0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan21 halaman

Pahami Istilah Resep Medis dan Urgensi

Tugas praktik kerja profesi apoteker membahas skrining resep, termasuk deskripsi umum resep, kelengkapan dan legalitas resep, istilah Latin yang biasa digunakan dalam resep, prosedur pelayanan resep, dan analisis resep berdasarkan peraturan.

Diunggah oleh

afraatika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan21 halaman

Pahami Istilah Resep Medis dan Urgensi

Tugas praktik kerja profesi apoteker membahas skrining resep, termasuk deskripsi umum resep, kelengkapan dan legalitas resep, istilah Latin yang biasa digunakan dalam resep, prosedur pelayanan resep, dan analisis resep berdasarkan peraturan.

Diunggah oleh

afraatika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER

SKRINING RESEP

Disusun Oleh:

Dedi Mihardi (20340288)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

JAKARTA

2021
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Resep dapat diartikan sebagai Permintaan Tertulis dari seorang Dokter
maupun Dokter Hewan terhadap sejumlah Obat atau Alat Kesehatan kepada
seorang Apoteker di Apotek. Resep adalah permintaan tertulis seorang dokter,
dokter gigi atau dokter hewan yang diberi izin berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola apotik untuk
menyediakan dan menyerahkan obat-obatan bagi penderita.
Dokter gigi diberi izin menulis resep dari segala macam obat untuk
pemakaian gigi dan mulut dengan cara injeksi/parenteral atau cara pakai
lainnya. Sedangkan pembiusan atau patirasa secara umum tetap dilarang bagi
dokter gigi sesuai surat edaran dari Depkes RI No. 19/Ph/62 2 Mei 1962.
Copy resep atau turunan resep adalah salinan resep yang dibuat oleh
apoteker atau apotek. Selain memuat semua keterangan obat yang terdapat
pada resep asli. Salinan resep atau resep hanya boleh diperlihatkan kepada
dokter penlis resep, penderita yang bersangkutan, petugas kesehatan atau
petugas lain yang berwenang menurutperaturan perundangan-undangan yang
berlaku

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan resep ?
2. Apa saja kelengkapan dan legalitas resep ?
3. Apa saja bahasa latin yang biasa digunakan dalam resep ?
4. Bagaimana Prosedur pelayanan resep ?
5. Bagaimana analisis resep berdasarkan peraturan perundang-undangan ?
1.3. Tujuan
Adapun Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Agar mengetahui deskripsi umum resep
2. Agar mengetahui kelengkapan dan legalitas resep
3. Agar mengetahui bahsa latin yang biasa digunakan dalam resep
4. Agar mengetahui prosedur pelayanan resep
5. Agar mengetahui analisis resep berdasarkan peraturan perundang-
undangan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Deskrpsi umum Resep


Resep adalah permintaan tertulis kepada Apoteker Pengelola Apotek
(APA) untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita dari dokter,
dokter gigi, atau dokter hewan yang diberi izin berdasarkan peraturan
perundang-undangan. Umumnya resep ditulis dalam bahasa latin. Jika tidak
jelas atau tidak lengkap, apoteker harus menanyakan kepada dokter penulis
resep tersebut. Resep ditulis dalam bahasa latin :
 Bahasa universal, bahasa mati, bahasa medical science
 Menjaga kerahasiaan
 Menyamakan persepsi (dokter dan apoteker)
Resep asli tidak boleh diberikan setelah obatnya diambil oleh pasien,
hanya dapat diberikan copy resep atau salinan resep. Resep asli tersebut harus
disimpan di apotek dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain kecuali
diminta oleh:
 Dokter yang menulisnya atau yang merawatnya.
 Pasien yang bersangkutan.
 Pegawai (kepolisian, kehakiman, kesehatan) yang ditugaskan untuk
memeriksa dan
 Yayasan atau lembaga lain yang menggung biaya pasien.
Copy resep atau turunan resep adalah salinan resep yang dibuat oleh
apoteker atau apotek. Selain memuat semua keterangan obat yang terdapat
pada resep asli. Istilah lain dari copy resep adalah apograph, exemplum,
afschrtif. Apabila Apoteker Pengelola Apoteker berhalangan melakukan
tugasnya, penandatanganan atau pencantuman paraf pada salinan resep yang
dimaksud atas dilakukan oleh Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti
dengan mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan.
Salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis atau
yang merawat penderita-penderita sendiri dan petugas kesehatan atau petugas
lain yang berwenang menurut perundang-undangan yang berlaku. (contohnya
petugas pengadilan bila diperlukan untuk suatu perkara).

2.2. Kelengkapan dan Legalitas Resep


a. Kelengkapan Resep
Dalam resep harus memuat :
1. Nama, alamat dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi dan dokter
hewan.
2. Tanggal penulisan resep (inscriptio)
3. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep. Nama setiap obat
atau komposisi obat (invocatio)
4. Aturan pemakaian obat yang tertulis (signatura)
5. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep sesuai dengan UU yang
berlaku (subscriptio)
6. Jenis hewan dan nama serta alamat pemiliknya untuk resep dokter
hewan.
7. Tanda seru & paraf dokter utk resep yang mengandung obat yang
jumlahnya melebihi dosis maksimal.
Ketentuan Lainnya dalam peresepan :
1. Resep dokter hewan hanya ditujukan untuk penggunaan pd hewan.
2. Resep yang mengandung narkotika tidak boleh ada iterasi (ulangan) ;
ditulis nama pasien tdk boleh m.i. = mihi ipsi = untuk dipakai sendiri;
alamat pasien dan aturan pakai (signa) yang jelas, tidak boleh ditulis
sudah tahu aturan pakainya (usus cognitus).
3. Untuk penderita yang segera memerlukan obatnya, dokter menulis
bagian kanan atas resep: Cito, Statim, urgent, P.I.M.= periculum in
mora = berbahaya bila ditunda, RESEP INI HARUS DILAYANI
DAHULU.
4. Bila  dokter tidak ingin resepnya yang mengandung obat keras tanpa
sepengetahuan diulang, dokter akan menulis tanda N.I. = Ne iteratur =
tidak boleh diulang.
5. Resep yang tidak boleh diulang adalah resep yang mengandung
narkotika atau obat lain yang ditentukan oleh Menkes melalui Kepala
Badan POM.
b. Pelayanan Resep
1. Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan.
2. Pelayanan resep sepenuhnya atas tanggung jawab apoteker pengelola
apotek.

3. Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggung jawab dan


keahlian profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat.

4. Apoteker tidak diizinkan mengganti obat generik yang ditulis di dalam


resep dengan obat paten.

5. Bila pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis dalam resep,
apoteker dapat mengganti obat paten dengan obat generik atas
persetujuan pasien.

c. Copie Resep

1. Kopi resep = salinan tertulis dari suatu resep.


2. Copie resep = apograph, exemplum atau afschrift.
3. Salinan resep selain memuat semua keterangan yang termuat dalam
resep asli, harus memuat pula informasi sbb :
4. Nama & alamat apotek
5. Nama & nomor S.I.K. apoteker pengelola apotek
6. Tanda tangan / paraf apoteker pengelola apotek
7. Tanda det. = detur utk obat yang sudah diserahkan, atau tanda ne det =
ne detur utk obat yang belum diserahkan.
8. Nomor resep & tanggal pembuatan.
d. Ketentuan Tambahan
1. Salinan resep harus ditandatangani  apoteker. Apabila berhalangan,
penandatanganan atau paraf pada salinan resep dapat dilakukan oleh
apoteker pendamping atau apoteker pengganti dengan mencantumkan
nama terang dan status yang bersangkutan.
2. Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dengan baik selama
3 tahun.
3. Resep atau salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter
penulis resep, pasien yang bersangkutan, petugas kesehatan atau
petugas lain yang berwenang menurut peraturan UU yang berlaku.
4. Apoteker pengelola apotek, apoteker pendamping atau pengganti
diizinkan untuk menjual obat keras yang disebut obat wajib apotek
(OWA)
5. OWA ditetapkan oleh menteri kesehatan.
6. OWA  obat keras yang dpt diserahkan oleh apoteker kepada pasien
di apotek tanpa resep dokter.
7. Pelaksanaan OWA tersebut oleh apoteker harus sesuai yang
diwajibkan pd diktum kedua  SK. Menteri Kesehatan Nomor :
347/Menkes/SK/VII/1990 tentang OWA yaitu sbb :
• Memenuhi ketentuan & batasan tiap jenis obat per pasien yang
disebutkan dalam OWA yang bersangkutan.

• Membuat catatan pasien serta obat yang telah diserahkan.

• Memberikan informasi tentang obat yang diperlukan pasien.

e. Pengelolaan Resep
1. Resep yang telah dikerjakan, disimpan menurut urutan tanggal dan
nomor penerimaan / pembuatan resep.
2. Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep
lainnya, tandai garis merah di bawah nama obatnya.
3. Resep yang telah disimpan melebihi 3 tahun dapat dimusnahkan dan
cara pemusnahannya adalah dengan cara dibakar atau dengan cara lain
yang memadai
4. Pemusnahan resep dilakukan oleh apoteker pengelola bersama dengan
sekurang-kurangnya seorang petugas apotek.
5. Pada saat pemusnahan harus dibuat berita acar pemusnahan yang
mencantumkan :
 Hari & tanggal pemusnahan
 Tanggal yang terawal dan terakhir dari resep

 Berat resep yang dimusnahkan dalam kilogram.

2.3. Istilah Latin dalam Penulisan Resep


 R/ : Recipe : Ambillah
 CITO: segera
 Urgent = Statim: penting
 PIM (periculum in mora): berbahaya bila ditunda
 m.f.l.a : misce fac lege artis : buat menurut seni (meracik obat)
 gtt : guttae : tetes
 d. in. dim : da in dimidiu : berilah separonya
 b. in. d : bis in die : 2 x sehari
 s. d. d : semel de die : 1 x sehari
 b. d. d : bis de die : 2 x sehari
 aa : ana : tiap-tiap
 ad. us. ext : ad usum externum : untuk pemakaian luar
 ad. us. int : ad usum internum : untuk pemakaian dalam
 agit. : agitatio : gojog
 s.p.r.n : signa pro re nata : jika perlu
 o. m : omni mane : tiap pagi
 o.n : omni nocte : tiap malam
 p.p.p : pulvis pro pilulis : campuran sama banyak radix dan succus
 pulv. adsp : pulvis adspersorius : bedak tabur
 pill : pillula : pil
 pot : potio : minuman
 N. I : Ne iteretur : tidak boleh diulang
 r. p : recenter paratus : dibuat baru
 s. n. s : si necesse sit : bila perlu
 si. op. sit : si opus sit : bila perlu
 s. u. c : signa usus cognotus : tandailah pemakaian diketahui
 u. e : usus externus : pemakaian luar
 vit. ovi : vitellum ovi : kuning telur

2.4. Prosedur Pelayanan Resep


a. Skrining Resep
1. Melakukan pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan resep yaitu nama
dokter, nomor ijin praktek, alamat, tanggal penulisan resep, tanda
tangan atau paraf dokter serta nama, alamat, umur, jenis kelamin dan
berat badan pasien.
2. Melakukan pemeriksaan kesesuaian farmasetik yaitu: bentuk sediaan,
dosis, frekuensi, kekuatan, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama
pemberian obat.
3. Mengkaji aspek klinis yaitu : adanya alergi, efek samping, interaksi,
kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan kondisi khusus lainnya).
4. Membuatkan kartu pengobatan pasien ( medication record ).
5. Mengkonsultasikan ke dokter tentang masalah resep apabila
diperlukan.
b. Penyiapan Sediaan Farmasi Dan Perbekalan Kesehatan
1. Menyiapkan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan sesuai dengan
permintaan pada resep.
2. Menghitung kesesuaian dosis dan tidak melebihi dosis maksimum.
3. Mengambil obat dengan menggunakan sarung tangan / alat / spatula /
sendok.
4. Menutup kembali wadah obat setelah pengambilan dan
mengembalikan ke tempat semula.
5. Meracik obat (timbang, campur, kemas).
6. Mengencerkan sirup kering sesuai takaran dengan air yang layak
minum.
7. Menyiapkan etiket (warna putih untuk obat dalam, warna biru untuk
obat luar, dan etiket lainnya seperti label kocok dahulu untuk sediaan
cair).
8. Menulis nama dan cara pemakaian obat pada etiket sesuai dengan
permintaan dalam resep.
c. Penyerahan Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan
1. Melakukan pemeriksaan akhir sebelum dilakukan penyerahan
(kesesuaian antara penulisan etiket dengan resep).
2. Memanggil nama dan nomor tunggu pasien.
3. Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien.
4. Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat.
5. Membuat salinan resep sesuai dengan resep asli dan diparaf oleh
apoteker.
d. Prosedur Pelayanan Resep Narkotik
a. Skrining Resep
1. Melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan
administrasi
2. Melakukan pemeriksaan kesesuaian farmaseutik yaitu: bentuk
sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama
pemberian.
3. Mengkaji pertimbangan klinis yaitu: adanya alergi, efek
samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-
lain).
4. Narkotik hanya dapat diserahkan atas dasar resep asli rumah
sakit, puskesmas, apotek lainnya, balai pengobatan, dokter. Salinan
resep narkotika dalam tulisan “iter” tidak boleh dilayani sama
sekali
5. Salinan resep narkotik yang baru dilayani sebagian atau yang
belum dilayani sama sekali hanya boleh dilayani oleh apotek yang
menyimpan resep asli.
6. Mengkonsultasikan ke dokter tentang masalah resep apabila
diperlukan.
b. Penyiapan Resep
1. Menyiapkan obat sesuai dengan permintaan pada resep
2. Untuk obat racikan apoteker menyiapkan obat jadi yang
mengandung narkotika atau menimbang bahan baku narkotika.
3. Menutup dan mengembalikan wadah obat pada tempatnya.
4. Menulis nama dan cara pemakaian obat pada etiket sesuai dengan
permintaan dalam resep.
5. Obat diberi wadah yang sesuai dan diperiksa kembali jenis dan
jumlah obat sesuai permintaan dalam resep.
c. Penyerahan Obat
1. Melakukan pemeriksaan akhir kesesuaian antara penulisan etiket
dengan resep sebelum dilakukan penyerahan.
2. Memanggil nama dan nomor tunggu pasien.
3. Mengecek identitas dan alamat pasien yang berhak menerima.
4. Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat
5. Menanyakan dan menuliskan alamat / nomor telepon pasien dibalik
resep.
6. Menyimpan resep pada tempatnya dan mendokumentasikan nya.

Prosedur Produksi Skala Kecil :


1. Menghitung kesesuaian sediaan yang akan dibuat dengan resep
standar (formularium nasional,dll).
2. Mengambil obat dan bahan pembawanya dengan menggunakan
sarungtangan/alat/spatula/sendok.
3. Menutup kembali wadah obat setelah pengambilan dan
mengembalikan ketempat semula.
4. Meracik obat (timbang, campur, kemas)
5. Menyiapkan etiket (warna putih untuk obat dalam, warna biru
untuk obat luar, dan etiket lainnya seperti label kocok dahulu
untuk sediaan cair)
Contoh sediaan yang dibuat :
Pembuatan Puyer/Kapsul: Hitung obat yang akan dibuat
sesuai dengan resep. Ambil obat dan bahanpembawanya dengan
menggunakan sarung tangan/alat/spatula/sendok. Tutup kembali
wadah obat setelah pengambilan dan kembalikan ketempat semula.
Jumlah terkecil suatu zat yang masih boleh ditimbang dengan
timbangan miligram ialah 30 mg; tetapi jika kita membutuhkannya
dalam jumlah lebih kecil, maka haruslah dibuat pengenceran
dengan suatu zat netral (laktosa). Gerus obat, bagi serbuk dengan
sesuai, jika mungkin selalu dibuat sampai bobotnya 0,5 gr. Tetapi
ini hanyalah suatu kebiasaan, karena di manapun tak dinyatakan,
bahwa serbuk-serbuk harus mempunyai bobot 0,5 gr. Serbuk
biasanya dibagi-bagi menurut penglihatan, tetapi sebanyak-
banyaknya 10 serbuk bersama-sama. Jadi serbuk itu dibagi dengan
jalan menimbang dalam sekian bagian, sehingga dari setiap bagian,
sebanyak-banyaknya dapat dibuat 10 serbuk. Penimbangan satu
persatu diperlukan, jika sisakit memperoleh lebih dari 80 % dari
takaran maksimum untuk sekali atau dalam 24 jam.
Dalam hal ini seluruh takaran serbuk itu ditimbang satu persatu.
Juga pada serbuk-serbuk dengan bobot yang kurang dari 1 gr,
penimbangan-penimbangan ini dapat dilakukan pada timbangan
biasa. Serbuk dapat dikemas dengan kertas perkamen (biasanya
untuk anak-anak) maupun kapsul (untuk dewasa), beri etiket warna
putih.
Prosedur Pemusnahan Resep :
1. Memusnahkan resep yang telah disimpan tiga tahun atau lebih.
Tata cara pemusnahan :
- Resep narkotika dihitung lembarannya
- Resep lain ditimbang
- Resep dihancurkan, lalu dikubur atau dibakar
2. Membuat berita acara pemusnahan sesuai dengan
format terlampir.

2.5. Analisis Resep Berdasarkan PP 51 tahun 2009: (pasal 24)


Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan
Kefarmasian, Apoteker dapat:
a. mengangkat seorang Apoteker pendamping yang memiliki SIPA;
b. mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang sama komponen
aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/atau
pasien; dan
c. menyerahkan obat keras, narkotika dan psikotropika kepada masyarakat
atas resep dari dokter sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

2.6 Tanda- tanda dalam Resep

Menurut Syamsuni (2006) tanda-tanda penulisan resep dapat dibagi


menjadi lima bagian yaitu:
a. Tanda Segera yaitu: Bila dokter ingin resepnya dibuat dan dilayani
segera, tanda segera atau peringatan dapat ditulis sebelah kanan atas
blanko resep, yaitu:
Cito : Segera
Urgent : Penting
Statim : Penting sekali
PIM : Berbahaya bila ditunda
b. Tanda resep dapat diulang. Bila dokter menginginan agar resepnya dapat
diuang, dapat ditulis dalam resep sebalah kanan atas dengan tulisan iter
(Iteratie) dan berapa kali boleh diulang. Misalnya tertulis Iter 3x artinya
resep dapat dilayanisebanyak 1+3 kali = 4 kali.

c. Tanda Ne iteratie (N.I) = tidak dapat diulang Bila dokter menghendaki


agar resepnya tidak diulang, maa tanda ne iteratie ditulis sebelah atas
blanko resep,.Resep yang tidak boleh diulang adalah resep yang
mengandung obat-obatan narkotik, psikotropik, dan obat keras yang
ditetapkan oleh pemerintah /Menkes RI.

d. Tanda dosis sengaja dilampaui Jika dokter sengaja memberikan obat


dosis maksimum dilampaui, maka dibelakang nama obatnya diberi
tanda seru.

e. Resep yang mengandung narkotik Resep yang mengandung narkotik


tidak boleh ada iterasi yang artinya dapat diulang, tidak boleh ada m.i
(mihipsi) yang berarti untuk dipakai sendiri, atau u.c (usus cognitus)
yang berarti pemakaian diketahui .resep-resep yang mengandung
narkotik harus disimpan terpisah dengan resep obat lainnya (Syamsuni,
2006).

2.7 Kesalahan Medis (Medication Error)

Peraturan Menteri Kesehatan No.74 tahun 2016 disebutkan bahwa


Pengendalian mutu pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan untuk
mencegah terjadinya masalah terkait obat atau mencegah kesalahan
pengobatan/medikasi (Medication Error), yang bertujuan untuk keselamatan
pasien (Patient Safety) Menurut The National Coordinating Council for
Medication errors Reporting and Prevention (NCC MREP), medication error
merupakan kejadian yang dapat menyebabkan atau berakibat pada pelayananan
obat yang tidak tepat atau membahayakan pasien ketika obat tidak berada
dalam pengawasan tenaga Kesehatan atau pasien. Aronson (2009)
menyebutkan salah satu penyebab terjadinya Medication Error adalah
kegagalan dalam proses perawatan yang mengarah pada, atau berpotensi
menyebabkan, membahayakan pasien. Kesalahan pengobatan dapat terjadi
dalam menentukan rejimen obat dan dosis mana yang akan digunakan
(kesalahan resep - resep yang tidak rasional, tidak sesuai, dan tidak efektif,
resep kurang, resep berlebihan), menulis resep (kesalahan resep),
mengeluarkan formulasi (obat yang salah, formulasi yang salah, label yang
salah), pemberian atau minum obat (dosis salah, rute salah, frekuensi salah,
durasi salah), terapi pemantauan (gagal mengubah terapi bila diperlukan,
perubahan yang salah). Faktor terjadinya Medication Error dapat terjadi dalam
Kesalahan proses Prescribing, Transcribing, Dispensing, Administration.
Kesalahan dalam proses Prescribing merupakan kesalahan yang terjadi dalam
penulisan resep obat oleh dokter, khususnya yang perlu diperhatikan adalah
pada penulisan resep menggunakan tulisan tangan. Kesalahan dalam proses
Transcribing merupakan kesalahan yang terjadi dalam menerjemahkan resep
obat di apotek. Resep yang keliru dibaca/diterjemahkan akan menyebabkan
kesalahan pemberian obat kepada pasien. Kesalahan dalam proses Dispensing
merupakan kesalahan yang terjadi dalam peracikan atau pengambilan obat di
apotek, seperti kesalahan pengambilan obat karena adanya kemiripan nama
atau kemasan. Misalnya obat yang seharusnya adalah prednisolon, tetapi obat
yang diambil adalah propanolol. Kesalahan dapat pula terjadi akibat kesalahan
dalam pemberian label obat sehingga aturan pemakaian obat atau cara
pemakaian obat menjadi tidak sesuai lagi.

Kesalahan dalam proses Administration berkaitan dengan hal-hal yang


bersifat administrasi pada saat obat diberikan atau diserahkan kepada pasien.
Kesalahan tersebut diantaranya adalah kekeliruan dalam membaca nama pasien
atau tidak teliti dalam memeriksa identitas pasien sehingga obat yang
diberikan/ diserahkan juga menjadi salah. Contoh lainnya adalah kesalahan
dalam menuliskan instruksi pemakaian obat kepada pasien, kesalahan dalam
penyiapan obat yang tidak sesuai dengan prosedur (misal kesalahan
rekonstitusi injeksi) atau kesalahan memberikan penjelasan secara lisan kepada
pasien. (Anonim, 2015).
BAB III
SKRINING RESEP

Rumah Sakit Muhammadiah


ANALISIS KAJIAN RESEP
Jl. KH Ahmad Dahlan No 53
(Jika ditemukan
Bandarlampung, 23 September 2021 ketidaksesuaian
persyaratan)

Dokter : dr. Agung, [Link]


SIP : 445/16xx/Dinkes/385-SIP-I-DSP/IX/xx
Persyaratan Ada/tidak Penatalaksanaan
Administrasi meliputi :  
1. Nama pasien Ada
R/ Metformin 500mg tab no XC Terdapat barkode dan nomor

No∫ 3 dd 1 Kajian Obat rekam medic pasien, sehingga


Keterangan
Persyaratan Ada/tidak Penatalaksanaan
dapat dipastikan alamat, umur,
Farmasetik1meliputi
Nama: Obat   Metformin 500mg KAJIAN OBAT
 Nama obat
R/2 Pioglitazone 30mg Ada berat badan dan informasi untuk
 Bentuk2. Golongan
sediaan obat Obat No XXX Ada Sulfonilurea PASIEN
Alamat pasien obat Tidak keperluan medis lain. Penatalaksanaan
 Kekuatan3 ∫Umur
sediaan tabNO Obat Masalah terkait
1Mekanisme
dd 1 obat Ada Metformin
Ada/tidak
OBAT KE
3. Ada merupakan zat antihiperglikemik oral
 Jumlah [Link]
Berat badan 1 Ada
Ketidaktepatan seleksigolongan
obat Tidakbigunaid. AdaMekanisme kerja yaitu dengan 1
5. Jenis kelamin AdaDalam resep tidak adanya
menurunkan kaar gula dan tidak meningkatkan
R/6. Glimepirid 2 Dosis
3mg No XXX kurang Tidak
inkompatibilitas karena dalam resep
Nama dokter sekresi Adaindulin. Metformin tidak mengalami
7. ∫Nomor ijin3(SIP)Dosis lebih Adatidak adanya resiko yang
1dd 1 tab metabolism di hati,Tidak
dieksresikan dalam bentuk yang
mengakibatkan hilangnya
Resep yang potensi
disiapkan adalah dan
resep
tidak berubah terutama dalam air kemih
4 Duplikasi Tidak
dan meningkatnya toksisitas atau
sejumlah kecil dalam tinja.
yang ditulis oleh dokter praktek di
efek samping lainnya, sehingga
R/ Simvastatin5 20mgObat tanpa indikasi
No XXX  Untukstabilitas
Tidak
RSM,
terapi pasien Sehingga
diabetes jika tergantung
yang tidak ada yang
4 danIndikasi
 Stabilitas Obat
inkompatibilitias Tidak obat masih terjaga.
insulin dan kelebihan BB dimna kadar gula tidak
 Aturan dan cara penggunaan
∫ 0-0-1 6 Indikasi
obat tidak diobati
Ada bias dikontrol dengan Tidak
harusdiet saja.
dikonfirmasi atau di

Dapat dipakai sebagai obat tunggal atau dapat
7 Interaksi obat pastikan dapat langsung
diberikan sebagaiTidak
kombinasi dengan sulfonylurea
8. Alamat dokter/no  Untuk
telp Obat Merugikan Tidakterapi tambahan
dihubungin pada penderita
melalui diabetes
via telephone.
Pro :8Tn. Faizal
ReaksiFahmi (ROM) Tidak
dengan ketergantungan terhadap insulin yang
9. Paraf/tanda tangan dokter Ada
simptomnya sulit dikontrol.
10.
5 Tempat
Umur BB dan:973Tahun
tanggal
/KontraindikasiGagal
penulisan
menerima
resep
obat KomaAda Tidak
diabetic dan ketoasidosis
 Gangguan fungsi ginjal yang serius, kaerena
No RM : 822XXX METFORMIN 500MG
semua obat obatan terutama diekresi melalui
Alamat : ginjal
 Penyakit hati kronis, kegagalan jantung, Sumber :
miokardial infak, alkoholisme, keadaan
penyakit kronik atau akut yang berikatan 1. Brosur
dengan hipoksia jaringan. Keadaan yang laktat obat Metformin
asidosis dan keadaan yang ditandai demngan 500mg
hipoksemia
 Kehamilan dan menyusui
6 Dosis Obat Dewasa: 500mg 1 tablet 3 kali sehari

7 Efek Samping Obat  Metformin dapat diterima baik oleh pasien


dengan hanya sedikit gangguan gastrointestinal
yang biasanya bersifat sementara.
 Bila tampak gejala-gejala intolerensi,
penggunaan metformin tidak perlu langsung
dihentikan. Biasanya efek samping demikian
tersebut akan hilang pada penggunaan
selanjutnya.
 Anoreksia, mual, muntah, diare
 Berkurangnya absorbs vitamin B12
8 Interaksi Obat  Kemungkinan terjadi interaksi antara metformin
dan antikoagulan tertentu. Dalam hal ini
mungkin diperlukan penyesuaian dosis
antikoagulan.
 Terjadi penurunan kliren ginjal metformin pada
penggunaan bersama dengan simetidine, maka
dosis harus diturunkan.
9 Penyimpanan Obat Sampan pada suhu dibawah 30 °c, terlindung dari
cahaya
KAJIAN OBAT PASIEN
OBAT KE 2 PIOGLITAZONE

No Kajian Obat Keterangan Sumber :


1 Nama Obat Pioglitazone
1. Brosur
2 Golongan Obat Antidiabetes obat
Pioglitazone
3 Mekanisme Obat Meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin,
sehingga lebih banyak glukosa atau gula yang bisa
diolah dan digunakan oleh tubuh.

4 Indikasi Obat  Diabetes mellitus tipe 2

5 Kontraindikasi  Pasien gagal jantung yang berat, gangguan


hepar, kehamilan, kanker kandung kemih, dan
hematuria yang tidak diketahui penyebabnya.
6 Dosis Obat Dewasa:  Dosis awal 15 mg, dapat dinaikkan KAJIAN
hingga maksimum 45 mg, diberikan sekali sehari. OBAT PASIEN
7 Efek Samping Obat  Infeksi saluran napas atas, sakit kepala, OBAT
No Kajian Obat sinusitis, Keterangan
myalgia, faringitis, edema, dan KE 3
peningkatan berat badan GLIMEPIRID
1 8 Nama Obat Obat
Interaksi Glimepirid 2mg Dapat meningkatkan risiko edema dengan 2MG
insulin, metformin, dan sulfonilurea
2 Golongan Obat Sulfoniurea  Dapat menurunkan kadar plasma dengan

3 Mekanisme Obat Penurunan kadar rifampicin


gula darah terutama dicapai melalui stimulasi
 Dapat meningkatkan kadar plasma dengan
terhadap pelepasan insulin dari sel beta pancreas. Efektivitas dari
gemfibrozil dan ketoconazole.
9 Penyimpanan Obat obat secara predominan
Sampan pada terjadi melalui perbaikan
suhu dibawah responsdari
30 °c, terlindung sel
terhadap stimulasi
cahaya dari glukosa fisiologis. Glimepiride Sumber:
meningkatkan efektivitas insulin dalam ambilan glukosa di perifer,
1. Brosur
selain itu glimepiride mampu meniru aktivitas sama halnya dengan
aktivitas glukosa yang diproduksi oleh hati. obat

4 Indikasi Obat Terapi tambahan dari diet dan olahraga untuk menurunkan kadar gula Glimepirid
darah pada pasien DM Tipe II. Tablet
5 Kontraindikasi  Glimepirid jangan digunakan pada pasien hipersensitivitas
terhadap glimepiride atau golongan sulfoniurea lainnya.
 Ibu hamil dan meyusui
6 Dosis Obat  Dosis awal: 1-2 mg, satu kali sehari -Dosis pemeliharaan: 1-
4 mg, satu kali sehari, 
 dosis maksimum 8 mg, satu kali sehari. –
 Pada saat pemberian telah mencapai dosis 2 mg maka
kenaikan dosis tidak boleh melebihi 2 mg dengan interval 1-
2 minggu tergantung dari respon gula darah.
7 Efek Samping Obat  Hipoglikemia dikarnakan efek penurunan glukosa darah dalam
glimepirid
 Mata biasanya pada awal terapi, gangguan pengliatan mata
sementara dapat muncul dikarenakan perubahan kadar gula
darah
8 Interaksi Obat  Efek potensiasi penurunan kadar gula darah dan beberapa kondisi
tertentu hipoglikemia jika diminum dengan insulin dan obat
diabetes oral lainnya, ACE inhibitor, allopurinol, anabolic steroid
 Perlemahan efek penurunan kadar gula darah dan peningkatan
kadar gula darah dapat terjadi ketika salah satu obat berikut
diminum secara bersamaan Acetazolamide, barbiturates,
kortikosteroid, epinephrine.
9 Penyimpanan Obat Sampan pada suhu dibawah 30 °c, terlindung dari cahaya
KAJIAN OBAT PASIEN
OBAT KE 4 SIMVASTATIN 20MG
Sumber :
No Kajian Obat Keterangan
1. Brosur
1 Nama Obat Simvastatin 20mg
obat
2 Golongan Obat Golongan obat Statin Simvastatin
3 Mekanisme Obat Simvastatin merupakan obat golongan statin yang 20mg
menghambat aktivitas enzim 3-hidroksi-3-metilglutaril
koenzim A reduktase (HMG CoA) di hati. Inhibisi enzim
HMG CoA ini akan menyebabkan penurunan kadar
kolesterol total dan meningkatkan pembentukan reseptor
LDL di permukaan sel hepatosit sehingga terjadi
peningkatan transport LDL dari pembuluh darah ke sel hati.

4 Indikasi Obat Menurunkan kadar kolestrol dalam darah

5 Kontraindikasi Hipersensitif terhadap simvastatin atau komponen obat.


Gagal fungsi hati atau pernah mengalami gagal fungsi hati. 

6 Dosis Obat 10-40 mg, satu kali sehari

7 Efek Samping Obat Sakit kepala, Sembelit, Mual, Diare, Nyeri abdomen, Nyeri
dada, Lemas, Ruam kulit, Hepatitis, Miopati (nyeri otot)

8 Interaksi Obat Kumarin


Simvastatin dapat meningkatkan waktu pembekuan darah
atau waktu protrombin jika digunakan dengan kumarin.
Itraconazole, ketoconazole, posaconazole, voriconazole,
clarithromycin, erithromycin, telithromycin, nefazodon,
nelfinavir, bocistrevirporin, produk yang mengandung
gemistlosporin, danazol dan asam fusidat, amiodaron, BAB IV
amlodipine, verapamil, diltiazem, lomitapide,
daptomisin, dan colchicine
KESIMPULAN DAN
Simvastatin dapat meningkatkan risiko gangguan otot,
seperti kelainan otot (miopati) dan kerusakan atau SARAN
kematian otot rangka (rhabdomyolysis) jika digunakan
bersama obat di atas.

Elbasvir dan grazoprevir


4.1 Kesimpulan
Simvastatin dapat meningkatkan konsentrasi atau kadar
obat di ataas.
Berdasarkan hasil
penelitian
9 Penyimpanan Obat Simpan dibawah suhu 30 derajat.
kelengkapan resep
pasien BPJS rawat jalan di Rumah Sakit Muhammadiah , dapat disimpulkan 93,9% resep lengkap dan 6,1% resep
tidak lengkap.
4.2 Saran

Untuk menghindari kesalahan pengobatan, yang dapat dilakukan antara lain :

a. Identifikasi pasien minimal dengan dua identitas, misalnya nama dan nomor rekam medik/ nomor resep.

b. Harus dilakukan konfirmasi ulang untuk memastikan obat yang diminta benar, dengan mengeja nama obat serta
memastikan dosisnya. Informasi obat yang penting harus diberikan kepada petugas yang meminta/ menerima obat
tersebut.

. c. Perlu ditingkatkan komunikasi antara apoteker dan dokter dalam menentukan terapi untuk mencegah
terjadinya interaksi
DAFTAR PUSTAKA

Anief, M., 1996, Ilmu Meracik Obat Cetakan 6, Gajah Mada University Press,
Yogyakarta

Departemen Kesehatan, 1981, Keputusan Menteri Kesehatan No. 280 tahun 1981
tentang Ketentuan dan Tata Cara Pengelolaan Apotek, Jakarta

Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen


Kesehatan RI, 2006, Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek,
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1027/Menkes/SK/IX/2004, Jakarta

Anda mungkin juga menyukai