0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan21 halaman

Memahami Prokrastinasi Akademik

Dokumen tersebut membahas tentang prokrastinasi akademik, yang didefinisikan sebagai penundaan tugas-tugas akademik secara sengaja meskipun individu menyadari dampak negatifnya. Dokumen tersebut menjelaskan ciri-ciri prokrastinasi akademik seperti penundaan memulai atau menyelesaikan tugas dan melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan. Dokumen tersebut juga membahas faktor-fak

Diunggah oleh

Nurul rizki Isnaeni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan21 halaman

Memahami Prokrastinasi Akademik

Dokumen tersebut membahas tentang prokrastinasi akademik, yang didefinisikan sebagai penundaan tugas-tugas akademik secara sengaja meskipun individu menyadari dampak negatifnya. Dokumen tersebut menjelaskan ciri-ciri prokrastinasi akademik seperti penundaan memulai atau menyelesaikan tugas dan melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan. Dokumen tersebut juga membahas faktor-fak

Diunggah oleh

Nurul rizki Isnaeni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Prokrastinasi Akademik

1. Defenisi Prokrastinasi Akademik

Steel (2007) mengatakan bahwa prokrastinasi adalah menunda dengan

sengaja kegiatan yang diinginkan walaupun individu mengetahui bahwa perilaku

penundaanya tersebut dapat menghasilkan dampak buruk. Steel (2010) juga pernah

mengatakan bahwa prokrastinasi adalah suatu penundaan yang sengaja dilakukan

oleh individu terhadap tugas/pekerjaannya meskipun ia tahu bahwa hal ini akan

berdampak buruk pada masa depan.

Noran (dalam Akinsola, Tella dan Tella 2007) mendefinisikan

prokrastinasi sebagai bentuk penghindaran dalam mengerjakan tugas yang

seharusnya diselesaikan oleh siswa. Siswa yang melakukan prokrastinasi lebih

memilih menghabiskan waktu dengan teman atau pekerjaan lainnya yang

sebenarnya tidak begitu penting daripada mengerjakan tugas yang harus

diselesaikan dengan cepat. Selain itu, siswa yang melakukan prokrastinasi juga

lebih memilih menonton film atau televisi dari pada belajar untuk kuis atau ujian.

Silver (dalam Ghufron 2003) mengatakan seseorang yang melakukan

prokrastinasi tidak bermaksud untuk menghindari atau tidak mau tahu dengan

tugas yang dihadapi. Akan tetapi mereka hanya menunda-nunda untuk

mengerjakannya, sehingga menyita waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan


tugas. Penundaan tersebut menyebabkan dia gagal menyelesaikan tugasnya tepat

waktu. Menurut Ferrari (dalam Ghufron 2003) prokrastinasi akademik adalah jenis

penundaan yang dilakukan pada jenis tugas formal yang berhubungan dengan

tugas akademik, misalnya tugas sekolah atau tugas kursus. Rothblum, Solomon

dan Murakami (dalam Kurniawan, 2013) mendefinisikan prokrastinasi akademik

sebagai kecenderungan untuk (a) selalu atau hampir selalu menunda tugas

akademik, dan (b) selalu atau hampir selalu mengalami kecemasan bermasalah

terkait dengan penundaan ini.

Berdasarkan pendapat yang diungkapkan oleh beberapa ahli diatas, maka

dapat disimpulkan bahwa prokrastinasi akademik adalah perilaku penundaan pada

tugas akademik yang dilakukan oleh siswa secara sadar dengan melakukan

aktivitas lain yang menyenangkan dan tidak penting, tidak bertujuan, dan tidak

memperhatikan waktu sehingga menimbulkan akibat negatif atau kerugian pada

siswa.

2. Ciri-ciri Prokrastinasi akademik

Ferrari, dkk., (dalam Gufron, 2003) mengatakan bahwa sebagai suatu perilaku

penundaan, prokrastinasi akademik dapat termanifestasikan dalam indikator

tertentu yang dapat diukur dan diamati ciri-ciri tertentu berupa:

a. Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang

dihadapi.

Seseorang yang melakukan prokrastinasi tahu bahwa tugas yang dihadapinya

harus segera diselesaikan dan berguna bagi dirinya, akan tetapi dia menunda-
nunda untuk mulai mengerjakannya atau menunda-nunda untuk

menyelesaikan sampai tuntas jika dia sudah mulai mengerjakan sebelumnya.

b. Keterlambatan dalam mengerjakan tugas.

Orang yang melakukan prokrastinasi memerlukan waktu yang lebih lama dari

pada waktu yang dibutuhkan pada umumnya dalam mengerjakan suatu tugas.

Seorang prokrastinator menghabiskan waktu yang dimilikinya untuk

mempersiapkan diri secara berlebihan, maupun melakukan hal-hal yang tidak

dibutuhkan dalam penyelesaian suatu tugas, tanpa memperhitungkan

keterbatasan waktu yang dimilikinya. Kadang-kadang tindakan tersebut

mengakibatkan seseorang tidak berhasil menyelesaikan tugasnya secara

memadai. Kelambanan, dalam arti lambannya kerja seseorang dalam

melakukan suatu tugas dapat menjadi ciri yang utama dalam prokrastinasi

akademik.

c. Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual.

Seorang prokrastinator mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu sesuai

dengan batas waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Seorang prokrastinator

sering mengalami keterlambatan dalam memenuhi deadline yang telah

ditentukan, baik oleh orang lain maupun rencana-rencana yang telah dia

tentukan sendiri. Seseorang mungkin telah merencanakan untuk mulai

mengerjakan tugas pada waktu yang telah ia tentukan sendiri. Seseorang

mungkin telah merencanakan untuk mulai mengerjakan tugas pada waktu

yang telah ia tentukan sendiri, akan tetapi ketika saatnya tiba dia tidak juga
melakukannya sesuai dengan apa yang telah direncanakan, sehingga

menyebabkan keterlambatan maupun kegagalan untuk menyelesaikan tugas

secara memadai.

d. Melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan dari pada melakukan

tugas yang harus dikerjakan.

Seorang prokrastinator dengan sengaja tidak segera melakukan tugasnya, akan

tetapi menggunakan waktu yang dia miliki untuk melakukan aktivitas lain

yang dipandang lebih menyenangkan dan mendatangkan hiburan, seperti

membaca (koran, majalah, atau buku cerita lainnya), nonton, ngobrol, jalan,

mendengarkan musik, dan sebagainya, sehingga menyita waktu yang dia

miliki untuk mengerjakan tugas yang harus diselesaikannya. Jadi dapat

disimpulkan bahwa ciri-ciri prokrastinasi akademik adalah penundaan untuk

memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi,

keterlambatan dalam mengerjakan tugas, kesenjangan waktu antara rencana

dan kinerja aktual dan melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan dari

pada melakukan tugas yang harus dikerjakan.

3. Faktor Yang Mempemgaruhi Prokrastinasi Akademik

Bernard (dalam Catrunada dan Puspitawati 2008), mengungkapkan ada

sepuluh faktor yang dapat mempengaruhi prokrastinasi, yaitu:


a. Kecemasan (Anxiety)

Kecemasan yang tinggi yang berinteraksi dengan tugas-tugas yang diharapkan

dapat diselesaikan menyebabkan seseorang cenderung menunda tugas

tersebut.

b. Pencelaan terhadap Diri Sendiri (Self-Depreciation)

Pencelaan terhadap diri sendiri termanifestasi ke dalam penghargaan yang

rendah atas dirinya sendiri, selalu menyalahkan diri sendiri ketika terjadi

kesalahan, dan rasa tidak percaya diri untuk mendapat masa depan yang cerah

menyebabkan seseorang cenderung melakukan prokrastinasi.

c. Rendahnya Toleransi terhadap Ketidaknyamanan (Low Discomfort Tolerance)

Kesulitan pada tugas yang dikerjakan membuat seseorang mengalami

kesulitan untuk menoleransi rasa frustrasi dan kecemasan, sehingga mereka

mengalihkan diri sendiri kepada tugas-tugas yang dapat mengurangi

ketidaknyamanan dalam diri mereka.

d. Pencari Kesenangan (Pleasure-seeking)

Seseorang yang mencari kenyamanan cenderung tidak mau melepaskan situasi

yang membuat nyaman tersebut. Jika seseorang memiliki kecenderungan

tinggi dalam mencari situasi yang nyaman, maka orang tersebut akan

memiliki hasrat kuat untuk bersenang-senang dan memiliki kontrol impuls

yang rendah.
e. Tidak Teraturnya Waktu (Time Disorganization)

Mengatur waktu berarti bisa memperkirakan dengan baik berapa lama

seseorang membutuhkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Lemahnya pengaturan waktu disebabkan sulitnya seseorang memutuskan

pekerjaan apa yang penting dan kurang penting untuk dikerjakan hari ini.

Semua pekerjaan terlihat sangat penting sehingga muncul kesulitan untuk

menentukan apa yang harus dikerjakan terlebih dahulu.

f. Tidak Teraturnya Lingkungan (Environmental Disorganisation)

Salah satu faktor prokrastinasi adalah kenyataan bahwa lingkungan

disekitarnya berantakan atau tidak teratur dengan baik, hal itu terjadi

kemungkinan karena kesalahan mahasiswa tersebut. Tidak teraturnya

lingkungan bisa dalam bentuk interupsi dari orang lain, kurangnya privasi,

kertas yang bertebaran dimana-mana, dan alat-alat yang dibutuhkan dalam

pekerjaan tersebut tidak tersedia. Adanya begitu banyak gangguan pada area

wilayah pekerjaan menyulitkan seseorang untuk berkonsentrasi sehingga

pekerjaan tersebut tidak bisa selesai tepat pada waktunya.

g. Pendekatan yang Lemah terhadap Tugas (Poor Task Approach)

Seseorang merasa siap untuk bekerja, kemungkinan dia akan meletakkan

kembali pekerjaan tersebut karena tidak tahu darimana harus memulai

sehingga cenderung menjadi tertahan oleh ketidaktahuan tentang bagaimana

harus memulai dan menyelesaikan pekerjaan tersebut.


h. Kurangnya Pernyataan yang Tegas (Lack of Assertion)

Kurangnya pernyataan yang tegas disebabkan seseorang mengalami kesulitan

untuk berkata “tidak” terhadap permintaan yang ditujukan kepadanya ketika

banyak hal yang harus dikerjakan karena telah dijadwalkan terlebih dulu. Hal

ini bisa terjadi karena mereka kurang memberikan rasa hormat atas semua

komitmen dan tanggung jawab yang dimiliki.

i. Permusuhan terhadap orang lain (Hostility with others)

Kemarahan yang terus menerus bisa menimbulkan dendam dan sikap

bermusuhan sehingga bisa menuju sikap menolak atau menentang apapun

yang dikatakan oleh orang tersebut.

j. Stres dan kelelahan (Stress and fatigue)

Stres adalah hasil dari sejumlah intensitas tuntutan negatif dalam hidup yang

digabung dengan gaya hidup dan kemampuan mengatasi masalah pada diri

sendiri. Semakin banyak tuntutan dan semakin lemah sikap seseorang dalam

memecahkan masalah, dan gaya hidup yang kurang baik, semakin tinggi stres

seseorang.

Sedangkan menurut Gufron (2003) Faktor-faktor yang mempengaruhi

prokrastinasi akademik dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu faktor

internal dan faktor eksternal.


a. Faktor internal, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu yang

mempengaruhi prokrastinasi. Faktor-faktor itu meliputi kondisi fisik dan

kondisi psikologis dari individu, yaitu:

1) Kondisi fisik individu. Faktor dari dalam diri individu yang turut

mempengaruhi munculnya prokrastinasi akademik adalah berupa keadaan

fisik dan kondisi kesehatan individu misalnya fatigue. Seseorang yang

mengalami fatigue akan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk

melakukan prokrastinasi daripada yang tidak. Tingkat intelegensi yang

dimiliki seseorang tidak mempengaruhi perilaku prokrastinasi, walaupun

prokrastinasi sering disebabkan oleh adanya keyakinan-keyakinan yang

irrasional yang dimiliki seseorang.

2) Kondisi psikologis individu. Trait kepribadian individu yang turut

mempengaruhi munculnya perilaku penundaan, misalnya trait kemampuan

sosial yang tercermin dalam regulasi diri dan tingkat kecemasan dalam

berhubungan sosial. Besarnya motivasi yang dimiliki seseorang juga akan

mempengaruhi prokrastinasi secara negatif, di mana semakin tinggi

motivasi intrinsik yang dimiliki individu ketika menghadapi tugas, akan

semakin rendah kecenderungannya untuk prokrastinasi akademik.

b. Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang terdapat di luar diri individu yang

mempengaruhi prokrastinasi. Faktor-faktor itu antara lain berupa pengasuhan

orang tua dan lingkungan yang kondusif, yaitu lingkungan yang lenient.
1) Gaya pengasuhan orangtua. Hasil penelitian Ferrari dan Ollivete (dalam

Ghufron, 2003) menemukan bahwa tingkat pengasuhan otoriter ayah

menyebabkan munculnya kecenderungan perilaku prokrastinasi yang

kronis pada subyek penelitian anak wanita, sedangkan tingkat pengasuhan

otoritatif ayah menghasilan anak wanita yang bukan prokrastinator. Ibu

yang memiliki kecenderungan melakukan prokrastinasi akademik

menghasilkan anak wanita yang memiliki kecenderungan untuk

melakukan prokrastinasi akademik pula.

2) Kondisi lingkungan yang lenient prokrastinasi akademik lebih banyak

dilakukan pada lingkungan yang rendah dalam pengawasan daripada

lingkungan yang penuh pengawasan.

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa prokrastinasi

akademik dapat dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu faktor yang ada dalam diri

individu dan faktor eksternal berupa faktor di luar diri individu. Faktor tersebut

dapat menjadi munculnya perilaku prokrastinasi maupun menjadi faktor kondusif

yang akan menjadi katalisator sehingga perilaku prokrastinasi akademik seseorang

semakin meningkat dengan adanya pengaruh faktor tersebut. Dan regulasi diri

dalam belajar termasuk ke dalam faktor internal yang mempengaruhi tinggi

rendahnya prokrastinasi akademik individu.

B. Regulasi Diri dalam Belajar (Self Regulated Learning)

1. Defenisi Regulasi Diri dalam Belajar (Self Regulated Learning)


Haryu (dalam Pitaloka, 2009) Secara harfiah self regulated learning terdiri

atas 2 kata yaitu self regulated dan learning. self regulated berarti berkelola,

sedangkan learning berarti belajar. Jadi dapat disimpulakan bahwa regulasi diri

dalam belajar (self regulated learning) secara keseluruhan berarti belajar mengatur

diri atau pengelolaan atau pengaturan diri dalam belajar. Menurut Wood (dalam

Winne, 2005) regulasi diri dalam belajaradalah upaya yang memungkinkan

individu untuk memecahkan masalah, melakukan tugas, atau mencapai tujuan

yang akan lewatinya tanpa bantuan.

Menurut Zimmerman (1998) regulasi diri dalam belajar adalah strategi,

tindakan dan proses yang diarahkan untuk mendapatkan informasi atau

kemampuan yang melibatkan perantara,tujuan dan persepsi siswa. regulasi diri

dalam belajarmencakup metakognisi, motivasi dan perilaku yang merupakan suatu

strategi yang mempunyai pengaruh bagi performansi siswa dalam rangka

mencapai prestasi belajar di bidang akademik yang lebih baik atau melakukan

peningkatan. Schunk dan Zimmerman (dalam Pratiwi, 2009), mengkategorikan

regulasi diri dalam belajarsebagai dasar kesuksesan belajar, problem solving,

transfer belajar, dan kesuksesan akademis secara umum.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa regulasi

diri dalam belajar adalah suatu bentuk pengaturan diri dalam proses belajar dengan

cara memotivasi diri dan membimbing tingkah laku sehingga individu mampu

meningkatkan pencapaian hasil belajar yang maksimal dengan menggunakan


kemampuan metakognisi, pengaturan motivasi dan pengarahan perilaku secara

aktif.

2. Aspek-aspek regulasi diri dalam belajar (self regulated learning)

Menurut Zimmerman (1990) regulasi diri dalam belajarmencakup tiga

aspek yaitu: metakognisi, motivasi dan perilaku.

a. Metakognisi

Menurut zimmerman (dalam fasikhah dan fatimah, 2013) Individu yang

meregulasi dirinya secara metakognisi berarti individu tersebut meregulasi

dirinya dengan cara merencanakan, mengorganisasi, mengintruksi diri,

memonitor dan mengevaluasi dirinya dalam proses belajar.

Rahman dan Phillips (dalam Nurlisawati, 2008) Metakognisi adalah

persepsi individu tentang pengetahuan mereka mengenai keadaan dan proses

pemikiran mereka sendiri serta kemampuan mereka untuk menjaga dan

mengubahnya sesuai keadaan dan proses pemikiran tersebut, meliputi

komponen pengetahuan tentang kognisi dan regulasi kognisi.

Ferrari & Sternberg (dalam Santrock, 2009) Pengetahuan metakognisi

melibatkan pemantauan dan refleksi pemikiran terbaru seseorang. Ini mencakup

pengetahuan faktual seperti pengetahuan tentang tugas, tujuan diri sendiri dan

pengetahuan strategis seperti bagaimana dan kapan kita harus menggunakan

prosedur tertentu untuk menyelesaikan masalah. Aktivitas metakognisi terjadi

ketika para siswa secara sadar menyesuaikan dsan mengatur strategi pemikiran
mereka selama penyelesaian masalah dam pemikiran yang memiliki maksud

tertentu.

(Wolters, Printrich dan Karabenick, 2003) Strategi untuk mengontrol atau

meregulasi kognisi meliputi macam-macam aktivitas kognitif dan metakognitif

yang mengharuskan individu terlibat untuk mengadaptasi dan mengubah

kognisinya. Strategi pengulangan (rehearsal), elaborasi (elaboration), dan

organisasi (organization) dapat digunakan individu untuk mengontrol kognisi

dan proses belajarnya.

Secara singkat, metakognisi dapat diartikan sebagai persepsi individu

tentang pengetahuan mereka mengenai keadaan dan prosespemikiran mereka

sendiri serta kemampuan mereka untuk menjaga dan mengubahnya sesuai

keadaan dan proses pemikiran tersebut meliputi kemampuan individu dalam

merencanakan, mengorganisasi atau mengatur, mengintruksi diri, memonitor

dan melakukan evaluasi dalam aktivitas belajar.

b. Motivasi

Donald (dalam Djamarah, 2008) mengatakan bahwa motivasi

merupakan suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang di tandai

dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan.

(Wolters dkk, 2003) Strategi untuk meregulasi motivasi melibatkan

aktivitas yang penuh tujuan dalam memulai, mengatur atau menambah

kemauan untuk memulai, mempersiapkan tugas berikutnya, atau menyelesaikan

aktivitas tertentu atau sesuai tujuan. Regulasi motivasi adalah semua pemikiran,
tindakan atau perilaku dimana siswa berusaha mempengaruhi pilihan, usaha,

dan ketekunan tugas akademisnya. Regulasi motivasi meliputi mastery self-talk,

extrinsic self-talk, relative ability self-talk, relevance enhancement, situasional

interest enhancement, self-consequating, dan penyusunan lingkungan

(environment structuring).

Menurut Purwanto (1994) motivasi dalam belajar dibagi menjadi tiga

aspek yaitu: menggerakkan, motivasi memberikan kekuatan belajar pada siswa

dan memimpin seorang siswa untuk bertindak dengan cara tertentu dalam

kegiatan belajarnya; mengarahkan, motivasi menyediakan suatu orientasi tujuan

dalam blajar sehingga tingkah laku siswa dapat diarahkan pada suatu yang

diharapkan; menopang, ditujukan untuk menjaga tingkah laku dalam belajar,

menguatkan intensitas dan dorongan serta kekuatan siswa.

Berdasarkan uraian diatas, motivasi dapat diartikan sebagai suatu

kekuatan, tenaga, daya atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan

yang timbul dalam diri individu itu sendiri untuk bekerja kearah tujuan tertentu,

baik disadari maupun tidak disadari, meliputi aspek menggerakkan,

mengarahkan dan menopang aktivitas belajar.

c. Prilaku

Zimmerman dan Schank (dalam Jazila, 2011) mengatakan bahwa

perilaku merupakan upaya individu untuk mengatur diri, menyeleksi, dan

memanfaatkan maupun menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitasnya.


(Wolters dkk, 2003) Regulasi perilaku meliputi regulasi usaha (effort

regulation), waktu dan lingkungan (time/ study environment), dan pencarian

bantuan (help-seeking).

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi self regulated learning

Thoresen dan Mahoney (dalam Zimmerman, 1989) memaparkan dari

perspektif sosial-kognitif, bahwa keberadaan regulasi diri dalam belajarditentukan

oleh tiga wilayah yakni wilayah person, wilayah perilaku, dan wilayah

lingkungan.

a. Faktor pribadi (Person). Persepsi self-efficacy siswa tergantung pada

masingmasing empat tipe yang mempengaruhi pribadi seseorang: pengetahuan

siswa (students' knowledge), proses metakognitif, tujuan dan afeksi (affect).

Pengetahuan regulasi diri dalam belajarharus memiliki kualitas pengetahuan

prosedural dan pengetahuan bersyarat (conditional knowledge). Pengetahuan

prosedural mengarah pada pengetahuan bagaimana menggunakan strategi,

sedangkan pengetahuan bersyarat merujuk pada pengetahuan kapan dan

mengapa strategi tersebut berjalan efektif. Pengetahuan regulasi diri dalam

belajartidak hanya tergantung pada pengetahuan siswa, melainkan juga poses

metakognitif pada pengambilan keputusan dan performa yang dihasilkan.

Proses metakognitif melibatkan perencanaan atau analisis tugas yang berfungsi

mengarahkan usaha pengontrolan belajar dan mempengaruhi timbal balik dari


usaha tersebut. Pengambilan keputusan metakognitif tergantung juga pada

tujuan (goals) jangka panjang siswa untuk belajar. Tujuan dan pemakaian

proses kontrol metakognitif dipengaruhi oleh persepsi terhadap self-efficacy dan

afeksi (affect).

b. Faktor perilaku (Behavior). Tiga cara dalam merespon berhubungan dengan

analisis regulasi diri dalam belajar: observasi diri (self-observation), penilaian

diri (self-judgment), dan reaksi diri (self-reaction). Meskipun diasumsikan

bahwa setiap komponen tersebut dipengaruhi oleh berbagai macam proses

pribadi yang tersembunyi (self), namun proses dari luar diri individu juga ikut

berperan. Setiap komponen terdiri dari perilaku yang dapat diamati, dilatih dan

saling mempengaruhi. Oleh karena itu, self-observation, self-judgment, dan

self-reaction dikategorikan sebagai faktor perilaku yang mempengaruhi regulasi

diri dalam belajar. Selanjutnya, Bandura menengarai bahwa dinamika proses

beroperasinya regulasi diri dalam belajarantara lain terjadi dalam subproses

yang berisi self-observation, self-judgment dan self-reaction. Ketiganya

memiliki hubungan yang sifatnya resiprositas atau timbal balik seiring dengan

konteks persoalan yang dihadapi. Hubungan timbal balik tidak selalu bersifat

simetris melainkan lentur dalam arti salah satunya di konteks tertentu dapat

menjadi lebih dominan dari aspek lainnya, demikian pula pada aspek tertentu

menjadi kurang dominan.

c. Faktor lingkungan (Environment). Setiap gambaran faktor lingkungan

diasumsikan berinteraksi secara timbal balik dengan faktor pribadi dan


perilaku. Ketika seseorang dapat memimpin dirinya, faktor pribadi digerakkan

untuk mengatur perilaku secara terencana dan lingkungan belajar dengan

segera. Individu diperkirakan memahami dampak lingkungan selama proses

penerimaan dan mengetahui cara mengembangkan lingkungan melalui

penggunaan strategi yang bervariasi. Individu yang menerapkan regulasi diri

dalam belajarbiasanya menggunakan strategi untuk menyusun lingkungan,

mencari bantuan sosial dari guru, dan mencari informasi.

Pemaparan di atas, menunjukkan bahwa selama proses regulasi diri dalam

belajarberlangsung, ada tiga faktor yang dapat berpengaruh. Faktor-faktor tersebut

adalah faktor person, perilaku, dan lingkungan.

4. Karakteristik siswa yang meregulasi diri dalam belajar

Rochoster institut of technology (dalam Nurlisawati, 2008) mengemukakan

karakteristik seorang yang meregulasi diri:

a. Memiliki kemandirian dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepada

mereka dan membuat perencanaan untuk mengatur penggunaan waktu serta

sumber-sumber yang dimiliki, baik yang bersumber dari dalam dirinya maupun

dari luar saat menyelesaikan tugas.

b. Memiliki need for challenge, artinya siswa memiliki kecenderungan untuk

menyesuaikan diri terhadap kesulitan yang dihadapinya pada saat mengerjakan

tugas dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan pada suatu hal yang menarik

dan menyenangkan.
c. Mengetahui bagaimana cara menggunakan sumber-sumber yang ada, baik yang

berasal dari dalam dirinya maupun di luar dirinya serta melakukan pemantauan

terhadap proses belajar. Disamping itu mereka juga melakukan evaluasi

terhadap performansi dalam belajar.

d. Memiliki kegigihan dalam belajar dan mempunyai strategi tertentu yang

membantunya dalam belajar.

e. Siswa yang melakukan regulasi diri pada saat melakukan aktivitas membaca,

menulis maupun berdiskusi dengan orang lain, mempunyai kecenderungan

untuk membuat suatu pengertian atau makna apa yang dibaca, ditulis maupun

didiskusikan.

f. Menyadari bahwa kemampuan yang dimiliki bukanlah satu-satunya faktor yang

mendukung kesuksesan dalam meraih prestasi belajar, melainkan juga

dibutuhkan strategi dan upaya yang gigih dalam belajar

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik

yang dimiliki seseorang yang belajar menggunakan regulasi diri adalah seorang

yang aktif dalam mengatur kegiatan belajarnya, memiliki kemampuan mengelola

dan menggunakan sumber-sumber yang mendukung aktifitas belajar, mengubah

kesulitan dalam belajar menjadi tantangan, mengevaluasi prestasi belajar,

memahami dan mengambil makna dalam aktivitas belajar, dan menyadari bahwa

belajar menuntut strategi dan usaha yang gigih/keras.

C. Kerangka Berfikir
Zimmerman (1990) siswa yang memiliki regulasi diri dalam belajartinggi

dengan yangmemiliki regulasi diri dalam belajarrendah, dapat dibedakan melalui

kemandiriansiswa lewat usaha untuk mengatur diri mereka sendiri secara aktif

danmandiri yang meliputi pengaturan kognisi, motivasi, dan perilaku. regulasi diri

dalam belajarmemiliki tiga aspek penting yang akan menentukan tinggi

rendahnyatingkat regulasi diri dalam belajar. Pertama yaitu aspek kognisi dimana

upayasiswa merencanakan, menetapkan tujuan, mengatur, memonitor diri, dan

mengevaluasi diri. Kedua yaitu aspek motivasi dimana siswa merasakan efikasi diri

yang tinggi, atribusi diri dan berminat pada tugas intrinsik. Ketiga yaitu aspek

perilaku dimana upaya mahasiswa untuk memilih, menstruktur, dan menciptakan

lingkungan yang mengoptimalkan belajar.

Perbedaan juga ditunjukkan melalui kesadaran mereka terkait keefektifan

strategi regulasi diri dalam belajaryaitu bagaimana hubungan antara pengaturan

proses dan hasil belajarnya, serta penggunaan strategi tersebut untuk mencapai

tujuan-tujuan akademis. Strategi regulasi diri dalam belajar yang dapat dilakukanoleh

siswa dalam mencapai tujuan belajarnya antara lain penetapan tujuandan

perencanaan, mengorganisasi dan mentranformasimateri pelajaran,mengatur

lingkungan belajar,merekam dan memantau kejadian/ hasil belajar, mengulang dan

mengingat materi pelajaran, pemberian reward dan punishment pada diri sendiri,

mencari bantuan dari lingkuangan sosial, evaluasi diri dan regulasi metakognisi/

penyesuaiandan perubahan strategi belajar. Siswa yangmenggunakan strategi regulasi

diri dalam belajar tersebut secara bersamaan dalamproses belajar akan memiliki
tingkat regulasi diri dalam belajar yang tinggi dandapat meminimalisir prokrastinasi

akademik.

Pada dasarnya setiap siswa sudah memiliki regulasi diri dalam belajar, namun

dalam tingkatan yang berbeda-beda. Perbedaan tingkatan regulasi diri dalam belajar

merupakan salah satu penyebab adanya perbedaan tingkat prokrastinasi akademik

siswa.

Ferrari, dkk (dalam Ghufron 2003) menyebutkan ciri-ciri dari prokrastinasi

akademik antara lain penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada

tugas yang dihadapi, keterlambatan dalam mengerjakan tugas, kesenjangan waktu

antara rencana dan kinerja aktual, dan melakukan aktivitas lain yang lebih

menyenangkan daripada melakukan tugas yang harus dikerjakan.

Ferrari, dkk (dalam Ghufron 2003)menyebutkan beberapa faktor yang

mempengaruhi prokrastinasi diantaranya adalah kelelahan, kurangnya motivasi, takut

gagal, regulasi diri, efikasi diri, kontrol diri, tingkat kecemasan dalam disiplin dan

pusat kendali, berhubungan sosial, gaya pengasuhan, dukungan dari keluarga, kondisi

lingkungan yang tingkat pengawasan yang rendah, serta tugas yang menumpuk. La

forge (2005) menyatakan bahwasanya prokrastinasi dapat terjadi apabila kurangnya

kemampuan atau ketidakmampuan individu dalam belajar berdasarkan regulasi diri.

Hal tersebut juga didukung oleh (Wolters, 2003) yang menemukan bahwa

prokrastinasi itu terjadi dikarenakan rendah atau kurangnya kemampuan dalam

belajar berdasarkan regulasi diri dan tidak memiliki waktu yang cukup untuk belajar.
Prokrastinasi akademik akan menimbulkan dampak negatif seperti waktu

yang terbuang sia-sia, kurang siap menghadapi ujian, kecemasan meningkat,

terbengkalainya tugas-tugas yang seharusnya dikerjakan, bahkan bila tugas dapat

diselesaikan pun kemungkinan besar menjadi tidak maksimal, dan prestasi akademik

menurun. Prokrastinasi juga bisa mengakibatkan seseorang kehilangan kesempatan

dan peluang yang akan datang, serta dapat menjadi penghalang bagi siswa untuk

mengembangkan dirinya secara maksimal.

Oleh karena itu, dengan adanya regulasi diri dalam belajar diharapkansiswa

mampu menunjukkan langkah nyata yang ditujukan untuk pencapaiantujuan belajar

dengan melakukan perencanaan secara terarah, sehinggaprokrastinasi akademik dapat

lebih diminimalisir. Jadi, antara regulasi diri dalam belajardengan prokrastinasi

akademik memiliki hubungan negatif. Semakintinggi regulasi diri dalam

belajarsiswa, maka semakin rendah prokrastinasiakademik mahasiswa. Sebaliknya,

semakin rendah regulasi diri dalam belajarsiswa, maka semakin tinggi prokrastinasi

akademik siswa.

D. Hipotesis

Ada hubungan antara regulasi diri dalam belajar dengan prokrastinasi

akademik pada siswa SMAN 2 Siak Hulu. Semakin tinggi regulasi diri dalam
belajar maka semakin rendah prokrastinasi akademik, dan Semakin rendah

regulasi diri dalam belajar maka semakin tinggi prokrastinasi akademik.

Anda mungkin juga menyukai