0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan16 halaman

Praktik Penentuan Harga dalam Ekonomi

1. Dokumen membahas penentuan harga berbagai jenis produk yang memiliki keterkaitan permintaan, serta diskriminasi harga tingkat pertama dan kedua yang dilakukan perusahaan untuk memaksimumkan laba. 2. Dokumen juga menjelaskan bahwa hubungan antar permintaan mempengaruhi keputusan penentuan harga oleh perusahaan yang menghasilkan beberapa jenis produk. 3. Diskriminasi harga tingkat pertama berk

Diunggah oleh

Lili Jayanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan16 halaman

Praktik Penentuan Harga dalam Ekonomi

1. Dokumen membahas penentuan harga berbagai jenis produk yang memiliki keterkaitan permintaan, serta diskriminasi harga tingkat pertama dan kedua yang dilakukan perusahaan untuk memaksimumkan laba. 2. Dokumen juga menjelaskan bahwa hubungan antar permintaan mempengaruhi keputusan penentuan harga oleh perusahaan yang menghasilkan beberapa jenis produk. 3. Diskriminasi harga tingkat pertama berk

Diunggah oleh

Lili Jayanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RMK EKONOMI MANAJERIAL

PRAKTIK PENENTUAN HARGA

Dosen Pengampu

Dr. I Made Artha Wibawa SE., MM.

OLEH:
KELOMPOK III

Lili Jayanti (1907521080)


I Gusti Bagus Krisna Saputra (1907521105)
I Gede Wasudewa Wisnu Murti Adnyana (1907521216)
I Made Billy Permadi (1907521224)
Ni Nyoman Danila Anjani (1907521232)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2021
1. PENENTUAN HARGA BERBAGAI JENIS PRODUK MEMILIKI
KETERKAITAN PERMINTAAN
Secara teoritis, tidak ada perbedaan signifikan antara perekonomian klasik
dengan modern. Teori harga secara mendasar sama, yakni bahwa harga
wajar atau harga keseimbangan diperoleh dari interaksi antara kekuatan
permintaan dan penawaran (supplay) dalam suatu persaingan sempurna,
hanya saja dalam perekonomian modern teori dasar ini berkembang menyadi
kompleks karena adanya diversifikasi pelaku pasar, produk, mekanisme
perdagangan, instrumen, maupun perilakunya, yang mengakibatkan terjadinya
distorsi pasar.
Produk-produk yang dijual perusahaan bisa memiliki keterkaitan sebagai
barang substitusi atau barang komplementer. Misalnya, Saturns clan
Chevrolets yang dihasilkan oleh General Motors (GM) memiliki hubungan
substitusi, sementara berbagai perlengkapan tambahan (seperti pendingin,
power window, dan lain-lain) yang diproduksi oleh GM merupakan barang
komplementer bagi mobil-mobil yang dijualnya. Dalam menentukan harga
produk yang memiliki keterkaitan, sebuah perusahaan harus
mempertimbangkan dampak dari perubahan harga salah satu produknya
terhadap permintaan produk lain. Alasannya adalah karena pengurangan
harga sebuah produk (misalnya Saturns) menyebabkan turunnya permintaan
produk substitusi (Chevrolets) yang dijual oleh perusahaan yang sama dan
menyebabkan naiknya permintaan terhadap produk komplementer
(kelengkapan untuk Saturns). Dengan demikian, untuk memaksimumkan laba,
perusahaan harus menetapkan tingkat output dan harga dari berbagai jenis
produk yang dihasilkan, secara bersamaan dan tidak secara terpisah.
Hubungan antar permintaan (demand interrelationship) memengaruhi
keputusan penentuan harga yang dilakukan oleh perusahaan penghasil
beberapa jenis produk, melalui dampaknya terhadap pendapatan marginal.
Untuk perusahaan penghasil dua jenis produk (A dan B), fungsi permintaan
marginal dari perusahaan tersebut adalah :
ΔTR A ΔTR B
MRA = + (11-1)
ΔQA AQB

ΔTR B ΔTR A
MRB= + (11-2)
ΔQB AQ A

Dari dua persamaan di atas, kita lihat bahwa pendapatan marjinal bagi
masing-masing produk yang mempunyai dua komponen, yang satu
berhubungan dengan perubahan dalam pendapatan total akibat penjualan
produk itu sendiri, dan yang lain berhubungan dengan perubahan dalam
pendapatan total akibat penjualan produk yang lain. Dengan demikian, suku
kedua dari sisi kanan masing-masing persamaan di atas, mencerminkan
hubungan antarpermintaan. Misalnya, suku (ATRB) / (AQA) dalam Persamaan
11-1 mengukur perubahan penerimaan dari penjualan produk B, yang terjadi
karena penjualan satu unit tambahan produk A. Demikian pula, suku
(ATRA)/(AQB) dalam Persamaan 11-2 mengukur perubahan pendapatan total
dari Penjualan produk A yang terjadi karena penjualan satu unit tambahan
produk B. Jika suku kedua dari sisi kanan persamaan tersebut nilai positif, yang
berarti bahwa peningkatan penjualan salah satu produk memacu penjualan
produk yang lain, maka kedua produk tersebut bersifat komplementer.
Sebaliknya, jika suku kedua bernilai negatif, yang berarti peningkatan penjualan
salah satu produk yang menurunkan penjualan produk lain, maka kedua produk
tersebut bersifat substitusi. Misalnya, peningkatan penjualan Saturns
menyebabkan peningkatan penjualan perlengkapan untuk Saturns
(komplementer) tetapi menyebabkan penurunan penjualan Chevrolets
(substitusi dari Saturns).

Karena itu, keputusan penentuan harga dan output yang optimum perlu
memperhitung kan dampak total (yaitu, dampak langsung dan dampak marjinal-
silang) akibat perubahan harga sebuah produk. Jika tidak, perusahaan akan
menghasilkan keputusan penentuan harga dan output yang suboptimum.
Misalkan bahwa produk A dan B tersifat komplementer sehingga suku
(ATRB)/(AQA) dalam Persamaan 11-1 bernilai positif. Jika perusahaan tidak
memperhinungkan suku kedua ini dan menghasilkan produk ketika MR A =
(ATRA) / (AQA) = MCA, maka perusahaan akan memproduksi terlalu sedikit
produk A untuk memaksimumkan labanya. Sebaliknya, misalkan bahwa produk
A dan B bersifat substitusi, sehingga (ATR B)/(AQA) bersifat negative. Jika
perusahaan mengabaikan kedua suku ini dan menghasilkan produk ketika MRA
= (ATRA) / (AQA) = MCA, maka perusahaan akan terlalu banyak menghasilkan
produk A untuk memaksimumkan labanya.

2. Penetapan Harga dalam Diskriminasi Harga

Bagian ini kita mengkaji penentuan harga yang optimum bagi sebuah produk
dari perusahaan, yang dijual dalam beberapa pasar. Pertama, kita akan
mendefinisikan arti harga dan membahas kondisi yang memungkinkan timbulnya
diskriminasi harga. Kemudian kita akan membahas diskriminasi harga tingkat-
pertama dan tingkat-kedua. Terakhir kita akan mengkaji diskriminasi harga
tingkat-tiea secara grafis dan secara aljabar.
Arti dan Kondisi Terjadinya Diskriminasi Harga

Diskriminasi harga (price discrimination) meneacu pada penentuan harga


yang berbeda-beda, pada kuantitas yang berbeda pada sebuah produk, pada
waktu yang berbeda untuk pelanggan yang berbeda, atau pasar yang berbeda,
tetapi bukan berdasarkan perbedaan biaya. Ini hanya mungkin jika penjual
memiliki kekuatan pasar atau kekuatan monopoli,penjual dapat mengidentifikasi
pelanggan,pelanggan tidak dapat menjual kembali barang tersebut, atau jika dapat
menjual, akan mahal untuk melakukannya dan ada ketidaksempurnaan informasi
di pasar. Sebagai contoh, perusahaan telepon biasanya menetapkan tarif
tertentu per panggilan untuk sejumlah panggilan tertentu dan tarif yang lebih
murah bagi sekumpulan panggilan berikutnya. Selain itu, menetapkan tarif yang
lebih tinggi pada jam-jam bisnis ketimbang sore hari dan hari libur, dan tarif yang
lebih tinggi untuk bisnis ketimbang rumah tangga. Yang mendorong
dilakukannya hal ini adalah bahwa dengan melakukan diskriminasi harga,
perusahaan bisa meningkatkan penerimaan dan laba totalnya untuk suatu
tingkat penjualan dan biasa total tertentu.

Agar menjadi diskriminasi harga, perbedaan ini tidaklah boleh berdasarkan


perbedaan dalam biaya. Juga perlu ditekankan bahwa diskriminasi harga tidak
memiliki konotasi yang negatif dalam ilmu ekonomi (tidak seperti dalam ilmu
hukum). Artinya. dalam ilmu ekonomi, diskriminasi harga bersifat netral dan
menguntungkan sebagian orang (yang membayar harga yang lebih rendah bagi
produk itu ketimbang jika tidak ada diskriminasi harga) dan Juga merugikan
sebagian lainnya dan karena itu, sering kali sulit atau bahkan tidak mungkin
untuk menentukan, apakah diskriminasi harga menguntungkan atau merugikan
bagi masyarakat secara keseluruhan.

Diskriminasi Harga Tingkat-Pertama dan Tingkat-Kedua

Terdapat tiga jenis diskriminasi harga: tingkat-pertama, tingkat-kedua,


tingkatketiga. Dengan menerapkan salah satu jenis diskriminasi harga tersebut
perusahaan dapat meningkatkan pendapatan dan laba totalnya dengan
mengambil seluruh atau sebagian surplus konsumen. Diskriminasi harga tingkat-
Pertama (first-degree price discrimination) berkaitan dengan penjualan setiap
unit produk secara terpisah dan mengenakan harga setinggi mungkin bagi setiap
unit produk yang dijual. Dengan melakukan hal itu, perusahaan menguras
seluruh surplus konsumen dari konsumen dan memaksimumkan penerimaan
dan laba total yang diperoleh dari penjualan produk tersebut.

Dalam Figur 11-4, D adalah kurva permintaan yang dihadapi oleh sebuah
perusahaan yang monopolistik. Perusahaan dapat menjual 40 unit produk
tersebut pada harga $2 per unit dan menerima pendapatan total sebesar $80
(daerah segitiga CP0G). Namun demikiari, konsumen bersedia membayar
sebesar ACFO = $160 untuk 40 unit produk itu. Artinya, kurva permintaan D
menunjukkan bahwa perusahaan tersebut dapat menjual unit pertama produk tali
pada harga $6. Untuk dapat banyak menjual produk, perusahaan ini harus
menurunkan harganya untuk setiap tambahan produk yang dijual. Sebagai
contoh perusahaan dapat menjual unit kedua produk dengan harga sedikit di
bawah $6, dia bisa menjual unit ke-20 seharga S4 dan unit ke-40 seharga $2
(lihat figur). jika perusahaan menjual setiap unit dart produk secara terpisah dan
mengenakan harga tertinggi yang mungkin, perusahaan akan memperoleh
pendaparan total sebesar ACFO = $160. Namun, jika tidak terdapat diskriminasi
harga tingkat-pertama, perusahaan tersebut akan mengenakan harga sebesar
$2 (hanya sebesar jumlah yang tersedia dibayar konsumen untuk unit ke-40
produk itu) bagi 40 unit produk tersebut secara keseluruhan dan memperoleh
pendapatan total hanya sebesar CFOG = $80. Perbedaan antara yang bersedia
dibayar oleh konsumen (ACF0 = $160) dengan apa yang sebenarnya dibayar
konsumen (CF0G = $80) disebut sebagai surplus konsumen (consumer surplus
—segitiga ACG $80). clengan menerapkan diskriminasi harga tingkat-pertama
(artinya, menjual setiap unit produk secara terpisah dan mengenakan harga
tertinggi yang mungkin untuk setiap unitnya), perusahaan bisa menguras seluruh
surplus konsumen dari pembeli dan meningkatkan pendapatan totalnya dari $80
menjadi $160. Karena biaya total mernproduksi 40 unit produk itu tidak
terpengaruh harga jualnya, laba perusahaan meningkat tajam jika dia
menerapkan diskrirninasi harga tingkat-pertama. Namur demikian, diskriminasi
harga tingkat-pertama jarang ditentukan dalam dunia karena untuk
menerapkannya perusahaan harus memiliki pengetahuan yang akurat tentang
kurva permintaan masing-masing konsumen secara individu dan mengenakan
harga setinggi mungkin untuk setiap unit produk yang dijual terpisah.

Hal ini tidak mungkin dilakukan. Sebuah situasi yang bisa mewujudkan hal ini
adalah ketika sebuah sekolah lanjutan dan universitas swasta menyesuaikan
jumlah bantuan keuangan untuk mahasiswa, berdasarkan data yang rinci
tentang pendapatan keluarga, pendapatan bunga hipotek dan tabungan, dan
kemudian mengenakan harga tertinggi yang mungkin. Yang lebih praktis dan
sering terjadi adalah diskriminasi harga tingkat-kedua (second-degree price
discrimination). Ini mengacu pada penentuan harga per unit yang sama untuk
sejumlah atau sekelompok produk tertentu yang dijual kepada setiap pelanggan,
kemudian memberikan harga yang lebih murah per unitnya untuk sejumlah atau
sekelompok tambahan produk tersebut dan seterusnya. Dengan melakukan ini,
perusahaan akan memperoleh sehagian, tetapi tidak semua surplus konsumen.

3. Penentuan Harga dalam Praktek Bisnis (Harga Dua Bagian, Harga Paket
Barang Seragam, Harga Paket Barang Beragam, dan Harga Puncak)
A. Harga Dua Bagian
Merujuk pada praktik penentuan harga ketika konsumen membayar
biaya awal untuk mendapatkan hak membeli suatu produk atau jasa, selain
juga biaya penggunaan atau harga untuk setiap unit yang konsumen beli.
Perusahaan oligopolistic dan monopolistic kadang-kadang menggunakan
metode penentuan harga ini untuk meningkatkan laba mereka. Contohnya
yaitu penentuan harga dalam taman hiburan dimana pengunjung dikenakan
biaya umum untuk masuk selain biaya atau harga untuk setiap permainan
yang mereka nikmati, perusahaan telepon yang memakai biaya bulanan
ditambah biaya percakapan per unit, perusahaan komputer yang memakai
biaya sewa bulanan ditambah biaya pemakaian komputer mainframe yang
mereka sewakan serta klub golf dan tenis yang menentukan biaya
keanggotaan tahunan ditambah biaya untuk setiap babak yang dilakukan.

B. Harga Paket Barang Seragam


Pemaketan sejumlah barang yang sama merupakan strategi penetapan
harga untuk meningkatkan laba. Beberapa produk yg biasa dipaket 4 atau 5
satuan misalnya pakaian, mie instan, sabun mandi, sampo. Laba perusahaan
sama dengan surplus yang didapatkan konsumen

C. Harga Paket Barang Beragam


Merupakan pemaketan terhadap produk yang berbeda dalam satu paket
kemudian menjualnya dalam harga ‘paket’. Contoh penjualan perangkat
komputer, monitor, program komputer dijual dalam satu paket.
Calon Harga Harga Tertinggi Power

Pembeli Tertinggi AC Steering


Konsumen A 2 juta 2,5 juta

Konsumen B 1,5 juta 4 juta

D. Harga Puncak

Beberapa produk atau jasa mengalami permintaan yg sangat besar


pada waktu- waktu tertentu dan saat yg lain permintaan turun drastis.
Penetapan harga puncak dilakukan dengan menetapkan harga rendah pada
saat permintaan rendah dan menetapkan harga mahal pada saat permintaan
tinggi. Contoh tarif telepon : jam 23.00-06.00 diberikan potongan 75% dari
tarif normal, jam 06.00-08.00 diberikan potongan 50% dari tarif normal, jam
kerja tarifnya 100%.

4. Penetapan Harga pada Pasar Mapan : Harga Prestise dan Harga Promosi

Merupakan penetapan harga mendekati harga paling tertinggi yang paling


mungkin orang bersedia membeli produk pada harga premium karena

• Mereka percaya karena harga mencerminkan kualitas

• Mereka percaya produk tersebut menunjukan status

Penetapan harga di pasar mapan

Tingkat harga umum yang terjadi di pasar yang mapan adalah tingkat harga
yang memenuhi tujuan harga tertinggi atau tujuan perusahaan - perusahaan
tersebut secara umum. Penetapan harga dalam pasar yang mapan dapat
dilakukan dengan cara :

1) Price Positioning
Jumlah maksimum yang akan dibayar oleh pembeli untuk suatu produk
dikenal sebagai harga reservasi pembeli tersebut. Penelitian pasar yang
dilakukan dengan cermat akan bermanfaat bagi perusahaan dalam
menunjukkan harga - harga reservasi untuk produk tertentu dan untuk setiap
ciri yang tercakup atau tidak dalam produk tersebut.
2) Strategi Harga Product Line
Pendekatan ini memilih markup berdasarkan estimasi elastisitas harga
permintaan yang secara implisit mengasumsikan bahwa permintaan akan
setiap item pada lini produk tidak tergantung permintaan setiap item lain
dalam lini produk itu.
3) Penentuan Harga Untuk Menduga Kualitas
Penentuan harga sebuah produk yang lebih tinggi akan meyakinkan
konsumen bahwa item itu berkualitas lebih tinggi dan menyebabkan
penjualan serta laba lebih besar dibanding apabila produk itu dijual dengan
harga lebih rendah.
4) Penentuan Harga Produk Dalam Satu Paket
Pembundelan produk adalah praktik penjualan satu atau lebih produk
secara bersama - sama sebagai satu paket dengan harga tunggal.
Penjualan secara paket akan meningkatkan laba yang ditempuh dengan
cara menaikkan harga setiap produk apabila dijual terpisah dan
menawarkan bundelan sebagai suatu paket dengan satu harga yang lebih
rendah dari harga jual masing - masing komponen dalam bundelan tersebut.

Menurut Tjiptono (2001 : 174) ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu
perusahaan harus selalu meninjau kembali strategi penetapan harga produk -
produknya yang sudah ada di pasar, diantaranya adalah :

1) Adanya perubahan dalam lingkungan pasar, misalnya pesaing besar


menurunkan harga.
2) Adanya pergeseran permintaan, misalnya terjadinya perubahan selera
konsumen.
Dalam melakukan peninjauan kembali penetapan harga yang telah
dilakukan, perusahaan mempunyai tiga alternatif strategi, yaitu:

1) Mempertahankan Harga
Strategi ini dilaksanakan dengan tujuan mempertahankan posisi dalam
pasar dan untuk meningkatkan citra yang baik di masyarakat.

2) Menurunkan Harga
Strategi ini sulit untuk dilaksanakan karena perusahaan harus memiliki
kemampuan finansial yang besar, sementara konsekuensi yang harus
ditanggung, perusahaan menerima margin laba dengan tingkat yang
kecil. Ada tiga alasan atau penyebab perusahaan harus menurunkan
harga produk yang sudah mapan.

3) Menaikan Harga
Suatu perusahaan melakukan kebijakan menaikan harga dengan
tujuan untuk mempertahankan profitabilitas dalam periode inflasi dan
untuk melakukan segmentasi pasar tertentu.

Harga Promosi

Perusahaan menggunakan berbagai teknik penetapan harga untuk


mendorong pembelian awal.

- Harga pemimpin rugi (loss-leader pricing)

- Harga peristiwa khusus (special-event pricing)

- Rabat tunai (cash rebates)

- Pembiayaan berbunga rendah (low interest financing)

- Syarat pembayaran yang lebih lama (longer payment terms)

- Garansi dan kontrak jasa (warranties and service contracts)

- Diskon psikologis (psychological discounting)

Stratetgi harga promosi ini sering merupakan suatu zero – sum game yang
artinya mengambil keuntungan dari derita pihak lain. Kalau berhasil, pesaing
akan menirunya. Kalau tidak berhasil, tentunya menghabiskan uang
perusahaan yang pada sebenarnya bisa digunakan perusahaan untuk
keperluan - keperluan pemasaran yang berdampak jangka panjang seperti
misalnya meningkatkan mutu dan pelayanan, juga meingkatkan citra produk
dengan periklanan.
5. Penetapan Harga Produk Baru: Harga Perdana dan Harga Penetrasi
Strategi penetapan harga merupakan proses perusahaan dalam
mengklasifikasikan dan menggolongkan produk yang dihasilkan apakah produk
baru atau produk yang sudah beredar di masyarakat, strategi ini berkaitan
dengan siklus kehidupan produk (Product Life Cycle) yang artinya bahwa suatu
produk memiliki empat tahapan yaitu perkenalan, pertumbuhan, kematangan
dan penurunan. Jenis – jenis strategi penetapan harga pada produk baru yaitu
sebagai berikut :
1. Harga Mengapung (Skimming Price)
Harga mengapung ialah memberikan harga yang tinggi agar dapat menutupi
biaya dan sekaligus meghasilkan laba maksimum atau dengan kata lain
dalam hal ini perusahaan mampu meyakinkan pelanggan bahwa produknya
memiliki perbedaan dengan produk sejenis yang dimiliki oleh pesaing.
Harga mengapung disebut juga pendekatan skimming, pendekatan ini sangat
efektif jika terdapat perbedaan harga atas aspek tertentu dan pesaing relatif
sedikit. Selain itu, pendekatan ini juga bermanfaat sebagai pembatas atas
permintaan suatu produk hingga perusahaan merasa siap untuk melakukan
produksi secara massal kembali.
2. Harga Penetrasi
Harga penetrasi yaitu memberikan harga lebih rendah agar tercipta pangsa
pasar permintaan, umumnya diterapkan pada kondisi pasar yang tidak
terfragmentasi ke dalam aspek berbeda produk dan itu tidak memiliki nilai
simbolis yang tinggi. Jika harga penetrasi ini digunakan maka akan sangat
cocok dan efektif untuk pasat yang cenderuing sensitif terhadap harga.
3. Penetapan Harga Perdana
Harga Perdana adalah strategi yang menentukan harga awal yang tinggi
pada suatu produk yang baru diluncurkan dan secara bertahap harganya
akan diturunkan. Strategi ini dilakukan bertujuan untuk menutupi biaya riset
dan biaya promosi melalui margin yang besar, kemudian melayani konsumen
yang tidak begitu peka terhadap harga, saat persaingannya tidak terlalu
ketat. Sering kali sulit untuk menentukan dengan sangat tepat kekuatan
dalam permintaan saat suatu produk diperkenalkan ke pasar dan karena hal
tersebut maka sulit untuk menentukan harga terbaik yang dikenakan.
Dengan perusahaan memulai harga awal yang tinggi, maka ia bisa menjual
suatu produk tersebut ke konsumen yang mau untuk membayar harga yang
cukup tinggi tersebut.
Lalu perusahaan menurunkan harga, karena untuk dapat meningkatkan
penjualan ataupun untuk memperlambat masuknya pesaing baru jika harga
perkenalan nya mahal dapat yang dapat meakibatkan adanya keuntungan
yang lebih besar. Strategi ini berguna saat perusahaan yang pada awalnya
mempunyai kapasitas produksi yang terbatas, karena dapat menguntungkan
bagi perusahaan untuk bisa menjual output yang terbatas pada harga yang
paling tinggi yang bisa dicapai. Disaat perusahaan yakin akan penjualan
dalam jumlah yang besar dengan harga yang lebih rendah bisa dilakukan,
perusahaan akan memperbesar kapasitas produksinya dan menurunkan
harga tiap produknya.

KLP 5
Nama : I Ngurah Agung Adi Nugraha
NIM : 1907521220
mohon ijin bertanya, Kapan seharusnya perusahaan melakukan perubahan
harga (baik penurunan maupun kenaikan harga) setelah menetapkan harga
awal pada produk baru?

Nama : Made Kurniawan Saputra


NIM : 1907521114
Absen : 11
Kelompok : 5
Pertanyaan :
Upaya apa saja yang dapat dilakukan perusahaan dalam menanggapi
perubahan harga pesaing (kompetitor)?
Kelompok 5 - Zeta Blanco (1907521274) , Apakah mungkin diskriminasi
harga terjadi pada pasar persaingan sempurna? Karena seperti yang kita
ketahui harga di pasar persaingan sempurna terbentuk melalui mekanisme
pasar dan hasil interaksi antara penawaran dan permintaan sehingga harga
tidak bisa dipengaruhi

Nama : Ni Putu Dila Pradnyani


NIM : 1907521228
Pertanyaan :
Pada harga prpmosi tadi dijelaskan tentang zero-sum game, apakah kalian
memiliki contoh untuk teori tersebut?

ZETA
Apakah mungkin diskriminasi harga terjadi pada pasar persaingan
sempurna, berikan alasannya? Karena seperti yang kita ketahui harga di
pasar persaingan sempurna terbentuk melalui mekanisme pasar dan hasil
interaksi antara penawaran dan permintaan sehingga harga tidak bisa
dipengaruhi

Diskriminasi harga tidak mungkin terjadi dalam persaingan sempurna.


Karena permintaan pasar di setiap pasar sangat elastis, perusahaan
mengambil harga pasar sebagai harga jual produk-produknya. Dalam
jangka panjang, tidak ada peluang bagi perusahaan untuk mengenakan
harga lebih tinggi dari harga pasar.

Praktik diskriminatif lebih mungkin terjadi di pasar persaingan tidak


sempurna, terutama di pasar monopoli. Karena hanya ada satu
produsen di pasar, perusahaan monopoli memiliki kendali mutlak atas
harga, pasokan, dan kualitas produk. Pemonopoli dapat menjual produk
mereka dalam beberapa situasi di dua pasar atau lebih dengan harga
berbeda untuk memaksimalkan keuntungan.

DAFTAR PUSTAKA

 Salvatore, Dominick. 2011. Ekonomi Manajerial dalam perekonomian global


buku 2 edisi kelima. Jakarta : Salemba Empat
 Noor, Faizal Henry. 2007. Ekonomi Manajerial Edisi Revisi. Jakarta : Rajawali
Pers
 [Link]
[Link] ( Diakses pada Selasa, 4 Mei 2021 )
 [Link] ( Diakses pada Selasa, 4 Mei
2021 )
 [Link] ( Diakses pada Selasa, 4 Mei 2021 )
 [Link] ( Diakses
pada Selasa, 4 Mei 2021 )
 [Link] ( Diakses pada
Selasa, 4 Mei 2021 )

Anda mungkin juga menyukai