0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan14 halaman

Asuhan Keperawatan untuk Harga Diri Rendah

Dokumen tersebut membahas tentang asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan harga diri rendah situasional. Terdapat penjelasan mengenai pengertian harga diri rendah, faktor-faktor penyebab, tanda dan gejalanya, diagnosis keperawatan, serta rencana tindakan keperawatan untuk meningkatkan harga diri klien.

Diunggah oleh

Aida nurul
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan14 halaman

Asuhan Keperawatan untuk Harga Diri Rendah

Dokumen tersebut membahas tentang asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan harga diri rendah situasional. Terdapat penjelasan mengenai pengertian harga diri rendah, faktor-faktor penyebab, tanda dan gejalanya, diagnosis keperawatan, serta rencana tindakan keperawatan untuk meningkatkan harga diri klien.

Diunggah oleh

Aida nurul
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA KLIEN DENGAN HARGA DIRI


RENDAH SITUASIONAL

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Stase Keperawatan Jiwa


Program Profesi Ners Angkatan XI

Disusun oleh :

ANURUL FAIDAH

KHGD21093

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XI

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN KARSA HUSADA GARUT

2021
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA KLIEN DENGAN

HDR SITUASIONAL

A. Pengertian
Harga diri rendah adalah keadaan dimana individu mengalami/beresiko
mengalami evaluasi diri negatif tentang kemampuan diri (Carpemito,
2007).
Harga diri rendah adalah penilaian individu tentang nilai personal yang
diperoleh dengan menganalisis seberapa baik perilaku seseorang sesuai
dengan ideal diri (Stuart dan Sundeen, 2007).
Gangguan harga diri dapat dijabarkan sebagai perasaan yang negatif
terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, serta merasa gagal mencapai
keinginan (Dalami dkk, 2009).
Harga diri rendah situasional adalah perasaan diri/ evaluasi diri negatif
yang berkembang sebagai respon terhadap hilangnya atau berubahnya
perawatan diri seseorang yang sebelumnya mempunyai evaluasi diri positif
dan bila tidak dapat diatasi dapat menyebabkan harga diri rendah kronis
(Suliswati, 2005).

B. Rentang Respon Konsep Diri


Adapun rentang respon gangguan konsep diri: harga diri rendah adalah
transisi antara respons konsep diri adaptif dan maladaptif. Penjabarannya adalah
sebagai berikut.
a. Aktualisasi diri adalah pernyataan tentang konsep diri yang positif dengan
latar belakang pengalaman yang sukses.
b. Konsep diri positif adalah individu mempunyai pengalaman yang positif
dalam perwujudan dirinya.
c. Harga diri rendah adalah keadaan dimana individu mengalami atau berisiko
mengalami evaluasi diri negatif tentang kemampuan diri.
d. Kekacauan identitas adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek-
aspek identitas masa anak-anak kedalam kematangan kepribadian oada
remaja yang harmonis.
e. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistik dan merasa asing
dengan diri sendiri, yang berhubungan dengan kecemasan, kesulitan
membedakan diri sendiri dari orang lain dan tubuhnya sendiri tidak nyata
dan asing baginya.

C. Faktor Penyebab
a. Faktor predisposisi
1. Faktor yang mempengaruhi harga diri, meliputi penolakan orang tua,
harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang, kurang
memiliki tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain, dan
ideal diri yang tidak realistis.
2. Faktor yang memengaruhi performa peran adalah steriotif peran gender,
tuntutan peran kerja, dan harapan peran budaya. Nilai-nilai budaya yang
tidak dapat diikuti oleh individu.
3. Faktor yang memengaruhi identitas pribadi, meliputi ketidakpercayaan
orang tua, tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan struktur sosial.
b. Stresor pencetus
Stresor pencetus dapat berasal dari sumber internal dan elsternal, yaitu
sebagai berikut:
1. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan
peristiwa yang mengancam kehidupan.
2. Ketergantungan peran, berhubungan dengan peran atau posisi yang
diharapkan dan individu mengalaminya seperti frustasi.

D. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala sebagai berikut.
a. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit/ tindakan, misalnya:
malu karena alopesia setelah dilakukan tindakan kemoterapi.
b. Rasa bersalah terhadap diri sendiri, menyalahkan, mengkritik, mengejek
diri sendiri.
c. Merendahkan martabat: saya tidak bisa, saya bodoh, saya tidak tahu apa-
apa, saya tidak mampu.
d. Gangguan hubungan sosial.
e. Percaya diri kurang, sukar mengambil keputusan.
f. Mencederai diri
g. Mudah marah, mudah tersinggung
h. Apatis, bosan, jenuh dan putus asa
i. Kegagalan menjalankan peran, proyeksi (menyalahkan orang lain).

A. POHON DIAGNOSIS
Keputusasaan

Ketidakberdayaan

Harga Diri Rendah Situasional

Ketidakefektifan Gangguan Citra Gangguan


Keterangan
Koping Tubuh Identitas Personal

: Masalah utama
Tulisan miring : dampak (effek)
Tulisan tegak : penyebab (causa)

B. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI


Masalah keperawatan yang mungkin timbul adalah sebagai berikut:
1. Harga diri rendah situasional
2. Keefektifan koping
3. Gangguan citra tubuh
4. Gangguan identitas personal
5. Ketidakberdayaan
6. Keputusasaan
Data yang perlu dikaji untuk klien yang mengalami harga diri rendah
situasional sebagai berikut.
1. Data Sujektif:
Contoh:
“Setelah kaki saya diamputasi saya sudah tidak berharga lagi.”
“Saya tidak mampu menjadi atlet yang dibanggakan keluarga setelah
kehilangan kaki saya.”
“Saya tidak mampu melakukan peran dan fungsi sebagai kepala
keluarga lagi.”
2. Data Objektif:
a. Perasaan negatif terhadap diri sendiri
b. Menarik diri dari kehidupan
c. Kritik terhadap diri sendiri
d. Destruktif terhap diri sendiri dan orang lain
e. Mudah tersinggung/ mudah marah
f. Produktivitas menurun
g. Penolakan terhadap diri sendiri
h. Keluhan fisik

C. DIAGNOSIS KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS


1. Harga diri rendah situasional
2. Ketidakefektifan koping
3. Gangguan citra tubuh
4. Gangguan identitas personal
5. Ketidakberdayaan
6. Keputusasaan
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Diagnosa Rencana Tindakan keperawatan Rasional
keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi intervensi
Harga Diri Tujuan jangka Selama 1x45 menit
Rendah panjang : interaksi, klien
Situasional Harga diri klien menunjukkan tanda-tanda
meningkat dalam percaya kepada perawat:
menghadapi masalah Ekspresi wajah bersahabat,
berat yang bersifat menunjukan rasa senang,
tiba-tiba datang diri ada kontak mata, mau
klien. berjabat tangan, mau
menyebutkan nama, mau
menjawab salam, klien
mau duduk berdampingan
dengan perawat, mau
mengutarakan masalah 1. Identifikasi kemampuan dan 1. Mendiskusikan tingkat
Tujuan jangka yang dihadapi aspek positif yang masih dimiliki kemampuan klien seperti
pendek: 1. Klien dapat klien. Untuk dapat membantu menilai realitas, kontrol diri
1. Klien dapat mengidentifikasi klien menggungkapkan atau integritas ego diperlukan
megidentifikasi kemampuan dan aspek kemampuan dan aspek positf sebagai dasar asuhan
kemampuan dan positif yang dimiliki : yang dimiliki sperti: keperawatannya.
aspek positif yang a. Kemampuan yang mendiskusikan bahwa klien
dimiliki dimiliki klien. masih memiliki sejumlah
b. Aspek positif kemampuan dan aspek positif
keluarga. seperti kegiatan dirumah, ada
c. Aspek positif keluarga dan lingkungan terdekat
lingkungan yang klien 2. Keterbukaan dan pengertian
dimiliki klien. tentang kemampuan yang
2. Membantu klien menilai dimiliki adalah prasyarat
2. Klien dapat kemampuan yang dapat untuk berubah. Pengertian
menilai 2. Selama 1x45 menit digunakan, seperti: tentang kemampuan yang
kemampuan yang interaksi, klien dapat mendiskusikan kemampuan yang dimiliki diri memotivasi
dapat digunakan. menilai sedikitnya tiga masih dapat digunakan saat ini, untuk tetap mempertahankan
kemampuan yang dapat bantu klien menyebutkan dan dirinya sendiri.
digunakan. memberi penguatan terhadap
kemampuan diri yang
diungkapkan klien, perlihatkan 3. Klien adalah individu yang
respon yang kondusif dan bertanggung jawab terhadap
menjadi pendengar yang aktif. dirinya sendiri. Klien perlu
3. Klien dapat 3. Membantu klien dalam memilih/ bertindak realitas dalam
menetapkan/ 3. Selama 1x45 menit menetapkan kegiatan sesuai kehidupannya. Contoh peran
memilih kegiatan interaksi, klien dapat kemampuan, seperti: yang dilihat klien akan
yang sesuai dengan menetapkan kegiatan mendiskusikan dengan klien memotivasi klien untuk
kemampuan yang sesuai dengan beberapa aktivitas yang dapat melaksanakan kegiatan.
kemampuan. dilakukan dan dipilih sebagai
kegiatan yang akan klien lakukan
sehari-hari, bantu klien
menetapkan aktivitas mana yang 4. Memberi kesempatan kepada
dapat klien lakukan secara klien mandiri dapat
mandiri, memerlukan bantuan meningkatkan motivasi dan
4. Klien dapat minimal dari keluarga, dan yang harga diri klien.
melatih kegiatan 4. Selama 1x45 menit dibantu total. Reinforcement positif dapat
yang sudah dipilih interaksi, klien dapat 4. Melatih kegiatan klien yang meningkatkan harga diri
sesuai melatih kegiatan yang sudah dipilih sesuai dengan klien.
kemampuan. sudah dipilih sesuai kemampuan, seperti:
kemampuan. mendiskusian dengan klien untuk 5. Memberikan kesempatan
menetapkan urutan kegiatan yang kepada klien untuk tetap
5. Klien dapat akan dilakukan dan klien melakukan kegiatan yang
merencanakan 5. Selama 1x45 menit memperagakan beberapa kegiatan biasa dilakukan.
kegiatan yang interaksi, klien dapat yang akan dilakukan.
sudah dilatih merencanakan kegiatan 5. Membantu klien agar dapat
yang sudah dilatih. merencanakan kegiatan sesuai
kemampuannya dan memberi
kesempatan pada klien untuk
mencoba kegiatan yang telah
dilatih.
D. Intervensi Generalis Pada Pasien
a. Tujuan
1) Klien mampu meningkatkan kesadaran tentang hubungan positif antara
harga diri dan pemecahan masalah yang efektif
2) Klien mampu melakukan keterampilan positif untuk meningkatkan
harga diri
3) Klien mampu melakukan pemecahan masalah dan melakukan umpan
balik yang efektif
4) Klien mampu menyadari hubungan yang positif antara harga diri dan
kesehatan fisik

b. Tindakan Keperawatan
1) Mendiskusikan harga diri rendah : penyebab, proses terjadinya masalah,
tanda dan gejala dan akibat
2) Membantu pasien mengembangkan pola pikir positif
3) Membantu mengembangkan kembali harga diri positif melalui melalui
kegiatan positif

SP1 Pasien: Asesmen harga diri rendah dan latihan melakukan kegiatan
positif:
1) Bina hubungan saling percaya
a) Mengucapkan salam terapeutik, memperkenalkan diri, panggil
pasien sesuai nama panggilan yang disukai
b) Menjelaskan tujuan interaksi: melatih pengendalian ansietas agar
proses penyembuhan lebih cepat
2) Membuat kontrak (inform consent) dua kali pertemuan latihan
pengendalian ansietas
3) Bantu pasien mengenal harga diri rendah:
a) Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan menguraikan perasaannya.

b) Bantu pasien mengenal penyebab harga diri rendah


c) Bantu klien menyadari perilaku akibat harga diri rendah

d) Bantu pasien dalam menggambarkan dengan jelas keadaan evaluasi


diri yang positif yang terdahulu

4) Bantu pasien mengidentifikasi strategi pemecahan yang lalu, kekuatan,


keterbatasan serta potensi yang dimiliki
5) Jelaskan pada pasien hubungan antara harga diri dan kemampuan
pemecahan masalah yang efektif
6) Diskusikan aspek positif dan kemampuan diri sendiri, keluarga, dan
lingkungan
7) Latih satu kemampuan positif yang dimiliki
8) Latih kemampuan positif yang lain
9)Tekankan bahwa kegiatan melakukan kemampuan positif berguna
untuk menumbuhkan harga diri positif

SP 2 Pasien : Evaluasi harga diri rendah, manfaat latihan melakukan


kemampuan positif 1, melatih kemampuan positif 2
1) Pertahankan rasa percaya pasien
a) Mengucapkan salam dan memberi motivasi
b) Asesmen ulang harga diri rendah dan kemampuan melakukan kegiatan
positif
2) Membuat kontrak ulang: cara mengatasi harga diri rendah
3) Latih kemampuan positif ke 2
4) Evaluasi efektifitas melakukan kegiatan positif untuk meningkatkan harga
diri
5) Tekankan kembali bahwa kegiatan melakukan kemampuan positif berguna
untuk menumbuhkan harga diri
E. Intervensi Generalis Pada Keluarga
a. Tujuan

1) Keluarga mampu mengenal masalah harga diri rendah pada anggota


keluarganya
2) Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami harga
diri rendah
3) Keluarga mampu memfollow up anggota keluarga yang mengalami
harga diri rendah
b. Tindakan Keperawatan
1) Mendiskusikan kondisi pasien: keputusaan, penyebab, proses terjadi,
tanda dan gejala, akibat
2) Melatih keluarga merawat pasien dengan harga diri rendah
3) Melatih keluarga melakukan follow up

SP1 Keluarga: Penjelasan kondisi pasien dan cara merawat:


1. Bina hubungan saling percaya
a) Mengucapkan salam terapeutik, memperkenalkan diri
b) Menjelaskan tujuan interaksi: menjelaskan keputusasaan pasien
dan cara merawat agar proses penyembuhan lebih cepat
2) Membuat kontrak (inform consent) dua kali pertemuan latihan cara
merawat pasien dengan harga diri rendah
3) Bantu keluarga mengenal putus asa pada pasien:

a) Menjelaskan harga diri rendah, penyebab, proses terjadi, tanda


dan gejala, serta akibatnya
b) Menjelaskan cara merawat pasien dengan harag diri rendah:
menumbuhkan harga diri positif melalui melakukan kegiatan
positif
c) Sertakan keluarga saat melatih latihan kemampuan positif
SP 2 Keluarga: Evaluasi peran keluarga merawat pasien, cara merawat dan
follow up

a) Pertahankan rasa percaya keluarga dengan mengucapkan salam,


menanyakan peran keluarga merawat pasien & kondisi pasien
b) Membuat kontrak ulang: latihan lanjutan cara merawat dan follow up
c) Menyertakan keluarga saat melatih pasien melatih kemampuan positif
ke 2
d) Diskusikan dengan keluarga cara perawatan di rumah, follow up dan
kondisi pasien yang perlu dirujuk (kondisi pengabaian diri dan
perawatan dirinya) dan cara merujuk pasien
DAFTAR PUSTAKA

Stuart, (2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi : Lima. Jakarta : EGC
Dalami, dkk. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Masalah Psikososial.
Jakarta : Trans Info Media.
Suliswati, dkk. (2005). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta :
EGC.

Anda mungkin juga menyukai