0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan20 halaman

Konstruksi Bangunan Menggunakan Bambu

Bambu merupakan bahan bangunan serbaguna yang telah digunakan selama berabad-abad di Indonesia. Bambu tumbuh dengan cepat, kuat, ringan, tahan gempa, dan ramah lingkungan, namun rentan terhadap serangan jamur dan kebakaran. Bambu dapat digunakan untuk berbagai komponen struktur bangunan seperti pondasi, dinding, dan atap.

Diunggah oleh

melfia sekarwati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan20 halaman

Konstruksi Bangunan Menggunakan Bambu

Bambu merupakan bahan bangunan serbaguna yang telah digunakan selama berabad-abad di Indonesia. Bambu tumbuh dengan cepat, kuat, ringan, tahan gempa, dan ramah lingkungan, namun rentan terhadap serangan jamur dan kebakaran. Bambu dapat digunakan untuk berbagai komponen struktur bangunan seperti pondasi, dinding, dan atap.

Diunggah oleh

melfia sekarwati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

BAMBU DAN PENGAPLIKASIANNYA


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Studio Struktur Dan Konstruksi
Bangunan
Dosen Pengampu: Safruddin Juddah S.T. M.T

Disusun Oleh :
Muh Yusuf Fitrahyani

PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2021

1
Material Bambu Dan Pengaplikasiannya
Muh Yusuf Fitrahyani
ABSTRAK

Bambu merupakan salah satu bahan bangunan tertua dan sangat serbaguna
dengan banyak aplikasi di bidang konstruksi bangunan, khususnya di negara-
negara berkembang. Bambu tumbuh melimpah di seluruh kepulauan Indonesia,
dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia selama berabad-
abad. Pertumbuhan bambu yang cepat membuat bambu sebagai sumber daya
yang dapat berkelanjutan.
Bambu merupakan material kuat dan ringan dan sering dapat digunakan tanpa
pengolahan atau finishing. Konstruksi bambu mudah untuk membangun, tahan
terhadap gaya gempa, dan mudah diperbaiki jika terjadi kerusakan. Sumber daya
kayu berkurang dengan adanya pembatasan yang dikenakan pada penebangan di
hutan alam, terutama di daerah tropis, telah memfokuskan perhatian dunia pada
kebutuhan untuk mengidentifikasi pengganti material yang dapat diperbaruhi,
ramah lingkungan dan secara luas dapat dimanfaatkan.
Keberadaan kayu yang semakin langka karena pemanfaatkan kayu masa lalu
secara besar-besaran, sementara pertumbuhan kayu hingga dapat digunakan
sebagai material konstruksi bangunan sangat lama bisa mencapai 40 tahun
dibandingkan dengan bambu yang hanya sekitar 3 sampai 5 tahun.
Dengan pertumbuhan yang cepat, kemampuan adaptasi yang baik untuk sebagian
besar kondisi iklim dan kondisi tanah, bambu muncul sebagai alternatif yang
sangat cocok. Namun, dalam rangka memanfaatkan sepenuhnya potensi bambu
sebagai material konstruksi bangunan, upaya pembangunan harus diarahkan
untuk pelestariannya. Pemanfaatan lahan-lahan yang kurang produktif untuk
penanaman bambu merupakan upaya melestarikan bambu. Dengan pemanfaatan
bambu yang luas dibidang struktur bangunan, maka sirkulasi keberadaan bambu
dapat mendukung perekonomian rakyat serta memberikan dampak positip yang
besar terhadap lingkungan.

2
LATAR BELAKANG
Bambu memiliki sejarah panjang dan mapan sebagai bahan bangunan di
seluruh dunia baik di daerah tropis maupun sub-tropis. Menurut Sharma (1987) di
dunia tercatat lebih dari 75 negara dan 1250 spesies bambu, bambu juga tumbuh
melimpah di seluruh kepulauan Indonesia, dan telah menjadi bagian dari
kehidupan masyarakat Indonesia selama berabad-abad. Pertumbuhan bambu yang
cepat membuat bambu sebagai sumber daya yang dapat berkelanjutan.
Bambu banyak digunakan untuk berbagai bentuk konstruksi bangunan, khususnya
untuk perumahan di daerah pedesaan. Bambu merupakan sumber daya terbarukan
dan serbaguna, ditandai dengan kekuatan tinggi dan berat volume rendah, dan
mudah dikerjakan dengan menggunakan alat sederhana. Dengan demikian,
konstruksi bambu mudah untuk dibangun, sifat yang ringan dan elastic membuat
konstruksi bambu tahan terhadap gaya gempa dan mudah diperbaiki jika terjadi
kerusakan. Produk terkait (panel berbasis bambu dan beton bertulang bambu,
misalnya) juga menemukan aplikasi dalam proses konstruksi.
Beberapa pertimbangan penting yang saat ini membatasi penggunaan bambu
sebagai bahan konstruksi bangunan secara umum antara lain adalah:
a. Daya Tahan: bambu rentan terhadap serangan jamur dan serangga. Dengan
alas an tersebut maka jika tidak diobati, struktur bambu dipandang sebagai
struktur bangunan sementara dengan umur tidak lebih dari lima tahun.
b. Konstruksi sambungan: meskipun banyak jenis sambungan tradisional yang
ada, namun efisiensi strukturalnya rendah (Herbert et al. 1979). Banyak
penelitian telah diarahkan pada pengembangan lebih efektif metode
sambungan.
c. Mudah terbakar: struktur bambu tidak berperilaku baik dalam kebakaran.
d. Kurangnya bimbingan desain dan standarisasi: desain rekayasa struktur bambu
belum sepenuhnya ditangani.

3
Jenis – Jenis Bambu Untuk Konstruksi Bangunan
Banyak jenis bamboo yang terdapat di Indonesia , kurang
lebih ada 75 bambu namun yang mempunyai nilai
ekonomi hanya sekitar 10 jenis saja (Sutiyono,2006). Jenis jenis bamboo
yang sering digunakan untuk konstruksi bangunan di Indonesia , Bambu
Wulung , Bambu Legi , Bambu Petung , Bambu Ampel. Gambar 1 di bawah ini
menampilkan beberapa jenis bambu yang mempunyai nilai ekonomi yang
sering digunakan tersebut.
a) Bambu Wulung

b) Bambu Ampel

4
c) Bambu petung

d) Bambu Legi

Gambar 1. Beberapa jenis bambu yang sering untuk konstruksi bangunan


(Sutiyono,2006).

5
Keunggulan Bambu
1. Harga Terjangkau dan Ekonomis
Salah satu keunggulan dari material bambu adalah harganya yang sangat
ekonomis. Di pasaran. Anda bisa membeli material bambu dengan harga mulai
Rp10.000,00 per batang untuk diameter batang 2 cm atau Rp180.000,00 untuk
diameter 16 cm.
Tentunya hal ini akan memberikan keuntungan tersendiri, mengingat setiap
tahunnya material bangunan mengalami kenaikan harga. Anda pun
bisa menghemat anggaran saat bangun rumah dengan mengombinasikan material
bambu dengan material lain seperti kayu maupun besi untuk mendapatkan hasil
akhir yang Anda inginkan.
2. Bersifat Elastis
Bambu adalah bahan bangunan yang memiliki tingkat elastisitas yang tinggi.
Material ini bisa mempertahankan kedudukannya dengan baik. Hal ini pula yang
menjadikan bambu sebagai material terbaik untuk bangunan yang berdiri di
daerah-daerah rawan gempa. Kalaupun bangun rubuh, bobot bambu yang ringan
tidak begitu membahayakan penghuni bangunan tersebut.
3. Instalasi Bambu yang Sangat Mudah
Fungsi bambu pada dasarnya sama dengan kayu, tanpa diperlukan teknik
pemasangan khusus. Pemanenan dan pemasangan bambu cukup sederhana.
Mudah dipotong, tidak ada kulit yang dikupas selama pemrosesan, dan ringannya
yang membuatnya ideal untuk diolah, diangkut, dan disimpan. Ada juga banyak
tampilan dan pilihan, memungkinkan kita untuk benar-benar menyesuaikan
bambu ke desain kita. Misalnya, kita dapat memilih lantai bambu di berbagai serat
atau jenis yang tampaknya sangat estetis.
4. Ramah Lingkungan
Selain laju pertumbuhan bambu yang cepat, produksi bambu juga menghasilkan
manfaat bagi bumi ini. Jaringan akar yang kompleks menjangkar tanah ke bawah,
mencegah erosi ketika hujan atau banjir terjadi. Ini juga membantu tanah menahan
air, membantu pengaturan kelembaban sepanjang musim hujan dan kemarau.

6
Bambu juga menyerap lebih banyak kadar CO2 daripada pohon lainnya, karena
tingkat pertumbuhannya yang ekstrem, menanam bambu juga bisa menjadi
keuntungan bagi lingkungan kita.

Kelemahan Bambu
1. Rentan Mengalami Pembusukan
Karena kandungan pati pada bambu yang cukup tinggi, jika tingkat getah atau
kelembabannya tinggi, tanaman ini agak rentan terhadap unsur-unsur alami.
Serangga, jamur, bakteri pembusuk dapat dengan mudah mengambil nutrisi dari
bambu yang dipanen jika tidak dipotong, dirawat, dan disimpan dengan benar.
Ada cara untuk mengawetkannya secara alami, seperti pengeringan udara atau
menggunakan panas, tetapi beberapa produsen menggunakan bahan kimia
berbahaya, seperti formaldehida dan arsenik. Meskipun emisi bahan kimia relatif
rendah, masih ada keamanan yang perlu dipertimbangkan.
2. Rentan Terbakar
Kekurangan material bambu lainnya adalah rentan terhadap apip sehingga
berpotensi lebih mudah terbakar. Meskipun terdapat beberapa cara untuk
meningkatkan ketahanan terhadap api, namun Anda harus mengeluarkan biaya
yang tinggi untuk menggantinya jika terjadi kebakaran di rumah sehingga kurang
efektif.
3. Karakteristiknya Tidak Seragam
Karena langsung dari alam dan bukan buatan pabrik, karakteristik bambu tidak
pernah sama. Diameter yang berbeda-beda memerlukan ketelitian dalam proses
seleksi bambu tahap awal. Coba perhatikan, jarak ruas di bambu pun tidak pernah
sama dari bagian ujung sampai pangkal. Hal ini menyebabkan kesulitan tersendiri
dalam memadukan bambu-bambu secara harmonis. paku atau pasak.
Penyambungan memakai tali sangat tergantung pada keterampilan pelaksana.
Kekuatan sambungan hanya didasarkan pada kekuatan gesek antara tali dan
bambu atau antara bambu yang satu dengan bambu lainnya Dengan demikian
penyambungan bambu secara konvensional kekuatannya rendah, sehingga
kekuatan bambu tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Pada saat tali ken-

7
dor sebagai akibat kembang susut karena perubahan temperatur, kekuatan
gesek itu akan turun, dan bangunan dapat runtuh. Oleh karena itu sambungan
bambu yang memakai tali perlu dicek secara berkala, dan tali harus selalu
disetel agar tidak kendor.
baik, misalnya untuk membantu mencegah masuknya air dan kelembaban, serangan
jamur dan kutu kutu.
a). Bambu sebagai pondasi
Jenis-jenis pondasi dari bambu yang umum digunakan antara lain bambu kontak
tanah secara langsung, bambu di atas pondasi batu atau beton, bambu dimasukkan
ke dalam pondasi beton , dan bambu sebagai tulangan beton. Secara umum, yang
terbaik adalah menjaga bambu agar tidak kontak langsung dengan tanah, karena
bambu yang tidak diobati dapat membusuk sangat cepat jika kontak dengan tanah.
Kelangkaan buku petunjuk perancangan atau standar berkaitan
dengan bangunan yang terbuat dari bambu. Sifat bambu yang mudah
terbakar. Sekalipun ada cara-cara untuk menjadikan bambu tahan terhadap
api, namun biaya
yang dikeluarkan relatif cukup mahal.
Bersifat sosial berkaitan dengan opini masyarakat yang sering
menghu-bungkan bambu dengan kemiskinan, sehingga orang segan tinggal di
rumah bambu karena takut dianggap miskin. Orang baru mau tinggal di rumah
bambu jika tidak ada pilihan lain. Untuk mengatasi kendala ini maka perlu
dilibatkan arsitek, agar rumah yang dibuat dari bambu terlihat menarik. Upaya
ini tampak pada bangunan-bangunan wisata yang berupa bungalo dan rumah
makan yang berhasil menarik wisatawan mancanegara.

8
Bambu sebagai elemen struktur bangunan gedung
Bambu dapat digunakan untuk membuat semua komponen bangunan,
baik struktural maupun non structural. Konstruksi bangunan bambu ini ditandai
dengan pendekatan kerangka struktural mirip dengan yang diterapkan dalam
konstruksi kayu. Dalam hal ini, elemen lantai, dinding dan atap saling
dihubungkan dan saling bergantung satu sama lain untuk stabilitas keseluruhan.
Ada kebutuhan untuk mengontrol deformasi lateral dalam beberapa bentuk
tradisional bangunan pada khususnya. Kecukupan dan kesesuaian bangunan untuk
hunian juga akan tergantung pada detail yang

Gambar 1: Skematik bambu untuk pondasi tidak kontak dengan tanah


(Purwito, 1995)

a) Bambu sebagai Lantai


Lantai bangunan bambu mungkin di permukaan tanah, dan karena itu
hanya terdiri dari tanah yang dipadatkan, dengan atau tanpa perkuatan dari
anyaman bambu. Namun, solusi yang dipilih adalah untuk menaikkan lantai di
atas tanah menciptakan jenis konstruksi panggung. Hal ini meningkatkan
kenyamanan dan kebersihan dan dapat memberikan tempat penyimpanan tertutup

9
di bawah lantai. Ketika lantai ditinggikan, lantai menjadi bagian integral dari kerangka
struktur bangunan. Lantai bambu biasanya terdiri dari balok bambu tetap untuk strip
pondasi atau tumpuan ke pondasi. Balok-balok dipasang di sekeliling bangunan. Balok
dan kolom umumnya berdiameter sekitar 100 mm.

Gambar 2. Denah, bambu untuk lantai (Purwito, 1995).

b) Bambu sebagai dinding


Penggunaan yang paling luas dari bambu dalam konstruksi adalah untuk dinding
dan partisi. Elemen utama dari dinding bambu umumnya merupakan bagian dari
kerangka struktural. Dengan demikian bambu harus mampu untuk menahan beban
bangunan baik berat sendiri maupun beban berguna, cuaca, dan gempa bumi.
Sebuah pengisi antara anyaman bambu diperlukan untuk menyelesaikan dinding.
Tujuan dari pengisi adalah untuk melindungi terhadap hujan, angin dan hewan, untuk
memberikan privasi dan memberikan perkuatan untuk menjamin stabilitas keseluruhan
struktur ketika mengalami gaya horisontal. Pengisi harus didesain untuk memungkinkan
cahaya dan ventilasi.

10
Gambar 3. Konstruksi dinding dengan jaring-jaring bambu (Jayanetti,dkk., 2002).

c) Bambu sebagai atap


Atap bangunan yang diperlukan untuk memberikan perlindungan terhadap cuaca
ekstrem termasuk hujan, matahari dan angin, dan untuk memberikan yang jelas, ruang
yang dapat digunakan di bawah kanopi nya. Di atas semua, itu harus cukup kuat untuk
menahan kekuatan yang cukup dihasilkan oleh angin dan penutup atap. Dalam hal ini
bambu sangat ideal sebagai bahan atap - itu kuat, tangguh, dan ringan.
Struktur bambu untuk atap dapat terdiri dari komponen Rangka atap (kuda-
kuda), Gording atau purlin, kasau dan reng.

Gambar 4. Denah konstruksi atap dengan bambu. (Purwito,1995).

11
Aplikasi bambu untuk berbagai jenis konstruksi lain
a) Jembatan bambu
Sebuah jembatan dapat didefinisikan sebagai struktur tinggi yang
menghubungkan dua tempat agar lalu lintas dapat melewati hambatan yang ada
diantara keduanya (misalnya lembah dan sungai). Berbagai jenis bentangan dan
kapasitas yang hampir tak terbatas. Jembatan bambu umumnya digunakan untuk
konstruksi jembatan dengan bentang terbatas untuk pejalan kaki dan lalu lintas
ringan. Namun konstruksi bambu dengan sambungan yang baik, telah dibangun
dan telah terbukti mampu mendukung beban yang cukup besar.

Gambar 5. Pengujian konstruksi jembatan bambu (Morisco, 2006)

b) Perancah bambu
Perancah bambu secara luas digunakan di seluruh Asia Selatan dan Asia
Tenggara dan juga Selatan Amerika sebagai struktur sementara untuk mendukung
platform yang bekerja di konstruksi bangunan dan pemeliharaan (Jayanetti dkk,
2002). Keuntungan utama dari perancah bambu bila dibandingkan dengan baja
yang ringan dan rendah biaya. Hal ini juga mudah disesuaikan dengan bentuk
bangunan. Namun, masalah seperti kurangnya daya tahan, dan non-standar
sambungan saat ini membatasi penggunaan bambu secara luas.

12
Gambar 6. Bambu untuk scaffolding (Chu, 2002).

c) Bambu sebagai tulangan beton


Penggunaan bambu sebagai tulangan beton adalah salah satu topik yang
lebih luas dibahas berkaitan dengan bambu dalam konstruksi. Ada beberapa
alasan bagus mengapa bambu mungkin dianggap sebagai penguat untuk beton
yaitu : biaya rendah dibandingkan dengan baja, mudah di dapat, dan Kekuatannya
untuk rasio berat badan lebih baik dibandingkan dengan baja.

Gambar 7. Bambu sebagai tulangan pondasi plat. (Hidalgo, 1995)

Perlindungan komponen Bambu


Bambu tidak tahan lama dalam keadaan aslinya. Kandungan alami
bambu terdapat sumber makanan yang siap untuk serangga dan jamur, dan dapat
membusuk dalam waktu kurang dari satu tahun jika kontak langsung dengan

13
tanah. Oleh karena itu perlindungan merupkan usaha yang penting

14
untuk menjamin umur yang lama dari material bambu.
Perlindungan tidak selalu berarti perawatan dengan kimia. Garis
pertahanan pertama adalah desain yang baik. Perlindungan dengan desain
melibatkan empat prinsip dasar yaitu : menjaga bambu tetap kering, menjaga
bambu kontak dengan tanah, memastikan sirkulasi udara yang baik, dan
memastikan visibilitas yang baik.
Konsol atap yang lebar dapat mencegah pembasahan langsung dinding
saat hujan lebat, dan drainase saluran atau selokan dapat digunakan untuk
menjauhkan air dari gedung dengan jarak yang aman. Risiko banjir yang lebih
umum dapat dikurangi dengan membangun sebuah situs dinilai atau sedikit
miring, dan menggunakan batu dinaikkan atau pondasi beton. (Gambar 9).
Meningkatkan kolom bambu atau panel dinding jelas tanah juga
mengurangi risiko serangan rayap, dan meningkatkan visibilitas, membuat
pemeriksaan lebih mudah. Perisai rayap dapat digunakan antara pondasi dan
dinding, jika risiko dianggap tinggi. Bila memungkinkan, ruang atap harus
dibiarkan terlihat dengan baik sehingga untuk visibilitas dan aliran udara, dan
pemeliharaan rutin, Konstruksi bambu juga dapat memberikan daerah bersarang
ideal untuk tikus dan hama lainnya. Secara umum, konstruksi rongga harus
dihindari.

Gambar 8. Pengamanan dengan desain yang tepat (Jayanetti dkk., 2002)

15
Bangunan bambu sebagai bangunan ramah lingkungan “Green Building”
Setiap bangunan menempati ruangan, dirancang, dibangun, dioperasikan dan
dipelihara untuk kesehatan dan kesejahteraan penghuni, sambil meminimalkan
dampak negatif terhadap lingkungan. Adapun kategori bahan “green building”
adalah sebagai berikut:
a. Produk yang dibuat dari bahan lingkungan yang menarik.
b. Produk yang mengurangi dampak lingkungan selama konstruksi, renovasi
atau pembongkaran.
c. Produk yang mengurangi dampak lingkungan dari operasi bangunan.
d. Produk yang membuat lingkungan yang aman dan sehat dalam ruangan.
Bambu memenuhi syarat sebagai bahan bangunan ramah lingkungan (green
building). Bambu saat ini sedang dipandang sebagai alternatif bahan dengan biaya
rendah untuk masalah besar perumahan yang dihadapi oleh beberapa negara
berkembang. Bambu merupakan potensi bahan untuk perumahan dan konstruksi
yang ramah lingkungan, karena:
• Kekuatan tarik tinggi dibandingkan dengan yang ringan baja.
• Kekuatan tinggi untuk rasio berat dan beban daya dukung tinggi tertentu.
• Membutuhkan lebih sedikit energi untuk produksi,
• Layanan kinerja bambu dapat ditingkatkan dengan pengawetan dengan
pengobatan yang cocok.
• Dapat dibentuk menjadi panel dan material komposit yang dapat
meningkatkan kekuatan yang cocok untuk aplikasi struktural properti.
• Bambu juga memiliki kekuatan sisa tinggi untuk menyerap pengaruh
guncangan dan sangat cocok untuk bahan pembangunan rumah untuk
melawan kekuatan angin dan seismik yang tinggi.
• Bambu sangat efisien dalam menyerap karbon dioksida dan berkontribusi
terhadap pengurangan efek rumah kaca.

16
Peran bambu dalam restorasi lingkungan
Biosfer kita menderita penipisan sumber daya, hilangnya
habitat, kepunahan spesies dan pencemaran ekosistem, menunjukkan
keberlanjutan yang tidak cukup. Arsitek dan pengembang sekarang dapat
memilih bahan dan sistem yang memiliki efek restoratif pada lingkungan.
Bambu dapat memainkan peran [Link] adalah tanaman yang
paling cepat berkembang. Bambu menghasilkan oksigen yang lebih
besar 30% dari pada hutan kayu pada wilayah yang sama, sekaligus
meningkatkan daerah aliran sungai, mencegah erosi, mengembalikan
tanah yang rusak, bambu dapat menetralkan racun dari tanah yang
terkontaminasi.
Bambu menghasilkan struktur balok, lantai, panel dinding, pagar
dan banyak yang berkelanjutan dengan produk dari restorasi
[Link] bambu dapat dipanen setiap tahun setelah 3 smpai 5
tahun, dibandingkan dengan 30 sampai 50 tahun untuk pohon. Dengan
kenaikan tahunan 10-30% dalam biomassa dibandingkan 2-5% untuk
pohon, bambu dapat menghasilkan 20 kali lebih banyak kayu dari pohon-
pohon di daerah yang sama. Bambu dapat selektif dipanen setiap tahun
dan melahirkan tanpa melakukan penanaman kembali.
Bambu menghasilkan oksigen 30% lebih dari pohon. Hal ini
membantu mengurangi karbon dioksida gas yang menyebabkan
pemanasan global. Rumpun bambu dapat menyerap karbon dioksida
hingga 12 ton per hektar, yang membuat bambu menjadi pengisi ulang
udara segar yang efisien. Bambu merupakan penghalang mengalirnya air
alami, karena sistem akar yang luas penyebarannya, bambu sangat
mengurangi limpasan hujan, mencegah erosi tanah besar-besaran dan
membuat air dua kali lebih banyak di daerah aliran sungai (DAS).
Bambu membantu mengurangi polusi air karena konsumsi nitrogen
tinggi, sehingga merupakan solusi untuk penyerapan nutrisi kelebihan air
limbah dari pertanian, manufaktur, peternakan, dan pengolahan limbah.

17
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, dapat di simpulkan dampak positip


penggunaan bambu pada konstruksi bangunan sebagai berikut:
1) Bambu dapat dugunakan untuk berbagai aplikasi di bidang konstruksi
bangunan sebagai pengganti keberadaan kayu yang semakin langka, dan jika
didasain dengan baik dan di rawat dengan baik akan mempunyai daya tahan
yang lama.
2) Pengakuan penggunaan bambu oleh masyarakat luas untuk konstruksi
bangunan dan keperluan lain akan berpengaruh pada kebutuhan pengadaan
bambu yang semakin besar pula. Hal ini dapat memicu masyarakat untuk
melakukan penanaman bambu di tanah-tanah yang kurang produktif dengan
demikian akan memberikan nilai tambah secara ekonomis.
3) Dengan semakin meluasnya lahan yang ditanami bambu, maka akan
berdampak positip bagi lingkungan antara lain: udara segar karena bambu
penyumbang oksigen yang lebih besar dibanding kayu dan dapat menyerap
karbon dioksida, pemanfaatan lahan gundul, dan dapat mencegah erosi.

18
DAFTAR PUSTAKA

Arce, O.A., (1995), “Bambu Housing in Seismic-prone Areas”, In Ganapati, P.M.,


Janssen, J.A., Sastry, C.B., ed., Bambu People and Environment, Proceedings of
the Vth International Bambu Workshop and the IV International Bambu
Congress, Bali, 19-22 June 1995, p.38 – 48
Bhalla, S., Gupta, S., Sudhakar, P., Sures, R., (2008), “Bambu as Green Alternatif to
Concrete and Steel for Modern Structures”, The International Congress of
Environmental Research, Goa, 18-20 December 2008.
Tong, A.,Y.,C., (2002), “Bambu Scaffolding – Practical Application”, In Chung, K.F,
and Chan S.,S., ed., Bamboo Scaffolds in Buliding Construction, Proceeding of
International Seminar, Hongkong, 11 May 2002, p.31-42.
Hidalgo, O., (1995), “Study of Mechanical Properties of Bambu and its Use as Concrete
Reinforcement: Problems and Solutions”, In Ganapati, P.M., Janssen, J.A., Sastry,
C.B., ed., Bambu People and Environment, Proceedings of the Vth International
Bambu Workshop and the IV International Bambu Congress, Bali, 19-22 June
1995, p.66 - 75.
Jayanetti, D.L., & Follet, P.R., (2002), “Bambu in Construction: An Introduction”,
INBAR Technical Report No.16, India.
Morisco and Mardjono, F., (1995), “Strength of Filled Bambu Joint”, In Ganapati, P.M.,
Janssen, J.A., Sastry, C.B., ed., Bambu People and Environment, Proceedings of
the Vth International Bambu Workshop and the IV International Bambu
Congress, Bali, 19-22 June 1995, p.113 -1120.
Paudel, S.K., (2008), “Engineered Bambu as A Building Material”, In Xiao, Y., Inoue,
M., Paudel, S. K., ed., Modern Bambu Structures, ed., Proceeding of First
International Conference, Changsha, 28-30 October 2007, p.33-40.

19
Purwito, (1995). “The Application of Bambu for Earthquake-resistent Houses”, In
Ganapati, P.M., Janssen, J.A., Sastry, C.B., ed., Bambu People and Environment,
Proceedings of the Vth International Bambu Workshop and the IV International
Bambu Congress, Bali, 19-22 June 1995.
Sharma, Y.M.L. 1987. Bambus in the Asia- Pacific region.: 99-100. In Lessard, G. &
IDR. Canada
.

20

Anda mungkin juga menyukai