0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan6 halaman

Panduan Budidaya Sapi Perah di Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang subsistem budidaya sapi perah pada peternakan, meliputi perkandangan, pemilihan bibit, pemberian pakan dan minum, mengawinkan, masa laktasi, dan perawatan lainnya. Dokumen juga menjelaskan kendala-kendala seperti hama, lokasi, pakan, iklim, dan penyakit serta upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.

Diunggah oleh

Rafika Dita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan6 halaman

Panduan Budidaya Sapi Perah di Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang subsistem budidaya sapi perah pada peternakan, meliputi perkandangan, pemilihan bibit, pemberian pakan dan minum, mengawinkan, masa laktasi, dan perawatan lainnya. Dokumen juga menjelaskan kendala-kendala seperti hama, lokasi, pakan, iklim, dan penyakit serta upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.

Diunggah oleh

Rafika Dita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SUBSISTEM BUDIDAYA (ON FARM) PADA PETERNAKAN SAPI PERAH

Tujuan usaha ternak sapi perah adalah mengambil susu. Mengingat sifat produknya, ternak sapi
perah harus mengedepankan sanitasi, baik itu sanitasi kandang maupun sanitasi ternaknya itu sendiri.
Berbeda halnya dengan ternak sapi potong yang berfokus pada pembesaran.

Di Indonesia, budidaya sapi perah lebih cocok dilakukan di dataran tinggi yang memiliki iklim
sejuk. Karena kebanyakan jenis sapi perah yang produktif merupakan sapi dari daerah sub tropis
yang beriklim dingin. Sapi perah masih bisa dibudidayakan di dataran rendah yang panas, namun
produksi susunya tidak maksimal.

1. Perkandangan sapi perah

Bangunan kandang umumnya merupakan bangunan semi permanen mulai dari yang
sederhana sampai dengan penggunaan konstruksi beton.

 Tinggi kandang yang dianjurkan untuk memelihara sapi perah sekitar 4-4,5 meter.
 Lantai tanah sangat tidak dianjurkan untuk memelihara sapi perah. Lantai kandang sebaiknya
terbuat dari semen sehingga tidak licin serta dibuat agak miring agar mudah dibersihkan.
 Tempat makan dan minum harus didesain agar sapi mudah mengaksesnya namun tidak bisa
menginjak-nginjaknya.

2. Pemilihan Bibit

Pembibitan adalah kegiatan budi daya menghasilkan bibit ternak untuk keperluan
sendiri atau diperjualbelikan.

 Bibit Ternak yang selanjutnya disebut Bibit adalah ternak yang mempunyai sifat unggul dan
mewariskannya serta memenuhi persyaratan tertentu untuk dikembangbiakkan.
 Benih Ternak yang selanjutnya disebut Benih adalah bahan reproduksi ternak yang berupa
mani, sel telur, telur tertunas, dan embrio.
 Ternak yang selanjutnya disebut Galur adalah sekelompok individu ternak dalam satu
rumpun yang mempunyai karakteristik tertentu yang dimanfaatkan untuk tujuan pemuliaan
atau perkembangbiakkan.
 Pemuliaan adalah rangkaian kegiatan untuk mengubah komposisi genetik pada sekelompok
ternak dari suatu rumpun atau galur guna mencapai tujuan tertentu.
 Seleksi adalah kegiatan memilih tetua untuk menghasilkan keturunan melalui pemeriksaan
dan/atau pengujian berdasarkan kriteria dan tujuan tertentu dengan menggunakan metode atau
teknologi tertentu.

Secara umum ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam memilih bakalan untuk ternak
sapi perah, diantaranya:

 Sapi harus sehat, tubuh tidak cacat, kulit mulus, bebas parasit.
 Usahakan untuk mengetahui riwayat bakalan tersebut, lengkap dengan silsilahnya.
 Mata bening cerah tidak kusam, tidak berair atau tidak terdapat kotoran mata.
 Tidak banyak keluar lendir dari hidungnya, napasnya bagus tidak ada tanda-tanda batuk.
 Kuku-kuku bagus, bentuknya sempurna, tidak ada gejala-gejala bengkak, bila diraba suhunya
tidak terasa panas.
 Tidak ada tanda-tanda mencret pada sekitar duburnya.

3. Pemberian minum & pakan


Untuk menghasilkan 1 kg susu diperlukan sekitar 4-5 kg air. Oleh karena itu, air
minum harus disediakan secara tidak terbatas. Biarkan sapi minum sebanyak-banyaknya.
Pemberian pakan dilakukan setelah pemerahan. Pemberian konsentrat jadi sebanyak 4-5 kg
dan diberikan 2 kali sehari.

 Pakan hijauan. Pakan hijuan terdiri dari bahan berserat seperti rumput-rumputan,
leguminosa, jerami padi, daun kacang tanah, jerami jagung, dan pucuk tebu. Sapi perah
membutuhkan hijauan sebanyak 30-50 kg per ekor per hari, atau 10% dari bobot tubuhnya.
Pakan hijauan sebaiknya diberikan siang hari, biasanya setelah pemerahan.
 Pakan konsentrat. Pakan konsentrat atau sering juga disebut penguat bisa berupa biji-bijian,
umbi-umbian, atau limbah olahan pertanian seperti ampas tahu atau bungkil kedelai. Pakan
konsentrat dapat diberikan sebanyak 1-2% dari bobot sapi. Pemberiannya sebaiknya pagi hari
sebelum pemerahan atau sore hari.
 Pakan tambahan. Pakan tamabahan biasanya berupa vitamin, mineral, hormon, enzim atau
antibiotik. Pakan ini biasanya buatan pabrik, diberikan sesuai dengan aturan pemberian dari
masing-masing pakan tersebut.

4. Mengawinkan sapi perah


Sapi betina mengalami masa birahi relatif pendek, sekitar 15-18 jam. Waktu birahi
selanjutnya akan datang setelah 21 hari. Jadi, bila peternak terlambat mengetahui masa birahi,
harus menunggu kedatangan masa birahi berikutnya. Ada pun ciri-ciri sapi betina yang
mengalami birahi adalah sebagai berikut:
 Nafsu makan menurun.
 gelisah.
 melengguh dan mendekati sapi jantan.
 menaiki spai lain, kalau dinaiki akan diam.
 tampak merah dan mengeluarkan cairan.
Sementara itu, masa birahi yang dialami sapi jantan cukup sering. Dalam jangka waktu 2-3 hari sapi
jantan bisa mengalami siklus [Link] dua cara mengawinkan sapi perah, yakni secara alami
dan kawin suntik atau inseminasi buatan:

 Kawin alami, mengawinkan sapi jantan dan betina secara langsung. Seekor sapi jantan bisa
mengawini 25-30 ekor sapi betina. Untuk peternakan susu kecil, perkawinan biasanya
dilakukan dalam satu kandang. Dimana ada satu betina dan satu jantan yang keduanya sedang
mengalami birahi.
 Kawin suntik, dilakukan dengan memasukkan sperma sapi jantan menggunakan peralatan
tertentu ke dalam vagina spai betina. Kawin suntik ini memiliki banyak keunggulan. Lebih
praktis, tidak perlu membawa sapi jantan ke sapi betina. Sperma bahkan bisa didapatkan dari
penyedia sperma unggul, tanpa peternak memiliki sapi pejantannya.

5. Masa laktasi dan pemerahan

a) Masa laktasi
Sapi perah betina sudah bisa beranak setelah 2,5 tahun. Setelah melahirkan anaknya,
sapi bisa diperah selama 10 bulan. Di masa-masa awal, sekitar satu minggu setelah
melahirkan susu yang dihasilkan berwarna kekuningan dan agak kental. Susu ini disebut
kolostrum yang banyak mengandung gizi. Kolostrum biasanya diberikan kepada bayi sapi.

b) Pemerahan
Pemerahan susu biasa dilakukan sebanyak 2 kali dalam sehari. Masing-masing proses
pemerahan berlangsung selama 5-7 menit saja. Ada bebrapa hal yang harus diperhatikan
dalam memerah susu, antara lain:
 Kandang dan peralatan perah harus benar-benar bersih.
 sapi harus dibersihkan terlebih dahulu, tidak ada kotoran yang menempel pada bagian
belakang sapi.
 susunya pun harus dalam keadaan bersih, karena susu mudah meyerap bau-bauan.
 susu dicuci terleih dahulu dengan air hangat, untuk meminimalkan pencemaran oleh bakteri.
6. Perawatan lainnya

 Beberapa perawatan rutin yang harus dilakukan dalam ternak sapi:


 Pemberian vaksin dan obat cacing.
 kandang dari kotoran selama 1-2 kali sehari.
 dimandikan setiap hari agar senantiasa bersih.
 KENDALA KENDALA YANG TERDAPAT DALAM TERNAK SAPI PERAH
1) Hama, faktor kendala yang berasal dari luar sapi perah. Seperti : manusia
2) Lokasi, susahnya mencari tempat ternak sapi perah karena lokasi untuk ternak sapi perah
membutuhkan lokasi yang luas dengan banyaknya pakan hijau dan jauh dari pemukiman
warga.
3) Pakan, kurangnya ketersediaan pakan hijau-hijauan untuk sapi perah.
4) Iklim dan Suhu, Indonesia adalah negara beriklim tropis hingga suatu saat iklim akan
dapat membubung dengan tinggi, jika hal ini sering terjadi tentu saja tidak akan
sesuai/cocok dengan kehidupan sapi perah.
5) Penyakit, faktor kendala yang dapat menurunkan produktivitas, biasanya disebabkan oleh
virus
6) Pencurian Ternak, kurang penjagaan di lokasi peternakan oleh peternak dan jauhnya
kandang dari pemukiman warga sehingga pencuri menjadi lebih mudah.

 UPAYA UPAYA YANG HARUS DILAKUKAN DAN CARA UNTUK


MENGATASI KENDALA DALAM TERNAK SAPI PERAH
1) Hama
Upaya yang harus dilakukan yaitu dengan menjaga kebersihan manusia serta lokasi
ternak
2) Lokasi
Upaya yang harus dilakukan yaitu memilih lokasi yang jauh dari pemukiman warga
agar tidak mengganggu, memilih lokasi yang berada disekitar rerumputan.
3) Pakan
Upaya yang harus dilakukan yaitu peternak dapat mengganti makanan ternak dengan
daun pisang. Selain itu, peternak juga dapat memanfaatkan teknologi fermentasi
pakan sapi baik itu hay, silase, ataupun produk-produk lainnya. Hasil fermentasi juga
dapat disimpan untuk jangka waktu yang cukup lama.
4) Iklim dan Suhu
Upaya yang harus dilakukan yaitu membuat model kandang setengah terbuka atau
bahkan tertutup sehingga sinar matahari sulit masuk ke dalam kandang.
5) Penyakit
 Antraks
Penyebab : bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan
atau minuman atau pernapasan.

Gejala :
1. Demam tinggi, badan lemah dan gemetar
2. Gangguan pernapasan
3. Pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul
4. Kadang kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung,
telinga, mulut, anus, dan vagina
5. Kotoran ternak cair dan sering bercampur darah
6. Limpa bengkak dan berwarna kehitaman.

Penanganannya: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang


terinfeksi, serta mengubur atau membakar sapi yang mati
 Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit apthae epizootica (AE)
Penyebab : virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air
susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE

Gejala :
1. Rongga mulut,lidah, dan telpak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan
bulat berisi cairan yang bening
2. Demam atau panas, suhu badan menurun drastis
3. Nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali
4. Air liur keluar berlebihan

Penanganan : vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah

 Penyakit ngorok atau mendekur atau penyakit septichaema epizootica


(SE)
Penyebab : Bakteri pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan
minuman yang tercemar bakteri

Gejala :
1. Kulit kepala dam selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan
kebiruan
2. Leher, anus, dan vulva membengkak
3. Paru paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna
merah tua
4. Demam dan sulit bernapas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam
keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12 – 36 jam.

Penanganan : Vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.

 Penyakit radang kuku atau kuku busuk (Food rot)


Penyakit ini menyerang sapi yang di pelihara dalam kandang yang basah dan
kotor.
Gejala :
1. Mula mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih
keruh
2. Kulit kuku mengelupas
3. Tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit
4. Sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh

Penanganan : Upaya pencegahan dan pengobatannya dilakukan dengan


memotong kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan revanol selama
30 menit yang di ulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang
yang bersih dan kering.

6) Pencurian Ternak
Upaya yang harus dilakukan yaitu memperketat penjagaan lokasi peternakan dan juga
dapat menerapkan piket sing dan malam dengan intensif

Anda mungkin juga menyukai