0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
352 tayangan6 halaman

Konsep Manusia sebagai Makhluk Bertuhan

Dokumen tersebut membahas konsep manusia sebagai makhluk bertuhan dalam Islam. Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan berbagai karakteristik seperti memiliki akal dan kemampuan berfikir. Sebagai makhluk bertuhan, manusia memiliki tanggung jawab untuk menyembah Allah SWT dan hidup sesuai dengan ajaran agama. Konsep diri manusia dalam Islam mencakup manusia sebagai hamba, makhluk sosial, keturun

Diunggah oleh

Rio Chalidan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
352 tayangan6 halaman

Konsep Manusia sebagai Makhluk Bertuhan

Dokumen tersebut membahas konsep manusia sebagai makhluk bertuhan dalam Islam. Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan berbagai karakteristik seperti memiliki akal dan kemampuan berfikir. Sebagai makhluk bertuhan, manusia memiliki tanggung jawab untuk menyembah Allah SWT dan hidup sesuai dengan ajaran agama. Konsep diri manusia dalam Islam mencakup manusia sebagai hamba, makhluk sosial, keturun

Diunggah oleh

Rio Chalidan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

NAMA : RIO CHALIDAN

PRODI : D3 AKUNTANSI
MATKUL : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
KELAS : AK1

BAB III
KONSEP MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BERTUHAN

A. Pendahuluan.
Manusia adalah salah satu ciptaan makhluk Tuhan yang diberikan akal untuk berfikir
menentukan mana hal yang baik dan buruk. Dengan memiliki akal untuk berfikir, manusia
sendiri memiliki kedudukan paling atas dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya, yaitu
hewan dan tumbuhan. Manusia juga merupakan makhluk yang unik karena setiap manusia
memiliki karakteristik yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain.
Sesungguhnya manusia telah diberikan karunia oleh Allah SWT. berupa rasa
keyakinan dan kepercayaan dan itu semua kembali lagi bagaimana manusia itu
merealisasikan ke dalam kehidupannya akan berpegang teguh atau tidak. Menurut Q.S. Ar-
Ruum ayat 30 sebagaimana ditafsirkan oleh AlMisbah karya M. Quraish Shihab (dalam
website tafsirq) ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia harus meluruskan wajah dan
menghadap kepada agama agar kesesatan dapat terhindari. Tetap pada fitrah yang telah Allah
ciptakan untuk manusia, yaitu fitrah bahwa manusia dapat menerima tauhid dan tidak
mengingkarinya. Fitrah itu tidak akan berubah. Fitrah juga untuk menerima ajaran tauhid
berupa agama yang lurus. Tetapi, orang musyrik tidak memahami akan hal itu.
Oleh karena itu, pentingnya mempelajari konsep manusia sebagai makhluk berTuhan
adalah untuk memberi pemahaman kepada manusia mengenai konsep kehidupan bahwa
semua manusia yang terlahir ke dunia merupakan makhluk yang berTuhan serta sudah
diberikan kepercayaan dan keyakinan oleh Allah SWT. dan itu semua tergantung kepada
pribadi masing-masing yang merealisasikan ke dalam kehidupannya, apakah ia tetap
mempertahakannya atau mengubahnya dan tidak ada lagi sikap diskriminasi antar agama
serta memiliki pemahaman yang lebih luas mengenai konsep manusia sebagai makhluk
bertuhan.
B. Karakteristik Manusia Sebagai Makhluk Bertuhan.
Manusia adalah makhluk bertuhan di mana pola pemikirannya bertolak dari
pandangan manusia sebagai makhluk homo religious. Sebagai makhluk religius manusia
sadar dan meyakini akan adanya kekuatan supranatural dalam dirinya. Sesuatu yang disebut
supranatural itu dalam sejarah manusia disebut Tuhan.
Namun di dunia ini terdapat golongan manusia, yaitu manusia yang mempercayai
akan beradaan tuhan (Theis) dan manusia yang mempercayai Tuhan namun berbeda dalam
merealisasikan agama yang semestinya karena mengikuti kepercayaan mereka sendiri
(Atheis). Manusia percaya akan tuhan memiliki rasa peri kemanusiaan, rasa keyakinan, dan
rasa persaudaraan antar umat manusia. Berikut adalah ciri manusia sebagai makhluk Tuhan,
yaitu:
1. Mengakui kebesaran dan keagungan Tuhan yang diwujudkan dengan berbagai
cara.
2. Menyadari bahwa dunia serta isinya adalah ciptaan Tuhan.
3. Manusia dianugerahi akal dan budi yang dapat dikembangkan secara
maksimal.
4. Manusia memiliki keterbatasan yang kadang sukar dijelaskan.
Kesemua ciri-ciri tersebut dapat amati, cermati, dan dijadikan acuan kita sebagai makhluk
berTuhan dalam berperilaku dan bertindak dalam kehidupan kesehariaannya.
C. Implikasi Kebertuhanan Terhadap Sikap Pribadi Dan Sosial.
Dengan menyadari bahwa setiap manusia adalah makhluk yang berTuhan, hanya saja
kepercayaan dan keyakinan yang telah diberikan Tuhan tersebut tetap dipertahankan atau
tidak, maka implikasi keberTuhanan terhadap sikap pribadi dan sosial ada 4.
1. Yang pertama adalah toleransi, di mana menyadari bahwa kepercayaan dan
keyakinan sudah ada sejak manusia lahir.
2. Yang kedua adalah tidak diskriminasi, di mana menyadari bahwa manusia
harus bersikap adil dan berteman dengan agama apapun selagi tidak membawa
pengaruh buruk kepada manusia tersebut.
3. Yang ketiga adalah hidup humanis, di mana menyadari dan percaya bahwa
walaupun berbeda agama antara satu manusia dengan manusia lain tetapi tetap
dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik sesuai dengan peri
kemanusiaan.
4. Dan yang terakhir adalah memiliki sifat jujur dan bertanggung jawab, di mana
menyadari bahwa terdapat Tuhan yang selalu mencatat amal baik dan buruk
manusia, sehingga akan mendorong manusia untuk selalu jujur dan
bertanggung jawab atas semua perbuatan yang sudah dilakukan oleh manusia,
karena semua yang manusia lakukan selama di dunia akan diminta
pertanggung jawabannya oleh Allah SWT. di akhirat kelak.
D. Implikasi Kebertuhanan dalam Membangun Pribadi Mulia.
Manusia diciptakan secara utuh karena manusia memiliki akal dan pikiran yang dapat
menciptakan sikap, perilaku, motivasi dan keterampilan yang menjadi dasar dari
pembentukan kepribadian. Sebagai makhluk yang bertuhan, manusia tentunya
mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan sesuai dengan kaidah moral atau disebut sebagai
kepribadian mulia. Manusia yang memiliki kepribadian mulia senantiasa taat dan berbakti
terhadap Allah SWT, mengikuti suri tauladan para nabi atau orang-orang yang rajin
beribadah. Untuk membangun dan membentuk kepribadian mulia tentunya harus diawali
dengan penanaman keyakinan dan keimanan terhadap Allah SWT. dengan mempelajari serta
menerapkan tauhid. Menurut Q.S Ali Imran ayat 139 sebagaimana ditafsirkan oleh Al-
Misbah karya M. Quraish Shihab (dalam website tafsirq), tauhid dan keimanan merupakan
pondasi utama yang ditanamkan dalam diri setiap muslim. Untuk menjadi pribadi yang mulia
kita harus mulai melakukan aktivitas yang positif mulai dari hal kecil sampai besar, seperti
membaca ayat-ayat suci Al-qur’an, memperdalam ilmu-ilmu agama, menjalankan kewajiban
shalat 5 waktu dengan tepat waktu, belajar bersyukur, belajar sabar, dan pembiasaan dalam
diri untuk bertata krama yang baik.
E. Interpretasi Kebertuhanan Antroposentris.
Menurut Andy Hadiyanto (2020), pengalaman bertuhan (spiritual) dapat
mempengaruhi kepribadian seseorang. Pada kehidupan modern, tujuan kehidupan manusia
lebih mengutamakan aspek fisik-material yang dapat membuat aspek keberagamaan dan
spiritualitas semakin tersingkirkan dan terasingkan.
Andy Hadiyanto mengutip pendapat Carl Gustav Jung, manusia modern mengalami
keterasingan diri dari diri sendiri, lingkungan sosial, bahkan dari Tuhan. Selain itu,
modernitas juga telah menghilangkan realitas ilahi yang merupakan tujuan utama kehidupan
manusia dan menggantikan tujuan utama kehidupan manusia lebih mengutamakan aspek
fisik-material tadi.
Manusia modern dapat melakukan penguatan spiritualitas agar memiliki visi ilahi
yang kokoh dan potensi bertuhan atau kebertuhanan kembali dengan proses pengaktualisasian
akhlak Tuhan pada setiap diri manusia. Andy Hadiyanto juga mengutip Syed Hussein Nasr
yang menghimbau manusia modern untuk mendalami dan menjalankan praktik tasawuf,
karena tasawuf dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan spiritual.
Tasawuf merupakan metode pendidikan yang membimbing manusia ke dalam
harmoni dan keseimbangan, sehingga tasawuf memiliki peran yang sangat berpengaruh
terhadap moral spiritual seperti dalam pendidikan. Tasawuf berisi prinsip positif yang dapat
mengembangkan masa depan manusia, seperti melakukan instropeksi (muhasabah),
meluruskan hal-hal yang kurang baik, selalu berdzikir, sehingga manusia dapat berada pada
sunnatullah dan shirathal-mustaqim.
F. Konsep Diri Manusia Islami.
Pada hakikat nya manusia diciptakan tentunya memiliki tujuan. Di dalam konsep
islam, manusia diciptakan Allah memiliki maksud atau tujuan di dalam kehidupan ini.
Berikut merupakan konsep dari diciptakannya manusia menurut pandangan islam:
 Pertama, Sebagai Hamba Allah. Sebagai hamba, maka manusia wajib menyembah
hanya kepada Allah SWT Dan tidak boleh menyembah selain dari padaNya. Wujud
dari bentuk penghambaan manusia terhadap Allah SWT. dengan cara menaati dan
mematuhi perintah dan ketentuan-Nya serta menjauhi larangan-Nya yang sudah
ditetapkan dan tertera jelas baik dalam Al-Qur’an, Hadist, dan kitab-kitab lain yang
ada.
 Kedua, Sebagai Al-Nas. Manusia juga disebut Al-Nas di mana ini mengacu pada
hakikat manusia dalam hubungannya dengan manusia lainnya atau di dalam
lingkungan sosial. Manusia seperti yang telah disebutkan dalam ilmu pengetahuan
merupakan makhluk sosial yang membutuhkan manusia lainnya untuk bertahan
hidup.
 Ketiga, Sebagai Bani Adam. Manusia juga di sebut sebagai Bani Adam sebab
keturunan dari Nabi Adam as, sebab agar tidak terjadi kesalahpahaman bahwa
manusia merupakan evolusi kera seperti apa yang telah disebutkan oleh Charles
Darwin. Allah SWT. menyebut manusia sebagai Bani Adam untuk menghormati
manusia sebagai makhluk sempurna.
 Keempat, Sebagai Al-Ihsan. Manusia juga disebut sebagai Al-Ihsan karena manusia
memiliki akal dan pikiran sehingga mereka mampu menguasai ilmu pengetahuan, dan
berpikir secara logis.
 Kelima, Sebagai Al-Basyar. Manusia juga disebut sebagai Al-Basyar atau makhluk
biologis, sebab manusia dikaruniai raga/fisik berupa tubuh yang tumbuh dan
berkembang biak sebagaimana ciri-ciri dari makhluk hidup semestinya. Namun, yang
membedakan adalah manusia memiliki akal dan pikiran, serta manusia pada masa
kematiannya harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka selama masa hidup
nya di akhirat kelak.
 Keenam, Sebagai Khalifah Allah. Di dalam pandangan Islam, pada hakikatnya
manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai Khalifah atau sebagai pemimpin di muka
bumi. Setiap seorang Khalifah, kelak di akhirat amal dan perbuatannya harus
dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT.
G. Tugas dan Peran Manusia Sebagai Hamba Dan Khalifah Allah.
Tugas dan peran manusia sebagai hamba. Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Menurut Q.S
Az-Zariyat ayat 56 sebagaimana ditafsirkan oleh Al-Misbah karya M. Quraish Shihab (dalam
website tafsirq), manusia memiliki kedudukan layaknya makhluk yang lain yaitu menjadi
hamba Allah SWT. Pada dasarnya, penghambaan merupakan wujud dari ketaatan,
ketundukan, dan kepatuhan kepada sang pencipta, yaitu Allah SWT.
Tugas dan Peran Manusia sebagai Khalifah Allah. Menurut Q.S Al-Baqarah ayat 30
sebagaimana ditafsirkan oleh Al-Misbah karya M. Quraish Shihab (dalam website tafsirq),
selain sebagai hamba Allah SWT. manusia juga memiliki peran sebagai khalifah yang
bertugas sebagai wakil Allah SWT mengelola dan memakmurkan bumi, menjaga keadilan
dan kebenaran, serta menjadi pemimpin dan teladan baik bagi manusia lainnya
H. Karakter - Karakter Positif dalam Pengembangan Diri Sesuai Dengan Profesinya.
Menurut KBBI, kata “karakter” diartikan dengan tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak
atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain dan watak. Dapat
disimpulkan bahwa karakter adalah kepribadian atau akhlak yang mengacu pada ciri,
karakteristik, atau sifat khas yang menggambarkan diri seseorang.
Maka di dalam persfektif Islam, karakter yang positif merupakan suatu hasil dari
proses penerapan syariat (ibadah dan muamalah) yang dilandasi oleh keimanan dan
ketaqwaan kepada Allah SWT serta bersandar pada al Qur’an dan al-Sunah (Hadits). Akhlak
sendiri merupakan keadaan sifat yang tertanam dalam jiwa yang darinya muncul perbuatan-
perbuatan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Di dalam profesi, akhlak baik sangatlah penting dan diperlukan dalam mengatur dan
mengelola dengan baik bumi beserta seisinya. Berikut merupakan akhlak positif dalam
profesi:
 Pertama, Bahwa pekerjaan itu harus dilakukan berdasarkan kesadaran dan
pengetahuan yang memadai.
 Kedua, Pekerjaan harus dilakukan berdasarkan keahlian. Seperti sabda Nabi: Apabila
suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran.
Dan apabila tidak memiliki keahlian maka haruslah berusaha supaya kita dapat
memiliki keahlian dalam bekerja.
 Ketiga, Berorientasi kepada mutu dan hasil yang baik. Dalam Islam, amal, dan kerja
harus dilakukan dalam bentuk yang shalih. Sehingga, makna amal shalih dapat
dipahami sebagai kerja sesuai standar mutu, baik mutu dihadapan Allah maupun
dihadapan manusia rekanan kerjanya.
 Keempat, Pekerjaan itu senantiasa diawasi oleh Allah, Rasulullah, dan
masyarakatnya, Dalam bekerja melakukan sesuatu, manusia tentunya selalu diawasi
oleh Allah SWT dan hal baik ataupun hal buruk selalu dalam pengawasan malaikat.
Oleh karena itu manusia harus melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan penuh
tanggung jawab. Serta Pekerjaan dilakukan dengan semangat dan etos kerja yang
tinggi.
Dalam bekerja, bukan hanya semata-mata mementingkan duniawi, tetapi juga harus
mementingkan urusan akhirat.
I. Tugas dan Kewajiban Manusia Terhadap Alam Semesta.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang diberikan kelebihan memiliki akal untuk
berfikir, kita harus saling menjaga alam semesta yang ada di jagat raya ini, karena Tuhan
telah memberikan anugerah kepada kita semua dengan menciptakan alam semesta yang
begitu indah untuk dapat kita manfaatkan di kehidupan sehari-hari. Menurut Q.S. Ibrahim
ayat 32 sebagaimana ditafsirkan oleh Al-Misbah karya M. Quraish Shihab (dalam website
tafsirq) ayat tersebut menjelaskan bahwa hanya Allah yang menciptakan langit dan bumi
beserta seluruh isinya, serta menurunkan air dari awan berupa hujan untuk mengeluarkan
rezeki kepada manusia berupa buahbuahan dari tanaman di kebun dan pepohonan.
Lantas, mengapa kita sebagai manusia penting untuk melaksanakan tugas dan
kewajiban terhadap alam semesta? Karena, hanya manusia yang dapat menjaga, mengelola,
dan merawat alam semesta ini agar dapat bertahan dan dilestarikan untuk keberlangsungan
kehidupan manusia. Apabila manusia tidak melaksanakan tugas dan kewajiban untuk
menjaga alam semesta, maka akan membahayakan kehidupan manusia itu sendiri. Menurut
Q.S. Ar-Rum ayat 41 sebagaimana ditafsirkan oleh Ahmad Mustafa Al-Maragi (dalam Rini
Fauziati halaman 49) ayat tersebut menjadi isyarat bahwa berbagai kerusakan yang telah
terjadi di bumi diakibatkan oleh perbuatan manusia.
Contoh tugas dan kewajiban menjaga alam semesta adalah saat menggunakan air
tidak boleh berlebihan, jika kita berlebihan maka hanya ada kesengsaraan yang datang
kepada manusia seperti akan mengalami kekeringan di musim kemarau, tetapi jika kita
menggunakan air secukupnya maka air akan tetap tersedia untuk keberlangsungan hidup
manusia.
J. Prinsip-Prinsip Islam dalam Pengelolaan Alam Semesta.
Prinsip islam dalam pengelolaan alam semesta ada 4.
 Pertama, manusia harus menyadari bahwa alam semesta dan isinya adalah ciptaan dan
milik Allah SWT.
 Kedua, manusia harus menyadari bahwa semua yang ada di alam semesta ini dapat
bermanfaat untuk keberlangsungan hidup manusia sehari-hari. Namun perlu
diketahui, tidak hanya manusia saja yang memanfaatkan alam semesta ini untuk hidup
tetapi juga makhluk hidup lainnya.
 Ketiga, manusia harus menyadari bahwa dalam menggunakan dan menikmati alam
semesta ini tidak boleh berlebihan atau boros karena, orang yang berlebihan atau
boros tidak disukai Allah SWT.
 Dan yang keempat, manusia harus memelihara dan menggunakan alam semesta ini
dengan bijaksana dan bertanggung jawab, agar alam semesta dapat bertahan dengan
baik, tidak mengalami kerusakan, dan manusia tidak akan mendapatkan kesengsaraan.
K. Kesimpulan.
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang diberi keunggulan yaitu memiliki akal
untuk berfikir manentukan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Dan setiap manusia
yang dilahirkan ke dunia pada hakikatnya atas fitrah (kesucian) atau memiliki sifat ketuhanan
(berTuhan) atau beragama dan sudah diberikan anugerah dari Tuhan berupa rasa kepercayaan
dan keyakinan terhadap keberadaan Tuhan, namun kembali lagi bagaimana manusia itu
merealisasikan ke dalam kehidupannya akan berpegang teguh atau tidak.

Anda mungkin juga menyukai