BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ulkus Piogenik adalah ulkus yang gambaran klinisnya tidak khas
disertai pus diatasnya. Dibedakan dengan ulkus lain yang disebabkan oleh
kuman negative-Gram (Djuanda Adhi, 2016). Perjalanan penyakit
termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan. Timbul koreng/ulkus
dengan tanda-tanda radang disekitarnya, secara lambat mengalami
nekrosis dan menyebar secara serpiginosa. Infeksi ini sering terjadi pada
anak-anak. Wanita dan laki-laki memiliki insiden yang sama Negara
berembang, daerah tropis wilayah kumuh merupakan faktor risko penyakit
ini, Disebabkan disebabkan oleh streptokok atau stafilokok (Siregar,
2016).
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Ulkus Piogenik adalah ulkus yang gambaran klinisnya tidak khas
disertai pus diatasnya. Dibedakan dengan ulkus lain yang disebabkan oleh
kuman negative-Gram (Djuanda Adhi, 2016). Perjalanan penyakit termasuk
keluhan utama dan keluhan tambahan. Timbul koreng/ulkus dengan tanda-
tanda radang disekitarnya, secara lambat mengalami nekrosis dan menyebar
secara serpiginosa (Siregar, 2016).
Gambar 2.1 Ulkus Piogenik
2.2 Etiologi
Penyebab ulkus piogenik disebabkan oleh Streptokok dan
stafilokok (PERDOSKI, 217).
2
2.3 Epidemiologi
Ulkus piogenik umumnya ditemukan di daerah tropis, beriklim
panas dan lembab, pada lapisan masyarakat dengan hygiene yang buruk
terutama pada musim hujan. Lebih sering pada anak-anak dengan frekuensi
perempuan dan laki-laki sama (Siregar, 2016).
2.4 Patofisiologi
Ulkus ini lebih sering di sebabkan oleh streptokokus atau
stapilokokus. Ulkus ini lebih sering terjadi pada anak-anak, Gambaran
perjalanan penyakit yaitu timbul koreng atau ulkus dengan tanda-tanda
radang di sekitarnya, kemudian secara lambat mengalami nekrosis dan
menyebar. Lokalisasi ulkus piogenikum (ulkus banal) berada Lokalisasi
ulkus piogenikum (ulkus banal) berada di daerah ekstrimitas. Ulkus
berukuran kecil, pinggir tidak meninggi serta teratur, dinding tidak
menggaung, dan di sekitar ulkus terdapat tanda-tanda radang dan sekitar
ulkus terdapat tanda-tanda radang dan sekret serosa kekuningan (Garna H,
2016)
2.5 Patogenesis
Streptokokus atau stapilokokus, menginfeksi kulit kemudian
terjadilah penyumbatan lumen sehingga mengalami perubahan kulit dan
ulkus akibat daya tahan tubuh menurun. Kulit secara keseluruhan berperan
aktif sebagai sistem imun terhadap bermacam-macam antigen. Infeksi
mikroorganisme pada daerah lokal, namun toksin yang dibebaskan
mencapai kulit melalui aliran darah. Seperti diketahui bakteri mempunyai
banyak antigen permukaan yang berbeda dan mengeluarkan bermacam-
macam faktor virulen (misalnya toksin) yang dapat merangsang respons
imun. Sel yang aktif secara imunologik meliputi sel Langerhans,
keratinosit, sel T, sel endotel, dan makrofag. Sel efektornya adalah
limfosit, natural killer cell, sel mast dan fagosit. Mediator yang ada
3
meliputi IL-1, IL-2, IL-3, produk sel mast, limfokin, sitokin lain, sejumlah
besar dihasilkan oleh keratinosit. Interaksi antara antigen dan sel
epidermis serta dermis dapat mengindukasi dan menimbulkan respons
imun. Reaksi yang timbul merupakan dasar dari berbagai proses inflamasi
pada kulit (Garna H, 2016).
2.6 Cara Penegakkan Diagnosis
Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan.
Timbul koreng/ulkus dengan tanda-tanda radang disekitarnya, secara
lambat mengalami nekrosis dan menyebar secara serpiginosa (Siregar,
2016).
2.6.1 Anamnesis
Pada hasil anamnesis didapatkan koreng/ulkus dengan tanda-tanda
radang disekitarnya, secara lambat mengalami nekrosis dan menyebar
secara serpiginosa
2.6.2 Pemeriksaan Fisik (Siregar, 2016)
Lokalisasi : Ektremitas
Efloresensi : Ulkus berukuran kecil, pinggir tidak meninggi, teratur,
dinding tidak menggaung, sekitar ulkus ada tanda
radang, sekret serosa kekuningan.
Gambar 2.2. Gambar Ulkus Piogenik (Ulkus dangkal mengeluarkan serum)
4
2.7 Diagnosis Banding
1. Ulkus Tropikum
Ulkus tropikum adalah ulkus yang cepat berkembang dan
nyeri, berbentuk khas, berbau busuk, biasanya pada tungkai bawah.
Lebih sering dijumpai pada anak – anak yang kurang gizi.
Penyebab pasti belum diketahui tetapi pada tingkat dini ditemukan
Bacillus fusiformis yang biasanya bersama - sama dengan Borellia
vincentii (Djuanda adi, 2016)
Gambar 2.5 Ulkus Tropikum
2. Frambusia
Frambusia atau yaws adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh bakteri gram negatif. Banyak dijumpai pada
daerah-daerah tropis dengan curah hujan dan kelembaban yang
tingg (Erdina, 2016). Manifestasi klinis tergantung stadium.
Stadium I: stadium vesikular dengan ukuran letikuler sampai
numuler, batas jelas disertai bula purulen. Selanjutnya,vesikel
membesar, menjadi hemoragik dan akan membentuk ulkus.
Stadium II : Hiperkeratosis, tidak ulserasi (Djuanda adhi, 2016).
5
Gambar 2.6 Frambusia
2.8 Faktor Resiko
a. Daerah : lebih sering pada daerah tropis
b. Iklim : panas dan lembab
c. Kebersihan/hygienie : Higiene yang buruk dan gizi kurang menimbulkan
penyakit yang lebih berat
d. Lingkungan : Lingkungan yang kurang baik mempermudah timbulnya
penyakit
2.9 Pemeriksaan Penunjang
1. Px Gram
Hasil pemeriksaan gram dengan pembesaran 100x : Warna ungu,
terdapat susunan streptococcus (Siregar, 2016)
Gambar 2.3 Px Gram
6
2. Px Histopatologi
Pada dermis ditemukan : Tampak reaksi sel di jaringan dengan sel
plasma, dan sel limfoid (Siregar, 2016)
2.10 Penatalaksanaan (Siregar, 2016)
2.10.1 Non Farmakologi
Bersihkan (debridement) ulkus.
2.10.2 Farmakologi
1. Terapi Topikal
Salep salisil 2 %; jika berat dengan kompres PK 1/5000
2. Terapi Sitemik
Amoksisilin diminum 4x500 mg setelah makan
Eritromisin diminum 4x500 mg sehari per oral, Obat ini kadang
menimbulkan rasa mual dan rasa tidak nyaman dilambung
Sefalosporin yang sering digunakan adalah cefadroxyl.
Klindamisin diminum 4x150 mg sehari per oral. Pada yang berat
ditingkatkan dosisnya hinga 4x450 mg.
2.11 Prognosis
Umumnya baik asalkan mendapatkan penanganan yang adekuat
dan faktor penyebab dapat dihilangkan. Dan prognosis menjadi kurang
baik apabila terjadi Komplikasi (Siregar, 2016)
2.12 Edukasi (Siregar, 2016)
1. Istirahat, keadaan gizi diperbaiki dengan cara memberikan makanan yang
mengandung kalori dan protein tinggi, serta vitamin dan mineral.
2. Menjaga kebersihan
7
BAB III
KESIMPULAN
Ulkus Piogenik adalah ulkus yang gambaran klinisnya tidak khas disertai
pus diatasnya. Dibedakan dengan ulkus lain yang disebabkan oleh kuman
negative-Gram. Cara Menegakkan Diagnosis, berdasarkan anamnesa biasanya
diawali denga gambaran koreng. Pada pemeriksaan dermatologi, ulkus piogenik
sering ditemukan di ektremitas dengan ciri efloresensi berupa : Ulkus berukuran
kecil, pinggir tidak meninggi, teratur, dinding tidak menggaung, sekitar ulkus ada
tanda radang, sekret serosa kekuningan.
pada pemeriksaan gram ditemukan terdapat susunan streptococcus, pada
pemeriksaan histologi ditemukan Tampak reaksi sel di jaringan dengan sel
plasma, dan sel limfoid.
Terapi: non farmakologi: berupa bersihkan (debridement) ulkus, terapi
farmakologi berupa terapi topical : Salep salisil 2 %; jika berat dengan kompres
PK 1/5000. serta terapi sistemik berupa Amoxsisilin diminum 3/4x500mg sesudah
makan, dan Eritromisin 3/4x500mg sesudah makan
Edukasi dan komunikasi: disankan Istirahat, keadaan gizi diperbaiki
dengan cara memberikan makanan yang mengandung kalori dan protein tinggi,
serta vitamin dan mineral serta menjaga kebersihan. Prognosis, Umumnya baik
asalkan mendapatkan penanganan yang adekuat dan faktor.
8
DAFTAR PUSTAKA
1. Anandan V, Jameela WA, Saraswathy P, Sarankumar S. Platelet rich
plasma: efficacy in treating trophic ulcers in leprosy. J Clin Diagnos
Research. 2016;10:6-9.
2. Djuanda Adhi, Mochtar Hamzah, Siti Aisyah, 2016. Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin. Edisi Kelima. Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : FKUI
3. Erdina. 2016. Frambusia dalam Penyakit Ilmu Kulit dan Kelamin. Fakultas
Kedokteran UI
4. Herry garna. 2016. Patofisiologi Infeksi Bakteri pada Kulit. Saripediatri.
Vol. 2, No. 4,
5. Nagaraju U, Sundar PK, Agarwal P, Raju BP, Kumar M. Autologous
platelet-rich fibrin matrix in non-healing trophic ulcers in patients
with Hansen’s disease. J Cutan Aesth Surg. 2017;10(1):3-7.
6. PERDOSKI. 2017. Panduan praktis klinis Bag Dokter Spesialis Kulit dan
Kelamin.
7. Riyaz N, Sehgal VN. Leprosy: trophic skin ulcers. Skinmed. 2017
8. Siregar, 2016. Saripati Penyakit Kulit. Edisi 3. Jakarta: ECG