Pemetaan Geologi Karangsambung Kebumen
Pemetaan Geologi Karangsambung Kebumen
PROPOSAL PEMETAAN
Disusun Oleh :
KAFI AKBAR
072001600018
JAKARTA
2020
1
LEMBAR PENGESAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
PROPOSAL PEMETAAN
Penyusun :
KAFI AKBAR
072001600018
Disahkan Oleh :
2
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya
kepada penulis, sehingga dapat terselesaikannya proposal pemetaan tepat pada waktunya.
Laporan ini memiliki judul “GEOLOGI DAERAH KARANGSAMBUNG DAN
SEKITARNYA, KECAMATAN KARANGSAMBUNG, KABUPATEN KEBUMEN,
PROVINSI JAWA TENGAH”. Laporan ini membahas serta mengkaji ulang
permasalahan yang berkaitan dengan geomorfologi, susunan stratigrafi litologi, proses
sedimentasi, struktur geologi dan aspek geologinya.
Dalam pembuatan proposal pemetaan ini, tentunya penulis tidak lepas dari
bantuan dosen pembimbing, asisten pemetaan dan teman-teman Geologi Trisakti lainnya.
Penulis juga tidak luput dari kekurangan dan kesalahan baik dalam penulisan serta
penyusunan laporan penelitian ini. Oleh karena itu, dibutuhkannya suatu kritikan dan
saran yang membangun sehingga dapat membantu dalam penyusunan proposal pemetaan
dikemudian hari.
Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, semoga apa yang ditulis penulis
dalam proposal ini dapat berguna bagi orang lain dikemudian hari.
Penulis
3
DAFTAR ISI
4
BAB I
PENDAHULUAN
5
1.2 Maksud dan Tujuan
Pemetaan geologi daerah Kebumen dan sekitarnya, Kecamatan
Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah ini memiliki
maksud untuk mengetahui, mempelajari serta menganalisa kondisi geologi secara
menyeluruh pada daerah pemetaan sesuai dengan disiplin ilmu geologi yang
didapat selama perkuliahan.
Adapun tujuan dari pemetaan geologi ini adalah untuk mengetahui
penyebaran satuan batuan, proses sedimentasi, serta struktur geologi daerah
pemetaan sehingga nantinya dapat menyusun stratigrafi daerah pemetaan dan
sejarah geologi yang dimuat dalam peta geologi.
6
Tabel 1.1 Koordinat Kavling Kelompok 4
7
Gambar 1.1 Lokasi Penelitian109o 40’ 12” – 109o 43’ 12” BT dan 07o 34’ 12” –
07o36’ 36” LS (Google Earth, 24 Juni 2019, 00.47 WIB)
8
Gambar 1.2 Peta Lokasi pengamatan daerah penelitian
9
1.4 Peneliti Terdahulu
Studi pustaka pada daerah pemetaan diambil dari para peneliti terdahulu
seperti peta regional, guna mengetahui arah penyebaran batuan, stratigrafi dan
struktur geologi secara regional, yang digunakan sebagai dasar untuk interpretasi
peta geomorfologi. Pada daerah pemetaan digunakan peta geologi Lembar
Kebumen. Kondisi geologi daerah pemetaan ini telah dipelajari oleh para peneliti
terutama dalam tatanan tektonik dan stratigrafinya, antara lain :
I. Van Bemmelen, (1949), Zona Fisiografi Jawa Bagian Tengah.
II. Prof. Katili, (1980), Geotectonics of Indonesia Modern View.
III. Asikin S., (1987), Geologi Struktur Indonesia berdasarkan tektonik
regional Pulau Jawa.
IV. Peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa oleh, S. Asikin, A. Handoyo,
H. Busono dan S. Gafoer,1992.
10
Penggambaran sketsa dan pengukuran pada lokasi
pengamatan (singkapan) baik itu strike dip maupun struktur
geologi, serta pencatatan data pada buku catatan lapangan,
Pengambilan foto singkapan batuan yang disertai benda
pembanding,
Serta pengambilan sample batuan.
III. Tahap Pengolahan Data :
Menganalisa fosil untuk menentukan susunan stratigrafi
batuan,
Analisa petrografi untuk menentukan nama batuan,
Dan analisa data struktur.
IV. Tahap Penyusunan Laporan :
Pada tahap ini penyusunan laporan didasarkan pada data-data
yang sudah diamati dan dianalisa yang kemudian dikorelasikan dengan
data peneliti terdahulu sehingga menghasilkan suatu interpretasi dalam
bentuk laporan geologi, seperti peta geologi dan peta geomorfologi.
11
1.6 Diagram Alir Penelitian
Data Sekunder
12
BAB II
GEOMORFOLOGI REGIONAL
13
Daerah Penelitian
Gambar 2.1 Pembagain Zona Jawa Tengah dan Zona Jawa Timur
(Van Bemmelen, 1949)
14
Berdasarkan kondisi litologi penyusun, pola struktur dan morfologi yang
ditunjukkan oleh Van Bemmelen (1949), secara fisiografis daerah Jawa Tengah
dan Jawa Timur dibagi menjadi tujuh zona dari utara ke selatan antara lain sebagai
berikut :
15
5. Zona Kendeng
Menurut Genevraye dan Samuel (1972), membagi Zona Kendeng
berdasarkan fisiografi menjadi tiga bagian utama, yaitu :
1) Bagian barat, antara Ungaran dan Purwodadi, yang tersusun
atas Formasi Pelang (bagian bawah) dan Formasi Pucangan
(bagian atas).
2) Bagian tengah, antara Purwodadi dan Gunung Pandan,
yang tersusun atas Formasi Kerek (bagian bawah) dan
material gunung api Formasi Kerek Anggota Sentul (bagian
atas).
3) Bagian timur, Antiklinorium yang terlihat antara Gunung
Pandan yang menuju ke arah timur.
6. Zona Depresi Tengah / Solo
Zona Depresi Tengah tersusun oleh endapan kuarter dan ditempati
oleh Gunungapi Kuarter. Zona Solo dibedakan menjadi tiga sub-
zona, yaitu :
1) Sub – Zona Blitar
2) Sub – Zona Solo
3) Sub – Zona Ngawi
7. Zona Pegunungan Selatan
Zona Pegunungan Selatan Jawa terbentang dari wilayah Jawa
Tengah yang berada di selatan Yogyakarta dengan lebar kurang
lebih 55 km. Zona ini membentang hingga Jawa Timur dengan
lebar kurang lebih 25 km yang berada di selatan Blitar. Zona
Pegunungan Selata dipisahkan menjadi tiga sub – zona, yaitu :
1) Sub – Zona Baturagung
2) Sub – Zona Wonosari
3) Sub – Zona Gunung Sewu
16
2.2 Geomorfologi Regional
Geomorfologi Regional merupakan pembahasan morfologi pemetaan yang
didapat dari interpretasi pada peta geologi regional dengan aspek-aspek tertentu.
Aspek-aspek tersebut haruslah mencerminkan geologi yang terkandung di dalam
peta geomorfologi, sehingga memiliki suatu hubungan yang jelas antara satuan
bentuk lahan pada peta geomorfologi dengan aspek geologi pada peta geologi.
Pembahasan geomorfologi yang perlu ditonjolkan untuk kepentingan geologi
terutama pendekatan morfografi, morfogenetik (genetik), dan morfometri
(deskriptif) yang mempengaruhi satuan bentuk lahan untuk dijadikan landasan
menerangkan kondisi-kondisi geologi.
Pengklasifikasian terhadap satuan bentang alam daerah pemetaan
dilakukan dengan mengacu pada parameter morfometri (deskriptif) oleh Van
Zuidam, (1985) dan morfogenetik (genetik) oleh Van Zuidam, (1983). Pada tabel
sebagai berikut Tabel (2.1), Ukuran Kemiringan Lereng (Van Zuidam, 1985)
Tabel (2.2), Hubungan Ketinggian Absolute dengan Morfografi (Van Zuidam,
1985)Tabel (2.3) Hubungan Kelas Relief, Kemiringan Lereng dan Perbedaan
Ketinggian (Van Zuidam, 1985) Tabel (2.4) Hubungan Kelas Relief, Kemiringan Lereng
dan Perbedaan Ketinggian (Van Zuidam, 1985)
Kegiatan erosi dan tektonik yang menghasilkan bentuk – bentuk lembah
sebagai tempat pengaliran air, selanjutnya akan membentuk pola – pola tertentu
yang disebut sebagai pola aliran. Pola aliran ini sangat berhubungan dengan jenis
batuan, struktur geologi, kondisi erosi, dan sejarah bentuk bumi. Sistem
pengaliran yang berkembang pada permukaan bumi secara regional dikontrol oleh
kemiringan lereng, jenis batuan, ketebalan lapisan batuan, struktur geologi, jenis
dan kerapatan vegetasi serta iklim. Sistem pengaliran ini nantinya akan
menentukan stadia sungai yang ditentukan berdasarkan pengaruh proses
geomorfologi yang spesifik pada daerah pemetaan. Pengklasifikasian pola aliran
dan stadia sungai terhadap daerah pemetaan menggunakan klasifikasi Van
Zuidam, (1985) dan Verstappen, (1977). Pada tabel sebagai berikut. Tabel (2.5)
Pola Pengaliran dan Karakteristiknya (Van Zuidam, 1985) Tabel (2.6) Klasifikasi
Stadia Sungai (Verstappen, 1977)
17
Tabel 2.1 Ukuran Kemiringan Lereng (Van Zuidam, 1985)
8 - 13 Lereng landai 6 - 13 7 - 12
21 - 55 Lereng curam 25 - 55 18 - 24
Lereng sangat
56 - 140 curam > 55 > 24
Tabel 2.2 Hubungan Ketinggian Absolute dengan Morfografi (Van Zuidam, 1985)
18
Tabel 2.3 Hubungan Kelas Relief, Kemiringan Lereng dan Perbedaan Ketinggian (Van
Zuidam, 1985)
Kelas Relief Kemiringan Perbedaan
Lereng (%) Ketinggian (m)
Datar/Hampir Datar 0–2 <5
Bergelombang/Miring Landai 3–7 5 - 50
Bergelombang/Miring 8 – 13 25 - 75
Bergelombang – Bukit 14 – 20 75 - 200
Berbukit Tersayat Tajam/Terjal 21 - 55 200 - 500
Berbukit Tersayat Tajam/Sangat 55 - 140 500 - 1000
Terjal
Pegunungan Curam > 140 > 1000
Tabel 2.4 Satuan Geomorfologi Berdasarkan Aspek Genetik, (Van Zuidam, 1983)
No Kelas Genetik Simbol Warna
1 Bentuklahan asal struktural Ungu / violet
2 Bentuklahan asal gunungapi Merah
3 Bentuklahan asal denudasional Coklat
4 Bentuklahan asal laut (marine) Hijau
5 Bentuklahan asal sungai (fluvial) Biru tua
6 Bentuklahan asal glasial (es) Biru muda
7 Bentuklahan asal aeolian (angin) Kuning
8 Bentuklahan asal karst (gamping) Jingga (orange)
19
Tabel 2.5 Pola Pengaliran dan Karakteristiknya (Van Zuidam, 1985)
20
Tabel 2.6 Klasifikasi Stadia Sungai (Verstappen, 1977)
21
2.3 Geomorfologi Daerah Penelitian
Geomorfologi daerah penelitian, berdasarkan Van Zuidam, 1985 terbagi
menjadi dua satuan geomorfologi, yaitu Satuan Geomorfologi Perbukitan
Bergelombang Struktural, dan Satuan Geomorfologi Perbukitan Tersayat Tajam
Struktural. Satuan Geomorfologi Perbukitan Bergelombang Struktural memiliki
kemiringan lereng berkisar 14% - 20%, dan juga Satuan Geomorfologi Perbukitan
Tersayat Tajam Struktural memiliki lereng berkisar 21 - 55%. Pada gambar
sebagai berikut. (Gambar 2.2) Peta geomorfologi daerah penelitian (Berdasarkan
klasifikasi Van Zuidam)
Berdasarkan penafsiran secara regional, penentuan pola aliran dan stadia
sungai daerah penelitian berdasarkan Verstappen, (1977) termasuk kedalam pola
aliran dendritik dan stadia sungai daerah dewasa (V – U). Pola aliran dendritik
adalah pola aliran yang cabang- cabang sungainya menyerupai struktur pohon,
dan pada umumnya pola aliran sungai dendritik dikontrol oleh litologi batuan
yang homogen, (Van Zuidam, 1985). Pada gambar sebagai berikut. (Gambar 2.3)
Pola aliran Daerah penelitian sungai (pola aliran sub-Dendritik)
22
Gambar 2.2 Peta Geomorfologi Daerah Penelitian (Berdasarkan Klasifikasi Van
Zuidam)
23
Gambar 2.3 Peta Pola Aliran Daerah Penelitian Sungai ( Pola Aliran Sub Dendritik
24
BAB III
STRATIGRAFI REGIONAL
25
3) Formasi Penosogan (Tmp): Tersusun atas peerseingan batupasir
gampingan, batulempung, tuf, napal, dan kalkarenit, dipengaruhi oleh arus
turbidit.
4) Formasi Waturanda (Tmw): Bagian bawah terdiri dari batupasir kasar,
makin keatas berubah menjadi breksi dengan komponen andesit,basalt,
dan masa dasar batupasir,tuf.
5) Formasi Karangsambung (Teok): batuempung berstruktur sisik dengan
bongkah batugamping,konglomerat, batupasir, batugamping dan basalt.
26
Gambar 3.1 Peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa oleh, S. Asikin, A. Handoyo,
H. Busono dan S. Gafoer,1992.
27
Gambar 3.2 Peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa oleh, S. Asikin, A. Handoyo,
H. Busono dan S. Gafoer,1992.
28
3.2 Stratigrafi Daerah Penelitian
29
5) Formasi Karangsambung (Teok): batuempung berstruktur sisik dengan
bongkah batugamping,konglomerat, batupasir, batugamping dan basalt
30
BAB IV
STRUKTUR GEOLOGI
31
dan menyebabkan penurunan di beberapa tempat yang disertai aktivitas
vulkanik.
2) Periode Tektonik Pliosen Atas (Pliosen – Pleistosen): Periode Tektonik
Pliosen Atas (Plio-Plistosen) merupakan kelanjutan dari periode tektonik
sebelumnya, yang juga disertai dengan aktivitas vulkanik yang penyebaran
endapan-endapannya cukup luas, dan umumnya disebut Endapan
Vulkanik Kuarter.
3) Periode Tektonik Holosen: Periode Tektonik Holosen disebut juga dengan
Tektonik Gravitasi, yang menghasilkan adanya gaya kompresi ke bawah
akibat beban yang sangat besar, yang dihasilkan oleh endapan vulkanik
selama Kala Plio-Plistosen. Hal tersebut menyebabkan berlangsungnya
keseimbangan isostasi secara lebih aktif terhadap blok sesar yang telah
terbentuk sebelumnya, bahkan sesar-sesar normal tipe horst dan graben
ataupun sesar bongkah atau sesar menangga dapat saja terjadi. Sesar-sesar
menangga yang terjadi pada periode ini dapat dikenal sebagai gawir-gawir
sesar yang mempunyai ketinggian ratusan meter dan menoreh kawah atau
kaldera gunung api muda, seperti gawir sesar di Gunung Beser, dan gawir
sesar pada kaldera Gunung Watubela. Situmorang, dkk (1976),
menafsirkan bahwa struktur geologi di Pulau Jawa umumnya mempunyai
arah baratlaut-tenggara ,sesuai dengan konsep Wrench Fault Tectonics
Moody and Hill (1956) yang didasarkan pada model shear murni.
32
Gambar 4.1 Peta Struktur Daerah Penelitian, (Peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa
oleh, S. Asikin, A. Handoyo, H. Busono dan S. Gafoer,1992.)
33
BAB V
TATA PELAKSANAAN DAN RENCANA KERJA
34
Gambar 5.1 Peta Rencana Lintasan
35
5.2 Tata Waktu Pelaksanaan
Tabel 5.1 Jadwal Rencana Lintasan
Lintasan Minggu
1 2 3 4
Lintasan 1
Lintasan 2
Lintasan 3
Lintasan
tambahan
Waktu kegiatan dimulai dari pertengahan bulan Oktober 2020 hingga bulan
Desember 2020 yang meliputi pembuatan proposal, persiapan lapangan, melakukan
pemetaan di daerah pemetaan. Selanjutnya dilanjutkan rencana kegiatan pada tahun
akademik baru yaitu kegiatan laboratorium dengan melakukan determinasi umur
serta analisa petrografi pada minggu ketiga bulan Maret 2021 hingga minggu kedua
bulan april 2021. Setelah itu dilanjutkan dengan penyusunan laporan geologi daerah
penelitian pada minggu ketiga bulan april 2021 hingga minggu pertama bulan Mei
2021. Kegiatan terakhir yaitu pelaksanaan Kolokium pada minggu pertama bulan
Mei 2021.
36
DAFTAR PUSTAKA
37