1
MODUL PERKULIAHAN
W322100016 -
Teori Akuntansi
Definisi dan Peran Teori
Akuntansi
Abstrak Sub-CPMK
Dalam bab ini dibahas Agar mahasiswa dapat memahami
tentang pengertian akuntansi pengertian akuntansi sebagai seni,
sebagai seni, sains, dan sains, dan teknologi, serta teori
teknologi, serta teori akuntansi semantik, sintaktik, dan
akuntansi semantik, sintaktik, pragmatik.
dan pragmatik.
Fakultas Program Studi Tatap Muka Disusun Oleh
Shinta Melzatia, S.E., [Link]
FEB [Link]
02
Pengertian Akuntansi
Teori akuntansi sangat erat kaitannya dengan akuntansi keuangan bahkan teori
akuntansi dijumpai khususnya dalam konteks akuntansi keuangan. Pengertian teori
akuntansi sangat bergantung pada pengertian atau pendefinisian akuntansi sebagai suatu
bidang pengetahuan. Artinya, kedudukan akuntansi dalam tatanan (taksonomi)
pengetahuan juga akan menentukan arti dan ruang lingkup teori akuntansi. Debat di
tingkat akademis yang belum mencapai titik temu merupakan jawaban atas pertanyaan
apakah pengetahuan Akuntansi dapat dikategorikan sebagai seni, sains, atau teknologi.
Status yang jelas memudahkan pengembangan pengetahuan akuntansi untuk
pencapaian tujuan sosial dan ekonomi tertentu. Selain itu, kejelasan status akuntansi
berimplikasi pada arah studi dan praktik akuntansi.
Tidak ada definisi otoritatif yang cukup umum untuk menjelaskan apa sebenarnya
akuntansi itu. Akuntansi didefinisi sebagai seperangkat pengetahuan karena wilayah
materi dan kegiatan cukup luas dan dalam serta telah membentuk kesatuan pengetahuan
yang terdokumentasi secara sistematis dalam bentuk literatur akuntansi. Kesatuan
pengetahuan tersebut dapat diajarkan dan dipelajari untuk mendapatkan kompetensi
yang menjadi basis atau persyaratan suatu profesi. Kesatuan pengetahuan akuntansi
juga menantang secara intelektual sehingga pengetahuan tersebut menjadi bidang studi
yang dapat diajarkan secara formal di perguruan tinggi sampai pada tingkat doktor.
Akuntansi sebagai kegiatan penyediaan jasa (service activity) mengisyaratkan bahwa
akuntansi yang akhirnya harus diterapkan untuk merancang dan menyediakan jasa
berupa informasi keuangan harus bermanfaat untuk kepentingan sosial dan ekonomik
negara tempat akuntansi diterapkan (to be useful in making economic decisions).
Karena karakteristik informasi yang dihasilkan akuntansi akan sangat ber gantung
pada lingkungan tempat akuntansi akan diterapkan, akuntansi sebagai seperangkat
pengetahuan tentunya akan membahas berbagai konsep dan alterna tif serta
implikasinya dalam berbagai kondisi lingkungan. Konsep yang dipilih dan diaplikasi dalam
lingkungan tertentu akan menjadi suatu model akuntansi untuk mencapai tujuan sosial
tertentu. Untuk dapat memilih konsep yang relevan harus dipertimbangkan faktor
lingkungan (sosial, politik, ekonomi, dan budaya). Tiap konsep atau alternatif tentunya
dikembangkan dengan penalaran tertentu sehingga apabila konsep atau alternatif
tersebut dipilih maka implikasinya terhadap ke hidupan nyata dapat diprediksi.
Definisi di atas belum memisahkan pengertian seperangkat pengetahuan (a body
of knowledge) dan fungsi (function). Pengertian pertama akan menentukan status
akuntansi sedangkan pengertian kedua akan menentukan karakteristik praktik atau
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
2 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
proses akuntansi dalam wilayah tertentu. Oleh karena itu, perlu diajukan definisi akuntansi
yang membedakan kedua aspek tersebut. Sebagai seperangkat pengetahuan, akuntansi
dapat didefinisi sèbagai:
seperangkat pengetahuan yang mempelajari perekayasaan penyedíaan jasa
berupa informasi keuangan kuantitatif unit-unit organisasi dalam suatu lingkungan negara
tertentu dan cara penyampaian (pelaporan) informasi terse- but kepada pihak yang
berkepentingan untuk dijadikan dasar dalam pengam- bilan keputusan ekonomik.
Dalam arti sempit sebagai proses, fungsi, atau praktik, akuntansi dapat didefinisi
sebagai:
proses pengidentifikasian, pengesahan, pengukuran, pengakuan, pengklasifika-
sian, penggabungan, peringkasan, dan penyajian data keuangan dasar (bahan olah
akuntansi) yang terjadi dari kejadian-kejadian, transaksi-transaksi, atau kegiatan operasi
suatu unit organisasi dengan cara tertentu untuk menghasil kan informasi yang relevan
bagi pihak yang berkepentingan.
Dua kata kunci penting dalam definisi tersebut adalah perekayasaan (engineering)
dan cara tertentu (in a certain manner)." Akuntansi akan mempunyai peran yang nyata
kalau informasi yang dihasilkan oleh akuntansi dapat mengendalikan perilaku pengambil
keputusan ekonomik untuk bertindak menuju ke suatu penca- paian tujuan sosial dan
ekonomik negara. Salah satu tujuan ekonomik negara adalah alokasi sumber daya
ekonomi secara efisien. Pelaporan keuangan (financial reporting) sebagai sistem nasional
harus direkayasa dengan saksama untuk pe- ngendalian alokasi tersebut secara
automatis melalui mekanisma pasar yang ber- laku. Kebijakan pemerintah yang secara
langsung mempengaruhi perilaku pengambil keputusan ekonomik jelas merupakan faktor
yang tidak dapat diabai- kan dalam alokasi sumber daya ekonomik. Pengendalian secara
automatis dapat dicapai melalui standar akuntansi yang merupakan cara tertentu sebagai
hasil akhir dari proses perekayasaan.
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
3 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Seni, Sains, atau Teknologi
Pada awal perkembangannya, akuntansi dapat dikatakan sebagai kerajinan (art)
karena orang yang akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan akuntansi harus
terjun langsung dalam dunia praktik dan mengerjakan magang (apprentice ship) pada
praktisi. Dalam perkembangan selanjutnya, pengetahuan dan kete rampilan akuntansi
dapat diidentifikasi dengan jelas sehingga membentuk seperangkat pengetahuan utuh
yang dapat diajarkan melalui institusi pendidikan. Mereka yang menguasai seperangkat
pengetahuan tersebut bahkan dapat menyebut dirinya profesional. Dengan argumen
tersebut dan perkembangan akuntansi dewasa ini, tidaklah tepat kalau akuntansi
dimasukkan sebagai bidang kerajinan apalagi kalau art dikaitkan dengan masalah
estetika. Penyebutan akun tansi sebagai seni sebenarnya dimaksudkan untuk
menunjukkan bahwa dalam praktiknya akuntansi melibatkan banyak pertimbangan nilai
(value-judgment) yang menuntut keahlian dan pengalaman untuk memilih perlakuan yang
terbaik. Rubenstein mendeskripsi pertimbangan subjektif dalam akuntansi berikut ini:
The practitioners of our profession apply a skill acquired by long experience. They
independently observe the facts, display uncanny sense of the relevant, interpret and
apply general conventions to specific client situations and make overall judgments
concerning the fairness of economic information.
Jadi, kalau akuntansi dikatakan sebagai seni maka yang dimaksud adalah cara
menerapkannya bukan sifatnya sebagai seperangkat pengetahuan. Sebagai seperangkat
pengetahuan, akuntansi lebih dari sekadar seni.
Kalau akuntansi bukan merupakan seni, apakah akuntansi itu merupakan ilmu
atau sains (science)? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu saja harus di. jawab dahulu
apakah sains itu. Sangat sulit untuk mendefinisi pengertian sains dengan tuntas dan
memuaskan. Meskipun demikian, sifat-sifat sains dapat diidentifikasi untuk dijadikan
kriteria apakah seperangkat pengetahuan dapat dimasukkan sebagai sains. Pengertian
sains atau ilmu oleh Suriasumantri berikut ini dijadikan titik tolak pembahasan.
Ilmu merupakan suatu pengetahuan yang mencoba menjelaskan rahasia alam
agar gejala alamiah tersebut tidak lagi menjadi misteri. Penjelasan ini akan
memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi. Dengan demiki- an
penjelasan ini memungkinkan kita untuk mengontrol gejala tersebut.
Untuk menjelaskan rahasia alam, ilmu menafsirkan realitas objek penjela jahan
sebagaimana adanya (das sein) yang terbatas pada segenap nilai yang bersifat praduga
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
4 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
apakah nilai itu bersumber dari moral, ideologi, atau kepercayaan. Atau dengan perkataan
lain, secara metafisis ilmu harus bebas nilai.
Sterling mengutip Torgerson untuk menjelaskan arti sains sebagai berikut:
The principle objective of a science, other than the description of empirical phe-
nomena, is to establish, through laws and theories, general principles by mean of which
empirical phenomena can be explained, accounted for, and predicted.
Pengertian-pengertian di atas memberi isyarat bahwa ilmu adalah pengetahuan
yang berisi penjelasan (explanation) tentang gejala alam atau sosial yang bebas dari
pertimbangan nilai karena ilmu harus mendeskripsi gejala tersebut seperti apa adanya.
Jadi nilai moral, ideologi, atau kepercayaan menjadi sesuatu yang berian (given). Arti
bebas nilai di sini adalah bahwa sains tidak dibangun untuk mencapai tujuan ekonomik
atau sosial tertentu sehingga sains tidak diarahkan untuk menghasilkan kebijakan (policy).
Meskipun demikian, prediksi-prediksi yang dihasilkan oleh penjelasan tentang suatu
fenomena dapat dijadikan dasar untuk mengendalikan gejala alam atau sosial yang
diinginkan melalui kebijakan politik atau ekonomik.
Penjelasan biasanya dinyatakan dalam pernyataan-pernyataan logis dalam bentuk
aksioma, proposisi, prinsip umum (general principles), atau hipotesis yang validitasnya
harus diuji secara empiris melalui metoda ilmiah. Kumpulan per nyataan-pernyataan
tersebut beserta argumen-argumen sebagai penalaran akan membentuk teori dalam
bidang pengetahuan bersangkutan. Oleh karena itu, ke giatan dan tujuan ilmiah dalam
membangun ilmu diarahkan untuk menguji dan menetapkan kebenaran (to test and
establish the truth) suatu penjelasan (pernyataan). Dengan demikian, untuk memasukkan
seperangkat pengetahuan sebagai sains, beberapa syarat atau sifat harus dipenuhi.
Eichner mengajukan salah satu sifat sains sebagai berikut:
Science, unlike metaphysics, applies rules to test the truth of ideas … representing
a body of knowledge which grows cumulatively over time and which has something of
value to teach men and women of practical affairs.
Selain syarat bebas nilai, Suriasumantri (juga Eichner) menyebutkan kriteria
penting untuk menguji validitas pernyataan-pernyataan sebagai seperangkat
pengetahuan agar pengetahuan tersebut dapat disebut sebagai sains. Kriteria tersebut
adalah koherensi (coherence), korespondensi (correspondence), keterujian (testability
atau verifiability), dan keuniversalan (universality). Koherensi menuntut bahwa
seperangkat pernyataan-pernyataan diturunkan secara logis atau bernalar dari asumsi
atau premis yang mendasarinya. Korespondensi menentukan apakah konklusi yang
diturunkan dari teori yang melandasinya didukung oleh fakta empiris di dunia nyata.
Keterujian menghendaki terdapatnya metoda yang cukup meyakinkan untuk menguji
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
5 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
teori. Keuniversalan atau kekomprehensifan adalah kriteria untuk menentukan apakah
pernyataan-pernyataan (teori) mampu untuk mencakupi dan menjelaskan semua fakta
yang berkaitan dengan fenomena yang dibahas. Proses evaluasi untuk menentukan
apakah kriteria tersebut dipenuhi disebut dengan proses validasi atau konfirmasi. Proses
validasi ini juga melibatkan pertimbangan (judgment) tetapi dalam sains pertimbangan
tersebut dikendalikan oleh metoda atau kaidah ilmiah (rules of science).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sains adalah salah satu cabang
pengetahuan (seperangkat pengetahuan) yang bertujuan untuk mendapatkan kebenaran
atau validitas penjelasan tentang suatu fenomena dengan menerapkan metoda ilmiah.
Hasil akhir sains adalah penjelasan berupa kumpulan pernyataan pernyataan beserta
argumen-argumen sebagai penjelasan yang telah tervalidasi yang secara keseluruhan
membentuk teori. Teori diajukan semata-mata untuk mendapatkan penjelasan yang valid
tentang suatu fenomena dan bukan untuk mencapai tujuan sosial, ekonomik, atau politik
tertentu atau untuk menjustifikasi suatu kebijakan (policy) atau untuk mempengaruhi
perilaku. Karena sains harus bebas nilai, kebermanfaatan (usefulness) bukan menjadi
pertimbangan utama sains. Sains tidak menghasilkan kebijakan atau preskripsi.
Bila akuntansi dipandang sebagai sains, akuntansi akan banyak membahas gejala
akuntansi seperti mengapa perusahaan memilih metoda akuntansi tertentu, faktor-faktor
apa yang mendorong manajemen memanipulasi laba, dan apakah partisipasi dalam
penyusunan anggaran mempengaruhi kinerja manajer divisi. Akuntansi tidak lagi
membahas bagaimana tujuan pelaporan dicapai dan bagaimana memperlakukan
(mengukur, mengakui, menyajikan, dan mengungkapkan) suatu objek transaksi yang baik
dan efektif. Akuntansi juga tidak lagi membahas bagaimana menciptakan teknik, metoda,
prinsip, atau perlakuan akuntansi baru yang lebih baik.
Dengan pengertian di atas, seperangkat pengetahuan akuntansi sebagaimana kita
pahami dewasa ini jelas tidak tepat kalau diklasifikasi sebagai sains. Tujuan akuntansi
adalah menghasilkan atau menemukan prinsip-prinsip umum (general principles) untuk
menjustifikasi kebijakan dalam rangka mencapai tujuan tertentu (tujuan pelaporan
keuangan) bukan untuk mendapatkan kebenaran penjelasan (teori). Prinsip-prinsip umum
tersebut dicari untuk menjadi dasar penentuan standar, metoda, atau teknik yang
diharapkan bermanfaat untuk mempengaruhi atau memperbaiki praktik. Karena
kebermanfaatan menjadi pertimbangan uta- ma, akuntansi tidak dapat bebas nilai karena
faktor lingkungan harus dipertim- bangkan. Pertimbangan dalam sains dibimbing oleh
metoda ilmiah sementara pertimbangan akuntansi dibimbing oleh kebermanfaatan dalam
mencapai tujuan ekonomik sehingga prinsip umum dalam akuntansi (termasuk asumsi)
tidak harus dapat diuji validitasnya atau bahkan tidak memerlukan pengujian validitas.
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
6 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Meskipun demikian, penurunan prinsip umum tersebut harus tetap memenuhi kriteria
koherensi. Artinya prinsip tersebut harus diturunkan secara logis atas dasar asumsi atau
premis yang disepakati sebagai basis penalaran.
Bahwa akuntansi tidak dapat diklasifikasi sebagai sains bukan berarti bahwa
akuntansi tidak ilmiah. Dalam proses pemahaman, pembelajaran, dan pengem bangan
akuntansi, pendekatan atau sikap ilmiah (scientific approach atau attitude) tetap dapat
diterapkan karena pendekatan dan sikap tersebut akan memberi keyakinan yang tinggi
terhadap apa yang dihasilkan akuntansi. Keyakinan yang tinggi dapat diperoleh karena
argumen-argumen atau pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam menurunkan
prinsip, metoda, dan teknik dapat dipertanggungjelaskan (to be accounted for) secara
ilmiah.
Konsep dan prinsip umum (accounting concepts and principles) yang dihasilkan
akuntansi biasanya dikembangkan dalam kajian khusus yang disebut teori akuntansi.
Akuntansi Sebagai Teknologi
Kalau akuntansi tidak dapat dikarakterisasi sebagai kerajinan tetapi juga bukan
sebagai sains, lalu apakah status seperangkat pengetahuan akuntansi itu? Berkaitan
dengan hal ini, Sudibyo menegaskan bahwa seni dan sains bukan merupa- kan dua kutub
yang kontinum. Kutub yang dimaksud di sini adalah status atau klasifikasi (kelas)
seperangkat pengetahuan dalam taksonomi atau pohon pengetahuan. Karena kedua
kutub tersebut bukan suatu kontinum, tidak selayaknyalah akuntansi dipandang sebagai
gabungan antara seni dan sains. Kutub atau kelas yang masih terbuka untuk
mengklasifikasi status akuntansi adalah teknologi. Teknologi didefinisi sebagai berikut:
The body of knowledge that is applicable to the production of goods. In its use, the
term technology has a broader meaning and its use is not limited in physical engineering.
While technology is generally embodied in tangible products, it may be also manifested in
the form of a skill, a practice or even a 'technology culture' which finally becomes so
diffuse that it is no longer noticed. Technology is, in fact, the use of scientific knowledge
by a given society at a given moment to resolve concrete problems facing its
development, drawing mainly on the means at its disposal, in accordance with its culture
and scale of value".
Teknologi merupakan seperangkat pengetahuan untuk menghasilkan sesuatu
(goods) yang bermanfaat dan pengertian teknologi tidak terbatas pada teknologi fisis
(hard technology) tetapi juga teknologi lunak (soft technology). Teknologi merupakan
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
7 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
sarana untuk memecahkan masalah nyata dalam lingkungan tertentu dan untuk mencapai
tujuan tertentu. Oleh karena itu, teknologi bermuatan budaya dan nilai tempat teknologi
berkembang atau diterapkan.
Sudibyo menegaskan bahwa dengan mengenali karakteristik akuntansi,
seperangkat pengetahuan akuntansi sebenarnya lebih merupakan suatu teknologi (paling
tidak teknologi lunak) dan oleh karenanya harus dikembangkan sesuai dengan sifat
teknologi tersebut agar lebih bermanfaat dan mempunyai pengaruh nyata dalam
kehidupan sosial tertentu. Teknologi digunakan untuk mengendali. kan variabel-variabel
alam dan sosial untuk mencapai kehidupan tertentu yang lebih baik. Selanjutnya
ditegaskan bahwa pada kenyataannya akuntansi tidak mempunyai sifat-sifat sebagai
sains. Karena akuntansi masuk dalam bidang pengetahuan teknologi, akuntansi dapat
didefinisi sebagai “rekayasa informasi dan pengendalian keuangan." Sebagai teknologi,
akuntansi dapat memanfaatkan teori-teori dan pengetahuan yang dikembangkan dalam
disiplin ilmu yang lain untuk mencapai tujuan tertentu tanpa harus mengembangkan teori
tersendiri.
Bahwa akuntansi sebenarnya masuk dalam bidang teknologi telah banyak
dikemukakan dalam literatur akuntansi. Littleton memberi ciri akuntansi seperti berikut ini.
Accounting as a technology, after a slow start, has finally become a much
improved instrument for managerial control in the interest of efficiency and profit.
Accounting is a technology, a modified statistical technology. The details of a
technical methodology are prescribed by and at the same time are limited by its
objectives, major or minor. Those who use accounting intimately and those who teach its
intricacies develop a keen awareness of the service this technology can be made to
render, and experience an increasing appreciation of the interrelation of objective and
methods.
Gaffikin sangat mendukung gagasan bahwa akuntansi merupakan suatu teknologi
yang sangat berbeda dengan sains. Walaupun akuntansi itu sendiri tidak harus
merupakan sains tetapi sains dapat dimanfaatkan dalam akuntansi untuk menciptakan
sesuatu dalam rangka mencapai kemakmuran ekonomik. Akuntansi dirancang untuk
memperlancar kegiatan ekonomik dan oleh karenanya akuntansi berfungsi sebagai
teknologi untuk kepentingan (kebijakan) politik. Hal ini dikemukakannya sebagai berikut:
Science itself has become subordinated to politics. Science has become inextrica-
bly linked to technology, technology to economic welfare. .. Accounting is designed to
facilitate economic activity. It too serves as a "technology" which will be used for political
advantage.
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
8 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Dengan nada yang sama, Dillard menyatakan bahwa "technology is some system
of axioms, laws, rules and/or relationships, which are applied in order to affect some
transformation having practical significance." Karakteristik yang melekat pada pengertian
akuntansi mengandung komponen teknologi yang cukup besar. Selanjutnya Dillard
menyatakan bahwa "accounting is a technology but it is a technology that is not
ideologically sterile."
Argumen lain yang diajukan untuk tidak mengklasifikasi akuntansi sebagai sains
adalah adanya keberbiasan kebudayaan (cultural-biasedness) dalam penge tahuan
akuntansi. Budaya merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat kuat dalam
mempengaruhi sistem akuntansi suatu negara. Perera menggambar- kan sifat akuntansi
sebagai berikut:
Accounting is a socio-technical activity involving both human and non-human
resources or techniques as well as interaction between the two. Although the technical
aspect of accounting is less culture dependent than the human aspect, because the two
interact, accounting cannot be culture free.
Kalau akuntansi harus masuk dalam sains, paling jauh dapat dikatakan bah wa
akuntansi adalah sains terapan (applied science). Teknologi itulah merupakan sains
terapan. Penerapan teknologi tidak dapat lepas dari nilai budaya tempat akuntansi akan
diterapkan. Perera menyatakan bahwa sains bersifat universal dan bebas nilai tetapi
akuntansi tetap dapat menggunakan teknik-teknik ilmiah (scientific know-how) untuk
kepentingan pengembangannya.
Perkembangan Akuntansi di Indonesia
Untuk memahami pengertian teori akuntansi, perlu dibahas dahulu pengertian
teori. Banyak buku akuntansi yang judulnya memuat kata teori akuntansi mendefinisi teori
akuntansi sesuai dengan tujuan pembahasan dalam buku tersebut. Oleh karena itu,
pengertian teori dalam buku yang satu dapat berbeda dengan pengertian teori dalam
buku yang lain. Pengertian teori akuntansi juga bervariasi bergantung pada pengertian
teori dan sifat disiplin pengetahuan yang ditumpu.
Teori sering diartikan sebagai sesuatu yang tidak operasional atau sesuatu
bersifat abstrak atau sesuatu yang ideal sebagai lawan dari sesuatu yang nyata dan
dikerjakan dalam dunia nyata. Makna teori diasosiasi dengan apa yang diharapkan atau
apa yang seharusnya dilakukan dalam kehidupan senyatanya dan tidak bersifat praktis.
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
9 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Teori di sini diartikan tidak lebih dari peraturan, ketentuan, tata-tertib, tata cara, atau
pedoman tentang bagaimana mengerjakan sesuatu yang ideal (bersifat normatif). Dengan
pengertian ini, teori akuntansi sering diar- tikan sebagai sekumpulan prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku dan harus dianut dalam lingkungan tertentu. Karena itu,
mempelajari teori akuntansi sering disalahartikan sebagai mempelajari standar akuntansi
(misalnya buku Standar Akuntansi Keuangan) dan cara penerapannya. Teori akuntansi
mempunyai pengertian lebih dari sekadar standar akuntansi.
Untuk basis pembahasan dan pemahaman teori, diajukan pengertian teori dari
Cooper dan Schindler sebagai berikut:
a set of systematically interrelated concepts, definitions, and propositions that are
advanced to explain and predict phenomena or facts.
Watts dan Zimmerman mengidentifikasi komponen yang membentuk teori untuk
tujuan riset akuntansi sebagai berikut:
A theory consists of two parts: the assumptions, including the definitions of vari-
ables and the logic that relates them, and the set of substantive hypotheses. The
assumptions, definitions, and logic are used to organize, analyze, and under stand the
empirical phenomena of interest, while hypotheses are the predictions generated from the
analysis. The development of a theory begins with the researcher thinking of an
explanation for some phenomena.
Teori adalah seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang saling berkaitan
secara sistematis yang diajukan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena atau
fakta. Teori akan berisi pernyataan-pernyataan asumsi dan hipotesis (proposisi).
Proposisi adalah pernyataan tentang hubungan teoretis konsep-konsep (variabel-variabel)
yang diteorikan. Konsep adalah makna atau karakteristik yang berkaitan dengan kejadian,
objek, kondisi, atau perilaku. Suatu proposisi misalnya berbunyi: "Asas akrual lebih
bermanfaat daripada asas tunai." Dalam hal ini "asas akrual" dan "asas tunai" merupakan
konsep sedangkan "lebih bermanfaat daripada" merupakan hubungan teoretis konsep-
konsep tersebut. Agar menjadi teori yang kuat proposisi harus dimungkinkan untuk diuji
secara ilmiah dan didukung oleh apa yang nyatanya diamati (data empiris). Sebagai
sains, kegiatan penjelajahan dan riset akuntansi lebih diarahkan untuk menguji secara
ilmiah teori-teori tersebut yang diajukan sebagai penjelasan fenomena akuntansi, alam,
atau sosial.
Dari pengertian di atas, tujuan teori adalah menjelaskan dan memprediksi.
Menjelaskan berarti menganalisis dan memberi alasan mengapa fenomena atau fakta
seperti yang diamati. Teori permintaan (dalam ekonomika) misalnya men jelaskan
mengapa kalau harga naik, kuantitas barang yang diminta akan menurun. Memprediksi
berarti memberi keyakinan bahwa kalau asumsi-asumsi atau syarat syarat yang
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
10 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
diteorikan dipenuhi besar kemungkinan suatu fenomena atau fakta (peristiwa) tertentu
akan terjadi. Hipotesis bahwa kuantitas yang diminta turun kalau harga naik adalah
prediksi yang diturunkan dari analisis. Keseluruhan analisis membentuk teori dalam
bidang pengetahuan tertentu.
Bila pengertian di atas diterapkan untuk akuntansi, teori akuntansi (general theory
of accounting) sering dimaksudkan sebagai sains yang berdiri sendiri yang menjadi
sumber atau induk pengetahuan dan praktik akuntansi. Teori akuntansi akan merupakan
seperangkat hipotesis-hipotesis yang bersifat deskriptif sebagai hasil penelitian dengan
menggunakan metoda ilmiah tertentu. Oleh karena itu, teori akuntansi berisi keseluruhan
analisis dan komponen-komponennya (asumsi, definisi, dan hipotesis) yang menjadi
sumber acuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala-gejala atau peristiwa dalam
akuntansi. Dengan demikian, status teori akuntansi akan menjadi sains setara dengan
pengertian teori dalam astronomi, ekonomika, fisika, biologi, dan sebagainya. Para teoris
akuntansi (accounting teorists) mengemulasi atau meniru metoda ilmiah (scienctific
method) untuk mengembangkan teori akuntansi. Mereka berusaha untuk membawa dan
mengartikan teori akuntansi menuju ke status teori seperti itu. Teori akuntansi sebagai
sains seperti inilah yang disebut dengan teori akuntansi positif (positive accounting
theory). Pengertian seperti ini sesuai dengan pemasukan seperangkat pengetahuan
akuntansi sebagai sains bukan sebagai teknologi.
Karena teori akuntansi disetarakan dengan sains, apa yang dibahas dan
dihasilkan oleh teori ini harus memenuhi kriteria sains yaitu bebas nilai (tidak untuk
mencapai tujuan sosial atau ekonomik tertentu), koheren, universal, dan dapat
diuji/diverifikasi secara empiris. Kebutuhan untuk memenuhi kriteria ini menjadikan arah
teori akuntansi bergeser dari menghasilkan prinsip dan praktik akuntansi baru yang lebih
baik menuju ke menguji validitas penjelasan suatu fenomena atau fakta akuntansi.
Demikian juga, bahan kajian akuntansi (the subject matter of accounting) bergeser dari
akuntansi sebagai objek ke manusia di belakang akuntansi (akuntan, manajemen,
investor, dan pelaku pasar modal). Sebagai contoh, akuntansi tidak lagi berkepentingan
dengan masalah bagaimana menemukan atau menciptakan perlakuan atau prinsip
akuntansi yang lebih baik tetapi lebih berkepentingan dengan masalah mengapa dalam
suatu kantor akuntan publik seorang akuntan lebih suka bekerja di divisi pajak daripada di
divisi pengauditan.
Sterling mengkritik pergeseran tersebut sebagai sesuatu kesalahan yang
sub stantif dalan pengembangan akuntansi. Bila akuntansi sebagai seperangkat
pengetahuan dianalogi dengan kartografi, teori akuntansi positif lebih tertarik untuk
menguji mengapa kartografer lebih suka menggunakan alat merek Mutoh dibanding
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
11 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Rotring daripada tertarik untuk mengembangkan cara-cara untuk membuat peta yang
baik. Hal ini merupakan penyimpangan yang sangat menyesatkan dan dapat
menghambat pengembangan praktik akuntansi baru. Dengan pergeseran objek bahasan
seperti itu, Christenson mengemukakan bahwa teori akuntansi positif bukan lagi
merupakan pengetahuan akuntansi tetapi lebih merupakan sosiologi akuntan karena
fenomena atau bahasan pokoknya adalah perilaku akuntan bukan lagi seperangkat
pengetahuan akuntansi sebagai suatu kesatuan pengetahuan tentang sistem pelaporan
(entitas pengetahuan).
Pergeseran bahasan pokok terpaksa dilakukan oleh pendukung teori akuntansi
positif karena keperluan untuk memenuhi metoda ilmiah yang diartikan metoda ilmiah
dalam ilmu alam (natural science): Dengan kata lain, teori akuntansi sebagai sains
mengemulasi metoda ilmiah dalam ilmu alam. Dalam kaitannya dengan hal ini, Wahyudi
(1999) mengkritik aliran teori akuntansi semacam ini (disebut mainstream accounting)
karena dalam kenyataannya akuntansi mempunyai karakteristik yang sangat berbeda
dengan ilmu alam. Upaya pengembangan akuntansi dengan pendekatan ini tidak akan
menghasilkan jawaban (berupa teknik teknik atau prinsip-prinsip baru) untuk
memecahkan masalah akuntansi.
Aspek Tataran Semiotika
Akuntansi berkepentingan dengan penyediaan dan penyampaian informasi se-
bagai sarana komunikasi bisnis sehingga akuntansi dapat disebut sebagai bahasa bisnis
(the language of business). Bahasa merupakan bagian penting dalam komunikasi. Pesan
atau makna yang ada di benak pengirim disimbolkan dalam bentuk ungkapan bahasa
yang tepat agar makna tersebut ditafsirkan sama persis seperti dimaksudkan. Apa yang
terkandung dalam simbol bahasa itulah yang menja yang di informasi bagi penerima
(pembaca). Efek komunikatif menjadi sasaran penyam- paian gagasan atau informasi dari
pengirim (penyedia informasi) kepada penerima (pemakai informasi). Tanda atau simbol
bahasa (gambar-gambar dan kata-kata) dan tata bahasa membentuk ungkapan bahasa
yang menjadi media komunikasi. Dalam ilmu bahasa, sistem komunikasi dan efek
komunikatif (teori komunikasi) dipelajari dalam tiga bidang kajian yaitu semiotika,
linguistika, dan logika.
Semiotika merupakan bidang kajian yang membahas teori umum tentang tanda-
tanda (signs) dan simbol-simbol dalam bidang linguistika. Linguistika itu sendiri
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
12 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
merupakan bidang kajian ilmu bahasa yang membahas fonetik, gramatika, morfologi, dan
makna kata atau ungkapan. Logika membahas masalah yang ber kaitan dengan validitas
penalaran dan penyimpulan. Ketiga bidang kajian ini menjadi teori yang melandasi
terciptanya komunikasi yang efektif. Sebagai teori umum dalam penyimbolan informasi,
semiotika membahas tiga pertanyaan pokok yang berkaitan dengan simbol informasi.
Ketiga pertanyaan tersebut adalah:
1 Apakah simbol tersebut logis (masuk akal)?
2 Apa makna yang dikandung oleh simbol?
3 Apakah ungkapan tersebut mempunyai efek (pengaruh) terhadap penerima?
Pokok masalah di atas membentuk tiga tataran (level) semiotika yaitu sintaktika,
semantika, dan pragmatika. Sintaktika menelaah logika dan kaidah bahasa yaitu
hubungan logis di antara tanda-tanda atau simbol-simbol bahasa. Semantika menelaah
hubungan antara tanda atau simbol dan dunia kenyataan (fakta) yang disimbolkannya.
Pragmatika membahas dan menguji apakah komunikasi efektif dengan mempelajari ada
tidaknya perubahan perilaku penerima.
Teori Akuntansi Semantik
Teori akuntansi semantik menekankan pembahasan pada masalah penyimbolan
dunia nyata atau realitas (kegiatan perusahaan) ke dalam tanda-tanda bahasa akuntansi
(elemen statemen keuangan) sehingga orang dapat membayangkan kegiatan fisis
perusahaan tanpa harus secara langsung menyaksikan kegiatan tersebut. Teori ini
berusaha untuk menjawab apakah elemen elemen statemen keuangan benar-benar
merepresentasi apa yang memang dimaksudkan dan untuk meyakinkan bahwa makna
yang terkandung dalam simbol pelaporan tidak disa- lahartikan oleh pemakai. Teori ini
berusaha untuk menemukan dan merumuskan makna-makna penting pelaporan
keuangan. Oleh karena itu, teori ini banyak membahas pendefinisian makna elemen
(objek), pengidentifikasian atribut atau karakteristik elemen sebagai bahan pendefinisian,
dan penentuan jumlah rupiah (pengukuran) elemen sebagai salah satu atribut.
Pendefinisian merupakan langkah penting dalam teori semantik karena
ke salahan pemaknaan mempunyai implikasi penting dalam pengoperasian akuntansi.
Misalnya, dalam pendefinisian aset, penguasaan (control) bukannya pemilikan
(ownership) yang dijadikan kriteria karena kalau pemilikan menjadi kriteria aset akan
banyak objek yang tidak masuk sebagai aset. Pendefinisian dan pemaknaan laba bersih
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
13 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
(net income) juga menjadi perhatian penting teori ini karena akuntansi berusaha untuk
melekatkan makna laba akuntansi agar mendekati konsep laba ekonomik. Demikian juga,
teori ini menjelaskan bahwa laba (earnings) atas dasar asas akrual merupakan indikator
kemampuan mendatangkan kas di masa datang. Laba bukan sekadar kenaikan kas
dalam suatu perioda.
Secara konseptual, informasi akuntansi dalam laporan terefleksi dalam tiga unsur
yaitu elemen (objek) yang menyimbolkan kegiatan, jumlah rupiah sebagai pengukur
(size), dan hubungan (relationship) antarelemen. Objek, pengukur, dan hubungan itulah
yang membentuk makna yang akhirnya menjadi informasi. Dengan kata lain, hubungan
antara elemen merupakan informasi semantik. Informasi semantik dalam pelaporan
keuangan antara lain adalah likuiditas, solvensi, profitabilitas, dan efisiensi. Jadi, teori
akuntansi berkepentingan dengan pelambangan dan penafsiran objek akuntansi untuk
menghasilkan informasi semantik yang bermakna bagi pemakai laporan. Agar komunikasi
akuntansi efektif, penyampaian informasi semantik (makna suatu objek) tidak dapat
dipisahkan dengan informasi sintaktik (struktur akuntansi).
Teori Akuntansi Sintaktik
Teori akuntansi sintaktik adalah teori yang berorientasi untuk membahas masalah-
masalah tentang bagaimana kegiatan-kegiatan perusahaan yang telah disimbolkan
secara semantik dalam elemen-elemen keuangan dapat diwujudkan dalam bentuk
statemen keuangan. Simbol-simbol tersebut (misalnya aset, utang, pendapatan, dan
lainnya) harus berkaitan secara logis sehingga sehingga informasi semantik dapat
dikandung dalam statemen keuangan. Cakupan teori akuntansi sintaktik lebih luas dari
sekadar menentukan hubungan struktural antarelemen statemen keuangan. Teori
sintaktik meliputi pula hubungan antara unsur-unsur yang membentuk struktur pelaporan
keuangan atau struktur akuntansi dalam suatu negara yaitu manajemen, entitas pelapor
(pelaporan), pemakai informasi, sistem akuntansi, dan pedoman penyusunan laporan
(prinsip akuntansi berterima umum atau generally accepted accounting principles).
Dengan kata lain, dari segi sintaktik, teori akuntansi berusaha untuk memberi penjelasan
dan penalaran tentang apa yang harus dilaporkan, siapa melaporkan, kapan dilaporkan,
dan bagaimana melaporkannya. Struktur pelaporan keuangan dalam suatu negara akan
bergantung pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sintaktik antara lain sebagai
berikut:
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
14 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Apa tujuan menyampaikan informasi keuangan?
Perilaku apa yang sengaja ingin dikendalikan melalui informasi keuangan?
Siapa entitas yang harus menyediakan informasi?
Siapa yang dituju oleh informasi tersebut (pemakai laporan)?
Apa kepentingan pemakai laporan?
Objek-objek dan kegiatan fisis apa yang harus dilaporkan?
Bagaimana kegiatan fisis disimbolkan dalam bentuk elemen laporan
keuangan?
Pesan-pesan (messages) apa harus disampaikan untuk memenuhi
kepentingan pemakai statemen keuangan?
Bagaimana pesan-pesan tersebut harus dikandung dalam elemen elemen
pelaporan keuangan?
Bagaimana elemen-elemen tersebut diukur dan disajikan sehingga ber-
makna bagi pemakainya?
Jawaban atas pertanyaan di atas akan membentuk aspek formal tanda bahasa
akuntansi sebagai bahasa atau alat komunikasi bisnis. Elemen laporan keuangan dan
pengukurnya dianalogi dengan tanda bahasa sedangkan struktur pelaporan keuangan
dianalogi dengan tata bahasa. Struktur pelaporan keuangan menggambarkan hubungan
fungsional pengirim, tanda bahasa, kaidah bahasa, dan penerima (pembaca laporan)
sehingga terjadi komunikasi bisnis yang efektif. Kaidah bahasa (gramatika) merupakan
analogi untuk prinsip akuntansi berterima umum (PABU) termasuk di dalamnya standar
akuntansi (accounting standards). Karena fokus teori akuntansi sintaktik adalah memberi
penjelasan dan penalaran yang melandasi suatu struktur pelaporan keuangan, teori ini
kadang-kadang disebut pula dengan teori berpendekatan struktural (strucțural approach).
Teori Akuntansi Pragmatik
Teori akuntansi pragmatik memusatkan perhatiannya pada pengaruh informasi
terhadap perubahan perilaku pemakai laporan. Dengan kata lain, teori ini membahas
reaksi pihak yang dituju oleh informasi akuntansi. Apakah informasi sampai ke yang dituju
dan diinterpretasi dengan tepat merupakan masalah keefektifan komunikasi. Apakah
akhirnya pihak yang dituju informasi memakai informasi tersebut untuk dasar
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
15 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
pengambilan keputusan merupakan masalah kebermanfaatan (usefulness) informasi.
Pada gilirannya, kebermanfaatan informasi akan menentukan keefektifan pencapaian
tujuan pelaporan keuangan. Dalam mengukur kebermanfaatan informasi laba (earnings),
Lev (1989) mengidentifikasi konsep manfaat informasi sebagai berikut:
The approach used by the returnslearnings research pioneers to evaluate the use-
fulness of earnings to investors was to equate usefulness with actual use: if individuals act
as if they use a specific information item, then such information can be considered useful.
Suatu pesan atau kejadian (misalnya pengumuman laba) dikatakan mengan dung
informasi kalau pesan tersebut menyebabkan perubahan keyakinan peneri- ma (pasar
modal) dan memicu tindakan tertentu (misalnya terrefleksi dalam perubahan harga atau
voluma saham di pasar modal). Apabila tindakan tersebut dapat diyakini sebagai akibat
informasi dalam pesan terscbut, dapat dikatakan informasi tersebut bermanfaat. Dalam
hal ini, perubahan harga atau voluma saham yang diamati memberi bukti adanya
kebermanfaatan informasi.
Jadi, informasi akuntansi dikatakan bermanfaat apabila informasi tersebut benar-
benar atau seakan-akan digunakan dalam pengambilan keputusan oleh pemakai yang
dituju. Hal ini ditunjukkan dengan adanya asosiasi antara angka akuntansi atau peristiwa
(event) dengan return (return), harga, atau voluma saham di pasar modal. Teori pragmatik
membahas berbagai hal masalah yang berkaitan dengan pengujian kebermanfaatan
informasi baik dalam konteks pelaporan keuangan eksternal maupun manajerial.
Perubahan perilaku yang diharapkan terjadi akibat informasi akuntansi tertentu
merupakan bahan kajian teori ini.
Teori pragmatik akan banyak berisi pengujian-pengujian teori tentang hubungan
antara variabel akuntansi dengan variabel perubahan atau perbedaan perilaku pemakai.
Subjek atau pemakai yang diukur perilakunya dapat berupa para akuntan, pelaku pasar
modal, manajer, dan auditor. Yang dapat menjadi indikator perubahan perilaku antara lain
perubahan harga saham, voluma saham, kinerja manajer, kinerja karyawan, kinerja
perusahaan, dan perbedaan pemilihan metoda akuntansi. Pengujian semacam itu
melibatkan pengamatan terhadap apa yang nyatanya terjadi (data empiris) dan
memerlukan metoda pengujian tertentu (biasanya metoda ilmiah). Dari segi semiotika,
variabel akuntansi merupakan tanda bahasa, perubahan perilaku merupakan bukti
pemengaruhan, dan kebermanfaatan merupakan informasi pragmatik.
Pembidangan teori atas dasar tataran atau level semiotika sebenarnya tidak
dimaksudkan untuk memisahkan pembahasan teori secara kaku dan tegas tetapi lebih
untuk menggambarkan perbedaan orientasi. Dalam kenyataannya, sering sulit untuk
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
16 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
menentukan apakah suatu pembahasan teori akuntansi masuk dalam salah satu tataran
dan bahkan pembahasan tataran yang satu tidak dapat dipisahkan dengan tataran yang
lain (khususnya sintaktik dan semantik). Bila dikaitkan dengan pembidangan positif-
normatif, teori sintaktik dan semantik pada umumnya bersifat normatif sedangkan teori
pragmatik akan lebih bersifat positif. Karenanya pokok bahasan teori pragmatik pada
umumnya adalah perilaku manusia dalam kaitannya dengan informasi, teori ini sering
diklasifikasi sebagai akuntansi keperilakuan (behavioral accounting).
Hakikat Teori Akuntansi
Tujuan utama dari teori akuntansi adalah memberikan basis bagi peramalan dan
penjelasan perilaku dan peristiwa akuntansi. Kita asumsikan, sebagai salah satu pasal
dari kepercayaan, bahwa teori akuntansi adalah suatu hal yang mungkin. Teori
didefinisikan sebagai "suatu rangkaian gagasan (konsep), definisI, dan usulan yang saling
berhubungan yang melambangkan suatu pandangan sistematis atas fenomena melalui
penentuan hubungan yang ada di antara variabel-variabel dengan tujuan untuk
menjelaskan dan meramalkan fenomena."
Harus diakui sejak awal bahwa tidak ada teori akuntansi komprehensif yang
berlaku pada saat ini. Sebaliknya, teori-teori yang berbeda telah ada dan terus diusulkan
dalam literatur. Banyak dari teori-teori ini muncul dari penggunaan pendekatan yang
berbeda dalam penyusunan teori akuntansi atau dari usaha untuk mengembangkan teori
akuntansi di tingkat menengah, dan bukannya sate teori komprehensif tunggal. Teori
akuntansi di tingkat menengah berasal dari perbedaan cara peneliti melihat antara
"pengguna" data akuntansi dan "lingkungan" di mana para pengguna dan pembuat dari
data akuntansi seharusnya berperilaku. Perbedaan opini ini memancing Komite Konsep
dan Standar (Committee on Concepts and Standards) atau Laporan Keuangan Eksternal
(External Financial Report) dari American Accounting Association untuk menyimpulkan
bahwa:
1. Tidak ada satu pun teori yang mengatur tentang akuntansi keuangan yang
cukup kaya untuk mencakup secara menyeluruh spesifikasi lingkungan
pengguna dengan efektif; sehingga,
2. Dicantumkan dalam literatur akuntansi keuangan bukan sebagai teori
akuntansi keuangan melainkan kumpulan teori-teori yang dapat mengatasi
perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam spesifikasi lingkungan pengguna.
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
17 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Terlepas dari kehadiran teori akuntansi tingkat menengah, hanya sedikit penulis
dari teori-teori ini yang telah berusaha untuk membuktikan bahwa suatu teori akuntansi
adalah hal yang mungkin terjadi. Ada dua pengecualian yang patut menjadi perhatian kita.
E.S. Hendriksen menggunakan definisi dari "teori" yang dapat diterapkan dalam
akuntansi. Menurut Webster's Third New International Dictionary, "teori" melambangkan
"satu kumpulan yang koheren dari prinsip-prinsip hipotetis, konseptual, dan pragmatis
yang membentuk kerangka referensi umum untuk suatu bidang pertanyaan." Oleh sebab
itu, Hendriksen mendefinisikan teori akuntansi sebagai "serangkaian prinsip-prinsip yang
luas yang (1) memberikan suatu kerangka referensi umum di mana praktik akuntansi
dapat dievaluasi dan (2) memandu perkembangan dari praktik dan prosedur baru."
Definisi ini memungkinkan kita untuk melihat teori akuntansi sebagai penyedia suatu
kumpulan prinsip koheren yang disusun secara logis dan menjadi kerangka referensi
untuk mengevaluasi dan mengembangkan praktik-praktik akuntansi.
McDonald berpendapat bahwa suatu teori harus memiliki tiga elemen: (1)
pengodean fenomena ke dalam suatu penyajian simbolis, (2) manipulasi atau kombinasi
yang mematuhi aturan tertentu, dan (3) penerjemahan kembali ke fenomena dunia nyata.
Setiap komponen teori ini ditemukan dalam akuntansi. Pertama, akuntansi memakai
penyajian simbolis atau simbol; "debit," "kredit," dan keseluruhan terminologi adalah
berlaku dan unik untuk akuntansi. Kedua, akuntansi memakai aturan penerjemahan:
pengodean (penyajian simbolis dari peristiwa dan transaksi ekonomi) adalah suatu proses
penerjemahan ke dalam dan ke luar simbol. Ketiga, akuntansi memakai aturan-aturan
manipulasi: teknik-teknik untuk menentukan keuntungan mungkin dapat dianggap sebagai
aturan untuk manipulasi simbol-simbol akuntansi.
Pendekatan Untuk Perumusan Teori Akuntansi
Walaupun tidak terdapat teori akuntansi komprehensif tunggal, berbagai teori
akuntansi ting menengah telah dihasilkan dari penggunaan berbagai pendekatan yang
berbeda. Untuk kepenting kejelasan, kita akan membatasi pembahasan bab ini kepada
pendekatan tradisional bagi perumuse suatu teori akuntansi. Pendekatan tradisional
tersebut adalah:
1. Nonteoretis, praktis, atau pragmatis (informal);
2. Teoretis: a. Deduktif, b. Induktif: c. Etis; d. Sosiologi; e. Ekonomi; f. Selektif
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
18 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Pendekatan Nonteoretis
Pendekatan nonteoretis adalah suatu pendekatan pragmatis (atau praktis) dan
pendekatan kekuasaan.
Pendekatan pragmatis (pragmatic approach) terdiri atas penyusunan suatu teori
yang ditandai oleh kesamaannya dengan praktik dunia nyata yang berguna dalam artian
memberikan solusi yang sifatnya praktis. Berdasarkan pendekatan ini, teknik dan prinsip
akuntansi seharusnya dipilih atas dasar kegunaan mereka bagi para pengguna informasi
akuntansi dan relevansi mereka terhadap proses pengambilan keputusan. Kegunaan,
atau utilitas, berarti "sifat yang mencocokkan sesuatu untuk melayani atau memfasilitasi
tujuan yang dimaksudkannya."
Pendekatan kekuasaan (authoritarian approach) untuk perumusan suatu teori
akuntansi, yang terutama dipergunakan oleh organisasi profesional, terdiri atas
penerbitan pernyataan sebagai regulasi dari praktik-praktik akuntansi.
Karena pendekatan kekuasaan juga berusaha untuk memberikan solusi praktis,
pendekatan ini dengan mudah disamakan dengan pendekatan pragmatis. Kedua
pendekatan berasumsi bahwa teori akuntansi dan hasil teknik akuntansi harus disebutkan
dalam dasar penggunaan akhir laporan keuangan, jika akuntansi harus memiliki suatu
fungsi yang berguna. Dengan kata lain, suatu teori tanpa konsekuensi praktik adalah
suatu teori yang buruk.
Penggunaan utilitas sebagai kriteria pemilihan prinsip akuntansi menghubungkan
penyusunan teori akuntansi kepada praktik akuntansi, yang mungkin menjelaskan
kurangnya antusiasme yang ditimbulkan oleh pendekatan pragmatis. Sebenarnya,
pendekatan pragmatis dan kekuasaan tidak terlalu berhasil mencapai kesimpulan yang
memuaskan dalam usaha mereka untuk menyusun suatu teori akuntansi. Sebagai
contoh, Skinner mengklaim bahwa:
Intinya, pendekatan pragmatis untuk mengembangkan prinsip akuntansi telah
diikuti oleh otoritas akuntansi di masa lampau, dan usaha untuk menurunkan
konflik konflik dari praktik yang ada hingga saat ini masih bersifat sangat hati-hati dan
sementara. Hal ini terlihat berdasarkan pengalaman bahwa pendekatan ini tidak akan,
dengan usahanya sendiri, mampu mendekati penyelesaian masalah konflik dalam prinsip-
prinsip akuntansi yang berlaku.
Utilitas disebutkan sebagai tujuan utama dari akuntansi oleh berbagai penulis
literatur, termasuk Fremgen dan Prince. Mueller juga berpendapat bahwa prinsip
akuntansi seharusnya dikembangkan melalui suatu pendekatan pragmatis. Usaha usaha
praktis ini sebaiknya tidak dikesampingkan hanya karena pada dasarnya mereka bersifat
nonteoretis. Pendekatan praktis dibutuhkan oleh teori mana yang memiliki utilitas
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
19 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
operasional. Bahkan sebenarnya pertimbangan pragmatis telah meresap dala bidang
akuntansi melalui standar berlaku umum yang relevan.
Kita juga dapat berpendapat bahwa pendekatan pragmatis adalah bagian dari
suatu teori et Pendekatan ini, yang berdasar pada rasionalisasi dari pembukuan
berganda, dimuat dalam Summa De Arithmetica, Geometria, Proportioni et Proportionalita
dari Luca Pacioli, yang diterbitkan di Venesia tahun 1494. Walaupun Summa merupakan
suatu tinjauan atas literatur teknologi matematika yang saat itu merupakan suatu hal yang
baru, ia memuat 36 bab pendek mengenai pembukuan, yang disebut De Computis et
Scripturis (dari Menghitung dan Menulis).
Pendekatan teori akun merasionalisasikan pilihan dari teknik-teknik akuntansi
yang berdasarkan atas pemeliharaan persamaan akuntansi, yaitu persamaan neraca dan
persamaan laba akuntansi.
Persamaan neraca biasanya dinyatakan sebagai:
Aktiva = Kewajiban + Ekuitas Pemilik
Persamaan laba akuntansi biasanya dinyatakan sebagai:
Laba Akuntansi = Pendapatan - Biaya
Dua persamaan dalam pendekatan teori akun ini mengarah kepada
berkembangnya dua posisi yang terdapat dalam badan penyusun standar, yaitu, posisi
yang berorientasi pada neraca dan posisi yang berorientasi pada laba. Dalam kasus
mana pun, pendekatan teori akun, seperti juga pendekatan pragmatis dan kekuasaan,
tidak memiliki fondasi teoretis.
Pendekatan deduktif
Pendekatan deduktif dalam penyusunan teori mana pun diawali dengan dalil dasar
dan diteruskan dengan péngambilan kesimpulan logis mengenai subjek yang
dipertimbangkan. Diterapkan pada akuntansi, pendekatan deduktif dimulai dengan dalil
akuntansi dasar atau premis dan dilanjutkan dengan menurunkan prinsip-prinsip
akuntansi melalui cara-cara logis yang dipakai sebagai pedoman dan dasar bagi
pengembangan teknik-teknik akuntansi. Pendekatan ini bergerak dari umum (dalil awal
tentang lingkungan akuntansi) ke khusus (pertama prinsip akuntansi dan kedua teknik
akuntansi). Jika kita mengasumsikan pada titik ini bahwa dalil dasar mengenai lingkungan
akuntansi terdiri atas baik tujuan maupun rumus, langkah yang digunakan untuk
memperoleh pendekatan deduktif akan meliputi:
1. menentukan tujuan dari laporan keuangan;
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
20 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
2. memilih "postulat" dari akuntansi;
3. menghasilkan "prinsip" dari akuntansi;
4. mengembangkan "teknik" dari akuntansi.
Karenanya, dalam teori akuntansi yang diperoleh secara deduktif, teknik teknik
akan berhubungan dengan prinsip, rumus, dan tujuan sedemikian sehingga jika teori
akuntansi itu benar, maka tekniknya deneus benar. Struktur teoretis dari akuntansi
didefinisikan oleh urutan tujuan, rumus, prinsip, dan teknis berdasarkan pada suatu
formulasi yang benar dari tujuan akuntansi. Suatu ujian yang benar dari teori vang
dihasilkan juga dibutuhkan. Menurut Popper, pengujian teori deduktif dapat dilaksanakan
dalam empat pokok:
Pertama, terdapat perbandingan logis di antara masing-masing kesimpulan, di
mana kekonsistenan internal dari sistem diuji. Kedua, terdapat investigasi dari bentuk
logis teori dengan objek untuk menentukan apakah teori memiliki karakter teori empiris
atau sains, atau apakah ia merupakan, sebagai contoh, ilmu pengulangan kata. Ketiga,
terdapat perbandingan dengan teori lain, terutama dengan sasaran untuk menentukan
apakah teori itu dapat dikatakan merupakan kemajuan ilmiah jika ia dapat melewati
berbagai ujian yang kita berikan, dan akhirnya, terdapat ujian dari teori dengan cara
penerapan empiris dari kesimpulan yang dapat diambil dari teori tersebut.
Langkah terakhir. perlu dilakukan untuk menentukan bagaimana teori dapat
bertahan terhadap permintaan praktik. Jika prediksinya dapat diterima, maka teori
tersebut dikatakan untuk saat ini telah diverifikasi atau dibenarkan. Jika prediksinya tidak
dapat diterima, maka teori tersebut dikatakan tidak benar.
Walaupun beberapa penulis akuntansi tidak perlu mengambil langkah langkah
yang sama seperti yang telah kita definisikan untuk pendekatan deduktif, mereka yang
telah bergulat khususnya dengan konsep pokok dari akuntansi mungkin dapat
dikategorikan sebagai "pembuat teori deduktif." Penulis-penulis seperti Paton, Canning,
Sweeney, MacNeal, Alexander, Edwards dan Bell, Moonitz, dan Sprouse dan Moonitz
adalah pembuat teori deduktif. Sebagai tambahan dari mereka, para penulis riset sepakat
menyetujui bahwa para pengguna seharusnya menggunakan informasi harga masa kini
dalam keputusan alokasi sumber daya mereka. Bahkan, pencarian untuk kekakuan dalam
formalisasi struktur teori akuntansi telah mengarahkan beberapa pembuat teori deduktif
berlindung pada metode aksiomatis (axiomatic method) seperti yang ditemukan dalam
tulisan oleh Mattessich dan Chambers, yang mencakup matematis, penyajian analitis dan
ujian.
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
21 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Pendekatan induktif
Pendekatan induktif dalam penyusunan dari suatu teori diawali dengan observasi
dan pengukuran serta berlanjut pada kesimpulan umum. Dalam penerapannya dalam
akuntansi, pendekatan induktif diawali dengan observasi mengenai informasi keuangan
dari perusahaan bisnis dan dilanjutkan dengan menyusun generalisasi dan prinsip-prinsip
akuntansi dari observasi tersebut berdasarkan kepada hubungan yang berulang kembali.
Argumentasi induktif dikatakan didahului oleh kondisi khusus (informasi akuntansi yang
menggambarkan hubungan yang berulang kembali) ke umum (rumus dan prinsip dari
akuntansi). Pendekatan induktif untuk suatu teori mencakup empat tahap:
1. mencatat seluruh observasi;
2. menganalisis dan mengklasifikasikan observasi ini untuk mendeteksi adanya
hubungan yang berulang kembali (“seperti" [likes] dan "kesamaan"
[similarities]),
3. penurunan induktif dari generalisasi dan prinsip akuntansi dari observasi yang
menggambarkan hubungan berulang:
4. menguji generalisasi.
Tidak seperti pendekatan deduktif, kebenaran atau ketidakbenaran dari dalil tidak
bergantune dalil lain, tetapi harus diverifikasi secara empiris. Dalam pendekatan induktif,
kebenaran dari dalil bergantung pada pengamatan akan adanya kecukupan contoh
kejadian dari hubungan yang berulang.
Sama halnya, kita boleh menyatakan bahwa dalil akuntansi yang berasal dari
kesimpulan indulei diartikan sebagai teknik akuntansi khusus hanya dengan kemungkinan
yang lebih tinggì atau lebi rendah, di mana dalil akuntansi yang berasal dari kesimpulan
deduktif mengarah kepada tekni akuntansi khusus dengan pasti.
Beberapa pembuat teori akuntansi bergantung pada observasi praktik akuntansi
dalam mengusulkan suatu kerangka berpikir bagi akuntansi. Para pembuat teori induktif
termasuk Hatfield, Gilman, Littleton, Paton dan Littleton, dan Ijiri. Tujuan pemahaman dari
hampir seluruh penulis ini adalah untuk menggambarkan kesimpulan teoritis dan abstrak
dari pemikiran praktik akuntansi. Pembelaan paling baik dari pendekatan induktif
diberikan oleh ljiri dalam usahanya menggeneralisasi hasil akhir yang tersirat dalam
praktik akuntansi yang berlaku, dan untuk mempertahankan penggunaan biaya historis:
Jenis dari alasan induktif ini untuk menurunkan sasaran yang tersirat dalam
perilaku suatu sistem yang sudah ada tidak dimaksudkan untuk pro pembangunan untuk
mempromosikan pemeliharaan status quo. Tujuan dari latihan semacam itu adalah untuk
menyoroti tempat di mana perubahan-perubahan sangat diperlukan dan di mana mereka
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
22 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
dapat dilakukan. Perubahan yang disarankan sebagai hasil dari studi seperti itu memiliki
suatu kesempatan yang jauh lebih baik daripada diimplementasikan secara nyata. Asumsi
baik yang teruap dalam model normatif atau sasaran yang dianjurkan dalam diskusi-
diskusi kebijakan sering dinyatakan murni atas dasar dari pengakuan dan preferensi
seseorang, bukan dari dasar studi induktif dari sistem yang ada. Hal ini mungkin menjadi
alasan yang paling penting mengapa begitu banyak model normatif atau proposal
kebijakan tidak diimplementasikan di dunia nyata.
Menarik untuk diingat bahwa walaupun pendekatan deduktif diawali dengan dalil
umum, formulasi dari dalil sering diselesaikan dengan alasan induktif, dikondisikan oleh
pengetahuan penuh pengalamannya, dengan praktik akuntansi. Dengan kata lain, dalil
umum dirumuskan melakun suatu proses induktif, sedangkan prinsip dan teknik
diturunkan melalui suatu proses deduktif. Yu menyarankan bahwa logika induktif dapat
mengisyaratkan logika deduktif. Karenanya tidaklah mengherankan, bahwa pembuat teori
induktif kadang-kadang mengemukakan alasan deduktif dan bahwa pembuat teori
deduktif kadang-kadang mengemukakan alasan induktif. Menarik pula untuk diingat
bahwa ketika Littleton. seorang pembuat teori induktif, dan Paton seorang pembuat teori
deduktif, bekerja sama, hasilnya adalah suatu yang memiliki sifat hibrid, mengindikasikan
adanya suatu kompromi di antara kedua pendekatan.
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
23 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]
Daftar Pustaka
1 Schooeder, R.G., M.W. Clark, Jack M. Cathay. (2016). Financial Accounting
Theory and Analysis. 12th edition.
2 Scott, William R. (2019). Financial Accounting Theory. 8th edition.
3 Godfrey, J., A. Hodgson, A. Tarca. (2010). Accounting Theory. 7th edition. John
Wiley.
4 Belkaoui, Ahmed Riahi. (2011). Accounting Theory. 6th edition. Salemba Empat.
Jakarta
5 Soewardjono. (2016). Teori Akuntansi. Edisi 3. YKPN.
6 Standar Akuntansi Keuangan. 2019. Ikatan Akuntan Indonesia
2021 Teori Akuntansi Biro Bahan Ajar E-learning dan MKCU
24 Shinta Melzatia, SE, [Link]. [Link]