0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan5 halaman

Capaian Pembelajaran Teknik Elektro

Berdasarkan dokumen tersebut, ada beberapa poin penting: 1. Dokumen membahas tentang standar kompetensi lulusan program studi Teknik Elektro berdasarkan KKNI dan peraturan terkait. 2. Capaian pembelajaran mencakup sikap, keterampilan umum, keterampilan khusus, dan pengetahuan yang harus dimiliki lulusan Teknik Elektro. 3. Keterampilan khusus meliputi kemampuan menerap

Diunggah oleh

Kunto Bhein
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan5 halaman

Capaian Pembelajaran Teknik Elektro

Berdasarkan dokumen tersebut, ada beberapa poin penting: 1. Dokumen membahas tentang standar kompetensi lulusan program studi Teknik Elektro berdasarkan KKNI dan peraturan terkait. 2. Capaian pembelajaran mencakup sikap, keterampilan umum, keterampilan khusus, dan pengetahuan yang harus dimiliki lulusan Teknik Elektro. 3. Keterampilan khusus meliputi kemampuan menerap

Diunggah oleh

Kunto Bhein
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pendahuluan

Menurut Perpres RI  Nomor 8  Tahun  2012  tentang  KKNI, jenjang kualifikasi  KKNI adalah
tingkatan  capaian pembelajaran  dan    atau capaian kompetensi yang disepakati secara
nasional
Untuk pendidikan Sarjana, deskriptor KKNI termasuk  dalam Jenjang Kualifikasi 6 [Sarjana)
sebagai berikut:
1. Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan   memanfaatkan IPTEKS pada   
bidangnya   dalam   penyelesaian   masalah   serta mampu beradaptasi terhadap situasi
yang dihadapi.
2. Menguasai konsep  teoritis  bidang  pengetahuan   tertentu   secara umum         dan     
konsep   teoritis   bagian   khusus    dalam   bidang pengetahuan      tersebut     
secara     mendalam,     serta     mampu memformulasikan penyelesaian masalah
prosedural.
3. Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi  dan   data,  
dan    memberikan  petunjuk  dalam  memilih berbagai altematif solusi secara mandiri
dan kelompok.
4. Bertanggung jawab   pada   pekerjaan   sendiri  dan    dapat   diberi tanggung jawab
atas   pencapaian hasil kerja
Dilain pihak, berdasarkan  UU No  12 tahun  2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal  55
ayat   6,  kegiatan  akreditasi dilakukan  oleh lembaga akreditasi mandiri bentukan
masyarakat yang diakui oleh pemerintah atas     rekomendasi Badan   Akreditasi  Nasional
Perguruan   Tinggi. Selanjutnya  pada   Peraturan   Menteri  No   87   tahun   2014 tentang
Akreditasi  Pasal  25   ayat    1  dan    2   menyebutkan   bahwa  lembaga akreditasi mandiri 
dibentuk berdasarkan  rumpun,  pohon, dan/ atau cabang  ilmu  pengetahuan.   Bidang
teknik  adalah  rumpun   keenam berdasarkan  UU  12/2012  dan   merupakan  salah  satu   
dari   8  profesi yang   telah   memiliki  Memorandum   of Arrangement   di    ASEAN,
sehingga mutu  pendidikan  tinggi bidang teknik  harus  dikendalikan dan  senantiasa
ditingkatkan.
Pendidikan tinggi teknik di  Indonesia segera mengubah evaluasi akreditasi  dari   
format yang mengutamakan mutu masukan  (input based approach/IBA) menjadi mutu
manfaat (outcome-based approach/OBA). Hal  ini  disepakati karena  berdasarkan
pengalaman dan   data   global intemasional  memastikan  bahwa OBA memberikan
manfaat pendidikan tinggi teknik yang jauh lebih besar dibandingkan dengan IBA.
Pada  tataran   dunia,  mutu  pendidikan  tinggi bidang  teknik  dapat merujuk kepada 
sistem penjaminan  mutu ekstemal  yang disepakati dalam  Washington  Accord  pada  
tahun    1989  oleh  enam  badan akreditasi  dari Australia,  Kanada,  Inggris, Irlandia,
Selandia Baru, dan      Amerika    Serikat     yang     menggunakan outcome based
approach/OBA.    Lebih dari  60% lembaga akreditasi  pendidikan tinggi bidang   teknik    
di    dunia    kemudian   berhimpun    dalam   wadah Washington Accord (WA)Signatories ini,
termasuk  Jepang, Hongkong, Malaysia, Afrika Selatan,  dan    Singapura.   Saat    ini   PH
juga    telah dipandang  oleh  WA Signatories sebagai “Councils of Engineers” (CE) atau
“Institutions of Professional Engineers” (IPE)
Pada OBE (outcome based education), setiap program memiliki profil lulusan   yang
diharapkan   dipunyai   setelah 3-5    tahun   kelulusan sebagai   tujuan    prodi   (ABET
menyebutnya    PEO  atau     program educational objectives).  Sementara    itu,    atribut   
kemampuan   yang harus  dimiliki pada  saat   kelulusan  disebut  capaian pembelajaran
(CP)  sebagai  sasaran   program  studi  (ABET menyebutnya   SO  atau student    
outcomes; IABEE menyebutnya   LO  atau    learning  outcomes), atau    Program Learning
Outcomes  untuk   lebih  tepatnya   agar dapat dibedakan dengan Course  (Learning)
Outcome (sasaran mata kuliah).

Capaian   Pembelajaran    Rumpun   Teknik   Elektro


Merujuk  kepada  UU  PT  No.12  Tahun  2012,  Perpres  RI  Nomor 8 Tahun  2012
tentang  KKNI, dan Permenristekdikti  Nomor 44  tahun 2015  tentang   Standar   Nasional
Pendidikan  Tinggi dan    Perpres  RI Nomor 8  Tahun  2012 tentang  KKNI, lulusan
program studi  rumpun Teknik    Elektro    memiliki   standar kompetensi         lulusan      
yang dinyatakan dalam rumusan  Capaian   Pembelajaran.
Setiap lulusan  program pendidikan  rumpun    Teknik    Elektro    harus memiliki
kemampuan  yang mencakup Sikap,   Keterampilan     Umum, Keterampilan     Khusus,   
dan  Pengetahuan     berikut.
Capaian pembelajaran Sikap dan  Keterampilan Umum merujuk Permenristekdikti
Nornor 44   tahun  2015 tentang Standar  Nasional Pendidikan  Tinggi. Capaian
pernbelajaran  Sikap  dan    Keterampilan Urnurn  tersebut   dapat ditarnbahkan   oleh   
perguruan   tinggi  yang mengelola Program Sarjana rumpun Teknik Elektro.
A. Capaian Pembelajaran  Sikap
1. mampu menunjukkan   sikap  religius  dan    ketakwaan   kepada Tuhan Yang Maha
Esa
2. mampu  menjunjung     tinggi    nilai     kemanusiaan      dalam menjalankan  tugas
berdasarkan  agama, moral dan  etika;
3. mampu berperan  sebagai warga negara yang bangga dan   cinta tanah  air,
rnerniliki nasionalisme serta rasa   tanggungjawab pada negara dan  bangsa;
4. marnpu berkontribusi dalam peningkatan mutu  kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila;
5. mampu bekerja sarna dan   rnenunjukkan  kepekaan  sosial serta kepedulian
terhadap rnasyarakat dan lingkungan;
6. mampu menunjukkan  penghargaan  terhadap  keanekaragaman budaya,
pandangan,  agama,  dan   kepercayaan,  serta  pendapat atau temuan orisinal
orang lain;
7. mampu  menunjukkan   ketaatan   hukum   dan    disiplin  dalam kehidupan
bermasyarakat dan  bernegara;
8. mampu menunjukkan sikap bertanggungjawab atas   pekerjaan di bidang
keahliannya secara mandiri;
9. mampu  menunjukkan   internalisasi   nilai,  norma,   dan     etika akademik;
10. mampu  menunjukkan    intemalisasi    semangat   kemandirian, kejuangan, dan
kewirausahaan.
B. Capaian Pembelajaran    Keterampilan     Umum  (Sarjana)
1. mampu menerapkan  pemikiran  logis, kritis,  sistematis,  dan inovatif dalam konteks
pengembangan atau  implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang
memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora yang   sesuai dengan bidang
keahliannya;
2. mampu menunjukkan kinerja mandiri, bermutu, dan terukur;
3. mampu  mengkaji implikasi pengembangan  atau  implementasi ilmu  pengetahuan
teknologi yang memperhatikan  dan menerapkan nilai humaniora sesuai dengan
keahli annya berdasarkan  kaidah,  tata   cara dan   etika ilmiah dalam rangka
menghasilkan    solusi,   gagasan,   desain    atau    kritik   seni, menyusun deskripsi
saintifik  hasil  kajiannya  dalam  bentuk skripsi atau  laporan  tugas  akhir,  dan   
mengunggahnya dalam laman perguruan tinggi;
4. menyusun  deskripsi  saintifik  hasil  kajian  terse but    di   atas dalam       bentuk    
skripsi    atau    laporan    tugas    akhir,    dan mengunggahnya dalam laman
perguruan tinggi;
5. mampu mengambil  keputusan   secara  tepat  dalam  konteks penyelesaian
masalah di bidang keahliannya, berdasarkan hasil analisis informasi dan  data;
6. mampu   memelihara   dan     mengembangkan   jaringan    kerja dengan
pembimbing, kolega, sejawat baik di  dalam maupun  di luar  lembaganya
7. mampu  bertanggungjawab    atas      pencapaian    hasil    kerja kelompok dan   
melakukan supervisi dan   evaluasi terhadap penyelesaian pekerjaan yang
ditugaskan  kepada  pekerja yang berada di bawah tanggungjawabnya;
8. mampu melakukan  proses  evaluasi  diri   terhadap   kelompok kerja yang berada 
dibawah tanggung jawabnya,  dan   mampu mengelola pembelajaran secara mandiri;
9. mampu mendokumentasikan, menyimpan, mengamankan, dan menemukan kembali
data untuk menjamin  kesahihan dan mencegah plagiasi.
C. Capaian       Pembelajaran        Keterampilan       Khusus       (Teknik/ Engineering)
Capaian  Pembelajaran  Keterampilan  Khusus  dan    Pengetahuan  di bawah ini
diusulkan  oleh FORTEI untuk Program Sarjana  rumpun Teknik Elektro. Capaian
Pembelajaran Keterampilan Khusus merujuk kepada   capaian pembelajaran   bidang   
teknik   (engineering) yang dirumuskan    oleh   IABEE  (Indonesian   Accreditation   Board
for Engineering Education). Capaian  Pembelajaran  terkait  Pengetahuan rumpun   Teknik
Elektro mempertimbangkan   rumusan   kurikulum FORTEI   2014,     IABEE,   dan       
ABET.   Capaian     Pembelajaran Keterampilan Khusus dan   Pengetahuan  terse but   
dapat  ditambahkan oleh   Program   Sarjana   rump un    Teknik Elektro   sesuai   dengan
kekhasan dan  ketersediaan sumber daya masing-masing.
1. Kemampuan menerapkan pengetahuan  matematika,  ilmu pengetahuan  alam darr/
atau   material, teknologi informasi dan keteknikan         untuk    mendapatkan    
pemahaman    menyeluruh ten tang prinsip-prinsip
2. Kemampuan mendesain  komponen,  sistem  dan atau proses untuk    memenuhi   
kebutuhan    yang diharapkan    di    dalam batasan-batasan       realistis,     
misalnya     hukum,      ekonomi, lingkungan,    sosial, politik,   kesehatan    dan     
keselamatan, keberlanjutan  serta  untuk  mengenali dan/ atau   memanfaatkan
potensi  sumber   daya  lokal  dan    nasional   dengan  wawasan global.
3. Kemampuan mendesain  dan    melaksanakan   eksperimen laboratorium dan/ atau
lapangan serta menganalisis dan mengartikan data untuk memperkuat penilaian
teknik.
4. Kemampuan mengidentifikasi, merumuskan, menganalisis dan menyelesaikan
permasalahan  teknik.
5. Kemampuan  menerapkan   metode,  keterampilan dan piranti teknik    yang    
modem    yang    diperlukan     untuk praktek keteknikan.
6. Kemampuan berkomunikasi secara efektif baik lisan maupun tulisan
7. Kemampuan merencanakan, menyelesaikan dan   mengevaluasi tugas didalam
batasan-batasan  yang ada  secara sistematis
8. Kemampuan bekerja  dalam  tim  lintas   disiplin  dan    lintas budaya.
9. Kemampuan untuk bertanggung jawab kepada masyarakat  dan mematuhi etika
profesi  dalam  menyelesaikan  permasalahan teknik.
10. Kemampuan  memahami    kebutuhan     akan    pembelajaran sepanjang hayat,
termasuk akses terhadap pengetahuan  terkait isu-isu kontemporer yang relevan.
D. Capaian  Pembelajaran    Pengetahuan   (rumpun   Teknik   Elektro)
1. Kemampuan mendapatkan  dan  menerapkan pengetahuan matematika level
universitas termasuk kalkulus integral diferensial, aljabar tinier, variable kompleks,
serta probabilitas dan  statistik
2. Kemampuan menerapkan pengetahuan  dan  praktikum  fisika dan  sains dasar lain
yang sesuai dengan nama program studi
3. Kemampuan menerapkan  pengetahuan  komputasi yang diperlukan  untuk
menganalisa dan  merancang  divais atau sistem kompleks
4. Kemampuan menerapkan  pengetahuan  inti  (core knowledge) bidang teknik elektro
termasuk  rangkaian  elektrik, sistem dan sinyal, sistem digital, elektromagnetik,  dan
elektronika
5. Kemampuan menerapkan  pengetahuan  keluasan  (breadth knowledge) yang
mencakup sejumlah topik kerekayasaan  yang sesuai dengan nama program studi
6. Kemampuan menerapkan  setidaknya satu   bidang pengetahuan kedalaman  (depth
knowledge) yang sesuai dengan nama program studi
7. Kemampuan menerapkan dan  keterampilan yang diperoleh dari perkuliahan
sebelumnya dalam kegiatan desain rekayasa.
Petunjuk/Penjelasan   lanjutan:
1. Prodi dapat menambahkan sendiri CP Keterampilan Khusus dan  CP Pengetahuan
sesuai kekhasan  dan  ketersediaan  sumber daya masing-masing
2. Universitas tempat bemaung prodi dapat menambahkan  CP Sikap dan  CP
Keterampilan umum, jika  diperlukan
3. Rumusan CP di atas   memiliki poin  yang termasuk  banyak, sehingga
simplifikasinya tentu lebih diharapkan  untuk implementasi dan  asesmen
ketercapainnya
4. Rumusan CP usulan  forum prodi sejenis, termasuk  FORTEI, adalah pada CP
Keterampilan Khusus dan  CP Pengetahuan.
5. Rumusan CP di atas   adalah CP minimal yang mesti dipenuhi oleh  setiap prodi.
6. Sebagai rujukan, CP Sikap dan  CP Keterampilan umum di atas tidak dapat
dikurangi. Namun, setiap program studi dapat merumuskan  capaian
pembelajarannya  dengan kalimat sendiri asalkan terdapat  matriks yang menyajikan
hubungan  antara CP prodi dengan rumusan  CP di atas
7. Pada outcome based education, CP mesti dapat diukur secara langsung dengan
“rubric” untuk proses perbaikan berkelanjutan.  Sejumlah CP Sikap dan  lainnya akan
memiliki masalah  dalam pengukuran  ketercapaiannya
8. Prodi dapat cukup mencantumkan CP Keterampilan Khusus dan  CP Pengetahuan
sebagai CP prodi dan  kemudian menyediakan matriks yang menyajikan
keterkaitannya terhadap  CP Sikap dan  CP Keterampilan Umum. Dengan demikian,
kesulitan  pengukuran  terhadap  CP yang banyak dapat dihindari.
9. Di level intemasional, Program studi teknik (engineering), terutama  rumpun  Teknik
Elektro, mensyaratkan pengetahuan yang kuat   dan  cukup pada fisika dan  sains
dasar lain  (sesuai nama program studi) serta   pada   matematika  tingkat
universitas.  CP Pengetahuan  (a) & (b) diperlukan  untuk memastikan  hal  tersebut.
10. CP Pengetahuan di atas juga sekaligus sebagai garis  besar pemenuhan  tingkat
kedalaman  dan  keluasan  pada standar isi pembelajaran  yang  dimaksud  pada   
Bagian Ketiga, Pasal 9 Permenristekdikti  No.44/ 20 15
11. Setelah CP Pengetahuan di atas, rekomendasi  Kurikulum Inti FORTEI 2014  dapat
digunakan  sebagai rujukan  lanjutan  dan praktis bagi  kurikulum  rumpun  Teknik
Elektro (termasuk ranah  pembelajaran  Bloom yang  diharapkan)

Common questions

Didukung oleh AI

The Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE) and ABET frameworks contribute significantly to setting learning outcome standards for Electrical Engineering programs by providing structured guidelines that emphasize both academic rigor and industry relevance. IABEE, informed by ABET criteria, specifies learning outcomes that encompass technical knowledge, problem-solving, ethical responsibility, and communication skills, ensuring students are prepared for global engineering challenges. These frameworks advocate for measurable outcomes, requiring institutions to adopt best practices in assessing and enhancing curriculum based on comprehensive international standards, fostering graduates equipped for international professional environments .

Electrical Engineering students in Indonesia must master several specific knowledge areas as part of their learning outcomes, including university-level mathematics such as differential and integral calculus, linear algebra, complex variables, probability, and statistics. They should also grasp foundational physics and associated natural sciences pertinent to their program. Furthermore, they must understand core Electrical Engineering subjects, including electric circuits, systems and signals, digital systems, electromagnetics, and electronics, alongside computation necessary for analyzing and designing complex systems. These knowledge areas ensure comprehensive subject mastery for practical and theoretical applications .

Graduates in the field of Electrical Engineering, according to Indonesian higher education standards, are expected to attain core attitudes which include showing religious piety, upholding humanitarian values based on religion, morals, and ethics, national pride and responsibility, contributing to community welfare based on Pancasila, and working cooperatively with social and environmental awareness. General skills encompass logical, critical, systematic, and innovative thinking; documenting scientific descriptions as final reports; making accurate decisions based on analysis; maintaining professional networks; taking responsibility for group work outcomes; and self-evaluation to improve personal and group performance .

Higher education institutions can enhance the curriculum for Electrical Engineering programs uniquely by integrating specialized competencies and knowledge tailored to their resources and areas of expertise. This includes adding learning outcomes (CP) specific to the institution’s strengths while aligning with minimum CP standards. Institutions can specify unique CP in Special Skills and Knowledge, based on recommendations from forums such as FORTEI, reflecting distinct regional or institutional capabilities. They can also implement practical applications such as focus on specific engineering areas like renewable energy or communications technology, and incorporate project-based learning to deepen students' understanding of complex real-world challenges .

The Indonesian Qualifications Framework (KKNI) level 6, which pertains to undergraduate degrees, outlines specific competencies for graduates. These competencies include the ability to apply their specialized knowledge to solve problems, adapt to various situations, master both general and specific theoretical concepts, formulate procedural solutions, make informed decisions based on data analysis, provide guidance in selecting alternative solutions, and take responsibility for personal work and the work of others. This framework establishes a nationally agreed-upon standard for learning and competency outcomes .

Involvement in the Washington Accord significantly enhances the global recognition of engineering programs accredited in Indonesia by assuring that the programs meet an internationally agreed standard of quality. Being a signatory to the Washington Accord allows Indonesian accredited programs to be recognized in other signatory countries, facilitating the mobility of graduates across borders for higher education and professional opportunities. This mutual recognition promotes international collaboration and ensures that Indonesian graduates are seen as competitive and capable on a global scale, thus broadening their career prospects and access to diverse engineering roles worldwide .

Higher education institutions might face challenges in assessing the achievement of certain learning outcomes, especially those related to attitudes in Electrical Engineering programs, because these outcomes can be subjective and difficult to measure systematically. Attitudes such as ethical responsibility, social sensitivity, and environmental awareness require qualitative assessment methods, which can vary in reliability and consistency. Moreover, precisely capturing these outcomes necessitates the development of robust assessment tools, such as detailed rubrics, to ensure objectivity. Additionally, the need for continuous improvement and variation in interpretation of such CP makes direct measurement complex .

A strong foundation in both theoretical knowledge and practical skills is crucial for Electrical Engineering graduates to effectively solve complex engineering problems and adapt to rapidly changing technologies. Theoretical knowledge provides the foundation for understanding core engineering principles and concepts, which is essential for innovative thinking and further learning. Practical skills enable graduates to apply this knowledge to real-world situations, conduct experiments, and design systems. This dual emphasis ensures graduates are well-prepared to meet industry demands, make informed decisions, and sustain lifelong learning, keeping pace with contemporary issues .

Continuous learning and staying updated with contemporary issues are critical for the career progression of Electrical Engineering graduates, as they ensure that professionals remain competitive and relevant in a field characterized by rapid technological advancements. Lifelong learning enables graduates to adapt to new tools, methods, and theories, effectively addressing emergent engineering challenges. Moreover, engagement with current industry developments fosters innovation and improves problem-solving capacities, making engineers valuable assets to their organizations and opening pathways for leadership roles and career advancement .

Implementing an outcome-based approach (OBA) in engineering education, as endorsed by the Washington Accord, significantly enhances the quality of higher education in engineering. This shift ensures that educational programs focus on the actual outcomes of student learning - what students can do with what they know - rather than traditional input metrics such as curriculum content. The Washington Accord, established in 1989 by accrediting bodies from six countries, has emphasized that OBA provides substantial benefits over the input-based approach (IBA) by aligning educational objectives with industry needs, thus improving program relevance and student preparedness for professional practice. Consequently, more than 60% of international accreditation bodies have adopted this approach, highlighting its effectiveness in producing capable and competent engineering graduates .

Anda mungkin juga menyukai