Asuhan Keperawatan Mioma Uteri Post-Op
Asuhan Keperawatan Mioma Uteri Post-Op
S
DENGAN MIOMA UTERI POST-OP HISTEREKTOMI DI
RUANG BERSALIN RUMAH SAKIT PERKEBUNAN JEMBER
Oleh:
Eri Purba [Link]
2001032029
A. Pengertian
Mioma uteri adalah suatu tumor jinak berbatas tegas tidak berkapsul yang berasal
dari otot polos dan jaringan ikat fibrous. Biasa juga disebut fibromioma uteri, leiomioma
uteri atau uterine fibroid. Tumor jinak ini merupakan neoplasma jinak yang sering
ditemukan pada traktus genitalia wanita, terutama wanita sesudah produktif (menopouse).
Mioma uteri jarang ditemukan pada wanita usia produktif tetapi kerusakan reproduksi
dapat berdampak karena mioma uteri pada usia produktif berupa infertilitas, abortus
spontan, persalinan prematur dan malpresentasi (Aspiani, 2017).
B. Etiologi
Menurut Aspiani ada beberapa faktor yang diduga kuat merupakan faktor predisposisi
terjadinya mioma uteri.
1. Umur
Mioma uteri ditemukan sekitar 20% pada wanita usia produktif dan sekitar 40%-50%
pada wanita usia di atas 40 tahun. Mioma uteri jarang ditemukan sebelum menarche
(sebelum mendapatkan haid).
2. Hormon Endogen (endogenous hormonal)
Konsentrasi estrogen pada jaringan mioma uteri lebih tinggi dari pada jaringan
miometrium normal.
3. Riwayat Keluarga
Wanita dengan garis keturunan dengan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri
mempunyai 2,5 kali kemungkinan untuk menderita mioma dibandingkan dengan
wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri.
4. Makanan
Makanan di laporkan bahwa daging sapi, daging setengah matang (red meat), dan
daging babi meningkatkan insiden mioma uteri, namun sayuran hijau menurunkan
insiden menurunkan mioma uteri.
5. Kehamilan
Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar estrogen dalam
kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus. Hal ini mempercepat
pembesaran mioma uteri. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin
berhubungan dengan respon dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan
produksi reseptor progesteron, dan faktor pertumbuhan epidermal.
6. Paritas
Mioma uteri lebih sering terjadi pada wanita multipara dibandingkan dengan wanita
yang mempunyai riwayat melahirkan 1 (satu) kali atau 2 (dua) kali
Faktor terbentuknya tumor
1. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor yang terjadinya reflikasi pada saat sel-sel yang mati
diganti oleh sel yang baru merupakan kesalahan genetika yang diturunkan dari orang
tua. Kesalahan ini biasanya mengakibatkan kanker pada usia dini. Jika seorang ibu
mengidap kanker payudara, tidak serta merta semua anak gadisnya akan mengalami
hal yang sama, karena sel yang mengalami kesalahan genetik harus mengalami
kerusakan terlebih dahulu sebelum berubah menjadi sel kanker. Secara internal, tidak
dapat dicegah namun faktor eksternal dapat dicegah. Menurut WHO, 10% – 15%
kanker, disebabkan oleh faktor internal dan 85%, disebabkan oleh faktor eksternal
(Apiani, 2017).
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal yang dapat merusak sel adalah virus, polusi udara, makanan, radiasi
dan berasal dari bahan kimia, baik bahan kimia yang ditam,bahkan pada makanan,
ataupun bahan makanan yang berasal dari polusi. Bahan kimia yang ditambahkan
dalam makanan seperti pengawet dan pewarna makanan cara memasak juga dapat
mengubah makanan menjadi senyawa kimia yang berbahaya. Kuman yang hidup
dalam makanan juga dapat menyebarkan racun, misalnya aflatoksin pada kacang-
kacangan, sangat erat hubungannya dengan kanker hati. Makin sering tubuh
terserang virus makin besar kemungkinan sel normal menjadi sel kanker. Proses
detoksifikasi yang dilakukan oleh tubuh, dalam prosesnya sering menghasilkan
senyawa yang lebih berbahaya bagi tubuh,yaitu senyawa yang bersifat radikal atau
korsinogenik. Zat korsinogenik dapat menyebabkan kerusakan pada sel.
C. Klasifikasi Mioma
Mioma umunya digolongkan berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang terkena.
1. Lokasi
Servical (2,6%), umumnya tumbuh kearah vagina menyebabkan infeksi. Isthmica
(7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus urinarius. Corporal
(91%) merupakan lokasi paling lazim dan sering kali tanpa gejala.
2. Lapisan uterus
Mioma uteri terdapat pada daerah korpus. Sesuai dengan lokasinya, mioma ini dibagi
menjadi tiga jenis.
a. Mioma Uteri Intramural
Mioma uteri merupakan yang paling banyak ditemukan. Sebagian besar tumbuh
diantara lapisan uterus yang paling tebal dan paling tengah (miometrium).
Pertumbuhan tumor dapat menekan otot disekitarnya dan terbentuk sampai
mengelilingi tumor sehingga akan membentuk tonjolan dengan konsistensi padat.
Mioma yaang terletak pada dinding depan uterus dalam pertumbuhannya akan
menekan dan mendorong kandung kemih ke atas, sehingga dapat menimbulkan
keluhan miksi
b. Mioma Uteri Subserosa
Mioma uteri ini tumbuh keluar dari lapisan uterus yang paling luar yaitu serosa
dan tumbuh ke arah peritonium. Jenis mioma ini bertangkai atau memiliki dasar
lebar. Apa bila mioma tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol
kepermukaan uterus diliputi oleh serosa. Mioma serosa dapat tumbuh di antara
kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter. Mioma
subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligamentum
atau omentum kemudian membebaskan diri dari uterus sehingga disebut
wandering parasitis fibroid.
c. Mioma Uteri Submukosa
Mioma ini terletak di dinding uterus yang paling dalam sehingga menonjol ke
dalam uterus. Jenis ini juga dapat bertangkai atau berdasarkan lebar. Dapat
tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian di keluarkan melalui saluran seviks
yang disebut mioma geburt. Mioma jenis lain meskipun besar mungkin belum
memberikan keluhan perdarahan, tetapi mioma submukosa walaupun kecil sering
memberikan keluhan gangguan perdarahan. Tumor jenis ini sering mengalami
infeksi, terutama pada mioma submukosa pedinkulata. Mioma submukosa
pedinkulata adalah jenis mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor ini
dapat keluar dari rongga rahim ke vagina, dikenal dengan nama mioma geburt
atau mioma yang dilahirkan.
D. Patofisiologi
Mioma uteri mulai tumbuh sebagai bibit yang kecil didalam miometrium dan lambat laun
membesar karena pertumbuhan itu miometrium mendesak menyusun semacam
pseudokapsula atau sampai semua mengelilingi tumor didalam uterus mungkin terdapat
satu mioma akan tetapi mioma biasanya banyak. Bila ada satu mioma yang tumbuh
intramural dalam korpus uteri maka korpus ini tampak bundar dan konstipasi padat. Bila
terletak pada dinding depan uterus mioma dapat menonjol kedepan sehingga menekan
dan mendorong kandung kemih keatas sehingga sering menimbulkan keluhan miksi
(Aspiani, 2017).
Secara makroskopis, tumor ini biasanya berupa massa abu-abu putih, padat, berbatas
tegas dengan permukaan potongan memperlihatkan gambaran kumparan yang khas.
Tumor mungkin hanya satu, tetapi umumnya jamak dan tersebar di dalam uterus, dengan
ukuran berkisar dari benih kecil hingga neoplasma masif yang jauh lebih besar dari pada
ukuran uterusnya. Sebagian terbenam didalam miometrium, sementara yang lain terletak
tepat di bawah endometrium (submukosa) atau tepat dibawah serosa (subserosa).
Terakhir membentuk tangkai, bahkan kemudian melekat ke organ disekitarnya, dari mana
tumor tersebut mendapat pasokan darah dan kemudian membebaskan diri dari uterus
untuk menjadi leimioma “parasitik”. Neoplasma yang berukuran besar memperlihatkan
fokus nekrosis iskemik disertai daerah perdarahan dan perlunakan kistik, dan setelah
menopause tumor menjadi padat kolagenosa, bahkan mengalami kalsifikasi
F. Pemeriksaan penunjang
1. USG abdomen
2. MRI
Hasil pencitraan yang bisa memperlihatkan ukuran dan lokasi miom dengan jelas
3. Histeroscopi
Tindakan ini dilakukan untuk mencari miom yang menonjol ke rongga rahim. Di sini
dokter akan menggunakan selang kecil berkamera dan memasukkannya ke dalam
rahim lewat vagina.
4. Biopsi
Di sini dokter akan mengambil sampel jaringan tumor setelah melakukan histeroskopi.
Kemudian, sampel ini akan diteliti di laboratorium. Lewat pemeriksaan ini dokter bisa
mengetahui apakah tumor bersifat jinak atau ganas
3. Jenis operasi
a. Enukleasi Mioma
Enuklesia mioma dilakukan pada penderita yang infertil yang masih menginginkan
anak, atau mempertahankan uterus demi kelangsungan fertilitas. Enukleasi
dilakukan jika ada kemungkinan terjadinya karsinoma endometrium atau sarkoma
uterus dan dihindari pada masa kehamilan. Tindakan ini seharusnya dibatasi pada
tumor dengan tangkai dan tumor yang dengan mudah dijepit dan diikat. Bila
miomektomi menyebabkan cacat yang menembus atau sangat berdekatan dengan
endometrium, maka kehamilan berikutnya harus dilahirkan dengan seksio sesarea
b. Histerektomi
Histerektomi dilakukan jika pasien tidak menginginkan anak lagi dan pada pasien
yang memiliki leimioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Kriteria
menurut American Collage of Obstetricans Gynecologists (ACOG) untuk
histerektomi adalah sebagai berikut. a. Terdapat satu sampai tiga leimioma
asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar dan dikelukan oleh pasien. b.
Perdarahan uterus berlebihan. c. Perdarahan yang banyak, bergumpal-gumpal, atau
berulang-ulang selama lebih dari delapan hari. d. Anemia akut atau kronis akibat
kehilangan darah.
4. Penanganan Radioterapi
Tujuan dari radioterapi adalah untuk menghentikan perdarahan. Langkah ini dilakukan
sebagai penanganan dengan kondisi sebagai berikut
a. Hanya dilakukan pada pasien yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient).
b. Uterus harus lebih kecil dari usia kehamilan 12 minggu.
c. Bukan jenis submukosa.
d. Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum.
e. Tidak dilakukan pada wanita muda karena dapat menyebabkan menopause.
H. Pathway
I. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Anamnesa
1) Identitas Klien: meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa,
status pernikahan, pendidikan, pekerjaan, alamat.
2) Identitas Penanggung jawab: Nama, umur, jenis kelamin, hubungan dengan
keluarga, pekerjaan, alamat
b. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama
Keluhan yang paling utama dirasakan oleh pasien mioma uteri, misalnya
timbul benjolan diperut bagian bawah yang relatif lama. Kadang-kadang
disertai gangguan haid
2. Riwayat penyakit sekarang
Keluhan yang di rasakan oleh ibu penderita mioma saat dilakukan pengkajian,
seperti rasa nyeri karena terjadi tarikan, manipulasi jaringan organ. Rasa nyeri
setelah bedah dan adapun yang yang perlu dikaji pada rasa nyeri adalah
lokasih nyeri, intensitas nyeri, waktu dan durasi serta kualitas nyeri.
3. Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan tentang riwayat penyakit yang pernah diderita dan jenis pengobatan
yang dilakukan oleh pasien mioma uteri, tanyakan penggunaan obat-obatan,
tanyakan tentang riwayat alergi, tanyakan riwayat kehamilan dan riwayat
persalinan dahulu, penggunaan alat kontrasepsi, pernah dirawat/dioperasi
sebelumnya.
4. Riwayat penyakit keluarga
Tanyakan kepada keluarga apakah ada anggota keluarga mempunyai penyakit
keturunan seperti diabetes melitus, hipertensi, jantung, penyakit kelainan
darah dan riwayat kelahiran kembar dan riwayat penyakit mental.
5. Riwayat obstetric
Untuk mengetahui riwayat obstetri pada pasien mioma uteri yang perlu
diketahui adalah Keadaan haid dengan menanyakan tentang riwayat menarhe
dan haid terakhir, sebab mioma uteri tidak pernah ditemukan sebelum
menarhe dan mengalami atrofi pada masa menopause. Selanjutnya
menanyakan riwayat kehamilan dan persalinan, kehamilan mempengaruhi
pertumbuhan mioma uteri, dimana mioma uteri tumbuh cepat pada masa
hamil ini dihubungkan dengan hormon estrogen, pada masa ini dihasilkan
dalam jumlah yang besar.
c. Faktor Psikososial
1) Tanyakan tentang persepsi pasien mengenai penyakitnya, faktor-faktor budaya
yang mempengaruhi, tingkat pengetahuan yang dimiliki pasien mioma uteri,
dan tanyakan mengenai seksualitas dan perawatan yang pernah dilakukan oleh
pasien mioma uteri.
2) Tanyakan tentang konsep diri : Body image, ideal diri, harga diri, peran diri,
personal identity, keadaan emosi, perhatian dan hubungan terhadap orang lain
atau tetangga, kegemaran atau jenis kegiatan yang di sukai pasien mioma
uteri, mekanisme pertahanan diri, dan interaksi sosial pasien mioma uteri
dengan orang lain
d. Pola Kebiasaan Sehari-hari
Pola nutrisi sebelum dan sesudah mengalami mioma uteri yang harus dikaji
adalah frekuensi, jumlah, tanyakan perubahan nafsu makan yang terjadi.
e. Pola Eleminasi
Tanyakan tentang frekuensi, waktu, konsitensi, warna, BAB terakhir. Sedangkan
pada BAK yang harus di kaji adalah frekuensi, warna, dan bau
f. Pola Aktivitas, Latihan
Tanyakan jenis kegiatan dalam pekerjaannya, jenis olahraga dan frekuensinya,
tanyakan kegiatan perawatan seperti mandi, berpakaian, eliminasi, makan minum,
mobilisasi
g. Pola Istirahat dan Tidur
Tanyakan waktu dan lamanya tidur pasien mioma uteri saat siang dan malam hari,
masalah yang ada waktu tidur.
h. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum : cukup, lemah, kesadarannya bagaimana
2) TTV : Tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan.
3) Pemeriksaan head to toe
a. Kepala dan rambut : lihat kebersihan kepala dan keadaan rambut.
b. Mata : lihat konjungtiva anemis, pergerakan bola mata simetris
c. Hidung : lihat kesimetrisan dan kebersihan, lihat adanya pembengkakan
konka nasal/tidak.
d. Telinga : lihat kebersihan telinga.
e. Mulut : lihat mukosa mulut kering atau lembab, lihat kebersihan rongga
mulut, lidah dan gigi, lihat adanya penbesaran tonsil.
f. Leher dan tenggorokan : raba leher dan rasakan adanya pembengkakan
kelenjar getah bening/tidak.
g. Dada atau thorax : paru-paru/respirasi, jantung/kardiovaskuler dan
sirkulasi, ketiak dan abdomen.
h. Abdomen Infeksi: bentuk dan ukuran, adanya lesi, terlihat menonjol,
Palpasi: terdapat nyeri tekan pada abdomen
i. Perkusi: timpani, pekak Auskultasi: bagaimana bising usus
j. Ekstremitas/ muskoluskletal terjadi pembengkakan pada ekstremitas atas
dan bawah pasien mioma uteri
k. Genetalia dan anus perhatikan kebersihan,adanya lesi, perdarahan diluar
siklus menstruasi.
2. Diagnosis Keperawatan
a. Resiko syok berhubungan dengan kekurangan volume cairan, perdarahan
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (infamasi) akibat
mioma uteri
c. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan imun tubuh sekunder akibat
gangguan hematologis (perdarahan)
3. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Risiko syok Tujuan: Setelah dilakukan tindakan Pencegahan Syok
keperawatan 3x24 jam diharapkan Observasi:
Monitor status kardiopulmonal
tingkat syok menurun, dengan Kriteria Monitor status oksigenasi
Hasil: Monitor status cairan
Monitor tingkat kesadaran dan
1. Nadi dalam batas normal
respon pupil
2. Irama pernapasan dalam Periksa riwayat alergi
3. Akral hangat Terapeutik:
Berikan oksigen untuk
4. Klien tidak pucat mempertahankan saturasi
oksigen >94%
Persiapan intubasi dan ventilasi
mekanik, jika perlu
Pasang jalur IV, jika perlu
Pasang kateter urine untuk
menilai produksi urine
Lakukan skin test untuk
mencegah reaksi alergi
Edukasi
Jelaskan penyebab/faktor risiko
syok
Jelaskan tanda dan gejala awal
syok
Anjurkan melapor jika
menemukan/merasakan tanda
dan gejala syok
Anjurkan memperbanyak asupan
cairan oral
Anjurkan menghindari alergen
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian IV, jika
perlu
Kolaborasi pemberian transfusi
darah, jika perlu
Kolaborasi pemberian
antiinflamasi, jika perlu
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan penilaian yang dilakukan dengan membandingkan perubahan
keadaan pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat
di tahap perencanaan. Tujuan dari evaluasi adalah mengakhiri rencana tindakan,
memodifikasi rencana tindakan dan meneruskan rencana tindakan. Evaluasi dapat
dilakukan setiap selesai tindakan dengan berorientasi pada etiologi (formatif) dan
bisa dilakukan setelah akhir tindakan keperawatan secara paripurna yang
berorientasi pada masalah keperawatan dimana menjelaskan keberhasilan atau
ketidakberhasilan serta sebagai kesimpulan atas status kesehatan klien sesuai
dengan kerangka waktu yang ditetapkan (sumatif).
Daftar Pustaka
Aspiani, R. (2017). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Maternitas Aplikasi Nanda. Nic-
Noc. Jakarta : CV Trans Info Media.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
Definisi dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: DPP PPNI
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: DPP PPNI