ANALISIS YURIDIS PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA JUDI
ONLINE MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN 2016
TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO. 18
TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI
ELEKTRONIK
OLEH
PARLINDUNGAN TWENTI
157005167/HK
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
Universitas Sumatera Utara
ANALISIS YURIDIS PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA JUDI
ONLINE MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN 2016
TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO. 18
TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI
ELEKTRONIK
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister
Hukum Dalam Program Studi Magister Ilmu Hukum Pada Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara
OLEH :
PARLINDUNGAN TWENTI
157005167/Ilmu Hukum
PROGRAM STUDI PASCA SARJANA ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
Universitas Sumatera Utara
JUDUL TESIS : ANALISIS YURIDIS PEMBUKTIAN TINDAK
PIDANA JUDI ONLINE MENURUT UNDANG-
UNDANG NO. 19 TAHUN 2016 TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO. 18
TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN
TRANSAKSI ELEKTRONIK
NAMA : PARLINDUNGAN TWENTI
NIM : 157005167
PROGRAM STUDI : Magister Ilmu Hukum
Menyetujui
Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, [Link])
Ketua
(Dr. Mahmud Mulyadi, S.H, [Link]) (Dr. Edi Yunara, SH, [Link])
Anggota Anggota
Ketua Program Studi Ilmu Hukum Dekan
(Prof. Dr. Sunarmi, SH, [Link]) (Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, [Link])
Lulus Tanggal: 26 Juli 2017
Universitas Sumatera Utara
Telah diuji pada
Tanggal : 26 Juli 2017
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, [Link]
Anggota : 1. Dr. Mahmud Mulyadi, S.H, [Link]
2. Dr. Edi Yunara, SH, [Link]
3. Dr. Mahmul Siregar, SH, [Link]
4. Dr. M. Ekaputra, SH, [Link]
Universitas Sumatera Utara
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : PARLINDUNGAN TWENTI
Nim : 157005167
Program Studi : Magister Ilmu Hukum
Judul Tesis : ANALISIS YURIDIS PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA JUDI
ONLINE MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN
2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG
NO. 18 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN
TRANSAKSI ELEKTRONIK
Dengan ini menyatakan bahwa tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri
bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui tesis saya tersebut Plagiat karena
kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi
Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan saya tidak
akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.
Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan
sehat.
Medan, Agustus 2017
Yang membuat Pernyataan
PARLINDUNGAN TWENTI
Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK
Munculnya tindak pidana judi online tentu sangat sulit dibuktikan karena
dapat dipastikan pihak penyidik tidak semua memiliki kemampuan dalam informasi
dan teknologi (IT). Hal tersebut berakibat sulit terungkapnya judi online yang terus
tumbuh berkembang di masyarakat. Judi online sekarang tidak hanya sebatas pada
situs yang memang benar-benar menyediakan judi online akan tetapi untuk
menyembunyikan jejak situs yang memang murni permainan bukan untuk judi juga
dijadikan sarana untuk memperlancar usaha judi online. Misalnya, permainan-
permainan kartu yang terdapat dalam facebook sering juga dijadikan atau digunakan
untuk judi online. Ini membawa kepada perlu dikaji mengenai pembuktian judi online
dikaitkan dengan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.
Perihal hambatan dalam pembuktian judi online yang dikaitkan dengan Undang-
Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun
2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.
Penelitian ini merupakan penelitian normatif, dan bersifat deskriptif analitis
yang memaparkan sekaligus menganalisis suatu fenomena yang berhubungan dengan
Pembuktian Tindak Pidana Judi Online Menurut Undang-Undang No. 19 Tahun 2016
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan
Transaksi Elektronik.
Hasil penelitian menunjukkan, perihal Pembuktian judi online dikaitkan
dengan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik ialah
dimana sistem pembuktian pidana Indonesia ialah negatief wettelijk dimana
mendasarkan diri pada alat bukti yang telah sah menurut undanh-undang dan
keyakinan hakim. Artinya, jika diakitkan dengan pembuktian judi online maka
keberadaannya harus menggunakan alat bukti yang dianggap sah menurut undang-
undang, yakni alat bukti elektronik dan yang tercantum pada Pasal 184 KUHAP.
Terkait dengan penilaian terhadap alat bukti merupakan kewenangan hakim karena
hukum acara pidana menurut juga pada keyakinan hakim pada sisi pembuktian.
Perihal Hambatan dalam pembuktian judi online yang dikaitkan dengan Undang-
Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun
2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik dapat dilihat melalui sistem
hukum baik melalui struktur hukum, substansi hukum dan budaya hukum.
Diharapkan baik pemerintah atau Kementerian Komunikasi dan Informatika
(mengajukan perumusan baru undang-undang alat bukti elektronik) dan lembaga
legislatif segera mengesahkan aturan yang disusun oleh Kementerian Komunikasi dan
Informatika agar mempermudah penegak hukum dalam pembuktian menggunakan
alat bukti eletronik sangat penting dan perlu dirumuskan regulasi pelaksanaannya.
Agar alat bukti elektronik dapat digunakan dengan maksimal dalam pembuktian dan
perumusan tindak pidana. Diharapkan agar hambatan dalam pembuktian judi online
Universitas Sumatera Utara
yang dikaitkan dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan
Transaksi Elektronik Jo Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan
Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi
Elektronik dapat teratasi maka penegak hukum baik polisi, jaksa dan hakim
melaksanakan beberapa upaya, sebagai berikut: melakukan perubahan terhadap
peraturan perundang-undangan, perlu dilakukan pelatihan terhadap penegak hukum
terkait alat bukti elektronik, dan pengembalian kepercayaan masyarakat.
Kata kunci : Tindak Pidana Judi Online, Pembuktian, Dan Alat bukti elektronik
Universitas Sumatera Utara
ABSTRACT
It is very difficult to prove the emergence of the criminal act i.e. online
gambling because not all investigators have skills in information and technology (IT).
Therefore, it is also difficult to discover online gambling which keeps growing in the
society. Nowadays, online gambling site is not presented as a site which actually
provides online gambling, but as a site provided for merely games which do not
gamble to hide the trace of the gambling site and to help the business run well. For
an example, the card games found on facebook page is frequently found to be used
for online gambling. This case has encouraged the need to study the prove
verification of online gambling related to the Law No. 19/2016 on the Amendments
on the Law No.11/2008 concerning Electronic Information and Transaction. As to the
obstacles in the verification of online gambling, it is related to the Law No. 19/2016
on the Amendments on the Law No. 11/2008 concerning Electronic Information and
Transaction.
This is a normative research with descriptive analysis which simultaneously
describes and analyzes a phenomenon related to the Verification of the Criminal Act
of Online Gambling in accordance with the Law No. 19/2016 on the Amendments on
the Law No. 11/2008 concerning Electronic Information and Transaction.
The results show that the verification of online gambling is related to the Law
No. 19/2016 on the Amendments on the Law No. 11/2008 concerning Electronic
Information and Transaction which explains that the criminal verification system of
Indonesia is negative law which grounds itself on legitimate evidence according to
the laws and judge’s faith. It means that, the existence of online gambling has to be
proved by evidence which is considered legitimate according to the law i.e. electronic
evidence and what the ones stated in Article 184 of (KUHAP) the Criminal
Procedure Law. Regarding the assessment of the evidence, it is the authority of the
judge because KUHAP complies with the judge’s faith for the verification side. The
obstacles in the verification of online gambling, it is related to the Law No. 19/2016
on the Amendments on the Law No. 11/2008 concerning Electronic Information and
Transaction can be seen through legal system through either the legal structure,
substance, or culture.
It is expected that either the government or the Ministry of Communication
and Information (proposing a new formulation of law on electronic evidence) and
legislative institution validate the regulations arranged by the ministry of
Communication and Informatics to facilitate the law enforcer to verify the electronic
evidence. The regulation of its implementation is also important to be formulated, so
that the electronic evidence can be maximally used to verify and formulate a criminal
act. It is expected that the obstacles in the verification of online gambling be related
to the Law No. 11/2008 on Electronic Information and Transaction in conjunction
with the Law No. 19/2016 on the Amendments on the Law No. 11/2008 concerning
Electronic Information and Transaction and be solved. The law enforcers such as
police, prosecutor and judge can make some efforts such as making amendments on
Universitas Sumatera Utara
the laws and regulations, conducting training for the law enforcer related to the
electronic evidence, and rebuilding people’s trust.
Keywords: Criminal Act of Online Gambling, Verification, and Electronic
Evidence
Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Puji Tuhan atas segala nikmat yang penulis dapatkan dari-NYA, karena berkat
kasih sayang-NYA tesis ini dapat diselesaikan dalam rangka memenuhi persyaratan
untuk mencapai gelar Magister dalam bidang hukum pada Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara. Adapun judul tesis penulis adalah “ANALISIS
YURIDIS PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA JUDI ONLINE MENURUT
UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS
UNDANG-UNDANG NO. 18 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN
TRANSAKSI ELEKTRONIK”.
Proses penyelesaian tesis ini bukanlah hal yang mudah bagi penulis. Dalam
proses penyelesaiannya penulis banyak memperoleh bantuan baik berupa pengajaran,
bimbingan dan arahan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak
langsung. Oleh karena itu pada kesempatan ini izinkanlah dengan kerendahan hati,
penulis menyampaikan penghargaan serta ucapan terima kasih yang tulus kepada
semua pihak yang telah turut memberikan bantuan kepada penulis sejak awal penulis
menjalankan perkuliahan hingga penyusunan tesis ini sampai pada penyelesaiannya.
Tidak ada kata-kata yang lebih berarti untuk dapat mengungkapkan rasa terima kasih
penulis, hanya Tuhan yang dapat membalasnya, Amin.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada yang
terhormat :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., [Link], selaku Rektor Universitas Sumatera
Utara.
Universitas Sumatera Utara
2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, [Link]., selaku Dekan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. Dr. Sunarmi, SH, [Link]., selaku Ketua Program Magister Ilmu
Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, [Link]., selaku Pembimbing Utama
yang dengan sepenuh hati telah memberikan arahan dan bimbingan, saran dan
dorongan kepada penulis.
5. Bapak Dr. Mahmud Mulyadi, SH, [Link]., selaku Pembimbing II yang telah
banyak memberikan bimbingan dan saran kepada penulis.
6. Bapak Dr. Edi Yunara, SH, [Link]., selaku Pembimbing III yang telah
banyak memberikan bimbingan dan saran kepada penulis.
7. Bapak Dr. Mahmul Siregar, SH, [Link]. (sekaligus teman sejawat pada saat
menempuh kuliah S1), dan Bapak Dr. M. Ekaputra, SH, [Link]., selaku
Dosen Penguji yang telah banyak memberikan masukan kepada penulis.
8. Para Guru Besar dan Staf Pengajar pada Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara Program Studi Ilmu Hukum.
9. Rekan-rekan seperjuangan pada Program Studi Ilmu Hukum Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan banyak
dukungan kepada penulis dalam rangka menyelesaikan studi S2 ini.
10. Para Staf Administrasi pada Program Studi Ilmu Hukum Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Universitas Sumatera Utara
Untuk Istriku tercinta Morina Herawati Sitompul dan anakku tersayang
Steven Nathanael Saragih yang selalu mendukung, meridhoi dan memotivasi penulis
dalam menyelesaikan studi S2 ini.
Semoga Tuhan Yesus Kristus senantiasa melimpahkan kasih sayang serta
pahala yang setimpal atas bantuan dan budi baik yang telah diberikan oleh bapak, ibu,
rekan-rekan dan seluruh keluarga yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
tesis ini, amin.
Akhirnya, penulis berharap semoga penelitian ini berguna bagi pengembangan
ilmu pengetahuan khususnya ilmu hukum. Terima Kasih.
Medan, Agustus 2017
Penulis,
PARLINDUNGAN TWENTI
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
1. Data Pribadi
Nama : Parlindungan Twenti O.A. Saragih
Tempat/tanggal Lahir : Medan, 20 Oktober 1979
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Status : Menikah
Pekerjaan : Pengawai Negeri Sipil (Jaksa)
2. Keluarga
Nama Orangtua
Ayah : Amel Saragih, SH
Ibu : (Almh) Dorkas Aritonang
Nama Istri : Morina Herawati Sitompul
Nama Anak : Steven Nathanael Saragih
3. Pendidikan
a. SD Kristen 3 Medan Lulus Tahun 1991
b. SMP St. Thomas 1 Medan Lulus Tahun 1994
c. SMA St. Thomas 2 Medan Lulus Tahun 1997
d. Strata Satu (S1) Fakultas Hukum Universitas
HKBP Nomensen Lulus Tahun 2002
e. Strata Dua (S2) Program Studi Magister
Ilmu Hukum USU Lulus Tahun 2017
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR ISI
ABTRAK......................................................................................................................v
ABSTRACT.................................................................................................................vii
KATA PENGANTAR................................................................................................ix
RIWAYAT HIDUP...................................................................................................xii
DAFTAR ISI.............................................................................................................xiii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………………………...1
B. Rumusan Masalah..............................................................................................5
C. Tujuan Penelitian...............................................................................................6
D. Manfaat Penelitian............................................................................................6
E. Keaslian Penelitian............................................................................................7
F. Kerangka Teori Dan Konsepsi..........................................................................9
1. Kerangka Teori............................................................................................9
2. Konsepsi....................................................................................................14
G. Metode Penelitian............................................................................................16
1. Jenis Dan Sifat Penelitian....……………………………………………..16
2. Sumber Data………..................................................................................17
3. Teknik Pengumpulan Data........................................................................19
4. Metode Analisis Data………....................................................................19
Universitas Sumatera Utara
BAB II PEMBUKTIAN JUDI ONLINE DIKAITKAN DENGAN UNDANG-
UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN
ATAS UNDANG-UNDANG NO. 11 TAHUN 2008 TENTANG
INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK
A. Pembuktian Dalam Hukum Acara Pidana.......................................................21
1. Alat Bukti Dalam Hukum Acara Pidana......................................................21
B. Pembuktian Judi Online Dikaitkan Dengan Undang-
Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.................32
1. Tindak Pidana Teknologi Informasi (Cybercrime)……………………32
2. Pengaturan Tindak Pidana Judi Di Indonesia........................................54
3. Pembuktian Judi Online Dikaitkan Dengan Undang-Undang No.
19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11
Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik....................65
BAB III HAMBATAN DALAM PEMBUKTIAN JUDI ONLINE YANG
DIKAITKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN 2016
TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO. 11
TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI
ELEKTRONIK
A. Hambatan Dalam Pembuktian Judi Online Yang Dikaitkan Dengan
Undang-Undang No. 19 Tahun 2016
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008....................84
B. Upaya Yang Dapat Dilakukan Untuk Mengatasi Hambatan
Dalam Pembuktian Judi Online Yang Dikaitkan Dengan
Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang
Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008..................................93
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan………………………………………………………………......97
B. Saran…………………………………………………………………………98
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR PUSTAKA..……………………………………………………………..99
Universitas Sumatera Utara
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia secara menyeluruh telah memasuki atau terangkum bersama ke dalam
dunia cyber atau dunia maya. 1 Segala jenis informasi dapat diakses melalui dunia
maya lewat jaringan internet. Banyak terjadi perubahan yang ditimbulkan oleh
kemajuan yang disebabkan oleh dunia maya mulai dari yang berbau positif sampai
pada yang berbau negatif.
Perubahan positif yang tampak begitu cepat salah satunya ialah kemudahan
komunikasi dimana sebelumnya harus melalui telepon, saling mengirim surat atau
chatting melalui komputer dan lain sebagainya, namun sekarang cukup melalui
handphone dengan menggunakan kuota internet komunikasi dapat terjalin dengan
seluruh kolega yang berada ditempat jauh sekalipun. Perubahan negatif yang
ditimbulkan oleh perkembangan dunia maya diantaranya ialah munculnya kejahatan-
kejahatan yang sebelumnya bersifat konvensional menjadi kejahatan cyber. Salah
satu kejahatan yang bersifat konvensional menjadi golongan kejahatan cyber ialah
tindak pidana judi online. 2 Tindak pidana judi online awalnya terjadi pada tahun 1994
1
Implementasi dari perkembangan dunia maya ialah gelombang informasi yang berkecepatan
tinggi dimana hal tersebut terjadi juga disebabkan karena pengaruh globalisasi. Globalisasi menurut
pandangan sebagian orang ialah meienyapkan dinding dan jarak antara satu bangsa dan bangsa lain,
dan antara satu kebudayaan dan kebudayaan lain. Sehingga semuanya menjadi dekat dengan
kebudayaan dunia, pasar dunia dan keluarga dunia. Lihat M. Solly Lubis, Serba-Serbi Politik Hukum,
Edisi 2, (Medan: PT. Sofmedia, 2011), hal. 221-226 dan M. Yahya Harahap, Beberapa Tinjauan
Tentang Permasalahan Hukum, Buku Kesatu, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1997), hal. 274
2
kejahatan dunia maya adalah jenis kejahatan yang berkaitan dengan pemanfaatan sebuah
teknologi informasi tanpa batas serta memiliki karakteristik yang kuat dengan sebuah rekayasa
Universitas Sumatera Utara
negara Antigua dan Barbuda di Karibia yang meloloskan undang-undang kebebasan
berdagang dan mengolah, yang kemudian membuat perizininan kepada organisasi-
organisasi untuk membangun membuka kasino online menjadi mudah. Sebelum
kasino online, software perjudian pertama yang dapat berfungsi secara penuh
diproduksi oleh perusahaan software asal Pulau Mann bernama microgaming.
Penggunaan software itu kemudian dijamin keamanannya oleh sebuah perusahaan
keamanan untuk software bernama Cryptologic. Dengan adanya langkah tersebut
transaksi perjudian via internet dapat dilakukan secara aman dan menjadi cikal bakal
kasino online pertama di tahun 1994. 3
Pada tahun 1996 dibentuklah Komisaris Perjudian Kahnawake yang tugasnya
mengatur aktivitas perjudian online dari daerah Kahnawake dan menerbitkan lisensi
perjudian online kepada kasino dan poker online di seluruh dunia. Ini adalah upaya
agar kegiatan operasional dari organisasi judi online tetap adil dan transparan.
Pada akhir tahun sembilan puluhan judi jenis ini mulai mendapatkan popularitas.
Jumlah situs perjudian online meningkat dari yang tadinya hanya 15 (lima belas)
website di tahun 1996 menjadi 200 (dua ratus) website di tahun 1997. Sebuah
reportasi yang diterbitkan oleh Frost & Sullivan mengungkapkan bahwa pada tahun
1998 saja pemasukan dari bisnis judi online telah melewati angka 830 (delapan ratus
tiga puluh) juta dollar Amerika. Pada tahun yang sama jenis judi online, seperti poker
teknologi yang mengandalkan kepada tingkat keamanan yang tinggi dan kredibilitas dari sebuah
informasi yang disampaikan dan diakses oleh pelanggan internet. Irfan & Masyrofah, Penanggulangan
Cyber Crime, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), hal. 185
3
Anonim, Judi Online, [Link] diakses 9 Februari 2017
Universitas Sumatera Utara
online juga diperkenalkan kepada dunia. Tak lama setelah itu pada tahun 1999, judi
online dengan metode multiplayer mulai masuk ke pasaran; teknologi ini
memungkinkan orang untuk berjudi, mengobrol dan berinteraksi dengan pengguna
lain melalui sistem intreraktif. 4
Di Indonesia judi merupakan kejahatan atau tindak pidana sehingga setiap
yang terlibat didalamnya akan dikenakan sanksi pidana. Pasal yang mengatur judi
ialah Pasal 303 bis ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), berbunyi:
“Diancam dengan kurungan paling lama empat tahun atau denda paling banyak
sepuluh juta rupiah:
ke-1 barangsiapa menggunakan kesempatan untuk main judi, yang diadakan
dengan melanggar ketentuan – ketentuan tersebut pasal 303;
ke-2 barangsiapa ikut serta permainan judi yang diadakan di jalan umum atau di
pinggirnya maupun di tempat yang dapat dimasuki oleh khalayak umum,
kecuali jika untuk mengadakan itu, ada izin dari penguasa yang berwenang.”
Selanjutnya, jika seseorang melakukan atau terlibat judi online maka pasal
yang dikenakan tidak mengacu pada KUHP akan tetapi mengacu pada Pasal 27
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik,
berbunyi:
”Setiap orang sengaja dan tanpa hak mendistribusikan, mentransmisikan, atau
membuat dapat diaksesnya Informasi atau Dokumen Elektronik yang memiliki
muatan perjudian”.
Judi online di Indonesia sudah beberapa kali terungkap dimana nilai
penghasilan yang diperoleh dari tindak pidana judi online cukup besar yang mana
akan diuraikan sebagai berikut:
4
Ibid
Universitas Sumatera Utara
1. DH seorang pemilik situs judi online yang berpusat di Jawa Timur, yakni website
yang beralamat [Link] memiliki keuntungan sebesar Rp. 2 (dua) miliyar
per hari. Judi yang ditawarkan melaluisitus tersebut ialah judi bola, togel, poker
dan lain sebagainya. 5
2. Di Jakarta terungkap judi online dimana pengelola memperoleh keuntungan
sampai omset 60 (enam puluh) juta perhari dengan berkedok pembukaan warnet. 6
Pada hakikatnya dalam tindak pidana judi yang memperoleh keuntunngan
baik konvesional maupun online ialah pengelola. Hal demikian dapat dilihat dari
kasus judi online di atas yang terungkap, yang terjadi pada pemain judi secara khusus
judi online ialah menimbulkan ketergantungan dan menimbulkan kerugian dalam segi
materil dan immateril tidak saja bagi para pemain tetapi juga keluarga mereka.
Munculnya tindak pidana judi online tentu sangat sulit dibuktikan karena
dapat dipastikan pihak penyidik tidak semua memiliki kemampuan dalam informasi
dan teknologi (IT). Hal tersebut berakibat sulit terungkapnya judi online yang terus
tumbuh berkembang di masyarakat. Judi online sekarang tidak hanya sebatas pada
situs yang memang benar-benar menyediakan judi online akan tetapi untuk
menyembunyikan jejak situs yang memang murni permainan bukan untuk judi juga
dijadikan sarana untuk memperlancar usaha judi online. Misalnya, permainan-
5
Anonim, Terungkap Judi Online Berpenghasilan Rp 2 Miliyar Per Hari,
[Link]
berpenghasilan-rp-2-miliar-per-hari, diakses 9 Februari 2017
6
Anonim, Terungkap Judi Online Dengan Omset Rp. 60 Juta Per Hari,
[Link]/play2017/01/21/1/88848/terungkap-judi-online-dengan-omset-rp60-juta-per-hari,
diakses 9 Februari 2017
Universitas Sumatera Utara
permainan kartu yang terdapat dalam facebook sering juga dijadikan atau digunakan
untuk judi online.
Uraian peristiwa di atas memang benar-benar menuntut kemahiran dibidang
IT oleh penyidik untuk mengumpulkan barang bukti dalam tindak pidana judi online
sehingga dalam proses pembuktian judi online alat bukti tercukupi. Hal tersebut tentu
berbeda dengan pelaku judi baik pemain maupun pengelola tertangkap tangan maka
akan jelas alat bukti dan peristiwa yang terjadi namun apabila tidak tertangkap tangan
maka judi online akan sangat sulit untuk memperoleh alat bukti maupu barang bukti.
Berdasarkan uraian di atas maka menarik untuk dilakukan pembahasan isu
hukum yang berjudul ”Analisis Yuridis Pembuktian Tindak Pidana Judi Online
Menurut Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang akan jadi
pembahasan, sebagai berikut:
1. Bagaimana pembuktian judi online dikaitkan dengan Undang-Undang No. 19
Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik?
2. Apa hambatan dalam pembuktian judi online yang dikaitkan dengan Undang-
Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11
Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik?
Universitas Sumatera Utara
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dilakukan penelitian terhadap permasalahan di
atas, yakni :
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pembuktian judi online dikaitkan dengan
Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis hambatan dalam pembuktian judi online
yang dikaitkan dengan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan
Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi
Elektronik.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara Teoritis penelitian ini bermanfaat bagi pihak akademisi sebagai
bahan pengkajian penelitian lebih lanjut serta bermanfaat bagi masyarakat
khususnya masyarakat dalam memahami pembuktian tindak pidana judi online
menurut Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini bermanfaat secara praktis bagi masyarakat, aparat penegak
hukum, seperti polisi, jaksa, hakim dan lembaga pemasyarakatan, sehingga
Universitas Sumatera Utara
dengan demikian penelitian ini dapat bermanfaat untuk pembuktian tindak pidana
judi online menurut Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi
Elektronik.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan terhadap hasil-hasil penelitian yang
pernah dilakukan secara khusus di Universtias Sumatera Utara, maka penelitian
dengan judul “Analisis Yuridis Pembuktian Tindak Pidana Judi Online Menurut
Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.
11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik” belum pernah
dilakukan penelitian pada topik dan permasalahan yang sama.
Dari hasil penelusuran keaslian penelitian, penelitian yang menyangkut:
Analisis Yuridis Pembuktian Tindak Pidana Judi Online Menurut Undang-Undang
No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik yang pernah dilakukan Mahasiswa Ilmu
Hukum Universitas Sumatera Utara, yaitu:
1. Tesis atas nama Maria Margaretta Sitompul, NIM: 117005012, dengan
judul,”Kebijakan Kriminal Dalam Penanggulangan Tindak Pidana Judi Online
Yang Dilakukan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (MABES
POLRI)”. Fokus masalah yang dikaji adalah :
Universitas Sumatera Utara
a. Bagaimana pengaturan tindak pidana judi online dalam peraturan perundang-
undangan Indonesia?
b. Bagimana peran Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (MABES
POLRI) dalam penanggulangan penanggulangan tindak pidana judi online
ditinjau dari kebijakan kriminal?
c. Apakah faktor-faktor penghambat Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia
(MABES POLRI) dalam penanggulangan tindak pidana judi online?
2. Jun Cai, Nim: 992105112, Program Studi Ilmu Hukum, Judul Tesis, Keabsahan
Kontrak Elektronik Menurut Hukum Di Indonesia, dengan Rumusan Masalah :
a. Bagaimanakah keabsahan suatu kontrak elektronik (e-contract) berdasarkan
hukum Indonesia?
b. Hal-hal apakah yang jadi penghambat suatu kontrak elektronik agar dikatakan
sah menurut hukum?
c. Dapatkah kontrak elektronik diterima sebagai alat bukti yang sah menurut
hukum Indonesia?
3. Edy Siong, Nim: 087005003, Program Studi Ilmu Hukum, Judul Tesis, Rekaman
Elektronik sebagai Alat Bukti Dalam Perspektif Rezim Anti Pencucian Uang,
dengan Rumusan Masalah :
a. Bagaimana ketentuan pembuktian dalam hukum acara pidana di Indonesia?
b. Bagaimana ketentuan pembuktian dalam tindak pidana pencucian uang?
c. Bagaimana kedudukan rekaman elektronik sebagai alat bukti dalam tindak
pidana pencucian uang?
Universitas Sumatera Utara
Namun demikian penelitian-penelitian tersebut di atas berbeda dengan penelitian
yang akan dilaksanakan ini, sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian yang akan
dilaksanakan adalah asli dan dapat dipertanggungjawabkan apabila dikemudian hari
ternyata dapat dibuktikan adanya plagiat dalam hasil penelitian ini.
F. Kerangka Teori Dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah bagian penting dalam penelitian. Artinya, teori
hukum harus dijadikan dasar dalam memberikan preskripsi atau penilaian apa
yang seharusnya memuat hukum. Teori juga bisa digunakan untuk menjelaskan
fakta dan peristiwa hukum yang terjadi. Teori hukum dalam penelitian berguna
sebagai pisau analisis pembahasan tentang peristiwa atau fakta hukum yang
diajukan dalam masalah penelitian. 7 Kontinuitas perkembangan ilmu hukum,
selain tergantung pada metodologi, aktivitas penelitian dan imajinasi sosial sangat
ditentukan oleh teori. 8
Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori
mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan
pertimbangan dan pegangan teoritis. 9 Setiap penelitian membutuhkan titik tolak
atau landasan untuk memecahkan dan membahas masalahnya, untuk itu perlu
7
Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif Dan
Empiris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hal. 146
8
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2005),
hal. 6
9
M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu Dan Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hal. 80
Universitas Sumatera Utara
disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan
dari mana masalah tersebut diamati. 10
Kegunaan teori hukum dalam penelitian sebagai pisau analisis
pembahasan tentang peristiwa atau fakta hukum yang diajukan dalam masalah
penelitian. 11 Secara konseptual teori yang digunakan dalam penelitian ialah teori
pembuktian. Kata pembuktian berarti proses, cara, perbuatan membuktikan. 12
Pembuktian dalam hukum acara pidana merupakan suatu jalan guna
mendapatkan suatu keputusan akhir yang mana didalam pembuktian tersebut
terdapat fakta-fakta yang dibutuhkan oleh hakim. Dengan demikian maka tentang
hukumnya tidak perlu diberitahukan kepada hakim oleh para pihak, dan tidak
perlu pula untuk dibuktikan karena hakim dianggap tahu akan hukumnya (ius
curia novit). 13
Pasal 4 ayat (1) Undang-undang No. 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman yang mana isinya mewajibkan hakim mengadili menurut hukum.
Maka oleh karena itu hakim harus mengenal hukum disamping peristiwanya.
Maka hakim tidak diperbolehkan untuk selalu menyandarkan keyakinannya
kepada alat-alat buki sepenuhnya. Hal ini akan menimbulkan tindakan atau sikap
10
Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada
Press, 2003), hal. 39-40
11
Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Achmad, [Link], hal. 16
12
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama, 2008), hal. 218.
13
Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Liberty, 2006),
hal. 131
Universitas Sumatera Utara
hakim yang cenderung sewenang-wenang dalam mengambil keputusan karena
perbuatan hakim ini di nilai subjektif.
Oleh karena itu, maka hakim sebaiknya memperhatikan setiap dalil-dalil
yang dikemukakan para pihak yang bersengketa sehingga ini juga dapat dijadikan
dasar pertimbangan bagi hakim unyuk memberikan putusan yang objektif.
R. Subekti berpendapat bahwa “membuktikan adalah meyakinkan hakim
tentang suatu kebenaran dalil atau dalil-dalil yang dikemukakan dalam suatu
persengketaan”. 14
Dengan demikian, adanya pembuktian dalam hukum acara pidana
hanyalah terhadap sesuatu hak dan kejadian yang disangkal oleh pihak lawan
sedangkan yang tidak disangkal oleh pihak lawan tidaklah harus dibuktikan
karena beban pembuktian yang tidak disangkal oleh pihak lawan pada umumnya
kebenaran dan keabsahannya terhadap suatu hak dan kejadian telah diakui oleh
para pihak yang bersengketa sehingga pembuktiaanya tidak perlu
dipermasalahkan lagi. 15
Dalam hal, pembuktian sudah pasti mencakup mengenai penentuan suatu
kebenaran dimana penentuan kebenaran ini dilakukan karena pertentangan
kepentingan antara para pihak yang berperkara di pengadilan.
14
R. Subekti, Hukum Pembuktian, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1975), hal. 7
15
Sarwono, Hukum Acara Perdata Teori Dan Praktik, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hal. 237
Universitas Sumatera Utara
Untuk memperoleh kebenaran dari suatu pembuktian menurut Satochid
Kartanegara terdapat 4 sistem pembuktian, yaitu : 16
a. Sistem Pembuktian Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelijk
Bewijsleer)
b. Sistem Pembuktian Undang-Undang Secara Positif (Positief Wettelijk
Bewijsleer)
c. Conviction In Time (Bloot Gemoedelijkke Overtuiging)
d. Conviction Raissonnee (Beredeneerde Overtuiging/De Vrije Bewijsleer)
Berikut akan diuraikan keempat sistem pembuktian di atas, yaitu :
1) Sistem Pembuktian Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelijk
Bewijsleer)
Pembuktian menurut teori ini, sebagai berikut : 17
a) Harus ada cukup alat-alat bukti (upaya pembuktian) yang diakui
oleh undang-undang.
b) Keyakinan hakim.
Tidak ada yang paling dominan diantara kedua unsur sistem ini.
Karena salah satu tidak dipenuhi berarti tidak cukup untuk membuktikan
kesalahan terdakwa. 18
16
Teguh Samudra, Hukum Pembuktian dalam Acara Perdata, (Bandung: Alumni, 2004),
hal. 26
17
Edy O.S. Hiariej, Teori & Hukum Pembuktian, (Jakarta: Erlangga, 2012), hal. 17
18
Kamaluddin Lubis, Hukum Pembuktian Pidana dan Perdata Dalam Teori Dan Praktek,
(Medan: Universitas Islam Sumatera Utara, 1992), hal 8
Universitas Sumatera Utara
Dengan demikian, maka pemeriksaan disidang pengadilan itu harus
cukup alat-alat pembuktian yang diakui undang-undang disamping
keyakinan hakim.
2) Sistem Pembuktian Undang-Undang Secara Positif (Positief Wettelijk
Bewijsleer)
Cara pembuktian yang didasarkan semata-mata atas alat-alat
pembuktian yang diakui sah oleh undang-undang. Artinya, jika dalam
pertimbangan, hakim telah mengganggap terbukti suatu perbuatan sesuai
dengan alat-alat bukti yang disebut dalam undang-undang tanpa
diperlukan keyakinan hakim dalam menjatuhkan putusan. 19
Teori pembuktian ini di tolak oleh Wirjono Prodjodikoro untuk dianut
di Indonesia, karena ia mengatakan “bagaimana hakim dapat menetapkan
kebenaran selain dengan cara menyatakan kepada keyakinannya tentang
hal kebenaran itu, lagi pula keyakinan seorang hakim yang jujur dan
berpengalaman mungkin sekali adalah sesuai dengan keyakinan
masyarakat”. 20
19
Edy O.S. Hiariej, Op. Cit, hal, 15
20
Andi Hamzah (I), Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, (Jakarta: Ghalia Indonesia,
1983), hal. 230
Universitas Sumatera Utara
3) Conviction In Time (Bloot Gemoedelijkke Overtuiging)
Pembuktian ini didasarkan semata-mata kepada keyakinan hakim
sehingga tidak dibutuhkan alat-alat bukti lainnya. 21 Jadi, kalau disidang
pengadilan hakim telah yakin akan kesalahan si terdakwa, maka harus
dijatuhkan hukuman kepadanya.
4) Conviction Raissonnee (Beredeneerde Overtuiging/De Vrije Bewijsleer)
Dasar pembuktian menurut teori ini adalah keyakinan hakim dalam
batas-batas tertentu atas alasan yang logis. Disini diberi kebebasan untuk
memakai alat-alat bukti disertai dengan alasan yang logis. 22
Dari 4 (empat) teori diatas, yang digunakan adalah teori pembuktian
Sistem Pembuktian Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelijk
Bewijsleer). Teori ini dianggap relevan karena dalam hukum acara pidana yang
dicari adalah kebenaran materil.
2. Konsepsi
Penggunaan konsep dalam suatu penelitian adalah untuk menghindari
penafsiran yang berbeda terhadap kerangka konsep yang dipergunakan dalam
merumuskan konsep dengan menggunakan model definisi operasional.23 Adapun
definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :
21
Edy O.S. Hiariej, Op. Cit, hal, 16
22
Ibid, hal. 17
23
Universitas Sumatera Utara, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian dan Tesis, (Medan:
Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 72
Universitas Sumatera Utara
a. Pembuktian adalah merupakan sebagian dari hukum acara pidana yang
mengatur macam-macam alat bukti yang sah menurut hukum, sistem yang
dianut dalam pembuktian, syarat-syarat dan tata cara mengajukan bukti
tersebut serta kewenangan hakim untuk menerima, menolak dan menilai suatu
pembuktian. 24
b. Alat bukti adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan suatu
perbuatan, dimana dengan alat-alat bukti ersebut dapat dipergunakan sebagai
bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan hakim atas kebenaran
adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan terdakwa. 25
c. Tindak Pidana adalah suatu tindakan pada tempat, waktu dan keadaan
tertentu, yang dilarang atau diharuskan dan diancam dengan pidana oleh
undang-undang, bersifat melawan hukum serta dengan kesalahan yang
dilakukan oleh seseorang yang mampu beratnggung jawab 26 atau perbuatan
yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman
(sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggarnya. 27
24
Hari Sasangka Dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana, (Bandung:
Mandar Maju, 2003), hal. 10
25
Ibid, hal. 11
26
E.Y. Kanter Dan S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia Dan Penerapannya,
(Jakarta: Storia Grafika, 2002), hal. 211
27
Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000), hal. 54
Universitas Sumatera Utara
d. Judi online atau tindak pidana perjudian melalui internet adalah judi yang
dilakukan melalui sistem elektronik, informasi elektronik dan dokumen
elektronik. 28
G. Metode Penelitian
Metode penelitian berisikan uraian tentang metode atau cara yang digunakan
untuk memperoleh data atau informasi. Metode penelitian ini berfungsi sebagai
pedoman dan landasan tata cara dalam melakukan operasional penelitian untuk
menulis suatu karya ilmiah yang peneliti lakukan. Penelitian ini menggunakan
metode penelitian kualitatif yang tidak membutuhkan populasi dan sampel. 29 Adapun
beberapa langkah yang digunakan dalam metode penelitian ialah :
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian
hukum normatif atau yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif mengacu
kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-
undangan dan putusan-putusan pengadilan serta norma-norma hukum yang
ada dalam masyarakat. 30 Penelitian yuridis normatif dilakukan dengan cara
meneliti bahan pustaka yang merupakan data sekunder dan disebut juga
penelitian kepustakaan. 31
28
Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana: Normatif, Teoretis, Praktik Dan Permasalahannya,
(Bandung: Alumni, 2007), hal. 76
29
Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 105
30
Ibid
31
Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum Dan Jurumateri, (Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1994), hal. 9
Universitas Sumatera Utara
Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yang mengungkapkan
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan teori-teori hukum yang
menjadi objek penelitian. 32 Deskriptif analitis merupakan metode yang
dipakai untuk menggambarkan suatu kondisi atau keadaan yang sedang terjadi
atau berlangsung yang bertujuan agar dapat memberikan data seteliti mungkin
mengenai objek penelitian sehingga mampu menggali hal-hal yang bersifat
ideal, kemudian dianalisis berdasarkan teori hukum atau peraturan perundang-
undangan yang berlaku. 33 Dalam penulisan ini akan menguraikan tentang
Analisis Yuridis Pembuktian Tindak Pidana Judi Online Menurut Undang-
Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11
Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.
2. Sumber Data
Dalam penelitian hukum normatif data yang digunakan adalah data
sekunder 34, maka didalam penelitian hukum normatif yang termasuk data
sekunder, yaitu:
a. Bahan hukum primer, meliputi seluruh peraturan perundang-undangan
yang mengikat dengan permasalahan dan tujuan penelitian 35, antara lain :
1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP);
32
Ibid, hal. 105
33
Ibid, hal. 223
34
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat,
(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 23-24
35
Ibid, hal. 13
Universitas Sumatera Utara
2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi
Elektronik;
3) Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi
Elektronik
4) Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan
Sistem dan Transaksi Elektronik.
b. Bahan hukum sekunder, merupakan bahan hukum yang memberikan
penjelasan mengenai bahan hukum primer sebagaimana yang terdapat
dalam kumpulan pustaka yang bersifat sebagai penunjang dari bahan
hukum primer 36 yang terdiri dari :
1) Buku-buku;
2) Jurnal;
3) Majalah;
4) Artikel;
5) dan berbagai tulisan lainnya.
c. Bahan hukum tertier yang memberikan informasi lebih lanjut mengenai
bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder 37, seperti:
1) Kamus;
2) Ensiklopedi dan lain sebagainya.
36
Ibid
37
Ibid
Universitas Sumatera Utara
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian
kepustakaan (Library Research). Studi ini dilakukan dengan jalan meneliti
dokumen-dokumen yang ada, yaitu dengan bahan hukum dan informasi baik
yang berupa buku, karangan ilmiah, peraturan perundang-undangan dan bahan
tertulis lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu dengan mencari,
mempelajari dan mencatat serta menginterpretasikan hal-hal yang berkaitan
dengan objek penelitian. 38
4. Metode Analisis Data
Analisis data merupakan proses pengorganisasian dan mengurutkan
data ke dalam kategori-kategori dan satuan uraian dasar, sehingga ditemukan
tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja, seperti yang disaran oleh data. 39
Analisis data yang akan dilakukan secara kualitatif. Kegiatan ini diharapkan
akan dapat memudahkan dalam menganalisis permasalahan yang akan
dibahas, menafsirkan dan kemudian menarik kesimpulan. Peraturan
perundang-undangan dianalisis secara kualiatif dengan menggunakan logika
38
Ronny Hanitijo Soemitro, [Link], 225
39
Analisa data menurut Patton adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan
kedalam suatu pola, kategoridan satuan uraian dasar. Analisa berbeda dengan penafsiran yang
memberikan arti yang signifikan terhadap hasil analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari
hubungan diantara dimensi. Lihat Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 280
Universitas Sumatera Utara
berfikir dalam menarik kesimpulan yang dilakukan secara deduktif 40, pada
akhirnya dapat menjawab permasalahan penelitian ini.
40
Penarikan kesimpulan yang dilakukan secara deduktif, yakni menarik kesimpulan dari suatu
permasalahan yang bersifat umum terhadap permasalahan yang konkret. Lihat Jhonny Ibrahim, Teori
Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Surabaya: Bayu Media, 2005), hal. 393
Universitas Sumatera Utara
BAB II
PEMBUKTIAN JUDI ONLINE DIKAITKAN DENGAN UNDANG-UNDANG
NO. 19 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG
NO. 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI
ELEKTRONIK
A. Pembuktian Dalam Hukum Acara Pidana
1. Alat Bukti Dalam Hukum Acara Pidana
Pembuktian merupakan bagian yang sangat penting dalam hukum acara
terutama hukum acara pidana. 41 Hal itu disebabkan karena pembuktian sangat
berkaitan erat dengan benar atau tidak perbuatan seorang terdakwa yang
disangkakan melakukan tindak pidana. Pembuktian dalam hukum acara pidana
dianggap sebagai proses yang bernilai sejati karena kebenaran yang menjadi
tujuannya ialah kebenaran materil. Artinya, hakim harus aktif dalam melakukan
pemeriksaan terhadap terdakwa sehingga peristiwanya harus terbukti (beyond
reasonable doubt). 42
Uraian di atas senada dengan bunyi Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang No.
48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, berbunyi:
”Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan karena alat
pembuktian yang sah menurut undang-undang, mendapat keyakinan bahwa
41
Pengaturan hukum acara pidana di Indonesia diatur di dalam Undang-Undang No. 8 Tahun
1981Tentang Hukum Acara Pidana atau KUHAP yang diundangkan tanggal 31 Desember 1981.
keberadaan KUHAP bertujuan untuk mempertahankan atau menegakkan hukum materiil. Artinya,
apabila terjadi pelanggaran terhadap hukum pidana materiil maka penegakannya menggunakan hukum
pidana formal yang tata caranya telah ditetapkan di dalam KUHAP. Ilhami Bisri, Sistem Hukum
Indonesia, Prinsip-Prinsip & Implementasi Hukum Di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2004 ), hal. 46
42
Andi Sofyan, [Link], hal. 241
Universitas Sumatera Utara
seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab, telah bersalah atas perbuatan
yang didakwakan atas dirinya”.
Kata pembuktian tentu tidak hanya memiliki maksud dan tujuan seperti
yang diuraikan di atas akan tetapi juga memiliki arti atau pengertian. Berikut
beberapa pengertian pembuktian menurut para ahli, sebagai berikut:
a. J.C.T. Simorangkir mengatakan, ”Pembuktian adalah usaha dari yang
berwenang untuk mengemukakan kepada hakim sebanyak mungkin hal-hal
yang berkenaan dengan suatu perkara yang bertujuan agar supaya dapat
dipakai oleh hakim sebagai bahan untuk memberikan keputusan seperti
perkara tersebut”. 43
b. Darwan Prints mengatakan, ”Pembuktian adalah suatu peristiwa pidana telah
terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya, sehingga harus
mempertanggungjawabkannya”. 44
c. Sudikno Mertokusumo menggunakan istilah ”Membuktikan yang memiliki
arti sebagai berikut:
1) Kata membuktikan dalam arti logis, artinya memberi kepastian yang
bersifat mutlak, karena berlaku bagi setiap orang dan tidak memungkinkan
adanya bukti-bukti lain.
2) Kata membuktikan dalam arti konvensional, yaitu pembuktian yang
memberikan kepastian, hanya saja bukan kepastian mutlak melainkan
kepastian yang nisbi atau relatif, sifatnya yang mempunyai tingkatan-
tingkatan:
a) Kepastian yang didasarkan atas perasaan belaka, maka kepastian ini
bersifat intuitif dan disebut conviction intime.
b) Kepastian yang didasarkan atas pertimbangan akal, maka disebut
conviction raisonnee.
3) Kata membuktikan dalam arti yuridis, yaitu pembuktian yang memberi
kepastian kepada hakim tentang kebenaran suatu peristiwa yang terjadi”. 45
43
J..C.T. Simorangkir [Link], Kamus Hukum, (Jakarta: Aksara Baru, 1983), hal. 135
44
Darwan Prints, Hukum Acara Pidana: Suatu Pengantar, (Jakarta: Djambatan, 1989), hal.
106
45
Sudikno Mertokusumo, [Link], hal. 101
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan uraian di atas maka kata pembuktian atau membuktikan
adalah proses untuk mencari kepastian yang dibutuhkan terkait perbuatan
seseorang apakah telah melakukan tindak pidana, ada alasan pemaaf atau tidak
melakukan tindak pidana. Terkait persoalan pembuktian untuk hal-hal yan secara
umum diketahui tidak perlu dibuktikan. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 184 ayat
(2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), berbunyi:
”Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan”.
Alat bukti dalam hukum acara pidana diatur dalam Pasal 184 ayat (1)
KUHAP dimana dikenal dengan 5 (lima) buah alat bukti, yaitu:
a. Keterangan saksi,
b. Keterangan ahli,
c. Surat,
d. Petunjuk,
e. Keterangan terdaakwa.
KUHAP mengatur kelima jenis alat bukti di atas akan tetapi tidak
memberikan maksud atau pengertian dari alat bukti. Oleh karena itu, akan dirujuk
beberapa pendapat para ahli mengenai alat bukti, sebagai berikut:
a. Eddy O.S. Hiariej mengatakan, “alat bukti adalah sebagai segala hal yang
dapat digunakan untuk membuktikan perihal kebenaran suatu peristiwa di
pengadilan”. 46
b. Sudarsono mengatakan, ”alat bukti adalah apa saja yang menurut undang
dapat dipakai untuk membuktikan sesuatu, maksudnya segala sesuatu yang
46
Eddy O.S. Hiariej, Op. Cit, hal. 52
Universitas Sumatera Utara
menurut undang-undang dapat dipakai untuk membuktikan benar atau
tidaknya suatu tuduhan/guagatan”. 47
c. Kamus Besar Bahasa Indonesia, dalam merumuskan pengertian alat bukti
menggunakan istilah alat pembuktian yang mengandung arti “berbagai macam
bahan yang dibutuhkan oleh hakim, baik yang diketahui sendiri oleh hakim
maupun yang diajukan oleh saksi untuk membenarkan atau menggagalkan
dakwaan atau gugatan”. 48
Uraian di atas maka dapat dirumuskan sebuah pengertian alat bukti adalah
sebuah atau beberapa jenis benda atau alat yang dapat digunakan untuk
membuktikan peristiwa atau tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang atau
lebih bahkan oleh korporasi.
Selanjutnya, terkait alat bukti dalam hukum acara pidana telah ada
dipaparkan di atas untuk penjelasannya akan diuraikan, sebagai berikut:
a. Keterangan saksi
Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana
yang merupakan keterangan saksi atas suatu peristiwa yang ia (saksi)kan
dengar sendiri, ia lihat sendiri,ia alami sendiri ,dengan menyebut alasan
daripada pengetahuannya itu. 49
Keterangan saksi supaya dapat di pakai sebagai alat bukti yang sah
harus memiliki dua syarat:
a) Syarat formil yaitu bahwa keterangan saksi baru dapat di anggap sah
apabila ia di berikan di bawah sumpah.
47
Sudarsono, Kamus Hukum, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2007), hal. 28
48
Departemen Pendidikan Nasional, Op. Cit, hal. 37
49
Pasal 185 KUHAP
Universitas Sumatera Utara
b) Syarat materil yaitu bahwa keterangan seorang saksi saja tidak dapat di
pakai sebagai alat pembuktian yang sah, akan tetapi keterangan seorang
saksi adalah cukup untuk alat membuktikan salah satu unsur kejahatan
yang di tuduhkan.
Saksi dalam perkara pidana adalah menjadi kewajiban daripada setiap
orang. Oleh karena itu orang yang menolak memberikan keterangan sebagai
seorang saksi dalam suatu perkara pidana dapat di hadapkan ke sidang
pengadilan. 50
b. Keterangan ahli
Keterangan ahli adalah keterangan yang di berikan oleh seorang yang
memiliki keahlian khusus tentang hal yang di perlukan untuk membuat terang
suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan 51 sedangkan menurut
Pasal 166 KUHAP keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan .
keterangan ahli itu dapat juga di berikan pada waktu pemeriksaan oleh
penyidik atau penuntut umum yang di tuangkan dalam bentuk laporan dan
dibuat mengingat sumpah di waktu menerima jabatan atau pekerjaan.
c. Surat
Tentang alat bukti surat di atur dalam Pasal 187 KUHAP sebagai
berikut:
a) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang di buat oleh pejabat
umum yang berwenang atau yang di buat di hadapannya yang memuat
50
Pasal 159 ayat (2) KUHAP
51
Pasal 1 angka 26 KUHAP
Universitas Sumatera Utara
keterangan tentang kejadian atau keadaan yang di dengar, di lihat atau
yang di alaminya sendiri,di sertai dengan alasan yang jelas dan tegas
tentang keterangan itu.
b) Surat yang di buat menurut ketentuan peraturan perundang-uandangan
atau surat yang di buat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam
tata laksana yang menjadi tanggungjawabnya dan di peruntukkan bagi
pembuktian.
c) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan
keahliannya mengenai suatu hal yang atau sesuatu keadaan yang di minta
secara resmi dari padanya.
d) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari
alat pembuktian yang lain.
d. Petunjuk
Tentang petunjuk sebagai alat bukti di atur dalam Pasal 198 KUHAP
sebagai berikut:
”Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena
persesuainnya, baik antara satu dengan yang lain, maupun dengan tindak
pidana itu sendiri”.
a) Petunjuk sebagaimana hanya dapat di peroleh dari :
(1) Keterangan saksi
(2) Surat
(3) Keterangan terdakwa
b) Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap
keadaan tertentu di lakukan oleh hakim dengan arif lagi bijaksana, setelah
ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan keseksamaan
berdasarkan hati nuraninya.
e. Keterangan terdakwa
Pasal 18 KUHAP mengatur tentang keterangan terdakwa sebagai
berikut:
a. Keterangan terdakwa ialah apa yang di nyatakan terdakwa di sidang
tentang perbuatannya yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau
alami sendiri.
Universitas Sumatera Utara
b. Keterangan terdakwa yang di berikan di luar sidang dapat di gunakan
untuk membantu menemukan bukti sidang asalkan keterangan itu di
dukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang di
dakwakan kepadanya.
c. Keterangan terdakwa hanya dapat di gunakan terhadap dirinya sendiri
d. Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia
bersalah melakukan perbuatan yang di dakwakan kepadanya, melainkan
harus di sertai alat bukti lain.
Keterangan Pasal 189 KUHAP di atas dapat disimpulkan bahwa keterangan
terdakwa harus di berikan di depan persidangan. 52
Perkembangan selanjutnya terkait alat bukti dalam hukum acara pidana
dikenal adanya alat bukti elektronik. Alat bukti elektronik yang di atur dalam
aturan khusus, yakni terdapat pada Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang
Informasi Dan Transaksi Elektronik. Jenis alat bukti yang dikenal dalam Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik ialah
dokumen elektronik dan informasi elektronik. 53
52
Bunyi Pasal 189 KUHAP, yaitu:
“(1) Keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia
lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri,
(2) Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan untuk membantu menemukan
bukti di sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang
mengenai hal yang didakwakan kepadanya,
(3) Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri,
(4) Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan
yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain”.
53
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyebutkan ”Informasi
elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan,
suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic
mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau
perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu
memahaminya”. Pasal 1 angka 4 Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyebutkan
“Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan,
diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang
dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk
Universitas Sumatera Utara
Pengakuan kedua jenis alat bukti elektronik di atas didasarkan atas Pasal 5
ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik, berbunyi :
“(1) Infomasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya
merupakan alat bukti hukum yang sah.
(2) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti
yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia”.
Penegasan terhadap keberlakuan dokumen elektronik dan informasi
elektronik sebagai alat bukti semakin dipertegas dengan perubahan Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang
mana untuk Pasal 5 isinya tetap akan tetapi penjelasannya berubah yang semakin
mempertegas keberadaannya, yaitu
Penjelasan Pasal 5 ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. 19 Tahun 2016
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
(1) Bahwa keberadaan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
mengikat dan diakui sebagai alat bukti yang sah untuk memberikan
kepastian hukum terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektronik dan
Transaksi Elektronik, terutama dalam pembuktian dan hal yang berkaitan
dengan perbuatan hukum yang dilakukan melalui Sistem Elektronik.
(2) Khusus untuk Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik berupa
hasil intersepsi atau penyadapan atau perekaman yang merupakan bagian
dari penyadapan harus dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas
permintaan kepolisian, kejaksaan, dan/atau institusi lainnya yang
kewenangannya ditetapkan berdasarkan undang-undang”.
tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda,
angka, Kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh
orang yang mampu memahaminya”.
Universitas Sumatera Utara
Perlu dipahami bahwa dokumen elektronik merupakan bentuk utama alat
bukti elektronik baik yang tercantum dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik maupun Undang-Undang No. 19
Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dokumen elektronik sebagai bentuk
utama alat bukti elektronik dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: 54
a. Informasi elektronik terdiri atas:
1) Data elektronik adalah semua fakta yang direpresentasikan sebagai input
baik dalam bentuk untaian kata (teks), angka (numerik), gambar
pencitraan (images), suara (voices), ataupun gerak (sensor).
2) Tulisan adalah hasil menulis; barang yang ditulis; cara menulis, karangan;
buku-buku, dan gambaran; lukisan.
3) Suara adalah bunyi yang dikeluarkan dari mulut manusia, bunyi binatang,
ucapan (perkataan), bunyi bahasa (bunyi ujar), sesuatu yang dianggap
sebagai perkataan.
4) Gambar adalah tiruan barang yang dibuat dengan coretan pensil dan
sebagainya pada kertas dan sebagainya; lukisan.
5) Peta adalah gambar atau lukisan pada kertas dan sebagainya yang
menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung dan sebaginya; representasi
melalui gambar dari suatu daerah yang menyatakan sifat, seperti batas
daerah, sifat permukaan; denah.
6) Rancangan adalah sesuatu yang sudah dirancang; hasil merancanng;
rencana; program; desain.
7) Foto adalah potret, gambaran; banyangan; pantulan.
8) Elektronic Data Interchange (EDI) adalah sebuah alat yang dapat
digunakan untuk pertukaran sebuah data dimana ia dapat digunakan dapat
digunakan untuk mentransmisikan dokumen-dokumen secara elektronik
seperti dokumen pemesanan pembelian, invoice, catatan pengangkutan
barang, penerimaan advice dan koresponden bisnis standar lainnya di
antara paramitra dagang.
54
Muhammad Iqbal Tarigan, Dokumen Elektronik Sebagai Alat Bukti Dalam Perspektif
Pembaruan Hukum Acara Perdata Indonesia, (Medan: Tesis S2 Universitas Sumatera Utara, 2014)
63-68
Universitas Sumatera Utara
9) Surat elektronik (electronic mail) adalah pertukaran pesan antar komputer
di internet, biasanya tertulis dalam bentuk teks bebas dibanding dalam
format tertentu.
10) Telegram adalah berita yang dikirim dengan telegraf; kabar kawat.
11) Teleks adalah suatu bentuk komunikasi antara dua terminal telephone
dimana setiap terminalnya kelihatan seperti dan berfungsi seperti mesin
ketik elektrik. Keduanya digunakan untuk menge-print sebuah data
(record) yang dikomunikasikan.
12) Telecopy atau fax adalah salah satu bentuk transmisi elektronik yang
sesuai dengan standar faksimili yang dibuat oleh International Telegraph
and Telephone Consultative Committee.
13) Huruf adalah tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan anggota abjad
yang melambangkan bunyi bahasa; aksara.
14) Tanda adalah yang menjadi alamat atau yang menyesuaikan sesuatu,
gejala, bukti, pengenal; lambang, petunjuk.
15) Angka adalah tanda atau lambang sebagai pengganti bilangan; nomor,
nilai.
16) Kode akses adalah angka, huruf, simbol, karakter lainnya atau kombinasi
di antaranya yang merupakan kunci untuk dapat mengakses komputer
dan/atau sistem elektronik lainnya.
17) Simbol adalah lambang.
18) Perforasi adalah pembuatan lubang pada kertas, kartu dan sebagainya;
pelubangan, lubang kecil pada kertas, karton dan sebagainya.
b. Tulisan adalah hasil menulis; barang yang ditulis; cara menulis, karangan;
buku-buku, dan gambaran; lukisan.
c. Suara adalah bunyi yang dikeluarkan dari mulut manusia, bunyi binatang,
ucapan (perkataan), bunyi bahasa (bunyi ujar), sesuatu yang dianggap sebagai
perkataan.
d. Gambar adalah tiruan barang yang dibuat dengan coretan pensil dan sebagainya
pada kertas dan sebagainya; lukisan.
e. Peta adalah gambar atau lukisan pada kertas dan sebagainya yang menunjukkan
letak tanah, laut, sungai, gunung dan sebaginya; representasi melalui gambar
Universitas Sumatera Utara
dari suatu daerah yang menyatakan sifat, seperti batas daerah, sifat
permukaan; denah.
f. Rancangan adalah sesuatu yang sudah dirancang; hasil merancanng; rencana;
program; desain.
g. Foto adalah potret, gambaran; banyangan; pantulan.
h. Huruf adalah tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan anggota abjad yang
melambangkan bunyi bahasa; aksara.
i. Tanda adalah yang menjadi alamat atau yang menyesuaikan sesuatu, gejala,
bukti, pengenal; lambang, petunjuk.
j. Angka adalah tanda atau lambang sebagai pengganti bilangan; nomor, nilai.
k. Kode akses adalah angka, huruf, simbol, karakter lainnya atau kombinasi di
antaranya yang merupakan kunci untuk dapat mengakses komputer dan/atau
sistem elektronik lainnya.
l. Simbol adalah lambang.
m. Perforasi adalah pembuatan lubang pada kertas, kartu dan sebagainya;
pelubangan, lubang kecil pada kertas, karton dan sebagainya.
Universitas Sumatera Utara
B. Pembuktian Judi Online Dikaitkan Dengan Undang-Undang No. 19 Tahun
2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang
Informasi Dan Transaksi Elektronik
1. Tindak Pidana Teknologi Informasi (Cybercrime)
KUHP 55 merupakan produk hukum Indonesia yang isinya dibuat oleh
Pemerintahan Kolonial Belanda, KUHP yang ada saat ini tidak lain adalah hasil
alih bahasa yang dilakukan beberapa sarjana Indonesia. 56 Pengertian tindak
pidana memiliki arti yang sama (sinonim) dengan istilah peristiwa pidana yang
menurut KUH Pidana adalah sebagai terjemahan dari istilah bahasa Belanda
strafbaar feit yaitu suatu tindakan pada tempat, waktu dan keadaan tertentu
dilarang atau diharuskan dan diancam dengan pidana oleh undang-undang,
bersifat melawan hukum, serta dengan kesalahan, dilakukan oleh seseorang yang
mampu bertanggung jawab. 57
Beberapa sarjana berusaha memberikan perumusan tentang pengertian
dari peristiwa pidana, diantaranya: Moeljatno cenderung lebih suka menggunakan
kata ”perbuatan pidana ” daripada kata ”tindak pidana”. Menurut beliau kata
”tindak pidana” dikenal karena banyak digunakan dalam perundang-undangan
untuk menyebut suatu ”perbuatan pidana”. Moeljatno berpendapat bahwa
perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh aturan hukum, larangan
55
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
56
Moeljatno (I), Kitab Undang Undang Hukum Pidana, cet. 21, (Jakarta: Bumi Aksara,
2001), hal. 10
57
Moeljatno (II), Azas-Azas Hukum Pidana, (Jakarta: Bina Aksara, 1998), hal. 56
Universitas Sumatera Utara
mana disertai ancaman (sanksi) berupa pidana tertentu bagi siapa yang melanggar
larangan tersebut. 58
Vos hanya memberikan perumusan singkat yakni kelakuan atau tingkah
laku manusia yang oleh peraturan perundang-undangan diberikan pidana.
Perumusan peristiwa pidana menurut Simons adalah perbuatan melawan hukum
yang diancam pidana dan dilakukan oleh seseorang yang mampu bertanggung
jawab. Dari perumusan ini menunjukkan unsur-unsur peristiwa pidana
diantaranya perbuatan manusia (handeling) dimana perbuatan manusia tidak
hanya perbuatan (een doen) akan tetapi juga melakukan atau tidak berbuat (een
natalen atau niet doen). 59
Istilah strabare feit sendiri telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
sebagai perbuatan yang dapat/boleh dihukum, peristiwa pidana, perbuatan pidana,
dan tindak pidana. 60 Pengertian dari pidana itu sendiri pada prinsipnya sama
artinya dengan straf. Karena kata pidana berasal dari kata straf (Belanda) yang
pada dasarnya dapat dikatakan sebagai suatu penderitaan (nestapa) yang sengaja
dikenakan atau dijatuhkan kepada seseorang yang telah terbukti bersalah
melakukan suatu tindak pidana. 61
58
Ibid
59
C.S.T. Kansil, Pokok-Pokok Hukum Pidana, (Jakarta: Pradnya Paramita, 2004), hal. 37
60
S.R. Sianturi, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, (Jakarta: Alumni
Ahaem Petehaem, 1989), hal. 204
61
Mohammad Ekaputra dan Abul Khair, Sistim Pidana di Dalam KUHP dan Pengaturannya
Menurut Konsep KUHP Baru, (Medan: USU Press, 2010), hal. 1
Universitas Sumatera Utara
Jenis-jenis tindak pidana merujuk pada pendapat EY. Kanter dan SR.
Sianturi dimana mereka berdua membedakannya antara lain: 62
a. Kejahatan dan pelanggaran.
b. Delik formil dan delik materil.
c. Delik omissi dan delik commissi.
d. Delik tersendiri dan delik berulang.
e. Delik berakhir dan delik berlanjut.
f. Delik bersahaja dan delik kebiasaan.
g. Delik biasa dan delik kualifikasi/previligasi.
h. Delik sengaja dan delik culpa.
i. Delik umum dan delik politik.
j. Delik umum dan delik khusus.
k. Delik dakwaan karena jabatan dan delik aduan.
Tindak pidana dapat dibagi dengan menggunakan kriteria. Pembagian ini
berhubungan erat dengan berat atau ringannya ancaman, sifat, bentuk dan
perumusan suatu tindak pidana. Pembedaan ini erat pula hubungannya dengan
ajaran-ajaran umum hukum pidana. 63 Menurut KUH Pidana terdapat dua macam
pembagian tindak pidana, yaitu kejahatan (misdrijven) yang ditempatkan dalam
buku ke-II dan pelanggaran (overtredingen) yang ditempatkan dalam buku ke-
III. 64
Tindak pidana formil adalah tindak pidana yang dirumuskan sedemikian
rupa sehingga memberikan arti bawah inti dari larangan yang dirumuskan itu
adalah melakukan suatu perbuatan tertentu. Perumusan tindak pidana formil tidak
memperhatikan dan atau tidak memerlukan timbulnya suatu akibat tertentu dari
62
EY. Kanter dan SR. Sianturi, [Link], hal. 236
63
Jan Remmelink, Hukum Pidana: Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari Kitab
Undang-undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-undang Hukum
Pidana Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum, 2003), hal. 228
64
Ibid, hal. 230
Universitas Sumatera Utara
perbuatan sebagai syarat tindak pidana, melainkan hanya semata-mata pada
perbuatannya saja. Misalnya untuk pencurian (Pasal 362 KUHP) untuk selesainya
pencurian digantungkan pada selesainya perbuatan mencuri. 65 tindak pidana
materil, inti larangan adalah pada menimbulkan akibat yang dilarang. Oleh karena
itu, siapa yang menimbulkan akibat yang dilarang, maka itulah yang
dipertanggungjawabkan dan dipidana. Tentang bagaimana wujud perbuatan yang
menimbulkan akibat terlarang itu tidaklah penting. Misalnya pada pembunuhan
(Pasal 338 KUHP) inti larangan adalah pada menimbulkan kematian orang, dan
bukan pada wujud menembak, membacok, atau memukul. 66
Tindak pidana sengaja (doleus delicten) adalah tindak pidana yang dalam
rumusannya dilakukan dengan kesengajaan atau mengandung unsur kesengajaan.
Sementara itu tindak pidana kelalaian atau culpa (culpose delicten) adalah tindak
pidana yang dalam rumusannya mengandung unsur lalai (culpa). 67
Tindak pidana aktif/komisi (delicta commissionis) adalah tindak pidana
yang perbuatannya berupa perbuatan aktif (positif). Perbuatan aktif (disebut juga
perbuatan materil) adalah perbuatan yang untuk mewujudkannya disyaratkan
dengan adanya gerakan dari anggota tubuh orang yang berbuat. 68 tindak pidana
passif/omisi, dalam hal tindak pidana passif, ada suatu kondisi dan atau keadaan
tertentu yang mewajibkan seseorang dibebani kewajiban hukum untuk berbuat
65
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana, Bagian I, (Jakarta: RajaGrafindo Persada,
2005), hal. 126
66
Ibid
67
EY. Kanter dan SR. Sianturi, [Link], hal. 167-169
68
Moeljatno (II), [Link], hal. 76
Universitas Sumatera Utara
tertentu. Apabila ia tidak melakukan (aktif) perbuatan itu, maka ia akan dikenakan
pelanggaran kewajiban hukumnya. Dalam hal ini seseorang itu telah melakukan
tindak pidana secara pasif. Tindak pidana ini dapat disebut juga tindak pidana
pengabaian suatu kewajiban hukum. 69
Jan Remmelink mengatakan tindak pidana yang terjadi dengan seketika
adalah tindak pidana itu akan selesai setelah dilakukannya perbuatan, misalnya
mengambil (dalam tindak pidana pencurian), menghasut, membunuh, dan
membakar. Dalam hal tindak pidana pencurian (Pasal 362 KUHP) jika perbuatan
mengambilnya selesai, maka tindak pidana itu menjadi selesai secara sempurna. 70
Sebaliknya Jan Remmelink mengatakan dalam tindak pidana berlanjut, terdapat
perbuatan yang menciptakan atau menimbulkan suatu keadaan yang dilarang
secara berlanjut. Misalnya tindak pidana dengan terus-menerus merampas
kemerdekaan seseorang (Pasal 282 dan Pasal 333 KUHP). 71
Tindak pidana umum adalah semua tindak pidana yang dimuat dalam
KUHP sebagai kodifikasi hukum pidana materil (buku II dan buku III).
Sedangkan tindak pidana khusus adalah semua tindak pidana yang terdapat di luar
kodifikasi tersebut. Contoh tindak pidana khusus adalah tindak pidana korupsi,
narkotika, tindak pidana perbankan, dan lain-lain. 72
69
Jan Remmelink, [Link], hal. 79
70
Ibid, hal. 80
71
Ibid
72
Adami Chazawi, [Link], hal. 131
Universitas Sumatera Utara
Tindak pidana dilihat dari sisi subjek hukumnya, maka tindak pidana itu
dibagi menjadi tindak pidana yang dapat dilakukan oleh semua orang (delicta
communia) dan tindak pidana yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang karena
kualitasnya tertentu (delicta propria). 73 Tindak pidana propria (delicta propria)
ini menurut Jan Remmelink yaitu tindak pidana yang dapat dilakukan hanya oleh
orang yang memiliki kualitas pribadi tertentu, misalnya pegawai negeri, pelaut,
militer dan lain-lain. 74
Tindak pidana biasa adalah tindak pidana yang tidak diperlukan atau
disyaratkan adanya pengaduan dari yang berhak. Sebahagian besar tindak pidana
tergolong sebagai tindak pidana biasa. Sedangkan tindak pidana aduan adalah
tindak pidana yang mensyaratkan dapat dituntutnya pelaku jika ada orang yang
mengadu dari yang berhak mengadu. 75
Tindak pidana pokok dapat berupa tindak pidana pokok yang diperberat
dan meringankan. Dilihat dari berat ringannya tindak pidana, dibagi tiga yaitu:
dalam bentuk pokok atau sederhana atau standar (eenvoudige delicten), dalam
bentuk diperberat (gequalificeerde delicten), dan dalam bentuk ringan
(gepriviligieerde delicten). 76
Sistematika pengelompokan tindak pidana bab per bab dalam KUHP
didasarkan pada kepentingan hukum yang dilindungi. Misalnya pada bab II, untuk
73
Ibid, hal. 131.
74
Jan Remmelink, [Link], hal. 72
75
Adami Chazawi, [Link], hal. 132
76
Ibid, hal. 133
Universitas Sumatera Utara
melindungi kepentingan hukum terhadap keamanan negara, maka dibentuklah
rumusan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara (bab I). Untuk melindungi
kepentingan hukum bagi kelancaran tugas-tugas penguasa umum, maka
dibentuklah rumusan Kejahatan Terhadap Penguasa Umum (bab VIII). Untuk
melindungi kepentingan hukum terhadap hak kebendaan pribadi, dibentuk
rumusan tindak pidana seperti Pencurian (bab XXII, Penggelapan (bab XXIV),
Pemerasan dan Pengancaman (bab XXIII) dan lain-lain. 77
Tindak pidana tunggal (engkelvoudige delicten) adalah tindak pidana yang
dirumuskan sedemikian rupa sehingga untuk dipandang selesainya tindak pidana
dan dapat dipidananya pelaku cukup dilakukan satu kali perbuatan saja. Pada
umumnya perumusan tindak pidana dalam KUHP berupa tindak pidana tunggal. 78
Tindak pidana tunggal ini menurut EY. Kanter dan SR. Sianturi disebutnya
sebagai delik mandiri yang hanya disyaratkan dapat dipidananya seseorang jika
hanya satu kali telah melakukan perbuatan yang dilarang. 79 Sementara itu yang
dimaksud dengan tindak pidana berangkai adalah tindak pidana yang dirumuskan
sedemikian rupa sehingga untuk dipandang selesai dan dapat dipidananya
pembuat disyaratkan dilakukan secara berulang. 80 Tindak pidana berangkai ini
menurut EY. Kanter dan SR. Sianturi disebutnya dengan delik berlanjut atau delik
77
Ibid, hal. 135
78
Ibid, hal. 136
79
EY. Kanter dan SR. Sianturi, [Link], hal. 238
80
Adami Chazawi, Loc. Cit
Universitas Sumatera Utara
yang sama berulang, bilamana tindak pidana yang sama berulang dilakukan dan
merupakan atau dapat dianggap sebagai lanjutan dari tindakan semula. 81
Tindak pidana teknologi informasi atau cybercrime merupakan salah
tindak pidana khusus yang ada di Indonesia. Munculnya cybercrime disebabkan
karena kekeliruan atau kesalahan dalam pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi. 82 Keberadaan cybercrime di Indonesia sangat berkaitan dengan
kejahatan umum atau tradisional yang di atur pada Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP). Artinya, banyak dari kejahatan-kejahatan tradisional yang ada
didalam KUHP dilakukan dengan menggunakan atau dengan bantuan peralatan
komputer. 83
Karakteristik cybercrime sebagai salah satu tindak pidana, yaitu : 84
a. Perbuatan yang dilakukan secara ilegal, tanpa hak atau tidak etis tersebut
terjadi dalam ruang/wilayah siber/cyber (cyberspace), sehingga tidak dapat
dipastikan yurisdiksinya negara mana yang berlaku terhadapnya.
b. Perbuatan tersebut dilakukan dengan menggunakan peralatan apa pun yang
terhubung dengan internet.
c. Perbuatan tersebut mengakibatkan kerugian materiil maupu immateriil
(waktu, nilai, jasa, uang, barang, harga diri, martabat dan kerahasian
informasi) yang cenderung lebih besar dibandingkan dengan kejahatan
konvensional.
81
EY. Kanter dan SR. Sianturi, [Link]
82
Cybercrime merupakan bagian dari cyber law atau hukum telamatika yang mana
munculnya disebabkan kegiatan yang dilakukan melalui jaringan sistem komputer yang merupakan
sistem elektronik yang dapat dilihat secara virtual. Perkembangan teknologi dan komunikasi telah
menyebabkan hubungan dunia menjadi tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan sosial
ekonomi dan budaya secara signifikan berlangsung demikian cepat. Ermansjah Djaja, Penyelesaian
Sengketa Hukum Teknologi Informasi Dan Transaksi Elektrik: Kajian Yuridis Penyelsaian Secara Non
Litigasi Melalui Arbitrase Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, (Yogyakarta: Pustaka Timur, 2010),
hal. 9
83
Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti,
2013), hal. 218
84
Abdul Wahid Dan M. Labib, Kejahatan Mayantara (Cybercrime), (Bandung: PT. Refika
Aditama, 2005), hal. 76
Universitas Sumatera Utara
d. Pelakunya adalah orang yang menguasai penggunaan internet beserta
aplikasinya.
e. Perbuatan tersebut sering dilakukan secara transnasional/melintasi batas
negara.
Cybercrime yang diatur di Indonesia seperti telah diuraikan di atas
menunjukkan kehususan dibandingkan tindak pidana tradisional disebabkan
karena cybercrime yang melibatkan komputer dan jaringan internet. Pengaturan
cybercrime dapat ditemukan dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik. Berikut beberapa tindak pidana informasi elektronik
yang diatur dalam undang-undang tersebut, yaitu:
a. Pornografi di internet atau cyberporn diatur dalam Pasal 27 ayat (1) Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik,
berbunyi :
”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentrasmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik
dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar
kesusilaan”.
Pasal di atas dapat dianggap sebagai ketentuan umum karena secara khusus
cyberporn pengaturannya dapat ditemukan secara lengkap pada Undang-
Undang No.44 Tahun 2008 Tentang Pornografi. Artinya, Undang-Undang
No.44 Tahun 2008 Tentang Pornografi merupakan bentuk khusus dari Pasal
Universitas Sumatera Utara
27 ayat (1) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan
Transaksi Elektronik.
Aturan pornografi yang terdapat dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik tidak mengalami perubahan akan
tetapi perubahan terjadi pada penjelasan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang
No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik yang
tercantum dalam penjelasan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang No. 19 Tahun
2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
”Yang dimaksud dengan “mentransmisikan” adalah mengirimkan Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Eletronik yang ditujukan kepada satu pihak lain
melalui Sistem Elektronik.
Yang dimaksud dengan “membuat dapat diakses” adalah semua perbuatan
lain selain mendistribusikan dan mentransmisikan melalui Sistem Elektronik
yang menyebabkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dapat
diketahui pihak lain atau publik”.
b. Perjudian di internet atau internet gambling diatur dalam Pasal 27 ayat (2)
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi
Elektronik, berbunyi :
”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik
dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan perjudian”.
dan dalam penjelasan yang tertuang pada Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang
No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun
2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
Universitas Sumatera Utara
“Cukup jelas”.
c. Penghinaan dan pencemaran nama baik di Internet diatur dalam Pasal Pasal 27
ayat (3) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan
Transaksi Elektronik, berbunyi :
”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan
penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.
Penjelasannya mengacu pada Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang No. 19 Tahun
2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
“Ketentuan pada ayat ini mengacu pada ketentuan pencemaran nama baik
dan/atau fitnah yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP)”.
d. Pemerasan dan/atau pengancaman melalui internet diatur dalam Pasal 27 ayat
(4) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi
Elektronik, berbunyi :
”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau
pengancaman”.
Universitas Sumatera Utara
Penjelasannya mengacu pada Pasal 27 ayat (4) Undang-Undang No. 19 Tahun
2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
“Ketentuan pada ayat ini mengacu pada ketentuan pemerasan dan/atau
pengancaman yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP)”.
Selanjutnya, selain pasal 27 ayat (4) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik yang mengatur tentang
seseorang yang mengirimkan atau membuat dapat diakses terkait pemerasan
dan pengancaman tetapi juga mengatur tindak pidana mengirimkan Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau
menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi diatur dalam Pasal 29 Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik,
berbunyi :
”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau
menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi”.
Penjelesannya tetap mengacu pada Pasal 29 Undang-Undang No. 11 Tahun
2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi :
”Cukup jelas”.
Universitas Sumatera Utara
e. Penyebaran berita bohong dan penyesatan melalui internet diatur dalam Pasal
28 ayat (1) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan
Transaksi Elektronik, berbunyi :
”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan
menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi
Elektronik”.
Penjelesannya tetap mengacu pada Pasal 28 Undang-Undang No. 11 Tahun
2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi :
”Cukup jelas”.
f. Profokasi melalui internet diatur dalam Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang No.
11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi :
”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang
ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu
dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras,
dan antar golongan (SARA)”.
Penjelesannya tetap mengacu pada Pasal 28 Undang-Undang No. 11 Tahun
2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi :
”Cukup jelas”.
g. Hacking atau memasuki komputer atau mengakses sistem elektronik diatur
dalam Pasal 30 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan
Transaksi Elektronik, berbunyi :
Universitas Sumatera Utara
”(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum
mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik Orang lain
dengan cara apa pun.
(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum
mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun
dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik.
(3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum
mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun
dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem
pengamanan”.
Penjelesannya tetap mengacu pada Pasal 30 Undang-Undang No. 11 Tahun
2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi :
”Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Secara teknis perbuatan yang dilarang sebagaimana dimaksud pada ayat ini
dapat dilakukan, antara lain dengan:
a. melakukan komunikasi, mengirimkan, memancarkan atau sengaja berusaha
mewujudkan hal-hal tersebut kepada siapa pun yang tidak berhak untuk
menerimanya; atau
b. sengaja menghalangi agar informasi dimaksud tidak dapat atau gagal
diterima oleh yang berwenang menerimanya di lingkungan pemerintah
dan/atau pemerintah daerah.
Ayat (3)
Sistem pengamanan adalah sistem yang membatasi akses Komputer atau
melarang akses ke dalam Komputer dengan berdasarkan kategorisasi atau
klasifikasi pengguna beserta tingkatan kewenangan yang ditentukan”.
h. Penyadapan atau intersepsi diatur dalam Pasal 31 Undang-Undang No. 19
Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
Universitas Sumatera Utara
“(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum
melakukan intersepsi atau penyadapan atas Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik dalam suatu Komputer dan/atau Sistem
Elektronik tertentu milik Orang lain.
(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum
melakukan intersepsi atas transmisi Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik yang tidak bersifat publik dari, ke, dan di dalam
suatu Komputer dan/atau Sistem Elektronik tertentu milik Orang lain,
baik yang tidak menyebabkan perubahan apa pun maupun yang
menyebabkan adanya perubahan, penghilangan, dan/atau penghentian
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang sedang
ditransmisikan.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku
terhadap intersepsi atau penyadapan yang dilakukan dalam rangka
penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, atau institusi
lainnya yang kewenangannya ditetapkan berdasarkan undang-undang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara intersepsi sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) diatur dengan undang-undang”.
Penjelasan Pasal 31 Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan
Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik, berbunyi:
“Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “intersepsi atau penyadapan” adalah kegiatan untuk
mendengarkan, merekam, membelokkan, mengubah, menghambat, dan/atau
mencatat transmisi Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang
tidak bersifat publik, baik menggunakan jaringan kabel komunikasi maupun
jaringan nirkabel, seperti pancaran elektromagnetis atau radio frekuensi.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas”.
i. Defacing adalah kegiatan mengubah halaman situs/website pihak lain, seperti
yang terjadi pada situ Menkominfo dan partai Golkar serta Bank Indonesia
Universitas Sumatera Utara
beberapa waktu yang lal dan situs KPU saat pemilu tahun 2004. 85 Defacing
diatur dalam Pasal 32 ayat (1) dan (3, merupakan akibat dari defacing) Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik,
berbunyi:
“(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan
cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi,
merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Orang lain atau
milik publik.
(3) Terhadap perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
mengakibatkan terbukanya suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik yang bersifat rahasia menjadi dapat diakses oleh publik dengan
keutuhan data yang tidak sebagaimana mestinya”.
Penjelasan Pasal 32 ayat (1) dan ayat (3) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
”Cukup jelas”.
j. Pencurian melalui internet diatur dalam Pasal 32 ayat (2) Undang-Undang No.
11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara
apa pun memindahkan atau mentransfer Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik kepada Sistem Elektronik Orang lain yang tidak berhak”.
Penjelasan Pasal 32 ayat (2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang
Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
85
Budi Suhariyanto, Tindak Pidana Teknologi Informasi (Cybercrime): Urgensi Pengaturan
Dan Celah Hukumnya, (Jakarta: PT. RajaGrafindo, 2013), hal. 140
Universitas Sumatera Utara
”Cukup jelas”.
k. Penggangguan melalui internet diatur dalam Pasal 33 Undang-Undang No. 11
Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan
tindakan apa pun yang berakibat terganggunya Sistem Elektronik dan/atau
mengakibatkan Sistem Elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana
mestinya”.
Penjelasan Pasal 33 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
”Cukup jelas”.
l. Fasilitator cybercrime diatur dalam Pasal 34 Undang-Undang No. 11 Tahun
2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
”(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum
memproduksi, menjual, mengadakan untuk digunakan, mengimpor,
mendistribusikan, menyediakan, atau memiliki:
a. perangkat keras atau perangkat lunak komputer yang dirancang atau
secara khusus dikembangkan untuk memfasilitasi perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 33;
b. sandi lewat komputer, kode Akses, atau hal yang sejenis dengan itu yang
ditujukan agar Sistem Elektronik menjadi dapat diakses dengan tujuan
memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai
dengan Pasal 33.
(2) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan tindak pidana jika
ditujukan untuk melakukan kegiatan penelitian, pengujian sistem elektronik,
untuk perlindungan sistem elektronik itu sendiri secara sah dan tidak
melawan hukum”.
Universitas Sumatera Utara
Penjelasan Pasal 34 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
”Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “kegiatan penelitian” adalah penelitian yang
dilaksanakan oleh lembaga penelitian yang memiliki izin”.
m. Plagiat atau pembajakan melalui internet diatur dalam Pasal 35 Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik,
berbunyi:
”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan
manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan informasi
elektronik dan/atau dokumen elektronik dengan tujuan agar informasi
elektronik dan/atau dokumen elektronik tersebut dianggap seolah-olah data
yang otentik”.
Penjelasan Pasal 35 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
”Cukup jelas”.
n. Cybercrime yang menimbulkan kerugian terhadap orang di atur dalam Pasal
36 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik, berbunyi:
“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan
perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 34
yang mengakibatkan kerugian bagi Orang lain”.
Universitas Sumatera Utara
Penjelasan Pasal 36 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
”Cukup jelas”.
Keberadaan pasal ini bertujuan sebagai wujud pemberatan terhadap tindak
pidana yang diatur dalam Pasal 27-36 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik jika terdapat kerugian yang
nyata dari pelaku tindak pidana cybercrime terhadap korban.
o. Cybercrime lintas yurisdiksi Indonesia diatur dalam Pasal 37 Undang-Undang
No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik yag termasuk
kedalam bab perbuatan yang dilarang, berbunyi :
”Setiap Orang dengan sengaja melakukan perbuatan yang dilarang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 36 di luar
wilayah Indonesia terhadap Sistem Elektronik yang berada di wilayah
yurisdiksi Indonesia”.
Penjelasan Pasal 37 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
”Cukup jelas”.
Keberadaan tindak pidana yang di atur dalam Pasal 37 Undang-Undang
No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik bertujuan untuk
menjerat pelaku dari negara asing yang melakukan tindak pidana teknologi
informasi di Indonesia sehingga meskipun berada di luar negeri dapat dituntut di
Indonesia.
Universitas Sumatera Utara
Pengaturan tindak pidana teknologi informasi di atas tidak hanya mengacu
kepada Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi
Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Keberadaan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
bukan untuk menggantikan undang-undang yang lama akan tetapi bertujuan
sebagai penyempurnaan undang-undang yang lama dengan beberapa perubahan.
Keberadaan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
bertujuan untuk memfasilitasi beberapa persoalan, yaitu:
a. Terhadap Undang-Undang ini telah diajukan beberapa kali uji materiil di
Mahkamah Konstitusi dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
50/PUU-VI/2008, Nomor 2/PUU-VII/2009, Nomor 5/PUUVIII/ 2010, dan
Nomor 20/PUU-XIV/2016. Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi
Nomor 50/PUU-VI/2008 dan Nomor 2/PUU-VII/2009, tindak pidana
penghinaan dan pencemaran nama baik dalam bidang Informasi Elektronik
dan Transaksi Elektronik bukan semata-mata sebagai tindak pidana umum,
melainkan sebagai delik aduan. Penegasan mengenai delik aduan
dimaksudkan agar selaras dengan asas kepastian hukum dan rasa keadilan
masyarakat.
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 5/PUU-VIII/2010,
Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa kegiatan dan kewenangan
penyadapan merupakan hal yang sangat sensitif karena di satu sisi merupakan
pembatasan hak asasi manusia, tetapi di sisi lain memiliki aspek kepentingan
hukum. Oleh karena itu, pengaturan (regulation) mengenai legalitas
penyadapan harus dibentuk dan diformulasikan secara tepat sesuai dengan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Di samping
itu, Mahkamah berpendapat bahwa karena penyadapan merupakan
pelanggaran atas hak asasi manusia sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 28J
ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
sangat wajar dan sudah sepatutnya jika negara ingin menyimpangi hak privasi
warga negara tersebut, negara haruslah menyimpanginya dalam bentuk
undang-undang dan bukan dalam bentuk peraturan pemerintah.
Selain itu, berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20/PUU-
XIV/2016, Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa untuk mencegah
terjadinya perbedaan penafsiran terhadap Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) UU
ITE, Mahkamah menegaskan bahwa setiap intersepsi harus dilakukan secara
sah, terlebih lagi dalam rangka penegakan hukum. Oleh karena itu,
Mahkamah dalam amar putusannya menambahkan kata atau frase
“khususnya” terhadap frasa “Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik”. Agar tidak terjadi penafsiran bahwa putusan tersebut akan
mempersempit makna atau arti yang terdapat di dalam Pasal 5 ayat (1) dan
Universitas Sumatera Utara
ayat (2) UU ITE, untuk memberikan kepastian hukum keberadaan Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik sebagai alat bukti perlu dipertegas
kembali dalam Penjelasan Pasal 5 UU ITE.
b. Ketentuan mengenai penggeledahan, penyitaan, penangkapan, dan penahanan
yang diatur dalam UU ITE menimbulkan permasalahan bagi penyidik karena
tindak pidana di bidang Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik begitu
cepat dan pelaku dapat dengan mudah mengaburkan perbuatan atau alat bukti
kejahatan.
c. Karakteristik virtualitas ruang siber memungkinkan konten ilegal seperti
Informasi dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang
melanggar kesusilaan, perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik,
pemerasan dan/atau pengancaman, penyebaran berita bohong dan
menyesatkan sehingga mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi
Elektronik, serta perbuatan menyebarkan kebencian atau permusuhan
berdasarkan suku, agama, ras, dan golongan, dan pengiriman ancaman
kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi dapat diakses,
didistribusikan, ditransmisikan, disalin, disimpan untuk didiseminasi kembali
dari mana saja dan kapan saja. Dalam rangka melindungi kepentingan umum
dari segala jenis gangguan sebagai akibat penyalahgunaan Informasi
Elektronik dan Transaksi Elektronik, diperlukan penegasan peran Pemerintah
dalam mencegah penyebarluasan konten ilegal dengan melakukan tindakan
pemutusan akses terhadap Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
Universitas Sumatera Utara
yang memiliki muatan yang melanggar hukum agar tidak dapat diakses dari
yurisdiksi Indonesia serta dibutuhkan kewenangan bagi penyidik untuk
meminta informasi yang terdapat dalam Penyelenggara Sistem Elektronik
untuk kepentingan penegakan hukum tindak pidana di bidang Teknologi
Informasi dan Transaksi Elektronik.
d. Penggunaan setiap informasi melalui media atau Sistem Elektronik yang
menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan Orang
yang bersangkutan. Untuk itu, dibutuhkan jaminan pemenuhan perlindungan
diri pribadi dengan mewajibkan setiap Penyelenggara Sistem Elektronik untuk
menghapus Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak
relevan yang berada di bawah kendalinya atas permintaan Orang yang
bersangkutan berdasarkan penetapan pengadilan. 86
2. Pengaturan Tindak Pidana Judi Di Indonesia
Pengaturan tindak pidana merupakan konsekuensi dari penjagaan terhadap
masyarakat atau individu oleh pemerintah untuk memberi rasa aman dalam
menjalankan aktifitas kesehariannya. Rasa aman yang dimaksudkan dalam hal ini
adalah perasaan tenang, tanpa ada kekhawatiran akan ancaman ataupun perbuatan
yang dapat merugikan antar individu dalam masyarakat. 87
86
Bagian umum penjelasan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
87
Amir Ilyas, Asas-Asas Hukum Pidana, (Yogyakarta: Rangkang Education Yogyakarta &
PUKAP Indonesia, 2012), hal. 1
Universitas Sumatera Utara
Hakikatnya kemunculan pengaturan tindak pidana yang ditujukan untuk
memberi rasa aman disebabkan karena perbuatan manusia tidak boleh
bertentangan dengan beberapa hal, sebagai berikut: 88
a. Hak asasi manusia, yaitu seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan
keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh
negara hukum, pemerintah dan setiap orang semi kehormatan serta
perlindungan harkat dan martabat manusia.
b. Kepentingan masyarakat umum atau kepentingan sosial, yaitu kepentingan
yang lazim terjadi dalam perspektif pergaulan hidup antar manusia sebagai
insan yang merdeka dan dilindungi oleh norma-norma moral, agama,
sosial/etika serta hukum.
c. Kepentingan pemerintahan dan negara, yaitu kepentingan yang muncul dan
berkembang dalam rangka penyelenggaraan kehidupan pemerintahan serta
kehidupan bernegara demi tegak dan berwibawanya negara Indonesia baik
bagi rakyat Indonesia maupun dalam pergaulan dunia.
Pengaturan tindak pidana di Indonesia ada yang bersifat umum maupun
yang bersifat khusus. Salah satu tindak pidana yang menarik perhatian ialah
tindak pidana yang bersifat umum, yakni tindak pidana judi. Kemenarikan judi
sebagai tindak pidana umum disebabkan kefamiliaran permainan judi di tengah
masyarakat Indonesia dan tindak pidana umum yang memiliki beberapa ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Judi adalah permainan dengan memakai uang sebagai taruhan seperti main
dadu, kartu dan sebagainya. 89 Judi pelarangannya dapat ditemukan dalam Pasal
303 KUHP dan Pasal 303 bis KUHP.
88
Ilhami Bisri, [Link], hal. 40
89
Sudarsono, [Link], hal. 200
Universitas Sumatera Utara
a. Pasal 303 KUHP, berbunyi:
“(1) Dengan hukuman penjara selama-lamanya sepuluh tahun atau denda
sebanyak-banyaknya dua puluh lima juta rupiah dihukum barang siapa
dengan tidak berhak:
1e. Menuntut pencarian dengan jalan sengaja mengadakan atau memberi
kesempatan untuk main judi atau sengaja turut campur dalam
perusahaan main judi
2e. Sengaja mengadakan atau memberi kesempatan untuk main judi
kepada umum atau sengaja turut campur dalam perusahaan untuk
itu, biarpun ada atau tidak ada perjanjiannya atau caranya apa
jugapun untuk memakai kesempatan itu.
3e. Turut man judi sebagai pencaharian
(2) Kalau sitersalah melakukan kejahatan itu didalam jabatannya dapat ia
dipecat dari jabatannya itu.
(3) Yang dikatakan main judi yaitu tiap-tiap permainan yang mendasarkan
pengahrapan buat menang pada umumnya bergantung kepada untung-
untungan saja dan juga kalau pengharapan itu jadi bertambah besar
karena kepintaran dan kebiasaan pemain yang juga terhitung masuk
main judi ialah pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau
permainan lain yang tidak diadakan oleh mereka yang turut berlomba
atau bermain itu, demikian juga segala pertaruhan yang lain”.
Pemahaman terhadap Pasal 303 KUHP merujuk pada pendapat R. Soesilo
ialah
a. Permainan judi disebut dalam bahasa Belanda sebagai hazardspel yang artinya
setiap permainan yang mendasarkan pengharapan buat menang pada
umumnya bergantung pada untung-untungan saja dan juga kalau pengharapan
itu jadi bertambah besar karena kepintaran dan kebiasaan pemain atau yang
dimaksud hazardspel adalah pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau
permainan lain yang tidak diadakan oleh mereka yang turut berlomba atau
bermain dalam segala jenis pertaruhan lain. Jenis-jenis hazardspel, yaitu main
dadu, main selikuran, main jemeh, kodok ulo, roulette, bakarat, kemping
Universitas Sumatera Utara
keles, kocok, keplek, tombola, totalisator pada pacuan kuda, pertandingan
sepak bola dan lain sebagainya sedangkan yang tidak temasuk hazardspel
ialah domino, bridge, ceki, koah, pei, termasuk yang biasa digunakan sebagai
hiburan dan lain sebagainya.
b. Yang dihukum menurut pasal ini ialah
1) Mengadakan atau memberi kesempatan main judi tersebut sebagai mata
pencarian. Misalnya seorang bandar atau orang lain yang sebagai badan
usaha membuka perjudian. Orang yang turut campur dalam hal ini juga
dihukum. Disini tidak perlu perjudian itu ditempat umum atau untuk
umum meskipun ditempat yang tertutup atau kalangan yang tertutup sudah
cukup asal perjudian itu belum mendapat izin dari yang berwajib,
2) Sengaja mengadakan atau memberi kesempatan untuk main judi kepada
umum. Artinya tidak perlu ada anggapan bahwa judi yang dilakukan
sebagai mata pencarian tetapi harus ditempat umum atau yang dapat
dikunjungi umum. Inipun apanila telah ada izin dari yang berwajib tidak
dihukum
3) Turut main judi sebagai mata pencarian
c. Orang yang menyediakan atau mengadakan permainan judi dihukum menurut
pasal ini. 90
90
R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar
Lengkap Pasal Demi Pasal, (Bogor: Politea, 1993), hal. 222
Universitas Sumatera Utara
Bunyi Pasal 303 KUHP mengisyaratkan bahwa judi hanya terkait hal-hal
tertentu dan judi jika merujuk pada pasal ini diperbolehkan dengan syarat harus
ada izin dari pihak yang berwenang.
b. Pasal 303 bis KUHP, berbunyi:
“Degan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun atau denda sebanyak-
banyaknya sepuluh juta rupiah dihukum:
(1) Barang siapa mempergunakan kesempatan main judi yang diadakan
dengan melanggar paeraturan Pasal 303.
(2) Barang siapa turut main judi di jalan umum atau di dekat jalan umum atau
ditempat yang dapat dikunjungi oleh umum kecuali kalau pembesar yang
berkuasa tidak memberi izin untuk mengadakan judi.
(3) Jika pada waktu melakukan pelanggaran itu belum lalu dua tahun sejak
ketetapan putusan hukuman yang dahulu bagi si tersalah lantaran salah
satu pelanggaran ini maka dapat dijatuhkan hukuman penjaran selama-
lamanya enam tahun atau denda sebanyak-banyaknya lima belas juta
rupiah”.
Selaras dengan bunyi Pasal 303 KUHP, Pasal 303 bis KUHP memperbolehkan
judi dengan syarat harus ada izin dari pihak yang berwenang.
Pengaturan perihal judi tidak hanya terbatas pada KUHP saja akan tetapi
terdapat dalam peraturan perundang-undangan lainnya. Kemunculan pengaturan
judi pertama sekali diluar KUHP bertujuan untuk merubah peraturan yang berlaku
pada zaman kolonial dan perubahan terhadap pasal perjudian yang terdapat dalam
KUHP. 91
91
Keberadaan judi sangat tidak cocok untuk Indondesia dimana perjudian pada hakekatnya
bertentangan dengan Agama, Kesusilaan dan Moral Pancasila, serta membahayakan bagi penghidupan
dan kehidupan masyarakat, Bangsa dan Negara, oleh karena itu perlu diadakan usaha-usaha untuk
menertibkan perjudian, membatasinya sampai lingkungan sekecil-kecilnya, untuk akhirnya menuju
kepenghapusannya sama sekali dari seluruh wilayah Indonesia. Konsideran Menimbang Undang-
Undang No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian
Universitas Sumatera Utara
Pemberlakuan pasal perjudian dalam KUHP tidak lantas menghapus
beberapa ketentuan khusus terkait judi yang berlaku pasa masa kolonial maka
dengan keluarnya Undang-Undang No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban
Perjudian ketentuan khusus judi pada masa kolonial juga dihapus. Hal tersebut
sesuai dengan Pasal 4 Undang-Undang No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban,
berbunyi:
“Terhitung mulai berlakunya peraturan Perundang-undangan dalam rangka
penertiban perjudian dimaksud pada Pasal 3 Undang-undang ini, mencabut
Ordonansi tanggal 7 Maret 1912 (Staatsblad Tahun 1912 Nomor 230)
sebagaimana telah beberapa kali dirubah dan ditambah, terakhir dengan
Ordonansi tanggal 31 Oktober 1935 (Staatsblad Tahun 1935 Nomor 526)”.
Keberadaan Undang-Undang No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban
Perjudian tidak hanya menghapus aturan judi yang diatur khusus pada
pemerintahan kolonial belanda akan tetapi juga memberikan perubahan pada
pasal judi yang terdapat dalam KUHP, yakni berupa pemberatan hukuman dan
bunyi pasal didalam KUHP. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 2 Undang-Undang
No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian, berbunyi:
“(1) Merubah ancaman hukuman dalam Pasal 303 ayat (1) Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana, dari Hukuman penjaara selama-lamanya dua tahun delapan
bulan atau denda sebanyak-banyaknya sembilan puluh ribu rupiah menjadi
hukuman penjara selama-lamanya sepuluh tahun atau denda sebanyak-
banyaknya dua puluh lima juta rupiah.
(2) Merubah ancaman hukuman dalam Pasal 542 ayat (1) Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana, dari hukuman kurungan selama-lamanya satu bulan atau
denda sebanyak-banyaknya empat ribu lima ratus rupiah, menjadi hukuman
penjara selama-lamanya empat tahun atau denda sebanyak-banyaknya
sepuluh juta rupiah.
(3) Merubah ancaman hukuman dalam Pasal 542 ayat (2) Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana, dari hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan atau
denda sebanyak-banyaknya tujuh ribu lima ratus rupiah menjadi hukuman
Universitas Sumatera Utara
penjara selama-lamanya enam tahun atau denda sebanyak-banyaknya lima
belas juta rupiah.
(4) Merubah sebutan Pasal 542 menjadi Pasal 303 bis”.
Bunyi pasal 303 dan 303 bis yang dicantumkan dalam KUHP di atas
merupakan hasil dari perubahan dan isinya telah disesuaikan dengan yang
tercantum dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban
Perjudian.
Selanjutnya, sesuai amanat yang tercantum dalam Undang-Undang No. 7
Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian memerlukan peraturan pelaksana maka
ada tanggal 28 Maret 1981 pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 9
Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian. 92 Munculnya Peraturan
Pemerintah No. 9 Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian telah
menjadikan judi memang tidak dapat diizinkan keberadaan atau diperbolehkan
dalam rangka bentuk apapun untuk dilaksanakan. Artinya, pembolehan
pelaksanaan judi tidak boleh diberi izin oleh pejabat yang bewenang dengan
kondisi apapun kecuali telah diatur tersendiri tentang pemberian izin judi dimana
hal tersebut sesuai dengan bunyi pasal-pasal yang tercantum dalam Peraturan
Pemerintah No. 9 Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian, sebagai
berikut:
92
Munculnya Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian
merupakan bentuk penegasan pelarangan judi dimana judi memang benar-benar bertentangan dengan
Agama, Kesusilaan dan Moral Pancasila, serta membahayakan bagi penghidupan dan kehidupan
masyarakat, Bangsa dan Negara, oleh karena itu perlu diadakan usaha-usaha untuk menertibkan
perjudian, membatasinya sampai lingkungan sekecil-kecilnya, untuk akhirnya menuju
kepenghapusannya sama sekali dari seluruh wilayah Indonesia. Bagian Penjelasan Peraturan
Pemerintah No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian
Universitas Sumatera Utara
a. Pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan
Penertiban Perjudian, berbunyi:
“(1) Pemberian izin penyelenggaraan segala bentuk dan jenis perjudian
dilarang, baik perjudian yang diselenggarakan di kasino, di tempat
tempat keramaian, maupun yang dikaitkan dengan alasan-alasan lain.
(2) lzin penyelenggaraan perjudian yang sudah diberikan, dinyatakan dicabut
dan tidak berlaku lagi sejak tanggal 31 Maret 1981”.
b. Pasal 3 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan
Penertiban Perjudian, berbunyi:
“Hal-hal yang berhubungan dengan larangan pemberian izin penyelenggaraan
perjudian yang belum diatur di dalam Peraturan Pemerintah ini akan diatur
tersendiri”.
Kegiatan perjudian yang dilarang dalam Peraturan Pemerintah No. 9
Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian, yaitu:
a. Perjudian di Kasino, antara lain terdiri dari:
1) Roulette;
2) Blackjack;
3) Baccarat;
4) Creps;
5) Keno;
6) Tombola;
7) Super Ping-pong;
8) Lotto Fair;
9) Satan;
Universitas Sumatera Utara
10) Paykyu;
11) Slot machine (Jackpot);
12) Ji Si Kie;
13) Big Six Wheel;
14) Chuc a Luck;
15) Lempar paser/bulu ayam pada sasaran atau papan yang berputar
(Paseran);
16) Pachinko;
17) Poker;
18) Twenty One;
19) Hwa-Hwe;
20) Kiu-kiu.
b. Perjudian di tempat-tempat keramaian, antara lain terdiri dari perjudian dengan:
1) Lempar paser atau bulu ayam pada papan atau sasaran yang tidak bergerak;
2) Lempar Gelang;
3) Lempar Uang (Koin);
4) Kim;
5) Pancingan;
6) Menembak sasaran yang tidak berputar;
7) Lempar bola;
8) Adu ayam;
9) Adu sapi;
Universitas Sumatera Utara
10) Adu kerbau;
11) Adu domba/kambing;
12) Pacu kuda;
13) Karapan sapi;
14) Pacu anjing;
15) Hailai;
16) Mayong/Macak;
17) Erek-erek.
c. Perjudian yang dikaitkan dengan alasan-alasan lain, antara lain perjudian yang
dikaitkan dengan kebiasaan:
1) Adu ayam;
2) Adu sapi;
3) Adu kerbau;
4) Pacu kuda;
5) Karapan sapi;
6) Adu domba/kambing. 93
Perkembangan zaman menuju elektronik kesetiap sisi kehidupan manusia
menyebabkan terbuka juga peluang tindak pidana melalui elektronik termasuk
judi. Untuk mengantisipasi judi melalui teknologi informasi maka dikeluarkan
93
Penjelasan Pasal 1 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan
Penertiban Perjudian
Universitas Sumatera Utara
pengaturan, yakni Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang
Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi :
”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik
dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan perjudian”.
dan dalam penjelasan yang tertuang pada Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No.
19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
“Cukup jelas”.
Ancaman pidana untuk pelaku judi online ialah paling lama 6 (enam)
tahun penjara dan denda maksimal Rp. [Link],00 (satu miliar rupiah). Hal
tersebut sesuai dengan Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang No. 19 Tahun 2016
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
“Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6
(enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah)”.
Universitas Sumatera Utara
3. Pembuktian Judi Online Dikaitkan Dengan Undang-Undang No. 19 Tahun
2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik
Indonesia yang telah memasuki dunia internet sama dengan telah
memasuki era teknologi dan informasi. Sebagai negara berkembang, Indonesia
yang memiliki masyarakat majemuk telah terpengaruh dengan perkembangan
informasi dan teknologi yang sangat pesat sehingga menjadikan warga negara
Indonesia menjadi masyarakat informasi, dengan perkembangan teknologi maka
tercipta perangkat-perangkat informatika yang semakin canggih dan jaringan
sistem informasi yang semakin rumit atau canggih pula, yang berdampak pada
dapat dipenuhinya keinginan seluruh lapisan masyarakat.
Pengaruh perkembangan teknologi dan informasi mendapat reaksi dari
hukum. Reaksi hukum atas perkembangan teknologi dan informasi di dunia ini
dapat dibagi menjadi 3 (tiga) klasifikasi, yaitu: 94
1. Perkembangan hukum dalam ranah fungsi teknologi yang menyangkut hukum
paten dan hukum hak cipta;
2. Perkembangan hukum dalam ranah kapasitas informasi yang menyangkut
prinsip-prinsip fundamental yang berhubungan dengan penyalahgunaan
informasi pribadi atau privacy, akses informasi, keamanan dan kedaulatan
nasional;
3. Perkembangan hukum atas ranah pengaruh teknologi informasi yang
menyangkut perluasan hukum untuk mencakup situasi baru dari pengaruh
teknologi, misalnya kerahasiaan dan keamanan informasi, penyebaran
informasi serta akses informasi, properti, isu-isu etis, perluasan lingkup
hukum pidana (penipuan, penyalahgunaan informasi dan perjudian).
94
Ririn Sjafriani, Anggara dan Supriyadi W.E., Kontroversi Undang-Undang ITE:
Menggugat Pencemaran Nama Baik Di Ranah Maya, (Jakarta: Degraf Publishing, 2010) hal. 27
Universitas Sumatera Utara
Perkembangan teknologi infomasi telah menyentuh banyak sisi kehidupan
manusia. Salah satu aspek yang disentuh oleh teknologi informasi ialah hukum.
Hukum keberadaan dalam wujud peraturan perundang-undangan harus mengatur
tentang teknologi informasi. Teknologi informasi yang disentuh oleh hukum salah
satunya ialah persoalan cybercrime (tindak pidana teknologi informasi).
Cybercrime merupakan salah satu bentuk atau dimensi baru dari kejahatan masa
kini yang mendapat perhatian luas dunia internasional. 95 Bentuk kerugian atau
kerusakan yang ditimbulkan oleh cybercrime lebih besar dari kejahatan
konvensional. Hal tersebut senada dengan pendapat M. Yahya Harahap yang
mengutip pendapat Edwin W. Tucher W. Hengkel, sebagai berikut: 96
“Kejahatan dari perbuatan orang atau kelompok orang dalam melaksanakan
pembobolan bank dalam bentuk tindakan tanpa kekerasan (non-violent criminal
offense) dengan mempergunakan teknologi elektronik jauh lebih besar, seratus
kali dari pencurian, pembongkaran atau perampokan biasa”.
Berbahanya cybercrime seperti yang telah diuraikan di atas sangat menjadi
perhatian luas sampai pada tahap internasional. Hal itu terbukti dengan telah
dilakukannya Kongres ke VII Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun 1990 Tentang
95
Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum Dan Kebijakan Penanggulangan
Kejahatan, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2001), hal. 243-244
96
M. Yahya Harahap, Beberapa Tinjauan Tentang Permasalahan Hukum Buku Kedua,
(Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1997), hal. 65
Universitas Sumatera Utara
Computer Related Crime yang telah mengajukan beberapa kebijakan, sebagai
berikut: 97
a. Menghimbau negara anggota untuk mengintensifkan upaya-upaya
penanggulangan penyalahgunaan komputer yang lebih efektif dengan cara
melakukan modernisasi hukum pidana materiil dan hukum acara pidana,
mengembangkan tindakan-tindakan pencegahan dan pengamanan komputer,
melakukan langkah-langkah untuk membuat peka warga masyarakat, aparat
pengadilan dan penegak hukum lainnya terhadap pentingnya pencegahan
kejahatan yang berhubungan dengan cybercrime.
b. Menghimbau negara anggota meningkatkan kegiatan internasional dalam upaya
penanggulangan cybercrime.
c. Merekomendasikan kepada Komite Pengendali Dan Pencegahan Kejahaan
(Committee on Crime Prevention an Control) Perserikatan Bangsa-Bangsa
untuk menyebarluaskan pedoman dan standar untuk membantu negara
anggota dalam menghadapi cybercrime ditingkat nasional, regional dan
internasional. Disamping itu negara anggoa dapat mengembangkan penelitian
dan analisa lebih lanjut guna menemukan cara-cara baru meghadapi problem
cybercrime dimasa yang akan datang dan diharapkan juga mempertimbangkan
cybercrime sewaktu meninjau pengimplementasian perjanjian ekstradisi dan
bantuan kerjasama di bidang penangulangan kejahatan cybercrime tersebut.
Perlindungan terhadap cybercrime di Indonesia melalui instrumen
peraturan perundang-undangan, yakni Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun
2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang
Informasi Dan Transaksi Elektronik. Didalam peraturan perundang-undangan
tersebut terdapat 14 (empat belas) jenis tindak pidana teknologi informasi (telah
diuraikan pada sub bab di atas) dan sebagai besar diatur dalam bentuk
konvensional pada KUHP. Salah satu cybercrime yang cukup menarik ialah judi
online (bagi sebagian orang judi merupakan hiburan namun permainan judi baik
97
Ermansjah Djaja, [Link], hal. 34-35
Universitas Sumatera Utara
konvensional maupun online dilarang di Indonesia karena tidak sesuai dengan
Pancasila dan dapat menyebabkan kerugian yang besar bagi pemain secara
khusus).
Judi online atau judi melalui internet merupakan industri yang
berkembang pesat sejak kelahirannya. Hal dibuktikan dengan keuntungan yang
diperkirakan oleh pengamat bisa mencapai nilai $ 10 miliar. 98 Pengaturan
pelarangan judi online termuat dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No. 11
Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi :
”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik
dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan perjudian”.
Tindak pidana judi online yamh diatur dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik tentu
sesuai dengan tindak pidana pada umumnya memiliki unsur subjektif dan unsur
objektif serta subjek tindak pidana.
Unsur subjektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau
yang berhubungan dengan diri si pelaku, dan termasuk ke dalamnya yaitu segala
sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Sedangkan unsur objektif adalah
98
Budi Suhariyanto, [Link], hal. 113
Universitas Sumatera Utara
unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu di dalam
keadaan-keadaan mana tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus di lakukan. 99
Unsur-unsur subjektif dari suatu tindak pidana, yaitu: 100
a. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau Culpa).
b. Maksud atau Voornemen pada suatu percobaan atau pogging seperti yang
dimaksud dalam Pasal 53 ayat 1 KUHP.
c. Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat misalnya di
dalam kejahatan-kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan dan
lain-lain.
d. Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachte raad seperti yang terdapat
di dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP.
e. Perasaan takut yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana
menurut Pasal 308.
Unsur-unsur objektif dari sutau tindak pidana, yaitu : 101
a. Sifat melanggar hukum atau wederrechtelicjkheid.
b. Kualitas dari si pelaku, misalnya keadaan sebagai seorang pegawai negeri di
dalam kejahatan jabatan menurut Pasal 415 KUHP atau keadaan sebagai
pengurus atau komisaris dari suatu Perseroan Terbatas di dalam kejahatan
menurut Pasal 398 KUHP.
c. Kausalitas yakni hubungan antara suatu tindak pidana sebagai penyebab
dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.
Sesuai dengan uraian di atas maka unsur subjektif dari Pasal 27 ayat (2)
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik
ialah pada kalimat ”dengan sengaja” dan ”tanpa hak” sedangkan unsur objektif
atau kelakuan terdapat dalam kalimat ”mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik
dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan perjudian”. Pemaknaan
99
P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana, (Bandung: [Link] Aditya Bakti, 1997),
hal. 193
100
Ibid
101
Ibid, hal. 194
Universitas Sumatera Utara
terhadap kata mendistribusikan, mentransmisikan dan membuat dapat diaksesnya
merujuk pada penjelasan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang No. 19 Tahun 2016
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
Dan Transaksi Elektronik karena pada hakikatnya proses pelanggaran atau
kejahatan cybercrime seluruh unsur objektifnya sama, yakni mendistribusikan,
mentransmisikan dan membuat dapat diaksesnya sehingga yang dimaksud dengan
“mendistribusikan” adalah mengirimkan dan/atau menyebarkan Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik kepada banyak Orang atau berbagai
pihak melalui Sistem Elektronik, yang dimaksud dengan “mentransmisikan”
adalah mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Eletronik yang
ditujukan kepada satu pihak lain melalui Sistem Elektronik dan yang dimaksud
dengan “membuat dapat diakses” adalah semua perbuatan lain selain
mendistribusikan dan mentransmisikan melalui Sistem Elektronik yang
menyebabkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dapat diketahui
pihak lain atau publik.
Subjek tindak pidana pada Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No. 11
Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik terdapat dalam kalimat
”setiap orang”. Kalimat ”setiap orang” menunjukkan arti yang mengarah kepada
subjek hukum sehingga subjek tindak pidana judi dapat berupa manusia atau
badan hukum. 102
102
Manusia (natuurlijke persoon) adalah makhluk yang berakal budi yang pada hakikatnya
mampu menguasai makhluk lain dan Badan hukum (rechtspersoon) adalah badan atau organisasi yang
Universitas Sumatera Utara
Judi online memeiliki beraneka ragam jenis, yaitu judi bola, domino,
poker, togel dan lain sebagainya. Namun, diantara beraneka ragamnya judi online
tersebut terdapat kesamaan diantara kesemuanya, yakni pendaftaran untuk
bermain judi harus menggunakan akun yang formatnya telah disediakan oleh
website penyedian layanan judi online. Website penyedia layanan judi online
antara lain :
a. [Link],
b. [Link],
c. [Link],
d. [Link],
e. [Link],
f. dan lain sebagainya
Pemain atau pelaku judi online jika tidak dapat mendaftar pada situs
utama judi online dapat mendaftar pada situs alternatif, misalnya: situs
[Link] memiliki situs alternatif, sebagai berikut:
a. [Link],
b. [Link],
c. [Link],
d. [Link],
oleh hukum diperlakukan sebagai orang. Subjek hukum pidana ialah sama dengan subjek hukum pada
umumnya. C.S.T Kansil, Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,
1986), hal. 117-119 dan Roni Wijayanto, Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: CV. Mandar
Madju, 2012), hal. 160
Universitas Sumatera Utara
e. [Link].
Prosedur untuk pendaftaran judi online telah disinggung sedikit di atas.
Selanjutnya, setelah registrasi secara online dan mentransfer sejumlah dana
sebagai deposit (sesuai yang ditentukan masing-masing situs). Kegunaan
mentransfer sejumlah uang ialah untuk mengaktifkan akun yang telah didaftarkan.
Permainan judi online jika memenangkan judinya maka dapat menarik sejumlah
uang yang dimenangkan (withdraw) dengan mengkonfirmasi nama dan nomor
rekening tempat uang kemenangan akan ditranfer oleh penyedia layanan situs judi
online (bertindak sebagai bandar judi online).
Merujuk pada Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik maka pihak-pihak yang terlibat
dalam judi online yang dapat dikenakan pasal tersebut, yaitu:
a. Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan yang memiliki
muatan judi, dimana sesorang itu mengirimkan dan/atau menyebarkan
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik kepada banyak Orang
atau berbagai pihak melalui Sistem Elektronik yang terkadung elemen-elemen
judi didalamnya atau orang yang menjadikan usaha menawarkan atau
memberikan kesempatan sebagai mata pencarian atau yang turut serta dalam
perusahaan judi. Artinya penawaran dan pemberian kesempatan tersebut dapat
ditujukan untuk orang per orang atau untuk publik. Kategori ini misalnya
ditujukan terhadap pemilik website yang menyelenggarakan perjudian atau
ditujukan terhadap orang yang bekerja pada bagian marketing perjudian yang
Universitas Sumatera Utara
mengirimkan email spam atau melalui short massege system (sms) yang berisi
muatan judi. Selain itu, mendistribusikan muatan perjudian dapat berupa
menginstal aplikasi perjudian dalam komputer-komputer di suatu warnet. 103
b. Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mentransmisikan yang memiliki
muatan judi, dimana seseorang itu mengirimkan Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Eletronik yang ditujukan kepada satu pihak lain melalui
Sistem Elektronik yang memuat unsur judi atau seseorang telah menggunakan
kesempatan bermain judi online telah digunakan (menyatakan niatnya untuk
bermain judi melalui tindakan secara nyata dimana tindakan tidak dapat
ditarik kembali). Misalnya: kesempatan untuk bermain judi dikatakan telah
digunakan dalam hal pemain telah menyatakan persetujuan atas taruhan
permainan judi dimana tindakan persetujuan ini dapat mengklik pilihan “yes”
atau “accept”. Dengan mengklik pilihan tersebut secara otomatis pemain tidak
dapat merubah pilihannya lagi. 104
c. Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak dapat diaksesnya yang memiliki
muatan judi, dimana seseorang melakukan semua perbuatan lain selain
mendistribusikan dan mentransmisikan melalui Sistem Elektronik yang
menyebabkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dapat
diketahui pihak lain atau publik atau tindakan memberikan kode akses kepada
pemain sehingga ia dapat bermain judi bisa dikategorikan sebagai “dapat
103
Josua Sitompul, Cyberspace, Cybercrime, Cyberlaw Tinjauan Aspek hukum Pidana,
(Jakarta: PT. Tatanusa, 2012), hal. 167
104
Ibid, hal. 168-169
Universitas Sumatera Utara
diaksesnya” baik secara langsung maupun tdak langsung. Dalam kondisi
situsional dapat dilihat yang dimaksud dapat diaksesnya, yaitu: 105
1) Pemain harus bermain diwarnet yang dikelola oleh pelaku karena hanya di
dalam komputer yang berada di warnet tersebut, program permain judi
telah diinstal,
2) Pemain harus memiliki kartu yang berisi poin yang dapat dibeli melalui
pelaku atau para pemain dapat bermain judi dengan menempelkan kartu
pada card reader sehingga dapat mengakifkan permainan judi,
3) Apabila pemain tersebut kalah maka poinnya akan berkurang dan apabila
menang maka poinnya akan bertambah sehingga pemain dapat
menukarkan poin yang didapat dengan uang ditempat judi game internet
yang dikelola oleh tersangka tersebut atau ditempat lain.
Merujuk pada pengkateorian tindak pidana judi online di atas maka
pengelola website, pengelola warung internet yang membolehkan akses situs judi
online, bandar judi online dan pemai judi online dapat dikenakan Pasal 27 ayat (2)
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik
sebagai bentuk kejahatan khusus yang tercantum dalam undang-undang khusus
pula. Namun, penerapan yang terjadi sebaliknya dalam sebuah putusan ditemukan
kasus judi online, yakni pemainya didakwa dan dituntut dengan menggunakan
Pasal 303 ayat (1) KUHP dan Pasal 303 bis KUHP yang tercantum pada Putusan
Pengadilan Negeri Sibolga No. 141/Pid.B/2014/PN Sbg.
Terpidana dalam putusan tersebut dituntut Pasal 303 KUHP dan Pasal 303
bis KUHP disebabkan karena kronologi dan alat bukti sesuai dengan KUHAP,
sebagai berikut:
105
Ibid, hal. 170
Universitas Sumatera Utara
a. Kronologi Terpidana dituntut Pasal 303 KUHP dan Pasal 303 bis KUHP yang
tercantum pada Putusan Pengadilan Negeri Sibolga No. 141/Pid.B/2014/PN
Sbg
Awalnya terpidana menerima nomor pasangan dari peminat baik yang
datang secara langsung maupun pemasang yang melalui SMS kemudian
setelah terpidana menerima nomor pasangan lalu terpidana langsung
memasukkan uang ke nomor Rekening Bank BRI milik terpidana dan setelah
itu terpidana baru menuju mesin ATM BRI milik terdakwa dan setelah itu
terdakwa mentransfer uang pasangan tersebut ken Nomor Bank Mandiri milik
Wily Wijaya dan setelah terdakwa mentransfer uang pasangan tersebut
kemudian terdakwa membuka internet baik melalui HP nokia type E5 milik
terpidana maupun menyewa internet dan membuka situs [Link]
dimana terpidana sudah terdaftar sebagai pelanggan dengan nomor ID
dontotulai pasword 1981 deni2 dan setelah koneksi terhubung terpidana baru
mendepositokan uang sesuai dengan yang terdakwa transfer dan setelah uang
masuk kedalam deposit baru terpidana bisa melakukan pemasangan nomor
pasangan togel pelanggan secara online dan secara otomatis saldo milik
terpidana tersebut berkurang sesuai dengan banyaknya jumlah nomor dan
nominal yang terpidana pasang, bagi pembeli atau pemasang nomor dikatakan
menang apabila nomor pasangannya cocok atau sama dengan nomor yang
keluar dan mendapat hadiah sesuai dengan jumlah pasangannya, untuk
pasangan 2 (dua) angka dengan pembelian Rp.1000,- (seribu rupiah)
Universitas Sumatera Utara
mendapat hadiah sebesar Rp.70.000,- (tujuh puluh ribu rupiah), untuk
pasangan 3 (tiga) angka dengan pembelian Rp.1000,- (seribu rupiah)
mendapat hadiah sebesar Rp.400.000,- (empat ratus ribu rupiah) dan untuk
pasangan 4 (empat) angka dengan pembelian Rp.1000,- (seribu rupiah) akan
mendapat hadiah sebesar Rp.2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah),
sedangkan pembeli atau pemasang yang kalah adalah yang nomor
pasangannya tidak cocok atau tidak sama dengan nomor yang keluar dan uang
pasangannya menjadi milik Bandar, dan permainan judi jenis Togel yang
dimainkan terdakwa bersifat untung-untungan dan tidak ada izin dari pihak
yang berwenang.
b. Alat bukti dalam Putusan Pengadilan Negeri Sibolga No. 141/Pid.B/2014/PN
Sbg, sebagai berikut:
1) Keterangan saksi,
2) Keterangan terdakwa,
3) Barang bukti, terdiri dari:
(a) 1 (satu) unit handphone Nokia type E5 warna hitam;
(b) 1 (satu) unit handphone Nokia type N1280 warna hitam;
(c) 1 (satu) lembar slip setoran Bank BRI an. Deni Suhari Piliang;
(d) 1 (satu) lembar ATM BRI No.5221 8410 3711 3940;
(e) Uang tunai sebesar Rp.28.000,- (dua puluh delapan ribu rupiah);
Terpidana dihukum dengan Pasal Pasal 303 ayat (1) KUHP dengan pidana
penjara selama 2 (dua) bulan dan 20 (dua puluh) hari. Jika dilihat pada fakta
Universitas Sumatera Utara
persidangan (dalam putusan Putusan Pengadilan Negeri Sibolga No.
141/Pid.B/2014/PN Sbg) terungkap bahwa cara permainan judi togel yang
dimainkan Terdakwa ialah Terdakwa menerima nomor/angka pasangan
pelanggan baik yang datang langsung maupun melalui SMS dari
pelanggan/pemasang, setelah menerima angka tersebut, Terdakwa memasangkan
tebakan angka-angka pasangan dari pemasang ke situs [Link]. Kemudian
dari situs tersebut keluar angka yang muncul, jika sama maka dia mendapat
hadiah uangnya. Pemasang memberikan uang kepada Terdakwa dan kemudian
melalui nomor rekening Bank BRI milik Terdakwa, Terdakwa mentransfer uang
pasangan tersebut ke nomor rekening Bank Mandiri atas nama Wily Wijaya yang
tertera disitus tersebut.
Terkait fakta persidangan di atas seharusnya penyidik maupun penuntut
umum dapat mengenakan Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik bukan pasal yang tercantum dalam
KUHP. Hal itu disebabkan karena terdapat unsur mendistribusikan, yakni
“Terdakwa menerima nomor/angka pasangan pelanggan baik yang datang
langsung maupun melalui SMS dari pelanggan/pemasang, setelah menerima
angka tersebut, Terdakwa memasangkan tebakan angka-angka pasangan dari
pemasang ke situs [Link]”. Perlu dipahami bahwa unsur
mendistribusikan, mentransmisikan dan dapat diakses bersifat relatif bukan
kumulatif. Artinya, terpenuhi saja salah satu unsur maka dapat dikenakan Pasal
Universitas Sumatera Utara
27 ayat (2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan
Transaksi Elektronik.
Konsekuensi dengan adanya Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang
Informasi Dan Transaksi Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
Dan Transaksi Elektronik setiap ada tindak pidana yang berkaitan dengan
teknologi informasi harus diperiksa dengan baik dan benar penggunaan teknologi
informasi dalam sebuah tindak pidana. Tindak pidana judi online dalam proses
pembuktiannya harus melibatkan alat bukti elektronik yang mana jika mengacu
pada Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi
Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 ialah dokumen elektronik dan informasi
elektronik.
Penemuan barang bukti seperti dalam Putusan Pengadilan Negeri Sibolga
No. 141/Pid.B/2014/PN Sbg sebenarnya sudah dapat melakukan pelacakan
terhadap judi online (kumputer atau laptop yang tersambung ke jaringan internet)
yang dilakukan terpidana karena mampu tersampung ke jaringan internet. Proses
judi online sebagaimana telah diuraikan di atas maka untuk dapat bermain judi
pelaku harus mentransfer sejumlah uang yang kemudian dikonversi menjadi chip,
dan penyidik dapat menemukan bukti transfer dari terdakwa kepada rekening
yang digunakan untuk bermain judi. Seharusnya, penyidik melakukan penyidikan
terhadap hasil imaging server pengelola judi yang mana dapat membuktikan
Universitas Sumatera Utara
adanya bukti transfer dari terdakwa dan ada bukti hasil konversi nilai uang
menjadi chip judi milik pelaku judi online, maka petunjuk tersebut dapat
dijadikan alat bukti, demikian pula hasil imaging-nya. Jika penyidik benar
menyita komputer atau handphone milik pelaku judi online dari penyidikan
tersebut ditemukan fakta-fakta bahwa: 106
a. Telah mengakses website perjudian sebagaimana dibuktikan dari hasil imaging
komputer/handphone;
b. Terdakwa telah mengunduh dan meng-install aplikasi permainan judi
sebagaimana dibuktikan dari hasil imaging laptop pelaku;
c. Terdakwa telah melakukan transaksi berupa transfer sejumlah uang
sebagaimana dibuktikan dari bukti transfer dan pengelola telah memproses
uang yang ditransfer pelaku dengan mengkonversinya dengan chip judi
sebagaimana dibuktikan dengan hasil imaging server pengelola judi.
Imaging server ini akan mampu membuktikan terjadinya proses judi
online. Selanjutnya, maka dokumen elektronik atau informasi elektronik telah
ditemukan dan alat bukti pertama (utama dalam cybercrime) pada judi online
sudah terpenuhi. Untuk memenuhi syarat agar tindak pidana judi online dapat
diproses dipersidangan maka alat bukti yang dapat digunakan untuk cybercrime
sesuai dengan Pasal 184 ayat (1) KUHAP dimana dikenal dengan 5 (lima) buah
alat bukti, yaitu:
a. Keterangan saksi,
b. Keterangan ahli,
c. Surat,
d. Petunjuk,
e. Keterangan terdaakwa.
106
Putri Ayu Trinawati [Link], ”Kekuatan Pembuktian Transaksi Elektronik Dalam Tindak
Pidana Perjudian Online Dari Perspektif Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan
Transaksi Elektronik (Putusan No. 140/Pid.B/2013/PN-TB)”, Dalam Jurnal Ilmu Hukum Universitas
Jember 2015, I (1), (Jember: Fakultas Hukum Universitas Jember), hal. 8
Universitas Sumatera Utara
Hal tersebut sesuai dengan Pasal 44 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:
”Alat bukti penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan
menurut ketentuan Undang-Undang ini adalah sebagai berikut:
a. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam ketentuanPerundang-undangan; dan
b. alat bukti lain berupa Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1angka 1 dan angka 4 serta Pasal 5 ayat
(1), ayat (2), dan ayat (3)”.
Konsep pembuktian dalam hukum acara pidana tetap mengacu pada
KUHAP kecuali undang-undang menentukan berbeda. Cybercrime secara khusus
judi online proses pemeriksaan persidangan juga menggunakan KUHAP. Oleh
karena itu maka untuk pembuktian juga menganut minimal 2 (dua) alat bukti. Hal
tersebut sesuai dengan Pasal 183 KUHAP, berbunyi:
“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah, ia memperoleh keyakinan bahwa
suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannya”.
Merujuk pada Pasal 183 KUHAP maka sistem pembuktian pidana
Indonesia ialah negatief wettelijk dimana mendasarkan diri pada alat bukti yang
telah sah menurut undanh-undang dan keyakinan hakim. Artinya, jika diakitkan
dengan pembuktian judi online maka keberadaannya harus menggunakan alat
bukti yang dianggap sah menurut undang-undang, yakni alat bukti elektronik dan
yang tercantum pada Pasal 184 KUHAP. Terkait dengan penilaian terhadap alat
bukti merupakan kewenangan hakim karena hukum acara pidana menurut juga
Universitas Sumatera Utara
pada keyakinan hakim pada sisi pembuktian. Hakim yang menentukan nilai dan
kesesuaian antara alat bukti yang diajukan. Keadaan ini membawa arah kepada
tidak ada alat bukti yang paling tinggi nilainya dalam pembuktian di pidana.
Namun, untuk judi online harus memang menemukan alat bukti elektronik baik
dokumen elektronik maupun informasi elektronik sebagai alat bukti ditambah
dengan alat bukti lainnya.
Alat bukti elektronik dapat digunakan sebagai alat bukti untuk pembuktian
tindak pidana judi online sesuai dengan Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang No. 11
Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik sehingga persyaratan
terhadap dapat dipakai untuk pembuktian tindak pidana judi online terpenuhi.
Terkait dengan keyakinan hakim merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan
tersembunyi secara subjektif serta sulit mengujinya dengan cara dan ukuran
objektif 107 dimana menjadi salah satu penentu alat bukti elektronik dapat diyakini
kebenarannya (ditambah alat bukti elektronik dapat dengan mudah dipalsukan
atau disabotase) maka dapat dibentuk mindset agar hakim bisa menerima alat
bukti elektronik dan memeriksanya (untuk penilaian alat bukti memiliki
keterkaitan tergantung penilaian hakim yang terpenting ialah untuk dokumen
elektroni terjamin keasliannya) dengan melengkapi beberapa tahapan (metode
digital forensik), yaitu: 108
107
M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP: Pemeriksaan
Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, Dan Peninjauan Kembali, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), hal.
281
108
Josua Sitompul, [Link], hal. 291-295
Universitas Sumatera Utara
a. Pengambilan (acquisition)
Mengingat sifatnya yang dapat diubah, dirusah atau dihilangkan apabila tidak
ditangani dengan tepat pengembalian informasi atau dokumen elektronik
harus dilakukan dengan menjaga dan melindungi keutuhan atau dilakukan
dengan menjaga dan melindungi keutuhan atau menjaga integritasnya. Tahap
ini dimaksudkan untuk mengambil dan mengamankan alat bukti elektronik
asli (original). Cara atau prosedur pengambilan alat bukti elektronik yang
original dapat didasarkan pada kondisi awal ditemukannya alat bukti
elektronik atau perangkat yang menyimpan alat bukti tersebut.
b. Pemeriksaan dan analisa
Pemeriksaan terhadap alat bukti elektronik original umumnya menggunakan
perangkat keras dan lunak yang khusus dibuat untuk kepentingan digital
forensik. Pada tahap ini, pemeriksa juga melakukan ekstraksi dengan
menggunakan write blocker, yaitu alat yang digunakan untuk penulisan
terhadap data original. Nilai dari hasil ekstraksi apabila diperlukan
pemeriksaan ulang oleh pemeriksa yang berbeda akan memiliki nilai yang
sama. Setelah alat bukti original diperoleh maka harus dibuat salinan dari alat
bukti yang original. Selanjutnya pemeriksaan salinan dari alat bukti elektronik
original.
c. Dokumentasi dan presentasi
Setiap tindakanyang dilakukan dalam pengumpulan dan pemeriksaan alat
bukti elektronik harus didokumentasikan secara akurat dan menyeluruh. Tidak
hanya tindakan dalam melakukan digital forensik tetapi juga tindakan yang
terkait dengannya. Laporan dengan memuat proses dan tahapan yang
dilakukan dalam pemeriksaan termasuk alat dan perangkat yang digunakan.
Selain itu, laporan juga perlu memuat informasi mengenai keseluruhan data
yang diperoleh serta data yang relevan dengan tindak pidana.
Keberadaan hasil digital forensik yang disebut hasil ekstraksi akan
bernilai sama dengan hasil pemeriksaan ulang oleh aparat penegak hukum lainnya
kecuali apabila yang dilakukan pemeriksaan alat bukti elektronik bukan yang
temukan atau diajukan bukti oleh kepolisian sebagai gerbang penyidikan awal. 109
Dengan demikian dalam judi online sudah seharusnya barang-barang bukti seperti
website maupun database para pemain dijadikan barang bukti dalam tindak
pidana perjudian ini. Dalam kasus ini, dengan melihat barang-barang bukti yang
109
Ibid, hal. 293
Universitas Sumatera Utara
dihadirkan dalam persidangan, keyakinan hakim atas persesuaian antara barang
bukti dan alat bukti adalah suatu hal yang menjadi kunci untuk memutus perkara
tindak pidana perjudian melalui internet tersebut. 110
110
Putri Ayu Trinawati [Link], [Link]
Universitas Sumatera Utara
BAB III
HAMBATAN DALAM PEMBUKTIAN JUDI ONLINE YANG DIKAITKAN
DENGAN UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN 2016 TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO. 11 TAHUN 2008 TENTANG
INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK
A. Hambatan Dalam Pembuktian Judi Online Yang Dikaitkan Dengan Undang-
Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.
11 Tahun 2008
Praktek dikenal dan berkembang apa yang dinamakan bukti elektronik. Hal ini
diakibatkan pesatnya perkembangan teknologi informasi terutama melalui internet
sehingga telah mengubah aktifitas-aktifitas kehidupan yang semula dilakukan secara
kontak fisik kini cukup mengunakan cyberspace (dunia maya) yang berujung jika
terjadi sengketa maka alat bukti yang digunakan adalah bukti elektronik. Salah satu
bukti elektronik ialah informasi elektronik dan dokumen elektronik. Pengaturan
informasi elektronik dan dokumen elektronik terdapat pada Undang-Undang No. 11
Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik serta Peraturan Pemerintah
No. 82 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Sistem Dan Transaksi Elektronik.
Sebelum keluarnya undang-undang tersebut pengaturan yang mengarah kepada
penggunaan dan pengakuan dokumen elektronik sebagai alat bukti sudah ada, yaitu
: 111
111
Ahmad M. Ramli, Menuju Kepastian Hukum Dibidang : Informasi dan Transaksi Elektronik,
(Jakarta: Departemen Komunikasi Dan Informasi, 2007), hal. 46
84
Universitas Sumatera Utara
1. Dikenalnya online trading dalam kegiatan bursa efek;
2. Pengaturan mikrofilm sebagai media penyimpanan dokumen perusahaan yang
telah diberi kedudukan sebagai alat bukti tertulis otentik dalam Undang-Undang
No. 8 Tahun 1997 Tentang Dokumen Perusahaan.
Sebagai alat bukti, informasi elektronik dan dokumen elektronik dapat
dipercaya menjadi alat bukti jika dilakukan dengan beberapa syarat, yaitu : 112
1. Menggunakan peralatan komputer untuk menyimpan dan memproduksi print-out;
2. Proses data seperti pada umumnya denga memasukkan inisial dalam sistem
pengelolaan arsip yang dikomputerisasikan;
3. Menguji data dalam waktu yang tepat, setelah data dituliskan oleh seseorang yang
mengetahui peristiwa hukumnya.
Syarat-syarat lain yang harus dipenuhi, yaitu: 113
1. Mengkaji informasi yang diterma untuk menjamin keakuratan data yang
dimasukkan;
2. Metode penyimpanan dan tindakan pengambilan data untuk mencegah hilangnya
data waktu disimpan;
3. Penggunaan program komputer yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan untuk
memproses data;
4. Mengukur uji pengambilan keakuratan program;
5. Waktu dan persiapan model print-out komputer.
Syarat-syarat diatas, tidak hanya berlaku bagi dokumen elektronik maupun
informasi elektronik akan tetapi juga berlaku untuk alat bukti elektronik lainnya.
Contoh alat bukti elektronik lainnya ialah tanda tangan digital (digital signature), e-
contract, teleconference, dan lain sebagainya.
Munculnya Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan
Transaksi Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan
112
Ibid, hal. 43
113
Ibid
Universitas Sumatera Utara
Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 merupakan upaya Indonesia untuk
memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat Indonesia. Cybercrime begitu
menjamur di seluruh dunia termasuk Indonesia. salah satunya ialah judi baik judi
konvensional maupun judi online. Judi online merupakan kejahatan yang cukup
mudah dilakukan dan cukup sulit untuk diberantas di Indonesia sama dengan judi
konvensional.
Judi online cukup mudah atau memberi kemudahan bagi para pemainnya
untuk melakukan kegiatan tersebut. Para penjudi dapat melakukan kegiatan judi
online-nya dengan melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit (tidak hanya
sebatas menggunakan rekening tabungan). 114 Akibatnya, para pelaku judi
konvensional tidak menutup kemungkinan beralih juga ke judi online atau dapat
menarik pemain baru dengan bentuk kemudahan yang diberikan situs judi online
tersebut. Artinya, rata-rata pemain judi menginginkan kemudahan dalam memperoleh
uang dan menanganggap permainan judi tidak terlalu beresiko dibandingkan dengan
melakukan tindak pidana lain.
Alat bukti dalam sistem pembuktian di Indonesia terbagi atas beberapa
kategori, yaitu : 115
1. Oral Evidence, terdiri dari :
a. Perdata (keterangan saksi, pengakuan dan sumpah);
b. Pidana (keterangan saksi, keterangan ahli dan keterangan terdakwa).
2. Documentary Evidance, terdiri dari :
a. Perdata (surat dan persangkaan);
b. Pidana (surat dan petunjuk).
114
Budi Suhariyanto, [Link], hal. 168
115
Didik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, Cyber Law : Aspek Hukum Teknologi
Informasi, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2009) hal. 100-101
Universitas Sumatera Utara
3. Material Evidance, terdiri dari :
a. Perdata (tidak dikenal);
b. Pidana (barang yang digunakan untuk melakukan tindak pidana, barang
yang digunakan untuk membantu tindak pidana, barang yang merupakan
hasil tindak pidana, barang yang diperoleh dari suatu tindak pidana dan
informasi dalam arti khusus).
4. Elektronic Evidance, terdiri dari :
a. Konsep pengelompokan alat bukti menjadi alat bukti tertulis dan
elektronik, tidak dikenal;
b. Konsep tersebut terutama berkembang di negara-negara common law;
c. Pengaturannya tidak melahirkan alat bukti baru, tetapi memperluas
cakupan alat bukti yang masuk kategori documentary evidance.
Eletronic Evidance atau alat bukti elektronik sebagai salah satu alat bukti
dalam sistem pembuktian di Indonesia setidaknya mendapat perhatian khusus.
Perhatian khusus itu bukan hanya karena alasan diatas akan tetapi alat bukti
elektronik juga menuntut adanya hukum pembuktian harus cukup fleksibel untuk
menghadapi sifatnya yang cenderung sangat sulit untuk dibuktikan. 116 Salah satu
bentuk kesulitan yang terdapat dalam alat bukti elektronik ialah ia sangat rentan
untuk diubah, disadap, dipalsukan dan dikirim ke berbagai penjuru dunia dalam
waktu hitungan detik. 117 Pembuktian alat bukti elektronik sangat penting dalam
hukum acara di Indonesia, terutama dalam hukum acara pidana. Hal ini disebabkan
karena hukum acara pidana yang bersifat mencari kebenaran materil.
Tindak pidana judi online pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan
cybercrime lainnya. Artinya, dalam pembutiannya tentu mengalami hambatan-
hambatan yang menyebabkan pembuktiannya cenderung tidak maksimal atau
pengenaan terhadap judi online tersebut dapat beralih kepada judi konvensional
116
David I. Bainbridge, Computer And The Law, diterjemahkan oleh Prasadi T. Susmaatmadja,
Hukum Dan Komputer, (Jakarta: Sinar Grafika, 1993), hal 200
117
Mardani, Bunga Rampai Hukum Aktual, (Bogor: Ghalia, 2009), hal. 91
Universitas Sumatera Utara
diakibatkan ketidakmampuan atau pengungkapan tindak pidana hanya berdasarkan
alat bukti yang tercantum dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP. Untuk melihat hambatan
Dalam Pembuktian Judi Online Yang Dikaitkan Dengan Undang-Undang No. 11
Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik dan Undang-Undang No.
19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 maka
akan digunakan teori penegakan hukum yang diutarakan oleh Soerjono Soekanto
yang membaginya kedalam 5 (lima) komponen, yaitu : faktor hukum, penegak
hukum, sarana dan fasilitas, masyarakat serta kebudayaan. 118
1. Sarana dan Fasilitas serta Faktor Hukum
Sarana dan Fasilitas serta faktor hukum adalah aturan, norma dan pola
perilaku nyata manusia yang berada dalam sistem itu. Cybercrime secara khusus
judi online merupakan komoditas terbesar baik dari sisi jumlah pelaku dan
penghasilan atau perputaran uang didalamnya. Pada umunya metode perjuan yang
digunakan cenderung klasik, yakni dengan mempertaruhkan atau sekedar
mencoba peruntungan dengan mengikuti model perjudian yang telah ditentukan.
Ada puluhan ribu situs-situs judi yang menyediakan fasilitas perjudian dari yang
model klasik dimana hanya memainkan tombol keyboard atau mengklik tombol
mouse sampai pada yang sangat canggih yang menggunakan pemikiran matang
dan perhitungan-perhitungan adu keberuntungan. Modus ini menjanjikan banyak
keuntungan bagi pemiliknya, tidak memerlukan lagi perizinan-perizinan khusus
118
Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada, 2014), hal. 8
Universitas Sumatera Utara
untuk membuat sebuah usaha perjudian via internet. Judi online hanya
bermodalkan sebuah web dengan fasilitas perjudian menarik sehingga setiap
orang dapat memiliki rumah perjudian di internet. 119
Merujuk pada uraian di atas maka jelas akan ada kendala dari sisi
substansi hukum (terfokus pada pembuktian) dimana terkait pembuktian untuk
judi online walaupun pengaturan alat bukti telah tercantum dalam peraturan
perundang-undangan. 120 Mengingat judi online merupakan bagian dari
cybercrime maka melibatkan alat-alat canggih sehingga sangat sulit untuk
menentukan pelaku tindak pidananya ketika perangkat hukum dalam penegakan
hukum pidana masih banyak keterbatasan. Keterbatasannya jelas nampak pada
regulasi juga dimana untuk alat bukti elektronik diakui penggunaannya tetapi
untuk proses dan cara pengambilannya belum diatur secara baku sehingga sampai
hari ini masih dilakukan berdasarkan kebiasaan seperti misalnya telah dibahas
pada bab sebelumnya terkait dengan digital forensik (digital forensik hanya ada
pada kepolisian daerah atau Polda dan belum sampai pada Kepolisian resort
kota/kabupaten atau Polres maupun Kepolisian sekitar atau Polsek). Penyebab
tidak ada diatur digital forensik secara undang-undang terkait digital forensik
119
Budi Suhariyanto, [Link], hal. 67
120
Fungsi peraturan perundang-undangan di Indonesia pada dasarnya bertujuan untuk
memberi pengaturan yang lebih jelas terhadap aturan pokok atau aturan yang lebh tinggi misalnya
keberadaan undang-undang bertujuan untuk menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut
ketentuandalam Undang-Undang Dasar 1945 yang tegas-tegas menyebutnya, pengaturan lebih lanjut
secara umum aturan dasar lainnya dalam batang tubuh UUD 1945, dan pengaturan lebih lanjut
ketentuan dalam ketetapan MPR yang tegas-tegas menyebutnya. Begitu selanjutnya peraturan
perundangan turunanl ainnya secara umum berfungsi sebagai pelaksana aturan yang lebih tinggi. Maria
Farida Indrati S, Ilmu Perundang-Undangan : Jenis, Fungsi, Dan Materi Muatan, (Yogyakarta:
Kanisius, 2007), hal. 215-233
Universitas Sumatera Utara
menyebabkan ini menjadi tidak wajib dan siapa saja dapat memalsukan alat bukti
elektronik termasuk penyidik sendiri. Namun, demikian walaupun secara khusus
telah diakui penggunaan dokumen elektronik dalam undang-undang namun sekali
lagi hambatan terbesar karena tidak masuknya dalam pengaturan alat bukti
elektronik di dalam KUHAP maka belum dapat diterima maksimal oleh hakim
dalam pelaksanaannya sehingga dapat dikatakan pula hakim atau pun penegak
hukum lainnya belum siap akan kemajuan teknologi.
2. Penegak Hukum
Penegak hukum merupakan lembaga-lembaga atau instansi yang akan
menjalankan proses penegakan hukum merupakan kerangka atau rangkanya.
Dengan demikian, struktur hukum sangat berkaitan erat dengan sarana dan
fasilitas yang dapat digambarkan melalui tenaga manusia yang berpendidikan dan
terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup
dan lain sebagainya. 121 Pengungkapan atau mendudukkan tindak pidana judi
online sebagai salah satu cybercrime sangat sulit untuk mencari alat bukti
elektroniknya butuh keahlian tertentu dan keterampilan tertentu. Artinya,
penyidik ataupun kepolisian, jaksa dan hakim memang harus memiliki
kemampuan dalam penilaian atau mencari kebenaran alat bukti elektronik.
Kepolisian, pada bagian substansi hukum telah disebutkan sebagai
berikut:
121
Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta: PT.
Rajagrafindo Persada, 2014), hal. 37
Universitas Sumatera Utara
”Digital forensik (digital forensik hanya ada pada kepolisian daerah atau Polda
dan belum sampai pada Kepolisian resort kota/kabupaten atau Polres maupun
Kepolisian sekitar atau Polsek)”.
Kondisi di atas menggambarkan jelas kemampuan penyidik terkait
cybercrime tidak merata di seluruh Indonesia hanya kepolisian daeran yang
mempunyai fasilitas digital forensik. Akibat yang terjadi ialah kasus yang
seharusnya judi online dianggap sebagai judi konvensional seperti pada Putusan
Pengadilan Negeri Sibolga No. 141/Pid.B/2014/PN Sbg yang mana pada dakwaan
telah tergambar adanya keterlibatan situs judi online. Pada akhirnya putusannya
jatuh pada judi konvensional bahkan dakwaan yang bersifat alternatif tidak ada
satupun yang menyinggung tindak pidana judi online sebagaimana tercantum
dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi
Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008.
Akhirnya, penegakan hukum tidak maksimal dan penegak hukum
tertinggal dengan perkembangan kejahatan yang terjadi didalam masyarakat.
Kecenderungannya ialah masyarakat terus berkembang terutama di Indonesia
akan tetapi penegakan hukum tertinggal sehingga layak dikatakan penegak hukum
di Indonesia tidak mampu menentukan perbuatan-perbuatan yang mana dapat
dikenakan pidana cyber dan yang mana tidak dikenakan pidana cyber.
Universitas Sumatera Utara
3. Masyarakat dan Kebudayaan
Masyarakat dan kebudayaan adalah sikap manusia terhadap hukum dan
sistem hukum, suasana pikiran dan kekuatan masyarakat yang menentukan
hukum digunakan, dihindari atau disalahgunakan. Keberadaan budaya hukum
didalam masyarakat dan kebudayaan dapat disamakan dengan keberadaan hukum
didalam masyarakat yang memiliki kebudayaan. Namun, yang menjadi perhatian
ialah hukum yang merupakan peraturan hidup masyarakat yang bersifat memaksa
dan mengatur untuk menjamin tata tertib masyarakat, 122 apakah proses
berlangsungnya dapat berjalan maksimal. Artinya, hukum yang memiliki norma
dalam peraturan perundang-undang dapat berjalan dengan baik sehingga mampu
mencerminkan pula budaya hukum yang baik atau sebaliknya hukum hanya
sekedar aturan belaka tetapi pelaksanaannya sama sekali tidak maksimal sehingga
menghasilkan budaya hukum yang buruk.
Sikap masyarakat dengan tidak cermatnya penegak hukum dalam
pencarian alat bukti untuk judi online sehingga menyebabkan pembuktian untuk
judi online menjadi cacat atau sama sekali tidak mengarahkan ke tindak pidana
judi online seperti dalam Putusan Pengadilan Negeri Sibolga No.
141/Pid.B/2014/PN Sbg menjadi tidak percaya.
Ketidakmampuan penegak hukum dalam menangani tindak pidana judi
online akan membuat masyarakat menjadi enggan untuk melaporkan kepada
penegak hukum karena pada kenyataannya sangat sulit untuk membuktikan tindak
122
C.S.T. Kansil, [Link], hal. 34
Universitas Sumatera Utara
pidana judi online akibatnya wibawa penegak hukum turun dihadapan masyarakat
dalam pemberantasan tindak pidana judi online. Hal ini disebabkan karena masih
kurangnya penegak hukum yang memiliki kemampuan dibidang cybercrime
secara umum dan khusus terkait tindak pidana judi online. Jika ini dibiarkan maka
akan terjadi degradasi budaya hukum yang sangat besar dan terus menerus
didalam masyarakat semakin berlarut-larut. 123
B. Upaya Yang Dapat Dilakukan Untuk Mengatasi Hambatan Dalam
Pembuktian Judi Online Yang Dikaitkan Dengan Undang-Undang No. 19
Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Pelarangan judi online disebabkan karena mendatangkan bahaya bagi
masyarakat dan dapat pula merugikan pemerintah sebuah negara. Larangan tersebut
karena hal-hal, sebagai berikut: 124
1. Berpotensi terjadi kecurangan di internet,
2. Memungkinkan bagi anak-anak untuk mengakses situs-situs perjudian,
3. Mengakibatkan kecanduan masyarakat untuk berjudi,
4. Dapat mengurangi pendapatan negara yang mengizinkan kegiatan perjudian resmi.
Pelarangan pun seolah-olah tinggal suratan yang tercantum dalam peraturan
perundang-undangan. Hal itu disebabkan hambatan yang cukup pelik terjadi dalam
proses pembuktian atau mencari alat bukti yang sesuai dengan tindak pidana judi
online yang dilakukan pemain judi. Sebenarnya, masih banyak hambatan yang
merintangi cybercrime atau judi online ini, salah satunya terkait yurisdiksi.
123
Budi Suhariyanto, [Link], hal. 85
124
Ibid, hal. 168
Universitas Sumatera Utara
Yurisdiksi (rata-rata situs judi online berasal dari negara-negara yang
melegalkan judi) merupakan hal sangat krusial sekaligus kompleks khususnya
berkenaan dengan pengungkapan kejahatan-kejahatan didunia maya yang bersifat
internasional (international crime). Dengan adanya kepastian yurisdiksi maka suatu
negara memperoleh pengakuan dan kedaulatan penuh untuk berbagai aturan
kebijakannya secara penuh. Kekuasaan demikian harus dihormati pula oleh setiap
negara lainnya sebagaimana kekuasaan yang dimiliki oleh negara lain.
Pada hakikatnya untuk beberapa kasus yang melibatkan aspek asing di
dalamnya (pelaku, tempat terjadinya, dan sebagainya). Kitab undang-undang hukum
pidana (Pasal 2-9 KUHP, yaitu asas personal, asas teroterial dan asas universal) sudah
dapat diberlakukan sekalipun sifatnya masih terbatas, artinya belum dapat diterapkan
untuk semua jenis kejahatan internasional. Oleh karena itu, Barda Nawawi Arief
mengusulkan untuk memberlakukan prinsip ubikuitas (the principle of ubiquity) atas
tindak pidana masyarakat. Alasannya saat ini semakin marak terjadi cybercrime
seiring dengan pertumbuhan penggunaan internet. Yang dimaksud dengan prinsip
atau asas ubikuitas adalah prinsip yang engatakan bahwa delik-delik yang dilakukan
atau terjadi di sebagian wilayah teritorial negara sebagian di luar wilayah teritorial
suatu negara (ekstrateritorial) harus dapat dibawa ke dalam yurisdiksi setiap negara
yan terkait. Ia berpendapat bahwa yurisdiksi personal terhadap pengguna in ternet
dapat diterapkan terhadap kasus-kasus mayantara. 125
125
Ibid, hal. 77
Universitas Sumatera Utara
Pembuktian judi online, dengan demikian harus dilakukan upaya-upaya agar
hambatan yang terjadi tidak terus-menerus atau berkelanjutan dengan beberapa cara
sebagai berikut:
1. Melakukan perubahan terhadap peraturan perundang-undangan
Pembuktian dalam judi online menggunakan alat bukti elektronik dalam
proses pembuktian sebagai salah satu alat bukti. Pengaturan alat bukti elektronik
di dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi
Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 hanya terbatas pada boleh digunakan atau
harus digunakan dalam proses pembuktian terkait cybercrime atau judi online.
Dengan demikian, agar semakin sempurna sudah selayaknya masing-masing
penegak hukum dimintai untuk menyusun naskah akademik terkait proses
pengelolaan baik berupa penyitaan, penjagaan dan penjaminan alat bukti
elektronik agar dapat disusun peraturan perundang-undangan secara tersendiri
untuk alat bukti elektronik sehingga penjaminannya keakuratannya menjadi kuat
dan terjamin karena sejatinya bukti elektronik rentan untuk dipalsukan.
2. Perlu dilakukan pelatihan terhadap penegak hukum terkait alat bukti elektronik
Putusan Pengadilan Negeri Sibolga No. 141/Pid.B/2014/PN Sbg merupakan
contoh yang sangat menyayat penegakan hukum di Indonesia. Dimana seharusnya
jelas dengan adanya pemasangan pelaku judi disitus judi online sudah ada
perbuatan cyber dan Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan
Transaksi Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang
Universitas Sumatera Utara
Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 sudah sangat tepat
digunakan untuk dakwaan maupun penerapan alat bukti.
Menghindari kedepannya agar hal ini tidak terjadi lagi maka sudah seharusnya
dan sepantasnya dilakukan pelatihan terhadap penegak hukum dan dikhususnya
polisi, jaksa dan hakim yang dapat memeriksan perkara cybercrime. Dengan
pelatihan intensif untuk penegak hukum maka penegak hukum sangat diharapkan
menjadi lebih cakap dan wibawa penegakan hukum kembali kepada tempat
sebagimana mestinya.
3. Pengembalian kepercayaan masyarakat
Masyarakat merupakan tempat hukum diterapkan dengan demikian setelah
penegak hukum diberi pelatihan dan harus diberikan grade sesuai dengan
kemampuannya (sekali lagi cybercrime bukan merupakan maslah yang kecil
tetapi persoalan serius) maka agar kepercayaan masyarakat kembali harus
diberikan sosialisasi kembali kepada masyarakat bahwa penegak hukum telah siap
bertempur untuk menegakkan hukum secara khusus cybercrime atau tindak
pidana judi online. Hal tersebut akan mengembalikan kepercayaan masyarakat
dan pada akhirnya masyarakat tidak enggan atau sungkan untuk terlibat dalam
pemberantasan cybercrime atau tindak pidana judi online.
Universitas Sumatera Utara
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka kesimpulan yang dapat
diberikan, yaitu :
1. Pembuktian judi online dikaitkan dengan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi
Dan Transaksi Elektronik ialah dimana sistem pembuktian pidana Indonesia ialah
negatief wettelijk dimana mendasarkan diri pada alat bukti yang telah sah menurut
undanh-undang dan keyakinan hakim. Artinya, jika diakitkan dengan pembuktian
judi online maka keberadaannya harus menggunakan alat bukti yang dianggap sah
menurut undang-undang, yakni alat bukti elektronik dan yang tercantum pada
Pasal 184 KUHAP. Terkait dengan penilaian terhadap alat bukti merupakan
kewenangan hakim karena hukum acara pidana menurut juga pada keyakinan
hakim pada sisi pembuktian.
2. Hambatan dalam pembuktian judi online yang dikaitkan dengan Undang-Undang
No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik dapat dilihat melalui sistem hukum
baik melalui Faktor hukum, Penegak hukum, Sarana fasilitas, serta masyarakat
serta budaya.
Universitas Sumatera Utara
B. Saran
Berikut beberapa hal yang dapat disarankan, yaitu:
1. Diharapkan baik pemerintah atau Kementerian Komunikasi dan Informatika
(mengajukan perumusan baru undang-undang alat bukti elektronik) dan lembaga
legislatif segera mengesahkan aturan yang disusun oleh Kementerian Komunikasi
dan Informatika agar mempermudah penegak hukum dalam pembuktian
menggunakan alat bukti eletronik sangat penting dan perlu dirumuskan regulasi
pelaksanaannya. Agar alat bukti elektronik dapat digunakan dengan maksimal
dalam pembuktian dan perumusan tindak pidana.
2. Diharapkan agar hambatan dalam pembuktian judi online yang dikaitkan dengan
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik
Jo Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik dapat teratasi
maka penegak hukum baik polisi, jaksa dan hakim melaksanakan beberapa upaya,
sebagai berikut: melakukan perubahan terhadap peraturan perundang-undangan,
perlu dilakukan pelatihan terhadap penegak hukum terkait alat bukti elektronik,
dan pengembalian kepercayaan masyarakat.
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Ali, Zainuddin, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2009.
Arief, Barda Nawawi, Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung: PT. Citra Aditya
Bakti, 2013.
--------------------------, Masalah Penegakan Hukum Dan Kebijakan Penanggulangan
Kejahatan, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2001.
Bainbridge, David I., Computer And The Law, diterjemahkan oleh Prasadi T.
Susmaatmadja, Hukum Dan Komputer, Jakarta: Sinar Grafika, 1993.
Bisri, Ilhami, Sistem Hukum Indonesia, Prinsip-Prinsip & Implementasi Hukum Di
Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.
Chazawi, Adami, Pelajaran Hukum Pidana, Bagian I, Jakarta: RajaGrafindo Persada,
2005.
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Dewata, Mukti Fajar Nur dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum
Normatif Dan Empiris, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
Djaja, Ermansjah, Penyelesaian Sengketa Hukum Teknologi Informasi Dan Transaksi
Elektrik: Kajian Yuridis Penyelsaian Secara Non Litigasi Melalui Arbitrase
Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Yogyakarta: Pustaka Timur, 2010.
Ekaputra, Mohammad dan Abul Khair, Sistim Pidana di Dalam KUHP dan
Pengaturannya Menurut Konsep KUHP Baru, Medan: USU Press, 2010.
Hamzah, Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1983.
Harahap, M. Yahya, Beberapa Tinjauan Tentang Permasalahan Hukum Buku Kedua,
Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1997.
-----------------------, Beberapa Tinjauan Tentang Permasalahan Hukum, Buku
Kesatu, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1997.
Universitas Sumatera Utara
------------------------, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP:
Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, Dan Peninjauan Kembali,
Jakarta: Sinar Grafika, 2006.
Hiariej, Edy O.S., Teori & Hukum Pembuktian, Jakarta: Erlangga, 2012.
Ibrahim, Jhonny, Teori Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Surabaya: Bayu
Media, 2005.
Ilyas, Amir, Asas-Asas Hukum Pidana, Yogyakarta: Rangkang Education Yogyakarta
& PUKAP Indonesia, 2012.
Irfan & Masyrofah, Penanggulangan Cyber Crime, Bandung: Pustaka Setia, 2013.
Kansil, C.S.T, Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Indonesia, (akarta: Balai
Pustaka, 1986.
-----------------, Pokok-Pokok Hukum Pidana, Jakarta: Pradnya Paramita, 2004
Kanter, E.Y. Dan S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia Dan
Penerapannya, Jakarta: Storia Grafika, 2002.
Lamintang, P.A.F., Dasar-Dasar Hukum Pidana, Bandung: [Link] Aditya Bakti,
1997.
Lubis, Kamaluddin, Hukum Pembuktian Pidana dan Perdata Dalam Teori Dan
Praktek, Medan: Universitas Islam Sumatera Utara, 1992.
Lubis, M. Solly, Filsafat Ilmu Dan Penelitian, Bandung: Mandar Maju, 1994.
------------------, Serba-Serbi Politik Hukum, Edisi 2, Medan: PT. Sofmedia, 2011.
Mansur, Didik M. Arief dan Elisatris Gultom, Cyber Law : Aspek Hukum Teknologi
Informasi, Bandung: PT. Refika Aditama, 2009.
Mardani, Bunga Rampai Hukum Aktual, Bogor: Ghalia, 2009.
Mertokusumo, Sudikno, Hukum Acara Perdata Indonesia, Yogyakarta: Liberty,
2006.
Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000.
------------, Azas-Azas Hukum Pidana, Jakarta: Bina Aksara, 1998.
Universitas Sumatera Utara
------------, Kitab Undang Undang Hukum Pidana, cet. 21, Jakarta: Bumi Aksara,
2001.
Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya,
2004.
Mulyadi, Lilik, Hukum Acara Pidana: Normatif, Teoretis, Praktik Dan
Permasalahannya, Bandung: Alumni, 2007.
Nawawi, Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Universitas Gajah
Mada Press, 2003.
Prints, Darwan, Hukum Acara Pidana: Suatu Pengantar, Jakarta: Djambatan, 1989.
Ramli, Ahmad M., Menuju Kepastian Hukum Dibidang : Informasi dan Transaksi
Elektronik, Jakarta: Departemen Komunikasi Dan Informasi, 2007.
Remmelink, Jan, Hukum Pidana: Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari Kitab
Undang-undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab
Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Umum, 2003.
S, Maria Farida Indrati, Ilmu Perundang-Undangan : Jenis, Fungsi, Dan Materi
Muatan, Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Samudra, Teguh, Hukum Pembuktian dalam Acara Perdata, Bandung: Alumni, 2004.
Sarwono, Hukum Acara Perdata Teori Dan Praktik, Jakarta: Sinar Grafika, 2011.
Sasangka, Hari Dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana,
Bandung: Mandar Maju, 2003.
Sianturi, S.R., Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Jakarta:
Alumni Ahaem Petehaem, 1989.
Simorangkir, J..C.T. [Link], Kamus Hukum, Jakarta: Aksara Baru, 1983.
Sitompul, Josua, Cyberspace, Cybercrime, Cyberlaw Tinjauan Aspek hukum Pidana,
Jakarta: PT. Tatanusa, 2012.
Sjafriani, Ririn, Anggara dan Supriyadi W.E., Kontroversi Undang-Undang ITE:
Menggugat Pencemaran Nama Baik Di Ranah Maya, Jakarta: Degraf
Publishing, 2010.
Universitas Sumatera Utara
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan
Singkat, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001.
------------------------, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta:
PT. Rajagrafindo Persada, 2014
------------------------, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Universitas Indonesia,
2005.
Soemitro, Ronny Hanitijo, Metodologi Penelitian Hukum Dan Jurumateri, Jakarta:
Ghalia Indonesia, 1994.
Soesilo, R., Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-
Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal, Bogor: Politea, 1993.
Subekti, R., Hukum Pembuktian, Jakarta: Pradnya Paramita, 1975.
Sudarsono, Kamus Hukum, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2007.
Suhariyanto, Budi, Tindak Pidana Teknologi Informasi (Cybercrime): Urgensi
Pengaturan Dan Celah Hukumnya, Jakarta: PT. RajaGrafindo, 2013.
Universitas Sumatera Utara, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian dan Tesis,
Medan: Universitas Sumatera Utara, 2009.
Wahid, Abdul Dan M. Labib, Kejahatan Mayantara (Cybercrime), Bandung: PT.
Refika Aditama, 2005.
Wijayanto, Roni, Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia, Bandung: CV. Mandar Madju,
2012.
Undang-Undang
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
Undang-Undang No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian
Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Universitas Sumatera Utara
Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.
11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Hasil Penelitian Dan Jurnal
Tarigan, Muhammad Iqbal, Dokumen Elektronik Sebagai Alat Bukti Dalam
Perspektif Pembaruan Hukum Acara Perdata Indonesia, Medan: Tesis S2
Universitas Sumatera Utara, 2014.
Trinawati, Putri Ayu [Link], ”Kekuatan Pembuktian Transaksi Elektronik Dalam
Tindak Pidana Perjudian Online Dari Perspektif Undang-Undang No. 11 Tahun
2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik (Putusan No.
140/Pid.B/2013/PN-TB)”, Dalam Jurnal Ilmu Hukum Universitas Jember 2015,
I (1), (Jember: Fakultas Hukum Universitas Jember), hal. 8
Website
Anonim, Judi Online, [Link] diakses 9 Februari 2017
Anonim, Terungkap Judi Online Berpenghasilan Rp 2 Miliyar Per Hari,
[Link]
terungkap-judi-online-berpenghasilan-rp-2-miliar-per-hari, diakses 9 Februari
2017
Anonim, Terungkap Judi Online Dengan Omset Rp. 60 Juta Per Hari,
[Link]/play2017/01/21/1/88848/terungkap-judi-online-dengan-omset-
rp60-juta-per-hari, diakses 9 Februari 2017
Universitas Sumatera Utara