Rangkaian Transistor
A. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui cara menentukan kaki transistor
menggunakan Ohm-meter
2. Mahasiswa dapat mengetahui karakteristik transistor bipolar.
3. Mahasiswa dapat merancang rangkaian sederhana menggunakan transistor
bipolar.
4. Mahasiswa dapat menganalisa rangkaian sederhana transistor bipolar.
B. Tugas Pendahuluan (Quis di Syam-Ok)
1. Jelaskan fungsi komponen transistor pada suatu rangkaian!
2. Jelaskan yang dimaksud dengan symbol PNP dan NPN pada transistor ?
C. Pengukuran Transistor Bipolar
Pengukuran transistor bergantung pada fakta bahwa transistor bipolar dapat
dianggap terdiri dari dua buah dioda back to back, dengan melakukan pengukuran
pada dioda antara basis dan kolektor, serta basis dan emitor transistor
menggunakan multimeter analog, maka kita dapat memastikan bahwa transistor
tersebut dalam keadaan baik atau tidak sesuai kaidah pengukuran transistor.
Pada saat menguji transistor, resistansi antara kolektor dan emitter harus bernilai
tinggi pada saat rangkaian basis terbuka. Pengukuran dasar sebuah transistor
menggunakan multimeter analog untuk mendapatkan pembacaan dari transistor
bipoloar apakah berjenis NPN atau PNP sangatlah mudah. Bahkan, Beberapa
multimeter memiliki fungsi pengujian transistor built-in, anda cukup masukkan
transistor ke soket pada multimeter dan atur meteran ke mode yang benar. Anda
mungkin akan mendapatkan informasi seperti perolehan (hFE) yang dapat
diperiksa pada lembar data serta mengetahui kondisi bagus atau tidaknya
transistor tersebut. Jika multimeter Anda tidak memiliki fungsi pengujian
transistor, maka transistor dapat dengan mudah diperiksa melalui pengaturan
pengujian "Diode". (Beberapa meter memiliki fungsi uji dioda yang digabungkan
dengan uji kontinuitas).
Selain menggunakan multimeter untuk mengetahui pin transistor, anda juga dapat
membuka datasheet jenis transistor tersebut sebagaimana terlihat pada gambar di
atas.
Step by Step Instruksi Pengukuran:
1. Atur selector multimeter ke kisaran ohm, kisaran berapapun dapat
dilakukan, tetapi kisaran ohm tengah (100) mungkin yang terbaik.
2. Hubungkan kaki basis transistor ke probe bertanda positif (biasanya
berwarna merah) pada multimeter.
3. Hubungkan probe bertanda negatif (biasanya berwarna hitam) ke
kolektor dan ukur hambatannya. Kondisi pembacaan dilakukan pada
sirkuit terbuka (harus ada defleksi untuk transistor PNP).
4. Dengan probe bertanda positif masih terhubung ke basis, ulangi
pengukuran dengan terminal positif terhubung ke emitor. Kondisi
pembacaan dilakukan pada sirkuit terbuka.
5. Sekarang balikkan koneksi ke basis transistor, kali ini sambungkan probe
negatif (hitam) dari pengukur uji analog ke basis transistor.
6. Hubungkan probe bertanda positif, pertama ke kolektor dan ukur
resistansinya. Kemudian bawa ke emitor. Dalam kedua kasus meteran
harus berhenti (pada rangkaian terbuka transistor PNP).
7. Selanjutnya perlu untuk menghubungkan probe negatif ke kolektor dan
meter positif ke emitor. Periksa apakah meteran membaca sirkuit terbuka.
(Meteran harus membaca sirkuit terbuka untuk tipe NPN dan PNP.
8. Sekarang balikkan koneksi sehingga meteran negatif terhubung ke emitor
dan meter positif ke kolektor. Periksa kembali apakah meteran membaca
sirkuit terbuka.
9. Jika transistor telah diukur sesuai instruksi di atas maka transistor dalam
keadaan baik.
D. Transistor Bipolar
Transistor Bipolar adalah Transistor yang struktur dan prinsip kerjanya
memerlukan perpindahan muatan pembawanya yaitu electron di kutup negatif
untuk mengisi kekurangan electon atau hole di kutub positif. Bipolar berasal dari
kata “bi” yang artinya adalah “dua” dan kata “polar” yang artinya adalah “kutub”.
Transistor Bipolar juga sering disebut juga dengan singkatan BJT yang
kepanjangannya adalah Bipolar Junction Transistor.
Jenis-jenis Transistor Bipolar
Transistor Bipolar terdiri dari dua jenis yaitu Transistor NPN dan Transistor PNP.
Terdapat Tiga Terminal Transistor, diantaranya adalah terminal Basis, Kolektor
dan Emitor.
Transistor NPN adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik
kecil dan tegangan positif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran
arus dan tegangan yang lebih besar dari Kolektor ke Emitor.
Transistor PNP adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik
kecil dan tegangan negatif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran
arus dan tegangan yang lebih besar dari Emitor ke Kolektor.
Fungsi transistor
Beberapa fungsi transistor dapat dilihat pada list berikut:
Sebagai Penyearah,
Sebagai Penguat tegangan dan daya,
Sebagai Stabilisasi tegangan,
Sebagai Mixer,
Sebagai Osilator
Sebagai Switch (Pemutus dan Penyambung Sirkuit)
E. Rangkaian Sederhana Transistor
Penstabil Tegangan DC
Sebuah Unit catu daya yang sangat bagus dan dapat disesuaikan tegangan
outputnya dapat dibangun hanya dengan menggunakan beberapa transistor dan
beberapa komponen pasif lainnya.
Rangkaian di bawah ini menyediakan pengaturan beban yang baik, arus
maksimumnya tidak lebih dari 500mA, cukup untuk sebagian besar aplikasi.
Rangkaian Alarm Hujan
Rangkaian ini dibangun hanya dengan dua transistor sebagai komponen aktif
utama. Konfigurasi dalam bentuk pasangan Darlington standar, yang
meningkatkan kapasitas amplifikasi arusnya secara besar-besaran. Tetesan hujan
atau tetesan air yang jatuh dan menjembatani pangkalan dengan suplai positif
sudah cukup untuk memicu alarm.
F. Kegiatan Praktikum
Alat dan Bahan
1. Software Simulasi Elektronik
2. Multimeter 2 buah
3. DC Power supply 2 buah
4. Transistor BD139 1 buah
5. RC 10K, 0,5Watt 1 buah
6. 330 Ohm, 1/4Watt 1 buah
Langkah Percobaan
1. Rangkailah peralatan – peralatan percobaan sesuai dengan Gambar pada
software simulasi eletronik
2. Aktifkan sumber tegangan DC yang mencatu BJT (tegangan VCC),
kemudian lakukan pengesetan nilai sesuai petunjuk instruktur. Gunakanlah
Voltmeter DC untuk mengecek nilai tegangan tersebut.
3. Aktifkan Tegangan catu VBB. Kemudian naikkan perlahan – lahan sesuai
dengan range tegangan yang diijinkan. (ditentukan oleh instruktur).
Gunakanlah Voltmeter DC untuk mengecek nilai tegangan tersebut.
4. Amatilah besarnya arus IC dan IB pada Ammeter saat tegangan catu V BB
dinaikkan.
5. Lakukan pengukuran besar tegangan pada terminal collector - emitter
(VCE), tegangan pada terminal base - emitter (VBE) dan tegangan pada
beban R mulai saat VBB = 0 V sampai saat tegangan catu VBB dinaikkan.
6. Catatlah data hasil pengukuran yang Saudara lakukan pada tabel berikut
7. Ulangi langkah c sampai dengan f untuk masing-masing data tegangan
catu (VBB).
8. Gambarlah Grafik karakteristik v-i masukan dan keluaran BJT dengan
menggunakan data – data pada Tabel 1.
9. Lakukan analisa secara teori terhadap percobaan yang telah dilakukan.
Kemudian bandingkan hasilnya dengan hasil percobaan.
10. Buatlah kesimpulan dari hasil analisa yang saudara lakukan.
G. Pertanyaan Pengembangan
1. Simulasikan dengan salah satu program simulasi (Multisim, EWB,
Proteus, dll) pada rangkaian percobaan di atas.
2. Jika Pada Gambar diatas diketahui β =100, RB = 39 kΩ, RC = 1 kΩ,
tegangan catu VCC = 15 V dan VBB = 2,5 V. tentukan besarnya IE.
3. Jika Pada Gambar diatas diketahui β =30, RB = 10 kΩ, RC 1 kΩ, tegangan
catu VCC = 18 V .Tentukan besarnya IB minimum dan tegangan VBB yang
diperlukan untuk mengaktifkan BJT.