100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
162 tayangan182 halaman

Analisa Tenaga Listrik dengan ETAP

"Bagus, sudah lengkap pengisian datanya. Sekarang coba lakukan analisis load flow untuk melihat apakah terdapat kesesuaian tegangan dan aliran daya antara komponen."

Diunggah oleh

Muhammad Fajar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
162 tayangan182 halaman

Analisa Tenaga Listrik dengan ETAP

"Bagus, sudah lengkap pengisian datanya. Sekarang coba lakukan analisis load flow untuk melihat apakah terdapat kesesuaian tegangan dan aliran daya antara komponen."

Diunggah oleh

Muhammad Fajar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Femi Grecia L.

Tobing
201711329
LAPORAN PRAKTIKUM
ANALISA TENAGA LISTRIK

Nama : Femi Grecia L. Tobing

NIM : 2017 – 11 – 329

Kelas :A

Jurusan : S1 Teknik Elektro

Tanggal Praktikum : 19 November 2020

26 November 2020

3 Desember 2020

10 Desember 2020

LABORATORIUM SISTEM TENAGA LISTRIK


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
JAKARTA
2020
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

BAB I
MODUL 1
DIAGRAM SALURAN TUNGGAL
(ONE LINE DIAGRAM)
I.1 Tujuan
1. Mempelajari fungsi ETAP dalam sistem tenaga listrik.
2. Dapat memahami cara pengoperasian program software ETAP.
3. Dapat menggambar diagram saluran tunggal sistem tenaga listrik dan setting beberapa
komponennya pada software ETAP
I.2 Alat dan perlengkapan
1. 1unit PC
2. Software ETAP

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Modul
Setiap komponen Sistem Tenaga Listrik dapat digambarkan dalam worksheet atau ruang kerja
program dengan lambang-lambang tertentu. Spesifikasi masing-masing komponen dapat
disesuaikan keadaan sebenarnya atau kondisi nyata di lapangan. Spesifikasi ini juga dapat dipilih
sesuai data umumnya yang dapat diambil dari library atau data yang ada pada program. Misalnya,
panjang dan ukuran kabel, kapasitas dan rating trafo, kapasitas dan tegangan beban dan lain-lain.
Simbol elemen listrik yang digunakan dalam analisa dengan menggunakan ETAP pun berbeda.

Beberapa elemen yang digunakan dalam suatu diagram saluran tunggal adalah:
1. Power Grid merupakan sumber tegangan yang ideal, artinya sumber tegangan yang mampu
mensuplai daya dengan tegangan tetap sekalipun daya yang diserap cukup besar. Power Grid
dapat berupa sebuah generator yang besar, atau sebuah Gardu Induk yang merupakan bagian
dari sebuah sistem tenaga listrik interkoneksi yang cukup besar

Gambar 1.2 Simbol Power Grid di ETAP


2. Transformator atau trafo adalah sebuah alat untuk menaikkan atau menurunkan tegangan
sistem. Spesifikasi yang pokok pada sebuah trafo adalah:
a. Kapasitas trafo yaitu daya maksimum yang dapat bekerja pada kapasitas trafo terus-
menerus tanpa mengakibatkan kerusakan.
b. Tegangan primer dan sekunder trafo.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
c. Impedansi trafo yang merupakan gabungan antara resistansi kawat dan reaktansi kumparan
trafo.
d. Tap trafo yang dapat digunakan untuk mengubah perbandingan antara kumparan primer
dengan kumparan sekunder dari perbandingan semula

Gambar 1.3 Simbol Transformator di ETAP


3. Busbar atau sering disingkat bus, yaitu tempat penyambungan beberapa komponen sistem
tenaga listrik (saluran transmisi, jaringan distribusi, Power Grid, beban atau generator). Level
tegangan bus disesuaikan dengan level tegangan yang dihubungkan dengan bus tersebut.

Gambar 1.4 Simbol Busbar di ETAP


4. Beban yaitu peralatan listrik yang memanfaatkan atau menyerap daya dari jaringan. Salah satu
jenis beban sistem tenaga listrik adalah Static load, merupakan beban yang tidak banyak
mengandung motor listrik, sehingga tidak banyak mempengaruhi tegangan sistem ketika start.
Spesifikasi yang pokok pada sebuah beban statis adalah kapasitas daya dan faktor daya atau cos
Ɵ.

Gambar 1.5 Simbol beban statis di ETAP


Selain komponen AC yang telah dijelaskan diatas, ETAP juga memiliki berbagai komponen DC
diantaranya : Inverter, DC cable, DC static load, Battery, Variable frequency drive, Uninterruptible
power supply, DC single throw switch, DC circuit breaker, dll. Yang tentunya memiliki fungsi nya
masing-masing dan dapat digunakan sesuai kebutuhan dari one line diagram

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB III
LANGKAH PERCOBAAN
Setting ETAP
Standard: IEC
Frequency: 50 Hz
Unit System: Metric
Pemodelan Sistem Tenaga pada ETAP
1. Dengan mengacu pada sistem tenaga listrik yang tergambar pada gambar s/d gambar,
gambarkan model one-line-diagram yang lengkap dari sistem tenaga listrik tersebut pada
software analysis sistem tenaga ETAP!
2. Dengan menggunakan data yang ada pada tabel s/d tabel , lengkapi data base dari peralatan
pada sistem tenaga listrik di atas!
3. Analisa data yang dapat langsung digunakan, dan data yang perlu dikonversi lebih lanjut! Amati
asumsi-asumsi yang diperlukan dalam pengisian data.
4. Susun rangkaian seperti gambar di bawah ini

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Gambar 2.1 Rangkaian Percobaan Membuat Single Line Diagram


Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Gambar 2.2 Network 1

Gambar 2.3 Network 2

Gambar 2.4 Cmtr1


Isi rating berdasarkan data yang telah ditentukan asisten :
A. Generator
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
MW kV PF Rating
Nama Mode Rating Rating (%) Imp / Model
PF
Gen 1 2 MW 13.8 85 Typical Data
Control
Mvar
Gen 2 3 MW 13.8 85 Typical Data
Control
Mvar
Gen 3 3 MW 13.8 85 Typical Data
Control
PF
Gen 4 3 MW 13.8 85 Typical Data
Control
Gen 1

Gen 2

Gen 3

Gen 4

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

B. Power Grid
MVAsc MVAsc
Nama (3-Phase) (1-Phase) X/R
U3 5 5 13
C. Transformator
Vp Vs Nilai Typical Prim. Sec.
Nama Grounding
(kV) (ks) MVA Data Grounding Grounding
T2 13.8 150 2 Z & X/R - - -
T3 13.8 150 1.5 Z & X/R - - -
T5 150 20 1.5 Z & X/R - - -
T6 150 20 3.75 Z & X/R - - -
T9 150 20 1 Z & X/R - - -
T10 150 20 2 Z & X/R - - -
T11 20 0.4 0.8 Z & X/R - - -
T12 20 0.4 0.85 Z & X/R - - -
Resistor 40 Resistor 40
T13 20 0.4 1.52 Z & X/R -
Ω Ω
T14 20 0.4 0.7 Z & X/R - - -
T15 20 0.4 0.11 Z & X/R - - -
T16 13.8 150 1.5 Z & X/R - - -
T17 13.8 150 1.75 Z & X/R - - -

D. Static Load
Nilai kVA
Nama % PF

Load 1 100 90
Load 2 145 80

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
E. Lumped Load
Load ID kVA kV % PF
Lump 1 150 20 85
Lump 2 300 20 85
Lump 3 275 20 70
Lump 4 150 20 85
Lump 5 120 0.4 85
Lump 6 370 0.4 85
Lump 7 150 20 90
Lump 8 500 0.4 85
Lump 9 450 0.4 85
Lump 10 300 0.4 90
Lump 11 150 0.4 95
Lump 12 100 0.4 90
Lump 13 220 0.4 90
Lump 14 330 0.4 85
Lump 15 450 20 85

F. Motor
Nama Motor kW kV % PF
Mtr 1 300 20 85
Mtr 2 250 20 85
Mtr 3 300 20 80
G. Transmission Line
Line 1; Line 6
Length : 5 km
Conductor Lib : Metric; 50 Hz; AAAC; Pirelli; KRYPTON 158 mm2
Impedance (User-Defined)
Line 2; Line 5
Length : 10 km
Conductor Lib : Metric; 50 Hz; AAAC; Pirelli; KRYPTON 158 mm2
Impedance (User-Defined)
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Line 1; Line 2; Line 5

Line 6

H. Cable
Length Size Unit Freq
Nama kV #C Insul Source Install
2
(m) (mm ) System (Hz)
Cable 1 30 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable 2 50 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable 3 10 400 Metric 50 1.0 3/C XLPE BS5467 Mag
Cable 4 20 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable 5 50 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable 6 10 400 Metric 50 1.0 3/C XLPE BS5467 Mag
Cable 7 10 400 Metric 50 1.0 3/C XLPE BS5467 Mag
Cable 8 10 400 Metric 50 1.0 3/C XLPE BS5467 Mag
Cable 9 40 400 Metric 50 1.0 4/C XLPE BS6724 Non-Mag
Cable 10 15 400 Metric 50 1.0 4/C XLPE BS6724 Non-Mag
Cable 11 15 400 Metric 50 1.0 4/C XLPE BS6724 Non-Mag
Cable 12 20 400 Metric 50 1.0 4/C XLPE BS6724 Non-Mag
Cable 13 20 400 Metric 50 1.0 3/C Rubber ICEA Non-Mag
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Cable 14 25 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable 15 300 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
I. DC Charger J. Battery
kVA: 100 Plates : 27
kV : 0.4 Capacity : 1465
Eff 100 #Of Cell : 120
kW 100 Rated Voc : 249.6
V 250 Total Capacity : 1465 AH

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Gambar Rangkaian

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
TEORI TAMBAHAN
Prinsip kerja dari sistem tenaga listrik di mulai dari bagian pembangkitan kemudian
disalurkan melalui sistem jaringan transmisi pada gardu induk dan dari gardu induk disalurkan serta
dibagi-bagi kepada pelanggan melalui saluran distribusi. Pada pembangkitan tenaga listrik terdapat
proses pengubahan sumber energi primer menjadi energi listrik. Masing- masing jenis pembangkit
tenaga listrik mempunyai prinsip kertja yang berbeda, sesuai dengan penggerak mulanya (prime
mover). Satu hal yang sama pada pembangkit tenaga listrik adalah semuanya berfungsi untuk
mengubah energi mekanik menjadi energi listrik dengan cara mengubah potensi energi mekanik
yang berasal dari air, uap, gas, panas bumi, nuklir, kombinasinya. Fluida yang berupa, uap, gas atau
air digunakan untuk menggerakan atau memutar turbin yang porosnya dikopel dengan generator,
sehingga sistem ini menghasilkan energi listrik [1].
Gardu induk adalah bagian dari suatu sistem tenaga yang dipusatkan pada suatu tempat berisi
saluran transmisi dan distribusi, perlengkapan hubung bagi, transformator, dan peralatan pengaman
serta peralatan kontrol. Gardu induk merupakan salah satu komponen utama dalam suatu proses
penyaluran tenaga listrik dari pembangkit ke konsumen (beban). Fungsi utama dari gardu induk
adalah untuk mengatur aliran daya listrik dari saluran transmisi yang satu kesaluran transmisi yang
lain, mendistribusikannya ke konsumen, sebagai tempat untuk menurunkan tegangan transmisi
menjadi tegangan distribusi, sebagai tempat kontrol dan pengaman operasi sistem[1].
Sistem transmisi dengan tegangan yang lebih tinggi akan menjadi jelas jika dilihat pada
kemampuan transmisi (capability) dari suatu saluran transmisi, kemampuan ini biasanya dinyatakan
dalam Mega Volt Ampere (MV A). Kemampuan transmisi dari saluran yang sama panjangnya
berubah-ubah kira-kira sebanding dengan kuadrat dari tegangan, kemampuan transmisi dari suatu
saluran dengan tegangan tertentu tidak dapat ditetapkan dengan pasti, karena kemampuan ini masih
tergantung lagi pada batasan-batasan (limit) termal dari penghantar, jatuh tegangan (voltage drop)
yang diperbolehkan, keandalan dan persyaratan-persyaratan kestabilan sistem, yaitu penjagaan
bahwa mesin-mesin pada sistem tersebut tetap berjalan serempak satu terhadap yang lain,
kebanyakan faktor-faktor ini masih tergantung juga terhadap panjangnya saluran [1].
Dengan mengasumsikan bahwa sistem tiga fasa dalam keadaan seimbang, penyelesaian
rangkaian dapat dikerjakan dengan menggunakan rangkaian 1 fasa dengan sebuah jalur netral
sebagai jalan balik. Seringkali dengan diasram semacam itu disederhanakan dengan mengabaikan
jalur netralnya dan menunjukkan bagian-bagian komponen dengan lambang standar sebagai ganti
rangkaian [Link] sistem tenaga listrik secara sederhana inidisebut diagram satu garis

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
(one line diagram). Pembuatan diagram segaris ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang
ringkas dari suatu sistem tenaga listrik. Lambang peralatan-peralatan yang biasadigunakan untuk
membuat diagram segaris dapat dilihat pada standar yang berlaku.[2]
Studi aliran daya adalah studi yang dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai aliran daya
atau tegangan sistem dalam kondisi operasi konstan. Informasi ini sangat dibutuhkan guna
mengevaluasi unjuk kerja sistem tenaga dan menganalisis kondisi pembangkitan maupun
pembebanan. Studi aliran daya merupakan penentuan atau perhitungan tegangan, arus, daya aktif
maupun daya reaktif yang terdapat pada berbagai titik jaringan listrik pada keadaan operasi normal,
baik yang sedang berjalan maupun yang diharapkan akan terjadi dimasa yang akan datang. Adapun
tujuan dari studi analisa aliran daya antara lain[3]:
1. Untuk mengetahui tegangan-tegangan pada setiap bus yang ada dalam sistem maupun sudut
fasa tegangan.
2. Untuk mengetahui daya aktif dan daya reaktif yang mengalir dalam setiap saluran yang ada
dalam sistem.
3. Untuk mengetahui kondisi dari semua peralatan, apakah memenuhi batas-batas yang ditentukan
untuk menyalurkan daya listrik yang diinginkan.
4. Untuk memperoleh kondisi mula pada perencanaan sistem yang baru.
5. Untuk memperoleh kondisi awal untuk studi-studi selanjutnya seperti: studi hubung singkat,
stabilitas, dan pembebanan ekonomis.
Terdapat 3 macam bus dalam hal ini setiap bus mempunyai empat besaran dengan dua besaran
diantaranya diketahui, yaitu:
1. Bus Referensi (slack bus). Adalah suatu bus yang selalu mempunyai besaran dan sudut fasa
yang tetap dan telah diberikan sebelumnya, pada bus ini berfungsi untuk mencatu rugi-rugi,
kekurangan daya yang ada pada jaringan, dalam hal ini penting karena kekurangan daya tidak
dapat dicapai kecuali terdapat suatu bus yang mempunyai daya tak terbatas sehingga dapat
mengimbangi rugi-rugi.
2. BUS PQ (bus beban). Pada tipe bus ini daya aktif dan daya reaktif diketahui, sedangkan dua
lainnya didapat dari hasil perhitungan.
3. BUS PV (bus pembangkit). Pada tipe bus ini, besar tegangan dan daya aktif telah ditentukan
sedangkan daya reaktif dan sudut fasa tegangan didapat dari hasil perhitungan.
Sistem tenaga listrik tidak hanya terdiri dari dua bus, melainkan terdiri beberapa bus yang akan
diinterkoneksikan satu sama lain. Daya listrik yang diinjeksikan oleh generator kepada salah satu

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
bus, bukan hanya dapat diserap oleh beban bus tersebut, melainkan dapat diserap oleh beban di bus
yang lain [3].
ANALISA

Praktikum modul 1 berjudul “Diagram Saluran Tunggal (One Line Diagram)”. Dalam one
line diagram harus meliputi one line diagram yang benar, konfigurasi jaringan, serta memiliki
komponen AC & DC. Syarat kebenaran dari suatu diagram, yaitu; logis dan sesuai kebutuhan,
mengikuti standard, efektif dalam memilih komponen. Berdasarkan praktikum modul 1 mengikuti
standar IEC (International Electrotechnical Commission). Drop voltage dapat diartikan sebagai
jatuh tegangan dimana merupakan selisih dari tegangan kirim dengan tegangan terima. Susut voltage
merupakan daya yang diserap tidak sesuai. Untuk pemilihan kabel terdapat 2 jenis, yaitu;
transmission line dan cable. Perbedaan dari transmission line dengan cable adalah, transmission line
digunakan untuk jarak yang jauh sedangkan cable digunakan untuk jarak yang dekat. One line
diagram dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu; one line diagram interkoneksi pembangkit, one line
diagram penyulang, dan one line diagram beban.
Konfigurasi jaringan diklasifikasikan menjadi 4, yaitu; konfigurasi radial dimana konfigurasi
ini merupakan sisem distribusi yang paling sederhana serta ekonomis, konfigurasi loop, konfigurasi
spindle yang merupakan suatu pola kombinasi jaringan dari pola radial dan ring, dan konfigurasi tie
line dimana pelanggan yang masuk dalam kategori penting pasokan listriknya tidak boleh padam
(stand by) seperti di airport, rumah sakit, dan sebagainya.
Komponen AC & DC yang harus ada pada one line diagram, yaitu; proteksi dimana proteksi
yang digunakan haruslan andal, protektif, serta sensitive, kemudian ada pembangkit dimana dapat
dibagi menjadi dua yaitu dapat menggunakan generator atau power grid, lalu ada beban yang
dimana terdapat 3 jenis beban yaitu static load, lumped load, dan motor, lalu terdapat composite
network dan motor, lalu adanya system penyaluran maupun menggunakan transmission line ataupun
cable, kemudian adanya pengisian data dimana kita dapat menginput data yang akan diaplikasikan.
Digunakannya composite network adalah untuk pengaplikasian dari tegangan dan dapat mengisi
komponen apa saja. Perbedaan static load dengan lumped load adalah, pada static load hanya
mengandung beban statis saja sedangkan pada lumped load mengandung beban statis dan beban
motor.
Tujuan praktikum dari modul 1 ini adalah praktikan mampu mempelajari fungsi ETAP
dalam sistem tenaga listrik, praktikan dapat memahami cara pengoperasian program software ETAP,
serta praktikan dapat menggambar diagram saluran tunggal sistem tenaga listrik dan setting
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
beberapa komponennya pada software ETAP. Dimana praktikum ini juga berfungsi agar dapat
mengetahui apa yang terjadi pada rangkaian, apakah daya dapat mengalir dari pembangkit (sumber
listrik) ke beban. Kita juga dapat mengetahui apakan daya yang dihasilkan sesuai dengan daya yang
diserap oleh beban. Analisa aliran daya dapat dikatakan menjadi dasar, dikarenakan tanpa
melakukan analisa aliran daya maka tidak dapat menganalisa yang lainnya.
Pada rangkaian terdapat 4 generator dengan mode yang berbeda, pada aplikasi etap generator
memiliki 4 mode. voltage control, mvar control, pf control, dan mode swing. Mode swing pada
generator merupakan salah satu hal yang penting, generator dengan mode swing berperan sebagai
acuan terhadap parameter daya. Ketika beban sedang kekurangan daya aktif atau daya reaktif, maka
yang pertama kali akan bekerja adalah generator swing sebagai back up untuk memenuhi kebutuhan
beban. Bila tidak terdapat generator swing pada rangkaian, maka running load flow tidak dapat
dilakukan. Salah satu contoh generator swing adalah generator yang memiliki ramping rate yang
tinggi. Ramping rate adalah kemampuan pembangkit untuk merespon adanya beban yang berubah
secara cepat. Ramping rate dapat diklasifikasikan menjadi 2 berdasarkan responnya, yaoti respon
cepat dan respon lambat. Pada ramping rate respon cepat terdapat pada PLTD, PLTG, PLTA atay
generator yang melayani beban puncak. Sedangkan untuk ramping rate dengan respon yang lambat
adalah PLTU, karena PLTU membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan daya. Walaupun
begitu, PLTU memiliki nilai efisiensi yang tinggi diantara pembangkit yang lain, dan fungsinya di
dalam sistem tenaga listrik adalah sebagai pembangkit yang menanggung beban dasar (base load).
Pada rangkaian terdaoat power grid yang merupakan suatu sistem atau jaringan tegangan
listrik yang didalamnya terdapat transmisi dan distribusi. Power grid merupakan sebuah jaringan
tegangan listrik yang saling terinkoneksi dan dapat menghasilkan daya ideal. Walaupun nilai
MVAsc pada power grid 0, namun akan tetap menghasilkan daya. Power grid menghasilkan listrik
secara terus menerus, dan mampu mem-back up dan tidak terdapat limitasi terharap daya yang harus
di supply. Kepanjangan MVAsc adalah MVA short circuit, ketika nilai semua di short circuitkan
daya yang dapat dihasilkan sebesar n MVAsc. Perbedaan transmission line dengan cable adalah
pada transmission line tidak terdapat isolator, sedangkan pada cable memiliki isolator. Pada cable
digunakan isolator dikarenakan pemasangan kabel berada dekat dengan beban (konsumen). Apabila
kabel tidak memiliki isolator maka gangguan short circuit dapat terjadi bila terkena pohon.
Alur sistem tenaga listrik, dimulai dari daerah pembangkit sampai pada sisi primer trafo.
Kemudian ke saluran tranmisi lalu ke distribusi 20kv lalu berakhir di jaringan tegangan rendah
(beban 0,4kV). Dari generator ke bus 1 mengalir daya 1500kW dan 493kVar, lalu masuk ke trafo.
Saat keluar dari trafo daya berkurang. Daya berkurag dikarenakan dalam trafo terdapat kumparan
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
yang terjadi rugi-rugi. Rugi-rugi yang terdapat pada trafo afalah hysteresis, eddy current, copper
losses.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
KESIMPULAN
Alur sistem tenaga listrik, dimulai dari daerah pembangkit sampai pada sisi primer trafo. Kemudian
ke saluran tranmisi lalu ke distribusi 20kv lalu berakhir di jaringan tegangan rendah (beban 0,4kV).
Generator swing berperan sebagai acuan terhadap parameter daya. Ketika beban membutuhkan daya
reaktif atar daya aktid generator swing dapat menjadi acuan atau back up.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
REPORT

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
TUGAS AKHIR
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, Buatlah Single Line Diagram dari pembangkitan ke
saluran transmisi lalu ke saluran distribusi ke beban dengan komponen lengkap serta terdapat Min
20 Bus!

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
PERTANYAAN
1. Pada rangkaian yang Anda buat, konfigurasi rangkaian apa yang Anda pakai? Dan berikan
alasan Anda memakai konfigurasi itu!
2. Pada rangkaian yang Anda buat, mode generator apa yang dipakai? Jelaskan definisi mode
operasi generator swing, voltage control, Mvar control, dan PF control!
3. Pada rangkaian yang Anda buat, jenis saluran apa saja yang Anda pakai? Dan berikan
alasannya!

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB I
MODUL II
ANALISA ALIRAN DAYA (LOAD FLOW ANALYSIS)
1.1 Tujuan
1. Mempelajari konsep aliran daya dalam sistem tenaga listrik.
2. Menganalisa masalah-masalah aliran daya pada sistem tenaga listrik
1.2 Alat dan Perlengkapan
1. 1unit PC
2. Software ETAP

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Modul
Analisa aliran daya merupakan studi dasar dalam menganalisa suatu sistem Tenaga Listrik,
baik untuk perencanaan maupun operasi. Studi aliran daya menghitung tegangan arus, daya aktif,
daya reaktif dan faktor daya pada suatu sistem tenaga. Perencanaan, pendesainan dan pengoperasian
sistem tenaga membutuhkan perhitungan-perhitungan tersebut untuk menganalisis performansi
sistem pada kondisi mantap pada berbagai macam kondisi operasi.
Pada praktikum ini, solusi aliran daya diperoleh dengan menggunakan program komputer
khusus untuk keperluan ini (pada praktikum ini digunakan ETAP, untuk mengerti detail formula
perhitungan aliran daya, praktikan disarankan untuk membaca buku teks mengenai analisis sistem
tenaga). Permasalahan mendasar yang dipecahkan dengan studi aliran daya ini adalah menemukan
aliran daya pada setial saluran dan tansformator di jaringan, serta besar tegangan dan sudut phasa
pada setiap busbar di jaringan, setelah data konsumsi daya pada titik-titik beban dan produksi daya
pada sisi generator diketahui.
Secara umum tujuan analisa aliran daya adalah:
1. Untuk memeriksa tegangan dan sudut fasa masing-masing bus.
2. Untuk memeriksa kemampuan semua peralatan yang ada dalam sistem apakah cukup besar
untuk menyalurkan daya yang diinginkan.
3. Untuk memperoleh kondisi awal bagi studi-studi selanjutnya, yakni studi hubung singkat, studi
rugi-rugi transmisi, studi analisa aliran daya harmonisa dan studi stabilitas.
Ada 3 macam bus dalam hal ini setiap bus mempunyai empat besaran dengan dua besaran
diantaranya diketahui yakni:
 BUS REFERENSI (slack bus). Bus ini berfungsi untuk mensuplai kekurangan daya aktif (P) dan
daya reaktif (Q) dalam sistem. Parameter atau besaran yang di tentukan adalah tegangan (V) dan
sudut fasa (δ). Setiap sistem tenaga listrik hanya terdapat 1 bus referensi, yaitu bus yang
didalamnya terdapat pembangkit atau generator yang memiliki kapasitas terbesar di antara
pembangkit yang lain didalam sistem.
 BUS PQ (bus beban). Bus ini adalah bus yang terhubung dengan beban sistem. Parameter atau
besaran yang ditentukan adalah daya aktif (P) dan daya reaktif (Q), maka bus ini di sebut juga PQ
bus.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
 BUS PV (bus pembangkit). Bus ini merupakan bus yang tegangannya dapat dikontrol melalui
pengaturan daya reaktif agar tegangannnya tetap. Parameter atau besaran yang diketahui adalah
daya aktif (P) dan tegangan (V). Bus ini dinamakan PV bus.
Pada tiap-tiap bus terdapat 4 besaran, yaitu :
1. Daya real atau daya aktif P
2. Daya reaktif Q
3. Harga skalar tegangan |V|
4. Sudut fasa tegangan q
Tabel Besaran Yang Diketahui dan Dihitung Pada Bus
Besaran

Diketahui Dihitung
Jenis Bus
Slack/Swing V, P,Q

Beban P,Q V,

Generator V, P Q,

Untuk melakukan kalkulasi aliran daya, terdapat 3 metode yang biasa digunakan:
1. Accelerated Gauss – Seidel Method
a. Hanya butuh sedikit nilai masukan, tetapi lambat dalam kecepatan perhitungan.

2. Newton Rapson Method


a. Cepat dalam perhitungan tetapi membutuhkan banyak nilai masukan dan parameter.

b. First Order Derivative digunakan untuk mempercepat perhitungan.

Metode Newton-Raphson dikembangkan dari Deret Taylor dengan mengabaikan


derivative pertama fungsi dengan satu variabel dari persamaan Deret Taylor berikut
ini [2].

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

3. Fast Decoupled Method

a. Dua set persamaan iterasi, antara sudut tegangan, daya reaktif dengan magnitude tegangan.

b. Cepat dalam perhitungan namun kurang presisi.

c. Baik untuk sistem radial dan sistem dengan jalur panjang.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB I

SUB MODUL II.1

PEMASANGAN CAPACITOR DAN TAP CHANGER UNTUK PERBAIKAN TEGANGAN

1.1 Tujuan

1. Menganalisa sistem transmisi dan distribusi yang terjadi jatuh tegangan di bawah standar.

2. Memperbaiki jatuh tegangan dengan pemasangan tap changer pada transfomator.

1.2 Alat dan Perlengkapan

1. 1unit PC
2. Software ETAP

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Modul

II.1.1 Kapasitor Bank

Fungsi dari kapasitor bank yang tersedia dalam bentuk tunggal unit maupun dalam bentuk grup
adalah sebagai pensuply kilovars dengan faktor daya tertinggal kepada suatu system dimana
kapasitor tersebut dihubungkan. Kapasitor bank yang dipasang pada ujung beban dari sirkuit
mensuplai beban dengan faktor daya tertinggal, mempunyai beberapa efek, yaitu;

a. Mengurangi komponen rangkaian arus yang tertinggal

b. Menaikkan level tegangan pada beban

c. Memperbaiki regulasi tegangan

d. Meningkatkan faktor daya.

Permasalahan yang sering dijumpai dalam system transmisi tenaga listrik maupun system distribusi
ialah terjadinya Jatuh Tegangan sistem yang di bawah standar. Standar yang digunakan biasanya
untuk overvoltage +5% dan untuk undervoltage -10%. Jatuh terjadi pada saluran yang sangat
panjang karena impedansi salurannya akan terus bertambah besar. Ini berbahaya jika beban yang
diampunya adalah beban dinamis seperti motor yang tegangannya harus stabil dan bagus. Jika beban
residensial maka indikasinya adalah redupnya cahaya lampu. Dalam penyaluran daya listrik
diusahakan supaya tidak terjadi drop dengan cara tapping transformator. Jatuh tegangan ditimbulkan
karena adanya resistansi pada penghantar, besar arus pada tiap fasa.

 Jatuh Tegangan dirumuskan dengan :

Dimana :

∆V = Jatuh Tegangan (Volt).

Vs = Tegangan kirim (Volt).

Vr = Tegangan terima (Volt).

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
 Persentase (%) Jatuh tegangan

Dimana :
∆V(%) = Jatuh Tegangan dalam % (Volt).
Vs = Tegangan kirim (Volt).
Vr = Tegangan terima (Volt).
Jatuh Tegangan juga dirumuskan dengan :

Dimana :
Vd = Drop Voltage (V)
I = Arus (A)
Z = Impedansi (Ohm)
R = Hambatan (Ohm)
Dengan adanya drop voltage maka akan mempengaruhi besar daya yang diterima dan terjadi
rugi-rugi daya (Ploses) yang dirumuskan dengan

Dimana :
Ploses : Rugi-rugi daya (W)
R = Hambatan (Ohm)
I = Arus (A)

II.1.2 Tap Changer

Tap changer adalah alat perubah perbandingan transformasi untuk mendapatkan tegangan operasi
sekunder yang lebih baik (diinginkan) dari tegangan jaringan / primer yang berubah- ubah. Untuk
memenuhi kualitas tegangan pelayanan sesuai kebutuhan konsumen (PLN Distribusi), tegangan
keluaran (sekunder) transformator harus dapat dirubah sesuai keinginan. Untuk memenuhi hal
tersebut, maka pada salah satu atau pada kedua sisi belitan transformator dibuat tap (penyadap)
untuk merubah perbandingan transformasi (rasio) trafo. Ada dua cara mengubah Tap Changer
yaitu :
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
1. Mengubah tap dalam keadaan trafo tanpa beban. Tap changer yang hanya bisa beroperasi untuk
memindahkan tap transformator dalam keadaan transformator tidak berbeban, disebut “Off
Load Tap Changer” dan hanya dapat dioperasikan manual.

2. Mengubah tap dalam keadaan trafo berbeban. Tap changer yang dapat beroperasi untuk
memindahkan tap transformator, dalam keadaan transformator berbeban, disebut “On Load Tap
Changer (OLTC)” dan dapat dioperasikan secara manual atau otomatis.

Transformator yang terpasang di gardu induk pada umumnya menggunakan tap changer yang
dapat dioperasikan dalam keadaan trafo berbeban dan dipasang di sisi primer. Sedangkan
transformator penaik tegangan di pembangkit atau pada trafo kapasitas kecil, umumnya
menggunakan tap changer yang dioperasikan hanya pada saat trafo tenaga tanpa beban.

OLTC terdiri dari:

1. Selector Switch

2. Diverter Swtich

3. Transisi Resistor

Untuk mengisolasi dari bodi trafo (tanah) dan meredam panas pada saat proses perpindahan tap,
maka OLTC direndam di dalam minyak isolasi yang biasanya terpisah dengan minyak isolasi utama
trafo (ada beberapa trafo yang compartemennya menjadi satu dengan main tank). Karena pada
proses perpindahan hubungan tap di dalam minyak terjadi fenomena elektris, mekanis, kimia dan
panas, maka minyak isolasi OLTC kualitasnya akan cepat menurun. tergantung dari jumlah kerjanya
dan adanya kelainan di dalam OLTC.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB I

SUB MODUL II.2

CAPACITOR PLACEMENT UNTUK PERBAIKAN FAKTOR DAYA

1.1 Tujuan

1. Menganalisa sistem tenaga listrik yang factor daya di bawah standar

2. Memperbaiki factor daya dengan pemasangan kapasitor

1.2 Alat dan Perlengkapan

1. 1unit PC
2. Software ETAP

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Modul

II.1.1. Faktor Daya

Faktor daya merupakan perbandingan antara daya aktif (P) dengan magnitude dari daya semu (|S|).
Faktor daya hanya akan ada pada arus bolak-balik (AC). Faktor daya pada arus bolak-balik (AC)
bernilai mulai dari 0 sampai 1. Pada beban resistif faktor daya akan bernilai 1 dan pada beban
induktif faktor daya akan bernilai 0. Faktor daya juga dapat didefinisikan sebagai nilai cosinus dari
sudut antara daya aktif (P) dan daya semu (S) pada segitiga daya. Faktor daya bisa dilambangkan
dengan PF (power factor). Untuk persamaan dari faktor daya adalah sebagai berikut:

Maka berdasarkan pers. 2.1 dapat ditentukan sudut dari faktor daya dengan persamaan :

II.1.2 Segitiga Daya

Segitiga daya merupakan sebuah segitiga siku-siku yang merepresentasikan tiga buah daya pada
sistem arus bolak-balik (AC) yaitu daya aktif (P), daya reaktif (Q), dan daya semu (S). Segitiga daya
ini digunakan juga untuk mempermudah perhitungan dalam menentukan besaran-besaran yang
berkaitan dengan daya-daya tersebut yang terlihat seperti Gambar 2c.1 di bawah

Daya semu (S) merupakan daya yang belum sampai ke beban atau bisa didefinisikan juga sebagai
penjulamlahan vektor antara daya aktif (P) dan daya reaktif (Q) dengan persamaan sebagai berikut :

Daya aktif (P) merupakan daya yang diserap oleh beban yang bersifat resistif dengan persamaan
sebagai berikut :

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Berdasarkan (pers 2.3) maka didapat :

Daya reaktif (Q) merupakan daya yang diserap atau disuplai oleh beban yang bersifat induktif atau
kapasitif dengan persamaan sebagai berikut:

Berdasarkan (pers. 2.3) maka didapat :

Dari (pers. 2.5) dan (pers 2.7) jika dibandingkan maka akan didapat :

II.1.3 Capacitor Bank

Kapasitor bank merupakan sekelompok kapasitor dari rating yang sama yang terhubung secara seri
atau paralel satu sama lain untuk menyimpan energi listrik. Energi dalam bentuk suplai daya reaktif
yang dihasilkan kemudian digunakan untuk mengoreksi faktor daya lagging atau pergeseran fasa
dalam sistem bolak-balik (AC). Kapasitor bank juga dapat digunakan dalam sistem arus searah (DC)
untuk meningkatkan kapasitas arus riak dari sumber atau untuk meningkatkan jumlah keseluruhan
energi yang tersimpan.

Gambar di atas merupakan segitiga daya dari suatu sistem yang mensuplai daya pada sebuah beban.
Terlihat bahwa bebannya adalah beban induktif yang menyerap daya reaktif karena Q1 mengarah ke
atas yang menunjukkan positif. Berdasarkan Gambar dapat diurakan menjadi kondisi awal (sebelum
pemasangan kapasitor) dan kondisi akhir (setelah pemasangan kapasitor). Kodisi awal :

Sudut = Ø1 Daya Aktif = P

Daya Semua = SDaya Reaktif = Q1


Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Setelah pemasangan kapasitor bank sebesar QC maka didapat :

Kodisi akhir:

Sudut = Ø2 Daya Semu = S2

Daya Aktif = P Daya Reaktif = Q2

Dari Gambar dan kondisi yang diuraikan diatas terlihat bahwa setelah pemasangan kapasitor bank
ada beberapa besaran dari sistem yang berubah nilainya, yaitu sudut antara daya aktif (P) dan daya
semu (S), daya reaktif (Q), dan daya semu (S). Daya aktif (P) tidak berubah karena kapasitor bank
hanya mengkompensasi daya reaktif (Q) saja. Sudut awal ( 1) yang awalnya besar yang
mengakibatkan faktor daya rendah setelah dipasang kapasitor bank sudut akhirnya ( 2) menjadi lebih
kecil yang mengakibatkan faktor daya meningkat. Seperti itulah kapasitor bank memperbaiki faktor
daya sistem.

II.1.4 Perbaikan PF

Berdasarkan yang terlihat pada Gambar (2d.1) maka Qc merupakan daya reaktif yang disuplai oleh
kapasitor bank untuk memperkecil besar sudut antara daya aktif (P) dan daya semu (S) sehingga
faktor daya menjadi meningkat yang ditunjukkan pada persamaan di bawah:

Pada Gambar (2d.1) terlihat pula bahwa setelah pemasangan kapasitor bank tidak merubah (tetap)
besar daya aktif yang disuplai oleh sistem. Sehingga berdasarkan (pers. 2.8) maka :

Karena pemasangan kapasitor bank tidak mempengaruhi besar daya aktif yang disuplai oleh sistem
maka P1 sama dengan P2. Sehingga persamaan yang didapat :

Kemudian berdasarkan (pers. 2.11) maka :

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Perlu diketahui bahwa persamaan diatas untu kapastior bank yang terpasang pada sistem tiga fasa
maka QC yang dihasilkan dari (pers. 2.12) adalah daya reaktif tiga fasa yang disuplai oleh kapasitor
bank. Untuk mendapatkan kapasitansi dari kapasitor bank dengan persamaan :

Kemudian untuk mengetahui kapasitansi dari masing-masing kapasitor bank atau kapasitansi
kapasitor bank tiap fasanya perlu dibagi tiga dengan persamaan :

Perlu diketahui juga pada kenyataanya kapasitor bank yang tersedia di pasaran tidak dalam satuan
Farad melainkan kVAr.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB III

LANGKAH PERCOBAAN
1. Gambarkan model one-line-diagram lanjutan dari modul I pada software analysis sistem tenaga
ETAP

Gambar 2.1 Rangkaian Percobaan Membuat Single Line Diagram


Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Gambar 2.2 Network 1

Gambar 2.3 Network 2

Gambar 2.4 Cmtr1

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
2. Isi rating berdasarkan data pada table di bawah ini
A. Transformator
Vp Nilai Typical Prim. Sec.
Nama Vs (ks) Grounding
(kV) MVA Data Grounding Grounding
T4 20 0.4 1.3 Z & X/R - - -

B. Static Load
Nilai
Nama % PF
kVA

Load 3 200 100

C. Lumped Load
Load ID kVA kV % PF

Lump 17 200 0.4 85

Lump 18 200 0.4 85

Lump 22 200 0.4 85

D. Motor
Nama Motor kW kV % PF
Mtr 5 300 20 70

E. Cable
Length Size Unit Freq
Nama kV #C Insul Source Install
(m) (mm2) System (Hz)
Cable 17 100 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable 18 50 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable 19 100 240 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
3. Klik menu , ke udian klik study case akan tampil seperti dibawah ini: klik alert, untuk

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
mensetting batas kritis dan marginal system sesuai standard. Pada critical under voltage diganti
standardnya menjadi 95%

4. Running Load Flow dan amati warna bus:


Jika bus berwarna merah artinya level tegangan dalam kondisi kritis. Jika bus berwarna pink
artinya level tegangan dalam kondisi marginal Jika bus berwarna hitam artinya level tegangan
sesuai standard
5. Lakukan perbaikan tegangan pada BUS dengan cara mengubah tap changer pada Trafo yang
berhubungan dengan BUS terkait yang terjadi jatuh tegangan dengan indikasi busbar warna pink.

6. Catat perubahan nilai sebelum di tap pada table pengamatan

7. Lakukan perbaikan tegangan pada BUS yang berwarna merah dengan pemasangan kapasitor

8. Klik optimal capacitor placement

9. Edit study case

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
10. Pilih bus yang akan dipasang kapasitor, klik add>

11. Pada gambar diatas juga tersedia table data kapasitor yang mencakup level tegangan maksmium,
kapasitas, jumlah kapsitor bank, harga dan biaya operasi.

12. Klik OK
13. Run optimal capasitor placement secara otomatis etap akan mengkalkulasikan kapasitas dan
banyaknya kapasitor minimal yang dibutuhkan untuk memperbaiki level tegangan system.

14. Running Load Flow, lalu amati factor daya.

15. Catat datanya pada table pengamatan.

16. Pasang capasitor seperti dibawah ini

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

17. Running Load Flow kembali dan catat perubahan factor dayanya.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
GAMBAR RANGKAIAN

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
TEORI TAMBAHAN

1. Aliran Daya

Studi aliran beban atau load flow study sering kali juga disebut studi aliran daya adalah suatu
studi yang mempelajari aliran daya pada suatu sistem kelistrikan dari suatu titik ke titik lain dan
tegangan pada bus-bus yang berada pada sistem tersebut. Studi aliran beban merupakan penentuan
atau perhitungan tegangan, arus, daya aktif, faktor daya dan daya reaktif yang terdapat pada
berbagai titik dalam suatu jaringan sistem tenaga listrik pada keadaan pengoperasian normal, baik
yang sedang berjalan maupun yang diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang (William D.
Stevenson, Jr., 1994:6). Studi analisis aliran beban dapat dihitung secara manual maupun
menggunakan software computer.

Tujuan dari studi aliran daya, yaitu:

a) Untuk mengetahui komponen jaringan sistem tenaga listrik pada umumnya.

b) Mengetahui besarnya tegangan pada setiap bus (rel) dari suatu sistem tenaga listrik.

c) Menghitung aliran-aliran daya, baik daya nyata maupun daya reaktif yang mengalir dalam
setiap saluran.

d) Kerugian-kerugian sistem yang optimal.

e) Perbaikan dan pergantian ukuran konduktor dan tegangan sistem.

Dalam Studi Aliran Daya dikenal berbagai Bus, yaitu :

1. Bus referensi (slack bus atau swing bus)


Slack bus berfungsi untuk mencatu rugi-rugi dan kekurangan daya aktif dan reaktif pada
jaringan. Karena itu bus yang biasa digunakan adalah bus yang berdaya besar, dimana tegangan
dan sudut fasanya diketahui.
a)  Terhubung dengan generator.
b)  V dan sudut fasa dari generator diketahui dan tetap.
c)  P dan Q dihitung.
2. Generator bus (bus pembangkitan) atau (P-V bus)
Generator bus atau Voltage Generator bus berfungsi tidak hanya untuk pengontrol tegangan
akan tetapi juga dapat menambah daya dalam sistem karena bus ini paling kurang terkoneksi
dengan 1 buah generator.
a) Terhubung dengan generator.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
b) P dan V dari generator diketahui dan tetap.
c) Sudut fasa dan Q dari daya reaktif generator dihitung.
3. Bus pembebanan (P-Q bus)
Bus pembebanan atau yang biasa juga disebut sebagai Load bus adalah bus beban yang
memiliki besaran nilai daya aktif (P) dan daya reaktif (Q) yang diketahui. Pada bus ini tidak ada
generator yang terkoneksi melainkan hanya terkoneksi dengan beban saja.
a)  Terhubung dengan beban.
b)  P dan Q dari beban diketahui dan tetap.
c)  V dan sudut fasa tegangan di hitung.

Besaran di setiap bus dalam studi aliran daya yaitu :

a) Daya real atau dya aktif / P (watt)

b) Daya reaktif / Q (var)

c) Tegangan / V (volt)

d) Sudut fasa tegangan

Sistem distribusi merupakan sistem penyaluran daya yang kompleks. Banyak parameter yang harus
diperhatikan dan memiliki karakteristik yang lebih rumit dibandingkan dengan saluran transmisi. Di
Indonesia sistem distribusi menggunakan level tegangan 20 kV dengan jaringan yang umum
digunakan adalah tipe radial. Namun untuk mengatasi fluktuasi operasi sistem dan menjaga
keandalan, setiap penyulang umumnya diintegrasikan dengan penyulang lain menggunakan saklar
dalam keadaan normally open untuk operasi normal. Saluran distribusi primer disuplai dari gardu
induk transmisi dengan nilai tegangan konstan (infinite bus). Kemudian sebelum menuju ke
pelanggan saluran distribusi primer dikonversikan ke tegangan rendah menjadi saluran distribusi
sekunder.

Analisis aliran daya merupakan studi yang paling dasar dilakukan dalam melakukan segala analisis
dalam sistem tenaga listrik termasuk dalam melakukan pada saluran distribusi. Metode analisis
aliran daya pada saluran distribusi yang populer digunakan dan dikembangkan adalah metode
forward-backward. Metode ini melakukan perhitungan nilai tegangan di tiap bus saluran distribusi
dengan menghitung nilai arus injeksi di tiap cabang berurutan dari beban di paling ujung hingga bus
infinite. Kemudian hasil perhitungan digunakan untuk menghitung besar drop tegangan yang terjadi
di tiap cabang saluran, sehingga didapatkan nilai tegangan di tiap bus.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB IV

PENGOLAHAN DATA

IV.1 Modul II: Load Flow Analysis

Tabel 2.1

Analisa aliran daya pada bus dengan metoda Newton Rhapson


Adaptive Newton Rhapson
Precicion = 0.001

kV Angle (0) Mag (%)

No. Bus
1 1
2 3
3 23

Jumlah iterasi:

Losses:…MW,…MVAR

Tabel 2.2
Busbar ( MW ) ( MVAR ) ( kA ) ( kV )

2-7
7-8
37-4

IV.2 SUB MODUL 2.1 : PEMASANGAN CAPACITOR DAN TAP CHANGER UNTUK
PERBAIKAN TEGANGAN

Tabel 2.3 Pemasangan Kapasitor


Sebelum Penempatan Sesudah
Kapasitas Kapasitor
ID BUS Kapasitor Penempatan
Kapasitor
Banks kVar Tegangan Arus Tegangan Arus

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Tabel 2.4 Pemasangan Tap Changer

Sebelum Tap Sesudah Tap


ID BUS %TAP Tegangan Arus Tegangan Arus

IV.3 SUB MODUL 2.2 : CAPACITOR PLACEMENT UNTUK PERBAIKAN FAKTOR


DAYA

Tabel 2.5 Pemasangan Kapasitor


Sebelum Sesudah Penempatan
Penempatan Kapasitor
Kapasitas Kapasitor
Kapasitor
ID BUS
Banks kVar Faktor Daya Faktor Daya

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
ANALISA

Praktikum modul 2 berjudul “Analisa Aliran Daya”, dimana analisa aliran daya merupakan
studi dasar dalam menganalisa suatu sistem Tenaga Listrik, baik untuk perencanaan maupun
operasi. Studi aliran daya menghitung tegangan arus, daya aktif, daya reaktif dan faktor daya pada
suatu sistem tenaga. Tujuan dari dilaksanakannya Analisa aliran daya adalah; untuk memeriksa
tegangan dan sudut fasa masing-masing bus, untuk memeriksa kemampuan peralatan pada dalam
sistem agar dapat menyalurkan daya yang diinginkan, untuk memperoleh kondisi awal bagi studi-
studi selanjutnya, yakni studi hubung singkat tudi rugi-rugi transmisi, studi analisa aliran daya
harmonisa dan studi stabilitas. Tujuan dilaksanakannya praktikum modul 2 ini, yaitu: praktikan
dapat empelajari konsep aliran daya dalam sistem tenaga listrik serta diharapkan praktikan dapat
menganalisa masalah-masalah aliran daya pada sistem tenaga listrik.
Terdapat 3 jenis bus, yaitu; bus referensi/ slack bus dimana berfungsi untuk mensuplai
kekurangan daya aktif (P) dan daya reaktif (Q) dalam system, bus PQ/ bus beban (load bus) dimana
load bus terhubung dengan beban sistem, bus PV/ bus pembangkit) dimana bus ini merupakan bus
yang tegangannya dapat dikontrol melalui pengaturan daya reaktif agar tegangannnya tetap
Pada praktikum modul 2 terdapat 2 sub modul, sub modul 2 pertama berjudul “Pemasangan
Kapasitor dan Tap Changer Untuk Perbaikan Tegangan”. Susut daya dapat diartikan bahwa
berkurangnya daya listrik dalam proses sistem tenaga listrik dari pembangkit hingga ke beban yang
disebabkan karena adannya tahanan jenis penghantar yang dipengaruhi oleh arus dan tegangan.
Jatuh tegangan merupakan suatu kondisi dimana terdapat selisih antara tegangan yang dikirim
dengan tegangan yang diterima sehingga menyebabkan nilai tegangan yang ada pada sistem
memiliki nilai dibawah nilai tegangan nominalnya.
Kapasitor merupakan suatu komponen yang dapat menyimpan energi/ muatan listrik, pada
sub modul 2.1 digunakan kapasitor bank. Kapasitor bank merupakan sekelompok kapasitor dari
rating yang sama yang terhubung secara seri atau paralel satu sama lain untuk menyimpan energi
listrik. Fungsi dari kapasitor bank yang tersedia dalam bentuk tunggal unit maupun dalam bentuk
grup adalah sebagai pensuply kilovars dengan faktor daya tertinggal kepada suatu system dimana
kapasitor tersebut dihubungkan. Sedangkan tap changer merupakan alat perubah perbandingan
transformasi untuk mendapatkan tegangan operasi sekunder yang lebih baik (diinginkan) dari
tegangan jaringan / primer yang berubah- ubah. Terdapat dua jenis tap changer, yaitu: jenis on load
dimana tap changer yang dapat dioperasikan Ketika kondisi trafo berbeban dan jenis off load fimana
tap changer dapat dioperasikan Ketika kondisi trafo tak berbeban.
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Tujuan dilaksanakannya praktikum pada sub modul 2.1 ini, yaitu: praktikan dapat
menganalisa sistem transmisi dan distribusi yang terjadi jatuh tegangan di bawah standar, serta
mampu memperbaiki jatuh tegangan dengan pemasangan tap changer pada transfomator.
Kemudian terdapat sub modul 2.2 yang berjudul “Kapasitor Placement Untuk Perbaikan
Faktor Daya”, dimana faktor daya merupakan perbandingan antara daya aktif (P) dengan magnitude
dari daya semu (|S|) dan bisa dilambangkan dengan PF (power factor). Segitiga daya merupakan
sebuah segitiga siku-siku yang merepresentasikan tiga buah daya pada sistem arus bolak-balik (AC)
yaitu daya aktif (P), daya reaktif (Q), dan daya semu (S). Segitiga daya ini digunakan juga untuk
mempermudah perhitungan dalam menentukan besaran-besaran yang berkaitan dengan daya-daya
tersebut. Daya aktif (P) merupakan daya yang diserap oleh beban yang bersifat resistif, daya reaktif
(Q) merupakan daya yang diserap atau disuplai oleh beban yang bersifat induktif atau kapasitif, daya
semu (S) merupakan daya yang belum sampai ke beban atau bisa didefinisikan juga sebagai
penjulamlahan vektor antara daya aktif (P) dan daya reaktif (Q).
Tujuan dilaksanakannya [raktikum pada sub modul 2.2 ini, yaitu: praktikan dapat
menganalisa sistem tenaga listrik yang factor daya di bawah standar, dan praktikan dapat
memperbaiki factor daya dengan pemasangan kapasitor.
Pada praktikum ini terdapat dua cara untuk memperbaiki nilai tegangan, yaitu dengan
memasang kapastor dan melakukan tap pada trafo. Sebelum dilakukan pemasangan kapasitor dan
tap pada trafo, dilakukan load flow analysis atau analisa aliran daya. Analisa aliran daya digunakan
untuk mengetahui pasokan daya dari sisi pembangkit dan pada sisi beban. Tujuan dilakukannya
analisa alairan daya adalah mengatahui arah aliran daya serta besarnya tegangan dan arus pada
setiap bus, dan mengetahui rug iyang terdapat pada sistem. Capacitor placement digunakan untuk
memperbaiki tegangan ynag mengalami jatuh tegangan dengan cara memasang kapasitor bank.
Sedangkan tap changer merupakan alat pengubah rasio belitan pada trado. Tap pada trafo biasanya
dilakukan pada sisi primer. Apabila melakukan tap pada sisi sekunder maka akan terjadi busur api,
pada sisi prier nilai arus kecil.
Kondisi jatuh tegangan adalah selisi tegangan pada tegangan sisi kirim dengan tgenagan sisi
terima. Kondisi jatuh tegangan menyebabkan nilai tegangan pada sistem memiliki nilai tegangan
yang berada di bawah tegangan nominalnya. Faktor yang mempengaruhi tejadinya jatuh tegangan
adalah luas penampang, besar beban, Panjang transmission line dan cable. Untuk mengatasi kondisi
jatuh tegangan diantaranya adalah dengan memilih konduktor yang memiliki nilai tahanan dalam
yang kecil, mengganti ukuran kawat, memperbaiki nilai tegangan sumber, dan menambang jumlah
penyulang.
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Input generator berupa torsi dan eksitasi, sedangkan ouput pada torsi berupa daya dan
frekuensi. untuk output pada eksitasi berupa nilai tegangan dan daya reaktif. Pada rangkaian yang
sudah di run, terdapat arah panah ke atas atau ke bawah. Panah yang ditunjukan menggambarkan
arah aliran pada bus tersebut, dapat berupa aliran daya, aliran arus, tegangan, dan sebagainya. Bila
panah menunjukkan ke bawah maka alirannya dari atas ke bawah (menyuplai dari generator ke
beban). Sedangkan, arah panah ke atas menunjukkan aliran dayanya dari bawah ke atas. Namun
apabila nilainya negative maka arah alirannya berlawanan dengan arah panahnya.
Apabila saluran diperpanjang makan nilai kVar negative, ini menunjukkan bahwa ada
kelebihan daya reaktif, sehingga daya tersebut dikembalikan ke pembangkit. Yang menyebabkan
daya reaktifnya meningkat adalah ketika saluran diperpanjang maka kapistansi salurannya semakin
besar. According to rumus xc, dan dimasukkan ke rumus admitansi sehingga didapatkan jWC dan
menyebabkan bersifat kapasitif. Pada menu impendance di transmission line terdapat parameter rt1
dan rt2. Rt1 adalah resistansi pada suhu t1, sedangkan rt2 adalah resistansi pada t2. Nilai yang
diinput dikatakan kurang tepat dikarenakan pengaruh resistansi terhadap suhu adalah ketika suhu
semakin besar maka nilai resistansinya juga akan besar. Luas penampang konduktor terhadap losses
adalah jika luas penampang semakin besar maka resitansinya makin kecil dan losses juga kecil.
Saat memasuki saluran transmisi nilai tegangan akan dinaikkan, ini dilakukan untuk
mengurangi rugi-rugi. Pada pembangkit nilai tegangan 13,8 kV maka nilai arus yang mengalir kecil.
Bila arus pada saluran transmisi besar maka kemunkiran rugi-rugi yang terjadi juga besar,
dikarenakan nilai impedansi yang besar. Maka dari itu, nilai tegangan dinaikkan untuk dapat
mengurangi rugi-rugi pada saluran. Jarak antar pembangkit dengan beban dikatakan jauh, apabila
tegangan disalurakan dengan rating tegangan menengah maka potensi rugi rugi yang terjadi besar.
Dapat dikatakan daya yang dihasilkan dari pembangkit tidak dapat tersampaikan ke beban
dikarenakan daya sudah hilang terlebih dulu saat mengalir ke beban. Tegangan yang sudah
dinaikkan saat akan disalurkan ke beban harus diturunkan, dikarenakan peralatan elektronik yang
terdapat pada beban di desai untuk tegangan rendah. Tegangan 150kV tidak mungkin langsung di
salurkan ke rumah-rumah, namun harus diturunkan terlebih dahulu. Jarak antara gardu induk dengan
beban dikatakan sudah dekat, sehingga nilai tegnagan harus diturunkan.
Namun, terdapat juga pelanggan tegangan tinggi seperti pada pabrik semen dan peleburan
logam. Namun bukan berarti nilai tegangan yang disalurkan ke pelanggan tersebut 150kV,
melainkan pelanggan tersebut memiliki gardu induk tersendiri. Pada pelanggan tegangan menengah
nilai tegangan yang disalurkan tidak 20kV langsung, melainkan pelanggan memiliki gardu distribusi
tersenditi atay memiliki trafo pemakaian sendiri.
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
KESIMPULAN
Untuk memperbaiki tegangan dapat dilakukan dengan du acara, yaitu dengan memasang
kapasitor dan melakukan tap pada trafo. Tap trafo dilakukan pada sisis primer rafo, dikarenakan
nilai arus pada sisi primer kecil.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
REPORT

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
TUGAS AKHIR

Buatlah single line diagram dari pembangkit, transmisi, hingga ke distribusi dengan syarat:

A. Minimal 20 busbar.

B. Minimal harus ada 1 bus dan maksimal 3 bus yang drop voltage.

C. Generator, trafo dan susunannya tidak overload atau bebannya berlebih.

D. Running optimal capacitor placement dengan perbaikan tegangan 90%-105% berdasarkan bus
yang terkena gangguan drop voltage.

E. Lakukan tap changer untuk perbaikan tegangan pada bus yang masih drop

F. Lakukan perbaikan factor daya dengan pemasangan kapasitor

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
PERTANYAAN

1. Pada rangkaian yang telah anda design, Tap Changer pada trafo dilakukan disisi mana (primer/
sekunder)? Mengapa demikian?
2. Mengapa dalam suatu system tenaga listrik harus memiliki pembangkit mode swing? Jelaskan!
Pada analisa aliran daya pembangkit mode swing sangat diperlukan dikarenakan pada mode
tersebut berperan sebagai acuan untuk nilai daya yang akan dihasilkan. Ketika beban
kekurangan daya aktif dan daya reaktif, maka yang bekerja pertama kali adalah generator
swing. Dimana generator swing akan memenuhi daya yang dibutuhkan oleh beban.
3. Setelah pemasangan kapasitor, mengapa factor daya yang ditampilkan pada software etap
berbeda dengan hasil factor daya yang kita inginkan ? Jelaskan !

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB I
MODUL III
ANALISA HUBUNG SINGKAT DAN KOORDINASI PROTEKSI OCR PADA
PENYULANG DISTRIBUSI
1.1 Tujuan
1. Mempelajari karakteristik arus gangguan
2. Mempelajari jenis gangguan pada sistem tenaga
3. Mempelajari simulasi gangguan pada Software ETAP
4. Mempelajari manfaat analisa gangguan
5. Mempelajari koordinasi proteksi
1.2 Alat dan Perlengkapan
1. 1unit PC
2. Software ETAP

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Modul
II.1.1 Pendahuluan
Tenaga Listrik disalurkan ke konsumen melalui Sistem Tenaga Listrik. Sistem Tenaga Listrik
terdiri dari beberapa subsistem, yaitu Pembangkitan, Transmisi, dan Distribusi. Tenaga listrik
disalurkan ke masyarakat melalui jaringan distribusi. Oleh karena itu, jaringan distribusi merupakan
bagian jaringan listrik yang paling dekat dengan masyarakat.
Jaringan distribusi dikelompokkan menjadi dua, yaitu jaringan distribusi primer dan jaringan
distribusi sekunder. Tegangan distribusi primer yang dipakai PLN adalah 20 kV, 12 kV, 6 KV. Pada
saat ini, tegangan distribusi primer yang cenderung dikembangkan oleh PLN adalah 20 kV.
Tegangan pada jaringan distribusi primer, diturunkan oleh gardu distribusi menjadi tegangan rendah
yang besarnya adalah 380/220 V, dan disalurkan kembali melalui jaringan tegangan rendah kepada
konsumen.
Dalam operasi sistem tenaga listrik sering terjadi gangguan – gangguan yang dapat
mengakibatkan terganggunya penyaluran tenaga listrik ke konsumen. Gangguan adalah penghalang
dari suatu sistem yang sedang beroperasi atau suatu keadaan dari sistem penyaluran tenaga listrik
yang menyimpang dari kondisi normal. Suatu gangguan di dalam peralatan listrik didefinisikan.
sebagai terjadinya suatu kerusakan di dalam jaringan listrik yang menyebabkan aliran arus listrik
keluar dari saluran yang seharusnya.
Berdasarkan ANSI/IEEE Std. 100-1992 gangguan didefinisikan sebagai suatu kondisi fisis yang
disebabkan kegagalan suatu perangkat, komponen, atau suatu elemen untuk bekerja sesuai dengan
fungsinya. Gangguan hampir selalu ditimbulkan oleh hubung singkat antar fase atau hubung singkat
fase ke tanah. Suatu gangguan hampir selalu berupa hubung langsung atau melalui impedansi.
Istilah gangguan identik dengan hubung singkat, sesuai standart ANSI/IEEE Std. 100- 1992.
Hubung singkat merupakan suatu hubungan abnormal (termasuk busur api) pada impedansi
yang relatif rendah terjadi secara kebetulan atau disengaja antara dua titik yang mempunyai
potensial yang berbeda. Istilah gangguan atau gangguan hubung singkat digunakan untuk
menjelaskan suatu hubungan singkat. Untuk mengatasi gangguan tersebut, perlu dilakukan analisis
hubung singkat sehingga sistem Proteksi yang tepat pada Sistem Tenaga Listrik dapat ditentukan.
Analisis hubung singkat adalah analisis yang mempelajari kontribusi arus gangguan hubung singkat
yang mungkin mengalir pada setiap cabang didalam sistem (di jaringan distribusi, transmisi, trafo

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
tenaga atau dari pembangkit) sewaktu gangguan hubung singkat yang mungkin terjadi di dalam
sistem tenaga listrik.
Analisis Hubung Singkat memiliki tujuan, yaitu sebagai berikut.
1. Untuk menentukan arus maksimum dan minimum hubung singkat.
2. Untuk menentukan arus gangguan tak simetris bagi gangguan satu dan dua line ke tanah,
gangguan line ke line, dan rangkaian terbuka.
3. Penyelidikan operasi rele-rele proteksi.
4. Untuk menentukan kapasitas pemutus dari circuit breaker.
5. Untuk menentukan distribusi arus gangguan dan tingkat tegangan busbar selama gangguan.
Hubung singkat terjadi akibat dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dari
gangguan adalah rusaknya peralatan listrik. Faktor eksternal adalah antara lain cuaca buruk, seperti
badai, hujan, dingin; bencana, seperti gempa bumi, angin ribut, kecelakaan kendaraan; runtuhnya
pohon; petir; aktivitas konstruksi, ulah manusia, dan lain-lain. Sebagian besar gangguan terjadi
karena cuaca buruk, yaitu hujan atau badai, dan pohon.
Gangguan hubung singkat menyebabkan terjadinya interupsi kontinuitas pelayanan daya kepada
para konsumen apabi1a gangguan itu sampai menyebabkan terputusnya suatu rangkaian (sircuit)
atau menyebabkan keluarnya satu unit pembangkit, penurunan tegangan yang cukup besar
menyebabkan rendahnya kualitas tenaga listrik dan merintangi kerja normal pada peralatan
konsumen, pengurangan stabilitas sistem dan menyebabkan jatuhnya generator, dan merusak
peralatan pada daerah terjadinya gangguan tersebut.
Gangguan dapat terdiri dari gangguan temporer atau permanent. Kebanyakan gangguan temporer
di amankan dengan circuit breaker (CB) atau pengaman lainnya. Gangguan permanent adalah
gangguan yang menyebabkan kerusakan permanent pada sistem. Seperti kegagalan isolator,
kerusakan penghantar, kerusakan pada peralatan seperti transformator atau kapasitor. Pada saluran
bawah tanah hampir semua gangguan adalah gangguan permanen. Kebanyakan gangguan peralatan
akan menyebabkan hubung singkat. Gangguan permanen hampir semuanya menyebabkan
pemutusan/gangguan pada konsumen. Untuk melindungi jaringan dari gangguan digunakan fuse,
recloser atau CB.
Namun, berdasarkan kesimetrisannya, gangguan terdiri dari gangguan simetris dan asimetris.
Gangguan simetris adalah gangguan yang terjadi pada semua fasanya sehingga arus dan tegangan
pada masing-masing fasa bernilai sama, yaitu di antaranya Hubung Singkat 3 fasa dan Hubung
singkat 3 fasa ke tanah. Sedangkan gangguan simetris adalah gangguan yang mengakibatkan arus
yang mengalir pada setiap fasa tidak seimbang, yaitu di antaranya hubung singkat 1 fasa ke tanah,
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
hubung singkat fasa ke fasa, dan hubung singkat 2 fasa ke tanah. Analisis Hubung Singkat secara
umum menggunakan persamaan hubung singkat sebagai berikut.

II.1.2 Analisa Gangguan Hubung Singkat


Analisis Gangguan Hubung Singkat dilakukan dengan berdasarkan kesimetrisan gangguan yang
terjadi. Analisis gangguan Hubung Singkat dapat dilakukan pada keadaan simetris. Pada gangguan
asimetris perlu dilakukan metode komponen simetris untuk melakukan analisis hubung singkat.
II.1.2.1 Komponen Simetris
Komponen simetris digunakan untuk menganalisis terutama sistem yang tidak seimbang, misalnya
saat terjadi hubung singkat tiga phasa, dua phasa dan satu phasa ke tanah. Dimana sebuah sistem tak
seimbang diubah menjadi tiga rangkaian persamaan yaitu rangkaian urutan positif, urutan negatif,
dan urutan nol. Menurut teorema Fortescue, tiga fasor tak seimbang dari sistem tiga phasa dapat
diuraikan menjadi tiga sistem fasor yang seimbang. Himpunan seimbang komponen itu adalah
(Stevenson, 1982: 260):
1. Komponen urutan positif, yang terdiri dari tiga fasor yang sama besarnya, terpisah satu dengan
yang lainnya dalam phasa sebesar 120o, dan mempunyai urutan phasa yang sama seperti fasor
lainnya.
2. Komponen urutan negatif, yang terdiri dari tiga fasor yang sama besarnya, terpisah satu dengan
yang lainnya dalam phasa sebesar 120o, dan mempunyai urutan phasa yang berlawanan dengan
fasor aslinya.
3. Komponen urutan nol, yang terdiri dari tiga fasor yang sama besarnya dan dengan pergeseran
phasa nol antara fasor yang satu dengan yang lain.
Tujuan lain adalah untuk memperlihatkan bahwa setiap phasa dari sistem tiga phasa tak seimbang
dapat di pecah menjadi tiga set komponen.

Gambar Vektor Diagram untuk Komponen Simetris

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Komponen simetris berpengaruh terhadap besarnya impedansi saluran. Impedansi saluran suatu
sistem tenaga listrik tergantung dari jenis konduktornya yaitu dari bahan apa konduktor itu dibuat
yang juga tentunya pula dari besar kecilnya penampang konduktor dan panjang saluran yang
digunakan jenis konduktor ini. Komponen Simetris menyebabkan tegangan jatuh sesuai dengan
urutan arusnya dan tidak mempengaruhi urutan arus lainnya, berarti tiap urutan yang seimbang akan
terdiri dari suatu jaringan. Ketidak-seimbangan arus atau tegangan ini akan menimbulkan pula
impedansi urutan positif, urutan negatif, dan urutan nol. Impedansi urutan dapat didefinisikan
sebagai suatu impedansi yang dirasakan arus urutan bila tegangan urutannya dipasang pada
peralatan atau pada sistem tersebut. Seperti juga tegangan dan arus didalam metode komponen
simetris dikenal tiga macam impedansi urutan yaitu sebagai berikut.
1. Impedansi urutan positif (Z1), adalah impedansi tiga phasa simetris yang terukur bila dialiri oleh
arus urutan positif.
2. Impedansi urutan negatif (Z2), adalah impedansi tiga phasa simetris yang terukur bila dialiri oleh
arus urutan negatif.
3. Impedansi urutan nol (Z0), adalah impedansi tiga phasa simetris yang terukur bila dialiri arus
urutan nol.

Dari persamaan tersebut, diperoleh persamaan berikut.

Persamaan di atas, terdapat operator a yang merupakan unit vektor yang membentuk sudut 120
derajat berlawanan jarum jam

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

a. Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah

Diperoleh persamaan berikut.

b. Hubung Singkat 3 fasa

Pada ganguan hubung singkat tiga fasa, gangguan termasuk gangguam simetris, sehingga tidak
perlu menggunakan komponen simetris. Persamaan hubung singkat diperoleh sebagai berikut:

c. Hubung Singkat 2 fasa

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Dengan menggunakan komponen simetris, diperoleh persamaan berikut

Sehingga dsiperoleh persamaan berikut:

II.1.3 Sistem Proteksi


Sistem proteksi pada tenaga listrik merupakan suatu elemen yang penting dalam sistem tenaga
listrik. Karena memiliki fungsi sebagai pengaman dalam sistem tenaga listrik yang terdiri dari
pembangkitan, transmisi, dan distribusi daya listrik. Seperti yang diketahui sering sekali terjadi
gangguan pada suatu sistem tenaga listrik misalnya beban lebih, terjadi arus hubung singkat, atau
gangguan dari luar seperti petir.
Fungsi sistem proteksi adalah untuk mengamankan suatu sistem tenaga listrik dengan cara
mengetahui gangguan tersebut dan memisahkan bagian jaringan yang terganggu dari bagian lain
yang masih dalam keadaan normal untuk mengamankan sistem keseluruhan dari kerusakan yang
lebih parah atau kerugian yang lebih besar. Sistem proteksi tenaga listrik pada umumnya terdiri dari
beberapa komponen yang di rancang untuk mengidentifikasi kondisi sistem tenaga listrik dan
bekerja berdasarkan informasi yang diperoleh dari sistem tersebut seperti arus, tegangan atau sudut
fasa antara keduanya.
Fungsi dari sistem proteksi adalah :
1. Untuk menghindari ataupun untuk mengurangi kerusakan peralatan listrik akibat adanya
gangguan (kondisi abnormal).
2. Untuk mempercepat mengamankan daerah yang terganggu sehingga efek gangguan menjadi
sekecil mungkin.
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
3. Untuk dapat memberikan pelayanan listrik dengan keandalan yang tinggi kepada konsumen.
Untuk melindungi manusia (terutama) terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh listrik. Adapun
beberapa syarat perencanaan sistem proteksi yang efektif :
1. Selektif, yaitu mampu memisahkan jaringan yang terganggu saja.
2. Sensitif, yaitu mampu merasakan gangguan sekecil apapun.
3. Andal, yaitu akan bekerja bila diperlukan dan tidak akan bekerja bila tidak diperlukan.
4. Cepat, yaitu mampu bekerja secepatnya sesuai dengan permintaan peralatan yang dilindunginya.
Jaringan distribusi berfungsi untuk menyalurkan tenaga listrik ke pihak pelanggan. Karena
fungsinya tersebut, maka keandalan menjadi sangat penting dan untuk itu jaringan distribusi perlu
dilengkapi dengan alat pengaman. Salah satu peralatan utama dalam sistem proteksi yang digunakan
pada saluran distribusi adalah relay arus lebih (Over Current Relay) dan relay gangguan tanah
(Ground Fault Relay).
Maka dari itu perlu adanya suatu koordinasi antara komponen penunjang sistem proteksi tersebut
yang terdiri dari Over Current Relay (OCR), dan Ground Fault Relay (GFR). Koordinasi ini
bertujuan agar, disaat salah satu busbar mengalami gangguan atau tidak adanya pengaman yang
mengamankan busbar tersebut, akan mengakibatkan adanya ketidakseimbangan yang dirasakan oleh
sistem dan dapat mengakibatkan kontinyuitas aliran daya dapat terganggu. Sistem proteksi yang
handal dapat segera mengantisipasi gangguan sedini mungkin dan meminimalisir efek yang terjadi
akibat gangguan.
Relay Arus Lebih (OCR)
Relay arus lebih atau yang lebih dikenal dengan OCR (Over Current Relay ) merupakan peralatan
yang mensinyalir adanya arus lebih, yang disebabkan oleh adanya gangguan hubung singkat antar
fasa. Relay ini bekerja berdasarkan adanya kenaikan arus yang melebihi nilai arus dan waktu
settingnya

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Relay Gangguan Tanah (GFR)


Rele hubung tanah yang lebih dikenal dengan GFR (Ground Fault Relay) pada dasarnya mempunyai
prinsip kerja yang sama dengan rele arus lebih (OCR) namun memiliki perbedaan dalam
kegunaannya. Bila rele OCR mendeteksi adanya hubungan singkat antara fasa, maka GFR
mendeteksi adanya hubung singkat ketanah

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

BAB III
LANGKAH PERCOBAAN

1. Buat lah project dan folder sesuai dengan nama praktikan masing-masing.

2. Atur standar yang digunakan yaitu IEC

3. Rangkai gambar 1.1 dibawah menggunakan ETAP 16.0

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

4. Lalu isilah rating sesuai dengan instruksi pada table dibawah :

a. Trafo
Vp Nilai Typical Prim. Sec.
Nama Vs (ks) Grounding
(kV) MVA Data Grounding Grounding
T1 20 0.4 15 Z& - - -

X/R
T8 20 0,4 1,5 Z& - - -
X/R
T18 20 0,4 1,5 Z& - - -
X/R
T19 20 0,4 1,5 Z& - - -
X/R
T20 20 0,4 1,5 Z& - - -
X/R

b. Lumped Load

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Load ID kVA kV % PF

Lump 30 200 0.4 85

Lump 28 200 0.4 85

Lump 27 200 0.4 85

Lump 26 200 0,4 85

c. Cable
Length Size Unit Freq
Nama kV #C Insul Source Install
2
(m) (mm ) System (Hz)
Cable 16 0,16 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable 28 3,84 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable 26 8 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable 25 12 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag

Cable 24 16 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag

5. Setelah itu running rangkaian dengan load flow analysis lalu klik

6. Setelah itu jika running load flow berhasil maka lakukan running hubung singkat.

7. Sebelum melakukan running hubung singkat, yaitu run short circuit, klik edit study case

lalu pilih masing-masing bus didaerah pembangkit, transmisi dan distribusi. Setelah itu klik

run 3 phase, LG LL .

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

8. Setelah itu cetak report dengan cara klik report manager lalu pilih bagian summary. Ketika
sudah ada data tertampil pada pdf anda bisa melihat nilai arus hubung singkat yaitu I”k pada
summary

9. Lalu setelah itu tulis nilai I”k pada tabel data pengamatan

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

10. Lalu setelah itu klik running star-protection & coordination lalu klik fault

insertion letakkan pada bus saluran 25%. Isi data rating trafo CT dan relay pada tabel yang
sudah ditentukan assisten. (untuk lebih jelas dapat dilihat pada halaman terakhir modul 3

11. Lalu perhatikan time viewer ketika cb mutus. Jika sudah maka sesuai dengan uji
waktu tunda atau mendekati maka itu sudah dianggap setingan relay benar

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

12. Lalu isilah tabel dibawah yang kosong.

13. Jangan lupa untuk melakukan pencetakan gambar.


Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Gambar Rangkaian

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB IV

PENGOLAHAN DATA

IV.1 Data Pengamatan

Tabel 3.1 Hasil Perhitungan Arus Hubung Singkat

Lokasi HS 3Ø Ø-Ø Ø-G


(Saluran) kA A kA A kA A

Pembangkit

Transmisi

Distribusi

1%

25%

50%

75%

100%

Tabel 3.2 Perhitungan Setting Relay O.C Incoming


Incoming
Inom Iset Iset
Rasio CT (Ampere) Time Standard
Trafo Primer Sekunder
Pengaman Delay (s)
(Ampere) (Ampere) (Ampere) Inverse
Primer Sekunder TMS
OCR 433 1000 5 0,7

Tabel 3.3 Perhitungan Setting Relay O.C Outgoing


Outgoing
Inom Rasio CT (Ampere) Time Iset Iset Standard
Pengaman Beban Delay (s) Primer Sekunder
Inverse
(Ampere) (Ampere) (Ampere)
Primer Sekunder TMS
OCR 127,20 300 5 0,3

Tabel 3.4 Pemeriksaan Waktu Kerja Relay Standard Inverse


Relay di Incoming Relay di Outgoing

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
TMS O.C TMS O.C
Lokasi
3Ø Ø-Ø 3Ø Ø-Ø
Gangguan
25%
50%
75%
100%

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
GAMBAR GRAFIK

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
ANALISA

Praktikum pada modul 3 ini berjudul “Analisa hubung Singkat dan Koordinasi Proteksi OCR
Pada Penyulang Distribusi”. Hubung singkat merupakan suatu hubungan abnormal (termasuk busur
api) pada impedansi yang relatif rendah terjadi secara kebetulan atau disengaja antara dua titik yang
mempunyai potensial yang berbeda. Hubung singkatdapatterjadi akibat faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal dari gangguan adalah rusaknya peralatan listrik. Faktor eksternal adalah
antara lain cuaca buruk, seperti badai, hujan, dingin; bencana, seperti gempa bumi, angin
ribut, kecelakaan kendaraan; runtuhnya pohon; petir; aktivitas konstruksi, ulah manusia, dan lain-
lainUntuk mengatasi gangguan tersebut, perlu dilakukan analisis hubung singkat sehingga sistem
Proteksi yang tepat pada Sistem Tenaga Listrik dapat ditentukan.

Analisis hubung singkat adalah analisis yang mempelajari kontribusi arus gangguan hubung
singkat yang mungkin mengalir pada setiap cabang didalam sistem (di jaringan distribusi, transmisi,
trafo tenaga atau dari pembangkit) sewaktu gangguan hubung singkat yang mungkin terjadi di dalam
sistem tenaga listrik. Tujuan dilaksanakannya analisa hubung singkat, yaitu: untuk menentukan arus
maksimum serta arus minimum hubung singkat, untuk menentukan arus gangguan tak simetris bagi
gangguan satu dan dua line ke tanah, gangguan line ke line, dan rangkaian terbuka, penyelidikan
operasi relay proteksi, menentukan kapasitas pemutus dari circuit breaker, menentukan distribusi
arus gangguan dan tingkat tegangan busbar selama [Link] hubung singkat
menyebabkan terjadinya interupsi kontinuitas pelayanan daya kepada para konsumen apabi1a
gangguan itu sampai menyebabkan terputusnya suatu rangkaian(circuit) atau menyebabkan
keluarnya satu unit pembangkit, penurunan tegangan yang cukup besar menyebabkan rendahnya
kualitas tenaga listrik dan merintangi kerja normal pada peralatan konsumen, pengurangan
stabilitas sistem dan menyebabkan jatuhnya generator, dan merusak peralatan pada daerah
terjadinya gangguan tersebut.

Berdasarkan kesimetrisannya gangguan diklasifikasikan menjadi dua yaitu gangguan simetris


dan asimetris. Gangguan simetris adalah gangguan yang terjadi pada semua fasanya sehingga arus
dan tegangan pada masing-masing fasa bernilai sama, yaitu di antaranya Hubung Singkat 3 fasa dan
Hubung singkat 3 fasa ke tanah. Sedangkan gangguan asimetris adalah gangguan yang
mengakibatkan arus yang mengalir pada setiap fasa tidak seimbang, yaitu di antaranya hubung
singkat 1 fasa ke tanah, hubung singkat fasa ke fasa, dan hubung singkat 2 fasa ke tanah.
Dikarenakan pada sistem tenaga listrik dapat terjadi gangguan, maka untuk mencegah atau

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
meminimalisir besarnya gangguan dapat diaplikasikan sistem proteksi. Dimana sistem proteksi
fungsi sebagai pengaman dalam sistem tenaga listrik yang terdiri dari pembangkitan, transmisi, dan
distribusi daya listrik.
Tujuan dilaksanakannya percobaan praktiku mada modul 3, yaiti: praktikan dapat
mempelajari karakteristik arus gangguan, praktikan dapat mempelajari jenis gangguan pada sistem
tenaga, praktikan dapat mempelajari simulasi gangguan pada software etap, praktikan dapat
mempelajarin manfaat analisa gangguan, dan praktikan dapat mempelajari koordinasi proteksi.
Pembahasan yang dibahas pad modul 3 ini adalah pembahasan short circuit dan proteksi di
penyulang. Pada rangkauan terdapat 2 relay pada distribusi yaitu relay incoming dan relay outgoing.
OCR adalah over current relay atau relay arus lebih, ocr beroperasi saat terdapat arus yang melebihi
dari nilai arus yang telah diatur. GFR atau ground fault relay atau relay gangguan tanag, gfr
beroperasi say ada kenaikan arus yang lebih dari nilai settingan pengaman tertentu. Short cicuit
dilaksanakan untuk menentukan arus minimum dan arus maksimim arus hubung singkat serta
menentukan kapasitas circuit breaker. Circuit breaker diatur sesua dengan summary yang
ditampilkan pada bus yang diberi gangguan atau fault. Pada line to line nilai kA bernilai 0,
dikarenakan hubung singkat line to line tidak memiliki impedansi urutan nolnya. Tidak memiliki
impedansi urutan nolnya, dikarenakan tidak terhubung dengan ground. Apapun yang terhubung
dengan tanah (ground) memiliki arus urutan nol. sedangkan sequence value digunakan untuk
menampilkan urutan positi, negative, dan nol.
Pada lient o ground bila pentanahan sistem (grounding) delta atau wye open nilainya nol,
kalua diatur solid nilainya besar. Nilai solid besar dikarenakan langsung disalurkan ke tanah, maka
nilai LG paling tinggi pada [Link] generator diatur menjadi sub transient semua bertujuan agar
dapat di running transient (kondisi awal). Kondisi I’’k adalah saat awal, ip pada sub transient nilai
impedansinya relative kecil disbanding dengan ekuivalen. Karena reaktansinya kecil maka didapat
nilai arus besar. Karena nilai impedansinya kecil pada sub transient menyebabkan lonjakan arus
lebih besar dan menyebabkan nilai ip atau arus pincak besar. Ketika sudah steady state dapat
dikatakan stabil namun masih tetap arus gangguan. Maka dari itu sebelum mencapai kondisi steady
state dudah harus diputus. analisa hubung singkat harus dilakukan untuk menentukan matas
maksimum dari ip, dikarenakan cara cb dengan mcb berbeda. Cb tidak bekerja secara mandiri,
melainkan membutuhkan bantuan relay untuk dapat dipicu. Sedangkan MC dapat bekerja secara
mandiri memutus tanpa relay bila terdapat arus yang lebih dari making peaknya.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
KESIMPULAN
OCR merupakan over current relay )relay arus lebih) bekerja saat arus melebihi dari nilai
arus yang telah diatur. GFR merupakan ground fault relay (relay gangguan tanah), bekerja ketika
ada kenaikan arus yang lebih dari settingan pengaman tertentu. Short circuit ditujukan untuk
menentukan arus minimum dan maksimum arus hubung singkat dan menentukan nilai kapasitas cb.
1.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
TUGAS AKHIR
Buatlah single line diagram dari pembangkit, transmisi, dan distribusi dengan syarat :
a. Minimal 20 busbar
b. Minimal harus ada 1 bus dan maksimal 3 bus yang drop voltage
c. Generator, trafo dan susunannya tidak overload atau bebannya berlebih
d. Running optimal capacitor placement dengan perbaikan tegangan 90%-105% berdasarkan bus
yang terkena gangguan drop voltage.
e. Lakukan tap changer untuk perbaikan tegangan pada bus yang masih drop
f. Lakukan perbaikan factor daya dengan pemasangan kapasitor
Buatlah gangguan hubung singkat pada masing - masing bus untuk daerah pembangkit, transmisi
dan distribusi dengan menggunakan simulasi ETAP

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
PERTANYAAN

1. Mengapa koordinasi proteksi pada modul ini tidak ada data waktu uji untuk 1 fasa ke tanah?

2. Jelaskan koordinasi proteksi dalam system tenaga listrik berdasarkan analisa anda?

3. Apa yang terjadi jika mengalami kegagalan koordinasi proteksi?

4. Apa yang kita lakukan agar system koordinasi proteksi dapat berjalan dengan baik?

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB I
MODUL IV
ANALISA KESTABILAN PERALIHAN
(TRANSIENT STABILITY ANALYSIS)
1.1 Tujuan
1. Menganalisa dan mengamati kestabilan pembangkit, transmisi dan distribusi saat terjadi
kehilangan pembangkit.
2. Menganalisa dan mengamati kestabilan pembangkit, transmisi dan distribusi saat terjadi hubung
singkat pada saluran transmisi dalam selang waktu tertentu.
3. Menganalisa dan mengamati kestabilan pembangkit, transmisi dan distribusi saat terjadi
pelepasan beban secara tiba-tiba.
1.2 Alat dan Perlengkapan
1. 1 Unit PC

2. Software ETAP

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Modul
Stabilitas adalah kemampuan sistem yang memiliki dua atau lebih mesin sinkron untuk berpindah
dari suatu kondisi steady-state karena adanya perubahan sistem ke kondisi steady-state lainnya,
maka sistem akan berubah dari kondisi lama ke kondisi baru. Periode singkat antara dua kondisi itu
disebut Kestabilan Peralihan (Transient Stability).
Suatu sistem tenaga listrik yang baik harus memenuhi beberapa syarat, seperti: Reliability, Quality
dan Stability.
1) Reliability adalah : Kemampuan suatu sistem untuk menyalurkan daya atau energi secara
terus menerus.
2) Quality adalah : Kemampuan sistem tenaga listrik untuk menghasilkan besaran-besaran
standart yang ditetapkan untuk tegangan dan frekuensi.
3) Stability adalah : Kemampuan dari sistem untuk kembali bekerja secara normal setelah
mengalami suatu gangguan.
Dalam sistem tenaga listrik yang baik maka ketiga syarat tersebut harusdipenuhi yaitu sistem harus
mampu memberi pasokan listrik secara terus menerus dengan standar besaran untuk tegangan dan
frekuensi sesuai dengan aturan yang berlaku dan harus segera kembali normal bila sistem terkena
gangguan.
A. Klasifikasi Kestabilan Sistem Tenaga Listrik
Kestabilan sistem tenaga listrik secara umum dapat dibagi menjadi tiga macam kategori, yaitu:
Angle Stability, Frequency stability dan Voltage stability. Angle Stability yaitu kemampuan dari
mesin-mesin sinkron yang saling terkoneksi pada suatu sistem tenaga listrik untuk tetap dalam
keadaan sinkron. Frequency stability yaitu kemampuan dari suatu sistem tenaga untuk
mempertahankan kondisi steady state frekuensi akibat gangguan Sedangkan Voltage Stability: yaitu
kestabilan dari sistem tenaga listrik untuk dapat mempertahankan nilai tegangan yang masih dapat
diterima saat terjadi kontingensi atau gangguan.
1. Kestabilan Peralihan
Kestabilan peralihan (Transient Stability) adalah kemampuan sistem untuk mencapai titik
keseimbangan atau stabilitas setelah adanya perubahan besar pada sistem yang menyebabkan sistem
sempat kehilangan stabilitasnya. Kestabilan peralihan terjadi ketika tegangan otomatis dan pengatur
frekuensi belum bekerja. Pengklasifikasian kestabilan dilakukan secara sistematis dan berdasarkan
pada beberapa pertimbangan, yaitu:
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
1) Ukuran dari gangguan.
2) Pemodelan yang tepat dan analisis gangguan yang spesifik.
3) Rentang waktu saat gangguan berlangsung.
4) Parameter sistem yang paling berpengaruh.
Transient Stability Assessment atau studi tentang kestabilan transien harus dilakukan karena suatu
sistem dapat dikatakan stabil pada kestabilan steady state, namun belum tentu stabil pada kestabilan
peralihan, sehingga studi ini perlu dilakukan guna untuk mengetahui apakah sistem dapat bertahan
saat gangguan peralihan terjadi. Gangguan kestabilan peralihan dapat terjadi karena beberapa faktor,
yaitu :
1) Beban lebih akibat lepasnya satu generator dari sistem.
2) Hubungan singkat (short circuit).
3) Starting pada motor.
4) Pelepasan beban yang mendadak.
Persamaan Ayunan (Swing Equation)
Persamaan ayunan adalah persamaan yang mengatur gerakan rotor suatu mesin serempak didasarkan
pada prinsip dalam dinamika yang menyatakan:
”Momen putar percepatan (accellarating torque) adalah hasil kali momen kelembaban (moment of
inertia) rotor dan percepatan sudutnya”
Untuk generator serempak, persamaan ayunan ditulis:

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Jika Tm dan Te dianggap positif untuk generator serempak berarti bahwa Tm adalah resultan
momen putar poros yang mempunyai kecendrungan untuk mempercepat rotor dalam arah 0m yang
positif.
2. Kestabilan Frekuensi

Kestabilan ini berkaitan dengan kemampuan dari sistem untuk mempertahankan kestabilan
frekuensi akibat gangguan pada sistem yang mengakibatkan ketidakseimbangan antara
pembangkitan dan beban. Pada umumnya masalah kestabilan frekuensi dikaitkan dengan
ketidakmampuan dari respons peralatan, koordinasi yang buruk pada peralatan kontrol dan
peralatan proteksi, atau kurangnya daya cadangan pembangkitan.

Selama terjadinya penyimpangan frekuensi, besarnya tegangan mungkin dapat berubah dengan
signifikan, terutama untuk kondisi islanding yang menggunakan underfrequency load shedding
untuk melepas bebannya. Perubahan nilai tegangan yang mungkin prosentasenya lebih besar dari
perubahan frekuensi dapat mengakibatkan ketidakseimbangan antara pembangkitan dan beban.
Equilibrium point (titik keseimbangan) antara suplai daya sistem dan beban harus dipertahankan
untuk menjaga sistem dari generator outage.

Klasifikasi kestabilan frekuensi diklasifikasikan menjadi dua, yaitu jangka panjang dan jangka
pendek. Contoh fenomena jangka pendek untuk kestabilan frekuensi adalah pada pembentukan
undergenerated island dengan pelepasan beban underfrequency yang tidak mencukupi, sehingga
frekuensi menurun secara tiba-tiba dan menyebabkan sistem mati total dalam durasi beberapa detik.
Sedangkan kestabilan frekuensi jangka panjang biasanya disebabkan oleh kontrol governor tidak
bekerja ketika terdapat gangguan. Rentang waktu fenomena jangka panjang yaitu puluhan detik
hingga beberapa menit.

3. Kestabilan Sudut Rotor

Kestabilan sudut rotor adalah kemampuan dari beberapa mesin sinkron yang saling
terinterkoneksi pada suatu sistem tenaga untuk mempertahankan kondisi sinkron setelah terjadi
gangguan. Kestabilan sudut rotor bergantung pada kemampuan untuk mempertahankan
keseimbangan antara torsi elektromagnetik dan mekanik pada mesin-mesin tersebut.
Ketidakstabilan mengakibatkan peningkatan kecepatan sudut yang berubah-ubah pada generator,
yang akan menyebabkan hilangnya sinkronisasi antar generator. Hal ini terjadi karena daya output
generator yang berubah sesuai dengan berubahnya rotor. Kestabilan sudut rotor pada gangguan

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
besar merupakan kemampuan sistem tenaga listrik untuk mempertahankan sinkronisasi, salah satu
contohnya adalah seperti hubungan singkat pada saluran transmisi.

4. Kestabilan Tegangan
Kestabilan tegangan adalah kemampuan dari suatu sistem tenaga listrik untuk mempertahankan
kestabilan tegangan pada semua bus dari sistem setelah mengalami gangguan. Kestabilan tegangan
bergantung pada kemampuan sistem untuk mempertahankan kesetimbangan antara supply daya dari
pembangkit dan jumlah pembebanannya. Gangguan yang biasanya terjadi adalah lepasnya beban
secara tiba-tiba ataupun hilangnya sinkron dari salah satu pembangkit sehingga tegangan menjadi
turun secara drastis. Kestabilan tegangan menyangkut dengan gangguan besar dan gangguan kecil
dalam jangka waktu pendek maupun panjang. Ketidakstabilan yang mungkin terjadi adalah
terjadinya peningkatan atau jatuhnya nilai tegangan pada beberapa bus pada sistem. Faktor utama
yang menjadi penyebab ketidakstabilan tegangan adalah ketidakmampuan dari sistem untuk
memenuhi kebutuhan daya reaktif beban.
Penurunan tegangan bus dapat juga dihubungkan dengan ketidakstabilan sudut rotor. Contohnya,
ketika terjadi loss of synchronism di antara dua grup mesin akan mengakibatkan tegangan yang
sangat rendah di tengah saluran sistem.
Kestabilan tegangan dikelompokkan menjadi dua macam, berdasarkan gangguannya:
1). Kestabilan tegangan akibat gangguan besar.
2). Kestabilan tegangan akibat gangguan kecil.
Penambahan Beban Secara Tiba-Tiba
Penambahan beban pada suatu sistem tenaga listrik dapat mengakibatkan timbulnya gangguan
peralihan jika:
1. Jumlah beban melebihi batas kestabilan keadaan mantap untuk kondisi tegangan dan reaktansi
rangkaian tertentu.
2. Jika beban dinaikkan sampai terjadi osilasi, sehingga menyebabkan sistem mengalami ayunan
yang melebihi titik kritis yang tidak dapat kembali.
Apabila sistem tenaga listrik dilakukan pembebanan dengan beban penuh secara tiba-tiba, maka arus
yang diperlukan sangat besar akibatnya frekuensi sistem akan turun dengan cepat. Pada kondisi
demikian sistem akan keluar dari keadaan sinkron walaupun besar beban belum mencapai batas
kestabilan mantap yaitu daya maksimumnya, Hal ini dikarenakan daya keluar elektris generator jauh
melampaui daya masukan mekanis generator atau daya yang dihasilkan penggerak mula, dan
kekurangan ini disuplai dengan berkurangnya energi kinetis generator. Sehingga putaran generator

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
turun atau frekuensi sistem turun, sudut daya bertambah besar dan melampaui sudut kritisnya,
akibatnya generator akan lepas sinkron atau tidak stabil. Sesaat dilakukannya pembebanan tersebut,
rotor generator akan mengalami ayunan dan getaran yang besar.
Kestabilan Mantap
Kondisi kestabilan pada suatu sistem tenaga listrik bukan hanya akibat dari kondisi peralihan seperti
proses pemutusan akibat adanya gangguan, tetapi meliputi aspek ketidakstabilan pada kondisi
mantap. Bila terdapat sebuah mesin (generator) dengan tegangan internal sebesar EG dihubungkan
dengan sistem tak hingga (infinite bus) dengan tegangan Ei melalui saluran transmisi dan rangkaian

Dengan demikian, daya maksimum yang dapat ditransfer sebesar:

Besaran tersebut merupakan batas kestabilan mantap, sehingga pengiriman daya yang lebih besar
dari Pmax akan menyebabkan mesin tersebut keluar dari sistem. Berdasar pada model diatas,
terdapat 3 karakteristik listrik yang mempengaruhi kestabilan, yaitu:
1). Tegangan internal generator,
2). Reaktansi antara mesin generator dengan bus tak hingga, 3). Tegangan pada bus tak hingga.
Dengan demikian, makin tingginya tegangan internal generator, dan makin rendahnya reaktansi
sistem dan generator, akan mengakibatkan daya yang dapat ditransfer akan makin tinggi.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB III
LANGKAH PERCOBAAN
Buatlah one line diagram dengan susunan seperti gambar di bawah ini

Gambar 4.1 OLV1

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Gambar 4.2 Network1

Gambar 4.3 Network2

Gambar 4.4 Cmtr1


Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
1. Isi rating berdasarkan data yang telah ditentukan asisten:
a. Generator
MW kV PF Rating
Nama Mode Rating Rating (%) Imp / Model

Gen1 PF 2 MW 13.8 85 Typical Data


Control

Gen2 Swing 3 MW 13.8 85 Typical Data

Gen3 Mvar 3 MW 13.8 85 Typical Data


Control
Gen4 PF 3 MW 13.8 85 Typical Data
Control

Gen 1

Gen 2

Gen 3

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Gen 4

Gen 1

Gen1, Gen3, Gen4

Gen1, Gen2, Gen3, Gen4

b. Transformator

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Nilai Typic Prim. Sec.
Nam Vp Vs Groundi
MVA al Grounding Grounding
a (kV) (ks) ng
Data
T2 13.8 150 2 Z & X/R - - -
T3 13.8 150 1.5 Z & X/R - - -
T5 150 20 1.5 Z & X/R - - -
T6 150 20 3.75 Z & X/R - - -
T9 150 20 1 Z & X/R - - -
T10 150 20 2 Z & X/R - - -
T11 20 0.4 0.8 Z & X/R - - -
T12 20 0.4 0.85 Z & X/R - - -
T13 20 0.4 1.52 Z & X/R - Resistor 40 Resistor 40
Ω Ω
T14 20 0.4 0.7 Z & X/R - - -
T15 20 0.4 0.11 Z & X/R - - -
T16 13.8 150 1.5 Z & X/R - - -
T17 13.8 150 1.75 Z & X/R - - -

c. Static load
Nama Nilai kVA % PF

Load1 100 90

Load2 145 80

d. Lumped load
Load ID kVA kV % PF

Lump1 150 20 85

Lump2 300 20 85

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Lump3 275 20 70

Lump4 150 20 85

Lump5 120 0.4 85

Lump6 370 0.4 85

Lump7 150 20 90

Lump8 500 0.4 85

Lump9 450 0.4 85

Lump10 300 0.4 90

Lump11 150 0.4 95

Lump12 100 0.4 90

Lump13 220 0.4 90

Lump14 330 0.4 85

Lump15 450 20 85

e. Motor
Nama Motor kW kV % PF
Mtr1 300 20 85
Mtr2 250 20 85
Mtr3 300 20 80
Motor1, Motor 3

Motor 2

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

f. Transmission line
Length
Line 1 : 5 km
Line 2 : 5 km
Line 4 : 5 km
Line 5 : 10 km
Line 6 : 5 km
Conductor Lib : Metric; 50 Hz; AAAC; Pirelli; KRYPTON 158 mm2
Impedance (User-Defined)
Line1; Line2; Line4 ; Line5

Line 6

g. Cable

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Lengt Size Unit Freq
Nama kV #C Insul Source Install
h
(mm2) System (Hz)
(m)
Cable1 30 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable2 50 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable3 10 400 Metric 50 1.0 3/C XLPE BS5467 Mag
Cable4 20 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable5 50 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable6 10 400 Metric 50 1.0 3/C XLPE BS5467 Mag
Cable7 10 400 Metric 50 1.0 3/C XLPE BS5467 Mag
Cable8 10 400 Metric 50 1.0 3/C XLPE BS5467 Mag
Cable9 40 400 Metric 50 1.0 4/C XLPE BS6724 Non-Mag
Cable10 15 400 Metric 50 1.0 4/C XLPE BS6724 Non-Mag
Cable11 15 400 Metric 50 1.0 4/C XLPE BS6724 Non-Mag
Cable12 20 400 Metric 50 1.0 4/C XLPE BS6724 Non-Mag
Cable13 20 400 Metric 50 1.0 3/C Rubbe ICEA Non-Mag
r
Cable14 25 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag
Cable15 300 400 Metric 50 20 3/C XLPE Haesung Non-Mag

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
2. klik menu , kemudian Edit Studi Case maka akan tampil seperti di bawah ini:

Klik Events, lalu klik Add pada Events dan Actions sesuai kondisi saat Kehilangan Pembangkit,
Hubung Singkat Pada Saluran Transmisi dan Pelepasan Beban. Isi Total Simulation Time
selama 60 sekon.
3. Kehilangan Pembangkit
3.1 Lepas Gen1 dengan membuka CB1 (t=1 s) atau isi sesuai gambar di bawah ini

3.2 Buka tab plot, lalu pilih Device ID yang ingin diplot sesuai yang akan diamati di Data
Pengamatan (Gen3 dan Bus5, Line4 dan Bus13, Lump13 dan Bus31).
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

4. Hubung Singkat Pada Saluran Transmisi

4.1 Beri gangguan hubung singkat tiga fasa (t=1 s) dan Clear (t=1,2 s) pada Bus13 atau isi
sesuai gambar di bawah ini:

5. Pelepasan Beban
5.1 Lepas beban Lump2, Lump3 dan Lump4 dengan membuka CB4 (t= 1s) atau isi sesuai
gambar di bawah ini:
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
GAMBAR RANGKAIAN

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
BAB IV
PENGOLAHAN DATA
IV.1 Data Pengamatan
Kehilangan Pembangkit
Tabel 4.1. Kondisi Gen3 saat Kehilangan Pembangkit
Sudut
Daya Daya Kec.
Waktu Tegangan Frekuensi Daya
NO Aktif Reaktif Rotor
(s) (kV) (Hz) Relatif
(kW) (kVAR) (RPM)
(Degree)
1. 1
2. 1,001
3. 5
4. 10
5. 20
6. 30
Tabel 4.2. Kondisi Line4 saat Kehilangan Pembangkit

Daya Daya
Waktu Tegangan Frekuensi
NO Aktif Reaktif
(s) (kV) (Hz)
(kW) (kVAR)
1. 1
2. 1,001
3. 5
4. 10
5. 20
6. 30
Table 4.3 Kondisi Lump13 saat kehilangan pembangkit
Daya
Waktu Tegangan Frekuensi Daya Aktif
NO Reaktif
(s) (kV) (Hz) (kW)
(kVAR)
1. 1
2. 1,001
3. 5
4. 10
5. 20
6. 30
Hubung singkat pada saluran transmisi
Tabel 4.4. Kondisi Gen3 saat Hubung Singkat Pada Saluran Transmisi

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
No. Waktu Tegangan Frekuensi Daya Daya Kec. Sudut
(s) (kV) (Hz) Aktif Reaktif Rotor Daya
(kW) (kVAR) (RPM) Relatif
(Degree)
1. 1
2. 1,001
3. 1,201
4. 5
5. 10
6. 20
7. 30
Tabel 4.5. Kondisi Line4 saat Hubung Singkat Pada Saluran Transmisi
No. Waktu (s) Tegangan Frekuensi Daya Daya
(kV) (Hz) Aktif Reaktif
(kW) (kVAR)
1. 1
2. 1,001
3. 1,201
4. 5
5. 10
6. 20
7. 30
Tabel 4.6. Kondisi Lump13 saat Hubung Singkat Pada Saluran Transmisi
No. Waktu (s) Tegangan Frekuensi Daya Daya
(kV) (Hz) Aktif Reaktif
(kW) (kVAR)
1. 1
2. 1,001
3. 1,201
4. 5
5. 10
6. 20
7. 30
Pelepasan Beban
Tabel 4.7. Kondisi Gen3 saat Pelepasan Beban
No. Waktu Tegangan Frekuensi Daya Daya Kec. Sudut
(s) (kV) (Hz) Aktif Reaktif Rotor Daya
(kW) (kVAR) (RPM) Relatif
(Degree)
1. 1
2. 1,001
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
3. 5
4. 10
5. 20
6. 30
Tabel 4.8. Kondisi Line4 saat Pelepasan Beban
No. Waktu (s) Tegangan Frekuensi Daya Daya
(kV) (Hz) Aktif Reaktif
(kW) (kVAR)
1. 1
2. 1,001
3. 5
4. 10
5. 20
6. 30
Tabel 4.9. Kondisi Lump13 saat Pelepasan Beban
No. Waktu (s) Tegangan Frekuensi Daya Daya
(kV) (Hz) Aktif Reaktif
(kW) (kVAR)
1. 1
2. 1,001
3. 5
4. 10
5. 20
6. 30

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
ANALISA

Praktikum modul 4 berjudul, “Analisa Kestabilan Peralihan (Transient Stability Analysis)”.


Dimana pengertian stabilitas adalah kemampuan sistem yang memiliki dua atau lebih mesin sinkron
untuk berpindah dari suatu kondisi steady-state karena adanya perubahan sistem ke kondisi steady-
state lainnya, maka sistem akan berubah dari kondisi lama ke kondisi baru. Sedangkan kestabilan
peralihan (transient stability) merupakan kondisi periode singkat diantara dua kondisi, dari suatu
kondisi steady state ke kondisi steady state lainnya. Transient stability assessment atau studi tentang
kestabilan transien harus dilakukan karena suatu sistem dapat dikatakan stabil pada kestabilan
steady state, namun belum tentu stabil pada kestabilan peralihan, sehingga studi ini perlu dilakukan
guna untuk mengetahui apakah sistem dapat bertahan saat gangguan peralihan terjadi. Faktoe- fsktor
yang menyebabkan terjadinya gangguan pada kestabilan peralihan, yaitu: beban lebih akibat
lepasnya suatu generator dari sistem, hubungan singkat (short circuit), starting pafa motor, dan
pelepasan beban yang mendadak.
Transient Stability Assessment atau studi tentang kestabilan transien harus dilakukan karena
suatu sistem dapat dikatakan stabil pada kestabilan steady state, namun belum tentu stabil pada
kestabilan peralihan, sehingga studi ini perlu dilakukan guna untuk mengetahui apakah sistem dapat
bertahan saat gangguan peralihan terjadi.
Tujuan dilaksanakannya praktikum modul 4 ini, yaitu: praktikan dapat enganalisa dan
mengamati kestabilan pembangkit, transmisi dan distribusi saat terjadi kehilangan pembangkit,
praktikan dapat menganalisa dan mengamati kestabilan pembangkit, transmisi dan distribusi saat
terjadi hubung singkat pada saluran transmisi dalam selang waktu tertentu, dan praktikan dapat
menganalisa dan mengamati kestabilan pembangkit, transmisi dan distribusi saat terjadi pelepasan
beban secara tiba-tiba.
Parameter yang terdapat pada kestabilan peralihan, yaitu: kestabilan sudut rotor, kestabilan
tegangan, dan kestabilan frekuensi. Kestabilan frekuensi berkaitan dengan kemampuan dari sistem
untuk mempertahankan kestabilan frekuensi akibat gangguan pada sistem yang mengakibatkan
ketidakseimbangan antara pembangkitan dan beban. Kestabilan sudut rotor adalah kemampuan dari
beberapa mesin sinkron yang saling terinterkoneksi pada suatu sistem tenaga untuk
mempertahankan kondisi sinkron setelah terjadi gangguan. Kestabilan tegangan adalah kemampuan
dari suatu sistem tenaga listrik untuk mempertahankan kestabilan tegangan pada semua bus dari
sistem setelah mengalami gangguan.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
Pada praktikum modul 4 ini dilakukan 3 percobaan, yaitu; percobaan pelepasan pembangkit,
percobaan pelepasan short circuit, dan percobaan pelepasan beban. Hal yang dapat mempengaruhi
kondisi transien, yaitu: pelepasan beban, pelepasan pembangkit, hubung singkat pada transmisi, dan
starting motor. Untuk mengatur transiem edit studi case, lalu masuk ke menu event. Pada percobaan
pertama yaitu percobaan pelepasan pembangkit, waktu cb diatur menjadi 1 sekon. Saat melebihi
waktu satu sekon maka cb akan bekerja dan menyebabkan generator tidak menyuplai lagi. Saat cb-
nya sudah terlepas generator tidak akan menyuplai daya, dan menyebabkan nilai daya yang
dibangkitkan lebih kecil dibandingkan dengan daya yang dibutuhkan oleh beban. Pada generator 3
supply daya aktif dan daya reaktifnya meningkat dikarenakan pada saat generator 1 dilepas maka
akan terjadi load sharing. Beban yang ditinggalkan oleh generator satu akan ditanggung oleh
generator 2,3,4. Pada saat beban ditanggung oleh generator 2,3,4 dinamakan load sharing. Pada saat
pelepasan pembangkit maka nilai frekuensi turun dikarenakan terjadi peningkatan beban. Nilai
beban yang naik mengakibatkan frekuensi turun, sehingga kecepatan rotor turun dan terjadi
penurunan pada torsi. Pada grafik setelah 1 sekon frekuensi turun kemudia grafik naik lagi agar daya
yang dibangkitkan sama dengan daya yang dibutuhkan sampai dengan dalam keadaan steady state.
Pada saat keadaan steady state tidak dapat kembali ke kondisi awal.
Pada percobaan hubung singkat, event diatur menjadi 2 kondisi. Kondisi pertama adalah
pada saat gangguan, dan kondisi kedua adalah kondisi dimana gangguan sudah tidak ada (clear).
Kondisi gangguan saat setelah satu sekon, kondisi gangguan sudah tidak ada saat setelah 1,2 sekon.
Ketika terjadi gangguan 1 sekon pada transmisi nilai tegangannya nol, tidak ada daya daya aktif
maupun daya reaktif yang di supply. Tegangan pada generator menjadi sangat kecil, dikarenakan
saat hubung singkat nilai arus yang mengalir sangat besar. Berdasarkan rumus V=i.Z, ketika hubung
singkat nilai impedansinya kecil bahkan dianggap nol. Bilangan apapun apabila dikalikan dengan
nol, hasilnya akan nol. Sehingga V=i.0 adalah sama dengan nol, yang berarti tegangan pada
generator dapat dikatakan menjadi nol. Ketika sudah pada kondisi clear fault tegangan meningkat,
saat tegangan meningkat ada penyesuaian daya yang dibangkitkan dengan daya yang dibutuhkan.
Pada percobaan pelepasan beban, langkah yang dilakukan hampir sama dengan pelepasan
pembangkit. Yang membedakan adalah cb yang akan dilepas adalah di bagian penyulang. Pada saat
cb sudah lepas yang terjadi adalah daya yang dibangkitkan nilainya lebih besar dibandingkan
dengan daya yang dibutuhkan. Tegangan pada rangkaian menjadi meningkat, namun supply daya
reaktif dan daya aktif pada generator 3 turun. Supply daya yang turun disebabkan karena adanya
governo, governor bertugas untuk mengatur frekuensi konstan. Saat daya yang dibangkitkan
nilainya lebih besar disbanding daya yang dibutuhkan, governor akan memerintahkan katup untuk
Laboratorium Sistem Tenaga Listrik
INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
mengurangi pasokan bahan bakar ke turbin. Dikarenakan adanya pengurangan bahan bakar yang di
supply, menyebabkan putaran rotor menjadi lebih kecil atau semakin lambat. Daya aktif dan daya
reaktif juga akan menjadi turun menyesuaikan dengan daya yang dibutuhkan. Besar frekuensi pada
generator ketika pelepasan beban naik, dikarenakan bebannya berkurang. Beban yang berkurang
menyebabkan nilai frekuensi naik, Pada generator terdapat momen inersia, dimana motor akan
mempertahankan kelembamannya. Pada saat kondisi awal belum ada perubahan dikarenakan
momen inersia masih mempertahankan kelembamannya, namun setelah saat 1,2 sekon momen
inersianya berkurang dan putarannya menjadi cepat. Ketika pelepasan pembangkit kecepatan
generator 3 akan berkurang karena membutuhkan kecepatan rotor yang lebih.

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
KESIMPULAN
Pada saat pelepasan pembangkit maka nilai frekuensi turun dikarenakan terjadi peningkatan
beban, sedangka pada saat pelebasan beban maka nilai frekuensi menjadi naik dikarenakan
kehilangan beban. Ketika terjadi gangguan 1 sekon pada transmisi nilai tegangannya nol, tidak ada
daya daya aktif maupun daya reaktif yang di supply. Tegangan pada generator menjadi sangat kecil,
dikarenakan saat hubung singkat nilai arus yang mengalir sangat besar

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
REPORT

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
TUGAS AKHIR
Simulasikan beberapa kondisi berikut ini:
1. Kehilangan Pembangkit

2. Gangguan Hubung Singkat Pada Saluran Transmisi

3. Pelepasan Beban

Amati tegangan, frekuensi, daya aktif, daya reaktif, kecepatan rotor dan sudut daya relatif pada
rangkaian tugas akhir anda (Study case sesuai rangkaian modul ini)

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN
Femi Grecia L. Tobing
201711329
PERTANYAAN
1. Apa yang menyebabkan terjadinya permasalahan kestabilan transient ?
Yang menyebabkan terjadinya permasalahan kestabilan transient (peralihan), yaitu:
a. Terjadi beban lebih,
b. terjadi hubung singkat,
c. terjadi pelepasan beban yang tiba-tiba,
d. starting motor.
2. Apa akibatnya apabila terjadi permasalahan kestabilan transient dalam sistem tenaga listrik ?

3. Apabila terjadi gangguan pada sistem tenaga, terjadi perubahan pada frekuensi. Jelaskan cara
untuk mengatur frekuensi sistem agar dapat kembali ke kondisi operasi normal !

4. Apa yang terjadi pada sistem tenaga listrik ketika beban lepas secara tiba-tiba ?

5. Sebutkan dan jelaskan solusi yang anda ketahui untuk mencegah dan menanggulangi
permasalahan kestabilan transient dalam sistem tenaga listrik !

Laboratorium Sistem Tenaga Listrik


INSTITUT TEKNOLOGI PLN

Anda mungkin juga menyukai