0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan37 halaman

Pemetaan Geologi Karangsambung Kebumen

Proposal ini membahas rencana pemetaan geologi di daerah Karangsambung dan sekitarnya, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Pemetaan akan dilaksanakan selama 1 bulan untuk mengumpulkan data lapangan mengenai litologi, stratigrafi, dan struktur geologi di area seluas 16 km2 tersebut. Hasilnya berupa peta geologi yang menggambarkan penyebaran batuan dan sejarah pembentukan daerah tersebut.

Diunggah oleh

Kafi Akbar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan37 halaman

Pemetaan Geologi Karangsambung Kebumen

Proposal ini membahas rencana pemetaan geologi di daerah Karangsambung dan sekitarnya, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Pemetaan akan dilaksanakan selama 1 bulan untuk mengumpulkan data lapangan mengenai litologi, stratigrafi, dan struktur geologi di area seluas 16 km2 tersebut. Hasilnya berupa peta geologi yang menggambarkan penyebaran batuan dan sejarah pembentukan daerah tersebut.

Diunggah oleh

Kafi Akbar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

GEOLOGI DAERAH KARANGSAMBUNG DAN SEKITARNYA,

KECAMATAN KARANGSAMBUNG, KABUPATEN


KEBUMEN, PROVINSI JAWA TENGAH

PROPOSAL PEMETAAN

Disusun Oleh :

KAFI AKBAR
072001600018

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI
UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA

2020

1
LEMBAR PENGESAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA

GEOLOGI DAERAH KARANGSAMBUNG DAN SEKITARNYA,


KECAMATAN KARANGSAMBUNG, KABUPATEN KEBUMEN,
PROVINSI JAWA TENGAH

PROPOSAL PEMETAAN

Penyusun :

KAFI AKBAR

072001600018

Disahkan Oleh :

Koordinator Lapangan Blok I Dosen Pembimbing

Muhammad Adimas [Link]. [Link] Dwi Nuryana [Link].


NIK: 3539/USAKTI NIK: 2959/USAKTI

2
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya
kepada penulis, sehingga dapat terselesaikannya proposal pemetaan tepat pada waktunya.
Laporan ini memiliki judul “GEOLOGI DAERAH KARANGSAMBUNG DAN
SEKITARNYA, KECAMATAN KARANGSAMBUNG, KABUPATEN KEBUMEN,
PROVINSI JAWA TENGAH”. Laporan ini membahas serta mengkaji ulang
permasalahan yang berkaitan dengan geomorfologi, susunan stratigrafi litologi, proses
sedimentasi, struktur geologi dan aspek geologinya.
Dalam pembuatan proposal pemetaan ini, tentunya penulis tidak lepas dari
bantuan dosen pembimbing, asisten pemetaan dan teman-teman Geologi Trisakti lainnya.
Penulis juga tidak luput dari kekurangan dan kesalahan baik dalam penulisan serta
penyusunan laporan penelitian ini. Oleh karena itu, dibutuhkannya suatu kritikan dan
saran yang membangun sehingga dapat membantu dalam penyusunan proposal pemetaan
dikemudian hari.
Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, semoga apa yang ditulis penulis
dalam proposal ini dapat berguna bagi orang lain dikemudian hari.

Jakarta, 27 Desember 2020

Penulis

3
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. 2


KATA PENGANTAR ......................................................................................... 3
DAFTAR ISI ....................................................................................................... 4
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 5
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 5
1.2 Maksud dan Tujuan .................................................................................... 6
1.3 Waktu dan Lokasi Penelitian ...................................................................... 6
1.4 Peneliti Terdahulu .................................................................................... 10
1.5 Metodologi Penelitian ............................................................................... 10
1.6 Diagram Alir Penelitian ............................................................................ 12
BAB II GEOMORFOLOGI REGIONAL .......................................................... 12
2.1 Fisiografi Regional ................................................................................... 13
2.2 Geomorfologi Regional ............................................................................ 17
Kelas Relief.................................................................................................... 19
2.3 Geomorfologi Daerah Penelitian ............................................................... 22
BAB III STRATIGRAFI REGIONAL ............................................................... 24
3.1 Stratigrafi Regional .................................................................................. 25
3.1.1 Lembar Kebumen. .............................................................................. 25
3.2 Stratigrafi Daerah Penelitian ..................................................................... 29
3.2.1 Lembar Kebumen ............................................................................... 29
BAB IV STRUKTUR GEOLOGI ...................................................................... 31
4.1 Struktur Geologi Regional ........................................................................ 31
4.2 Struktur Geologi Daerah Penelitian........................................................... 32
BAB V TATA PELAKSANAAN DAN RENCANA KERJA ............................ 34
5.1 Rencana Lintasan ..................................................................................... 34
5.2 Tata Waktu Pelaksanaan ........................................................................... 36
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 37

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Geologi merupakan studi atau ilmu kajian yang mempelajari mengenai
pembentukan bumi, mulai dari proses-proses pembentukan bumi, faktor-faktor
yang mempengaruhi dan hasil daripada proses-proses yang terjadi pada bumi.
Ilmu tentang bumi tersebut dapat diterapkan dalam bidang sains dan teknologi,
sehingga seluruh aspek yang berpengaruh dalam bidang tersebut dapat
memberikan suatu gambaran atau informasi. Oleh karena itu, peran dari para ahli
geologist sangat dibutuhkan dalam menganalisis fenomena-fenomena alam yang
terjadi pada bumi ataupun suatu daerah.
Aspek data yang berupa informasi yang berpengaruh pada suatu daerah
haruslah bersifat detail khususnya mencakup kondisi litologi, sedimen stratigrafi,
geomorfologi, struktur geologi dan aspek-aspek geologi lainnya. Untuk
mendapatkan hasil-hasil tersebut maka dari itu dibutuhkan suatu kegitan geologi
yakni pemetaan geologi. Pemetaan geologi adalah suatu kegitan pengambilan
data-data geologi permukaan/surface yang nantinya akan menghasilkan informasi
dalam bentuk laporan berupa peta geologi. Peta geologi nantinya akan
memberikan gambaran berupa penyebaran dan stratigrafi batuan, serta memuat
informasi struktur-struktur geologi yang kemungkinan besar mempengaruhi pola
penyebaran dan susunan litologi pada daerah tersebut.
Pemetaan geologi dilakukan pada daerah Kebumen yang memiliki tatanan
geologi yang unik, seperti patahan, perlipatan dan juga memiliki potensi seperti
pemanfaatan
Program pemetaan geologi ini adalah suatu wadah untuk mengimplementasikan
ilmu teori geologi dilapangan yang sudah didapat selama perkuliahan
berlangsung.

5
1.2 Maksud dan Tujuan
Pemetaan geologi daerah Kebumen dan sekitarnya, Kecamatan
Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah ini memiliki
maksud untuk mengetahui, mempelajari serta menganalisa kondisi geologi secara
menyeluruh pada daerah pemetaan sesuai dengan disiplin ilmu geologi yang
didapat selama perkuliahan.
Adapun tujuan dari pemetaan geologi ini adalah untuk mengetahui
penyebaran satuan batuan, proses sedimentasi, serta struktur geologi daerah
pemetaan sehingga nantinya dapat menyusun stratigrafi daerah pemetaan dan
sejarah geologi yang dimuat dalam peta geologi.

1.3 Waktu dan Lokasi Penelitian


Kegiatan pemetaan ini dilakukan pada tanggal 27 Januari – 27 Februari
2020, yang terletak didaerah Karangsambung dan sekitarnya, Kecamatan
Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis
daerah ini terletak pada 109o 40’ 12” – 109o 43’ 12” BT dan 07o 34’ 12” – 07o36’
36” LS (Gambar 1.1) Lokasi Penelitian (Google Earth, 24 Juni 2019, 00.47 WIB.
Secara administratif daerah pemetaan terletak di Provinsi Jawa Tengah,
Kabupaten Kebumen, Kecamatan Karangsambung,Karanggayam dan Aihan, yang
meliputi desa Karangrejo, Langse, Kalisana, Kaligending dan desa Kedungwaru.
Luas daerah pemetaan sekitar 16 km2 , dengan ukuran 4 km x 4 km. Daerah
pemetaan kelompok 4 ini dibagi menjadi 4 (empat) kavling, yang memiliki
koordinat sebagai berikut Tabel (1.1) Dengan daerah penelitian pada lokasi
pengamatan sebagai berikut (Gambar 1.2) Peta lokasi pengamatan daerah
penelitian.

6
Tabel 1.1 Koordinat Kavling Kelompok 4

7
Gambar 1.1 Lokasi Penelitian109o 40’ 12” – 109o 43’ 12” BT dan 07o 34’ 12” –
07o36’ 36” LS (Google Earth, 24 Juni 2019, 00.47 WIB)

8
Gambar 1.2 Peta Lokasi pengamatan daerah penelitian

9
1.4 Peneliti Terdahulu
Studi pustaka pada daerah pemetaan diambil dari para peneliti terdahulu
seperti peta regional, guna mengetahui arah penyebaran batuan, stratigrafi dan
struktur geologi secara regional, yang digunakan sebagai dasar untuk interpretasi
peta geomorfologi. Pada daerah pemetaan digunakan peta geologi Lembar
Kebumen. Kondisi geologi daerah pemetaan ini telah dipelajari oleh para peneliti
terutama dalam tatanan tektonik dan stratigrafinya, antara lain :
I. Van Bemmelen, (1949), Zona Fisiografi Jawa Bagian Tengah.
II. Prof. Katili, (1980), Geotectonics of Indonesia Modern View.
III. Asikin S., (1987), Geologi Struktur Indonesia berdasarkan tektonik
regional Pulau Jawa.
IV. Peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa oleh, S. Asikin, A. Handoyo,
H. Busono dan S. Gafoer,1992.

1.5 Metodologi Penelitian


Metode penelitian terdiri dari empat tahap, yaitu : perencanaan,
pengambilan data, pengolahan data, dan penyusunan laporan. Peta dasar yang
digunakan dalam pemetaan berskala 1 : 12.500
I. Tahap Perencanaan :
 Menganalisa data studi literatur para peneliti terdahulu
mengenai daerah pemetaan,
 Perencanaan pembuatan lintasan lokasi pengamatan
berdasarkan tingkat efektifitas dan efisiensi dilapangan,
serta studi literatur yang sudah ada.
II. Tahap Pengambilan Data :
 Penentuan lokasi pengamatan dan plotting pada peta
topografi,

10
 Penggambaran sketsa dan pengukuran pada lokasi
pengamatan (singkapan) baik itu strike dip maupun struktur
geologi, serta pencatatan data pada buku catatan lapangan,
 Pengambilan foto singkapan batuan yang disertai benda
pembanding,
 Serta pengambilan sample batuan.
III. Tahap Pengolahan Data :
 Menganalisa fosil untuk menentukan susunan stratigrafi
batuan,
 Analisa petrografi untuk menentukan nama batuan,
 Dan analisa data struktur.
IV. Tahap Penyusunan Laporan :
Pada tahap ini penyusunan laporan didasarkan pada data-data
yang sudah diamati dan dianalisa yang kemudian dikorelasikan dengan
data peneliti terdahulu sehingga menghasilkan suatu interpretasi dalam
bentuk laporan geologi, seperti peta geologi dan peta geomorfologi.

11
1.6 Diagram Alir Penelitian

Data Sekunder

12
BAB II
GEOMORFOLOGI REGIONAL

2.1 Fisiografi Regional


Menurut Van Bemmelen (1949), Pegunungan di Jawa Tengah terbentuk
oleh dua puncak geantiklin yaitu Pegunungan Serayu Utara dan Pegunungan
Serayu Selatan. Pegunungan Serayu Utara merupakan garis penghubung antara
Zona Bogor di Jawa Barat dengan Pegunungan Kendeng di Jawa Tengah.
Sementara Pegunungan Serayu Selatan merupakan elemen yang muncul dari Zona
Depresi Bandung yang membujur di Jawa Barat yang membentang dari barat ke
timur, yang terdiri dari Lembah Jatilawang yang termasuk dalam Zona Depresi
Tengah. Pada gambar sebagai berikut (Gambar 2.1) Pembagain Zona Jawa Tengah
dan Zona Jawa Timur (Van Bemmelen, 1949)

13
Daerah Penelitian

Gambar 2.1 Pembagain Zona Jawa Tengah dan Zona Jawa Timur
(Van Bemmelen, 1949)

14
Berdasarkan kondisi litologi penyusun, pola struktur dan morfologi yang
ditunjukkan oleh Van Bemmelen (1949), secara fisiografis daerah Jawa Tengah
dan Jawa Timur dibagi menjadi tujuh zona dari utara ke selatan antara lain sebagai
berikut :

1. Zona Dataran Aluvial Pantai Utara Jawa


Zona Dataran Aluvial Pantai Utara Jawa bagian barat membentang
dari sekitar Teluk Bantam sampai ke Cirebon dan di Jawa Tengah
membentang dari timur Cirebon sampai ke Pekalongan.
2. Zona Depresi Semarang – Rembang
Depresi Semarang – Rembang merupakan dataran yang berada
diantara Semarang dan Rembang.
3. Zona Rembang
Zona Rembang dibagian utara dibatasi oleh Paparan Laut Jawa
Utara ke arah selatan berhubungan dengan Depresi Randublatung
yang dibatasi oleh Sesar Kujung, ke arah barat berhubungan
dengan Depresi Semarang – Pati, dan ke arah timur berhubungan
dengan bagian utara Pulau Madura. Jalur dari Zona Rembang ini
terdiri dari pegunungan lipatan berbentuk anticlinorium yang
memanjang ke arah barat – timur dari Purwodadi, Blora, Jatirogo,
Tuban, sampai dengan Pulau Madura.
4. Zona Depresi Randublatung
Zona Depresi Randublatung merupakan daerah lembah dengan
bagian tengah memanjang dari barat – timur. Zona ini juga yang
memisahkan Zona Kendeng dan Zona Rembang.

15
5. Zona Kendeng
Menurut Genevraye dan Samuel (1972), membagi Zona Kendeng
berdasarkan fisiografi menjadi tiga bagian utama, yaitu :
1) Bagian barat, antara Ungaran dan Purwodadi, yang tersusun
atas Formasi Pelang (bagian bawah) dan Formasi Pucangan
(bagian atas).
2) Bagian tengah, antara Purwodadi dan Gunung Pandan,
yang tersusun atas Formasi Kerek (bagian bawah) dan
material gunung api Formasi Kerek Anggota Sentul (bagian
atas).
3) Bagian timur, Antiklinorium yang terlihat antara Gunung
Pandan yang menuju ke arah timur.
6. Zona Depresi Tengah / Solo
Zona Depresi Tengah tersusun oleh endapan kuarter dan ditempati
oleh Gunungapi Kuarter. Zona Solo dibedakan menjadi tiga sub-
zona, yaitu :
1) Sub – Zona Blitar
2) Sub – Zona Solo
3) Sub – Zona Ngawi
7. Zona Pegunungan Selatan
Zona Pegunungan Selatan Jawa terbentang dari wilayah Jawa
Tengah yang berada di selatan Yogyakarta dengan lebar kurang
lebih 55 km. Zona ini membentang hingga Jawa Timur dengan
lebar kurang lebih 25 km yang berada di selatan Blitar. Zona
Pegunungan Selata dipisahkan menjadi tiga sub – zona, yaitu :
1) Sub – Zona Baturagung
2) Sub – Zona Wonosari
3) Sub – Zona Gunung Sewu

16
2.2 Geomorfologi Regional
Geomorfologi Regional merupakan pembahasan morfologi pemetaan yang
didapat dari interpretasi pada peta geologi regional dengan aspek-aspek tertentu.
Aspek-aspek tersebut haruslah mencerminkan geologi yang terkandung di dalam
peta geomorfologi, sehingga memiliki suatu hubungan yang jelas antara satuan
bentuk lahan pada peta geomorfologi dengan aspek geologi pada peta geologi.
Pembahasan geomorfologi yang perlu ditonjolkan untuk kepentingan geologi
terutama pendekatan morfografi, morfogenetik (genetik), dan morfometri
(deskriptif) yang mempengaruhi satuan bentuk lahan untuk dijadikan landasan
menerangkan kondisi-kondisi geologi.
Pengklasifikasian terhadap satuan bentang alam daerah pemetaan
dilakukan dengan mengacu pada parameter morfometri (deskriptif) oleh Van
Zuidam, (1985) dan morfogenetik (genetik) oleh Van Zuidam, (1983). Pada tabel
sebagai berikut Tabel (2.1), Ukuran Kemiringan Lereng (Van Zuidam, 1985)
Tabel (2.2), Hubungan Ketinggian Absolute dengan Morfografi (Van Zuidam,
1985)Tabel (2.3) Hubungan Kelas Relief, Kemiringan Lereng dan Perbedaan
Ketinggian (Van Zuidam, 1985) Tabel (2.4) Hubungan Kelas Relief, Kemiringan Lereng
dan Perbedaan Ketinggian (Van Zuidam, 1985)
Kegiatan erosi dan tektonik yang menghasilkan bentuk – bentuk lembah
sebagai tempat pengaliran air, selanjutnya akan membentuk pola – pola tertentu
yang disebut sebagai pola aliran. Pola aliran ini sangat berhubungan dengan jenis
batuan, struktur geologi, kondisi erosi, dan sejarah bentuk bumi. Sistem
pengaliran yang berkembang pada permukaan bumi secara regional dikontrol oleh
kemiringan lereng, jenis batuan, ketebalan lapisan batuan, struktur geologi, jenis
dan kerapatan vegetasi serta iklim. Sistem pengaliran ini nantinya akan
menentukan stadia sungai yang ditentukan berdasarkan pengaruh proses
geomorfologi yang spesifik pada daerah pemetaan. Pengklasifikasian pola aliran
dan stadia sungai terhadap daerah pemetaan menggunakan klasifikasi Van
Zuidam, (1985) dan Verstappen, (1977). Pada tabel sebagai berikut. Tabel (2.5)
Pola Pengaliran dan Karakteristiknya (Van Zuidam, 1985) Tabel (2.6) Klasifikasi
Stadia Sungai (Verstappen, 1977)

17
Tabel 2.1 Ukuran Kemiringan Lereng (Van Zuidam, 1985)

KEMIRINGAN KETERANGAN KLASIFIKASI KLASIFIKASI


LERENG USSSM* (%) USLE** (%)

0-2 Datar - Hampir 0-2 1-2


datar
Lereng sangat
3-7 landai 2-6 2-7

8 - 13 Lereng landai 6 - 13 7 - 12

14 - 20 Lereng agak curam 13 - 25 12 - 18

21 - 55 Lereng curam 25 - 55 18 - 24

Lereng sangat
56 - 140 curam > 55 > 24

* USSSM = United state soil System Management


**USLE = Universal Soil Loss Equation (Wischmeir, 1967).

Tabel 2.2 Hubungan Ketinggian Absolute dengan Morfografi (Van Zuidam, 1985)

Ketinggian Absolute (m) Unsur Morfografi


< 50 Dataran Rendah
50 – 100 Dataran Rendah Pedalaman
100 – 200 Perbukitan Rendah
200 – 500 Perbukitan
500 – 1.500 Perbukitan Tinggi
1.500 – 3.000 Pegunungan
> 3.000 Pegunungan Tinggi

18
Tabel 2.3 Hubungan Kelas Relief, Kemiringan Lereng dan Perbedaan Ketinggian (Van
Zuidam, 1985)
Kelas Relief Kemiringan Perbedaan
Lereng (%) Ketinggian (m)
Datar/Hampir Datar 0–2 <5
Bergelombang/Miring Landai 3–7 5 - 50
Bergelombang/Miring 8 – 13 25 - 75
Bergelombang – Bukit 14 – 20 75 - 200
Berbukit Tersayat Tajam/Terjal 21 - 55 200 - 500
Berbukit Tersayat Tajam/Sangat 55 - 140 500 - 1000
Terjal
Pegunungan Curam > 140 > 1000

Tabel 2.4 Satuan Geomorfologi Berdasarkan Aspek Genetik, (Van Zuidam, 1983)
No Kelas Genetik Simbol Warna
1 Bentuklahan asal struktural Ungu / violet
2 Bentuklahan asal gunungapi Merah
3 Bentuklahan asal denudasional Coklat
4 Bentuklahan asal laut (marine) Hijau
5 Bentuklahan asal sungai (fluvial) Biru tua
6 Bentuklahan asal glasial (es) Biru muda
7 Bentuklahan asal aeolian (angin) Kuning
8 Bentuklahan asal karst (gamping) Jingga (orange)

19
Tabel 2.5 Pola Pengaliran dan Karakteristiknya (Van Zuidam, 1985)

POLA PENGALIRAN DASAR KARAKTERISTIK


Perlapisan batuan sedimen relatif datar atau
paket batuan kristalin yang tidak seragam dan
memiliki ketahanan terhadap pelapukan. Secara
DENDRITIK regional daerah aliran memiliki kemiringan
landai, jenis pola pengaliran membentuk
percabangan menyebar seperti pohon rindang.
Pada umumnya menunjukkan daerah yang
berlereng sedang sampai agak curam dan dapat
ditemukan pula pada daerah bentuklahan
perbukitan yang memanjang. Sering terjadi
PARALEL pola peralihan antara pola dendritik dengan
pola paralel atau tralis. Bentuklahan perbukitan
yang memanjang dengan pola pengaliran
paralel mencerminkan perbukitan tersebut
dipengaruhi oleh perlipatan.
Baruan sedimen yang memiliki kemiringan
perlapisan (dip) atau terlipat, batuan vulkanik
atau batuan metasedimen derajat rendah dengan
TRALLIS perbedaan pelapukan yang jelas. Jenis pola
pengaliran biasanya berhadapan pada sisi
sepanjang aliran subsekuen.
Kekar dan / atau sesar yang memiliki sudut
REKTANGULAR kemiringan, tidak memiliki perulangan lapisan
batuan dan sering memperlihatkan pola
pengaliran yang tidak menerus.
Daerah vulkanik, kerucut (kubah) intrusi dan
sisa - sisa erosi. Pola pengaliran radial pada
daerah vulkanik disebut sebagai pola
pengaliran multi radial.
RADIAL Catatan : pola pengaliran radial memiliki dua
sistem yaitu sistem sentrifugal (menyebar ke
luar dari titik pusat), berarti bahwa daerah
tersebut berbentuk kubah atau kerucut,
sedangkan sistem sentripetal (menyebar kearah
titik pusat) memiliki arti bahwa daerah tersebut
berbentuk cekungan.
ANULAR Struktur kubah / kerucut, cekungan dan
kemungkinan retas (stocks).
Endapan berupa gumuk hasil longsoran dengan
MULTIBASINAL perbedaan penggerusan atau perataan batuan
dasar, merupakan daerah gerakan tanah,
vulkanisme, pelarutan gamping dan lelehan
salju (permafrost).

20
Tabel 2.6 Klasifikasi Stadia Sungai (Verstappen, 1977)

Parameter Stadia Daerah


Muda Dewasa Tua
Stadia Sungai Muda Muda – Dewasa Tua
Relief Sedikit – Maksimum Hampir Datar
Bergelombang
Bentuk Penampang Lembah U–V V U – Datar
Bentang alam Bentang alam Bentang
umumnya bergelombang alamnya datar
datar sampai sampai
bergelombang maksimum
Kenampakan Lain Tidak ada Mulai ada Hasil proses
Gawir Gawir pengendapan
Relatif Kecil Relatif sedang – Tidak ada relief
maksimum
V V–U U – Datar

21
2.3 Geomorfologi Daerah Penelitian
Geomorfologi daerah penelitian, berdasarkan Van Zuidam, 1985 terbagi
menjadi dua satuan geomorfologi, yaitu Satuan Geomorfologi Perbukitan
Bergelombang Struktural, dan Satuan Geomorfologi Perbukitan Tersayat Tajam
Struktural. Satuan Geomorfologi Perbukitan Bergelombang Struktural memiliki
kemiringan lereng berkisar 14% - 20%, dan juga Satuan Geomorfologi Perbukitan
Tersayat Tajam Struktural memiliki lereng berkisar 21 - 55%. Pada gambar
sebagai berikut. (Gambar 2.2) Peta geomorfologi daerah penelitian (Berdasarkan
klasifikasi Van Zuidam)
Berdasarkan penafsiran secara regional, penentuan pola aliran dan stadia
sungai daerah penelitian berdasarkan Verstappen, (1977) termasuk kedalam pola
aliran dendritik dan stadia sungai daerah dewasa (V – U). Pola aliran dendritik
adalah pola aliran yang cabang- cabang sungainya menyerupai struktur pohon,
dan pada umumnya pola aliran sungai dendritik dikontrol oleh litologi batuan
yang homogen, (Van Zuidam, 1985). Pada gambar sebagai berikut. (Gambar 2.3)
Pola aliran Daerah penelitian sungai (pola aliran sub-Dendritik)

22
Gambar 2.2 Peta Geomorfologi Daerah Penelitian (Berdasarkan Klasifikasi Van
Zuidam)

23
Gambar 2.3 Peta Pola Aliran Daerah Penelitian Sungai ( Pola Aliran Sub Dendritik

24
BAB III
STRATIGRAFI REGIONAL

3.1 Stratigrafi Regional


Stratigrafi regional daerah pemetaan dibagi menjadi dua bagian geologi regional,
yaitu: Peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa oleh, S. Asikin, A. Handoyo, H.
Busono dan S. Gafoer,1992. Pada gambar sebagai berikut. (Gambar 3.1), (Gambar
3.2) Peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa oleh, S. Asikin, A. Handoyo, H.
Busono dan S. Gafoer,1992.
membagi tatanan stratigrafi dari tua ke muda sebagai berikut :
3.1.1 Lembar Kebumen.
1) Formasi Halang (Tmph): Bagian atasnya disusun oleh batulempung dan
napal, bagian tengah banyak mengandung sisipan atau perselingan dengan
batupasir greywacke gampingan yang mengandung hornblende, feldspar,
kuarsa, dan kalsit. Pada bagian bawah formasi batuan tersebut diatas
bersisipan dengan lapisan batugamping dan lensa-lensa batugamping
berukuran bongkah yang mengandung fosil foraminifera besar serta
moluska. Umumnya satuan batuan berwarna kelabu kehijauan dan kelabu
tua. Lensa-lensa breksi dan konglomerat bersusunan andesit dan basalt
dengan matriks batupasir tufaan kasar setempat ditemukan di dalam
formasi ini. Formasi ini diendapkan sebagai sedimen turbidit pada zona
batial atas. Struktur sedimen yang jelas berupa graded bedding, paralel
laminasi, convolute laminasi, flute cast, dan load cast. Tertindih tak selaras
Formasi Tapak, menjemari dengan Anggota Gunung Hurip Formasi
Halang dan Formasi Kumbang serta menindih selaras Formasi Pemali.
Umur diduga Miosen Tengah – Pliosen Awal. Ketebalan satuan mencapai
2.400 meter dan menipis kearah timur.
2) Anggota Breksi Formasi Halang (Tmpb): Merupakan breksi dengan
komponen andesit, basal dan batugamping, masa dasar batupasir tufan
kasar, sisipan batupasir dan lava basal.

25
3) Formasi Penosogan (Tmp): Tersusun atas peerseingan batupasir
gampingan, batulempung, tuf, napal, dan kalkarenit, dipengaruhi oleh arus
turbidit.
4) Formasi Waturanda (Tmw): Bagian bawah terdiri dari batupasir kasar,
makin keatas berubah menjadi breksi dengan komponen andesit,basalt,
dan masa dasar batupasir,tuf.
5) Formasi Karangsambung (Teok): batuempung berstruktur sisik dengan
bongkah batugamping,konglomerat, batupasir, batugamping dan basalt.

26
Gambar 3.1 Peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa oleh, S. Asikin, A. Handoyo,
H. Busono dan S. Gafoer,1992.

27
Gambar 3.2 Peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa oleh, S. Asikin, A. Handoyo,
H. Busono dan S. Gafoer,1992.

28
3.2 Stratigrafi Daerah Penelitian

Stratigrafi daerah penelitian tersusun oleh formasi yang merupakan bagian


dari geologi regional Lembar Kebumen. Susunan stratigrafi daerah penelitian dari
tua ke muda sebagai berikut :
3.2.1 Lembar Kebumen
1) Formasi Halang (Tmph): Bagian atasnya disusun oleh batulempung dan
napal, bagian tengah banyak mengandung sisipan atau perselingan dengan
batupasir greywacke gampingan yang mengandung hornblende, feldspar,
kuarsa, dan kalsit. Pada bagian bawah formasi batuan tersebut diatas
bersisipan dengan lapisan batugamping dan lensa-lensa batugamping
berukuran bongkah yang mengandung fosil foraminifera besar serta
moluska. Umumnya satuan batuan berwarna kelabu kehijauan dan kelabu
tua. Lensa-lensa breksi dan konglomerat bersusunan andesit dan basalt
dengan matriks batupasir tufaan kasar setempat ditemukan di dalam
formasi ini. Formasi ini diendapkan sebagai sedimen turbidit pada zona
batial atas. Struktur sedimen yang jelas berupa graded bedding, paralel
laminasi, convolute laminasi, flute cast, dan load cast. Tertindih tak selaras
Formasi Tapak, menjemari dengan Anggota Gunung Hurip Formasi
Halang dan Formasi Kumbang serta menindih selaras Formasi Pemali.
Umur diduga Miosen Tengah – Pliosen Awal. Ketebalan satuan mencapai
2.400 meter dan menipis kearah timur.
2) Anggota Breksi Formasi Halang (Tmpb): Merupakan breksi dengan
komponen andesit, basal dan batugamping, masa dasar batupasir tufan
kasar, sisipan batupasir dan lava basal.
3) Formasi Penosogan (Tmp): Tersusun atas peerseingan batupasir
gampingan, batulempung, tuf, napal, dan kalkarenit, dipengaruhi oleh arus
turbidit.
4) Formasi Waturanda (Tmw): Bagian bawah terdiri dari batupasir kasar,
makin keatas berubah menjadi breksi dengan komponen andesit,basalt,
dan masa dasar batupasir,tuf.

29
5) Formasi Karangsambung (Teok): batuempung berstruktur sisik dengan
bongkah batugamping,konglomerat, batupasir, batugamping dan basalt

30
BAB IV
STRUKTUR GEOLOGI

4.1 Struktur Geologi Regional


Pulau Jawa secara tektonik dipengaruhi oleh dua lempeng besar, yaitu
Lempeng Eurasia di bagian utara dan Lempeng Indo-Australia di bagian selatan.
Pergerakan dinamis dari lempeng-lempeng ini menghasilkan perubahan tatanan
tektonik Jawa dari waktu ke waktu. Secara berurutan, rejim tektonik Jawa
mengalami perubahan yang dimulai dengan kompresi, kemudian mengalami
regangan dan kembali mengalami kompresi.
Selama zaman Tersier di Pulau Jawa telah terjadi tiga periode tektonik
yang telah membentuk lipatan dan zona-zona sesar yang umumnya mencerminkan
gaya kompresi regional berarah utara-selatan (Van Bemmelen, 1949). Ketiga
periode tektonik tersebut adalah :
1) Periode Tektonik Miosen Atas (Miosen – Pliosen ): Periode Tektonik
Miosen Atas (Mio-Pliosen) dimulai dengan pengangkatan dan perlipatan
sampai tersesarkannya batuan sedimen Paleogen dan Neogen. Perlipatan
yang terjadi berarah relatif barattimur, sedangkan yang berarah timurlaut-
baratdaya dan baratlauttenggara hanya sebagian. Sedangkan sesar yang
terjadi adalah sesar naik, sesar sesar geser-jurus, dan sesar normal. Sesar
naik di temukan di daerah barat dan timur daerah ini, dan berarah hampir
barat-timur, dengan bagian selatan relatif naik. Kedua-duanya terpotong
oleh sesar geser. Sesar geser-jurus yang terdapat di daerah ini berarah
hampir baratlaut-tenggara, timurlaut-baratdaya, dan utara-selatan. Jenis
sesar ini ada yang menganan dan ada pula yang mengiri. Sesar geser-jurus
ini memotong struktur lipatan dan diduga terjadi sesudah perlipatan. Sesar
normal yang terjadi di daerah ini berarah barat-timur dan hampir utara-
selatan, dan terjadi setelah perlipatan. Di daerah selatan Pegunungan
Serayu terjadi suatu periode transgresi yang diikuti oleh revolusi
tektogenetik sekunder. Periode tektonik ini berkembang hingga Pliosen,

31
dan menyebabkan penurunan di beberapa tempat yang disertai aktivitas
vulkanik.
2) Periode Tektonik Pliosen Atas (Pliosen – Pleistosen): Periode Tektonik
Pliosen Atas (Plio-Plistosen) merupakan kelanjutan dari periode tektonik
sebelumnya, yang juga disertai dengan aktivitas vulkanik yang penyebaran
endapan-endapannya cukup luas, dan umumnya disebut Endapan
Vulkanik Kuarter.
3) Periode Tektonik Holosen: Periode Tektonik Holosen disebut juga dengan
Tektonik Gravitasi, yang menghasilkan adanya gaya kompresi ke bawah
akibat beban yang sangat besar, yang dihasilkan oleh endapan vulkanik
selama Kala Plio-Plistosen. Hal tersebut menyebabkan berlangsungnya
keseimbangan isostasi secara lebih aktif terhadap blok sesar yang telah
terbentuk sebelumnya, bahkan sesar-sesar normal tipe horst dan graben
ataupun sesar bongkah atau sesar menangga dapat saja terjadi. Sesar-sesar
menangga yang terjadi pada periode ini dapat dikenal sebagai gawir-gawir
sesar yang mempunyai ketinggian ratusan meter dan menoreh kawah atau
kaldera gunung api muda, seperti gawir sesar di Gunung Beser, dan gawir
sesar pada kaldera Gunung Watubela. Situmorang, dkk (1976),
menafsirkan bahwa struktur geologi di Pulau Jawa umumnya mempunyai
arah baratlaut-tenggara ,sesuai dengan konsep Wrench Fault Tectonics
Moody and Hill (1956) yang didasarkan pada model shear murni.

4.2 Struktur Geologi Daerah Penelitian


Struktur daerah penelitian terkena oleh struktur geologi regional Lembar
Kebumen, Menurut, Peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa oleh, S. Asikin, A.
Handoyo, H. Busono dan S. Gafoer,1992. dengan struktur berupa sesar naik,
antiklin, dan sesar geser. Pada gambar sebagai berikut. (Gambar 4.1) Peta Struktur
Daerah Penelitian, (Peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa oleh, S. Asikin, A.
Handoyo, H. Busono dan S. Gafoer,1992.)

32
Gambar 4.1 Peta Struktur Daerah Penelitian, (Peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa
oleh, S. Asikin, A. Handoyo, H. Busono dan S. Gafoer,1992.)

33
BAB V
TATA PELAKSANAAN DAN RENCANA KERJA

5.1 Rencana Lintasan


Pada peta rencana lintasan terdapat tiga lintasan dengan arah Utara –
Selatan yang dibuat dengan berdasarkan parameter: keterdapatan singkapan,
kondisi morfologi, struktur geologi, stratigrafi dan akses jalan. Lintasan tersebut
dibuat sedemikian rupa agar nantinya memberikan informasi yang akurat dan
informatif. Pada gambar sebagai berikut. (Gambar 5.1) Peta Rencana Lintasan

34
Gambar 5.1 Peta Rencana Lintasan

35
5.2 Tata Waktu Pelaksanaan
Tabel 5.1 Jadwal Rencana Lintasan

Lintasan Minggu
1 2 3 4
Lintasan 1
Lintasan 2
Lintasan 3
Lintasan
tambahan

Tabel 5.2 Tata Waktu Pelaksanaan

DESEMBER JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI


KEGIAT
NO
AN 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penyusunan Proposal
2 Pelaksanaan Pemetaan
3 Analisa Laboratorium
4 Penyusunan Laporan Pemetaan
Geologi
5 Kolokium

Waktu kegiatan dimulai dari pertengahan bulan Oktober 2020 hingga bulan
Desember 2020 yang meliputi pembuatan proposal, persiapan lapangan, melakukan
pemetaan di daerah pemetaan. Selanjutnya dilanjutkan rencana kegiatan pada tahun
akademik baru yaitu kegiatan laboratorium dengan melakukan determinasi umur
serta analisa petrografi pada minggu ketiga bulan Maret 2021 hingga minggu kedua
bulan april 2021. Setelah itu dilanjutkan dengan penyusunan laporan geologi daerah
penelitian pada minggu ketiga bulan april 2021 hingga minggu pertama bulan Mei
2021. Kegiatan terakhir yaitu pelaksanaan Kolokium pada minggu pertama bulan
Mei 2021.

36
DAFTAR PUSTAKA

Asikin, S. 1987. Geologi Struktur Indonesia. Laboratorium Geologi


Dinamis. Institut Teknologi Bandung.
Bemmelen, R. W. Van, 1949, The Geology of Indonesia, Vol IA. Martinus
Nijhoff, The Hague, 732 h, Netherlands.
Hidayat, Muhammad. 2016. Yogyakarta. Geologi Daerah Majenang Dan
Sekitarnya. Kecamatan Majenang Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa
Tengah, [skripsi]. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Teknologi Nasional
Yogyakarta.
Peta Struktur Daerah Penelitian, (Peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa oleh, S.
Asikin, A. Handoyo, H. Busono dan S. Gafoer,1992.)

Katili & Tjia HD, Geotectonic of Indonesia, a modern view, Department of


Geology, Bandung Institute of Technology, Bandung.
Komisi Sandi Stratigrafi Nasional, 2002. Sandi Stratigrafi Nasional. Ikatan Ahli
Geologi Indonesia. Jakarta.
Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996, Komisi Sandi Stratigrafi Indonesia, Ikatan Ahli
Geologi Indonesia (IAGI).
Van Zuidam, R.A., 1983. Guide to Geomorphological Aerial Photographic
Interpretation and Mapping. ITC, Enschede, The Netherlands.
Verstappen Hth, 1977. Remote Sensing in Geomorphology. Elsevier
Scientific Publishing Company, Amsterdam, The Netherlands, pp 1-
325.
Pradipta, Adheo Mika. 2018. Jakarta. Geologi Daerah Cilangkap Dan
Sekitarnya. Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa
Tengah, [makalah]. Jakarta: Universitas Trisakti.

37

Anda mungkin juga menyukai