سالَ ُم َعلَ ْي ُك ْم َو َر ْح َم ُة هللاِ َو َب َر َكا ُت ُه
َّ ال
ان ِ أَع ُْو ُذ ِبا، قال هللا تعالى في كتابه الكريم،ِين
َ هلل م َِن ال َّشي
ِ ْط َ ْال َحمْ ُد هَّلِل ِ َربِّ ْال َعالَم، ِبسْ ِم هّللا ِ الرَّ حْ َم ِن الرَّ ِحي ِْم
ٰ
اس َوال َّد َوابِّ َواأْل َ ْن َع ِام م ُْخ َتلِفٌ أَ ْل َوا ُن ُه َك َذل َِك ۗ إِ َّن َما َي ْخ َشى هَّللا َ مِنْ عِ َبا ِد ِه
ِ َوم َِن ال َّن: ِبسْ ِم هّللا ِ الرَّ حْ َم ِن الرَّ ِحي ِْم،الرَّ ِجي ِْم
اما بعد.ٌْال ُعلَ َما ُء ۗ إِنَّ هَّللا َ َع ِزي ٌز َغفُور
Salam hormat dan takzim kepada segenap alim-ulama, para kyai, para buNyai,
khususnya pengasuh pondok pesantren Mujahidin Al-Ustad Hasan Basuni, Juga tak
ketinggala para pini sepuh, tokoh masyarakat, aparatur pemerintah baik sipil maupun
angkatan darat, para santriwan dan santriwati yang juga kami muliakan.
Pertama-tama dan yang paling utama marilah kita senantiasa memanjatkan puja dan
puji syukur kepada Allah subhanahu wataala. Sebab dengan rahmat dan inayahNya
kita bisa silaturrahmi dalam acara yang sangat agung ini.
Yang kedua, sholawat dan salam semoga tetap tercuh limpahkan kepada baginda Nabi
Muhammad Shollallahu alaihi wasallam. Karena berkat Rosulullahlah lewat hadits-
haditsNya, kemudian diterima para sahabatNya turun ke tabiin, tabiit tabiin, teruuuuus
kepada generasi ulama dan sampailah kepada kita sebagai santri-santrinya, tentang
bagaimana tata cara mendapatkan ilmu yang manfaat lagi berkah.
Allahumma Sholli ala Sayyidina Muhammad!
Sebagai santri pesantren, kita selalu dan selalu diajarkan cara menghormati
orang lain, cara menghormati ilmu dan cara menghormati kitab dan isinya. “Betul apa
tidak?” 3x.
Kita di pesantren dijarkan Kitab Taklimul Mutaalim, dimana di dalamnya ada
fasal yang khusus membahas cara memuliakan ilmu dan ulama فصل في تعظيم العلم واهله.
Kata Kitab Taklim (sebutan untuk Kitab Taklumul Mutaalim), “ اعلم بان طالب العلم ال ينال العلم وال
ه اال بتعظيم العلم واهلهll“ ”ينتفع بketahuilah, sesungguhnya santri atau pelajar, tidak akan bisa
mendapatkan ilmu yang bermanfaat kecuali dengan cara mumuliakan ilmu dan orang
yang mempunyai ilmu yakni ulama”.
Itu kata “Kitab Ta’lim” kawan, bukan kata saya.
Oleh karena itu, bila santri ingin memiliki ilmu yang manfaat di dunia dan akhirat wajib
baginya memuliakan ilmu dan ulama.
Bagaimana, santri sanggup memuliakan ilmu dan gurunya?
Santri sanggup memulikan ilmu dan ulama?
Allahumma Sholli ala Sayyidina Muhammad!
Bahkan saking hormatnya, saking takzimnya pada guru, Sayyidina Ali rodiallahu
anhu pernah berkata: ““ ”انا عبد من علمني حرفا واحدا ان شاء باع واشاء اعتق وان شاء استرقsaya adalah
budaknya orang yang mengajari saya, satu huruf sekali pun. Jadi saya terserah dia,
apakah mau menjualku, atau mau memerdekakanku”. Itulah perkataan Sahabat Ali
sekaligus menantu Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam.
Allahumma Sholli ala Sayyidina Muhammad!
Bahkan dalam “Kitab Taklim” itu dikatakan, apabila seseorang ingin memiliki
keturunan yang alim, keturunan yang paham agama, maka muliakanlah orang alim.
Makanya jangan sembarangan bersikap, bertutur kata kepada ulama apalagi sampai
menghujat.
Rosulullah pernah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud:
(و داودllر( رواه أبlظ وافllذ بحllذه أخllوا العلم فمن أخllا ولكن ورثllارا وال درهمllوا دينllاء لم يورثllاء إن األنبيllالعلماء ورثة األنبي
والترمذي
Ulama itu adalah pewaris para nabi. Karena sesungguhnya para nabi itu tidak
mewariskan dinar dan dirham melainkan mereka itu mewariskan ilmu.
Maka tidak berlebihan bila dalam Kitab Taklim itu mengatakan, kalau ingin anak
seseorang itu alim maka muliakanlah ualam.
Dalam hadits yang lain Rasulullah pernah bersabada, “muliakanlah ulama, karena
ulama adalah pewaris para Nabi. Barangsiapa memuliakan ulama, maka sungguh ia
memuliakan Allah dan Rasul-Nya”, (HR Imam At-Thobroni). Lihat Nashoihul Ibad hal.
61.
Bahkan dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratus Syeikh KH Hasyim
Asy’ari dikatakan “Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
‘Sesungguhnya di antara hak ulama adalah engkau jangan banyak bertanya
kepadanya, janganlah engkau membantahnya dalam jawaban, janganlah engkau terus
menerus bertanya apabila ia malas, janganlah engkau memegang pakaiannya apabila
ia bangkit, janganlah engkau membuka rahasianya, jangan menggunjing seseorang di
sisinya, jika ia keliru engkau harus menerima/memaafkan kekeliruannya. Engkau harus
menghormati dan mengagungkannya karena Allah Subhanahu wa ta’ala selama dia
menjaga perintah Allah Subhanahu wa ta’ala, dan jika ia membutuhkan sesuatu
hendaklah engkau cepat-cepat mendahului yang lain.”
Kesimpulannya
Kalau seorang santri atau pelajar ingin mendapatkan ilmu yang manfaat, ilmu
yang berkah maka ia harus sanggup memuliakan ilmunya, memuliakan gurunya, dan
memuliakan ulama. Ketiganya ini wajib hukumnya bagi para santri, tidak boleh tidak.
Semoga apa yang kami sampaikan ini bersamaan dengan hidayah Allah sehingga ilmu
kita berkah fiddini waddunya wal akhiroh. Amin!
Apa bila ada tutur kata yang salah kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Wal afwu minkum ila sabilirrosyad Tsummassalamualaikum Warohmatullahi
Wabarokatuh!