Definisi dan Karakteristik Aset
Definisi dan Karakteristik Aset
MODUL PERKULIAHAN
W322100016 -
Teori Akuntansi
Asset
Abstrak Sub-CPMK
FASB mendefinisi aset dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut (SFAÇ No.
6, prg. 25):
Definisi FASB dan AASB cukup luas dibanding definisi yang lain karena aset
disifati sebagai manfaat ekonomik (economic benefits) dan bukan sebagai sumber
Economic resources are the scarce means (limited in supply relative to desired
uses) available for carrying on economic activities.
…resources are objects that the entity intends to place under its control. This
means that resources must have utility. However, utility alone is not sufficient
reason for an entity to place an object under its control. The object must be
scarce, thus ruling out free goods.
APB mendefinisi aset sebagai sumber ekonomik karena adanya unsur kelangkaan
sehingga suatu entitas harus mengendalikannya dari akses pihak lain melalui transaksi
ekonomik. APB juga membedakan aset menjadi sumber ekonomik dan nonsumber
ekonomik. APB No. 4 merinci aset yang digolongkan se- bagai sumber ekonomik sebagai
berikut (prg. 57):
1. Sumber produktif (productive resources):
a. Sumber produktif kesatuan usaha yang meliputi bahan baku, gedung,
pabrik, perlengkapan, sumber alam, paten dan semacamnya, jasa, dan
sumber lain yang digunakan dalam produksi barang dan jasa.
b. Hak kontraktual atas sumber produktif meliputi semua hak untuk
menggunakan sumber ekonomik pihak lain dan hak untuk mendapatkan
barang atau jasa dari pihak lain.
2. Produk (products) yang merupakan keluaran kesatuan usaha terdiri atas:
a. Barang jadi yang menunggu penjualan
b. Barang dalam proses
3. Uang (money)
4. Klaim untuk menerima uang (claims to receive money)
5. Hak pemilikan atau investasi pada perusahaan lain (ownership interest in other
enterprise)
Berbeda dengan FASB, IASC memaknai mạnfaat ekonomik masa datang (future
economic benefits) bukan sebagai potensi jasa yang sekarang dikuasai badan usaha
tetapi sebagai manfaat yang diharapkan mengalir ke badan usaha. Jadi, manfaat
ekonomik yang dimaksud oleh IASC bukan manfaat yang dikandung (embodied) oleh
sumber ekonomik yang dikuasai tetapi manfaat yang didatangkan atau yang mengalir ke
badan usaha. Karena bukan manfaat yang dikandung, pengertian manfaal ekonomik
masa datang oleh IASC dapat diinterpretasi sebagai aliran masuk manfaat akibat
pemerolehan sumber ekonomik baru lantaran pertukaran dengan sumber ekonomik yang
sebelumnya dikuasai atau lantaran aliran masuk pendapatan.
Definisi FASB dan AASB lebih luas dibanding definisi lain dalam hal entitas yang
dicakupi. Dengan menyatakan a particular entity atau reporting entity bukannya enterprise
sehagai pengendali aset, FASB dan AASB tidak membatasi pengertian aset hanya
berlaku untuk organisasi bisnis tetapi juga untuk orgunisasi nonbisnis. Kata enterprise
yang digunakan oleh IASC dan APB memberi kesan bahwa aset didefinisi dalam konteks
organisasi bisnis.
Melibatkan Biaya
Pemerolehan aset pada umumnya melibatkan biaya (pengeluaran sumber
ekonomik misalnya kas) sebagai penghargaan sepakatan (measured consideration). Bila
biaya terjadi karena pemerolehan suatu objek terjadi akibat pertukaran atau pembelian,
objek tersebut lebih kuat untuk masuk sebagai asset. Akan tetapi, tiadanya biaya tidak
membatalkan suatu objek sebagai aset. Suatu aset dapat diperoleh misalnya dari hadiah
yang tidak melibatkan pengeluaran sumber ekonomik. Walaupun demikian, biaya objek
tersebut harus tetap ditentukan atau di taksir secara layak sebagai dasar pencatatan
pertama kali.
Berwujud
Bila suatu sumber ekonomik secara fisis dapat diamati, tia memang lebih kuat
untuk disebut sebagai aset. Akan tetapi, keterwujudan (tangibility) bukan kriteria untuk
mendefinisi aset. Objek-objek seperti hak paten, hak cipta, merek dagang, dan goodwill
tetap dapat dimasukkan sebagai aset meskipun tidak berwujud fisis. Pada umumnya, pos-
pos takberwujud yang masuk dalam kategori aset lancar tidak disebut sebagai aset
takberwujud (intangibles).
Most (1982, hlm. 379) mengajukan tiga tes (kriteria) untuk memasukkan suatu pos
ke dalam aset takberwujud, yaitu:
1) Apakah pos tersebut diperoleh dari suatu transaksi dengang pihak
independen (arm's lenght transaction)? Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi
penilaian lebih (over-valuation) atas aset takberwujud.
2) Dapatkah manfaat ekonomik masa datang yang diharapkan diidentifikasi?
Dapat diidentifikasi artinya dapat dikaitkan dengan kemampuan perusahaan
Tertukarkan
Beberapa penulis mengajukan gagasan atau argumen bahwa untuk memenuhi
syarat sebagai aset, suatu sumber ekonomik harus dapat ditukarkan dengan sumber
ekonomik lainnya. Syarat ini diajukan dengan alasan bahwa manfaat ekonomik akan
menjadi cukup pasti dan terukur kalau suatu sumber ekonomik mempunyai daya atau nilai
tukar. Dengan kata lain, manfaat ekonomik diturunkan dari daya tukar. Syarat dan
argumen ini disanggah karena manfaat ekonomik tidak hanya terletak pada daya tukar
tetapi juga dari daya guna suatu objek untuk produkai. Mesin, misalnya, mungkin sekali
tidak mempunyai daya tukar tetapi dapat digunakan untuk menghasilkan produk. Bahkan
hampir sebagian besar aset manfaatnya didapat dari penggunaan daripada dari
pertukaran. Sebagaimana dikutip Kam (1990, hlm. 107-108), Moonitz menyatakan hahwa
"exchange does not make values, it merely reveals them."
Terpisahkan
Syarat ini ditujukan berkaitan dengan ketertukaran (exchangeability). Untuk dapat
ditukarkan suatu sumber ekonomik harus dapat dipisahkan dengan sumber ekonomik
yang lain atau berdiri sendiri. Syarat ini ditujukan oleh Chambers dengan alasan bahwa
posisi keuangan harus ditentukan dengan pengukuran nilai berbagai aset dan kewajiban
secara individual. Kalau syarat ini dimasukkan sebagai kriteria aset, goodwill tidak akan
memenuhi syarat untuk disebut dan diakui sebagai aset.
Chambers dan MacNeal mengajukan syaral ini karena dia tidak setuju bahwa
goodwill dimasukkan sebagal aset. Alasannya adalah pengukuran goodwill sangat
subjektif dan hipotetis. Alasan lain adalah tujuan penyajian neraca adalah melaporkan
nilai bersih aset dan bukan nilai perusahaan secara keseluruhan. Melaporkan goodwill
atau semacamnya akan menyesatkan.
Berkekuatan hukum
Penguasan atau hak atas aset tidak harus didukung secara yuridis formal. Klaim
seperti piutang usaha tidak harus didukung oleh dokumen yang mempunyai daya paksa
secara hukum (legally enforceable) untuk memenuhi definisi asset. Memang pada
umumnya, kemampuan suatu entitas untuk menguasai manfaat ekonomik timbul akibat
hak-hak hukum (legal rights). Meskipun demikian, hak paksa yang melekat pada hak-hak
hukum bukan merupakan syarat mutlak untuk mengakui adanya asset kalau suatu entitas
dapat memperoleh dan menguasai manfaat dengan cara lain sebagaimana dibahas
sebelumnya (misalnya dengan cara perjanjian atau penemuan).
Pengukuran
Secara akuntansi (aliran informasi), aliran fisis suatu sumber ekonomik atau objek
harus direpresentasi dalam jumlah rupiah sehingga hubungan antarobjek bermakna
Perlu ditegaskan kembali bahwa biaya adalah pengukur sedangkan asset dan
biaya adalah elemen yang diukur. Sebagai pengukur elemen, biaya melekat pada asset
atau biaya sehingga biaya, asset, dan biaya, ketiganya sering diracunkan. Keracunan
dapat timbul karena secara teknis pembukuan suatu biaya dapat dibebankan atau
didebitkan ke asset atau biaya saat terjadinya.
Pengakuan
Suatu jumlah rupiah atau biaya diakui sebagai aset apabila jumlah rupiah tersebut
timbul akibat transaksi, kejadian, atau keadaan yang mempengaruhi aset. Pada umumnya
pengakuan aset dilakukan bersamaan dengan adanya transaksi, kejadian, atau keadaan
tersebut. Di samping memenuhi definisi aset, kriteria keterukuran, keberpautan, dan
keterandalan harus dipenuhi pula. Dengan mengutip Sterling, Belkaoui (1993, hlm. 194-
195) menunjukkan kondisi perlu (necessary) dan kondisi cukup (sufficient) yang
merupakan penguji (tests) yang cukup rinci untuk mengakui aset yaitu:
1. Deteksi adanya aset (detection of existence test). Untuk mengakui aset, harus ada
transaksi yang menandai timbulnya aset.
2. Sumber ekonomik dan kewajiban (economic resources and obligation test). Untuk
mengakui aset, suatu objek harus merupakan sumber ekonomik yang langka,
dibutuhkan, dan berharga.
3. Berkaitan dengan entitas (entity association test). Untuk mengakui aset, kesatuan
usaha harus mengendalikan atau menguasai objek aset.
Apa yang dikemukakan Belkaoui di atas sebenarnya adalah apa yang disebut
dengan kaidah pengakuan (recognition rules) yang merupakan petunjuk teknis atau
prosedur untuk menerapkan empat kriteria pengakuan (recognition criteria) FASB yaitu
definisi, keterukuran, keberpautan, dan keterandalan. Kaidah tersebut diperlukan karena
kriteria pengakuan sifatnya konseptual dan umum. Penerapan kaidah pengakuan di atas
sebenarnya berkaitan dengan masalah apakah suatu biaya dikapitalisasi (capitalized)
atau dibiayakan (expensed). Bila kaidah pengakuan di atas tidak dipenuhi, biaya harus
diperlakukan menjadi beban pendapatan sebagai biaya atau rugi.
Beban Tangguhan
Untuk beberapa kasus, pelaksanann kaidah di atas menjadi pelik karena
karakteristik unik biaya yang terlibat menyebabkan keraguan. Diperlakukan sebagai aset
meragukan karena manfaat ekonomik masa depan tidak cukup pasti sementara kalau
diperlakukan sebagai biaya atau dibebankan ke pendapatan tahun terjadinya juga tidak
pas karena asosiasi dengan pendapatan sulit untuk ditentukan. Diperlakukan sebagai rugi
juga tidak tepat karena biaya merepresentasi upaya yang sah dan wajar. Kesulitan
semacam ini menimbulkan praktik bahwa biaya-biaya semacam itu (biaya organisasi, riset
dan pengembangan, dan semacamnya) ditampung dalam satu pos yang disebut beban
tangguhan (deferred charges).
Paton dan Littleton (1970) sangat mengkritik penggunaan istilah beban tangguhan
ini karena secara konseptual semua aset (yang dipresentasi dengan biaya) merupakan
beban tangguhan. Lebih baik kalau pos tersebut diberi nama yang jelas sesuai dengan
sifatnya dan disajikan secara terpisah dengan pos-pos aset lainnya. Kaidah untuk
menetapkan apakah suatu biaya memenuhi syarat untuk ditangguhkan pembebanannya
ke pendapatan. Kaidah ini merupakan penyederhanaan dari enam kaidah yang dijelaskan
di atas. Biaya yang mempunyai karakteristik unik sehingga menimbulkan
masalah masalah penangguhan pembebanan misalnya adalah biaya yang terlibat dalam
transaksi, kejadian atau keadaan berikut:
Sewaguna
“Sewaguna" (lease) menimbulkan masalah pelik dalam pengakuan aset karena di
Amerika pada mulanya sewaguna digunakan sebagai sarana pemerolehan aset tetap
atau fasilitas fisis tanpa harus menunjukkan utang yang timbul dari pemeroleban tersebut.
Dengan kata lain, sewaguna diperlakukan sebagai sewa menyewa biasa sehingga jumlsh
rupiah sewa yang dibayarkan diperlakukan sebagai biaya sewa. Praktik semacam ini,
disebut dengan pendanaan lepas neraca (off - balance-sheet financing), dipandang tidak
sehat dari segi pelaporan keuangan karena terdapat utang yang cukup basar yang tidak
dilaporkan dalam neraca.
Oleh karena itu, dengan konsep dasar substansi di atas bentuk (substance over
form), FASB mewajibkan untuk mengakui dan melaporkan kewajiban yang timbul dari
sewaguna dan mengakui (mengkapitalisasi) fasilitas yang disewaguna sebagai aset
perusahaan kalau secara substantif perjanjian sewaguna tersebut sebenarnya merupakan
pembelian angsuran. Yang menjadi masalah adalah apa kriteria yang harus dipenuhi agar
suatu sewaguna dapat dinyatakan sebagai pembelian angsuran. FASB mengajukan
empat kriteria berikut ini (SFAS No. 13, prg. 7):
a. Kantrak sewaguna menyebutkan adanya transfer hak milik barang atau properitas
(property) kepada tersewaguna (lessee) pada akhir jangka sewaguna.
b. Kontrak sewaguna memuat pasal bahwa tersewaguna boleh pilih untuk membeli
pada tanggal yang ditetapkan dalam jangka sewaguna dengan harga yang ditetapkan
dan harga tersebut cukup murah sehingga dapat dipastikan di muka bahwa
tersewaguna akan memilih membeli properitas bersangkutan. Pasal semacam ini
disebut bargain purchase option.
c. Jangka sewaguna adalah 75% atau lebih dari sisa umur ekonomik taksiran properitas
sewagunaan sejak penandatanganan kontrak. Bila sisa umur ekonomik mulai dari
Biaya Bunga
Biaya Bunga telah disebutkan bahwa biaya suatu aset adalah semua pengeluaran
(menjadi unsur biaya) yang diperlukan untuk menyiapkan aset tersebut sampai siap
dipakai atau dikonsumsi sebagaimana direncanakan (intended use). Masalah yang
berkaitan dengan hal ini adalah perlakuan biaya bunga sebagai unsur biaya fasilitas fisis
(gedung atau pabrik) yang dibangun sendiri. Bila kesatuan usaha membangun sendiri
fasilitas fisis dengan dana pinjaman dan pembangungannya memakan waktu yang cukup
lama, masalahnya adalah apakah biaya bunga selama masa pembangunan konstruksi
dapat dikapitalisasi.
Argumen Pendukung
Beberapa argumen diajukan untuk mendukung kapitalisasi biaya bunga. Argumen-
argumen tersebut adalah:
1. Dengan kesiapan pemakaian atau penggunaan (readyness for intended use) sebagai
batas kegiatan pengukuran biaya aset, biaya hunga jelas merupakan unsur biaya
aset. Hal ini sejalan dengan argumen yang ditunjukkan FASb (SFAS No. 34, prg. 40)
berikut:
Argumen Penolakan
Beberapa argumen menolak dikapitalisasinya bunga. Penolakan tersebut
didasarkan atas argumen-argumen berikut:
1. Bunga lebih merupakan biaya pendanaan daripada unsur biaya aset karena
perusahaan sebenarnya dapat menghindari bunga tersebut dengan memilih alternatif
pendanaan dengan ekuitas.
2. Dengan konsep nilai setara tunai (cash equivalent) atau nilai sekarang aliran kas
diskunan (discounted future cash outflows) dalam mengukur biaya suatu aset, biaya
pemerolehan suatu fasilitas fisis seharusnya tidak dipengaruhi oleh kebijakan
pemilihan cara pendanaan pembangunannya. Jadi, secara teoretis, biaya suatu
fasilitas fisis yang dibangun sendiri oleh suatu kesatuan usaha yang mendanainya
dengan ekuitas seharusnya tidak akan berbeda dengan fasilitas yang sama yang
dibangun perusahaan lain yang mendanainya dengan utang.
3. Dengan konsep kesatuan usaha, bunga lebih bermakna sebagai pembagian laba
(setara dengan dividen) daripada sebagai upaya (effort) untuk memperoleh
pendapatan. Mengakui bunga sebagai biaya fasilitas fisis sama saja dengan
penyangkalan konsep kesatuan usaha itu dan sama saja dengan pengakuan biaya
Alternatif Perlakuan
Berbagai argumen yang mendukung dan menolak di atas akhirnya menghasilkan
berbagai kemungkinan perlakuan biaya bunga selama masa pembangunan. Beberapa
alternatif perlakuan adalah:
1) Bunga tidak dikapitalisasi dan diperlakukan sebagai biaya perioda.
2) Bunga dikapitalisasi dan dimasukkan sebagai bagian dari biaya fasilitas fisis yang
dibangun sendiri. Jumlah yang dikapitalisasi dapat sebesar:
a. Jumlah rupiah seluruh bunga yang sesungguhnya dibayar atau lerjadi untuk
dana yang khusus dipinjam untuk pembangunan.
b. Jumlah rupiah semua bunga yang sesungguhnya dibayar atau terjadi untuk
semua dana pinjaman yang ada. Ini dilakukan apabila tidak ada dana khusus
yang disodiakan untuk pembangunan aset bersangkutan.
c. Bunga dikapitalisasi sebesar jumlah rupiah bunga implisit dana yang tertanam
dalam perusahaan tanpa memperhatikan sumbernya.
3) Bunga dikapitalisasi tetapi tidak dimasukkan sebagai elemen biaya fasilitas fisis yang
dibangun sendiri. Besarnya bunga yang dikapitalisasi dapat didasarkan pada
perhitungan seperti alternatif 2 di atas.
Perlakuan (1) jelas merupakan konsekuensi dari diterimanya argumen pihak yang
menolak kapitalisasi sedangkan perlakuan (2) merupakan konsekuensi Iogis diterimanya
argumen pihak yang mendukung kapitalisasi. Perlakuan (3) merupakan kompromi dari
kedua argumen yang saling bertentangan. Pengusul perlakuan (3) menandang bahwa
biaya bunga memang merupakan biaya pendanaan tetapi tidak menginginkan adanya
distorsi laba yang dapat menimbulkan kesan keliru tentang prestasi perusahaan pada
Oleh karena itu, biaya bunga selama masa konstruksi perlu dikapitalisasi dan
kemudian diamortisasi selama beberapa perioda yang layak. Amortisasi ini independen
terhadap (tidak harus sejalan dengan) umur ekonomik dan metoda depresiasi aset
bersangkutan.
Alternatif (2a) didasarkan pada argument bahwa bunga merupakan elemen biaya
konstruksi tetapi hanya bunga yang memang benar-benar dibayarkan untuk dana khusus
tersebut yang menunjukkan unsur biaya pemerolehan aset. Hal ini cukup logis karena
memang mudah untuk mengidentifikasi dana yang benar-benar digunakan untuk
membangun konstruksi fasilitas fisis bersangkutan. Masalah dapat timbul kalau dana
pinjaman memang tidak secara khusus dipisahkan untuk keperluan pembangunan
tersebut. Masalah ini timbul karena seluruh dana yang tertanam dalam perusahaan pada
dasarnya lebur menjadi satu dan tidak mungkin dilakukan identifikasi untuk menentukan
dana mana yang digunakan dalam konstruksi dan mana yang tidak, khususnya bagi
perusahaan yang sudah beroperasi cukup lama. Untuk perusahaan yang baru berdiri dan
masih dalam masa persiapan, identifikasi tersebut masih dapat dilakukan.
Alternatif (2b) berusaha untuk mengatasi kesulitan dalam usulan pertama. Dasar
pikirannya adalah bahwa semua utang dianggap digunakan untuk investasi dalam
pembangunan sarana fisis. Biaya bunga di sini dianggap sebagai biaya kesempatan
(opportunity cost) yaitu suatu pengorbanan (bunga) yang sebenarnya dapat dihindari
seandainya kesatuan usaha tidak mengadakan pinjaman atau bunga yang tidak harus
dibayar seandainya dana untuk pembangunan aset digunakan untuk melunasi utang.
Argumen ini sering disanggah karena dari sudut pemegang saham, dana yang berasal
dari ekuitas yang tertanam dalam perusahaan pun sebenarnya mengandung biaya
kesempatan sehingga perlu juga diperhitungkan sebagai biaya seperti bunga.
Alternatif (2c) mendasarkan diri pada asumsi bahwa bunga seluruh dana yang
tertanam dalam perusahaan merupakan biaya ekonomik. Biaya aset di sini diartikan
Besarnya Kapitalisasi
Bunga Besarnya bunga yang harus dikapitalisasi adalah bagian dari biaya bunga
yang terjadi selama perioda-perioda pemerolehan aset yang secara teoretis dapat
dihindari seandainya kesatuan usaha tidak membangun fasilitas fisis yang bersangkutan.
Dengan kata lain, bunga yang dikapitalisasi adalah tambahan bunga yang diperkirakan
terjadi selama suatu perioda akibat adanya konstruksi. Jadi, biaya bunga yang
dikapitalisasi adalah biaya kesempatan sebagaimana dijadikan argumen bagi alternatif
(2b) yung dibahas sebelumnya.
Secara teknis, jumlah rupiah bunga yang dikapitalisasi dalam suatu perioda
akuntansi selama perioda pemerolehan adalah tingkat bunga atau tarif kapitalisasi
(capitalization rate) dikalikan dengan rata-rata pengeluaran dana untuk konstruksi selama
perioda akuntansi tersebut. Jumlah rupiah bunga total yang dikapitalisasi tentu saja tidak
boleh melebihi jumlah rupiah bunga total yang terjadi dalam perioda tersebut.
Tingkat bunga pinjaman yang khusus digunakan untuk pembangunan aset dapat
digunakan sebagai tarif kapitalisasi kalau dana rata-rata yang tertanam dalam konstruksi
tidak melebihi dana pinjaman khusus tersebut. Kalau dana rata-rata yang tertanam dalam
konstruksi melebihi jumlah dana pinjaman khusus untuk konstruksi, tarif kapitalisasi untuk
kelebihan dana yang tertanam tersebut adalah rata-rata berbobot (weighted average)
tingkat bunga sumber dana lainnya.
Perioda Kapitalisasi
Kapitalisasi biaya bunga diperhitungkan untuk perioda pemerolehan (acquisition
period) sehingga perioda tersebut menjadi perioda kapitalisasi. Perioda kapitalisasi
dimulai ketika tiga kondisi berikut dipenuhi:
PSAK Aktiva
PSAK 16 Aktiva Tetap Dan Aktiva Lain-Lain (Fixed Assets and Other Assets)
61. Harga perolehan dari masing-masing aktiva tetap yang diperoleh secara gabungan
ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan tersebut berdasarkan
perbandingan nilai wajar masing-masing aktiva yang bersangkutan.
62. Suatu aktiva tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atau pertukaran sebagian untuk
suatu aktiva tetap yang tidak serupa atau aktiva lain. Biaya dari pos semacam itu
63. Aktiva tetap yang diperoleh dari sumbangan harus dicatat sebesar harga taksiran
atau harga pasar yang layak dengan mengkreditkan akun Modal yang Berasal dari
Sumbangan.
66. Penilaian kembali atau revaluasi aktiva tetap pada umumnya tidak diperkenankan
karena Standar Akuntansi Keuangan menganut penilaian aktiva berdasarkan harga
perolehan atau harga pertukaran. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin
dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah. Dalam hal ini laporan keuangan harus
menjelaskan mengenai penyimpangan dari konsep harga perolehan di dalam
penyajian aktiva tetap serta pengaruh daripada penyimpangan tersebut terhadap
gambaran keuangan perusahaan. Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai buku
(nilai tercatat) aktiva tetap dibukukan dalam akun modal dengan nama Selisih
Penilaian Kembali Aktiva Tetap .
Penyusutan
67. Jumlah dapat disusutkan (depreciable) suatu aktiva tetap harus dialokasikan secara
sistematis sepanjang masa manfaatnya. Metode penyusutan harus mencerminkan
pola pemanfaatan ekonomi aktiva (the pattern in which the asset’s economic benefits
are consumed by the enterprise) oleh perusa-haan. Penyusutan untuk setiap periode
diakui sebagai beban untuk periode yang bersangkutan, kecuali termasuk sebagai
jumlah tercatat aktiva lain.
69. Metode penyusutan yang digunakan untuk aktiva tetap ditelaah ulang secara periodik
dan jika terdapat suatu perubahan signifikan dalam pola pemanfaatan ekonomi yang
diharapkan dari aktiva tersebut, metode penyusutan harus diubah untuk
mencerminkan perubahan pola tersebut. Perubahan metode penyusutan harus
diperlakukan sebagai suatu perubahan kebijakan akuntansi dan dilaporkan sesuai
dengan PSAK No.25 dan beban penyusutan untuk periode sekarang dan masa yang
akan datang harus disesuaikan.
70. Apabila manfaat keekonomian suatu aktiva tetap tidak lagi sebesar jumlah
tercatatnya maka aktiva tersebut harus dinyatakan sebesar jumlah yang sepadan
dengan nilai manfaat keekonomian yang tersisa. Penurunan nilai kegunaan aktiva
tetap tersebut dilaporkan sebagai kerugian.
72. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghen-tian atau pelepasan suatu aktiva
tetap diakui sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan laba rugi.
Pengungkapan
73. Laporan keuangan harus mengungkapkan, dalam hubungan dengan setiap jenis
aktiva tetap:
a) dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto. Jika
lebih dari satu dasar yang digunakan, jumlah tercatat bruto untuk dasar dalam
setiap kategori harus diungkapkan;
b) metode penyusutan yang digunakan;
c) masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
d) jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode;
e) suatu rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode memperlihatkan:
i. penambahan;
75. Jika aktiva tetap dicatat pada jumlah yang dinilai kembali hal berikut harus
diungkapkan:
a) Dasar yang digunakan untuk menilai kembali aktiva;
b) Tanggal efektif penilaian kembali;
c) Nama penilai independen, bila ada;
d) Hakekat setiap petunjuk yang digunakan untuk menentukan biaya pengganti;
e) Jumlah tercatat setiap jenis aktiva tetap;
f) Surplus penilaian kembali aktiva tetap.
Aktiva lain-lain
76. Pos-pos yang tidak dapat secara layak digolongkan dalam aktiva tetap, dan juga
tidak dapat digolongkan dalam aktiva lancar, investasi/penyertaan maupun aktiva tak
berwujud, seperti: aktiva tetap yang tidak digunakan, piutang kepada pemegang
saham, beban yang ditangguhkan dan aktiva lancar lainnya disajikan dalam
kelompok aktiva lain-lain.
Perkembangan Akuntansi di
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
21 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Daftar Pustaka