0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan7 halaman

Kembali ke Masa Lalu: Wei Wuxian

Dokumen tersebut merupakan prolog dari sebuah novel yang menceritakan karakter Wei Wuxian yang dikirim kembali ke masa lalunya setelah meninggal dunia. Ia kembali ke tubuh anak-anaknya dan bertemu dengan roh yang dapat membaca pikirannya. Wei Wuxian bingung dengan nasibnya yang dikirim kembali ke masa lalu.

Diunggah oleh

Muh. Fauzhal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan7 halaman

Kembali ke Masa Lalu: Wei Wuxian

Dokumen tersebut merupakan prolog dari sebuah novel yang menceritakan karakter Wei Wuxian yang dikirim kembali ke masa lalunya setelah meninggal dunia. Ia kembali ke tubuh anak-anaknya dan bertemu dengan roh yang dapat membaca pikirannya. Wei Wuxian bingung dengan nasibnya yang dikirim kembali ke masa lalu.

Diunggah oleh

Muh. Fauzhal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROLOG

Saat dia memilih untuk berjalan di atas jembatan papan tunggal di sungai sempit
nan gelap, Wei Wuxian sudah tahu bahwa pada akhirnya dia harus membayar atas
jalan yang dia pilih. Ia rela melepaskan segalanya atas nama keadilan dan
membela yang benar serta hidup tanpa penyesalan.

Akan tetapi, Wei Wuxian tidak menyangka bahwa jalan yang harus ia lalui pada
akhirnya akan membawa ia pada kenyataan bahwa apa yang dilakukannya hanya
akan membawa kesia-siaan bagi dirinya dan bagi orang-orang yang ia bela..

Saat ini, Wei Wuxian bergelantungan di tepi tebing dengan hanya Lan Wangji
yang menahannya agar ia tidak jatuh.

“Wei Ying!” teriak Lan Wangji yang menujukkan lebih banyak emosi daripada
sebelumnya.

“Lan Zhan, lepaskan aku dan biarkan aku pergi,” ucap Wei Wuxian sambil
mengehela nafas dan mecoba untuk tetap tersenyum.

“Tolong jangan pergi, Wei Ying … Tolong”

“Maaf Lan Zhan, aku lelah. Aku hanya ingin hidup damai di Burial Mounds, tapi
mengapa semua orang tak membiarkan aku hidup dalam ketenangan. Aku lelah,
Lan Zhan,” keluh Wei Wuxian.

Ia selalu merasa bersalah atas pembakar Lotus Pier. Sungguh bodoh!!!


Dan saat ini pula, ia tahu bahwa tanpa dia menyelamatkan MianMian, Jin Zixuan
dan Lan Wangji di Gua Xuanwu, Wens tetap akan mencari alasan untuk
membakar Dermaga Teratai.
Sekarang Wei Wuxian sudah tahu juga bahwa selama ini ia berfikiran naif. Ia
selalu merasa berhutang atas kehidupannya di jalanan Yiling yang diselamatkan
oleh Jiang Fengmian. Ia berterima kasih atas hutang tersebut, tapi apakah layak ia
harus mendapatkan cambukan dan kepahitan dari Nyonya Yu, Yu Ziyuan, atas
kecemburuannya yang tak berdasar kepada orangtuanya yang telah lama
meninggal. Kecemburuan yang ia lampiaskan kepada anak tak bersalah? Dan
bahkan selama ini? Ia menjadi murid utama YunmengJiang dan melakukan
segalanya yang terbaik untuk melaksanakan tanggungjawabnya dan ia tetap akan
mendapat kritikan oleh Yu Ziyuan dengan alasan putanya sendiri, Jiang Cheng
kalah olehnya. Bahkan ketika ia harus menyembunyikan bakatnya, ia tetap
mendapat omelan. Sungguh ironi!! Apa pun yang dilakukannya tetap salah di
mata Nyonya Yu.

Mereka (Nyonya Yu dan Jaing Cheng) selalu berpendapat bahwa ia adalah anak
favorit Jiang Fengmian. Padahal mereka sama sekali salah akan hal tesebut. Ia
dibiarkan bebas untuk melakukan sesuatu karena ia merupakan murid utama dari
sekte YunmengJiang dan ia selalu berpegang teguh atas motto “Lakukan Hal
Yang Mustahil”. Dan juga mengapa JiangFengian harus bersikap tegas kepada
Wei Wuxian yang pada akhirnya ia tetap seorang murid utama yang dapat diganti
kapan pun saja. Sedangkan Jiang Fengmmian tegas terhadap putranya, Jiang
Cheng, karena bagaimana pun Jiang Cheng adalah pewaris sekte.

Apakah ketika ia mendapat perlakuan tidak adil, Jiang Fengmian akan melakukan
sesuatu untuk meregangkan masalah yang terjadi? Tidak! Jiang Fengian tidak
membantah rumor yang beredar bahwa ia adalah anak haramnya. Ia tutup mata
atas perlakuan istirnya. Apakah Jiang Fengmian tidak membelanya karena takut
akan membuat masalah yang lebih besar? Entahlah …

Di sisi lain, Jiang Cheng, saudara sesumpahnya, teman pertamanya, ia sealu


menyalahkan Wei Wuxian atas kegagalan pernikahan orangtuanya, ia
menyalahkannya atas pembakaran dermaga teratai.
Jiang Cheng awalnya mendukung kultivasi iblisnya, dan Wei Wuxian sungguh
berterima kasih atas kepercayaan saudaranya. Sungguh Bodoh!!! Sekarang ia tahu
bahwa Jiang Cheng mendukungnya karena ia membutuhkan Wei Wuxian untuk
perang melawan Sekte QishanWen dan setelah ia tidak lagi berguna, ia akan
berpaling. Ia persis sama dengan orang-orang di luaran sana, ketika ia berperang
melawan Qishan Wen, ia dielu-elukan sebagai pahlawan perang dan ketika
kekuatannya terlalu besar dan ditakuti oleh orang lain, ia akan disebut mosnter.

Ia tak pernah menyesal memberikan Inti Emasnya kepada Jiang Cheng dan tak
pernah meminta balasan atas kebaikannya. Tapi mengapa Jiang Cheng begitu buta
terhadap Wen bersaudara? Bahkan tanpa mengetahui masalah transpalantasi Inti
Emas, Jiang Cheng tetap berhutang budi kepada Wen Bersaudara atas
kebaikannya membawa jazad orangtuanya dan menyembunyikannya ketika
meraka menjadi buronan Qishan Wen. Tapi ia dibutakan oleh dendam pribadi dan
menunut balas terhadap orang-orang tak bersalah.

Sekarang ia pun sadar bahwa saudari terkasihnya, Jiang Yanli pun melakukan
kesalahan. Meski selalu merperlakukannya seperti saudara dalam darah, ia tetap
meikah dengan Jin Zixuan, padahal ia sudah tahu bahwa sifat keserakahan sang
ayah mertua, Jin GuangShan. Jiang Yanli sebenarnya dapat membantu Wei
Wuxian sebab ia dekat dengan ibu mertuanya, Nyonya Jin yang diyanikini
memiliki kekuasaan lebih dari suaminya di Sekte LanlingJin. Tapi apakah ia
melakukan sesuatu untuk membantu Wei Wuxian??? Tidak …

……

“Wei Wuxian!!!!”
Wei Wuxian mendengar teriakan amarah dan ia tahu bahwa itu adalah suara dari
Jiang Cheng. Dan ia melihat Jiang Cheng mendekatinya dan mengangkat
pedangnya lalu ia memasukkan pedangnya ke dalam batu.

“Wei Wuxian! Pergilah ke neraka!!” teriak Jiang Cheng

Ketika Wei Wuxian menyadari hal ini, ia meronta untuk melepaskan tangan Jiang
Cheng, karena jika tidak, ia tahu bahwa Lan Wangji akan binasa bersamnya. Dan
hal itu akan menjadi penyesalan terbesar Wei Wuxian untuk menyeret Lan Wangji
bersamanya dalam kematian. Ia sudah cukup berterima kasih atas kebaikan Lan
Wangji dalam membelanya di saat semua orang berpaling padanya.

Ketika Wei Wuxian jatuh, ia perlahan menutup matanya sambil menghela nafas
dan bergumam, “Setidaknya ini sudah berakhir”.

Hingga ia menyadari bahwa ia akan memulai kembali kehidupannya mulai dari


awal. Dan pilihan akan ada di tangannya.
CHAPTER 1

Suatu hari di musim dingin, kota Yiling, kota yag disebut Kota Hantu
sebagaimmana Kota Yi yang disebut Kota Peti Mati, muncul sebua fenomena
aneh di mana gelombang energi kebencian dan energi spritual meledak dari
berbagai sudut kota yang menimbulkan gempa sehingga membuat para warga
terbangun.

“Apa-apaan ini? Mengapa energi kebencian muncul dalam jumlah besar lalu
menghilang tiba-tiba?”

“Tidak … Ini bukan hanya energi kebencian. Energi spritual pun semakin
melinpah seakan mengimbangi energi kebencian yang ada”

Berbagai reaksi warga bermunculan seiring waktu, tapi tak ada yang mengetaui
bahwa Yiling Patriach dikirim kembali ke tubuh lamanya, tubuh di mana ia baru
berumur sekitar 4 tahun, tepat beberapa saat orangtuanya meninggal dalam
perburuan malam.

“Wei Ying. Kamu dimana?”

“….”

“Roh, apakah kalian tahu dimana jiwa Wei Ying berada?”

“…”

“Wei Ying, kumohon kembalilah … Aku mencintaimu … Maaf gagal


melindungimu”

“Siapa?!!!”
“Lan Zhan!” Suara teriakan yang tajam menggema di langit burial mounds hingga
membuat burung gagak yang hinggap di bambu hitam berterbangan ke segala
arah.

Kepala Wei Wuxian berputar-putar, dadanya yang amat teramat sakit seolah
paru-parunya baru saja tertimpa batu besar dan seluruh badannya yang terasa
remuk membuat Wei Wuxian bingung apakah ia benar-benar mati atau masih
hidup.

“Apakah aku mati atau masih hidup? Mengapa hingga ke kematian pun, aku
masih harus mengalami kesakitan?”

Wei Wuxian pun mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi apa yang ia dapat
sungguh mencengangkan. Tangan yang ia coba gerakkan adalah tangan seorang
anak kecil bukan tangan orang dewasa.

“Hahahaha. Apakah aku kembali ke masa aku masih kecil?”

Tak cukup untuk mengecek tangannya, ia pun mengecek seluruh tubuhnya dan
kenyataanya ia kembali ke masa ia kecil dahulu. Ia pun melihat sekitar, dan ia
tahu di mmana sekarang ia berada, yakni ia berada di burial mounds.

Wei Wuxian pun tak tahu harus ketawa, sedih atau gembira akan hal ini. Ia
kembali ke masa lalu di mana ia baru berusia 4 tahun. Di mana ia harus
mengikhlaskan orangtuanya telah pergi untuk selamanya dan di mana ia harus
mengalami trauma akibat berebut makanan dengan anjing di jalanan Yiling.

Wei Wuxian juga sempat berfikir apakah ini adalah kesempatan kedua di mana ia
dapat mengubah segalanya atau ini merupakan tanda bawa surga benar-benar
membencinya hingga ia harus terlempar ke masa lalu?
“Hahahhahaha” Wei Wuxian terus tertawa sedih meratapi nasibnya.

“Apakah kau sudah selesai teratwa, Nak?” sebuah suara muncul menggangu
pendengarannya.

Ia pun menoleh ke arah sumber suara hingga didapatinya seorang pria muda yang
mungkin berusia dua puluhan yang mengenakan jubah perak yang senada dengan
warna rambutnya. Tidak! Pria tersebut bukanlah manusia, ia merupakan roh,
karena bila diperhatikan secara saksama, maka dapat dilihat bahhwa entitas
tersebut berwujud transparan.

“Kau benar, Nak. Aku hanyalah percahan roh atau jiwa atau dengan kata lain aku
telah mati”

‘Ia dapat membaca pikiran ku? Dan kalau ia sudah mati, apakah aku pun telah
mati?’

“Hahah. Kau benar, Nak. Aku bisa bisa membaca pikiran mu dan untuk soal
kematian, kau belum mati sama sekali,” jawab pria tersebut.

Anda mungkin juga menyukai