0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan22 halaman

Definisi dan Karakteristik Aset

Dokumen tersebut membahas pengertian asset secara umum menurut beberapa lembaga standar akuntansi, karakteristik utama asset, dan beberapa contoh jenis asset seperti barang, uang, klaim untuk menerima uang, serta hak kepemilikan."

Diunggah oleh

Fitri Chan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan22 halaman

Definisi dan Karakteristik Aset

Dokumen tersebut membahas pengertian asset secara umum menurut beberapa lembaga standar akuntansi, karakteristik utama asset, dan beberapa contoh jenis asset seperti barang, uang, klaim untuk menerima uang, serta hak kepemilikan."

Diunggah oleh

Fitri Chan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

MODUL PERKULIAHAN

W322100016 -
Teori Akuntansi
Asset

Abstrak Sub-CPMK

Dalam bab ini dibahas Agar mahasiswa dapat memahami


tentang pengertian asset, pengertian asset, pengakuan dan
pengakuan dan pengukuran pengukuran asset, dan PSAK terkait.
asset, dan PSAK terkait.

Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh

Shinta Melzatia, S.E., [Link]


FEB [Link]
05
Pengertian Asset

FASB mendefinisi aset dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut (SFAÇ No.
6, prg. 25):

Assets are probable future economic benefits obtained or controlled by a


particular entity as a result of past transactiona or events. (Aset adalah manfaat
ekonomik masa datang yang cukup pasti yang diperoleh atau
dikuasasi/dikendalikan oleh suatu entitas sebagai akibat transaksi atau kejadian
masa lalu.)

Dengan makna yang sama, IASC mendefinisi aset sebagai berikut:


An asset is a resource controlled by the enterprise as a result of past events and
from which future economic benefits are expected to flow to the enterprise.

Dalam Statement of Accounting Concepts No. 4, Australian Accounting


Stan dards Board (AASB) mendefinisi aset sebagai berikut (prg. 12):

Assets are service potential or future economic benefits controlled by the


reporting eality as a result of past transaction or other past events.

Definisi-definisi di atas memisahkan antara makna atau pengertian dan


pengukuran serta pengakuan sehingga definisi tersebut lebih bersifat semantik daripada
struktural. Definisi IASC dan AASB menanggalkan kata probable karena dianggap bahwa
tia merupakan kriteria pengakuan bukan sifat dari aset.
Definisi yang menggabungkan makna, pengukuran, dan pengakuan diajukan oleh
APB dalam APB No. 4 sebagai berikut (prg. 132):

Assets-economic resources of an enterprise that are recognized and mensured in


conformity with generally accepted accounting principles. Assets also include
certain deferred charges that are not resources but that are recognized and
meastured in conformity with generally accepted accounting principles

Definisi FASB dan AASB cukup luas dibanding definisi yang lain karena aset
disifati sebagai manfaat ekonomik (economic benefits) dan bukan sebagai sumber

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


2 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
ekonomik (resources) karena manfaat ekonomik tidak membatasi bentuk atau jenis
sumber ekonomik yang dapat dimasukkan sebagai aset. Definisi tersebut tidak
membedakan antara aset real (real assets) dan aset finansial (financial assets) dan
antara sumber ekonomik (resources) dan nonsumber ekonomik (nonresources). APB No.
4 mendefinisi sumber ekonomik sebagai berikut (prg. 57):

Economic resources are the scarce means (limited in supply relative to desired
uses) available for carrying on economic activities.

Pengertian aset sebagai sumber ekonomik sebagaimana dikemukakan APB


sejalan dengan pengertian yang dikemukakan ljiri (1975, hlm. 52):

…resources are objects that the entity intends to place under its control. This
means that resources must have utility. However, utility alone is not sufficient
reason for an entity to place an object under its control. The object must be
scarce, thus ruling out free goods.

APB mendefinisi aset sebagai sumber ekonomik karena adanya unsur kelangkaan
sehingga suatu entitas harus mengendalikannya dari akses pihak lain melalui transaksi
ekonomik. APB juga membedakan aset menjadi sumber ekonomik dan nonsumber
ekonomik. APB No. 4 merinci aset yang digolongkan se- bagai sumber ekonomik sebagai
berikut (prg. 57):
1. Sumber produktif (productive resources):
a. Sumber produktif kesatuan usaha yang meliputi bahan baku, gedung,
pabrik, perlengkapan, sumber alam, paten dan semacamnya, jasa, dan
sumber lain yang digunakan dalam produksi barang dan jasa.
b. Hak kontraktual atas sumber produktif meliputi semua hak untuk
menggunakan sumber ekonomik pihak lain dan hak untuk mendapatkan
barang atau jasa dari pihak lain.
2. Produk (products) yang merupakan keluaran kesatuan usaha terdiri atas:
a. Barang jadi yang menunggu penjualan
b. Barang dalam proses
3. Uang (money)
4. Klaim untuk menerima uang (claims to receive money)
5. Hak pemilikan atau investasi pada perusahaan lain (ownership interest in other
enterprise)

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


3 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Dengan jenis aset yang disebut APB di atas, APB secara implisit menekankan
pengertian aset sebagai sesuatu yang nyata-nyata dapat digunakan dalam kegiatan
produktif (penyediaan barang dan jasa). Nyata-nyata dapat digunakan berarti bahwa aset
merupakan sediaan jasa (embodiment or storage of future services) baik berwujud
(tangible) maupun takberwujud (intangible). Sumber ekonomik yang didefinisi APB di atas
dapat diklasifikasi menjadi objek fisis (physical objects) dan hak (rights). APB
menggolongkan bentuk atau jenis aset selain yang disebut di atas sebagai nonsumber
ekonomik meskipun tetap masuk dalam pengertian aset. Nonsumber ekonomik meliputi
beban atau pengurang pendapatan tangguhan (deferred charges) seperti: goodwill, rugi
selisih kurs, biaya organisasi, dan beberapa pos yang timbul akibat penyesuaian (sering
disebut pos-pos transitoris).

Berbeda dengan FASB, IASC memaknai mạnfaat ekonomik masa datang (future
economic benefits) bukan sebagai potensi jasa yang sekarang dikuasai badan usaha
tetapi sebagai manfaat yang diharapkan mengalir ke badan usaha. Jadi, manfaat
ekonomik yang dimaksud oleh IASC bukan manfaat yang dikandung (embodied) oleh
sumber ekonomik yang dikuasai tetapi manfaat yang didatangkan atau yang mengalir ke
badan usaha. Karena bukan manfaat yang dikandung, pengertian manfaal ekonomik
masa datang oleh IASC dapat diinterpretasi sebagai aliran masuk manfaat akibat
pemerolehan sumber ekonomik baru lantaran pertukaran dengan sumber ekonomik yang
sebelumnya dikuasai atau lantaran aliran masuk pendapatan.

Definisi FASB dan AASB lebih luas dibanding definisi lain dalam hal entitas yang
dicakupi. Dengan menyatakan a particular entity atau reporting entity bukannya enterprise
sehagai pengendali aset, FASB dan AASB tidak membatasi pengertian aset hanya
berlaku untuk organisasi bisnis tetapi juga untuk orgunisasi nonbisnis. Kata enterprise
yang digunakan oleh IASC dan APB memberi kesan bahwa aset didefinisi dalam konteks
organisasi bisnis.

Dengan berbagai perbedaan diatas, pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa


terdapat tiga karakteristik utama yang harus dipenuhi agar suatu objek atau pos dapat
disebut asset yaitu :
a. Manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti
b. Dikuasi atau dikendalikan oleh entitas
c. Timbul akibat transaksi masa lalu

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


4 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
KARAKTERISTIK PENDUKUNG
Selain tiga karakteristik utama diatas FASB menyebutkan beberapa karkeristik
pendukung yaitu :

Melibatkan Biaya
Pemerolehan aset pada umumnya melibatkan biaya (pengeluaran sumber
ekonomik misalnya kas) sebagai penghargaan sepakatan (measured consideration). Bila
biaya terjadi karena pemerolehan suatu objek terjadi akibat pertukaran atau pembelian,
objek tersebut lebih kuat untuk masuk sebagai asset. Akan tetapi, tiadanya biaya tidak
membatalkan suatu objek sebagai aset. Suatu aset dapat diperoleh misalnya dari hadiah
yang tidak melibatkan pengeluaran sumber ekonomik. Walaupun demikian, biaya objek
tersebut harus tetap ditentukan atau di taksir secara layak sebagai dasar pencatatan
pertama kali.

Jadi, meskipun suatu kesatuan usaha umumnya mengeluarkan atau


mengorbankan sumber ekonomik (menjadi biaya), biaya yang terjadi tersebut tidak
dengan sendirinya membentuk aset. Esensi aset lebih terletak pada manfaat ekonomik
masa datang daripada pada terjadinya biaya. Walaupun demikian, terjadinya biaya
merupakan hal penting untuk mengaplikasi definisi biaya karena dua hal yaitu: 1) Sebagai
bukti pemerolehan suatu aset dan 2) Sebagai pengukur atribut aset yang cukup objektif.

Berwujud
Bila suatu sumber ekonomik secara fisis dapat diamati, tia memang lebih kuat
untuk disebut sebagai aset. Akan tetapi, keterwujudan (tangibility) bukan kriteria untuk
mendefinisi aset. Objek-objek seperti hak paten, hak cipta, merek dagang, dan goodwill
tetap dapat dimasukkan sebagai aset meskipun tidak berwujud fisis. Pada umumnya, pos-
pos takberwujud yang masuk dalam kategori aset lancar tidak disebut sebagai aset
takberwujud (intangibles).

Most (1982, hlm. 379) mengajukan tiga tes (kriteria) untuk memasukkan suatu pos
ke dalam aset takberwujud, yaitu:
1) Apakah pos tersebut diperoleh dari suatu transaksi dengang pihak
independen (arm's lenght transaction)? Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi
penilaian lebih (over-valuation) atas aset takberwujud.
2) Dapatkah manfaat ekonomik masa datang yang diharapkan diidentifikasi?
Dapat diidentifikasi artinya dapat dikaitkan dengan kemampuan perusahaan

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


5 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
mendatangkan laba di masa datang. Hal ini dimaksudkan untuk meyakinkan
bahwa objek tak berwujud memenuhi kriteria utama asset.
3) Dapatkah biaya pos tersebut dipisahkan dengan biaya asset lain yang
diperoleh? Misalnya suatu kesatuan usaha membeli sebuah mesin yang
secara khusus dirancang oleh perusahaan lain melalui riset dan
pengembangan. Biaya mesin sudah termasuk biaya riset dan pengembangan.
Biaya riset dan pengmbangan dapat menjadi asset tak berwujud bagi pembeli
mesin bila rancang bangun (design) menjadi hak eksklusif pembeli dan
biayanya dapat dipisahkan dari biaya kontrak pembatan mesin.

Tertukarkan
Beberapa penulis mengajukan gagasan atau argumen bahwa untuk memenuhi
syarat sebagai aset, suatu sumber ekonomik harus dapat ditukarkan dengan sumber
ekonomik lainnya. Syarat ini diajukan dengan alasan bahwa manfaat ekonomik akan
menjadi cukup pasti dan terukur kalau suatu sumber ekonomik mempunyai daya atau nilai
tukar. Dengan kata lain, manfaat ekonomik diturunkan dari daya tukar. Syarat dan
argumen ini disanggah karena manfaat ekonomik tidak hanya terletak pada daya tukar
tetapi juga dari daya guna suatu objek untuk produkai. Mesin, misalnya, mungkin sekali
tidak mempunyai daya tukar tetapi dapat digunakan untuk menghasilkan produk. Bahkan
hampir sebagian besar aset manfaatnya didapat dari penggunaan daripada dari
pertukaran. Sebagaimana dikutip Kam (1990, hlm. 107-108), Moonitz menyatakan hahwa
"exchange does not make values, it merely reveals them."

Terpisahkan
Syarat ini ditujukan berkaitan dengan ketertukaran (exchangeability). Untuk dapat
ditukarkan suatu sumber ekonomik harus dapat dipisahkan dengan sumber ekonomik
yang lain atau berdiri sendiri. Syarat ini ditujukan oleh Chambers dengan alasan bahwa
posisi keuangan harus ditentukan dengan pengukuran nilai berbagai aset dan kewajiban
secara individual. Kalau syarat ini dimasukkan sebagai kriteria aset, goodwill tidak akan
memenuhi syarat untuk disebut dan diakui sebagai aset.

Chambers dan MacNeal mengajukan syaral ini karena dia tidak setuju bahwa
goodwill dimasukkan sebagal aset. Alasannya adalah pengukuran goodwill sangat
subjektif dan hipotetis. Alasan lain adalah tujuan penyajian neraca adalah melaporkan
nilai bersih aset dan bukan nilai perusahaan secara keseluruhan. Melaporkan goodwill
atau semacamnya akan menyesatkan.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


6 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Pihak yang menentang syarat keterpisahan (severability) berargumen bahwa
ketertukaran dan keterpisahan hanyalah merupakan syarat untuk memperoleh manfaat
suatu aset. Lagi pula, pemasukkan goodwill sebagai aset memang tidak dimaksudkan
untuk menilai perusahaan secara keseluruhan tetapi untuk mengidentifikasi dan menilai
manfaat ekonomik masa datang bagi perusahnan. Dengan argumen-argumen tersebut,
FASB tidak memasukkan keterpisahan sehagai kriteria untuk mendefinisi aset (Kam
1990, hlm. 108).

Berkekuatan hukum
Penguasan atau hak atas aset tidak harus didukung secara yuridis formal. Klaim
seperti piutang usaha tidak harus didukung oleh dokumen yang mempunyai daya paksa
secara hukum (legally enforceable) untuk memenuhi definisi asset. Memang pada
umumnya, kemampuan suatu entitas untuk menguasai manfaat ekonomik timbul akibat
hak-hak hukum (legal rights). Meskipun demikian, hak paksa yang melekat pada hak-hak
hukum bukan merupakan syarat mutlak untuk mengakui adanya asset kalau suatu entitas
dapat memperoleh dan menguasai manfaat dengan cara lain sebagaimana dibahas
sebelumnya (misalnya dengan cara perjanjian atau penemuan).

Pengukuran

Pengukuran bukan merupakan kriteria untuk mendefinisi aset tetapi merupakan


kriteria pengakuan aset. Salah satu kriteria pengakuan aset adalah keterukuran
(measurability) manfaat ekonomik masa datang. Yang dimaksud pengukuran dalam
pembahasan di sini adalah penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu
objek aset pada saat terjadinya yang akan dijadikan data dasar untuk mengikuti aliran
fisis objek tersebut. Dengan konsep kontinuitas usaha, pos atau sumber ekonomik akan
mengalami tiga tahap perlakuan sejalan dengan kegiatan usaha yaitu tahap pemerolehan
(acquisition), pengolahan (processing), dan penjualan/penyerahan (sales/delivery). Tahap
terakhir (penjualan) melibatkan penyerahan barang atau jasa (keluarnya sumber
ekonomik).

Secara akuntansi (aliran informasi), aliran fisis suatu sumber ekonomik atau objek
harus direpresentasi dalam jumlah rupiah sehingga hubungan antarobjek bermakna

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


7 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
sebagai informasi. Biaya merupakan representasi kuantitatif suatu objek. Biaya menjadi
data dasar untuk mengikuti aliran fisis kegiatan ekonomik badan usaha. Sebagai aliran
informasi, biaya juga mengalami tiga tahap perlakuan akuntansi mengikuti aliran fisis
yaitu:
1) Pengukuran (measurement), pengakuan (recognition), dan klasifikasi
(elassification) pertama kali pada saat terjadinya. Untuk selanjutnya seluruh
kegiatan dalam tahap ini disebut pengukuran saja,
2) Pencatatan berikutnya dalam rangka mengikuti aliran fisis aset berupa alokasi,
distribusi, dan penggabungan untuk kepentingan internal/manajerial atau untuk
kepentingan pengbiayaan produk. Untuk selanjutnya seluruh kegiatan dalam
tahap ini disebut penelusuran (tracing).
3) Pembebanan ke pendapatan perioda berjalan atau perioda perioda yarg akan
datang. Biaya yang belum menjadi beban pendapatan (biaya) akan tetap
melekat pada objek menjadi aset badan usaha. Untuk selanjutnya seluruh
kegiatan dalam tahap ini disebut pembebanan ke pendapatan (charging to
revenues)"

Secara konseptual suatu sumber ekonomik harus diperlakukan dahulu sebagai


aset dan baru kemudian diperlakukan sebagai biaya pada saat aset tersebut, dianggap
telah keluar dari kesatuan usaha dan mendatangkan pendapatan. Walaupun demikian,
secara teknis pembukuan atau karena alasan kepraktisan, dapat saja suatu sumber
ekonomik langsung dicatat sebagai upaya (biaya) sehingga biayanya langsung didebit ke
akun biaya tanpa melalui akun aset. Misalnya, jumlah rupiah (biaya) pembayaran sewa
gedung langsung didebit ke akun Biaya Sewa Gedung. Bila suatu pengeluaran sumber
ekonomik yang mengukur biaya suatu objek dicatat sebagai aset, tia dikategori menjadi
pengeluaran untuk kapital (capital expenditures) sedangkan kalau tia dicatat sebagai
biaya, tia dikategori sebagai pengeluaran untuk pendapatan (revenue expenditures).

Perlu ditegaskan kembali bahwa biaya adalah pengukur sedangkan asset dan
biaya adalah elemen yang diukur. Sebagai pengukur elemen, biaya melekat pada asset
atau biaya sehingga biaya, asset, dan biaya, ketiganya sering diracunkan. Keracunan
dapat timbul karena secara teknis pembukuan suatu biaya dapat dibebankan atau
didebitkan ke asset atau biaya saat terjadinya.

Bila suatu pengeluaran langsung dicatat sebagai biaya, secara konseptual


dianggap bahwa biaya objek bersangkutan dicatat sebagai aset dan kemudian pada saat

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


8 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
yang sama biaya tersebut langsung dipindah ke biaya. Dengan kata lain, secara
konseptual biaya semua sumber ekonomik yang diperoleh dianggap telah diperlakukan
sebagai aset walaupun hanya sesaat. Akibatnya, pos aset misalnya sediaan sering
dinyatakan dalam pengukurnya sebagai biaya sediaan; sediaan sering diidentikkan
dengan biaya sediaan. Sementara itu, biaya juga melekat pada biaya sehingga biaya
sering disebut dengan biaya saja. Memang biaya selalu dapat disebut biaya karena biaya
melekat di dalamnya tetapi biaya tidak selalu dapat disebut biaya sebelum biaya tersebut
dipindah ke biaya sebagai pengurang/debit/beban pendapatan.

Karena biaya merepresentasi manfaat ekonomik, bila biaya diperlakukan sebagai


aset, biaya itu disebut dengan biaya belum habis atau takterhabiskan (unexpired cost)
artinya biaya yang belum habis dimanfaatkan dalam menghasilkan pendapatan. Bila
manfaat ekonomik telah digunakan dalam mendatangkan pendapatan, bagian dari biaya
aset yang merepresentasi manfaat yang telah dihabiskan disebut dengan biaya
terhabiskan (expired cost) dan menjadi pengukur biaya. Atas dasar uraian di atas dapat
dikatakan bahwa penentuan biaya suatu objek pada saat pemerolehan merupakan hal
yang sangat penting dan kritis karena penentuan ini akan mempengaruhi pengukuran
aset dan biaya selanjutnya.

Pengakuan
Suatu jumlah rupiah atau biaya diakui sebagai aset apabila jumlah rupiah tersebut
timbul akibat transaksi, kejadian, atau keadaan yang mempengaruhi aset. Pada umumnya
pengakuan aset dilakukan bersamaan dengan adanya transaksi, kejadian, atau keadaan
tersebut. Di samping memenuhi definisi aset, kriteria keterukuran, keberpautan, dan
keterandalan harus dipenuhi pula. Dengan mengutip Sterling, Belkaoui (1993, hlm. 194-
195) menunjukkan kondisi perlu (necessary) dan kondisi cukup (sufficient) yang
merupakan penguji (tests) yang cukup rinci untuk mengakui aset yaitu:
1. Deteksi adanya aset (detection of existence test). Untuk mengakui aset, harus ada
transaksi yang menandai timbulnya aset.
2. Sumber ekonomik dan kewajiban (economic resources and obligation test). Untuk
mengakui aset, suatu objek harus merupakan sumber ekonomik yang langka,
dibutuhkan, dan berharga.
3. Berkaitan dengan entitas (entity association test). Untuk mengakui aset, kesatuan
usaha harus mengendalikan atau menguasai objek aset.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


9 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
4. Mengandung nilai (non-zero magnitude test). Untuk mengakui aset, suatu objek
harus mempunyai manfaat yang terukur secara moneter.
5. Berkaitan dengan waktu pelaporan (temporal association test). Untuk mengakui
asset, semua penguji di atas harus dipenuhi pada tanggal pelaporan (tanggal neraca)
6. Verifikasi (verification test). Untuk mengakui asset, harus ada bukti pendukung untuk
meyakinkan bahwa kelima penguji di atas terpenuhi.

Apa yang dikemukakan Belkaoui di atas sebenarnya adalah apa yang disebut
dengan kaidah pengakuan (recognition rules) yang merupakan petunjuk teknis atau
prosedur untuk menerapkan empat kriteria pengakuan (recognition criteria) FASB yaitu
definisi, keterukuran, keberpautan, dan keterandalan. Kaidah tersebut diperlukan karena
kriteria pengakuan sifatnya konseptual dan umum. Penerapan kaidah pengakuan di atas
sebenarnya berkaitan dengan masalah apakah suatu biaya dikapitalisasi (capitalized)
atau dibiayakan (expensed). Bila kaidah pengakuan di atas tidak dipenuhi, biaya harus
diperlakukan menjadi beban pendapatan sebagai biaya atau rugi.

Beban Tangguhan
Untuk beberapa kasus, pelaksanann kaidah di atas menjadi pelik karena
karakteristik unik biaya yang terlibat menyebabkan keraguan. Diperlakukan sebagai aset
meragukan karena manfaat ekonomik masa depan tidak cukup pasti sementara kalau
diperlakukan sebagai biaya atau dibebankan ke pendapatan tahun terjadinya juga tidak
pas karena asosiasi dengan pendapatan sulit untuk ditentukan. Diperlakukan sebagai rugi
juga tidak tepat karena biaya merepresentasi upaya yang sah dan wajar. Kesulitan
semacam ini menimbulkan praktik bahwa biaya-biaya semacam itu (biaya organisasi, riset
dan pengembangan, dan semacamnya) ditampung dalam satu pos yang disebut beban
tangguhan (deferred charges).

Paton dan Littleton (1970) sangat mengkritik penggunaan istilah beban tangguhan
ini karena secara konseptual semua aset (yang dipresentasi dengan biaya) merupakan
beban tangguhan. Lebih baik kalau pos tersebut diberi nama yang jelas sesuai dengan
sifatnya dan disajikan secara terpisah dengan pos-pos aset lainnya. Kaidah untuk
menetapkan apakah suatu biaya memenuhi syarat untuk ditangguhkan pembebanannya
ke pendapatan. Kaidah ini merupakan penyederhanaan dari enam kaidah yang dijelaskan
di atas. Biaya yang mempunyai karakteristik unik sehingga menimbulkan
masalah masalah penangguhan pembebanan misalnya adalah biaya yang terlibat dalam
transaksi, kejadian atau keadaan berikut:

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


10 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
a. Sewaguna
b. Bunga selama masa konstruksi asset tetap
c. Riset dan pengembangan
d. Eksplorasi minyak dan gas bumi
e. Rugi selisih kurs valuta asing atau penjabaran valuta asing
f. Sumber daya manusia
g. Biaya organisasi

Sewaguna
“Sewaguna" (lease) menimbulkan masalah pelik dalam pengakuan aset karena di
Amerika pada mulanya sewaguna digunakan sebagai sarana pemerolehan aset tetap
atau fasilitas fisis tanpa harus menunjukkan utang yang timbul dari pemeroleban tersebut.
Dengan kata lain, sewaguna diperlakukan sebagai sewa menyewa biasa sehingga jumlsh
rupiah sewa yang dibayarkan diperlakukan sebagai biaya sewa. Praktik semacam ini,
disebut dengan pendanaan lepas neraca (off - balance-sheet financing), dipandang tidak
sehat dari segi pelaporan keuangan karena terdapat utang yang cukup basar yang tidak
dilaporkan dalam neraca.

Oleh karena itu, dengan konsep dasar substansi di atas bentuk (substance over
form), FASB mewajibkan untuk mengakui dan melaporkan kewajiban yang timbul dari
sewaguna dan mengakui (mengkapitalisasi) fasilitas yang disewaguna sebagai aset
perusahaan kalau secara substantif perjanjian sewaguna tersebut sebenarnya merupakan
pembelian angsuran. Yang menjadi masalah adalah apa kriteria yang harus dipenuhi agar
suatu sewaguna dapat dinyatakan sebagai pembelian angsuran. FASB mengajukan
empat kriteria berikut ini (SFAS No. 13, prg. 7):
a. Kantrak sewaguna menyebutkan adanya transfer hak milik barang atau properitas
(property) kepada tersewaguna (lessee) pada akhir jangka sewaguna.
b. Kontrak sewaguna memuat pasal bahwa tersewaguna boleh pilih untuk membeli
pada tanggal yang ditetapkan dalam jangka sewaguna dengan harga yang ditetapkan
dan harga tersebut cukup murah sehingga dapat dipastikan di muka bahwa
tersewaguna akan memilih membeli properitas bersangkutan. Pasal semacam ini
disebut bargain purchase option.
c. Jangka sewaguna adalah 75% atau lebih dari sisa umur ekonomik taksiran properitas
sewagunaan sejak penandatanganan kontrak. Bila sisa umur ekonomik mulai dari

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


11 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
penandatanganan kontrak kurang dari 25% umur ekonomik total, kriteria ini tidak
berlaku.
d. Pada saat penandatanganan kontrak sewaguna, nilai sekarang semua pembayaran
sewaguna minimum selama jangka sewaguna adalah sama atau lebih besar dari
90% nilai wajar bersih bagi pesewaguna (lessor). Nilai wajar bersih bagi pesewaguna
adalah nilai wajar dipandang dari sudut pesewaguna setelah dikurangi dengan kredit
pajak investasi (investment tax credit), kalau ada, yang menjadi hak pesewaguna.

Biaya Bunga
Biaya Bunga telah disebutkan bahwa biaya suatu aset adalah semua pengeluaran
(menjadi unsur biaya) yang diperlukan untuk menyiapkan aset tersebut sampai siap
dipakai atau dikonsumsi sebagaimana direncanakan (intended use). Masalah yang
berkaitan dengan hal ini adalah perlakuan biaya bunga sebagai unsur biaya fasilitas fisis
(gedung atau pabrik) yang dibangun sendiri. Bila kesatuan usaha membangun sendiri
fasilitas fisis dengan dana pinjaman dan pembangungannya memakan waktu yang cukup
lama, masalahnya adalah apakah biaya bunga selama masa pembangunan konstruksi
dapat dikapitalisasi.

FASB menyebutkan bahwa tujuan mengkapitalisasi biaya bunga adalah untuk


mendapatkan angka biaya pemerolehan yang paling merefleksi investasi total kesatuan
usaha dalam aset dan untuk membebankan suatu biaya yang berkaitan dengan
pemerolehan suatu sumber ekonomik yang akan memberi manfaat di masa datang untuk
dibandingkan dengan pendapatan yang dihasilkan oleh manfaat tersebut. Tujuan terakhir
dimaksudkan agar terjadi penandingan yang tepat terutama bila waktu pembangunan
atau perioda pemerolehan (acquisition period) cukup lama. Akan tetapi, kapitaliaasi biaya
bunga hanya dilakukan apabila manfaat informasi melebihi biaya penyediaan informasi
(biaya administrasi dalam mengkapitalisasi bunga).

Argumen Pendukung
Beberapa argumen diajukan untuk mendukung kapitalisasi biaya bunga. Argumen-
argumen tersebut adalah:
1. Dengan kesiapan pemakaian atau penggunaan (readyness for intended use) sebagai
batas kegiatan pengukuran biaya aset, biaya hunga jelas merupakan unsur biaya
aset. Hal ini sejalan dengan argumen yang ditunjukkan FASb (SFAS No. 34, prg. 40)
berikut:

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


12 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
the historical cost of acquiring an asset should include all costs necessorily incurred
to bring it to the candition and location necessary for its intended use, the Board
cocluded that, in principle, the cost incurred in financing expenditures for an asset
during a required construction or development period is itsefl a part of the asset's
historical acquisition cost
2. Bila kesatuan usaha tidak membangun sendiri fasilitas fisis bersangkutan,
penghargaan sepakatan sebagai biaya pemerolehan pada umumnya termasuk pula
bunga yang harus dibayar oleh kontraktor selama pembangunannya.
3. Pembebanan biaya bunga langsung pendapatan selama masa konstruksi (perioda
pemerolehan) akan mendistorsi laba terutama kalau konstruksi didanai dari pinjaman
khusus untuk keperluan tersebut. Dengan kata lain, pembebanan langsung
menyimpang dari konsep penandingan yang tepat (proper matching concept).
4. Biaya bunga selama masa pembangungan bukan merupakan biaya pendanaan
(financing cost) karena kalau pembangunan didanai dari penerbitan ekuitas baru,
biaya pendanaan secara konseptual tetap terjadi dan digeser ke pemegang saham
dalam bentuk dividen yang pembayarannya mungkin ditunda sampai pembangunan
selesai.

Argumen Penolakan
Beberapa argumen menolak dikapitalisasinya bunga. Penolakan tersebut
didasarkan atas argumen-argumen berikut:
1. Bunga lebih merupakan biaya pendanaan daripada unsur biaya aset karena
perusahaan sebenarnya dapat menghindari bunga tersebut dengan memilih alternatif
pendanaan dengan ekuitas.
2. Dengan konsep nilai setara tunai (cash equivalent) atau nilai sekarang aliran kas
diskunan (discounted future cash outflows) dalam mengukur biaya suatu aset, biaya
pemerolehan suatu fasilitas fisis seharusnya tidak dipengaruhi oleh kebijakan
pemilihan cara pendanaan pembangunannya. Jadi, secara teoretis, biaya suatu
fasilitas fisis yang dibangun sendiri oleh suatu kesatuan usaha yang mendanainya
dengan ekuitas seharusnya tidak akan berbeda dengan fasilitas yang sama yang
dibangun perusahaan lain yang mendanainya dengan utang.
3. Dengan konsep kesatuan usaha, bunga lebih bermakna sebagai pembagian laba
(setara dengan dividen) daripada sebagai upaya (effort) untuk memperoleh
pendapatan. Mengakui bunga sebagai biaya fasilitas fisis sama saja dengan
penyangkalan konsep kesatuan usaha itu dan sama saja dengan pengakuan biaya

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


13 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
hipotetis karena mengkapitalisasi bunga (setara dividen) seperti itu sama saja
dengan mengkapitalisasi dividen yang telah dibayarkan sebagai aset.
4. Karena merupakan biaya pendanaan yang terpisah dengan biaya pemerolehan aset,
alokasi biaya bunga ke semua aset non moneter hanya akan kecil pengaruhnya
terhadap laba periodik karena jumlah yang dikapitalisasi dalam suatu perioda akan
dikompensasi dengan amortisasi bunga yang dikapitalisasi pada perioda-perioda
sebelumnya. Dengan demikian, manfaat informasional tambahan (incremental
informational benefit) tidak sepadan dengan biaya akuntansi dan administratif
tambahan sehingga tidak memenuhi kriteria manfaat biaya dalam karakteristik
kualitatif informasi.

Alternatif Perlakuan
Berbagai argumen yang mendukung dan menolak di atas akhirnya menghasilkan
berbagai kemungkinan perlakuan biaya bunga selama masa pembangunan. Beberapa
alternatif perlakuan adalah:
1) Bunga tidak dikapitalisasi dan diperlakukan sebagai biaya perioda.
2) Bunga dikapitalisasi dan dimasukkan sebagai bagian dari biaya fasilitas fisis yang
dibangun sendiri. Jumlah yang dikapitalisasi dapat sebesar:
a. Jumlah rupiah seluruh bunga yang sesungguhnya dibayar atau lerjadi untuk
dana yang khusus dipinjam untuk pembangunan.
b. Jumlah rupiah semua bunga yang sesungguhnya dibayar atau terjadi untuk
semua dana pinjaman yang ada. Ini dilakukan apabila tidak ada dana khusus
yang disodiakan untuk pembangunan aset bersangkutan.
c. Bunga dikapitalisasi sebesar jumlah rupiah bunga implisit dana yang tertanam
dalam perusahaan tanpa memperhatikan sumbernya.
3) Bunga dikapitalisasi tetapi tidak dimasukkan sebagai elemen biaya fasilitas fisis yang
dibangun sendiri. Besarnya bunga yang dikapitalisasi dapat didasarkan pada
perhitungan seperti alternatif 2 di atas.

Perlakuan (1) jelas merupakan konsekuensi dari diterimanya argumen pihak yang
menolak kapitalisasi sedangkan perlakuan (2) merupakan konsekuensi Iogis diterimanya
argumen pihak yang mendukung kapitalisasi. Perlakuan (3) merupakan kompromi dari
kedua argumen yang saling bertentangan. Pengusul perlakuan (3) menandang bahwa
biaya bunga memang merupakan biaya pendanaan tetapi tidak menginginkan adanya
distorsi laba yang dapat menimbulkan kesan keliru tentang prestasi perusahaan pada

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


14 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
masa konstruksi khususnya kalau pendapatan pada masa itu belum cukup besar untuk
menutup bunga.

Oleh karena itu, biaya bunga selama masa konstruksi perlu dikapitalisasi dan
kemudian diamortisasi selama beberapa perioda yang layak. Amortisasi ini independen
terhadap (tidak harus sejalan dengan) umur ekonomik dan metoda depresiasi aset
bersangkutan.

Jumlah Rupiah Kapitalisasi


Tiap alternatif jumlah rupiah bunga yang harus dikapitalisasi didasarkan atas
argument atau dasar pikiran yang dibahas dibawah ini

Alternatif (2a) didasarkan pada argument bahwa bunga merupakan elemen biaya
konstruksi tetapi hanya bunga yang memang benar-benar dibayarkan untuk dana khusus
tersebut yang menunjukkan unsur biaya pemerolehan aset. Hal ini cukup logis karena
memang mudah untuk mengidentifikasi dana yang benar-benar digunakan untuk
membangun konstruksi fasilitas fisis bersangkutan. Masalah dapat timbul kalau dana
pinjaman memang tidak secara khusus dipisahkan untuk keperluan pembangunan
tersebut. Masalah ini timbul karena seluruh dana yang tertanam dalam perusahaan pada
dasarnya lebur menjadi satu dan tidak mungkin dilakukan identifikasi untuk menentukan
dana mana yang digunakan dalam konstruksi dan mana yang tidak, khususnya bagi
perusahaan yang sudah beroperasi cukup lama. Untuk perusahaan yang baru berdiri dan
masih dalam masa persiapan, identifikasi tersebut masih dapat dilakukan.

Alternatif (2b) berusaha untuk mengatasi kesulitan dalam usulan pertama. Dasar
pikirannya adalah bahwa semua utang dianggap digunakan untuk investasi dalam
pembangunan sarana fisis. Biaya bunga di sini dianggap sebagai biaya kesempatan
(opportunity cost) yaitu suatu pengorbanan (bunga) yang sebenarnya dapat dihindari
seandainya kesatuan usaha tidak mengadakan pinjaman atau bunga yang tidak harus
dibayar seandainya dana untuk pembangunan aset digunakan untuk melunasi utang.
Argumen ini sering disanggah karena dari sudut pemegang saham, dana yang berasal
dari ekuitas yang tertanam dalam perusahaan pun sebenarnya mengandung biaya
kesempatan sehingga perlu juga diperhitungkan sebagai biaya seperti bunga.

Alternatif (2c) mendasarkan diri pada asumsi bahwa bunga seluruh dana yang
tertanam dalam perusahaan merupakan biaya ekonomik. Biaya aset di sini diartikan

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


15 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
sebagai "nilai" barang dan jasa yang dikorbankan dalam rangka memperoleh aset
tersebut. Bunga dianggap sebagai nilai jasa uang yang terikat dalam suatu aset sebelum
tia dioperasikan. Karena sumber ekonomik (kas) tidak digunakan untuk kegiatan operasi
berjalan tetapi untuk operasi masa mendatang, cukup layaklah untuk memperhitungkan
bunga implisit yang sebenarnya dapat diperoleh kalau perusahaan tidak membangun
suatu fasilitas fisis yang memakan waktu lama. Bunga implisit di sini diukur atas dasar
laba yang dapat diperoleh seandainya kas digunakan untuk kegiatan operasi bukan untuk
pembangungan. Dasar pikiran ini mirip dengan usulan kedua di atas dalam hal
pengakuan bunga implisit atau hipotetis. Hanya dalam hal ini, bunga dianggap sebagai
pendapatan (laba) yang hilang karena dana digunakan untuk pembangunan sarana fisis.

Standar Yang Mengatur


Adanya berbagai alternatif perlakuan biaya bunga menuntut adanya standar
akuntansi yang menjadi acuan praktik agar pembandingan statemen keuangan menjadi
mudah dilakukan dan bermakna. Secara konseptual memang layaklah kalau biaya bunga
selama konstruksi dikapitalisasi tetapi perlu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi yang
berkaitan dengan jenis aset yang dapat dilekati biaya bunga, besarnya biaya bunga yang
dikapitalisasi, dan perioda kapitalisasi. Kedua standar ini pada dasarnya membolehkan
adanya kapitalisasi bunga asalkan memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu yang
diatur dalam standar tersebut. Standar vang relevan dengan hal ini di Amerika adalah
SFAS No. 34.

Aset Memenuhi Syarat


Secara konseptual, biaya bunga memang dapat dikapitalisasi untuk semua aset
yang perioda pemerolehannya cukup lama. Akan tetapi, tidak dalam setiap pemerolehan
aset dilakukan kapitalisasi bunga yang terlibat. Salah satu faktor yang harus
dipertimbangkan adalah manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya kapitalisasi
tersebut dibandingkan dengan mengurangkan langsung biaya bunga sebagai biaya
perioda terjadinya. Dalam keadaan tertentu kapitalisnsi bunga tidak perlu dilakukan.
Standar akuntanai menentukan aset yang memenuhi syarat (cukup disebut aset
memenuhl) untuk dilekati biaya bunga (qualifying assets) yang dalam PSAK No. 26
disebut aset tertentu. FASB (SFAS No. 34, prg. 9) menetapkan bahwa kapitalisasi bunga
hendaknya dilakukan hanya untuk aset yang memenuhi syarat:
a. Aset yang dibangun atau diproduksi untuk digunakan sendiri oleh perusahaan
(termasuk aset yang dibangun atau diproduksi oleh pihak lain atas pesanan
perusahaan untuk digunakan sendiri oleh perusahaan dan untuk pesanan/kontrak

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


16 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
tersebut perusahaan melakukan pembayaran uang muka atau pembayaran bertahun
atas dasar kemajuan pekerjaan pembangunan aset bersangkutan).
b. Aset dibangun atau diproduksi dengan tujuan untuk dijual sebagai suatu unit atau
projek yang berdiri sendiri terpisah dari projek atau kegiatan operasi lainnya
(misalnya kapal, kawasan industri, estat real, jembatan, atau semacamnya).
c. Investasi jangka panjang (ekuitas, pinjaman, dan penanaman kas) yang diperlakulkan
dengan metoda ekuitas sementara terinvestasi (investee) sedang melaksanakan
kegiatan pembangunan fasilitas fisis asalkan kegiatan tersebut menggunakan dana
investasi itu untuk memperoleh fasilitas fisis tersebut.

Besarnya Kapitalisasi
Bunga Besarnya bunga yang harus dikapitalisasi adalah bagian dari biaya bunga
yang terjadi selama perioda-perioda pemerolehan aset yang secara teoretis dapat
dihindari seandainya kesatuan usaha tidak membangun fasilitas fisis yang bersangkutan.
Dengan kata lain, bunga yang dikapitalisasi adalah tambahan bunga yang diperkirakan
terjadi selama suatu perioda akibat adanya konstruksi. Jadi, biaya bunga yang
dikapitalisasi adalah biaya kesempatan sebagaimana dijadikan argumen bagi alternatif
(2b) yung dibahas sebelumnya.

Secara teknis, jumlah rupiah bunga yang dikapitalisasi dalam suatu perioda
akuntansi selama perioda pemerolehan adalah tingkat bunga atau tarif kapitalisasi
(capitalization rate) dikalikan dengan rata-rata pengeluaran dana untuk konstruksi selama
perioda akuntansi tersebut. Jumlah rupiah bunga total yang dikapitalisasi tentu saja tidak
boleh melebihi jumlah rupiah bunga total yang terjadi dalam perioda tersebut.

Tingkat bunga pinjaman yang khusus digunakan untuk pembangunan aset dapat
digunakan sebagai tarif kapitalisasi kalau dana rata-rata yang tertanam dalam konstruksi
tidak melebihi dana pinjaman khusus tersebut. Kalau dana rata-rata yang tertanam dalam
konstruksi melebihi jumlah dana pinjaman khusus untuk konstruksi, tarif kapitalisasi untuk
kelebihan dana yang tertanam tersebut adalah rata-rata berbobot (weighted average)
tingkat bunga sumber dana lainnya.

Perioda Kapitalisasi
Kapitalisasi biaya bunga diperhitungkan untuk perioda pemerolehan (acquisition
period) sehingga perioda tersebut menjadi perioda kapitalisasi. Perioda kapitalisasi
dimulai ketika tiga kondisi berikut dipenuhi:

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


17 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
a. Pengeluaran untuk pembangunan aset telah dilakukan atau terjadi.
b. Kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk menyelesaikan pembangunan sampai siap
dipakai masih berlangsung.
c. Biaya bunga telah terhimpun (accrued) atau terjadi bersamaan dengan berjalannya
pembangunan aset.
Kapitalisasi bunga dapat terus dilakukan untuk tiap perioda akuntansi selama
ketiga kondisi di atas dipenuhi. Perioda kapitaliaasi akan berakhir apabila konstruksi
bersangkutan secara substansial telah selesai dan siap dioperasikan. Karena biaya
bunga menjadi bagian integral dari aset, pembebanan bunga yang dikapitalisasi terhadap
pendapatan (melalui amortisasi) harus sejalan dengan program depresiasi aset
bersangkutan.

PSAK Aktiva
PSAK 16 Aktiva Tetap Dan Aktiva Lain-Lain (Fixed Assets and Other Assets)

Pengakuan Aktiva tetap


59. Suatu benda berwujud harus diakui sebagai suatu aktiva dan dikelompokkan sebagai
aktiva tetap bila:
a) besar kemungkinan (probable) bahwa manfaat keekonomian di masa yang
akan datang yang berkaitan dengan aktiva tersebut akan mengalir ke dalam
perusahaan;
b) biaya perolehan aktiva dapat diukur secara andal.

Pengakuan Awal Aktiva tetap


60. Suatu benda berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aktiva
dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap, pada awalnya harus diukur berdasarkan
biaya perolehan.

61. Harga perolehan dari masing-masing aktiva tetap yang diperoleh secara gabungan
ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan tersebut berdasarkan
perbandingan nilai wajar masing-masing aktiva yang bersangkutan.

62. Suatu aktiva tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atau pertukaran sebagian untuk
suatu aktiva tetap yang tidak serupa atau aktiva lain. Biaya dari pos semacam itu

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


18 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
diukur pada nilai wajar aktiva yang dilepas atau yang diperoleh, yang mana yang
lebih andal, ekuivalen dengan nilai wajar aktiva yang dilepaskan setelah disesuaikan
dengan jumlah setiap kas atau setara kas yang ditransfer.

63. Aktiva tetap yang diperoleh dari sumbangan harus dicatat sebesar harga taksiran
atau harga pasar yang layak dengan mengkreditkan akun Modal yang Berasal dari
Sumbangan.

Pengeluaran Setelah Perolehan (Subsequent Expenditures)


64. Pengeluaran setelah perolehan awal suatu aktiva tetap yang memperpanjang masa
manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat keekonomian di masa yang
akan datang dalam bentuk peningkatan kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan
standar kinerja, harus ditambahkan pada jumlah tercatat aktiva yang bersangkutan.

Pengakuan Berikutnya (Subsequent Measurement) terhadap Pengakuan Awal


65. Aktiva tetap disajikan berdasarkan nilai perolehan aktiva tersebut dikurangi akumulasi
penyusutan.

66. Penilaian kembali atau revaluasi aktiva tetap pada umumnya tidak diperkenankan
karena Standar Akuntansi Keuangan menganut penilaian aktiva berdasarkan harga
perolehan atau harga pertukaran. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin
dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah. Dalam hal ini laporan keuangan harus
menjelaskan mengenai penyimpangan dari konsep harga perolehan di dalam
penyajian aktiva tetap serta pengaruh daripada penyimpangan tersebut terhadap
gambaran keuangan perusahaan. Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai buku
(nilai tercatat) aktiva tetap dibukukan dalam akun modal dengan nama Selisih
Penilaian Kembali Aktiva Tetap .

Penyusutan
67. Jumlah dapat disusutkan (depreciable) suatu aktiva tetap harus dialokasikan secara
sistematis sepanjang masa manfaatnya. Metode penyusutan harus mencerminkan
pola pemanfaatan ekonomi aktiva (the pattern in which the asset’s economic benefits
are consumed by the enterprise) oleh perusa-haan. Penyusutan untuk setiap periode
diakui sebagai beban untuk periode yang bersangkutan, kecuali termasuk sebagai
jumlah tercatat aktiva lain.

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


19 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
68. Masa manfaat suatu aktiva tetap harus ditelaah ulang secara periodik dan, jika
harapan berbeda secara signifikan dengan estimasi sebelumnya, beban penyusutan
untuk periode sekarang dan masa yang akan datang harus disesuaikan.

69. Metode penyusutan yang digunakan untuk aktiva tetap ditelaah ulang secara periodik
dan jika terdapat suatu perubahan signifikan dalam pola pemanfaatan ekonomi yang
diharapkan dari aktiva tersebut, metode penyusutan harus diubah untuk
mencerminkan perubahan pola tersebut. Perubahan metode penyusutan harus
diperlakukan sebagai suatu perubahan kebijakan akuntansi dan dilaporkan sesuai
dengan PSAK No.25 dan beban penyusutan untuk periode sekarang dan masa yang
akan datang harus disesuaikan.

70. Apabila manfaat keekonomian suatu aktiva tetap tidak lagi sebesar jumlah
tercatatnya maka aktiva tersebut harus dinyatakan sebesar jumlah yang sepadan
dengan nilai manfaat keekonomian yang tersisa. Penurunan nilai kegunaan aktiva
tetap tersebut dilaporkan sebagai kerugian.

Penghentian dan Pelepasan


71. Suatu aktiva tetap dieliminasi dari neraca ketika dilepaskan atau bila aktiva secara
permanen ditarik dari penggunaannya dan tidak ada manfaat keekonomian masa
yang akan datang diharapkan dari pelepasannya.

72. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghen-tian atau pelepasan suatu aktiva
tetap diakui sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan laba rugi.

Pengungkapan
73. Laporan keuangan harus mengungkapkan, dalam hubungan dengan setiap jenis
aktiva tetap:
a) dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto. Jika
lebih dari satu dasar yang digunakan, jumlah tercatat bruto untuk dasar dalam
setiap kategori harus diungkapkan;
b) metode penyusutan yang digunakan;
c) masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
d) jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode;
e) suatu rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode memperlihatkan:
i. penambahan;

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


20 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
ii. pelepasan;
iii. akuisisi melalui penggabungan usaha;
iv. revaluasi yang dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah;
v. penurunan nilai tercatat sesuai dengan paragraf 66;
vi. penyusutan;
vii. perbedaan pertukaran neto yang timbul pada penjabaran laporan
keuangan suatu entitas asing; dan
viii. setiap pengklasifikasian kembali.

74. Laporan keuangan juga harus mengungkapkan:


a) Eksistensi dan batasan atas hak milik, dan aktiva tetap yang dijaminkan untuk
hutang;
b) Kebijakan akuntansi untuk biaya perbaikan yang berkaitan dengan aktiva tetap;
c) Jumlah pengeluaran pada akun aktiva tetap dalam konstruksi;
d) Jumlah komitmen untuk akuisisi aktiva tetap.

75. Jika aktiva tetap dicatat pada jumlah yang dinilai kembali hal berikut harus
diungkapkan:
a) Dasar yang digunakan untuk menilai kembali aktiva;
b) Tanggal efektif penilaian kembali;
c) Nama penilai independen, bila ada;
d) Hakekat setiap petunjuk yang digunakan untuk menentukan biaya pengganti;
e) Jumlah tercatat setiap jenis aktiva tetap;
f) Surplus penilaian kembali aktiva tetap.

Aktiva lain-lain
76. Pos-pos yang tidak dapat secara layak digolongkan dalam aktiva tetap, dan juga
tidak dapat digolongkan dalam aktiva lancar, investasi/penyertaan maupun aktiva tak
berwujud, seperti: aktiva tetap yang tidak digunakan, piutang kepada pemegang
saham, beban yang ditangguhkan dan aktiva lancar lainnya disajikan dalam
kelompok aktiva lain-lain.

Perkembangan Akuntansi di
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
21 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Daftar Pustaka

1 Schooeder, R.G., M.W. Clark, Jack M. Cathay. (2016). Financial Accounting


Theory and Analysis. 12th edition.
2 Scott, William R. (2019). Financial Accounting Theory. 8th edition.
3 Godfrey, J., A. Hodgson, A. Tarca. (2010). Accounting Theory. 7th edition. John
Wiley.
4 Belkaoui, Ahmed Riahi. (2011). Accounting Theory. 6th edition. Salemba Empat.
Jakarta
5 Soewardjono. (2016). Teori Akuntansi. Edisi 3. YKPN.
6 Standar Akuntansi Keuangan. 2019. Ikatan Akuntan Indonesia

2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU


22 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]

Anda mungkin juga menyukai