0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan29 halaman

Proses Keperawatan pada Pasien ISPA

Makalah ini membahas tentang proses keperawatan pada pasien dengan penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut). ISPA merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia. Makalah ini menjelaskan definisi dan klasifikasi ISPA, anatomi dan fisiologi sistem pernapasan, etiologi, patofisiologi, diagnosis, manifestasi klinis, komplikasi, penatalaksanaan, serta konsep asuhan keperawatan pada pasien

Diunggah oleh

wilda anggraeni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan29 halaman

Proses Keperawatan pada Pasien ISPA

Makalah ini membahas tentang proses keperawatan pada pasien dengan penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut). ISPA merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia. Makalah ini menjelaskan definisi dan klasifikasi ISPA, anatomi dan fisiologi sistem pernapasan, etiologi, patofisiologi, diagnosis, manifestasi klinis, komplikasi, penatalaksanaan, serta konsep asuhan keperawatan pada pasien

Diunggah oleh

wilda anggraeni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 1

PROSES KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT ISPA


(INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT)

Disusun oleh:
1. Enjelina Marlina (241911001)
2. Falleriany Intan Wedha (241911002)
3. Wilda Putri Anggraeni (241911008)
4. Wita Yulianti Barges (241911009)

Dosen Pembimbing:
Ns. Wanto Sinaga, S. Kep

MAYAPADA NURSING ACADEMY


JAKARTA 2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada saya sehingga saya dapat
menyelesaikan panulisan makalah ini yang berjudul “Keperawatan Medikal
Bedah I Proses Keperawatan Pada Pasien ISPAˮ.
Saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, baik dari cara
penulisan maupun isi yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, saya sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga kami dapat
berkarya dengan lebih baik di masa yang akan datang.
Akhirnya dengan satu harapan dari saya, semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi rekan-rekan pembaca umumnya.


Jakarta, 02 Oktober 2020

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................
DAFTAR GAMBAR......................................................................................
DAFTAR TABEL...........................................................................................
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................
1.1 Latar Belakang ...........................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan .......................................................................................
1.3.1 Tujuan Umum...................................................................................
1.3.2 Tujuan Khusus..................................................................................
1.4 Manfaat.......................................................................................................
1.4.1 Manfaat Teoritis...............................................................................
1.4.2 Manfaat Praktis.................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................
2.1 Definisi.......................................................................................................
2.1.1 Definisi ISPA....................................................................................
2.1.2 Klasifikasi ISPA...............................................................................
2.2 Anatomi dan Fisiologi................................................................................
2.2.1 Anatomi Sistem Pernapasan.............................................................
2.2.2 Fisiologi Sistem Pernapasan.............................................................
2.3 Etiologi.......................................................................................................
2.3.1 Etiologi ISPA....................................................................................
2.4 Patofisiologi................................................................................................
2.4.1Patofisologi ISPA..............................................................................
2.4.2 Pathway ISPA...................................................................................
2.5 Diagnosis....................................................................................................
2.5.1 Pemeriksaan Penunjang....................................................................
2.6 Diagnosis Banding......................................................................................
2.7 Manifestasi Klinik......................................................................................
2.7.1 Manifestasi Klinik ISPA...................................................................
2.8 Komplikasi..................................................................................................
2.9 Pentalaksanaan............................................................................................
2.9.1 Penatalaksanaan ISPA......................................................................
2.10 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien ISPA.....................................
BAB III PENUTUP.........................................................................................
3.1 Kesimpulan.................................................................................................
3.2 Saran...........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomi Sistem Pernapasan.........................................................


Gambar 2.2 Pathway ISPA...............................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


ISPA adalah radang akut saluran pernapasan atas maupun bawah yang
disebabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri, virus, tanpa atau disertai
parenkim paru. ISPA merupakan suatu kelompok penyakit sbagai penyebab
angka absensi tertinggi bila dibandingkan dengan kelompok penyakit lain.
Peyakit ISPA sering terjaid pada anak-anak, hal tersebut diketahui dari hasil
pengamatan epidemiologi bahwa angka kesakitan di kota cenderung lebih
besar daripada di desa. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh tingkat
kepadatan tempat tinggal dan pencemaran lingkungan di kota yang lebih
tinggi daripada didesa (Putra & Wulandari, 2019).
Komplikasi ISPA yang berat mengenai jaringan paru dapat menyebabkan
terjadinya pneumonia. Pneumonia merupakan penyakit infeksi penyebab
kematian nomor satu pada balita (Riskesdas, 2013). Beberapa faktor risiko
terjadinya ISPA adalah faktor lingkungan, ventilasi, kepadatan rumah, umur,
berat badan lahir, imunisasi, dan faktor perilaku (Naning et al., 2012).
Penyakit ISPA dapat terjadi di berbagai tempat di saluran pernafasan
mulai dari hidung sampai ke telinga tengah dan yang berat sampai keparu.
Kebanyakan ISPA muncul dari gejala yang ringan seperti pilek dan batuk
ringan tetapi jika imunitas anak rendah gejala yang ringan tersebut bisa
menjadi berat. Anak yang terkena infeksi saluran pernapasan bawah akan
berisiko tinggi kematian (Dinkes RI,2010).
Penyakit ISPA merupakan salah satu dari banyak penyakit yang
menginfeksi di negara maju maupun negara berkembang. Hal ini diperkuat
dengan tingginya angka kesakitan dan angka kematian akibat ISPA
khususnya pneumonia, terutama pada balita.
Berdasarkan data World Health Organization (2016) infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab utama mordibitas dan
mortalitas penyakit menular didunia. Hampir empat juta orang meninggal
setiap tahunnya akibat ISPA. Tingkat mortalitas sangat tinggi pada bayi,
anak-anak dan orang lanjut usia, terutama di negara berkembang dengan
pendapatan per kapita rendah dan menengah (Besinung, dkk, 2019).
Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018, prevalensi penyakit ISPA di
Indonesia menurut diagnosis oleh tenaga kesehatan atau gejala yang pernah
dialami, yaitu sebesar 9,3% dan tertinggi pada kelompok usia 1-4 tahun, yaitu
sebesar 13,7% (Besinung, dkk, 2019).
Dalam mengatasi berbagai masalah yang timbul pada anak dengan ISPA,
perawat mempunyai peranan yang sangat penting dalam memberikan asuhan
keperawatan diantaranya sebagai Care Giver, Advokat, Fasilitator,
Coordinator, Educator. Oleh karena itu perawat mempunyaiupaya yang
sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan dengan ISPA,
diantaranya dalam segi Promotes yaitu peran perawat memberikan
penyuluhan agar keluarga mengenal penyakit ISPA, dari segi Preventif
dengan cara mendeteksi dini penyakit ISPA atau menghindari faktor
penyebab ISPA dan minum air putih sebanyak mungkin untuk membantu
mengencerkan dahak, menghindari paparan debu, minumanatau makanan
yang merangsang tenggorokan dan udara malam, memperbanyak konsumsi
makanan yang mengandung vitamin C, dari segi Kuratif perawat langsung
membatasi aktivitas sesuai beratnya keluhan, sedangkan dari segi
Rehabilitatif dengan memberikan penyuluhan (menjaga lingkungan tetap
bersih dan memakai penutup hidung bila kontak langsung dengan salah satu
anggota keluarga penderita ISPA). Upaya untuk mencegah terjadinya ISPA
pada anak yaitu: meningkatkan gizi anak, memberikan imunisasi
lengkap,memberikan pengobatan pencegahan pada anak balita yang tidak
mempunyai gejala ISPA tetapi mempunyai anggota keluarga yang menderita
ISPA (Ainurokhmah, 2020).

1.2. Rumusan Masalah


Apa yang dimaksud dengan ISPA, serta bagaimana cara penanganan
keperawatan pada pasien ISPA?
1.3. Tujuan Pembahasan
1.3.1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami konsep literatur tentang teori dan
pendekatan proses keperawatan pasien dengan penyakit ISPA yang
komprehensif meliputi aspek biopsikososial.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Mahasiwa dapat memahami tinjauan teori tentang ISPA.
2. Mahasiwa dapat memahami pengkajian pada klien dengan ISPA.
3. Mahasiswa dapat membuat rencana perawatan pada klien dengan ISPA.
4. Mahasiwa dapat melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan
rencana yang telah dibuat.
5. Mahasiswa dapat memahami hasil evaluasi hasil asuahan keperawatan
yang telah dilaksanakan.
6. Mahasiwa dapat mendokumentasikan asuhan keperawatan yang telah
dilakukan.

1.4. Manfaat
1.4.1. Manfaat Teoritis
1. Menambah wawasan mahasiswa.
2. Melatih mahasiswa untuk berpikir kritis dan rasional.
3. Menjadikan mahasiswa lebih kreatif, inovatif, dan tanggap terhadap
setiap masalah keperawatan.
4. Kegiatan praktek mahasiswa keperawatan diharapkan mampu
mengaplikasikan teori-teori yang telah didapat sebelumnya, serta dapat
melihat kesenjangan yang ada antara teori dan yang didapatkan di
lapangan.
1.4.2. Manfaat Praktis
1. Untuk perawat, agar perawat dapat meningkatkan pengetahuan dan
dapat menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan ISPA.
2. Untuk rumah sakit, sebagai badan masukan dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan dan standar operasional prosedur pelaksanaan
penanggulangan penyakit ISPA.
3. Untuk institusi pendidikan, sebagai bahan ajar untuk menambah
pengetahuan mahasiswa tentang penyakit ISPA.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
2.1.1 Definisi ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran pernafasan
akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang berlangsung
kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di atas laring. Tetapi
kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan bawah secara
stimulanatau berurutan. ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu
bagian dan atau lebih dari saluran pernafasan mulai dari hidung hingga
alveoli termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah,
dan pleura. ISPA adalah suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang
terjadi disetiap bagian saluran pernafasan atau struktur yang berhubungan
dengan pernafasan yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari (Aziz, 2016).
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang
melibatkan organ saluran pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan bagian
bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri. ISPA akan
menyerang host, apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun. Penyakit
ISPA ini paling banyak di temukan pada anak di bawah lima tahun karena pada
kelompok usia ini adalah kelompok yang memiliki sistem kekebalan tubuh
yang masih rentan terhadap berbagai penyakit. (Karundeng Y.M, et al dalam
Suriani, 2018).
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan
atas atau bawah, biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai
spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan
sampai penyakit yang parah dan mematikan, tergantung pada patogen
penyebabnya, faktor lingkungan dan faktor penjamu. Namun demikian, sering
juga ISPA didefinisikan sebagai saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh
agen infeksius yang ditularkan dari manusia ke manusia. Timbulnya gejala
biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam sampai beberapa hari.
Gejalanya meliputi demam, batuk dan sering nyeri tenggorok, coryza (pilek),
sesak napas, mengik, atau kesulitan bernapas (Imaniyah & Jayatmi, 2019).
Dari beberapa pengertian diatas tentang ISPA dapat disimpulkan, ISPA
(Infeksi Saluran Pernapasan Akut) adalah infeksi saluran pernapasan akut yang
menyerang organ pernapasan bagian atas dan bawah yang disebabkan oleh
infeksi virus dan bakteri.

2.1.2 Klasifikasi ISPA


Menurut letak infeksinya, ISPA dibedakan menjadi 2 bagian yaitu ISPA
atas (Upper respiratory tract infection) dan ISPA bawah (Lower
respiratory tract infection).
1. ISPA atas (Upper respiratory tract infection)
a. Common cold
b. Sinusitis
c. Rhinitis
d. Tonsillitis
e. Radang tenggorokan
f. Laringitis
2. ISPA bawah (Lower respiratory tract infection)
a. Bronchitis
b. Bronkiolitis
c. Pneumonia

Menurut Depkes RI tahun 2012, klasifikasi ISPA dapat dibedakan


berdasarkan berat ringannya gejala yang ditimbulkan, yaitu tanda dan gejala
ringan (bukan pneumonia), sedang (pneumonia sedang/pneumonia), dan
berat (pneumonia berat). Penyakit batuk-pilek seperti rinitis, faringitis,
tonsillitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai
bukan pneumonia (Azis, 2016).
1. Ringan (bukan pneumonia)
Tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (TDDK), batuk
tanpa pernafasan cepat atau kurang dari 40 kali/menit, hidung tersumbat
atau berair, tenggorokan merah, dan telinga berair. Tanda
emergencyuntuk golongan umur 2 bulan-5 tahun yaitu : tidak bisa
minum,kejang, kesadaran menurun, stridor, dan gizi buruk.
2. Sedang (pneumonia sedang/pneumonia)
Tidak ada TDDK , batuk, dan nafas cepat tanpa stridor, gendang telinga
merah, dari telingan keluar cairan kurang dari 2 minggu. Faringitis
purulen dengan pembesaran kelenjar limfe yang nyeri tekan (adenitis
servikal).
3. Berat (pneumonia berat)
Terdapat TDDK pada waktu anak menarik nafas (pada saat diperiksa
anak harus dalam keadaan tenang, tidak menangis atau meronta), batuk
dengan nafas berat, cepat dan stridor, membran keabun di taring, kejang,
apnea, dehidrasi berat/ tidur terus, sianosis dan adanya penarikan yang
kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam.

2.2 Anatomi dan Fisiologi


2.2.1 Anatomi Sistem Pernafasan (Utama, 2018: 2-11)

Gambar 2.1 Anatomi Sistem Pernapasan


Sumber: Suriani, 2018
1. Hidung
Hidung atau nasal berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir
ke dan dari paru-paru, sebagai penyaring kotoran dan melembabkan
serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru. Nasal
terdiri atas bagian eksternal dan [Link] eksternal menonjol dari
wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago, dilindungi otot-
otot dan kulit, serta dilapisi oleh membrane mukosa. Lapisan dalam
terdiri dari selaput lender yang berlipat-lipat yang dinamakan karang
hidung (konka nasalis) yang berjumlah 3 buah: (a) konka nasalis inferior
(karang hidung bagian bawah), (b) konka nasalis media (karang hidung
bagian tengah), (c) konka nasalis superior (karang hidung bagian atas).

2. Faring
Pharynx atau faring merupakan organ berbentuk corong sepanjang
15 cm yang tersusun atas jaringan fibromuscular yang berfungsi sebagai
saluran pencernaan dan juga sebagai saluran [Link] terletak
setinggi Bassis crani (bassis occipital dan bassis sphenoid) sampai
cartilage cricoid setinggi Vertebrae Cervical [Link] terlebar dari
pharynx terletak setinggi [Link] dan bagian tersempitnya terletak
pada pharyngeosophageal junction. Faring merupakan oragan tubuh
tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan,
terdapat dibawah dasar tengkorak, di belakang rongga hidung dan mulut
sebelah depan ruas tulang leher.
3. Laring
Larynx (laring) atau tenggorokan merupakan salah satu saluran
pernafasan (tractus respiratorius).Laring membentang dari
laryngeosophageal junction dan menghubungkan faring (pharynx) dan
[Link] terletak setinggi Vertebrae Cervical IV – [Link] juga
bertindak sebagai pembentukan [Link] atau pangkal tenggorokan
itu dapat ditutup oleh sebuah empang tenggorok yang disebut epiglottis
yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita
menelan makanan menutupi laring.
4. Trakea
Trakea atau batang tenggorok merupakan lanjutan dari laring yang
dibentuk oleh 16-20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang
berbentuk seperti kuku kuda (huruf C). Sebelah dalam diliputi oleh
selaput lender yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, hanya
bergerak ke arah [Link] trakea 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari
jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos.
5. Bronkus dan Bronkiolus
Bronkus atau cabang tenggorok merupakan lanjuta dari trakea, ada
dua buah yang terdapat pada ketinggian vertebrate torakalis IV dan V
mempunyai struktur serupa dengan trakean dan dilapisi oleh jenis set
yang sama. Bronkus itu berjalan ke bawah dan ke samping ke arah paru-
[Link] kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri,
terdiri dari 6-8 cincin mempunyai 3 [Link] kiri lebih panjang
dan lebih ramping dari yang kanan, terdiri dari 9-12 cincin mempunyai 2
cabang.
Bronkus bercabang-cabang, cabang yang lebih kecil disebut
bronkiolus (bronkioli).Pada bronkioli tak terdapat cincin lagi dan pada
ujung bronkioli terdapat gelembung paru atau gelembung hawa yang
disebut alveolus.
6. Paru-paru
Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar
terdiri dari gelembung (gelembung hawa, alveoli). Gelembung alveoli
ini terdiri dari sel-sel epitel dan [Link] dibentangkan luas
permukaannya lebih kurang 90 [Link] lapisan ini terjadi pertukaran
udara, O2 masuk ke dalam darah dan CO 2 dikeluarkan dari [Link]-
paru terletak di rongga dada (mediastinum), dilindungi oleh struktur
tulang [Link] dada dan perut dibatasi oleh suatu sekat disebut
[Link] paru-paru kanan sekitar 620 gram, sedangkan paru-paru
kiri sekitar 560 gram. Masing-masing paru-paru dipisahkan satu sama
lain oleh jantung dan pembuluh-pembuluh besar serta struktur-struktur
lain dalam rongga dada. Selaput yang membungkus paru-paru disebut
[Link]-paru terbenam bebas dalam rongga pleuranya [Link]-
paru dibungkus oleh selaput yang bernama pleura. Pleura dibagi menjadi
dua yaitu: (a) pleura visceral (selaput dada pembungkus), yaitu selaput
paru yang langsung membungkus paru, (b) pleura parietal, yaitu selaput
yang melapisi rongga dada luar.

2.2.2. Fisiologis Sistem Pernafasan (Utama, 2018: 12-13)


Manusia sangat membutuhkan oksigen dalam hidupnya, bila tidak
mendapatkan oksigen selama 4 menit akan mengakibatkan kerusakan
pada otak yang tak dapat diperbaiki dan bisa menimbulkan kematian. Bila
oksigen tidak mencukupi kebutuhan tubuh makanakan terjadi sianosis
yaitu adanya warna kebiruan pada bibir, telinga, lengan, dan kaki.
Menurut tempat terjadinya pertukaran gas maka pernpasan dapat
dibedakan atas 2 jenis, yaitu pernapasan luar dan pernapasan
[Link] luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara
dalam alveolus dengan darah dalam kapiler, sedangkan pernapasan dalam
adalah pernapasan yang terjadi antara darah dalam kapiler dengan sel-sel
[Link] keluarnya udara dalam paru-paru dipengaruhi oleh
perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan tekanan udara di luar
tubuh. Jika tekanan udara di luar rongga dada lebih besar maka udara akan
masuk. Sebaliknya, apabila tekanan rongga dada lebih besar maka udara
akan keluar. Sehubungan dengan organ yang terlibat dalam pemasukkan
udaran (inspirasi) dan pengeluaran udara (ekspirasi) maka mekanisme
pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu pernapasan dada dan
[Link] dada dan perut terjadi secara bersamaan.
2.3 Etiologi
2.3.1 Etiologi ISPA
ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri
penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus, Stafilokokus,
Pneumokokus, Hemofillus, Bordetelia dan Korinebakterium. Virus
penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adnovirus,
Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain .
(Suhandayani, 2007).
ISPA disebabkan oleh adanya infeksi pada bagian saluran pernapasan.
ISPA dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan polusi udara.
1. Pada umumnya ISPA disebabkan oleh bakteri. Bakteri yang dapat
menyebabkan pneumonia adalah Streptococcus pneumonia,
Mycoplasmapneumonia, Staphylococcus aureus, dan bekteri yang paling
sering menyebabkan ISPA adalah Streptococcus pneumonia.
2. ISPA yang disebabkan oleh virus dapat disebabkan oleh virus sinsisial
pernapasan, hantavirus, virus influenza, virus parainfluenza, adenovirus,
rhinovirus, virus herpes simpleks, sitomegalovirus, rubeola, varisella.
3. ISPA yang disebabkan oleh jamur dapat disebabkan oleh candidiasis,
histoplasmosis, aspergifosis, Coccidioido mycosis, Cryptococosis,
Pneumocytis carinii.
4. ISPA yang disebabkan oleh polusi, antara lain disebabkan oleh asap
rokok, asap pembakaran di rumah tangga, asap kendaraan bermotor dan
buangan industri serta kebakaran hutan dan lain-lain (WHO, 2007).

2.4 Patofisiologi
2.4.1 Patofisiologi ISPA
Proses terjadinya ISPA diawali dengan masuknya beberapa bakteri dari
genus streptokokus, stafilokokus, pneumokokus, hemofillus, bordetella dan
korinebakterium dan virus dari golongan mikrovirus (termasuk didalamnya
virus para influenza dan virus campak), adenoveirus, koronavirus,
pikornavirus, herpesvirus kedalam tubuh manusia melalui partikel udara
(droplet infection). Kuman ini akan melekat pada sel epitel hidung dengan
mengikuti proses pernapasan maka kuman tersebut bisa masuk ke bronkus
dan masuk ke saluran pernapasan, yang mengakibatkan demam, batuk,
pilek, sakit kepala dan sebagainya (Marni, 2014).

2.4.2. Pathway ISPA

2.5 Diagnosis
2.5.1 Pemeriksaan Penunjang
1. Pengkajian utama pada jalan napas : pola, kedalaman, usaha, serta irama
dari pernapasan.
a. Pola : cepat (takipnea) atau normal.
b. Kedalaman : napas normal, dangkal atau terlalu dalam yang biasa
dapat kita amati melalui pergerakan ronggga dada dan rongga
abdomen.
c. Usaha : kontinyu, terputus-putus atau tiba-tiba berhenti disertai
dengan adanya bersin-bersin.
d. Irama pernapasan bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman
pernapasan.
2. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaaan kultur atau biakan kuman (SWAB) : hasil yang didapat
adalah biakan kuman (+) sesuai dengan jenis kuman.
b. Pemeriksaan hitung darah (diferential count) : laju endapan darah
meningkat disertai dengan adanya leukositosit dan biasanya juga
disertai dengan adanya trombositopeni.
c. Pemeriksaan foto toraks.

2.6. Diagnosis Banding


1. Difteri.
2. Mononukleosis infeksius.
3. Agranwasitasis.
Ketiganya memiliki manifestasi klinis nyeri tenggorokan dan
terbentuknya membrane.

2.7 Manifestasi Klinik


2.7.1 Manifestasi Klinik ISPA
Menurut WHO (2007), penyakit ISPA adalah penyakit yang sangat
menular, hal ini timbul karena menurunnya sistem kekebalan atau daya
tahan tubuh, misalnya karena kelelahan atau stres. Pada stadium awal,
gejalanya berupa rasa panas, kering dan gatal dalam hidung, yang kemudian
diikuti bersin terus menerus, hidung tersumbat dengan ingus encer serta
demam dan nyeri kepala. Permukaan mukosa hidung tampak merah dan
[Link] lebih lanjut membuat sekret menjadi kental dan
sumbatan di hidung bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi, gejalanya
akan berkurang sesudah 3-5 hari. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah
sinusitis, faringitis, infeksi telinga tengah, infeksi saluran tuba eustachii,
hingga bronkhitis dan pneumonia (radang paru). Secara umum gejala ISPA
meliputi demam, batuk, dan sering juga nyeri tenggorok, coryza (pilek),
sesak napas, mengi atau kesulitan bernapas).

2.8. Komplikasi
Apabila penyakit ISPA tidaak diobati dan jika disertai dengan malnutrisi,
maka penyakit tersebut menjadi berat dan akan menyebabkan terjadi
bronkitis, pneumonia, otitismedia, sinusitis, gagal nafas, henti jantung, syok
dan sebagainya (Fahrizal, 2018).

2.9. Penatalaksanaan
2.9.1. Penatalaksanaan ISPA
Penemu dini penderita pneumonia dengan pelaktaksanaan kasus benar
merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunya
kematian karena pneumonia dan turunnya pengguna antibiotic dan obat
batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA). Pedoman
penatalaksanaan medis kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar
pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan
antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi
penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan
kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman
sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA.
Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut
(Smeltzer & Bare, 2002):
1. Pemeriksaan
Pemeriksaan artinya memperoleh informasi tentang penyakit anak
dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada ibunya, melihat dan
mendengarkan. Hal ini penting agar selama pemeriksaan anak tidak
menangis (bila menangis akan meningkatkan frekuensi napas), untuk ini
diusahakan agar anak tetap dipangku oleh ibunya. Menghitung napas
dapat dilakukan tanpa membuka baju. Bila baju anak tebal, mungkin
perlu membuka sedikit untuk melihat gerakan dada. Untuk melihat
tarikan dada bagian bawah, baju harus dibuka sedikit. Tanpa
pemeriksaan auskultasi dengan steteskop penyakit pneumonia dapat
didiagnosa dan diklassifikasi.
2. Klasifikasi ISPA Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA)
mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:
a. Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding
dada kedalam (chest indrawing).
b. Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
c. Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa
disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas
cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan
pneumonia..
3. Pengobatan
a. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik
parenteral, oksigendan sebagainya.
b. Pneumonia : diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila
penderita tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan
pemberian kontrmoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai
obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin
prokain.
c. Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan
perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk
tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang
merugikan seperti kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila
demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita
dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat
adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah
bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman
streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari.
Tanda bahaya setiap bayi atau anak dengan tanda bahaya harus
diberikan perawatan khusus untuk pemeriksaan selanjutnya.
Perawatan di rumah Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu
untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA:
1. Mengatasi panas (demam) diatasi dengan memberikan parasetamol
atau dengan kompres. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan
dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres,
dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air
es).
2. Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional
yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½
sendok teh , diberikan tiga kali sehari.
3. Pemberian makanan
Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi
berulangulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika
muntah.
4. Pemberian minuman
Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih
banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak,
kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.
5. Lain-lain
a. Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu
tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam.
b. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat
kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah.
c. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang
berventilasi cukup dan tidak berasap.
d. Apabila selama perawatan dirumah keadaan memburuk maka
dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan.
Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan
diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan
benar selama 5 hari penuh. Dan untuk penderita yang mendapatkan
antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari.

2.10. Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien ISPA


2.10.1. Pengkajian (Suriani, 2018)
1. Identitas pasien
2. Umur
Kebanyakan infeksi saluran pernafasan yang sering mengenai anakusia
dibawah 3 tahun, terutama bayi kurang dari 1 tahun. Beberapa
penelitian menunjukan bahwa anak pada usia muda akan lebih sering
menderita ISPA daripada usia lanjut.
3. Jenis kelamin
Angka kesakitan ISPA sering terjadi pada usia kurang dari 2 tahun,
dimana angka kesakitan anak perempuan lebih tinggi daripada laki-
laki.
4. Alamat
Kepadatan hunian seperti luar ruang per orang, jumlah anggota
keluarga, dan masyarakat diduga merupakan factor resiko untuk ISPA.
Diketahui bahwa penyebab terjadinya ISPA dan penyakit gangguan
pernafasan lain adalah rendahnya kualitas udara didalam rumah
ataupun diliar rumah baik secara biologis, fisik, maupun kimia.
5. Riwayat kesehatan
a. Riwayat penyakit sekarang
Biasanya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan
lemah, nyeri otot dan sendi, nafsu makan menurun, batuk-pilek dan
sakit tenggorokan.
b. Riwayat penyakit dahulu
Biasanya klien sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit ini.
c. Riwayat penyakit keluarga
Menurut anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami sakit
seperti penyakit klien tersebut.
6. Riwayat sosial
Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang berdebu dan
padat penduduknya.
7. Pemeriksaan fisik (Suriani, 2018)
a. Keadaan umum
Bagaimana keadaan klien, apakah letih, lemah atau sakit berat.
b. Tanda vital
Bagaimana suhu, nadi, pernafasan dan tekanan darah klien.
c. Kepala
Bagaimana kebersihan kulit kepala, rambut serta bentuk kepala,
apakah ada kelainan atau lesi pada kepala.
d. Wajah
Bagaimana bentuk wajah, kulit wajah pucat/tidak.
e. Mata
Bagaimana bentuk mata, keadaan konjungtiva anemis/tidak, serta
ikterik/tidak, keadaan pupil, palpebra dan apakah ada gangguan
dalam penglihatan.
f. Hidung
Bentuk hidung, keadaan bersih/tidak, ada/tidak secret pada hidung
serta cairan yang keluar, ada sinus/tidak dan apakah ada gangguan
dalam penciuman.
g. Mulut
Bentuk mulut, membran membran mukosa kering/lembab, lidah
kotor/tidak, apakah ada kemerahan/ tidak pada lidah, apakah ada
gangguan dalammenelan, apakah ada kesulitan dalam berbicara.
h. Leher
Apakah terjadi pembengkakan kelenjar tyroid, apakah ditemukan
distensi vena jugularis.
i. Thoraks
Bagaimana bentuk dada, simetris/tidak, kaji pola pernafasan, apakah
ada wheezing, apakah ada gangguan dalam pernafasan.
Pemeriksaan fisik difokuskan pada sistem pernafasan.
1) Inspeksi
a) Membran mukosa – faring tampak kemerahan.
b) Tonsil tampak kemerahan dan edema.
c) Tampak batuk tidak produktif.
d) Tidak ada jaringan parut.
e) Tidak tampak penggunaan oto-otot pernafasan tambahan,
pernafasan cuping hidung.
2) Palpasi
a) Adanya demam
b) Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah
leher/nyeri tekan pada nodus limfe servikalis.
c) Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid.
3) Perkusi
Suara paru normal (resonance).
4) Auskultasi
Suara nafas vesikuler/tidak terdengar rochi pada kedua sisi paru.
j. Abdomen
Bagaimana bentuk abdomen, turgor kulit kering/tidak, apakah
terdapat nyeri tekan pada abdomen, apakah perut terasa kembung,
lakukan pemeriksaan bising usus, apakah terjadi peningkatan bising
usus/tidak.
k. Genetalia
Bagaimana bentuk alat kelamin, distribusi rambut kelamin, warna
rambut kelamin. Pada laki-laki lihat keadaan penis, apakah ada
kelainan/tidak. Pada wanita lihat keadaan labia minora, biasanya
labia minora tertutup oleh labia mayora.
l. Integumen
Kaji warna kulit, integritas kulit utuh/tidak, turgor kulit kering/tidak,
apakah ada nyeri tekan pada kulit, apakah kulit teraba panas.
m. Ekstremitas atas
Adakah terjadi tremor atau tidak, kelemahan fisik, nyeri otot serta
kelainan bentuk.

2.10.2. Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan yang muncul di dalam teori serta muncul
dalam kasus nyata yaitu:
1. ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan inflamasi
dan peningkatan sekresi (Capernito, 2009)
2. kurangnya kebutuhan cairan berhubungan dengan asupan cairan yang
tidak adekuat dan evaporasi air akibatdari peningkatan suhu
(Capernito, 2009)
3. gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
(Capernito, 2009)
4. ansietas berhubungan dengan hospitalisasi (Capernito, 2009).
Sedangkan diagnosa keperawatan yang terdapat di dalam teori
akan tetapi tidak muncul dalam kasus nyata yaitu: pola nafas tidak efektif
berhubungan dengan proses inflamasi (Capernito, 2009).
Intervensi keperawatan yang terdapat dalam teori serta intervensi
yang dirumuskan dalam kasus klien, rumusan intervensi dalam kasus
nyata sudah sesuai dengan intervensi dalam teori, tetapi masih ada
beberapa intevensi yang dirumuskan dalam teori menurut Wilson dan
Hockenberry (2008) tapi penulis tidak merumuskan pada kasus klien.
Diagnosa pertama, intervensi dalam teori tapi tidak dirumuskan dalam
kasus nyata adalah lakukan penghisapan secret yang digunakan untuk
[Link] tidak merumuskan intervensi tersebut dikarenakan pada
klien kondisi kesadaran yaitu composmentis dan dikhawatirkan dapat
menyebabkan iritasi sehingga harusnya dapat dilakukan fisioterapi dada dengan
postural drainase.
Diagnosa kedua, intervensi dalam toeri semua telah dirumuskan dalam
kasus nyata akan tetapi masih terdapat intervensi tambahan guna mengatasi
kekurangan cairan dalam tubuh klien yaitu anjurkan pada ibu klien untuk
memakaikan pakaian yang kendur. Intervensi tersebut dirumuskan pada kasus
klien karena dalam kasus nyata menggunakan pakaian yang kendur dapat
membantu proses penguapan dari klien.
Diagnosa ketiga, intervensi dalam teori semua telah dirumuskan dalam
kasus nyata serta terdapat intervensi tambahan pada kasus nyata yaitu memotivasi
klien untuk makan yang bertujuan untukmembantu proses psikologis klien untuk
makan. Diagnosa keempat, intervensi dalam teori semua telah dirumuskan dalam
kasus nyata karena semua intervensi dalam teori telah sesuai dalam masalah
keperawatan dalam kasus nyata. Pelaksanaan implementasi pada masing-masing
diagnosa tidak sepenuhnya mengadobsi dari rumusan intervensi yang telah
dituliskan, Intervensi yang tidak dilakukan dalam implementasi dari diagnosa
pertama adalah melakukan batuk efektif, diagnosa kedua, rumusan intervensi
yang tidak dilakukan di dalam implementasi adalah tingkatkan asupan cairan
pada anak dengan menggunakan variasi tampilan yang menarik (air, susu, jelly
dengan pewarna sayuran). diagnosa ketiga, intervensi yang tidak diaplikasikan
menjadi implementasi adalah melakukan kebersihan mulut setelah habis makan.
Diagnosa keempat, hanya satu tindakan yang dilakukan pada klien sesuai
intervensi keperawatan yaitu dengan mengaji dan memberikan latian kognitif
sesuai dengan kemampuan anak. Evaluasi dilakukan satu kali dalam tiga hari, dan
dalam hal ini tidak semua masalah keperawatan teratasi akan tetapi dari hasil
evaluasi menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam klien., hasil evaluasi
dari masing-masing diagnosa yaitu: batukbatuk klien sudah berkurang, auskultasi
dada menunjukkan tidak terdapat bunyi nafas tambahan, badan klien teraba
hangat, nafsu makan klien meningkat serta klien sudah tidak rewel.
Evaluasi
Merupakan tahap akhir dari suatu proses keperawatan yang merupakan
perbandingan yang sistematis dan rencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan
yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara melibatkan pasien dan sesama
tenaga kesehatan (Wijaya&Putri, 2013)
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Infeksi saluran pernapasan akut adalah infeksi saluran yang disebabkan
oleh virus atau bakteri dan berlangsung selama 14 hari. Penyakit ISPA
merupakan infeksi akut yang menyerang saluran pernapasan bagian atas dan
bagian bawah gejala yang ditimbulkan yaitu gejala ringan penyakit ISPA
dapat terjadi berbagai tempat saluran pernapasafan mulai dari hidung sampai
ketelinga tengah dan yang berat samapi keparu. Kebanyakan ISPA muncul
dari gejala ringan tersebut bisa menjadi berat. Berdasarkan data world Health
Organization infeksi saluran pernapasan akut merupakan penyebab utama
mordibitas dan mortalitas penyakit menular di dunia.

3.2 Saran
3.2.1 Untuk mendapat hasil asuhan keperawatan yang baik diperlukan kerjasama
yang baik antara pasien, keluarga, perawat serta tenaga kesehatan yang lain.
3.2.2 Perawat sebagai pelaksana asuhan keperawatan sudah seharusnya memiliki
pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan
kepada pasien ISPA.
3.2.3 Pendidikan perawat yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perawat dalam member
asuhan keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA

Sudanto (2017). BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Diakses pada tanggal 05


Oktober 2020, available at [Link]
%20WIDYA%20SUDANTO%20BAB%[Link]
Y. Putra & S.S. Wulandari (2019). Faktor Penyebab Kejadian ISPA. Jurnal
Kesehatan: STIKES Prima Nusantara Bukittinggi – Vol 10 No. 01 (2019)
37-40. Diakses pada tanggal 05 Oktober 2020, available at
[Link]
I. Besinung, A.J. Mahihody, & C. Surudani (2019). Asuhan Keperawatan Pada
Anak Dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Di Ruangan
Anggrek RSD Liun Kendage Tahuna. Junal Ilmiah Sesebanua: Politeknik
Negeri Nusa Utara Volume 3, Nomor 1, Maret 2019, hlm 22-26. Diakses
pada tanggal 05 Oktober 2020, available at [Link]
[Link]
Utama, Saktya Yudha Ardhi (2018). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Sistem Respirasi. Yogyakarta: Deepublish, available at
[Link]
Bedah_Sist.html?hl=id&id=2SJaDwAAQBAJ
F. Azis (2016). BABII TINJAUAN TEORI. Diakses pada tanggal 05 Oktober
2020, available at [Link]
Y. Suriani (2018). Asuhan Keperawatan pada An. R dengan Gangguan ISPA
(Infeksi Saluran Pernafasan Akut) di Wilayah Kerja Puskesmas Air Haji
Kecamatan Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan. Padang:
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis Padang, available at
[Link]
A. Ainurokhmah (2020). Asuhan Keperawatan pada An. S dengan Diagnosa
Medis ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) di Ruang Asoka RSUD
Bangil Pasuruan. Sidoarjo: Akademi Keperawatan Kerta Cendekia.
Diakses pada tanggal 30 November 2020, available at
[Link]
E. Imaniyah & I. Jayatmi (2019). Determinan Kejadian Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita. Jakarta Selatan: Program Studi
Kebidanan Program Sarjana Terapan Sekolah Tinggu Ilmu Kesehatan
Indonesia Maju. Diakses pada tanggal 30 November 2020, available at
[Link]
Pane, Merry Dame Cristy (2020). Infeksi Saluran Pernapasan – Gejala, penyebab
dan mengobati – Alodokter. Diakses pada tanggal 30 November 2020,
available at [Link]
[Link]
%20BAB%[Link]

Common questions

Didukung oleh AI

Early ISPA symptoms often include nasal dryness, irritation, sneezing, and watery secretions. These may progress to fever, headache, and a blocked nose as inflammation increases. Late-stage symptoms may involve thick nasal discharge, severe cough, and body aches. If complications arise, symptoms can worsen, potentially leading to pneumonia with breathing difficulties and systemic signs .

The nose filters, moistens, and warms incoming air, using external and internal structures like the nasal conchae. The pharynx serves dual roles in the digestive and respiratory systems, acting as a pathway for food and air. The lungs are primarily composed of alveoli and facilitate gas exchange, where oxygen enters the bloodstream and carbon dioxide is expelled. Alveoli, supported by pleura, maximize surface area for efficient air exchange, with breathing influenced by air pressure differences .

Severe ISPA can lead to hypoxia, causing symptoms like cyanosis due to reduced oxygen in the bloodstream. This can result in irreversible brain damage or death if prolonged. Mitigation strategies include ensuring oxygen supplementation, monitoring respiratory function, and maintaining open airways to support adequate breathing and gas exchange .

ISPA can be caused by over 300 bacterial, viral, and fungal pathogens. Bacterial causes include Streptococcus pneumoniae and Staphylococcus aureus. Viral causes encompass respiratory syncytial virus and influenza viruses. Fungal causes include candidiasis and aspergillosis. These pathogens typically infect the host through airborne droplets, entering the respiratory tract and adhering to epithelial cells, leading to inflammation and respiratory symptoms .

Acute respiratory infections, such as ISPA, significantly impact global morbidity and mortality, especially in young children and the elderly. It leads to nearly four million deaths annually and is a leading cause of infectious disease-related mortality worldwide. The highest mortality rates occur in low- and middle-income countries, highlighting the severe impact on infants, children, and older adults in these regions .

Clinical diagnosis of ISPA often starts with assessing respiratory patterns, depth, and effort, supported by lab tests such as bacterial cultures and differential blood counts to detect pathogens. Imaging, like chest X-rays, may also be used to evaluate lung involvement and rule out complications such as pneumonia .

Challenges in implementing ISPA nursing interventions include variations between theoretical frameworks and clinical settings, especially in strategies like secretion suctioning, which might cause irritation. Effective addressing involves adapting strategies to fit patient conditions, encouraging caregiver involvement, and integrating interventions like cognitive exercises or dietary adjustments to enhance patient response and recovery .

Home care interventions for ISPA include managing fever with paracetamol or tepid sponging, using traditional cough remedies like lemon and honey, ensuring adequate nutrition and frequent small meals, and increasing fluid intake to thin secretions. It's also advised to avoid tight-fitting clothing and maintain a well-ventilated environment. If symptoms worsen, professional medical guidance should be sought .

ISPA cases in children are classified into light, moderate, and severe based on symptoms. Light cases include no chest indrawing, a cough without fast breathing, and nasal symptoms. Moderate cases present with fast breathing and potentially mild ear symptoms without chest indrawing. Severe cases include chest indrawing during inhalation, stridor, and possibly cyanosis. Emergency signs warranting immediate attention include inability to drink, convulsions, decreased consciousness, stridor, and severe malnutrition .

Preventative measures for reducing ISPA incidence in children include improved nutrition, complete immunizations, and prophylactic treatments when a family member has ISPA. Nurses play a crucial role by educating families about ISPA, encouraging behaviors that reduce exposure (e.g., avoiding smoke), conducting early disease detection, and promoting hygiene practices. They act as caregivers, advocates, facilitators, coordinators, and educators to mitigate ISPA's impact on the young .

Anda mungkin juga menyukai