0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
675 tayangan27 halaman

Asuhan Keperawatan Trigger Finger

Laporan pendahuluan ini membahas tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan trigger finger di poli orthopedi. Trigger finger adalah kelainan yang umum pada jari tangan yang disebabkan oleh inflamasi selubung tendon fleksor dan penyempitan celah selubung, menyebabkan nyeri dan kesulitan gerakan jari. Laporan ini menjelaskan anatomi tangan, konsep trigger finger, epidemiologi, dan etiologinya.

Diunggah oleh

Prila
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
675 tayangan27 halaman

Asuhan Keperawatan Trigger Finger

Laporan pendahuluan ini membahas tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan trigger finger di poli orthopedi. Trigger finger adalah kelainan yang umum pada jari tangan yang disebabkan oleh inflamasi selubung tendon fleksor dan penyempitan celah selubung, menyebabkan nyeri dan kesulitan gerakan jari. Laporan ini menjelaskan anatomi tangan, konsep trigger finger, epidemiologi, dan etiologinya.

Diunggah oleh

Prila
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN TRIGGER FINGER


DI POLI ORTHOPEDI DAN TRAUMATOLOGI
RSD dr. SOEBANDI JEMBER

disusun guna memenuhi tugas Program Pendidikan Profesi Ners (P3N) Stase
Keperawatan Medikal Bedah

oleh

Eka Desi Pratiwi, S. Kep


NIM 112311101053

PROGRAM PENDIDIKAN NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Pasien dengan Trigger Finger di Poli


Orthopedi dan Traumatologi RSD dr. Soebandi Jember yang telah disetujui dan
disahkan pada:
Tanggal :
Tempat : Poli Orthopedi dan Traumatologi RSD dr. Soebandi Jember

Jember, …………………………

Pembimbing Klinik Mahasiswa

Ns. M. Shodikin, M. Kep., Sp. Kep. MB Eka Desi Pratiwi, S. Kep. NIP.
19681212 199103 1 011 NIM. 112311101053

Pembimbing Akademik

……………………………………..
NIP. …………………………………
1. Anatomi dan Fisiologi Tangan
Tangan terdiri atas tulang karpal, metakarpal, dan phalangs. a.
Tulang karpal (Ossi Carpi/Carpalia)
Tulang karpal terdiri dari 8 tulang pendek yang berartikulasi dengan ujung
distal ulna dan radius, dan dengan ujung proksimal dari tulang metakarpal.
Antara tulang-tulang karpal tersebut terdapat sendi geser. Ke delapan tulang
tersebut adalah scaphoid, lunate, triqutrum, piriformis, trapezium, trapezoid,
capitate, dan hamate (Snell, 2006).

Gambar 1. Tulang pada Tangan


b. Metacarpal
Metakarpal terdiri dari 5 tulang yang terdapat di pergelangan tangan dan
bagian proksimalnya berartikulasi dengan bagian distal tulang-tulang karpal.
Persendian yang dihasilkan oleh tulang karpal dan metakarpal membuat
tangan menjadi sangat fleksibel. Pada ibu jari, sendi pelana yang terdapat
antara tulang karpal dan metakarpal memungkinkan ibu jari tersebut
melakukan gerakan seperti menyilang telapak tangan dan memungkinkan
menjepit/menggenggam sesuatu. Khusus di tulang metakarpal jari 1 (ibu jari)
dan 2 (jari telunjuk) terdapat tulang sesamoid (Snell, 2006).
c. Phalangs
Tulang-tulang phalangs adalah tulang-tulang jari, terdapat 2 phalangs di setiap
ibu jari (phalangs proksimal dan distal) dan 3 di masing-masing jari lainnya
(phalangs proksimal, medial, distal). Sendi engsel yang terbentuk antara
tulang phalangs membuat gerakan tangan menjadi lebih fleksibel terutama
untuk menggenggam sesuatu (Snell, 2006).
Ligamen adalah struktur jaringan lunak yang menyambungkan tulang ke
tulang. Ligamen di sekitar sendi biasanya bergabung untuk membentuk kapsul
sendi . Sebuah kapsul sendi adalah kantung kedap air yang mengelilingi sendi dan
berisi cairan pelumas yang disebut cairan sinovial. Pada pergelangan tangan,
delapan tulang karpal dikelilingi dan didukung oleh kapsul sendi. Dua ligamen
penting mendukung sisi pergelangan tangan. Ini adalah ligamen agunan . Ada
jaminan ligamen yang menghubungkan dua lengan ke pergelangan tangan, satu di
setiap sisi pergelangan tangan (Snell, 2006).
Seperti namanya, para Agunan Ulnaris Ligamentum (UCL) adalah di sisi
ulnaris pergelangan tangan. Melintasi tepi ulnaris (sisi yang jauh dari ibu jari) dari
pergelangan tangan. Dimulai pada styloid ulnaris , benjolan kecil di tepi
pergelangan tangan (di sisi jauh dari ibu jari) di mana ulna memenuhi pergelangan
tangan. Ada dua bagian untuk kabel berbentuk UCL. Salah satu bagian terhubung
ke berbentuk kacang (salah satu tulang karpal kecil) dan ke ligamentum karpal
transversal , band tebal jaringan yang melintasi di depan pergelangan tangan.
Ligamen lainnya melintasi triquetrum (tulang karpal kecil dekat sisi ulnaris
pergelangan tangan). UCL menambahkan dukungan untuk disk kecil dari tulang
rawan di mana ulna bertemu pergelangan tangan. Struktur ini disebut kompleks
fibrocartilage segitiga (TFCC) dan dibahas secara lebih rinci di bawah ini. UCL
menstabilkan TFCC dan menjaga pergelangan tangan dari membungkuk terlalu
jauh ke samping (ke arah ibu jari) (Snell, 2006).
Ligamen kolateral radial (RCL) adalah pada sisi ibu jari pergelangan
tangan. Ini dimulai pada tepi luar dari jari-jari pada benjolan kecil yang disebut
styloid radial . Ini menghubungkan ke sisi skafoid, tulang karpal bawah jempol.
RCL mencegah pergelangan tangan dari membungkuk terlalu jauh ke samping
(jauh dari ibu jari). Seperti ada banyak tulang yang membentuk pergelangan
tangan, terdapat banyak ligamen yang menghubungkan dan mendukung tulang.
Cedera atau masalah yang menyebabkan ligamen ini untuk meregangkan atau
merobek akhirnya dapat menyebabkan radang sendi di pergelangan tangan
(Akhtar, et al., 2005).

Gambar 2. Ligament pada Tangan


Tendon merupakan jaringan fibrosa yang kuat, yang menghubungkan otot
dengan tulang. Dimana tulang merupakan bagian tubuh yang menyokong atau
memberi bentuk pada tubuh manusia. Sedangkan otot merupakan jaringan yang
terdapat pada seluruh tubuh manusia yang berguna untuk pergerakan. Tulang dan
otot tersebut dilekatkan oleh jaringan kuat yang bernama tendon. Tendon pada
jari-jari melewati ligamen, yang bertindak sebagai katrol (Snell, 2006).
Gambar 3. Tendon pada Tangan
Tiga saraf utama yang ada di tangan yaitu, saraf radial, saraf median, dan
saraf ulnaris . Saraf ini membawa sinyal dari otak ke otot-otot yang
menggerakkan lengan, tangan, jari, dan ibu jari. Saraf juga membawa sinyal
kembali ke otak tentang sensasi seperti sentuhan, nyeri, dan [Link] radialis
berjalan di sepanjang tepi jempol-sisi lengan bawah. Ini wraps sekitar akhir tulang
jari-jari ke bagian belakang tangan. Ini memberi sensasi ke bagian belakang
tangan dari ibu jari ke jari ketiga. Hal ini juga pergi ke belakang ibu jari dan hanya
di luar buku jari utama dari permukaan belakang cincin dan jari tengah. Saraf
median perjalanan melalui sebuah terowongan dalam pergelangan tangan disebut
carpal tunnel . Saraf median memberikan sensasi ke sisi telapak ibu jari, jari
telunjuk, jari panjang, dan setengah dari jari manis. Ini juga mengirimkan cabang
saraf untuk mengontrol otot-otot tenar jempol. Otot-otot tenar membantu
memindahkan ibu jari dan membiarkan Anda menyentuh pada jempol ke ujung
setiap jari masing-masing di sisi yang sama, gerakan yang disebut oposisi. Saraf
ulnaris bergerak melalui terowongan terpisah, yang disebut kanal Guyon .
Terowongan ini dibentuk oleh dua tulang karpal (yang berbentuk kacang dan
bengkok ), dan ligamentum yang menghubungkan [Link] melewati kanal,
cabang-cabang saraf ulnar keluar untuk memasok perasaan ke jari kelingking dan
setengah jari manis. Cabang-cabang saraf ini juga memasok otot kecil di telapak
dan otot yang menarik ibu jari ke arah telapak tangan (Faiz & Moffat, 2004).

Gambar 4. Persarafan Pada Tangan

2. Konsep Trigger Finger


2.1 Definisi Trigger Finger
Trigger Finger atau Tenosynovitis Stenosing adalah kelainan yang umum
terjadi pada jari tangan, yang disebabkan oleh inflamasi sehingga terjadi
penebalan selubung tendon fleksor dan penyempitan pada celah selubung
retinakulum. Hal ini menyebabkan nyeri, bunyi klik (cklicking sound) saat jari
fleksi dan ekstensi, serta kehilangan gerak atau terkunci (locking) pada jari yang
terkena. Istilah Trigger Finger pertama kali dideskripsikan oleh Notta pada tahun
1850 (Green & Hotchkiss, 2005).
Trigger Finger ditimbulkan dari penebalan sarung tendon fleksor (dimana
dapat terjadi diikuti infeksi tenosynovitis) atau dari penebalan nodular tendon
fleksor sendiri dimana dapat congenital (Ifeacho & Brar, 2007). Trigger Finger
adalah kejadian yang umum terjebaknya tendon pada jari tangan yang disebabkan
ketika nodule yang terbentuk pada tendon proksimal (Jester, Santy, & Rogers,
2011).
Trigger Finger adalah suatu bentuk cedera akibat aktivitas berlebihan
yang berulang-ulang dengan gejala mulai dari tanpa rasa sakit dengan sesekali
bunyi gemeretak / menyentak jari, untuk disfungsi parah dan rasa sakit dengan jari
terus terkunci dalam posisi menekuk ke bawah ke telapak tangan (Snell, 2006).

Gambar 5. Trigger Finger

2.2 Epidemiologi Trigger Finger


Trigger Finger adalah penyakit yang paling sering terjadi di antara dekade ke 5 dan
6 kehidupan. Kejadiannya perempuan 6 kali lebih sering terkena dibandingkan
dengan laki-laki, meskipun alasan predileksi usia dan jenis kelamin ini tidak
sepenuhnya jelas. Faktor risiko pemicu terjadinnya Trigger Finger adalah antara 2
dan 3%, tetapi meningkat menjadi 10% pada penderita diabetes. Insidens di
penderita diabetes terkait dengan waktu penyakit sebenarnnya, tidak berhubungan
dengan diabetes yang terkontrol. Ini juga tampaknya menjadi resiko lebih tinggi
terjadinnya Trigger Finger pada pasien dengan Karpal Tunnel Sindrome, penyakit
de Quervain, hypothyroidism, rheumatoid arthritis, penyakit ginjal, dan amyloidosis.
Jari manis adalah yang paling umum terpengaruh, diikuti oleh jempol (Makkouk,
2008).

2.3 Etiologi Trigger Finger


Penyebab potensial Trigger Finger telah dapat dijelaskan, tetapi etiologi
tetap idiopatik, artinya penyebabnya tidak diketahui. Kemungkinan disebabkan
oleh trauma lokal dengan stres dan gaya degeneratif. Ada yang menghubungkan
penyebab Trigger Finger karena penggunaan fleksi tangan yang terus-menerus
dan pada tiap individu sering dengan penyebab multifaktor. Oleh karena itu sering
disebut dengan tenosinovitis stenosing (stenosans tenovaginitis khusus pada jari).
Stenosing berarti penyempitan terowongan atau tabung-seperti struktur (selubung
tendon). Tenosynovitis berarti radang tendon (Akhtar et al, 2005; Makkouk,
2008).
Pasien dengan riwayat penyakit Collagen Vascullar seperti Rheumatoid
Artritis, Diabetes Mellitus, Arthitis Psoriatis, Amyloidosis, Hipotiroid,
Sarkoidosis, dan Pigmented Vilonodular Synovitis memiliki faktor resiko lebih
besar terkena Trigger Finger dibandingkan orang yang yang tidak memiliki
riwayat tersebut (Rasjad, 2007).
Mekanisme terjadinya keadaan ini adalah adanya aktifitas-aktifitas fisik
yang berat dan berulang-ulang pada orang yang mempunyai kecenderungan
pengumpulan cairan di sekitar tendon dan sendinya seperti pasien diabetes
mellitus dan rheumatoid artritis. Pengumpulan cairan disekitar tendon ini
menyebabkan terjadinya penebalan nodule tendon (biasanya pada tendon [Link]
digitorum profundus) sehingga tendon yang bengkak ini bisa mengganggu
gerakan normal pada tendon. Adanya pembengkakan ini mudah sekali tendon
terjepit sehingga jari susah untuk difleksikan (macet) atau terkunci pada posisinya
dan mengakibatkan jari terasa sakit dan mengeluarkan suara “klik” apabila usaha
lebih keras diberikan (Akhtar et al, 2005; Makkouk, 2008).
Kejadian Trigger Finger kongenital umumnya disebabkan oleh adanya
nodul pada tendon fleksor polisis longus. Sementara pada orang dewasa, beberapa
kasus yang terjadi mungkin berhubungan dengan trauma berulang. Lebih dari satu
penyebab potensial telah dijelaskan, tetapi etiologi tetap diopatik, artinya
penyebabnya tidak diketahui (Snell, 2006). Keadaan ini sering disebut dengan
tenosinovitis stenosing (stenosans tenovaginitis khusus pada jari), tapi hal ini
mungkin keliru, karena radang bukan fitur dominan pada keadaan ini (Akhtar et
al, 2005; Makkouk, 2008).

2.4 Patofisiologi Trigger Finger


Tendon adalah jaringan ikat yang menghubungkan otot ke tulang. Setiap otot
memiliki dua tendon, yang masing-masing melekat pada tulang. Pertemuan tulang
bersama dengan otot membentuk sendi. Ketika otot berkontraksi, tendon akan
menarik tulang, sehingga terjadi gerakan sendi. Tendon pada jari-jari melewati
ligamen, yang bertindak sebagai katrol (Snell, 2006).
Pada Trigger Finger terjadi peradangan dan hipertrofi dari selubung
tendon yang semakin membatasi gerak fleksi dari tendon. Selubung ini biasanya
membentuk sistem katrol yang terdiri dari serangkaian sistem yang berfungsi
untuk memaksimal kekuatan fleksi dari tendon dan efisiensi gerak di metakarpal.
Nodul mungkin saja dapat membesar pada tendon, yang menyebabkan tendon
terjebak di tepi proksimal katrol ketika pasien mencoba untuk meluruskan jari,
sehingga menyebabkan kesulitan untuk bergerak. Ketika upaya lebih kuat dibuat
untuk meluruskan jari, dengan menggunakan kekuatan lebih dari ekstensor jari
atau dengan menggunakan kekuatan eksternal (dengan mengerahkan kekuatan
pada jari dengan tangan lain), jari macet yang terkunci tadi terbuka dengan
menimbulkan rasa sakit yang signifikan pada telapak distal hingga ke dalam aspek
proksimal digit. Hal yang kurang umum terjadi antara lain nodul tadi bergerak
pada distal katrol, mengakibatkan kesulitan pasien meregangkan jari (Akhtar et al,
2005; Makkouk, 2008; Rasjad, 2007).
Sebuah nodul dapat meradang dan membatasi tendon dari bagian bawah
jalur yang melewati katrol. Jika nodul terdapat pada distal katrol, maka jari dapat
macet dalam posisi yang lurus. Sebaliknya, jika benjolan terdapat pada proksimal
dari katrol, maka jari pasien dapat macet dalam posisi tertekuk (Makkouk, 2008).
Biasanya, tendon fleksor pada jari mampu bergerak bolak-balik di bawah
katrol penahan. Penebalan selubung tendon fleksor membatasi mekanisme
pergerakan normal. Nodul mungkin saja dapat membesar pada tendon, yang
menyebabkan tendon terjebak di tepi proksimal katrol A1 ketika pasien mencoba
untuk meluruskan jari, sehingga menyebabkan kesulitan untuk bergerak. Ketika
upaya lebih kuat dibuat untuk meluruskan jari, dengan menggunakan kekuatan
lebih dari ekstensor jari atau dengan menggunakan kekuatan eksternal (dengan
mengerahkan kekuatan pada jari dengan tangan lain), jari macet yang terkunci tadi
terbuka dengan rasa sakit yang signifikan pada telapak distal hingga ke dalam
aspek proksimal digit (Akhtar et al, 2005; Makkouk, 2008; Snell, 2006).
Sebuah nodul dapat meradang dan membatasi tendon dari bagian bawah jalur
yang melewati katrol A-1. Jika nodul terdapat pada distal katrol A-1 (seperti yang
ditunjukkan dalam gambar ini), maka jari dapat macet dalam posisi yang lurus.
Sebaliknya, jika benjolan terdapat pada proksimal dari katrol A-1, maka jari
pasien dapat macet dalam posisi tertekuk (Akhtar et al, 2005; Makkouk, 2008).
Gambar 6. Pulley A-1 sampai A-5 yang Ada pada Jari
2.5 Clinical Pathway Trigger Finger
Penyebab Trigger finger idiopatik Pulley A-1 menerima tekanan dan gesekan terbesar saat
Faktor resiko pro
ses degenerative, terlalu seringerakkan
dig menggenggam/ gerakan normal

Gesekan berulang

Inflamasi dan hipertrofi tendon fleksor selubung retinakulum

Timbul nodul pada permukaan tendon

Penyempitan celah selubung retinakulum

Membatasi gerakan tendon fleksor

Kehilangan gerak/ jari terkunci

TRIGGER FINGER

Nyeri saat digerakkan Enggan bergerak prosespembedahan

Nyeri Akut Keterbatasan rentang gerak Luka insisi

Resiko Disuse Syndrome Posis Jari terkunci Hambatan Mobilitas Fisik Resiko Infeksi
2.6 Manifestasi Klinis Trigger Finger

Trigger Finger dapat mengenai lebih dari satu jari pada satu waktu, meskipun
biasanya lebih sering terjadi pada ibu jari, tengah, atau jari manis. Trigger Finger
biasanya lebih menonjol di pagi hari, atau saat memegang obyek dengan kuat
(Makkouk, 2008).
Gejala ini muncul biasanya dimulai tanpa adanya cedera. Gejala-gejala ini
termasuk adanya benjolan kecil, nyeri di telapak tangan, pembengkakan, rasa
tidak nyaman di jari dan sendi. Kekakuan akan bertambah jika pasien tidak
melakukan aktifitas, misalnya saat anda bangun pagi, kadang kekakuan akan
berkurang saat melakukan aktifitas. Pada kasus-kasus yang berat jari tidak dapat
diluruskan bahkan dengan bantuan. Pasien dengan diabetes biasanya akan terkena
lebih parah. Pada tingkat sendi palmaris distal, nodul bisa teraba lembut, biasanya
di atas sendi metakarpofalangealis (MCP). Jari yang terkena bisa macet dalam
posisi menekuk (Akhtar et al, 2005).
Trigger Finger dapat sangat menyakitkan bagi pasien. Dalam kasus yang
parah, pasien tidak mampu untuk menggerakkan jari yang melampaui rentang
gerak. Pada ibu jari yang macet, pada palpasi yang lembut dapat ditemukan nodul
pada aspek palmar sendi MCP pertama dari sendi palmaris distal (Akhtar et al,
2005; Makkouk, 2008).

2.7 Pemeriksaan Diagnostik Trigger Finger


Secara umum penegakan diagnosis pada Trigger Finger cukup dengan
pemeriksaan fisik saja, tidak ada tes laboratorium yang diperlukan dalam
diagnosis jari macet. Jika ada kecurigaan tentang kondisi, adanya diagnosis yang
terkait, seperti diabetes, Rheumatoid Arthritis, atau penyakit lain pada jaringan
ikat, antara lain, hemoglobin glikosilasi (HgbA1c), gula darah puasa, atau faktor
rheumatoid harus diperiksa. Secara umum, tidak ada pencitraan yang diperlukan
dalam kasus jari macet. Tidak ada tes lebih lanjut yang biasanya diperlukan (Geso
et al, 2012; Makkouk, 2008; Rasjad, 2007).
ROM ( Range of Motion) adalah jumlah maksimum gerakan yang mungkin
dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh, yaitu sagital, transversal,
dan frontal. Potongan sagital adalah garis yang melewati tubuh dari depan ke
belakang, membagi tubuh menjadi bagian kiri dan kanan. Potongan frontal
melewati tubuh dari sisi ke sisi dan membagi tubuh menjadi bagian depan ke
belakang. Potongan transversal adalah garis horizontal yang membagi tubuh
menjadi bagian atas dan bawah. Berikut pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan
menurut Manurung (2013):
1) Finkelstein Test
Test dilakukan unutk mendeteksi adanya dequevein atau Hoffman disease
atau dikenal juga dengan nama styloditis radial. Pada kondisi ini terjadi
peradangan pada tendo EPB dan APL yang berada dalam satu selubung
tendon. Finkelstein dengan cara pasien mengepalkan tangannya, dimana ibu
jari diliputi oleh jari-jari lainnya selanjutnya pemeriksa menggerakkan wrist
pasien kearah ulnar deviasi (Abduksi Ulnar). Positif jika timbul nyeri yang
hebat pada kedua tendo otot tersebut tepatnya pada procesus styloideus
radial. Yang memberikan indikasi adanya tenosynovitis pada ibu jari.
2) Test Phalen
Apabila terdapat penyempiatan pada terowongan carpal dipergelangan tangan
bagian volar yang dilintasi cabang nervus madinus, maka penekukan di
wrist joint akan menimbulkan rasa nyeri atau parestisia dikawasan nervus
medianus. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara palmar fleksi kedua wrist,
lalu saling tekankan kedua dorsum manus satu dengan lainnya
sekuatkuatnya. Tangan yang merasakan nyeri atau kesemutan memberi
indikasi bahwa terowongan karpal tersebut menyempit. Selain cara tersebut
diatas tes phalen dapat pula dilakukan dengan cara pergelangan tangan
dipertahankan selama kira-kira setengah menit dalam posisi palmar fleksi
penuh, Jika posisi ini dierahankan cukup lama, pada setiap orang akan timbuk
rasa kesemutan, akan tetapi pada sindrom terowongan carpal rasa kesemutan
akan timbul dalam waktu yang sangat singkat, pasti dalam waktu 30 detik,
terkadang parestesia baru timbul saat pergelangan tangan digerakkan
kembali dari posisi palmar fleksi maksimal.

3) Tes Tinel Terowongan Carpal


Tes ini dilkukan dengan cara melakukan pengetokan/penekanan pada
ligamentum volare pergelangan tangan atau pada n. medianus akan
menimbulkan nyeri kejut didalam tangan serta arestesia dikawasan n.
medianus apabila terowongan karpal menyempit seperti halnya dengan
sindrom carpal tunnel , meskipun didalam praktek tes ini tidak selalu positif.
4) Tes Elastisitas (Gangguan pengkerutan kulit)
Rendam area yang mengalami sensasi dengan air suam-suam kuku selama 30
menit lalu keluarkan dari dalam air, selanjutnya lipat kulitnya, jika kulit tidak
dapat dilipat indikasi gangguan pengkerutan.
5) Circle Formation
Pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa fungsi n. medians. Caranya
posisi ibu jari kejari telunjuk sehingga membentuk huruf O, jika tidak dapat
dilakukan gerakan tersebut indikasi kelemahan pada otot Interossei anterior,
FDP dan FPL.
6) Froment’s Sign
Dalam hal ini pasien mencoba untuk memegang selembar kertas diantara ibu
jari dan jari telunjuk, ketika pemeriksa mencoba untuk menarik kertas
tersebut keluar phalangs terminal ibu jari fleksi, hal ini disebabkan karena
paralysisi dari otot adductor pollicis yang memberi indikasi tes positif. Tes ini
member indikasi paralysis nervus ulnaris.
7) Allen Test
Pasien diminta untuk membuka dan menutup tangan beberapa kali secepat
mungkin. Ibu jari dan jari tangan pemeriksa diletakkan diatas arteri radial
dan arteri ulnar, selanjutnya pasien diminta untuk membuka tangan sementara
penekanan diatas arteri tetap dilakukan. Satu arteri yang ditest dibebaskan
untuk melihat aliran darahnya. Demikian pula dengam aretri lainnya. Kedua
tangan diperiksa dan bandingkan . test ini untuk mengetahuti paten dari arteri
radial dan arteri ulnaris dan untuk mengetahui pembuluh darah arteri yang
banyak mensuplai tangan.
Pemeriksaan histologi pada pulley A-1 dan tendon superfisial pada trigger
finger adalah metaplasia fibrocartilago. Sel-selnya memberikan hasil positif
untuk S-100, suatu protein yang ditemukan dalam kartilago. Pulley A-1dapat
menjadi 3 kali lebih tebal, dan lapisan dalam dari pulley A-1 berubah dari
spindle shaped fibroblas dan sel-sel ovoid menjadi kondrosit.

2.8 Penatalaksanaan Trigger Finger


a. Terapi Farmakologi
1) Pengobatan NSAIDs
Berikan pengobatan non steroid seperti aspirin, ibuprofen, naprosyn, atau
ketoprofen hingga inflamasi mereda (Fauzi, 2015).
2) Injeksi Korstikosteroid
Injeksi kortikosteroid untuk pengobatan Trigger Finger telah dilakukan
sejak 1953. Tindakan Ini harus dicoba sebelum intervensi bedah karena
sangat efektif (hingga 93%), terutama pada pasien non-diabetes dengan
onset baru-baru ini terkena gejala dan satu digit dengan nodul teraba.
Injeksi kortikosteroid diberikan fase akut sampai 4 bulan pertama. Injeksi
diberikan secara langsung ke dalam selubung tendon. Namun, laporan
menunjukkan bahwa injeksi extra synovial mungkin efektif, sambil
mengurangi risiko tendon rupture(pecah). Pecah Tendon adalah
komplikasi yang sangat jarang, hanya satu kasus yang dilaporkan.
Komplikasi lain termasuk atrofi kulit, nekrosis lemak, hipopigmentasi
kulit sementara elevasi glukosa serum pada penderita diabetes, dan infeksi.
Jika gejala tidak hilang setelah injeksi pertama, atau muncul kembali
setelah itu, suntikan kedua biasanya lebih mungkin untuk berhasil sebagai
tindakan awal (Fauzi, 2015).
b. Terapi nonfarmakologi
Terapi non farmakologi yang dapat dilakukan menurut Manurung (2013):
1) Kompreskan es selama lima sampai lima belas menit pada daerah yang
bengkak dan nyeri.
2) Hindari aktifitas yang mengakibatkan tendon mudah teriritasi, seperti
latihan jari yang berulang-ulang.
3) Splinting
Tujuan splinting adalah untuk mencegah gesekan yang disebabkan oleh
pergerakan tendon fleksor melalui katrol A1 yang sakit sampai hilangnya
peradangan. Secara umum splinting merupakan pilihan pengobatan yang
tepat pada pasien yang menolak atau ingin menghindari injeksi
kortikosteroid. Sebuah studi pekerja manual dengan interfalangealis distal
(DIP) di splint dalam ekstensi penuh selama 6 minggu menunjukkan
pengurangan gejala pada lebih dari 50% pasien. Studi lain, splint sendi
MCP di 15 derajat fleksi (meninggalkan sendi PIP dan DIP bebas) yang
ditampilkan untuk memberikan resolusi gejala di 65% dari pasien pada
1tahun tindak lanjut. Untuk pasien yang paling terganggu oleh gejala
mengunci di pagi hari, splinting sendi PIP pada malam hari dapat menjadi
efektif. splinting menghasilkan tingkat keberhasilan yang lebih rendah
pada pasien dengan gejala Trigger Finger yang berat atau lama (Geso et
al, 2012; Makkouk, 2008; Rasjad, 2007).

Gambar 7. Teknik Splint


c. Pembedahan
Tindakan pembedahan dinilai sangat efektif pada trigger finger. Indikasi untuk
perawatan bedah umumnya karena kegagalan perawatan konservatif untuk
mengatasi rasa sakit dan gejala. Waktu operasi agak kontroversial dengan data
yang menunjukkan pertimbangan bedah setelah kegagalan baik tunggal
maupun beberapa suntikan kortikosteroid. Tindakan pembedahan ini pertama
kali diperkenalkan oleh Lorthioir pada tahun 1958. Fungsi operasi biasanya
bertujuan melonggarkan jalan bagi tendon yaitu dengan cara membuka
selubungnya. Dalam penyembuhannya, kedua ujung selubung yang digunting
akan menyatu lagi, tetapi akan memberikan ruang yang lebih longgar,
sehingga tendon akan bisa bebas keluar masuk. Dalam prosedur ini, sendi
MCP adalah hyperextensi dengan telapak ke atas, sehingga membentang
keluar katrol A-1 dan pergeseran struktur neurovaskular bagian punggung.
Setelah klorida dan etil disemprotkan lidokain disuntikkan untuk manajemen
nyeri, jarum dimasukkan melalui kulit dan ke katrol A-1. Tingkat keberhasilan
telah dilaporkan lebih dari 90% dengan prosedur ini, namun penggunaan
teknik ini berisiko cedera saraf atau arteri (Fauzi, 2015).

Gambar 8. Teknik Pembedahan pada Trigger Finger

2.9 Komplikasi Trigger Finger


Komplikasi potensial utama jari memicu adalah nyeri dan penurunan
penggunaan fungsional dari tangan yang terkena. Potensi komplikasi injeksi
kortikosteroid menurut Akhtar et al, 2005 adalah sebagai berikut:
a. Infeksi, penggunaan teknik steril dapat meminimalkan masalah ini.
b. Pendarahan, ini dapat diminimalkan dengan menerapkan tekanan langsung
segera setelah prosedur tersebut. Perhatian harus dilakukan sebelum suntik
pasien dengan gangguan perdarahan.
c. Melemahnya tendon, ini meningkatkan risiko ruptur tendon berikutnya,
kemungkinan yang menjadi perhatian khusus jika suntikan dilakukan salah
(khusus, jika injeksi ini dikelola ke tendon itu sendiri bukan hanya dalam
selubung tendon). Risiko dapat meningkat dengan beberapa suntikan, namun
setidaknya beberapa peneliti klinis (misalnya, Anderson dan Kaye) tidak
menemukan episode rupture tendon setelah injeksi kortikosteroid untuk
kondisi ini, bahkan dengan suntikan ulang.
d. Atrofi lemak yang terjadi secara lokal di tempat suntikan - atrofi semacam itu
dapat terjadi jika kortikosteroid yang disuntikkan ke dalam jaringan subkutan.
komplikasi ini dapat menyebabkan depresi kosmetik di kulit.
e. infiltrasi saraf dan cedera saraf berikutnya. Komplikasi ini jarang terjadi, bisa
dipantau oleh sensasi menilai seluruh digit.

2.10 Prognosis Trigger Finger


Prognosis pada Trigger Finger sangat baik, kebanyakan pasien merespon
terhadap injeksi kortikosteroid dengan atau tanpa bebat terkait. Beberapa kasus
jari macet mungkin dapat sembuh secara spontan dan kemudian terulang kembali
tanpa korelasi yang jelas dengan pengobatan atau faktor memperburuk (Akhtas et
al, 2005; Makkouk, 2008).

3. Konsep Asuhan Keperawatan


3.1 Pengkajian Keperawatan
1. Identitas
Kaji nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan nomor register.
2. Riwayat Kesehatan
a) Keluhan utama: kaji keluhan yang paling dirasakan pasien
b) Riwayat kesehatan sekarang : keluhan sampai saat klien pergi ke
Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti pada jari saat
digerakkan.

c) Riwayat kesehatan masa lalu: kaji adanya kecelakan pada masa


lalu/fraktur, tumor, trauma jaringan lunak, penyakit Diabetes
Mellitus.
d) Riwayat kesehatan keluarga: yang dapat dikaji melalui
genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi
mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat
dalam keluarga.
3. Pemeriksaan Fisik:
1) Keadaan umum
2) B1 (Breathing)
Pada pemeriksaan sistem pernapasan, didapatkan bahwa klien
Trigger Finger tidak mengalami kelainan pernapasan.
3) B2 (Blood)
Inspeksi tidak ada iktus jantung, palpasi nadi meningkat, iktus teraba
auskultasi suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada mur-mur.
4) B3 (Brain)
Kepala, leher, wajah, mata, telinga, hidung, mulut dan faring
5) B4 (Bladder)
Kaji urine yang meliputi warna, jumah dan karakteristik urine,
termasuk berat jenis urine. Tetapi bia sanya tidak mengalami
gangguan.
6) B5 (Bowel)
Inspeksi abdomen bentuk datar, simetris, tidak ada hernia. Palpasi
turgor kulit baik, tidak ada defans muskular dan hepar teraba. Perkusi
suara timpani ada pantulan gelombang cairan. Auskultasi peristaltik
usus normal kurang lebih 20x/menit. 7) B6 (Bone)
Adanya jari yang terkunci, dan bunyi clicking
a. Look
Perhatikan adanya pembengkakan yang abnormal dan deformitas
pada jari tangan.

b. Feel
Kaji adanya nyeri tekan dan krepitasi pada jari tangan.
c. Move
Karena timbul nyeri, gerak menjadi terbatas. aktivitas klien yang
berhubungan denan menggerakkan jari tangan menjadi berkurang
dan klien memerlukan bantuan orang lain.

3.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan sebelum pembedahan, yaitu:
a. Nyeri akut berhubungan agen cedera fisik
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskolaskeletal,
kaku sendi, keengganan memulai pergerakan, kontraktur, nyeri, program
pembatasan gerak.
c. Resiko Sindrom disuse
Diagnosa keperawatan setelah pembedahan, yaitu:
a. Nyeri akut berhubungan agen cedera fisik
b. Risiko infeksi
3.3 Rencana Keperawatan
Diagnosa
No Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Keperawatan
1 Nyeri akut NOC : NIC
1. Pain Level, 1. Lakukan pengkajian nyeri secara 1. Untuk mengetahui letak
berhubungan
2. Pain control, komprehensif termasuk lokasi, nyeri dan sejauh mana
agen cedera 3. Comfort level Kriteria karakteristik, durasi, frekuensi, skala nyeri.
Hasil : kualitas dan faktor presipitasi 2. Untuk mengetahui
fisik
1. Mampu mengontrol nyeri (tahu 2. Observasi reaksi nonverbal dari sejauh mana nyeri yang
penyebab nyeri, mampu ketidak nyamanan dirasakan
menggunakan tehnik 3. Berikan tindakan non 3. Tindakan yang
nonfarmakologi untuk mengurangi farmakologi unuk menurunkan rasa nyeri
nyeri, mencari bantuan). menghilangkan rasa nyeri dengan relaksasi
2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan tehnik relaksasi nafas 4. Untuk mengurangi rasa
dengan menggunakan manajemen dalam nyeri dengan obat
nyeri. 4. Kolaborasi pemberian analgesik farmakologi
3. Mampu mengenali nyeri (skala, pilihan, rute pemberian, dan
intensitas, frekuensi dan tanda dosis optimal
nyeri)
4. Menyatakan rasa nyaman setelah
nyeri berkurang
5. Tanda vital dalam rentang normal
2 Hambatan NOC : NIC
mobilitas 1. Joint Movement : Active 1. Monitor TTV pasien sebelum 1. Perubahan vital sign
fisik 2. Mobility Level dan setelah memberikan menandakan terjadinya
berhubungan 3. Self care : ADLs katihan rentang gerak keadaan patologis
dengan 4. Transfer Performance 2. Kaji tingkat lainnya setelah
kriteria hasil : kemampuan dilakukan terapi
gangguan Pasien menunjukan tingkat mobilitas aktivitas pasien. 2. Untuk mengetahui
optimal dengan kriterian hasil 3. Bantu pasien untuk sejauh mana ADLs
muskolaskeletal,
1. penampilan seimbang, 2. memenuhi kebutuhannya pasien
kaku sendi, mempertahankan mobilitas yang tidak dapat dilakukan 3. Memenuhi
3. optimal dengan : secara mandiri. kebutuhan pasien yang
keengganan
1 : mandiri penuh 4. Dekatkan barang-barang tidak dapat dilakukan
memulai
2 : memerlukan alat bantu yang dibutuhkan pasien. secara
pergerakan, 5. Libatkan keluarga dalam
3 : memerlukan bantuan dari . mandiri
kontraktur, memberikan asuhan kepada
orang lain, pengawasan dan . 4. Untuk memudahkan
nyeri, program pengajaran pasien. menjangkau barang
pembatasan 4 : membutuhkan bantuan dari 6. Kolaborasi pemberian yang dibutuhkan
gerak. . orang lain dan alat bantu analgetik 5. Melatih keluarga untuk
5 : ketergantungan penuh melakukan terapi
dirumah
6. Untuk mengurangi rasa
nyeri.
3 Resiko Sindrom NIC:
Disuse NOC Exercise therapy 1. Pertimbangan intervensi
Immoblity Consequences: Physiological selanjutnya
1. Kaji kemampuan pasien dalam
Kriteria hasil: mobilisasi 2. Pasien memahami latihan
1. Pasien meningkat dalam aktivitas fisik 2. Ajarkan bagaimana latihan yang yang perlu dilakukan
2. Mengerti tujuan dari peningktaan diperlukan 3. Membantu mempercepat
mobilitas fisik 3. Anjurkan pasien untuk rutin proses peningkatan aktivitas
3. Rentang gerak meningkat latihan 4. Memantau kemajuan dari
4. Tonus otot meningkat ROM terapi
4. Monitor perkembangan
kemampuan aktivitas pasien 5. Membantu mempercepat
5. Anjurkan keluarga juga peningkatan mobilisasi
berpartisipassi dalam program pasien
latihan pasien.
6. Kolaborasi pemberian analgesic, 6. Untuk mengurangi rasa nyeri,
kortikosteroid dan inflamasi tendon
3.4 Discharge Planning
Perencanaan pemulangan yang diberikan kepada keluarga dan pasien antara
lain:
1. Menjelaskan terkait penyakit, tanda-gejala, penyebab dan penanganannya
2. Menjelaskan jadwal kontrol dan pentingnya melakukan kontrol, waktu dan
tempat kontrol.
3. Menjelaskan perawatan di rumah meliputi pemberian pengajaran atau
pendidikan kesehatan (health education) mengenai :
a. Aktifitas berat yang harus dihindari
b. Latihan yang harus dilakukan dirumah
c. Obat-obatan yang harus diminum dosis, cara pemberian, dan waktu
yang tepat minum obat.
4. Memberikan hasil pemeriksaan
a. hasil pemeriksaan luar sebelum MRS dan hasil pemeriksaan selama
MRS dibawakan ke pasien waktu pulang serta surat-surat seperti :
surat keterangan sakit, surat kontrol dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Akhtar S,et al. 2005. Management and Referral for Trigger Finger/Thumb. [serial
online] [Link] diakses pada 4
Mei 2016.

Faiz, O. & Moffat, D. 2004. Anatomi at A Glance. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Fauzi, A. 2015. Trigger Finger. [serial online]


[Link]
e=Trigger%20Finger. diakses pada 4 Mei 2016.

Geso LD, et al. 2012. CS Injection of Tenosynovitis in Patients with Chronic


Inflammatory Arthritis: The Role of US. [serial online]
[Link]
_21_01_10.pdf. diakses pada 4 Mei 2016.
Green DP, & Hotchkiss RN. 2005. Green’s Operative Hand Surgery. Edisi
kelima. London: Churchill Livingstone.

Ifeacho, SN. & Brar, R. 2007 Stenosing Tenosynovitis (Trigger Finger and
Trigger Thumb). [serial online]
[Link]
pdf. diakses 04 Mei 2016.

Jester, R., Santy, J., & Rogers, J. 2011. Oxford Hanbook of Orthopaedic and
Trauma Nursing. New York: Oxford University Press.

Makkouk AH, Oetgen ME, Swigart CR, Dooed SD. Trigger Finger: Etiology,
Evaluation, And Treatment. [serial online]
[Link]
pdf. diakses pada 4 Mei 2016.

Manurung, WSM. 2013. Referat Trigger Finger. [serial online]


[Link]
=doc&ft=1462372291&lt=1462375901&user_id=317448517&uahk=oeuILI
PZPeqkNwDgNLTi1H/ocCE. diakses pada 4 Mei 2016.

Rasjad C. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta : PT. Yarsif


Watampone.

Snell, RS. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi Keenam.
Jakarta : EGC.

Anda mungkin juga menyukai