0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan119 halaman

Pembuktian Tindak Pidana Judi Online

Tesis ini membahas analisis yuridis pembuktian tindak pidana judi online menurut Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik, khususnya perihal hambatan dalam pembuktian dan hubungannya dengan sistem hukum Indonesia.

Diunggah oleh

khoirul ibnu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan119 halaman

Pembuktian Tindak Pidana Judi Online

Tesis ini membahas analisis yuridis pembuktian tindak pidana judi online menurut Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik, khususnya perihal hambatan dalam pembuktian dan hubungannya dengan sistem hukum Indonesia.

Diunggah oleh

khoirul ibnu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS YURIDIS PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA JUDI

ONLINE MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN 2016


TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO. 18
TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI
ELEKTRONIK

OLEH
PARLINDUNGAN TWENTI
157005167/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017

Universitas Sumatera Utara


ANALISIS YURIDIS PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA JUDI
ONLINE MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN 2016
TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO. 18
TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI
ELEKTRONIK

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister


Hukum Dalam Program Studi Magister Ilmu Hukum Pada Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara

OLEH :

PARLINDUNGAN TWENTI
157005167/Ilmu Hukum

PROGRAM STUDI PASCA SARJANA ILMU HUKUM


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017

Universitas Sumatera Utara


JUDUL TESIS : ANALISIS YURIDIS PEMBUKTIAN TINDAK
PIDANA JUDI ONLINE MENURUT UNDANG-
UNDANG NO. 19 TAHUN 2016 TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO. 18
TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN
TRANSAKSI ELEKTRONIK

NAMA : PARLINDUNGAN TWENTI


NIM : 157005167
PROGRAM STUDI : Magister Ilmu Hukum

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, [Link])


Ketua

(Dr. Mahmud Mulyadi, S.H, [Link]) (Dr. Edi Yunara, SH, [Link])
Anggota Anggota

Ketua Program Studi Ilmu Hukum Dekan

(Prof. Dr. Sunarmi, SH, [Link]) (Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, [Link])

Lulus Tanggal: 26 Juli 2017

Universitas Sumatera Utara


Telah diuji pada
Tanggal : 26 Juli 2017

PANITIA PENGUJI TESIS


Ketua : Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, [Link]
Anggota : 1. Dr. Mahmud Mulyadi, S.H, [Link]
2. Dr. Edi Yunara, SH, [Link]
3. Dr. Mahmul Siregar, SH, [Link]
4. Dr. M. Ekaputra, SH, [Link]

Universitas Sumatera Utara


SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : PARLINDUNGAN TWENTI
Nim : 157005167
Program Studi : Magister Ilmu Hukum
Judul Tesis : ANALISIS YURIDIS PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA JUDI
ONLINE MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN
2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG
NO. 18 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN
TRANSAKSI ELEKTRONIK

Dengan ini menyatakan bahwa tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri
bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui tesis saya tersebut Plagiat karena
kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi
Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan saya tidak
akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.

Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan
sehat.

Medan, Agustus 2017


Yang membuat Pernyataan

PARLINDUNGAN TWENTI

Universitas Sumatera Utara


ABSTRAK

Munculnya tindak pidana judi online tentu sangat sulit dibuktikan karena
dapat dipastikan pihak penyidik tidak semua memiliki kemampuan dalam informasi
dan teknologi (IT). Hal tersebut berakibat sulit terungkapnya judi online yang terus
tumbuh berkembang di masyarakat. Judi online sekarang tidak hanya sebatas pada
situs yang memang benar-benar menyediakan judi online akan tetapi untuk
menyembunyikan jejak situs yang memang murni permainan bukan untuk judi juga
dijadikan sarana untuk memperlancar usaha judi online. Misalnya, permainan-
permainan kartu yang terdapat dalam facebook sering juga dijadikan atau digunakan
untuk judi online. Ini membawa kepada perlu dikaji mengenai pembuktian judi online
dikaitkan dengan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.
Perihal hambatan dalam pembuktian judi online yang dikaitkan dengan Undang-
Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun
2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.
Penelitian ini merupakan penelitian normatif, dan bersifat deskriptif analitis
yang memaparkan sekaligus menganalisis suatu fenomena yang berhubungan dengan
Pembuktian Tindak Pidana Judi Online Menurut Undang-Undang No. 19 Tahun 2016
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan
Transaksi Elektronik.
Hasil penelitian menunjukkan, perihal Pembuktian judi online dikaitkan
dengan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik ialah
dimana sistem pembuktian pidana Indonesia ialah negatief wettelijk dimana
mendasarkan diri pada alat bukti yang telah sah menurut undanh-undang dan
keyakinan hakim. Artinya, jika diakitkan dengan pembuktian judi online maka
keberadaannya harus menggunakan alat bukti yang dianggap sah menurut undang-
undang, yakni alat bukti elektronik dan yang tercantum pada Pasal 184 KUHAP.
Terkait dengan penilaian terhadap alat bukti merupakan kewenangan hakim karena
hukum acara pidana menurut juga pada keyakinan hakim pada sisi pembuktian.
Perihal Hambatan dalam pembuktian judi online yang dikaitkan dengan Undang-
Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun
2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik dapat dilihat melalui sistem
hukum baik melalui struktur hukum, substansi hukum dan budaya hukum.
Diharapkan baik pemerintah atau Kementerian Komunikasi dan Informatika
(mengajukan perumusan baru undang-undang alat bukti elektronik) dan lembaga
legislatif segera mengesahkan aturan yang disusun oleh Kementerian Komunikasi dan
Informatika agar mempermudah penegak hukum dalam pembuktian menggunakan
alat bukti eletronik sangat penting dan perlu dirumuskan regulasi pelaksanaannya.
Agar alat bukti elektronik dapat digunakan dengan maksimal dalam pembuktian dan
perumusan tindak pidana. Diharapkan agar hambatan dalam pembuktian judi online

Universitas Sumatera Utara


yang dikaitkan dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan
Transaksi Elektronik Jo Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan
Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi
Elektronik dapat teratasi maka penegak hukum baik polisi, jaksa dan hakim
melaksanakan beberapa upaya, sebagai berikut: melakukan perubahan terhadap
peraturan perundang-undangan, perlu dilakukan pelatihan terhadap penegak hukum
terkait alat bukti elektronik, dan pengembalian kepercayaan masyarakat.

Kata kunci : Tindak Pidana Judi Online, Pembuktian, Dan Alat bukti elektronik

Universitas Sumatera Utara


ABSTRACT

It is very difficult to prove the emergence of the criminal act i.e. online
gambling because not all investigators have skills in information and technology (IT).
Therefore, it is also difficult to discover online gambling which keeps growing in the
society. Nowadays, online gambling site is not presented as a site which actually
provides online gambling, but as a site provided for merely games which do not
gamble to hide the trace of the gambling site and to help the business run well. For
an example, the card games found on facebook page is frequently found to be used
for online gambling. This case has encouraged the need to study the prove
verification of online gambling related to the Law No. 19/2016 on the Amendments
on the Law No.11/2008 concerning Electronic Information and Transaction. As to the
obstacles in the verification of online gambling, it is related to the Law No. 19/2016
on the Amendments on the Law No. 11/2008 concerning Electronic Information and
Transaction.
This is a normative research with descriptive analysis which simultaneously
describes and analyzes a phenomenon related to the Verification of the Criminal Act
of Online Gambling in accordance with the Law No. 19/2016 on the Amendments on
the Law No. 11/2008 concerning Electronic Information and Transaction.
The results show that the verification of online gambling is related to the Law
No. 19/2016 on the Amendments on the Law No. 11/2008 concerning Electronic
Information and Transaction which explains that the criminal verification system of
Indonesia is negative law which grounds itself on legitimate evidence according to
the laws and judge’s faith. It means that, the existence of online gambling has to be
proved by evidence which is considered legitimate according to the law i.e. electronic
evidence and what the ones stated in Article 184 of (KUHAP) the Criminal
Procedure Law. Regarding the assessment of the evidence, it is the authority of the
judge because KUHAP complies with the judge’s faith for the verification side. The
obstacles in the verification of online gambling, it is related to the Law No. 19/2016
on the Amendments on the Law No. 11/2008 concerning Electronic Information and
Transaction can be seen through legal system through either the legal structure,
substance, or culture.
It is expected that either the government or the Ministry of Communication
and Information (proposing a new formulation of law on electronic evidence) and
legislative institution validate the regulations arranged by the ministry of
Communication and Informatics to facilitate the law enforcer to verify the electronic
evidence. The regulation of its implementation is also important to be formulated, so
that the electronic evidence can be maximally used to verify and formulate a criminal
act. It is expected that the obstacles in the verification of online gambling be related
to the Law No. 11/2008 on Electronic Information and Transaction in conjunction
with the Law No. 19/2016 on the Amendments on the Law No. 11/2008 concerning
Electronic Information and Transaction and be solved. The law enforcers such as
police, prosecutor and judge can make some efforts such as making amendments on

Universitas Sumatera Utara


the laws and regulations, conducting training for the law enforcer related to the
electronic evidence, and rebuilding people’s trust.

Keywords: Criminal Act of Online Gambling, Verification, and Electronic


Evidence

Universitas Sumatera Utara


KATA PENGANTAR

Puji Tuhan atas segala nikmat yang penulis dapatkan dari-NYA, karena berkat

kasih sayang-NYA tesis ini dapat diselesaikan dalam rangka memenuhi persyaratan

untuk mencapai gelar Magister dalam bidang hukum pada Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara. Adapun judul tesis penulis adalah “ANALISIS

YURIDIS PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA JUDI ONLINE MENURUT

UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS

UNDANG-UNDANG NO. 18 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN

TRANSAKSI ELEKTRONIK”.

Proses penyelesaian tesis ini bukanlah hal yang mudah bagi penulis. Dalam

proses penyelesaiannya penulis banyak memperoleh bantuan baik berupa pengajaran,

bimbingan dan arahan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak

langsung. Oleh karena itu pada kesempatan ini izinkanlah dengan kerendahan hati,

penulis menyampaikan penghargaan serta ucapan terima kasih yang tulus kepada

semua pihak yang telah turut memberikan bantuan kepada penulis sejak awal penulis

menjalankan perkuliahan hingga penyusunan tesis ini sampai pada penyelesaiannya.

Tidak ada kata-kata yang lebih berarti untuk dapat mengungkapkan rasa terima kasih

penulis, hanya Tuhan yang dapat membalasnya, Amin.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada yang

terhormat :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., [Link], selaku Rektor Universitas Sumatera

Utara.

Universitas Sumatera Utara


2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, [Link]., selaku Dekan Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Prof. Dr. Sunarmi, SH, [Link]., selaku Ketua Program Magister Ilmu

Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, [Link]., selaku Pembimbing Utama

yang dengan sepenuh hati telah memberikan arahan dan bimbingan, saran dan

dorongan kepada penulis.

5. Bapak Dr. Mahmud Mulyadi, SH, [Link]., selaku Pembimbing II yang telah

banyak memberikan bimbingan dan saran kepada penulis.

6. Bapak Dr. Edi Yunara, SH, [Link]., selaku Pembimbing III yang telah

banyak memberikan bimbingan dan saran kepada penulis.

7. Bapak Dr. Mahmul Siregar, SH, [Link]. (sekaligus teman sejawat pada saat

menempuh kuliah S1), dan Bapak Dr. M. Ekaputra, SH, [Link]., selaku

Dosen Penguji yang telah banyak memberikan masukan kepada penulis.

8. Para Guru Besar dan Staf Pengajar pada Sekolah Pascasarjana Universitas

Sumatera Utara Program Studi Ilmu Hukum.

9. Rekan-rekan seperjuangan pada Program Studi Ilmu Hukum Sekolah

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan banyak

dukungan kepada penulis dalam rangka menyelesaikan studi S2 ini.

10. Para Staf Administrasi pada Program Studi Ilmu Hukum Sekolah

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Universitas Sumatera Utara


Untuk Istriku tercinta Morina Herawati Sitompul dan anakku tersayang

Steven Nathanael Saragih yang selalu mendukung, meridhoi dan memotivasi penulis

dalam menyelesaikan studi S2 ini.

Semoga Tuhan Yesus Kristus senantiasa melimpahkan kasih sayang serta

pahala yang setimpal atas bantuan dan budi baik yang telah diberikan oleh bapak, ibu,

rekan-rekan dan seluruh keluarga yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan

tesis ini, amin.

Akhirnya, penulis berharap semoga penelitian ini berguna bagi pengembangan

ilmu pengetahuan khususnya ilmu hukum. Terima Kasih.

Medan, Agustus 2017


Penulis,

PARLINDUNGAN TWENTI

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Data Pribadi
Nama : Parlindungan Twenti O.A. Saragih
Tempat/tanggal Lahir : Medan, 20 Oktober 1979
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Status : Menikah
Pekerjaan : Pengawai Negeri Sipil (Jaksa)
2. Keluarga
Nama Orangtua
Ayah : Amel Saragih, SH
Ibu : (Almh) Dorkas Aritonang
Nama Istri : Morina Herawati Sitompul
Nama Anak : Steven Nathanael Saragih

3. Pendidikan
a. SD Kristen 3 Medan Lulus Tahun 1991
b. SMP St. Thomas 1 Medan Lulus Tahun 1994
c. SMA St. Thomas 2 Medan Lulus Tahun 1997
d. Strata Satu (S1) Fakultas Hukum Universitas
HKBP Nomensen Lulus Tahun 2002
e. Strata Dua (S2) Program Studi Magister
Ilmu Hukum USU Lulus Tahun 2017

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI

ABTRAK......................................................................................................................v

ABSTRACT.................................................................................................................vii

KATA PENGANTAR................................................................................................ix

RIWAYAT HIDUP...................................................................................................xii

DAFTAR ISI.............................................................................................................xiii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang………………………………………………………………...1

B. Rumusan Masalah..............................................................................................5

C. Tujuan Penelitian...............................................................................................6

D. Manfaat Penelitian............................................................................................6

E. Keaslian Penelitian............................................................................................7

F. Kerangka Teori Dan Konsepsi..........................................................................9

1. Kerangka Teori............................................................................................9

2. Konsepsi....................................................................................................14

G. Metode Penelitian............................................................................................16

1. Jenis Dan Sifat Penelitian....……………………………………………..16

2. Sumber Data………..................................................................................17

3. Teknik Pengumpulan Data........................................................................19

4. Metode Analisis Data………....................................................................19

Universitas Sumatera Utara


BAB II PEMBUKTIAN JUDI ONLINE DIKAITKAN DENGAN UNDANG-
UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN
ATAS UNDANG-UNDANG NO. 11 TAHUN 2008 TENTANG
INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

A. Pembuktian Dalam Hukum Acara Pidana.......................................................21

1. Alat Bukti Dalam Hukum Acara Pidana......................................................21

B. Pembuktian Judi Online Dikaitkan Dengan Undang-


Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.................32

1. Tindak Pidana Teknologi Informasi (Cybercrime)……………………32

2. Pengaturan Tindak Pidana Judi Di Indonesia........................................54

3. Pembuktian Judi Online Dikaitkan Dengan Undang-Undang No.


19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11
Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik....................65

BAB III HAMBATAN DALAM PEMBUKTIAN JUDI ONLINE YANG


DIKAITKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN 2016
TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO. 11
TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI
ELEKTRONIK

A. Hambatan Dalam Pembuktian Judi Online Yang Dikaitkan Dengan


Undang-Undang No. 19 Tahun 2016
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008....................84

B. Upaya Yang Dapat Dilakukan Untuk Mengatasi Hambatan


Dalam Pembuktian Judi Online Yang Dikaitkan Dengan
Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang
Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008..................................93

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan………………………………………………………………......97

B. Saran…………………………………………………………………………98

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR PUSTAKA..……………………………………………………………..99

Universitas Sumatera Utara


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dunia secara menyeluruh telah memasuki atau terangkum bersama ke dalam

dunia cyber atau dunia maya. 1 Segala jenis informasi dapat diakses melalui dunia

maya lewat jaringan internet. Banyak terjadi perubahan yang ditimbulkan oleh

kemajuan yang disebabkan oleh dunia maya mulai dari yang berbau positif sampai

pada yang berbau negatif.

Perubahan positif yang tampak begitu cepat salah satunya ialah kemudahan

komunikasi dimana sebelumnya harus melalui telepon, saling mengirim surat atau

chatting melalui komputer dan lain sebagainya, namun sekarang cukup melalui

handphone dengan menggunakan kuota internet komunikasi dapat terjalin dengan

seluruh kolega yang berada ditempat jauh sekalipun. Perubahan negatif yang

ditimbulkan oleh perkembangan dunia maya diantaranya ialah munculnya kejahatan-

kejahatan yang sebelumnya bersifat konvensional menjadi kejahatan cyber. Salah

satu kejahatan yang bersifat konvensional menjadi golongan kejahatan cyber ialah

tindak pidana judi online. 2 Tindak pidana judi online awalnya terjadi pada tahun 1994

1
Implementasi dari perkembangan dunia maya ialah gelombang informasi yang berkecepatan
tinggi dimana hal tersebut terjadi juga disebabkan karena pengaruh globalisasi. Globalisasi menurut
pandangan sebagian orang ialah meienyapkan dinding dan jarak antara satu bangsa dan bangsa lain,
dan antara satu kebudayaan dan kebudayaan lain. Sehingga semuanya menjadi dekat dengan
kebudayaan dunia, pasar dunia dan keluarga dunia. Lihat M. Solly Lubis, Serba-Serbi Politik Hukum,
Edisi 2, (Medan: PT. Sofmedia, 2011), hal. 221-226 dan M. Yahya Harahap, Beberapa Tinjauan
Tentang Permasalahan Hukum, Buku Kesatu, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1997), hal. 274
2
kejahatan dunia maya adalah jenis kejahatan yang berkaitan dengan pemanfaatan sebuah
teknologi informasi tanpa batas serta memiliki karakteristik yang kuat dengan sebuah rekayasa

Universitas Sumatera Utara


negara Antigua dan Barbuda di Karibia yang meloloskan undang-undang kebebasan

berdagang dan mengolah, yang kemudian membuat perizininan kepada organisasi-

organisasi untuk membangun membuka kasino online menjadi mudah. Sebelum

kasino online, software perjudian pertama yang dapat berfungsi secara penuh

diproduksi oleh perusahaan software asal Pulau Mann bernama microgaming.

Penggunaan software itu kemudian dijamin keamanannya oleh sebuah perusahaan

keamanan untuk software bernama Cryptologic. Dengan adanya langkah tersebut

transaksi perjudian via internet dapat dilakukan secara aman dan menjadi cikal bakal

kasino online pertama di tahun 1994. 3

Pada tahun 1996 dibentuklah Komisaris Perjudian Kahnawake yang tugasnya

mengatur aktivitas perjudian online dari daerah Kahnawake dan menerbitkan lisensi

perjudian online kepada kasino dan poker online di seluruh dunia. Ini adalah upaya

agar kegiatan operasional dari organisasi judi online tetap adil dan transparan.

Pada akhir tahun sembilan puluhan judi jenis ini mulai mendapatkan popularitas.

Jumlah situs perjudian online meningkat dari yang tadinya hanya 15 (lima belas)

website di tahun 1996 menjadi 200 (dua ratus) website di tahun 1997. Sebuah

reportasi yang diterbitkan oleh Frost & Sullivan mengungkapkan bahwa pada tahun

1998 saja pemasukan dari bisnis judi online telah melewati angka 830 (delapan ratus

tiga puluh) juta dollar Amerika. Pada tahun yang sama jenis judi online, seperti poker

teknologi yang mengandalkan kepada tingkat keamanan yang tinggi dan kredibilitas dari sebuah
informasi yang disampaikan dan diakses oleh pelanggan internet. Irfan & Masyrofah, Penanggulangan
Cyber Crime, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), hal. 185
3
Anonim, Judi Online, [Link] diakses 9 Februari 2017

Universitas Sumatera Utara


online juga diperkenalkan kepada dunia. Tak lama setelah itu pada tahun 1999, judi

online dengan metode multiplayer mulai masuk ke pasaran; teknologi ini

memungkinkan orang untuk berjudi, mengobrol dan berinteraksi dengan pengguna

lain melalui sistem intreraktif. 4

Di Indonesia judi merupakan kejahatan atau tindak pidana sehingga setiap

yang terlibat didalamnya akan dikenakan sanksi pidana. Pasal yang mengatur judi

ialah Pasal 303 bis ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), berbunyi:

“Diancam dengan kurungan paling lama empat tahun atau denda paling banyak
sepuluh juta rupiah:
ke-1 barangsiapa menggunakan kesempatan untuk main judi, yang diadakan
dengan melanggar ketentuan – ketentuan tersebut pasal 303;
ke-2 barangsiapa ikut serta permainan judi yang diadakan di jalan umum atau di
pinggirnya maupun di tempat yang dapat dimasuki oleh khalayak umum,
kecuali jika untuk mengadakan itu, ada izin dari penguasa yang berwenang.”

Selanjutnya, jika seseorang melakukan atau terlibat judi online maka pasal

yang dikenakan tidak mengacu pada KUHP akan tetapi mengacu pada Pasal 27

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik,

berbunyi:

”Setiap orang sengaja dan tanpa hak mendistribusikan, mentransmisikan, atau

membuat dapat diaksesnya Informasi atau Dokumen Elektronik yang memiliki

muatan perjudian”.

Judi online di Indonesia sudah beberapa kali terungkap dimana nilai

penghasilan yang diperoleh dari tindak pidana judi online cukup besar yang mana

akan diuraikan sebagai berikut:


4
Ibid

Universitas Sumatera Utara


1. DH seorang pemilik situs judi online yang berpusat di Jawa Timur, yakni website

yang beralamat [Link] memiliki keuntungan sebesar Rp. 2 (dua) miliyar

per hari. Judi yang ditawarkan melaluisitus tersebut ialah judi bola, togel, poker

dan lain sebagainya. 5

2. Di Jakarta terungkap judi online dimana pengelola memperoleh keuntungan

sampai omset 60 (enam puluh) juta perhari dengan berkedok pembukaan warnet. 6

Pada hakikatnya dalam tindak pidana judi yang memperoleh keuntunngan

baik konvesional maupun online ialah pengelola. Hal demikian dapat dilihat dari

kasus judi online di atas yang terungkap, yang terjadi pada pemain judi secara khusus

judi online ialah menimbulkan ketergantungan dan menimbulkan kerugian dalam segi

materil dan immateril tidak saja bagi para pemain tetapi juga keluarga mereka.

Munculnya tindak pidana judi online tentu sangat sulit dibuktikan karena

dapat dipastikan pihak penyidik tidak semua memiliki kemampuan dalam informasi

dan teknologi (IT). Hal tersebut berakibat sulit terungkapnya judi online yang terus

tumbuh berkembang di masyarakat. Judi online sekarang tidak hanya sebatas pada

situs yang memang benar-benar menyediakan judi online akan tetapi untuk

menyembunyikan jejak situs yang memang murni permainan bukan untuk judi juga

dijadikan sarana untuk memperlancar usaha judi online. Misalnya, permainan-

5
Anonim, Terungkap Judi Online Berpenghasilan Rp 2 Miliyar Per Hari,
[Link]
berpenghasilan-rp-2-miliar-per-hari, diakses 9 Februari 2017
6
Anonim, Terungkap Judi Online Dengan Omset Rp. 60 Juta Per Hari,
[Link]/play2017/01/21/1/88848/terungkap-judi-online-dengan-omset-rp60-juta-per-hari,
diakses 9 Februari 2017

Universitas Sumatera Utara


permainan kartu yang terdapat dalam facebook sering juga dijadikan atau digunakan

untuk judi online.

Uraian peristiwa di atas memang benar-benar menuntut kemahiran dibidang

IT oleh penyidik untuk mengumpulkan barang bukti dalam tindak pidana judi online

sehingga dalam proses pembuktian judi online alat bukti tercukupi. Hal tersebut tentu

berbeda dengan pelaku judi baik pemain maupun pengelola tertangkap tangan maka

akan jelas alat bukti dan peristiwa yang terjadi namun apabila tidak tertangkap tangan

maka judi online akan sangat sulit untuk memperoleh alat bukti maupu barang bukti.

Berdasarkan uraian di atas maka menarik untuk dilakukan pembahasan isu

hukum yang berjudul ”Analisis Yuridis Pembuktian Tindak Pidana Judi Online

Menurut Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-

Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang akan jadi

pembahasan, sebagai berikut:

1. Bagaimana pembuktian judi online dikaitkan dengan Undang-Undang No. 19

Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik?

2. Apa hambatan dalam pembuktian judi online yang dikaitkan dengan Undang-

Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11

Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik?

Universitas Sumatera Utara


C. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dilakukan penelitian terhadap permasalahan di

atas, yakni :

1. Untuk mengetahui dan menganalisis pembuktian judi online dikaitkan dengan

Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang

No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis hambatan dalam pembuktian judi online

yang dikaitkan dengan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan

Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi

Elektronik.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Secara Teoritis penelitian ini bermanfaat bagi pihak akademisi sebagai

bahan pengkajian penelitian lebih lanjut serta bermanfaat bagi masyarakat

khususnya masyarakat dalam memahami pembuktian tindak pidana judi online

menurut Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-

Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini bermanfaat secara praktis bagi masyarakat, aparat penegak

hukum, seperti polisi, jaksa, hakim dan lembaga pemasyarakatan, sehingga

Universitas Sumatera Utara


dengan demikian penelitian ini dapat bermanfaat untuk pembuktian tindak pidana

judi online menurut Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi

Elektronik.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan terhadap hasil-hasil penelitian yang

pernah dilakukan secara khusus di Universtias Sumatera Utara, maka penelitian

dengan judul “Analisis Yuridis Pembuktian Tindak Pidana Judi Online Menurut

Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.

11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik” belum pernah

dilakukan penelitian pada topik dan permasalahan yang sama.

Dari hasil penelusuran keaslian penelitian, penelitian yang menyangkut:

Analisis Yuridis Pembuktian Tindak Pidana Judi Online Menurut Undang-Undang

No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik yang pernah dilakukan Mahasiswa Ilmu

Hukum Universitas Sumatera Utara, yaitu:

1. Tesis atas nama Maria Margaretta Sitompul, NIM: 117005012, dengan

judul,”Kebijakan Kriminal Dalam Penanggulangan Tindak Pidana Judi Online

Yang Dilakukan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (MABES

POLRI)”. Fokus masalah yang dikaji adalah :

Universitas Sumatera Utara


a. Bagaimana pengaturan tindak pidana judi online dalam peraturan perundang-

undangan Indonesia?

b. Bagimana peran Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (MABES

POLRI) dalam penanggulangan penanggulangan tindak pidana judi online

ditinjau dari kebijakan kriminal?

c. Apakah faktor-faktor penghambat Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia

(MABES POLRI) dalam penanggulangan tindak pidana judi online?

2. Jun Cai, Nim: 992105112, Program Studi Ilmu Hukum, Judul Tesis, Keabsahan

Kontrak Elektronik Menurut Hukum Di Indonesia, dengan Rumusan Masalah :

a. Bagaimanakah keabsahan suatu kontrak elektronik (e-contract) berdasarkan

hukum Indonesia?

b. Hal-hal apakah yang jadi penghambat suatu kontrak elektronik agar dikatakan

sah menurut hukum?

c. Dapatkah kontrak elektronik diterima sebagai alat bukti yang sah menurut

hukum Indonesia?

3. Edy Siong, Nim: 087005003, Program Studi Ilmu Hukum, Judul Tesis, Rekaman

Elektronik sebagai Alat Bukti Dalam Perspektif Rezim Anti Pencucian Uang,

dengan Rumusan Masalah :

a. Bagaimana ketentuan pembuktian dalam hukum acara pidana di Indonesia?

b. Bagaimana ketentuan pembuktian dalam tindak pidana pencucian uang?

c. Bagaimana kedudukan rekaman elektronik sebagai alat bukti dalam tindak

pidana pencucian uang?

Universitas Sumatera Utara


Namun demikian penelitian-penelitian tersebut di atas berbeda dengan penelitian

yang akan dilaksanakan ini, sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian yang akan

dilaksanakan adalah asli dan dapat dipertanggungjawabkan apabila dikemudian hari

ternyata dapat dibuktikan adanya plagiat dalam hasil penelitian ini.

F. Kerangka Teori Dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

Kerangka teori adalah bagian penting dalam penelitian. Artinya, teori

hukum harus dijadikan dasar dalam memberikan preskripsi atau penilaian apa

yang seharusnya memuat hukum. Teori juga bisa digunakan untuk menjelaskan

fakta dan peristiwa hukum yang terjadi. Teori hukum dalam penelitian berguna

sebagai pisau analisis pembahasan tentang peristiwa atau fakta hukum yang

diajukan dalam masalah penelitian. 7 Kontinuitas perkembangan ilmu hukum,

selain tergantung pada metodologi, aktivitas penelitian dan imajinasi sosial sangat

ditentukan oleh teori. 8

Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori

mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan

pertimbangan dan pegangan teoritis. 9 Setiap penelitian membutuhkan titik tolak

atau landasan untuk memecahkan dan membahas masalahnya, untuk itu perlu

7
Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif Dan
Empiris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hal. 146
8
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2005),
hal. 6
9
M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu Dan Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hal. 80

Universitas Sumatera Utara


disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan

dari mana masalah tersebut diamati. 10

Kegunaan teori hukum dalam penelitian sebagai pisau analisis

pembahasan tentang peristiwa atau fakta hukum yang diajukan dalam masalah

penelitian. 11 Secara konseptual teori yang digunakan dalam penelitian ialah teori

pembuktian. Kata pembuktian berarti proses, cara, perbuatan membuktikan. 12

Pembuktian dalam hukum acara pidana merupakan suatu jalan guna

mendapatkan suatu keputusan akhir yang mana didalam pembuktian tersebut

terdapat fakta-fakta yang dibutuhkan oleh hakim. Dengan demikian maka tentang

hukumnya tidak perlu diberitahukan kepada hakim oleh para pihak, dan tidak

perlu pula untuk dibuktikan karena hakim dianggap tahu akan hukumnya (ius

curia novit). 13

Pasal 4 ayat (1) Undang-undang No. 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan

Kehakiman yang mana isinya mewajibkan hakim mengadili menurut hukum.

Maka oleh karena itu hakim harus mengenal hukum disamping peristiwanya.

Maka hakim tidak diperbolehkan untuk selalu menyandarkan keyakinannya

kepada alat-alat buki sepenuhnya. Hal ini akan menimbulkan tindakan atau sikap

10
Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada
Press, 2003), hal. 39-40
11
Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Achmad, [Link], hal. 16
12
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama, 2008), hal. 218.
13
Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Liberty, 2006),
hal. 131

Universitas Sumatera Utara


hakim yang cenderung sewenang-wenang dalam mengambil keputusan karena

perbuatan hakim ini di nilai subjektif.

Oleh karena itu, maka hakim sebaiknya memperhatikan setiap dalil-dalil

yang dikemukakan para pihak yang bersengketa sehingga ini juga dapat dijadikan

dasar pertimbangan bagi hakim unyuk memberikan putusan yang objektif.

R. Subekti berpendapat bahwa “membuktikan adalah meyakinkan hakim

tentang suatu kebenaran dalil atau dalil-dalil yang dikemukakan dalam suatu

persengketaan”. 14

Dengan demikian, adanya pembuktian dalam hukum acara pidana

hanyalah terhadap sesuatu hak dan kejadian yang disangkal oleh pihak lawan

sedangkan yang tidak disangkal oleh pihak lawan tidaklah harus dibuktikan

karena beban pembuktian yang tidak disangkal oleh pihak lawan pada umumnya

kebenaran dan keabsahannya terhadap suatu hak dan kejadian telah diakui oleh

para pihak yang bersengketa sehingga pembuktiaanya tidak perlu

dipermasalahkan lagi. 15

Dalam hal, pembuktian sudah pasti mencakup mengenai penentuan suatu

kebenaran dimana penentuan kebenaran ini dilakukan karena pertentangan

kepentingan antara para pihak yang berperkara di pengadilan.

14
R. Subekti, Hukum Pembuktian, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1975), hal. 7
15
Sarwono, Hukum Acara Perdata Teori Dan Praktik, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hal. 237

Universitas Sumatera Utara


Untuk memperoleh kebenaran dari suatu pembuktian menurut Satochid

Kartanegara terdapat 4 sistem pembuktian, yaitu : 16

a. Sistem Pembuktian Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelijk


Bewijsleer)
b. Sistem Pembuktian Undang-Undang Secara Positif (Positief Wettelijk
Bewijsleer)
c. Conviction In Time (Bloot Gemoedelijkke Overtuiging)
d. Conviction Raissonnee (Beredeneerde Overtuiging/De Vrije Bewijsleer)

Berikut akan diuraikan keempat sistem pembuktian di atas, yaitu :

1) Sistem Pembuktian Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelijk

Bewijsleer)

Pembuktian menurut teori ini, sebagai berikut : 17

a) Harus ada cukup alat-alat bukti (upaya pembuktian) yang diakui

oleh undang-undang.

b) Keyakinan hakim.

Tidak ada yang paling dominan diantara kedua unsur sistem ini.

Karena salah satu tidak dipenuhi berarti tidak cukup untuk membuktikan

kesalahan terdakwa. 18

16
Teguh Samudra, Hukum Pembuktian dalam Acara Perdata, (Bandung: Alumni, 2004),
hal. 26
17
Edy O.S. Hiariej, Teori & Hukum Pembuktian, (Jakarta: Erlangga, 2012), hal. 17
18
Kamaluddin Lubis, Hukum Pembuktian Pidana dan Perdata Dalam Teori Dan Praktek,
(Medan: Universitas Islam Sumatera Utara, 1992), hal 8

Universitas Sumatera Utara


Dengan demikian, maka pemeriksaan disidang pengadilan itu harus

cukup alat-alat pembuktian yang diakui undang-undang disamping

keyakinan hakim.

2) Sistem Pembuktian Undang-Undang Secara Positif (Positief Wettelijk

Bewijsleer)

Cara pembuktian yang didasarkan semata-mata atas alat-alat

pembuktian yang diakui sah oleh undang-undang. Artinya, jika dalam

pertimbangan, hakim telah mengganggap terbukti suatu perbuatan sesuai

dengan alat-alat bukti yang disebut dalam undang-undang tanpa

diperlukan keyakinan hakim dalam menjatuhkan putusan. 19

Teori pembuktian ini di tolak oleh Wirjono Prodjodikoro untuk dianut

di Indonesia, karena ia mengatakan “bagaimana hakim dapat menetapkan

kebenaran selain dengan cara menyatakan kepada keyakinannya tentang

hal kebenaran itu, lagi pula keyakinan seorang hakim yang jujur dan

berpengalaman mungkin sekali adalah sesuai dengan keyakinan

masyarakat”. 20

19
Edy O.S. Hiariej, Op. Cit, hal, 15
20
Andi Hamzah (I), Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, (Jakarta: Ghalia Indonesia,
1983), hal. 230

Universitas Sumatera Utara


3) Conviction In Time (Bloot Gemoedelijkke Overtuiging)

Pembuktian ini didasarkan semata-mata kepada keyakinan hakim

sehingga tidak dibutuhkan alat-alat bukti lainnya. 21 Jadi, kalau disidang

pengadilan hakim telah yakin akan kesalahan si terdakwa, maka harus

dijatuhkan hukuman kepadanya.

4) Conviction Raissonnee (Beredeneerde Overtuiging/De Vrije Bewijsleer)

Dasar pembuktian menurut teori ini adalah keyakinan hakim dalam

batas-batas tertentu atas alasan yang logis. Disini diberi kebebasan untuk

memakai alat-alat bukti disertai dengan alasan yang logis. 22

Dari 4 (empat) teori diatas, yang digunakan adalah teori pembuktian

Sistem Pembuktian Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelijk

Bewijsleer). Teori ini dianggap relevan karena dalam hukum acara pidana yang

dicari adalah kebenaran materil.

2. Konsepsi

Penggunaan konsep dalam suatu penelitian adalah untuk menghindari

penafsiran yang berbeda terhadap kerangka konsep yang dipergunakan dalam

merumuskan konsep dengan menggunakan model definisi operasional.23 Adapun

definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :

21
Edy O.S. Hiariej, Op. Cit, hal, 16
22
Ibid, hal. 17
23
Universitas Sumatera Utara, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian dan Tesis, (Medan:
Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 72

Universitas Sumatera Utara


a. Pembuktian adalah merupakan sebagian dari hukum acara pidana yang

mengatur macam-macam alat bukti yang sah menurut hukum, sistem yang

dianut dalam pembuktian, syarat-syarat dan tata cara mengajukan bukti

tersebut serta kewenangan hakim untuk menerima, menolak dan menilai suatu

pembuktian. 24

b. Alat bukti adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan suatu

perbuatan, dimana dengan alat-alat bukti ersebut dapat dipergunakan sebagai

bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan hakim atas kebenaran

adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan terdakwa. 25

c. Tindak Pidana adalah suatu tindakan pada tempat, waktu dan keadaan

tertentu, yang dilarang atau diharuskan dan diancam dengan pidana oleh

undang-undang, bersifat melawan hukum serta dengan kesalahan yang

dilakukan oleh seseorang yang mampu beratnggung jawab 26 atau perbuatan

yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman

(sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggarnya. 27

24
Hari Sasangka Dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana, (Bandung:
Mandar Maju, 2003), hal. 10
25
Ibid, hal. 11
26
E.Y. Kanter Dan S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia Dan Penerapannya,
(Jakarta: Storia Grafika, 2002), hal. 211
27
Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000), hal. 54

Universitas Sumatera Utara


d. Judi online atau tindak pidana perjudian melalui internet adalah judi yang

dilakukan melalui sistem elektronik, informasi elektronik dan dokumen

elektronik. 28

G. Metode Penelitian

Metode penelitian berisikan uraian tentang metode atau cara yang digunakan

untuk memperoleh data atau informasi. Metode penelitian ini berfungsi sebagai

pedoman dan landasan tata cara dalam melakukan operasional penelitian untuk

menulis suatu karya ilmiah yang peneliti lakukan. Penelitian ini menggunakan

metode penelitian kualitatif yang tidak membutuhkan populasi dan sampel. 29 Adapun

beberapa langkah yang digunakan dalam metode penelitian ialah :

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian

hukum normatif atau yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif mengacu

kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-

undangan dan putusan-putusan pengadilan serta norma-norma hukum yang

ada dalam masyarakat. 30 Penelitian yuridis normatif dilakukan dengan cara

meneliti bahan pustaka yang merupakan data sekunder dan disebut juga

penelitian kepustakaan. 31

28
Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana: Normatif, Teoretis, Praktik Dan Permasalahannya,
(Bandung: Alumni, 2007), hal. 76
29
Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 105
30
Ibid
31
Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum Dan Jurumateri, (Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1994), hal. 9

Universitas Sumatera Utara


Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yang mengungkapkan

peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan teori-teori hukum yang

menjadi objek penelitian. 32 Deskriptif analitis merupakan metode yang

dipakai untuk menggambarkan suatu kondisi atau keadaan yang sedang terjadi

atau berlangsung yang bertujuan agar dapat memberikan data seteliti mungkin

mengenai objek penelitian sehingga mampu menggali hal-hal yang bersifat

ideal, kemudian dianalisis berdasarkan teori hukum atau peraturan perundang-

undangan yang berlaku. 33 Dalam penulisan ini akan menguraikan tentang

Analisis Yuridis Pembuktian Tindak Pidana Judi Online Menurut Undang-

Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11

Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.

2. Sumber Data

Dalam penelitian hukum normatif data yang digunakan adalah data

sekunder 34, maka didalam penelitian hukum normatif yang termasuk data

sekunder, yaitu:

a. Bahan hukum primer, meliputi seluruh peraturan perundang-undangan

yang mengikat dengan permasalahan dan tujuan penelitian 35, antara lain :

1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP);

32
Ibid, hal. 105
33
Ibid, hal. 223
34
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat,
(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 23-24
35
Ibid, hal. 13

Universitas Sumatera Utara


2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi

Elektronik;

3) Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi

Elektronik

4) Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan

Sistem dan Transaksi Elektronik.

b. Bahan hukum sekunder, merupakan bahan hukum yang memberikan

penjelasan mengenai bahan hukum primer sebagaimana yang terdapat

dalam kumpulan pustaka yang bersifat sebagai penunjang dari bahan

hukum primer 36 yang terdiri dari :

1) Buku-buku;

2) Jurnal;

3) Majalah;

4) Artikel;

5) dan berbagai tulisan lainnya.

c. Bahan hukum tertier yang memberikan informasi lebih lanjut mengenai

bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder 37, seperti:

1) Kamus;

2) Ensiklopedi dan lain sebagainya.

36
Ibid
37
Ibid

Universitas Sumatera Utara


3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian

kepustakaan (Library Research). Studi ini dilakukan dengan jalan meneliti

dokumen-dokumen yang ada, yaitu dengan bahan hukum dan informasi baik

yang berupa buku, karangan ilmiah, peraturan perundang-undangan dan bahan

tertulis lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu dengan mencari,

mempelajari dan mencatat serta menginterpretasikan hal-hal yang berkaitan

dengan objek penelitian. 38

4. Metode Analisis Data

Analisis data merupakan proses pengorganisasian dan mengurutkan

data ke dalam kategori-kategori dan satuan uraian dasar, sehingga ditemukan

tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja, seperti yang disaran oleh data. 39

Analisis data yang akan dilakukan secara kualitatif. Kegiatan ini diharapkan

akan dapat memudahkan dalam menganalisis permasalahan yang akan

dibahas, menafsirkan dan kemudian menarik kesimpulan. Peraturan

perundang-undangan dianalisis secara kualiatif dengan menggunakan logika

38
Ronny Hanitijo Soemitro, [Link], 225
39
Analisa data menurut Patton adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan
kedalam suatu pola, kategoridan satuan uraian dasar. Analisa berbeda dengan penafsiran yang
memberikan arti yang signifikan terhadap hasil analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari
hubungan diantara dimensi. Lihat Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 280

Universitas Sumatera Utara


berfikir dalam menarik kesimpulan yang dilakukan secara deduktif 40, pada

akhirnya dapat menjawab permasalahan penelitian ini.

40
Penarikan kesimpulan yang dilakukan secara deduktif, yakni menarik kesimpulan dari suatu
permasalahan yang bersifat umum terhadap permasalahan yang konkret. Lihat Jhonny Ibrahim, Teori
Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Surabaya: Bayu Media, 2005), hal. 393

Universitas Sumatera Utara


BAB II

PEMBUKTIAN JUDI ONLINE DIKAITKAN DENGAN UNDANG-UNDANG


NO. 19 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG
NO. 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI
ELEKTRONIK

A. Pembuktian Dalam Hukum Acara Pidana

1. Alat Bukti Dalam Hukum Acara Pidana

Pembuktian merupakan bagian yang sangat penting dalam hukum acara

terutama hukum acara pidana. 41 Hal itu disebabkan karena pembuktian sangat

berkaitan erat dengan benar atau tidak perbuatan seorang terdakwa yang

disangkakan melakukan tindak pidana. Pembuktian dalam hukum acara pidana

dianggap sebagai proses yang bernilai sejati karena kebenaran yang menjadi

tujuannya ialah kebenaran materil. Artinya, hakim harus aktif dalam melakukan

pemeriksaan terhadap terdakwa sehingga peristiwanya harus terbukti (beyond

reasonable doubt). 42

Uraian di atas senada dengan bunyi Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang No.

48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, berbunyi:

”Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan karena alat

pembuktian yang sah menurut undang-undang, mendapat keyakinan bahwa

41
Pengaturan hukum acara pidana di Indonesia diatur di dalam Undang-Undang No. 8 Tahun
1981Tentang Hukum Acara Pidana atau KUHAP yang diundangkan tanggal 31 Desember 1981.
keberadaan KUHAP bertujuan untuk mempertahankan atau menegakkan hukum materiil. Artinya,
apabila terjadi pelanggaran terhadap hukum pidana materiil maka penegakannya menggunakan hukum
pidana formal yang tata caranya telah ditetapkan di dalam KUHAP. Ilhami Bisri, Sistem Hukum
Indonesia, Prinsip-Prinsip & Implementasi Hukum Di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2004 ), hal. 46
42
Andi Sofyan, [Link], hal. 241

Universitas Sumatera Utara


seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab, telah bersalah atas perbuatan

yang didakwakan atas dirinya”.

Kata pembuktian tentu tidak hanya memiliki maksud dan tujuan seperti

yang diuraikan di atas akan tetapi juga memiliki arti atau pengertian. Berikut

beberapa pengertian pembuktian menurut para ahli, sebagai berikut:

a. J.C.T. Simorangkir mengatakan, ”Pembuktian adalah usaha dari yang


berwenang untuk mengemukakan kepada hakim sebanyak mungkin hal-hal
yang berkenaan dengan suatu perkara yang bertujuan agar supaya dapat
dipakai oleh hakim sebagai bahan untuk memberikan keputusan seperti
perkara tersebut”. 43

b. Darwan Prints mengatakan, ”Pembuktian adalah suatu peristiwa pidana telah

terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya, sehingga harus

mempertanggungjawabkannya”. 44

c. Sudikno Mertokusumo menggunakan istilah ”Membuktikan yang memiliki


arti sebagai berikut:
1) Kata membuktikan dalam arti logis, artinya memberi kepastian yang
bersifat mutlak, karena berlaku bagi setiap orang dan tidak memungkinkan
adanya bukti-bukti lain.
2) Kata membuktikan dalam arti konvensional, yaitu pembuktian yang
memberikan kepastian, hanya saja bukan kepastian mutlak melainkan
kepastian yang nisbi atau relatif, sifatnya yang mempunyai tingkatan-
tingkatan:
a) Kepastian yang didasarkan atas perasaan belaka, maka kepastian ini
bersifat intuitif dan disebut conviction intime.
b) Kepastian yang didasarkan atas pertimbangan akal, maka disebut
conviction raisonnee.
3) Kata membuktikan dalam arti yuridis, yaitu pembuktian yang memberi
kepastian kepada hakim tentang kebenaran suatu peristiwa yang terjadi”. 45

43
J..C.T. Simorangkir [Link], Kamus Hukum, (Jakarta: Aksara Baru, 1983), hal. 135
44
Darwan Prints, Hukum Acara Pidana: Suatu Pengantar, (Jakarta: Djambatan, 1989), hal.
106
45
Sudikno Mertokusumo, [Link], hal. 101

Universitas Sumatera Utara


Berdasarkan uraian di atas maka kata pembuktian atau membuktikan

adalah proses untuk mencari kepastian yang dibutuhkan terkait perbuatan

seseorang apakah telah melakukan tindak pidana, ada alasan pemaaf atau tidak

melakukan tindak pidana. Terkait persoalan pembuktian untuk hal-hal yan secara

umum diketahui tidak perlu dibuktikan. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 184 ayat

(2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), berbunyi:

”Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan”.

Alat bukti dalam hukum acara pidana diatur dalam Pasal 184 ayat (1)

KUHAP dimana dikenal dengan 5 (lima) buah alat bukti, yaitu:

a. Keterangan saksi,
b. Keterangan ahli,
c. Surat,
d. Petunjuk,
e. Keterangan terdaakwa.

KUHAP mengatur kelima jenis alat bukti di atas akan tetapi tidak

memberikan maksud atau pengertian dari alat bukti. Oleh karena itu, akan dirujuk

beberapa pendapat para ahli mengenai alat bukti, sebagai berikut:

a. Eddy O.S. Hiariej mengatakan, “alat bukti adalah sebagai segala hal yang

dapat digunakan untuk membuktikan perihal kebenaran suatu peristiwa di

pengadilan”. 46

b. Sudarsono mengatakan, ”alat bukti adalah apa saja yang menurut undang

dapat dipakai untuk membuktikan sesuatu, maksudnya segala sesuatu yang

46
Eddy O.S. Hiariej, Op. Cit, hal. 52

Universitas Sumatera Utara


menurut undang-undang dapat dipakai untuk membuktikan benar atau

tidaknya suatu tuduhan/guagatan”. 47

c. Kamus Besar Bahasa Indonesia, dalam merumuskan pengertian alat bukti


menggunakan istilah alat pembuktian yang mengandung arti “berbagai macam
bahan yang dibutuhkan oleh hakim, baik yang diketahui sendiri oleh hakim
maupun yang diajukan oleh saksi untuk membenarkan atau menggagalkan
dakwaan atau gugatan”. 48

Uraian di atas maka dapat dirumuskan sebuah pengertian alat bukti adalah

sebuah atau beberapa jenis benda atau alat yang dapat digunakan untuk

membuktikan peristiwa atau tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang atau

lebih bahkan oleh korporasi.

Selanjutnya, terkait alat bukti dalam hukum acara pidana telah ada

dipaparkan di atas untuk penjelasannya akan diuraikan, sebagai berikut:

a. Keterangan saksi

Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana

yang merupakan keterangan saksi atas suatu peristiwa yang ia (saksi)kan

dengar sendiri, ia lihat sendiri,ia alami sendiri ,dengan menyebut alasan

daripada pengetahuannya itu. 49

Keterangan saksi supaya dapat di pakai sebagai alat bukti yang sah

harus memiliki dua syarat:

a) Syarat formil yaitu bahwa keterangan saksi baru dapat di anggap sah

apabila ia di berikan di bawah sumpah.

47
Sudarsono, Kamus Hukum, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2007), hal. 28
48
Departemen Pendidikan Nasional, Op. Cit, hal. 37
49
Pasal 185 KUHAP

Universitas Sumatera Utara


b) Syarat materil yaitu bahwa keterangan seorang saksi saja tidak dapat di

pakai sebagai alat pembuktian yang sah, akan tetapi keterangan seorang

saksi adalah cukup untuk alat membuktikan salah satu unsur kejahatan

yang di tuduhkan.

Saksi dalam perkara pidana adalah menjadi kewajiban daripada setiap

orang. Oleh karena itu orang yang menolak memberikan keterangan sebagai

seorang saksi dalam suatu perkara pidana dapat di hadapkan ke sidang

pengadilan. 50

b. Keterangan ahli

Keterangan ahli adalah keterangan yang di berikan oleh seorang yang

memiliki keahlian khusus tentang hal yang di perlukan untuk membuat terang

suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan 51 sedangkan menurut

Pasal 166 KUHAP keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan .

keterangan ahli itu dapat juga di berikan pada waktu pemeriksaan oleh

penyidik atau penuntut umum yang di tuangkan dalam bentuk laporan dan

dibuat mengingat sumpah di waktu menerima jabatan atau pekerjaan.

c. Surat

Tentang alat bukti surat di atur dalam Pasal 187 KUHAP sebagai

berikut:

a) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang di buat oleh pejabat
umum yang berwenang atau yang di buat di hadapannya yang memuat

50
Pasal 159 ayat (2) KUHAP
51
Pasal 1 angka 26 KUHAP

Universitas Sumatera Utara


keterangan tentang kejadian atau keadaan yang di dengar, di lihat atau
yang di alaminya sendiri,di sertai dengan alasan yang jelas dan tegas
tentang keterangan itu.
b) Surat yang di buat menurut ketentuan peraturan perundang-uandangan
atau surat yang di buat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam
tata laksana yang menjadi tanggungjawabnya dan di peruntukkan bagi
pembuktian.
c) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan
keahliannya mengenai suatu hal yang atau sesuatu keadaan yang di minta
secara resmi dari padanya.
d) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari
alat pembuktian yang lain.

d. Petunjuk

Tentang petunjuk sebagai alat bukti di atur dalam Pasal 198 KUHAP

sebagai berikut:

”Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena

persesuainnya, baik antara satu dengan yang lain, maupun dengan tindak

pidana itu sendiri”.

a) Petunjuk sebagaimana hanya dapat di peroleh dari :


(1) Keterangan saksi
(2) Surat
(3) Keterangan terdakwa
b) Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap
keadaan tertentu di lakukan oleh hakim dengan arif lagi bijaksana, setelah
ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan keseksamaan
berdasarkan hati nuraninya.

e. Keterangan terdakwa

Pasal 18 KUHAP mengatur tentang keterangan terdakwa sebagai

berikut:

a. Keterangan terdakwa ialah apa yang di nyatakan terdakwa di sidang


tentang perbuatannya yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau
alami sendiri.

Universitas Sumatera Utara


b. Keterangan terdakwa yang di berikan di luar sidang dapat di gunakan
untuk membantu menemukan bukti sidang asalkan keterangan itu di
dukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang di
dakwakan kepadanya.
c. Keterangan terdakwa hanya dapat di gunakan terhadap dirinya sendiri
d. Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia
bersalah melakukan perbuatan yang di dakwakan kepadanya, melainkan
harus di sertai alat bukti lain.

Keterangan Pasal 189 KUHAP di atas dapat disimpulkan bahwa keterangan

terdakwa harus di berikan di depan persidangan. 52

Perkembangan selanjutnya terkait alat bukti dalam hukum acara pidana

dikenal adanya alat bukti elektronik. Alat bukti elektronik yang di atur dalam

aturan khusus, yakni terdapat pada Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang

Informasi Dan Transaksi Elektronik. Jenis alat bukti yang dikenal dalam Undang-

Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik ialah

dokumen elektronik dan informasi elektronik. 53

52
Bunyi Pasal 189 KUHAP, yaitu:
“(1) Keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia
lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri,
(2) Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan untuk membantu menemukan
bukti di sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang
mengenai hal yang didakwakan kepadanya,
(3) Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri,
(4) Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan
yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain”.
53
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyebutkan ”Informasi
elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan,
suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic
mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau
perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu
memahaminya”. Pasal 1 angka 4 Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyebutkan
“Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan,
diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang
dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk

Universitas Sumatera Utara


Pengakuan kedua jenis alat bukti elektronik di atas didasarkan atas Pasal 5

ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan

Transaksi Elektronik, berbunyi :

“(1) Infomasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya


merupakan alat bukti hukum yang sah.
(2) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti
yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia”.

Penegasan terhadap keberlakuan dokumen elektronik dan informasi

elektronik sebagai alat bukti semakin dipertegas dengan perubahan Undang-

Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang

mana untuk Pasal 5 isinya tetap akan tetapi penjelasannya berubah yang semakin

mempertegas keberadaannya, yaitu

Penjelasan Pasal 5 ayat (1) dan (2) Undang-Undang No. 19 Tahun 2016

Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi

dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

(1) Bahwa keberadaan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik


mengikat dan diakui sebagai alat bukti yang sah untuk memberikan
kepastian hukum terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektronik dan
Transaksi Elektronik, terutama dalam pembuktian dan hal yang berkaitan
dengan perbuatan hukum yang dilakukan melalui Sistem Elektronik.
(2) Khusus untuk Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik berupa
hasil intersepsi atau penyadapan atau perekaman yang merupakan bagian
dari penyadapan harus dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas
permintaan kepolisian, kejaksaan, dan/atau institusi lainnya yang
kewenangannya ditetapkan berdasarkan undang-undang”.

tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda,
angka, Kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh
orang yang mampu memahaminya”.

Universitas Sumatera Utara


Perlu dipahami bahwa dokumen elektronik merupakan bentuk utama alat

bukti elektronik baik yang tercantum dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik maupun Undang-Undang No. 19

Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dokumen elektronik sebagai bentuk

utama alat bukti elektronik dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: 54

a. Informasi elektronik terdiri atas:

1) Data elektronik adalah semua fakta yang direpresentasikan sebagai input


baik dalam bentuk untaian kata (teks), angka (numerik), gambar
pencitraan (images), suara (voices), ataupun gerak (sensor).
2) Tulisan adalah hasil menulis; barang yang ditulis; cara menulis, karangan;
buku-buku, dan gambaran; lukisan.
3) Suara adalah bunyi yang dikeluarkan dari mulut manusia, bunyi binatang,
ucapan (perkataan), bunyi bahasa (bunyi ujar), sesuatu yang dianggap
sebagai perkataan.
4) Gambar adalah tiruan barang yang dibuat dengan coretan pensil dan
sebagainya pada kertas dan sebagainya; lukisan.
5) Peta adalah gambar atau lukisan pada kertas dan sebagainya yang
menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung dan sebaginya; representasi
melalui gambar dari suatu daerah yang menyatakan sifat, seperti batas
daerah, sifat permukaan; denah.
6) Rancangan adalah sesuatu yang sudah dirancang; hasil merancanng;
rencana; program; desain.
7) Foto adalah potret, gambaran; banyangan; pantulan.
8) Elektronic Data Interchange (EDI) adalah sebuah alat yang dapat
digunakan untuk pertukaran sebuah data dimana ia dapat digunakan dapat
digunakan untuk mentransmisikan dokumen-dokumen secara elektronik
seperti dokumen pemesanan pembelian, invoice, catatan pengangkutan
barang, penerimaan advice dan koresponden bisnis standar lainnya di
antara paramitra dagang.

54
Muhammad Iqbal Tarigan, Dokumen Elektronik Sebagai Alat Bukti Dalam Perspektif
Pembaruan Hukum Acara Perdata Indonesia, (Medan: Tesis S2 Universitas Sumatera Utara, 2014)
63-68

Universitas Sumatera Utara


9) Surat elektronik (electronic mail) adalah pertukaran pesan antar komputer
di internet, biasanya tertulis dalam bentuk teks bebas dibanding dalam
format tertentu.
10) Telegram adalah berita yang dikirim dengan telegraf; kabar kawat.
11) Teleks adalah suatu bentuk komunikasi antara dua terminal telephone
dimana setiap terminalnya kelihatan seperti dan berfungsi seperti mesin
ketik elektrik. Keduanya digunakan untuk menge-print sebuah data
(record) yang dikomunikasikan.
12) Telecopy atau fax adalah salah satu bentuk transmisi elektronik yang
sesuai dengan standar faksimili yang dibuat oleh International Telegraph
and Telephone Consultative Committee.
13) Huruf adalah tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan anggota abjad
yang melambangkan bunyi bahasa; aksara.
14) Tanda adalah yang menjadi alamat atau yang menyesuaikan sesuatu,
gejala, bukti, pengenal; lambang, petunjuk.
15) Angka adalah tanda atau lambang sebagai pengganti bilangan; nomor,
nilai.
16) Kode akses adalah angka, huruf, simbol, karakter lainnya atau kombinasi
di antaranya yang merupakan kunci untuk dapat mengakses komputer
dan/atau sistem elektronik lainnya.
17) Simbol adalah lambang.
18) Perforasi adalah pembuatan lubang pada kertas, kartu dan sebagainya;
pelubangan, lubang kecil pada kertas, karton dan sebagainya.

b. Tulisan adalah hasil menulis; barang yang ditulis; cara menulis, karangan;

buku-buku, dan gambaran; lukisan.

c. Suara adalah bunyi yang dikeluarkan dari mulut manusia, bunyi binatang,

ucapan (perkataan), bunyi bahasa (bunyi ujar), sesuatu yang dianggap sebagai

perkataan.

d. Gambar adalah tiruan barang yang dibuat dengan coretan pensil dan sebagainya

pada kertas dan sebagainya; lukisan.

e. Peta adalah gambar atau lukisan pada kertas dan sebagainya yang menunjukkan

letak tanah, laut, sungai, gunung dan sebaginya; representasi melalui gambar

Universitas Sumatera Utara


dari suatu daerah yang menyatakan sifat, seperti batas daerah, sifat

permukaan; denah.

f. Rancangan adalah sesuatu yang sudah dirancang; hasil merancanng; rencana;

program; desain.

g. Foto adalah potret, gambaran; banyangan; pantulan.

h. Huruf adalah tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan anggota abjad yang

melambangkan bunyi bahasa; aksara.

i. Tanda adalah yang menjadi alamat atau yang menyesuaikan sesuatu, gejala,

bukti, pengenal; lambang, petunjuk.

j. Angka adalah tanda atau lambang sebagai pengganti bilangan; nomor, nilai.

k. Kode akses adalah angka, huruf, simbol, karakter lainnya atau kombinasi di

antaranya yang merupakan kunci untuk dapat mengakses komputer dan/atau

sistem elektronik lainnya.

l. Simbol adalah lambang.

m. Perforasi adalah pembuatan lubang pada kertas, kartu dan sebagainya;

pelubangan, lubang kecil pada kertas, karton dan sebagainya.

Universitas Sumatera Utara


B. Pembuktian Judi Online Dikaitkan Dengan Undang-Undang No. 19 Tahun
2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang
Informasi Dan Transaksi Elektronik

1. Tindak Pidana Teknologi Informasi (Cybercrime)

KUHP 55 merupakan produk hukum Indonesia yang isinya dibuat oleh

Pemerintahan Kolonial Belanda, KUHP yang ada saat ini tidak lain adalah hasil

alih bahasa yang dilakukan beberapa sarjana Indonesia. 56 Pengertian tindak

pidana memiliki arti yang sama (sinonim) dengan istilah peristiwa pidana yang

menurut KUH Pidana adalah sebagai terjemahan dari istilah bahasa Belanda

strafbaar feit yaitu suatu tindakan pada tempat, waktu dan keadaan tertentu

dilarang atau diharuskan dan diancam dengan pidana oleh undang-undang,

bersifat melawan hukum, serta dengan kesalahan, dilakukan oleh seseorang yang

mampu bertanggung jawab. 57

Beberapa sarjana berusaha memberikan perumusan tentang pengertian

dari peristiwa pidana, diantaranya: Moeljatno cenderung lebih suka menggunakan

kata ”perbuatan pidana ” daripada kata ”tindak pidana”. Menurut beliau kata

”tindak pidana” dikenal karena banyak digunakan dalam perundang-undangan

untuk menyebut suatu ”perbuatan pidana”. Moeljatno berpendapat bahwa

perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh aturan hukum, larangan

55
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
56
Moeljatno (I), Kitab Undang Undang Hukum Pidana, cet. 21, (Jakarta: Bumi Aksara,
2001), hal. 10
57
Moeljatno (II), Azas-Azas Hukum Pidana, (Jakarta: Bina Aksara, 1998), hal. 56

Universitas Sumatera Utara


mana disertai ancaman (sanksi) berupa pidana tertentu bagi siapa yang melanggar

larangan tersebut. 58

Vos hanya memberikan perumusan singkat yakni kelakuan atau tingkah

laku manusia yang oleh peraturan perundang-undangan diberikan pidana.

Perumusan peristiwa pidana menurut Simons adalah perbuatan melawan hukum

yang diancam pidana dan dilakukan oleh seseorang yang mampu bertanggung

jawab. Dari perumusan ini menunjukkan unsur-unsur peristiwa pidana

diantaranya perbuatan manusia (handeling) dimana perbuatan manusia tidak

hanya perbuatan (een doen) akan tetapi juga melakukan atau tidak berbuat (een

natalen atau niet doen). 59

Istilah strabare feit sendiri telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia

sebagai perbuatan yang dapat/boleh dihukum, peristiwa pidana, perbuatan pidana,

dan tindak pidana. 60 Pengertian dari pidana itu sendiri pada prinsipnya sama

artinya dengan straf. Karena kata pidana berasal dari kata straf (Belanda) yang

pada dasarnya dapat dikatakan sebagai suatu penderitaan (nestapa) yang sengaja

dikenakan atau dijatuhkan kepada seseorang yang telah terbukti bersalah

melakukan suatu tindak pidana. 61

58
Ibid
59
C.S.T. Kansil, Pokok-Pokok Hukum Pidana, (Jakarta: Pradnya Paramita, 2004), hal. 37
60
S.R. Sianturi, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, (Jakarta: Alumni
Ahaem Petehaem, 1989), hal. 204
61
Mohammad Ekaputra dan Abul Khair, Sistim Pidana di Dalam KUHP dan Pengaturannya
Menurut Konsep KUHP Baru, (Medan: USU Press, 2010), hal. 1

Universitas Sumatera Utara


Jenis-jenis tindak pidana merujuk pada pendapat EY. Kanter dan SR.

Sianturi dimana mereka berdua membedakannya antara lain: 62

a. Kejahatan dan pelanggaran.


b. Delik formil dan delik materil.
c. Delik omissi dan delik commissi.
d. Delik tersendiri dan delik berulang.
e. Delik berakhir dan delik berlanjut.
f. Delik bersahaja dan delik kebiasaan.
g. Delik biasa dan delik kualifikasi/previligasi.
h. Delik sengaja dan delik culpa.
i. Delik umum dan delik politik.
j. Delik umum dan delik khusus.
k. Delik dakwaan karena jabatan dan delik aduan.

Tindak pidana dapat dibagi dengan menggunakan kriteria. Pembagian ini

berhubungan erat dengan berat atau ringannya ancaman, sifat, bentuk dan

perumusan suatu tindak pidana. Pembedaan ini erat pula hubungannya dengan

ajaran-ajaran umum hukum pidana. 63 Menurut KUH Pidana terdapat dua macam

pembagian tindak pidana, yaitu kejahatan (misdrijven) yang ditempatkan dalam

buku ke-II dan pelanggaran (overtredingen) yang ditempatkan dalam buku ke-

III. 64

Tindak pidana formil adalah tindak pidana yang dirumuskan sedemikian

rupa sehingga memberikan arti bawah inti dari larangan yang dirumuskan itu

adalah melakukan suatu perbuatan tertentu. Perumusan tindak pidana formil tidak

memperhatikan dan atau tidak memerlukan timbulnya suatu akibat tertentu dari

62
EY. Kanter dan SR. Sianturi, [Link], hal. 236
63
Jan Remmelink, Hukum Pidana: Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari Kitab
Undang-undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-undang Hukum
Pidana Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum, 2003), hal. 228
64
Ibid, hal. 230

Universitas Sumatera Utara


perbuatan sebagai syarat tindak pidana, melainkan hanya semata-mata pada

perbuatannya saja. Misalnya untuk pencurian (Pasal 362 KUHP) untuk selesainya

pencurian digantungkan pada selesainya perbuatan mencuri. 65 tindak pidana

materil, inti larangan adalah pada menimbulkan akibat yang dilarang. Oleh karena

itu, siapa yang menimbulkan akibat yang dilarang, maka itulah yang

dipertanggungjawabkan dan dipidana. Tentang bagaimana wujud perbuatan yang

menimbulkan akibat terlarang itu tidaklah penting. Misalnya pada pembunuhan

(Pasal 338 KUHP) inti larangan adalah pada menimbulkan kematian orang, dan

bukan pada wujud menembak, membacok, atau memukul. 66

Tindak pidana sengaja (doleus delicten) adalah tindak pidana yang dalam

rumusannya dilakukan dengan kesengajaan atau mengandung unsur kesengajaan.

Sementara itu tindak pidana kelalaian atau culpa (culpose delicten) adalah tindak

pidana yang dalam rumusannya mengandung unsur lalai (culpa). 67

Tindak pidana aktif/komisi (delicta commissionis) adalah tindak pidana

yang perbuatannya berupa perbuatan aktif (positif). Perbuatan aktif (disebut juga

perbuatan materil) adalah perbuatan yang untuk mewujudkannya disyaratkan

dengan adanya gerakan dari anggota tubuh orang yang berbuat. 68 tindak pidana

passif/omisi, dalam hal tindak pidana passif, ada suatu kondisi dan atau keadaan

tertentu yang mewajibkan seseorang dibebani kewajiban hukum untuk berbuat

65
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana, Bagian I, (Jakarta: RajaGrafindo Persada,
2005), hal. 126
66
Ibid
67
EY. Kanter dan SR. Sianturi, [Link], hal. 167-169
68
Moeljatno (II), [Link], hal. 76

Universitas Sumatera Utara


tertentu. Apabila ia tidak melakukan (aktif) perbuatan itu, maka ia akan dikenakan

pelanggaran kewajiban hukumnya. Dalam hal ini seseorang itu telah melakukan

tindak pidana secara pasif. Tindak pidana ini dapat disebut juga tindak pidana

pengabaian suatu kewajiban hukum. 69

Jan Remmelink mengatakan tindak pidana yang terjadi dengan seketika

adalah tindak pidana itu akan selesai setelah dilakukannya perbuatan, misalnya

mengambil (dalam tindak pidana pencurian), menghasut, membunuh, dan

membakar. Dalam hal tindak pidana pencurian (Pasal 362 KUHP) jika perbuatan

mengambilnya selesai, maka tindak pidana itu menjadi selesai secara sempurna. 70

Sebaliknya Jan Remmelink mengatakan dalam tindak pidana berlanjut, terdapat

perbuatan yang menciptakan atau menimbulkan suatu keadaan yang dilarang

secara berlanjut. Misalnya tindak pidana dengan terus-menerus merampas

kemerdekaan seseorang (Pasal 282 dan Pasal 333 KUHP). 71

Tindak pidana umum adalah semua tindak pidana yang dimuat dalam

KUHP sebagai kodifikasi hukum pidana materil (buku II dan buku III).

Sedangkan tindak pidana khusus adalah semua tindak pidana yang terdapat di luar

kodifikasi tersebut. Contoh tindak pidana khusus adalah tindak pidana korupsi,

narkotika, tindak pidana perbankan, dan lain-lain. 72

69
Jan Remmelink, [Link], hal. 79
70
Ibid, hal. 80
71
Ibid
72
Adami Chazawi, [Link], hal. 131

Universitas Sumatera Utara


Tindak pidana dilihat dari sisi subjek hukumnya, maka tindak pidana itu

dibagi menjadi tindak pidana yang dapat dilakukan oleh semua orang (delicta

communia) dan tindak pidana yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang karena

kualitasnya tertentu (delicta propria). 73 Tindak pidana propria (delicta propria)

ini menurut Jan Remmelink yaitu tindak pidana yang dapat dilakukan hanya oleh

orang yang memiliki kualitas pribadi tertentu, misalnya pegawai negeri, pelaut,

militer dan lain-lain. 74

Tindak pidana biasa adalah tindak pidana yang tidak diperlukan atau

disyaratkan adanya pengaduan dari yang berhak. Sebahagian besar tindak pidana

tergolong sebagai tindak pidana biasa. Sedangkan tindak pidana aduan adalah

tindak pidana yang mensyaratkan dapat dituntutnya pelaku jika ada orang yang

mengadu dari yang berhak mengadu. 75

Tindak pidana pokok dapat berupa tindak pidana pokok yang diperberat

dan meringankan. Dilihat dari berat ringannya tindak pidana, dibagi tiga yaitu:

dalam bentuk pokok atau sederhana atau standar (eenvoudige delicten), dalam

bentuk diperberat (gequalificeerde delicten), dan dalam bentuk ringan

(gepriviligieerde delicten). 76

Sistematika pengelompokan tindak pidana bab per bab dalam KUHP

didasarkan pada kepentingan hukum yang dilindungi. Misalnya pada bab II, untuk

73
Ibid, hal. 131.
74
Jan Remmelink, [Link], hal. 72
75
Adami Chazawi, [Link], hal. 132
76
Ibid, hal. 133

Universitas Sumatera Utara


melindungi kepentingan hukum terhadap keamanan negara, maka dibentuklah

rumusan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara (bab I). Untuk melindungi

kepentingan hukum bagi kelancaran tugas-tugas penguasa umum, maka

dibentuklah rumusan Kejahatan Terhadap Penguasa Umum (bab VIII). Untuk

melindungi kepentingan hukum terhadap hak kebendaan pribadi, dibentuk

rumusan tindak pidana seperti Pencurian (bab XXII, Penggelapan (bab XXIV),

Pemerasan dan Pengancaman (bab XXIII) dan lain-lain. 77

Tindak pidana tunggal (engkelvoudige delicten) adalah tindak pidana yang

dirumuskan sedemikian rupa sehingga untuk dipandang selesainya tindak pidana

dan dapat dipidananya pelaku cukup dilakukan satu kali perbuatan saja. Pada

umumnya perumusan tindak pidana dalam KUHP berupa tindak pidana tunggal. 78

Tindak pidana tunggal ini menurut EY. Kanter dan SR. Sianturi disebutnya

sebagai delik mandiri yang hanya disyaratkan dapat dipidananya seseorang jika

hanya satu kali telah melakukan perbuatan yang dilarang. 79 Sementara itu yang

dimaksud dengan tindak pidana berangkai adalah tindak pidana yang dirumuskan

sedemikian rupa sehingga untuk dipandang selesai dan dapat dipidananya

pembuat disyaratkan dilakukan secara berulang. 80 Tindak pidana berangkai ini

menurut EY. Kanter dan SR. Sianturi disebutnya dengan delik berlanjut atau delik

77
Ibid, hal. 135
78
Ibid, hal. 136
79
EY. Kanter dan SR. Sianturi, [Link], hal. 238
80
Adami Chazawi, Loc. Cit

Universitas Sumatera Utara


yang sama berulang, bilamana tindak pidana yang sama berulang dilakukan dan

merupakan atau dapat dianggap sebagai lanjutan dari tindakan semula. 81

Tindak pidana teknologi informasi atau cybercrime merupakan salah

tindak pidana khusus yang ada di Indonesia. Munculnya cybercrime disebabkan

karena kekeliruan atau kesalahan dalam pemanfaatan teknologi informasi dan

komunikasi. 82 Keberadaan cybercrime di Indonesia sangat berkaitan dengan

kejahatan umum atau tradisional yang di atur pada Kitab Undang-Undang Hukum

Pidana (KUHP). Artinya, banyak dari kejahatan-kejahatan tradisional yang ada

didalam KUHP dilakukan dengan menggunakan atau dengan bantuan peralatan

komputer. 83

Karakteristik cybercrime sebagai salah satu tindak pidana, yaitu : 84

a. Perbuatan yang dilakukan secara ilegal, tanpa hak atau tidak etis tersebut
terjadi dalam ruang/wilayah siber/cyber (cyberspace), sehingga tidak dapat
dipastikan yurisdiksinya negara mana yang berlaku terhadapnya.
b. Perbuatan tersebut dilakukan dengan menggunakan peralatan apa pun yang
terhubung dengan internet.
c. Perbuatan tersebut mengakibatkan kerugian materiil maupu immateriil
(waktu, nilai, jasa, uang, barang, harga diri, martabat dan kerahasian
informasi) yang cenderung lebih besar dibandingkan dengan kejahatan
konvensional.
81
EY. Kanter dan SR. Sianturi, [Link]
82
Cybercrime merupakan bagian dari cyber law atau hukum telamatika yang mana
munculnya disebabkan kegiatan yang dilakukan melalui jaringan sistem komputer yang merupakan
sistem elektronik yang dapat dilihat secara virtual. Perkembangan teknologi dan komunikasi telah
menyebabkan hubungan dunia menjadi tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan sosial
ekonomi dan budaya secara signifikan berlangsung demikian cepat. Ermansjah Djaja, Penyelesaian
Sengketa Hukum Teknologi Informasi Dan Transaksi Elektrik: Kajian Yuridis Penyelsaian Secara Non
Litigasi Melalui Arbitrase Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, (Yogyakarta: Pustaka Timur, 2010),
hal. 9
83
Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti,
2013), hal. 218
84
Abdul Wahid Dan M. Labib, Kejahatan Mayantara (Cybercrime), (Bandung: PT. Refika
Aditama, 2005), hal. 76

Universitas Sumatera Utara


d. Pelakunya adalah orang yang menguasai penggunaan internet beserta
aplikasinya.
e. Perbuatan tersebut sering dilakukan secara transnasional/melintasi batas
negara.

Cybercrime yang diatur di Indonesia seperti telah diuraikan di atas

menunjukkan kehususan dibandingkan tindak pidana tradisional disebabkan

karena cybercrime yang melibatkan komputer dan jaringan internet. Pengaturan

cybercrime dapat ditemukan dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang

Informasi dan Transaksi Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016

Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi

dan Transaksi Elektronik. Berikut beberapa tindak pidana informasi elektronik

yang diatur dalam undang-undang tersebut, yaitu:

a. Pornografi di internet atau cyberporn diatur dalam Pasal 27 ayat (1) Undang-

Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik,

berbunyi :

”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau

mentrasmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik

dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar

kesusilaan”.

Pasal di atas dapat dianggap sebagai ketentuan umum karena secara khusus

cyberporn pengaturannya dapat ditemukan secara lengkap pada Undang-

Undang No.44 Tahun 2008 Tentang Pornografi. Artinya, Undang-Undang

No.44 Tahun 2008 Tentang Pornografi merupakan bentuk khusus dari Pasal

Universitas Sumatera Utara


27 ayat (1) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan

Transaksi Elektronik.

Aturan pornografi yang terdapat dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik tidak mengalami perubahan akan

tetapi perubahan terjadi pada penjelasan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang

No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik yang

tercantum dalam penjelasan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang No. 19 Tahun

2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang

Informasi dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

”Yang dimaksud dengan “mentransmisikan” adalah mengirimkan Informasi


Elektronik dan/atau Dokumen Eletronik yang ditujukan kepada satu pihak lain
melalui Sistem Elektronik.
Yang dimaksud dengan “membuat dapat diakses” adalah semua perbuatan
lain selain mendistribusikan dan mentransmisikan melalui Sistem Elektronik
yang menyebabkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dapat
diketahui pihak lain atau publik”.

b. Perjudian di internet atau internet gambling diatur dalam Pasal 27 ayat (2)

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi

Elektronik, berbunyi :

”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau

mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik

dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan perjudian”.

dan dalam penjelasan yang tertuang pada Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang

No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun

2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

Universitas Sumatera Utara


“Cukup jelas”.

c. Penghinaan dan pencemaran nama baik di Internet diatur dalam Pasal Pasal 27

ayat (3) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan

Transaksi Elektronik, berbunyi :

”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau

mentransmisikan dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan

penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.

Penjelasannya mengacu pada Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang No. 19 Tahun

2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang

Informasi dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

“Ketentuan pada ayat ini mengacu pada ketentuan pencemaran nama baik

dan/atau fitnah yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

(KUHP)”.

d. Pemerasan dan/atau pengancaman melalui internet diatur dalam Pasal 27 ayat

(4) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi

Elektronik, berbunyi :

”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau

mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik

dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau

pengancaman”.

Universitas Sumatera Utara


Penjelasannya mengacu pada Pasal 27 ayat (4) Undang-Undang No. 19 Tahun

2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang

Informasi dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

“Ketentuan pada ayat ini mengacu pada ketentuan pemerasan dan/atau

pengancaman yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

(KUHP)”.

Selanjutnya, selain pasal 27 ayat (4) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik yang mengatur tentang

seseorang yang mengirimkan atau membuat dapat diakses terkait pemerasan

dan pengancaman tetapi juga mengatur tindak pidana mengirimkan Informasi

Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau

menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi diatur dalam Pasal 29 Undang-

Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik,

berbunyi :

”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi

Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau

menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi”.

Penjelesannya tetap mengacu pada Pasal 29 Undang-Undang No. 11 Tahun

2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi :

”Cukup jelas”.

Universitas Sumatera Utara


e. Penyebaran berita bohong dan penyesatan melalui internet diatur dalam Pasal

28 ayat (1) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan

Transaksi Elektronik, berbunyi :

”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan

menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi

Elektronik”.

Penjelesannya tetap mengacu pada Pasal 28 Undang-Undang No. 11 Tahun

2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi :

”Cukup jelas”.

f. Profokasi melalui internet diatur dalam Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang No.

11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi :

”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang

ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu

dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras,

dan antar golongan (SARA)”.

Penjelesannya tetap mengacu pada Pasal 28 Undang-Undang No. 11 Tahun

2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi :

”Cukup jelas”.

g. Hacking atau memasuki komputer atau mengakses sistem elektronik diatur

dalam Pasal 30 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan

Transaksi Elektronik, berbunyi :

Universitas Sumatera Utara


”(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum
mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik Orang lain
dengan cara apa pun.
(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum
mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun
dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik.
(3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum
mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun
dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem
pengamanan”.

Penjelesannya tetap mengacu pada Pasal 30 Undang-Undang No. 11 Tahun

2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi :

”Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Secara teknis perbuatan yang dilarang sebagaimana dimaksud pada ayat ini

dapat dilakukan, antara lain dengan:

a. melakukan komunikasi, mengirimkan, memancarkan atau sengaja berusaha


mewujudkan hal-hal tersebut kepada siapa pun yang tidak berhak untuk
menerimanya; atau
b. sengaja menghalangi agar informasi dimaksud tidak dapat atau gagal
diterima oleh yang berwenang menerimanya di lingkungan pemerintah
dan/atau pemerintah daerah.
Ayat (3)
Sistem pengamanan adalah sistem yang membatasi akses Komputer atau
melarang akses ke dalam Komputer dengan berdasarkan kategorisasi atau
klasifikasi pengguna beserta tingkatan kewenangan yang ditentukan”.

h. Penyadapan atau intersepsi diatur dalam Pasal 31 Undang-Undang No. 19

Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

Universitas Sumatera Utara


“(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum
melakukan intersepsi atau penyadapan atas Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik dalam suatu Komputer dan/atau Sistem
Elektronik tertentu milik Orang lain.
(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum
melakukan intersepsi atas transmisi Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik yang tidak bersifat publik dari, ke, dan di dalam
suatu Komputer dan/atau Sistem Elektronik tertentu milik Orang lain,
baik yang tidak menyebabkan perubahan apa pun maupun yang
menyebabkan adanya perubahan, penghilangan, dan/atau penghentian
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang sedang
ditransmisikan.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku
terhadap intersepsi atau penyadapan yang dilakukan dalam rangka
penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, atau institusi
lainnya yang kewenangannya ditetapkan berdasarkan undang-undang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara intersepsi sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) diatur dengan undang-undang”.

Penjelasan Pasal 31 Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan

Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi

Elektronik, berbunyi:

“Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “intersepsi atau penyadapan” adalah kegiatan untuk
mendengarkan, merekam, membelokkan, mengubah, menghambat, dan/atau
mencatat transmisi Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang
tidak bersifat publik, baik menggunakan jaringan kabel komunikasi maupun
jaringan nirkabel, seperti pancaran elektromagnetis atau radio frekuensi.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas”.

i. Defacing adalah kegiatan mengubah halaman situs/website pihak lain, seperti

yang terjadi pada situ Menkominfo dan partai Golkar serta Bank Indonesia

Universitas Sumatera Utara


beberapa waktu yang lal dan situs KPU saat pemilu tahun 2004. 85 Defacing

diatur dalam Pasal 32 ayat (1) dan (3, merupakan akibat dari defacing) Undang-

Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik,

berbunyi:

“(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan
cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi,
merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Orang lain atau
milik publik.
(3) Terhadap perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
mengakibatkan terbukanya suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik yang bersifat rahasia menjadi dapat diakses oleh publik dengan
keutuhan data yang tidak sebagaimana mestinya”.

Penjelasan Pasal 32 ayat (1) dan ayat (3) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

”Cukup jelas”.

j. Pencurian melalui internet diatur dalam Pasal 32 ayat (2) Undang-Undang No.

11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara

apa pun memindahkan atau mentransfer Informasi Elektronik dan/atau

Dokumen Elektronik kepada Sistem Elektronik Orang lain yang tidak berhak”.

Penjelasan Pasal 32 ayat (2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang

Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

85
Budi Suhariyanto, Tindak Pidana Teknologi Informasi (Cybercrime): Urgensi Pengaturan
Dan Celah Hukumnya, (Jakarta: PT. RajaGrafindo, 2013), hal. 140

Universitas Sumatera Utara


”Cukup jelas”.

k. Penggangguan melalui internet diatur dalam Pasal 33 Undang-Undang No. 11

Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan

tindakan apa pun yang berakibat terganggunya Sistem Elektronik dan/atau

mengakibatkan Sistem Elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana

mestinya”.

Penjelasan Pasal 33 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi

Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

”Cukup jelas”.

l. Fasilitator cybercrime diatur dalam Pasal 34 Undang-Undang No. 11 Tahun

2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

”(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum
memproduksi, menjual, mengadakan untuk digunakan, mengimpor,
mendistribusikan, menyediakan, atau memiliki:
a. perangkat keras atau perangkat lunak komputer yang dirancang atau
secara khusus dikembangkan untuk memfasilitasi perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 33;
b. sandi lewat komputer, kode Akses, atau hal yang sejenis dengan itu yang
ditujukan agar Sistem Elektronik menjadi dapat diakses dengan tujuan
memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai
dengan Pasal 33.
(2) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan tindak pidana jika
ditujukan untuk melakukan kegiatan penelitian, pengujian sistem elektronik,
untuk perlindungan sistem elektronik itu sendiri secara sah dan tidak
melawan hukum”.

Universitas Sumatera Utara


Penjelasan Pasal 34 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi

Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

”Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “kegiatan penelitian” adalah penelitian yang
dilaksanakan oleh lembaga penelitian yang memiliki izin”.

m. Plagiat atau pembajakan melalui internet diatur dalam Pasal 35 Undang-

Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik,

berbunyi:

”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan
manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan informasi
elektronik dan/atau dokumen elektronik dengan tujuan agar informasi
elektronik dan/atau dokumen elektronik tersebut dianggap seolah-olah data
yang otentik”.

Penjelasan Pasal 35 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi

Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

”Cukup jelas”.

n. Cybercrime yang menimbulkan kerugian terhadap orang di atur dalam Pasal

36 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi

Elektronik, berbunyi:

“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan

perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 34

yang mengakibatkan kerugian bagi Orang lain”.

Universitas Sumatera Utara


Penjelasan Pasal 36 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi

Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

”Cukup jelas”.

Keberadaan pasal ini bertujuan sebagai wujud pemberatan terhadap tindak

pidana yang diatur dalam Pasal 27-36 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik jika terdapat kerugian yang

nyata dari pelaku tindak pidana cybercrime terhadap korban.

o. Cybercrime lintas yurisdiksi Indonesia diatur dalam Pasal 37 Undang-Undang

No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik yag termasuk

kedalam bab perbuatan yang dilarang, berbunyi :

”Setiap Orang dengan sengaja melakukan perbuatan yang dilarang

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 36 di luar

wilayah Indonesia terhadap Sistem Elektronik yang berada di wilayah

yurisdiksi Indonesia”.

Penjelasan Pasal 37 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi

Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

”Cukup jelas”.

Keberadaan tindak pidana yang di atur dalam Pasal 37 Undang-Undang

No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik bertujuan untuk

menjerat pelaku dari negara asing yang melakukan tindak pidana teknologi

informasi di Indonesia sehingga meskipun berada di luar negeri dapat dituntut di

Indonesia.

Universitas Sumatera Utara


Pengaturan tindak pidana teknologi informasi di atas tidak hanya mengacu

kepada Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi

Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Keberadaan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

bukan untuk menggantikan undang-undang yang lama akan tetapi bertujuan

sebagai penyempurnaan undang-undang yang lama dengan beberapa perubahan.

Keberadaan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

bertujuan untuk memfasilitasi beberapa persoalan, yaitu:

a. Terhadap Undang-Undang ini telah diajukan beberapa kali uji materiil di

Mahkamah Konstitusi dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor

50/PUU-VI/2008, Nomor 2/PUU-VII/2009, Nomor 5/PUUVIII/ 2010, dan

Nomor 20/PUU-XIV/2016. Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi

Nomor 50/PUU-VI/2008 dan Nomor 2/PUU-VII/2009, tindak pidana

penghinaan dan pencemaran nama baik dalam bidang Informasi Elektronik

dan Transaksi Elektronik bukan semata-mata sebagai tindak pidana umum,

melainkan sebagai delik aduan. Penegasan mengenai delik aduan

dimaksudkan agar selaras dengan asas kepastian hukum dan rasa keadilan

masyarakat.

Universitas Sumatera Utara


Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 5/PUU-VIII/2010,

Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa kegiatan dan kewenangan

penyadapan merupakan hal yang sangat sensitif karena di satu sisi merupakan

pembatasan hak asasi manusia, tetapi di sisi lain memiliki aspek kepentingan

hukum. Oleh karena itu, pengaturan (regulation) mengenai legalitas

penyadapan harus dibentuk dan diformulasikan secara tepat sesuai dengan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Di samping

itu, Mahkamah berpendapat bahwa karena penyadapan merupakan

pelanggaran atas hak asasi manusia sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 28J

ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,

sangat wajar dan sudah sepatutnya jika negara ingin menyimpangi hak privasi

warga negara tersebut, negara haruslah menyimpanginya dalam bentuk

undang-undang dan bukan dalam bentuk peraturan pemerintah.

Selain itu, berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20/PUU-

XIV/2016, Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa untuk mencegah

terjadinya perbedaan penafsiran terhadap Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) UU

ITE, Mahkamah menegaskan bahwa setiap intersepsi harus dilakukan secara

sah, terlebih lagi dalam rangka penegakan hukum. Oleh karena itu,

Mahkamah dalam amar putusannya menambahkan kata atau frase

“khususnya” terhadap frasa “Informasi Elektronik dan/atau Dokumen

Elektronik”. Agar tidak terjadi penafsiran bahwa putusan tersebut akan

mempersempit makna atau arti yang terdapat di dalam Pasal 5 ayat (1) dan

Universitas Sumatera Utara


ayat (2) UU ITE, untuk memberikan kepastian hukum keberadaan Informasi

Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik sebagai alat bukti perlu dipertegas

kembali dalam Penjelasan Pasal 5 UU ITE.

b. Ketentuan mengenai penggeledahan, penyitaan, penangkapan, dan penahanan

yang diatur dalam UU ITE menimbulkan permasalahan bagi penyidik karena

tindak pidana di bidang Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik begitu

cepat dan pelaku dapat dengan mudah mengaburkan perbuatan atau alat bukti

kejahatan.

c. Karakteristik virtualitas ruang siber memungkinkan konten ilegal seperti

Informasi dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang

melanggar kesusilaan, perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik,

pemerasan dan/atau pengancaman, penyebaran berita bohong dan

menyesatkan sehingga mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi

Elektronik, serta perbuatan menyebarkan kebencian atau permusuhan

berdasarkan suku, agama, ras, dan golongan, dan pengiriman ancaman

kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi dapat diakses,

didistribusikan, ditransmisikan, disalin, disimpan untuk didiseminasi kembali

dari mana saja dan kapan saja. Dalam rangka melindungi kepentingan umum

dari segala jenis gangguan sebagai akibat penyalahgunaan Informasi

Elektronik dan Transaksi Elektronik, diperlukan penegasan peran Pemerintah

dalam mencegah penyebarluasan konten ilegal dengan melakukan tindakan

pemutusan akses terhadap Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik

Universitas Sumatera Utara


yang memiliki muatan yang melanggar hukum agar tidak dapat diakses dari

yurisdiksi Indonesia serta dibutuhkan kewenangan bagi penyidik untuk

meminta informasi yang terdapat dalam Penyelenggara Sistem Elektronik

untuk kepentingan penegakan hukum tindak pidana di bidang Teknologi

Informasi dan Transaksi Elektronik.

d. Penggunaan setiap informasi melalui media atau Sistem Elektronik yang

menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan Orang

yang bersangkutan. Untuk itu, dibutuhkan jaminan pemenuhan perlindungan

diri pribadi dengan mewajibkan setiap Penyelenggara Sistem Elektronik untuk

menghapus Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak

relevan yang berada di bawah kendalinya atas permintaan Orang yang

bersangkutan berdasarkan penetapan pengadilan. 86

2. Pengaturan Tindak Pidana Judi Di Indonesia

Pengaturan tindak pidana merupakan konsekuensi dari penjagaan terhadap

masyarakat atau individu oleh pemerintah untuk memberi rasa aman dalam

menjalankan aktifitas kesehariannya. Rasa aman yang dimaksudkan dalam hal ini

adalah perasaan tenang, tanpa ada kekhawatiran akan ancaman ataupun perbuatan

yang dapat merugikan antar individu dalam masyarakat. 87

86
Bagian umum penjelasan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
87
Amir Ilyas, Asas-Asas Hukum Pidana, (Yogyakarta: Rangkang Education Yogyakarta &
PUKAP Indonesia, 2012), hal. 1

Universitas Sumatera Utara


Hakikatnya kemunculan pengaturan tindak pidana yang ditujukan untuk

memberi rasa aman disebabkan karena perbuatan manusia tidak boleh

bertentangan dengan beberapa hal, sebagai berikut: 88

a. Hak asasi manusia, yaitu seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan
keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh
negara hukum, pemerintah dan setiap orang semi kehormatan serta
perlindungan harkat dan martabat manusia.
b. Kepentingan masyarakat umum atau kepentingan sosial, yaitu kepentingan
yang lazim terjadi dalam perspektif pergaulan hidup antar manusia sebagai
insan yang merdeka dan dilindungi oleh norma-norma moral, agama,
sosial/etika serta hukum.
c. Kepentingan pemerintahan dan negara, yaitu kepentingan yang muncul dan
berkembang dalam rangka penyelenggaraan kehidupan pemerintahan serta
kehidupan bernegara demi tegak dan berwibawanya negara Indonesia baik
bagi rakyat Indonesia maupun dalam pergaulan dunia.

Pengaturan tindak pidana di Indonesia ada yang bersifat umum maupun

yang bersifat khusus. Salah satu tindak pidana yang menarik perhatian ialah

tindak pidana yang bersifat umum, yakni tindak pidana judi. Kemenarikan judi

sebagai tindak pidana umum disebabkan kefamiliaran permainan judi di tengah

masyarakat Indonesia dan tindak pidana umum yang memiliki beberapa ketentuan

peraturan perundang-undangan.

Judi adalah permainan dengan memakai uang sebagai taruhan seperti main

dadu, kartu dan sebagainya. 89 Judi pelarangannya dapat ditemukan dalam Pasal

303 KUHP dan Pasal 303 bis KUHP.

88
Ilhami Bisri, [Link], hal. 40
89
Sudarsono, [Link], hal. 200

Universitas Sumatera Utara


a. Pasal 303 KUHP, berbunyi:

“(1) Dengan hukuman penjara selama-lamanya sepuluh tahun atau denda


sebanyak-banyaknya dua puluh lima juta rupiah dihukum barang siapa
dengan tidak berhak:
1e. Menuntut pencarian dengan jalan sengaja mengadakan atau memberi
kesempatan untuk main judi atau sengaja turut campur dalam
perusahaan main judi
2e. Sengaja mengadakan atau memberi kesempatan untuk main judi
kepada umum atau sengaja turut campur dalam perusahaan untuk
itu, biarpun ada atau tidak ada perjanjiannya atau caranya apa
jugapun untuk memakai kesempatan itu.
3e. Turut man judi sebagai pencaharian
(2) Kalau sitersalah melakukan kejahatan itu didalam jabatannya dapat ia
dipecat dari jabatannya itu.
(3) Yang dikatakan main judi yaitu tiap-tiap permainan yang mendasarkan
pengahrapan buat menang pada umumnya bergantung kepada untung-
untungan saja dan juga kalau pengharapan itu jadi bertambah besar
karena kepintaran dan kebiasaan pemain yang juga terhitung masuk
main judi ialah pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau
permainan lain yang tidak diadakan oleh mereka yang turut berlomba
atau bermain itu, demikian juga segala pertaruhan yang lain”.

Pemahaman terhadap Pasal 303 KUHP merujuk pada pendapat R. Soesilo

ialah

a. Permainan judi disebut dalam bahasa Belanda sebagai hazardspel yang artinya

setiap permainan yang mendasarkan pengharapan buat menang pada

umumnya bergantung pada untung-untungan saja dan juga kalau pengharapan

itu jadi bertambah besar karena kepintaran dan kebiasaan pemain atau yang

dimaksud hazardspel adalah pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau

permainan lain yang tidak diadakan oleh mereka yang turut berlomba atau

bermain dalam segala jenis pertaruhan lain. Jenis-jenis hazardspel, yaitu main

dadu, main selikuran, main jemeh, kodok ulo, roulette, bakarat, kemping

Universitas Sumatera Utara


keles, kocok, keplek, tombola, totalisator pada pacuan kuda, pertandingan

sepak bola dan lain sebagainya sedangkan yang tidak temasuk hazardspel

ialah domino, bridge, ceki, koah, pei, termasuk yang biasa digunakan sebagai

hiburan dan lain sebagainya.

b. Yang dihukum menurut pasal ini ialah

1) Mengadakan atau memberi kesempatan main judi tersebut sebagai mata

pencarian. Misalnya seorang bandar atau orang lain yang sebagai badan

usaha membuka perjudian. Orang yang turut campur dalam hal ini juga

dihukum. Disini tidak perlu perjudian itu ditempat umum atau untuk

umum meskipun ditempat yang tertutup atau kalangan yang tertutup sudah

cukup asal perjudian itu belum mendapat izin dari yang berwajib,

2) Sengaja mengadakan atau memberi kesempatan untuk main judi kepada

umum. Artinya tidak perlu ada anggapan bahwa judi yang dilakukan

sebagai mata pencarian tetapi harus ditempat umum atau yang dapat

dikunjungi umum. Inipun apanila telah ada izin dari yang berwajib tidak

dihukum

3) Turut main judi sebagai mata pencarian

c. Orang yang menyediakan atau mengadakan permainan judi dihukum menurut

pasal ini. 90

90
R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar
Lengkap Pasal Demi Pasal, (Bogor: Politea, 1993), hal. 222

Universitas Sumatera Utara


Bunyi Pasal 303 KUHP mengisyaratkan bahwa judi hanya terkait hal-hal

tertentu dan judi jika merujuk pada pasal ini diperbolehkan dengan syarat harus

ada izin dari pihak yang berwenang.

b. Pasal 303 bis KUHP, berbunyi:

“Degan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun atau denda sebanyak-


banyaknya sepuluh juta rupiah dihukum:
(1) Barang siapa mempergunakan kesempatan main judi yang diadakan
dengan melanggar paeraturan Pasal 303.
(2) Barang siapa turut main judi di jalan umum atau di dekat jalan umum atau
ditempat yang dapat dikunjungi oleh umum kecuali kalau pembesar yang
berkuasa tidak memberi izin untuk mengadakan judi.
(3) Jika pada waktu melakukan pelanggaran itu belum lalu dua tahun sejak
ketetapan putusan hukuman yang dahulu bagi si tersalah lantaran salah
satu pelanggaran ini maka dapat dijatuhkan hukuman penjaran selama-
lamanya enam tahun atau denda sebanyak-banyaknya lima belas juta
rupiah”.

Selaras dengan bunyi Pasal 303 KUHP, Pasal 303 bis KUHP memperbolehkan

judi dengan syarat harus ada izin dari pihak yang berwenang.

Pengaturan perihal judi tidak hanya terbatas pada KUHP saja akan tetapi

terdapat dalam peraturan perundang-undangan lainnya. Kemunculan pengaturan

judi pertama sekali diluar KUHP bertujuan untuk merubah peraturan yang berlaku

pada zaman kolonial dan perubahan terhadap pasal perjudian yang terdapat dalam

KUHP. 91

91
Keberadaan judi sangat tidak cocok untuk Indondesia dimana perjudian pada hakekatnya
bertentangan dengan Agama, Kesusilaan dan Moral Pancasila, serta membahayakan bagi penghidupan
dan kehidupan masyarakat, Bangsa dan Negara, oleh karena itu perlu diadakan usaha-usaha untuk
menertibkan perjudian, membatasinya sampai lingkungan sekecil-kecilnya, untuk akhirnya menuju
kepenghapusannya sama sekali dari seluruh wilayah Indonesia. Konsideran Menimbang Undang-
Undang No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian

Universitas Sumatera Utara


Pemberlakuan pasal perjudian dalam KUHP tidak lantas menghapus

beberapa ketentuan khusus terkait judi yang berlaku pasa masa kolonial maka

dengan keluarnya Undang-Undang No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban

Perjudian ketentuan khusus judi pada masa kolonial juga dihapus. Hal tersebut

sesuai dengan Pasal 4 Undang-Undang No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban,

berbunyi:

“Terhitung mulai berlakunya peraturan Perundang-undangan dalam rangka


penertiban perjudian dimaksud pada Pasal 3 Undang-undang ini, mencabut
Ordonansi tanggal 7 Maret 1912 (Staatsblad Tahun 1912 Nomor 230)
sebagaimana telah beberapa kali dirubah dan ditambah, terakhir dengan
Ordonansi tanggal 31 Oktober 1935 (Staatsblad Tahun 1935 Nomor 526)”.

Keberadaan Undang-Undang No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban

Perjudian tidak hanya menghapus aturan judi yang diatur khusus pada

pemerintahan kolonial belanda akan tetapi juga memberikan perubahan pada

pasal judi yang terdapat dalam KUHP, yakni berupa pemberatan hukuman dan

bunyi pasal didalam KUHP. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 2 Undang-Undang

No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian, berbunyi:

“(1) Merubah ancaman hukuman dalam Pasal 303 ayat (1) Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana, dari Hukuman penjaara selama-lamanya dua tahun delapan
bulan atau denda sebanyak-banyaknya sembilan puluh ribu rupiah menjadi
hukuman penjara selama-lamanya sepuluh tahun atau denda sebanyak-
banyaknya dua puluh lima juta rupiah.
(2) Merubah ancaman hukuman dalam Pasal 542 ayat (1) Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana, dari hukuman kurungan selama-lamanya satu bulan atau
denda sebanyak-banyaknya empat ribu lima ratus rupiah, menjadi hukuman
penjara selama-lamanya empat tahun atau denda sebanyak-banyaknya
sepuluh juta rupiah.
(3) Merubah ancaman hukuman dalam Pasal 542 ayat (2) Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana, dari hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan atau
denda sebanyak-banyaknya tujuh ribu lima ratus rupiah menjadi hukuman

Universitas Sumatera Utara


penjara selama-lamanya enam tahun atau denda sebanyak-banyaknya lima
belas juta rupiah.
(4) Merubah sebutan Pasal 542 menjadi Pasal 303 bis”.

Bunyi pasal 303 dan 303 bis yang dicantumkan dalam KUHP di atas

merupakan hasil dari perubahan dan isinya telah disesuaikan dengan yang

tercantum dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban

Perjudian.

Selanjutnya, sesuai amanat yang tercantum dalam Undang-Undang No. 7

Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian memerlukan peraturan pelaksana maka

ada tanggal 28 Maret 1981 pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 9

Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian. 92 Munculnya Peraturan

Pemerintah No. 9 Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian telah

menjadikan judi memang tidak dapat diizinkan keberadaan atau diperbolehkan

dalam rangka bentuk apapun untuk dilaksanakan. Artinya, pembolehan

pelaksanaan judi tidak boleh diberi izin oleh pejabat yang bewenang dengan

kondisi apapun kecuali telah diatur tersendiri tentang pemberian izin judi dimana

hal tersebut sesuai dengan bunyi pasal-pasal yang tercantum dalam Peraturan

Pemerintah No. 9 Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian, sebagai

berikut:

92
Munculnya Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian
merupakan bentuk penegasan pelarangan judi dimana judi memang benar-benar bertentangan dengan
Agama, Kesusilaan dan Moral Pancasila, serta membahayakan bagi penghidupan dan kehidupan
masyarakat, Bangsa dan Negara, oleh karena itu perlu diadakan usaha-usaha untuk menertibkan
perjudian, membatasinya sampai lingkungan sekecil-kecilnya, untuk akhirnya menuju
kepenghapusannya sama sekali dari seluruh wilayah Indonesia. Bagian Penjelasan Peraturan
Pemerintah No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian

Universitas Sumatera Utara


a. Pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan

Penertiban Perjudian, berbunyi:

“(1) Pemberian izin penyelenggaraan segala bentuk dan jenis perjudian


dilarang, baik perjudian yang diselenggarakan di kasino, di tempat
tempat keramaian, maupun yang dikaitkan dengan alasan-alasan lain.
(2) lzin penyelenggaraan perjudian yang sudah diberikan, dinyatakan dicabut
dan tidak berlaku lagi sejak tanggal 31 Maret 1981”.

b. Pasal 3 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan

Penertiban Perjudian, berbunyi:

“Hal-hal yang berhubungan dengan larangan pemberian izin penyelenggaraan

perjudian yang belum diatur di dalam Peraturan Pemerintah ini akan diatur

tersendiri”.

Kegiatan perjudian yang dilarang dalam Peraturan Pemerintah No. 9

Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian, yaitu:

a. Perjudian di Kasino, antara lain terdiri dari:

1) Roulette;

2) Blackjack;

3) Baccarat;

4) Creps;

5) Keno;

6) Tombola;

7) Super Ping-pong;

8) Lotto Fair;

9) Satan;

Universitas Sumatera Utara


10) Paykyu;

11) Slot machine (Jackpot);

12) Ji Si Kie;

13) Big Six Wheel;

14) Chuc a Luck;

15) Lempar paser/bulu ayam pada sasaran atau papan yang berputar

(Paseran);

16) Pachinko;

17) Poker;

18) Twenty One;

19) Hwa-Hwe;

20) Kiu-kiu.

b. Perjudian di tempat-tempat keramaian, antara lain terdiri dari perjudian dengan:

1) Lempar paser atau bulu ayam pada papan atau sasaran yang tidak bergerak;

2) Lempar Gelang;

3) Lempar Uang (Koin);

4) Kim;

5) Pancingan;

6) Menembak sasaran yang tidak berputar;

7) Lempar bola;

8) Adu ayam;

9) Adu sapi;

Universitas Sumatera Utara


10) Adu kerbau;

11) Adu domba/kambing;

12) Pacu kuda;

13) Karapan sapi;

14) Pacu anjing;

15) Hailai;

16) Mayong/Macak;

17) Erek-erek.

c. Perjudian yang dikaitkan dengan alasan-alasan lain, antara lain perjudian yang

dikaitkan dengan kebiasaan:

1) Adu ayam;

2) Adu sapi;

3) Adu kerbau;

4) Pacu kuda;

5) Karapan sapi;

6) Adu domba/kambing. 93

Perkembangan zaman menuju elektronik kesetiap sisi kehidupan manusia

menyebabkan terbuka juga peluang tindak pidana melalui elektronik termasuk

judi. Untuk mengantisipasi judi melalui teknologi informasi maka dikeluarkan

93
Penjelasan Pasal 1 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan
Penertiban Perjudian

Universitas Sumatera Utara


pengaturan, yakni Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang

Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi :

”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau

mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik

dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan perjudian”.

dan dalam penjelasan yang tertuang pada Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No.

19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

“Cukup jelas”.

Ancaman pidana untuk pelaku judi online ialah paling lama 6 (enam)

tahun penjara dan denda maksimal Rp. [Link],00 (satu miliar rupiah). Hal

tersebut sesuai dengan Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang No. 19 Tahun 2016

Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi

dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

“Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6
(enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah)”.

Universitas Sumatera Utara


3. Pembuktian Judi Online Dikaitkan Dengan Undang-Undang No. 19 Tahun
2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008
Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik

Indonesia yang telah memasuki dunia internet sama dengan telah

memasuki era teknologi dan informasi. Sebagai negara berkembang, Indonesia

yang memiliki masyarakat majemuk telah terpengaruh dengan perkembangan

informasi dan teknologi yang sangat pesat sehingga menjadikan warga negara

Indonesia menjadi masyarakat informasi, dengan perkembangan teknologi maka

tercipta perangkat-perangkat informatika yang semakin canggih dan jaringan

sistem informasi yang semakin rumit atau canggih pula, yang berdampak pada

dapat dipenuhinya keinginan seluruh lapisan masyarakat.

Pengaruh perkembangan teknologi dan informasi mendapat reaksi dari

hukum. Reaksi hukum atas perkembangan teknologi dan informasi di dunia ini

dapat dibagi menjadi 3 (tiga) klasifikasi, yaitu: 94

1. Perkembangan hukum dalam ranah fungsi teknologi yang menyangkut hukum


paten dan hukum hak cipta;
2. Perkembangan hukum dalam ranah kapasitas informasi yang menyangkut
prinsip-prinsip fundamental yang berhubungan dengan penyalahgunaan
informasi pribadi atau privacy, akses informasi, keamanan dan kedaulatan
nasional;
3. Perkembangan hukum atas ranah pengaruh teknologi informasi yang
menyangkut perluasan hukum untuk mencakup situasi baru dari pengaruh
teknologi, misalnya kerahasiaan dan keamanan informasi, penyebaran
informasi serta akses informasi, properti, isu-isu etis, perluasan lingkup
hukum pidana (penipuan, penyalahgunaan informasi dan perjudian).

94
Ririn Sjafriani, Anggara dan Supriyadi W.E., Kontroversi Undang-Undang ITE:
Menggugat Pencemaran Nama Baik Di Ranah Maya, (Jakarta: Degraf Publishing, 2010) hal. 27

Universitas Sumatera Utara


Perkembangan teknologi infomasi telah menyentuh banyak sisi kehidupan

manusia. Salah satu aspek yang disentuh oleh teknologi informasi ialah hukum.

Hukum keberadaan dalam wujud peraturan perundang-undangan harus mengatur

tentang teknologi informasi. Teknologi informasi yang disentuh oleh hukum salah

satunya ialah persoalan cybercrime (tindak pidana teknologi informasi).

Cybercrime merupakan salah satu bentuk atau dimensi baru dari kejahatan masa

kini yang mendapat perhatian luas dunia internasional. 95 Bentuk kerugian atau

kerusakan yang ditimbulkan oleh cybercrime lebih besar dari kejahatan

konvensional. Hal tersebut senada dengan pendapat M. Yahya Harahap yang

mengutip pendapat Edwin W. Tucher W. Hengkel, sebagai berikut: 96

“Kejahatan dari perbuatan orang atau kelompok orang dalam melaksanakan

pembobolan bank dalam bentuk tindakan tanpa kekerasan (non-violent criminal

offense) dengan mempergunakan teknologi elektronik jauh lebih besar, seratus

kali dari pencurian, pembongkaran atau perampokan biasa”.

Berbahanya cybercrime seperti yang telah diuraikan di atas sangat menjadi

perhatian luas sampai pada tahap internasional. Hal itu terbukti dengan telah

dilakukannya Kongres ke VII Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun 1990 Tentang

95
Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum Dan Kebijakan Penanggulangan
Kejahatan, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2001), hal. 243-244
96
M. Yahya Harahap, Beberapa Tinjauan Tentang Permasalahan Hukum Buku Kedua,
(Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1997), hal. 65

Universitas Sumatera Utara


Computer Related Crime yang telah mengajukan beberapa kebijakan, sebagai

berikut: 97

a. Menghimbau negara anggota untuk mengintensifkan upaya-upaya


penanggulangan penyalahgunaan komputer yang lebih efektif dengan cara
melakukan modernisasi hukum pidana materiil dan hukum acara pidana,
mengembangkan tindakan-tindakan pencegahan dan pengamanan komputer,
melakukan langkah-langkah untuk membuat peka warga masyarakat, aparat
pengadilan dan penegak hukum lainnya terhadap pentingnya pencegahan
kejahatan yang berhubungan dengan cybercrime.
b. Menghimbau negara anggota meningkatkan kegiatan internasional dalam upaya
penanggulangan cybercrime.
c. Merekomendasikan kepada Komite Pengendali Dan Pencegahan Kejahaan
(Committee on Crime Prevention an Control) Perserikatan Bangsa-Bangsa
untuk menyebarluaskan pedoman dan standar untuk membantu negara
anggota dalam menghadapi cybercrime ditingkat nasional, regional dan
internasional. Disamping itu negara anggoa dapat mengembangkan penelitian
dan analisa lebih lanjut guna menemukan cara-cara baru meghadapi problem
cybercrime dimasa yang akan datang dan diharapkan juga mempertimbangkan
cybercrime sewaktu meninjau pengimplementasian perjanjian ekstradisi dan
bantuan kerjasama di bidang penangulangan kejahatan cybercrime tersebut.

Perlindungan terhadap cybercrime di Indonesia melalui instrumen

peraturan perundang-undangan, yakni Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun

2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang

Informasi Dan Transaksi Elektronik. Didalam peraturan perundang-undangan

tersebut terdapat 14 (empat belas) jenis tindak pidana teknologi informasi (telah

diuraikan pada sub bab di atas) dan sebagai besar diatur dalam bentuk

konvensional pada KUHP. Salah satu cybercrime yang cukup menarik ialah judi

online (bagi sebagian orang judi merupakan hiburan namun permainan judi baik

97
Ermansjah Djaja, [Link], hal. 34-35

Universitas Sumatera Utara


konvensional maupun online dilarang di Indonesia karena tidak sesuai dengan

Pancasila dan dapat menyebabkan kerugian yang besar bagi pemain secara

khusus).

Judi online atau judi melalui internet merupakan industri yang

berkembang pesat sejak kelahirannya. Hal dibuktikan dengan keuntungan yang

diperkirakan oleh pengamat bisa mencapai nilai $ 10 miliar. 98 Pengaturan

pelarangan judi online termuat dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No. 11

Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi :

”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau

mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik

dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan perjudian”.

Tindak pidana judi online yamh diatur dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-

Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik tentu

sesuai dengan tindak pidana pada umumnya memiliki unsur subjektif dan unsur

objektif serta subjek tindak pidana.

Unsur subjektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau

yang berhubungan dengan diri si pelaku, dan termasuk ke dalamnya yaitu segala

sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Sedangkan unsur objektif adalah

98
Budi Suhariyanto, [Link], hal. 113

Universitas Sumatera Utara


unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu di dalam

keadaan-keadaan mana tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus di lakukan. 99

Unsur-unsur subjektif dari suatu tindak pidana, yaitu: 100

a. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau Culpa).


b. Maksud atau Voornemen pada suatu percobaan atau pogging seperti yang
dimaksud dalam Pasal 53 ayat 1 KUHP.
c. Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat misalnya di
dalam kejahatan-kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan dan
lain-lain.
d. Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachte raad seperti yang terdapat
di dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP.
e. Perasaan takut yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana
menurut Pasal 308.

Unsur-unsur objektif dari sutau tindak pidana, yaitu : 101

a. Sifat melanggar hukum atau wederrechtelicjkheid.


b. Kualitas dari si pelaku, misalnya keadaan sebagai seorang pegawai negeri di
dalam kejahatan jabatan menurut Pasal 415 KUHP atau keadaan sebagai
pengurus atau komisaris dari suatu Perseroan Terbatas di dalam kejahatan
menurut Pasal 398 KUHP.
c. Kausalitas yakni hubungan antara suatu tindak pidana sebagai penyebab
dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.

Sesuai dengan uraian di atas maka unsur subjektif dari Pasal 27 ayat (2)

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik

ialah pada kalimat ”dengan sengaja” dan ”tanpa hak” sedangkan unsur objektif

atau kelakuan terdapat dalam kalimat ”mendistribusikan dan/atau

mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik

dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan perjudian”. Pemaknaan

99
P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana, (Bandung: [Link] Aditya Bakti, 1997),
hal. 193
100
Ibid
101
Ibid, hal. 194

Universitas Sumatera Utara


terhadap kata mendistribusikan, mentransmisikan dan membuat dapat diaksesnya

merujuk pada penjelasan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang No. 19 Tahun 2016

Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi

Dan Transaksi Elektronik karena pada hakikatnya proses pelanggaran atau

kejahatan cybercrime seluruh unsur objektifnya sama, yakni mendistribusikan,

mentransmisikan dan membuat dapat diaksesnya sehingga yang dimaksud dengan

“mendistribusikan” adalah mengirimkan dan/atau menyebarkan Informasi

Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik kepada banyak Orang atau berbagai

pihak melalui Sistem Elektronik, yang dimaksud dengan “mentransmisikan”

adalah mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Eletronik yang

ditujukan kepada satu pihak lain melalui Sistem Elektronik dan yang dimaksud

dengan “membuat dapat diakses” adalah semua perbuatan lain selain

mendistribusikan dan mentransmisikan melalui Sistem Elektronik yang

menyebabkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dapat diketahui

pihak lain atau publik.

Subjek tindak pidana pada Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No. 11

Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik terdapat dalam kalimat

”setiap orang”. Kalimat ”setiap orang” menunjukkan arti yang mengarah kepada

subjek hukum sehingga subjek tindak pidana judi dapat berupa manusia atau

badan hukum. 102

102
Manusia (natuurlijke persoon) adalah makhluk yang berakal budi yang pada hakikatnya
mampu menguasai makhluk lain dan Badan hukum (rechtspersoon) adalah badan atau organisasi yang

Universitas Sumatera Utara


Judi online memeiliki beraneka ragam jenis, yaitu judi bola, domino,

poker, togel dan lain sebagainya. Namun, diantara beraneka ragamnya judi online

tersebut terdapat kesamaan diantara kesemuanya, yakni pendaftaran untuk

bermain judi harus menggunakan akun yang formatnya telah disediakan oleh

website penyedian layanan judi online. Website penyedia layanan judi online

antara lain :

a. [Link],

b. [Link],

c. [Link],

d. [Link],

e. [Link],

f. dan lain sebagainya

Pemain atau pelaku judi online jika tidak dapat mendaftar pada situs

utama judi online dapat mendaftar pada situs alternatif, misalnya: situs

[Link] memiliki situs alternatif, sebagai berikut:

a. [Link],

b. [Link],

c. [Link],

d. [Link],

oleh hukum diperlakukan sebagai orang. Subjek hukum pidana ialah sama dengan subjek hukum pada
umumnya. C.S.T Kansil, Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,
1986), hal. 117-119 dan Roni Wijayanto, Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: CV. Mandar
Madju, 2012), hal. 160

Universitas Sumatera Utara


e. [Link].

Prosedur untuk pendaftaran judi online telah disinggung sedikit di atas.

Selanjutnya, setelah registrasi secara online dan mentransfer sejumlah dana

sebagai deposit (sesuai yang ditentukan masing-masing situs). Kegunaan

mentransfer sejumlah uang ialah untuk mengaktifkan akun yang telah didaftarkan.

Permainan judi online jika memenangkan judinya maka dapat menarik sejumlah

uang yang dimenangkan (withdraw) dengan mengkonfirmasi nama dan nomor

rekening tempat uang kemenangan akan ditranfer oleh penyedia layanan situs judi

online (bertindak sebagai bandar judi online).

Merujuk pada Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik maka pihak-pihak yang terlibat

dalam judi online yang dapat dikenakan pasal tersebut, yaitu:

a. Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan yang memiliki

muatan judi, dimana sesorang itu mengirimkan dan/atau menyebarkan

Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik kepada banyak Orang

atau berbagai pihak melalui Sistem Elektronik yang terkadung elemen-elemen

judi didalamnya atau orang yang menjadikan usaha menawarkan atau

memberikan kesempatan sebagai mata pencarian atau yang turut serta dalam

perusahaan judi. Artinya penawaran dan pemberian kesempatan tersebut dapat

ditujukan untuk orang per orang atau untuk publik. Kategori ini misalnya

ditujukan terhadap pemilik website yang menyelenggarakan perjudian atau

ditujukan terhadap orang yang bekerja pada bagian marketing perjudian yang

Universitas Sumatera Utara


mengirimkan email spam atau melalui short massege system (sms) yang berisi

muatan judi. Selain itu, mendistribusikan muatan perjudian dapat berupa

menginstal aplikasi perjudian dalam komputer-komputer di suatu warnet. 103

b. Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mentransmisikan yang memiliki

muatan judi, dimana seseorang itu mengirimkan Informasi Elektronik

dan/atau Dokumen Eletronik yang ditujukan kepada satu pihak lain melalui

Sistem Elektronik yang memuat unsur judi atau seseorang telah menggunakan

kesempatan bermain judi online telah digunakan (menyatakan niatnya untuk

bermain judi melalui tindakan secara nyata dimana tindakan tidak dapat

ditarik kembali). Misalnya: kesempatan untuk bermain judi dikatakan telah

digunakan dalam hal pemain telah menyatakan persetujuan atas taruhan

permainan judi dimana tindakan persetujuan ini dapat mengklik pilihan “yes”

atau “accept”. Dengan mengklik pilihan tersebut secara otomatis pemain tidak

dapat merubah pilihannya lagi. 104

c. Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak dapat diaksesnya yang memiliki

muatan judi, dimana seseorang melakukan semua perbuatan lain selain

mendistribusikan dan mentransmisikan melalui Sistem Elektronik yang

menyebabkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dapat

diketahui pihak lain atau publik atau tindakan memberikan kode akses kepada

pemain sehingga ia dapat bermain judi bisa dikategorikan sebagai “dapat

103
Josua Sitompul, Cyberspace, Cybercrime, Cyberlaw Tinjauan Aspek hukum Pidana,
(Jakarta: PT. Tatanusa, 2012), hal. 167
104
Ibid, hal. 168-169

Universitas Sumatera Utara


diaksesnya” baik secara langsung maupun tdak langsung. Dalam kondisi

situsional dapat dilihat yang dimaksud dapat diaksesnya, yaitu: 105

1) Pemain harus bermain diwarnet yang dikelola oleh pelaku karena hanya di
dalam komputer yang berada di warnet tersebut, program permain judi
telah diinstal,
2) Pemain harus memiliki kartu yang berisi poin yang dapat dibeli melalui
pelaku atau para pemain dapat bermain judi dengan menempelkan kartu
pada card reader sehingga dapat mengakifkan permainan judi,
3) Apabila pemain tersebut kalah maka poinnya akan berkurang dan apabila
menang maka poinnya akan bertambah sehingga pemain dapat
menukarkan poin yang didapat dengan uang ditempat judi game internet
yang dikelola oleh tersangka tersebut atau ditempat lain.

Merujuk pada pengkateorian tindak pidana judi online di atas maka

pengelola website, pengelola warung internet yang membolehkan akses situs judi

online, bandar judi online dan pemai judi online dapat dikenakan Pasal 27 ayat (2)

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik

sebagai bentuk kejahatan khusus yang tercantum dalam undang-undang khusus

pula. Namun, penerapan yang terjadi sebaliknya dalam sebuah putusan ditemukan

kasus judi online, yakni pemainya didakwa dan dituntut dengan menggunakan

Pasal 303 ayat (1) KUHP dan Pasal 303 bis KUHP yang tercantum pada Putusan

Pengadilan Negeri Sibolga No. 141/Pid.B/2014/PN Sbg.

Terpidana dalam putusan tersebut dituntut Pasal 303 KUHP dan Pasal 303

bis KUHP disebabkan karena kronologi dan alat bukti sesuai dengan KUHAP,

sebagai berikut:

105
Ibid, hal. 170

Universitas Sumatera Utara


a. Kronologi Terpidana dituntut Pasal 303 KUHP dan Pasal 303 bis KUHP yang

tercantum pada Putusan Pengadilan Negeri Sibolga No. 141/Pid.B/2014/PN

Sbg

Awalnya terpidana menerima nomor pasangan dari peminat baik yang

datang secara langsung maupun pemasang yang melalui SMS kemudian

setelah terpidana menerima nomor pasangan lalu terpidana langsung

memasukkan uang ke nomor Rekening Bank BRI milik terpidana dan setelah

itu terpidana baru menuju mesin ATM BRI milik terdakwa dan setelah itu

terdakwa mentransfer uang pasangan tersebut ken Nomor Bank Mandiri milik

Wily Wijaya dan setelah terdakwa mentransfer uang pasangan tersebut

kemudian terdakwa membuka internet baik melalui HP nokia type E5 milik

terpidana maupun menyewa internet dan membuka situs [Link]

dimana terpidana sudah terdaftar sebagai pelanggan dengan nomor ID

dontotulai pasword 1981 deni2 dan setelah koneksi terhubung terpidana baru

mendepositokan uang sesuai dengan yang terdakwa transfer dan setelah uang

masuk kedalam deposit baru terpidana bisa melakukan pemasangan nomor

pasangan togel pelanggan secara online dan secara otomatis saldo milik

terpidana tersebut berkurang sesuai dengan banyaknya jumlah nomor dan

nominal yang terpidana pasang, bagi pembeli atau pemasang nomor dikatakan

menang apabila nomor pasangannya cocok atau sama dengan nomor yang

keluar dan mendapat hadiah sesuai dengan jumlah pasangannya, untuk

pasangan 2 (dua) angka dengan pembelian Rp.1000,- (seribu rupiah)

Universitas Sumatera Utara


mendapat hadiah sebesar Rp.70.000,- (tujuh puluh ribu rupiah), untuk

pasangan 3 (tiga) angka dengan pembelian Rp.1000,- (seribu rupiah)

mendapat hadiah sebesar Rp.400.000,- (empat ratus ribu rupiah) dan untuk

pasangan 4 (empat) angka dengan pembelian Rp.1000,- (seribu rupiah) akan

mendapat hadiah sebesar Rp.2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah),

sedangkan pembeli atau pemasang yang kalah adalah yang nomor

pasangannya tidak cocok atau tidak sama dengan nomor yang keluar dan uang

pasangannya menjadi milik Bandar, dan permainan judi jenis Togel yang

dimainkan terdakwa bersifat untung-untungan dan tidak ada izin dari pihak

yang berwenang.

b. Alat bukti dalam Putusan Pengadilan Negeri Sibolga No. 141/Pid.B/2014/PN

Sbg, sebagai berikut:

1) Keterangan saksi,

2) Keterangan terdakwa,

3) Barang bukti, terdiri dari:

(a) 1 (satu) unit handphone Nokia type E5 warna hitam;

(b) 1 (satu) unit handphone Nokia type N1280 warna hitam;

(c) 1 (satu) lembar slip setoran Bank BRI an. Deni Suhari Piliang;

(d) 1 (satu) lembar ATM BRI No.5221 8410 3711 3940;

(e) Uang tunai sebesar Rp.28.000,- (dua puluh delapan ribu rupiah);

Terpidana dihukum dengan Pasal Pasal 303 ayat (1) KUHP dengan pidana

penjara selama 2 (dua) bulan dan 20 (dua puluh) hari. Jika dilihat pada fakta

Universitas Sumatera Utara


persidangan (dalam putusan Putusan Pengadilan Negeri Sibolga No.

141/Pid.B/2014/PN Sbg) terungkap bahwa cara permainan judi togel yang

dimainkan Terdakwa ialah Terdakwa menerima nomor/angka pasangan

pelanggan baik yang datang langsung maupun melalui SMS dari

pelanggan/pemasang, setelah menerima angka tersebut, Terdakwa memasangkan

tebakan angka-angka pasangan dari pemasang ke situs [Link]. Kemudian

dari situs tersebut keluar angka yang muncul, jika sama maka dia mendapat

hadiah uangnya. Pemasang memberikan uang kepada Terdakwa dan kemudian

melalui nomor rekening Bank BRI milik Terdakwa, Terdakwa mentransfer uang

pasangan tersebut ke nomor rekening Bank Mandiri atas nama Wily Wijaya yang

tertera disitus tersebut.

Terkait fakta persidangan di atas seharusnya penyidik maupun penuntut

umum dapat mengenakan Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik bukan pasal yang tercantum dalam

KUHP. Hal itu disebabkan karena terdapat unsur mendistribusikan, yakni

“Terdakwa menerima nomor/angka pasangan pelanggan baik yang datang

langsung maupun melalui SMS dari pelanggan/pemasang, setelah menerima

angka tersebut, Terdakwa memasangkan tebakan angka-angka pasangan dari

pemasang ke situs [Link]”. Perlu dipahami bahwa unsur

mendistribusikan, mentransmisikan dan dapat diakses bersifat relatif bukan

kumulatif. Artinya, terpenuhi saja salah satu unsur maka dapat dikenakan Pasal

Universitas Sumatera Utara


27 ayat (2) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan

Transaksi Elektronik.

Konsekuensi dengan adanya Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang

Informasi Dan Transaksi Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016

Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi

Dan Transaksi Elektronik setiap ada tindak pidana yang berkaitan dengan

teknologi informasi harus diperiksa dengan baik dan benar penggunaan teknologi

informasi dalam sebuah tindak pidana. Tindak pidana judi online dalam proses

pembuktiannya harus melibatkan alat bukti elektronik yang mana jika mengacu

pada Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi

Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 ialah dokumen elektronik dan informasi

elektronik.

Penemuan barang bukti seperti dalam Putusan Pengadilan Negeri Sibolga

No. 141/Pid.B/2014/PN Sbg sebenarnya sudah dapat melakukan pelacakan

terhadap judi online (kumputer atau laptop yang tersambung ke jaringan internet)

yang dilakukan terpidana karena mampu tersampung ke jaringan internet. Proses

judi online sebagaimana telah diuraikan di atas maka untuk dapat bermain judi

pelaku harus mentransfer sejumlah uang yang kemudian dikonversi menjadi chip,

dan penyidik dapat menemukan bukti transfer dari terdakwa kepada rekening

yang digunakan untuk bermain judi. Seharusnya, penyidik melakukan penyidikan

terhadap hasil imaging server pengelola judi yang mana dapat membuktikan

Universitas Sumatera Utara


adanya bukti transfer dari terdakwa dan ada bukti hasil konversi nilai uang

menjadi chip judi milik pelaku judi online, maka petunjuk tersebut dapat

dijadikan alat bukti, demikian pula hasil imaging-nya. Jika penyidik benar

menyita komputer atau handphone milik pelaku judi online dari penyidikan

tersebut ditemukan fakta-fakta bahwa: 106

a. Telah mengakses website perjudian sebagaimana dibuktikan dari hasil imaging


komputer/handphone;
b. Terdakwa telah mengunduh dan meng-install aplikasi permainan judi
sebagaimana dibuktikan dari hasil imaging laptop pelaku;
c. Terdakwa telah melakukan transaksi berupa transfer sejumlah uang
sebagaimana dibuktikan dari bukti transfer dan pengelola telah memproses
uang yang ditransfer pelaku dengan mengkonversinya dengan chip judi
sebagaimana dibuktikan dengan hasil imaging server pengelola judi.

Imaging server ini akan mampu membuktikan terjadinya proses judi

online. Selanjutnya, maka dokumen elektronik atau informasi elektronik telah

ditemukan dan alat bukti pertama (utama dalam cybercrime) pada judi online

sudah terpenuhi. Untuk memenuhi syarat agar tindak pidana judi online dapat

diproses dipersidangan maka alat bukti yang dapat digunakan untuk cybercrime

sesuai dengan Pasal 184 ayat (1) KUHAP dimana dikenal dengan 5 (lima) buah

alat bukti, yaitu:

a. Keterangan saksi,
b. Keterangan ahli,
c. Surat,
d. Petunjuk,
e. Keterangan terdaakwa.

106
Putri Ayu Trinawati [Link], ”Kekuatan Pembuktian Transaksi Elektronik Dalam Tindak
Pidana Perjudian Online Dari Perspektif Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan
Transaksi Elektronik (Putusan No. 140/Pid.B/2013/PN-TB)”, Dalam Jurnal Ilmu Hukum Universitas
Jember 2015, I (1), (Jember: Fakultas Hukum Universitas Jember), hal. 8

Universitas Sumatera Utara


Hal tersebut sesuai dengan Pasal 44 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, berbunyi:

”Alat bukti penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan


menurut ketentuan Undang-Undang ini adalah sebagai berikut:
a. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam ketentuanPerundang-undangan; dan
b. alat bukti lain berupa Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1angka 1 dan angka 4 serta Pasal 5 ayat
(1), ayat (2), dan ayat (3)”.

Konsep pembuktian dalam hukum acara pidana tetap mengacu pada

KUHAP kecuali undang-undang menentukan berbeda. Cybercrime secara khusus

judi online proses pemeriksaan persidangan juga menggunakan KUHAP. Oleh

karena itu maka untuk pembuktian juga menganut minimal 2 (dua) alat bukti. Hal

tersebut sesuai dengan Pasal 183 KUHAP, berbunyi:

“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan

sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah, ia memperoleh keyakinan bahwa

suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah

melakukannya”.

Merujuk pada Pasal 183 KUHAP maka sistem pembuktian pidana

Indonesia ialah negatief wettelijk dimana mendasarkan diri pada alat bukti yang

telah sah menurut undanh-undang dan keyakinan hakim. Artinya, jika diakitkan

dengan pembuktian judi online maka keberadaannya harus menggunakan alat

bukti yang dianggap sah menurut undang-undang, yakni alat bukti elektronik dan

yang tercantum pada Pasal 184 KUHAP. Terkait dengan penilaian terhadap alat

bukti merupakan kewenangan hakim karena hukum acara pidana menurut juga

Universitas Sumatera Utara


pada keyakinan hakim pada sisi pembuktian. Hakim yang menentukan nilai dan

kesesuaian antara alat bukti yang diajukan. Keadaan ini membawa arah kepada

tidak ada alat bukti yang paling tinggi nilainya dalam pembuktian di pidana.

Namun, untuk judi online harus memang menemukan alat bukti elektronik baik

dokumen elektronik maupun informasi elektronik sebagai alat bukti ditambah

dengan alat bukti lainnya.

Alat bukti elektronik dapat digunakan sebagai alat bukti untuk pembuktian

tindak pidana judi online sesuai dengan Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang No. 11

Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik sehingga persyaratan

terhadap dapat dipakai untuk pembuktian tindak pidana judi online terpenuhi.

Terkait dengan keyakinan hakim merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan

tersembunyi secara subjektif serta sulit mengujinya dengan cara dan ukuran

objektif 107 dimana menjadi salah satu penentu alat bukti elektronik dapat diyakini

kebenarannya (ditambah alat bukti elektronik dapat dengan mudah dipalsukan

atau disabotase) maka dapat dibentuk mindset agar hakim bisa menerima alat

bukti elektronik dan memeriksanya (untuk penilaian alat bukti memiliki

keterkaitan tergantung penilaian hakim yang terpenting ialah untuk dokumen

elektroni terjamin keasliannya) dengan melengkapi beberapa tahapan (metode

digital forensik), yaitu: 108

107
M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP: Pemeriksaan
Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, Dan Peninjauan Kembali, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), hal.
281
108
Josua Sitompul, [Link], hal. 291-295

Universitas Sumatera Utara


a. Pengambilan (acquisition)
Mengingat sifatnya yang dapat diubah, dirusah atau dihilangkan apabila tidak
ditangani dengan tepat pengembalian informasi atau dokumen elektronik
harus dilakukan dengan menjaga dan melindungi keutuhan atau dilakukan
dengan menjaga dan melindungi keutuhan atau menjaga integritasnya. Tahap
ini dimaksudkan untuk mengambil dan mengamankan alat bukti elektronik
asli (original). Cara atau prosedur pengambilan alat bukti elektronik yang
original dapat didasarkan pada kondisi awal ditemukannya alat bukti
elektronik atau perangkat yang menyimpan alat bukti tersebut.
b. Pemeriksaan dan analisa
Pemeriksaan terhadap alat bukti elektronik original umumnya menggunakan
perangkat keras dan lunak yang khusus dibuat untuk kepentingan digital
forensik. Pada tahap ini, pemeriksa juga melakukan ekstraksi dengan
menggunakan write blocker, yaitu alat yang digunakan untuk penulisan
terhadap data original. Nilai dari hasil ekstraksi apabila diperlukan
pemeriksaan ulang oleh pemeriksa yang berbeda akan memiliki nilai yang
sama. Setelah alat bukti original diperoleh maka harus dibuat salinan dari alat
bukti yang original. Selanjutnya pemeriksaan salinan dari alat bukti elektronik
original.
c. Dokumentasi dan presentasi
Setiap tindakanyang dilakukan dalam pengumpulan dan pemeriksaan alat
bukti elektronik harus didokumentasikan secara akurat dan menyeluruh. Tidak
hanya tindakan dalam melakukan digital forensik tetapi juga tindakan yang
terkait dengannya. Laporan dengan memuat proses dan tahapan yang
dilakukan dalam pemeriksaan termasuk alat dan perangkat yang digunakan.
Selain itu, laporan juga perlu memuat informasi mengenai keseluruhan data
yang diperoleh serta data yang relevan dengan tindak pidana.

Keberadaan hasil digital forensik yang disebut hasil ekstraksi akan

bernilai sama dengan hasil pemeriksaan ulang oleh aparat penegak hukum lainnya

kecuali apabila yang dilakukan pemeriksaan alat bukti elektronik bukan yang

temukan atau diajukan bukti oleh kepolisian sebagai gerbang penyidikan awal. 109

Dengan demikian dalam judi online sudah seharusnya barang-barang bukti seperti

website maupun database para pemain dijadikan barang bukti dalam tindak

pidana perjudian ini. Dalam kasus ini, dengan melihat barang-barang bukti yang
109
Ibid, hal. 293

Universitas Sumatera Utara


dihadirkan dalam persidangan, keyakinan hakim atas persesuaian antara barang

bukti dan alat bukti adalah suatu hal yang menjadi kunci untuk memutus perkara

tindak pidana perjudian melalui internet tersebut. 110

110
Putri Ayu Trinawati [Link], [Link]

Universitas Sumatera Utara


BAB III

HAMBATAN DALAM PEMBUKTIAN JUDI ONLINE YANG DIKAITKAN


DENGAN UNDANG-UNDANG NO. 19 TAHUN 2016 TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO. 11 TAHUN 2008 TENTANG
INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

A. Hambatan Dalam Pembuktian Judi Online Yang Dikaitkan Dengan Undang-


Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.
11 Tahun 2008

Praktek dikenal dan berkembang apa yang dinamakan bukti elektronik. Hal ini

diakibatkan pesatnya perkembangan teknologi informasi terutama melalui internet

sehingga telah mengubah aktifitas-aktifitas kehidupan yang semula dilakukan secara

kontak fisik kini cukup mengunakan cyberspace (dunia maya) yang berujung jika

terjadi sengketa maka alat bukti yang digunakan adalah bukti elektronik. Salah satu

bukti elektronik ialah informasi elektronik dan dokumen elektronik. Pengaturan

informasi elektronik dan dokumen elektronik terdapat pada Undang-Undang No. 11

Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik serta Peraturan Pemerintah

No. 82 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Sistem Dan Transaksi Elektronik.

Sebelum keluarnya undang-undang tersebut pengaturan yang mengarah kepada

penggunaan dan pengakuan dokumen elektronik sebagai alat bukti sudah ada, yaitu

: 111

111
Ahmad M. Ramli, Menuju Kepastian Hukum Dibidang : Informasi dan Transaksi Elektronik,
(Jakarta: Departemen Komunikasi Dan Informasi, 2007), hal. 46

84

Universitas Sumatera Utara


1. Dikenalnya online trading dalam kegiatan bursa efek;

2. Pengaturan mikrofilm sebagai media penyimpanan dokumen perusahaan yang

telah diberi kedudukan sebagai alat bukti tertulis otentik dalam Undang-Undang

No. 8 Tahun 1997 Tentang Dokumen Perusahaan.

Sebagai alat bukti, informasi elektronik dan dokumen elektronik dapat

dipercaya menjadi alat bukti jika dilakukan dengan beberapa syarat, yaitu : 112

1. Menggunakan peralatan komputer untuk menyimpan dan memproduksi print-out;


2. Proses data seperti pada umumnya denga memasukkan inisial dalam sistem
pengelolaan arsip yang dikomputerisasikan;
3. Menguji data dalam waktu yang tepat, setelah data dituliskan oleh seseorang yang
mengetahui peristiwa hukumnya.

Syarat-syarat lain yang harus dipenuhi, yaitu: 113

1. Mengkaji informasi yang diterma untuk menjamin keakuratan data yang


dimasukkan;
2. Metode penyimpanan dan tindakan pengambilan data untuk mencegah hilangnya
data waktu disimpan;
3. Penggunaan program komputer yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan untuk
memproses data;
4. Mengukur uji pengambilan keakuratan program;
5. Waktu dan persiapan model print-out komputer.

Syarat-syarat diatas, tidak hanya berlaku bagi dokumen elektronik maupun

informasi elektronik akan tetapi juga berlaku untuk alat bukti elektronik lainnya.

Contoh alat bukti elektronik lainnya ialah tanda tangan digital (digital signature), e-

contract, teleconference, dan lain sebagainya.

Munculnya Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan

Transaksi Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan

112
Ibid, hal. 43
113
Ibid

Universitas Sumatera Utara


Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 merupakan upaya Indonesia untuk

memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat Indonesia. Cybercrime begitu

menjamur di seluruh dunia termasuk Indonesia. salah satunya ialah judi baik judi

konvensional maupun judi online. Judi online merupakan kejahatan yang cukup

mudah dilakukan dan cukup sulit untuk diberantas di Indonesia sama dengan judi

konvensional.

Judi online cukup mudah atau memberi kemudahan bagi para pemainnya

untuk melakukan kegiatan tersebut. Para penjudi dapat melakukan kegiatan judi

online-nya dengan melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit (tidak hanya

sebatas menggunakan rekening tabungan). 114 Akibatnya, para pelaku judi

konvensional tidak menutup kemungkinan beralih juga ke judi online atau dapat

menarik pemain baru dengan bentuk kemudahan yang diberikan situs judi online

tersebut. Artinya, rata-rata pemain judi menginginkan kemudahan dalam memperoleh

uang dan menanganggap permainan judi tidak terlalu beresiko dibandingkan dengan

melakukan tindak pidana lain.

Alat bukti dalam sistem pembuktian di Indonesia terbagi atas beberapa

kategori, yaitu : 115

1. Oral Evidence, terdiri dari :


a. Perdata (keterangan saksi, pengakuan dan sumpah);
b. Pidana (keterangan saksi, keterangan ahli dan keterangan terdakwa).
2. Documentary Evidance, terdiri dari :
a. Perdata (surat dan persangkaan);
b. Pidana (surat dan petunjuk).

114
Budi Suhariyanto, [Link], hal. 168
115
Didik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, Cyber Law : Aspek Hukum Teknologi
Informasi, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2009) hal. 100-101

Universitas Sumatera Utara


3. Material Evidance, terdiri dari :
a. Perdata (tidak dikenal);
b. Pidana (barang yang digunakan untuk melakukan tindak pidana, barang
yang digunakan untuk membantu tindak pidana, barang yang merupakan
hasil tindak pidana, barang yang diperoleh dari suatu tindak pidana dan
informasi dalam arti khusus).
4. Elektronic Evidance, terdiri dari :
a. Konsep pengelompokan alat bukti menjadi alat bukti tertulis dan
elektronik, tidak dikenal;
b. Konsep tersebut terutama berkembang di negara-negara common law;
c. Pengaturannya tidak melahirkan alat bukti baru, tetapi memperluas
cakupan alat bukti yang masuk kategori documentary evidance.

Eletronic Evidance atau alat bukti elektronik sebagai salah satu alat bukti

dalam sistem pembuktian di Indonesia setidaknya mendapat perhatian khusus.

Perhatian khusus itu bukan hanya karena alasan diatas akan tetapi alat bukti

elektronik juga menuntut adanya hukum pembuktian harus cukup fleksibel untuk

menghadapi sifatnya yang cenderung sangat sulit untuk dibuktikan. 116 Salah satu

bentuk kesulitan yang terdapat dalam alat bukti elektronik ialah ia sangat rentan

untuk diubah, disadap, dipalsukan dan dikirim ke berbagai penjuru dunia dalam

waktu hitungan detik. 117 Pembuktian alat bukti elektronik sangat penting dalam

hukum acara di Indonesia, terutama dalam hukum acara pidana. Hal ini disebabkan

karena hukum acara pidana yang bersifat mencari kebenaran materil.

Tindak pidana judi online pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan

cybercrime lainnya. Artinya, dalam pembutiannya tentu mengalami hambatan-

hambatan yang menyebabkan pembuktiannya cenderung tidak maksimal atau

pengenaan terhadap judi online tersebut dapat beralih kepada judi konvensional

116
David I. Bainbridge, Computer And The Law, diterjemahkan oleh Prasadi T. Susmaatmadja,
Hukum Dan Komputer, (Jakarta: Sinar Grafika, 1993), hal 200
117
Mardani, Bunga Rampai Hukum Aktual, (Bogor: Ghalia, 2009), hal. 91

Universitas Sumatera Utara


diakibatkan ketidakmampuan atau pengungkapan tindak pidana hanya berdasarkan

alat bukti yang tercantum dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP. Untuk melihat hambatan

Dalam Pembuktian Judi Online Yang Dikaitkan Dengan Undang-Undang No. 11

Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik dan Undang-Undang No.

19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 maka

akan digunakan teori penegakan hukum yang diutarakan oleh Soerjono Soekanto

yang membaginya kedalam 5 (lima) komponen, yaitu : faktor hukum, penegak

hukum, sarana dan fasilitas, masyarakat serta kebudayaan. 118

1. Sarana dan Fasilitas serta Faktor Hukum

Sarana dan Fasilitas serta faktor hukum adalah aturan, norma dan pola

perilaku nyata manusia yang berada dalam sistem itu. Cybercrime secara khusus

judi online merupakan komoditas terbesar baik dari sisi jumlah pelaku dan

penghasilan atau perputaran uang didalamnya. Pada umunya metode perjuan yang

digunakan cenderung klasik, yakni dengan mempertaruhkan atau sekedar

mencoba peruntungan dengan mengikuti model perjudian yang telah ditentukan.

Ada puluhan ribu situs-situs judi yang menyediakan fasilitas perjudian dari yang

model klasik dimana hanya memainkan tombol keyboard atau mengklik tombol

mouse sampai pada yang sangat canggih yang menggunakan pemikiran matang

dan perhitungan-perhitungan adu keberuntungan. Modus ini menjanjikan banyak

keuntungan bagi pemiliknya, tidak memerlukan lagi perizinan-perizinan khusus

118
Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada, 2014), hal. 8

Universitas Sumatera Utara


untuk membuat sebuah usaha perjudian via internet. Judi online hanya

bermodalkan sebuah web dengan fasilitas perjudian menarik sehingga setiap

orang dapat memiliki rumah perjudian di internet. 119

Merujuk pada uraian di atas maka jelas akan ada kendala dari sisi

substansi hukum (terfokus pada pembuktian) dimana terkait pembuktian untuk

judi online walaupun pengaturan alat bukti telah tercantum dalam peraturan

perundang-undangan. 120 Mengingat judi online merupakan bagian dari

cybercrime maka melibatkan alat-alat canggih sehingga sangat sulit untuk

menentukan pelaku tindak pidananya ketika perangkat hukum dalam penegakan

hukum pidana masih banyak keterbatasan. Keterbatasannya jelas nampak pada

regulasi juga dimana untuk alat bukti elektronik diakui penggunaannya tetapi

untuk proses dan cara pengambilannya belum diatur secara baku sehingga sampai

hari ini masih dilakukan berdasarkan kebiasaan seperti misalnya telah dibahas

pada bab sebelumnya terkait dengan digital forensik (digital forensik hanya ada

pada kepolisian daerah atau Polda dan belum sampai pada Kepolisian resort

kota/kabupaten atau Polres maupun Kepolisian sekitar atau Polsek). Penyebab

tidak ada diatur digital forensik secara undang-undang terkait digital forensik

119
Budi Suhariyanto, [Link], hal. 67
120
Fungsi peraturan perundang-undangan di Indonesia pada dasarnya bertujuan untuk
memberi pengaturan yang lebih jelas terhadap aturan pokok atau aturan yang lebh tinggi misalnya
keberadaan undang-undang bertujuan untuk menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut
ketentuandalam Undang-Undang Dasar 1945 yang tegas-tegas menyebutnya, pengaturan lebih lanjut
secara umum aturan dasar lainnya dalam batang tubuh UUD 1945, dan pengaturan lebih lanjut
ketentuan dalam ketetapan MPR yang tegas-tegas menyebutnya. Begitu selanjutnya peraturan
perundangan turunanl ainnya secara umum berfungsi sebagai pelaksana aturan yang lebih tinggi. Maria
Farida Indrati S, Ilmu Perundang-Undangan : Jenis, Fungsi, Dan Materi Muatan, (Yogyakarta:
Kanisius, 2007), hal. 215-233

Universitas Sumatera Utara


menyebabkan ini menjadi tidak wajib dan siapa saja dapat memalsukan alat bukti

elektronik termasuk penyidik sendiri. Namun, demikian walaupun secara khusus

telah diakui penggunaan dokumen elektronik dalam undang-undang namun sekali

lagi hambatan terbesar karena tidak masuknya dalam pengaturan alat bukti

elektronik di dalam KUHAP maka belum dapat diterima maksimal oleh hakim

dalam pelaksanaannya sehingga dapat dikatakan pula hakim atau pun penegak

hukum lainnya belum siap akan kemajuan teknologi.

2. Penegak Hukum

Penegak hukum merupakan lembaga-lembaga atau instansi yang akan

menjalankan proses penegakan hukum merupakan kerangka atau rangkanya.

Dengan demikian, struktur hukum sangat berkaitan erat dengan sarana dan

fasilitas yang dapat digambarkan melalui tenaga manusia yang berpendidikan dan

terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup

dan lain sebagainya. 121 Pengungkapan atau mendudukkan tindak pidana judi

online sebagai salah satu cybercrime sangat sulit untuk mencari alat bukti

elektroniknya butuh keahlian tertentu dan keterampilan tertentu. Artinya,

penyidik ataupun kepolisian, jaksa dan hakim memang harus memiliki

kemampuan dalam penilaian atau mencari kebenaran alat bukti elektronik.

Kepolisian, pada bagian substansi hukum telah disebutkan sebagai

berikut:

121
Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta: PT.
Rajagrafindo Persada, 2014), hal. 37

Universitas Sumatera Utara


”Digital forensik (digital forensik hanya ada pada kepolisian daerah atau Polda

dan belum sampai pada Kepolisian resort kota/kabupaten atau Polres maupun

Kepolisian sekitar atau Polsek)”.

Kondisi di atas menggambarkan jelas kemampuan penyidik terkait

cybercrime tidak merata di seluruh Indonesia hanya kepolisian daeran yang

mempunyai fasilitas digital forensik. Akibat yang terjadi ialah kasus yang

seharusnya judi online dianggap sebagai judi konvensional seperti pada Putusan

Pengadilan Negeri Sibolga No. 141/Pid.B/2014/PN Sbg yang mana pada dakwaan

telah tergambar adanya keterlibatan situs judi online. Pada akhirnya putusannya

jatuh pada judi konvensional bahkan dakwaan yang bersifat alternatif tidak ada

satupun yang menyinggung tindak pidana judi online sebagaimana tercantum

dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi

Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008.

Akhirnya, penegakan hukum tidak maksimal dan penegak hukum

tertinggal dengan perkembangan kejahatan yang terjadi didalam masyarakat.

Kecenderungannya ialah masyarakat terus berkembang terutama di Indonesia

akan tetapi penegakan hukum tertinggal sehingga layak dikatakan penegak hukum

di Indonesia tidak mampu menentukan perbuatan-perbuatan yang mana dapat

dikenakan pidana cyber dan yang mana tidak dikenakan pidana cyber.

Universitas Sumatera Utara


3. Masyarakat dan Kebudayaan

Masyarakat dan kebudayaan adalah sikap manusia terhadap hukum dan

sistem hukum, suasana pikiran dan kekuatan masyarakat yang menentukan

hukum digunakan, dihindari atau disalahgunakan. Keberadaan budaya hukum

didalam masyarakat dan kebudayaan dapat disamakan dengan keberadaan hukum

didalam masyarakat yang memiliki kebudayaan. Namun, yang menjadi perhatian

ialah hukum yang merupakan peraturan hidup masyarakat yang bersifat memaksa

dan mengatur untuk menjamin tata tertib masyarakat, 122 apakah proses

berlangsungnya dapat berjalan maksimal. Artinya, hukum yang memiliki norma

dalam peraturan perundang-undang dapat berjalan dengan baik sehingga mampu

mencerminkan pula budaya hukum yang baik atau sebaliknya hukum hanya

sekedar aturan belaka tetapi pelaksanaannya sama sekali tidak maksimal sehingga

menghasilkan budaya hukum yang buruk.

Sikap masyarakat dengan tidak cermatnya penegak hukum dalam

pencarian alat bukti untuk judi online sehingga menyebabkan pembuktian untuk

judi online menjadi cacat atau sama sekali tidak mengarahkan ke tindak pidana

judi online seperti dalam Putusan Pengadilan Negeri Sibolga No.

141/Pid.B/2014/PN Sbg menjadi tidak percaya.

Ketidakmampuan penegak hukum dalam menangani tindak pidana judi

online akan membuat masyarakat menjadi enggan untuk melaporkan kepada

penegak hukum karena pada kenyataannya sangat sulit untuk membuktikan tindak
122
C.S.T. Kansil, [Link], hal. 34

Universitas Sumatera Utara


pidana judi online akibatnya wibawa penegak hukum turun dihadapan masyarakat

dalam pemberantasan tindak pidana judi online. Hal ini disebabkan karena masih

kurangnya penegak hukum yang memiliki kemampuan dibidang cybercrime

secara umum dan khusus terkait tindak pidana judi online. Jika ini dibiarkan maka

akan terjadi degradasi budaya hukum yang sangat besar dan terus menerus

didalam masyarakat semakin berlarut-larut. 123

B. Upaya Yang Dapat Dilakukan Untuk Mengatasi Hambatan Dalam


Pembuktian Judi Online Yang Dikaitkan Dengan Undang-Undang No. 19
Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Pelarangan judi online disebabkan karena mendatangkan bahaya bagi

masyarakat dan dapat pula merugikan pemerintah sebuah negara. Larangan tersebut

karena hal-hal, sebagai berikut: 124

1. Berpotensi terjadi kecurangan di internet,

2. Memungkinkan bagi anak-anak untuk mengakses situs-situs perjudian,

3. Mengakibatkan kecanduan masyarakat untuk berjudi,

4. Dapat mengurangi pendapatan negara yang mengizinkan kegiatan perjudian resmi.

Pelarangan pun seolah-olah tinggal suratan yang tercantum dalam peraturan

perundang-undangan. Hal itu disebabkan hambatan yang cukup pelik terjadi dalam

proses pembuktian atau mencari alat bukti yang sesuai dengan tindak pidana judi

online yang dilakukan pemain judi. Sebenarnya, masih banyak hambatan yang

merintangi cybercrime atau judi online ini, salah satunya terkait yurisdiksi.

123
Budi Suhariyanto, [Link], hal. 85
124
Ibid, hal. 168

Universitas Sumatera Utara


Yurisdiksi (rata-rata situs judi online berasal dari negara-negara yang

melegalkan judi) merupakan hal sangat krusial sekaligus kompleks khususnya

berkenaan dengan pengungkapan kejahatan-kejahatan didunia maya yang bersifat

internasional (international crime). Dengan adanya kepastian yurisdiksi maka suatu

negara memperoleh pengakuan dan kedaulatan penuh untuk berbagai aturan

kebijakannya secara penuh. Kekuasaan demikian harus dihormati pula oleh setiap

negara lainnya sebagaimana kekuasaan yang dimiliki oleh negara lain.

Pada hakikatnya untuk beberapa kasus yang melibatkan aspek asing di

dalamnya (pelaku, tempat terjadinya, dan sebagainya). Kitab undang-undang hukum

pidana (Pasal 2-9 KUHP, yaitu asas personal, asas teroterial dan asas universal) sudah

dapat diberlakukan sekalipun sifatnya masih terbatas, artinya belum dapat diterapkan

untuk semua jenis kejahatan internasional. Oleh karena itu, Barda Nawawi Arief

mengusulkan untuk memberlakukan prinsip ubikuitas (the principle of ubiquity) atas

tindak pidana masyarakat. Alasannya saat ini semakin marak terjadi cybercrime

seiring dengan pertumbuhan penggunaan internet. Yang dimaksud dengan prinsip

atau asas ubikuitas adalah prinsip yang engatakan bahwa delik-delik yang dilakukan

atau terjadi di sebagian wilayah teritorial negara sebagian di luar wilayah teritorial

suatu negara (ekstrateritorial) harus dapat dibawa ke dalam yurisdiksi setiap negara

yan terkait. Ia berpendapat bahwa yurisdiksi personal terhadap pengguna in ternet

dapat diterapkan terhadap kasus-kasus mayantara. 125

125
Ibid, hal. 77

Universitas Sumatera Utara


Pembuktian judi online, dengan demikian harus dilakukan upaya-upaya agar

hambatan yang terjadi tidak terus-menerus atau berkelanjutan dengan beberapa cara

sebagai berikut:

1. Melakukan perubahan terhadap peraturan perundang-undangan

Pembuktian dalam judi online menggunakan alat bukti elektronik dalam

proses pembuktian sebagai salah satu alat bukti. Pengaturan alat bukti elektronik

di dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi

Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 hanya terbatas pada boleh digunakan atau

harus digunakan dalam proses pembuktian terkait cybercrime atau judi online.

Dengan demikian, agar semakin sempurna sudah selayaknya masing-masing

penegak hukum dimintai untuk menyusun naskah akademik terkait proses

pengelolaan baik berupa penyitaan, penjagaan dan penjaminan alat bukti

elektronik agar dapat disusun peraturan perundang-undangan secara tersendiri

untuk alat bukti elektronik sehingga penjaminannya keakuratannya menjadi kuat

dan terjamin karena sejatinya bukti elektronik rentan untuk dipalsukan.

2. Perlu dilakukan pelatihan terhadap penegak hukum terkait alat bukti elektronik

Putusan Pengadilan Negeri Sibolga No. 141/Pid.B/2014/PN Sbg merupakan

contoh yang sangat menyayat penegakan hukum di Indonesia. Dimana seharusnya

jelas dengan adanya pemasangan pelaku judi disitus judi online sudah ada

perbuatan cyber dan Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan

Transaksi Elektronik dan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang

Universitas Sumatera Utara


Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 sudah sangat tepat

digunakan untuk dakwaan maupun penerapan alat bukti.

Menghindari kedepannya agar hal ini tidak terjadi lagi maka sudah seharusnya

dan sepantasnya dilakukan pelatihan terhadap penegak hukum dan dikhususnya

polisi, jaksa dan hakim yang dapat memeriksan perkara cybercrime. Dengan

pelatihan intensif untuk penegak hukum maka penegak hukum sangat diharapkan

menjadi lebih cakap dan wibawa penegakan hukum kembali kepada tempat

sebagimana mestinya.

3. Pengembalian kepercayaan masyarakat

Masyarakat merupakan tempat hukum diterapkan dengan demikian setelah

penegak hukum diberi pelatihan dan harus diberikan grade sesuai dengan

kemampuannya (sekali lagi cybercrime bukan merupakan maslah yang kecil

tetapi persoalan serius) maka agar kepercayaan masyarakat kembali harus

diberikan sosialisasi kembali kepada masyarakat bahwa penegak hukum telah siap

bertempur untuk menegakkan hukum secara khusus cybercrime atau tindak

pidana judi online. Hal tersebut akan mengembalikan kepercayaan masyarakat

dan pada akhirnya masyarakat tidak enggan atau sungkan untuk terlibat dalam

pemberantasan cybercrime atau tindak pidana judi online.

Universitas Sumatera Utara


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka kesimpulan yang dapat

diberikan, yaitu :

1. Pembuktian judi online dikaitkan dengan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016

Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi

Dan Transaksi Elektronik ialah dimana sistem pembuktian pidana Indonesia ialah

negatief wettelijk dimana mendasarkan diri pada alat bukti yang telah sah menurut

undanh-undang dan keyakinan hakim. Artinya, jika diakitkan dengan pembuktian

judi online maka keberadaannya harus menggunakan alat bukti yang dianggap sah

menurut undang-undang, yakni alat bukti elektronik dan yang tercantum pada

Pasal 184 KUHAP. Terkait dengan penilaian terhadap alat bukti merupakan

kewenangan hakim karena hukum acara pidana menurut juga pada keyakinan

hakim pada sisi pembuktian.

2. Hambatan dalam pembuktian judi online yang dikaitkan dengan Undang-Undang

No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008

Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik dapat dilihat melalui sistem hukum

baik melalui Faktor hukum, Penegak hukum, Sarana fasilitas, serta masyarakat

serta budaya.

Universitas Sumatera Utara


B. Saran

Berikut beberapa hal yang dapat disarankan, yaitu:

1. Diharapkan baik pemerintah atau Kementerian Komunikasi dan Informatika

(mengajukan perumusan baru undang-undang alat bukti elektronik) dan lembaga

legislatif segera mengesahkan aturan yang disusun oleh Kementerian Komunikasi

dan Informatika agar mempermudah penegak hukum dalam pembuktian

menggunakan alat bukti eletronik sangat penting dan perlu dirumuskan regulasi

pelaksanaannya. Agar alat bukti elektronik dapat digunakan dengan maksimal

dalam pembuktian dan perumusan tindak pidana.

2. Diharapkan agar hambatan dalam pembuktian judi online yang dikaitkan dengan

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik

Jo Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang

No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik dapat teratasi

maka penegak hukum baik polisi, jaksa dan hakim melaksanakan beberapa upaya,

sebagai berikut: melakukan perubahan terhadap peraturan perundang-undangan,

perlu dilakukan pelatihan terhadap penegak hukum terkait alat bukti elektronik,

dan pengembalian kepercayaan masyarakat.

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR PUSTAKA

Buku

Ali, Zainuddin, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2009.

Arief, Barda Nawawi, Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung: PT. Citra Aditya
Bakti, 2013.

--------------------------, Masalah Penegakan Hukum Dan Kebijakan Penanggulangan


Kejahatan, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2001.

Bainbridge, David I., Computer And The Law, diterjemahkan oleh Prasadi T.
Susmaatmadja, Hukum Dan Komputer, Jakarta: Sinar Grafika, 1993.

Bisri, Ilhami, Sistem Hukum Indonesia, Prinsip-Prinsip & Implementasi Hukum Di


Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.

Chazawi, Adami, Pelajaran Hukum Pidana, Bagian I, Jakarta: RajaGrafindo Persada,


2005.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: PT.


Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Dewata, Mukti Fajar Nur dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum
Normatif Dan Empiris, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.

Djaja, Ermansjah, Penyelesaian Sengketa Hukum Teknologi Informasi Dan Transaksi


Elektrik: Kajian Yuridis Penyelsaian Secara Non Litigasi Melalui Arbitrase
Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Yogyakarta: Pustaka Timur, 2010.

Ekaputra, Mohammad dan Abul Khair, Sistim Pidana di Dalam KUHP dan
Pengaturannya Menurut Konsep KUHP Baru, Medan: USU Press, 2010.

Hamzah, Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1983.

Harahap, M. Yahya, Beberapa Tinjauan Tentang Permasalahan Hukum Buku Kedua,


Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1997.

-----------------------, Beberapa Tinjauan Tentang Permasalahan Hukum, Buku


Kesatu, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1997.

Universitas Sumatera Utara


------------------------, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP:
Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, Dan Peninjauan Kembali,
Jakarta: Sinar Grafika, 2006.

Hiariej, Edy O.S., Teori & Hukum Pembuktian, Jakarta: Erlangga, 2012.

Ibrahim, Jhonny, Teori Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Surabaya: Bayu


Media, 2005.

Ilyas, Amir, Asas-Asas Hukum Pidana, Yogyakarta: Rangkang Education Yogyakarta


& PUKAP Indonesia, 2012.
Irfan & Masyrofah, Penanggulangan Cyber Crime, Bandung: Pustaka Setia, 2013.

Kansil, C.S.T, Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Indonesia, (akarta: Balai
Pustaka, 1986.

-----------------, Pokok-Pokok Hukum Pidana, Jakarta: Pradnya Paramita, 2004

Kanter, E.Y. Dan S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia Dan
Penerapannya, Jakarta: Storia Grafika, 2002.

Lamintang, P.A.F., Dasar-Dasar Hukum Pidana, Bandung: [Link] Aditya Bakti,


1997.

Lubis, Kamaluddin, Hukum Pembuktian Pidana dan Perdata Dalam Teori Dan
Praktek, Medan: Universitas Islam Sumatera Utara, 1992.

Lubis, M. Solly, Filsafat Ilmu Dan Penelitian, Bandung: Mandar Maju, 1994.

------------------, Serba-Serbi Politik Hukum, Edisi 2, Medan: PT. Sofmedia, 2011.

Mansur, Didik M. Arief dan Elisatris Gultom, Cyber Law : Aspek Hukum Teknologi
Informasi, Bandung: PT. Refika Aditama, 2009.

Mardani, Bunga Rampai Hukum Aktual, Bogor: Ghalia, 2009.


Mertokusumo, Sudikno, Hukum Acara Perdata Indonesia, Yogyakarta: Liberty,
2006.

Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000.

------------, Azas-Azas Hukum Pidana, Jakarta: Bina Aksara, 1998.

Universitas Sumatera Utara


------------, Kitab Undang Undang Hukum Pidana, cet. 21, Jakarta: Bumi Aksara,
2001.

Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya,


2004.

Mulyadi, Lilik, Hukum Acara Pidana: Normatif, Teoretis, Praktik Dan


Permasalahannya, Bandung: Alumni, 2007.

Nawawi, Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Universitas Gajah


Mada Press, 2003.

Prints, Darwan, Hukum Acara Pidana: Suatu Pengantar, Jakarta: Djambatan, 1989.

Ramli, Ahmad M., Menuju Kepastian Hukum Dibidang : Informasi dan Transaksi
Elektronik, Jakarta: Departemen Komunikasi Dan Informasi, 2007.

Remmelink, Jan, Hukum Pidana: Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari Kitab
Undang-undang Hukum Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab
Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Umum, 2003.

S, Maria Farida Indrati, Ilmu Perundang-Undangan : Jenis, Fungsi, Dan Materi


Muatan, Yogyakarta: Kanisius, 2007.

Samudra, Teguh, Hukum Pembuktian dalam Acara Perdata, Bandung: Alumni, 2004.

Sarwono, Hukum Acara Perdata Teori Dan Praktik, Jakarta: Sinar Grafika, 2011.

Sasangka, Hari Dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana,
Bandung: Mandar Maju, 2003.

Sianturi, S.R., Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Jakarta:


Alumni Ahaem Petehaem, 1989.

Simorangkir, J..C.T. [Link], Kamus Hukum, Jakarta: Aksara Baru, 1983.

Sitompul, Josua, Cyberspace, Cybercrime, Cyberlaw Tinjauan Aspek hukum Pidana,


Jakarta: PT. Tatanusa, 2012.

Sjafriani, Ririn, Anggara dan Supriyadi W.E., Kontroversi Undang-Undang ITE:


Menggugat Pencemaran Nama Baik Di Ranah Maya, Jakarta: Degraf
Publishing, 2010.

Universitas Sumatera Utara


Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan
Singkat, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001.

------------------------, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta:


PT. Rajagrafindo Persada, 2014

------------------------, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Universitas Indonesia,


2005.

Soemitro, Ronny Hanitijo, Metodologi Penelitian Hukum Dan Jurumateri, Jakarta:


Ghalia Indonesia, 1994.

Soesilo, R., Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-


Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal, Bogor: Politea, 1993.

Subekti, R., Hukum Pembuktian, Jakarta: Pradnya Paramita, 1975.

Sudarsono, Kamus Hukum, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2007.

Suhariyanto, Budi, Tindak Pidana Teknologi Informasi (Cybercrime): Urgensi


Pengaturan Dan Celah Hukumnya, Jakarta: PT. RajaGrafindo, 2013.

Universitas Sumatera Utara, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian dan Tesis,


Medan: Universitas Sumatera Utara, 2009.

Wahid, Abdul Dan M. Labib, Kejahatan Mayantara (Cybercrime), Bandung: PT.


Refika Aditama, 2005.

Wijayanto, Roni, Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia, Bandung: CV. Mandar Madju,
2012.

Undang-Undang

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

Undang-Undang No. 7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian

Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1981 Tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Universitas Sumatera Utara


Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.
11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Hasil Penelitian Dan Jurnal

Tarigan, Muhammad Iqbal, Dokumen Elektronik Sebagai Alat Bukti Dalam


Perspektif Pembaruan Hukum Acara Perdata Indonesia, Medan: Tesis S2
Universitas Sumatera Utara, 2014.

Trinawati, Putri Ayu [Link], ”Kekuatan Pembuktian Transaksi Elektronik Dalam


Tindak Pidana Perjudian Online Dari Perspektif Undang-Undang No. 11 Tahun
2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik (Putusan No.
140/Pid.B/2013/PN-TB)”, Dalam Jurnal Ilmu Hukum Universitas Jember 2015,
I (1), (Jember: Fakultas Hukum Universitas Jember), hal. 8

Website

Anonim, Judi Online, [Link] diakses 9 Februari 2017

Anonim, Terungkap Judi Online Berpenghasilan Rp 2 Miliyar Per Hari,


[Link]
terungkap-judi-online-berpenghasilan-rp-2-miliar-per-hari, diakses 9 Februari
2017

Anonim, Terungkap Judi Online Dengan Omset Rp. 60 Juta Per Hari,
[Link]/play2017/01/21/1/88848/terungkap-judi-online-dengan-omset-
rp60-juta-per-hari, diakses 9 Februari 2017

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai