Emisi Gas Buang Rendah dengan Catalytic Converter
30 Mar 2019
Sistem pembuangan pada mesin mobil melewati berbagai tahapan atau proses. Di antaranya,
sistem kontrol yang akan dijadikan informasi untuk mengatur sistem injeksi bahan bakar.
Sensor oksigen pada catalytic converter inilah yang akan mengirimkan informasi kepada sistem
komputer yang terdapat di mesin untuk mengetahui berapa kadar oksigen pada sistem
pembuangan.
Sistem komputer pada mesin mobil akan meningkatkan atau menurunkan jumlah oksigen pada
sistem pembuangan sesuai dengan rasio udara dan bahan bakar. Skema pengaturan tersebut akan
mendukung sistem komputer pada mesin mobil bahwa oksigen yang dibutuhkan sesuai yang
dibutuhkan sistem pembuangan dan proses oksidasi katalis.
Catalytic converter memiliki peran penting terhadap proses mengurangi polusi. Hal ini terjadi
saat temperatur tinggi. Ketika suhu mobil dingin, maka catalytic converter tidak bisa mereduksi
polusi pada sistem pembuangan.
Problem tersebut telah di atasi dengan berbagai inovasi yang dilakukan pabrikan otomotif. Di
antaranya adalah meletakkan catalytic converter di dekat jok baris depan sehingga jaraknya
cukup jauh dengan mesin agar temperatur pada catalytic converter tetap teratur. Hal ini untuk
memastikan tidak terjadi hal buruk terhadap catalytic converter.
Varian Catalytic Converter
Catalytic converter memiliki dua varian berbeda terkait dengan proses katalis, yaitu mereduksi
katalisator dan proses oksidasi. Kedua varian ini terdiri dari material logam katalis, platinum,
rhodium, dan palladium.
Kedua varian tersebut di atas berhubungan dengan struktur pada permukaan area katalis pada
sistem pembuangan. Material yang mendukung proses katalis tersebut harganya relatif tinggi.
Tahapan pertama pada catalytic converter adalah mengurangi proses katalis. Platinum dan
rhodium yang ada pada catalytic converter akan mereduksi emisi.
Tahapan berikutnya platinum dan palladium mengoksidasi yang akan membuas gas buang untuk
keluar bersih.
Proses tersebut di atas akan mengurangi efek zat hidrokarbon dan karbonmomoksida. Mengacu
pada standar emisi rendah pada mobil sesuai Euro2, maka mobil keluaran 2007 ke atas telah
menggunakan catalytic converter. Manfaatnya langsung terasa dengan bersihnya gas buang dari
knalpot.
Ilustrasi pembakaran di mesin bensin ([Link])
[Link]-Sebelum membahas hasil pengujian emisi gas buang yang dilakukan [Link]
pada beberapa mobil dengan usia mulai dari 2 sampai 11 tahun, kita kenalan dulu sama namanya
emisi gas buang di mobil.
Emisi gas buang adalah sisa pembakaran yang terjadi di mesin pembakaran dalam alias internal
combustion engine.
Emisi gas buang ini dikeluarkan melalui knalpot alias exhaust system.
Dalam emisi gas buang ini terdapat sejumlah unsur kimia seperti air (H2O), karbon monoksida
(CO), karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), hidrokarbon (HC).
Senyawa kimia yang menjadi pencemar adalah CO, CO2, NOx, dan HC.
Asap Knalpot
Asap Knalpot (Auto Bild)
(Baca Juga: Euro 2 Vs Euro 4, Ini Perbedaan Standar Emisi Gas Buang)
Namun, yang menjadi fokus dalam pengujian emisi gas buang di Indonesia adalah CO dan HC.
Utamanya karena CO dan HC merupakan gas buang yang bersifat racun bagi manusia dan bisa
menimbulkan beberapa penyakit.
Hal ini bisa dilihat di Peraturan Menteri No. 05 Tahun 2006 tentang Ambang Batas Emisi Gas
Buang Kendaraan Bermotor Lama.
Di sana disebutkan bahwa ambang batas CO untuk mobil mesin bensin produksi di atas 2007
adalah 1,5% Vol.
Sementara untuk HC ambang batasnya 200 ppm.
Dua parameter ini pula yang dilihat dalam pengujian emisi gas buang yang dilakukan
[Link] pada beberapa mobil dengan usia mulai dari 2 sampai 11 tahun