ± 2-5 menit. Di dapatkan hasil pemeriksaan EKG
12 lead yaitu II, III, aVf gelombang ST elevasi (iskemik inferior), hasil
laboratorium didapatkan troponin I meningkat dari hasil normal yaitu
17.34 ug/L, leukosit meningkat dari nilai normal yaitu 13.71 10^3/ul.
Pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi tidak terkontrol sejak 10 tahun
lalu dan merupakan perokok aktif sejak usia muda hingga sekarang.
Menurut teori (Robbins, 2007) manifestasi klinis dari infark
miokard adalah perubahan pada elektrokardiografik (EKG) yang
mencakup perubahan seperti gelombang Q, elevasi segmen ST, inversi
gelombang T dan troponin I dan T akan meningkat. Selain itu pasien juga
akan menunjukkan gejala lain seperti nyeri dada yang mungkin menyebar
ke leher, rahang, epigastrium, bahu atau lengan kiri, nadi biasnya cepat dan
lemah, serta pasien sering mengalami diaphoresis.
Berdasarkan teori dan kasus diatas, hipertensi dapat meningkatkan
faktor resiko ischemic heart disease, dimana tekanan darah yang tinggi dan
menetap akan menimbulkan trauma langsung terhadap dinding pembuluh
darah arteri koronaria, sehingga memudahkan terjadinya arteroskelrosis
koroner. Dari hasil pemeriksaan EKG 12 lead. Hal ini sesuai dengan teori
yang dikemukakan oleh (Robbins, 2007) bahwa hasil EKG akan berubah
terutama pada segmen ST untuk pasien dengan STEMI.
36
3.2.2 Diagnosa
Diagnosa yang didapatkan dari kasus terdiri dari : 1. Nyeri akut
berhubungan dengan agen cedera biologis (Iskemik miokard). 2.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen. 3. Konstipasi berhubungan dengan gangguan
fisiologis (perubahan lingkungan saat ini).
Pada teori yang dikemukakan oleh (Suddarth, 2014) diagnosa pada
pasien dengan infark miokard terdiri dari 4 diagnosa. Diagnosa yang
ditegakkan pada kasus ini adalah nyeri akut berhubungan dengan agen
cedera biologis (Iskemik miokard), intoleransi aktivitas berhubungan
dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen,
konstipasi berhubungan dengan gangguan fisiologis (perubahan
lingkungan saat ini). Hal ini disebabkan karena ada data yang cukup untuk
diagnosa tersebut.
Diagnosa pada kasus yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen
cedera biologis (Iskemik miokard), data yang didapatkan untuk
menegakkan diagnosa ini adalah nyeri dada kiri menjalar ke leher pada
saat pasien merubah posisi, skala nyeri 3, berlangsung selama ± 2-5 menit.
Batasan karakteristik diagnosa ini menurut (Herdman & Kamitsuru, 2017)
adalah perubahan tonus otot, respon otonomik tidak terlihat pada nyeri,
diaphoresis, perubahan tekanan dan denyut nadi, pupil dilatasi, dan
peningkatan dan penurunan kecepatan pernapasan, perilaku pendistraksi
seperti merintih, menangis dan mencari orang atau aktivitas lain, fokus
menyempit, meliputi perubahan persepsi terhadap waktu, menarik diri dari
kontak sosial dan gangguan proses pikir, pasien melaporkan nyeri (verbal
atau dengan perilaku), berfokus pada diri sendiri.
Alasan diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen cedera
biologis (iskemik miokard) yaitu karena pasien sudah melewati fase kritis
dan sudah mendapatkan pengobatan setelah 1x24 jam pertama. Pada
diagnosa kedua pada kasus intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen dengan data-data
yang didapatkan untuk menegakkan diagnosa ini yaitu Tn. M mengatakan
37
merasa lemah, ADL (Activity of Daily Living) seperti makan minum,
personal hygiene, dan toileting dibantu perawat dan keluarga, hasil
pemeriksaan EKG didapatkan elevasi segmen ST pada lead II, III, aVf
(iskemik inferior) dan hasil pemeriksaan serologi: Troponin I 17.34 ug/L.
Batasan karakteristik menurut (Herdman & Kamitsuru, 2017) yaitu
masalah sirkulasi, masalah respirasi yang meliputi denyut jantung atau
tekanan darah yang abnormal karena aktivitas, aritmia atau perubahan
iskemia pada EKG, dan ketidaknyamanan pada saat latihan, dispnea,
takipnea, pernyataan verbal tentang keletihan atau kelemahan.
Alasan diagnosa intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditegakkan karena
sudah memiliki data yang cukup untuk bisa menyelesaikan masalah yang
dialami oleh Tn. M. Diagnosa ketiga pada kasus yaitu, konstipasi
berhubungan dengan gangguan fungsional (perubahan lingkungan saat ini)
data yang didapatkan untuk menegakkan diagnosa ini yaitu Tn. M
mengatakan belum BAB sejak tanggal 25 mei 2019 dan mengatakan
merasa kembung, hasil pemeriksaan abdomen perkusi abdomen pekak,
palpasi teraba massa pada kuadran kanan bawah.
3.2.3 Intervensi
Diagnosa Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
(iskemik miokard) dengan intervensi yang direncanakan pada Tn. M.N.M
yaitu terdapat 5 (lima) intervensi. Intervensi nyeri akut berhubungan
dengan agen cedera biologis (iskemik miokard) menurut (Suddarth,
2014) terdapat 8 (delapan) intervensi. 3 (tiga) intervensi pada teori tidak
direncanakan pada pasien yaitu melakukan manajemen nyeri sesuai
kebutuhan, memberikan oksigen tambahan, kolaborasi pemberian terapi
farmakologis dengan alasan nyeri yang dialami pasien sudah diberikan
penanganan pada 24 jam pertama perawatan.
38
intervensi yang direncanakan pada Tn. M. N. M yaitu terdapat 5 (lima)
intervensi. Intervensi intoleransi aktivitas berhubungan denga
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen menurut
(Suddarth, 2014) terdapat 6 (enam) intervensi. 1 (satu) intervensi pada
teori yang tidak direncanakan pada pasien yaitu kolaborasi pemberian
antiaritmia dengan alasan aritmia sudah tidak dialami pasien.
Diagnosa keperawatan konstipasi berhubungan dengan gangguan
fungsional (perubahan lingkungan saat ini) intervensi yang direncanakan
pada Tn. M. N. M yaitu terdapat 5 (lima). Intervensi yang direncanakan
pada Tn. M. N. M sesuai dengan intervensi yang ditetapkan menurut
(Moorhead, Johnson, Maas, & Swanson, 2016).
3.2.4 Implementasi
Implementasi pada kasus dilakukan selama 3 hari. Untuk diagnosa
nyeri berhubungan dengan agen cedera biologi (iskemik miokard), tidak
semua intervensi dilakukan kepada pasien. Yang tidak dilakukan adalah
memberikan oksigen tambahan dengan nasal kanul atau masker sesuai
dengan indikasi dengan alasan pasien tidak sesak dan kolaborasi
pemberian terapi farmakologis antiangina dan analgetik dengan alasan
pasien sudah merasa nyerinya berkurang sehingga tindakan farmakologis
untuk mengatasi nyeri dihentikan digantikan dengan tindakan
nonfarmakologis yaitu teknik relaksasi napas dalam.
Untuk diagnosa intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, tidak semua
intervensi dilakukan pada pasien. Yang tidak dilakukan adalah monitor
nilai laboratorium yang tepat dengan alasan tidak ada pemeriksaan
laboratorium yang dilakukan dalam rentang waktu tanggal 28 mei 2019
sampai 29 mei 2019.
39
3.2.5 Evaluasi
Diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
(iskemik miokard) teratasi dengan alasan Tn. M mengatakan tidak nyeri
lagi, skala nyeri menurun dari 3 menjadi 1, pasien tidak menunjukkan
ekspresi ketidaknyamanan, pasien rileks, tekanan darah 110/70 mmHg,
nadi 80 x/m, tidak gelisah. Data ini sesuai dengan kriteria hasil yang telah
ditetapkan pada intervensi.
Diagnosa intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen teratasi sebagian
dengan alasan berdasarkan batasan karakteristik yang telah ditetapkan
pasien sudah tidak merasa lemas, sudah bisa melakukan aktivitas secara
bertahap seperti duduk ditempat tidur dan sudah bisa makan sendiri,
bernapas spontan. Namun temuan hasil EKG pasien masih terdapat
elevasi segmen ST pada lead II, III, aVf sehingga masalah baru teratasi
sebagian.
Diagnosa konstipasi berhubungan dengan perubahan lingkungan
saat ini belum teratasi, dengan alasan berdasarkan batasan karakteristik
yang telah ditetapkan pasien mengatakan belum BAB, masih teraba
massa di kuadran kanan bawah, dan perkusi abdomen pekak dan
kembung.
40
BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Pada tahap pengkajian dilakukan metode wawancara, observasi : Tn. M
mengatakan merasakan nyeri pada dada kiri menjalar ke leher dengan skala
3, nyeri dirasakan saat merubah posisi, dan berlangsung selama ± 2-5 menit,
pasien mengeluh lemah, dan merasakan kembung.
2. Setelah dilakukan pengkajian dan analisa kasus muncul tiga diagnosa pada
pasien yaitu : nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (iskemik
miokard), intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen, konstipasi berhubungan dengan
gangguan fungsional : perubahan lingkungan saat ini. Semua diagnosa
keperawatan teratasi.
3. Intervensi yang direncanakan pada kasus terdiri dari : diagnosa pertama
nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (iskemik miokard)
terdapat 8 rencana keperawatan, diagnosa kedua intoleransi aktivias
berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
terdapat 5 rencana keperawatan dan diagnosa ketiga konstipasi berhubungan
dengan perubahan lingkungan saat ini terdapat 4 rencana keperawatan.
4. Implementasi yang dilakukan sudah sesuai dengan intervensi yang
ditetapkan, selain itu ada faktor pendukung dari keluarga untuk bekerja
sama sehingga implementasi dapat dilaksanakan dengan baik.
5. Hasil evaluasi keperawatan didapatkan bahwa diagnosa keperawatan nyeri
akut berhubungan dengan agen cedera biologis (iskemik miokard) telah
diatasi, diagnosa keperawatan intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen teratasi sebagian dan
diagnosa keperawatan konstipasi berhubungan dengan ganggan fungsional
(perubahan lingkungan saat ini) belum teratasi dilihat berdasarkan batasan
karakteristik yang telah ditetapkan.
41
4.2 Saran
1. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan dengan adanya studi kasus ini, dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran bagi mahasiswa/i di kampus Politeknik Kesehatan
Kementrian Kesehatan Kupang Prodi D-III Keperawatan Kupag, khususnya
pada keperawatan gawat darurat terutama pada pembelajaran tentang asuhan
keperawatan gawat darurat.
2. Bagi rumah sakit
Diharapkan dengan adanya studi kasus ini, dapat dijadikan sebagai
bahan masukan dan bahan evalusia yang diperlukan dalam pemberian
asuhan keperawatan di ruangan khususnya di ruang ICCU.
3. Bagi perawat
Diharapkan dengan adanya studi kasus ini, dapat dijadikan sebagai
acuan untuk meningkatkan mutu pemberian asuhan keperawatan pada kasus
ST Elevasi Miokard Infark.
42
DAFTAR PUSTAKA
A, J. D., S, D. S., Irmalita, D, T., I, F., & B, W. (2016). Panduan Praktik Klinis
(PPK) dan Clinical Pathway (CP) Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Edisi 1. Jakarta: Jurnal Kardiologi Indonesia.
Cynthia M. Taylor, S. S. (2010). Diagnosis Keperawatan Dengan Rencana
Asuhan Edisi 10. Jakarta: EGC.
Farissa, I. P. (2012). Komplikasi Pada Pasien Infark Miokard Akut ST-Elevasi
(STEMI) Yang Mendapat Maupun Tidak Mendapat Terapi Reperfusi.
Semarang: FK UNDIP.
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2017). NANDA INTERNATIONAL Diagnosis
Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2018-2020 Edisi 11. Jakarta: EGC.
Indonesia, P. D. (2018). Pedoman Tata Laksana Sindrom Koroner Akut (Vol. I).
Jakarta: PERKI.
Iskandar, A. H. (2017). (Faktor Risiko Terjadinya Penyakit Jantung Koroner
Pada Pasien Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda aceh).
Kementrian Kesehatan RI, R. (2018). Laporan Nasional Riskesdas. Jakarta:
Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Kumar. (2015). Buku ajar Patologi. Singapore Elseiver.
Majid, A. (2016). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan
Kardiovaskular. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2016). Nursing
Outcomes Classification and Nursing Intervention Classification Edisi 6.
Singapore: Elsevier.
Perry, P. &. (2009). Buku ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4 (Vol. I).
Jakarta: EGC.
Rampengan, S. H. (2015). Kegawatdaruratan Jantung. Jakarta: Badan Penerbit
FKUI.
Robbins. (2007). Buku Ajar Patologi Edisi 2 (Vol. II). Jakarta: EGC.
Suddarth, B. &. (2014). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 12.
Jakarta: EGC.
Suhayatra Putra, E. F. (2016). Artikel Penelitian. (Gambaran Faktor Resiko dan
Manajemen Reperfusi Pasien IMA-EST di Bangsal Jantung RSup Dr. M.
Djamil Padang).
Underwood, J. C. (1999). Patologi Umum dan Sistematik Edisi 2 (Vol. II).
Jakarta: EGC.
43
LAMPIRAN
44
Lampiran 1. Pathway STEMI
45
FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
JURUSAN KEPERAWATAN POLTEKES KEMENKES KUPANG
A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
Nama : Tn. M. N. M
Umur : 67 tahun
Agama : Kristen Protestan
Pekerjaan : Pensiunan PNS
Alamat : Bakunase
Nomor registrasi : 513460
Diagnosa medik : STEMI Inferior
Tanggal MRS : 25 Mei 2019 Jam : 10:00
Tanggal pengkajian: 26 Mei 2019 Jam : 19:00
3. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Pasien mengeluh nyeri di dada kiri menjalar ke leher, saat merubah posisi,
skala 3, nyeri timbul saat pasien merubah posisi, dengan lama nyeri ± 2-5 menit.
Pasien mengeluh lemas.
46
Pasien mendapatkan therapy oral aspilet 32 mg, clopidogrel 50 mg,
dilakukan pemasangan drain cateter no. 16 pro urin. Di observasi di IGD selama ± 2
jam dan dipindahkan ke ruang ICCU untuk perawatan intensif.
Keterangan :
: Pasien
: Perempuan
: Laki-laki
Tanda-Tanda Vital:
TD: 120/70 mmHg Nadi: 78x/menit
Suhu: 36,5◦Celsius RR: 18x/menit
47
4. Pengkajian Primer A. Airways (jalan nafas)
Sumbatan: Tidak ada sumbatan pada jalan nafas
() benda asing () bronscospasme
() darah () sputum () lendir
() lain-lain sebutkan:-
B. Breathing (pernafasan)
Sesak dengan: Pasien tidak mengeluh sesak nafas
() aktifitas () tanpa aktifitas
() menggunakan otot tambahan
Frekuensi: 20 x/mnt
Irama : (√) teratur () tidak teratur
Kedalaman: () dalam () dangkal
Reflek batuk : () ada (√) tidak ada
Batuk: Tidak ada batuk
() produktif () non produktif
Sputum : () ada (√) tidak
Warna:-
Konsistensi:-
Bunyi napas: Vesikuler
() ronchi () creakles ()
BGA:-
C. Circulation
a. Sirkulasi perifer
Nadi : 78 x/menit
Irama: (√) teratur () tidak
Denyut: () lemah (√) kuat () tidak kuat
TD: 120/70 mmHg
Ekstremitas :
(√) Hangat ( ) Dingin
Warna Kulit :
48
( ) cyanosis ( ) Pucat (√) Kemerahan
Nyeri Dada : (√) Ada () Tidak
Karakteristik nyeri dada :
( ) Menetap (√ ) Menyebar ke leher
( ) Seperti ditusuk-tusuk
( ) Seperti ditimpah benda berat
Capillary refill : Normal
(√ ) < 3 detik ( ) > 3 detik
Edema : Tidak ada edema
( ) Ya (√ ) Tidak
Lokasi edema : Tidak ada edema
( ) Muka ( ) Tangan ( ) Tungkai ( ) Anasarka
49
Diare : () Ya (√) Tidak ( ) Berdarah ( ) Berlendir ( ) Cair
Bising Usus : 10 x/menit
Pemeriksaan Abdomen :
Keluhan : Pasien mengatakan merasa kembung
()I : Abdomen tampak simetris
( ) A : Bising usus 10 x/menit
( ) Pal : Saat dipalpasi teraba massa dikuadran kanan bawah
( ) Per : Saat diperkusi abdomen pekak
5. Intoksikasi
( ) Makanan
( ) Gigitan Binatang
( ) Alkohol
( ) Zat kimia
( ) Obat-obatan
( ) Lain – lain : Tidak ada intoksikasi
D. Disability
Tingkat kesadaran :
(√ ) CM ( ) Apatis ( ) Somnolent ( ) Sopor ( ) Soporocoma (Coma)
Pupil : (√) Isokor ( ) Miosis ( ) Anisokor ( ) Midriasis ( ) Pin poin
Reaksi terhadap cahaya : Pupil berreaksi terhadap cahaya
Kanan (√) Positif () Negatif
Kiri (√) Positif () Negatif
GCS : E :4 M:6 V :5
Jumlah : 15
6. Pengkajian Sekunder
a. Musculoskeletal / Neurosensoril
(-) Spasme otot
(-) Vulnus
(-) Krepitasi
(-) Fraktur
50
(-) Dislokasi
( ) Kekuatan Otot : normal
5 5
5 5
b. Integumen
( ) Vulnus : -
( ) Luka Bakar: -
c. Psikologis
Ketegangan meningkat
Fokus pada diri sendiri
Kurang pengetahuan
51
Terapi/ Pengobatan
Nama Rute Waktu
Dosis Pemberian Pemberian Indikasi
Terapi
Menurunkan kadar As.
Ranitidine 25 mg IV 18.00
Lambung
Mengencerkan darah
Arixtra 2,5 mg SC Abd. 06.00
(antikoagulan)
Membantu mencegah
serangan jantung, stroke
Aspilet 80 mg Oral 06.00
dan sebagai antiplatelet
Mencegah pembekuan
darah pada orang yang
pernah mengalami:
serangan jantung, stroke,
Clopidogrel 75 mg Oral 22.00 operasi pada jantung,
penderita SKA, operasi
pada pembuluh darah
Mengatasi kecemasan,
Alprazolam 0,5 mg Oral 22.00
serangan panic
14.00; 22.00;
Laxadin Syr. 3 sdt Oral Obat pencahar/laksatif
06.00
52
Pemeriksaan Penunjang
Tanggal Jenis Pemeriksaan Nilai Normal Hasil
Pemeriksaan
Darah Rutin :
25/05/2019 Leukosit 4.0 – 10.0 10^3/ul 13.71 10^3/ul
25/05/2019 Elektrolit:
Natrium 132 – 147 mmol/L 144 mmol/L
Kalium 3.5 – 4.5 mmol/L 3.7 mmol/L
Calsium 2.2 – 2.55 mmol/L 2.4 mmol/L
Chloride 96 – 111 mmol/L 104 mmol/L
Serologi :
26/05/2019 Troponin I < 0.60 ug/L 17.34 ug/L
26/05/2019 EKG - Lead II, III, aVf
elevasi pada segmen
ST
27/05/2019 EKG - Lead II, III, aVf
elevasi pada segmen
ST
28/05/2019 EKG - Lead II, III, aVf
elevasi pada segmen
ST
Analisa Data
53
Problem Etiology Sign & Symptoms
Nyeri akut Agen cedera biologis DS :
Domain 12 : Kenyamanan (Iskemik Miokard) Pasien mengeluh nyeri di
Kelas 1 : Kenyamananan dada kiri menjalar ke leher,
Fisik nyeri skala 3, nyeri terasa
Kode 00132 saat merubah posisi, dengan
lama nyeri ± 2-5 menit.
DO :
- Wajah pasien
tampak meringis
jika meubah
posisi
- Tampak memegangi dada
saat merubah posisi
- Perubahan EKG: Lead II,
III, aVf elevasi (STEMI
Inferior)
- Serologi: Troponin
I
17.34 ug/L
Intoleransi aktivitas Ketidakseimbangan suplai DS :
Domain 4 : dan kebutuhan oksigen Pasien mengeluh lemas
Aktivitas/Istirahat DO :
Kelas 4 : Respons - Pasien tampak lemah
Kardiovaskular/Pulmonal - Semua ADL (toileting,
Kode 00092 personal hygiene) dibantu
oleh perawat dan
keluarga
- Perubahan EKG: Lead II,
III, aVf elevasi (STEMI
Inferior)
- Serologi: Troponin
I
17.34 ug/L
54
- Vital sign : TD 120/70
mmHg; N 78 x/m; RR 18
x/m; S 36,5oC
55
Intervensi Keperawatan
Perencanaan Keperawatan
Diagnose Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera NOC : Tingkat Nyeri (2102) Manajemen Nyeri (kode 1400)
biologis (iskemik miokard) Setelah dilakukan tindakan keperawatan, 10) Kaji nyeri secara komprehensif, catat
pasien bebas dari nyeri dengan criteria hasil : karakteristik nyeri, lokasi, intensitas lama
- Pasien melaporkan nyeri dan penyebarannya.
berkurang (210201) 11) Observasi adanya petunjuk nonverbal
- Ekspresi wajah rileks (210206) dari ketidaknyamanan
- Nadi 60-100 x/m (210220) 12) Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri
- Tekanan darah 120/80 mmHg (210212) segera.
- Tidak gelisah (210222) 13) Lakukan manajemen nyeri keperawatan
yang meliputi, atur posisi, istirahat pasien
14) Berikan oksigen tambahan dengan nasal
kanul atau masker sesuai dengan indikasi
15) Ajarkan teknik relaksasi napas dalam
16) Lakukan manajemen sesuai kebutuhan
17) Kolaborasi pemberian terapi
farmakologis anti angina dan analgetik
18) Anjurkan pasien untuk melakukan
56
tindakan pengurangan nyeri apabila
merasakan nyeri.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan NOC : Toleransi terhadap aktifitas (0005) Perawatan jantung (kode 4040) Aktivitas-
ketidakseimbangan suplai dan Setelah dilakukan tindakan keperawatan, aktivitas :
kebutuhan oksigen
pasien mampu melakukan aktivitas secara 9) Pastikan tingkat aktivitas pasien yang
mandiri dengan criteria hasil: tidak membahayakan curah jantung atau
- Bernapas spontan saat beraktivitas memprovokasi serangan jantung
(000508) 10) Dorong peningkatan aktivitas bertahap
- Temuan hasil EKG normal (000506) ketika kondisi sudah distabilkan
- Kemudahan dalam melakukan (misalnya., dorong aktivitas yang lebih
aktivitas hidup harian (000518) ringan atau waktu yang lebih singkat
- Frekuensi RR berkisar antara 12-20 dengan waktu istirahat yang sering dalam
x/m setelah beraktivitas (000502) melakukan aktivitas)
11) Instruksikan pasien tentang pentingnya
untuk segera melaporkan bila merasakan
nyeri dada; evaluasi episode nyeri dada
(intensitas, lokasi, radiasi, durasi dan
factor yang memicu serta meringankan
nyeri dada)
12) Monitor EKG, adakah perubahan segmen
ST, sebagaimana mestinya
57
Catatan Perkembangan
60
tanda nonverbal nyeri
seperti wajah tampak O:
11:45 meringis, memegangi -
area yang nyeri
Pasien tampak rileks -
3) Menganjurkan pasien
untuk melakukan
teknik napas dalam
Pasien paham dan
dapat melakukan
13:00 kembali teknik -
relaksasi napas
dalam apabila
13:50 merasakan nyeri.
4) Menganjurkan
untuk melaporkan
segera jika merasa P :
nyeri
5) Membatasi
pengunjung dan
komunikasi
Pasien tampak
beristirahat
Intoleransi 11:00 1) Mengukur vital
aktivitas pasien
berhubungan TD 120/80 mmHg; Pasien
dengan 61 RR 18 x/m; N 70 mengatakan masih
ketidakseimbangan x/m
antara suplai dan 11:10 2) Melakukan penilaian
kebutuhan oksigen pada sirkulasi perifer O:
3 ke 1 A : pasien Masalah teratasi
S:
merasa lemas
tidak dengan
62
palpasi teraba beristirahat
hangat; posisi
oedema; warna kulit tidur miring kanan
tidak pucat
3) Menganjurkan pasien A :
11:45 untuk melakukan Masalah teratasi
aktivitas secara bertahap sebagian
sesuai kondisi
Pasien mengikuti P :
anjuran yang Lanjutkan
diberikan intervensi
4) Menganjurkan pasien
untuk mengikuti aturan
13:00 pengobatan sesuai
instruksi
Pasien mengikuti
13:50 jadwal minum obat
yang telah
ditetapkan
5) Monitor pemeriksaan
EKG
Hasil perekaman
EKG terdapat
elevasi pada segmen
ST di lead II, III,
aVf namun sudah
63 turun
Konstipasi 11:00 1) Mengobservasi tanda Jam : 14:30
berhubungan dan gejala dari S :
dengan gangguan konstipasi Pasien
lingkungan saat 11:10 teraba massa di dan masih merasa ini) kuadran kanan kembung namun bawah sudah
berkurang
2) Menganjurkan pasien O :
untuk minum air putih Perkusi abdomen yang cukup ± 1500 pekak, palpasi cc/hari abdomen teraba
Pasien paham dan masa di kuadran
11:45 mengikuti anjuran kanan bawah
3) Menganjurkan
keluarga untuk extra A : buah seperti papaya Masalah belum dan pisang teratasi
64
(perubahan pekak, palpasi belum BAB sejak
65
Syrup
Catatan Perkembangan laxadine syrup 1
sendok teh
TANGGAL 24 26 27 28 29 31 1 7 8 9 11 20 21 25
Pembekalan
Lapor diri di rumah sakit
Pengambilan kasus
Ujian praktek
Perawatan kasus dan proposal
Penyusunan laporan kasus dan konsultasi
dengan pembimbing
Ujian sidang
Revisi
Kumpul laporan
72
Lampiran 5 : Dokumentasi
73