AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN 1
Pertemuan 4
Program StudiAkuntansi
FakultasEkonomi dan Bisnis
UniversitasUdayana
2021
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Likuidasi
Likuidasi adalah suatu keadaan dimana baik persekutuan maupun usaha perusahaannya
dibubarkan semua. Menurut The Uniform Of Partnership Act (UPA), undang-undang Persekutuan
di AS, pasal 31 menyebutkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu persekutuan
dibubarkan yang pada intinya dapat diklasifikasikan sebagai berikut (seperti yang dikutip oleh Arifin
(1997) dalam bukunya pokok-pokok akuntansi lanjutan) :
1. Sistem perkonomian masyarakat atau negara tidak mendukung adanya kegiatan usaha,
seperti adanya undang-undang pemerintah, sistem monopoli perusahaan besar dan
sebagainya, yang kesemuanya itu tidak memungkinkan lagi suatu persekutuan hidup.
2. Ada faktor-faktor ekstern yang berada diluar jangkauan manajemen perusahaan seperti
bencana alam, kecelakaan, kebakaran dan sejenisnya yang kesemuanya tidak memungkinkan
lagi suatu persekutuan mempertahankan hidupnya.
3. Adanya faktor-faktor intern di dalam persekutuan, seperti adanya perselisihan antar anggota,
kesalahan dalam manajemen, ketidakserasian dalam kerja dan sejenisnya yang kesemuanya
itu dapat berakibat tidak memungkinkan lagi suatu persekutuan dipertahankan hidupnya.
Perbedaan Likuidasi dengan Perubahan Persekutuan:
Likuidasi terjadi apabila semua sekutu mengundurkan diri dan persekutuan dibubarkan, serta
aktiva non-kasnya dijual. Perubahan persekutuan terjadi apabila:
1. Sekutu berkurang, hal ini terjadi bila seorang sekutu atau beberapa sekutu mengundurkan diri.
2. Sekutu bertambah, hal ini terjadi apabila ada seorang sekutu atau beberapa sekutu yang
masuk ke dalam persekutuan.
2.2 Proses likuidasi
Proses pembubaran usaha ini meliputi dua tahap, yaitu :
1. Proses mengubah harta kekayaan yang ada menjadi uang tunai, yang disebut dengan proses
realisasi ;
2. Proses pembayaran kembali utang – utang kepada para kreditur dan pembayaran
kembali sisa modal kepada para anggota, yang disebut juga dengan proses likuidasi.
2.3 Prosedur Likuidasi
Secara ringkas urutan (prosedur) dalam melikuidasi persekutuan adalah sebagai berikut :
1. Rekening –rekening pembukuan harus disesuaikan dan ditutup. Laba dan rugi bersih selama
periode terakhir diperhitungkan ke rekening modal masing – masing, sesudah itu
dikatakan persekutuan siap untuk dilikuidasi ;
2. Pada proses pengubahan aktiva menjadi uang tunai, apabila ada perbedaan antara nilai
buku dan nilai realisasi yang menunjukkan keuntungan atau kerugian harus dibagi di
antara anggota sesuai dengan perbandingan pembagian laba (rugi). Saldo modal
selanjutnya dipakai sebagai dasar penyelesaian.
3. Apabila dijumpai keadaan di mana salah seorang anggota mempunyai saldo debit di
dalam rekening modalnya, di lain pihak ia mempunyai piutang kepada persekutuan, maka
piutang kepada persekutuan itu dipakai untuk menutup saldo debit rekening modal yang
Di samping itu pada prinsipnya apabila seorang anggota mengalami defisit maka anggota
yang lain berkewajiban untuk menutupnya terlebih dahulu.
4. Apabila uang tunai sudah tersedia untuk dibagi, maka pertama-tama harus dibayarkan
terlebih dahulu kepada para kreditur extern, baru sesudah itu dibayarkan saldo –saldo
modal masing – masing anggota.
Likuidasi berlangsung setelah proses realisasi berakhir
Apabila semua anggota persekutuan mengalami deficit modal, maka secara pribadi dinyatakan
mampu untuk menutup kewajiban kewajibannya , maka penyelesaian dapat menenmpuh antara
lain:
1. Anggota anggota yang mengalami deficit modalnya menyetorkan sejumlah uang kepada
perusahaan untuk menutup deficit modal tersebut, tentunya pertama – tama harus di bayarkan
kepada kreditur bayarkan kepada anggota sebesar hak mereka masing masing
2. Pelunasan sisa hutang kepada kreditur oleh salah satu pemilik. Pelunasan hutnag ini boleh
dilakukan oleh anggota yang mengalami defisit saldo modalnya maupun oleh anggota yang
masih mempunyai hak klaim di dalam perusahaan, tetapi tetap harus mengutamakan hak
kreditur utuk melunasisemua hutang yang dimilki oleh persekutuan.
Apabila rugi realisasi aktiva lain lain sedemikian besarnya sehingga mengakibatkan jumlah uang
tunai tidak cukup untuk melunasi hutang trhadap kreditur, sedang anggotan persekutuan juga tidak
memiliki kemampuan yang sama utuk memenuhi kewajiban, maka perlu diadakan penyidikan
terhadap posisi hutang dan harta, karena ini menyangkut hak kreditur perusahaan dan hak kreditur
pribadi anggota, antara lain :
Beban Likuidasi
Proses likuidasi biasanya dimulai dengan menjadwalkan aset dan liabilitas persekutuan yang
telah diketahui. Nama dan alamat kreditor serta jumlah yang terutang dari masing – masing pihak
harus dicatat. Sebagaimana umumnya terjadi, kreditor yang belum terjadwal akan diketahui selama
proses likuidasi. Proses likuidasi juga melibatkan beberapa beban seperti biaya hukum dan
akuntansi tambahan. Persekutuan juga menanggung biaya pelepasan usaha, seperti biaya iklan
khusus dan biaya mencari agen penjual peralatan yang khusus. Beban ini dialokasikan ke akun
modal para sekut dalam rasio distribusi laba dan rugi.
Ilustrasi Likuidasi Sekaligus
Likuidasi yang dilakukan oleh Persekutuan ABC dengan para sekutu yang terdari dari Aldi,
Bayu dan Citra, pada 1 Mei 20X5, mereka menyesuaikan persentase distribusi laba rugi
berdasarkan besarnya peran masing – masing sekutu. Hasil penyesuaian distribusi laba rugi
tersebut adalah: Aldi 40%, Bayu 40%, dan Citra 40%. Berikut ringkasan neraca saldo pada tanggal
1 Mei 20X5.
Persekutuan ABC
Neraca Saldo
1 Mei 20X5
Kas Rp 10.000.000
Aset Nonkas 90.000.000
Liabilitas Rp 42.000.000
Modal, Aldi (40%) 34.000.000
Modal, Bayu (40%) 10.000.000
Modal, Citra (20%) 14.000.000
Total Rp 100.000.000 Rp 100.000.000
Persamaan dasar akuntansi, Aset – Liabilitas = Ekuitas Pemilik, dapat digunakan dalam
akuntansi persekutuan. Dalam kasus ini, ekuitas pemilik adalah jumlah akun modal sekutu sebagai
berikut:
Aset - Liabilitas = Ekuitas Pemilik
Rp 100.000.000 - Rp 42.000.000 = Rp 58.000.000
Tiga kasus berikut menunjukkan konsep likuidasi secara umum.:
1. Persekutuan Masih Solven dan Tidak Terdapat Defisit dalam Akun Modal Sekutu. Dalam kasus
ini, perhatikan bahwa tanda kurung digunakan untuk mengindikasikan jumlah kredit dalam
kertas kerja. Laporan ini berisi hanya akun-akun neraca tiap kolom. Dimana seluruh aset non
kas disajikan dalam satu akun. Pada saat unit usaha melakukan likuidasi hanya akun-akun
neraca yang merupakan akun relevan; sedangkan laporan laba rugi adalah untuk
kelangsungan usaha. Jadi, kertas kerja mencakup seluruh proses realisasi dan likuidasi serta
merupakan dasar ayat jurnal untuk mencatat proses likuidasi
2. Persekutuan Masih Solven dan Timbul Defisit pada Akun Modal Sekutu Defisit. modal dapat
terjadi kapan saja selama proses likuidasi. Defisit tersebut dapat dihilangkan melalui salah satu
dari dua cara : (1) para sekutu menginvestasikan kas atau aset lain untuk mengeliminasikan
deifisit modal. (2) defisit modal sekutu didistribusikan kepada suku lain berdasarkan rasio
pembagian laha dan rugi yang terjadi
3. Persekutuan Tidak Solven dan Defisit Timbul dalam Akun Modal Sekutu. Sebuah persekutuan
tidak solven jika kas yang ada dan kas yang dihasilkan dari Penjualan aset tidak cukup untuk
membayar kewajiban persekutuan.
1. Likuidasi Bertahap
Likuidasi bertahap (installment liquidation) merupakan likuidasi yang secara umum
memerlukan beberapa bulan dalam penyelesaiannya dan mencakup pembayaran periodik, atau
cicilan/bertahap kepada para sekutunya selama periode likuidasi. Likuidasi bertahap mencakup
distribusi kas ke para sekutu sebelum menyelesaiakan likuidasai aset yang terjadi. Pihak akuntan
secara khusus harus berhati-hati pada saat mendistribusikan kas, karena dapat saja terjadi suatu
peristiwa di masa mendatang yang mungkin mengubah jumlah yang harus dibayarkan kepada
masing-masing sekutu. Untuk alasan ini, panduan praktis berikut ini dapat digunakan untuk
membantu para akuntan dalam menentukan pembayaran angsuran yang aman kepada para
sekutu:
a) Tidak mendistribusikan uang tunai kepada para sekutu hingga seluruh liabilitas dan beban
likuidasi aktual maupun potensial telah dibayrakan dan telah dicadangkan seperlunya.
b) Antisipasi kemungkinan yang terburuk, atau lebih membatasi sebelum menetukan jumlah
angsuran tunai yang diterima oleh masing-masing sekutu.
1) Asumsikan bahwa seluruh aset nonkas yang tersisa akan dihapuskan sebagai kerugian,
yaitu bahwa tidak ada lagi yang dapat direalisasikan dari penghapusan aset.
2) Asumsikan bahwa defisit timbul pada akun modal para sekutu akan didistribusikan kepada
sekutu yang tersisa, asumsi bahwa defisit tersebut tidak akan dihapuskan oleh kontribusi
modal tambahan para sekutu.
c) Setelah akuntan mengasumsikan kasus terburuk yang dapat terjadi, maka sisa saldo kredit
pada akun modal menunjukkan distribusi kas yang aman yang dapat didistribusikan kepada
para sekutu dalam jumlah yang sesuai.
Untuk menentukan pembayaran kas yang aman yang hendak dilakukan kepada para sekutu,
pihak akuntan harus membuat beberapa asumsi mengenai likuidasi aset tersisa dimasa depan.
Sebelum melakukan distribusi kas kepada para sekutu, akuntan menyusun skedul pembayaran
aman kepada para sekutu dengan menggunakan asumsi kasusterburuk.
Skedul ini dimulai dengan saldo modal dan pinjaman secara logika menggunakan akun-akun
modal yang berasal dari persamaan akuntansi : Aset – Kewajiban = Saldo Modal Sekutu. Skedul
pembayaran aman kepada para sekutu ini mencakup seluruh informasi yang diperlukan agar para
sekutu mengetahui berapa besar kas yang akan diterima pada setiap tanggal distribusi kas.
Asumsi kasus terburuk berupa kerugian total atas aset nonkas dan beban likuidasi,
menimbulkan total pembebanan yang harus didistribusikan terhadap akun modal para sekutu. Jika
asumsi ini menghasilkan perkiraan defisit dalam akun modal salah satu sekutu,maka itu bukan
defisit aktual yang harus ditutup. Hal tersebut hanyalah hasil dari penerapan asumsi kasus
terburuk.
BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
Likuidasi adalah suatu keadaan dimana baik persekutuan maupun usaha perusahaannya
dibubarkan semua. Terdapat dua proses likuidasi yaitu realisasi dan likuidasi. Pada prosedur
likuidasi terdapat 4 tahap yaitu: rekening pembukuan harus disesuaikan dan ditutup, proses
pengubahan aktiva menjadi uang tunai, apabila dijumpai keadaan di mana salah seorang
anggota mempunyai saldo debit di dalam rekening modalnya, dan apabila uang tunai sudah
tersedia untuk dibagi. Metode likuidasi terbagi menjadi dua yaitu, likuidasi sekaligus dan likuidasi
bertahap. Likuidasi sekaligus adalah pembagian kas kepada sekutu hanya dilakukan sekali
setelah aktiva non kas berhasil direalisasi dan semua hutang dilunasi. Sedangkan likuidasi
bertahap adalah likuidasi yang memerlukan beberapa bulan untuk penyelesaiannya.
1.2. Rekomendasi
Likuidasi berkaitan erat dengan masalah finansial. Perusahaan yang dilikuidasi umumnya
memiliki likuiditas yang rendah. Artinya, perusahaan tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi
kewajiban jangka pendeknya. Sebab itu, perusahaan yang dinyatakan likuidasi cenderung memiliki
total kewajiban atau utang yang lebih besar dibandingkan dengan total asetnya. Selain itu,
perusahaan yang dilikuidasi juga cenderung tidak mampu menghasilkan aliran kas yang cukup.
Daftar Pustaka
Baker, Richard E., Lembke, Valdean C., King, Thomas E., Jeffrey, Cynthia G., Jusuf, Amir Abadi., NPS,
Sylvia Veronica., Wulandari, Etty Retno., Martani, Dwi., 2012. Akuntansi Keuangan Lanjutan Perspektif
Indonesia. Buku 1. Jakarta. Salemba Empat.
Baker, Richard E., Lembke, Valdean C., King, Thomas E., Jeffrey, Cynthia G., Jusuf, Amir Abadi., NPS,
Sylvia Veronica., Wulandari, Etty Retno., Martani, Dwi., 2012. Akuntansi Keuangan Lanjutan Perspektif
Indonesia. Buku 2. Jakarta. Salemba Empat
Kasus Likuidasi Sekaligus
Kasus Persekutuan Solven dan Tidak Ada Defisit dalam Akun Modal Sekutu
Aset nonkas dijual dengan harga Rp 80.000.000 pada tanggal 1 Mei 20X5 dengan kerugian sebesar
Rp 10.000.000. krediro persekutuan dibayar sebesar Rp 42.000.000 pada tanggal 20 Mei dan sisa kas
sebesar Rp 48.000.000 didistribusikan kepada para sekutu pada tanggal 30 Mei 20X5. Laporan
realisasi dan likuidasi Kasus 1 disajikan dalam Figur 16 -1.
Observasi penting sebagai berikut:
1. Saldo sebelum likuidasi diperoleh dari neraca saldo pada tanggal 1 Mei 20X5
2. Kerugian sebesaar Rp 10.000.000 didistribusikan langsung kepada akun modal para sekutu.
3. Kreditor, termasuk sekutu individu yang telah memberikan pinjaman kepada persekutuan,
dibayarkan sebelum kas didistribusikan kepada para sekutu.
4. Pembayaran kepada para sekutu dilakukan dengan saldo kredit modal.
5. Saldo pascalikuidasi sebesar nol, yang menandakan bahwa seluruh akun telah ditutup dan
persekutuan benar – benar telah dilikuidasi dan dihentikan sepenuhnya.
FIGUR 16 -1
Kasus 1. Persekutuan Solven; Tidak Terdapat Defisit dalam Akun Modal Sekutu
PERSEKUTUAN ABC
Laporan Realisasi dan Likuidasi Persekutuan
Likuidasi Sekaligus
Saldo Modal
Kas Aset Nonkas Liabilitas Aldi 40% Bayu 40% Citra 20%
Saldo sebelum likuidasi, 1 10.000.000 90.000.000 (42.000.000) (34.000.000) (10.000.000) (14.000.000)
Mei
Penjualan aset dan 80.000.000 (90.000.000) 4.000.000 4.000.000 2.000.000
distribusi kerugian
sebesar Rp 10.000.000
90.000.000 0 (42.000.000) (30.000.000) (6.000.000) (12.000.000)
Pembayaran untuk (42.000.000) 42.000.000
kreditor
48.000.000 0 0 (30.000.000) (6.000.000) (12.000.000)
Pembayaran lumsum (48.000.000) 30.000.000 6.000.000 12.000.000
kepada sekutu
Saldo pascalikuidasi 0 0 0 0 0 0
Laporan realisasi dan likuidasi persekutuan merupakan dasar untuk ayat jurnal yang mencatat proses
likuidasi sebagai berikut;
15 Mei 20X5
1) Kas 80.000.000
Modal, Adi 4.000.000
Modal, Bayu 4.000.000
Modal, Citra 2.000.000
Aset Nonkas 90.000.000
Realisasi seluruh aset nonkas persekutuan ABC dan distribusi
Kerugian sebesar Rp 10.000.000 dengan menggunakan rasio laba dan rugi
20 Mei 20X5
2) Liabilitas 42.000.000
Kas 42.000.000
Pembayaran kepada kreditor
30 Mei 20X5
3) Modal, Aldi 30.000.000
Modal, Bayu 6.000.000
Modal, Citra 12.000.000
Kas 48.000.000
Pembayaran sekaligus kepada para sekutu
Kasus Likuidasi Bertahap
Ilustrasi yang digunakan dalam likuidasi lumsum dari persekutuan ABC sekarang juga digunakan
untuk mengilustrasikan likuidasi secara bertahap/berangsur. Aldi, Bayu dan Citra memutuskan untuk
melakukan likuidasi terhadap usaha mereka selama beberapa periode waktu dan menerima distribusi
kas yang tersedia secara bertahap selama proses likuidasi.
Ringkasan neraca saldo persekutuan ABC per tanggal 1 Mei 20X5, pada saat para sekutu
memutuskan untuk melikuidasi usahanya, yaitu sebagai berikut :
Persekutan ABC
Neraca Saldo 1
Mei 20X5
Kas Rp 10.000.000
Aset Nonkas 90.000.000
Liabilitas Rp 42.000.000
Modal, Aldi (40%) 34.000.000
Modal, Bayu (40%) 10.000.000
Modal, Citra (20%) 14.000.000
Total Rp Rp
100.000.000
100.000.000
Berikut ini penjelasan mengenai kasus tersebut :
1. Laporan kekayaan bersih para sekutu pada tanggal 1 Mei 20X5 adalah sebgai berikut :
Aldi Bayu Citra
Aset Pribadi Rp 150.000.000 Rp 12.000.000 Rp 42.000.000
Liabilitas Pribadi (86.000.000) (16.000.000)
Kekayaan bersih Rp 64.000.000 Rp (4.000.000) (14.000.000)
(defisit) Rp 28.000.000
Bayu secara pribadi insolven, sedangkan Aldi dan Citra masih solven
2. Aset Nonkas yang dijual sebagai berikut :
Tanggal Nilai Buku Proceed Kerugian
5/15/X5 Rp 55.000.000 Rp 45.000.000 Rp 10.000.000
6/15/x5 30.000.000 15.000.000 15.000.000
7/15/x5 5.000.000 5.000.000
[Link] aka dibayar sebesar Rp 42.000.000 pada tanggal 20 Mei.
[Link] sekutu sepakat untuk mengelola cadangan kas sebesar Rp 10.000.000 selama proses likuidasi
yang digunakan untuk membayar beban likuidasi.
[Link] sekutu bersepakat untuk mndistribusikan kas yang tersedia pada akhir setiap bulan, yaitu
likuidasi bertahap akan dilakuka pada tanggal 31 Mei dan 30 Juni. Distribusi kas final kepada para
sekutu akan dilakukan pada tanggal 31 Juli 20X5, akhir proses likuidasi.
Laporan Realisasi dan Likuidasi Persekutuan
Likuidasi Bertahap
Kas Aset Nonkas Liabilitas Saldo
Modal
Aldi, 40% Bayu, 40% Citra, 20%
Saldo sebelum likuidasi, 1 Mei 20X5 10.000.000 90.000.000 (42.000.000 (34.000.000) (10.000.000) (14.000.000)
)
Penjualan aset dan distribusi kerugian sebesar Rp
45.000.000 (55.000.000) 4.000.000 4.000.000 2.000.000
10.000.000
55.000.000 35.000.000 (42.000.000 (30.000.000) (6.000.000) (12.000.000)
)
Pembayaran kepada kreditor (42.000.000)
42.000.000
13.000.000 35.000.000 0 (30.000.000) (6.000.000) (12.000.000)
Pembayaran kepada sekutu, skedul 1 (3.000.000) 3.000.000
10.000.000 35.000.000 0 (27.000.000) (6.000.000) (12.000.000)
Juni 20X5:
15.000.000 (30.000.000) 6.000.000 6.000.000 3.000.000
Penjualan aset dan distribusi kerugian sebesar Rp
15.000.000
25.000.000 5.000.000 0 (21.00.000) 0 (9.000.000)
Pembayaran kepada sekutu, skedul 2
(15.000.000) 11.000.000 4.000.000
10.000.000 5.000.000 0 (10.000.000) (5.000.000)
Juli 20X5:
Penjualan aset sebesar nilai buku
5.000.000 (5.000.000)
15.000.000 0 0 (10.000.000) (5.000.000)
Pembayaran biaya likuidasi sebesar Rp 7.500.000
Pembayaran biaya likuidasi sebesar Rp 7.500.000
(7.500.000) 3.000.000 3.000.000 1.500.000
Distribusi sekutu yang insolven: 7.500.000 0 0 (7.000.000) 3.000.000 (3.500.000)
2.000.000 1.000.000
Pembayaran untuk sekutu 7.500.000 0 0 (5.000.000) (2.500.000)
(7.500.000) 5.000.000 2.500.000
Saldo pascalikuidasi, 31 Juli 0 0 0 0 0 0