FENOMENA INDUSTRI KREATIF(KULINER)
Perkembangan teknologi saat ini membawa arah positif terhadap perkembangan
usaha. Khususnya adalah para pelaku bisnis kuliner yang dapat memanfaatkan perkembangan
teknologi atau media sosial sebagai sarana pemasaran bisnisnya. Perkembangan pasar saat ini
juga menjadi kondisi yang menguntungkan untuk para pengusaha. Dimana pasar yang
dikategorikan milenal lebih memilih produk kuliner dengan praktis yang dapat dipesan secara
online dan dikirim oleh produsen. Hal ini menjadi peluang besar bagi pengusaha industri
kuliner. Pemangku kepentingan yang bersinergi dalam industri kreatif diharapkan akan
mendorong kemampuan sehingga dapat menciptakan daya saing.
Konsep bersinergi yang dimaksud merupakan sebuah konsep yang menjadikan usaha
sejenis sebagai mitra diharuskan untuk bertumbuh bersama dengan tidak menjadikan pesaing
dan saling menjatuhkan ataupun mematikan satu sama lain. Namun dengan munculnya
beberapa permasalahan industri kreatif seperti rendahnya akses terhadap sumber daya
produktif seperti modal, bahan baku, informasi, rendahnya kualitas sumberdaya manusia,
rendahnya produktivitas, tingginya biaya transaksi/biaya usaha, rendahnya akses dan
penerapan teknologi. Dari permasalahan tersebut masih diperlukan pendampingan berkala
oleh pemerintah dan akademisi untuk memajukan industri kreatif sub-sektor kuliner.
Dimana beberapa tahun terakhir pertumbuhan industri kreatif sub-sektor kuliner
mengalami trend positif pada permintaan dan penawaran bidangkuliner. Program pemerintah
tentang Alokasi Dana dan pembuatan Badan Usaha Milik Negara juga menjadi salah satu
peluang untuk industri kreatif berkembang di daerah, yakni dengan memperbesar peran
masyarakat secara [Link] pada bukti data bahwa kuliner sangat diminati oleh
masyarakat sesuai perkembangan teknologi yakni
Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa klaster makanan dan minuman merupakan
klaster dengan jumlah pengusaha terbanyak yakni 58,6%. Pengusaha lainnya tersebar pada
klaster tekstil dan produk tekstil, kerajinan dan telematika secara berurutan. Hal ini juga
memperlihatkan bahwa klaster makanan dan minuman memiliki potensi yang besar untuk
dikembangkan dan Dengan potensi yang ada pada pengusaha kecil klaster makanan dan
minuman tersebut, terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi, diantaranya adalah
masalah pemasaran, pengetahuan dan keterampilan pengemasan.
Diindikasi adanya faktor bauran pemasaran yakni harga, produk, tempat, promosi,
bukti fisik, SDM, dan tempat pada industri kreatif sub-sektor kuliner yang paling dominan
guna mempengaruhi keputusan masyarakat untuk membeli dan menjadi konsumen. Dengan
memperhatikan hal tersebut, pemerintah mengambil langkah dengan membuat beberapa
kebijakan tentang pengembangan dan klasterisasi dalam rangka mendukung pertumbuhan
industri kreatif baik dalam skala mikro, kecil dan menengah di daerah
CURRENT CONDITION INDUSTRI KULINER SAAT PANDEMI COVID
Selain berdampak serius terhadap kesehatan, pandemi Covid-19 juga melemahkan
perekonomian nasional dan internasional. Berbagai sektor industri, termasuk bisnis kuliner,
mengalami gangguan seperti pasokan bahan baku, permintaan produk, kekurangan tenaga
kerja, dan ketidakjelasan usaha. Faktor-faktor internal untuk kekuatan yang dimiliki oleh
bisnis kuliner yang terdampak oleh pandemi ini yaitu sudah menerapkan protokol kesehatan
untuk melindungi para karyawan dan konsumen, sering membersihkan area servis dengan
desinfektan, sudah menerapkan penjualan secara take away dan delivery order, sudah
melakukan penjualan secara online, mulai beralih ke transaksi non tunai, memperbaiki
pengolahan dan pengemasan produk menjadi lebih higienis, dan sudah memiliki pelanggan
yang loyal.
Sedangkan faktor-faktor internal yang menjadi kelemahan adalah mengeluarkan biaya
tambahan untuk menerapkan protokol kesehatan, lebih memikirkan bertahan hidup daripada
mengejar profit, mengalami dampak penurunan penjualan yang signifikan, menggantungkan
kelanjutan usaha kepada penjualan secara online, kinerja usaha terganggu karena terpaksa
mengurangi jumlah karyawan, kesulitan mendapatkan bahan baku, dan menjalankan usaha
dari rumah (work from home) untuk menghindari biaya sewa tempat. Kemudian faktor-faktor
eksternal untuk peluang yang dimiliki oleh bisnis kuliner di masa pandemi ini yaitu
konsumen kini jauh lebih memperhatikan kesehatan termasuk dalam hal memilih makanan,
pelanggan lebih memilih makanan yang bisa take away dan delivery order, konsumen mulai
beralih ke pembelian low contact, kesungguhan pemerintah dalam menggerakkan ekonomi
sambil mengatasi pandemi, terbukanya segmen pasar baru berupa makanan kemasan yang
higienis dan frozen food dan bahwa pelaku bisnis kuliner masih mampu menjalin hubungan
baik dengan pelangga.
Disajikan data untuk menganalisa adanya current condition saat pandemi covid 19 ini
pada bidang kuliner pada segi kekuatan yang dianalisis oleh peneliti melihat berbagai macam
data dari analisis SWOT,maka peneliti memilih strengh sebagai analisis utama dalam
penyajian data sebagai berikut :
Hasil matrik IFAS menunjukkan skor nilai bisnis kuliner di masa pandemi sebesar
3,501 berada di atas nilai rataratanya yang sebesar 3,414 dari keseluruhan faktor internalnya.
Sedangkan hasil nilai kekuatan (strenghts) lebih besar dibandingkan dengan kelemahan
(weaknesses), yaitu dengan skor nilai sebesar 1,797 lebih besar dibanding 1,704. Kedua nilai
tidak terpaut jauh, menunujukkan optimisme pengusaha di masa yang sulit [Link] ini
menjadi suatu kelebihan yang akan diambil oleh bisnis kuliner terhadap perkembangannya
masa pandemi covid 19 saat ini.
Selain itu juga adanya strategi diversifikasi produk mau pun jasa, dengan menerapkan
protokol kesehatan seketat mungkin untuk mencegah pandemi berlangsung lama, sering
membersihkan area servis dengan desinfektan untuk memenangkan kepercayaan konsumen,
menerapkan penjualan online, take away dan delivery order, memanfaatkan transaksi non
tunai untuk memperkecil resiko penularan, mengolah dan mengemas produk secara higienis
sesuai tuntutan konsumen, beralih ke menu makanan yang dapat meningkatkan imunitas
tubuh dan berusaha mempertahankan pelanggan yang loyal dan menjalin hubungan baik
dengan pelanggan yang baru untuk memenangkan persaingan dengan usaha sejenis di kondisi
terkini industri kuliner masa pandemi COVID 19.
DAFTAR PUSTAKA
Arifianto, E. Y., Oktavianty, O., Tama, I. P., Safira, S. F., & Fajriyati, L. (2021, June).
Perancangan Pemasaran Industri Kreatif Sub-Sektor Kuliner Dalam Mendukung
Pertumbuhan Ekonomi Daerah. In PROSIDING SEMINAR NASIONAL
EKONOMI DAN BISNIS (pp. 78-87).
Nurmansyah, A. A. H. (2019). Pemanfaatan Digital Marketing pada UMKM (Usaha
Mikro Kecil dan Menengah) Industri Kuliner di Kota Cimahi. PORTOFOLIO:
Jurnal Ekonomi, Bisnis, Manajemen & Akuntansi, 16(1), 74-86.
Dewa, C. B., & Safitri, L. A. (2021). Pemanfaatan Media Sosial Tiktok Sebagai Media
Promosi Industri Kuliner Di Yogyakarta Pada Masa Pandemi Covid-19 (Studi
Kasus Akun TikTok Javafoodie). Khasanah Ilmu-Jurnal Pariwisata Dan
Budaya, 12(1), 65-71.
Muhammad, R., Gani, A. A., Abdullah, N., Ibrahim, S., & Sharif, M. S. M. (2021). The
Culinary and Food Science: Its’ Integration via Kitchen Science Module (Cooking)
to fascinate students towards Science, Technology, Engineering and Mathematics
(STEM).
Astutik, E. D. (2021). STRATEGI BISNIS “CEJEDW FROZEN FOOD” PADA MASA
PANDEMI COVID-19. Jurnal Bisnis Dan Kajian Strategi Manajemen, 5(1).
Ezizwita, E., & Sukma, T. (2021). Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Bisnis Kuliner Dan
Strategi Beradaptasi di Era New Normal. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Dharma
Andalas, 23(1), 51-63.