0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
349 tayangan16 halaman

Analisis Resiko Bunuh Diri dalam Keperawatan

Dokumen tersebut membahas tentang resiko bunuh diri, meliputi definisi bunuh diri, jenis-jenisnya, tahapan resiko bunuh diri, tanda dan gejala, faktor risiko, serta predisposisi bunuh diri. Dokumen ini menjelaskan bahwa bunuh diri dapat terjadi karena faktor internal seperti gangguan mental maupun eksternal seperti tekanan lingkungan.

Diunggah oleh

TESI NOVIANA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
349 tayangan16 halaman

Analisis Resiko Bunuh Diri dalam Keperawatan

Dokumen tersebut membahas tentang resiko bunuh diri, meliputi definisi bunuh diri, jenis-jenisnya, tahapan resiko bunuh diri, tanda dan gejala, faktor risiko, serta predisposisi bunuh diri. Dokumen ini menjelaskan bahwa bunuh diri dapat terjadi karena faktor internal seperti gangguan mental maupun eksternal seperti tekanan lingkungan.

Diunggah oleh

TESI NOVIANA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

RESIKO BUNUH DIRI

TESI NOVIANA

2114901074

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG

JURUSAN KEPERAWATAN

PROFESI NERS

2021/2022
I. MASALAH UTAMA
Bunuh Diri
II. PROSES TERJADINYA
A. Definisi
1. Resiko bunuh diri adalah berisiko melakukan upaya menyakiti diri sendiri
untuk mengakhiri kehidupan (SDKI, 2016).
2. Bunuh diri didefinisikan oleh Herdman (2015) sebagai tindakan yang secara
sadar dilakukan oleh klien untuk mengakhiri kehidupannya.
3. Bunuh diri adaah tindakan sengaja membunuh diri sendiri. Menyakiti diri
adalah istilah yang lebih luas mengacu pada disengaja keracunan diri
sendiri secara sengajaatau cedera yang mungkin tidak memiliki niat fatal
atau hasil(WHO, 2014)
4. Bunuh diri adalah penyebab keempat kematian untuk usia 25-44, dan
penyebab utama kedelapan kematian bagi individu usia 45-64 (Townsend,
2014).
5. Bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami resiko untuk
menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan yang dapat mengancam
nyawa. Dalam sumber lain dikatakan bahwa bunuh diri sebagai perilaku
destruktif terhadap diri sendiri yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada
kematian. Perilaku destruktif diri yang mencakup setiap bentuk aktivitas
bunuh diri, niatnya adalah kematian dan individu menyadari hal ini sebagai
sesuatu yang diinginkan. (Stuart dan Sundeen, 1995 dalam Fitria, 2009).

B. Jenis-jenis Bunuh Diri


Menurut Durkheim, bunuh diri dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Bunuh diri egoistic (faktor dalam diri seseorang)
Individu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat, ini disebabkan oleh
kondisikebudayaan atau karena masyarakat yang menjadikan individu itu
seolah-olah tidak [Link] integrasi dalam keluarga
dapat menerangkan mengapa merekatidak menikah lebih rentan untuk
melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan merekayang menikah.
2. Bunuh diri altruistic (terkait kehormatan seseorang)
Individu terkait pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung untuk
bunuh diri karenaindentifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, ia
merasa kelompok tersebut sangatmengharapkannya.
3. Bunuh diri anomik (faktor lingkungan dan tekanan)
Hal ini terjadi bila terdapat gangguan keseimbangan integrasi antara
individu dan masyarakat,sehingga individu tersebut meninggalkan norma-
norma kelakuan yang biasa. Individukehilangan pegangan dan
[Link] atau kelompoknya tidak memberikan kepuasan padanya
karena tidak ada pengaturan atau pengawasan terhadap kebutuhan-
kebutuhannya.

Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh klien


untukmengakhiri kehidupannya. Berdasarkan besarnya kemungkinan klien
melakukan bunuh diri,ada tiga macam perilaku bunuh diri yang perlu
diperhatikan yaitu:

1. Isyarat bunuh diri


Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak
langsung ingin bunuh diri, misalnya dengan mengatakan: ”Tolong jaga
anak- anak karena saya akan pergi jauh!” atau“Segala sesuatu akan
lebih baik tanpa saya.” Pada kondisi ini klien mungkin sudah memiliki
ide untuk mengakhiri hidupnya, namun tidakdisertai dengan
ancaman dan percobaan bunuh [Link] umumnya
mengungkapkan perasaan seperti rasa bersalah/ sedih/ marah/ putus
asa/ tidak berdaya. Klien jugamengungkapkan hal-hal negatif tentang
diri sendiri yang menggambarkan harga diri rendah
2. Ancaman bunuh diri.
Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh klien, berisi keinginan
untuk mati disertai dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan dan
persiapan alat untuk melaksanakan rencana [Link] aktif klien
telah memikirkan rencana bunuh diri, namun tidak disertai
dengan percobaan bunuh [Link] dalam kondisi ini klien belum
pernah mencoba bunuh diri, pengawasan ketat harus
[Link] sedikit saja dapat dimanfaatkan klien untuk
melaksanakan rencana bunuh dirinya.
3. Percobaan bunuh diri.
Percobaan bunuh diri merupakan tindakan klien mencederai atau
melukai diri untukmengakhiri [Link] kondisi ini, klien
aktif mencoba bunuh diri dengan caragantung diri, minum racun,
memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat tinggi.

C. Tahap-tahap Resiko Bunuh Diri


1. Suicidal Ideation
Sebuah metode yang digunakan tanpa melakukan aksi atau tindakan,
bahkan klien pada tahap ini tidak akan menungkapkan idenya apabila tidak
di tekan.
2. Suicidal Intent
Pada tahap ini klien mulai berfikir dan sudah melakukan perencanaan yang
konkrit untuk melakukan bunuh diri
3. Suicidal Threat
Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat yang
dalam bahkan ancaman untuk mengakhiri hidupnya.
4. Suicidal Gesture
Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang diarahkan pada
diri sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya, tetapi
sudah oada percobaan untuk melakukan bunuh diri.
5. Suicidal Attempt
Pada tahap ini perilaku destruktif klien mempunyai indikasi individu yang
ingin mati dan tidak mau [Link], minum ibat yang
mematikan.

D. Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala menurut Fitria, Nita (2009):

1. Mempunyai ide untuk bunuh diri.


2. Mengungkapkan keinginan untuk mati.
3. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.
4. Impulsif.
5. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi
sangat patuh).
6. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri.
7. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang
obat dosismematikan).
8. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic, marah
dan mengasingkandiri).
9. Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang
depresi, psikosis danmenyalahgunakan alcohol).
10. Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau
terminal).
11. Pengangguaran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami
kegagalan dalamkarier).
12. Umur 15-19 tahun atau di atas 45 tahun.
13. Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan).
14. Pekerjaan.
15. Konflik interpersonal.
16. Latar belakang keluarga.
17. Orientasi seksual.
18. Sumber-sumber personal.
19. Sumber-sumber social.
20. Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil.

E. Faktor Resiko RBD menurut SDKI (2016)


1. Gangguan perilaku (mis. Euforia mendadakan setelah depresi, perilaku
mencari senjata berbahaya, memberli obat dalam jumlah banyak, membuat
surat warisan)
2. Demografi (mis. Lansia, status perceraian, janda, duda, ekonomi rendah,
pengangguran)
3. Ganguan fisik (mis. Nyeri kronis, penyakit terminal)
4. Masalah sosial (mis. Berduka, tidak berdaya, putus asa, kesepian,
kehilangan hubungan yang penting, isolasi diri)
5. Gangguan psikologis (mis. Penganiayaan masa kanak-kanak, riwayat bunuh
diri sebelumnya, remaja homo seksual, gangguan psikiatrik, penyakit
psikiatrik, penyalah gunaan zat)

F. Predisposisi
1. Teori genetic
a. Genetik
Prilaku bunuh diri menurut shadock (2011) serta Varcarolis dan
Hitler (2010) merupakan sesuatu yang di turunkan dalam  keluarga
kembar monozigot memiliki reriko dalam melakukan bunuh diri
stuard  (2011).
b. Hubungan neurokimia
Nourotransmiter adalah zat kimia dalam otak dari sel ke saraf,
peningkatan dan penurunan neuro transmiter mengakibatkan
perubahan pada prilaku. Neurotrasmiter yg yang di kaitkan dengan
prilaku bunuh diri adalah dopamine, neuroepineprin, asetilkolin,
asam amino dan gaba  (Stuard, 2011).
c. Diagnosis psikiatri
Lebih dari 90 % orang dewasa yg mengahiri hidupnya dengan
bunuh diri mengalami gangguan jiwa.
d. Gangguan jiwa yang beriko menimbulkan individu untuk bunuh
diri adalah gangguan mood, penyalah gunaan zat, skizofrenia, dan
gangguan kecemasan (Stuard, 2013).
2.   Faktor psikologi
a. Kebencian terhadap diri sendiri
Bunuh diri merupakan hasil dari bentuk penyerangan ataw
kemarahan terhaapp orang lain yang tidsk di trima dan di
mannifestasikan atau di tunjuksn pada diri sendiri  (Stuard dan
videbeck, 2011).
b. Ciri kepribadian
Keempat aspek kepribadian yg terkait dengan peningkatan resiko
bunuh diri adalah permusuhan, impulsive, depresi dan putus asa
(Stuard, 2013 ).
c. Teori psikodinamika
Menyatakan bahwa depresi kaarna kehilangan suatu yang di cintai,
rasa keputusasaan, kesepian dan kehilangan harga diri (Shadock,
2011).

3. Faktor sosial budaya


a. Beberapa faktor yang mengarah kepada bunuh diri adalah
kemisknan dan ketikmampuan memenuhi kebutuhan dasar,
pernikahan yang hancur, keluarga dengan orang tua tunggal
( Towsend , 2009 ).
b. Faktor budaya yang di dalamnya adalah faktor spiritual, nilai yang
di anut oleh keluarga, pandangan terhadap perilaku yang
menyebabkan kematian berdampak pada angka kejadian bunuh diri
(Krch et al, 2008).
c. Kehilangan, kurangnya dukungan sosial dan peristiwa keidupan
yang negatif dan penyakit fisik kronis. Baru-baru ini perpisahan
perceraian dan penurunan dukungan sosial merupakan faktor
penting berhubungan dengan resiko bunuh diri.(Stuard, 2013).

G. Presipitasi
Faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh diri adalah:
1. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan
interpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti.
2. Kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stres.
3. Perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada
diri sendiri.
4. Cara untuk mengakhiri keputusan.
H. Rentang Respon
Menurut Fitria (2012) mengemukakanrentang harapan-putus harapan
merupakan rentang adaptif-maladaptif:

Keterangan:
1. Peningkatan diri: seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahan
diri secarawajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahan diri.
2. Beresiko destruktif: seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko
mengalami perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situa
si yang seharusnyadapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa
patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap
pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal.
3. Destruktif diri tidak langsung: seseorang telahmengambil sikap yang
kurang tepat terhadap situasi yangmembutuhkan dirinya untuk
mempertahankan diri.
4. Pencederaan Diri: seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau
pencederaan diriakibat hilangnya harapan terhadapsituasi yang ada.
5. Bunuh diri: seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan
nyawanya hilang.

I. Diagnosis Keperawatan:
Diagnosis Keperawatan yang mungkin muncul pada prilaku percobaan bunuh
diri: Resiko bunuh diri.

J. Penilaian Stressor
Upaya bunuh diri tidak mungkin diprediksikan pada setiap tingkat yang
bermakna. Oleh karena itu, perawat harus mengkaji faktor resiko bunuh diri
yang diketahui pada setiapindividu dan menentukan makna setiap elemen ini
tehadap potensial perilaku bunuh diri (Stuart, 2006).
K. Mekanisme Koping
Klien dengan penyakit kronis, nyeri atau penyakit yang mengancam
kehidupan dapat melakukan perilaku [Link] kali klien secara
sadar memilih bunuh diri. Menurut Stuart (2006) dalam Yollanda, Amadea
(2018) Mengungkapkan bahwa mekanisme pertahanan ego
yang berhubungan dengan perilaku destruktif diri tidak langsung adalah penya
ngkalan, rasionalisasi, intelektualisasi dan regresi.

L. Sumber Koping
1. Seseorang dapat mengatasi risiko bunuh diri dengan menggunakan koping
internal dan eksternal yang tersedia (Stuart, 2011). Sumber koping tersebut
terdiri atas kemampuan personal, dukungan sosial, aset material, dan
keyakinan.
2. Kemampuan secara fisik teridentifikasi dari kondisi fisik yang sehat.
Kemampuan mental meliuti kemampuan kognitif, afektif, perilaku dan
sosial. Kemampuan kognitif meliput kemampuan untuk meningkatkan
konsep diri terkait adanya masalah. Kemampuan perilaku terkait dengan
kemampuan melakukan tindakan yang adekuat dalam menyelesaikan
masalah (stuart, 2011).
3. Aset material dapat diperoleh klien dengan ririsko bunuh diri meliputi
dukungan finansial yang membantu perawatan klien dirumah sakit,
ketersediaan dana baik dari asuransi maupuntabungan. Tidak terpenuhinya
aset material akan berpotensi menimbulkan resiko bunh diri pada klien
akibat tidakoptimalnya sumber koping yang dimiliki klien.
4. Keyakinan positif pada klien dengan resiko bunuh diri diproleh dari
keyakinan klien terhadap kondisi kesehatan dan kemampuan diri dalam
mengontrol perasaan sedih yang berkepanjangan. Adanya keyakinan
positif akan berpotensi meningkatkan motivasi klien untuk menggunakan
mekanisme koping yang adaptif begitupula sebaliknya.

III. DAFTAR MASALAH DAN DATA YANG PERLU DIKAJI


Daftar masalah yang perlu dikaji menurut Stuart (2009)
1. Resiko perilaku kekerasan terhadap diri
2. Resiko bunuh diri
3. Ketidakpatuhan
4. Mutilasi diri
5. Ketidak berdayaan
6. Keputusasaan
7. Kecemasan
8. Koping individu in efektif
9. Harga diri kronik

Data yang perlu dikaji

Tanda dan gejala risiko bunuh diri dapat dinilai dari ungkapan pasien yang
menunjukkan keinginan atau pikiran untuk mengakhiri hidup dan didukung
dengan data hasil wawancaara dan observasi.

NO DATA MASALAH

Data Subjektif: Risiko Bunuh Diri


Pasien mengatakan:
- Merasa hidupnya tidak berguna lagi
- Ingin mati
- Pernah mencoba bunuh diri
- Mengancam bunuh diri
- Merasa bersalah/ sedih/ marah/ putus asa/ tidak
berdaya
Data Objektif:
- Ekspresi murungtak bergairah
- Banyak diam
- Ada bekas percobaan bunuh diri
(kemenkes, 2012)

IV. POHON MASALAH


V. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Risiko bunuh diri

VI. RENCANA TINDAKAN RBD MENURUT SIKI (2018)


1. Observasi
 Identifikasi gejala resiko bunuh diri (mis. Gangguan mood, halusinasi,
delusi, panik, penyalahangunaan zat, kesedihan, gangguan kepribadian)
 Identifikasi keinginan dan fikiran rencana bunuh diri
 Monitor lingkungan bebas bahaya secara rutin
 Monitor adanya perubahan perilaku
2. Terapeutik
 Libatkan dalam perencanan perawatan mandiri
 Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
 Lakukan pendekatan langsung dan tidak menghakimi saat membahas bunuh
diri
 Berikan lingkungan dengan keamanan dan mudah di pantau
 Tingkatkan pengawasan pada kondisi tertentu
 Lakukan intervensi perlindungan
 Hindari diskusi berulang tentang bunuh diri sebelumnya
 Pastikan obat ditelan
3. Edukasi
 Ajarkan mendiskusikan perasaan yang dialami kepada orang lain
 Anjurkan mengunakan sumber pendukung
 Jelaskan tindakan pencegahan bunuh diri kepada keluarga atau orang
terdekat
 Informasikan sumber daya masyarakat dan program yang tersedia
 Latih pencegahan resiko bunuh diri
4. Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian obat ansietas dan anti psikotik sesuai indikasi
 Kolaborasi tindakan keselamatan kepada PPA
 Rujuk ke pelayanan kesehatan mental

VII. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


1. Individu
SP 1:
a. Identifikasi beratnya masalah risiko bunuh diri: isarat, ancaman, percobaan
(jika percobaan segera rujuk)
b. Identifikasi benda-benda berbahaya dan mengankannya (lingkungan aman
untuk pasien)
c. Latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri: buat daftar
aspek positif diri sendiri,latihan afirmasi/berpikir aspek positif yang
dimiliki
d. Masukan pada jadual latihan berpikir positif 5x/hr

SP 2:

a. Evaluasi kegiatan berpikir positif tentang diri sendiri, beri pujian. Kaji
ulang RBD
b. Latih cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri:buat daftar aspek
positif keluarga dan lingkungan, latih
c. afirmasi/berpikir aspek positif keluarga dan lingkungan
d. Masukkan pada jadual latihan berpikir positif tentang diri, keluarga dan
lingkungan

SP 3:
a. Evaluasi kegiatan berpikir positif tentang diri, keluarga dan lingkungan.
Beri pujian. Kaji risiko bunuh diri
b. Diskusikan harapan dan masa depan dan cara mencapai harapan dan masa
depan
c. Latihcara mencapai harapan dan masa depan secara bertahap
d. Masukkan pada jadual latihan berpikir positif tentang diri, keluarga dan
lingkungan dan kegiatan yang dipilih

SP 4:

a. Evaluasi kegiatan berpikir positif tentang diri, keluarga dan lingkungan


serta kegiatan yang [Link] pujian
b. Latih tahap kedua kegiatan mencapai masa depan
c. Masukkan pada jadual latihan berpikir positif tentang diri,keluarga dan
lingkungan ,serta kegiatan yangdipilih untuk persiapan masa depan
2. Keluarga
SP 1:
a. Diskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien
b. Jelaskan pengertian, tanda dan gejala, dan proses terjadinya risiko bunuh
diri (gunakan booklet)
c. Jelaskan cara merawat risiko bunuh diri
d. Latih cara memberikan pujian hal positif pasien, memberi dukungan
pencapaian masadepan
e. Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan memberikan pujian

SP 2:

a. Evaluasi kegiatan keluarga dalam memberikan pujian dan penghargaan


atas
b. Keberhasilan dan aspek positif [Link] pujian
c. Latih cara memberi penghargaan pada pasien dan menciptakan suasana
positif dalam keluarga: tidak membicarakan keburukan anggota keluarga
d. Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan memberi pujian
SP 3

a. Evaluasi kegiatan keluarga dalam memberikan pujian dan penghargaan


pada pasien serta menciptakan suasana positif dalam keluarga. Beri pujian
b. Bersama keluarga berdiskusi dengan pasien tentang harapan masa depan
serta langkah- langkah mencapainya
c. Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan berikan pujian

SP 4

a. Evaluasi kegiatan keluarga dalam memberikan pujian, penghargaan,


menciptakan suasana keluarga yang positif dan kegiatan awal dalam
mencapai harapan masa depan. Beri pujian
b. Bersama keluarga berdiskusi tentang langkah dan kegiatan untuk
mencapai harapan masa depan
c. Jelaskan follow up ke PKM, tanda kambuh, rujukan
d. Anjurkan membantu pasiensesuai jadual dan memberikan pujian

3. Kelompok
Sesi 1: melindungi pasien dari bunuh diri
Sesi 2: meningkatkan harga diri pasien
Sesi 3: menggunakan mekanisme koping yang adaptif
NRM : ...........

Nama : ...........
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN GANGGUAN JIWA
(Dilengkapi setelah dilakukan asesment oleh perawat) Tanggal lahir: .........
(M
No Perencanaan
Tgl Dx Keperawatan
Dx Tujuan Kriteria Evaluasi

RESIKO BUNUH TUJUAN UMUM:


DIRI Perilaku bunuh diri
menurun

TUJUAN KHUSUS:
Pertemuan Pengkajian 1. Setelah … X pertemuan klien menunjukkan A. PENCEGAHAN
Pasien dapat menjalin tanda-tanda percaya kepada perawat dan
hubungan saling percaya mengenali masalah yang dialami, dengan 1. Observasi
kriteria: a) Identifikasi g
o Perilaku melukai diri sendiri menurun halusinasi, delus
o Verbalisasi keinginan bunuh diri gangguan pribad
menurun b) Identifikasi k
o Verbalisasi isyarat bunuh diri menurun c) Monitor lingk
o Verbalisasi ancaman bunuh diri pribadi, pisau cu
menurun d) monitor adan
o Verbalisasi rencana bunuh diri
menurun 2. Terapeutik
o Perilaku merencanakan bunuh diri a) Libatkan dala
menurun b) Libatkan kelu
c) Lakukan pend
membahas bunu
d) Berikan lingk
dipantau (mis. T
e) Tingkatkan p
staf, pergantian
f) Lakukan inter
pengekangan fis
g) Hindari disku
diskusi berorien
h) Diskusikan re
depan (mis. Ora
i) Pastikan obat

3. Edukasi
a) Anjurkan me
orang lain
b) Anjurkan me
spiritual, penyed
c) Jelaskan tinda
atau orang terde
d) Informasikan
tersedia
e) Latih pencega
relaksasi otot pr

4. Kolaborasi
a) Kolaborasi pe
sesuai indikasi
b) Kolaborasi ti
c) Rujuk ke pela

DAFTAR PUSTAKA

Depkes. (2011). Program Kesehatan Jiwa. www. [Link].


Keliat, Budi Anna. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas: CMHN(Basic
Course). Jakarta: EGC
Shives, R.L.(2005). Basic concepts of psychiatric-mental health nursing.
Philadelphia. Lippincott williams and Wilkins.
Stuart, W. Gail.(2016). Keperawatan Kesehatan [Link]: Elsevier
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus PPNI.
Townsend, C. M. (2014). Psychiatric Mental health Nursing. Philadephia: F. A.
Davis Company.
Videback, S. L. (2011). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai