PENGARUH KARAKTERISTIK PEMERINTAH DAERAH
DAN TEMUAN AUDIT BPK TERHADAP KINERJA
PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN/KOTA
(Studi Kasus di Kabupaten/kota se-Jawa Tengah Tahun Anggaran 2017-
2018)
Miniplan
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Syarat-Syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Disusun Oleh:
MUHAMAD FEBRIAN WIDIATMAJA
B200170335
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2021
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Desentralisasi di Indonesia dimulai pada tahun 2001
dengan mengalihkan macam macam kewenangan dan
tanggungjawab dari Pemerintah pusat kepada pemerintah daerah
yang didasarkan pada Undang – Undang Nomor 32 tahum 2004
yang telah direvisi dengan Undang – Undang nomor 23 tahun
2014 tentang Pemerintah Daerah, dan Undang –Undang nomor 33
tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
pusat dan Pemerintah Daerah. Dengan adanya Undang – Undang
tersebut dapat memberikan kewenangan otonomi daerah yang
luas, nyata dan bertanggungjawab, hal ini dapat diwujudkan
dengan pengaturan, pembagian, pemanfaatan, serta perimbangan
keuangan daerah dan keuangan pemerintah pusat yang
demokratis, peran serta Masyarakat, pemerataan keadilan, serta
memperhatikan potensi dan keragaman daerah. Tujuan adanya
kewenangan dalam penyelenggaraan Otonomi daerah adalah
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, pemerataan dan
keadilan sosial.
Undang – Undang Republik Indonesia nomor 23 tahun
2014 menyebutkan bahwa Efisiensi dan Efektivitas
penyelenggaraan Pemerintah daerah perlu ditingkatkan lagi
dengan memperhatikan aspek – aspek hubungan antar susunan
pemerintah Pusat dan antar susunan Pemerintah Daerah, potensi
dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan
global dengan memberikan kewenangan kepada daerah dalam
kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintah negara, oleh karena
itu dibutuhkan adanya sistem pemantauan, evalausi dan
pengukuran kinerja yang sistematis utuk mengukur kemajuan
Pemerintah daerah dalam waktu yang telah ditentukan.
Didalam Undang – Undang Nomor 23 tahun 2014
menyebutkan bahwa setiap kepala daerah wajib memberikan
Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) kepada
pemerintah pusat sesuai dengan Peraturan pemerintah nomor 3
tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah
kepada pemerintah, Laporan Keterangan pertanggungjawaban
kepala daerah kepada Dewan Perwakilan rakyat Daerah (DPRD),
dan informasi pelayanan penyelenggaraan pemerintah Daerah
Kepada Masyarakat. Menjelaskan bahwa ruang lingkup LPPD
mencakup penyelenggaraan urusan desentralisasi, tugas
pembantuan, dan tugas umum pemerintah. Ada dua urusan
penyelenggaraan desentralisasi yaitu urusan wajib dan urusan
pilihan. Urusan wajib adalah urusan yang mendasar yang
berkaitan dengan hak dan pelayanan dasar warga Negara.
Sedangakan urusan pilihan merupakan urusan nyata ada didaerah
dan berpotensi untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat,
sesui dengan kondisi , khas dan potensi daerah tersebut, dengan
demikian, isi dari LPPD pemerintah Daerah/Kota sangat
tergantung dengan urusan yang menjadi tanggungjawab dan
karakteristik dari maisng – masing Pemerintah Daerah tersebut
(Mustikarini dan Fitriasari, 2012).
Lebih lanjut sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6
tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi penyelenggaraan
Pemerintah daerah, dilengkapi dengan Peraturan Mentri Dalam
Negeri nomor 73 tahun 2009 tengtang Tata cara pelaksanaan
Evalausi kinerja penyelenggaraan pemrintah daerah, dan
Permendagri nomor 74 tahun 2009 tentang pedoman pemberian
penghargaan kepada penyelenggara pemerintah daerah, pasal 5
permendagri no 73 tahun 2009 menyebutkan bahwa EKPPD
menggunakan LPPD sebagai sumber informasi Utama.
(Sudarsana, 2013)
Sularso H dan Restianto Yanuaer E, 2011. menjelaskan
bahwa alokasi belanja modal juga mempengaruhi terhadap kinerja
keuangan pemerintah Daerah seperti ketergantungan keuangan,
kemandirian dan kongtribusi Badan Usaha Milik Daerah. Maka
dengan hal ini secara tidak langsung ada keterkaitan antara
belanja modal terhadap kinerja keuangan Pemerintah daerah.
Menurut Soeprapto (2013) dalam Nanda Veriza, (2017),
terdapat banyak faktor yang mempengaruhi penyelenggaraan
mapun kesuksesan program pengembangan kapasitas dalam
pemerintah daerah, namun secara khusus dapat disampaikan
bahwa dalam konteks otonimi daerah faktor – faktor signifikan
yang mempengaruhi pembangunan kapasitas meliputi hal pokok
yaitu, komitmen bersama, kepemimpinan, reformasi peraturan,
reformasi kelembagaan, dan pengakuan tentang kekuatan dan
kelemahan yang dimiliki.
Dalam mendukung penyelenggaraan Pemerintah ,
Pemrintah Daerah menyusun anggaran yang kemudian dijadikan
pedoman dalam menjalankan berbagai aktivitasnya. Anggaran
dalam pemerintah disebut denngan Anggaran dan Pendapatan
Belanja (APBD), dengan adanya APOBD ini seluruh penerimaan
dan pengekuaran pemerintah daerah dalam bentuk uang, barang
dan/jasa pada tahun anggaran yang berkenan harus dianggarakan
dalam APBD (Kawedar, 2008)
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian terkait dengan kinerja Pemerintah Daerah,
berdasarkan hal tersebut peneliti akan melakukan penelitian
dengan judul “ PENGARUH KARAKTERISTIK PEMERINTAH
DAERAH TERHADAP KINERJA PEMERINTAH
KABUPATEN/KOTA (study kasus pada kabupaten dan kota se-
Jawa Tengah tahun 2017-2018)
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang dikemukakan diatas,
maka rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah ukuran daerah berpengaruh terhadap kinerja pemerintah
daerah kabupaten/kota se-Jawa Tengah
2. Apakah tingkat kekayaan daerah berpengaruh terhadap kinerja
pemerintah daerah kabupaten/kota se-Jawa Tengah
3. Apakah tingkat ketergantungan daerah berpengaruh terhadap kinerja
pemerintah daerah kabupaten/kota se-Jawa Tengah
4. Apakah belanja daerah berpengaruh terhadap kinerja pemerintah
daerah kabupaten/kota se-Jawa Tengah
5. Apakah ukuran legislatif berpengaruh terhadap kinerja pemerintah
daerah kabupaten/kota se-Jawa Tengah
6. Apakah temuan audit BPK berpengaruh terhadap kinerja pemerintah
daerah kabupaten/kota se-Jawa Tengah
C. TUJUAN PENELITIAN
Untuk menguji pengaruh karakteristik pemerintah daerah dan hasil
pemeriksaan audit BPK secara bersama maupun terpisah terhadap
kinerja pemerintah Kabupaten Sragen.
PEMBAHASAN
A. TINJAUAN PUSTAKA
1. Teori Agensi dalam Pemerintahan
Dalam agency theory terdapar dua pihak yang melakukan
kesepakatan atau kontrak, yakni pihak yang memberikan kenangan
yang disebut dnegan Principal dan pihak yang menerima kewenangan
yang di sebut dengan agent (Halim dan Abdullah 2006). Agency
problem muncul ketika principal mendelegaiskan kewenangan
pengambilan keputusan kepada agent (Zimmerman 1977). Dengan
adanaya hubungan kewenangan ini dapat memunculkan permasalahan,
yaitu adanya informasi asimetris , dimana salah satu pihak mempunyai
informasi lebih banyak dari pada pihak lainnya (Setyaningrum dan
Syafitri, 2012)
Zimmerman 91997) mengatakan bahwa masalah keagenan terjadi
pada semua organisasi. Pada sektor pemerintahan agency problem
terjadi pada pejabat pemerintah yang terpilih dan diangkat sebagai
principal dan para pemilih disebut sebagai agent, pejabat
pemerintahan sebaia pihak yang menyelenggarakan pelayanan publik
memiliki informasi yang lebih banyak sehingga dapat membuat
keputusan atau kebijakan yang hanya mementingkan pemerintah dan
penguasa dan mengabaikan kepentingan dan kesejateraan raktat.
Untuik mengurnagi maslah tersebut, upaya yang ahrus dilajukan
pemerintah daerah adalah menyajikan laporan keuangan secara
ransparan dan akuntabel.
2. Akuntabilitas
Mahsun (2006) pengertian akuntabilitas dijelaskan dalam 2
pengertian yakni pengertian sempt dan pengertian luas. Dalam
pengertian sempit, akuntabilitas merupakan bentuk
pertanggungjawaban yang megacu kepada siapam organisasi (pekerja
Individu) bertanggungjawab dan untuk apa organisasi harus
bertanggungjawab. Dalam pengertian luas, akuntabilitas dipahami
sebagai kewajiban pihak pemegang amanah (agent) untuk memberikan
pertanggungjaaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan
segala aktivitas dan kegiatan yang telah menjadi tangungjawbanya
kepada pihak pemberi amanah ( principal) yang memiliki hak dan
kewenangan untuk meminta pertanggungjaaban. Makna akuntbailitas
ini merupakan inti filosofis dalam manajemen sektor publik.
Dalam konteks organisasi pemerintah ada istilah akuntabilitas
publik. Akuntabilitas publik adalah pemberi informasi atas aktivitas
dan kinerja keuangan pemerintah kepada pihak pihak yang
berkepentingan dengan laporan baik itu pemerintah pusat mapun
pemerintah daerah . salah satu penopang akuntabilitas adalah
transparansi. Yaitu ketersediaan informasi kepada publik atas
transaksi pemerintah dan proses pengambilan keputusan, dan
merupakan dasar untuk manajemen disemua negara demokrasi.
Untuk menjamin transparansi maka dikeluarkan Peraturan
Pemerintah nomor 3 2007 pasal 2 tentang laporan penyelenggaraan
Pemerintah daerah kepada pemerintah, laporan keterangan
pertanggungjawban kepada daerah kepada dewaan perwakilan rakyat
daerah, dan informasi laporan penyelenggaraan pemerintah daerah
kepada masyarakat. Selain itu pasal 9 peraturan pemerintah no 3 tahun
2007 juga menegaskan bahwa penyusunan LPPD menganut prinsip
transparansi dan akuntabiltas.
3. Laporan penyelenggaraa n Pemerintah Daerah (LPPD)
Menurut Peraturan Pemerintah nomor 3 tahun 2007, LPPD adalah
laporan penyelenggaraan pemerintah daerah selama satu tahun
anggaran yang erdasarkan renacan kerja pambangunan daerah (RKPD)
yang disampaikan oleh kepala daerah kepada pemerintah. Dalam
undang undnag no 32 tahun 2004 pemerintah meajibakan bagi setiap
kepala daerah u tuk memberikan lapoiran penyelenggara pemerintah
daerah (LPPD) kepada pemerintah pusat. LPPD digunakan sebgai
dasar melakukan eva,ausi penyelenggaraan pemerintah daerah sebagai
bahan pembinaan lebih lanjut sesui perundang undangan.
LPPD memiliki ruang lingkup yang mencakup urusan
desentraliasi, tugas pembantuan dan tugas umum pemerintah. Urusan
desentralisasi melipuyti urusan wajiub dan urusan pilihan. Urusan
wajib adalah urusan yangsangat mendasar yang berkaitan den gan hak
dan pelayanan dasar warga negara, sedangakan urusan pilihan
merupakan urusan yangs ecara nyata ada di daerah dan berpotensi
untuk meningkatkan kesejhateraaan masayarakt, sesui dmegan kondisi,
kkhasan dan potensi unggulan daerah.
4. Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah
Kinerja adalah sesuatu yang dicapai atau prestasi yang
diperlihatkan ( kamus Besar Bahasa Indonesi, 2001). Menurt Rpbbin,
Stephen P (1994), kinerja adalah ukuran hasil kerja yang dilaukan
dengan menggunakan kriteria yang disetuji bersama. Pengukuran
kinerja adalah proses pengawasan secara terus menerus dan pelaporan
capaian kegiatan, ksusunya kemajuanatas tujuan yang duirencanakan
(Westin, 1998 dalam Sumarjo,2010).
Dalam permendagri nomor 73 tahun 2009 yang menyebutkan
bhawa sala satu evaluasi kienrja yang dilakukan peemrintah terhadap
pemda berupam Evalausi kienrja penyelenggaraan Pemerintah dearah
(EKPPD). EKKPD dilajukan dengan cara menilai kinerja tingkat
pengambilan keputusan , yaitu kepala daerah dan DPRD dan tingkat
pelaksaan kebijakan daerah, yaitu satuan kerja perangkat daerah
(SKPD). didalam pasal 5 permendagri nomor 73 tahun 2009
menjelaskan LPPD digunakan sebagai sumber informasi utama
EKPPD yang difokuskan pada informasi capaian kienrja pada tataran
pengambil kebijkaan dan pelaksana kebijakan dengan menggunakan
indikatir Kinerja Kunci ( IKK). IKK merupakan keatuan sistem
pengukuran kienrja mulai dari masing-masing Satuan Perangkat
Daerah (SKPD), pemerintah daerah, daerah dengan daerah lainnya
dalam tingkat wilayah provinsi maupun tingkat nasional.
5. Karakteristik Pemerintah Daerah
Dalam kamus Umum Bahasa Indonesia (2006), menjelaskan
Karakteristik adalah ciri-ciri khusus, memounyai sifat khas
(kkhususan) denagn perwatakan tertentu yang membedakan sesuatu
(orang) dengansesuati yang lain, peneliatuan yang dilakuikan oelh
Suhardjanto dan Miranti (2009) dalam Sumarjo (2010) pada sektor
swasta mendefinisikan karakteristik perusahaan sebagai ciri-ciri
khusus yang melekat apda perusahaan, menandai sebuh perusahaan
dan membedakannyadengan yang lain.
Hasibuan (2009) dalam sumarjo (2010) menemukanbaha terdapat
penagruh karateristik perusahaan terhadap kinerja suatu perusahaan,
hal ini dapat diterapkan pada sektor publik, diaman karateristik daerah
dapat menajdi prediktor yang baik dalam mengukur kinerja pemerintah
daerah, karakteristik pemerintah daerah merupakan ciri-ciri khusus
yang melekat padadaerah, menandai sebuah daerah dan
membedakannya denagn daerah lain (Porwadarmingta, 2006).
a. Ukuran Daerah
Penelitaian Sudarmadji, Murdoko dan Sularto (2007) menyatakan besar
(Ukuran) perusahaan dapat dinyatakan dalam total aktiva,
penjualan dan kapitaliusasi pasar. Semakin besar total aktiva,
penjualan dan kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ukuran
perusahaan. Ketiuag variabel ini digunakan untuk menentukan
ukuran perusahaan karena dapat meakili seberapa besar perusahaan
tersebut. Semakin besar aktiva maka semakin banyak modal yang
ditanam , semkain bayak penjualan maka semakin banyak
perputaran uang dan semakin besar kapitalisasi pasar maka
semakin besar pula ia dikenal dalam masyarakat.
Ukuran yang besar dalam pemerintah akan memebrikan
kemudahan kegiatan operasioanl yang kemudian akan
mempermudah dalam memberikan pelayanan kepada Masyrakat
yang memadai, selain itu kemudahan dibidang operasioanl juga
akan memberikan kelancaran dalam memperoleh Pendapatan Asli
daerah (PAD) guna kemajuan daerah sebagai bukti peningkatan
kinerja(Kusumawardani, 2012). Pemerintah daerah yang memilikin
ukuran besar memiliki tekanan yang besar untuk melakukan
pengungkapan kinrja keuangan. Pemerintah daerah dalam
melakukan pengungkapan atas laporan kinerjanya akan lebih
terdorong untuk mengungkapkan hal hal yang bersifat good news
yang berupa laporan mengenai baiknya kinerja pemerintah daerah
trsebuit sehingga meningkatkan skor kinerja.
b. Tingkat Kekayaan Daerah
Menurut Undnag-undang nomor 33 tahun 2004,
Pendapatan Asli daerah merupakan sumber penerimaaan daerah
asli yang digali didaerah tersebit untuk dijadiakan sebagai dasar
dalam membiayai pembangunan dan usaha-usaha daerah un tuk
memperkecil ketergantungan dari pemerintah pusat. PAD terdiri
dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, hasil pengolahan kekayaan
daerah yang dipisahkan dan pendapatan lain lin yang sah.
c. Tingkat ketrgantungan Daerah
Dalam penelitian Mustikarini dan Fitriasasi (2012), tingkat
ketergantungan dengan Pemerintah pusat dinyatakan dengan
besarnya Dana Alokasi Umum (DAU), menurut Peraturan
Pemerintah nomoir 55 tahun 2005, dana alokasi umum adalah dana
yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan
pemerataan keuangan anatar daerah untuk membiayai kebutuhan
pengeluaran daerah masing-masing dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi.
d. Belanja Modal
Dalam Peratuaran Pemerintah nomor 71 tahun 2010,
belanja modal merupakan belanja pemerintah daerah dalam 1 tahun
anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah dan
selanjtnya akana menambah belanja yang bersifat rutin seeprti
baiaya pemeliharaan pada kelompok belanja adminitrasi umum,
belanja modal digunakan untuk memperolah aset tetap pemerintah
daerah. Menurut Halim (2004), belanja modal merupakan belanja
yang manfaatnya melebihi satu tahun anggaran dan akan
menambah aset atau kekayaan daerah serta akan menimbulkan
konsekuensi menambah belanja yang bersifat rutin spserti biaya
pemeliharaan.
e. Ukuran Legislatif
Lemabga legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah)
merupakan lembaga yang memiliki posisi dan peran strategis
dengan pengawasan keuangan daerah (Winanrna dan Murni,
2007), peranan dari legislatif terdapat dalam pembuatan kebijakan
publik, termasuk penganggaran daerah (Abdullah dan asmara,
2006). Lembaga legislatif harus memperhatikan mengenai
seebrapa besar pengeluaran pemerintah daerah yang menghasilan
pendapatan yang besar dengan pengeluaran yang kecil maka dapat
dikatakan bawah pemerintah daerah tersebut memiliki kienrja yang
baik (Hamzah, 2009).
f. Temuan Audit BPK
Audit adalah proses pemeriksaan yang dilakukan seacra
sistematis untuk mengtahui bagaimana sesungguhnya pelaksanaan
ditetapkan (Pramono, 2008). Undang-undang nomor 15 taun 2004
tentang Pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
negara, menyatakan bahwa pemriksaan adalah proses indentifikais
masalah, analsis dan evalausi yang dilakukan secara independen,
obyektif, dan profesioanl berdasarkan standar pemeriksaan,
untukm menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas dan keandalan
informasi mengenai pengeloaan dan tanggung jawab keuangan
negara. Pemeriksaan keuangan negara dilakukan oleh Badan
Pemeriksaan Keuangan (BPK) terdiri dari pemeriksaan keuangan,
pemeriksaan kinerja. Hasil dari pemeriksaan yang dilakuakn oleh
BPK berupa Opini, Temuan, kesimpulan atau dalam bentuk
rekomendasi.
B. METODE PENELITIAN
1. Desain Penelitian
Penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini menggunakan penelitian
kuantitatif yaitu penelitian yang menekankan pada pengujian teori –
teori yang melaui pengukuran variabel – variabel penelitian dengan
dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik.
2. Populasi dan sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah Pemerintah Kabupaten/ kota
se-Jawa Tengah pada tahun 2017-2018 , sedangkan sampel penelitian
35 Kabupaten atau Kota di Provinsi Jawa Tengah. Kriteria
Pengambilan sampel penelitian adalah Purposive sampling dengan
ketentuan pemda kabupaten/kota yang dipilih memiliki semua data
yang lengkap meliputi: neraca untuk pendapatan aset, Laporan realisasi
Anggaran (LRA) untuk mendaopaatkan PAD,DAU, Belanja daerah
dan total realisasi anggaran pendapatan, serta memerlukan laporan
hasil pemeriksaan audit BPK untuk mendapatkan jumlah temuan audit.
3. Data
a. Sumber data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder. Sumber data untuk variabel temuan audit BPK
didapatkan dari ikhtisar Pemeriksaan pada tahun 2017-2018 pada
website Badan Pemeriksa keuangan (BPK) yaitu
Http://[Link]. Data neraca pemda utuk mendapatkan total
aset, anggaran belanja pemda untuk mendapatakan total anggaran
bela nja, laporan relaisasi Anggran (LRA) untukm mendspatakan
PAD,DAU dan total realisasi anggaran pendapatan didapatkan
melalui Kementrian Keuangan Direktorat Jenderal Perimbagan
keuangan melalui [Link] Daat
bperingkat skor kinerja pemda kabupaten/kota didapatkan melaui
[Link]
DAFTAR PUSTAKA
Sularso H, E Restianto Yanuar 2011. Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap
Alokasi Belanja Modal dan pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/kota di
Jawa Tengah.
Sudarsana Susila H,, 2013. Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah dan
Temuan audit BPK terhadap kinerja pemerintah Daerah (studi kasus
pada Pemerintah Kabupaten/kota di Indonesia.
Mustikarini dan Fitriasari . Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah dan
Temuan audit BPK terhadap kinerja pemerintah Daerah (studi kasus
pada Pemerintah Kabupaten/kota di Indonesia tahun anggaran 2007
Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah
Daerah
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2008 tentang Pedoman
Evaluasi penyelenggaraan Pemerintah daerah.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tahun 2007 tentang Laporan
penyelenggaraan Pemerintah daerah kepada pemerintah, laporan
keterangan pertanggungjawaban kepala daerah kepada Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah dan Informasi Laporan Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 tahun 2009 tentang tatacara
Pelaksanaan evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah.
Undang – Undang Republik Indonesi Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan daerah.
Undang – Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
Setyaningrum D dan Sayfitri F, (2012). Analsisis Penagruh Karakteristik
Pemrintah daerah terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan.