Optimasi Perawatan Mesin dengan RCM dan MVSM
Optimasi Perawatan Mesin dengan RCM dan MVSM
2 (2017) 89-105
Artikel Penelitian
INFORMASI ARTIKEL A B S T R A C T
Sejarah Artikel: Maintenance system at UMKM ED Aluminum Yogyakarta is using preventive and corrective
Diterima Redaksi: 6 April 2017 maintenance program, but the implementation of this program still have many problems. The
Revisi Akhir: 9 Juni 2017 problem occurs because there is no maintenance system program and the company doesn’t have
Diterbitkan Online: 1 Juli 2017 Standard Operational Procedure (SOP) in maintenance to overcome machine failures resulted
in the increase of the downtime value. To cope the problems, in this paper we used application
of SOP and appropriate task maintenance selection using Maintenance Value Stream Map
KATA KUNCI (MVSM) method supported by Reliability Centered Maintenance (RCM). Beside task selected
among all products that have been produced, there is one machine that gives the biggest profit
Reliability Centered Maintenance (RCM) to the company. The product is feet infusion. Kondia milling machine is one of machines
produces the feet infusion that has the longest downtime which was 17,75 hour during January
Maintenance Value Stream Map (MVSM)
2016 until October 2016. RCM consist of Failure Mode Effect Analysis (FMEA), Pareto
Failure Mode Effect Analysis (FMEA) diagram, decision worksheet RCM, whereas the MVSM describes the maintenance activity.
Diagram Pareto Based on Pareto analysis, the critical components on the Kondia milling machine were the
Standard Operational Procedure (SOP) magnetic contactor, relay, fuse, cutter, dynamo and bearing. The result of RCM decision
worksheet proposed the appropriate action for the critical components cares. The Standard
KORESPONDENSI Operational Procedure (SOP) for the maintenance system on the operation of Kondia milling
machine are suggested to the company for getting more significant outcome.
Telepon: +62 (0274) 519739
E-mail: dwia0001@[Link]
Sistem perawatan yang dilakukan oleh perusahaan selama ini Produk kaki lima merupakan produk berbentuk seperti bintang
menggunakan sistem preventive dan corrective maintenance, yang berfungsi sebagai penyangga dan membantu tiang infus
untuk bergerak. Produk ini diproduksi melalui beberapa tahapan
[Link] Attribution-NonCommercial 4.0 International. Some rights reserved
KURNIAWATI DAN MUZAKI / JURNAL OPTIMASI SISTEM INDUSTRI - VOL. 16 NO. 2 (2017) 89-105
dengan mengandalkan beberapa mesin seperti mesin Hydraulic dihasilkan oleh terjadinya kerusakan.
Casting, Bubut Konvensional, CNC Makino, Milling Kondia dan
Milling Rong Fu. Tabel 1. FMEA [4]
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Maintenance Value Stream Map (MVSM) dapat diminimalkan. Metode MVSM dibedakan berdasarkan map
yang dibuat yaitu current state map dan future state map (usulan).
Maintenance Value Stream Map (MVSM) adalah metode yang
Berdasarkan map yang telah dibuat, maka aktivitas yang tidak
digunakan untuk menggambarkan alur kegiatan perawatan yang
memiliki nilai tambah (non-value added) dan memiliki nilai
dikembangkan dari VSM untuk mengidentifikasi pemborosan
tambah (value added) dapat diketahui berupa waktu pada setiap
[5]. Pemborosan tersebut terjadi pada setiap kegiatan perawatan
aliran proses.
yang tidak memberikan nilai tambah terhadap proses perawatan
tersebut.
Pada tahapan pertama ini, terdapat tujuh kategori yang digunakan
untuk mewakili MTTO, MTTR dan MTTY. Dimana MVSM
MVSM adalah metode yang menghasilkan output berupa jumlah
berfungsi untuk menggambarkan aktivitas perawatan aktual
waktu pada aktivitas perawatan didalamnya memiliki aktivitas
perusahaan sehingga didapatkan gambaran aktivitas yang
bernilai tambah (value added) dan aktivitas tidak memiliki nilai
memiliki nilai tambah yaitu Mean Time To Repair (MTTR).
tambah (non-value added) serta efesiensi perawatan. Adanya
Aktivitas yang tidak memiliki nilai tambah Mean Time To
output yang dihasilkan oleh metode MVSM dapat
Organize (MTTO) dan Mean Time To Yield (MTTY).
membandingkan hasil sebelum dan sesudah usulan agar waste
Repair equpment
Proses yang melibatkan
Repair
Repair operasi perbaikan MTTO
equipment
komponen dengan benar
Proses yang melibatkan
Run the equipment Run the operasi setelah perbaikan
Yield MTTO
equipment kompone hingga
memproduksi produk
Push arrow MTTO,
Physical
Push Arrow Push Arrow menggambarkan urutan MTTR,
Flow
aliran fisik dari proses. Dua MTTY
Semua aktivitas tersebut digolongkan menjadi Mean keselamatan kerja dan lingkungan kerja yang kondusif.
Maintenance Lead time (MMLT). Berdasarkan Kannan et al. [6] 6. Motivation (motivasi), berkaitan dengan ketiadaan sikap
didalam MVSM terdapat nilai efisiensi perawatan, aktivitas kerja yang benar dan profesional, yang disebabkan oleh
waktu value added dan non-value added dengan rumus sebagai sistem balas jasa dan penghargaan yang tidak adil kepada
berikut: tenaga kerja.
7. Money (keuangan), berkaitan dnegan ketiadaan dukungan
𝑀𝑀𝐿𝑇 = 𝑀𝑇𝑇𝑂 + 𝑀𝑇𝑇𝑅 + 𝑀𝑇𝑇𝑌 (1) financial (keuangan) guna memperlancar proyek peningkatan
kualitas.
𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑎𝑑𝑑𝑒𝑑 𝑡𝑖𝑚𝑒 = 𝑀𝑇𝑇𝑅
Analisis 5S dirancang untuk menghilangkan pemborosan dan
𝑁𝑜𝑛 𝑣𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑎𝑑𝑑𝑒𝑑 𝑡𝑖𝑚𝑒 = 𝑀𝑇𝑇𝑂 + 𝑀𝑇𝑇𝑌
mengurangi resiko kecelakaan yang terjadi saat kerja. Aktivitas
𝑀𝑇𝑇𝑅
5S merupakan tindakan yang dipilih oleh individu dan dikerjakan
% 𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛 = × 100 (2) individu dengan tujuan tertentu dengan memperhatikan
𝑀𝑀𝐿𝑇
sasarannya. Pada proses perawatan analisis 5S berfungsi untuk
Proses ini menjelaskan tentang keterkaitan dalam mengurangi aktivitas yang tidak memberi nilai tambah dan
mengembangkan MVSM. Dalam proses pemetaan, terdapat meningkatkan persentase efektifitas perawatan. Definisi dari 5 S
beberapa kegiatan yang dilakukan pada komponen prioritas yaitu [7]:
terpilih. Current state map ini menggambarkan proses aktual a. Seiri (Pemilahan)
perusahaan ketika sedang melakukan perawatan. Kegiatan Pada umumnya, istilah seiri nerarti mengatur segala sesuatu
perawatan dapat meliputi aktivitas yang memberikan nilai dengan aturan tertentu. Penerapan seiri dalam perawatan
tambah (value added) dan tidak memberikan nilai tambah (non- dapat dilakukan dengan cara pelabelan. Semisal, label merah
value added). Adanya framework pada tahapan MVSM dapat untuk menandai pemborosan dan label hijau menunjukkan
berfungsi untuk penggambaran current state map dapat diketahui barang-barang yang tidak diperlukan sehingga dapat
nilai yang menjadi MTTO, MTTR dan MTTY. dilakukan pemilahan. Dengan kata lain seiri berarti
membedakan antara yang diperlukan dengan yang tidak
Diagram sebab-akibat (Fishbone Diagram atau Cause and Effect diperlukan.
Diagram) dikembangkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa pada 1943, b. Seiton (Penataan)
sehingga diagram ini sering disebut diagram Ishikawa. Diagram Analisis seiton pada proses perawatan merupakan tindakan
ini menggambarkan hubungan antara akibat dan penyebab menyimpan barang di tempat atau dalam penerapan tata letak
terjadinya suatu masalah. Pada tahapan ini digunakan untuk yang tepat, sehingga dapat dipergunakan dalam keadaan
menentukan aktivitas-aktivitas apa saja yang dapat menyebabkan perawatan tiba-tiba. Hal tersebut memerlukan penataan
lead time lebih panjang. Dari hal tersebut setelah diketahui dengan memperhatikan efisiensi, mutu dan keamanan serta
penyebab dari masalah terkait kemudian dilakukan tindakan mencari cara penyimpanan yang optimal. Dibawah ini adalah
perbaikan. Dalam mencari penyebab-penyebab dari suatu pengelompokkan barang menurut fungsinya yaitu [7]:
masalah yang ada digunakan metode wawancara dengan pihak Barang yang tidak diperlukan maka barang dibuang.
perusahaan. Barang yang tidak diperlukan tetapi ingin dipergunakan
ketika diperlukan maka barang disimpan untuk keadaan
Sumber penyebab masalah kualitas yang ditemukan berdasarkan tidak terduga.
prinsip 7 M, yaitu [3]: Barang yang diperlukan hanya sewaktu-waktu maka
1. Manpower (tenaga kerja), berkaitan dengan kekurangan diletakkan di gudang.
dalam pengetahuan, kekurangan dalam ketrampilan dasar Barang yang kadag-kadang digunakan maka diletakkan
yang berkaitan dengan mental dan fisik, kelelahan, stres dan di tempat kerja.
ketidakpedulian. Barang yang sering kita gunakan maka disimpan oleh
setiap pekerja.
2. Machines (mesin) dan peralatan, berkaitan dengan tidak ada
sistem perawatan preventif terhadap mesin produksi, c. Seiso (Pembersihan)
termasuk fasilitas dan peralatan lain tidak sesuai dengan Seiso adalah tindakan untuk menjaga kondisi lingkungan
spesifikasi tugas, tidak dikalibrasi, terlalu complicated dan kerja tetap dalam keadaan bersih. Pada aktivitas perawatan
terlalu panas. diperlukan pembersihan secara rutin terhapap mesin maupan
3. Methods (metode kerja), berkaitan dengan tidak adanya lingkungan kerja agar dalam pelaksaan produksi berjalan
prosedur dan metode kerja yang benar, tidak jelas, tidak dengan lancar. Tujuan dari seiso adalah untuk menghilangkan
diketahui, tidak terstandarisasi dan tidak cocok. semua debu dan kotoran dan menjaga tempat kerja selalu
4. Materials (bahan baku dan bahan penolong), berkaitan bersih.
dengan tidak ketiadaan spesifikasi kualitas dari bahan baku d. Seiketsu (Pemantapan)
dan bahan penolong yang ditetapkan. Seiketsu (pemantapan) berarti memelihara keadaan secara
5. Media, berkaitan dengan tempat dan waktu kerja yang tidak terus menerus dan berulang-ulang memelihara penataan,
memperhatikan aspek-aspek kebersihan, kesehatan dan pemilihan dan kebersihannya. Hal ini dimaksudkan untuk
memelihara terhadap ketiga aktivitas sebelumnya supaya menghasilkan aktivatas pemeliharaan yang tepat, sehingga
terus dilakukan sehingga dalam aktivitas perawatan tidak sistem tersebut dapat berjalan sesuai fungsinya.
terjadi pemborosan yang berlebihan. b. Maintenance Value Stream Map (MVSM) merupakan
pemetaan terhadap aktivitas yang selama ini dilakukan
e. Shitsuke (Pembiasaan)
perusahaan dengan mengetahui MTTO, MTTR, MTTY dan
Shitsuke (kebiasaan atau disiplin) adalah pelatihan dan
MMLT. Aktivitas usulan diperoleh dari hasil pengolahan
kemampuan untuk melakukan pekerjaan dengan penerapan yakni berupa SOP dan nilai peningkatan persentase efisiensi
5S secara berulang-ulang sehingga secara alami kita dapat perawatan.
melakukannya secara benar. Dengan penerapan shitsuke,
pihak perusahaan dapat melakukan sebuah standarisasi dalam Metodologi penelitian dimulai dengan mengidentifikasi masalah
aktivitas perawatan maupun semua bagian yang dapat yang terdapat pada perusahaan. Selanjutnya menentukan tujuan
dijadikan acuan untuk melakukan aktivitas 5S. penelitian dan melakukan studi literature guna menentukan data
yang diperlukan dan pengolahan datanya. Data diperoleh melalui
Metode 5S telah lama ada dan tidak ada yang baru didalamnya
wawancara dan observasi perusahaan. Data yang telah diperoleh
tetapi fungsi yang diperoleh tetaplah sama yakni agar kondisi
diolah menggunakan pendekatan RCM kemudian MVSM.
lingkungan kerja dapat nyaman dan aman terhadap pekerja.
Langkah selanjutnya yakni analisis dan pembahasan. Langkah
Sedangkan tindakan untuk meminimalkan pemborosan dan
terakhir dalam penelitian ini adalah dengan memberi kesimpulan
analisis SOP yang dilakukan yakni dari aktivitas perawatan
dan saran atas hasil penelitian yang telah dilakukan.
aktual yang dilakukan oleh perusahaan bagaimana caranya agar
pemborosan tersebut tidak ada. SOP dapat berfungsi sebagai
acuan untuk melakukan aktivitas perawatan dengan 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
meminimalkan pemborosan yang sering terjadi dalam perawatan.
4.1. Reliability Centered Maintenance (RCM)
Tahap akhir dari pendekatan MVSM yaitu penggambaran future
UMKM ED Alumunium Yogyakarta memiliki berbagai macam
state map dimana tahapan ini menggambarkan kondisi perawatan mesin begitu pula dengan produk yang dihasilkan. Proses
usulan. Penggambaran aktivitas usulan diperoleh dari metode
produksi dimulai dari bahan baku berupa alumunium yang
yang telah dilakukan seperti RCM, penetapan SOP komponen
dileburkan terlebih dahulu dan dicetak menjadi produk yang
prioritas, analisis 5S dan analisis current state map.
diinginkan. Perusahaan menghasilkan produk sesuai dengan
Menggunakan metode MVSM dapat menghitung besarnya
permintaan konsumen atau yang biasa disebut dengan make to
peningkatan persentase efisiensi perawatan pada komponen
order.
prioritas yang rusak. Hasil tersebut dapat diperoleh dari
penggambaran antara kondisi perawatan aktual (current state
Pada langkah pengumpulan data dilakukan beberapa tindakan
map) dengan sistem perawatan usulan (future state map) [1].
untuk menunjang metode RCM. Pertama, mengumpulkan data
mesin dan perawatannya selain itu pengumpulan data juga
dilakukan menurut jenis produk paling banyak diproduksi
3. METODOLOGI PENELITIAN perusahaan. Pada proses produksi produk yang telah dipilih
terdapat beberapa langkah/alur pembuatan untuk menghasilkan
Pelaksanaan penelitian ini pada Mesin Milling Kondia yang produk yang diinginkan dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1
memproduksi produk kaki infus UMKM ED Alumunium adalah proses pembuatan produk kaki lima, sebagai berikut:
Yogyakarta. Waktu penelitian dilakukan mulai Bulan Oktober
2016 hingga Februari 2017. Jenis data yang digunakan yakni data
primer meliputi: observasi dan wawancara, data kedua yaitu data
sekunder adalah data downtime perawatan mesin mulai dari
Bulan Januari 2016 hingga Oktober 2016. Adapun metode
pengolahan yang dilakukan adalah:
a. Metode Observasi
Observasi dilakukan dengan pengamatan secara langsung
untuk mendapatkan data mengenai segala hal yang
berhubungan dengan masalah yang di teliti di objek Gambar 1. Proses Pembuatan Produk Kaki Infus
penelitian.
Proses pembuatan pertama kali yaitu dengan meleburkan bahan
b. Metode Wawancara baku berupa alumunium pada suhu sekitar 700ºC hingga 750ºC
Wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang
yang selanjutnya dicetak menggunakan hidrolik casting dengan
kompeten seperti Manajer Produksi, Kepala Bagian Produksi,
suhu molding 300ºC hingga 400ºC. Proses selanjutnya yakni
Bagian Perawatan Mesin, dan pihak lain yang berhubungan
pemotongan tanjak tengah menggunakan mesin bubut
dengan data yang diperlukan untuk penelitian.
konvensional, dan dilanjutkan pemotongan tanjak pinggir dan
lubang roda menggunakan mesin Makino. Selanjutnya dilakukan
Pada penelitian ini, pemecahan masalah dilakukan dengan
penghalusan lubang bagian luar menggunakan mesin milling
menggunakan pendekatan 2 metode untuk meminimalkan nilai
Kondia. Setelah penghalusan, dilakukan pengeboran tiang tengah
downtime pada bagian perawatan mesin yaitu:
menggunakan drill mill Rong Fu. Tahapan berikutnya yaitu
a. Reliabiliity Centered Maintenance (RCM) merupakan
tapping roda menggunakan drill mill Rong Fu. Selanjutnya
pendekatan yang bersifat kualiatif dengan tahapan
menggunakan FMEA dan Decision Worksheet RCM guna pekerjaan penggerindaan body manual dan pelapisan cat
menggunakan kompresor secara manual. Proses akhir dari jumlah total komponen sebanyak 5 komponen. Berikut ini adalah
pengerjaan produk ini yakni produk dikemas rapi dan nilai RPN masing-masing komponen yaitu fuse/sekering sebesar
didistribusikan kepada konsumen. 40, magnetik kontaktor dengan failure mode kode 1 sebesar 96
sedangkan kode 2 sebesar 16, push button / saklar sebesar 16,
Berdasarkan alur proses produksi kaki infus diketahui bahwa kabel dengan failure mode kode 1 sebesar 8 sedangkan kode 2
terdapat beberapa mesin yang digunakan dalam pengerjaan sebesar 7 dan relay dengan function failure A sebesar 72
produk. Berikut ini adalah gambar grafik data mesin yang sedangkan function failure B sebesar 28. Hasil RPN yang paling
digunakan beserta nilai downtime masing-masing mesin: tinggi menandakan komponen tersebut harus diprioritaskan
terlebih dahulu penanganannya dalam hal perawatan mesin yaitu
pada komponen magnetik kontaktor dengan failure mode kode 1.
20
Berdasarkan tabel Lampiran 1 decision worksheet RCM 4.2.1. Current State Map
subsistem kelistrikan, maka dapat disimpulkan bahwa semua
Penggambaran kegiatan perawatan dapat meliputi aktivitas yang
komponen kritis subsistem kelistrikan memerlukan kebijakan
memberikan nilai tambah (value added) dan tidak memberikan
pemilihan aktivitas perawatan menggunakan scheduled on
nilai tambah (non-value added). Berikut adalah current state map
condition task. Hasil Initial interval diperoleh dari wawancara
pada komponen kritis mesin milling Kondia subsistem kelistrikan
dan data historis yang berkaitan dengan komponen kritis. Berikut
dan mekanik:
adalah hasil pemilihan tindakan berdasarkan analisis decision
a. Magnetik Kontaktor
worksheet RCM subsistem kelistrikan [Lampiran 3] dan mekanik Magnetik kontaktor merupakan alat listrik yang prinsip
[Lampiran 4] antara lain: kerjanya berdasarkan induksi elektromagnetik sama seperti
a. Fuse/sekering relay yang menggunakan coil (kumparan). Fungsi dari
Memiliki initial interval selama 116 hari dan Scheduled on
magnetik kontaktor yaitu sebagai pengendali motor maupun
condition task sebagai tindakan yang sesuai dengan
komponen listrik dan untuk menghubungkan listrik ke
kegagalan fungsi komponen fuse/sekering. Tugas tersebut
dinamo (mesin).
dapat diselesaikan oleh mekanik.
Dari hasil perhitungan current state map, didapatkan
b. Magnetik kontaktor persentase nilai efisiensi perawatan sebesar 19,01%.
Memiliki initial interval selama 360 hari dan Scheduled on Aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah memiliki
condition task sebagai tindakan yang sesuai dengan waktu yang lebih lama yaitu 99,7 menit. Sedangkan waktu
kegagalan fungsi komponen magnetik kontaktor. Tugas aktivitas yang memiliki nilai tambah sebesar 23,4 menit.
tersebut dapat diselesaikan oleh mekanik.
b. Relay
c. Relay Relay merupakan saklar listrik menggunakan prinsip
Memiliki initial interval selama 184 hari dan Scheduled on elektromagnetik dimana terdapat 2 bagian utama yakni coil
condition task sebagai tindakan yang sesuai dengan dan saklar (switch). Fungsi relay sebagai penghubung arus
kegagalan fungsi komponen relay. Tugas tersebut dapat listrik dan pengaman jika mendapat tegangan yang tinggi.
diselesaikan oleh mekanik. Dari hasil perhitungan current state map, didapatkan
persentase nilai efisiensi perawatan sebesar 21,77 %.
d. Pisau frais Aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah memiliki
Memiliki initial interval selama 168 hari dan Scheduled waktu yang lebih lama yaitu 65,4 menit. Sedangkan waktu
restoration task sebagai tindakan yang sesuai dengan aktivitas yang memiliki nilai tambah sebesar 18,2 menit.
kegagalan fungsi komponen pisau frais. Tugas tersebut dapat
diselesaikan oleh operator. c. Fuse/Sekering
Fuse/Sekering merupakan alat pengaman listrik yang
e. Dinamo digunakan untuk memutuskan arus listrik secara otomatis dan
Memiliki initial interval selama 1008 hari dan Scheduled on untuk mencegah masuknya arus tinggi. Jika arus yang tinggi
condition task sebagai tindakan yang sesuai dengan masuk pada rangkaian listrik berakibat terjadinya hubungan
kegagalan fungsi komponen dinamo. Tugas tersebut dapat singkat (korsleting).
diselesaikan oleh mekanik. Dari hasil perhitungan current state map, didapatkan
f. Laker persentase nilai efisiensi perawatan sebesar 16,53 %.
Memiliki initial interval selama 1512 hari dan Scheduled Aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah memiliki
restoration task sebagai tindakan yang sesuai dengan waktu yang lebih lama yaitu 41,9 menit. Sedangkan waktu
kegagalan fungsi komponen laker. Tugas tersebut dapat aktivitas yang memiliki nilai tambah sebesar 8,3 menit.
diselesaikan oleh mekanik. d. Pisau Frais
Pisau frais merupakan peralatan yang digunakan sebagai alat
penyayat benda kerja. Dari hasil perhitungan current state
map, didapatkan persentase nilai efisiensi perawatan sebesar
20%. Aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah memiliki Faktor manusia yang menyebabkan delay yaitu mental dan
waktu yang lebih lama yaitu 12,8 menit. Sedangkan waktu kekurangan pengetahuan. Penyebab mental adalah
aktivitas yang memiliki nilai tambah sebesar 3,2 menit. lingkungan yang tidak bersih, usia sudah tua dan motivasi
yang kurang. Penyebab kurangnya pengetahuan didapatkan
e. Dinamo
Dinamo berfungsi sebagai pemutar mata bor atau pahat. Dari dari pendidikan yang kurang, belum ada SOP pemeliharaan
hasil perhitungan current state map, didapatkan persentase dan kurang pelatihan tentang perawatan mesin terhadap
nilai efisiensi perawatan sebesar 17,93%. Aktivitas yang mekanik maupun operator.
tidak memberikan nilai tambah memiliki waktu yang lebih b. Faktor mesin (Mechines)
lama yaitu 60,4 menit. Sedangkan waktu aktivitas yang Faktor mesin yang menyebabkan delay yaitu penurunan
memiliki nilai tambah sebesar 13,2 menit. fungsi dan kegagalan fungsi. Penyebab penurunan fungsi
f. Laker diperoleh dari usian komponen sudah melebihi batas,
Laker/bearing berfungsi sebagai sumbu putar ke spindle. sedangkan penyebab kegagalan fungsi adalah analisis
Dari hasil perhitungan current state map, didapatkan keandalan belum diterapkan dan metode identifikasi yang
persentase nilai efisiensi perawatan sebesar 19,78 %. kurang sesuai.
Aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah memiliki c. Faktor material (Materials)
waktu yang lebih lama yaitu 52,7 menit. Sedangkan waktu Faktor material yang menyebabkan delay yaitu tidak
aktivitas yang memiliki nilai tambah sebesar 13 menit. tersedianya bahan alat perbaikan yang memadai dan belum
ada penjadwalan spare part cadangan komponen kritis.
4.2.2. Fishbone Diagram
d. Faktor Metode (Methods)
Pada tahapan analisis fishbone diagram merupakan tahapan yang Faktor metode yang menyebabkan delay yaitu aktivitas
digunakan untuk mencari penyebab terjadinya pemborosan saat belum selesai yang diperoleh dari belum adanya SOP pada
aktivitas perawatan yang digambarkan pada current state map. perawatan mesin.
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara terhadap
perusahaan maka didapatkan bentuk pemborosan yaiu aktivitas e. Faktor lingkungan (Media)
delay. Faktor lingkungan yang menyebabkan delay yaitu suhu tinggi
dari pengaruh proses produksi di lingkungan kerja, kotor
Berikut adalah pembahasan dengan memperhatikan faktor-faktor (berdebu) disebabkan dari belum diterapkan 5 S, berdebu dari
terjadinya delay dengan penyebab yang termasuk aktivitas non- pengaruh proses produksi lingkungan kerja dan belum
value added sebagai berikut: diterapkan 5 S serta bising diperoleh dari pengaruh proses
a. Faktor manusia (Manpower) produksi.
untuk meminimalkan aktivitas non value added seperti digunakan untuk aktivitas perawatan secara rutin,
aktivitas delay. Berikut adalah usulan penggunaan metode 5 sehingga jika peralatan mengalami kerusakan ketika
S: digunakan bisa dilakukan pergantian dengan peralatan
Seiri (pemilahan) baru dan melakukan kalibrasi secara rutin.
Penerapan seiri dalam perawatan dapat dilakukan dengan
cara pemilahan peralatan untuk aktivitas perawatan pada Shitsuke (pembiasaan)
Dengan penerapan shitsuke, pihak perusahaan dapat
mesin milling Kondia. Tindakan yang perlu dilakukan
melakukan sebuah standarisasi dalam aktivitas perawatan
seperti peralatan atau perkakas yang digunakan secara
maupun semua bagian yang dapat dijadikan acuan untuk
khusus untuk aktivitas perawatan mesin Milling Kondia
melakukan aktivitas 5 S. Tindakan yang perlu dilakukan
ditempatkan dalam suatu wadah khusus seperti box atau
seperti memasang poster agar setiap karyawan sadar
lemari perkakas dan diletakkan berdekatan dengan mesin.
penerapan 5S dan perusahaan melakukan inspeksi rutin
Tindakan kedua, Perkakas yang tidak diperlukan, dalam
penerapan 5S
hal ini termasuk peralatan yang rusak dan tidak
digunakan disisihkan atau dipisahkan dari box khusus
b. Tindakan meminimalkan delay
tersebut untuk diletakkan dalam box lain. Berdasarkan hasil dari analisis fisbone diagram, beberapa
Seiton (penataan) penyebab terjadinya delay pada aktivitas perawatan dan saran
Setelah dilakukan pemilahan, maka selanjutnya aktivitas untuk perusahaan agar menminimalkan aktivitas delay
penataan peralatan perawatan tersebut disimpan sesuai meliputi:
kebutuhan. Tindakan yang perlu dilakukan seperti box Faktor keandalan komponen harus diperhitungkan
atau lokasi penyimpanan setiap perkakas diberi label atau menurut usia pakai komponen dan pelatihan untuk
petunjuk peralatan apa yang terdapat didalamnya. Kedua, operator maupun mekanik agar mengerti tentang
perawatan
setiap perlatan atau perkakas diletakkan sesuai dengan
urutan aktivitas perawatan yang ditetapkan dan Menggunakan apd yang lengkap seperti tutup telinga agar
merapikan peralatan setelah selesai bekerja atau tidak bising
melakukan aktivitas perawatan. Waktu jam istirahat yang cukup dan motivasi tinggi
terhadap pekerja
Seiso (pembersihan)
Menjaga kebersihan peralatan, mesin dan lingkungan Mempunyai komponen cadangan yang terjadwal
kerja seperti menghilangkan semua debu dan kotoran dan berdasarkan initial interval komponen dan membuatkan
menjaga tempat kerja selalu bersih. Tindakan yang perlu jadwal terhadap mekanik agar stand by didekat mesin
dilakukan seperti Membersihkan seluruh peralatan yang milling Kondia sesuai usia komponen kritis (initial
interval)
digunakan setelah melakukan aktivitas perawatan dan
membersihkan lantai dan seluruh kotoran yang ada akibat
aktivitas perawatan. Tabel 4 menunjukan penjadwalan perbaikan oleh mekanik harus
stand by dan ketersediaan komponen cadangan. Hasil tersebut
Seiketsu (pemantapan)
diperoleh dari initial interval masing-masing komponen kriitis,
Memelihara aktivitas sebelumnya supaya terus
agar meminimalkan delay pada aktivitas perbaikan.
dilakukan, sehingga dalam aktivitas perawatan tidak
terjadi pemborosan (delay) yang berlebihan. Tindakan
yang perlu dilakukan seperti memeriksa peralatan yang
Dari hasil perhitungan diatas didapatkan bahwa persentase Value added time = 3,2 menit
nilai efisiensi perawatan sebesar 19,34 %. Aktivitas yang Non value added time = 8,7 menit
tidak memberikan nilai tambah memiliki waktu yang lebih 𝑀𝑇𝑇𝑅
% Efisiensi perawatan = × 100
lama yaitu 34,6 menit. Sedangkan waktu aktivitas yang 𝑀𝑀𝐿𝑇
3,2
memiliki nilai tambah sebesar 8,3 menit. = × 100
11,9
= 26,89 %
Mulai
Dari hasil perhitungan diatas didapatkan bahwa persentase
nilai efisiensi perawatan sebesar 26,89 %. Aktivitas yang
Mesin mengalami kerusakan tidak memberikan nilai tambah memiliki waktu yang lebih
lama yaitu 8,7 menit. Sedangkan waktu aktivitas yang
Mematikan mesin milling
memiliki nilai tambah sebesar 3,2 menit.
Kondia
e. Dinamo
Menghubungi mekanik Tabel 9. Hasil Usulan Aktivitas Perbaikan Komponen Dynamo
Rincian Kegiatan Durasi Kategori Kategori
No
Perbaikan (menit) MMLT aktivitas
Operator melapor kerusakan Dinamo mengalami
mesin 1 - - -
kerusakan
Delay akibat bagian
2 pemeliharaan terlambat 4,1 MTTO NVA
Mekanik memeriksa mesin
melakukan perbaikan
3 Komunikasikan masalah 4 MTTO NVA
Mengidentifikasi
Identifikasi kebutuhan part 4 10,3 MTTO NVA
masalah
Mengidentifikasi sumber
5 3,2 MTTO NVA
daya
Mengambil part pengganti di Mempersiapkan
gudang
6 pekerjaan yang akan 4 MTTO NVA
dilakukan
Melakukan perbaikan 7 Melakukan Perbaikan 13,2 MTTR VA
8 Menjalankan mesin 3 MTTY NVA
Melakukan uji kemampuan Inspeksi setelah
produksi 9 5,2 MTTY NVA
dilakukan perbaikan
Pekerjaan perawatan
10 - - -
Melakukan pengaturan selesai
kembali terhadap mesin
Jumlah (MMLT) 42,9
MTTO 21,5
Mesin kembali beroperasi
MTTR 13,2
MTTY 8,2
Selesai
Value added time = 13,2 menit
Gambar 6. SOP Perawatan Mesin Milling Kondia Non value added time = 29,7 menit
𝑀𝑇𝑇𝑅
% Efisiensi perawatan = × 100
𝑀𝑀𝐿𝑇
d. Pisau Frais 13,2
= × 100
42,9
Tabel 8. Hasil Usulan Aktivitas Perbaikan Komponen Pisau
= 30,77 %
Frais
No
Rincian Kegiatan Durasi Kategori Kategori Dari hasil perhitungan diatas didapatkan bahwa persentase
Perbaikan (menit) MMLT aktivitas nilai efisiensi perawatan sebesar 30,77 %. Aktivitas yang
Pisau frais mengalami
1 - - - tidak memberikan nilai tambah memiliki waktu yang lebih
kerusakan
Mengidentifikasi lama yaitu 29,7 menit. Sedangkan waktu aktivitas yang
2 2,1 MTTO NVA
masalah memiliki nilai tambah sebesar 13,2 menit.
Mengidentifikasi
3 2 MTTO NVA
sumber daya
Mempersiapkan f. Laker
4 pekerjaan yang akan 2,2 MTTO NVA Value added time = 13 menit
dilakukan
5 Melakukan Perbaikan 3,2 MTTR VA Non value added time = 23,5 menit
𝑀𝑇𝑇𝑅
6 Menjalankan mesin 1 MTTY NVA % Efisiensi perawatan = × 100
𝑀𝑀𝐿𝑇
Inspeksi setelah 13
7 1,4 MTTY NVA = × 100
dilakukan perbaikan 36,5
Pekerjaan perawatan
8
selesai
- - - = 35,62 %
Jumlah (MMLT) 11,9 Dari hasil perhitungan diatas didapatkan bahwa persentase
MTTO 6,3
MTTR 3,2 nilai efisiensi perawatan sebesar 35,62 %. Aktivitas yang
MTTY 2,4 tidak memberikan nilai tambah memiliki waktu yang lebih
lama yaitu 23,5 menit. Sedangkan waktu aktivitas yang e. Dinamo failure mode 1
memiliki nilai tambah sebesar 13 menit. Scheduled on Condition Task dengan initial interval
selama 1008 hari dan dikerjakan oleh mekanik.
Tabel 10. Hasil Usulan Aktivitas Perbaikan Komponen Laker f. Laker
Scheduled Restoration Task dengan initial interval
Rincian Kegiatan Durasi Kategori Kategori selama 1512 hari dan dikerjakan oleh mekanik.
No
Perbaikan (menit) MMLT aktivitas
g. Pisau frais finding failure B
Scheduled Restoration Task dengan initial interval
Laker mengalami
1 - - - selama 672 hari dan dikerjakan oleh operator.
kerusakan
h. Dinamo failure mode 1
2 Komunikasikan masalah 4,3 MTTO NVA Scheduled on Condition Task dengan initial interval
3 Mengidentifikasi masalah 6,7 MTTO NVA selama 1680 hari dan dikerjakan oleh mekanik.
Mengidentifikasi sumber
4
daya
2,5 MTTO NVA 3. Standard Operational Procedure (SOP) perawatan yang
Mempersiapkan pekerjaan direncanakan untuk aktivitas perawatan aktual adalah sebagai
5 3,7 MTTO NVA berikut:
yang akan dilakukan
6 Melakukan Perbaikan 13 MTTR VA a. Ketika terjadi kerusakan, operator mematikan mesin dan
7 Menjalankan mesin 2,3 MTTY NVA selanjutnya menghubungi atau mencari bagian mekanik.
Inspeksi setelah dilakukan b. Operator melaporkan kerusakan mesin dan bagian
8 4 MTTY NVA
perbaikan mekanik memeriksa mesin.
Pekerjaan perawatan c. Identifikasi kebutuhan peralatan dan spare part
9 - - -
selesai
d. Melakukan aktivitas perbaikan sesuai dengan tindakan
Jumlah (MMLT) 36,5
MTTO 17,2
yang tepat
MTTR 13 e. Melakukan uji kemampuan produksi dan pengaturan
MTTY 6,3 ulang
f. Mesin kembali beroperasi
Tabel 11 menunjukkan perbandingan persentase perawatan hasil 4. Peningkatan persentase efisiensi perawatan menggunakan
penggambaran current state map dan future state map: pendekatan MVSM pada komponen kritis yang merupakan
hasil dari current state map dan future state map adalah
Tabel 11. Perbandingan Persentase Efisiensi Perawatan dari Hasil sebagai berikut:
a. Magnetik kontaktor, dari 19,01% menjadi 29,73%
Current State Map dan Future State Map
b. Relay, dari 21,77% menjadi 25,78%
Current State Future State
No Komponen c. Fuse/sekering, dari 16,5% menjadi 19,34%
Map Map
d. Pisau frais, dari 20% menjadi 26,8%
1 Magnetik Kontaktor 19,01 % 29,73 %
e. Dinamo, dari 17,93% menjadi 30,77%
2 Relay 21,77 % 25,78 %
f. Laker/bearing, 19,78% menjadi 35,62%
3 Fuse/Sekering 16,53 % 19,34 %
4 Pisau Frais (Cutter) 20 % 26,89 %
Adapun saran untuk meningkatkan kinerja perawatan dan
5 Dinamo 17,93 % 30,77 %
mengurangi nilai downtime, yaitu:
6 Laker/Bearing 19,78 % 35,62 %
1. Perusahaan diharapkan dapat mencatat data-data secara
lengkap terkait pemeliharaan mesin pada mesin-mesin proses
produksi kaki infus maupun seluruh sistem produksi,
5. KESIMPULAN DAN SARAN sehingga dapat dicari pemecah masalah yang lebih kompleks.
2. Penelian selanjutnya dapat mempertimbangkan nilai biaya,
Berdasarkan hasil pengumpulan dan pengolahan data kehandalan komponen dan penggunaan metode yang lebih
kompleks dalam melakukan tindakan pemeliharaan.
menggunakan metode RCM dan MVSM, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
DAFTAR PUSTAKA
1. Komponen yang diprioritaskan (kritis) berdasarkan dari
analisis diagram Pareto pada nilai RPN masing-masing [1] R. Lukodono, Pratikno, dan R. Soenoko. Analisis Penerapan
komponen didalam tabel FMEA. Metode RCM dan MVSM untuk Meningkatkan Keandalan
2. Tindakan pemeliharaan yang tepat pada operasi sistem Pada Sistem Maintenance (Studi Kasus PG. X). Jurnal
milling Kondia menggunakan metode RCM yaitu: Rekayasa Mesin, Volume IV, pp. 43-52, 2013.
a. Magnetik kontaktor [2] J. Moubray. Reliability Centered Maintenance. 2nd penyunt.
Scheduled on Condition Task dengan interval perawatan New York: Industrial Press Inc. 1997.
selama 360 hari dan dikerjakan oleh mekanik. [3] V. Gaspersz. Total Quality Management. Jakarta: Gramedia
b. Relay Pustaka Utama. 2002.
Scheduled on Condition Task dengan initial interval
[4] T. Osada. Sikap Kerja 5 S. Jakarta: Penerbit PPM. 2004.
selama 184 hari dan dikerjakan oleh mekanik.
[5] M. Effendi dan M. Arifin. Perbedaan Risk Priority Number
c. Fuse/sekering
dalam Failure Mode and Effects Analysis FMEA Sistem
Scheduled on Condition Task dengan initial interval
Alat Berat Heavy Duty Truck HD 785-7. Spektrum Industri.
selama 116 hari dan dikerjakan oleh mekanik.
Volume XIII, pp. 103-114. 2015.
d. Pisau frais Finding failure A
Scheduled Restoration Task dengan initial interval
selama 168 hari dan dikerjakan oleh operator.
[6] S. Kannan, Y. Li, N. Ahmed dan Z. El-Akkad. Developing Pada Mesin Blowing di Plant PT. Pisma Putra Textile.
Maintenance Value Stream Map. Departement of Industrial Jurnal Teknik Industri Universitas Diponegoro, XI (2), pp.
and Information Engineering, pp. 1-8. 2007. 73-80. 2016.
[7] D.P. Sari dan M. F. Ridho. Evaluasi Manajemen Perawatan
Dengan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM) II
Magnetik Kontaktor
mengala mi ke rusakan
b. Relay
Relay me ngalami
kerusakan
18,2 VA = 18,2
c. Fuse/sekering
Fuse / Sekering
mengala mi
kerusakan
8,3 VA = 8,3
d. Pisau frais
Pisa u frais
mengala mi
kerusakan
Inspeksi setelah
Mengidentifika si Mengidentifika si Melakukan
Mem pe rsiapkan Menjala nkan mesin dilakukan Pekerjaan
masalah sum ber da ya perbaikan
peke rjaa n yang perbaikan perawatan
akan dilakukan sele sai
e. Dinamo
Dinamo mengalami
kerusakan
13,2 VA = 13,2
f. Laker
Laker mengalami
kerusakan
13 VA = 13