RINGKASAN MATA KULIAH ( PENGAUDITAN 1)
“Tanggung Jawab Internal Auditor dan Eksternal Auditor”
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
PERIODE 2021
I. Tanggung Jawab Internal Auditor
Audit Internal adalah pelaksana audit atau auditor yang menjalankan tugas di dalam
perusahaan untuk mengetahui sejauh mana prosedur dan kebijakan yang telah dibentuk
sebelumnya dipatuhi, menetapkan apakah pengelolaan akan aset organisasi atau perusahaan
sudah dilaksanakan dengan baik, menetapkan seberapa efektif dan efisien dari prosedur kegiatan
organisasi atau perusahaan, serta menilai keefektivitasan informasi yang diproduksi oleh tiap unit
di dalam organisasi atau perusahaan (Mulyadi: 2002).
Auditor bertanggung jawab dalam mendeteksi dan melaporkan kecurangan dan tindakan
melawan hukum lainnya, memperbaiki keefektifan audit, yaitu perbaikan dalam pendeteksian
salah saji material, mengkomunikasikan pada pemakai laporan keuangan, informasi yang lebih
berguna tentang sifat dan hasil proses audit. Dalam aktivitas internal audit berusaha melakukan
analisis dan memberikan berbagai saran dan penilaian. Proses pemeriksaan audit meliputi
pengawasan yang efektif dengan cost yang normal. Dibawah ini uraian tentang Tugas dan
tanggung jawab auditor internal yaitu :
A. Mencari informasi awal terkait bagian yang akan diaudit (auditee)
Salah satu hal penting yang harus dikuasai auditor adalah pengetahuan yang cukup
tentang auditee. Pengetahuan yang dimaksud di sini mencakup cara kerja, prosedural,
hierarki jabatan, dan catatan mutu atau laporan yang selama ini digunakan dalam
kegiatan sehari-hari.
B. Melakukan tinjauan dokumen dan persyaratan lain yang berkaitan dengan auditee
Memeriksa dokumen dan persyaratan lain untuk kemudian dicatat hal-hal yang
bersifat critical merupakan faktor penting kesuksesaan audit, Dengan meninjau dokumen
auditee, auditor akan mengetahui proses-proses penting yang perlu ditelusuri lebih jauh.
C. Mempersiapkan program audit tahunan dan jadwal pelaksanaan audit secara
terperinci
Semua kegiatan audit internal harus direncanakan dari awal dan diinformasikan
kepada seluruh auditee. Karena, tujuan audit internal bukan untuk mencari-cari
kesalahan, akan tetapi untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan.
D. Membuat daftar pertanyaan audit (audit checklist)
Audit Checklist dibuat untuk mempermudah auditor mengingat hal-hal penting yang
perlu ditanyakan. Selain itu, audit checklist juga dapat dijadikan pedoman oleh auditee
untuk mempersiapkan diri sebelum diaudit.
E. Melaksanakan pemeriksaan sistem secara menyeluruh
Dalam pelaksanaan audit, seorang auditor harus jeli dan telaten dalam memeriksa
area auditee. Auditor tidak boleh hanya berpaku pada audit checklist dan standar, tapi
lebih dari itu, auditor dapat memeriksa lingkungan kerja auditee, komitmen dan
kesungguhan mereka dalam memperbaiki sistem.
F. Mengumpulkan dan menganalisis bukti audit yang cukup dan relevan
Semua masalah atau temuan yang ditemukan selama proses audit harus didukung
dengan bukti yang cukup. Artinya, auditor tidak boleh gegabah dalam melaporkan
temuan. Harus ada bukti kuat bahwa auditee melakukan kesalahan.
G. Melaporkan temuan audit atau masalah-masalah yang ditemukan selama audit
internal
Auditor harus menerbitkan laporan temuan audit internal untuk ditindaklanjuti oleh
auditee. Auditee harus diberi tenggang waktu tertentu agar proses perbaikan tidak
dibiarkan berlarut-larut.
H. Memantau tindak lanjut hasil audit internal sampai dinyatakan selesai.
Untuk memastikan seluruh temuan telah diperbaiki, maka auditor internal harus
memeriksa tindakan yang sudah dilakukan setelah melewati tenggang waktu perbaikan
yang diberikan.
Dalam melaksanakan tugasnya, Unit Audit Internal mengacu kepada Piagam Unit Audit
Internal ditetapkan berdasarkan Keputusan Dewan Komisaris tanggal 15 Agustus 2011. Struktur
isi dari Piagam Unit Audit Internal tersebut, sebagai berikut:
A. Maksud dan tujuan
B. Ruang lingkup kegiatan
C. Struktur dan keanggotaan
D. Persyaratan auditor internal
E. Tugas dan tanggung jawab
F. Wewenang
G. Kemandirian dan fungsional
H. Penetapan dan pembaharuan piagam
Adapun beberapa hal yang harus dan jangan dilakukan oleh seorang auditor, diantaranya:
i. Kualitas auditor internal yang diharapkan:
a. Independen, Tidak memihak auditee.
b. Pendengar dan pengamat yang baik.
c. Pencatat yang baik.
d. Komunikatif dan bijaksana, tidak menyinggung perasaan auditee.
e. Memiliki pemahaman tentang audit dan auditee yang cukup.
ii. Kualitas auditor internal yang tidak diharapkan:
a. Mudah diarahkan auditee.
b. Tidak mempersiapkan diri.
c. Tidak konsisten, tidak tegas dalam menyatakan suatu proses bermasalah atau tidak
yang disebabkan minimnya pemahaman.
d. Terlalu agresif, menampakkan kesenangan bila menemukan temuan.
e. Cenderung menggunakan pendapat pribadi.
f. Tidak teliti mencatat dan menyimpan catatan.
II. Profesi Internal Auditor
Internal audit adalah suatu fungsi penelitian yang bebas dibentuk dalam suatu organisasi
untuk memeriksa dan menilai kegiatan perusahaan sebagai jasa sebagai organisasi tersebut. The
Institute of Internal Auditors (IIA) sendiri mendefinisikan fungsi dari audit internal adalah
sebagai suatu kegiatan penilaian dan konsultasi yang independen dalam suatu organisasi, yang
dirancang untuk memberikan nilai tambah terhadap peningkatan operasional perusahaan melalui
pendekatan yang sistematis. Pedoman professional bagi auditor internal dibuat oleh institute of
internal auditor (IIA) yang menetapkan standard etika dan praktik, memberikan pendidikan, dan
mendorong profesionalisme bagian aggotanya di seluruh dunia.
A. Standar Profesi Internal Auditor
Standar Profesi Internal Auditor merupakan ketentuan yang harus dipenuhi untuk
menjaga kualitas kinerja Internal Auditor dan hasil audit. Standar audit sangat
menekankan kualitas profesional auditor serta cara auditor mengambil pertimbangan dan
keputusan sewaktu melakukan pemeriksaan dan pelaporan. Hasil audit yang memenuhi
standar akan sangat membantu pelaksanaan tugas Board of directions (BOD, Board of
Commissioner dan Unit Bisnis serta Unit kerja yang diaudit.
Hasil kerja Internal Auditor sangat bermanfaat bagi Pimpinan dan Unit Kerja
untuk meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Hasil audit akan
dapat dipakai dengan penuh keyakinan, jika pemakai jasa mengetahui dan
mengakui tingkat profesionalisme Internal Auditor. sehingga diperlukan syarat
yang diberlakukan dan dipatuhi oleh Internal Auditor sebagai standar perilaku
yang menuntut disiplin diri Internal Auditor.
Standar profesi internal auditor memiliki beberapa tujuan, seperti:
a. Memberikan kerangka dasar yang konsisten dalam mengevaluasi kegiatan dan kinerja
unit internal audit maupun individu auditor.
b. Sebagai sarana bagi perusahaan dalam memahami peran, ruang lingkup, dan tujuan
internal audit.
c. Mendorong peningkatan praktik audit internal dalam organisasi.
d. Memberikan kerangka untuk melaksanakan dan mengembangkan kegiatan internal
audit dalam meningkatkan kinerja kegiatan organisasi.
e. Menggambarkan prinsip-prinsip dasar praktik audit internal yang seharusnya.
Standar profesi internal auditor juga dibagi menjadi 3, yaitu:
a. Standar atribut
Berkenaan dengan karakteristik organisasi, individu, dan pihak- pihak yang
melakukan kegiatan audit internal.
i. Tujuan, Kewenangan, dan Tanggung jawab
Tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab fungsi audit internal harus dinyatakan
secara formal dalam Charter Audit Internal, konsisten dengan Standar Profesi Audit
Internal (SPAI), dan mendapat persetujuan dari Pimpinan dan Dewan Pengawas
Organisasi.
ii. Independensi dan Objektivitas
Fungsi audit internal harus independen, dan auditor internal harus objektif dalam
melaksanakan pekerjaannya. Independensi dan objektifitas dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Independensi Organisasi
Independensi akan meningkat jika fungsi audit internal memiliki akses
komunikasi yang memadai terhadap Pimpinan dan Dewan Pengawas Organisasi.
2. Objektivitas Auditor Internal
Auditor internal harus memiliki sikap mental yang objektif, tidak memihak dan
menghindari kemungkinan timbulnya pertentangan kepentingan (conflict of interest).
3. Kendala terhadap Prinsip Independensi dan Objektivitas
Jika prinsip independensi dan objektivitas tidak dapat dicapai baik secara fakta
maupun dalam kesan, hal ini harus diungkapkan kepada pihak yang berwenang.
iii. Keahlian dan Kecermatan Profesional
Penugasan harus dilaksanakan dengan memerhatikan keahliann dan kecermatan
profesional.
1. Keahlian
Auditor internal harus memiliki pengetahuan, ketrampilan,dan kompetensi
lainnya yang dibutuhkan untukmelaksanakan tanggung jawab perorangan.
2. Kecermatan profesional
Auditor Internal harus menerapkan kecermatan dan ketrampilan yang
layaknya dilakukan oleh seorang auditor internal yang prudent dan kompeten.
b. Standar Kinerja
Menjelaskan sifat dari kegiatan audit internal dan merupakan ukuran kualitas
pekerjaan audit. Standar Kinerja memberikan praktik-praktik terbaik pelaksanaan audit
mulai dari perencanaan sampai dengan pemantauan tindak lanjut. Standar Atribut dan
Standar Kinerja berlaku untuk semua jenis penugasan audit internal.
c. Standar Implementasi
Hanya berlaku untuk satu penugasan. Standar Implementasi yang akan diterbitkan
dimasa mendatang, yaitu:
1. Standar implementasi untuk kegiatan assurance (A)
2. Standar implementasi untuk kegiatan consulting (C)
3. Standar implementasi kegiatan investigasi (I)
4. Standar implementasi Control Self Assessment (CSA)
B. Kode Etik Profesi Audtior Internal
Sebagai sebuah profesi, auditor internal telah memiliki asosiasi profesi yang diakui
secara luas keberadaannya yaitu The Institute of Internal Auditors (IIA). Asosiasi inilah
yang berperan merumuskan kode etik profesi para auditor internal yang menjadi
anggotanya. Kode etik termasuk salah satu mandatory guidance dalam International
Professional Practices Framework IIA. Menurut IIA, kode etik merupakan prinsip-
prinsip dan harapan yang memandu perilaku individu dan organisasi dalam melaksanakan
kegiatan audit internal. Kode etik tersebut merupakan syarat dan harapan minimal.
Tujuan IIA mengatur kode etik adalah untuk mendorong terwujudnya budaya etis dalam
profesi audit internal.
Terdapat dua komponen pokok dalam kode etik IIA, yaitu prinsip-prinsip yang
relevan bagi profesi dan praktik audit internal dan aturan perilaku yang menjelaskan
norma dan perilaku yang diharapkan dari para auditor internal.
1. Prinsip-Prinsip Auditor Internal
Auditor diharapkan berperilaku dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip sebagai
berikut:
a. Integritas, Integritas akan membangun kepercayaan terhadap auditor internal
sehingga dapat memberikan dasar keyakinan atas penilaian yang dilakukannya.
b. Objektivitas. Auditor internal menunjukkan objektivitas profesional yang tinggi
dalam mengumpulkan, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi terkait
aktivitas dan proses yang sedang diperiksa.
c. Kerahasiaan. Auditor internal menghargai nilai dan kepemilikan informasi yang
mereka dapatkan dan tidak membuka informasi tersebut tanpa kewenangan yang
jelas kecuali terdapat kewajiban hukum atau profesional yang mengharuskan
untuk melakukannya.
d. Kompetensi. Auditor internal menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan
pengalaman yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas-tugas audit internal.
2. Aturan Perilaku Auditor Internal
a. Integritas:
1. Auditor internal harus melaksanakan pekerjaan secara jujur, hati-hati dan
bertanggung jawab.
2. Auditor internal harus mematuhi hukum dan membuat pengungkapan sesuai
ketentuan hukum atau profesi.
3. Auditor internal tidak boleh secara sadar terlibat dalam kegiatan ilegal, atau
melakukan kegiatan yang dapat mendiskreditkan profesi audit internal atau
organisasi.
4. Auditor internal harus menghormati dan mendukung tujuan organisasi yang
sah dan etis.
b. Objektivitas:
1. Auditor internal tidak boleh terlibat dalam kegiatan atau hubungan apapun
yang dapat, atau patut diduga dapat, menghalangi penilaian secara adil,
termasuk kegiatan atau hubungan apapun yang mengakibatkan timbulnya
pertentangan kepentingan dengan organisasi.
2. Auditor internal tidak boleh menerima apapun yang dapat, atau patut diduga
dapat, mengganggu pertimbangan profesionalnya.
3. Auditor internal harus mengungkapkan semua fakta material yang
diketahuinya, yang apabila tidak diungkapkan dapat mendistorsi laporan atas
kegiatan yang di-review.
c. Kerahasiaan:
1. Auditor internal harus berhati-hati dalam menggunakan dan menjaga
informasi yang diperoleh selama melaksanakan tugas.
2. Auditor internal tidak boleh menggunakan informasi untuk keuntungan
pribadi, atau untuk hal-hal yang bertentangan dengan hukum atau merugikan
tujuan organisasi yang sah dan etis.
d. Kompetensi:
1. Auditor internal hanya terlibat dalam pemberian layanan yang sesuai dengan
pengetahuan, keahlian dan pengalaman yang dimilikinya
2. Auditor internal harus memberikan layanan audit internal sesuai dengan
standar praktik profesional audit internal
3. Auditor internal harus senantiasa meningkatkan keahlian, efektivitas dan
kualitas layanannya secara berkelanjutan.
C. Hubungan Internal Auditor dengan Eksternal/Independent Auditor
Auditor internal dan auditor eksternal memiliki sasaran, tanggungjawab,
dankualifikasi yang berbeda, serta bertugas dalam aktivitas yang berbeda pula. Tetapi
merekamemiliki kepentingan bersama yang menuntut adanya koordinasi bakat
mereka untukkepentingan perusahaan.
Sasaran auditor internal adalah untuk menelaah efesiensi dan efektivitas operasi,
kepatuhan, serta kecukupan dan efektivitas kontrol internal di perusahaan secara
keseluruhan. Sedangkan, sasaran auditor eksternal adalah untuk menyatakan suatu opini
tentang kewajaran dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan.
Auditor internal memerhatikan seluruh aspek aktivitas perusahaan atau organisasi,
baik keuangan maupun nonkeuangan. Sedangkan, auditor eksternal memerhatikan aspek
keuangan perusahaan atau organisasi.
Tanggung jawab dan pelaksanaan audit oleh auditor internal dan eksternal sangat
berbeda dalam satu hal. Auditor internal bertanggung jawab kepada manajemen dan
dewan direksi, sementara auditor eksternal bertanggung jawab kepada pengguna laporan
keuangan yang mengandalkan kredibilitas laporan keuangan pada auditor. Namun,
auditor internal dan eksternal memiliki kesamaan, diantaranya:
a. Harus kompeten sebagai auditor dan tetap objektif dalam menjalankan pekerjaan dan
melaporkan hasilnya.
b. Menjalankan metodologi yang sama dalam menjalankan audit, termasuk merencanakan
dan menjalankan pengujian pengendalian dan pengujian substantive.
c. Mempertimbangkan risiko dan materialistis dalam memutuskan perluasan pengujian dan
mengevaluasi hasilnya. Keputusan mereka atas materialistis dan risiko mungkin berbeda
karena pengguna eksternal dapat memiliki perbedaan kebutuhan dengan manajemen atau
dewan direksi.