Nama : Nada Nisrina
NIM : 180101100316
Mata Kuliah : Pendidikan Akhlak
Dosen Pengampu : Ibu Syariah, M. Ag.
Materi 1:
Akhlak; Pengertian, Fungsi, Tujuan, Sumber dan Ruang Lingkup
Jurnal pada makalah:
a. Zainudin. 2013. Pendidikan Akhlak Generasi Muda. Jurnal Ta’allum. 01 (01): 85-97.
Link:[Link]
b. Bafadhol, Ibrahim. 2017. Pendidikan Akhlak Dalam Perspektif Islam. Jurnal
Edukasi Islam Jurnal Pendidikan Islam. 06 (12): 45-61.
Link:[Link]
c. Syarifah, Habibah. 2015. Akhlak dan Etika Dalam Islam. Jurnal Pesona Dasar. 01
(04): 73-87.
Link: [Link]
Jurnal yang di review:
Maulida, Ali. 2013. Konsep dan Desain Pendidikan Akhlak dalam Islamisasi Pribadi
dan Masyarakat. Jurnal Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam. 02: 358-375.
Link: [Link]
Judul Konsep dan Desain Pendidikan Akhlak dalam Islamisasi
Pribadi dan Masyarakat
Nama Jurnal Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam
Volume dan halaman Vol. 02, Hal. 358-375
Tahun 2013
Penulis Ali Maulida
Reviewer Nada Nisrina
Tanggal 03 Nopember 2020
Tujuan Penelitian Mengelaborasi konsep pendidikan akhlak pada beberapa
aspeknya, baik deskripsi, faktor-faktor yang mempengaruhi
akhlak, tujuan dan ruang lingkup pendidikan akhlak,
karakteristik dan urgensi pendidikan akhlak dalam perspektif
Islam.
Subjek Penelitian Pribadi dan Masyarakat
Metode Penelitian Penelitian kepustakaan
Hasil Penelitian - Dalam artikel ini dijelaskan tentang pengertian pendidikan
dan akhlak. Kata pendidikan yang biasa digunakan adalah
tarbiyah, ta’lim dan ta’dib, tetapi dalam penulisan ini penulis
hanya membatasi dengan istilah [Link] adalah
sebuah pekerjaan yang terarah, memiliki tujuan, target dan
sasaran. Murabbi (pendidik) yang hakiki secara mutlak adalah
Allah SWT. Tarbiyah mengharuskan adanya perencanaan yang
bertahap yang dijalankan oleh pekerjaan-pekerjaan terkait
pendidikan dan pengajaran, sesuai dengan aturan yang
sistematis dan meningkat. Adapun makna akhlak sebagai sifat
yang terkandung di dalam jiwa, baik fitrah atau yang didapat
dengan usaha, yang menghasilkan akhlak terpuji atau tercela.
- Secara umum faktor yang mempengaruhi akhlak adalah ada
atau tidaknya hidayah dari Allah. Dengan kata lain akhlak
menerima pengaruh pendidikan yang baik maupun yang buruk.
Semakin banyak ilmu syariah yang diketahui oleh seorang
hamba maka akan semakin berpotensi untuk mendorong
seseorang untuk berakhlak mulia. Hidayah yang paling besar
adalah ketika seseorang diberi pengetahuan tentang keimanan
dan diberikan bimbingan oleh Allah untuk mengimani
pengetahuan itu didalam hati. Karena ini adalah hidayah
terbesar maka hal ini pun sangat berpengaruh terhadap akhlak
seseorang, sehingga tidak mungkin akidah atau keyakinan
seseorang dapat dipisahkan dengan akhlaknya. Al Qur’an
sebagai sumber hidayah telah merinci akhlak seorang muslim,
sehingga semakin banyak seseorang membaca dan memahami
al Qur’an maka akan semakin banyak hidayahnya dan semakin
baik pula akhlaknya. Rasulullah adalah orang yang paling
banyak mendapat hidayah dari Allah sehingga beliau menjadi
orang yang paling berakhlak mulia. Sebagai contoh di antara
akhlak mulia Rasulullah adalah kedermawanan dan ini
bertambah kualitasnya pada bulan Ramadhan ketika Malaikat
Jibril datang setiap malam untuk mengajarkan al Qur’an. Dapat
diketahui bahwa peningaktan kedermawanan ada kaitannya
dengan peningkatan hidayah berupa pembacaan Al Qur’an
yang di ulang-ulang. Inilah faktor utama yang sangat
mempengaruhi akhlak seseorang, walaupun ada faktor-faktor
lain yang mempengaruhi, diantaranya insting, adat kebiasaan,
keturunan serta lingkungan.
- Akhlak merupakan inti dari kepribadian seorang muslim,
sehingga harus menjadi pondasi bagi kehidupan manusia.
Adanya pendidikan akhlak ini bertujuan agar seseorang
menjauhi maksiat atau perbuatan yang dilarang oleh Allah
karena di antara sebab terjadinya perbuatan maksiat adalah
kosongnya jiwa seseorang dari nilai-nilai akhlak terpuji.
Terjadinya perbuatan dosa-dosa besar mayoritas (keseluruhan)
disebabkan karena pelakunya tidak memiliki akhlak yang baik.
- Ruang lingkup akhlak mencakup interaksi dengan al Khaliq
( Sang Pencipta) dan interaksi dengan makhluq. Interaksi
dengan al Khaliq dapat diterapkan dengan beberapa hal, yaitu
1)menerima segala berita dan informasi dari Allah dengan
pembenaran tanpa keraguan; 2) menerima hukum-hukum Allah
dengan pelaksanaan dan penerapan ; 3) menerima berbagai
ketentuan Allah dengan sikap sabar, ridha , dan menyadari
sepenuhnya bahwa Allah memberikan hikmah dan tujuan yang
terpuji. Adapun interaksi dengan makhluq, para ulama banyak
menguraikannya dengan berbagai bentuk seperti menurut
Hasan al Bashri yaitu: 1) menahan diri dari menyakiti orang
lain, baik terkait harta, jiwa, maupun kehormatan mereka; 2)
sikap kedermawanan; 3) sikap berwajah menyenangkan dengan
menampakkan wajah yang berseri-seri dan menyenangkan
orang lain ketika memandangnya.
-Karakteristik akhlak islami sangat istimewa dan tiada
bandingannya baik dari aspek definisi, sumber, cakupan
maupun tujuan. Allah menerangkan dalam Al Qur’an bahwa
tidaklah Dia menciptakan manusia dan seisi alam semesta
melainkan pasti terkandung banyak hikmah didalamnya.
Banyak sekali karakteristik sistem akhlak di dalam Islam yang
membedakannya dari ajaran agama lain diantaranya: 1)
Syumuliyyah (lengkap), dimana akhlak islami mencakup
seluruh perbuatan manusia, baik terhadap diri sendiri maupun
orang lain. Demikian pula sifatnya terkait dengan pribadi
maupun jama’ah. Dengan kata lain akhlak islami mengatur
seluruh aspek dalam kehidupan manusia. Karakter syumūliyyah
akhlak islami berangkat dari karakter syumūliyyah agama Islam
itu sendiri, dimana ia mencakup aspek ruhani, akal, jasadi,
moral, sosial, bahkan aspek keindahan. Jika dikaitkan dengan
masalah pendidikan maka keterkaitannya sangatlah erat.
Manusia yang dididik dengan akhlak islami dapat dipastikan
akan memiliki kepribadian yang kuat dan sempurna. Karakter
ini menjadi mu’jizat yang tak tertandingi sepanjang zaman; 2)
al-Shalāhiyyah (sesuai dan dapat diterapkan) di setiap masa
maupun tempat. Dimanapun dan kapanpun seseorang berada,
ada aturan syariah yang mengatur segala aktivitasnya baik
pribadi maupun anggota masyarakat yang mencakup masalah
sosial, akidah dan keyakinan maupun aturan hukum. Setelah
diteliti dengan objektif, ternyata Syariat Islam memang bisa
menjamin terwujudnya kemaslahatan bagi semua orang. Hal ini
didasarkan pada beberapa alasan diantaranya bahwa hukum-
hukum syariah dibangun atas sebuah prinsip jalb al-mashālih
wa dar’u al-mafāsid (mewujudkan maslahat/kebaikan dan
menolak keburukan/kerugian). Seluruh tuntunan tentang akhlak
mulia tidaklah pernah berubah esensinya sejak Islam datang
hingga kiamat kelak. Ia terus berlaku sepanjang kehidupan
manusia, sejak dilahirkan sampai masuk ke liang lahat; 3) Iqnā
al-‘Aql wa al-‘Ātifah (memberikan kepuasan bagi akal dan
perasaan). Dengan karakternya sebagai sistem Rabbānī, Islam
datang dengan begitu sempurna memenuhi semua kebutuhan
kemanusiaan.
- Urgensi pendidikan akhlak dalam perspektif Islam dapat
dilihat dari berbagai dalil yang menegaskan kemuliaan akhlak
diantaranya: 1) Akhlak adalah faktor terpenting dari risalah
Rasulullah; 2) Akhlak adalah standar kebaikan seseorang; 3)
Akhlak adalah salah satu tanda kesempurnaan iman; 4) Akhlak
adalah bentuk kebaikan (amal shalih) yang paling banyak
memberatkan timbangan seseorang di akhirat kelak; 5) Akhlak
adalah amal shalih yang paling banyak menyebabkan seseorang
masuk ke dalam surga; 6) Dengan akhlak yang baik seseorang
akan mendapatkan kecintaan (mahabbah) dari Rasulullah.
Hukum-hukum atau syariat Islam dapat diklasifikasikan dalam
beberapa aspek dimana seluruhnya memiliki keterkaitan yang
erat dengan akhlak, yaitu: 1) Syariat yang berkaitan dengan
keyakinan; 2) Hukum-hukum peribadahan; 3) Hukum yang
berkaitan dengan harta; 4) Hukum-hukum sosial; 5) Adab
islami
Kekuatan Penelitian -Penulis menjabarkan secara rinci mengenai latar belakang
hasil penulisan ini, melihat berbagai problem yang selalu
muncul di media massa terkait beragam aksi kriminal,
penyimpangan moral dan lain sebagainya yang sangat
memprihatinkan karena bertolak belakang dengan ajaran Islam
yang mengajarkan agar berakhlak mulia. Berbagai macam cara
mulai yang sederhana sampai yang serius sudah dilakukan
untuk mengatasi problem tersebut. Oleh karena itu, penulis
mengkaji, menganalisa terkait konsep pendidikan akhlak di
masyarakat.
- Penulis juga memaparkan secara lengkap penjelasan yang
dibagi ke dalam poin-poin khusus, yaitu mulai dari pengertian
pendidikan akhhlak, faktor-faktor yang mempengaruhi akhlak,
tujuan pendidikan akhlak, ruang lingkup pendidikan akhlak,
karakteristik akhlak islami, dan urgensi pendidikan akhlak
dalam perspektif Islam. Sehingga memudahkan pembaca dalam
memahami, selain itu juga disertai ayat-ayat Al Qur’an dan
berbagai macam isi hadits yang terkait pembahasan tersebut.
- Selain dikaitkan dengan dalil tentang kemuliaan akhlak,
tulisan ini juga menjelaskan keterkaitan akhlak dengan seluruh
unsur di dalam Islam, seperti hukum atau syariat yang berkaitan
dengan keyakinan, hukum-hukum peribadahan, hukum-hukum
sosial dan adab Islami.
- Disertai dengan footnote dan daftar pustaka sehingga referensi
nya dapat dipercaya
Kelemahan Penelitian -Dalam artikel ini penulis tidak menuliskan bagian kesimpulan
dari pembahasan sehingga pembaca harus membaca
keseluruhan untuk menyimpulkan sendiri pembahasan yang
ada dalam artikel.
-Metode dan proses penelitian tidak dijelaskan secara rinci
Kesimpulan Makna akhlak sebagai sifat yang terkandung di dalam jiwa,
baik fitrah atau yang didapat dengan usaha, yang menghasilkan
akhlak terpuji atau tercela.
Secara umum faktor yang mempengaruhi akhlak adalah ada
atau tidaknya hidayah dari Allah. Adanya pendidikan akhlak ini
bertujuan agar seseorang menjauhi maksiat atau perbuatan yang
dilarang oleh Allah karena di antara sebab terjadinya perbuatan
maksiat adalah kosongnya jiwa seseorang dari nilai-nilai akhlak
terpuji maka akan semakin banyak hidayahnya dan semakin
baik pula akhlaknya. Ruang lingkup akhlak mencakup interaksi
dengan al Khaliq ( Sang Pencipta) dan interaksi dengan
makhluq. Karakteristik akhlak islami sangat istimewa dan tiada
bandingannya dengan ajaran agama lain.
Materi 2:
Pentingnya Ilmu Akhlak, Hubungan, dan Karakteristiknya dalam Disiplin Ilmu
Lainnya
Jurnal pada makalah:
a. Subahri. 2015. Aktualisasi Akhlak dan Pendidikan. Jurnal Islamuna. 2 (2):
h. 167-182.
Link:[Link]
b. Mahmud, Akilah. 2019. Ciri dan Keistimewaan Akhlak dalam Islam.
Jurnal Sulesena. 13 (1): h. 32- 35.
Link:[Link]
c. Darmansyah. 2017. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid. Jurnal
Majalah Ilmu Pendidikan. 20 (1): h. 85-87.
Link:[Link]
Jurnal yang direview:
Yakin, Hasnul dan Warnis. 2018. Urgensi Pendidikan Akhlak di Sekolah.
FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan. 02: 47-54.
Link: [Link]
Judul Urgensi Pendidikan Akhlak di Sekolah
Nama Jurnal FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan
Volume dan halaman Vol. 02, Hal. 47-54
Tahun 2018
Penulis Hasnul Yakin dan Warnis
Reviewer Nada Nisrina
Tanggal 02 November 2020
Tujuan Penelitian Tujuan utama dalam artikel ini yaitu penulis mencoba menjelaskan
urgensi akhlak dan pentingnya pendidikan akhlak di sekolah-
sekolah
Subjek Penelitian Siswa di sekolah-sekolah
Metode Penelitian metode maudhu’i, mengumpulkan ayat – ayat dengan tema yang
sama dan disempurnakan dengan beberapa hadis, kemudian
disimpulkan
Hasil Penelitian -Latar belakang dari penulisan artikel ini karena penulis melihat
beberapa kasus yang muncul di media mengenai siswa di sekolah
yang menganiaya gurunya. Oleh karena itu, penulis mencoba
menjelaskan urgensi pendidikan akhlak di sekolah.
-Adapun hasil pembahasan mengenai teori akhlak, penulis terlebih
dahulu menjelaskan pengertian akhlak pada KBBI yaitu: tabiat,
tingkah laku. Selain itu juga dilengkapi beberapa hadits dan ayat-
ayat al Qur’an yang sesuai dengan tema tersebut. Ada hadits yang
menjelaskan bahwa kebaikan secara luas merupakan akhlak yang
mulia sedangkan dosa adalah apa yang terdetak di dalam hati dan
tidak takut apabila manusia mengetahui hal tersebut. Selain itu
juga, akhlak yang mulia ini akan memberatkan timbangan kita di
akhirat kelak. Sehingga akhlak mulia ini memiliki peran penting
dalam membawa kita ke surga kelak, karena akan memberatkan
timbangan kebaikan. Begitupun sebaliknya, akhlak yang buruk
juga akan memberatkan timbangan keburukan si pelaku. Hal ini
juga ditegaskan dalam firman Allah SWT. yakni surah Al Qari’ah
ayat 6-9. Dalam hadits yang lain tentang akhlak juga disebutkan
bahwa orang yang memiliki akhlak mulia disamakan derajatnya
dengan orang yang ahli puasa dan ahli sholat. Hal ini
menunjukkan tingginya kedudukan orang yang berakhlak mulia.
-Adapun urgensi akhlak dalam kepribadian siswa dan dalam
kehidupan adalah diangkatnya derajat kedudukan yang tinggi
karena akhlak mulia yang dimiliki. Sebaliknya, akhlak yang buruk
akan merendahkan seseorang walaupun ia orang yang terpandang
di masyarakat. Dalam sebuah hadits oleh at-Tirmidzi, bahwa
Rasulullah memerintahkan agar kita berakhlak mulia kepada
semua manusia, beliau juga menegaskan bahwa manusia yang
terbaik ialah yang paling baik akhlaknya. Rasulullah lah yang
pertama kali mempraktekkannya, sehingga beliau menjadi
uswatun hasanah atau teladan terbaik bagi seluruh umat muslim.
Sebaik-baik manusia adalah yang berbuat baik kepada
keluarganya. Selanjutnya pada firman Allah SWT surah Al Ahzab
ayat 21 bahwa Allah SWT menjadikan Rasulullah sebagai teladan
terbaik dalam kehidupan. Dalam tafsir Ibnu Katsir juga
mengatakan bahwa ayat ini merupakan ayat yang mulia karena
memerintahkan semua umat muslim agar meneladani pribadi
Rasulullah baik dalam perkataan, perbuatan dan segala kondisi
apapun. Dalam ayat lain yaitu surah al-Qalam ayat 4 juga
ditegaskan lagi bahwa Rasulullah benar-benar memiliki akhlak
yang mulia. Pada beberapa tafsir juga menyebutkan bahwa akhlak
Rasulullah itu adalah Al Qur’an.
-Dari segi baik dan buruk, akhlak terbagi 2 yaitu: 1) akhlak terpuji
(akhlaq al-mahmudah,) baiknya akhlak ini berdasarkan Al Qur’an
dan Hadits. Di antara akhlak yang mulia seperti jujur, amanah,
penolong, disiplin, dan lain sebagainya. 2) Akhlak tercela (Akhlaq
madzmumah), sebaiknya sebagai seorang muslim kita menjauhi
akhlak tercela ini, seperti pembohong, pemarah, curang, dan lain
sebagainya.
-Adapun akhlak dari segi objek terbagi 3 bagian, yakni: 1) Akhlak
kepada Allah Ta’ala. Kita dapat mempraktekkannya dengan cara
mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah seperti sholat,
puasa, zakat dan hal-hal kebaikan lainnya, serta menjauhi segala
perbuatan yang dilarang oleh Allah. 2) Akhlak kepada manusia.
Dalam hal ini dapat dibagi kepada beberapa pembagian yakni
akhlak kepada Rasul dengan cara menta’ati perintahnya dan
menjauhi segala larangannya; akhlak kepada guru dan orang tua
dengan cara menghormatinya; akhlak kepada sesama dengan cara
saling tolong menolong; akhlak kepada orang yang lebih muda
dengan cara menyayanginya. 3) Akhlak kepada binatang dan
tumbuh-tumbuhan. Kepada binatang kita harus menyayanginya
seperti memberi makan dan minum, apalagi binatang piaraan, kita
tidak boleh menyiksa dan menyakitinya. Kepada tumbuhan kita
harus merawat dan memeliharanya agar tumbuh dengan baik.
- Pendidikan merupakan sebuah proses yang dijalani seseorang
dan bisa didapatkan dari rumah, lingkungan, dan sekolah.
Pendidikan non formal seperti pendidikan di rumah atau
lingkungan karena seorang anak bisa melihat dan mempraktekkan
langsung apa yang sering dilihatnya dari orang-orang terdekatnya
yang menurutnya baik walaupun mungkin tidak semuanya baik.
Oleh karena itu, pendidikan akhlak ini sangat penting diajarkan
dan diterapkan juga di sekolah. Karena di sekolah, siswa tidak
hanya mendapatkan ilmu dari gurunya, tetapi ia juga akan banyak
belajar bagaimana cara berteman, berorganisasi dan berinteraksi
dengan lingkungan sekolah. Maka dari hal tersebut pasti ada
muncul permasalahan yang terjadi di sekolah, bisa karena kurang
kontrol dari guru atau pihak sekolah maupun faktor-faktor lainnya.
Oleh karena itu, pendidikan akhlak ini sangat penting diajarkan
kepada siswa dan untuk langsung dipraktekkan. Praktek dan
pengajaran akhlak di sekolah ini diharapkan dapat memberikan
dampak positif kepada siswa, sehingga ia juga dapat
mempraktekkan bersama keluarga ketika berada di rumah dan
dimanapun ia berada. Tentunya setiap guru dan orang tua pasti
menginginkan siswa/anaknya memiliki akhlak yang mulia dan
menjadi generasi yang sholeh/ah.
Kekuatan Penelitian -Pembahasan pada penelitian menggunakan metode maudhu’i
yaitu dengan mengumpulkan ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan
dengan pentingnya memiliki akhlak mulia dan menerapkannya
dalam kehidupan. Selain itu juga disertai beberapa hadits Nabi
Muhammad SAW. untuk menguatkan. Sehingga kita bisa
mengetahui ayat-ayat apa saja di dalam Al Qur’an yang sesuai
dengan tema akhlak dan hadits-hadits disertai penjelasan beberapa
tafsir. Karena sejatinya akhlak ini bersumber pada Al Qur’an dan
hadits.
- Memaparkan secara jelas terkait urgensi pendidikan akhlak dan
menjelaskan latar belakang dari penulisan artikel ini yakni karena
melihat berbagai macam penyimpangan yang dilakukan siswa
terhadap guru di sekolah. Sehingga diharapkan dengan adanya
tulisan ini dapat mengurangi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi
dengan memasukkan pembelajaran akhlak di sekolah beserta
prakteknya hingga membentuk karakter dalam pribada siswa di
sekolah.
- Penulis juga menyertakan beberapa referensi yang sesuai dengan
tema terkait penulisan artikel ini.
Kelemahan Penelitian - Penulis hanya menjelaskan teori dan urgensi akhlak secara
umum. Tidak dijelaskan lebih lanjut bagaimana cara
pengaplikasiannya di sekolah agar berjalan sesuai dengan hasil
yang diharapkan.
- Tidak dikembangkan ke dalam poin-poin yang lebih khusus
Kesimpulan Akhlak merupakan salah satu hal yang pokok dalam agama dari
tiga hal yang penting untuk diajarkan yaitu akidah, ibadah dan
akhlak. Adapun pendidikan sebagai sarana bagi siswa untuk
menuntut ilmu dan menerapkannya dalam kehidupan, baik itu
pendidikan formal seperti di sekolah maupun non formal seperti di
rumah dan lingkungan. Dengan adanya praktek dan pengajaran
akhlak di sekolah diharapkan dapat mengurangi hal-hal buruk
terjadi.
Materi 3:
Sejarah dan Karakteristik Etika di Dalam dan di Luar Islam
Jurnal pada makalah:
a. Emita, Dewi. 2011. Akhlak Dan Kebahagiaan Hidup Ibnu Maskawaih. Jurnal
Substantia. 13 (2): h. 257.
Link: [Link]
b. Mahmud, Akilah. 2019. Ciri dan Keistimewaan Akhlak dalam Islam.
Jurnal Sulesena. 13 (1): h. 32- 35.
Link:[Link]
c. Yusuf, Muhammad. 2014. Hubungan Muslim Dengan Non- Muslim. Jurnal Al-
Tahrir. 14: (2). h.192-194.
Link:[Link]
%20Surip/Downloads/HUBUNGAN_MUSLIM_DENGAN_NON-
MUSLIM_PERSPEKTIF_ULAMA.pdf
Jurnal yang direview:
Junaidi, Mahbub. 2019. Akhlak dalam Perspektif Sejarah. DAR EL-ILMI: Jurnal
Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora. 06: 112-127.
Link: [Link]
Judul Akhlak dalam Perspektif Sejarah
Nama Jurnal DAR EL-ILMI: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan
Humaniora
Volume dan halaman Vol. 06, Hal. 112-127
Tahun 2019
Penulis Mahbub Junaidi
Reviewer Nada Nisrina
Tanggal 04 Nopember 2020
Tujuan Penelitian Mengkaji perkembangan sejarah akhlak
Subjek Penelitian Tokoh sejarah
Metode Penelitian Studi literatur
Hasil Penelitian - Sejarah singkat penyelidikan akhlak bahwa akhlak muncul
bersamaan dengan munculnya manusia pertama kali yaitu masa
Nabi Adam, walaupun akhlak belum terdefinisikan secara
ilmiah saat itu. Hal ini diketahui dalam firman Allah pada
Surah Al Baqarah ayat 35, yang bisa kita lihat dan dibaca
hingga saat ini, dimana Allah memberikan perintah dan
larangan-larangan secara keseluruhan kepada Nabi Adam untuk
mengatur perilaku Nabi Adam dan istrinya dalam menjalani
kehidupan di bumi. Selain itu juga memberikan pengalaman
berharga bagi Nabi Adam sendiri sehingga bisa mengambil
pelajaran untuk keberlangsungan hidup di masa yang akan
datang. Sesungguhnya kaidah (aturan) yang dibuat oleh Allah
tersebut memuat apa yang disebut dengan akhlak secara haqiqi
yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya (Allah)
dan juga mengatur hubungan manusia dengan manusia.
- Secara garis besar perkembangan pemikiran akhlak mulai
periode Yunani.
Apabila ditinjau secara Ilmiah, penyelidikan akhlak untuk
pertama kali dilakukan oleh filosof yunani yang bernama
Socrates (murid Phytagoras). Pada mulanya para filosof Yunani
tidak banyak yang memperhatikan hal ini (akhlak), kebanyakan
mereka disibukkan dalam menyelidiki alam raya, asal usul dan
gejala di dalamnya. Kemudian datanglah “Socrates” (469-399
SM) yang memusatkan penyelidikannya dalam pemikiran
tentang akhlak dan hubungan manusia satu dengan yang lain.
Dalam hal ini ia berpendapat bahwa yang seharusnya difikirkan
oleh setiap manusia adalah perbuatan mengenai kehidupan.
Atas pemikirannya itu ia disebut sebagai perintis ilmu akhlak
(bapak Akhlak).
-Socrates juga berpendapat bahwa akhlak dan bentuk hubungan
itu tidak menjadi benar kecuali bila didasarkan kepada ilmu
pengetahuan. Namun pada periode ini, akhlak belum
mempunyai ukuran baku yang dipergunakan untuk mengukur
segala perbuatan yang diberi hukum baik dan buruk, karena
yang dipergunakan hanyalah nilai baik menurut hati (rasa)
manusia secara umum.
- Selanjutnya datang Plato, yang mengkritik terhadap orang-
orang yang tetap memegang ajaran dan adat kuno waktu itu.
Meskipun begitu, ia tetap melakuukan koreksi dan analisa
terhadap golongan angkatan muda yang mengira bahwa dengan
ocehan dan cemoohan itu hakikat kebenaran akan tertolong.
Plato ini adalah murid Socrates yang tersohor dan banyak
memiliki pemikiran original. Salah satu pemikirannya tentang
akhlak termuat dalam bukunya yang terkenal yaitu Republic.
- Setelah Plato datanglah tokoh muda bernama Aristoteles yang
merupakan murid Plato dengan Filsafat Paripatetiknya. Dia
mempelajari etika (akhlak) dengan sangat mendalam sehingga
berpendapat bahwa tujuan akhir yang diusahakan dengan
perbuatan manusia itu ialah kebahagiaan, yang tidak hanya
diukur dari materi, tetapi lebih pada rasa bathin. Lebih lanjut ia
menjelaskan, bahwa cara mencapai kebahagiaan tersebut adalah
dengan mempergunakan kekuatan akal sebaik-baiknya. Ia juga
menciptakan teori “tengah-tengah” yakni bahwa setiap
keutamaan itu adalah tengah-tengah diantara dua keburukan
atau istilah dalam agama disebut tawazun. Teori ini sesuai
dengan ajaran Islam dan merupakan inti dari ajaran Islam,
sebagaimana terdapat dalam firman Allah, diantaranya perintah
untuk makan dan minum diperbolehkan tetapi jangan berlebih-
lebihan.
- Selanjutnya perkembangan akhlak pada fase Arab pra-Islam.
Bangsa Arab pra-Islam identik dikenal sebagai bangsa yang
tertinggal peradabannya dibanding bangsa lain. Hal ini
dikarenakan bangsa Arab dahulu mayoritas merupakan
masyarakat yang nomaden, tidak menetap lama di sebuah
wilayah. Walaupun demikian, mereka memiliki perangai yang
halus dan mengangkat tinggi nilai-nilai etik dalam kehidupan.
Nilai etik dan moral bangsa Arab terekam dari ungkapan dan
ajaran-ajaran mereka kepada anak dan generasi berikutnya. Di
kalangan bangsa Arab pada masa itu memang belum diketahui
adanya para ahli filsafat sebagaimana yang diketahui pada
bangsa Yunani. Walau demikian, terdapat beberapa orang yang
arif bijaksana serta para ahli-ahli syair yang menganjurkan
untuk berbuat kebaikan dan melarang yang buruk.
-Selanjutnya perkembangan akhlak pada fase Islam. Islam tidak
menolak setiap kebiasaan yang terpuji yang terdapat pada
bangsa Arab. Sebaliknya Islam mengakui apa-apa yang
dipandang tepat (baik) untuk membina umat serta menolak apa-
apa yang dianggap jelek (menurut petunjuk al-Qur’an dan As-
sunnah). Dalam perkembangannya kemudian, ajaran akhlak
menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam
dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia. Agama
islam mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan
mengakui Dia-Lah yang Maha Pencipta, Pelindung, Pengasih
dan Penyayang terhadap makhluknya. Selain itu agama Islam
juga mengandung jalan hidup manusia paling sempurna dan
memuat ajaran yang menuntun manusia kepada kebahagiaan
dan kesehjahteraan. Semua ini terkandung dalam ajaran al-
Qur’an dan Al-sunah. Di kalangan bangsa Arab, sedikit sekali
tokoh cendekia yang mempelajari akhlak secara ilmiah. Hal itu
disebabkan mereka merasa cukup mengambil pelajaran akhlak
dari agama dan tidak memerlukan sumber lain. Walau
demikian, terdapat pula perkembangan pembahasan akhlak,
ketika daulah Abbasiyah berkuasa. Filsafat Yunani mulai
masuk dan mewarnai pemikiran-pemikiran ilmuan muslim,
sehingga akhlak kemudian diwarnai corak yang bersifat falsafi
dan rasionalistik. Pada tahap berikutnya di masarakat Arab
timbul kegiatan penelitian di bidang akhlak. Di antara tokoh
Islam yang menyelidiki tentang akhlak ini adalah Abu Nasr al-
Farabi (meninggal tahun 339 H) dan Ibnu Miskawaih
(meninggal tahun 421 H).
- Akhlak pada periode abad pertengahan. Pada abad ini, di
Eropa mulai bangkit para ahli-ahli berpikir kembali
mempelajari filsafat Yunani, mula-mula di Italia kemudian di
seluruh Eropa. Mereka mulai membangun dan melihat segala
sesuatu dengan kritis, sehingga masa itu dideklarasikan sebagai
era kemerdekaan berfikir. Sebagai hal yang tidak luput dari
kritik dan penyelidikan adalah etika (akhlak) yang telah dikaji
dan dibangun pemikirannya oleh para filosof Yunani dan para
pengikutnya. Ahli filsafat Eropa yang lahir pada masa ini tentu
melahirkan pemikiran filsafat yang coraknya berhaluan
(paduan) antara ajaran Yunani dan ajaran Nasrani.
- Akhlak pada periode abad modern, yaitu masa yang dimulai
dari 1800 M – sekarang. Banyak tokoh pemikir akhlak yang
lahir pada abad baru ini, diantaranya Descartes, Shafesbury dan
Hatshon, JS Mill Kant dan Bertrand Russel. Para tokoh ini tidak
hanya membicarakan tentang ilmu dan teknologi, seperti rumus
kimia atau fisika, tetapi juga filsafat dan akhlak. Pemikiran
akhlak telah banyak mereka kemukakan dan tersebar dalam
berbagai literatur mengenai etika, dan sebagian menjadi
pedoman hidup masyarakat Eropa hingga saat ini. Pemikiran
tentang akhlak ini selanjutnya dapat dijumpai pada Immanuel
Kant, ia berpendapat bahwa kriteria perbuatan akhlak adalah
perasan kewajiban intuitif. Bahkan ia berkeyakinan bahwa
“keberadaan Tuhan tidak bisa dibuktikan melalui argumentasi
akal murni, keberadaan Tuhan hanya bisa didapat melalui
intuisi akhlaki”. Kant beranggapan bahwa manusia merasakan
larangan dan perintah intuisinya. Hal ini sejalan dengan firman
Allah yang ada dalam Al Qur’an terdapat pada Surah al-Balad:
10 dan Surah As Syams: 8. Walaupun kedua potensi ini (baik-
buruk) terdapat dalam diri manusia, namun isyarat al-Qur’an
menunjukkan bahwa kebajikan lebih dahulu menghiasi diri
manusia daripada kejahatan, dan pada dasarnya manusia lebih
cenderug kepada kabaikan. Melihat fenomena munculnya para
pemikir dan pegiat bidang akhlak atau etika dan moral,
menyadarkan kita, bahwa bangsa Eropa tidak sepenuhnya
materialistis. Dalam pandangan sisi lain juga melahirkan
pemikiran-pemikiran hebat dalam bidang akhlak
Kekuatan Penelitian -Penulis memaparkan penjelasan sejarah akhlak secara
terperinci, mulai dari zaman Nabi Adam, periode Yunani,
periode Arab pra-Islam dan saat Islam datang, periode abad
pertengahan, periode abad modern hingga masa sekarang.
Sehingga dapat diketahui sejarah perkembangan akhlak.
-Dilengkapi dengan dalil-dalil dan penjelasannya yang
berkaitan dengan pembahasan.
-Penulis juga menyertakan beberapa referensi ilmiah sehingga
tulisannya dapat dipertanggungjawabkan.
Kelemahan Penelitian - Penulis tidak menjelaskan secara rinci mengenai latar
belakang, tujuan, metode, dan proses penelitian ini.
-Tidak ada penomoran pada bagian pembahasan.
Kesimpulan Akhlak sudah ada dan muncul sejak adanya manusia pertama
kali di muka bumi, yaitu masa Nabi Adam as., namun secara
ilmiah belum ada penyelidikan akhlak pada masa Nabi Adam
tersebut. Secara Ilmiah, penyelidikan akhlak untuk pertama kali
dilakukan oleh filosof yunani yang bernama Socrates yang
memusatkan penyelidikannya dalam pemikiran tentang akhlak
dan hubungan manusia satu dengan yang lain. Kemudian
datang Plato yang tidak lain merupakan murid Socrates yang
tersohor dan memiliki banyak pemikiran original. Berikutnya
pada periode Arab perkembangan akhlak mengalami fase
perbedaan arah dan kultur. Nilai etik dan moral bangsa Arab
terekam dari ungkapan dan ajaran-ajaran mereka kepada anak
dan generasi berikutnya dalam bentuk syi’ir-syi’ir. Pada fase
Arab Islam, terjadi perkembangan pemikiran di masyarakat,
sehingga timbul kegiatan penelitian di bidang akhlak. Para
tokoh Islam mempelajari filsafat Yunani, terutama pendapat-
pendapat tokoh dan ungkapan-ungkapan bahasa Yunani
mengenai akhlak. Pada abad pertengahan, lahir ahli filsafat
Eropa yang pemikirannya bercorak antara ajaran Yunani dan
ajaran nasrani.
Pada abad modern, banyak melahirkan tokoh pemikir akhlak.