Formulasi Krim Hidrokortison Asetat 1%
Formulasi Krim Hidrokortison Asetat 1%
No Nama NIM
1 Lutfiah Sarlita Anfhusina P17335119018
2 Michelia Kusumanita P17335119019
3 Muhamad Dafa Fadila Ramadhan P17335119020
4 Nida Putri Apriliyanti P17335119021
5 Nofa Novia Fatwariani P17335119022
6 Nurul Fauziah P17335119023
7 Piere Permata Putra P17335119024
8 Purnama Wulansari P17335119025
Kelompok/Kelas : 3 / 2A
Topik Pembuatan Sediaan : Krim Hidrokortison Asetat 1%
Dosen Pembimbing : apt. Hanifa Rahma, [Link].
Hari dan Tanggal Praktikum : Rabu, 25 November 2020
Halaman 01
Efek farmakologi :
Hidrokortison Asetat 1% termasuk ke dalam golongan obat kortikosteroid
yang digunakan untuk mengatasi masalah kelainan kulit seperti eksim, ruam, gatal-
gatal, inflamasi, alergi dan infeksi kulit seperti dermatitis, dermatitis atopic, pruritus.
Untuk aplikasi topikal dalam perawatan berbagai kulit gangguan hidrokortison dan
asetat, buteprate, butirat, dan ester valerat biasanya digunakan krim, salep, atau
losion. Konsentrasi yang digunakan biasanya berkisar dari 0,1 - 2. 5%. Meskipun
dianggap hidrokortison memiliki efek samping yang lebih sedikit pada kulit dan lebih
kecil kemungkinannya untuk menyebabkan penekanan adrenal daripada lebih banyak
lagi kortikosteroid topikal poten, harus diingat bahwa properti ini mungkin sangat
dimodifikasi baik oleh jenis formulasi yang digunakan dan menurut jenis esterifikasi
yang ada, faktor-faktor yang juga dapat mempengaruhi tingkat penyerapan termasuk
situs aplikasi, penggunaan balutan oklusif, tingkat kerusakan kulit, dan luas area yang
terkena persiapan diterapkan. Saat dioleskan secara topikal, terutama di area yang
luas, kapan kulit rusak, atau di bawah perban oklusif, kortikosteroid dapat diserap
dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan efek sistemik.
(Martindale Edisi 38, tahun 2014, hlm: 1640, Soft copy)
Dosis :
1. Perhitungan dosis
a) Anak-anak
- Sehari 1-2 kali, digunakan tidak lebih dari 1 minggu dan dioleskan tipis-
tipis, pada penggunaan krim hidrokortison asetat 1% ini harus dioleskan
tipis-tipis karena jika dioleskan terlalu banyak akan meyebabkan efek
samping yaitu membuat kulit menjadi tipis.
b) Dewasa
Sehari 1-2 kali dioleskan tipis-tipis
c) Dosis efektif
1
Dosis Efektif = 100 × 5 g
= 0,05 g / hari
= 50 mg / hari
(BNF Edisi 80, tahun 2020, hlm: 1313, Soft copy)
Halaman 02
IV. PREFORMULASI BAHAN AKTIF (Piere Permata Putra/
P17335119024)
(Sertakan pustaka untuk tiap pernyataan yang diambil dari literatur)
Bahan Aktif Hidrokortison Asetat/Hydrocortisone Acetate
(Farmakope Indonesia Edisi VI 2020, hlm: 708, Soft copy)
Struktur Kimia
Halaman 03
V. PERMASALAHAN DAN PENYELESAIAN (Piere Permata Putra/
P17335119024)
PERMASALAHAN PENYELESAIAN
Dalam literatur buku-buku kompendia hanya Dilakukan perhitungan menggunakan
tercantum dosis Hidrokortison. perbandingan antara Bobot Molekul
(BNF Edisi 80, tahun 2020, hlm : 1313 Soft copy) Hidrokortison dengan Bobot molekul
Hidrokortison Asetat adalah 444,9 : 404,5
(Farmakope Indonesia Edisi VI 2020, hlm: 708,
Soft copy)
Hidrokortison untuk sediaan topikal yang biasa Digunakan Hidrokortison Asetat karena
digunakan adalah Hidrokortison asetat, buteprate, termasuk golongan kortikosteroid tipe ringan
butyrate, dan valerat yang termasuk golongan obat (mild), sehingga dapat dibuat sediaan krim tipe
kortikosteroid a/m yang sifatnya oklusif.
(Martindale Ed 38, tahun 2014 hlm 1641, softcopy (Martindale Ed 38, tahun 2014 hlm 1599,
softcopy
Hidrokortison Asetat biasanya lebih banyak Sediaan yang dipilih adalah krim karena lebih
diberikan dalam bentuk krim, salep, dan lotion baik untuk penggunaan topikal karena lembab,
dengan konsentrasi pada rentang 0,1 – 2,5% lembut, dan mudah dicuci dibanding salep dan
(Martindale Ed 38, tahun 2014 hlm 1641, lotion.
softcopy) ([Link] medicines, Hydrocortisone Skin
Cream)
Zat aktif tidak larut dalam air maupun pelarut Dibuat krim dengan tipe a/m yang bersifat
organik oklusif
(Farmakope Indonesia Edisi VI 2020, hlm: 708, (HOPE 8th Ed, 2017, hlm 401, Soft copy)
Soft copy)
Log P zat aktif : 1,61 (masuk rentang 1-4) Pada formulasi ditambahkan Gliserin sebagai
BM : 404,50 < 500 dan peningkat penetrasi sediaan dengan kadar
Dosis efektif : 50 mg/hari > 10 mg/hari (≤ 30 %) yang dipakai 10%.
Log P dan BM dari zat aktif memenuhi syarat (HOPE 8th Ed, 2017, hlm 401, Soft copy)
untuk obat topikal tetapi dosis efektif tidak Gliserin meningkatkan penetrasi dengan cara
memenuhi syarat untuk digunakan karena akan memberikan kelarutan yang memadai pada
sulit berpenetrasi permukaan kulit ketika pelarut yang digunakan
(Acne and It’s Therapy, hlm 236, Soft copy) yang mudah menguap.
(Farmakope Indonesia Edisi VI 2020, hlm: 708,
Soft copy)
(BNF Edisi 80, tahun 2020, hlm : 1313 Soft copy)
Perlu dilakukan pengecilan ukuran partikel untuk Hidrokortison asetat digerus dan diayak terlebih
meningkatkan luas permukaan partikel. dahulu dengan ayakan nomor mesh 100.
Kemudian ditambahkan levigating agent yaitu
gliserin.
o
Zat aktif tahan panas hingga suhu 220 C sehingga Pada pembuatan sediaan dibuat dengan metode
tidak mudah terdegradasi namun tidak larut dalam triturasi sehingga penimbangan basis dilebihkan
fase air dan minyak 20% (bahan aktif dan levigating agent tidak ikut
(CODEX 12th Edition, hlm 904, Soft copy) dilebur dan ditambahkan setelah basis krim
terbentuk).
Hidrokortison Asetat tidak stabil baik dalam basis Sehingga pada pembuatan dibuat krim dengan
air dan basis tercucikan air karena akan fase a/m.
terhidrolisis
(Effect of Vehicles and Other Active Ingredients
of Stability of Hydrocortisone, 1978, Volume 67,
Soft copy)
Halaman 04
Hidrokortison Asetat memiliki rentang pH 3-6 dan Sediaan dibuat pada dengan ph target 5 yang
efektif pada pH 4,5 memenuhi pH kulit yakni 5-10
(CODEX 12th Edition, hlm 904, Soft copy) (Padmadisastra, dkk 2007)
Sediaan dibuat tipe a/m, fase minyak lebih banyak Sediaan dibuat dengan perbandingan fase air dan
dibanding fase air minyak 30:70. Vaselin Album digunakan 20%
dari kadar ≤30 %; Cetostearilalkohol 7% dari 2-
5%; serta Parrafin Liquidum 16% dengan kadar
yang diperbolehkan 1-32%
(HOPE 8th Ed, 2017, hlm :661 & 610, Soft copy)
(Ariyanti dkk, 2015. Softcopy)
Dalam formulasi terdapat Vaselin Album yang Maka ditambahkan antioksidan Natrium
mudah teroksidasi Metabisulfit dengan kadar 0,01-1,0% dan yang
(HOPE 8th Ed, 2017, hlm : Soft copy) digunakan yakni 0,5%
(HOPE 8th Ed, 2017, hlm : 873, Soft copy)
Proses oksidasi dapat menyebabkan terbentuknya Maka ditambahkan chelating agent yang dapat
senyawa kompleks yang membuat sediaan menjadi meningkatkan kualitas dari preparasi sampel.
tidak stabil Chelating agent yang digunakan adalah Na-
(Role of pH, Organic Additive, and Chelating EDTA dengan kadar 0,005-0,1% dan kadar yang
Agent in Gel Synthesis and Fluorescent digunakan adalah 0,05%
Properties of Porous Monolithic Alumina, (HOPE 8th Ed, 2017, hlm : 347, Soft copy)
hlm 5072, Soft copy)
Hidrokortison Asetat harus terlindung dari cahaya Sehingga sediaan dikemas dalam tube yang
(Martindale Ed 38, tahun 2014 hlm 1640, terlindung dari cahaya
softcopy)
Halaman 05
VI. PREFORMULASI EKSIPIEN (Nofa Novia Fatwariani,
P17335119022 dan Nurul Fauziah, P17335119023)
1. Glycerin
Bahan Glycerin
Sinonim Croderol, Emery 912, Glicerol, Glycerine, Glycerin codex, Glycerolum,
Glycon G-100.
(HOPE 8th edition, 2017, hlm: 401. Soft copy)
Struktur kimia
Halaman 06
Keterangan lain Dalam sediaan topikal dan kosmetik, gliserin pada umumnya digunakan
sebagai humektan dan emolien. Gliserin digunakan sebagai pelarut atau
pelarut campur dalam krim dan emulsi. Gliserin ditambahkan pada sediaan
gel aqueous dan nonaqueous, dan juga ditambahkan pada penggunaan patch.
Pada formulasi parenteral utamanya digunakan sebagai pelarut dan pelarut
campur.
(HOPE 8th edition, 2017, hlm: 401. Soft copy)
Kadar Emolien ≤ 30%
penggunaan (HOPE 8th edition, 2017, hlm: 401. Soft copy)
Penyimpanan Harus disimpan pada wadah kedap udara, di tempat sejuk dan kering.
(HOPE 8th edition, 2017, hlm: 403. Soft copy)
2. Natrium Metabisulfit
Bahan Sodium metabisulfite
Sinonim Disodium disulfite, Disodium pyrosulfite, Disulfurous acid, Sodium salt,
Natrii disulfis, Natrii metabisulfis, Sodium acid sulfite, Sodium disulfite,
Sodium pyrosulfite.
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 873. Soft copy)
Struktur kimia
Halaman 07
Stabilitas
Panas Pada pemanasan, larutan natrium metabisulfat dapat menjadi encer.
Udara Saat terpapar udara dan kelembapan, natrium metabisulfit secara perlahan
dioksidasi menjadi natrium sulfat dengan disintegrasi kristal.
Air Dalam air segera diubah menjadi ion natrium (Na+) dan bisulfit (HSO3-)
Cahaya Terlindung dari cahaya.
pH 3.5 -5.5
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 873. Soft copy)
Kegunaan Pengawet antimikroba, antioksidan
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 873. Soft copy)
Inkompatibilitas Sodium metabisulfite bereaksi dengan simpatomimetik dan obat lain yang
merupakan turunan orto- atau para-hidroksibenzil alkohol untuk membentuk
turunan asam sulfonat yang memiliki sedikit atau tanpa aktivitas
farmakologi. Sodium metabisulfite tidak sesuai dengan kloramfenikol karena
reaksi yang lebih kompleks, dan juga menonaktifkan cisplatin dalam larutan.
Tidak sesuai dengan fenilmerkurik asetat saat di autoklaf dalam sediaan tetes
mata. Sodium metabisulfite dapat bereaksi dengan tutup botol karet botol
multidose, yang karenanya harus diolah terlebih dahulu dengan larutan
natrium metabisulfite.
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 873. Soft copy)
Kadar Pengawet dan antioksidan 0,5%
penggunaan (HOPE edisi 8, 2017, hlm: 873. Soft copy)
Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, di tempat yang sejuk dan
kering.
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 873. Soft copy)
3. Cetostearyl alcohol
Bahan Cetostrearyl alcohol
Halaman 08
Stabilitas
Panas Pada pemanasan, meleleh menjadi cairan jernih, tidak berwarna, atau
berwarna kekuningan. Stabil pada kondisi penyimpanan normal.
Air Praktis tidak larut dalam air sehingga tidak stabil pada air.
Cahaya Terlindung dari cahaya
pH -
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 211. Soft copy)
Kegunaan Emolien, emulsiying agent, peningkat viskositas
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 211. Soft copy)
Inkompatibilitas Inkompatibilitas dengan zat pengoksidasi kuat dan garam logam.
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 211. Soft copy)
Kadar Emulsifying agent 5%
penggunaan (Ariyanti dkk, 2015)
Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik, ditempat sejuk dan kering
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 211. Soft copy)
4. Aquadest
Bahan Aquadest
Aqua; aqua purificata; hydrogen oxide
Sinonim
(HOPE, Edisi 8, hlm. 1012, Softcopy)
Struktur
Halaman 09
5. Natrium EDTA
Bahan Disodium Edetate
Sinonim Dinatrii edetas; disodium EDTA; disodium ethylenediaminetetraacetate;
edathamil disodium; edetate disodium; edetic acid, disodium salt.
(HOPE, Edisi 8, hlm 347, Softcopy)
Struktur
Halaman 10
6. Vaselin Album
Zat Vaselinum Album
Sinonim Petroleum jelly; white petroleum jelly; white soft paraffin.
(HOPE, Edisi 8, hlm 661, Softcopy)
Struktur
Halaman 11
7. Paraffin Liquidum
Bahan Paraffin Liquid (Mineral Oil)
Sinonim Avatech, Drakeol, Heavy liquid petrolatum, Heavy mineral oil, Liquid
petrolatum, Paraffin oil, Paraffinum liquidum, Sirius, White mineral oil.
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 610. Soft copy)
Struktur kimia Tidak ditemukan struktur kimia pada literatur
(HOPE edisi 8, HOPE edisi 6, Farmakope Indonesia edisi 6, Farmakope
Indonesia edisi 5, Pubchem, dan jurnal lainnya).
Rumus molekul Tidak ditemukan rumus molekul pada literatur
(HOPE edisi 8, HOPE edisi 6, Farmakope Indonesia edisi 6, Farmakope
Indonesia edisi 5, Pubchem, dan jurnal lainnya).
Berat molekul Tidak ditemukan berat molekul pada literatur
(HOPE edisi 8, HOPE edisi 6, Farmakope Indonesia edisi 6, Farmakope
Indonesia edisi 5, Pubchem, dan jurnal lainnya).
Titik lebur Tidak ditemukan titik lebur pada literatur
(HOPE edisi 8, HOPE edisi 6, Farmakope Indonesia edisi 6, Farmakope
Indonesia edisi 5, Pubchem, dan jurnal lainnya).
Pemerian Cairan bening, tidak berwarna, cairan berminyak kental, tanpa fluoresensi di
siang hari. Praktis tidak berasa dan tidak berbau ketika dingin, memiliki bau
lemah ketika panas.
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 611. Soft copy)
Kelarutan Praktis tidak larut dalam etanol (95%), dalam gliseri, dan dalam air. Larut dalam
aseton, dalam benzena, dalam kloroform, dalam karbon disulfida, dalam eter,
dan dalam petroleum eter. Larut dalam volatile oils dan fixed oils, dengan
pengecualian castor oil.
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 611. Soft copy)
Stabilitas
Panas dan Teroksidasi saat terkena panas dan cahaya. Hasil oksidasi terjadi pembentukan
cahaya aldehida dan asam organik yang memberi rasa dan bau.
Air Tidak ditemukan stabilitas air pada literatur (HOPE edisi 8, Farmakope
Indonesia edisi 6, dan jurnal lainnya). Prediksi: tidak stabil dalam air karena
bahan termasuk golongan minyak.
pH -
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 611. Soft copy)
Inkompatibilitas Inkompatibilitas dengan agen pembawa oksidasi kuat.
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 612. Soft copy)
Kegunaan Emolien, lubricant (pelumas), pembawa oleaginous, pelarut, dan bahan
penambah vaksin
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 611. Soft copy)
Kadar penggunaan 16% sebagai campuran fase minyak
(HOPE edisi 8, 2017, hlm: 611. Soft copy)
Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat dan terlindung dari cahaya
(Farmakope Indonesia edisi 6, 2020, hlm: 1182. Soft copy)
Halaman 12
VII. SPESIFIKASI SEDIAAN (Purnama Wulansari, P17335119020)
Bentuk Sediaan : Krim/Cream tipe A/M (air dalam minyak)
Warna : Putih
pH sediaan : 3 – 6 (pH target = 5)
Kadar Sediaan : 1%
Volume Sediaan : 5 gram
Viskositas Sediaan : 400 – 500 cPs
Halaman 13
IX. PENIMBANGAN DAN PERHITUNGAN (Lutfiah Sarlita
Anfhusina, P17335119018 dan Michelia Kusumanita, P17335119019)
Penimbangan Skala Besar (50 gram)
Nama Zat Jumlah (%) Perhitungan Penimbangan
1% 1
Hydrocortisone Acetate × 50 𝑔 = 0,5000 𝑔
100
Gliserin (Levigating 10 % 10
Agent) × 50 𝑔 = 5,0000 𝑔
100
0,5 % 0,5
Na Metabisulfit × 53,4000 𝑔 = 0,2670 𝑔
100
0,05 % 0,05
Na. EDTA × 53,4000 𝑔 = 0,0267 𝑔
100
5% 5
Cetostearyl Alcohol × 53,4000 𝑔 = 2,6700 𝑔
100
10 % 10
Gliserin (Emollient) × 53,4000 g = 5,3400 𝑔
100
16 % 16
Parafin Liquidum × 53,4000 𝑔 = 8,5440 𝑔
100
3% 3%
Aquadest × 53,4000 𝑔
100
= 1,602 𝑚𝐿 ~ 2 𝑚𝐿
Ad 100% 53,4000 – (0,2670 + 0,0267 + 2,6700 +
Vaselin Album
5,3400 + 8,5440 + 2 + 0,3) = 34,2523 g
Halaman 14
b. Fase minyak
5
1. Cetosteryl Alkohol = 100 × 53,4000 𝑔 = 2,6700 𝑔
16
2. Parafin Liquidum = 100 × 53,4000 𝑔 = 8,5440 𝑔
Halaman 15
X. PERHITUNGAN FTU (Fingerttip Unit) (Muhamad Dafa Fadila,
P17335119020 dan Nofa Novia Fatwariani, P17335119022)
Dosis Hidrokortison asetat : Sehari 1 - 2 kali
1 FTU (Dewasa laki laki) = 0,5 g
1 FTU (Dewasa perempuan) = 0,4 g
1 FTU (anak-anak) = 1/3 atau 1/4 dari 1 FTU dewasa laki laki.
(Johan, 2015).
• 1/3 × 0,5 = 0,1667
• 1/4 × 0,5 = 0,1250
Pedoman FTU untuk Dewasa
Area anatomi FTU yang dibutuhkan
Wajah dan leher 2,5
Tubuh bagian depan 7
Tubuh bagian belakang 7
Lengan 3
Tangan 1
Kaki bagian atas 6
Kaki bagian bawah 2
(Sumber: Topical Preparations Conselling Guide for Pharmacist, 2018)
Halaman 16
Pedoman FTU untuk Anak – anak
Age of Face and Entire arm Entire leg Front of chest Back and
patient neck and hand and foot and abdomen buttocks
3 – 12 bulan 1 1 1,5 1 1,5
1 – 3 tahun 1,5 1,5 2 2 3
3 – 6 tahun 1,5 2 3 3 3,5
6 – 10 tahun 2 2,5 4,5 3,5 5
(Sumber: Long CC, Mills CM, Finlay AY, 1998 dalam Australian Medicines
Handbook Pty Ltd, 2017).
1 – 3 Tahun
Area 1 – 3 Tahun
Wajah dan leher 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Lengan dan tangan 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tungkai dan kaki 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tubuh bagian depan 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tubuh bagian belakang 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Halaman 17
3 – 6 Tahun
Area 3 – 6 Tahun
Wajah dan leher 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Lengan dan tangan 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tungkai dan kaki 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tubuh bagian depan 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tubuh bagian belakang 1 kali sehari :
2 kali sehari :
6 – 10 Tahun
Area 6 – 10 Tahun
Wajah dan leher 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Lengan dan tangan 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tungkai dan kaki 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tubuh bagian depan 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tubuh bagian belakang 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Halaman 18
1 – 3 Tahun
Area 1 – 3 Tahun
Wajah dan leher 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Lengan dan tangan 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tungkai dan kaki 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tubuh bagian depan 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tubuh bagian belakang 1 kali sehari :
2 kali sehari :
3 – 6 Tahun
Area 3 – 6 Tahun
Wajah dan leher 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Lengan dan tangan 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tungkai dan kaki 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tubuh bagian depan 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tubuh bagian belakang 1 kali sehari :
2 kali sehari :
6 – 10 Tahun
Area 6 – 10 Tahun
Wajah dan leher 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Lengan dan tangan 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tungkai dan kaki 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tubuh bagian depan 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Tubuh bagian belakang 1 kali sehari :
2 kali sehari :
Halaman 19
XI. PROSEDUR PEMBUATAN (Lutfiah Sarlita Anfhusina,
P17335119018 dan Michelia Kusumanita, P17335119019)
A. ALAT DAN BAHAN DISIAPKAN
D. PENIMBANGAN BAHAN
1. Ditimbang Hydrocortison Acetat sebanyak 0,5000 gram di atas kertas
perkamen menggunakan cara langsung dengan timbangan analitik
2. Ditimbang Gliserin sebanyak 5,0000 gram dan 5,3400 gram di dalam cawan
dengan timbangan analitik.
3. Ditimbang Natrium Metabisulfit sebanyak 0,2670 gram di atas kertas
perkamen menggunakan cara langsung dengan timbangan analitik
4. Ditimbang Vaselin Album sebanyak 34,2523 gram di dalam cawan dengan
timbangan analitik
5. Ditimbang Cetostearil Alkohol sebanyak 2,6700 gram di atas kertas perkamen
menggunakan cara langsung dengan timbangan analitik
6. Ditimbang Natrium EDTA sebanyak 0,0267 gram diatas kertas perkamen
menggunakan cara langsung dengan timbangan analitik
7. Ditimbang Paraffin Liquidum sebanyak 5,5440 gram di dalam cawan dengan
timbangan analitik.
Halaman 20
E. PELEBURAN FASE MINYAK
1. Cetostearyl Alkohol seberat 2,6700 gram dimasukkan kedalam cawan uap 1.
2. Ditambahkan Paraffin Liquidum sebarat 8,5440 gram kedalam cawan uap 1.
3. Ditambahkan Vaselin Album seberat 34,2523 gram kedalam cawan uap 1.
4. Campuran Cetostearyl Alkohol, Paraffin Liquidum, dan Vaselin Album
dilebur diatas penangas air hingga suhu 70˚C sebagai fase minyak.
Halaman 21
8. Basis krim yang sudah ditimbang dimasukkan ke dalam mortir 2 yang sudah
berisi bahan aktif dan Gliserin, kemudian digerus hingga homogen selama ± 5
menit.
9. Krim ditimbang seberat 5 gram dengan kertas perkamen menggunakan
timbangan analitik. Kemudian dimasukkan ke dalam tube menggunakan
spuite.
10. Dilakukan hal yang sama pada tube lainnya.
11. Etiket ditempelkan pada tube yang berisi krim, diberi brosur, dan dimasukkan
ke dalam kemasan.
12. Dilakukan evaluasi sediaan.
Halaman 22
3. Penetapan Dilakukan menggunakan Viskositas sediaan
Viskositas viskometer Brookfield dan krim 400 – 500 cPs.
[Dewi, Rosmala, menggunakan spindel no. 6.
dkk., 2014] Krim dimasukkan ke dalam
wadah gelas kemudian spindel
yang telah dipasang diturunkan
sehingga batas spindel tercelup
ke dalam krim. Kecepatan alat
dipasang pada 2 rpm, 4 rpm,
1 tube
10 rpm, 20 rpm; lalu dibalik 10
rpm, 4 rpm, 2 rpm; secara
berturut-turut, kemudian
dibaca skalanya ketika jarum
merah yang bergerak telah
stabil. Sifat aliran dapat
diperoleh dengan membuat
kurva antara tekanan geser
terhadap kecepatan geser.
Halaman 23
7. Uji Stabilitas Menggunakan metode Cycling Tidak terjadi
Krim test. Sampel krim disimpan pemisahan fase krim.
[Rieger M, 2002] pada suhu 4℃ selama 24 jam,
Uji Kimia lalu dipindahkan ke dalam
oven bersuhu 40℃ ±2℃ 1 tube
selama 48 jam (satu siklus).
Uji dilakukan sebanyak 6
siklus, kemudian diamati
perubahan fisik yang terjadi.
8. Uji daya sebar Krim ditimbang 1 gram, lalu Diameter daya sebar
[Rahmawati, et diletakan di atas plat kaca, yang nyaman untuk
al., 2010] dibiarkan 1 menit, diukur sediaan semisolid yaitu
diameter sebar krim, kemudian 5 – 7 cm.
1 tube
ditambah dengan beban 50 g, (Garg, 2002)
beban didiamkan selama 1
menit, lalu diukur diameter
sebarnya.
Halaman 24
XIII. DAFTAR PUSTAKA (Michelia Kusumanita, P17335119019)
British National Formulary. 2020. British National Formulary. Edisi 80. London: BMJ
Group.
Dewi, Rosmala, dkk. 2014. Uji Stabilitas Fisik Formula Krim yang Mengandung Ekstrak
Kacang Kedelai ( Glycine max). Pharm Sci. Depok: Fakultas Farmasi Universitas
Indonesia. 16424. 1(3); 198.
Garg, A., Aggarwal, D., Garg, S., & Singla, A.K. 2002. “Spreading of Semisolid
Formulations An Update” ([Link] pada 29 Maret
2019], dalam FMIPA UNSTRAT. 95115. 8(2): 265.
Gupta, V Das. 1978. “Effect of Vehicles and Other Active Ingredients on Stability of
Hydrocortisone”. Dalam Journal of Pharmaceutical Sciences Volume 67 Nomor 3.
Maret 1978.
International Programme on Chemical Safety (IPCS), “Inchem, Internatonally Peer Reviewed
Chemical Safety Information,
[Link] (Rabu, 25 November
2020]
Johan, Reyshiani. 2015. “Penggunaan Kortikosteroid Topikal yang Tepat”. Continuing
Profesional Development. Vol. 42 (4): 308 – 312
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2020. Farmakope Indonesia. Edisi 6. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Long CC, Mills CM, Finlay AY. 1998. “A Practical Guide to Topikal Therapy in Children Br
J Dermatol”. 138 (2): 293. Dalam Australian Medicines Handbook Pty Ltd. 2017.
Lund, Walter. 1994. The Pharmaceutical Codex. 12th Edition. London: The Pharmaceutical
Press.
National Center for Biotechnology Information (2020). “PubChem Compound Summary for
CID 62238, Cetostearyl alcohol”. Pubchem
[Link]
Accessed 25 November, 2020.
National Center for Biotechnology Information (2020). “PubChem Compound Summary for
CID 5744, Hydrocortisone acetate”. Pubchem
[Link]
Accessed 25 November, 2020.
Halaman 25
National Center for Biotechnology Information (2020). “PubChem Compound Summary for
CID 656671, Sodium metabisulfite”. Pubchem.
[Link]
Accessed 25 November, 2020.
NHS. 2017. “Hydrocortisone Skin Creams”. [Online] Diambil dari
[Link] /hydrocortisone-skin-cream.
Diakses pada 25 November 2019.
Padmadisastra, Dkk 2007, “Formulasi Sediaan Salep Antikeloidal yang Mengandung Ekstrak
Terfasilitasi Panas Microwave dari Herba Pegagan (Centella asiatica (L.)Urban)”,
dalam Seminar Kebudayaan Indonesia Malaysia Kuala lumpur 2007. Bandung:
Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.
Rahmawatti, D., Sukmawati, A., Indrayudha P. 2010. “Formulasi Krim Minyak
Atsiri Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana Val & Zijp), Uji Sifat
Fisik dan Daya Antijamur terhadap Candida albicans secara invitro”. Obat
Tradisional. 15:56-63, dalam FMIPA UNSTRAT. 95115. 8(2): 263.
Rieger, M. (2000). Harry’s Cosmeticology (8th Edition). New York: Chemical
Publishing Co Inc.
Sani, Roshayati Mohamad. 2018. Topical Preparations Counselling Guide for Pharmacist.
Edisi I. Malaysia: Pharmaceutical Services Programme Ministry of Health
Sheskey, Paul. J. dkk.. 2017. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 8th Edition. London:
Pharmaceutical Press.
Sinko, Patrick j. 2011. Martin Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika. Edisi [Link]: EGC.
Spectrum Chemical, 2020, “Material Safety Data Sheet Hydrocortisone Acetate”,
[Link] 26 November 2020.
Sulur,dkk.2012.”Medicinal Cream made using hydrocortisone acetate and a process to make
the same”. Dalam United states Patent application publication.
Sweetman, Sean C. 2014. Martindale The Complete Drug Reference. 38th Edition. London:
Pharmaceutical Press.
Wang, Shi-Fa dkk.. 2013. “Role of pH, Organic Additive, and Chelating Agent in Gel
Synthesis and Fluorescent Properties of Porous Monolithic Alumina”. Dalam Jurnal
The Journal Physical Chemistry. Januari 2013.
Webster, Guy F dan Anthony V. Rawlings. 2007. Acne and It’s Therapy. New York: Informa
Healthcare.
Halaman 26
XIV. ETIKET, BROSUR DAN KEMASAN SEKUNDER (Nida
Putri Apriliyanti, P17335119021 dan Nurul Fauziah,
P17335119023)
Brosur dan Etiket (Nurul Fauziah, P17335119023)
Halaman 27
JURNAL PRAKTIKUM
TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA-SEMISOLIDA 2020/2021
No Nama NIM
1 Muhammad Shidiq Rukman P17335119055
2 Nadya Hasanah P17335119056
3 Nizella Syahla P17335119057
4 Nur Puji Rahma P17335119058
5 Oktavia Dwi Nugraheni P17335119059
6 Rasita Shalma P17335119060
7 Reihan Zalza Aulia P17335119061
8 Reyhan Muhammad Wahid P17335119062
9 Rima Mu’arifah P17335119063
Kelompok/Kelas 3/2B
Topik Pembuatan Sediaan Krim Hidrokortison Asetat 1%
Dosen Pembimbing apt. Hanifa Rahma, [Link]
Hari dan Tanggal Praktikum Rabu, 25 November 2020
1
lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi
mikrokristal asamasam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat
dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk penggunaan kosmetika dan estetika. Krim
dapat digunakan untuk pemberian obat melalui vaginal (Depkes, 2020).
- Efek farmakologi
Hydrocortisone Asetat 1% yang memiliki manfaat untuk pengobatan eksim,
inflamasi, dan alergi pada kulit untuk aplikasi topikal dalam pengobatan berbagai
gangguan kulit, hidrokortison dan asetat, buteprate, butyrate, dan ester valerat biasanya
digunakan dalam krim, salep, atau lotion. Konsentrasi yang biasanya digunakan
berkisar antara 0,1 hingga 2,5%. Meskipun dianggap bahwa hidrokortison memiliki
efek samping yang lebih sedikit pada kulit dan lebih kecil kemungkinannya
menyebabkan supresi adrenal daripada kortikosteroid topikal yang lebih kuat, harus
diingat bahwa sifat ini dapat banyak dimodifikasi baik oleh jenis formulasi atau
kendaraan yang digunakan maupun oleh jenis esterifikasi yang ada; faktor lain itu juga
dapat mempengaruhi tingkat penyerapan termasuk situs aplikasi, penggunaan pembalut
oklusif, tingkat kerusakan kulit, dan ukuran area yang digunakan persiapan diterapkan
(Brayfield, 2014).
Saat dioleskan secara topikal, terutama di area yang luas, ketika kulit rusak, atau
di bawah perban oklusif,kortikosteroid dapat diserap dalam jumlah yang cukup
menyebabkan efek sistemik (Brayfield, 2014).
Krim hidrocortisone 1% dapat digunakan untuk mengatasi lesi radang misalnya pada
keilitis angular, mengobati ruam popok, gigitan serangga, flexsural dan eksim atopik
(BPOM PIONAS, 2014).
- Dosis:
1) Perhitungan Dosis
a. Anak – anak
Sehari digunakan 1 – 2 kali, digunakan tidak lebih dari 1 minggu dan
dioleskan tipis – tipis
(British National Formulary 80th Ed, hlm 1313, softcopy)
b. Dewasa
Sehari digunakan 1 – 2 kali, dioleskan tipis – tipis
(British National Formulary 80th Ed, hlm 1313, softcopy)
2
c. Dosis
1
- Dosis efektif = 100 𝑥 5 𝑔 = 0,05 𝑔
= 50 mg
= 50 mg/hari
3
Tubuh bagian depan 7 FTU x 0,5 g x 2 = 7,0000 g 7 FTU x 0,4 g x 2 = 5,6000 g
Tubuh bagian belakang 7 FTU x 0,5 g x 2 = 7,0000 g 7 FTU x 0,4 g x 2 = 5,6000 g
4
FTU pemakaian 2 kali sehari
Area Anatomi 3-12 Bulan
Wajah dan leher 1 FTU x 0,1667 x 2 = 0,3334 gram
Lengan dan tangan 1 FTU x 0,1667 x 2 = 0,3334 gram
Seluruh tungkai dan kaki 1,5 FTU x 0,1667 x 2 = 0,5001 gram
Bagian depan dada dan perut 1 FTU x 0,1667 x 2 = 0,3334 gram
Tubuh bagian belakang dan pantat 1,5 FTU x 0,1667 x 2 = 0,5001 gram
5
Lengan dan tangan 2 FTU x 0,1250 x 1 = 0,2500 gram
Seluruh tungkai dan kaki 3 FTU x 0,1250 x 1 = 0,7500 gram
Bagian depan dada dan perut 3 FTU x 0,1250 x 1 = 0,3750 gram
Tubuh bagian belakang dan pantat 3,5 FTU x 0,1250 x 1 = 0,4375 gram
6
V. PREFORMULASI BAHAN AKTIF (Nizella Syahla, P17335119057)
Pemerian Serbuk hablur; putih hingga praktis putih; tidak berbau. Melebur pada suhu lebih
kurang 200° disertai penguraian (Farmakope Indonesia IV, halaman 708, softfile).
Kelarutan Tidak larut dalam air; sukar larut dalam etanol dan dalam kloroform (Farmakope
Indonesia IV, halaman 708, softfile).
Sukar larut dalam metanol, dalam etanol dan dalam kloroform, sangat sukar larut
dalam dietil eter, dan praktis tidak larut dalam air (Japanese Pharmacopeia Ed.15,
halaman 729, softfile).
Stabilitas Panas :
Terurai pada 200°C (Farmakope Indonesia IV, halaman 708, softfile)
Teruirai pada 220°C (British Pharmacopoeia, Vol.5, softfile)
Air : Hidrokortison sangat tidak stabil dalam air dan dasar salep yang dapat
dicuci dengan air (Effect of vehicles and other active ingredients on stability
of hydrocortisone, halaman 299, softfile).
Tidak stabil dalam air dan dalam basis salep polietilen glikol (2016 The 10th
Faculty and Student Research Achievement Conference Catalogue of the
School of Pharmacology Department of Pharmacy Day Division Master
Class, halaman 3, softfile).
Cahaya : sensitif pada cahaya (Pubchem)
Harus dihindari dari kelembaban dan sinar matahari (Medisca Safety Data
Sheet, halaman 5, softfile)
pH : 3 – 6 stabil pada pH 4,5 (United States Patent Application Publication,
halaman 8, softfile).
Ketika mengalami kondisi degradasi yang drastis (pH sangat asam atau sangat
basa), Hidrokortison terbukti tidak stabil hanya di sisi basa (Effect of vehicles
and other active ingredients on stability of hydrocortisone, halaman 299,
softfile).
Log P : Nilai log P adalah 1,61 (The Pharmaceutical CODEX Ed 12, halaman
204).
7
Inkompatibilitas Inkompatibilitas dengan basis, asam kuat dan agen pengoksidasi kuat (Medisca
Safety Data Sheet, halaman 4, softfile).
Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik (Farmakope Indonesia IV, halaman 708, softfile).
Lindungi dari cahaya (British Pharmacopoeia, Vol.5, softfile).
Harus dihindari dari kelembaban dan sinar matahari (Medisca Safety Data Sheet,
halaman 5, softfile)
Dosis penggunaan - Anak – anak
berdasarkan Sehari digunakan 1 – 2 kali, digunakan tidak lebih dari 1 minggu dan dioleskan
indikasi tipis – tipis
farmakologi (British National Formulary 80th Ed, hlm 1313, softcopy)
- Dewasa
Sehari digunakan 1 – 2 kali, dioleskan tipis – tipis
(British National Formulary 80th Ed, hlm 1313, softcopy)
Dosis : = 50 mg
= 50 mg/hari
PERMASALAHAN PENYELESAIAN
Hidrokortison 1 % tidak efektif Ada berbagai jenis produk kulit hidrokortison. Pada
digunakan untuk kortikosteroid topikal, pembuatan hidrokortison dibuat dalam bentuk krim karena
sedangkan Hidrokortison asetat, butirat, lebih lembab dan lembut untuk kulit dibandingkan dengan
valerat lebih banyak digunakan untuk salep hidrokortison yang lebih tebal dan kasar (lebih baik
topikal pada sediaan bentuk krim, salep digunakan untuk area kulit yang kering dan terkelupas) serta
dan lotion. krim berbentuk padat dan atau semisolid memudahkan
(Martindale 38th Ed, hlm 1641, Soft penggunaannya dibandingkan dengan lotion hidrokortison
copy). yang bentuknya cair.
([Link] Medicine, Hydrocortisone skin creams, Softcopy)
Untuk penggunaan topikal pada kulit Bahan aktif yang digunakan adalah hidrokortison asetat
digunakan hidrokortison asetat, karena berkhasiat sebagai obat antiinflamasi pada banyak
buteprate, butirat dan ester valerat pada kondisi seperti inflamasi anorektal (misalnya wasir yang
sediaan krim, salep dan lotion. meradang), ruam alergi, eksim dan inflamasi kulit lainnya.
(Martindale 38th Ed, hlm 1641, Soft Hidrokortison asetat dipilih karena merupakan sediaan yang
copy). mengandung kortikosteroid paling ringan (mild).
(DCS Pharma, Hydrocortisone Acetate, Softcopy)
(Martindale 36th Ed, hlm 1497, Softcopy).
Hidrokortison sangat tidak stabil dalam Sediaan krim dibuat dalam fase a/m dengan basis krim
air dan basis salep yang dapat dicuci Gliserin, Propilen Glikol, Disodium Edetat sebagai fase air
dengan air dan Cetosteryl alkohol, Cera Alba, Butylated
(Journal of Pharmaceutical Sciences Vol. Hydroxytoluene, Paraffin Liquidum, Vaeseline album
67, Effect of Vehicles and Other Active sebagai fase minyak.
Ingredients On Stability of
Hydrocortisone, hlm 301, Soft copy)
Bahan aktif sensitif terhadap cahaya dan Pada penyimpanan disimpan dalam botol kaca coklat agar
harus dihindari dari sinar matahari. terlindung dari cahaya dan terhindar dari sinar matahari.
(Pubchem, Hidrokortison asetat) (British Pharmacopoeia, Vol.5, softfile).
(Medisca Safety Data Sheet, hlm 5, (Medisca Safety Data Sheet, halaman 5, softcopy)
Softcopy)
8
Hydrocortisone Asetat lebih efektif pada Sediaan dibuat pada rentang pH 3 – 6 dengan pH target yaitu
pH 4,5 dan sedikit terdegradasi pada pH pH 4,5.
9,1 (United States Patent Application Publication, halaman 8,
(CODEX, hlm 904, Softcopy) softfile).
Sediaan krim dibuat dalam dua fase yaitu Ditambahkan Cetosteryl alkohol sebagai emulsifying agent
fase minyak dalam air sehingga perlu dalam fase minyak dengan rentang kadar 4 – 10% dan
dipertahankan kestabilan fisik sistem kadar penggunaan 10%.
terdispersi agar kedua fase tidak saling (HOPE 8th edition, hlm: 211. Softcopy)
bercampur.
Hidrokortison asetat tidak larut dalam air Ditambahkan levigating agent yakni Gliserin dengan kadar
maupun pelarut organik 5% untuk memperkecil ukuran partikel
(FI Ed. VI, hlm 708, Soft copy) (HOPE 6th Ed, hlm 283, Soft copy)
Log P zat aktif : 1,61 Perlu dilakukan penambahan Gliserin sebagai emolien dan
BM : 404,50 < 500 pengikat penetrasi sediaan dengan rentang kadar ≤ 30% dan
Dosis efektif: 50 mg/hari > 10 mg/hari kadar yang digunakan yaitu 20%.
Log P dan BM dari zat aktif memenuhi (HOPE 8th edition, hlm: 659. Softcopy)
syarat untuk obat topikal tetapi dosis
efektif tidak memenuhi syarat untuk
digunakan karena akan sulit berpenetrasi
(CODEX Ed 12, halaman 204, Softcopy)
(FI [Link], hlm 708, Softcopy)
Sediaan krim dibuat tipe a/m, sehingga Sediaan dibuat dengan fase air dan minyak. Gliserin
fase minyak dibuat lebih banyak digunakan 5% dan 20% dari kadar ≤30 %; Cetosteryl
dibandingkan fase air. alkohol 10% dari 4 – 10%; Cera alba 10% dari 5 – 20 %;
Butylated Hydroxytoluene 0,05% dari 0,005 - 0,1% sebagai
fase minyak.
(HOPE 8th edition, hlm: 126, 211, 401, 1025, Softcopy)
Sediaan krim yang digunakan sebagai Sehingga pada pembuatan sediaan ditambahkan Disodium
obat membutuhkan Chelating agent edetat dengan rentang kadar 0,005 – 0,1% dengan kadar
seperti Disodium EDTA atau yang penggunaan 0,05%.
lainnya dengan rentang kadar 0,05%
menjadi 1% karena proses oksidasi dapat (HOPE 8th edition, hlm: 603. Softcopy)
menyebabkan terbentuknya senyawa
kompleks sehingga sediaan menjadi
tidak stabil.
(Medicinal Cream Made Using
Hydrocortisone Acetate and A Process
To Make The Same, Soft copy)
(Role of pH, Organic Additive, and
Chelating Agent in Gel Synthesis and
Fluorescent Properties of Porous
9
Monolithic Alumina, hlm 5072, Soft
copy)
Sediaan krim mempunyai konsistensi Pada formula sediaan ditambahkan Cera alba sebagai
relatif cair diformulasi dalam emulsi stiffening agent dengan rentang kadar 5 – 20% dengan kadar
minyak dalam air sehingga perlu penggunaan 10%.
ditingkatkan ketebalan dan untuk
mencegah koalesensi dalam krim. (HOPE 8th edition, hlm: 1025. Softcopy)
(FI [Link], hlm 55, Soft copy)
Air merupakan fase luar yang tidak boleh Sediaan ditambahkan gliserin dengan rentang kadar ≤30 %
menguap semua jika menguap semua sebagai humektan untuk mencegah air menguap (water
maka bahan aktif akan mengalami lock).
rekristalisasi sehingga tidak dapat Kadar gliserin yang digunakan adalah 20%.
menembus barrier kulit. (HOPE 8th edition, hlm: 401. Softcopy)
Hidrokortison asetat tahan panas hingga Sehingga pembuatan sediaan menggunakan metode triturasi.
suhu 200oC disertai penguraian sehingga
tidak mudah terdegradasi namun tidak
larut dalam fase air dan minyak
(FI [Link], hlm 708, Soft copy)
Sediaan dibuat dengan menggunakan Basis sediaan dilebihkan 10%.
metode triturasi sehingga zat aktif
ditambahkan setelah basis terbentuk dan
dingin.
Sinonim Croderol; E422; Emery 912; glicerol; glycerine; Glycerine Codex; glycerolum;
Glycon G-100; IFP; Kemstrene; optim; Pricerine; 1,2,3- propanetriol; speziol G;
trihydroxypropane; glycerol.
Struktur
Pemerian Cairan bening, tidak berwarna, tidak berbau, kental, higroskopis; memiliki rasa
yang manis, kurang lebih 0,6 kali lebih manis dari sukrosa.
10
(HOPE 8th edition, hlm 401, softcopy)
Kelarutan Sedikit larut dalam aseton, praktis tidak larut dalam benzene, kloroform, dan
minyak. Larut dalam etanol (95%), metanol dan air.
Stabilitas Gliserin bersifat higroskopis. Gliserin murni tidak rentan terhadap oksidasi oleh
atmosfer dalam kondisi penyimpanan biasa, tetapi terurai pada pemanasan
dengan evolusi akrolein beracun. Campuran dari gliserin dengan air, etanol
(95%), dan propilen glikol stabil secara [Link] dapat mengkristal jika
disimpan pada suhu rendah.
Inkompatibilitas Gliserin dapat meledak jika dicampur dengan zat pengoksidasi kuat seperti
kromium trioksida, kalium klorat, atau kalium permanganate. Dalam larutan
encer, reaksi berlangsung lebih lambat dengan beberapa produk oksidasi sedang
dibentuk. Perubahan warna hitam pada gliserin terjadi dengan adanya cahaya,
atau kontak dengan seng oksida atau bismut nitrat dasar. Kontaminan zat besi
dalam gliserin bertanggung jawab atas penggelapan dalam warna campuran
yang mengandung fenol, salisilat, dan tanin. Gliserin membentuk kompleks
asam borat, asam gliseroborat yaitu asam yang lebih kuat dari asam borat.
Kadar Gliserin digunakan sebagai Levigating agent dengan rentang kadar ≤ 30%.
penggunaan Dalam sediaan digunakan sebanyak 5%.
Gliserin digunakan sebagai Humectant, basis salep dengan rentang kadar ≤ 30%.
Dalam sediaan digunakan sebanyak 20%.
Penyimpanan Gliserin harus disimpan dalam wadah kedap udara, di tempat yang sejuk dan
kering.
2. Butylated Hydroxytoluene
11
Struktur
Pemerian Butylated hydroxytoluene berwarna putih atau kuning pucat kristal padat atau
bubuk dengan bau fenolik karakteristik samar.
Kelarutan Praktis tidak larut dalam air, gliserin, propilenglikol, larutan alkali hidroksida,
dan encerkan air asam mineral. Larut bebas dalam aseton, benzena, etanol
(95%), eter, metanol, toluena, minyak tetap, dan minyak mineral. Lebih larut
dari hidroksianisol butylated dalam minyak makanan dan lemak.
Stabilitas Paparan cahaya, kelembaban, dan panas menyebabkan perubahan warna dan
kehilangan aktivitas.
Kegunaan Antioksidan
Penyimpanan Disimpan dalam wadah tertutup, terlindung dari cahaya, di tempat yang sejuk
dan kering.
12
(HOPE 8th edition, hlm 127, softcopy)
3. Vaselin Album
Bahan Vaselinum Album
Struktur
Pemerian Putih pucat berwarna kekuningan, transparan, massa lembut, tidak berbau dan
tidak berasa, tidak lebih dari sinar di siang hari, bahkan ketika meleleh..
Kelarutan Tidak larut dalam air; sukar larut dalam etanol dingin atau panas dan dalam
etanol mutlak dingin; mudah larut dalam benzen, dalam karbon disulfida,
dalam kloroform; larut dalam heksana, dan dalam sebagian besar minyak
lemak dan minyak atsiri.
Stabilitas Kondisi Stabilitas dan Penyimpanan Petrolatum adalah bahan yang secara
inheren stabil karena sifat komponen hidrokarbonnya yang tidak reaktif;
kebanyakan masalah stabilitas terjadi karena adanya sejumlah kecil pengotor.
Jika terkena cahaya, kotoran ini dapat teroksidasi untuk mengubah warna
petrolatum dan menghasilkan bau yang tidak diinginkan. Tingkat oksidasi
bervariasi tergantung pada sumber petrolatum dan tingkat kehalusannya.
Oksidasi dapat dihambat dengan dimasukkannya antioksidan yang sesuai
seperti butylated hydroxyani- sole, butylated hydroxytoluene, atau alpha
13
tocopherol. Petrolatum tidak boleh dipanaskan untuk waktu yang lama di atas
suhu yang diperlukan untuk mencapai fluiditas sempurna (sekitar 70oC).
Inkompatibilitas Vaselin album adalah bahan yang inert dengan sedikit inkompatibilitas
(HOPE 8th edition, hlm 660, softcopy
Kadar Digunakan sebagai Emolient Topical creams, basis krim dengan rentang kadar
penggunaan : 10 – 30%.
Penyimpanan Simpan pada wadah tertutup baik, terlindung cahaya, tempat sejuk
dan kering
(HOPE 8th edition, hlm 659, softcopy)
4. Cera Alba
Bahan Cera Alba
Struktur -
Rumus molekul -
Pemerian Lilin putih terdiri dari lembaran berwarna hambar, putih atau agak kuning atau
butiran halus dengan sebagian tembus cahaya. Baunya mirip dengan lilin
kuning tetapi kurang kuat.
Kelarutan Larut dalam kloroform, eter, minyak tetap, minyak atsiri, dan karbon disulfida
hangat; sedikit larut dalam etanol (95%); praktis tidak larut dalam air.
Stabilitas Ketika lilin dipanaskan di atas 150 C, esterifikasi terjadi dengan konsekuensi
penurunan nilai asam dan peningkatan titik leleh
14
Kegunaan Digunakan sebagai stiffening agent (fase minyak)
Kadar Digunakan dengan rentang kadar 5-20%. Dalam sediaan digunakan sebanyak
penggunaan 10%.
Penyimpanan Lilin putih stabil bila disimpan dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari
cahaya.
5. Cetostearyl alcohol
Bahan Cetostearyl alcohol
Struktur
Pemerian Massa tidak beraturan berwarna putih atau krem, serpihan, atau granul.
Memiliki karakteristik bau manis lemah. Pada pemanasan, cetostearyl alcohol
meleleh menjadi cairan jernih, tidak berwarna atau cairan berwarna kekuningan.
Kelarutan Larut dalam etanol (95%), dalam eter, dan dalam minyak. Praktis tidak larut
dalam air.
Stabilitas Pada pemanasan, meleleh menjadi cairan jernih, tidak berwarna, atau berwarna
kekuningan. Stabil pada kondisi penyimpanan normal.
15
(HOPE 8th edition, hlm 211, Softcopy)
Kadar Digunakan dengan rentang kadar 4-10%. Dalam sediaan digunakan sebanyak
penggunaan 10%.
6. Edetate Disodium
Bahan Edetate Disodium
Struktur
Pemerian Edetate disodium adalah serbuk putih, kristal, tidak berbau dengan rasa sedikit
asam.
16
Kelarutan Praktis tidak larut dalam kloroform dan eter; sedikit larut dalam etanol (95%);
larut 1 bagian dalam 11 bagian air.
Stabilitas Garam edetat lebih stabil dari pada asam edetat, namun disodium dihidrat edetat
kehilangan air kristalisasi ketika dipanaskan hingga 120ºC. Larutan disodium
edetat dalam air dapat disterilkan dengan autoklaf, dan harus disimpan dalam
wadah bebas alkali. Edetate disodium bersifat higroskopis dan tidak stabil saat
terkena kelembaban.
Inkompatibilitas Edetate disodium bertindak sebagai asam lemah, menggantikan karbon dioksida
dari karbonat dan bereaksi dengan logam untuk membentuk hidrogen. Ini tidak
kompatibel dengan zat pengoksidasi kuat, basa kuat, ion logam dan paduan
logam. Penambahan disodium edetat ke fenilmerkurik nitrat dan thimerosal
juga telah dilaporkan mengurangi kemanjuran antimikroba dari pengawet
Kadar Digunakan sebagai chelating agent dengan rentang kadar 0,005-0,1%. Dalam
penggunaan sediaan digunakan kadar sebanyak 0,05%.
Penyimpanan Ini harus disimpan dalam wadah tertutup baik, di tempat yang sejuk dan
kering.
7. Paraffin Liquidum
Bahan Paraffin Liquidum
Sinonim Avatech; Drakeol; heavy mineral oil; heavy liquid petrolatum; liquid
petrolatum; paraffin oil; paraffinum liquidum; Sirius; white mineral oil.
Struktur -
Rumus molekul -
Titik lebur -
Pemerian Minyak mineral adalah cairan berminyak yang transparan, tidak berwarna, dan
kental, tanpa fluoresensi di siang hari. Ini praktis tidak berasa dan tidak
berbau saat dingin, dan memiliki bau samar minyak bumi saat dipanaskan.
17
Kelarutan Praktis tidak larut dalam etanol (95%), gliserin, dan air; larut dalam aseton,
benzena, kloroform, karbon disulfida, eter, dan petroleum eter. Dapat
bercampur dengan minyak atsiri dan minyak tetap, kecuali minyak jarak.
Stabilitas Minyak mineral mengalami oksidasi saat terkena panas dan cahaya. Oksidasi
dimulai dengan pembentukan peroksida, yang menunjukkan 'periode induksi'.
Dalam kondisi biasa, periode induksi bisa memakan waktu berbulan-bulan atau
bertahun-tahun. Namun, begitu jejak peroksida terbentuk, oksidasi lebih lanjut
bersifat autokatalitik dan berlangsung dengan sangat cepat. Hasil oksidasi
dalam pembentukan aldehida dan asam organik, yang memberi rasa dan bau.
Penyimpanan Minyak mineral harus disimpan dalam wadah kedap udara, terlindung dari
cahaya,di tempat yang sejuk dan kering.
8. Aquadest
Bahan Aqua destilata
Struktur -
18
(HOPE Edisi 6, hlm 766, softcopy)
Pemerian Cairan bening atau jernih , tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna
Inkompatibilitas Dalam formulasi farmasetika, air dapat bereaksi dengan obat dan bahan
tambahan lainnya yang mudah terhidrolisis. Air dapat bereasksi dengan logam
alkali dan sangat cepat dengan logam alkali dan kalsium oksid serta magnesium
oksid. Air juga dapat bereaksi dengan garam anhidrat menjadi bentuk hidrat
dari berbagai komposisi dan dengan bahan organik tertentu serta kalium karbit
19
IX. FORMULA (Muhammad Shidiq Rukman, P17335119055)
20
Gliserin 20% b/v 11,4000 gram
Disodium edetat 0,05% b/b 0,0285 gram
Butylated Hydroxytoluene 0,05% b/b 0,0285 gram
10 x jumlah
Paraffinum liquidum butylated
0,2850 gram
(Mineral oil) Hydroxytoluene
(±0,5%)
Aqua destillata 5% v/v 3 mL
Hingga 100%
Vaselin album b/b 30,7080 gram
(±51,55%)
1
1. Hydrocortison acetat (1%) = 100 x 50 gram = 0,5 gram
5
2. Gliserin (Levigating Agent 5%) = 100 x 50 gram = 2,5 gram
a. Fase minyak
10
1) Cetosteryl alkohol (10%) = 100 x 57 gram = 5,7000 gram
10
2) Cera Alba (10%) = 100 x 57 gram = 5,7000 gram
0,05
3) BHT (0,05%) = x 57 gram = 0,0285 gram
100
0,5
4) Parafin liquidum (0,5%) = 100 x 57 gram = 0,2850 gram
21
b. Fase air
20
1) Gliserin (20%) = 100 x 57 gram = 11,40 gram
0,05
2) Disodium edetat (0,05%) = x 57 gram = 0,0285 gram
100
5
3) Aquadest (5%) = 100 x 57 gram = 2,850 mL ≈ 3 mL
Perhitungan kelarutan
C. Penimbangan bahan
1) Hydrocortison Acetate diayak dengan ayakan mesh no.12 kemudian ditimbang
seberat 0,5 gram, di atas kertas perkamen, menggunakan timbangan analitik
(penimbangan secara langsung).
2) Gliserin sebagai levigatting agent ditimbang seberat 2,5 gram di dalam cawan
uap, menggunakan timbangan analitik (penimbangan secara tidak langsung).
3) Cetosteryl alkohol ditimbang seberat 5,700 gram di dalam cawan uap,
menggunakan timbangan analitik (penimbangan secara tidak langsung).
22
4) Cera Alba ditimbang seberat 5,7000 gram di dalam cawan uap, menggunakan
timbangan analitik (penimbangan secara tidak langsung).
5) Gliserin sebagai Humectant dan basis krim ditimbang seberat 11,4000 gram di
dalam cawan uap, menggunakan timbangan analitik (penimbangan secara tidak
langsung).
6) Disodium Edetate ditimbang seberat 0,0285 gram di atas kertas perkamen,
menggunakan timbangan analitik (penimbangan secara langsung).
7) Butylated Hydroxytoluene ditimbang seberat 0,0285 gram di atas kertas
perkamen, menggunakan timbangan analitik (penimbangan secara langsung).
8) Paraffin Liquidum ditimbang seberat 0,2850 gram di dalam cawan uap,
menggunakan timbangan analitik (penimbangan secara tidak langsung).
9) Aquadest diukur sebanyak 3 mL menggunakan gelas ukur.
10) Vaseline Album ditimbang seberat 30,7080 gram di dalam cawan uap,
menggunakan timbangan analitik (penimbangan secara tidak langsung).
23
F. Peleburan Fase Air
1) Disodium Edetat 0,0285 gram dimasukkan ke dalam cawan uap kemudian
dilarutkan dengan aquadest sebanyak 0,3 mL.
2) Disodium Edetat yang telah dilarutkan ditambahkan gliserin seberat 11,40 gram
dan ditambahkan Aquadest sebanyak 3mL kemudian dilebur bersama hingga
homogen di atas penangas air dengan suhu 80°C sebagai fase air.
24
softcopy] - Bau, dicium menggunakan indera
penciuman
- Rasa, dirasa menggunakan indera perasa
- Warna diamati menggunakan indera
penglihatan
1.
2. Penetapan Viskositas dan sifat alir dilakukan menggunakan 1 tube Viskositas pada
viskositas [Jurnal viskometer Brookfield dan menggunakan spindel rentang 400-500
Uji Stabilitas fisik
no. 6 krim dimasukkan ke dalam wadah gelas cPas
Formula Krim kemudian spindel yang telah dipasang
yang mengandung diturunkan sehingga batas spindel tercelup ke
ekstrak kacang dalam krim. Kecepatan alat dipasang pada 2 rpm,
kedelai] 4 rpm, 10 rpm, 20 rpm; lalu dibalik 10 rpm, 4
rpm, 2 rpm; secara berturur-turut, kemudian
dibaca dan dicatat skalanya (dialreading) ketika
jarum merah yang bergerak telah stabil. Nilai
viskositas (n) dalam centipoise (cps) diperoleh
dari hasil perkalian dialreading dengan faktor
koreksi khusus untuk masing-masing spindel.
Sifat aliran dapat diperoleh dengan membuat
kurva antara tekanan geser terhadap kecepatan
geser
3. Penentuan tipe Sediaan krim diambil secukupnya kemudian 1 tube Jika warna biru
krim [Jurnal Riset diletakkan pada drupple plate. Ditambahkan 1 metilen blue dapat
Kefarmasian Vol 1 tetes indicator metilen blue tercampur merata
No.3, 2019] maka sediaan krim
tipe A/M
4. Homogenitas Dengan cara batang pengaduk dioleskan ke 1 tube Semua partikel harus
[Jurnal Riset dalam kaca arloji lalu diratakan dan dilihat terlihat sama dalam
Kefarmasian Vol 1 ukuran partikelnya rentang 239,86 –
No.3, 2019] 358,10 nm
5. Uji Ukuran globul Krim diletakan diatas kaca objek dan ditutup 1 tube Ukuran diameter
[Jurnal Uji dengan gelas penutup, kemudian diamati globul berada pada
Stabilitas fisik menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100 rentang 18,79 ± 1,09
Formula Krim kali. Terlebih dahulu dilakukan penyesuaian skala, nm
yang mengandung kemudian diameter globul rata-rata dihitung
ekstrak kacang dengan menggunakan rumus Edmundson
kedelai]
6. Isi Minimum [FI Ambil wadah berisi zat uji hilangkan etiket, 10 tube Rata – rata isi bersih
VI Hlm 2017] bersihkan dan keringkan dengan sempurna dari 10 wadah tidak
(FISIKA) bagian luar wadah, timbang satu persatu dan kurang dari 90%
keluarkan isi secara kuantitatif dari masing- jumlah yang tertera
masing wadah jika perlu dicuci dengan perlarut pada etiket
yang sesuai. Hati-hati agar bagian tutup dan
bagian lain tidak terpisah. Keringkan dan
timbang kembali masing-masing wadah kosong.
Perbandingan kedua penimbangan adalah bobot
isi wadah
7. Uji kebocoran tube Pilih tube,dengan segel khusus jika disebutkan. 3 tube Tidak boleh terjadi
[FI Ed VI hlm Bersihkan dan keringkan baik – baik permukaan kebocoran selama
2119] luar tiap tube dengan kain penyerap. Letakkan atau setelah
tube pada posisi horizontal di atas lembaran pengujian selesai.
kertas penyerap dalam ovendengan suhu yang
25
diatur pada 60° ± 3° selama 8 jam
8. Uji stabilitas krim Sampel krim disimpan pada suhu 4°𝐶 selama 48 2 tube Tidak terjadi
[Rieger M,2000 jam lalu dipindahkan ke dalam oven bersuhu perubahan atau
Dalam jurnal Uji 40° ± 2°𝐶 selama 48 jam (satu siklus). Uji pemisahan pada krim
Stabilitas Fisik dilakukan sebanyak 6 siklus kemudian diamati selama penyimpanan.
Formula krim perubahan fisik yang terjadi. Penyimpanan
yang mengandung sampel krim pada suhu 40° ± 2°𝐶 selama 8
Ekstrak kacang minggu kemudian dilakukan pengamatan.
kedelai]
9. Uji daya sebar Kaca transparan diletakan di atas kertas 1 tube kapasitas penyebaran
[Jurnal Riset millimeter blok. Pada kaca tersebut diletakan 0,5 harus 5-7 cm dan
Kefarmasian Vol 1 gram krim, kemudian di tutup dengan kaca kemampuan
No. 3, 2019] transparan yang lain dan dibiarkan selama 1 penyebaran 10 g/cm.
menit untuk mendapatkan beberapa diameter
penyebaran yang terbentuk. Kemudian
dilanjutkan dengan menambahkan bebasn diatas
kaca transparan (50, 100. Dan 150 gram) dan
diamati diameter penyebaran yang terbentuk.
Spesifikasi sediaan adalah krim dapat menyebar
dengan mudah dan merata
10. Identifikasi dan Dilakukan penetapan kadar dengan kromatografi 1 tube Isi bersih dari 10
penetapan kadar cair kinerja tinggi wadah tidak kurang
[FI Ed VI hlm dari 90 – 95 %
224] jumlah yang tertera
pada etiket
26
XIV. DAFTAR PUSTAKA
Ave, W. M. V., A-, U., Vegas, L., Dobrin, R., Laurent, S., Way, G., & Vw, B. C. 2020.
Safety Data Sheet Hydrocortisone Acetate. Medisca.
British Pharmacopeia Commision.2009. British Pharmacopoiea. London: The
Pharmaceutical Press
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.2020. Farmakope Indonesia. Edisi VI.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Dewi, Rosmala dkk. 2014. Jurnal Uji Stabilitas Fisik Formula Krim yang
mengandung Ekstrak Kacang Kedelai. Fakultas Farmasi Universitas
Indonesia. Depok.
Fini, A., Bergamante, V., Ceschel, G. C., Ronchi, C., dan Moraes, C. A. F.2008.
Control of transdermal permeation of hydrocortisone acetate from hydrophilic
and lipophilic formulations. AAPS PharmSciTech, 9(3).
[Link]
Gupta, V. Das. (1978). Effect of vehicles and other active ingredients on stability of
hydrocortisone. Journal of Pharmaceutical Sciences, 67(3).
[Link]
Japanese Pharmacopoeia Committee. 2006. The Japanese Pharmacopoeia. Edisi
Kelima Belas. Tokyo: The Ministry of Health, Labour and Welfare.
National center for Biotechnology Information. Hydrocortisone Acetate. PubChem
[Link]://[Link]/compound/Hydrocortis
one-acetate Diakses tanggal 24 November 2020
Rawlings, Anthony V dan Webster, Guy F. (2007) Acne and It's Therapy.
Dermatology : Clinical and Basic Science Series/40. Informa Healthcare USA.
New York
Saryanti, Dwi. 2019. Jurnal Optimasi Sediaan Krim M/A Dari Ekstrak Kulit Pisang
Kepok. Vol. I NO.3. Departemen Teknologi Farmasi.
Sulur, dkk.2012. United States Patent Application Publication : Medical Cream
Made Using Hydrocortisone Acetate and A Process to Make The Same. Patent
Application Publication. United States.
Ya Hui Lee, Hui Mei Yu, dan Hung Hong Lin.2016. The Mechanism Study Of
Chemical Stability Improvement Of Hydrocortisone Acetate In Topical
Preparations dalam 2016 The 10th Faculty and Student Research Achievement
27
Conference Catalogue of the School of Pharmacology Departement of
Pharmacy Day Division Master Class. Department of Pharmacy, Chia Nan
University of Pharmacy and Science.
28
B. ETIKET (Reyhan Muhammad Wahid F, P17335190562)
29
JURNAL PRAKTIKUM
TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA-SEMISOLIDA 2020/2021
No Nama NIM
1 Rasya Novia Rahma P17335119027
2 Reni Selviani P17335119028
3 Rini Rahmawati P17335119029
4 Risma Pirdayanti P17335119030
5 Siti Arofatun Nadiyah P17335119031
6 Syifa Kamilla P17335119032
7 Wilia Cantika Karim P17335119035
8 Zulfah Ainun P17335119036
Kelompok/Kelas 4/2A
Topik Pembuatan Sediaan Krim Asiklovir 5%
Dosen Pembimbing Apt. Lies Amelia Agustina, [Link].
Hari dan Tanggal Praktikum Rabu, 25 November 2020
1
Penggunaan topikal krim asiklovir pada kulit memiliki absorpsi yang sedikit,
namun dapat meningkat dengan perubahan formulasi. Asiklovir aktif melawan virus
herpes simplex tipe I dan tipe 2 dan melawan virus varicella-zoster (Sweetman, 2014).
Asiklovir membutuhkan tiga langkah fosforilasi untuk aktivasi. Diubah pertama
kali menjadi turunan monofosfat oleh timidin kinase yang ditentukan virus dan
kemudian menjadi senyawa di- dan trifosfat oleh enzim sel inang, karena virus
memerlukan kinase untuk fosforilasi awal, asiklovir diaktifkan secara selektif — dan
metabolit aktif terakumulasi — hanya pada sel yang terinfeksi (Katzung, 2012).
Bentuk aktif asiklovir menghambat sintesis dan replikasi DNA virus dengan
menghambat enzim DNA polimerase herpesvirus serta dimasukkan ke dalam DNA
virus. Proses ini sangat selektif untuk sel yang terinfeksi. Penelitian pada hewan dan in
vitro telah menemukan berbagai kepekaan tetapi menunjukkan bahwa virus target
dihambat oleh konsentrasi asiklovir yang dapat diperoleh secara klinis. Virus herpes
simpleks tipe I tampaknya yang paling rentan, kemudian tipe 2, diikuti oleh virus
varicella-zoster (Sweetman, 2014).
Penggunaan krim asiklovir pada infeksi kulit herpes simpleks, termasuk herpes
genital dan herpes labialis, pengobatan topikal dengan salep atau krim yang
mengandung asiklovir 5% dapat dioleskan 5 atau 6 kali sehari selama 5 sampai 10 hari
(Sweetman, 2014). Untuk anak-anak oleskan 5 kali sehari selama 5-10 hari pada lesi
kira-kira setiap 4 jam, mulai dari tanda serangan pertama (BNFC, 2020).
Penggunaan sediaan topical untuk menghitung dosis digunakan Finger Tip Unit
(FTU). Pada pria dewasa 1 FTU senilai dengan 0,49 gram dan untuk wanita dewasa 1
FTU senilai dengan 0,43 gram (Mehta, 2016)
Perhitungan FTU Dewasa
Infeksi kulit herpes simpleks : dioleskan 5 atau 6 kali sehari selama 5-10 hari.
1 FTU pria dewasa = 0,49 gram
1 FTU wanita dewasa = 0,43 gram
Area Tubuh FTU yang Dibutuhkan Untuk Dewasa
Wajah dan leher 2,5
Tubuh bagian depan 7
Tubuh bagian belakang 7
Lengan 3
Tangan 1
Kaki 6
Kaki bagian bawah 2
(Mehta, 2016)
2
Pria Dewasa
1) Wajah dan leher : 2,5 × 0,49 gram = 1,225 gram
Pemakaian sehari : 6 × 1,225 gram = 7,350 gram
2) Tubuh bagian depan : 7 × 0,49 gram = 3,430 gram
Pemakaian sehari : 6 × 3,430 gram = 20,580 gram
3) Tubuh bagian belakang : 7 × 0,49 gram = 3,430 gram
Pemakaian sehari : 6 × 3,430 gram = 20,580 gram
4) Lengan : 3 × 0,49 gram = 1,470 gram
Pemakaian sehari : 6 × 1,470 gram = 8,820 gram
5) Tangan : 1 × 0,49 gram = 0,490 gram
Pemakaian sehari : 6 × 0,490 gram = 2,940 gram
6) Kaki : 6 × 0,49 gram = 2,940 gram
Pemakaian sehari : 6 × 2,940 gram = 17,640 gram
7) Kaki bagin bawah : 2 × 0,49 gram = 0,980 gram
Pemakaian sehari : 6 × 0,980 gram = 5,880 gram
Wanita Dewasa
1) Wajah dan leher : 2,5 × 0,43 gram = 1,075 gram
Pemakaian sehari : 6 × 1,075 gram = 6,450 gram
2) Tubuh bagian depan : 7 × 0,43 gram = 3,010 gram
Pemakaian sehari : 6 × 3,010 gram = 18,060 gram
3) Tubuh bagian belakang : 7 × 0,43 gram = 3,010 gram
Pemakaian sehari : 6 × 3,010 gram = 18,060 gram
4) Lengan : 3 × 0,43 gram = 1,290 gram
Pemakaian sehari : 6 × 1,290 gram = 7,740 gram
5) Tangan : 1 × 0,43 gram = 0,430 gram
Pemakaian sehari : 6 × 0,430 gram = 2,580 gram
6) Kaki : 6 × 0,43 gram = 2,580 gram
Pemakaian sehari : 6 × 2,580 gram = 15,480 gram
7) Kaki bagian bawah : 2 × 0,43 gram = 0,960 gram
Pemakaian sehari : 6 × 0,960 gram = 5,760 gram
Perhitungan FTU Anak-Anak
Lesi pada anak-anak : dioleskan 5 kali sehari selama 5-10 hari
1 FTU pria dewasa : 0,5 gram
3
1
× 0,5 = 0,125 𝑔𝑟𝑎𝑚
4
1
× 0,5 = 0,167 𝑔𝑟𝑎𝑚
3
Struktur kimia
4
Pemerian Serbuk hablur putih hingga hampir putih; melebur pada suhu lebih dari
250C disertai peruraian
(Farmakope Indonesia Edisi VI Halaman 223 [Softcopy]).
Kelarutan Larut dalam asam hidroklorida encer; sukar larut dalam air; tidak larut
dalam etanol.
(Farmakope Indonesia Edisi VI Halaman 223 [Softcopy]).
Stabilitas Panas : Stabil disimpan pada suhu 20-45℃ an terdekomposisi
pada suhu > 150℃ (AAPS Pharmaceutical Tech. Vol.14,2013).
Meleleh pada suhu lebih tinggi dari 250C dengan dekomposisi
(USP 30NF-25).
Cahaya : Stabil jika terlindung dari cahaya dan kelembapan (USP
30NF-25).
Air : Tidak ditemukan di dalam Martindale, USP, CODEX,
Japanese Pharmacopeia, dan BNF.
Ph : 4,5-7,0 (Traditional Medicine Journal,Vol.18, 2013)
Inkompatibilitas Inkompatibel dengan Foskarnet (Asam Fosfono Metanoik) (Martindale,
38th, halaman 964 [Softcopy]) dan inkompatibel dengan agen
pengoksidasi kuat (MSDS Asiklovir, halaman 4).
Kadar 5% b/v
penggunaan
5
boleh terlalu padat atau tidak boleh terlalu Cair sebagai fase air, dan Cetostearyl Alkohol
encer. dan Vaselin Flavum sebagai basis semi padat.
Asiklovir merupakan bahan obat dengan serbuk Pada formulasi ditambahkan levigating agent
hablur, putih hingga hampir putih dan sukar untuk membasahi serbuk dan menurunkan
larut dalam air (Farmakope Indonesia Edisi VI sudut kontak. Levigating agent yang digunakan
Halaman 223 [Softcopy]). adalah PPG 10% dengan kadar yang
diperbolehkan s/d 15% (HOPE 8th Edition 2017
halaman 795 [Softcopy])
Asiklovir stabil disimpan pada suhu 20-45℃ an Sediaan dibuat dengan menggunakan metode
terdekomposisi pada suhu > 150℃ AAPS triturasi untuk mengantisipasi
Pharmaceutical Tech. Vol.14,2013). Meleleh terdekomposisinya bahan aktif dan
pada suhu lebih tinggi dari 250C dengan meningkatkan stabilitas.
dekomposisi (USP 30NF-25).
Pada metode triturasi digunakan untuk bahan Metode triturasi adalah metode dimana bahan
aktif yang tidak tahan pemanasan aktif ditambahkan kedalam basis krim yang
tidak dileburkan, dan pada perhitungan bahan
dilebihkan sebanyak 10%.
Dalam krim terdapat 2 fase yang tidak saling Pada formulasi sediaan digunakan emulgator
bercampur yaitu minyak dan air. yaitu cetostearyl alcohol dengan kadar yang
digunakan 5% untuk menjaga stabilitas dan
meningkatkan viskostitas.
Krim Asiklovir harus mudah tersebar dan Pada formulasi sediaan ditambahkan vaselin
lembut dikulit. flavum sebagai emollient dan basis krim dengan
rentang kadar 10-30% untuk meningkatkan
akseptabilitas
(HOPE 8th edition 2017, hlm: 660, softcopy).
Vaseline flavum merupakan bahan yang mudah Pada formulasi ditambahkan antioksidan yaitu
tengik saat terjadinya oksidasi. Butyl Hidroksitoluen (BHT) 0,05% dengan
rentang kadar (0,0075-0,1%). untuk
meminimalisir terjadi reaksi oksidasi (HOPE 8th
edition 2017 hlm: 126, softcopy).
Kestabilan asiklovir dalam cahaya ialah stabil Sediaan dikemas menggunakan tube
jika terlindung dari cahaya, kelembapan berwarna/tidak transparan untuk meminimalisir
(USP 30NF-25). paparan cahaya langsung serta disimpan dalam
wadah tertutup rapat
pada suhu antara 15 dan 25 di tempat kering
(Farmakope Indonesia edisi VI, hlm: 225,
softcopy).
Pada proses pembuatan dikhawatirkan terjadi Pada perhitungan bahan yang akan dilebur
pengurangan bahan karena dilakukan proses dilebihkan 10% untuk mengantisipasi adanya
peleburan pada proses pembuatan sediaan krim kekurangan sediaan saat pengisian ke dalam
wadah
6
(HOPE 8th Edition 2017 hlm: 211 Softcopy)
Rumus Molekul CH3(CH2)nOH
Titik lebur 50°C
Pemerian Putih atau massa berwarna krem, lempengan, pelet atau granul,
memiliki rasa asam manis yang samar dan khas. Pada pemanasan
Cetostearyl alkohol meleleh menjadi jernih tak berwarna atau cairan
berwarna kuning pucat dan zat tersuspensi.
(HOPE 8th Edition 2017 hlm: 211 Softcopy)
Kelarutan Larut dalam etanol 95%, eter dan minyak, praktis tidak larut dalam
air.
(HOPE 8th Edition 2017 hlm: 211 Softcopy)
Stabilitas Cetostearyl alkohol stabil dalam kondisi penyimpanan normal,dan
ditempatkan dalam wadah tertutup baik dalam kondisi sejuk dan
tempat kering.
(HOPE 8th Edition 2017 hlm: 211 Softcopy)
Inkompatibilitas Inkompantibel dengan agen pengoksidasi kuat dan garam logam.
(HOPE 8th Edition 2017 hlm: 211 Softcopy)
Penyimpanan Harus disimpan dalam wadah kedap udara, tempat kering dan
terhindar dari cahaya.
(HOPE 8th Edition 2017 hlm: 211 Softcopy))
Kadar Emulsyfying agent maksimal 20%
penggunaan Digunakan 5% karena apabila digunakan ≤ 4% kurang efektif dan ≥
10% akan sensitive
(Jurnal Polimers for a Sunstaible Environment and Green Energy,
2012)
b. Parafin cair
Zat Paraffin cair
Struktur Tidak ditemukan Struktu pada literatur namun sudah dicari dalam
literatur HOPE Edisi 8, HOPE Edisi 6, Farmakope, Pubchem dan
Jurnal.
Rumus molekul Tidak ditemukan rumus molekul pada literatur namun sudah dicari
dalam literatur HOPE Edisi 8, HOPE Edisi 6, Farmakope, Pubchem
dan Jurnal.
Titik lebur >360℃
(HOPE 8th Edition, 2017, hlm: 652 Softcopy
Pemerian Cairan transparan minyak, tidak berwarna, kental, tidak fluorosensi
pada siang hari. Tidak berasa dan tidak berbau saat dingin dan
memiliki bau yang samar.
(HOPE 8th Edition, 2017, hlm: 652Softcopy)
Kelarutan Praktis tidak larut dalam etanol 95%, gliserin dan air, larut dalam
aseton, benzene, kloroform, karbon oksulfida, eter dan petrolum eter,
larut dengan minyak atsiri dan minyak lemak, kecuali minyak jarak.
(HOPE 8th Edition, 2017, hlm: 652 Softcopy)
Stabilitas Mengalami oksidasi bila terkena panas dan cahaya
(HOPE 8th Edition, 2017, hlm: 652 Softcopy
7
Inkompabilitas Inkompantible dengan pengoksidasi kuat
(HOPE 8th Edition, 2017, hlm: 652 Softcopy
Penyimpanan Wadah tertutup rapat
(HOPE 8th Edition, 2017, hlm: 652 Softcopy)
Kadar Basis cair 1,0-32,0 %
penggunaan (HOPE 8th Edition, 2017, hlm: 652 Softcopy
c. Propilenglikol (PPG)
Zat Propylenglicol
Struktur
8
Struktur
e. Vaselin Flavum
Zat Vaselin Flavum
Struktur Tidak ditemukan struktur pada literatur namun sudah dicari dalam
literatur HOPE Edisi 8, HOPE Edisi 6, Farmakope, Pubchem dan
Jurnal.
Rumus molekul Tidak ditemukan rumus molekul di literatur namun sudah dicari
pada literatur HOPE Edisi 8, HOPE Edisi 6, Farmakope, Pubchem
dan Jurnal.
Titik lebur 38–60°C
(HOPE 8th Edition, 2017, hlm: 660 Softcopy
Pemerian Massa kuning pucat sampai kuning, tembus pandang, lembut, tidak
berbau dan hambar.
9
(HOPE 8th Edition, 2017, hlm: 660 Softcopy
Kelarutan Praktis tidak larut dalam aseton, etanol panas atau dingin (95%),
gliserin dan air, larut dalam benzene, karbon disulfida, kloroform,
eter, heksena dan sebagian besar minyak tetap.
(HOPE 8th Edition, 2017, hlm: 660 Softcopy)
Stabilitas Masalah stabilitas yerjadi karena adanya sejumlah kecil kotoran.
Dengan paparan cahaya kotoran teroksidasi dan menghitamkan
vaselin serta menjadi tengik. Tidak boleh dipanaskan terlalu lama
lebih dari 70℃
(HOPE 8th Edition, 2017, hlm: 660 Softcopy
Inkompabilitas Inkompantible dengan bahan inert dengan sedikit ketidak sesuaian.
(HOPE 8th Edition, 2017, hlm: 660 Softcopy
Penyimpanan Wadah tertutup rapat
(HOPE 8th Edition, 2017, hlm: 660 Softcopy
Kadar Emolient 10-30% dan basis krim.
Penggunaan (HOPE 8th Edition, 2017, hlm: 660 Softcopy)
Warna : -
Rasa : -
pH sediaan : 4,5-7
Kadar Sediaan : 5%
Volume Sediaan: 50 gram
Viskositas Sediaan: 4000-40.000 cPas
10
IX. PENIMBANGAN DAN PERHITUNGAN DAPAR (Risma
Pirdayanti, P17335119030)
Penimbangan Skala Besar
No. Nama Bahan Jumlah yang Ditimbang
1. Asiklovir 2,5gram
2. Propilenglikol (Levigating agent) 5gram
3. Propilenglikol (Fase air) 4,675gram
4. Cetostearyl Alcohol 2,3375gram
5. Parafin Cair 4,675gram
6. BHT 0,0234gram
7. Vaselin Flavum 35,0391 gram
2. Propilenglikol
10
x 50 gram = 5gram
100
b. Fase minyak
1. Cetostearyl Alcohol
5
100
x 46,75gram = 2,3375gram
2. Parafin Cair
11
10
x 46,75gram = 4,675gram
100
3. BHT
0,05
x 46,75gram = 0,0234gram
100
4. Vaselin Flavum
46,75gram – (4,675 + 2,3375 + 4,675 + 0,0234)gram = 35,0391 gram
Perhitungan kelarutan
BHT Kelarutan dalam minyak (10-30)
= 0,0234 × 10 = 0,234 mL ≈ 5mL
12
1. Asiklovir dimasukkan ke dalam mortir (1), digerus ad halus. Ditambahkan Propilenglikol
sebanyak 5 gram, digerus ad homogen.
2. Disiapkan mortir (2), mortir dipanaskan dengan air panas secukupnya.
3. Propilenglikol sebagai fase air dipanaskan menggunakan cawan hingga suhu 70℃
diatas waterbath.
4. Vaselin flavum, BHT, Paraffin cair dan Cetostearyl Alkohol sebagai fase minyak
dipanaskan menggunakan cawan hingga suhu 70℃ diatas waterbath.
5. Fase air dan fase minyak yang telah dipanaskan hinggan suhu 70℃ dimasukkan ke
dalam mortir (2), lalu digerus sampai terbentuk massa basis krim yang homogen.
6. Basis krim didinginkan hingga suhu kamar.
7. Basis krim yang sudah terbentuk ditimbang sebanyak 42,5 gram.
8. Basis krim yang sudah ditimbang, dimasukkan ke dalam mortir (1) yang berisi bahan
aktif, lalu digerus halus ad homogen.
9. Krim masing-masing ditimbang dengan kertas perkamen sebanyak 10,3 gram, lalu kertas
perkamen digulung menutupi sediaan krim.
10. Krim yang sudah digulung dalam kertas perkamen dimasukkan ke dalam tube dengan
kondisi ujung tube keluar dalam keadaan tertutup, lalu kertas perkamen dikeluarkan,
kemudian tube ditutup dengan melipat bagian belakang yang terbuka.
11. Etiket ditempelkan pada tube berisi krim, diberi brosur, dan dimasukkan ke dalam kemasan
sekunder.
12. Dilakukan evaluasi sediaan.
13
3. Penentuan tipe Sejumlah kecil pewarna 1 tube Pewarna
krim yang larut dalam air seperti menggumpal di
(Martin’s metilen blue atau FCF biru permukaan karena
Physical cemerlang dapat ditaburi krim tipe air dalam
Pharmacy and pada permukaan emulsi. minyak
Pharmaceuttical Jika air adalah fase
Sciences, Edisi eksternal (yaitu, tipe output
VI hlm 763. daya), pewarna akan larut
Softcopy) dan menyebar secara
Uji Fisika seragam ke seluruh air.
Jika emulsi berjenis a/m,
partikel zat warna akan
bergumpal di permukaan.
4. Uji Homogenitas Sejumlah tertentu sediaan 1 tube Sediaan krim
(Safitri, Meta dioleskan pada sekeping tersebar dengan
dkk. 2016. kaca atau bahan transparan susunan yang
“Formulation lainnya yang cocok, homogen.
Development and sediaan harus menunjukan
Evaluation of susunan yang homogen dan
Physical tidak terlihat adanya
Preparation butiran kasar.
Cream Ethanolic
Extract 70% of
Labu Siam
Leaves”. Jurnal.
Vol 3 no 2. Hlm :
10)
Uji Fisika
5. Isi minimum Ambil 10 wadah, 10 tube Isi bersih dari 10
(Farmakope hilangkan semua etiket wadah tidak kurang
Indonesia Edisi yang dapat mempengaruhi dari 90% jumlah
VI hlm:2017. bobot pada waktu isi yang tertera pada
Softcopy) wadah dikeluarkan. etiket.
Uji Fisika Bersihkan dan keringkan
dengan sempurna bagian
luar wadah dengan cara
yang sesuai dan timbang
satu per satu. Keluarkan isi
secara kuantitatif dari
masing-masing wadah,
potong ujung wadah, jika
perlu cuci dengan pelarut
yang sesuai, hati-hati agar
tutup dan bagian lain
wadah pada awal telah
ditimbang tidak terpisah.
Keringkan dan timbang
kembali masing-masing
wadah kosong beserta
bagian-bagiannya yang
telah ditimbang pada
penimbangan pertama.
Tetapkan bobot bersih
masing-masing isi wadah
14
dan rata-rata isi bersih dari
seluruh wadah. Perbedaan
antara kedua penimbangan
adalah bobot isi wadah.
6. Uji kebocoran Pilih 10 tube krim, dengan 10 tube Tidak ada satupun
tube segel khusus jika kebocoran dari 10
(Farmakope disebutkan. Bersihkan dan tube uji.
Indonesia Edisi keringkan baik-baik pada
VI hlm:2119. permukaan luar tiap tube
Softcopy) dengan kain penyerap.
Uji Fisika Letakka tube pada posisi
horizontal di atas lembaran
kertas penyerap dalam
oven dengan suhu yang
diatur pada 60º±3º selama
2 jam.
7. Uji Daya Sebar 0,5 gram sampel krim 1 tube Luas permukaan
(Safitri, Meta diletakan di tengah cawan yang dihasilkan
dkk. 2016. petri yang berada dalam untuk sediaan
“Formulation posisi terbalik. Beri beban topical yaitu 5-7
Development and cawan petri lain di atas cm
Evaluation of krim lalu diamkan selama
Physical 1 menit. Tambahkan 50
Preparation gram beban lalu ukur
Cream Ethanolic diameternya.
Extract 70% of
Labu Siam
Leaves”. Jurnal.
Vol 3 no 2. Hlm :
10)
Uji Fisika
8. Uji Daya Serap Ditimbang krim sebanyak 1 tube Harus mrmpunyai
(Juwita, Puspa 1 gram, kemudian ditetesi kelarutan yang
dkk. 2013. air sambal diaduk atau sesuai dalam
“Formulasi Krim [Link] air pada mineral dan air
Ekstrak Etanol krim dilakukan sampai dengan kadar lebih
Daun Lamun”. tidak dapat menterap air dari 1 mg krim
Jurnal Ilmiah lagi atau krim memisah dapat larut dalam 1
Farmasi. Vol 2 no dengan air. Kemudian mL air.
2. Hlm: 10) dihitung jumlah air yang
Uji Fisika dibutuhkan hingga krim
memisah.
9. Penetapan pH Harga pH adalah yang 1 tube Rentang pH pada
(Farmakope ditentukan oleh alat sediaan 5,5 - 7
Indonesia Edisi potensiometrik (pH meter)
VI hlm: 2120. yang sesuai yang mampu
Softcopy) mengukur harga pH sampai
Uji Fisika 0,02 unit pH dan
pengukuran dilakukan pada
suhu 25˚C±2˚C. Kecuali
dinyatakan lain dalam
masing-masing monografi
10. Uji Efektivitas Pengujian dapat dilakukan 5 tube Persyaratan untuk
Pengawet dalam tiap 5 wadah asli. efektivitas
15
(Farmakope Lima wadah bakteriologi pengawet dipenuhi
Indonesia Edisi tertutup steril. Inokulasi jika spesifik.
VI hlm:1828. setiap wadah dengan satu Pengawet tidak
Softcopy) inokulasi baku yang telah boleh digunakan
Uji Biologi disiapkan. Tambahkan sebagai pengganti
kadar mikroba uji pada cara produksi yang
sediaan inokulasi wadah baik, untuk
yang sudah diinokulasi menurunkan
pada 22.5˚C±2.5˚C. Ambil populasi mikroba
sampel pada setiap dari produk tidak
[Link] dengan steril
prosedur angka lempeng
total
11. Jumlah Cemaran Pengujian dilakukan pada 3 Harus sesuai
Mikroba kondisi aseptik sebagai dengan yang tertera
(Farmakope tindakan pencegahan untuk pada nilai paling
Indonesia Edisi menghindari kontaminasi mungkin mikroba
VI Halaman 1815 mikroba dari luar produk, dengan
Softcopy) tetapi tidak mempengaruhi memperkirakan
Uji Biologi mikroba yang [Link] kesesuaian secara
produk mempunyai spesifik. < 10
aktifitas antimikroba mikroba
sebelum diuji lakukan
netralisasi menggunakan
inaktivator yang telah
dibuktikan tidak toksik
terhadap mikroba yang
[Link] zat aktif
permukaan digunakan
untuk penyiapan sampel,
tidak boleh bersifat
toksik terhadap
mikroorganisme dan
harus kompatibel dengan
inaktivator yang
digunakan.
12. Penetapan Potensi Ada 2 metode yang dapat 2 tube Suhu dengan
Antibiotik digunakan yaitu penetapan penetapan cawan
(farmakope Edisi dengan lempeng silinder dipertahankan pada
V hlm: 1392 atau “cawan” dan dengan 0,5 ˚C dari suhu
Softcopy) cara “tabung” atau yang dipilih
Uji Biologi [Link] dengan penetapan
pertama berdasarkan difusi iodometri
antibiotik dan silinder, diperlukan
berdasarkan atas hambatan keseragaman suhu
pertumbuhbiakan mikroba tabung melalui
dalam larutan yang pengendali
menumbuhkan mikroba termostatik dalam
denga cepat bila tidak inkubator.
terdapat antibiotic (dalam
media cair)
13. Identifikasi dan Lakukan penetapan kadar 1 tube Waktu retensi
Penetapan Kadar dengan cara kromatografi puncak utama
cair kinerja tinggi, larutan kromatogram
16
(Farmakope Edisi uji dan larutan baku diukur larutan uji sesuai
VI hlm: 1512 serapan masing-masing dengan larutan
Softcopy) larutan pada panjang baku
Uji Kimia gelombang serapan seperti yang
maksimum ±420 nm diperoleh pada
Penetapan kadar
17
XII. DAFTAR PUSTAKA (Zulfah Ainun, P17335119036)
Abdul Karim Zulkarnain, Novi Ernawati, dan Nurul Ikka Sukardani. 2013. “Aktivitas
Amilum Bengkuang (Pachyrrizus Erosus (L.) Urban) Sebagai Tabir Surya Pada
Mencit Dan Pengaruh Kenaikan Kadar Terhadap Viskositas Sediaan”.
Traditional Medicine [Link].18. Department of Pharmaceutic, Faculty of
Pharmacy UGM : Yogyakarta.
Ali Akbar Miran Beigi, Mina Khatibi, Mojtaba Shamsipur, Rouhollah Heydari, and
Seied Mahdi Pourmortazavi. 2013. “Thermal Stability and Decomposition
Kinetic Studies of Acyclovir and Zidovudine Drug Compounds”. AAPS
Pharmaceutical Tech. Vol.14 : Rockville Pike, Bethesda MD, 20894 USA.
Ansel, H.C., Popovich, N.G., Allen, L.V. 2011. Pharmaceutical Dosage Form and
Drug delivery System Ninth Edition : London, New York. Page 296.
[Link] National Formulary for Children.[Softcopy].London : BMJ
Publishing Group.
Cayman Chemical. Material Safety Data Sheet Acyclovir. MSDS . Available from:
URL: [Link]
Johan, [Link] Kortikosteroid Topikal yang [Link] 42
Nomor 4.
Juwita, Puspa dkk. 2013. “Formulasi Krim Ekstrak Etanol Daun Lamun”. Jurnal Ilmiah
[Link] 2 no 2. Hlm : 10.
Katzug, Betram G, et [Link] and Clinical Pharmacology.12𝑡ℎ edition
[Softcopy], New York : McGraw-Hill Medical.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V.
Jakarta :Departemen Kesehatan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2020. Farmakope Indonesia Edisi VI.
Jakarta: Departemen Kesehatan.
Mehta, Aayushi B dkk.2016.”Topical Corticosteroids in Dermatology”.Dalam Indian
Journal of [Link] [Link].
R. Hofer. 2012. Cetostearyl Alcohol. Journal Polymers for a Sustainable Environment
and Green energy.
Rowe, Raymond C. 2017. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 8th edition.
[Softcopy].London: Pharmaceutical Press.
18
Safitri, Meta dkk. 2016. “Formulation Development and Evaluation of Physical
Preparation Cream Ethanolic Extract 70% of Labu Siam Leaves”.Jurnal. Vol 3
no 2. Hlm : 10.
Sweetman, Sean C. 2014. Martindale: The Complete Drug Reference.38th
Edition.[Softcopy]. London: Pharmaceutical Pres.
U.S. Pharmacopeia. 2007. The United States Pharmacopeia, USP 30/The National
Formulary, NF 25. Rockville, MD: U.S. Pharmacopeial Convention, Inc.
Williams & Wilkins, [Link]’s Physical Pharmacy and
Pharmaceuttical [Link] Edition. Piscataway: Rutgers, The State
University of New Jersey.
19
XIII. ETIKET, BROSUR DAN KEMASAN SEKUNDER (Zulfah Ainun,
P17335119036)
1. Etiket
20
2. Brosur
21
3. Kemasan
22
JURNAL PRAKTIKUM
TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA-SEMISOLIDA 2020/2021
No Nama NIM
Kelompok/Kelas 4/ 2B
Topik Pembuatan Sediaan Krim Asiklovir 5%
Dosen Pembimbing Apt. Lies Amelia Agustina, [Link].
Hari dan Tanggal Praktikum Rabu, 25 November 2020
1
Asiklovir memiliki data stabilitas panas yakni stabil bila disimpan pada suhu 25 0C-400C dan
terdekomposisi pada suhu 1500C (AAPS PharmSci Tech, 2013). Maka pada pembuatannya krim
Asiklovir ini dibuat dengan metode triturasi yaitu tidak ikut dilebur bersama dengan basis karena
ketidak-tahanannya terhadap panas.
Efek Farmakologi :
Asiklovir merupakan bahan aktif yang memiliki efek farmakologi sebagai antivirus. Asiklovir
adalah prototipe agen antivirus yang difosforilasi secara intraseluler oleh virus kinase dan kemudian
oleh enzim sel inang akan menjadi agen penghambat sintesis DNA virus. Penggunaan klinis asiklovir
terbatas pada virus herpes.
Asiklovir paling aktif melawan Herpes Simplex Virus tipe 1 (HSV-1) , dan sekitar setengah
kali aktif melawan HSV-2, sepersepuluh – kali lebih poten melawan Virus Varicella-Zoster (VZV)
dan Virus Epstein-Barr (EBV), serta paling tidak aktif melawan Cytomegalovirus (CMV) Dan Virus
Herpes Manusia/Human Herpes Virus (HHV-6). Sel mamalia yang tidak terinfeksi umumnya tidak
terpengaruh oleh konsentrasi asiklovir yang tinggi (Goodman & Gilman, 2008).
Asiklovir digunakan terutama untuk mengatasi infeksi virus Herpes Simplek dan virus
Varicella zoster. Asiklovir memiliki mekanisme kerja yakni dengan menghambat sintesis DNA
selektif terhadap interaksi dengan 2 protein yaitu HSV thymidine kinase & polymerase. Setelah
melalui berbagai proses reaksi dan interaksi enzimatik yang terjadi, terjadi suicide inactivation
(inaktivasi bunuh diri) dengan hal ini maka gabungan pelat DNA berisi acyclovir akan mengikat
polimer DNA virus dan mengarah pada inaktivasi yang tidak dapat dikembalikan (irreversible
inactivation). (Goodman & Gilman, 2008).
Dosis :
Pada infeksi herpes simpleks pada kulit, termasuk herpes genital dan herpes labialis,
pengobatan topikal dengan salep atau krim yang mengandung asiklovir 5% dapat diterapkan 5 atau 6
kali sehari untuk periode 5 sampai 10 hari, sebaiknya dimulai pada periode prodromal segera setelah
tanda atau gejala terjadi. (Sweetman,2017). Pada penggunaan sediaan topikal untuk meghitung
dosisnya digunakan menggunakan Finger Tip Unit (FTU).
2
IV. PREFORMULASI BAHAN AKTIF (Vydia Ayu Andiani/P17335119070, Zidan Akbar
R/P17335119072)
Struktur Kimia
(Pubchem Asiklovir)
Pemerian Serbuk hablur putih hingga hampir putih; melebur pada suhu lebih dari
250° disertai peruraian.
Kelarutan Larut dalam asam hidroklorida encer; sukar larut dalam air; tidak larut
dalam etanol.
3
Penyimpanan Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat, pada suhu
ruang, terlindung cahaya dan lembap.
PERMASALAHAN PENYELESAIAN
Asiklovir sukar larut dalam air (Farmakope Asiklovir dibuat dalam bentuk sediaan krim
Indonesia Ed. VI. 2020. hlm:223. Softcopy). yang digunakan secara topikal.
Asiklovir umumnya digunakan sebagai obat (Martindale, 38th, hlm 965, soft copy)
untuk infeksi karena Virus Herpes simplek dan
Virus Varicella Zoster. Asiklovir 5% umumnya
merupakan sediaan topical berupa krim.
(Martindale, 38th, hlm 964, soft copy)
Asiklovir memiliki BM 225,21 dimana Pada formulasi ditambahkan penetran
memenuhi syarat untuk sediaan topikal yaitu enhancer yaitu PPG dengan kadar yang
BM<500 (Farmakope Indonesia Ed. VI. 2020. digunakan adalah 20%, untuk meningkatkan
hlm:223. Softcopy). penetrasi obat pada kulit dan meningkatkan
Asiklovir memiliki logP -0,174 (Chemspider). kelembapan. Zat aktif pada sediaan ini masuk
Log-P yang baik untuk sediaan topikal adalah 1- melalui stratum korneum (Ansel’s 9th
4 (PMC, 2012). Edition, 2011, hlm:296. Softcopy).
Asiklovir dibutuhkan waktu kontak yang lama Krim asiklovir dibuat krim tipe air dalam
pada kulit dan tidak mudah tercucikan oleh air. minyak (a/m) (Jurnal Riset Kefarmasian. Vol 1
(Jurnal Riset Kefarmasian. Vol 1 No. 3, 2019). No. 3, 2019).
Sediaan akan dibuat dalam bentuk semisolid Pada formulasi sediaan ditambahkan basis
yaitu krim sehingga konsistensi sediaan tidak krim. Basis krim yang digunakan yaitu
boleh terlalu padat atau tidak boleh terlalu encer Paraffin Cair sebagai fase air, Cetostearyl
sehingga lebih nyaman saat digunakan. Alkohol dan Vaselin Flavum sebagai basis
semi padat fase minyak.
Asiklovir merupakan bahan obat dengan serbuk Pada formulasi ditambahkan levigating agent
hablur putih hingga hampir putih; dan sukar larut untuk membasahi serbuk dan menurunkan
dalam air (Farmakope Indonesia Ed. VI. 2020. sudut kontak. Levigating agent yang
hlm:223. Softcopy). digunakan adalah PPG 10% dengan kadar
yang diperbolehkan s/d 15% (HOPE 8 th ,2017,
hlm 826, softcopy)
variasi suhu penyimpanan obat (dari 20 ° C Pada proses pembuatan sediaan digunakan
hingga 45 ° C) memiliki efek yang dapat metode triturasi untuk mengantisipasi
diabaikan pada umur simpannya (42)., Hasil terdekomposisinya bahan aktif dan
TG/DTA mengungkapkan bahwa reaksi meningkatkan stabilitas.
dekomposisi termal untuk acyclovir dimulai
lebih dari 150 ° C setelah titik lelehnya. (AAPS
PharmSci Tech, 2013).
Pada metode triturasi yang digunakan untuk Pada metode triturasi bahan aktif
bahan aktif yang tidak tahan pemanasan ditambahkan kedalam basis krim yang tidak
(AAPS PharmSci Tech, 2013) dileburkan, dan pada perhitungan bahan
dilebihkan sebanyak 20%. (Farmakope
Indonesia [Link] hlm: 2017)
Dalam krim terdapat 2 fase yang tidak saling Pada formulasi sediaan digunakan emulgator
bercampur yaitu fase minyak dan fase air. yaitu setostearil alcohol dengan kadar yang
4
(Syamsuni 2006, hlm 74 hardcopy)
Bahan Metilselulosa
5
Rumus C29H54O16
Molekul
(Pubchem, Methylcellulose)
Titik Lebur Mulai berwarna coklat pada 190-200 dan mulai menjadi arang pada 225-
230 .
b. Cetostearyl Alkohol
Sinonim Alcohol cetylicus et stearylicus, cetearyl alcohol, cetyl stearyl alcohol; Crodacol
CS90; DUB SC 20D; Klooiwax CSA; Lanette O; Speziol C16-18 Pharma; Tego
Alkanol 1618; Tego Alkanol 6855.
6
Rumus C34H72O2
Molekul
(Pubchem, Cetostearyl Alkohol)
Titik Lebur -
Pemerian Massa, serpihan, pelet atau butiran yang tidak beraturan berwarna putih atau
krem. Memiliki bau manis khas yang samar. Pada pemanasan, Cetostearyl
alkohol meleleh menjadi cairan bening, tidak berwarna atau berwarna kuning
pucat yang bebas dari bahan tersuspensi.
Penyimpana Harus disimpan dalam wadah kedap udara, tempat kering dan terhindar dari
n cahaya.
c. BHT
7
(HOPE 8th ,2017, hlm 126, softcopy)
Rumus C15H24O
Molekul
(HOPE 8th ,2017, hlm 126, softcopy)
Titik Lebur 70
Penyimpanan Harus disimpan dalam wadah kedap udara, tempat kering dan terhindar dari
cahaya
(HOPE 8th ,2017, hlm 127, softcopy)
d. Propilenglikol
Bahan Propilenglikol
Stabilitas Pada suhu dingin propilen glikol stabil dalam wadah tertutup rapat, tetapi pada
suhu tinggi, di tempat terbuka cenderung teroksidasi sehingga menimbulkan
pruduk seperti propionaldehida, asam laktat, asam piruvat, dan asam asetid.
Saat dipanaskan hingga terurai, propilen glikol mengeluarkan asap tajam dan
asap beracun CO dan CO2. Propilen glikol secara kimia stabil bila dicampur
dengan etanol 95%, gliserin atau air harus disimpan diwadah tertutup baik,
terlindung dari cahaya ditempat dingin dan kering.
e. Paraffin Cair
Sinonim Avatech; Drakeol; heavy liquid petrolatum; heavy mineral oil; liquid
petrolatum; paraffin oil; paraffinum liquidum; sirius; white mineral oil.
Rumus -
Molekul
Titik Lebur >360
9
Pemerian Cairan berminyak transparan, tidak berwarna, kental, tanpa fluoresensi di siang
hari. Praktis hambar dan tidak berbau saat dingin, dan memiliki bau minyak
yang samar saat dipanaskan
f. Vaselin Flavum
Sinonim Merkur; mineral jelly; petroleum jelly; Pinnacle; Silk; Silkolene; Snow White;
Soft White; vaselinum flavum; yellow petrolatum; yellow petroleum jelly.
Rumus -
Molekul
Titik Lebur 38-60
10
Stabilitas Masalah stabilitas terjadi karena adanya sejumlah kecil kotoran. Dengan
paparan cahaya kotoran teroksidasi dan menghitamkan vaselin serta menjadi
tengik. Tidak boleh dipanaskan terlalu lama lebih dari 70 .
Warna : putuh
pH sediaan : 4,5-7,0
Kadar Sediaan : 5%
Volume Sediaan : 50 gram
Viskositas Sediaan: 400-500cPs
b. Fase minyak
1. Cetostearyl Alcohol = x 46,75 gram = 2,3 gram
12
a. Pedoman FTU :
Dewasa :
AREA ANATOMI FINGER TIP UNIT (FTU)
Wajah dan Leher 2,5 FTU
Tubuh Bagian Depan dan Belakang @ 7 FTU = 14 FTU
Lengan 3 FTU
Tangan (Kedua Sisi) 1 FTU
Kaki Bagian Atas 6 FTU
Kaki Bagian Bawah 2 FTU
(Topical Preparations Counselling Guide for Pharmacist, Jurnal CDK Vol. 42 2015, Adapted from Long and
Finaly)
Anak-Anak & Bayi
FTU
Area Anatomi
3-6 bulan 1-2 tahun 3-5 tahun 6-10 tahun
Wajah dan Leher 1 FTU 1,5 FTU 1,5 FTU 2 FTU
Lengan dan Tangan 1 FTU 1,5 FTU 2 FTU 2,5 FTU
Kaki Bagian Atas dan Bawah 1,5 FTU 2 FTU 3 FTU 4 FTU
Tubuh Bagian Depan 1 FTU 2 FTU 3 FTU 3,5 FTU
Tubuh Bagian Belakang dan Pantat 1,5 FTU 3 FTU 3,5 FTU 5 FTU
(Jurnal CDK Vol. 42 2015, Adapted from Long CC, Mills SM, Finally AY, BR J Dermatol 1998:138:293-6)
b. Perhitungan FTU
FTU Dewasa
Area Kulit Laki-Laki Dewasa Sehari Perempuan Dewasa Sehari
Wajah dan Leher 2,5 FTU× 0,5 g× 5= 6,25 g 2,5 FTU× 0,4 g× 5= 5 g
2,5 FTU× 0,5 g× 6= 7,5 g 2,5 FTU× 0,4 g× 6= 6 g
Tubuh Bagian Depan dan Belakang 14 FTU× 0,5 g× 5= 35 g 14 FTU× 0,4 g× 5= 28 g
14 FTU× 0,5 g× 6= 42 g 14 FTU× 0,4 g× 6= 33,6 g
Lengan 3 FTU× 0,5 g× 5= 7,5 g 3 FTU× 0,4 g× 5= 6 g
3 FTU× 0,5 g× 6= 9 g 3 FTU× 0,4 g× 6= 7,2 g
Tangan (Kedua Sisi) 1 FTU× 0,5 g× 5= 2,5 g 1 FTU× 0,4 g× 5 = 2 g
1 FTU× 0,5 g× 6= 3 g 1 FTU× 0,4 g× 6= 2,4 g
Kaki Bagian Atas 6 FTU× 0,5 g× 5= 15 g 6 FTU× 0,4 g× 5= 12 g
6 FTU× 0,5 g× 6= 18 g 6 FTU× 0,4 g× 6= 14,4 g
Kaki Bagian Bawah 2 FTU× 0,5 g× 5= 5 g 2 FTU× 0,4 g× 5= 2 g
2 FTU× 0,5 g× 6= 6 g 2 FTU× 0,4 g× 6= 2,8 g
FTU Anak-Anak & Bayi
FTU
Area Anatomi
3-6 bulan 1-2 tahun 3-5 tahun 6-10 tahun
2 FTU× 0,1667 g
1 FTU× 0,1667 g × 5 1,5 FTU× 0,1667 g × 5 1,5 FTU× 0,1667 g × 5
×5
Wajah Dan = 0,8335 g = 1,2503 g = 1,2503 g
= 1,667 g
Leher
2 FTU× 0,1250 g×
1 FTU× 0,1250 g × 5 1,5 FTU× 0,1250 g× 5 1,5 FTU× 0,1250 g× 5
5
= 0,625 g = 0,9375 g = 0,9375 g
= 1,25 g
2,5 FTU× 0,1667
1 FTU× 0,1667 g× 5 1,5 FTU× 0,1667 g× 5 2 FTU× 0,1667 g× 5
g× 5
Lengan dan = 0,8335 g = 1,2503 g = 1,667 g
= 2,0838 g
Tangan
2,5 FTU× 0,1250
1 FTU× 0,1250 g× 5 1,5 FTU× 0,1250 g× 5 2 FTU× 0,1250 g× 5
g× 5
= 0,625 g = 0,9375 g = 1,25 g
= 1,5625 g
13
4 FTU× 0,1667 g×
1,5 FTU× 0,1667 g× 5 2 FTU× 0,1667 g× 5 3 FTU× 0,1667 g× 5
Kaki Bagian 5
= 1,2503 g = 1,667 g = 2,5005 g
Atas dan = 3,334 g
Bawah 4 FTU× 0,1250 g ×
1,5 FTU× 0,1250 g × 5 2 FTU× 0,1250 g × 5 3 FTU× 0,1250 g × 5
5
= 0,9375 g = 1,25 g = 1,875 g
= 2,5 g
3,5 FTU× 0,1667
1 FTU× 0,1667 g× 5 2 FTU× 0,1667 g× 5 3 FTU× 0,1667 g× 5
g× 5
Tubuh Bagian = 0,8335 g = 1,667 g = 2,5005 g
= 2,9173 g
Depan
3,5 FTU× 0,1250
1 FTU× 0,1250 g× 5 2 FTU× 0,1250 g× 5 3 FTU× 0,1250 g× 5
g× 5
= 0,625 g = 1,25 g = 1,875 g
= 2,9173 g
5 FTU× 0,1667 g ×
1,5 FTU× 0,1667 g × 5 3 FTU× 0,1667 g × 5 3,5 FTU× 0,1667 g × 5
Tubuh Bagian 5
= 1,2503 g = 2,5005 g = 2,9173 g
Belakang dan = 4,1675 g
Pantat 5 FTU× 0,1250 g×
1,5 FTU× 0,1250 g× 5 3 FTU× 0,1250 g× 5 3,5 FTU× 0,1250 g× 5
5
= 0,9375 g = 1,875 g = 2,1875 g
= 3,125 g
AREA FTU
ANATOMI 3-6 bulan 1-2 tahun 3-5 tahun 6-10 tahun
2 FTU× 0,1667 g
1 FTU× 0,1667 g × 6 1,5 FTU× 0,1667 g × 6 1,5 FTU× 0,1667 g × 6
×6
Wajah dan = 1,0002 g = 1,5003 g = 1,5003 g
= 2,0004 g
Leher
2 FTU× 0,1250 g×
1 FTU× 0,1250 g × 6 1,5 FTU× 0,1250 g× 6 1,5 FTU× 0,1250 g× 6
6
= 0,75 g = 1,125 g = 1,125 g
= 1,5 g
2,5 FTU× 0,1667
1 FTU× 0,1667 g× 6 1,5 FTU× 0,1667 g× 6 2 FTU× 0,1667 g× 6
g× 6
Lengan dan = 1,0002 g = 1,5003 g = 2,0004 g
= 2,5005 g
Tangan
2,5 FTU× 0,1250
1 FTU× 0,1250 g× 6 1,5 FTU× 0,1250 g× 6 2 FTU× 0,1250 g× 6
g× 6
= 0,75 g = 1,125 g = 1,5 g
= 1,875 g
4 FTU× 0,1667 g×
1,5 FTU× 0,1667 g× 6 2 FTU× 0,1667 g× 6 3 FTU× 0,1667 g× 6
Kaki Bagian 6
= 1,5003 g = 2,0004 g = 3,0006 g
Atas dan = 4,0008 g
Bawah 4 FTU× 0,1250 g ×
1,5 FTU× 0,1250 g × 6 2 FTU× 0,1250 g × 6 3 FTU× 0,1250 g × 6
6
= 1,125 g = 1,5 g = 2,25 g
=3g
3,5 FTU× 0,1667
1 FTU× 0,1667 g× 6 2 FTU× 0,1667 g× 6 3 FTU× 0,1667 g× 6
g× 6
Tubuh Bagian = 1,0002 g = 2,0004 g = 3,0006 g
= 3,5007 g
Depan
3,5 FTU× 0,1250
1 FTU× 0,1250 g× 6 2 FTU× 0,1250 g× 6 3 FTU× 0,1250 g× 6
g× 6
= 0,75g = 1,5 g = 2,25 g
= 2,625 g
5 FTU× 0,1667 g ×
1,5 FTU× 0,1667 g× 6 3 FTU× 0,1667 g × 6 3,5 FTU× 0,1667 g × 6
Tubuh Bagian 6
= 1,5003 g = 3,0006 g = 3,5007 g
Belakang dan = 5,001 g
Pantat 5 FTU× 0,1250 g×
1,5 FTU× 0,1250 g× 6 3 FTU× 0,1250 g× 6 3,5 FTU× 0,1250 g× 6
6
= 1,125 g = 2,25 g = 2,625 g
= 3,75 g
14
XI. PROSEDUR PEMBUATAN (Salamah Salsabiila, P17335119065)
1. Alat dan bahan disiapkan.
2. Penimbangan Tube Krim
a. Masing-masing tube krim kosong diberi label
b. Dilakukan penimbangan masing-masing tube krim kosong dengan
menggunakan neraca analitik.
c. Dicatat hasil penimbangan yang didapat dari masing masing tube krim
kosong.
d. Tube krim siap digunakan.
3. Penimbangan Bahan
a. Ditimbang Asiklovir sebanyak 2,5 gram, diatas kertas perkamen menggunakan
neraca analitik (penimbangan secara langsung).
b. Ditimbang Cetostearyl Alcohol sebanyak 2,3 gram, diatas kertas perkamen
menggunakan neraca analitik (penimbangan secara langsung).
c. Ditimbang Parafin Cair sebanyak 4,6750 gram, menggunakan kaca arloji ditimbang
diatas neraca analitik (penimbangan secara tidak langsung).
d. Ditimbang Propilenglikol sebanyak 4,6750 gram, menggunakan cawan uap
ditimbang diatas neraca analitik (penimbangan secara tidak langsung).
e. Ditimbang Propilenglikol untuk Levigating agent sebanyak 5 gram, menggunakan
kaca arloji ditimbang diatas neraca analitik (penimbangan secara tidak langsung).
f. Ditimbang BHT sebanyak 0,0233 gram, diatas kertas perkamen menggunakan
neraca analitik (penimbangan secara langsung).
g. Ditimbang Vaselin Flavum sebanyak 35,0767 gram, diatas kertas perkamen
menggunakan neraca analitik (penimbangan secara langsung).
4. Pembuatan Krim
a. Dalam mortir I Asiklovir yang telah ditimbang sebanyak 2,5 gram digerus
ad halus, kemudian ditambahkan 5 gram Propilenglikol lalu gerus ad
homogen.
b. Dipanaskan mortir II dan stamper menggunakan air panas secukupnya
c. Sebagai fase air Propilenglikol sebanyak 4,6750 gram dalam cawan I
dipanaskan menggunakan waterbath pada suhu 80°C.
d. Sebagai fase minyak, 35,0767 gram vaselline flavum, 0,0233 grarm BHT,
4,6750 gram paraffin cair, dan 2,3 gram Cetostearyl alkohol dipanaskan
menggunakan waterbath pada suhu 70°C.
15
e. Fase air dalam cawan I yang telah dipanaskan dimasukan kedalam mortir II
yang telah dipanaskan dan dibuang air nya.
f. Ditambahkan Fase minyak dalam cawan II kedalam mortir II yang berisi
fase air, kemudian campuran digerus secara konstan sampai mortir dingin
dan terbentuk masa krim.
g. Ditimbang masa krim yang telah terbentuk sebanyak 42,5 gram
h. Hasil penimbangan masa krim dimasukan kedalam mortir I berisi bahan
aktif, lalu digerus ad homogen
i. Ditimbang krim yang sudah bercampur dengan bahan aktif masing-masing
seberat 5 gram
j. Kemudian dimasukan krim yang telah ditimbang kedalam tube krim kosong
dengan menggunakan spuit.
k. Dilakukan evaluasi sediaan krim.
l. Pada pengemasan, krim dalam tube dimasukan kedalam kemasan sekunder
disertai pemberian brosur dan etiket.
16
3. Penetapan Penetapan viskositas diukur 1 tube Viskositas sediaan
Viskositas dengan menggunakan pada rentang 400-500
(Farmakope viscometer stormer, diisi tabung cPas
Indonesia [Link] dengan sejumlah cairan
hlm: 2064) 20oC±0,1oC. Atur meniscus
(Fisika) pada tabung pengisi dan kapiler
agar cairan mengalir bebas
melewati tekanan atmosfer.
Catat waktu (dalam detik) yang
diperlukan untuk mengalir dari
batas bawah kapiler
4. Penentuan Tipe Sediaan krim diambil 1 Tube Jika warna biru dari
Krim secukupnya, kemudian metilen blue dapat
(Jurnal Riset diletakan pada dropplet plate. tercampur merata
Kefarmasian. Vol Ditambahkan 1 tetes indicator pada krim maka krim
1 No. 3, 2019). metilen blue tipe M/A
5. Homogenitas Dengan cara batang pengaduk 1 Tube Semua partikel harus
(Jurnal Riset dioleskan kedalam kaca arloji terlihat sama
Kefarmasian. Vol lalu diratakan dan dilihat ukuran
1 No.3, 2019). Partikelnya
6. Ukuran Globul Krim diletakan diatas kaca 1 Tube Ukuran diameter
(Jurnal Uji objek dan ditutup dengan gelas globul harus sama
Stabilitas Fisik penutup, kemudian diamati rata
Formula Krim menggunakan mikroskop
yang Mengandung dengan perbesaran 100 kali.
Ekstrak Kacang Terlebih dahulu dilakukan
Kedelai) penyesuaian skala, kemudian
diameter globul rata-rata dihitung
menggunakan rumus edmundson
7. Isi Minimum Ambil wadah berisi zat uji, 10 Tube Rata-rata isi bersih
(Farmakope hilangkan etiket. Bersihkan dan dari 10 wadah tidak
Indonesia [Link] keringkan bagian luar wadah kurang dari jumlah
hlm: 2017) dan timbang satu persatu. yang tertera pada
Keluarkan isi dari masing- etiket
masing wadah, hati-hati agar
tutup dan bagian wadah yang
sudah ditimbang tidak terpisah.
Keringkan dan timbang
kembali masing-masing wadah
kosong beserta bagian-
bagiannya yang telah ditimbang
pada penimbangan pertama.
Perbandingan antara kedua
penimbangan adalah bobot
bersih isi wadah
8. Uji Kebocoran Pilih tube sediaan lalu bersihkan 2 Tube Pengujian memenuhi
Tube dan keringkan. Letakan tube syarat jika tidak ada
(Farmakope pada posisi horizontal diatas satupun kebocoran
Indonesia [Link] lembaran kertas penyerap dalam dari setiap tube
hlm: 2119) oven dengan suhu yang diatur
pada 60o±3o selama 8 jam.
Tidak boleh terjadi kebocoran
yang berarti selama atau setelah
pengujian selesai.
17
9. Uji stabilitas krim Sampel krim disimpan pada 2 Tube Tidak terjadi
(Rieger M, 2000. suhu 4oC selama 24 jam lalu perubahan atau
Dalam jurnal Uji dipindahkan ke dalam oven pemisahan pada krim
Stabilitas Fisik bersuhu 40oC±2oC selama 24 selama penyimpanan
Formula Krim jam (satu siklus). Uji dilakukan
yang Mengandung sebanyak 6 siklus kemudian
Ekstrak Kacang diamati perubahan fisik yang
Kedelai) terjadi (apakah terjadi
pemisahan). Penyimpanan
sampel krim pada suhu tinggi
40oC±2oC selama 8 minggu,
kemudian dilakukan
Pengamatan
10. Uji daya sebar Kaca transparan diletakan di 1 Tube Kapasitas penyebaran
(Jurnal Riset atas kertas millimeter blok. harus 5-7 cm dan
Kefarmasian. Vol Pada kaca tersebut diletakan 0,5 kemampuan
1 No. 3, 2019). gram krim, kemudian di tutup penyebaran 10g/cm
dengan kaca transparan yang
lain dan dibiarkan selama 1
menit untuk mendapatkan
beberapa diameter penyebaran
yang terbentuk. Kemudian
dilanjutkan dengan
menambahkan bebasn diatas
kaca transparan (50, 100. Dan
150 gram) dan diamati diameter
penyebaran yang terbentuk.
Spesifikasi sediaan adalah krim
dapat menyebar dengan mudah
dan merata
11. Uji efektivitas Pengujian dapat dilakukan 5 Tube Angka lempeng total
Pengawet dalam tiap 5 wadah asli. Lima tidak lebih dari 1000
(Farmakope wadah bakteriologi tertutup koloni per g, dan
Indonesia [Link] steril. Inokulasi setiap wadah angka total kapang
hlm: 1826) dengan satu inokulasi baku yang dan khamir tidak
telah disiapkan. Tambahkan lebih dari 100
kadar mikroba uji pada sediaan koloni/g (FI [Link]
inokulasi wadah yang sudah halaman 131,
diinokulasi pada 22.5oC±2.5o. softcopy)
Ambil sampel pada setiap
wadah. Kadar mikroba uji
ditetapkan dengan angka
lempeng total
12. Identifikasi dan Dilakukan penetapan kadar 1 Tube Isi bersih dari 10
penetapan kadar dengan kromatografi cair wadah tidak kurang
(Farmakope kinerja tinggi dari 90-95% jumlah
Indonesia [Link] yang tertera pada
hlm: 224) Etiket
19
XIII. DAFTAR PUSTAKA (Tasya Novita, P17335119067)
Aaps pharmsci tech. Thermal Stability and Decomposition Kinetic Studies of
Acyclovir and Zidovudine Drug Compounds.
[Link] Diakses pada November
2020
Departemen Kesehatan RI. Dirjen POM. 2020. Farmakope Indonesia Jilid VI.
Jakarta:DepKes RI.
Dewi, Rosmala dkk. 2014. Jurnal Uji Stabilitas Fisik Formula Krim yang mengandung
Ekstrak Kacang Kedelai. Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. Depok.
Itaru Dekio & Eishin Morita .2011. The weight of a finger-tip unit of ointment in 5
gram tubes, Journal of Dermatological Treatment, 22:5, 302-303, DOI:
10.3109/09546631003797098
Karim Zulkarnain, Abdul, 2012, Activities of Yam Starch (Pachyrrizzus Erosus (L).
Urban) As Sunscreen In Mouse and The Effect Of Its Concentration To Viscosuty
Level. Journal Departement of Pharmaceutic; Yogyakarta
Long CC, Finlay AY. 1991. "The finger-tip unit-a new practical measure" dalam Clin
Exp Dermatol. 1991 16(6):444-7. doi: 10.1111/j1365-2230.1991.tb01232.x. PMID:
1806320.
Manjunatha K, Caroline M., dkk,.2007. The fingertip unit: A practical guide to topical
therapy in children, Journal of Dermatological Treatment, 18:5, 319-320, DOI:
10.1080/09546630701441723
National center for Biotechnology Information. Formaldehyde. PubChem Compound
Database. [Link] diakses
November 2020
National center for Biotechnology [Link] Alkohol. PubChem.
National center for Biotechnology [Link]. PubChem.
R. Hofer. 2012. Cetostearyl Alcohol. Journal Polymers for a Sustainable Environment
and Green energy
Rowe, Raymond C. 2017. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 8th edition.
London: Pharmaceutical Press.
Saryanti, Dwi. 2019. Jurnal Optimasi Sediaan Krim M/A Dari Ekstrak Kulit Pisang
Kepok. Vol. I NO.3. Departemen Teknologi Farmasi.
Sweetman, S,C., 2009. Martindale The Complete Drug Reference 36th Edition,
Pharmaceutical Press:New York
U.S. Pharmacopeia. 2007. The United States Pharmacopeia. USP 30/The National
Formulary. NF-25. Rockville. MD: U.S. Pharmacopeial Convention Inc
20
XIV. ETIKET, BROSUR DAN KEMASAN SEKUNDER (Tiara Azizah/P17335119068,
Vydia Ayu Andiani/P17335119070)
a. Etiket
b. Brosur
c. Kemasan
21
22