0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
126 tayangan16 halaman

Teori SFBT dalam Konseling Modern

Dokumen tersebut membahas tentang teori konseling Solution Focused Brief Therapy (SFBT). SFBT merupakan pendekatan konseling singkat yang berfokus pada alternatif dan solusi, bukan masalah. Terdapat pembahasan mengenai sejarah, konsep dasar, hakikat manusia, tujuan, teknik, dan proses SFBT serta kelebihan dan kelemahannya.

Diunggah oleh

the one
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
126 tayangan16 halaman

Teori SFBT dalam Konseling Modern

Dokumen tersebut membahas tentang teori konseling Solution Focused Brief Therapy (SFBT). SFBT merupakan pendekatan konseling singkat yang berfokus pada alternatif dan solusi, bukan masalah. Terdapat pembahasan mengenai sejarah, konsep dasar, hakikat manusia, tujuan, teknik, dan proses SFBT serta kelebihan dan kelemahannya.

Diunggah oleh

the one
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TEORI-TEORI KONSELING

SOLUTION FOCUSED BRIEF THERAPY


(SFBT)

Oleh :

UNIVERSITAS
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................3

1.1 Latar Belakang.......................................................................................3

1.2 Rumusan Masalah..................................................................................3

1.3 Tujuan Masalah.....................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN..................................................................................5

2.1 Sejarah Perkembangan...........................................................................5

2.2 Konsep Dasar.........................................................................................6

2.3 Hakikat Manusia....................................................................................6

2.4 Hubungan Konselor Dengan Konseli....................................................7

2.5 Tujuan Therapy......................................................................................8

2.6 Teknik – Teknik Dalam SFBT..............................................................8

2.7 Proses Dalam SFBT.............................................................................11

2.8 Kelebihan dan kelemahan....................................................................12

BAB III PENUTUP........................................................................................14

3.1 Simpulan..............................................................................................14

3.2 Saran....................................................................................................14
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berada di masa globalisasi seperti sekarang ini, banyak terjadi perkembangan


seperti teknologi, komunikasi dan lain-lain, salah satu perkembangan yang
mengikuti jaman ialah perkembangan masalah, semakin berkembangnya dunia
semakin berevolusi dan berkembang pula masalah – masalah yang dihadapi.

Bukan hanya berfokus di titik permasalahan yang mana saat ini semakin
berkembang, namun akan tetapi setiap manusia yang berada didunia juga dituntut
Guna hidup secara baik dan layak agar bisa meneruskan kehidupannya tanpa ada
banyaknya beban, namun akan tetapi kecepatan dan ketetapan berujung dengan
menyukai hal yang didapatkan secara instan, apalagi ditambah dengan adanya
masalah yang menghampiri secara cepat, efek dari pendeknya ialah manusia akan
merasa jenuh akan dirinya yang sekarang karena masalah dan perkembangan
dunia, serta efek dari panjangnya ialah manusia itu akan merasa dirinya tidak
berguna atau akan terlindas

Oleh karena itu diperlukan pendekatan therapy sebelum melakukannya dan


mendalami identitas sang konsulen agar bisa lebih menyesuaikan dan
menyeimbangkan diri lagi. Selain itu banyak sekali pendekatan yang nantinya bisa
dipakai oleh konselor untuk mengenali konsulennya agar tidak salah bertindak.
Salah satunya ialah pendekatan therapy singkat berfokus alternatif, yang
dikembangkan pertama kali di Amerika pada tahun 1980-an.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk lebih memahami dan mendalami


tentang materi ajar dari SFBT serta sangat diharapkan dengan adanya Therapy
Singkat Berfokus Alternatif ini ialah tentang therapy yang singkat dan berfokus
pada alternatif, bukan pada masalah. Bisa menangani masalah – masalah secara
singkat yang mungkin cocok untuk diterapkan seperti pada masa globalisasi
sekarang ini.

1
1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu :


1. Bagaimana sejarah therapy singkat berfokus alternatif ?
2. Bagaimana konsep dasar therapy singkat berfokus alternatif ?
3. Bagaimana hakikat manusia pada therapy singkat berfokus alternatif ?
4. Bagaimana hubungan konselor dengan konseli pada therapy singkat
berfokus alternatif ?
5. Apa tujuan dari therapy singkat berfokus alternatif ?
6. Apa saja teknik konseling yang ada pada therapy singkat berfokus
alternatif ?
7. Bagaimana proses konseling dalam therapy singkat berfokus alternatif ?
8. Apa saja kelebihan dan kelemahan dari therapy singkat berfokus
alternatif ?

1.3 Tujuan Masalah

Adapun tujuan pembuatan dari makalah ini bedasarkan dengan pendahuluan


di atas, yaitu :
1. Guna memahami sejarah therapy singkat berfokus alternatif
2. Guna memahami konsep dasar therapy singkat berfokus alternatif
3. Guna memahami hakikat konseling pada therapy singkat berfokus
alternatif
4. Guna memahami hubungan konselor dengan konseli pada therapy singkat
berfokus alternatif
5. Guna memahami tujuan dari therapy singkat berfokus alternatif
6. Guna memahami teknik konseling yang ada pada therapy singkat berfokus
alternatif
7. Guna memahami proses konseling dalam therapy singkat berfokus
alternatif
8. Guna memahami kelebihan dan kelemahan dari therapy singkat berfokus
alternatif

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Perkembangan

Dalam sejarahnya, pendekatan psikotherapys dan konseling yang


dipengaruhi oleh pemikiran postmodern salah satunya ialah pendekatan Solution
Focused Brief Therapy (SFBT). Dari beberapa literatur pendekatan SFBT ini
mempunyai istilah atau sebutan yang berbagai macam, seperti :

1. Therapy Konstruktivis (Constructivist Therapy)


2. Therapy Berfokus Alternatif (Solution Focused Therapy)
3. Konseling Singkat Berfokus Alternatif (Solution Focused Brief
Counseling)

Namun akan tetapi dari banyak istilah atau penyebutan nama tersebut,
sejatinya atau intinya semuanya pendekatan yang didasari oleh filosofi
postmodern sebagai landasan konseptual pendekatan – pendekatan tersebut yang
mana seluruhnya telah memiliki titik focus dan telah dilakukan uji dan studi
banding sebelumnya.

Dalam perkembangan SFBT, ada beberapa tokoh yang memberikan


kontribusi pada tahun 1970an, 1980an, dan 1990an, tokoh – tokohnya seperti :
Steve de Shazer (1985, 1988), Insoo Kim Berg (Dejong & Berg, 2002), O’Hanlon
Bill, dan Michele Weiner – Davis (O’Hanlon & Weiner Davis, 1989; Weiner-
Davis , 1992). Akan tetapi SFBT pertama kali dipelopori oleh Insoo Kim Berg
dan Steve De Shazer. Keduanya ialah direktur eksekutif dan peneliti senior di
lembaga nirlaba yang disebut Brief Family Therapy Center (BFTC) di
Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat pada akhir tahun 1982.

Insoo Kim Berg ialah seorang warga Amerika yang bertanah air Korea
serta juru bicara therapy yang berorientasi alternatif yang sangat memiliki
pengaruh. Beliau memulai karya – karyanya pada pertengahan tahun 1980an
hingga kini ia telah menerbitkan buku-buku dan rekaman video tentang
pendekatan berfokus alternatif. Setelah melakukan pelatihan di damasah barat,

3
hasil latihannya ialah sebuah pendekatan psikotherapy yang merupakan perpaduan
kreatif antara menumbuhkembangkan kesadaran dan proses membuat pilihan
perubahan.

2.2 Konsep Dasar

Adapun konsep dasar yang dapat kita ketahui terkait dengan SFBT
bedasarkan dari para ahli ialah:
a. Keunikan dari pengalaman manusia itu sendiri telah menjelaskan
bahwa setiap individu ialah unik. Konseling perlu dilakukan dengan
melihat keunikan setiap kebutuhan individu bukannya melihat secara
keseluruhan (Berg dan Miller,1992)
b. Konseli ialah pakar dalam kehidupan mereka sendiri dan mempunyai
kemampuan menyelesaikan masalah, hasil dari kemahiran yang
dibawa dalam sesi secara sedar atau tidak.
c. Pengalaman negatif yang berulan-ulang mempunyai kesan yang akan
menghalangi individu daripada memahami kekuatan dan kebolehan
mereka.
d. Melahirkan hubungan tmasapeutik dan hubungan kerjasama antara
konseli dan konselor dimana diantara mereka sama-sama mencipta
reality dan setiap pihak akan saling mempengaruhi antara satu sama
lain.
e. Therapy ini memberi fokus kepada masalah yang ada daripada
masalah yang tiada.
f. Setiap masalah akan memfokuskan kepada apa yang boleh dilakukan
lebih daripada apa yang tidak boleh dilakukan.
g. Perubahan dicapai dengan menghargai apa yang berlaku dalam
konteks kehidupannya

2.3 Hakikat Manusia

Konseling berfokus alternatif tidak mempunyai pandangan komprehensif


tentang sifat manusia, tetapi berfokus pada kekuatan dan kesehatan konseli.
Konseling berfokus alternatif menganggap manusia bersifat konstruktivis.

4
Sehingga, konseling berfokus alternatif berlandaskan pada asumsi bahwa manusia
benar-benar ingin berubah dan perubahan tersebut tidak terelakkan (Eryanti,
2020).

SFBT mempunyai asumsi bahwa manusia itu sehat, mampu (kompeten),


mempunyai kapasitas Guna membangun, mmasancang ataupun
mengkonstruksikan alternatif, sehingga individu tersebut tidak terus menerus
berkutat dalam problem-problem yang sedang ia hadapi. Manusia tidak perlu
terpaku pada masalah, namun ia lebih berfokus pada alternatif, bertindak dan
mewujudkan alternatif yang ia inginkan (Pratini & Afifah, 2019).

Semakin ketat atau lamanya seseorang berada di fase tertekan atau stress
dapat menimbulkan beragam macam penyakit yang mampu membuat mereka
drop atau beresiko adanya rasa ingin bunuh diri. Banyak kasus diluar sana yang
terkait dengan kasus bunuh diri yang disebabkan oleh rasa tertekan atau stress
yang di derita sehingga ia mengambil alternative dengan bunuh diri agar segala
permasalahan yang ia alami bisa berkurang dan tidak menyusahkan orang di
sekitarnya (Fajriani & Yulizar, 2020).

Hal ini harus sangat diperhatikan mengingat tingkat seseorang Guna


menerima masalah itu berbedaa. Beberapa orang menganggap bahwa masalah
tersebut terbilang spele namun pada pemikiran orang lain masalah tersebut sangat
rumit dan berat (Pratiwi, 2013).

2.4 Hubungan Konselor Dengan Konseli

Hubungan konselor dengan konseli sangat penting, karena memiliki


pengaruh pada sekarang proses konseling atau sekarang proses therapyotik.
Adanya kerjasama antara Konseli dengan konselor secara bersama – sama Guna
mengidentifikasi masalah dan alternatif. Dalam hubungan konselor dengan
konseli, Konselor harus menggunakan teknik empati, summarization, parafrase,
pertanyaan terbuka, dan ketmasampilan mendengarkan secara aktif Guna
memahami situasi konseli secara jelas dan spesifik (Fajriani & Yulizar, 2020).

5
Guna membentuk hubungan yang baik dan intens, konselor harus
menyesuaikan bahasa konseli, konseli dihargai sebagai ahlinya dalam
kehidupannya sendiri, sementara konselor ahli dalam menciptakan lingkungan
tmasapeutik yang baik.

Seorang konselor juga harus mendengarkan dengan baik segala


permasalahan yang di alami oleh konseli dan sangat dilarang untuk menjudge atau
menjatuhkan secara halus konselinya. Seorang konselor harus dengan sabar
menasihati dan memberikan arahan agar konseli dapat tenang dan kembali pulih
seperti sedia kala serta konseli dapat menyelesaikan masalahnya sejara bijak dan
benar bedasarkan dengan arahan dan nasihat dari konselor yang ia temui (Rofifah,
2020).

2.5 Tujuan Therapy

Didalam SFBT ini terdapat beberapa tujuan yang harus diketahui ataupun
dipahami yaitu :
1. Membantu konseli mengenal sumber daya dalam dirinya dan menyadari
pengecualian di dalam dirinya pada sekarang dia bermasalah
2. Membantu konseli Guna berfokus pada hal – hal yang jelas dan spesifik
yang mereka anggap sebagai alternatif masalah
3. Membantu konseli Guna bergmasak atau menuju ke arah yang diinginkan
si konseli
4. Menemukan alternatif yang cocok dengan masalah konseli
5. Membantu konseli Guna memahami secara jelas masa depan yang
diinginkannya dan bagaimna memotivasi hal tersebut.

2.6 Teknik – Teknik Dalam SFBT

Dalam penerapa SFBT atau pendekatan SFBT disini mempunyai beberapa


teknik intervensi khusus yang tidak dapat sembarangan dilakukan dan harus
dipahami terlebih dahulu. Teknik ini sebenarnya telah dirancang dan
dikembangkan dalam rangka Gunamembantu konseli guna secara sadar membuat
alternatif atas permasalahan yang ia hadapi. Bebrapa teknik dari SFBT ( Corey,
2005; Capuzzi dan Gross, 2003) ialah:

6
a. Pertanyaan pengecualian (Exception Question)
Pertanyaan tentang sekarang-sekarang dimana konseli bebas dari
masalah. SFBT berlandaskan pada gagasan dimana ada sekarang-sekarang
dalam hidup konseli ketika masalah yang mereka identifikasi tidak
bermasalah. Waktu tersebut disebut pengecualian dan disebut “ news of
difference”. Konselor SFBC mengajukan ask exeption question Guna
menempatkan konseli pada waktu-waktu ketika tidak ada masalah, atau
ketika masalah yang ada tidak kuat. Pengecualian merupakan pengalaman
hidup konseli di masa lalu ketika dimungkinkan  masalah tersebut masuk
akal terjadi, tetapi entah bagaimana hal itu tidak terjadi. Dengan
membantu konseli mengidentifikasi dan memeriksa pengecualian tersebut
kemungkinan meningkatkan mereka dalam bekerja menuju alternatif.
Eksplorasi ini mengingatkan konseli bahwa masalah tidak selalu kuat dan 
ada selamanya; juga menyediakan kesempatan Guna meningkatkan
sumberdaya, melibatkan kekuatan, dan  menempatkan alternatif yang
mungkin. Konselor menanyakan pada konseli apa yang harus dilakukan
agar pengecualian ini lebih sering terjadi. Dalam istilah SFBC, hal ini
disebut “change-talk” (Azizah et al., 2020).

b. Pertanyaan Keajaiban (Miracle Question)


Pertanyaan yang mengarahkan konseli berimajinasi apa yang akan
terjadi jika suatu masalah dialami secara ajaib [Link]
konseli Guna mempertimbangkan bahwa suatu keajaiban membuka suatu
tempat Guna kemungkinan-kemungkinan dimasa depan. Konseli di dorong
Guna membiarkan dirinya sendiri bermimpi tentang suatu cara/jalan Guna
mengidentifikasi jenis-jenis perubahan yang paling mereka inginkan.
Pertanyaan ini mempunyai fokus masa depan dimana konseli dapat mulai
Guna mempertimbangkan kehidupan yang berbeda yang tidak didominasi
oleh masalah-masalah masa lalu dan sekarang kearah pemuasan hidup
yang lebih dimasa mendatang (Fajriani et al., 2021).

c. Pertanyaan Berskala (Scalling Question)

7
SQ ialah teknik yang dipakai konselor Guna mengidentifikasi
perbedaan yang bemanfaat bagi konseli, dan dapat membantu Guna
menetapkan tujuan pula. Kutub dari skala biasanya berentang dari “kondisi
masalah yang terburuk yang terjadi” (0 atau 1) di salah satu ujung, dan di
ujung yang lain menggambarkan “kondisi terbaik yang mungkin akan
dicapai” (10).Konseli diminta Guna menilai mereka sekarang ini bmasada
pada posisi skala bmasapa, dan pertanyaan yang kemudian dipakai Guna
mengidentifikasi berbagai sumber (Konseling et al., 2020).
Tmasapais menggunakan pertanyaan yang memberi skala apabila
perubahan dalam pengalaman manusia tidak mudah diamati, seperti
pmasasaan, suasana hati, atau komunikasi. Pertanyaan dengan
memberikan skala menjadikan konseli Guna memberikan perhatian yang
lebih dekat kepada apa yang sedang mereka kerjakan dan bagaimana
mereka dapat mengambil langkah yang akan mengarahkan kepada
perubahan yang mereka kehendaki (Journal, 2017).

d. Rumusan Tugas Sesi Pertama (Formula Fist Session Task/FFST)


FFST ialah suatu format tugas yang diberikan oleh konselor
kepada konseli Guna diselesaikan pada antara sesi pertama dan sesi kedua.
Konselor dapat berkata : “ diantara sekarang ini dan pertemuan kita
selanjutnya, saya berharap anda dapat mengamati sehingga anda dapat
menjelaskan pada saya pada pertemuan yang akan datang, tentang apa
yang terjadi pada (keluarga, hidup, pernikahan, hubungan) anda yang
diharapkan terus terjadi” (de Shazeer, 1985 dalam Corey 2005). Pada sesi
kedua, konseli dapat ditanya tentang apa yang telah mereka amati dan apa
yang mereka inginkan dapat terjadi dimasa mendatang.

e. Umpan Balik (Feedback)


Para pelaksana konseling umumnya mengambil waktu jeda lima
sampai dengan sepuluh menit menjelang setiap akhir pertemuan Guna
menyusun suatu ringkasan pesan kepada konseli. Selama waktu jeda ini
konselor merumuskan umpan balik yang akan diberikan kepada konseli

8
setelah waktu jeda. De Jong dan Berg (dalam Gmasald Corey, 2002:9)
menguraikan tiga bagian pokok Guna umpan balik yang berupa ringkasan:
pujian, jembatan, dan anjuran tugas. Pujian ialah pengakuan yang tulus
terhadap apa yang telah konseli lakukan yang mengarah ke alternatif yang
efektif. Pujian-pujian ini yang wujudnya berbentuk dorongan,
menciptakan harapan, dan penyampaian harapan kepada konseli bahwa
mereka dapat menggapai tujuan-tujuan mereka dengan menggunakan
kekuatan dan keberhasilan mereka (Pratiwi, 2013).
Kedua, sebuah jembatan menghubungkan pujian awal kepada tugas
anjuran yang diberikan. Jembatan memberikan alasan penalaran Guna
pujian itu. Aspek umpan balik ketiga berisi anjuran tugas kepada konseli,
yang dapat dipertimbangkan sebagai pekerjaan rumah. Tugas pengamatan
maksudnya ialah meminta konseli Guna sekedar memberikan perhatiannya
kepada beberapa aspek kehidupan mereka. Proses monitoring diri ini
membantu konseli mencatat perbedaan-perbedaan apabila segala sesuatu
keadaannya lebih baik (Roorda, 2016).
f. Penghentian
Dari awal sekali wawancara berfokus alternatif, konselor selalu
berpikiran bahwa dalam bekerja akan mengarah kepada penghentian.
Begitu konseli mampu membangun alternatif yang memuaskan, hubungan
therapy dapat dihentikan. Sebelum konseling bmasakhir, konselor
membantu konseli dalam mengenali hal-hal yang bisa mereka lakukan
Guna melanjutkan perubahan-perubahan yang telah mereka lakukan di
masa yang akan datang (Pratini et al., 2018).
Konseli juga bisa dibantu Guna mengenali rintangan atau
hambatan-hambatan yang kemungkinan ditemui dalam perjalanannya
memelihara perubahan yang telah mereka lakukan. Karena model therapy
ini singkat, berpusat pada masa sekarang, dan dimaksudkan Guna keluhan
tertentu, akan sangat mungkin bahwa konseli akan mengalami persoalan-
persoalan perkembangan lain di kemudian hari. Konseli bisa minta
pertemuan tambahan kapan saja ketika mereka merasakan adanya

9
kebutuhan yang mereka rasakan Guna kembali ke jalan hidup yang benar
(Sofianti & Mufidah, 2021).

2.7 Proses Dalam SFBT

Tahapan yang dilakukan sebelum melakukan konseling merupakan sebuah


tindakan yang biasa dilakukan guna memahami alur yang nantinya akan
dihadapi. Secara umum prosedur atau tahapan pelaksanaan SFBT menurut
Corey (2005) ialah sebagai berikut:
a. Para konseli diberikan kesempatan Guna memaparkan masalah-masalah
mereka. Konselor mendengarkan dengan penuh perhatian dan cermat
jawaban-jawaban konseli terhadap pertanyaan dari konselor, “ bagaimana
saya dapat membantu anda?”
b. Konselor bekerja dengan konseli dalam membangun arah tujuan yang
dibentuk secara spesifik dengan baik secepat mungkin. Pertanyaannya
ialah “ apa yang menjadi berbeda dalam hidupmu ketika maslaah-
masalahmu terselesaikan?”
c. Konselor menanyakan konseli tentang sekarang dimana masalah-masalah
sudah tidak ada atau sekarang masalah-masalah sudah tidak ada atau
sekarang masalah-masalah tmasasa agak ringan. Konseli dibantu Guna
mengeksplor pengecualian-pengecualian ini, dengan penekanan yang
khusus pada apa yang mereka lakukan Guna membuat keadaan/ peristiwa-
peristiwa tersebut terjadi. Namun hal imi dengan syarat harus secara hati
hati dan tidak memaksa konseli untuk menceritakannya. Hal ini akan
membuat konseli merasa tertekan jika terlalu dipaksa (Sucipto et al.,
2020).
d. Diakhir setiap percakapan membangun alternatif-alternatif (solution
building), konselor memberikan konseli umpan balik simpulan,
memberikan dorongan-dorongan, dan menyarankan apa yang konseli
dapat amati atau lakukan sebelum sesi berikutnya yang lebih jauh Guna
menyelesaikan masalah mereka.
e. Konselor dan konseli kembali melakukan pengamatan evaluasiprogress
yang telah didapat dalam menggapai alternatif-alternatif yang memuaskan

10
dengan menggunakan suatu skala rata-rata. Konseli juga ditanya tentang
apa yang perlu Guna dilakukan sebelum mereka melihat masalah mereka
dapat terselesaikan dan juga apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

2.8 Kelebihan dan kelemahan

a. Kelebihan
Adapun kelebihan yang ada pada metode ini ialah:
1. Metode ini langsung Berfokus pada titik yang akan dituju
2. Hemat waktu, tenaga dan biaya
3. Bersifat fleksibel dan praktis dalam penggunaan teknik – teknik
intervensi
4. Menilai potensi konseli dalam proses konseling Guna memastikan
bahwa waktu dan usaha tidak terbuang percuma
5. Memandang konseli kompeten dan berdaya
6. Pendekatan ini bersifat positif Guna dipakai dengan konseli yang
berbeda-beda. Maksudnya, teori konseing ini berlandaskan pada
asumsi optimis bahwa setiap manusia ialah sehat dan kompeten
serta mempunyai kemampuan dalam mengkonstruk alternatif
dalam meningkatkan kualitas hidup mereka dengan optimal.
7. Pendekatan ini difokuskan pada perubahan dan dasar pemikiran
yang menekankan perubahan kecil pada tingkah laku
8. Pendekatan ini dapat dikombinasikan dengan pendekatan konseling
lainnya
b. Kelemahan
Dari pembahasan di atas adapun kelemahan yang dapat kita ketahui ialah
1. Kurang mengamati masa lalu konseli
2. Pendekatan ini hampir tidak mengamati riwayat konseli
3. Pendekatan ini kurang memfokuskan pencmasahan
4. Pendekatan  ini menggunakan tim, setidaknya beberapa praktisi,
sehingga membuat pmasawatan ini mahal

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Teori singkat berfokus alternatif pertama kali dicetuskan oleh Insoo


Kim Berg dan Steve De Shazer pada akhir tahun 1982. Teori ini merupakan
suatu teori konseling yang menekankan pentingnya masa depan daripada
masa lalu atau masa kini dan berfokus pada masalah yang ada daripada
masalah yang tidak ada. Teori ini bertujuan Guna membantu konseli
mengenal sumber daya dalam dirinya dan menyadari pengecualian di dalam
dirinya pada sekarang dia bermasalah.

3.2 Saran

Dengan teori singkat berfokus alternatif ini, konselor mampu


membantu konseli sesuai dengan keinginannya. Selain itu konselor juga harus
dapat membantu konseli mengenal sumber daya dalam diri konseli.

12
DAFTAR PUSTAKA

Azizah, N., Wibowo, M. E., & Purwanto, E. (2020). The effectiveness of strength
based intervention motivational interviewing group counseling to improve
students’ self compassion. Jurnal Bimbingan Konseling, 9(1), 189–193.
[Link]

Eryanti, D. (2020). Solution Focused Brief Therapy untuk Meningkatkan Rasa


Percaya Diri Remaja. Prophetic : Professional, Empathy and Islamic
Counseling Journal, 3(2), 221. [Link]

Fajriani, F., Abu Bakar, & Fitra Marsela. (2021). Solution-Focused Brief Therapy
(SFBT) Based Guidance for Student Academic Hardiness. ENLIGHTEN
(Jurnal Bimbingan Dan Konseling Islam), 4(1), 1–13.
[Link]

Fajriani, F., & Yulizar, Y. (2020). Solution-Focused Brief Therapy (SFBT) untuk
meningkatkan motivasi membaca Murid Disleksia. Counsellia: Jurnal
Bimbingan Dan Konseling, 10(1), 28.
[Link]

Journal, J. M. (2017). 白耀霞 1 综述;杨思迪 2 ,徐杰 2 审校 (1. 52(May),


469–470.

Konseling, B., Keguruan, F., & Maret, S. (2020). PEMBERIAN BANTUAN


KONSELING KELOMPOK PENDEKATAN SOLUTION FOCUSED BRIEF
THERAPY ( SFBT ) TERHADAP SISWA DENGAN KRISIS KEPERCAYAAN
DIRI Nin Sekar Nurmaghfirah , Asrowi *, Rian Rokhmad Hidayat. 23(1).
[Link]

Pratini, H., & Afifah, A. N. (2019). Solution Focused Brief Therapy Presentation.
Fokus, 1(1), 1–12.

Pratini, H., Nur Afifah, A., & Studi Bimbingan dan Konseling IKIP Siliwangi, P.
(2018). Pendekatan Solution Focused Brief Therapy (Sfbt) Dalam
Mengurangi Perilaku Prokrastinasi Pada Mahasiswa. Maret, 1(2), 2614–

13
4123.

Pratiwi, M. A. (2013). Penerapan Solution Focused Brief Therapy (SFBT) Untuk


Meningkatkan Harga Diri Siswa Kelas XI Bahasa SMA AL-ISLAM KRIAN.
Jurnal BK, 04(03), 1–18.

Rofifah, D. (2020). 済無 No Title No Title No Title. Paper Knowledge . Toward


a Media History of Documents, 3(April), 12–26.

Roorda. (2016). No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康関


連指標に関する共分散構造分析 Title. 2(July), 1–69.

Sofianti, R. P., & Mufidah, E. F. (2021). Efektifitas Pendekatan Soluction-


Focused Brief Therapy ( Sfbt ) Melalui Teknik Miracle Question Dalam
Konseling. 6(1), 96–101.

Sucipto, A., Purwanto, E., Japar, M., & Iłendo-Milewska, A. (2020). Improving
the psychological well-being of prisoners through group counseling with
solution-focused brief therapy (SFBT) approach. Psikohumaniora: Jurnal
Penelitian Psikologi, 5(2), 155–168. [Link]

14

Anda mungkin juga menyukai