0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
319 tayangan23 halaman

Asuhan Keperawatan RHD pada Anak

Rheumatic Heart Disease (RHD) adalah cacat jantung akibat karditis rematik yang disebabkan oleh infeksi Streptococcus Beta Hemolyticus grup A. Gejalanya antara lain napas tidak efektif, penurunan curah jantung, dan gangguan rasa nyaman. Patofisiologinya berkaitan dengan respons autoimun terhadap infeksi streptokokus yang menyebabkan kerusakan jaringan jantung. Pemeriksaan penunjangnya meliputi ASTO, LED, dan protein C-reak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
319 tayangan23 halaman

Asuhan Keperawatan RHD pada Anak

Rheumatic Heart Disease (RHD) adalah cacat jantung akibat karditis rematik yang disebabkan oleh infeksi Streptococcus Beta Hemolyticus grup A. Gejalanya antara lain napas tidak efektif, penurunan curah jantung, dan gangguan rasa nyaman. Patofisiologinya berkaitan dengan respons autoimun terhadap infeksi streptokokus yang menyebabkan kerusakan jaringan jantung. Pemeriksaan penunjangnya meliputi ASTO, LED, dan protein C-reak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN

RHEUMATIC HEART DISEASE (RHD)

Dosen Pembimbing: Dr. Dadang Kusbiantoro. [Link]., Ns.

Disusun Oleh:

Adhellia Zalfa Nabilah 1902012734 4A Keperawatan


Apriliana Khoirun Nisa’ 1902012762 4A Keperawatan
Dhiajeng Widya Ningrum 1902012779 4A Keperawatan
Fikri Nuruddin Fadhil 1902012765 4A Keperawatan
Furqon Ahmadi 1902012753 4A Keperawatan
Gia Ayu Shinta 1902012725 4A Keperawatan
Lisa Fatmawati 1902012768 4A Keperawatan
Risky Dwi Kartika 1902012723 4A Keperawatan
Vicentia Nazida 1902012763 4A Keperawatan
Yunita Fitasari 1902012764 4A Keperawatan

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMONGAN

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan ridho-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan “Asuhan Keperawatan Rheumatic Heart Disease (RHD)”. Laporan ini disusun
sebagai tugas mata kuliah Keperawatan Anak. Penulis laporan ini berbekal materi yang diperoleh
dari kelas dan tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan masukan dari berbagai pihak serta kutipan
materi diambil dari internet dengan sumber yang tertera. Oleh karena itu dalam kesempatan ini
penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada yang terhormat:

1. Dr. Abdul Aziz Alimul Hidayat, [Link]., [Link] selaku Rektor Universitas
Muhammadiyah Lamongan
2. Arifal Aris, [Link] selaku Dekan Fikes Universitas Muhammadiyah Lamongan
3. Dr. Dadang Kusbiantoro. [Link]., Ns. selaku Dosen pembimbing Mata Kuliah
Keperawatan Medikal Bedah I
4. Rekan-rekan dan semua pihak yang telah membantu kelancaran dalam pembuatan
Laporan ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih perlu penyempurnaan, oleh
karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan
penyusunan laporan selanjutnya. Semoga Laporan ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan
para pembaca pada umumnya.

Lamongan, 25 Agustus 2021

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyakit jantung reumatik merupakan kelainan katup jantung yang menetap akibat
demam reumatik akut sebelumnya. Penyakit ini terutama mengenai katup mitral (75%),
aorta (25%), jarang mengenai katup tricuspid dan tidak pernah menyerang katup
pulmonal. DRA merupakan penyebab utama penyakit jantung didapat pada anak usia 5
tahun sampai dewasa muda di negara berkembang dengan keadaan sosial ekonomi
rendah dan lingkungan buruk. Penderita PJR akan berisiko untuk kerusakan jantung
akibat infeksi berulang dari DRA dan memerlukan pencegahan. Morbiditas akibat gagal
jantung,
stroke dan endokarditis sering pada penderita PJR dengan sekitar 1.5% penderita
rheumatic carditis akan meninggal pertahun.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian dari RHD?
2. Apakah etiologi dari RHD?
3. Apa saja tanda dan gejala RHD?
4. Apa patofisiologi RHD?
5. Apa saja pemeriksaan penunjang RHD?
6. Apa penatalaksanaan RHD?
7. Apa saja komplikasi RHD?
8. Apa prognosis RHD?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui pengertian dari RHD
2. Untuk mengetahui etiologi dari RHD
3. Untuk mengetahui tanda dan gejala RHD
4. Untuk mengetahui patofisiologi RHD
5. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang RHD
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan RHD
7. Untuk mengetahui saja komplikasi RHD
8. Untuk mengetahui prognosis RHD

D. MANFAAT PENULISAN
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA MEDIS

A. Pengertian
Rheumatic Heart Disease (RHD) atau penyakit jantung rematik menurut WHO tahun
2001 adalah cacat jantung akibat karditis rematik. Menurut Afif (2008) RHD adalah
penyakit jantung sebagai akibat adanya gejala sisa (sekuele) dari demam rematik, yang
ditandai dengan terjadinya cacat katup jantung. Definisi lain juga mengatakan RHD
adalah hasil dari demam rematik yang merupakan suatu kondisi yang dapat terjadi 2-3
minggu setelah infeksi streptococcus beta hemolyticus grup A pada saluran nafas bagian
atas (Underwood J.C.E, 2000).

B. Etiologi
RHD mempunyai hubungan dengan infeksi kuman Streptococus Beta Hemolitik grup
A pada saluran nafas atas dan infeksi kuman ini pada kulit mempunyai hubungan untuk
terjadinya glomerulonephritis akut. Kuman Streptococus Beta Hemolitik dapat dibagi atas
sejumlah grup serologinya yang didasarkan atas antigen polisakarida yang terdapat pada
dinding sel bakteri tersebut. Hubungan kuman Streptococus Beta Hemolitik grup A
sebagai penyebab RHD terjadi secara tidak langsung, karena organisme penyebab tidak
dapat diperoleh dari lesi, tetapi banyak penelitian klinis, imunologis dan epidemiologis
yang membuktikan bahwa penyakit ini mempunyai hubungan dengan infeksi
Streptococus Beta Hemolitik grup A, terutama serotipe M1, 3, 5, 6, 14, 18, 19 dan 24
(Afif. A, 2008).
Beberapa faktor predisposisi lain yang berperan pada penyakit ini adalah keadaan
sosio ekonomi yang rendah, penduduk yang padat, golongan etnik tertentu, faktor
genetic, golongan HLA tertentu, daerah iklim sedang, daerah tropis bercuca lembab dan
perubahan suhu yang mendadak (Park M.K. 1996).
C. Tanda Dan Gejala
1. Pola Napas tidak efektif
Tanda mayor
Subjektif

1. Dipsnea Objektif

1. Penggunaan otot bantu


pernafasan
2. Fase ekspirasi memanjang
3. Pola nafas abnormal

Tanda minor

Subjektif Objektif
1. Ortopnea 1. Pernafasan pursetlip
2. Pernafasan cuping hidung
3. Diameter torax anterior posterior
meningkat
4. Ventilasi semenit menurun
5. Kapasitas vital menurun
6. Tekanan inspirasi menurun
7. Ekskursi dada berubah

2. Penurunan curah jantung


Tanda mayor
Subjekif
1. Perubahan irama jantung
 Palpitasi
2. Perubahan preaload
 Lelah
3. Perubahan afterload
 Dipsnea
4. Perubahan kontratilitas
 PND
 Ortopnea
 Batuk

Objektif

1. Perubahan irama jantung


 Brakikardia/ takikardia
 Gambaran ekg aritmia atau gangguan konduksi
2. Perubahan preload
 Perubahan edema
 Distensi vena juguralis
 Cvp meningkat atau menurun
 Hepatomigali
3. Perubahan afterload
 Tekanan darah meningkat atau menurun
 Nadi periver teraba lemah
 Crt > 3 dekik
 Oliguriga
 Warna kulit pucat dan sianosis
4. Perubahan kontratilitas
 Terdengar suara jantung S3 dan S4
 EF menurun
Tanda minor
Subjektif
1. Perubahan preload
2. Perbahan afterload
3. Perubahan kontratilitas
4. Perilaku atau emosional
 Cemas
 gelisah

objektif

1. perubahan preload
 mur mur jantung
 bb bertambah
 PAWP menurun
2. perubahan afterload
 PVR meningkat / menurun
 SVR meningkat / menurun
3. perubahan kontratilitas
 CI menurun
 LVSWI menurun
 SVI menurun
4. perilaku atau emosional
3. Gangguan rasa nyaman
Tanda mayor
Subjektif
1. Mengeluh tidak nyaman

Objektif

1. Gelisah

Tanda minor

Subjektif

1. Mengeluh sulit tidur


2. Tidak mampu relaks
3. Mengeluh kedinginan / kepanasan
4. Merasa gatal
5. Merasa mual
6. Mengeluh Lelah

Objektif

1. Menunjukkan gejala disstres


2. Tampak merintih / menangis
3. Pola eliminasi berubah
4. Postur tubuh berubah
5. Iritabilitas
D. Patofisiologi
Hubungan antara infeksi Streptococus Beta Hemolitiycus grup A dengan terjadinya
RHD telah lama diketahui. Demam rematik merupakan respon autoimun terhadap infeksi
Streptococus Beta Hemolitik grup A pada tenggorokan. Respons manifestasi klinis dan
derajat penyakit yang timbul ditentukan oleh kepekaan genetic host, keganasan
organisme dan lingkungan yang kondusif. Mekanisme pathogenesis yang pasti sampai
saat ini tidak diketahui, tetapi peran antigen histokompatibilitas mayor, antigen jaringan
spesifik potensial dan antibody yang berkembang segera setelah infeksi streptokokkus
telah diteliti sebagai faktor risiko potensial dalam pathogenesis ini.
RHD merupakan manifestasi yang timbul akibat kepekaan tubuh yang berlebihan
(hipersentivitas) terhadap beberapa produk yang dihasilkan oleh Streptococus Beta
Hemolitycus grup A. Kaplan mengemukakan hipotesis tentang adanya reaksi silang
antibody terhadap Streptococus Beta Hemolitycus grup A dengan otot jantung yang
mempunyai susunan antigen mirip antigen Streptococus Beta Hemolitycus grup A. Hal
inilah yang menyebabkan reaksi autoimun.
Reaksi autoantigen dan autoantibodi yang menimbulkan kerusakan jaringan dan
gejala-gejala klinis disebut penyakit autoimun, sedangkan bila tidak disertai gejala klinis
disebut fenomena autoimun.

E. Pemeriksaan Penunjang
Pasien demam rematik 80% mempunyai ASTO positif. Ukuran proses inflamasi dapat
dilakukan dengan pengukuran LED dan protein C-reaktif.
Adapun beberapa pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendukung diagnosis dari
rheumatic fever dan rheumatik disease adalah :
a) Pemeriksaan Laboratorium
 Reaktan fase akut
Merupakan uji yang menggambarkan radang jantung ringan. Pada pemeriksaan
darah lengkap, dapat ditemukan leukosistosis terutama pada fase akut/aktif, namun
sifatnya tidak spesifik. Marker inflamasi akut berupa C-reactive protrin (CRP) dan
laju endap darah (LED).
 Rapit Test Antigen Streptococcus
Pemeriksaan ini dapat mendeteksi antigen bakteri Streptococcus grup A secara tepat
dengan spesifisitas 95% dan sensivitas 60-90%
 Pemeriksaan Antibodi Antristreptikokus
Kadar titer antibodi antistreptokokus mencapai puncak ketika gejala klinis
rheumatic fever muncul. Tes antibodi antistreptokokus yang biasa digunakan
adalah antistreptolisin O/ASTO dan antideoxyribonuklease B/anti DNase B.
Pemeriksaan ASTO dilakukan terlebih dahulu, jika tidak terjadi peningkatan
akan dilakukan pemeriksaan anti DNase B. Titer ASTO biasanya mulai
meningkat pada minggu 1, dan mencapai puncak minggu ke 3-6 setelah
infeksi. Titer ASO naik > 333 unit pada anak-anak, dan > 250 unit pada
dewasa. Sedangkan anti-DNase B mulai meningkat minggu 1-2 dan mencapai
puncak minggu ke 6-8. Nilai normal titer anti-DNase B= 1: 60 unit pada anak
prasekolah dan 1 : 480 unit anak usia sekolah.
 Kultur Tenggorok
Pemeriksaan kultur tenggorokan untuk mengetahui ada tidaknya
streptococcus beta hemolitikus grup A. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan
sebelum pemberian antibiotik. Kultur ini umumnya negatif bila gejala
rheumatic fever atau rheumatic heart disease mulai muncul.
b) Pemeriksaan Radiologi dan Pemeriksaan Elektrokardiograf
Pada pemeriksaan radiologi dapat mendeteksi adanya kardiomegali dan
kongesti pulmonal sebagai tanda adanya gagal jantung kronik pada karditis.
Sedangkan pada pemeriksaan EKG ditunjukkan adanya pemanjangan interval PR
yang bersifat tidak spesifik. Nilai normal batas atas interval PR uuntuk usia 3-12
tahun = 0,16 detik, 12-14 tahun = 0,18 detik , dan > 17 tahun = 0,20 detik.
c) Pemeriksaan Ekokardiografi
Pada pasien RHD, pemeriksaan ekokardiografi bertujuan untuk
mengidentifikasi dan menilai derajat insufisiensi/stenosis katup, efusi
perikardium, dan disfungsi ventrikel. Pada pasien rheumatic fever dengan karditis
ringan, regurgitasi mitral akan menghilang beberapa bulan. Sedangkan pada
rheumatic fever dengan karditis sedang dan berat memiliki regurgitasi
mitral/aorta yang menetap. Gambaran ekokardiografi terpenting adalah dilatasi
annulus, elongasi chordae mitral, dan semburan regurgitasi mitral ke posterolateral.

F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pasien dengan rheumatic heart disease secara garis besar
bertujuan untuk mengeradikasi bakteri Streptococcus beta hemolyticus grup A,
menekan inflamasi dari respon autoimun, dan memberikan terapi suportif untuk gagal
jantung kongestif. Setelah lewat fase akut, terapi bertujuan untuk mencegah
rheumatic heart disease berulang pada anak-anak dan memantau komplikasi serta
gejala sisa dari rheumatic heart disease kronis pada saat dewasa. Selain terapi
medikamentosa, aspek diet dan juga aktivitas pasien harus dikontrol. Selain itu, ada
juga pilihan terapi operatif sebagai penanganan kasus-kasus parah.
a) Terapi Antibiotik
 Profilaksis Primer
Eradikasi infeksi Streptococcus pada faring adalah suatu hal yang sangat
penting untuk mengindari paparan berulang kronis terhadap antigen
Streptococcus
beta hemolyticus grup A. Eradikasi dari bakteri Streptococcus beta hemolyticus
grup A pada faring seharusnya diikuti dengan profilaksis sekunder jangka panjang
sebagai perlindungan terhadap infeksi Streptococcus beta hemolyticus grup A
faring yang berulang.
Pemilihan regimen terapi sebaiknya mempertimbangkan aspek bakteriologi
dan efektifitas antibiotik, kemudahan pasien untuk mematuhi regimen yang
ditentukan (frekuensi, durasi, dan kemampuan pasien meminum obat), harga, dan
juga efek samping.
Penisilin G Benzathine IM, penisilin V pottasium oral, dan amoxicilin oral
adalah obat pilihan untuk terapi Streptococcus beta hemolyticus grup A faring
pada
pasien tanpa riwayat alergi terhadap penisilin. Setelah terapi antibiotik selama 24
jam, pasien tidak lagi dianggap dapat menularkan bakteri Streptococcus beta
hemolyticus group A. Penisilin V pottasium lebih dipilih dibanding dengan
penisilin G benzathine karena lebih resisten terhadap asam lambung. Namun
terapi dengan penisilin G benzathine lebih dipilih pada pasien yang tidak dapat
menyelesaikan terapi oral 10 hari, pasien dengan riwayat rheumatic fever atau
gagal jantung rematik,dan pada mereka yang tinggal di lingkungan dengan faktor
risiko terkena rheumatic fever (lingkungan padat penduduk, status sosio-ekonomi
rendah).
 Profilaksis Sekunder
Rheumatic fever sekunder berhubungan dengan perburukan atau munculnya
rheumatic heart disease. Pencegahan terhadap infeksi Streptococcus beta
hemolyticus grup A pada faring yang berulang adalah metode yang paing efektif
untuk mencegah rheumatic heart disease yang parah.
b) Terapi Anti Inflamasi
Manifestasi dari rheumatic fever (termasuk karditis) biasanya merespon cepat
terhadap terapi anti inflamasi. Anti inflamasi yang menjadi lini utama adalah aspirin.
Untuk pasien dengan karditis yang buruk atau dengan gagal jantung dan
kardiomegali, obat yang dipilih adalah kortikosteroid. Kortikosteroid juga menjadi
pilihan terapi pada pasien yang tidak membaik dengan aspirin dan terus mengalami
perburukan.
Penggunaan kortikosteroid dan aspirin sebaiknya menunggu sampai diagnosis
rheumatic fever ditegakan. Pada anak-anak dosis aspirin adalah 100-125 mg/kg/hari,
setelah mencapai konsentrasi stabil selama 2 minggu, dosis dapat diturunkan menjadi
60-70 mg/kg/hari untuk 3-6 minggu. Pada pasien yang alergi terhadap aspirin bisa
digunakan naproxen 10-20 mg/kg/hari
Obat kortikosteroid yang menjadi pilihan utama adalah prednisone dengan
dosis 2 mg/kg/hari, maksimal 80 mg/hari selama 2 minggu, diberikan 1 kali sehari.
Setelah terapi 2-3 minggu dosis diturunkan 20-25% setiap minggu. Pada kondisi yang
mengancam nyawa, terapi IV methylprednisolone dengan dosis 30 mg/kg/hari.
Durasi terapi dari anti inflamasi berdasarkan respon klinis terhadap terapi
c) Terapi Gagal Jantung
Gagal jantung pada rheumatic fever umumnya merespon baik terhadap tirah
baring, restriksi cairan, dan terapi kortikosteroid, namun pada beberapa pasien
dengan gejala yang berat, terapi diuterik, ACE-inhibitor, dan digoxin bisa digunakan.
Awalnya, pasien harus melakukan diet restriksi garam ditambah dengan diuretik.
Apabila hal ini tidak efektif, bisa ditambahkan ACE Inhibitor dan atau digoxin
d) Diet dan Aktivitas
Diet pasien rheumatic heart disease harus bernutrisi dan tanpa restriksi
kecuali pada pasien gagal jantung. Pada pasien tersebut, cairan dan natrium harus
dikurangi. Suplemen kalium diperlukan apabila pasien diberikan kortikosteroid atau
diuretik.
Tirah baring sebagai terapi rheumatic fever pertama kali diperkenalkan pada
tahun 1940, namun belum diteliti lebih lanjut sejak saat itu. Pada praktek klinis
sehari-hari, kegiatan fisik harus direstriksi sampai tanda-tanda fase akut terlewati,
baru kemudian aktivitas bisa dimulai secara bertahap.
e) Terapi Operatif
Pada pasien dengan gagal jantung yang persisten atau terus mengalami
perburukan meskipun telah mendapat terapi medis yang agresif untuk penanganan
rheumatic heart disease, operasi untuk mengurangi defisiensi katup mungkin bisa
menjadi pilihan untuk menyelamatkan nyawa pasien. Pasien yang simptomatik,
dengan disfungsi ventrikel atau mengalami gangguan katup yang berat, juga
memerlukan tindakan intervensi.

G. Komplikasi
Gagal jantung dapat terjadi pada beberapa kasus. Komplikasi lainnya termasuk
aritmia jantung, pankarditis dengan efusi yang luas, pneumonitis reumatik, emboli paru,
infark, dan kelainan katup jantung serta kematian

H. Prognosis
Pasien dengan riwayat rheumatic fever berisiko tinggi mengalami
kekambuhan. Resiko kekambuhan tertinggi dalam kurun waktu 5 tahun sejak episode
awal. Semakin muda rheumatic fever terjadi, kecenderungan kambuh semakin besar.
Kekambuhan rheumatic fever secara umum mirip dengan serangan awal, namun
risiko karditis dan kerusakan katup lebih besar.
Manifestasi rheumatic fever pada 80% kasus mereda dalam 12 minggu.
Insiden RHD setelah 10 tahun adalah sebesar 34% pada pasien dengan tanpa
serangan rheumatic fever berulang, tetapi pada pasien dengan serangan rheumatic
fever yang berulang kejadian RHD meningkat menjadi 60%.
BAB III

KONSEP ASKEP

I. Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan terhadap pasien dibagi menjadi dua bagian yaitu:
Pengkajian primer (Primer assessment) dan pengkajian skunder (secondary assessment).
Data dapat diperoleh secara primer (klien) dan secara skunder (keluarga, saksi
kejadian/pengirim, tim kesehatan lain).
a. Primer assessment/primer survey:
1) Data subyektif:
 Identitas (pasien dan keluarga/penanggung jawab) meliputi: Nama,
umur,jenis kelamin, suku bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, status
perkawinan, alamat, dan hubungan pasien dengan keluarga/pengirim).
 Keluhan utama: Bagaimana pasien bisa datang ke ruang gawat darurat,
apakah pasien sadar atau tidak, datang sendiri atau dikirim oleh orang lain.
biasanya pasien dengan RHD mengeluh sesak, nyeri pada dada, lemas.
 Riwayat penyakit, meliputi waktu mengalami penyakit (hari, tanggal, jam).
(Riwayat penyakit saat ini, riwayat penyakit sebelumnya dan riwayat
penyakit keluarga)
 Riwayat alergi dan pengobatan
a) Alergi: makanan, obat-obatan, hay fever, asma
b) Riwayat ada tidaknya alergi pada keluarga
c) Pengobatan yang sedang dijalani (yang diresepkan dan tidak diresepkan
dokter); obat-obatan khusus yang dapat merubah keefektifan atau respon
perawatan seperti: obat-obatan beta blocker, tricyclic antidepressant,
hormone tiroid, beberapa antihistamin.
Data Subjektif
Data Objektif
 Breathing
Penggunaan otot bantu pernafasan , contoh : retraksi interkostal, ronchi
(+), nafas cepat dan dangkal, mendengkur.
 Blood
Hipotensi, kulit dan membrane mukosa pucat, dingin dan sianosis. Suhu
dapat meningkat
 Brain
Agitasi, gelisah, dan perubahan mental (mental lamban).
 Bowel
Diare, mual, muntah
 Bone
Nyeri pada persendian, kekuatan otot,
a) Pengkajian Sekunder
 Five Intervention / Full set of vital sign (F)
 Tanda – tanda vital : takikardi, terjadi hipotensi
 Terjadi hipoksemia, hipoksia
 Pemeriksaan Lab :
 Analisa gas darah : hipoksemia, hipokapnea, hiperkapnea.
Alkalosis respiratorik pada awal proses, akan berganti menjadi
asidosis respiratorik.
 Leukositosis (pada sepsis), Pemeriksaan laboratorium darah
 Foto rontgen menunjukkan pembesaran jantung
 Elektrokardiogram menunjukkan aritmia E
 Echokardiogram menunjukkan pembesaran jantung dan lesi
 Give comfort / Kenyamanan (G) : pain assessment (PQRST)
Adanya nyeri pada otot, seperti tertekan, terjadi pada saat bernapas.
 Head to toe (H)
Daerah kepala dan leher : mukosa pucat
Daerah dada :
 Inspeksi : penggunaan otot bantu napas, pernapasan cepat,
mendengkur, dangkal, penggunaan otot bantu pernapasan ,
pernapasan cuping hidung.
 Auskultasi : suara napas krekels dan ronchi, bunyi jantung normal
Daerah abdomen : -
Daerah ekstrimitas : sianosis.
 Insfect the posterior surface (I) : -

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen menuju paru-
paru.
2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan disfungsi miokardium.
3. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan penimbunan asam laktat pada sendi

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosa keperawatan Tujuan / kriteria hasil Intervensi
1. Pola nafas tidak efektif Setelah diberikan askep Observasi
berhubungan dengan selama 2x24 jam - Monitor pola nafas
ketidakadekuatan oksigen diharapkan pola nafas - Monitor bunyi nafas tambahan
menuju paru-paru efektif dengan kriteria - Monitor sputum
hasil : Terapeutik
 Pasien tidak sesak nafas - Pertahankan kepatenan jalan nafas
 Frekuensi pernapasan dengan head tilt dan chinlift
normal (16-24 kali - Posisikan semi fowler atau fowler
permenit) - Berikan minum hangat
- Lakukan fisioterapi dada jika perlu
- Lakukan penghisapan lendir kurang
dari 15 detik
- Lakukan hiperoksigenasi sebelum
penghisapan endotrakeal
- Keluarkan sumbatan benda padat
dengan forsep McGill
- Berikan oksigen jika perlu
Edukasi
- Anjurkan asupan cairan 2000
ml/hari jika tidak kontraindikasi
- Ajarkan Teknik batuk efektif
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
bronkodilator,ekspertoran,mukolitik
, jika perlu
2. Penurunan curah jantung Setelah diberikan askep Observasi
berhubungan dengan selama 3x24 jam diharapkan - Identifikasi tanda atau gejala primer
disfungsi miokardium curah jantung normal. penurunan curah jantung meliputi
Dengan kriteria hasil : dipsnea, kelelahan, edema, otopnea,
 pasien tidak mudah lelah paroxysmalnocturnal dipsnea,
 Pasien tidak sesak napas peningkatan cvp

 Tekanan darah normal - Identifikasi tanda gejala sekunder

yaitu sistolik penurunan curah jantung

(100-140)mmHg dan - monitor tekanan darah

diastolik (60-90)mmHg - monitor intake dan output cairan

 Nadi normal (60-100 kali - monitor bb setiap hari pada waktu

permenit) yang sama

 Tidak ada sianosis - monitor saturasi oksigen


- monitor keluhan nyeri dada
 Tidak ada edema
- monitor EKG 12 sadapan
- monitor nilai laboratorium jantung
Terapeutik
- posisikan pasien semifowler atau
fowler dengan kaki kebawah atau
posisi nyaman
- berikan diet jantung yang sesuai
- fasilitasi pasien dan keluarga untuk
modifikasi gaya hidup sehat
- berikan terapi relaksasi untuk
mengurangi stress jika perlu
- berikan dukungan emosional dan
spiritual
- berikan oksigen untuk
mempertahankan saturasi oksigen >
94 %
Edukasi
- anjurkan beraktivitas sesuai
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
RHD adalah penyakit jantung sebagai akibat adanya gejala sisa (sekuele) dari demam
rematik, yang ditandai dengan terjadinya cacat katup jantung. Definisi lain juga
mengatakan RHD adalah hasil dari demam rematik yang merupakan suatu kondisi yang
dapat terjadi 2-3 minggu setelah infeksi streptococcus beta hemolyticus grup A pada
saluran nafas bagian atas (Underwood J.C.E, 2000).
B. SARAN

DAFTAR PUSTAKA

[Link]
PPNI (2016). Standar diagnosis keperawatan Indonesia : definisi dan indokator diagnostic , edisi
1 jakarta DPP PPNI

PPNI (2018) standar intervensi keperawatan Indonesia : definisi dan Tindakan keperawatan,
edisi 1. Jakarta : DPP PPNI

PPNI (2018) standar luaran keperawatan Indonesia : definisi dan kriteria hasil keperawatan, edisi
1 jakarta : Jakarta : DPP PPNI

Anda mungkin juga menyukai