Nama : Wulan Rama Agustina
NIM : 2005903040041
Prodi : Teknologi Informasi
Mata Kuliah : Dasar Pengembangan Sistem Informasi
Dosen Pengampu : Suryadi., ST., [Link]
METODE PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI
1. Penjelasan dan Gambaran Lengkap dari Setiap Metode Pengembangan Perangkat
Lunak
Menurut riset dari IBM, pengembangan perangkat lunak merupakan istilah dalam
ilmu komputer. Maknanya adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan untuk
merancang, membuat, mengaplikasikan, dan mendukung atau meningkatkan fungsi
perangkat lunak.
Komponen komputer terdiri dari dua jenis, yaitu perangkat keras dan perangkat lunak.
Perangkat keras merupakan komponen fisik, sedangkan perangkat lunak berupa material
tidak kasat mata. Saat mengoperasikan komputer, kedua komponen ini bekerja secara
bersamaan.
Perangkat lunak sering disebut dengan istilah software, berisi serangkaian program
yang membuat perangkat keras bisa berfungsi sehingga komputer dapat dioperasikan.
Program ini berisi instruksi dalam format digital yang dibuat dengan bahasa
pemrograman.
Perangkat keras atau hardware menjadi wadah dari perangkat lunak yang
membutuhkan media untuk dapat bekerja. Sebaliknya, perangkat keras komputer tidak
dapat berfungsi tanpa adanya perangkat lunak. Jadi, kedua komponen ini saling
membutuhkan satu sama lain.
Beberapa Model Metode Pengembangan Perangkat Lunak
Pengembangan perangkat lunak sendiri dapat dilakukan melalui berbagai metode.
Sedikitnya ada enam metode yang paling banyak digunakan oleh para pengembang
perangkat lunak. Keenam metode tersebut akan dibahas satu per satu berikut ini.
a. Metode Pengembangan Perangkat Lunak Waterfall
Metode waterfall pertama kali dibuat pada tahun 1970 dan selama beberapa dekade
merupakan metode pengembangan perangkat lunak terkemuka dan banyak
digunakan.
Jika menggunakan metode ini, kita membutuhkan banyak dokumentasi serta
struktur di awal pembuatan. Prosesnya dibagi dalam beberapa langkah dan tahapan
yang mandiri. Tahap pertama merupakan tahapan yang sangat penting, Pemahaman
penuh dari pengembang dan pengguna mengenai ruang lingkup dan tuntutan proyek
sangat dibutuhkan sebelum memulai segala sesuatu.
b. Metode Pengembangan Perangkat Lunak Agile
Metode pengembangan perangkat lunak Agile ini muncul karena keinginan
yang besar untuk dapat meninggalkan metode lama (Waterfall) yang tidak fleksibel.
Pendekatan metode ini dirancang untuk mengakomodasi perubahan serta
menghasilkan perangkat lunak secara lebih cepat.
Berikut gambaran mengenai metode Agile:
• Lebih menghargai hubungan dan interaksi antar pribadi, tidak hanya
memperdulikan sarana (tools).
• Menampilkan kerjasama dengan pengguna selama proses pengembangan
berlangsung.
• Memberi tanggapan terhadap munculnya perubahan; tidak hanya melulu
mengikuti rencana yang sudah ditetapkan.
• Fokus untuk menampilkan perangkat lunak yang benar-benar berfungsi; bukan
hanya sekedar mementingkan dokumentasi.
c. Metode Pengambangan Perangkat Lunak Scrum
Cara kerjanya adalah dengan memecah tujuan akhir menjadi beberapa tujuan
kecil pada awal proyek dan mengerjakan terlebih dahulu tujuan-tujuan kecil
tersebut. Cara yang digunakan untuk mengerjakan tujuan kecil adalah dengan
melakukan pengulangan kerja secara berkala dalam membuat software. Kemudian
sesering mungkin menampilkan hasilnya; proses ini biasanya memakan waktu
kurang lebih dua minggu.
Selama pelaksanaan pengulangan kerja, pengembang dan pengguna perlu
melakukan banyak pertemuan guna menunjukkan hasil sementara dari proyek. Hal
ini berguna agar keduanya dapat mengikuti perkembangan terbaru dari proyek serta
menampung berbagai masukan mengenai hasil yang ada serta kemungkinan
perbaikan atau perubahannya.
Dengan demikian dapat terjadi perubahan dan perkembangan yang lebih cepat
menuju hasil akhir yang baik. Hal ini sangat berguna untuk diterapkan pada proyek
yang rumit. Pada dasarnya, metode Scrum merupakan gabungan dari struktur dan
ilmu dari metode pengembangan software tradisional (Waterfall) dengan
fleksibilitas dan praktik pengulangan dari metode Agile yang modern.
d. Metode Pengembangan Perangkat Lunak RAD
Metode RAD (Rapid Application Development) merupakan proses
pengembangan yang ringkas untuk menghasilkan sistem dengan kualitas tinggi
dengan biaya investasi rendah. Biaya pada metode ini dapat ditekan karena
memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan cepat.
Ada empat tahapan dalam metode RAD ini yaitu: perencanaan kebutuhan,
desain dari pengguna, pembangunan atau konstruksi serta peralihan (dari sistem
lama ke sistem baru).
e. Metode Pengembangan Perangkat Lunak Prototype
Merupakan metode yang memicu pengembang hanya membuat contoh
resolusi guna secara resmi menunjukkan esensi fungsional produk kepada
pengguna. Pengembang akan melakukan berbagai perubahan yang diperlukan
sesuai dengan permintaan pengguna. Metode prototype memiliki tendensi untuk
dapat menyelesaikan beragam masalah yang terjadi di metode Waterfal.
f. Metode Pengembangan Perangkat Lunak DevOps
DevOps bukan hanya merupakan metode pengembangan sistem saja,
melainkan serangkaian praktik yang mendukung budaya keorganisasian.
Metode ini berpusat pada perubahan yang meningkatkan kerjasama antar
departemen yang bertanggung jawab terhadap segmen yang berbeda pada
pengembangan siklus hidup organisasi. Siklus tadi meliputi pengembangan,
jaminan kualitas serta pelaksanaan atau operasi.
2. Kelebihan dan Kekurangan Metode Pengembangan Perangkat Lunak
a. Metode Waterfall
Keunggulan :
Mudah dimengerti,sehingga baik digunakan oleh pemula.
Mudah untuk dimengerti karena setiap fase memiliki deliverables nya
masing-masing dan proses review.
Cepat untuk diimplementasi untuk proyek dengan skala kecil dimana
requirement dapat dimengerti dengan baik.
Desain yang sederhana membuatnya mudah untuk ditesting dan dianalisis.
Kelemahan :
Metode ini hanya cocok untuk proyek dengan requirement yang sudah sangat
jelas dengan detail requirement yang bias disampaikan diawal.
Metode ini tidak cocok untuk proyek maintensnce atau proyek jangka panjang.
Tidak fleksibel : ketika aplikasi dilaunch, tidak memungkinkan untuk
memodifikasi atau merubah system yang dibuat.
Tidak bisa membuat softwere yang lain sampai seluruh proses waterfall
selesai.
b. Metode Agile
Keunggulan :
Pendekatan yang adaptif sehingga dapat merespon perubahan requirement
dengan sangat cepat dan efisien.
Feedback yang berkesinambungan akan meminimalisir risiko dengan
signifikan.
Komunikasi yang berkelanjutan meningkatkan transparansi antara klien dan
tim development.
Fokus pada pengerjaan software, sehingga tidak perlu terlalu khawatir pada
dokumentasi.
Kekurangan:
Scope pengerjaan yang bisa berubah kapanpun dapat menyebabkan kurangnya
fokus dari tim development dan menyebabkan isu jika brief yang diberikan
tidak jelas
Kurangnya dokumentasi dana meningkatkan risiko miscommunication
c. Metode Scrum
Keunggulan :
Meningkatkan kecepatan dalam proses development dan dapat membawa
proyek yang lambat kembali ke track.
Pengambilan keputusan sebagian besar berada dalam tangan tim developer.
Hal ini membantu mereka untuk fokus dan meningkatkan motivasi.
Fleksibel, dimana memudahkan update dan perubahan berkala.
Daily meeting membantu manajer untuk mengukur produktivitas individual.
Metode ini juga meningkatkan kolaborasi dan produktivitas dalam tim.
Kelemahan :
Sangat cocok untuk skala kecil, dan proyek yang cepat berubah. Tidak cocok
untuk skala besar.
Metode ini membutuhkan orang berpengalaman yang pernah bekerja di
proyek yang mirip dengan yang ingin dikerjakan saat ini.
Anggota tim harus memiliki skills yang banyak sehingga mampu membantu
mereka dalam mengerjakan task di luar dari area spesialisasinya. Beberapa
anggota tim, oleh karena itu, membutuhkan training tambahan.
Membagi development produk dalam sprint singkat membutuhkan
perencanaan yang matang dan hati-hati.
d. Metode RAD
Keunggulan :
Mengurangi risiko karena identifikasi issue di awal dan feedback client.
Feedback berkala meningkatkan transparansi antara tim development dank lien.
Klien yang dapat melihat hasil dari prototype di awal akan menghasilkan kualitas
produk yang lebih baik di akhir.
Perencanaan dan dokumentasi yang lebih sedikit meningkatkan kecepatan
development.
Kelemahan :
Mengurangi fitur karena “time boxing” dimana ketika fitur di dorong kembali
ke versi yang lebih baru untuk menyelesaikan rilis dalam waktu singkat.
Tidak cocok untuk proyek dengan budget yang rendah karena biaya modeling
dan automated generation code sangat tinggi.
Metode ini relative baru sehingga cukup berisiko.
Butuh kerja sama tim yang tinggi di kantor untuk proses yang sangat cepat
bergerak agar bisa sukses.
e. Metode Prototyping
Keunggulan :
Dengan metode ini, kita bisa memberikan klien experience yang lebih awal
untuk software yang akan digunakan dan memperbaiki serta melengkapinya
dengan feedback yang diberikan klien.
Karena kita telah mengidentifikasi risiko dan isu yang mungkin terjadi di awal,
kita juga dapat mengurangi risiko kegagalan.
Komunikasi antara klien dan tim pengembang yang intens akan memperkuat
hubungan antara kedua belah pihak.
Kelemahan :
cukup mahal. Disisi lain, prototyping dapat mengurangi risiko, sehingga kita
dapat meminimalisir potensi budget terbuang di-awal waktu.
Pelibatan di awal dengan klien bisa saja menjadi hal yang buruk, mereka
mungkin akan terlalu banyak ikut campur dan meminta banyak perubahan
tanpa sepenuhnya memahami proyek secara keseluruhan.
Terlalu banyak modifikasi akan mengganggu workflow dari tim development.
f. Metode DevOps
Kelebihan :
Mendukung platform terinterigrasi yang memudahkan dalam pengiriman dan
pengujian aplikasi.
Perbedaan lingkungan antara pengembang dan user dapat teratasi.
Pengembangan perangkat lunak menjadi lebih efisisen dan berkulitas tinggi
dengan mengintegrasikan operasi.
Kelancaran proses dapat dipastikan karena seluruh tim operasi terlibat pada
siklus pengembangan.
Kelemahan :
DevOps harus menyertakan kelompok lain yang penting bagi keberhasilan IT
seperti bisnis (BizDevOps), keamanan (DevSecOps), dan uji khusus.
Kesulitan oerganisasi, seperti transisi ke praktik DevOps, membutuhkan
perubahan budaya besar termasuk reorganisasi tim yang membutuhkan waktu
untuk terbiasa.
DevOps bisa mahal untuk diadopsi dan dioperasikan jika suatu organisasi
memiliki beberapa rilis dalam setahun.
DevOps akan membutuhkan alat otomatisasi yang memadai.
3. Perbedaan dari setiap Metode Pengembangan Perangkat Lunak
a. Metode Waterfall
Requirement Analysis
Adalah tahap interaksi intensif antara analysis system dengan komunitas pemakai system
(end-user), dimana team pengembangan system menunjukkan keahliannya untuk
mendapatkan tanggapan dan kepercayaan pemakai, sehingga mendapatkan partisipasi yang
baik.
System Design
Suatu kumpulan komponen-komponen UI dan kode yang saling terhubung kemudian
dikategorikan oleh suatu standarisasi yang jelas dan terintegrasi dalam suatu system.
Implementasi
merupakan tahap pemrograman. Pembuatan perangkat lunak dibagi menjadi modul-
modul kecil yang nantinya akan digabungkan dalam tahap berikutnya. Disamping itu, pada
fase ini juga dilakukan pengujian dan pemeriksaan terhadap fungsionalitas modul yang sudah
dibuat, apakah sudah memenuhi kriteria yang diinginkan atau belum.
Testing
selanjutnya dilakukan pemeriksaan dan pengujian sistem secara keseluruhan untuk
mengidentifikasi kemungkinan adanya kegagalan dan kesalahan sistem.
Deployment
Maintenance
perangkat lunak yang sudah jadi dioperasikan pengguna dan dilakukan pemeliharaan.
Pemeliharaan memungkinkan pengembang untuk melakukan perbaikan atas kesalahan yang
tidak terdeteksi pada tahap-tahap sebelumnya. Pemeliharaan meliputi perbaikan kesalaha,
perabikan implementasi unit sistem, dan peningkatan dan penyesuaian sistem sesuai dengan
kebutuhan.
b. Metode Prototyping
Tahapan-tahapan dalam Prototyping adalah sebagai berikut:
Pengumpulan kebutuhan
Pelanggan dan pengembang bersama-sama mendefinisikan format seluruh perangkat lunak,
mengidentifikasikan semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang akan dibuat.
Membangun prototyping
Membangun prototyping dengan membuat perancangan sementara yang berfokus pada
penyajian kepada pelanggan (misalnya dengan membuat input dan format output).
Evaluasi protoptyping
Evaluasi ini dilakukan oleh pelanggan apakah prototyping yang sudah dibangun sudah sesuai
dengan keinginann pelanggan. Jika sudah sesuai maka langkah 4 akan diambil. Jika tidak
prototyping direvisi dengan mengulang langkah 1, 2 , dan 3.
Mengkodekan system
Dalam tahap ini prototyping yang sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam bahasa
pemrograman yang sesuai.
Menguji system
Setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat lunak yang siap pakai, harus dites dahulu
sebelum digunakan. Pengujian ini dilakukan dengan White Box, Black Box, Basis Path,
pengujian arsitektur dan lain-lain.
Evaluasi Sistem
Pelanggan mengevaluasi apakah sistem yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang
diharapkan. Jika ya, langkah 7 dilakukan; jika tidak, ulangi langkah 4 dan 5.
Menggunakan system
Perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelanggan siap untuk digunakan.
c. Metode RAD
Tahapan-Tahapan dalam RAD adalah sebagai berikut :
Requirements Planning (Perencanaan Syarat-Syarat)
Dalam fase ini, pengguna dan penganalisis bertemu untuk mengidentifikasikan
tujuan-tujuan aplikasi atau sistem serta untuk mengidentifikasikan syarat-syarat
informasi yang ditimbulkan dari tujuan-tujuan tersebut. Orientasi dalam fase ini
adalah menyelesaikan masalah-masalah perusahaan.
RAD Design Workshop (Workshop Desain RAD)
Fase ini adalah fase untuk merancang dan memperbaiki yang bisa digambarkan sebagai
workshop. Penganalisis dan pemrogram dapat bekerja membangun dan menunjukkan
representasi visual desain dan pola kerja kepada pengguna.
Implementation (Implementasi)
Pada fase implementasi ini, penganalisis bekerja dengan para pengguna secara intens selama
workshop dan merancang aspek-aspek bisnis dan nonteknis perusahaan. Segera setelah
aspek-aspek ini disetujui dan sistem-sistem dibangun dan disaring, sistem-sistem baru atau
bagian dari sistem diujicoba dan kemudian diperkenalkan kepada organisasi.
d. Metode Scrum
Tahapan dalam Metode Scrum antara lain :
Product Backlog
Bagian pertama ini adalah kumpulan dari hal-hal yang diperlukan dan yang harus tersedia
dalam produk. Produk backlog berada dalam tanggung jawab product owner. Product
Backlog adalah daftar utama dari semua fungsi yang diinginkan dalam produk. Metode
Scrum tidak mewajibkan dokumentasi semua persyaratan pada awal proyek.
Sprint Backlog
Perencanaan Sprint dilakukan dalam pertemuan atau meeting antara product owner dan tim
developer yang akan bekerja sama untuk memilih product backlog untuk dimasukan ke dalam
proses sprint. Hasil dari pertemuan tersebut yaitu Sprint Backlog.
Sprint
Sprint merupakan suatu kerangka waktu yang berdurasi paling lama 1 bulan untuk
mengembangkan produk yang akan dirilis. Di dalam Sprint terdapat 2 bagian pekerjaan :
a. Pertemuan Harian (Daily Standup Meeting)
Merupakan pertemuan dimana setiap 24 jam (1 hari), tim pengembangan bertemu untuk
membahas proses pengembangan produk.
b. Refleksi Sprint
Merupakan pertemuan yang dilakukan setiap bulannya, yang bertujuan untuk membahas hal
dari Sprint Backlog yang telah berjalan dan telah berhasil dikerjakan, serta dapat
memperbaiki dan meningkatkan kualitas produk pada Sprint yang berikutnya.
Increment
Increment adalah hasil dari Product Backlog yang sudah selesai dikerjakan
pada Sprint. Di akhir Sprint, Increment harus sudah benar-benar selesai, yang berarti
harus dalam keadaan yang useable.
e. Metode DevOps
Tahapan-Tahapan Metode DevOps :
Continuous Integration
Continuous Integration merupakan layanan yang diberikan DevOps untuk melakukan
build dan automation testing. Kegiatan ini dikerjakan dengan menggunakan tools
berupa Source Code Repository (SCR) untuk menemukan error code dan fixed code.
Continuous Delivery
Continuous Delivery selalu bekerja di dalam software development untuk merubah
kode. Proses ini dilakukan setelah Continuous Integration untuk menambah update
lebih banyak untuk aplikasi yang sedang berjalan.
Continuous Deploymen
Setelah proses Continuous Integration-Delivery sudah dinyatakan dengan baik, tim
development dapat melihat perubahan yang terjadi pada environment test /
environment development / environment production.
Configuration Management
Proses ini berkaitan dengan system engineering yang bertujuan untuk maintain
konfigurasi sebuah produk. Configuration Management memungkinkan otomatisasi
dan standardisasi konfigurasi produk.
Infrastructure as a Code (IAAC)
IAAC adalah pekerjaan yang mana infrastruktur suatu produk didefinisikan melalui
kode yang dapat diprogram, distandarisasi, dan mudah dalam duplikasi. Melalui
IAAC, tim development dapat menambah mesin melalui satu baris kode.
Monitoring
Produk IT menjadi sangat baik karena adanya proses monitoring saat produk tersebut
digunakan oleh pengguna. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana perubahan
yang ada pada kode cukup berdampak pada produk dan penggunanya.
Logging
Centralized logging menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan DevOps.
Dengan menerapkan log aplikasi, kita developer bisa mengetahui produk yang dibuat
berjalan dengan baik atau tidak.
f. Agile
4. Contoh Perangkat Lunak yang Menerapkan dari Setiap Jenis Metode Perangkat Lunak
Contoh studi kasus prototyping :
Seorang pelanggan mendefinisikan serangkaian sasaran umum bagi perangkat lunak,
tetapi tidak melakukan mengidentifikasi kebutuhan output, pemrosesan, atupun input detail.
Pada kasus yang lain, pengembang mungkin tidak memiliki kepastian terhadap efisiensi
algoritme, kemampuan penyesuaian dari sebuah sistem operasi,atau bentuk-bentuk yang
harus dilakukan oleh interaksi manusia dengan mesin. Dalam hal ini, serta pada banyak
situasi yang lain, prototyping paradigma mungkin menawarkan pendekatan yang terbaik.
Prototyping paradigma dimulai dengan pengumpulan kebutuhan. Pengembang dan
pelanggan bertemu dan mendefinisikan obyektif keseluruhan dari software, mengidentifikasi
segala kebutuhan yang diketahui, dan area garis besar diman definisi lebih jauh merupakan
keharusan kemudian dilakukan “perancangan kilat”. Perancangan kilat berfokus pada
penyajian dari aspek-aspek software tersebut yang akan nampak bagi pelanggan atau pemakai
(contohnya pendekatan input dan format output). Perancangan kilat membawa kepada
konstruksi sebuah prototipe. Prototipe tersebut dievaluasi oleh pelanggan/pemakai dan
dipakai untuk menyaring kebutuhan pengembangan software. Iterasi terjadi pada saat
prototipe disetel untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, dan pada saat yang sama
memungkinkan pengembang untuk secara lebih baik memahami apa yang harus
dilakukannya.
Contoh studi kasus waterfall :
Sulitnya petugas bagian administrasi dalam mengolah data perpustakaan yang
mengakomodasi peminjaman, buku, pengembalian dan membuat laporan yang membutuhkan
banyak waktu. Adapun tujuan dari model sistem ini adalah
memodelkan sebuah sistem informasi Perpustakaan yang berbasis komputer dengan
menggunakan metode waterfall dan sistem informasi perpustakaan ini, untuk membantu
petugas dalam menghadapi kendala yang dihadapi dalam melakukan transaksi, sehingga
dengan adanya sistem informasi tersebut diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan yang
berhubungan dengan Perpustakaan.
Contoh Studi Kasus RAD :
RAD sangat tepat diterapkan untuk sistem yang telah jelas dan lengkap kebutuhannya,
di mana terdapat komponen-komponen yang dapat dipakai kembali dalam proyek yang
berskala kecil dengan waktu pengembangan perangkat lunak yang singkat.
Contoh Studi Kasus Agile :
Tim kami menerapkan agile development secara bertahap dan terus menerus berusaha
meningkatkannya. Tim kami secara berkala melakukan pertemuan dengan product owner
untuk memvalidasi ide atau pekerjaan. selain melalui pertemuan, kami juga sering
berkomunikasi secara online dengan product owner.
Tim kami bekerja dengan berkumpul dan tatap muka, jika memang tidak bisa kami
memiliki forum tersendiri untuk membahas proyek baik lewat chat atau pun voice [Link]
kami secara terjadwal melakukan daily scrum meeting. Tim kami juga selalu berusaha saling
mendukung, memotivasi, dan mempercayai satu sama lain.
Selama bekerja tim kami selalu berusaha membangun lingkungan yang positif. Salah
satu moto kelompok kami adalah “Positive Attitude Changes Everything” atau bisa disingkat
menjadi ‘’PACE’’. “Do things at your own pace”.
Contoh Studi Kasus Scrum :
Melakukan sprint planning di waktu awal masa sprint, untuk menentukan backlog apa
saja yang ingin dikerjakan pada suatu sprint, dan breakdown task untuk di assign ke masing-
masing anggota tim. Melakukan fase sprint dengan panjang waktu kurang lebih 2 minggu
pada setiap sprint. Jumlah sprint yang dilakukan sebanyak 6 sprint. Melakukan daily scrum
meeting, untuk melaporkan perkembangan dan mengetahui perkembangan fitur yang
dikerjakan anggota tim. Disini tim kami membahas progres setiap task, mempertanyakan
apakah ada task-task yang perlu diberi perhatian lebih atau sebagainya.
Melakukan sprint review setiap sprint berakhir. Sprint review dilakukan untuk
memaparkan hasil kerja tim kepada product owner untuk dinilai apakah dapat memenuhi
requirements yang diberikan. Disini kami mempresentasikan hasil kerja tim kami di depan
product owner. Melakukan sprint retrospective, untuk menilai kinerja setiap anggota tim agar
sprint selanjutnya dapat berjalan lebih baik, efektif, dan efisien.
Tim kami melakukan sprint retrospective dengan cara menuliskan kekurangan dan
kelebihan tim kami baik secara tim keseluruhan atau perorangan di sebuah post it. Kemudian
kami mengklasifikasikan kekurangan yang telah ditulis, membahas satu persatu dan mencari
solusinya untuk diterapkan di sprint berikutnya. Setelah itu kita membahas kelebihan tim,
menuliskan beberapa hal atau cara untuk dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan
kelebihan tim kami.
Contoh Studi Kasus Spiral :
Sidik jari (bahasa Inggris: fingerprint) adalah hasil reproduksi tapak jari baik yang sengaja
diambil, dicapkan dengan tinta, maupun bekas yang ditinggalkan pada benda karena pernah
tersentuh kulit telapak tangan atau kaki. Kulit telapak adalah kulit pada bagian telapak tangan
mulai dari pangkal pergelangan sampai kesemua ujung jari, dan kulit bagian dari telapak kaki
mulai dari tumit sampai ke ujung jari yang mana pada daerah tersebut terdapat garis halus
menonjol yang keluar satu sama lain yang dipisahkan oleh celah atau alur yang membentuk
struktur tertentu. Identifikasi sidik jari, dikenal dengan daktiloskopi adalah ilmu yang
mempelajari sidik jari untuk keperluan pengenalan kembali identitas orang dengan cara
mengamati garis yang terdapat pada guratan garis jari tangan dan telapak kaki.