Teori SFBT dalam Konseling Modern
Teori SFBT dalam Konseling Modern
Oleh :
UNIVERSITAS
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................5
3.1 Simpulan..............................................................................................14
3.2 Saran....................................................................................................14
BAB I
PENDAHULUAN
Bukan hanya berfokus di titik permasalahan yang mana saat ini semakin
berkembang, namun akan tetapi setiap manusia yang berada didunia juga dituntut
Guna hidup secara baik dan layak agar bisa meneruskan kehidupannya tanpa ada
banyaknya beban, namun akan tetapi kecepatan dan ketetapan berujung dengan
menyukai hal yang didapatkan secara instan, apalagi ditambah dengan adanya
masalah yang menghampiri secara cepat, efek dari pendeknya ialah manusia akan
merasa jenuh akan dirinya yang sekarang karena masalah dan perkembangan
dunia, serta efek dari panjangnya ialah manusia itu akan merasa dirinya tidak
berguna atau akan terlindas
1
1.2 Rumusan Masalah
2
BAB II
PEMBAHASAN
Namun akan tetapi dari banyak istilah atau penyebutan nama tersebut,
sejatinya atau intinya semuanya pendekatan yang didasari oleh filosofi
postmodern sebagai landasan konseptual pendekatan – pendekatan tersebut yang
mana seluruhnya telah memiliki titik focus dan telah dilakukan uji dan studi
banding sebelumnya.
Insoo Kim Berg ialah seorang warga Amerika yang bertanah air Korea
serta juru bicara therapy yang berorientasi alternatif yang sangat memiliki
pengaruh. Beliau memulai karya – karyanya pada pertengahan tahun 1980an
hingga kini ia telah menerbitkan buku-buku dan rekaman video tentang
pendekatan berfokus alternatif. Setelah melakukan pelatihan di damasah barat,
3
hasil latihannya ialah sebuah pendekatan psikotherapy yang merupakan perpaduan
kreatif antara menumbuhkembangkan kesadaran dan proses membuat pilihan
perubahan.
Adapun konsep dasar yang dapat kita ketahui terkait dengan SFBT
bedasarkan dari para ahli ialah:
a. Keunikan dari pengalaman manusia itu sendiri telah menjelaskan
bahwa setiap individu ialah unik. Konseling perlu dilakukan dengan
melihat keunikan setiap kebutuhan individu bukannya melihat secara
keseluruhan (Berg dan Miller,1992)
b. Konseli ialah pakar dalam kehidupan mereka sendiri dan mempunyai
kemampuan menyelesaikan masalah, hasil dari kemahiran yang
dibawa dalam sesi secara sedar atau tidak.
c. Pengalaman negatif yang berulan-ulang mempunyai kesan yang akan
menghalangi individu daripada memahami kekuatan dan kebolehan
mereka.
d. Melahirkan hubungan tmasapeutik dan hubungan kerjasama antara
konseli dan konselor dimana diantara mereka sama-sama mencipta
reality dan setiap pihak akan saling mempengaruhi antara satu sama
lain.
e. Therapy ini memberi fokus kepada masalah yang ada daripada
masalah yang tiada.
f. Setiap masalah akan memfokuskan kepada apa yang boleh dilakukan
lebih daripada apa yang tidak boleh dilakukan.
g. Perubahan dicapai dengan menghargai apa yang berlaku dalam
konteks kehidupannya
4
Sehingga, konseling berfokus alternatif berlandaskan pada asumsi bahwa manusia
benar-benar ingin berubah dan perubahan tersebut tidak terelakkan (Eryanti,
2020).
Semakin ketat atau lamanya seseorang berada di fase tertekan atau stress
dapat menimbulkan beragam macam penyakit yang mampu membuat mereka
drop atau beresiko adanya rasa ingin bunuh diri. Banyak kasus diluar sana yang
terkait dengan kasus bunuh diri yang disebabkan oleh rasa tertekan atau stress
yang di derita sehingga ia mengambil alternative dengan bunuh diri agar segala
permasalahan yang ia alami bisa berkurang dan tidak menyusahkan orang di
sekitarnya (Fajriani & Yulizar, 2020).
5
Guna membentuk hubungan yang baik dan intens, konselor harus
menyesuaikan bahasa konseli, konseli dihargai sebagai ahlinya dalam
kehidupannya sendiri, sementara konselor ahli dalam menciptakan lingkungan
tmasapeutik yang baik.
Didalam SFBT ini terdapat beberapa tujuan yang harus diketahui ataupun
dipahami yaitu :
1. Membantu konseli mengenal sumber daya dalam dirinya dan menyadari
pengecualian di dalam dirinya pada sekarang dia bermasalah
2. Membantu konseli Guna berfokus pada hal – hal yang jelas dan spesifik
yang mereka anggap sebagai alternatif masalah
3. Membantu konseli Guna bergmasak atau menuju ke arah yang diinginkan
si konseli
4. Menemukan alternatif yang cocok dengan masalah konseli
5. Membantu konseli Guna memahami secara jelas masa depan yang
diinginkannya dan bagaimna memotivasi hal tersebut.
6
a. Pertanyaan pengecualian (Exception Question)
Pertanyaan tentang sekarang-sekarang dimana konseli bebas dari
masalah. SFBT berlandaskan pada gagasan dimana ada sekarang-sekarang
dalam hidup konseli ketika masalah yang mereka identifikasi tidak
bermasalah. Waktu tersebut disebut pengecualian dan disebut “ news of
difference”. Konselor SFBC mengajukan ask exeption question Guna
menempatkan konseli pada waktu-waktu ketika tidak ada masalah, atau
ketika masalah yang ada tidak kuat. Pengecualian merupakan pengalaman
hidup konseli di masa lalu ketika dimungkinkan masalah tersebut masuk
akal terjadi, tetapi entah bagaimana hal itu tidak terjadi. Dengan
membantu konseli mengidentifikasi dan memeriksa pengecualian tersebut
kemungkinan meningkatkan mereka dalam bekerja menuju alternatif.
Eksplorasi ini mengingatkan konseli bahwa masalah tidak selalu kuat dan
ada selamanya; juga menyediakan kesempatan Guna meningkatkan
sumberdaya, melibatkan kekuatan, dan menempatkan alternatif yang
mungkin. Konselor menanyakan pada konseli apa yang harus dilakukan
agar pengecualian ini lebih sering terjadi. Dalam istilah SFBC, hal ini
disebut “change-talk” (Azizah et al., 2020).
7
SQ ialah teknik yang dipakai konselor Guna mengidentifikasi
perbedaan yang bemanfaat bagi konseli, dan dapat membantu Guna
menetapkan tujuan pula. Kutub dari skala biasanya berentang dari “kondisi
masalah yang terburuk yang terjadi” (0 atau 1) di salah satu ujung, dan di
ujung yang lain menggambarkan “kondisi terbaik yang mungkin akan
dicapai” (10).Konseli diminta Guna menilai mereka sekarang ini bmasada
pada posisi skala bmasapa, dan pertanyaan yang kemudian dipakai Guna
mengidentifikasi berbagai sumber (Konseling et al., 2020).
Tmasapais menggunakan pertanyaan yang memberi skala apabila
perubahan dalam pengalaman manusia tidak mudah diamati, seperti
pmasasaan, suasana hati, atau komunikasi. Pertanyaan dengan
memberikan skala menjadikan konseli Guna memberikan perhatian yang
lebih dekat kepada apa yang sedang mereka kerjakan dan bagaimana
mereka dapat mengambil langkah yang akan mengarahkan kepada
perubahan yang mereka kehendaki (Journal, 2017).
8
setelah waktu jeda. De Jong dan Berg (dalam Gmasald Corey, 2002:9)
menguraikan tiga bagian pokok Guna umpan balik yang berupa ringkasan:
pujian, jembatan, dan anjuran tugas. Pujian ialah pengakuan yang tulus
terhadap apa yang telah konseli lakukan yang mengarah ke alternatif yang
efektif. Pujian-pujian ini yang wujudnya berbentuk dorongan,
menciptakan harapan, dan penyampaian harapan kepada konseli bahwa
mereka dapat menggapai tujuan-tujuan mereka dengan menggunakan
kekuatan dan keberhasilan mereka (Pratiwi, 2013).
Kedua, sebuah jembatan menghubungkan pujian awal kepada tugas
anjuran yang diberikan. Jembatan memberikan alasan penalaran Guna
pujian itu. Aspek umpan balik ketiga berisi anjuran tugas kepada konseli,
yang dapat dipertimbangkan sebagai pekerjaan rumah. Tugas pengamatan
maksudnya ialah meminta konseli Guna sekedar memberikan perhatiannya
kepada beberapa aspek kehidupan mereka. Proses monitoring diri ini
membantu konseli mencatat perbedaan-perbedaan apabila segala sesuatu
keadaannya lebih baik (Roorda, 2016).
f. Penghentian
Dari awal sekali wawancara berfokus alternatif, konselor selalu
berpikiran bahwa dalam bekerja akan mengarah kepada penghentian.
Begitu konseli mampu membangun alternatif yang memuaskan, hubungan
therapy dapat dihentikan. Sebelum konseling bmasakhir, konselor
membantu konseli dalam mengenali hal-hal yang bisa mereka lakukan
Guna melanjutkan perubahan-perubahan yang telah mereka lakukan di
masa yang akan datang (Pratini et al., 2018).
Konseli juga bisa dibantu Guna mengenali rintangan atau
hambatan-hambatan yang kemungkinan ditemui dalam perjalanannya
memelihara perubahan yang telah mereka lakukan. Karena model therapy
ini singkat, berpusat pada masa sekarang, dan dimaksudkan Guna keluhan
tertentu, akan sangat mungkin bahwa konseli akan mengalami persoalan-
persoalan perkembangan lain di kemudian hari. Konseli bisa minta
pertemuan tambahan kapan saja ketika mereka merasakan adanya
9
kebutuhan yang mereka rasakan Guna kembali ke jalan hidup yang benar
(Sofianti & Mufidah, 2021).
10
dengan menggunakan suatu skala rata-rata. Konseli juga ditanya tentang
apa yang perlu Guna dilakukan sebelum mereka melihat masalah mereka
dapat terselesaikan dan juga apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
a. Kelebihan
Adapun kelebihan yang ada pada metode ini ialah:
1. Metode ini langsung Berfokus pada titik yang akan dituju
2. Hemat waktu, tenaga dan biaya
3. Bersifat fleksibel dan praktis dalam penggunaan teknik – teknik
intervensi
4. Menilai potensi konseli dalam proses konseling Guna memastikan
bahwa waktu dan usaha tidak terbuang percuma
5. Memandang konseli kompeten dan berdaya
6. Pendekatan ini bersifat positif Guna dipakai dengan konseli yang
berbeda-beda. Maksudnya, teori konseing ini berlandaskan pada
asumsi optimis bahwa setiap manusia ialah sehat dan kompeten
serta mempunyai kemampuan dalam mengkonstruk alternatif
dalam meningkatkan kualitas hidup mereka dengan optimal.
7. Pendekatan ini difokuskan pada perubahan dan dasar pemikiran
yang menekankan perubahan kecil pada tingkah laku
8. Pendekatan ini dapat dikombinasikan dengan pendekatan konseling
lainnya
b. Kelemahan
Dari pembahasan di atas adapun kelemahan yang dapat kita ketahui ialah
1. Kurang mengamati masa lalu konseli
2. Pendekatan ini hampir tidak mengamati riwayat konseli
3. Pendekatan ini kurang memfokuskan pencmasahan
4. Pendekatan ini menggunakan tim, setidaknya beberapa praktisi,
sehingga membuat pmasawatan ini mahal
11
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
3.2 Saran
12
DAFTAR PUSTAKA
Azizah, N., Wibowo, M. E., & Purwanto, E. (2020). The effectiveness of strength
based intervention motivational interviewing group counseling to improve
students’ self compassion. Jurnal Bimbingan Konseling, 9(1), 189–193.
[Link]
Fajriani, F., Abu Bakar, & Fitra Marsela. (2021). Solution-Focused Brief Therapy
(SFBT) Based Guidance for Student Academic Hardiness. ENLIGHTEN
(Jurnal Bimbingan Dan Konseling Islam), 4(1), 1–13.
[Link]
Fajriani, F., & Yulizar, Y. (2020). Solution-Focused Brief Therapy (SFBT) untuk
meningkatkan motivasi membaca Murid Disleksia. Counsellia: Jurnal
Bimbingan Dan Konseling, 10(1), 28.
[Link]
Pratini, H., & Afifah, A. N. (2019). Solution Focused Brief Therapy Presentation.
Fokus, 1(1), 1–12.
Pratini, H., Nur Afifah, A., & Studi Bimbingan dan Konseling IKIP Siliwangi, P.
(2018). Pendekatan Solution Focused Brief Therapy (Sfbt) Dalam
Mengurangi Perilaku Prokrastinasi Pada Mahasiswa. Maret, 1(2), 2614–
13
4123.
Sucipto, A., Purwanto, E., Japar, M., & Iłendo-Milewska, A. (2020). Improving
the psychological well-being of prisoners through group counseling with
solution-focused brief therapy (SFBT) approach. Psikohumaniora: Jurnal
Penelitian Psikologi, 5(2), 155–168. [Link]
14