2
Kalor
Pengalaman Count Rumford dan Sir James Prescott Joule dalam pengeboran laras
meriam dan percobaan-percobaannya dapat disimpulkan, bahwa energi mekanik terus
menerus berubah wujudnya menjadi kalor. Ini berarti ada kesetaraan antara energi mekanik
dengan kalor. Proses perubahan energi mekanik menjadi kalor merupakan salah satu contoh
adanya azas ketetapan energi. Sebaliknya, kalor dapat diubah menjadi energi [Link],
kalor merupakan salah satu bentuk energi.
Q
70°C 20°C
sebelum sesudah
Diketahui dua sistem pada suhu berbeda. Apabila dikontakkan satu dengan yang lain
melalui dinding diatermik (diketahui bahwa suhu kedua sistem akan berubah sedemikian rupa
sehingga akhirnya menjadi sama). Ada sesuatu yang berpindah dari sistem yang lebih panas
ke sistem yang lebih dingin yang menyebabkan pemerataan suhu.
“Besaran yang berpindah pada kontak termal antara dua sistem berlainan suhu, disebut
kalor (lambang Q).”
Ada suatu perbedaan antara kalor dan energi dalam dari suatu bahan. Kalor hanya
digunakan bila menjelaskan perpindahan energi dari satu tempat ke yang lain akibat adanya
perbedaan temperatur. Sedangkan energi dalam (termis) adalah energi karena temperaturnya.
Dalam percobaannya Joule menemukan, bahwa 4,186 joule setara dengan 1 kalori.
Jadi 1,000 kal = 4,186 J. 1 kalori adalah kalor yang diperlukan untuk menaikkan temperatur 1
gr air dari 14,5 C menjadi 15,5 C. Dalam sistem British, 1 Btu (British Thermal Unit) adalah
kalor untuk menaikkan temperatur 1 lb air dari 63 F menjadi 64 F.
1 kal = 4,186 J = 3,968 x 10-3 Btu
1 J = 0,2389 kal = 9,478 x 10-4 Btu
1 Btu = 1055 J = 252,0 kal
Dari konsep energi mekanik diperoleh bahwa bila gesekan terjadi pada sistem mekanis, ada
energi mekanis yang hilang dan dari eksperimen diperoleh bahwa energi yang hilang tersebut
berubah menjadi energi termal.
2.1 Perpindahan Kalor Secara Kuasistatik
Bila dua benda atau lebih terjadi kontak termal maka akan terjadi aliran kalor dari
benda yang bertemperatur lebih tinggi ke benda yang bertemperatur lebih rendah, hingga
tercapainya kesetimbangan [Link] mempelajari lebih dalam mengenai perpindahan
kalor secara kuasistatik, kita perlu mengetahui proses perpindahan kalor. Proses perpindahan
panas ini berlangsung dalam 3 mekanisme, yaitu: konduksi, konveksi dan radiasi.
Dalam bab sebelumnya telah diterangkan bahwa sistem dapat berinteraksi dengan
lingkungannya melalui usaha dan/atau pertukaran kalor. Telah diterangkan pula bagaimana
proses “mengadakan usaha luar” dapat berjalan secara [Link]: bagaimanakah
membayangkan pertukaran kalor secara kuasistatik?
Sebelum pertanyaan ini dijawab perlu ditekankan bahwa interaksi termal dapat
disertai kenaikan suhu, namun dapat juga berlangsung pada suhu tetap (isotermal). Agar
pertukaran kalor dapat berlangsung secara kuasistatik diperlukan pengertian reservoir kalor
(RK).
“Reservoir kalor adalah sistem yang sedemikian (besarnya) sehingga suhunya maupun
koordinat lainnya tidak berubah meskipun sistem menerima atau melepaskan sejumlah
kalor.” Contoh: samudera, atmosfer,lingkungan dan benda-benda lain berukuran besar
dibanding ukuran sistem.
a. Penyerapan kalor secara kuasistatik oleh sistem tanpa disertai kenaikan suhu dapat
berlangsung antara sistem dan 1 RK saja, asal tidak menyebabkan gejolak-gejolak di
dalam sistem.
b. Sebaliknya: interaksi kalor antara sistem dan lingkungan yang harus berlangsung
kuasistatik dan disertai kenaikan suhu, memerlukan tersedianya tak berhingga
banyaknya RK yang masing-masing berbeda suhu sedikit.
Sistem harus dikontakkan secara termal dengan ke-N RK secara berturut-turut. Hal ini
dilakukan supaya kita dapat merubah suhu sistem dengan perubahan yang besar, tetapi secara
kuasistatik. Proses yang kuasistatik akan membuat persamaan keadaan tetap berlaku. Oleh
sebab itu, sistem dikontakkan sedikit demi sedikit dan terus menerus dengan sejumlah
reservoir sampai suhu akhir yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Abu, Ahmad Hamid. (2007). Kalor dan Termodinamika. Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta.
Jurusan Pendidikan Fisika. (1990). Diktat Termodinamika. Bandung: Universitas Pendidikan
Indonesia.
Halliday, David., dkk. (2010). Fisika Dasar Edisi 7 Jilid 1. Jakarta: Erlangga.